Anda di halaman 1dari 28

OLEH :

YULIAMAN GEA
NIM : 1301135

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN


SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN
SUMATERA UTARA
MEDAN
2015

KETUBAN PECAH DINI


1. KONSEP DASAR
A. Pengertian
Ketuban pecah dini adalah pecahnya selaput ketuban sebelum ada tanda-tanda persalinan.
(Mansjoer, 2001: 310).
Ketuban pecah dini adalah pecahnya selaput ketuban pada setiap saat sebelum permulaan
persalinan tanpa memandang apakah pecahnya selaput ketuban terjadi pada kehamilan 24
minggu atau 44 minggu. (Indriyani Dewi, 2008 : 1).
B. Etiologi
Menurut Mansjoer (2001: 310), etiologi ketuban pecah dini belum diketahui, tetapi faktor
predisposisi ketuban pecah dini itu sendiri ialah infeksi genetalia, servik inkompeten,
gemeli,hidramnion, kehamilan preterm, disproporsi sefalopelvik.
C. Patofisiologi
Skema 2.1 Patofisiologi Ketuban Pecah Dini
Infeksi inflamasi

Terjadi peningkatan aktifitas iL 1 dan prostaglandin

Kolagenase jaringan

Depolimerasi kolagen pada selaput korion atau amion

Ketuban tipis, lemah dan mudah pecah spontan

Ketuban pecah dini


(Maria, 2009 : 2)
Penjelasan patofisiologi:
Pada kondisi yang normal kolagen terdapat pada lapisan kompakta amnion, fibroblast, jaringan
retikuler korion dan trofoblas, sintesis maupun degradasi jaringan kolagen dikontrol oleh system
aktifitas dan inhibisi interleukin -1 (iL-1) dan prostaglandin, tetapi karena ada infeksi dan
inflamasi, terjadi peningkatan aktifitas iL-1 dan prostaglandin, menghasilkan kolagenase
jaringan, sehingga terjadi depolimerasi kolagen pada selaput korion/amnion, menyebabkan
ketuban tipis, lemah dan mudah pecah spontan sehingga terjadi ketuban pecah dini. (Maria, 2009
: 2)

D. Manifestasi Klinis

1.
2.
3.
4.
5.

Manifestasi klinis ketuban pecah dini adalah:


Keluarnya air ketuban berwarna putih keruh, jernih, kuning atau kecoklatan sedikit-sedikit
atau sekaligus banyak.
Dapat disertai demam bila sudah ada infeksi.
Janin mudah diraba.
Pada periksa dalam sepaput ketuban tidak ada, air ketuban sudah bersih.
Inspekulo: tampak air ketuban mengalir atau selaput ketuban tidak ada dan air ketuban sudah
kering. (Mansjoer, 2001: 313)

E. Pemeriksaan Penunjang
1. Pemeriksaan leukosit darah: >15.000/ul bila terjadi infeksi.
2. Tes lakmus merah berubah menjadi biru.
3. Amniosentisis.
4. USG: menentukan usia kehamilan, indek cairan amnion berkurang.
(Mansjoer, 2001: 313).

F. Komplikasi
1. Infeksi.
2. Partus preterm.
3. Prolaps tali pusat.
4. Distosia (partus kering) (Mansjoer, 2001: 313).
2. Konsep Fisiologi Persalinan
A. Pengertian Persalinan
Persalinan adalah proses pengeluaran hasil konsepsi yang telah cukup bulan atau dapat
hidup di luar kandungan melalui jalan lahir atau melalui jalan lain, dengan bantuan atau tanpa
bantuan. (Manuaba, 1998:157).
Persalinan merupakan proses pengeluaran hasil konsepsi yang dapat hidup dari dalam
uterus melalui vagina ke dunia luar. (Mansjoer, A., 2001: 291).
Persalinan adalah proses membuka dan menipisnya servik, dan janin turun ke dalam jalan
lahir. Kelahiran adalah proses dimana janin dan ketuban didorong keluar melalui jalan lahir.
Persalinan dan kelahiran normal adalah proses pengeluaran janin yang terjadi pada
kehamilan cukup bulan (37-42 minggu), lahir spontan dengan presentasi belakang kepala yang
berlangsung dalam 18 jam, tanpa komplikasi baik pada ibu maupun pada janin. (Saifuddin,
2002:100).
Dari pengertian tersebut di atas maka dapat disimpulkan bahwa persalinan adalah proses
pengeluaran konsepsi yang telah cukup bulan melalui jalan lahir atau jalan lainnya, dengan
bantuan atau tanpa bantuan.

B. Bentuk Persalinan
Bentuk-bentuk persalinan berdasarkan definisi adalah sebagai berikut:
1. Persalinan spontan
Bila persalinan seluruhnya berlangsung dengan kekuatan ibu sendiri.
2. Persalinan buatan
Bila proses persalinan dengan bantuan tenaga dari luar.
3. Persalinan anjuran
Bila kekuatan yang diperlukan untuk persalinan ditimbulkan dari luar dengan jalan
rangsangan. (Manuaba, 1998:157).
C. Kala Persalinan
Persalinan dibagi dalam 4 kala, yaitu:
1. Kala I
Dimulai dari saat persalinan mulai sampai pembukaan lengkap (10 cm). Proses ini terbagi
dalam 2 fase, fase laten (8 jam) servik membuka sampai 3 cm dan fase aktif (7 jam) servik
membuka dari 3 sampai 10 cm. Selama fase aktif, kontraksi lebih kuat dan sering.
2. Kala II
Dimulai dari pembukaan lengkap (10 cm) sampai bayi lahir. Proses ini biasanya berlangsung
2 jam pada primipara dan 1 jam pada multipara.
3. Kala III
Dimulai segera setelah bayi lahir sampai lahirnya placenta, yang berlangsung tidak lebih dari
30 menit.
4. Kala IV
Dimulai dari saat lahirnya placenta sampai 2 jam pertama postpartum (Moechtar, 1998: 94).
d. Tanda-tanda permulaan persalinan
Sebelum terjadi persalinan sebenarnya beberapa minggu sebelumnya wanita memasuki
bulannya atau minggunya atau harinya yang disebut kala pendahuluan, dengan tandatanda sebagai berikut:
1. Lightening atau settling atau dropping yaitu kepala turun memasuki pintu atas panggul
terutama pada primigravida.
2. Perut kelihatan lebih melebar, fundus uteri turun.
3. Perasaan sering-sering atau susah kencing (polakisuria) karena kandung kemih tertekan
oleh bagian terbawah janin.
4. Perasaan sakit di perut dan di pinggang oleh adanya kontraksi-kontraksi lemah dari
uterus.
5. Servik menjadi lembek, mulai mendatar, dan sekresinya bertambah bisa bercampur darah.
(Moechtar, R. 1998: 93).

D. Sebab-Sebab Yang Menimbulkan Persalinan


Sebab-sebab terjadinya persalinan belum diketahui dengan jelas, ada banyak faktor
yang memegang peranan penting sehingga terjadi persalinan. Di bawah ini ada beberapa teori
tentang penyebab timbulnya persalinan, yaitu:
1. Teori penurunan hormon
1-2 minggu sebelum partus mulai terjadi penurunan kadar hormon estrogen dan progesteron.
Progesteron bekerja sebagai penenang otot-otot polos rahim dan akan menyebabkan
kekejangan pembuluh darah sehingga timbul his bila kadar progesteron turun.
2. Teori placenta menjadi tua
Akan menyebabkan turunnya kadar estrogen dan progesteron yang menyebabkan kekejangan
pembuluh darah, hal ini akan menimbulkan kontraksi rahim.
3. Teori distensi rahim
Rahim yang menjadi besar dan meregang menyebabkan iskemia otot-otot rahim, sehingga
mengganggu sirkulasi utero-placenter.
4. Teori iritasi mekanik
Di belakang servik terletak ganglion servikale (fleksus frankenhauser). Bila ganglion ini
digeser dan ditekan akan timbul kontraksi.
5. Teori induksi partus
Amniotomi: pemecahan ketuban Oksitosin drips: pemberian oksitosin menurut tetesan per
infus (Mochtar, R. 1998: 92).
3. Fisiologi Nifas
A. Pengertian Nifas
Masa nifas adalah masa pulih kembali dimulai dari persalinan selesai sampai alat-alat
kandungan kembali seperti pra-hamil, lamanya 6-8 minggu. (Mochtar, R. 1998: 115).
Masa puerperium atau masa nifas mulai setelah partus selesai, dan berakhir setelah kira-kira 6
minggu. Akan tetapi, seluruh alat genital baru pulih kembali seperti sebelum ada kehamilan
dalam waktu 3 bulan (Wiknjosastro, 2002: 237).
B. Periode Nifas
Nifas dibagi dalam 3 periode:
1. Puerperium dini, yaitu kepulihan dimana ibu telah diperbolehkan berdiri dan berjalan-jalan.
2. Puerperium intermedial yaitu kepulihan menyeluruh alat-alat genitalia yang lamanya 6-8
minggu.
3. Remote puerperium adalah waktu yang diperlukan untuk pulih dan sehat sempurna terutama
bila selama hamil atau sewaktu persalinan mempunyai komplikasi. Waktu untuk sehat
sempurna bisa berminggu-minggu, bulanan atau tahunan (Manuaba, 1999: 117).

