Anda di halaman 1dari 21

LAPORAN PENDAHULUAN GASTRITIS

A. PENGERTIAN
Gastritis atau lebih dikenal sebagai maag berasal dari bahasa
yunani yaitu gastro, yang berarti perut/lambung dan itis yang berarti
inflamasi/peradangan.

Gastritis

adalah

inflamasi

dari

mukosa

lambung (Mansjoer, 1999).


Gastritis adalah suatu proses inflamasi pada lapisan mukosa dan
submukosa lambung dan secara hispatologi dapat di buktikan dengan
adanya infiltrasi sel-sel radang pada daerah tersebut (Baughman dan
Haskley, 2000).
Gastritis

adalah proses inflamasi pada lapisan mukosa dan

submukosa lambung. Secara histologis dapat dibuktikan dengan inflamasi


sel-sel radang pada daerah tersebut didasarkan pada manifestasi klinis
dapat dibagi menjadi akut dan kronik (Hirlan, 2001).
Gastritis merupakan gangguan yang sering terjadi dengan
karakteristik adanya anorexia, rasa penuh, dan tidak enak pada
epigastrium, mual, muntah. Gastritis adalah peradangan mukosa lambung,
eksplorasi, mukosa lambung, atau kadang-kadang peradangan bakteri
(Ester, 2001).
Gastritis adalah segala radang mukosa lambung (Smeltzer & Bare,
2002).

Gastritis merupakan suatu keadaan peradangan atau perdarahan


mukosa lambung yang dapat bersifat akut, kronis, difus, atau lokal (Price
& Wilson, 2006).
Jadi kesimpulannya, Gastritis adalah radang pada mukosa lambung
yang dapat bersifat akut, kronis, difus, atau lokal yang ditandai dengan
anoreksia, rasa penuh, tidak enak pada epigastrium, mual, dan muntah.

B. KLASIFIKASI
Berikut merupakan klasifikasi gastritis menurut Wim de Jong, 2005:
1. Gastritis Akut
a. Gastritis akut tanpa perdarahan
b. Gastritis akut dengan perdarahan
Gastritis akut berasal dari makan terlalu banyak atau terlalu cepat,
makan-makanan yang terlalu berbumbu atau yang mengandung
mikroorganisme penyebab penyakit, iritasi bahan semacam alkohol,
aspirin, NSAID, lisol, serta bahan korosif lain, refluks empedu atau
cairan pankreas.
2. Gastritis Kronik
Inflamasi lambung yang lama dapat disebabkan oleh ulkus
benigna atau maligna dari lambung, atau oleh bakteri Helicobacter
pylory (H.pylory).
3. Gastritis Bakterial
Gastritis bakterial yang disebut juga gastritis infektiosa,
disebabkan oleh refluks dari duodenum.
C. ETIOLOGI
Etiologi gastritis menurut Smeltzer & Bare, 2002 adalah:
1. Infeksi bakteri.

Sebagian besar populasi di dunia terinfeksi oleh bakteri H. Pylori


yang hidup di bagian dalam lapisan mukosa yang melapisi dinding
lambung. Diperkirakan penularan terjadi melalui jalur oral atau akibat
memakan makanan atau minuman yang terkontaminasi oleh bakteri
ini. Infeksi H. pylori ini sekarang diketahui sebagai penyebab utama
terjadinya peptic ulcer dan penyebab tersering terjadinya gastritis.
Infeksi dalam jangka waktu yang lama akan menyebabkan peradangan
menyebar yang kemudian mengakibatkan perubahan pada lapisan
perlindungan dinding lambung. Salah satu perubahan itu adalah
atrophic gastritis, sebuah keadaan dimana kelenjar-kelenjar penghasil
asam lambung secara perlahan rusak.
2. Pemakaian obat penghilang nyeri secara terus menerus
Obat analgesic anti inflamasi nonsteroid (AINS) seperti aspirin,
ibuprofen dan naproxen dapat menyebabkan peradangan pada lambung
dengan cara mengurangi prostaglandin yang bertugas melindungi
dinding lambung.
3. Penggunaan alkohol secara berlebihan.
Alkohol dapat mengiritasi dan mengikis mukosa pada dinding
lambung dan membuat dinding lambung lebih rentan terhadap asam
lambung walaupun pada kondisi normal.
4. Penggunaan kokain.
Kokain dapat merusak lambung dan menyebabkan perdarahan dan
gastritis.

