Anda di halaman 1dari 11

LAPORAN

BAB 1
PENDAHULUAN

1.1 Latar belakang


Zat didefinisikan sebagai sesuatu yang mempunyai massa dan memerlukan
ruang. Berdasarkan wujudnya, zat dapat dibedakan menjadi tiga macam,
yaitu zat padat, zat cair dan gas. Setiap zat padat mempunyai massa jenis
tertentu. Demekian juga dengan zat cair dan gas. Oleh karena itu kita dapat
mengetahui jenis zat berdasarkan massa jenisnya (Hidayat, 1979).
Massa jenis (P) didefinisikan sebagai perbandingan antara massa zat dan
volumenya.

Nilai massa jenis hanya bergantung pada jenis zat, tidak

bergantung pada massa atau volume zat. Dengan kata lain, nilai massa jenis
suatu zat adalah tetap. Massa jenis berfungsi untuk menentukan zat. Setiap
zat memiliki massa jenis yang berbeda. Dan satu zat berapapun massanya
berapapun volumenya akan memiliki massa jenis yang sama (Kondo, 1982).
Nilai massa jenis suatu zat adalah tetap, tidak tergantung pada massa
maupun volume zat, tetapi tergantung pada jenis zatnya, oleh karenanya zat
yang sejenis selalu mempunyai masssa jenis yang sama. Satuan massa jenis
adalah kg/m3 atau g/cm3, jenis zat dapat diketahui dari massa jenisnya.
Massa jenis rata-rata setiap benda merupakan total massa dibagi dengan total
volumenya. Sebuah benda yang memiliki massa jenis lebih tinggi (misalnya
besi) akan memiliki volume yang lebih rendah daripada benda bermassa sama
yang memiliki massa jenis lebih rendah (misalnya air) (Kondo, 1982).
Selain karena angkanya yang mudah diingat dan mudah dipakai untuk
menghitung, maka massa jenis air dipakai perbandingan untuk rumus ke-2
menghitung massa jenis, atau yang dinamakan Massa Jenis Relatif. Rumus
massa jenis relatif = Massa bahan / Massa air yang volumenya sama
(Bredthauer, 1993).
Satuan massa adalah kg atau gram dan satuan volume m3 atau cm3
sehingga satuan massa jenis adalah kg/m3 atau g/cm3. Massa jennis
merupakan ciri khas benda. Setiap benda yang sejenis memiliki massa jenis
yang sama dan setiap benda yang berlainan jenis memiliki massa jenis yang
berbeda. Massa jenis suatu zat dapat dihitung dengan mengetahui massa dan
volume zat tersebut (Bredthauer, 1993).

Pengukuran massa benda dilakukan dengan alat yang disebut neraca


lengan. Massa jenis suatu benda adalah banyaknya massa tersebut dalam
satuan volume (Searss, 1985).
Laporan ini dibuat dalam rangka menguraikan laporan tentang pengukuran
dan perhitungan masa jenis , sehingga diperoleh data-data yang jelas dari
hasil percobaan.
1.2 Rumusan masalah
Berdasarkan latar belakang masalah diatas maka rumusan masalah yang
akan dikaji adalah:
1. Apa pengaruh air pada batu sehingga volume batu meningkat?
2. Berapa massa jenis batu?
3. Berapa perubahan volume air saat batu dimasukan kedalam air?
1.3 Hipotesis
Setiap zat memiliki massa jenis yang berbeda dan suatu zat dengan
volume berapapun akan memiliki massa jenis yang sama.
1.4 Tujuan Praktikum
Untuk mengetahui massa jenis batu
Untuk mengukur perubahan volume air saat batu dimasukan

kedalam air
Untuk mengetahui kesalahan relatif yang terjadi.

1.5 Waktu dan tempat


Waktu : 07.00 selesai
Tempat : Laboratorium IPA SMK N 1 SLAWI

BAB 2
DASAR TEORI

Massa jenis adalah besaran khas yang menyatakan jenis suatu zat.
Suatu zat yang sejenis walaupun ukuran dan massa bendanya berbeda,
massa jenisnya tetap sama. Massa jenis 1 gram besi sama dengan massa
jenis 1 kg besi. Sebaliknya, dua zat yang jenisnya berbeda pasti memiliki
jenis yang berbeda.

Massa jenis suatu zat () adalah massa zat (m) dibagi dengan volumenya
(V) :

m
V

suatu massa jenis dalam SI adalah kg/m3 atau kg.m-3. Satuan massa jenis
yang sering digunakan adalah g/cm3, dimna :
1 g/cm3 = 1000 kg/m3
Walaupun zat itu beraneka ragam tetapi mempunyai beberapa sifat yang sama,
yaitu setiap zat menempati ruang dan mempunyai massa. Untuk zat padat dan zat cair
mudah dibuktikan menempati ruang dan mempunyai massa. Untuk zat gas juga
menempati ruang dan memiliki massa maka dapat disimpulkan bahwa:
Apabila kita ukur ternyata massanya berbeda. Maka kita katakan kerapatan
benda itu berbeda. Pada umumnya setiap zat yang berbeda jenisnya maka kerapatannya
juga berbeda.Kerapatan zat itulah yang disebut massa jenis.
Massa jenis adalah nilai perbandingan antara massa dan volume suatu benda
Satuan massa jenis berasal dari satuan massa dibagi satuan volum, yaitu kg/m3.
Karena massa jenis adalah nilai perbandingan antara massa dan volum suatu zat,
makauntuk zat yang sejenis, mempunyai massa yang sama. Dari itulah kita dapat
mengenal suatu zatdari massa jenisnya
Kerapatan alias massa jenis fluida homogeny (sama) pada dasarnya
berbeda dengan kerapatan zat padathomogen. Besi atau es batu misalnya,
memiliki kerapatan yang sama pada setiap bagiannya. Berbeda dengan
fluida, misalnya atmosfer atau air. Pada atmosfer bumi, makin tinggi
atmosfir dari permukaan bumi, kerapatannya semakin kecil sedangkan
untuk air laut, misalnya, makin dalam kerapatannya semakin besar.Massa
jenis alias kerapatan dari suatu fluida homogen dapat bergantung pada factor
lingkungan sepertitemperature (suhu) dan tekanan.
Neraca lengan lazimnya digunakan untuk mengukur massa suatu
benda. Namun demikian neraca lengan tersebut dapat difungsikan atau
direkayasa sehingga dapat digunakan untuk mengukur massa jenis zat padat
atau zat cair. Neraca lengan Ohaus mempunyai ketelitian yang tinggi yaitu
dapat sampai 0,01 gram. Selain digunakan untuk mengukur massa jenis zat