C. Perubahan Fisiologis Maternal Pada Periode Pasca Partum


1. Menurut Mochtar (1998: 115), perubahan fisiologis pada ibu post partum adalah sebagai
berikut:
a. Uterus secara berangsur-angsur mengalami perubahan menjadi kecil (involusi) sehingga
akhirnya kembali seperti sebelum hamil.
Uterus 15 cm, lebar menyerupai suatu buah alpukat gepeng berukuran panjang 10 cm.
Pada bekas implantasi placenta lebih tipis12 cm dan tebal dari pada bagian lain yang
merupakan suatu luka yang kasar dan menonjol ke dalam kavum uteri, segera setelah
persalinan. Penonjolan tersebut 7,5 cm, sering disangka sebagai suatu bagian
placentadengan diameter yang tertinggal. Sesudah 2 mg diameternya 3,5 cm pada 6
minggu mencapai 2,4 cm. (Wiknjosastro, 2002: 237).
b. Lochea
Adalah cairan sekret yang berasal dari kavum uteri dan vagina dalam masa nifas. Lochea
dibagi dalam beberapa jenis yaitu:
1. Lochea rubra (cruentra): lochea yang terdiri dari darah segar dan sisa-sisa selaput
ketuban selama 2 hari pasca persalinan.
2. Lochea sanguinolenta: lochea yang berwarna merah kuning berisi darah dan lendir,
pada hari ke 3-7 pasca persalinan.
(3) Lochea serosa: lochea yang berwarna kuning, cairan tidak berdarah lagi, pada hari
ke 7-14 pasca persalinan.
3. Lochea alba: lochea yang berupa cairan putih, setelah 2 minggu.
4. Lochea purulenta: apabila terjadi infeksi, keluar cairan seperti nanah berbau busuk.
5. Locheostasis: lochea yang tidak lancar.
c. Servik
Setelah persalinan bentuk servik agak menganga seperti corong berwarna merah
kehitaman, konsistensinya lunak, kadang-kadang terdapat perlukaan-perlukaan kecil.
Setelah bayi lahir, tangan masih bisa masuk rongga rahim. Setelah 2 jam dapat dilalui
oleh 2-3 jari dan setelah 7 hari hanya dapat dilalui oleh 1 jari.
d. Ligamen-ligamen
Ligamen, fasia dan diafragma pelvis yang meregang pada waktu persalinan, setelah bayi
lahir secara berangsur-angsur menjadi ciut dan pulih kembali.
(Mochtar, R. 1998: 116).
2. Menurut Bobak, (2005: 496-502), perubahan fisiologis pada ibu post partum adalah sebagai
berikut:
a. Sistem reproduksi dan struktur terkait dalam proses involusi.
1. Uterus
Proses kembalinya uterus ke keadaan sebelum hamil setelah melahirkan disebut
involusi. Proses ini mulai segera setelah placenta keluar akibat kontraksi otot-otot
polos uterus.
Pada akhir tahap ke-3 persalinan, uterus berada di garis tengah, kira-kira 2 cm di
bawah umbilikus dengan bagian fundus bersandar pada promotorium sakralis. Pada
saat ini besar uterus kira-kira sama dengan besar uterus sewaktu usia kehamilan 16
minggu kira-kira sebesar grapefruit (jeruk asam) dan beratnya kira-kira 1000 gram.
Dalam waktu 12 jam tinggi fundus uteri mencapai 1 cm di atas umbilicus. Fundus
turun kira-kira 1-2 cm setiap 24 jam. Pada hari ke-6 pasca partum fundus normal akan
berada dipertengahan antara umbilicus dan simfisis pubis. Pada hari ke-9 uterus tidak
dapat dipalpasi pada abdomen. Uterus yang pada waktu penuh beratnya 11 x berat

2.

3.

4.

5.

6.

7.

8.

sebelum hamil, berinvolusi menjadi 500 gram. Satu minggu setelah melahirkan 300
gram sampai dua minggu setelah lahir. Pada minggu ke-6 beratnya menjadi 50-60
gram.
Kontraksi
Selama 1-2 jam pertama pasca partum intensitas kontraksi uterus bisa berkurang dan
menjadi tidak teratur. Karena penting sekali untuk mempertahankan kontraksi uterus
selama ini, biasanya suntikan oksitosin secara intravena dan intramuscular diberikan
segera setelah placenta lahir.
Afterpains
Rasa nyeri setelah melahirkan ini lebih nyata setelah ibu melahirkan, di tempat uterus
terlalu teregang (misal: pada bayi besar, kembar, menyusui dan oksitosin tambahan
biasanya meningkatkan nyeri karena keduanya merangsang kontraksi uterus.
Tempat placenta
Segera setelah placenta lahir dan ketuban dikeluarkan kontraksi vaskular dan
trombosis menurun dari tempat placenta kesatu area yang meninggi dan bernodul
tidak teratur. Proses penyembuhan yang unik ini memerlukan endometrium
menjalankan siklusnya seperti biasa dan memungkinkan inplantasi dan placenta untuk
kehamilan di masa yang akan datang.
Lochea
Rabas uterus yang keluar setelah bayi lahir disebut lochea.
a. Lochea rubra : mengandung darah dan debris desidua serta debris trofoblastik
setelah 3-4 hari.
b. Lochea serosa : terdiri dari darah lama (old blood), serum, leukosit, dan debris
jaringan. Sekitar 10 hari setelah bayinya lahir.
c. Lochea alba : mengandung leukosit, desidua, sel epitel, mucus, serum, dan bakteri.
Servik
Servik menjadi lunak segera setelah ibu melahirkan 18 jam pasca partum, servik
memendek dan konsistensinya menjadi lebih padat dan kembali kebentuk semula,
muara servik yang berdilatasi 10 cm sewaktu melahirkan, menutup secara bertahap. 2
jari mugkin masih dapat dimasukkan ke dalam muara servik pada hari ke-4 sampai ke6 pasca partum, tetapi hanya tangki kuret terkecil yang dapat dimasukkan pada akhir
minggu ke-2.
Vagina dan perineum
Vagina yang semula sangat teregang akan kembali secara bertahap ke ukuran sebelum
hamil, 6-8 minggu setelah bayi lahir.
Rugae akan kembali terlihat pada sekitar minggu ke-4, tetapi pada multipara rugae
rata atau tidak menonjol.
Topangan otot panggul
Jaringan penopang dasar panggul yang terobek atau teregang saat ibu melahirkan
memerlukan waktu sampai 6 bulan untuk kembali ke bentuk tonus semula yang
disebut relaksasi panggul, struktur ini terdiri atas uterus, dinding vagina posterior atas,
uretra, kandung kemih dan rektum.

b. Sistem Endrokin
1. Hormon Placenta
Pengeluaran placenta menyebabkan penurunan signifikan hormon-hormon yang

c.

d.

e.

f.

diproduksi oleh organ tersebut. Penurunan hormon Human Placental Lactogen (HPL),
estrogen, dan kortisol, serta placental enzyme insulinase membalik efek diabetogenik
kehamilan, sehingga kadar gula darah menurun secara bermakna pada masa
puerperium. Kadar estrogen dan progesteron menurun secara mencolok setelah
placenta keluar, kadar terendahnya dicapai kira-kira satu minggu post partum. (Bowes,
1991 : 1)
2. Hormon hipofisis dan fungsi ovarium
Waktu dimulainya ovulasi dan menstruasi pada wanita menyusui dan tidak menyusui
berbeda. Kadar prolaktin serum yang tinggi pada wanita menyusui tampaknya
berperan dalam menekan ovulasi. Pada wanita tidak menyusui, ovulasi terjadi dini,
yakni dalam 27 hari setelah melahirkan, dengan waktu rata-rata 70 sampai 75 hari.
Pada wanita menyusui, waktu rata-rata terjadinya ovulasi sekitar 190 hari. (Bowes,
1991 : 2).
Abdomen
Apabila wanita berdiri di hari pertama setelah melahirkan, abdomennya akan menonjol
dan membuat wanita tersebut tampak seperti masih hamil. Dalam 2 minggu setelah
melahirkan dinding abdomen wanita itu akan rileks.
Sistem urinarius
Perubahan hormonal pada masa hamil (kadar steroid yang tinggi) turut menyebabkan
peningkatan fungsi ginjal. Fungsi ginjal kembali normal dalam waktu 1 bulan setelah
wanita melahirkan.
1. Komponen urine
Glukosuria ginjal yang diinduksi oleh kehamilan menghilang. Laktosuria positif pada
ibu menyusui merupakan hal yang normal.
2. Diuresis Pasca partum
Dalam 12 jam setelah melahirkan, ibu mulai membuang kelebihan cairan yang
terimbun di jaringan selama ia hamil.
3. Uretra dan kandung kemih
Trauma bisa terjadi pada uretra dan kandung kemih selama proses melahirkan, yakni
sewaktu bayi melewati jalan lahir.
Sistem Percernaan
1. Nafsu makan
Ibu biasanya lapar segera setelah melahirkan, sehingga ia boleh mengkonsumsi
makanan ringan.
2. Motilitas
Secara khas, penurunan tonus dan motilitas otot traktus cerna menetap selama waktu
yang singkat setelah bayi lahir.
3. Defekasi
BAB secara spontan bisa tertunda selama 2-3 hari setelah ibu melahirkan.
Payudara
Konsentrasi hormon yang menstimulasi perkembangan payudara selama wanita hamil
(estrogen, progesteron, Human Chorionic Gonadotropin, prolaktin, kortisol dan insulin)
menurun dengan cepat setelah bayi lahir.
1. Ibu tidak menyusui
Apabila wanita memilih untuk tidak menyusui, kadar prolaktin akan turun dengan
cepat.

g.

h.

i.

j.
k.

2. Ibu yang menyusui


Ketika laktasi terbentuk, teraba suatu massa (benjolan), tetapi kantong susu yang terisi
berubah posisi dari hari ke hari.
Sistem Kardiovaskuler
1. Volume darah
Perubahan volume darah tergantung pada beberapa faktor, misalnya kehilangan darah
selama melahirkan dan mobilisasi serta pengeluaran cairan ekstravaskuler (edema
fisiologis).
2. Curah jantung
Denyut jantung setelah melahirkan akan meningkat bahkan lebih tinggi selama 30-60
menit karena darah yang biasanya melintasi sirkuit uteroplacenta tiba-tiba kembali ke
sirkulasi umum.
3. Tanda-tanda vital
Beberapa perubahan tanda-tanda vital bisa terlihat dan pasti terjadi.
4. Varises
Varises di tungkai dan di sekitar anus (hemoroid) sering dijumpai pada wanita hamil.
Sistem Neurologi
Rasa tidak nyaman neurologis yang diinduksi kehamilan akan menghilang setelah wanita
melahirkan.
Sistem Muskuloskeletal
Adaptasi sistem muskuloskeletal ibu yang terjadi selama masa hamil berlangsung secara
terbalik pada masa pasca partum.
Sistem Integumen
Hiperpigmentasi di areola dan linea nigra tidak menghilang seluruhnya setelah bayi lahir.
Sistem Kekebalan
Kebutuhan ibu untuk mendapat vaksinasi rubella atau untuk mencegah isoimunisasi Rh
ditetapkan.

D .Perawatan Pasca Persalinan


Perawatan yang diperlukan pada pasca persalinan adalah sebagai berikut:
1. Mobilisasi
Mobilisasi sangat bervariasi tergantung pada komplikasi persalinan, nifas atau sembuhnya
luka. Jika tidak ada kelainan, lakukan mobilisasi sedini mungkin, yaitu dua jam setelah
persalinan normal. ini berguna untuk memperlancar sirkulasi darah dan mengeluarkan cairan
vagina (lochea) (Zietraelmart, 2009: 2-3).
2. Kebersihan Diri
a. Anjurkan kebersihan seluruh tubuh/personal hygiene.
b. Mengajarkan ibu bagaimana membersihkan daerah kelamin dengan sabun dan air.
Pastikan ibu mengerti untuk membersihkan daerah sekitar vulva terlebih dahulu. Dari
depan ke belakang, baru membersihkan daerah anus. Nasehatkan ibu untuk
membersihkan diri setiap kali selesai buang air kecil atau besar.
c. Sarankan ibu untuk mengganti pembalut minimal dua kali sehari.
d. Sarankan ibu untuk mencuci tangan dengan sabun dan air sebelum dan sesudah
membersihkan daerah kelaminnya.
e. Kurang istirahat akan berpengaruh terhadap ibu, yaitu : mengurangi jumlah ASI yang
diproduksi, menyebabkan depresi dan ketidakmampuan untuk merawat bayi dan diri
sendiri (We Place, 2008: 3)
3. Istirahat

4.

5.

6.