5. Stres fisik
Stres fisik akibat pembedahan besar, luka trauma, luka bakar atau
infeksi berat dapat menyebabkan gastritis dan juga borok serta
perdarahan pada lambung.
6. Kelainan autoimmune
Autoimmune atrophic gastritis terjadi ketika sistem kekebalan
tubuh menyerang sel-sel sehat yang berada dalam dinding lambung.
Hal ini mengakibatkan peradangan dan secara bertahap menipiskan
dinding lambung, menghancurkan kelenjar-kelenjar penghasil asam
lambung dan mengganggu produksi faktor intrinsic (yaitu sebuah zat
yang membantu tubuh mengabsorpsi vitamin B12). Kekurangan B12
akhirnya dapat mengakibatkan pernicious anemia, sebuah konsisi
serius yang tidak dirawat dapat mempengaruhi seluruh sistem dalam
tubuh.

7. Crohns disease.
Ketika lambung terkena penyakit ini, gejala-gejala dari Crohns
disease (yaitu sakit perut dan diare dalam bentuk cairan) tampak lebih
menyolok daripada gejala gastritis.
8. Radiasi dan kemoterapi.
Ketika tubuh terkena sejumlah kecil radiasi, kerusakan tersebut
menjadi permanen dan dapat mengikis dinding lambung serta merusak
kelenjar penghasil asam lambung.

9. Penyakit bile refluk.


Bile (empedu) adalah cairan yang membantu mencerna lemaklemak dalam tubuh. Cairan ini diproduksi oleh hati. Ketika dilepaskan,
empedu akan melewati serangkaian saluran kecil dan menuju ke usus
kecil. Dalam kondisi normal, sebuah otot sphincter yang berbentuk
seperti cincin (pyloric valve) akan mencegah empedu mengalir balik
ke dalam lambung. Tapi jika katup ini tidak bekerja dengan benar,
maka empedu akan masuk ke dalam lambung dan mengakibatkan
peradangan dan gastritis.
D. PATOFISIOLOGI
Bahan-bahan makanan, minuman, obat maupun zat kimia yang
masuk kedalam lambung menyebabkan iritasi atau erosi pada mukosanya
sehingga lambung kehilangan barrier (pelindung). Selanjutnya terjadi
peningkatan difusi kembali asam lambung & pepsin. Gangguan difusi
pada mukosa dan peningkatan sekresi asam lambung yang meningkat /
banyak. Asam lambung dan enzim-enzim pencernaan. Kemudian
menginvasi mukosa lambung dan terjadilah reaksi peradangan.
Demikian juga terjadi peradangan dilambung karena invasi
langsung pada sel-sel dinding lambung oleh bakteri dan terinfeksi.
Peradangan ini termanifestasi seperti perasaan perih di epigastrium, rasa
panas / terbakar dan nyeri tekan.
Spasme lambung juga mengalami peningkatan diiringi gangguan
pada spinkter esophagus sehingga terjadi mual-mual sampai muntah. Bila
iritasi / erosi pada mukosa lambung sampai pada jaringan lambung dan

mengenai pembuluh darah. Sehingga kontinuitasnya terputus dapat


mennimbulkan hematemesis maupun melena (Nurarif, 2013).
E. PATHWAY
(Nurarif, 2013)

F. MANIFESTASI KLINIK
Manifestasi klinik menurut (Mansjoer, 1999):
1. Gastritis Akut
a. Gastritis Akute Eksogen Simple:
1) Nyeri epigastrik mendadak.
2) Nausea yang di susul dengan vomitus.
3) Saat serangan pasien berkeringat, gelisah, sakit perut, dan
kadang disertai panas serta tachicardi.
6

4) Biasanya dalam 1-2 hari sembuh kembali.


