Anda di halaman 1dari 25

Teori Konsumsi

Kelompok 2

KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis ucapkan kepada Tuhan Yang Maha Esa atas limpahan
rahmat-Nya sehingga makalah ini dapat diselesaikan tepat pada waktunya.
Makalah ini disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Teori Ekonomi
Mikro Islam, Bahan makalah ini disusun berdasarkan data-data sekunder yang
penulis himpun dari buku panduan Ekonomi Islam yang penulis rangkum kembali
menjadi beberapa kajian penting berkaitan dengan materi pembahasan.
Penulis mengucapkan terima kasih kepada pihak-pihak terkait yang telah
memberikan kontribusi dalam proses penyelesaian makalah ini, tak lupa penulis
ucapkan terima kasih kepada dosen mata kuliah yang bersangkutan atas bimbingan
dan arahan dalam pembuatan makalah ini.
Penulis berharap makalah ini dapat bermanfaat bagi pihak-pihak yang
memerlukan maupun untuk meningkatkan taraf pengetahuan.
Makalah

ini

masih

jauh

dari

kata

sempurna,

untuk

itu

penulis

mengharapkan kritik dan saran yang membangun demi penyempurnaan makalah ini
menuju arah yang lebih baik.

Banda Aceh, 21 April 2015

Penyusun,
Kelompok II (Dua)

Teori Konsumsi

Kelompok 2

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR............................................................................................. i
DAFTAR ISI........................................................................................................... ii
BAB I : PENDAHULUAN.................................................................................... 1
A. Latar Belakang..................................................................................... 1
B. Rumusan Masalah................................................................................ 1
BAB II : PEMBAHASAN..................................................................................... 2
A.
B.
C.
D.

Mashlahah Dalam Konsumsi............................................................... 2


Hukum Utilitas dan Mashlahah........................................................... 9
Keseimbangan Konsumen................................................................... 12
Hukum Permintaan dan Penurunan Kurva Permintaan....................... 19

BAB III : PENUTUP............................................................................................. 21


A. Kesimpulan.......................................................................................... 21
B. Saran.................................................................................................... 22
DAFTAR PUSTAKA............................................................................................. 23

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Konsumsi pada hakikatnya adalah mengeluarkan sesuatu dalam rangka
memenuhi kebutuhan. Konsumsi adalah kegiatan ekonomi yang penting, bahkan
terkadang dianggap paling penting dalam mata rantai kegiatan ekonomi, yaitu
produksi, konsumsi, distribusi. Dalam kerangka Islam perlu dibedakan dua tipe
pengeluaran yang dilakukan oleh konsumen muslim yaitu pengeluaran tipe pertama
dan pengeluaran tipe kedua. Pengeluaran tipe pertama adalah pengeluaran yang
dilakukan seorang muslim untuk memenuhi kebutuhan duniawinya dan keluarga
(pengeluaran dilakukan untuk memenuhi kebutuhan dunia namun memiliki efek pada
pahala diakhirat). Pengeluaran tipe kedua adalah pengeluaran yang dikeluarkan
semata-mata bermotif mencari kebahagiaan di akhirat.
Dalam ekonomi konvesional perilaku konsumsi dituntun oleh dua nilai dasar,
yaitu rasionalisme dan utilitarianisme. Kedua nilai dasar ini kemudian membentuk
suatu perilaku konsumsi yang hedonistic, materialistic, serta boros (wastefull).
Perilaku konsumsi seperti demikian tentunya tidak dapat diterima begitu saja dalam
ekonomi Islam. Konsumsi yang Islami selalu berpedoman pada ajaran Islam dan
pencapaian Mashlahah merupakan tujuan dari Syariat Islam yang tentu saja harus
menjadi tujuan dari kegiatan konsumsi.
B. Rumusan Masalah
1.
2.
3.
4.

Bagaimanakah mashlahah dalam konsumsi ?


Bagaimanakah hukum utilitas dan mashlahah dalam konsumsi?
Bagaimanakah keseimbangan Konsumen dalam konsumsi ?
Bagaimanakah kurva permintaan dan penurunan kurva permintaan?
BAB II
PEMBAHASAN
1