7.

a. Anjurkan ibu untuk beristirahat cukup untuk mencegah kelelahan yang berlebihan.
b. Sarankan ibu untuk kembali ke kegiatan-kegiatan rumah tangga biasa secara perlahanlahan, serta tidur siang atau beristirahat selama bayi tidur (We Place, 2008: 3)
Diet
Kebutuhan nutrisi pada masa menyusui meningkat 25% yaitu untuk produksi ASI dan
memenuhi kebutuhan cairan yang meningkat tiga kali dari biasanya. Penambahan kalori pada
ibu menyusui sebanyak 500 kkal tiap hari. Makanan yang dikonsumsi ibu berguna untuk
melakukan aktivitas, metabolisme, cadangan dalam tubuh, proses produksi ASI serta sebagai
ASI itu sendiri yang akan dikonsumsi bayi untuk pertumbuhan dan perkembangannya.
Makanan yang dikonsumsi juga perlu memenuhi syarat, seperti susunannya harus seimbang,
porsinya cukup dan teratur, tidak terlalu asin, pedas atau berlemak, tidak mengansung
alkohol, nikotin serta bahan pengawet dan pewarna. Menu makanan yang seimbang
mengandung unsur-unsur, seperti sumber tenaga, pembangun, pengatur dan pelindung.
(Zietraelmart, 2009: 2-3)
Senam Nifas
Senam nifas dilakukan untuk memperlancar sirkulasi darah dan mengembalikan otot-otot
yang kendur, terutama rahim dan perut yang memuai saat hamil. Latihan senam nifas dapat
diberikan mulai hari kedua misalnya dengan cara:
a. Ibu telentang lalu kedua kaki ditekuk, kedua tangan ditaruh di atas dan menekan perut.
Lakukan pernapasan dada dan pernapasan perut.
b. Dengan posisi yang sama, angkat bokong lalu taruh kembali.
c. Kedua kaki diluruskan dan disilangkan, lalu kencangkan otot seperti menahan miksi dan
defakasi.
d. Duduklah pada kursi, perlahan bungkukkan badan sambil tangan berusaha menyentuh
tumit (We Place, 2008: 3)
Miksi
Pengeluaran air seni akan meningkat 24-48 jam pertama sampai sekitar hari ke-5 setelah
melahirkan. Hal ini terjadi karena volume darah meningkat pada saat hamil tidak diperlukan
lagi setelah persalinan. Oleh karena itu, ibu perlu belajar berkemih secara spontan dan tidak
menahan buang air kecil ketika ada rasa sakit pada jahitan. Menahan buang air kecil akan
menyebabkan terjadinya bendungan air seni dan gangguan kontraksi rahim sehingga
pengeluaran cairan vagina tidak lancar. (Zietraelmart, 2009: 2-3)
Defekasi
Buang air besar akan sulit karena ketakutan akan rasa sakit, takut jahitan terbuka atau karena
adanya hemoroid (wasir). Kesulitan ini dapat dibantu dengan mobilisasi dini, mengkonsumsi
makanan tinggi serat dan cukup minum. (Zietraelmart, 2009: 2-3)

8. Perawatan payudara
Menjaga payudara tetap bersih dan kering, terutama puting susu, menggunakan BH yang
menyokong payudara, apabila puting susu lecet oleskan kolostrum atau ASI yang keluar pada
sekitar puting susu setiap kali selesai menyusui, menyusui tetap dilakukan mulai dari puting
susu yang tidak lecet, apabila lecet sangat berat dapat diistirahatkan selama 24 jam. ASI
dikeluarkan dan diminumkan dengan menggunakan sendok. Apabila payudara bengkak akibat
pembendungan ASI, lakukan: pengompresan payudara dengan menggunakan kain basah dan
hangat selama 5 menit, urut payudara dari arah pangkal menuju puting atau gunakan sisir

untuk mengurut payudara dengan arah Z menuju puting, keluarkan ASI sebagian dari
bagian depan payudara sehingga puting susu menjadi lunak, susukan bayi setiap 2-3 jam.
Apabila tidak dapat mengisap seluruh ASI sisanya keluarkan dengan tangan dan letakkan kain
dingin pada payudara setelah menyusui. (Zietraelmart, 2009: 2-3).

B. Konsep Dasar Asuhan Keperawatan


1. Pengkajian
a. Aktivitas atau istirahat
Insomnia mungkin teramati.
b. Sirkulasi
Episode diaforetik lebih sering terjadi pada malam hari.
c. Integritas ego
Peka rangsang, takut/menangis (post partum blues) sering terlihat kira-kira 3 hari setelah
melahirkan).
d. Eliminasi
Diuresis diantara hari ke 2 dan ke 5.
e. Makan dan cairan
Kehilangan nafsu makan mungkin dikeluhkan kira-kira hari ke 3.
f. Nyeri/ketidak nyaman
Nyeri tekan payudara/pembesaran dapat terjadi diantara hari ke 3 sampai ke 5
pascapartum.
g. Seksualitas
Uterus 1 cm di atas umbilikus pada 12 jam saat kelahiran, menurun kira-kira 1 lebar jari
setiap harinya. Lochea rubra berlanjut sampai hari ke 2-3, berlanjut menjadi lochea
serosa dengan aliran tergantung pada posisi (misal rekumben versus ambulasi berdiri)
dan aktivitas (misal menyusui). Payudara: produksi kolostrum 48 jam pertama, berlanjut
pada susu matur, biasanya pada hari ke 3; mungkin lebih dini, tergantung kapan
menyusui dimulai (Doenges, 2001: 387)
2. Diagnosa Keperawatan
Diagnosa keperawatan yang muncul pada pasien post partum normal adalah sebagai berikut:
a. Nyeri (akut) b.d trauma mekanik, edema atau pembesaran jaringan atau distensi, efekefek hormonal.
b. Menyusui inefektif b.d tingkat pengetahuan, pengalaman sebelumnya, usia gestasi bayi,
tingkat dukungan, struktur atau karakteristik fisik payudara ibu.
c. Resiko tinggi terhadap cidera b.d biokimia, fungsi regilator, efek-efek anesthesia;
tromboembolisme; profil darah abnormal.
d. Resiko infeksi b.d trauma jaringan dan atau kerusakan kulit, penurunan Hb, prosedur
invasif dan atau peningkatan pemajanan lingkungan, ruptur keluban lama, mal nutrisi.
e. Perubahan eliminasi urine b.d efek-efek hormonal, trauma mekanis, edema jaringan, efekefek anesthesia.
f. Kekurangan volume cairan b.d penurunan masukan atau pergantian tidak adekuat,
kehilangan cairan belebihan.
g. Kelebihan volume cairan b.d perpindahan cairan setelah kelahiran placenta,
ketidaktepatan pergantian cairan, efek-efek infus oksitosis, adanya HKK.
h. Konstipasi b.d penurunan tonus otot, efek-efek progesterone, dehidrasi, kelebihan
analgesia, kurang masukan, nyeri perineal.

i. Perubahan menjadi orang tua b.d kurang dukungan diantara atau dari orang terdekat,
kurang pengetahuan, adanya stressor.
j. Resiko tinggi terhadap koping individual tidak efektif b.d krisis maturasional dari
kehamilan/mengasuh anak dan melakukan peran ibu menjadi orang tua, kerentanan
personal, ketidakadekuatan sistem pendukung, persepsi tidak realistis.
k. Gangguan pola tidur b.d respon hormonal dan psikologis, nyeri atau ketidaknyamanan,
proses persalinan dan kelahiran melelahkan.
l. Kurang pengetahuan b.d kurang pemajanan atau mengingat, kesalahan interpretasi, tidak
mengenal sumber-sumber.
m. Potensial terhadap pertumbuhan: koping keluarga b.d kecukupan pemenuhan, kebutuhankebutuhan individu dan tugas-tugas adaptif, kemungkinan tujuan aktualisasi diri muncul
ke permukaan (Doenges, 2001: 388-412)
3. Rencana Keperawatan
a. Nyeri (akut) b.d trauma mekanik, edema atau pembesaran jaringan atau distensi, efekefek hormonal. Hasil yang diharapkan:
b. Mengidentifikasi dan menggunakan intervensi untuk mengatasi nyeri atau
ketidaknyamanan dengan tepat.
c. Mengungkapkan berkurangnya nyeri.
Tampak rileks, rasa nyeri ditoleransi dan dapat beristirahat.
1. Tentukan adanya, lokasi dan ketidaknyamanan. Mengidentifikasi kebutuhankebutuhan khusus dan intervensi yang tepat.
2. Inspeksi perbaikan perineum dan episiotomi. Dapat menunjukkan trauma berlebihan
pada jaringan perineal dan terjadinya komplikasi yang memerlukan evaluasi atau
intervensi lanjut.
3. Beri kompres es pada perineum, selama 24 jam pertama setelah melahirkan. Memberi
anesthesia lokal dan mengurangi edema.
4. Beri kompres panas lembab selama 20 menit, 3 4 x sehari, setelah 24 jam pertama.
Meningkatkan sirkulasi pada perineum, menurunkan edema dan meningkatkan
penyembuhan.
5. Anjurkan duduk dengan otot gluteal terkontraksi di atas perbaikan episiotomi.
Penggunaan pengencangan gluteal saat duduk menurunkan stres.
6. Inspeksi hemoroid pada perenium. Membantu untuk mengurangi hemoroid.
7. Kaji nyeri tekan uterus. Selama 12 jam pertama pascapartum. kontraksi uterus kuat.
Ini berlanjut selama 2-3 hari selanjutnya, meskipun frekuensi dan intesitasnya
berkurang.
8. Anjurkan klien berbaring tengkurap dengan bantal di bawah abdomen. Meningkatkan
kenyamanan.
9. Inspeksi payudara dan jaringan putting. Pada 24 jam pasca partum, payudara harus
lunak dan tidak perih, dan putting harus bebas dari pecah-pecah.
10. Anjurkan penggunaan bra penyokong. Mengangkat payudara ke dalam dan ke depan.
11. Beri informasi mengenai peningkatan frekuensi temuan dan mengeluarkan susu secara
manual. Tindakan ini dapat membantu klien menyusui merangsang aliran susu.
12. Anjurkan klien memulai menyusui pada putting yang tidak nyeri. Respon menghisap
awal kuat dan mungkin menimbulkan nyeri dengan memulai memberi susu pada
payudara yang tidak sakit.
13. Berikan kompres es pada area aksila payudara. Kompres es mencegah laktasi.
14. Mengkaji klien kepenuhan kandung kemih. Kembalinya fungsi kandung kemih
normal memerlukan waktu 4 7 hari.