b. Gastritis Akute Eksogen Korosiva :
1) Pasien kolaps dengan kulit yang dingin.
2) Tachicardi dan sianosis.
3) Perasaan seperti terbakar, pada epigastrium.
4) Nyeri hebat / kolik.
c. Gastritis Infeksiosa Akute :
1) Anoreksia
2) Perasaan tertekan pada epigastrium.
3) Vumitus.
4) Hematemisis
d. Gastritis Hegmonos Akut:
1) Nyeri hebat mendadak di epigastrium.
2) Neusia.
3) Rasa tegang pada epigastrium.
4) Vomitus.
5) Panas tinggi dan lemas.
6) Tachipneu.
7) Lidah kering sedikit ekterik.
8) Tachicardi
9) Sianosis pada ektremitas.
10) Diare.
11) Abdomen lembek.
12) Leukositosis
2. Gastritis Kronis
a. Gastritis Superfisialis
1) Rasa tertekan yang samar pada epigastrium.
2) Penurunan BB.
3) Kembung / rasa penuh pada epigastrium.
4) Nousea.
5) Rasa perih sebelun dan sesudah makan.
6) Terasa pusing.
7) Vomitus.
b. Gastritis Atropikan
1) Rasa tertekan pada epigastrium.
2) Anorexia.
3) Rasa penuh pada perut.
4) Nousea.
5) Sendawa.
6) Vomitus.
7) Mudah tersinggung
8) Gelisah.
9) Mulut dan tenggorokan terasa kering.
c. Gastritis Hypertropik Kronik

1) Nyeri pada epigastrium yang tidak selalu berkurang setelah


minum susu.
2) Nyeri biasanya timbul pada malam hari.
3) Kadang disertai melena.
G. PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK
1. Pemeriksaan darah. Tes ini digunakan untuk memeriksa adanya
antibodi H. pylori dalam darah. Hasil tes yang positif menunjukkan
bahwa pasien pernah kontak dengan bakteri pada suatu waktu dalam
hidupnya, tapi itu tidak menunjukkan bahwa pasien tersebut terkena
infeksi. Tes darah dapat juga dilakukan untuk memeriksa anemia,
yang terjadi akibat pendarahan lambung akibat gastritis.
2. Pemeriksaan feces. Tes ini memeriksa apakah terdapat H. pylori
dalam feses atau tidak. Hasil yang positif dapat mengindikasikan
terjadinya infeksi. Pemeriksaan juga dilakukan terhadap adanya darah
dalam feces. Hal ini menunjukkan adanya pendarahan pada lambung.
3. Endoskopi saluran cerna bagian atas. Dengan tes ini dapat terlihat
adanya ketidaknormalan pada saluran cerna bagian atas yang
mungkin tidak terlihat dari sinar-X. Tes ini dilakukan dengan cara
memasukkan sebuah selang kecil yang fleksibel (endoskop) melalui
mulut dan masuk ke dalam esophagus, lambung dan bagian atas usus
kecil. Tenggorokan akan terlebih dahulu dimati-rasakan (anestesi)
sebelum endoskop dimasukkan untuk memastikan pasien merasa
nyaman menjalani tes ini. Jika ada jaringan dalam saluran cerna yang
terlihat mencurigakan, dokter akan mengambil sedikit sampel

(biopsy) dari jaringan tersebut. Sampel itu kemudian akan dibawa ke


laboratorium untuk diperiksa. Tes ini memakan waktu kurang lebih 20
sampai 30 menit. Pasien biasanya tidak langsung disuruh pulang
ketika tes ini selesai, tetapi harus menunggu sampai efek dari anestesi
menghilang, kurang lebih satu atau dua jam. Hampir tidak ada resiko
akibat tes ini. Komplikasi yang sering terjadi adalah rasa tidak
nyaman pada tenggorokan akibat menelan endoskop.
4. Ronsen saluran cerna bagian atas. Tes ini akan melihat adanya tandatanda gastritis atau penyakit pencernaan lainnya. Biasanya akan
diminta menelan cairan barium terlebih dahulu sebelum dilakukan
ronsen. Cairan ini akan melapisi saluran cerna dan akan terlihat lebih
jelas ketika di ronsen.
5. Analisa gaster : untuk mengetahui tingkat sekresi HCL, sekresi HCL
menurun pada klien dengan gastritis kronik.
6.

Kadar serum vitamin B12 : Nilai normalnya 200-1000 Pg/ml, kadar


vitamin B12 yang rendah merupakan anemia megalostatik.

7.

Kadar hemagiobi, hematokrit, trombosit, leukosit dan albumin.


Gastroscopy.Untuk mengetahui permukaan mukosa (perubahan)
mengidentifikasi area perdarahan dan mengambil jaringan untuk
biopsi.

8.