A. Mashlahah Dalam Konsumsi


Dalam menjelaskan konsumsi, kita mengasumsikan bahwa konsumen
cenderung untuk memilih barang dan jasa yang memberikan mashlahah maksimum.
Hal ini sesuai dengan rasionalitas Islami bahwa setiap perilaku ekonomi selalu ingin
meningkatkanmashlahah yang diperolehnya. Keyakinan bahwa ada kehidupan dan
pembalasan yang adil di akhirat serta informasi yang berasal dari Allah adalah
sempurna akan memiliki pengaruh yang signifikan terhadap kegiatan konsumsi.
Kandungaan mashlahah terdiri dari manfaaat dan berkah. Dalam hal perilaku
konsumsi, seorang konsumen akan mempertimbangkan manfaat dan berkah yang
dihasilkan dari kegiatan konsumsinya. Konsumen merasakan adanya manfaat suatu
kegiatan konsumsi ketika ia mendapatkan pemenuhan kebutuhan fisik atau psikis atau
material. Disisi lain, berkah akan diperolehnya ketika ia mengkonsumsi barang/jasa
yang dihalalkan oleh syariat Islam.
1. Kebutuhan dan Keinginan
Kehendak seseorang untuk membeli atau memiliki suatu barang /jasa bisa
muncul karena faktor kebutuhan ataupun faktor keinginan. Kebutuhan ini terkait
dengan segala sesuatu yang harus dipenuhi agar suatu barang berfungsi secara
sempurna. Disisi lain, keinginan adalah terkait dengan hasrat atau harapan seseorang
yang jika dipenuhi belum tentu akan meningkatkan kesempurnaan fungsi manusia
ataupun suatu barang.
Secara umum, pemenuhan terhadap kebutuhan akan memberikan tambahan
manfaat fisik, spiritual, intelektual ataupun material, sedangkan pemenuhan keinginan
akan menambah kepuasan atau manfaat psikis disamping manfaat lainnya. Jika suatu
kebutuhan diinginkan oleh seseorang, maka pemenuhan kebutuhan tersebut akan
melahirkan mashlahah sekaligus kepuasan, namun jika pemenuhan kebutuhan tidak
dilandasi oleh keinginan, maka hanya akan memberikan manfaat semata.
Secara umum dapat dibedakan antara kebutuhan dan keinginan sebagaimana
dalam tabel berikut.
2

Tabel 4.1.
Karakteristik Kebutuhan dan Keinginan
Karakteristi
k
Sumber
Hasil
Ukuran
Sifat
Tuntutan

Keinginan
Hasrat (nafsu) manusia
Kepuasan
Preferensi atau selera
Subjektif
Dibatasi/ Dikehendaki

Kebutuhan
Fitrah Manusia
Manfaat & Berkah
Fungsi
Objektif
Dipenuhi

Islam
Ajaran islam tidak melarang manusia untuk memenuhi kebutuhan ataupun
keinginannya, selama dengan pemenuhan tersebut, maka martabat manusia bisa
meningkat. Semua yang ada dibumi ini diciptakan untuk kepentingan manusia,
namun manusia diperintahkan untuk mengonsumsi barang/jasa yang halal dan baik
saja secara wajar, tidak berlebihan. Pemenuhan kebutuhan ataupun keinginan tetap
dibolehkan selama hal itu mampu menambah mashlahah atau tidak mendatangkan
mudharat.
Sebagai missal, Islam menjelaskan mengenai motivasi atau keinginan
seseorang dalam menikahi seseorang ada empat sebab utama, yaitu karena
kecantikannya, karena kekayaannya, karena kedudukannya, dan karena agama atau
akhlaknya. Namun, islam menjelaskan bahwa kebutuhan utama dalam mencari
pasangan adalah kemuliaan agama/akhlak. Oleh karena itu, seorang muslim
diperbolehkan menikahoi wanita karena kecantikan ataupun kekayaannya selama
agama atau akhlaknya tetap menjadi pertimbangan utamanya.
2. Mashlahah dan Kepuasan
Kepuasan adalah merupakan suatu akibat dari terpenuhinya suatu keinginan,
sedangkan mashlahah merupakan suatu akibat atas terpenuhinya suatu kebutuhan atau
fitrah. Berbeda dengan kepuasan yang bersifat individualis, mashlahah tidak hanya
bisa dirasakan oleh individu. Mashlahah bisa jadi dirasakan oleh selain konsumen,
yaitu dirasakan oleh sekelompok masyarakat sebagai misal ketika seseorang
3

membelikan makan untuk tetangga miskin, maka mashlahah fisik/psikis akan


dinikmati oleh tetangga yang dibelikan makanan, sementara itu, si pembeli/konsumen
akan mendapatkan berkah. Hal ini menunjukkkan bahwa dalam kegiatan muamalah
dimungkinkan diperoleh manfaat sekaligus berkah.
3. Mashlahah dan Nilai-nilai Ekonomi Islam
Perekonomian Islam akan terwujud jika prinsip dan nilai-nilai Islam
diterapkan secara bersama-sama. Pengabaian terhadap salah-satunya akan membuat
perekonomian pincang. Penerapan prinsip ekonomi yang tanpa di ikuti oleh
pelaksanaan nilai-nilai Islam hanya akan memberikan manfaat (mashlahah duniawi),
sedangkan pelaksanaan sekaligus prinsip dan nilai akan melahirkan manfaat dan
berkah atau mashlahah dunia akhirat.
Manfaaat dan berkah hanya akan diperoleh ketika prinsip dan nilai-nilai
Islam bersama-sama diterapkan dalam perilaku Ekonomi. Sebaliknya, jika hanya
prinsip saja yang dilaksanakan misalnya pemenuhan kebutuhan-, maka akan
menghasilkan manfaat duniawi semata. Keberkahan akan muncul ketika dalam
kegiatan ekonomi -konsumsi misalnya- disertai dengan niat dan perbuatan yang baik
seperti menolong orang lain, bertindak adil, dan semacamnya.
4. Penentuan dan Pengukuran Mashlahah bagi Konsumen
Besarnya berkah yang diperoleh berkaitan langsung dengan frekuensi
kegiatan konsumsi yang dilakukan. Semakin tinggi frekuensi kegiatan yang bermashlahah , maka semakin besar pula berkah yang akan diterima oleh pelaku
konsumsi. Dalam Al-Quran, Allah menjelaskan bahwa setiap amal perbuatan
(kebaiakan maupun keburukan) akan dibalas dengan imbalan (pahala maupun siksa)
yang setimpal meskipun amal perbuatan itu sangatlah kecil bahkan sebesar biji sawi.
Dengan demikian dapat ditafsirkan bahwa, mashlahah yang diterima akan merupakan
perkalian antara pahala dan frekuensi kegiatan tersebut. Demikian pula dalam hal
konsumsi, besarnya berkah yang diterima oleh konsumen tergantung frekuensi
4