15. Evaluasi terhadap sakit kepala, khususnya setelah anastesia subaraknoid. Kebocoran
cairan cerebrospinal (CSS) melalui dura kedalam ruang ekstra dural menurunkan
volume yang diturunkan untuk mendukung jaringan otak.
16. Kolaborasi berikan bromokriptin mesilat (parlodel) 2 x sehari dengan makan selama 2
3 minggu. Berkerja untuk menekan sekresi prolaktin.
17. Berikan analgesik 30 60 menit sebelum menyusui. Memberikan kenyamanan,
khususnya selama laktasit.
18. Beri sprei anastetik, saleb topical dan kompres withazel untuk perenium bila
dibutuhkan. Meningkatkan kenyamanan local.
19. Bantu sesuai kebutuhan injeksi salin atau pemberian blood patch pada sisi fungsi
dural. Efektif untuk menghilangkan sakit kepala spinal berat. (Doenges, 2001: 388).
d. Menyusui Inefektif b.d Tingkat Pengetahuan, Pengalaman Sebelumnya, Usia Gestasi
Bayi, Tingkat Dugaan, Struktur atau Karakteristik Fisik Payudara Ibu.
Hasil yang di harapkan :
1. Mengungkapkan pemahaman tentang proses menyusui.
2. Mendemonstrasikan teknik-teknik efektif dari menyusui.
3. Menunjukkan kepuasan regimen menyusui satu sama lain, dengan bayi dipuaskan
setelah menyusui.
Intervensi Rasional
1. Kaji pengetahuan dan pengalaman klien tentang menyusui sebelumnya.
Membantu dalam mengidentefikasi kebutuhan saat ini.
2. Tentukan sistem pendukung yang tersedia pada klien dan sikap pasangan atau
keluarga. Mempunyai dukungan yang cukup meningkatkan kesempatan untuk
pengalaman menyusui dengan berhasil.
3. Berikan informasi, verbal dan tertulis, mengenai fisologis dan keuntungan
menyusui, perawatan puting dan payudara, kebutuhan diet khusus, dan faktorfaktor yang memudahkan atau mengganggu keberhasilan menyusui. Membantu
menjamin suplai susu adekuat, dan mencegah putih pecah dan luka memberikan
kenyamanan, dan membuat peran ibu menyusui. Pamflet dan buku-buku
menyediakan sumber yang dapat dirujuk klien sesuai kebutuhan.
4. Demonstrasi dan tinjau ulang teknik-teknik menyusui. Perhatikan posisi bayi
selama menyusui dan lama menyusui. Posisi yang tepat mencegah luka puting,
tanpa memperhatikan lamanya menyusui,
5. Kaji puting klien; anjurkan klien melihat puting setiap habis menyusui.
Identifikasi dan intervensi dini dapat mencegah terjadinya luka atau pecah putting,
yang dapat merusak proses menyusui.
6. Anjurkan klien mengeringkan putting dengan dengan udara selama 20 30 menit
setelah menyusui dan memberikan preparat lanolin setelah menyusui, atau
menggunakan lampu pemanas dengan lampu 40-watt ditempatkan 18 inci dari
payudara selama 20 menit. Instruksikan klien menghindarai penggunaan sabun
atau penggunaan bantalan bra berlapis plastik, dan mengganti pembalut bila basah
atau lembab. Pemajanan pada udara membantu mengencangkan putting,
sedangkan sabun dapat menyebabkan kering. Mempertahankan puting dalam
media lembab meningkatkan pertumbuhan bakteri dan kerusakan kulit.
7. Instruksikan klien menghindari penggunaan pelindung putting payudara. Ini telah
diketahui menambah kegagalan laktasi.
8. Berikan pelindung putting payudara khusus untuk klien menyusui dengan puting
masuk atau datar. Anjurkan penggunaan kompres es sebelum menyusui dan latihan

puting dengan memutar diantara ibu jari dan jari tengah dan menggunakan teknik
Hoffman. Pelindung payudara, latihan, dan kompres es membantu membuat
putting lebih relaksasi; teknik Hoffman melepaskan perlengketan, yang
menyebabkan inversi puting.
9. Rujuk klien pada kelompok pendukung. Memberikan bantuan terus menerus untuk
meningkatkan kesuksesan hasil.
10. Identifikasi sumber-sumber yang tersedia di masyarakat sesuai indikasi. Pelayanan
ini mendukung pemberian ASI melalui pendidikan klien (Doenges, 2002; 390 392).
e. Resiko Tinggi Cedera b.d Biokimia, Fungsi Regulator, Efek-Efek Anestesia,
Tromboembolisme, Profil Darah Abnormal.
Hasil yang diharapkan :
1. Mendemonstrasikan perilaku untuk menurukan factor-faktor resiko/melindungi diri.
2. Bebas dari komplikasi.
Intervensi Rasional
1. Tinjau ulang kadar hemoglobin (Hb) darah dan kehilangan darah pada waktu
melahirkan. Catat tanda-tanda anemia. Anemia atau kehilangan darah
mempredisposisikan pada sinkope klien karena ketidakadekuatan pengiriman
oksigen ke otak.
2. Anjurkan ambulasi dan latihan dini kecuali pada klien yang mendapatkan
anesthesia subaraknoid, yang mungkin tetap berbaring selama 6-8 jam, tanpa
penggunaan bantal atau meninggikan kepala, sesuai indikasi protokol dari
kembalinya sensasi/kontrol otot. Meningktkan sirkulasi dan aliran balik vena ke
ekstremitas bawah, menurunkan resiko pembentukan thrombus yang dihubungkan
dengan statis. Meskipun posisi rekumben setelah anestesia subaraknoid
controversial, ini dapat membantu mencegah kebocoran CSS dan sakit kepala
lanjut.
3. Bantu klien dengan ambulasi awal. Berikan supervisi yang adekuat pada mandi
shower atau rendam duduk. Berikan bel pemanggil dalam jangkauan klien.
Hipotensi ortostastik mungkin terjadi pada waktu berubah posisi dari terlentang ke
berdiri diawal ambulasi, atau mungkinkarena vasodilatasi yang disebabkan oleh
panas pada waktu mandi shower atau rendam duduk.
4. Biarkan klien duduk di lantai atau kursi dengan kepala diantara dua kaki, atau
berbaring pada posisi datar, bila ia merasa pusing. Membantu mempetahankan
atau meningkatkan sirkulasi dan pengiriman oksigen ke otak.
5. Kaji klien terhadap hiperrefleksia, nyeri kuadran kanan atas (KkaA), sakit kepala,
atau gangguan penglihatan. Pertahankan kewaspadaan kejang, dan berikan
lingkungan tenang sesuai indikasi. Bahaya eklampsia, karena HKK ada diatas 72
jam pascapartum, meskipun literatur menunjukan kondisi konvulsi mental terjadi
selambat-lambatnya hari kelima pascapartum.
6. Catat efek-efek magnesium sulfat (MgSO4), bila diberikan. Kaji respons patela,
dan pantau status pernapasan. Tidak adanya refleks patela dan frekuensi
pernapasan di bawah 12x/menit menandakan toksisitas dan perlunya penurunan
atau penghentian obat.
7. Inspeksi ekstremitas bahwa terhadap tanda-tanda tromboflebitis. Peningktan
produk split fibrin, penurunan mobilitas, trauma, sepsis, dan ektivasi berlebihan

dari pembekuan darahh setelah kelahiran memberi kecenderungan terjadinya


tromboembolisme pada klien.
8. Berikan kompres panas lokal; tingkatkan tirahh baring dengan meninggikan
tungkai. Merangsan g sirkulasi dan menurunkan penumpukan pada vena di
ekstremitas bawah, menurunkan edema dan meningkatkan penyembuhan.
9. Evaluasi rubella pada grafik prenatal. Kaji klien terhadap alergi pada telur atau
bulu; bila ada tunda vaksin. Berikan informasi tertulis dan verbal dan daptakan
informed concent untuk vaksinasi setelah meninjau ulang efek samping, resikoresiko, dan perlunya untuk mencegah konsepsi selama 2-3 bulan setelah vaksinasi.
Membantu mencegah efek-efek teratogenik pada kehamilan selanjutnya.
Pemberian vaksin pada periode segera pascapartum dapat menyebabkan efek
samping sementara dari atralgia, ruam,dan gejala-gajala pilek selamaperiode
inkubasi 14-21 hari. Anafilaktik alergi atau respons hipersensitivitas dapat terjadi,
memerlukan pemberian epinefrin.
10. Berikan MgS04 melalui pompa infuse, sesuai indikasi. Membantu menurunkan
kepekaan serebral pada adanya HKK atau eklampsia.
11. Berikan kaos kaki penyokong atau balutan elastic untuk kaki bila resiko-resiko
atau gejala-gejala flebitis terjadi. Menurunkan statis vena, meningkatkan aliran
balik vena.
12. Berikan antikoagulan; evaluasi factor-faktor koagulasi, dan perhatikan tanda-tanda
kegagalan pembekuan. Meskipun biasanya tidak diperluka, antikoagulan dapat
membantu mencegah terjadinya thrombus lebih lanjut.
13. Berikan Rh0 (D) imun globulin (RhIgG) I.M dalam 72 jam pascapartum, sesuai
indikasi, untuk ibu Rh negative yang sebelumnya tidak sensitive dan yang
melahirkan bayi Rh positif yang tes Coombs langsung pada darah tali pusatnya
negatif. Dapatkan Betke-Kleihauersmear bila transfuse janin ibu bermakna
dicuriagai pada kelahiran. Dosis 300 g biasanya cukup untuk meningkatkan lisis
sel-sel darah merah (SDM) dari janin Rh positif yang dapat memasui sirkulasi ibu
selama kelahiran, yang mungkin potensial menyebabkan sensitisasi dan masalahmasalah inkompabilitas Rh pada kehamilan selanjutnya. Adanya 20 ml atau lebih
Rh positif dari darah janinpaa sirkulasi ibu memerlukan dosis RhIgG lebih besar.
(Doenges, 2002; 392 - 394)
f. Resiko Tinggi Infeksi b.d Trauma Jaringan dan atau Kerusakan Kulit, Penurunan Hb,
Prosedur Invasif dan atau Peningkatan Pemajanan Lingkungan, Ruptur Ketuban Lama,
Malnutrisi.
Hasil yang diharapkan :
1. Bebas dari infeksi tidak demam, urine jernih tidak pucat.
2. Mendemontrasikan teknik-teknik untuk menurunkan resiko dan meningkatkan
penyembuhan.
3. Menunjukkan luka bebas dari drainage perulen.
Intervensi Rasional
1. Kaji catatan parental dan intrapartal, perhatikan frekuensi pemeriksaan vagina dan
komplikasi seperti ketuban pecah dini (KPD), persalinan lama, laserasi, hemoragi,
dan tertahannya placenta. Membantu mengidentifikasi faktor-faktor psiko yang
dapat mengganggu penyembuhan dan atau kemunduran pertumbuhan epitel
jaringan endometrium dan memberi kecenderungan klien terkena infeksi..

