Anda di halaman 1dari 2

Nama : Rachmad Kurniawan

NIM : 102013321
Kelompok : D

FILSAFAT MENURUT ARISTOTELES


Menurut Aristoteles filsafat ilmu adalah sebab dan asas segala benda. Oleh karena itu
dia menamakan filsafat sebagai teologi. Filsafat sebagai refleksi dari pemikiran sistematis
manusia atas realitas dan sekitarnya, tentunya tidak berdiri sendiri, tidak tumbuh diruang dan
tempat yang kosong. Lingkungan keluarga, sosial alam dan potensi diri akan ikut
mempengaruhi seseorang dalam melakukan refleksi filosofis. Oleh karenanya dalam sejarah
pemikiran manusia terdapat tokoh pemikir ataupun filosof yang selalu saja muncul dari
zaman ke zaman dengan tema yang berbeda-beda.
Aristoteles (381 SM-322 SM) mengatakan bahwa filsafat adalah ilmu yang meliputi
kebenaran yang terkandung didalamnya ilmu-ilmu metafisika, logika, etika, ekonomi, politik,
dan estetika.
A. Pembagian filsafat menurut Aristoteles
1. Logika yaitu tentang bentuk susunan pikiran.
2. Filosofia teoritika yang diperinci atas
a. Fisika yaitu tentang dunia materiil (ilmu alam dan sebagainya)
b. Matematika yaitu tentang barang menurut kuantitasnya.
c. Metafisika yaitu tentang ada.
3. Filosofia praktika, tentang hidup kesusilaan (berbuat)
a. Etika yaitu tentang kesusilaan dalam hidup perorangan.
b. Ekonomi yaitu tentang kesusilaan dalam kekeluargaan.
c. Politika yaitu tentang kesusilaan dalam hidup kenegaraan.
4. Filosofia poetika/aktiva (pencipta)
Fisafat kesenian.
Pembagian ini meliputi seluruh ilmu pengetahuan waktu itu, jadi apa yang sekarang
dipandang termasuk ilmu pengetahuan, dimasukkan didalamnya (khususnya bagian fisika).
Sekarang dengan tugas dibedakan antara filsafat dan ilmu pengetahuan. Maka pembagian

filsafat seperti yang dikemukakan oleh Aristoteles telah ketinggalan, jadi harus disesuaikan
dengan perkembangan modern.

Pendapat saya : menurut saya aristoteles menyampaikan bahwa tujuan hidup adalah untuk
kepentingan diri sendiri bukan untuk orang lain. Realitas tertinggi adalah yang kita lihat
dengan indera-mata kita. Manusia memiliki akal yang sifatnya bawaan, dan bukan sekedar
akal yang masuk dalam kesadarannya oleh pendengaran dan penglihatannya. Ada dua cara
untuk mendapatkan kesimpulan demi memperoleh pengetahuan dan kebenaran baru, yaitu
metode rasional-deduktif dan metode empiris-induktif.