konsumsinya. Semakin banyak barang/jasa halal-thayyib yang dikonsumsi, maka


akan semakin besar pula berkah yang akan diterima.
a) Formulasi Mashlahah
Dalam mashlahah terkandung unsur manfaat dan berkah. Hal ini bisa
dituliskan sebagai berikut:
M = F +B
Dimana

(4.1)

M = Mashlahah
F = Manfaat
B = Berkah

Sementara dalam paparan dimuka telah disebutkan bahwa berkah merupakan


interaksi antara manfaat dan pahala. Sehingga,
B=(F)(P)

(4.2)

Dimana P = Pahala total


Adapun Pahala total, P adalah :
P = ip

(4.3)

Dimana i adalah fekuensi kegiatan dan p adalah pahala per unit kegiatan.
Dengan mensubtitusi persamaan (4.3) kepersamaan (4.2), maka
B = Fip

(4.4)

Selanjutnya melakukan subtitusi persamaan (4,4) ke persamaan (4,1), maka


diperoleh :
M = F + F ip
Ekspresi diatas bisa ditulis kembali menjadi:
M = F (1+ ip)

(4.5)

Dari formulasi diatas dapat ditunjukkan bahwa ketika pahala suatu kegiatan
tidak ada (misalnya ketika mengonsumsi barang yang haram atau barang halal namun
dalam jumlah berlebih-lebihan), maka mashlahah yang akan diperoleh konsumen
adalah hanya sebatas manfaat yang dirasakan didunia (F). sebagai misal ketika
5

seorang membeli lotere atau judi yang diharamkan, maka ia tidak akan mendapatkan
berkah, melainkan hanya manfaat duniawi saja seperti kemenangan atau kepuasan
psikis.
Demikian pula sebaliknya, jika suatu kegiatan yang sudah tidak memberikan
manfaat (di dunia), maka nilai keberkahannya juga menjadi tidak ada sehingga
mashlahah dari kegiatan tersebut juga tidak ada. Misalnya penggemar rokok yang
membeli rokok hanya akan mendapatkan kepuasan saja. Dengan kata lain, mashlahah
yang ia dapatkan adalah semu atau tiada. Hal ini karena tidak terdapatnya manfaat
dari rokok, bahkan terdapat banyak bahaya (terutama bagi kesehatan). Oleh karena
itu, nilai pahala dan keberkahan atas pembelian rokok juga tidak ada, meskipun masih
terdapat perbedaan pendapat dari para ulama tentang keharaman merokok.
b) Pengukuran Mashlahah Konsumen
Untuk mengeksplorasi konsep Mashlahah konsumen secara detail, maka disini
konsumsi dibedakan menjadi dua, yaitu konsumsi yang ditujukan untuk ibadah dan
konsumsi untuk memenuhi kebutuhan/ keinginan manusia semata. Konsumsi ibadah
pada dasarnya adalah segala konsumsi atau menggunakan harta dijalan Allah (fii
Sabilillah), contoh jenis konsumsi ini adalah pembelian barang/jasa untuk diberikan
kepada orang miskin, sedekah, waqf maupun ibadah lainnya. Sedangkan konsumsi
untuk memenuhi kebutuhan/keinginan manusia adalah konsumsi untuk memenuhi
kebutuhan/ keinginan manusia sebagaimana konsumsi sehari-hari.
Konsumsi ibadah pada dasarnya adalah segala konsumsi atau menggunakan
harta di jalan Allah (fii sabilillah). Islam memberikan imbalan terhadap belanja
(konsumsi) ibadah dengan pahala yang sangat besar, misalnya seniali 700 unit, dan
setiap kali dilakukan amal kebaikan akan mendapatkan imbalan pahala yang sama,
yaitu tujuh ratus kali lipat. Konsumsi ibadah ini meliputi belanja untuk kepentingan
jihad, pembangunan sekolah, rumah sakit, usaha penyelidikan ilmiah dan amal
kebaikan lain, Besaran angka ini hanya menunjukkan suatu contoh bahwa imbalan
6