2. Pantau suhu dan nadi dengan rutin sesuai indikasi; catat tanda-tanda menggigil,
anoreksi, atau malaise. Peningkatan suhu sampai 1010 F (38,80 C) dalm 24 jam
pertama sangat menandakan infeksi; peningkatan sampai 100,40 F (38,80 C) pada
2 hari dari 10 hari pertama pascapartum adalah bermakna.
3. Kaji kontraksitilitas uterus; perhatikan perubahan involusional atau adanya nyeri
tekan uterus ekstrem. Fundus yang pada awalnya 2 cm di bawah umblikus,
meningkat 1-2 cm/ hari. Kegagalan miometrium untuk involusi pada kecepatan
ini, atau terjadinya nyeri tekan ekstrem, menandakan kemungkinan tertahannya
jaringan plaenta atau infeksi.
4. Catat jumlah dan bau lokeal atau perubahan pada kemajuan normal rubra menjadi
serosa. Lochea secara normal mempunyai bau amis atau daging; namun, pada
endometritis, rabas mungkin purulen dan bau busuk, mungkin gagal untuk
menunjukan kemajuan normal dari rubra menjadi serosa sampai alba..
5. Evaluasi kondisi puting, perhatikan adanya pecah-pecah, kemerahan, atau nyeri
tekan. Anjurkan pemeriksaan rutin payudara. Tinjau perawatan yang tepat dan
teknik pemberian makan bayi. Terjadi pecah-pecah pada putting menimbulkan
potensial resiko mastitis.
6. Infeksi sisi perbaikan episiotomi setiap 8 jam. Perhatikan nyeri tekan berlebihan,
kemerahan, eksudat purulen, edema, sekatan pada garis sutura (kehilangan
perlekatan), atau adanya laserasi. Diagnosis dini dari infeksi lokal dapat mencegah
penyebaran pada jaringan. uterus.
7. Perhatikan frekuensi atau jumlah berkemih. Statis uninarius meningkat resiko
terhadap infeksi.
8. Kaji tanda-tanda infeksi saluran kemih (ISK) atau sistitis. Gejala ISK dapat pada
tampak hari ke 2-3 pasca partum karena naiknya infeksi.
9. Frekuensi, golongan atau disuria. Traktus dari utera ke kandung kemih dan
kemungkinan ke ginjal.
10. Anjurkan perawatan perineal dengan menggunakan botol atau rendam duduk 3-4 x
sehari atau setelah berkemih dan defekasi. Anjurkan klien mandi setiap hari dan
ganti pembalut perineal sedikitnya setiap 4 jam, dari depan kebelakang.
Pembersihan sering dari depan kebelakang membantu mencegah kontaminasi
rectal memasuki vagina atau uretra. Mandi rendam duduk etaupun rendam
merangsang sirkulasi perineal an meningkatkan pemulihan.
11. Anjurkan dan gunakan teknik mencuci tangan cermat dan pembuangan pembalut
yang kotor, pembalut perineal dan linen terkontaminasi dengan tepat. Diskusikan
dengan klien pentingnya kontinuitas tindakan ini setelah pulang. Membantu
mencegah atau menghalangi penyebaran infeksi.
12. Kaji setatus nutrisi klien. Perhatikan tampilan rambut, kuku, kulit, dan sebagainya.
Catat berat badan kehamilan dan penambahan berat badan prenatal. Klien yang
berat badanya 20% di bawah berat badan normal, lebih rentan pada infeksi
pascapartum dan mungkin mempuyai kebutuhan diet khusus terhadap protein, zat
besi, dan kalori.
13. Berikan informasi tentang makanan pilihan tinggi protein, vitamin c dan zat besi.
Anjurkan klien untuk meningkatkan masukan cairan sampai 2000 ml/hari. Protein
membantu meningkatkan proses penyembuhan dan regenerasi jaringan baru dan
mengatasi kehilangan bati paa waktu melahirkan. Zat besi perlu untuk sintesus
hemoglobin. Vitamin C memfasilitasi basosrbsibesi dan perlu untuk sintesis

dinding sel. Peningkatan cairan membantu mencegah stasis urin dan masalahmasalah ginjal.
14. Tingkatan tidur dan istirahat. Menurunkan laju metabolisme dan memungkinkan
nutrisi dan oksigen untuk proses pemulihan.
15. Kaji jumlah sel darah putih. Peningkatan jumlah spd pada 10-12 hari pertama
pasca partum.
16. Kolaburasi berikan bromokiptin mesilat.
(parlodel) 2 x sehari dengan makan selama 2-3 minggu. Bekerja untuk menekan
sekresi prolaktin.
17. Berikan metilergonovin meleat setiap 3-4 jam sesuai kebutuhan. Membantu
mengembalikan kontraksi miometrium dan involusi uterus.
18. Bantu dengan atau dapatkan kultur dan vagina, serum dan sisi perbaikan
episiotomi sesuai indikasi Untuk mengidentifikasi organisme penyebab dan
menentukan anti biotic yang tepat.
19. Anjurkan klien menggunakan krim antibiotic pada perineum, sesuai indikasi.
Memberantas organisme infeksius lokal.
20. Dapatkan spesimen urine bersih untuk analisis rutin. Retendi urine, bakteri yang
masuk melalui kateterisasi atau trauma kandung kemih selama kelahiran.
21. Berikan antipiretik setelah kultur di dapatkan. Bila di bersikan sebelum
identifikasi proses identiufikasi, antipiretik dapat menutupi tanda-tanda dan gejalagajala yang perlu untuk membedakan diagnosa.
22. Berikan antibiotik spectrum luas sampai laporan kulturdi kembalikan, kemudian
ubah terapi sesuai induksi. Mencegah infeksi dari penyebaran ke aliran darah.
23. Hubungi agensi-agensi komunitas yang tepat seperti pelayanan perawat yang
berkunjung, untuk evaluasi diet, program antibiotic, kemungkinan komplikasi dan
kembali untuk memeriksa medis. Adanya infeksi pasca partum membuat klien
lemah sehingga membutuhkan banyak istirahat, pantauan yang ketat, dan bantuan
perawatan diri (Doenges: 2002; 394 - 397)
g. Perubahan Eliminasi Urine b.d Efek-Efek Hormonal, Trauma Mekanis, Edema Jaringan,
Efek-Efek Anestesia.
Hasil yang di harapkan :
1. Mendemontrasikan kedekatan perilaku dan ikatan yang tepat.
2. Mulai secara aktif mengikuti tugas perawatan baru lahir.
Intervensi Rasional
a. Kaji masukan cairan dan urine terakhir. Catat masukan cairan intrapartal dan
haluaran urin dan lamanya persalinan. Pada periode pasca partal awal, kira-kira 4
kg cairan hilang melalui urin dan kehilangan tidak kasat mata, termasuk diaforesis.
Persalinan yang lama dan penggantian cairan yang tidak efektif dapat
mengakibatkan dehidrasi dan menurunkan haluaran urin.
b. Palpasi kandung kemih. Pantau tinggi fundus dan lokasi, serta jumlah aliran
lochea. Aliran plasma ginjal, meningkatkan 25 -50 % selama periode prenatal,
tetap tinggi pada minggu pertama pascapartum, mengakibatkan peningkatan
pengisian kandung kemih. Distensi kandung kemih, yang dapat dikaji dengan
derajat perubahan posisi uterus menyebabkan peningkatan relaksasi uterus dan
aliran lochea.
c. Perhatikan adanya edema atau episiotomi, dan jenis anestesia yang digunakan.
Trauma kandung kemih atau edema dapat mengganggu edema, dapat mengganggu
berkemih; anestesia dapat mengganggu sensasi penuh pada kantung kemih.

d. Tes urin terhadap albumin dan aseton. Bedakan antara proteinuria karena HKK
dan yang karena proses normal. Proses katalitik di hubungkan dengan involusi
uterus dapat mengakibatkan proteinuria (+1) pada 2 hari pertama pascapartum.
Aseton dapat menandakan dehidrasi yang dihubungkan dengan persalinan lama
dan atau kelahiran.
e. Anjurkan berkemih dalam 6-8 jam pascapartum, dan setiap 4 jam setelahnya. Bila
kondisi memugkinkan, biarkan klien berjalan ke kamar mandi. Alirkan air hangat
di atas perineum, alirkan air kran, dan tambahkan cairan yang mengandung
pepermin ke dalam bedpan, atau biarkan klien duduk pada waktu rendam duduk
atau gunakan shower air hangat, sesuai indikasi.
Variasi intervensi keperawatan mungkin perluUntuk merangsang dan
memudahkan bekemih.
f. Intruksikan klien untuk melakukan latihan kegel setiap hari setelah efek anastesia
berkurang. Latihan kegel 100 x/ hari meningkatkan sirkulasi perineum, membantu
menyembuhkan dan memulihkan tonus otot pubokoksigeal, dan mencegah atau
menurunkan inkontins stres
g. Anjurkan minum 6-8 gelas cairan/ hari. Membantu mencegah statis atau dehidrasi
dan mengganti cairan yang hilang waktu melahirkan.
h. Kaji tanda-tanda ISK. Masuknya bakteri dapat memberi kecenderungan klien
terkena ISK.
i. Katerisasi. Untuk mengurangi distensi kandung kemih.
j. Dapat specimen urine. Adanya bakteri dan sentifitas positif adalah diagnosis untuk
ISK.
k. Pantau hasil tes laboratorium. Klien yang telah mengalami HKK gangguan ginjal
dapat menetap. (Doenges, 2002; 397 - 399)
h. Kekurangan Volume Cairan b.d Penurunan Masukan atau Pergantian Tidak Adekuat,
Kehilangan Cairan Kelebihan.
Hasila yang di harapkan :
1. Tetap non mortensif dengan masukan cairan dan saluran urine seimbang
2. Hb atau Ht dalam kadar normal.
Intervensi Rasional
a. Catat cairan pada waktu kelahiran; tinjau ulang riwayat intrapartal. Potensial
hemoragik atau Kehilangan darah berlebihan pada waktu kelahiran yang berlanjut
pada periode pasca partum dapat berakibat dari persalinan yang utama, stimulasi
oksitosin, tertahannya jaringan, uterus overdistensi, atau anestesia umum.
b. Evaluasi lokasi dan kontraktilitas fundus uterus, jumlah lokhia vagina, dan kondisi
perineum setelah 2 jam pada 8 jam pertama, bila tepat, kemudian setiap 8 jam
selama sisa waktu di rumah sakit. Catat pemberian obat-obatan, seperti MgSO4,
yang akan menyebabkan relaksasi uterus. Diagnosa yang berbeda mungkin di
perlukan untuk menentukan penyebab kekurangan cairan dan protocol asuhan.
Uterus yang relaks atau menonjol dengan peningkatan aliran lochea dapat
diakibatkan dari kelelahan miometrium atau tertahannya jaringan placenta. Segera
setelah kelahiran, fundus harus keras dan terlokasisi pada umbilikus, dan
kemudian involusi kira-kira satu buku jari per hari.
c. Dengan perlahan masase fundus bila uterus menonjol.
d. Perhatikan adanya rasa haus; berikan cairan sesuai teleransi. Merangsang
kontraksi uterus dapat mengontorl pendaharahan. Rasa haus mungkin merupakan