padat juga dapat dipergunakan untuk memperagakan adanya gaya tekan ke


atas Archimedes dengan teliti.

BAB 3
METODELOGI PRAKTIKUM

3.1 Alat dan Bahan


1.
2.
3.
4.

Neraca lengan
Gelas beker
Macam macam batu
Air
3.2 Kerangka Kerja

1. Massa batu ditimbang menggunakan neraca lengan.


2. Air dimasukan ke dalam gelas ukur sebanyak 60ml.
3. Batu dijatuhkan kedalam gelas ukur, kenaikan volume air diamati.
Kenaikan tersebut dicatat sebagai volume benda.
4. Massa jenis benda tersebut dihitung.

BAB 4
DATA DAN PEMBAHASAN
4.1 Data
No
1

Batu

Massa

keI

Batu
7,5gr

Volume air
mula-mula
60ml

Volume

Volume

akhir
62ml

2ml

0,12gr/cm
3
0,15gr/cm

II

10gr

60ml

65ml

5ml

3
4
5
6
7
8
9
10

III
IV
V
VI
VII
VIII
IX
X

10gr
9,3gr
9,5gr
7,5gr
7,4gr
8,4gr
25,8gr
23gr

60ml
60ml
60ml
60ml
60ml
60ml
60ml
60ml

64ml
63ml
64ml
63ml
63ml
64ml
70ml
70ml

4ml
3ml
4ml
3ml
3ml
4ml
10ml
10ml

4.2 Perhitungan Data


1.

Percobaan batu ke-1


Diket :
m
= 7,5 gr
Vakhir
= 62ml
Ditanya : = .....?
m
Jawab : = V
=

7,5
62

= 0,12 gr/cm3

2. Percobaan batu ke-2


Diket :

m
= 10 gr
Vakhir
= 65ml
Ditanya : = .....?
m
Jawab : = V
=

10
65

= 0,15 gr/cm3
3. Percobaan batu ke-3
Diket :
m
= 10gr
Vakhir
= 64ml
Ditanya : = .....?
m
Jawab : = V
=

10
64

= 0,16 gr/cm3
4. Percobaan batu ke-4
Diket :
m
= 9,3 gr
Vakhir
= 63ml
Ditanya : = .....?
m
Jawab : = V
=

9,3
63

= 0,15 gr/cm3
5. Percobaan batu ke-5
Diket :
m
= 9,5 gr
Vakhir
= 64ml
Ditanya : = .....?

Jawab :

m
V

9,5
64

= 0,15 gr/cm3
6. Percobaan batu ke-6
Diket :
m
= 7,5 gr
Vakhir
= 63ml
Ditanya : = .....?
m
Jawab : = V
=

7,5
63

= 0,12 gr/cm3
7. Percobaan batu ke-7
Diket :
m
= 7,4 gr
Vakhir
= 63ml
Ditanya : = .....?
m
Jawab : = V
=

7,4
63

= 0,12 gr/cm3
8. Percobaan batu ke-8
Diket :
m
= 8,4 gr
Vakhir
= 64ml
Ditanya : = .....?
m
Jawab : = V
=

8,4
64

= 0,13 gr/cm3
9. Percobaan batu ke-9
Diket :
m
= 25,8 gr
Vakhir
= 70ml
Ditanya : = .....?
m
Jawab : = V

25,8
70

= 0,37 gr/cm3
10. Percobaan batu ke-10
Diket :
m
= 23gr
Vakhir
= 70ml
Ditanya : = .....?
m
Jawab : = V
=

23
70

= 0,33 gr/cm3

4.3 Analisis dan Pembahasan

BAB 5
KESIMPULAN

Massa jenis adalah besaran khas yang menyatakan jenis suatu zat. Suatu zat
yang sejenis walaupun ukuran dan massa bendanya berbeda, massa jenisnya tetap
sama. Massa jenis 1 gram besi sama dengan massa jenis 1 kg besi. Sebaliknya,
dua zat yang jenisnya berbeda pasti memiliki jenis yang berbeda.
Massa jenis suatu zat () adalah massa zat (m) dibagi dengan volumenya (V) :

suatu massa jenis dalam SI adalah kg/m3 atau kg.m-3. Satuan massa jenis yang
sering digunakan adalah g/cm3, dimna :
1 g/cm3 = 1000 kg/m3

BAB 6
DAFTAR PUSTAKA
_______. 2013. Prinsip Achimedes dan berat semu benda. Diakses dari
http://www.onfisika.com/2013/02/prinsip-archimedes-dan-berat-semubenda.htmlpada tanggal 14 April 2013

BAB 3
METODELOGI PRAKTIKUM