pahala suatu amal kebaikan adalah sangat besar dibandingkan dengan imbalan siksa
atas suatu perbuatan dosa (hal yang haram).
Sebagai ilustrasi, tabel 4.2 berikut menyajikan mashlahah atas ibadah madhah
atau amal saleh, yaitu ibadah tidak secara langsung terkait dengan kemanfaatan dunia
bagi pelakunya. Dalam hal ini, pelaku ibadah tidak akan merasakan manfaat duniawi
bagi dirinya, melainkan perasaan aman dan tenteram akan berkah yang akan
diberikan Allah, baik di dunia maupun kelak di akhirat.
Tabel 4.2.
Mashlahah dari Belanja di Jalan Allah
Frekuensi Kegiatan

Pahala per unit

Mashlahah = Berkah

(1)
1
2
3
4
5
6
7
8

(2)
700
700
700
700
700
700
700
700

(1 x 2)
700
1400
2100
2800
3500
4200
4900
5600

Dalam tabel 4.2. di atas ditunjukkan mashlahah dari kegiatan ibadah mahdhah
yang sifatnya ibadah murni tidak untuk mendapatkan manfaat di dunia, seperti
membelanjakan harta untuk pendidikan, penelitian, membantu umat islamdan
sebagainya. Pada tabel 4.2. di atas terlihat bahwa besarnya mashlahah adalah
merupakan perkalian antara frekuensi dengan pahala. Karena manfaat (duniawi)
ibadah mahdhah ini tidak dinikmati secara langsung oleh pelakunya, maka kandungan
yang ada di dalam mashlahah yang diterima sepenuhnya berupa berkah, dan nilai
keberkahan ini selalu meningkat dengan semakin meningkanya ibadah mahdhah yang
dilakukan.
c) Karakteristik Manfaat dan Berkah dalam Konsumsi
7

Mashlahah yang diperoleh konsumen ketika membeli barang dapat berbentuk


satu diantara hal berikut :
1. Manfaat material, yaitu berupa diperolehnya tambahan harta bagi konsumen
akibat pembelian suatu barang/jasa. Manfaat material ini bisa berbentuk
murahnya harga, discount, murahnya biaya transportasi dan searching, dan
semacamnya. Larisnya pakaian dan sepatu obral menunjukkkan dominannya
manfaat materiil yang diharapkan oleh konsumen.
2. Manfaat fisik dan psikis, yaitu berupa terpenuhinya kebutuhan fisik atau
psikis manusia, seperti rasa lapar, haus, kedinginan, kesehatan, keamanan,
kenyamanan, harga diri, dan sebagainnya. Mulai berkembangnya permintaan
rokok kadar rendah nikotin, kopi kadar rendah kafein menunjukkkan adanya
manfaat fisik kesehatan- pada rokok dan kopi.
3. Manfaat intelektual, yaitu berupa terpenuhinya kebutuhan akal manusia ketika
ia membeli suatu barang/jasa, seperti kebutuhan tentang informasi,
pengetahuan, keterampilan, dan semacamnya. Sebagai misal, permintaan surat
kabar, alat ukur suhu, dan sebagainya.
4. Manfaat terhadap lingkungan (intra generation), yaitu berupa adanya
eksternalitas positif dari pembelian suatu barang/jasa atau manfaat yang bisa
dirasakan oleh selain pembeli pada generasi yang sama. Misalnya mobil
wagon dibandingkan dengan mobil sedan memiliki manfaat eksternal lebih
tinggi, yaitu memiliki kapasitas untuk mengangkut banyak penumpang
misalnya kerabat dekat atau tetangga.
5. Manfaat jangka panjang, yaitu terpenuhinya kebutuhan duniawi jangka
panjang atau terjagannya generasi masa mendatang terhadap kerugian akibat
dari tidak membeli barang/jasa. Pembelian bahan bakar biologis (Bio-gas),
misalnya, akan memberikan manfaat jangka panjang berupa bersihnya
lingkungan meskipun dalam jangka pendek konsumen harus membayar
dengan harga lebih mahal.
B. Hukum Utilitas dan Mashlahah
1. Hukum Pernurunan Utilitas Marginal
8

Dalam ilmu ekonomi konvensional dikenal adanya hukum mengenai


penurunan utilitas marginal. (Law of diminishing marginal utility). Hukum ini
mengatakan bahwa jika seseorang megkonsumsi suatu barang dengan frekuensi yang
diulang-ulang, maka nilai tambahan kepuasan dari konsumsi berikutnya akan
semakin menurun.
Utilitas marginal (MU) adalah tambahan kepuasan yang diperoleh konsumen
akibat adanya peningkatan jumlah barang/jasa yang di konsumsi. Untuk memberikan
penggambaran yang lebih jelas, ilustrasi dibawah ini akan menyajikan utilitas
marginal yang dimaksud.
Tabel 4.3.
Frekuensi Konsumsi, Utilitas Total, dan Marginal
Frekuensi

Total Kepuasan

Utilitas Marginal

Konsumsi

Total Utility (TU)