cara hemoestatis dari penggantian cairan melalui peningkatan dan relaksasi


fundus.
e. Evaluasi status kandung kemih; tingkatkan ppengosongan bila kandungan kemih
penuih. Kandung kemih penuh mengganggu kontraktilitas uterus dan
menyebabkan perubahan posisi dan relaksasi fundus.
f. Pantau suhu. Peningkatan suhu memperberat dehidrasi; bila suhu 100,40 F (38oC)
pada 24 jam pertama setelah kelahiran dan terulang selama 2 hari, ini mungkin
menandakan infeksi.
g. Pantau nadi. Taki kardi dapat terjadi, memaksimalkan sirkulasi cairan, pada
kejadian dehidrasi atau hemoragi.
h. Kaji tekanan darah (TD) sesuai indikasi. Peningkatan tekanan darah mungkin
karena efek-efek otot vasopresor oksitosis atau terjadinya HKK yang baru atau
sebelumnya. Penurunan TD mungkin tanda lanjut dari kehilangan cairan
berlebihan, khususnya bila disertrai dengan tanda-tanda lain atau gejala-gejala
syok.
i. Evaluasi masukan cairan dan haluaran urin selama diberikan infus I.V., atau
sampai pola berkemih normal terjadi. Membantu analisa keseimbangan cairan dan
derahat kekurangan.
j. Evaluasi kadar Hb atau Ht. pada catatan pranatal, bandingkand engan kadar
pascanatal. Hb atau Ht kembali normal dalam 3 hari. Hb tidak boleh turun dari 2
g/100 ml kecuali kehilangan darah berlebihan. Peningkatan kadar Ht kembali
normal pada hari ketiga sampai ketujuh pascapartum.
k. Pantau pengisian payudara dan suplai ASI bila menyusui. Klien dehidrasi tidak
mampu menghasilkan ASI adekuat.
l. Ganti cairan yang hilang dengan infus IV. Yang mengandung elektrolit. Membantu
menciptakan volume darah sirkulasi dan menggnatikan kehilangan karena
kelahiran dan diaforesis.
m. Berikan produk ergot seperti ergonovine maleate (Methergine) secara parenateral
atau oral, atau berikan preparat oksitosin sinresis I.M./I.V. (Syntocinon, Pitocin).
Kaji TD sebelum pemberian preparet ergot; tanda obat-obatan dan beri tahu dokter
bila TD meningkat. Produk ini bekerja secara lansung pada miometrium untuk
meningkatkan kontraksi. Ergot adalah vasokontriktor, dapat menyebabkab
hipertensi dan harus ditunda bila TD 140/90 mm Hg atau lebih tinggi.
n. Lakukan kecepatan cairan IV. Seperti larutan Ringer laktat dengan oksitosin 10
sampai 20 unit. Oksitosin (Pitocin) mungkin diperlukan untuk menstimulasi
miometrium bila perdarahan berlebihan menetap dan uterus gagal untuk kontraksi.
Pendarahan menetap pada adanya fundus kuat dapat menandakan laserasi dan
kebutuhan terhadap penyelidikan lanjut (Doenges, 2002; 399 - 401)
i. Kelebihan Volume Cairan b.d Perpindahan Cairan Setelah Kelahiran Placenta,
Ketidaktepatan Pergantian Cairan, Efek-Efek Infus Oksitosis, Adanya HKK.
Hasil yang di harapkan :
1. Menunjukkan TD dan nadi dalam batas normal
2. Bebas dari edema
3. Gangguan penglihatan dengan bunyi napas bersih.
Intervensi Rasional
a. Tinjau ulang riwayat HKK, prenatal dan Interpratal, perhatikan peningkatan TD,
protenuria, dan edema. Membantu menentukan kemungkinan kompikasi supaya
yang menetap/terjadi pada periode pasca partum.

b. Pantau tekanan darah dan nadi. Auskultasi bunyi napas, perhatikan batuk
berdahak,bising (rales), atau ronki. Perhatikan adanya dispnea atau stridor.
Kelebihan beban sirkulasi dimanevestasikan dengan peningkatan tekanan darah
dan nadi, dan Peningkatan TK dapat juga dihubungkan dengan HKK dan retensi
cairan berkenaan dengan infus oksitosin.
c. Pantau masukan cairan dan haluran urin; ukur berat jenis,. Menandakan kebutuhan
cairan/kekuatan terapi.
d. Kaji adanya lokasi dan adanya edema. Pantau tanda-tanda kemajuan edemi (mis.,
gangguan penglihatan, hipereleksia, klonus, nyeri KkaA, dan sakit kepala).
(catatan : Kaji sakit kepala sebelum memberikan analgetik). Bahaya eklamsia atau
kejang dapat terjadi secara aktual. Selambat-=lambatnya 5 hari setelah kelahiran.
Obat-obatan dapat menutupi tanda-tanda sakit kepala yang disebabkan oleh edemi
serebral.
e. Tes terhadap adanya proteinuria dengan dipstik setiap 4 jam. Proteinurea pasca
partum 1 + adalah normal, karena proses katalitik involusi uterus. Kadar 2+ atau
lebih besar mungkin dihubungkan dengan spasme glomerulus karena HKK.
f. Evaluasi keadaan neurologis klien. Perhatikan hiperrefleksia, peka rangsang, atau
perubahan kepribadian. Intoksitsasi serbal adalah indikator awal dari kelebihan
retensi cairan.
g. Biarkan klien memantau berat badan setiap hari, khususnya bila toksemia
pascapartum terjadi. Klien kehilangan 5 kg saat melahirkan dapat dianggap karena
bayi, produk konsepsi, urin, dan kehilangan tidak kasat mata, dan 2 kg lebih pada
periode pascapartum melalui perpindahan cairan dan elektrolit.
h. Catat tes hasil urat, protein 24 jam dan klirens kreatinin, dan kadar kreatinin
serum. Hasil normal, seperti peningkatan asam urat. (lebih besar 7 mg/100 ml) dan
peningkatan kadar kreatinin, menandakan deteriorasi fungsi ginjal.
i. Pasang kateter indwelling sesuai indikasi. Untuk memantau urin setiap jam bila
dibutuhkan oleh kondisi klien (mis, HKK berat atau oliguria).
j. Evaluasi terhadap sindrom HELP (hemolisis) SDM, peningkatan kadar enzim
hepar, dan penurunan jumlah trombosit. Sindrom HELLP dan akibat pasca partum
potensial dari HKKss dengan keterlibatan hepar atau hemoragi pembuluh darah
hepatik.
k. Berikan monitol pada adanya HKK pada penurunan urine. Untuk klien dengan
HKK, ancaman gagal ginjal, atau oliguria, manitol bekerja sebagai diuyretik
osmotik untuk mengalirkan cairan kedalam area vaskular dan meningkatkan aliran
plasma ginjal dan haluran urin (Doenges,200; 401 - 403)
j. Konstipasi b.d Penurunan Tonus Otot, Efek-Efek Progresterone, Dehidrasi, Kelebihan
Analgesia, Kurang Masukan, Nyeri Perineal.
Hasil yang di harapkan :
Melakukan kembali kebiasaan defekasi yang biasanya atau optimal dalam 4 hari setelah
melahirkan.
Intervensi Rasional
1. Auskultasi adanya bising unsur. Perhatikan kebiasaan pengosongan noormal atau
diastrasis rekti. Mengevaluasi fungsi usus. Adanya diastasis rekti berat (pemisahan
dari dua otot rektus sepanjang garis median dari dinding abdomen) menurunkan tonus
otot abdomen yang diperlukan untuk upaya mengejan selama pengosongan.

2. Kaji adanya hemoroid. Berikan informasi tentang memasukan kembali hemoroid ke


dalam kanal anorektal dengan jari dilumasi atau dengan sarung tangan, dan berikan
kompres es atau kompres witch hazel atau krim anestetik lokal. Menurunkan ukuran
hemoroid, menghilangkan gatal-gatal dan ketidaknyamanan, dan meningkatkan
vasokontriksi lokal.
3. Berikan informasi diet yang tepat tentang pentingnya makanan kasar, peningkatan
cairan, dan upaya untuk membuat pola pengosongan nornal. Makanan kasara (mis.,
buah-buahan dan sayuran, khususnya dengan biji dan kulit) dan peningkatan acairtan
menghasilkan bulk dan Merangsang eliminasi.
4. Anjurkan peningkatan tingkat aktifitas dan ambulasi, sesuai toleransi. Membantu
peningkatan peristaltic.
5. Kaji episiotemi; perhatikan adanya laserasi dan derajat keterlibatan jaringan. Edema
berlebihan atau trauma perineal dengan laserasi derajat ketiga dan keempat dapat
menyebabkan ketidaknyamanan dan mencegah klien dari merelaksasi perinium
selama pengosongan karena takut untuk terjadi cedera selanjutnya.
6. Berikan laksatif, pelunak fases, enema. Mungkin perlu untuk meningkatkan Untuk
kembali ke kebiasaan difikasi normal dan mencegah mengejan selama pengosongan.
(Doenges, 2002; 403 - 404)

k. Perubahan Menjadi Orang Tua b.d Kurang Dukungan Di Antara atau Dari Orang
Terdekat, Kurang Pengetahuan, Adanya Sensor.
Hasil yang di harapkan :
1. Mengungkapkan masalah dan pernyataan menjadi orang tua.
2. Mendiskusikan peran menjadi orang tua secara realitas.
3. Cara aktif mulai melakukan tugas perawatan bayi baru lahir dengan tepat.
4. Mengidentifikasi ketersediaan sumber-sumber.
Intervensi Rasional
1. Kaji kekuatan, kelemahan, usia, status perkawinan, ketersediaan sumber
pendukung, dan latar belakang budaya. Mengidentifikasi faktor-faktor resiko
potensial, dan sumber-sumber pendukung, yang mempengaruhi kemampuan
klien/pasangan untuk menerima tantangan peran menjadi orang tua.
2. Perhatikan respon klien atau pasangan terhadap kelahiran peran dan menjadi orang
tua. Kemampuan klien untuk beradaptasi positif untuk menjadi orang tua mungkin
dipengaruhi oleh reaksi ayah dengan kuat.
3. Mulai asuhan keperawatan primer untuk ibu dan bayi saat di unit. Meningkatkan
keperawatan berpusat kepada keluarga, kontinuitas dan asuhan yang diberikan
secara individu, serta mungkin memudahkan terjadinya ikatan keluarga positif.
4. Evaluasi sifat dari menjadi orang tua secara emosional dan fisik yang pernah
dialami klien/pasangan selama masa kanak-kanak. Peran menjadi orang tua di
pelajari, dari indivdiu memakai peran orang tua mereka sendiri menjadi modal
peran. Yang mengalami pengaruh negatif atau menjadi orangtua yang buruk
berisiko besar terhadap yang merasakan menjadi orang tua positif.
5. Kaji keterampilan komunikasi interpersonal pasangana dan hubungan mereka satu
sama lain. Hubungan yang kuat dicirikan dengan komunikasi yang jujur dan
keterampilan mendengar interpersonal yang baik membantu mengembangkan
pertumbuhan.