EGD (Esofagogastriduodenoskopi) = tes diagnostik kunci untuk


perdarahan GI atas, dilakukan untuk melihat sisi perdarahan / derajat
ulkus jaringan / cedera.

9. Angiografi = vaskularisasi GI dapat dilihat bila endoskopi tidak dapat


disimpulkan atau tidak dapat dilakukan. Menunjukkan sirkulasi
kolatera dan kemungkinan isi perdarahan.
10. Amilase serum = meningkat dengan ulkus duodenal, kadar rendah
diduga gastritis (Doengoes, 1999, hal: 456).

H. PENATALAKSANAAN
1. Terapi Farmakologis
a. Antasida. Antasida merupakan obat bebas yang dapat
berbentuk cairan atau tablet dan merupakan obat yang umum
dipakai untuk mengatasi gastritis ringan. Antasida menetralisir
asam lambung dan dapat menghilangkan rasa sakit akibat asam
lambung dengan cepat.
b. Penghambat asam. Ketika antasida sudah tidak dapat lagi
mengatasi rasa sakit tersebut, dokter kemungkinan akan
merekomendasikan obat seperti cimetidin, ranitidin, nizatidin
atau famotidin untuk mengurangi jumlah asam lambung yang
diproduksi.
c. Penghambat pompa proton. Cara yang lebih efektif untuk
mengurangi asam lambung adalah dengan cara menutup
pompa asam dalam sel-sel lambung penghasil asam.

10

Penghambat pompa proton mengurangi asam dengan cara


menutup kerja dari pompa-pompa ini. Yang termasuk obat
golongan ini adalah omeprazole, lansoprazole, rabeprazole dan
esomeprazole. Obat-obat golongan ini juga menghambat kerja
H. pylori.
d. Cytoprotective agents. Obat-obat golongan ini membantu untuk
melindungi jaringan-jaringan yang melapisi lambung dan usus
kecil. Yang termasuk ke dalamnya adalah sucraflate dan
misoprostol. Jika meminum obat-obat AINS secara teratur
(karena suatu sebab), dokter biasanya menganjurkan untuk
meminum obat-obat golongan ini. Cytoprotective agents yang
lainnya adalah bismuth subsalicylate yang juga menghambat
aktivitas H. pylori.
e. Terapi terhadap H. Pylori
Terdapat beberapa regimen dalam mengatasi infeksi H. pylori.
Yang paling sering digunakan adalah kombinasi dari antibiotik
dan penghambat pompa proton. Terkadang ditambahkan pula
bismuth subsalycilate. Antibiotik berfungsi untuk membunuh
bakteri,

penghambat

pompa

proton

berfungsi

untuk

meringankan rasa sakit, mual, menyembuhkan inflamasi dan


meningkatkan efektifitas antibiotik.
Terapi terhadap infeksi H. pylori tidak selalu berhasil,
kecepatan untuk membunuh H. pylori sangat beragam,
bergantung pada regimen yang digunakan. Akan tetapi
kombinasi dari tiga obat tampaknya lebih efektif daripada

11

kombinasi dua obat. Terapi dalam jangka waktu yang lama


(terapi selama 2 minggu dibandingkan dengan 10 hari) juga
tampaknya meningkatkan efektifitas.
Untuk memastikan H. pylori sudah hilang, dapat dilakukan
pemeriksaan kembali setelah terapi dilaksanakan. Pemeriksaan
pernapasan

dan

pemeriksaan

feces

adalah

dua

jenis

pemeriksaan yang sering dipakai untuk memastikan sudah


tidak adanya H. pylori. Pemeriksaan darah akan menunjukkan
hasil yang positif selama beberapa bulan atau bahkan lebih
walaupun pada kenyataanya bakteri tersebut sudah hilang.
2. Terapi Non farmakologis
Terapi non-farmakologis yang dapat dilakukan diantaranya
mengurangi atau menghilangkan stress psikologis, menghentikan
kebiasaan merokok, minuman alkohol, tidak menggunakan obatobat golongan nonsteroidal anti-inflamatory drug (NSAID). Selain
itu penderita gastritis harus menghindari makanan-makanan yang
dapat menyebabkan terjadinya ulcer (tukak) seperti makanan dan
minuman yang mengandung kafein, pedas dan alkohol. (Dipiro,
J.T., et al., 2005)
I. KOMPLIKASI
1. Gastritis Akut
Komplikasi yang dapat ditimbulkan oleh gastritis akut adalah
perdarahan saluran cerna bagian atas (SCBA) berupa hematemesis dan
melena, dapat berakhir sebagai syock hemoragik. Khusus untuk
perdarahan SCBA, perlu dibedakan dengan tukak peptik. Gambaran
klinis yang diperlihatkan hampir sama. Namun pada tukak peptik