(MU)

(1)
1
2
3
4
5
6
7
8

(2)
10
18
24
28
30
32
32
30

(3)
8
6
4
2
2
0
-2

Dari tabel di atas terlihat bahwa nilai utilitas marginal semakin menurun.
Penurunan ini bisa dirasakan secara intuitif, jika seseorang mengonsumsi suatu
barang/jasa secara terus-menerus secara berurutan, maka nilai tambahan kepuasan
yang diperoleh semakin menurun. Hal ini terjadi karena munculnya masalah
kebosonan yang setrusnya, kalau berlanjut, akan menjadi kejenuhan yang
menyebabkan

orang

yang

bersangkutan

bukannya

merasa

senang

dalam

mengonsumsi barang tersebut melainkan justru rasa kurang senang. Hal ini
ditunjukkan dengan nilai utilitas marginal yang negatif. Sebelum mencapai nilai
negative, nilai utilitas marginal mencapai kejenuhan terlebih dahulu yang ditunjukkan
oleh nilai nol pada variable tersebut. Pada saat mencapai kejenuhan ini, utilitas total
mencapai nilai maksimumnya.
2. Hukum Mengenai Mashlahah
Hukum mengenai penurunan utilitas marginal tidak selamanya berlaku
padaMashlahah. Mashlahah dalam konsumsi tidak seluruhnya secara langsung dapat
dirasakan,

terutama Mashlahah akhirat

atau

berkah.

Adapun Mashlahah dunia

manfaatnya sudah bisa dirasakan setelah konsumsi. Dalam hal berkah, dengan
meningkatnya frekuensi kegiatan, maka tidak akan ada penurunan berkah karena
10

pahala

yang

diberikan

atas

ibadah

mahdhah

tidak

pernah

menurun.

Sedangkan Mashlahah dunia akan meningkat dengan meningkatnya frekuensi


kegiatan, namun pada level tertentu akan mengalami penurunan. Hal ini dikarenakan
tingkat kebutuhan manusia di dunia adalah terbatas sehingga ketika konsumsi
dilakukan secara berlebih-lebihan, maka akan terjadi penurunan Mashlahah duniawi.
a. Mashlahah Marginal dari Ibadah Mahdhah
Mashlahah marginal (MM) adalah perubahan mashlahah, baik berupa manfaat
ataupun berkah, sebagai akibat berubahnya jumlah barang yang dikonsumsi.
Dalam hal ini ibadah mahdhah, jika pahala yang dijanjikan Allah adalah
konstan, maka pelaku ibadah tidak akan mendapatkan manfaat duniawi,
namun hanya berharap adanya pahala.
Tabel 4.4.
Mashlahah dari Ibadah Mahdhah
Frekuensi
Kegiatan

Pahala *)

Mashlahah

Marginal

(2)
= (1 x 2)
Mashlahah
(1)
1
700
700
700
2
700
1400
700
3
700
2100
700
4
700
2800
700
5
700
3500
700
6
700
4200
700
7
700
4900
700
8
700
5600
700
*) Pahala sejumlah 700 ini hanya merupakan contoh ilustrasi ketika manusia

beribadah tanpa mempertimbangkan manfaat yang akan ia peroleh di dunia,


sebagaimana amal jariyah.

b. Mashlahah Marginal dari Konsumsi


Menurut Islam, melakukan suatu kegiatan ekonomi akan bisa menimbulkan
dosa ataupun pahala tergantung niat, proses, dan produk yang dikonsumsi.
11

Dalam kasus berikut ini diasumsikan bahwa konsumen yang bersangkutan


memerhatikan sepenuhnya kehadiran mashlahah (mashlahah aware) sehingga
nilai adalah sama dengan 1 (satu).
Tabel 4.5.
Mashlahah Marginal dari Kegiatan Muamalah Halal
Frekuens
i

Manfaat

Pahala per

Total

Fisik

unit

Pahala

Mashlahah
F*(1+ip)

Kegiatan

(f)

(p)

(ip)

( i )
1
2
3
4
5
6
7
8

10
18
24
28
30
32
32
30

27
27
27
27
27
27
27
27

27
54
81
108
135
162
189
216

280
990
1968
3052
4080
5216
6080
6510

Mashlahah
Marginal
(MM)
710
978
1084
1028
1136
864
430

C. Keseimbangan Konsumen
1. Keterkaitan Antarbarang
Pilihan untuk konsumsi sangat dipengaruhi oleh keterkaitan antara dua barang
dan preferensi konsumen. Secara umum, keterkaitan ini bisa digolongkan menjadi
dua, yaitu saling menggantikan (subtitusi), saling melengkapi (komplementer) atau
tidak ada keterkaitan ( independen).

a. Komplemen
Bentuk hubungan antara dua buah barang dalam konteks ini bisa dilihat ketika
seorang konsumen mengonsumsi suatu barang, barang A, maka dia mempunyai
kemungkinan (chance) untuk mengonsumsi barang yang lain, barang B. Makna
kata kemungkinan di sini menunjukkan derajat komplementaritas dari kedua barang
12