6. Tinjau ulang catatan intrapartum terhadap lamanya persalinan, adanya komplikasi,


dan peran pasangan pada persalinan. Persalinan lama dan sulit, dapat secara
sementara menurunkan energi fisik dan emosional yang perlu untuk mempelajari
peran menjadi ibu dan dapat secara negative mempengaruhi menyusui.
7. Evaluasi status fisik masa lalu dan saat ini dan kejadian komplikasi prenatal,
intranatal, atau pascapartal. Kejadian seperti persalinan praterm, hemoragi, infeksi,
atau adanya komplikasi ibu dapat mempengaruhi kondisi psikologis klien,
menurunkan kemampuannya untuk belajar keterampilan menjadi orangtua baru
dan mengurangi kedekatannya pada bayi baru lahir.
8. Evaluasi kondisi bayi, komunikasikan dengan staf perawatan sesuai indikasi.
Perhatikan adanya masalah atau perhatian khusuk. Ibu sering mengalami
kesedihan karena mendapati bayinya tidak seperti bayi yang diharapkannya.
Masalah-masalah emosional dan ketidakmampuan untuk menilai peran menjadi
orangtua dengan positif mungkin akibat dari kecacatan kelahiran sementara pada
bayi, kelahiran bayi beresiko tinggi, atau ketidakmampuan ibu untuk menemukan
perbedaan antara fantasi prenatal dan realitas pascanatal.
9. Berikan Neonatal Perception Inventory (NPI, Bagian I dalam 2 hari pertama
pascapartum. Atur untuk Inventory tindak lanjut, Bagian II untuk diberikan pada 1
bulan pascapartum. NPI mengkaji potensi adaptif dari pasangan ibu-bayi dengan
mengevaluasi persepsi ibu terhadap bayi kebanyakan versus bayinya sendiri. Alat
ini membantu terutama dalam mengkaji remaja yang potensi menjadi ibu, yang
sering berfantasi tentang perilaku dan kemampuan bayi, dan yang mungkin tidak
dapat mengatasi stressor dari merawat bayi baru lahir secara positif. Inventaris ini
memberikan hubungan bermakna secara statistic diantara indikasi-indikasinya
dalam 1 bulan dan perkembangan emosional terhadap anak-anak pada usia 4
tahun dan berlanjut pada usia 10 sampai 11 tahun.
10. Pantau dan dokumentasikan interaksi klien/pasangan dengan bayi. Catat adanya
perilaku ikataqn (pengenalan); membuat kontak mata, menggunakan suara nada
tinggi dan posisi berhadapan, memanggil bayi dengan namanya, dan
menggendong bayi dengan dekat. Tentukan latar belakang budaya keluarga.
Beberapa ibu atau ayah mengalami kasih saying bermakna pada pertama kali;
selanjutnya, mereka dikenalkan pada bayi secara bertahap. Bayi dan orangtua
yang tidak mengembangkan kedekatan positif berisko terhadap penyiksaan fisik
atau emosional. Latar belakang budaya sering menentukan tipe ikatan dan
perkenalan.
11. Berikan rawat bersama/ruang fisik dan privasi untuk kontak diantara ibu, ayah,
dan bayi. Memudahkan kedekatan; membantu mengembangkan proses
pengenalan.
12. Anjurkan pasangan/sibling untuk mengunjungi dan menggendong bayi dan
berpartisipasi pada aktivitas perawatan bayi sesuai izin. Bila bayi tetap di rumah
sakit untuk observasi atau prosedur-prosedur, berikan nomor telepon ruang
perawatan bayi khusus, ambil foto bayi untuk pasangan. Membantu meningkatkan
ikatan dan mecegah putus asa. Menekankan realitas keadaan bayi.
13. Kaji kesiapan dan motivasi klien untuk belajar. Banyak faktor mempengaruhi
belajar individu.
14. Berikan kesempatan pendidikan formal dan informal diikuti dengan demonstrasi
staf, bantuan staf, dan videotape pendidikan untuk perawatan bayi, pemberian

makanan bayi. Membantu orangtua belajar dasar-dasar perawatan bayi,


meningkatakan diskusi dan pemecahan masalah bersama, dan memberikan
dukungan kelompok. Bantu orangtua untuk menjadi lebih nyaman dan menambah
keterampilan dan kenyamanan dalam menangani dan merawat bayi sebelum
pulang.
15. Biarkan klien mendemonstrasikan perilaku yang dipelajari berkenaan dengan
pemberian makan bayi dan perawatan. Berikan informasi tertulis dan nomor
telepon orang yang dapat dihubungi untuk dibawa klien pulang. Membantu
menguatkan program penyuluhan dan mencegah ansietas terhadap pertanyaan
yang tidak dijawab, khususnya bila keluarga adalah bagian dari program
pemulangan awal atau bila kelahiran dilakukan pada tempat kelahiran alternative.
16. Lakukan hubungan telepon tindak lanjut kunjungan rumah oleh perawat primer,
bila mungkin, pada 1 minggu, dan pada minggu ke4 sampai ke-6 pascapartum.
Beberapa pusat maternitas sekarang meliputi tindak lanjut tersebut, khususnya
untuk remaja atau keluarga yang beresiko tinggi untuk masalah menjadi orangtua.
17. Rujuk pada kelompok pendukung komunitas, seperti pelayanan perawat yang
berkunjung, pelayanan sosial, kelompok menjadi orangtua, atau klinik remaja.
Membantu meningkatkan peran menjadi orangtua yang positif melalui kelompok
pendukung dan pengalaman pemecahan masalah bersama. Ramaja, terutama,
mendapat keuntungan dari dukungan ini.
18. Rujuk untuk konseling bila keluarga beresiko tinggi terhadap masalah menjadi
orangtua atau bila ikatan positif diantara klien/pasangan dan bayi tidak terjadi.
Perilaku menjadi orangtua yang negative dan ketidakefektifan koping memerlukan
perbaikan melalui konseling, pemeliharaan, atau bahkan psikoterapi yang lama,
dan perilaku baru serta model peran yang digabungkan, untuk menghindari
pengulangan kesalahan menjadi orangtua dan penyiksaan anak (Doenges, 2002;
404 407)
l. Resiko Tinggi Terhadap Koping Individual Inefektif b.d Krisis Maturasional Dari
Kehamilan/Mengasuh Anak dan Melakukan Ibu Menjadi Orang Tua, Kerentanan
Personal, Ketidakadekuatan Sistem Pendukung, Persepsi Tidak Realitis.
Hasil yang diharapkan :
1. Mengungkapkan ansietas dan respon emosional.
2. Mengidentifikasikan kekuatan individu dan kemampuan koping pribadi.
3. Mencari sumber-sumber yang tepat sesuai kebutuhan.
Intervensi Rasional
1. Kaji respon emosional klien selama prenatal dan periode intrapartum dan persepsi
klien tentang penampilannya selama persalinan. Terhadap hubungan langsung
antara penerimaan yang positif akan peran feminism dan keunikan fungsi
feminism serta adaptasi yang positif terhadap kelahiran anak, menjadi ibu, dan
menyusui. Selain itu, klien melepaskan anaknya menghadapi isu-isu ini dalam
konteks yag berbeda serta memerlukan dukungan bagi keputusannya.
2. Anjurkan diskusi oleh klien atau pasangan tentang persepsi pengalaman kelahiran.
Membantu klien/pasangan bekerja melalui proses dan memperjelas realitas dari
pengalaman fantasi.
3. Kaji terhadap gejala depresi yang fana pada hari ke 2 sampai ke 3 pascapartum.
Berikan infromasi tentang kenormalan kondisi ini dan yang berhubungan dengan
perubahan suasana hati dan emosi yang labil. Sebanyakl 80% ibu-ibu mengalami

depresi sementara atau perasaan emosi kecewa setelah melahirkan, mungkin


berhubungan dengan factor-faktor genetic, social atau lingkungan, atau respons
endokrin fisiologis. Gejala-gejala ini biasanya teratasi secara spontan dalam satu
minggu atau setelah pulang. Untuk beberapa bagaimanapun, perasaan awal dari
kekecewaan dapat digantikan dengan depresi berlebihan yang disebabkan oleh
siklus ansietas, anoreksia, dan kelelahan berlebihan yang mulai segera setelah
pulang.
4. Evaluasi kemampuan koping masa lalu klien,latar belakang budaya, sistem
pendukung, dan rencana untuk bantuandomestik pada saat pulang. Membantu
dalam mengkaji kemampuan klien untuk mengatasi stress. Kemampuan untuk
mengatasi secara positif juga dipengaruhi oleh reaksi ayah. Dukungan emosi dan
fisik yang diberikan oleh keluarga besar atau bantuan dari rumah bantuan lainnya
dapat mempermudah koping.
5. Berikan dukungan emosional dan bimbingan antisipasi untuk membangun klien
mempelajari peran baru dan strategi untuk koping terhdapa bayi baru lahir.
Diskusikan respons emosional yang normal yang terjadi setelah pulang.
Keterampilan menjadi ibu/orangtua bukan secara insting tetapi harus dipelajari.
Penanganan tidur terganggu dan pemenuhan kebutuhan bayi selama 24 jam
mungkin sulit, dan strategi koping harus dikembangkan.
6. Evaluasi dan dokumentasikan interaksi klien bayi. Perhatikan aanmya atau tidak
adanya perilaku ikatan (kedekatan). Ibu dan bayi sama-sama berpartisipasi dalam
proses kedekatan, dan keduanya harus mendapatkan respon penghargaan selama
interaksi. Keurangnya kedekatan meternal atau tidak adanya bukti perilaku
maternal pada periode pascapartum dapat menimbulkan akibat jangka panjang
yang serius.
7. Anjrukan pengungkapan perasaan rasa bersalah, kegagalan pribadi, atau keraguraguan tentang kemampuan menjadi orang tu, khususnya bila keluarga beresiko
tinggi terhadap masalah-masalah menjadi orangtua. Membantu pasangan
mengevaluai kekuatan dan area masalah secara realistis dan mengenali kebutuhan
terhadap bantuan professional yang tepat.
8. Berikan kesempatan pada klien untuk meninjau ulang keputusan untuk
melepaskan anak. Setalah kelahiran,respons emosi normal disertai dengan
keputusan-keputusan sebelumnya untuk memberika anak diadopsi. Klien mungkin
mengalami konflik serta memerlukan dukungan yang tidak menghakimi untuk
memudahkan koping pada saat ini.
9. Rujuk klien.pasangan pada kelompok pendukung menjadivorangtua, pelayanan
social, kelompok komuitas, atau pelayanan perawat berkunjung. Kira-kira 40%
wanita dengan depresi pascapartum ringan mempunyai gejala-gejala yag menetapa
sampai 1 tahun dan dapat memerlukan evaluasi lanjut.
10. Rujuk klien/pasangan pada penasihat psikiatrik, bila tepat. Dari 1%-2% klien
menderita depresi pascapartum berat memerlukan perawatan di rumah sakit untuk
psikosis seperti penyimpangan afektif dan skizofrenia.
11. Berikan diazepam (valium), prometasin hidroklorida (Phenergen), atau litium
karbonat, sesuai indikasi. Kesulitan berat/lama dapat memerlukan intervesi
tambahan. Pemilihan terapioabat tergantung pada apakah kontrol jangka pendek
atau jangka panjang diperlukan (Doenges, 2002; 407- 409).