12

penyebab utamanya adalah H. pylory, sebesar 100% pada tukak


duodenum dan 60-90% pada tukak lambung. Diagnosis pasti dapat
ditegakkan dengan endoskopi.
2. Gastritis Kronis
a. Gangguan penyerapan Vitamin B12 karena atropi lambung dan
akan terjadi anemia pernisiosa.
b. Gangguan penyerapan zat besi.
c. Penyempitan daearah fillorus
d. Kanker lambung

J. KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN KELUARGA


1. Pengkajian
a. Pengertian Pengkajian
Pengkajian adalah langkah awal dari keseluruhan proses
keperawatan yang menentukan proses berikutnya. Pengkajian
merupakan

tindakan

pemantauan

secara

langsung

untuk

memperoleh data klien dengan maksud menegaskan kondisi


penyakit dan masalah kesehatan klien. Pengkajian keluarga
merupakan suatu tahapan dimana seorang perawat mengambil
informasi secara terus-menerus terhadap keluarga yang dibina.
Secara umum data keluarga yang dikumpulkan mencakup struktur

13

keluarga, fungsi, data sosio kultur, lingkungan keluarga serta


stressor keluarga dan strategi koping. Sedangkan data individu
anggota keluarga mencakup data mental, fisik, emosi, sosial dan
spiritual.
b. Metode untuk menggali sumber informasi
Metode yang dapat digunakan untuk menggali sumber informasi
adalah:
1) Wawancara dengan keluarga kejadian sekarang dan masa lalu.
2) Observasi terhadap rumah, fasilitas-fasilitas yang ada di dalam
rumah.
3) Pemeriksaan fisik dari anggota keluarga (inspeksi, palpasi,
perkusi, auskultasi).
4) Sumber data sekunder (hasil laboratorium, rontgen)
Untuk dapat bekerja sama secara efektif dengan klien, maka
dalam melakukan pengkajian dan memberikan perawatan, perawat
keluarga harus berfikir secara interaksi. Wright dan Leahey (1984)
menerangkan bahwa variabel paling penting meningkatkan
perawatan yang berpusat keluarga adalah bagaimana perawat
mengkonseptualisasikan masalah.
c. Data umum
Data umum meliputi:
1) Nama KK
2) Umur KK
3) Alamat
4) Pekerjaan
5) Pendidikan
6) Susunan anggota keluarga
Genogram 3 generasi.
7) Tipe keluarga
Menjelaskan mengenai jenis tipe keluarga beserta kendala
atau masalah yang terjadi dengan jenis tipe keluarga tersebut.
8) Suku bangsa

14

Mengkaji asal suku bangsa keluarga tersebut serta


mengidentifikasi budaya suku dan bangsa tersebut terkait
denga kesehatan.
9) Agama
Mengkaji agama

yang

dianut

oleh

keluarga

serta

kepercayaan yang dapat mempengaruhi kesehatan


10) Status ekonomi sosial keluarga
Status ekonomi keluarga ditentukan oleh pendapatan baik
dari kepala keluarga maupun anggota keluarga lainnya. Selain
itu ditentukan pula oleh kebutuhan-kebutuhan yang dikeluarkan
oleh keluarga serta barang-barang yang dimiliki oleh keluarga.
11) Aktivitas rekreasi keluarga
Rekreasi keluarga tidak hanya dilihat kapan saja keluarga
pergi bersama-sama untuk mengunjungi tempat rekreasi
tertentu namun dengan menonton tv dan mendengarkan radio
juga merupakan aktivitas rekreasi.
d. Riwayat dan tahap perkembangan keluarga, meliputi:
1) Tahap perkembangan keluarga saat ini
Tahap perkembangan keluarga ditentukan dengan anak
tertua dari keluarga ini. Atau tahap perkembangan tertinggi
yang saat ini dicapai oleh keluarga.
2) Tahap perkembangan keluarga yang belum terpenuhi
Menjelaskan mengenai tugas perkembangan keluarga yang
belum terpenuhi oleh keluarga serta kendala mengapa tugas
perkembangan tersebut belum terpenuhi.
3) Riwayat keluarga saat ini
Menjelaskan mengenai riwayat kesehatan pada keluarga
inti yang