A dan B tersebut. Sebagai contoh, adalah jika seseorang mengonsumsi komputer,


maka dia pun mempunyai kemungkinan (chance) untuk mengonsumsi disk
(floppy/flash disk). Dilihat dari sisi penjual, maka penjualan komputer yang
meningkat akan diikuti pula dengan peningkatan penjualan disk (floppy/flash disk).
Hubungan yang bersifat komplemen ini mempunyai derajat tingkatan yang
berbeda-beda antara pasangan barang yang satu dengan pasangan barang yang lain.
Perbedaan ini disebabkan karena sifat barang yang terkait dengan kegunaan barang
yang bersangkutan. Adapun tingkatan dari komplementaritas ini adalah sebagai
berikut :
1) Komplementaritas Sempurna
Tingkat komplementaritas sempurna terjadi jika konsumsi dari suatu barang
mengharuskan (tidak bisa tidak) konsumen untuk mengonsumsi barang yang
lain sebagai penyerta dari barang pertama yang dikonsumsi. Sebbagai contoh
di sini adalah konsumsi mobil/motor pasti harus disertai dengan konsumsi
bensin/BBM. Begitu juga konsumsi/pemakaian ban luar sepeda motor pasti
harus mengonsumsi juga ban dalamnya. Konsumsi tinta printer pasti harus
disertai dengan konsumsi/pemakaian kertas.
2) Komplementaritas Dekat
Komplementaritas dekat bisa digambarkan jika seseorang mengonsumsi /
memakai suatu barang, maka dia mempunyai kemungkinan yang besar untuk
mengonsumsi

barang

yang

lain.

Sebagai

contoh

di

sini

adalah

konsumsi/penggunaan sepatu oleh seseorang. Jika seseorang memakai sepatu,


maka kemungkinan besar dia akan memakai juga kaus kaki. Begitu juga
seseorang mengonsumsi the, maka dia akan mengonsumsi juga gula. Disini
terlihat bahwa pemakaian kaus kaki tidak selalu pasti karena ada juga orang
yang memakai sepatu namun tidak memakai kaus kaki. Vegitu juga konsumsi
the tidak selalu pasti diikuti dengan pemakaian gula.
3) Komplementaritas Jauh
Tingkat komplementaritas yang jauh disebabkan karena hubungan antara
kedua barang adalah rendah. Misalnya, penggunaan baju dengan penggunaan
dasi. Penggunaan baju dengan penggunaan parfum. Penggunaan sabun cuci
dengan softener. Disini terlihat bahwa tingkat kebersamaan dalam penggunaan
13

antara barang yang satu dengan barang yang lain lebih tidak pasti lagi jika
disbanding dengan kasus-kasus sebelumnya.
b. Substitusi
Kalau dalam komplement hubungan antara kedua barang adalah positif, tetapi
dalam kasus substitusi hubungan keduanya adalah negatif. Hubungan yang negatif
adalah jika jumlah konsumsi barang yang satu naik, maka jumlah konsumsi barang
lainnya akan turun. Hubungan negatif disini terjadi karena adanya penggantian antara
barang yang satu dengan yang lain. Adapun pengganti tersebut disebabkan oleh
berbagai macam alasan : alasan ketersediaan barang ataupun alasan harga. Sebagai
contoh adalah antara gas dan minyak, antara the dan kopi. Pada kasus yang pertama
(gas dan minyak) terdapat proses penggantian yang mana hal ini bisa disebabkan
karena harga gas yang terus-menerus meningkat sehingga konsumen tidak mampu
lagi menjangkau gas. Dalam kasus the dan kopi terjadi proses penggantian yang
disebabkan karena pada suatu waktu dan tempat tertentu, kopi susah untuk
didapatkan sehingga para konsumen kopi menggantinya dengan meminum the.
Sebagaimana dalam kasus hubungan komplemen, dalam kasus ini juga
mengenal adanya tingkatan/derajat substitusi, yaitu :
1) Substitusi Sempurna
Hubungan antara dua buah barang dikatakan substitusi sempurna jika
penggunaan dua buah barang tersebut bisa ditukar satu sama lainnya tanpa
mengurangi sedikitpun kepuasan konsumen dalam menggunakannya. Sebagai
contoh di sini adalah konsumsi terhadap gula. Konsumen tidak pernah
mempermasalahkan mengenai asal dari pabrik mana gula yang dipakai,
apakah gula local atau gula impor, apakah produksi pabrik di Jawa atau di luar
Jawa, konsumen tidak pernah mempermasalahkannya karena mereka tidak
bisa merasakan perbedaan dalam hal kepuasan yang mereka dapat dari
penggunaan gula-gula ini.
2) Substitusi Dekat
Dua buah barang bisa dikatakan substitusi dekat jika fungsi kedua barang
tersebut mampu menggantikan satu sama lain. Namun demikian, penggantian
satu terhadap yang lainnya disini menimbulkan perbedaan kepuasan yang
14