m. Gangguan Pola Tidur b.d Respon Hormonol dan Psikologis, Nyeri atau Ketidaknyaman,
Proses Persalinan dan Kelahiran Melelahkan.
Hasil yang diharapkan :
1. Mengidentifikasi penilaian untuk mengakomodasi perubahan yang diperlukan dengan
ketiban terhadap anggota baru.
2. Melaporkan peningkatan rasa sejahtera dan istirahat.
Intervensi Rasional
1. Kaji tingkat kelelahan dan kebutuhan untuk istirahat. Catat lama persalinan dan
ajenis kelahiran Persalinan yang lama dan sulit,m khususnya bila ini terjadi
malam, meningkatkan tingkat kelelahan.
2. Kaji faktor-faktor yang mempengaruhi istirahat. Organisasikan perawatan untuk
meminimalkan gangguan dan memberi instirahat serta periode tidur yang ekstra.
Anjurkan untuk mengungkapkan pengalaman melahirkan. Berikan lingkungan
yang tenang. Membantu meningkatkan istirahat dan menurunkan rangsangan. Bila
ibu tidak terpenuhi kebutuhan tidurnya, lapar tidur dapat terjadi, memperpanjang
proses perbaikan dari periode pascapartum.
3. Berikan informasi tentang kebutuhan istirahat. Setelah kembali kerumah Rencana
yang kreatif yang membolehkan untuk tidur dengan bayi lebih awal serta tidur
siang. Membantu untuk memenuhi kebutuhan tubuh serta mengatasi kelelahan
yang berlebihan.
4. Beri informasi tentang efek-efek. kelelahan dan ansietas pada suplai ASI.
Kelelahan dapat mempengaruhi suplai ASI, dan penurunan refleksis secara
psikologis.
5. Kajian lingkungan rumah, bantuan di rumah, dan adanya subling dan anggota
keluarga lain. Multipara dengan baik di rumah memerlukan tidur lebih banyak di
rumah sakit untuk mentasi kekurangan tidur dan memenuhi kebutuhannya dan
kebutuhan keluarganya.
6. Berikan obat-obatan. (mis., analgesik) Memungkinkan diperlukan untuk
meningkatkan relaksasi tidur sesuai kebutuhan (Doenges,.2002: 409- 410 )
n. Kurang Pengetahuan b.d Kurang Pemajanan atau Mengingat, Kesalahan Interprestasi,
Tidak Mengenal Sumber-Sumber.
Hasil yang diharapkan :
1. Mengidentifikasi kebutuhan-kebutuhan belajar individu.
2. Melaporkan aktivitas atau prosedur yang perlu dengan benar dan menjelaskan alasan
tersebut.
Intervensi Rasional
1. Pastikan persepsi klien tentang persalinan dan kelahiran, lama persalinan, dan
tingkat kelelahan klien. Terdapat hubungan antara lama persalinan dan
kemampuan untuk melakukan tanggung jawab, tugas dan aktifitas-aktifitas
perawatan diri/ perawatan bayi. Makin lama persalinan, makin negatif persepsi
klien tentang kinerja persalinan, dan samkin lama hal tersebut membuat klien
memikul tanggung jawab terhadap perawatan dan mensintesa informasi baru serta
mempelajari peran-peran baru.
2. Kaji kesiapan klien dan motivasi untuk belajar. Bantu klien/pasangan dalam
mengidentifikasi kebutuhan-kebutuhan. Periode paksa natal merupakan
pengalaman positif bila penyuluhan yang tepat diberikan untuk membantu
mengembangkan pertumbuhan ibu, maturasi dan kompetensi. Namun, klien

memerlukan waktu untuk bergerak dari fase taking in ke taking hold, dimana
penerima dan kesiapannya ditingkatkan dan ia secara emosional dan secara fisik
siap untuk belajar informasi baru untuk memudahkan pelaksanaan peran barunya.
3. Mulai merencanakan penyuluhan tertulis dengan menggunakan format yang
distandarisasi atau ceklis. Dokumentasikan informasi yang diberikan dan respons
klien Membantu menstandarisasi informasi yang diterima orang tua anggota staf,
dan menurunkan kebingungan klien yang disebabkan oleh diseminasi dan
masukan informasi yang bertentanga.
4. Berikan informasi tentang peran program latihan pasca partum progresif. Latihan
membantu tonus otot dan meningkatan sirkulasi, menghasilkan tubuh yang
seimbang, dan meningkatkan perasaan sejahtera secara umum.
5. Berikan informasi tentang keperawatan diri, termasuk perawatan perineal dan
higiene; perubahan fisiologis, termasuk kemajuan normal dari rabas lokhia;
kebutuhan untuk tidur dan istirahat; perubahan peran; dan perubahan emosional.
Biarkan klien mendemontrasikan materi yang dipelajari, bila diperlukan.
Membantu mencegah infeksi., mempercepat pemulihan dan penyembuhan, dan
berperan pada adaptasi yang positif dari perubahan fisik dan emosional.
6. Diskusi kebutuhan seksualitas dan rencana untuk kontrasepsi. Pasangan mungkin
memerlukan kejelasan mengenai ketersediaan kontrasepsi.
7. Ketersediaan metode, termasuk keuntungan dan kerugian. Kenyataan bahwa
kehamilan dapat terjadi bahkan sebelum kunjungan minggu keenam.
8. Beri penguatan pemeriksaan pasca partum minggu keenam dengan pemberian
perawatan kesehatan. Kunjungan tindak lanjut perlu untuk mengevaluasi
pemulihan organ produktif., penyembuhan insisi/perbaikan episiotomi,
kesejahteraan umum dan adaptasi terhadap perubahan hidup.
9. Identifikasi masalah-masalah potensial yang memerlukan evaluasi dokter sebelum
jadwal kunjungan minggu keenam. (Misalnya, terjadi perdarahan vagina yang
kembli berwarna merah terang, lochea bau busuk, peninbgkatan suhu malaise,
perasaan ansietas/depresi lama). Intervensi lanjut diperlukan sebelum kunjungan
minggu keenam untuk mencegah atau meminimalkan potensial komplikasi.
10. Diskusikan perubahan fisik dan psikologis yang normal dan kebutuhan-kebutuhan
yang berkenaan dengan periode pascapartum. Status emosional klien mungkin
kadang-kadang labil pada saat ini dan sering dipengaruhi oleh kesejahteraan fisik.
Antisipasi perubahan ini dpaat menunurunkan stres berkenaan dengan periode
transisi ini yang memerlukan peran baru yang dipelajari dan melaksanakan
tanggung jawab baru.
11. Identifikasi sumber-sumber yang tersedia. Mis., pelayanan perawat berkunjung,
pelayanan kesehatan masyarakat dll. Meningkatkan kemandirian dan memberikan
dukungan untuk adaptasi pada perubahan multiple. (Doenges. 2002: 410 - 412)
o. Koping Keluarga: Potensial Terhadap Pertumbuhan b.d Kecukupan Pemenuhan
Kebutuhan-Kebutuhan Individu dan Tugas-Tugas Adaptif, Kemungkinan Tujuan
Aktualisasi Diri Muncul Ke Permukaan.
Hasil yang diharapkan :
1. Mengungkapkan keinginan untuk melaksanakan tugas-tugas yang mengarahkan
kepada kerjasama dari anggota keluarga baru.

2. Mengekspresikan perasaan percaya diri dan kepuasan dengan terbentuknya kemajuan


dan adaptasi.
Intervensi Rasional
1. Kaji hubungan anggota keluarga satu sama lain, tugaskan perawat primer Perawat
dapat membantu memberikan pengalaman positif di rumah sakit dan menyiapkan
keluarga terhadap pertumbuhan melalui tahap-tahap perkembangan dengan
penyertaan tambahan anggota keluarga baru
2. Berikan kesempatan kunjungan dengan tidak dibatasi untuk ayah dan sibling.
Pastikan apakah sibling berminat pada program orientasi Memudahkan
perkembangan keluarga dan proses terus menerus dari pengenalan dan kedekatan.
Membantu anggota keluarga merasa nyaman merawat bayi baru lahir
3. Berikan kelompok dukungan orang tua dan individu atau intruksi kelompok dalam
menyusui, perawatan bayi dan perubahan fisik dan emosional selama periode
pasca partum Mengungkapkan dan diskusi dalam suatu kelompok membantu
mengembangkan ide-ide, kesempatan untuk pemecahan masalah, dan kelompok
dukungan. Membantu mengembangkan harga diri positif, penguasaan
kenyamanan dan pemahaman peran baru
4. Anjurkan partisipasi seimbang dari orang tua perawatan bayi Fleksibilitas dan
sensitisasi terhadap kebutuhan keluarga membantu mengembangkan harga diri dan
rasa kompeten dalam perawatan bayi baru lahir setelah pulang
5. Berikan bimbingan antisipasi mengenai perubahan emosi normal berkenaan
dengan periode pasca partum Membantu menyiapkan pasangan untuk
kemungkinan perubahan yang mereka alami, menurunkan stres berkenaan degan
ketidaktahuan atau dengan kejadian yang tidak diperkirakan, dan dapat
meningkatkan koping positif.
6. Berikan informasi tertulis mengenai buku-buku yang dianjurkan untuk anak-anak
tentang bayi baru. Anjurkan sibling untuk mengungkapkan perasaan penggantian
atau penolakan. Anjurkan orang tua untuk menyediakan waktu lebih banyak
dengan anak yang lebih tua Membantu anak mengidentifikasi dan mengatasi
perasaan akan kemungkinan penggantian atau penolakan. Orang tua harus
mengetahui bahwa perasaan cemburu adalah normal
7. Anjurkan teman-teman termasuk anak yang lebih tua melakukan aktifitas di luar
rumah Anak-anak usia sekolah kemungkinan lebih mudah menyesuaikan diri
terhadap bayi baru lahir, saat pandangan mereka telah meluas sampai meliputi
aktifitas kedekatan di luar rumah
8. Kolaborasi:
Rujuk klien/pasangan pada kelompok orang tua pasca partum di komunitas
Meningkatkan pengetahuan orang tua tentang membesarkan anak dan
perkembangan anak, dan memberikan atmosfer yang mendukung saat orang tua
memerankan peran baru (Doenges, 2002; 412 - 413)
4. Implementasi
Implementasi keperawatan merupakan bagian dari proses keperawatan. Tujuan implementasi
adalah mengatasi masalah yang terjadi pada manusia. (Hidayat, 2002: 39).
5. Evaluasi
Evaluasi adalah tahapan akhir dari proses keperawatan. Evaluasi menyediakan nilai informasi
mengenai pengaruh intervensi yang telah direncanakan dan merupakan perbandingan dari

hasil yang diamati dengan kriteria hasil yang telah dibuat pada tahap perencanaan. (Hidayat,
2002: 41).
6. Dokumentasi
Dokumentasi keperawatan merupakan bukti pencatatan dan pelaporan yang dimiliki perawat
dalam melakukan catatan perawatan yang berguna untuk kepentingan klien, perawat, dan tim
kesehatan dalam memberikan pelayanan kesehatan dengan dasar komunikasi yang akurat dan
lengkap secara tertulis dengan tanggung jawab perawat. (Hidayat, 2002: 1).