meliputi riwayat

penyakit/keturunan,

riwayat

kesehatan masing-masing anggota keluarga, perhatian terhadap

15

pencegahan penyakit (status imunisasi), sumber pelayanan


kesehatan yang bisa digunakan keluarga serta pengalaman
terhadap pelayanan kesehatan.
4) Riwayat keluarga sebelumnya
Dijelaskan mengenai riwayat kesehatan pada keluarga dari
pihak suami dan istri.
e. Lingkungan
1) Karakteristik rumah
a) Rumah (tipe, ukuran, jumlah ruangan, denah)
b) Ventilasi dan penerangan
c) Persediaan air bersih
d) Pembuangan sampah
e) Pembuangan air limbah
f) Jamban/ WC (tipe, jarak sumber air)
g) Lingkungan rumah
2) Karakteristik tetangga dan komunikasi Rw
Menjelaskan mengenai karakteristik tetangga

dan

komunitas setempat yang meliputi kebiasaan, lingkungan fisik,


aturan/kesepakatan, budaya setempat yang mempengaruhi
kesehatan.
3) Mobilitas geografi keluarga
Mobilitas geografis keluarga ditentukan dengan kebiasaan
keluarga berpindah tempat.
4) Perkumpulan keluarga dan interaksi dengan masyarakat
Menjelaskan mengenai waktu yang digunakan keluarga
untuk berkumpul serta perkumpulan keluarga yang ada dan
sejauh mana keluarga berinteraksi dengan masyarakat.
5) Sistem pendukung keluarga
Yang termasuk pada sistem pendukung keluarga adalah
jumlah anggota keluarga yang sehat.
f. Struktur keluarga
1) Pola komunikasi keluarga
Menjelaskan mengenai cara berkomunikasi keluarga,
terbuka atau tertutup.
2) Struktur kekuatan keluarga

16

Menjelaskan kemampuan keluarga mengendalikan dan


mempengaruhi orang lain untuk mengubah perilaku.
3) Struktur peran
Menjelaskan peran dari masing-masing anggota keluarga
baik secara formal maupun informal. Misal ayah, formal
sebagai kepala keluarga, informal sebagai pendidik.
4) Nilai dan norma keluarga
Menjelaskan mengenai nilai dan norma yang dianut oleh
keluarga yang berhubungan dengan kesehatan.
g. Fungsi Keluarga
1) Fungsi afektif
Yang perlu dikaji adalah gambaran diri anggota keluarga,
perasaan memiliki dan dimiliki oleh keluarga, dukungan
keluarga terhadap anggota keluarga lainnya.
2) Fungsi sosialisasi
Mengkaji
bagaimana
interaksi
atau

hubungan/

bersosialisasi dalam keluarga dan orang lain, sejauh mana


anggota keluarga belajar disiplin
3) Fungsi reproduksi
4) Fungsi ekonomi
5) Fungsi perawatan keluarga
a) Kemampuan keluarga untuk mengenal masalah kesehatan
b) Kemampuan keluarga untuk mengambil keputusan
mengenai tindakan kesehatan yang tepat
c) Kemampuan keluarga untuk merawat anggota keluarga
yang sakit
d) Kemampuan keluarga untuk memelihara lingkungan rumah
yang sehat
e) Kemampuan keluarga untuk menggunakan fasilitas/sarana
kesehatan yang ada di masyarakat.
h. Stress dan koping keluarga
1) Stressor jangka panjang dan pendek