mereka peroleh. Sebagai contoh seorang perokok yang telah mentyukai merek
tertentu, ia akan selalu merokok dari merek pilihannya tersebut. Dia pada
suatu saat tertentui bisa mengganti rokok yang diisapnya dengan rokok merek
lain. Namun, pengganti ini akan jelas menimbulkan turunnya kepuasan yang
dia terima dari merokok merek lain ini.
3) Substitusi Jauh
Dua buah barnag dikategorikan sebagai substitusi jauh jika dalam
penggunaanya konsumen bisa mengganti suatu barang dengan barang lainnya
hanya dalam keadaan terpaksa saja. Dalam keadaan normal konsumen yang
bersangkutan tidak akan mengganti barang yang dikonsumsinya dengan
barang lainnya. Sebagai contoh adalah nasi (beras) dan roti (gandum).
Meskipun roti bisa mengganti nasi, namun bagi kebanyakan orang Indonesia,
mereka tidak akan makan roti sebagai menu utamanya sepanjang masih ada
nasi.
c. Domain Konsumsi
Melihat macam-macam hubungan antara dua barang seperti disebut dimuka,
maka hubungan yang relevan dengan piliyhan konsumen di sini adalah hubungan
yang kedua substitusi. Hal ini dikarenakan dua buah barang yang sifatnya saling
mengganti, maka akan menimbulkan pilihan, yang kadang menyulitkan bagi
konsumen. Sementara kalau dua buah barang yang sifatnya komplementari, maka
tidak akan menimbulkan pilihan bagi konsumen karena barang penyertanya sudah
merupakan konsekuensi lanjutan dari konsumsi barang utamanya.
2. Hubungan Antarbarang yang Dilarang oleh Islam
Hukum Islam menegaskan tidak dimungkinkan adanya substitusi antara
barang haram dan barang halal, kecuali dalam keadaan darurat.
Lemma 1
Islam melarang adanya penggantian (substitusi) dari barang atau transaksi yang
halal dengan barang atau transaksi yang haram.

15

Berdasarkan Lemma diatas, maka perlu di tegaskan disini bahwa hubungan


seperti yang ditampilkan dalam grafik-grafik dibawah ini mustahil terjadi dalam
Islam.

Lemma 2
Islam melarang mencampuradukkan antara barang atau transaksi yang halal
dengan barang atau transaksi yang haram.
Berdasarkan lemma diatas, maka perlu ditegaskan disini bahwa hubungan
seperti yang ditampilkan dalam grafik dibawah ini tidak akan pernah terjadi dalam
Islam.

16

Grafik diatas merupakan sebuah garis yang berimpit dengan sumbu


horizontal. Untuk menunjukkan bahwa garis ini berimpit dengan horiozontal, maka
sumbu horizontal dicetak tebal. Penafsiran dari garis ini adalah : berapapun jumlah
barang halal yang dikonsumsi, maka jumlah barang haram yang di konsumsi adalah
tetap nol. Maknanya, barang haram tidak pernah dikonsumsi dalam situasi yang
bagimana pun.
Berdasarkan pada paparan yang disampaikan diatas , maka domain dari
konsumsi dalam Islam adalah terbatas pada barang/kegiatan yang halal saja. Sehingga
hubungan komplemen dan subtitusi yang terjadi hanyalah untuk barang/kegiatan halal
dan barang/kegiatan halal yang lain.
3. Hubungan Antarbarang dalam Islam
Melihat kedua pemaparan tentang hubungan dua buah barang halal dan haram
di atas, maka dirasa perlu untuk menampilkan hubungan kedua buah barang di atas
sebagai pedomanHaram
dalam berperilaku.

17

10

Halal

Gambar 1.1.
Hubungan Barang Halal-haram yang Dituntunkan Islam
Grafik diatas merupakan sebuah garis yang berimpit denagn sumbu
horizontal. Untuk menunjukkan bahwa garis ini berimpit denagn sumbu horizontal,
maka sumbu horizontal dicetak tebal. Penafsiran dari garis ini adalah : berapa pun
jumlah barang halal yang dikonsumsi, maka jumlah barang haram yang dikonsumsi
adalah tetap nol. Maknanya, barang haram tidak pernah dikonsumsi dalam situasi
yang bagaimaana pun.

Halal

0,0

Halal
Gambar 1.2.

Hubungan Komplementer dalam Islam


Hubungan yang ditampilkan dalam grafik diatas adalah hubungan antara dua
buah barang yang halal. Hubungan tersebut menunjukkan adanya komplementaritas
antara keduanya. Hal ini tidak menjadi maslaah karena keduanya sama-sama halal.
18

Kurva berbentuk titik diatas mencerminkan adanya hubungan komplementaritas


sempuran antar dua barang yang halaal yang menghasilakan tingkat mashlahah sama.
Semakin tinggi kombinasi tersebut semakin besar pula mashlahah yang diperoleh.
4. Permintaan Konsumen
Kandungan berkah menjadi sangat penting dalam pertimbangan konsumsi
konsumen Mukmin. Hal ini mengingat bahwa konsumen menaruh perhatian pada
mashlahah sebagai jalan menuju falah.
Dengan membandingkan antar dua barang halal substitusi, maka seorang
konsumen

Mukmin

dalam

memilih

barang

yang

dikonsumsinya

akan

mempertimbangkan jumlahmashlahah total yang akan diperolehnya paling tinggi.


Secara intuitif dapat disimpulkan bahwa jika terdapat peningkatan mashlahah pada
suatu barang/jasa, maka permintaan akan barang tersebut akan meningkat, dengan
menganggap faktor lainnya tidak berubah.
Jika terdapat kenaikan harga suatu barang, maka konsumen merasakan adanya
penurunan manfaat material dari barang tersebut, yaitu berupa berkurangnya materi
atau pendapatan jika konsumen tersebut teatp membeli barang/jasa dalam jumlah
yang sama. Oleh karena itu, konsumen akan mengurangi tingkat pembelian
barang/jasanya untuk tetap mempertahankan mashlahah yang ia teriam. Hal ini, akan
dilakukan selama tidak ada perubahan pada mashlahah lainnya, baik manfaat fisik,
maupun berkahnya.
D. Hukum Permintaan dan Pernurunan Kurva Permintaan
Ketika harga barang A naik, sementara hal-hal lain tetap konstan, maka
jumlah barang A yang dikonsumsi harus turun. Inilah yang melahirkan hukum
permintaan yang berbunyi :

Jika harga suatu barang meningkat, ceteris paribus, maka jumlah barang yang
diminta turun, demikian juga sebaliknya.
19

Pengertian cateris paribus di sini adalah denagn menganggap hal-hal lain tetap
tidak berubah atau konstan, baik dalam arti tingkat berkah, tingkat manfaat, tingkat
pendapatan, preferensi, dan sebagainya.
Hubungan yang digambarkan dalam hukum permintaan diatas juga akan
menjadi lebih jelas jika digambarkan dalam kurva permintaan berikut ini.

Dimana sumbu vertikalnya menunjukkan harga dan sumbu horizontal


menunjukkan kuantitas yang diminta.
Grafik diatas menunjukkan ketika harga barang A adalah sebesar 16, maka
jumlah barang A yang diminta adalah 6 unit, sementara ketika harga barang A naik
menjadi 17, maka jumlah barang tersebut yang diminta oleh konsumen turun menjadi
4. Kurva demand yang terlihat di atas merupakan hasil akhir dari proses
optimisasi mashlahah.

BAB III
PENUTUP
20

A. Kesimpulan

Preferensi seorang konsumen dibangun atas kebutuhan akan mashlahah,


baik mashlahahyang diterima didunia ataupun di akhirat. Mashlahah adalah setiap
keadaan yang membawa manusia pada derajat yang lebih tinggi sebagai makhluk
yang sempurna.Mashlahah dunia dapat berbentuk manfaat fisik, biologis, psikis, dan
material, atau disebut manfaat saja. Mashlahah akhirat berupa janji kebaikan (pahala)
yang akan diberikan diakhirat sebagai akibat perbuatan mengikuti ajaran islam.
Konsumen akan selalu berusahan untuk mendapatkan mashlahah diatas
mashlahah minimum. Mashlahah minimum adalah mashlahah yang
diperboleh dari mengonsumsi barang/jasa yang halal dengan diikuti niat
beribadah.
Keberadaan mashlahah akan memperpanjang rentang (span) dari suatu
kegiatan halal. Seseorang yang yang merasakan adanya mashlahah dan
menyukainya, maka dia akan tetap rela melakukan suatu kegiatan meskipun
manfaat dari kegiatan tersebut bagi dirinya sudah tidak ada.
Bagi orang yang peduli akan adanya berkah, semakin tinggi barang halal yang
dikonsumsi

seseorang,

tambahan mashlahah yang

diterimanya

akan

meningkat hingga titik tertentu dan akhirnya akan menurun, dengan asumsi
jumlah konsumsi masih dibolehkan oleh Islam. Namun, bagi orang yang tidak
peduli terhadap adanya berkah, peningkatanmashlahah adalah identik dengan
pengingkatan manfaat duniawi semata.
Hukum permintaan menyatakan bahwa jika harga suatu barang/ jasa
meningkat, maka jumlah barang/jasa yang diminta konsumen akan menurun,
selama kandungan mashlahahpada barang tersebut dan faktor lain tidak
berubah.

B. Saran
Hendaknya manusia dalam melakukan kegiatan konsumsinya harus tetap
berada dalam koridor yang telah ditetapkan oleh ajaran Islam karena dengan
21

berpedoman pada ajaran Islam inilah diharapkan manusia mampu memperoleh


mashlahah yang merupakan tujuan utama dari kegiatan konsumsi.

DAFTAR PUSTAKA

22

Pusat Pengkajian dan Pengembangan Ekonomi Islam (P3EI). 2013. Ekonomi Islam.
Jakarta: Rajawali Pers.

23

Anda mungkin juga menyukai