17

a) Stressor

jangka

pendek,

stressor

yang

memerlukan

penyelesaian dalam waktu 6 bulan


b) Stressor jangka panjang, stressor yang memerlukan
penyelesaian dalam waktu >6 bulan
2) Kemampuan keluarga berespon terhadap situasi/ stressor
Sejauh mana keluarga berespon terhadap stressor misal
panik atau bingung.
3) Strategi koping yang digunakan
Mekanisme pertahanan diri yang digunakan keluarga jika
ada masalah.
4) Strategi adaptasi disfungsional
Meliputi data tentang mekanisme pertahanan diri yang
maladaptif.
i. Pemeriksaan fisik
Pemeriksaan fisik dilakukan pada semua anggota keluarga,
dari ujung rambut sampai ujung kaki.
j. Harapan keluarga
Apa yang diharapkan keluarga dengan bantuan yang
diberikan perawat.
2. Diagnosa Keperawatan
Perumusan diagnosa keperawatan keluarga yang telah disepakati
menggunakan aturan yang terdiri dari:
a. Problem (masalah sebagai akibat dari tidak terpengaruhinya
kebutuhan dasar manusia yang dialami oleh keluarga atau anggota
keluarga)
b. Etiologi ( suatu pernyataan yang menyebabkan masalah dalam
keluarga)
c. Tanda dan gejala (sekumpulan data subyektif dan obyektif yang
diperoleh perawar dari keluarga saat pengkajian)
Apabila perawat merumuskan diagnosis keperawatan lebih dari
satu perlu dilakukan skor. Proses skoring menggunakan skala yang

18

telah dirumuskan oleh Bailondan Maglaya.Proses scoring untuk setiap


diagnosa keperawatan:
a.
b.
c.
d.

Tentukan skornya sesuai dengan kriteria yang dibuat perawat


Selanjutnya skor dibagi dengan skor tertinggi dengan bobot
Skor yang diperoleh...x bobot skor tertinggi
Jumlah skor untuk semua kriteria (skor maksimum sama dengan
jumlah bobot, yaitu 5).

Tabel scoring diagnosis keperawatan:


No Kriteria
1
Sifat masalah

Skor

Skala: Tidak/ kurang sehat

Ancaman kesehatan

Keadaan sejahtera
Kemungkinan masalah dapat diubah

Skala: Mudah

Sebagian
3

Bobot
1

Tidak dapat
Potensi masalah dapat dicegah

Skala: Tinggi

Cukup

Rendah
Menonjolnya masalah

Skala: Masalah berat, harus segera ditangani

Ada masalah, tidak perlu ditangani


Masalah tidak dirasakan
Kriteria prioritas masalah menurut Effendy (1998):
a. Sifat masalah
b. Kemungkinan masalah dapat diubah
19

1
0

c. Potensial masalah untuk dicegah


d. Menonjolnya masalah
3. Rencana Asuhan Keperawatan
Ada beberapa tingkatan tujuan dalam penyusunan rencana suhan
keperawatan menurut Friedman (1998) yaitu tujuan jangka pendek dan
tujuan jangka panjang. Tujuan jangka pendek sifatnya dapat diukur,
langsung, dan spesifik. Tujuan jangka panjang merupakan tingkatan
akhir yang menyatakan maksud-maksud luas yang diharapkan oleh
perawat. Tahap perencanaan adalah merumuskan tujuan dan menyusun
rencana tindakan keperawatan.
a. Tujuan asuhan keperawatan keluarga
Perencanaan keperawatan keluarga terdiri dari atas penetapan
tujuan (umum dan khusus) yang didukung dengan kriteria dan
standar.
b. Menyusun rencana tindakan keperawatan
Rencana tindakan yang disusun untuk mengatasi etiologi dan
mengacu pada tujuan khusus dengan mempertimbangkan onec.
4. Implementasi
Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam pelaksanaan tindakan
keperawatan keluarga:
a. Sumber daya keluarga (keuangan)
b. Tingkat pendidikan keluarga
c. Adat-istiadat yang berlaku
d. Respon dan penerimaan keluarga
e. Sarana dan prasarana yang ada pada keluarga
5. Evaluasi
Menurut Friedman (1998) evaluasi didasarkan pada bagaimana
efektifnya intervensi-intervensi yang dilakukan oleh keluarga, perawat
dan yang lainnya. Faktor yang paling penting adalah bahwa metode
tersebut harus disesuaikan dengan tujuan dan intervensi yang sedang di
evaluasi, yaitu:
a. Evaluasi respon verbal

20

Keluarga mampu menyebutkan tentang penyakit/ masalah


yang sedang dihadapi.
b. Evaluasi respon afektif
Keluarga mampu merawat anggota keluarga yang sakit.
c. Evaluasi respon psikomotor
Keluarga mampu memodifikasi lingkungan bagi penderita.

21