Anda di halaman 1dari 4

Industri gula sebagai salah satu industri yang padat akan kebutuhan energi,

merupakan industri yang sangat rentan akan perubahan akibat besarnya


ketergantungan terhadap ketersediaan energi. Permasalahan yang terjadi adalah
tingkat efiesiensi yang rendah, dimana rendahnya efisiensi mengindikasikan
tingginya limbah yang terbentuk. Konsep retrieve to energy dapat
diimplementasikan untuk produksi bersih gula, yaitu dengan peningkatan
efisiensi penggunaan energi.
Peningkatkan efisiensi penggunaan energi dapat dicapai dengan melakukan
konservasi energi. Konservasi energi merupakan kegiatan pengurangan atau
penghematan penggunaan energi melalui suatu cara peningkatan efisiensi
dalam penggunaan energi tanpa mengurangi produktivitas produksi. Konservasi
energi dapat dilakukan melalui penerapan manajemen energi (Goswani, 1986).
Manajemen energi melingkupi beberapa studi. Salah satu studi tersebut adalah
studi khusus energi yang dilakukan pada rangkaian proses produksi (Waterland,
1982). Studi tersebut diharapkan dapat memberikan gambaran secara
menyeluruh baik karakteristik dan situasi penggunaan energi, maupun
pembiayaan energi yang digunakan.
Efisiensi pabrik gula, termasuk efisiensi penggunaan energi, merupakan aspek
yang penting karena mempengaruhi harga jual gula di pasar domestik (Malian,
2004).
Energi Pada Industri Gula Tebu
Pertanian pada dasarnya merupakan tindakan manipulasi ekosistem alami untuk
menghasilkan pangan dan serat (Pimintel, 1992). Manipulasi tersebut dilakukan
pada energi matahari ditambah dengan input energi dari sarana produksi
(Sugito, 1993). Demikian halnya dengan proses produksi gula yang pada
dasarnya dimulai dengan proses budidaya tebu dimana terjadi konservasi energi
matahari melalui proses fotosintesis pada tanaman tebu yang ditambah dengan
input energi dari berbagai semua produksi seperti pupuk, pestisida dan
sebagainya.
Menurut penelitian Umar (1989) tentang konsumsi energi di Pabrik Gula Jatiroto,
Lumajang, Jawa Timur, jumlah energi rata-rata yang dikonsumsi dalam proses
produksi gula adala sebesar 22,8924 MJ/Kg gula tebu. Input energi terbesar pada
sektor hulu (on-farm) diperoleh dari pupuk yaitu sebesar 43,8 50,9% dari total
input energi. Sedangkan pada sektor hilir (off-farm), input energi terbesar
diperoleh dari tenaga uap dengan nilai sebesar 3.546,48 MJ/ton tebu giling.
Menurut penelitian lainnya yang dilakukan oleh Cahyono (1999) tentang
konsumsi energi di Pabrik Gula Krebet Baru I Malang, Jawa Timur, jumlah energi
rata-rata yang dikonsumsi dalam proses produksi gula adalah sebesar 55,51996
MJ/Kg gula tebu. Input energi terbesar diperoleh dari tenaga uap yang digunakan
pada sektor hilir (off-farm) yaitu sebesar 52,4177 MH/Kg gula tebu atau seitar
94,4% dari total energi yang dikonsumsi.
Kerangka Pemikiran

Efisiensi merupakan salah satu parameter keberhasilan suatu usaha. Efisiensi


dapat dibagi dua, yaitu efisiensi teknis dan efisiensi ekonomis. Efisiensi teknis
ditunjukkan oleh penggunaan berbagai sumber daya untuk mengahsilkan produk
yang bersangkutan (rendemen). Sedangkan efisiensi ekonomis lebih ditunjukkan
oleh harga pokok proses produksi (HPP). Melalui peningkatan efisiensi teknis
yang lebih baik, diharapkan aka tercapai efisiensi ekonomis yang lebih tinggi
pula. Efisiensi ekonomis yang tinggi, selain memberikan marjin keuntungan yang
lebih besar bagi industri, juga memberikan keuntungan bagi konsumen sehingga
produk dapat diperoleh dengan harga yang lebih murah.
Salah satu faktor yang berkaitan dengan efisiensi teknis adalah faktor energi.
Melalui peningkatan efisiensi pengelolaan energi pada industri gula, diharapkan
efisiensi teknis dan ekonomis indsutri gula dapat ditingkatkan.
Peningkatan Efisiensi Energi
Peningkatan efisiensi energi pada produksi gula dapat dibagi menjadi dua sektor,
yaitu penggunaan energi yang berupa bahan bakar dan energi listrik.

Efisiensi energi bahan bakar


Bahan bakar merupakan kebutuhan primer dari suatu industri termasuk industri
gula, karena berfungsi sebagai sumber tenaga utama penggerak proses.
Pembiayaan tertinggi juga dialokasikan pada penggunaan bahan bakar. Oleh
karena itu, peningkatan efisiensi penggunaan bahan bakar akan sangat
berpengaruh pada penurunan tingkat pembiyaan dalam suatu proses produksi
oleh industri.
Dua jenis bahan bakar yang digunakan oleh kebanyakan industri gula adalah
ampas tebu dan IDO. Bahan bakar tersebut digunakan pada ketel uap
untuk membangkitkan tenaga uap yang merupakan tenaga utama pada proses
produksi gula. Analisis efisiensi energi akan mengacu pada proses produksi yang
terjadi di ketel uap.
Bahan bakar utama ketel uap adalah ampas tebu. Kekurangannya dapat
ditambah dari bahan bakar kayu dan jika perlu dengan daun tebu kering serta
minyak (residu). Karena pada umumnya bahan bakar berupa ampas tebu saja
tidak mencukupi, harus disediakan bahan bakar lain dalam jumlah yang cukup
atau dibuat perencanaan yang baik untuk menghidari terhentinya penggilinan
karena kekurangan bahan bakar (Moerdokusumo, 1993). IDO (minyak residu)
biasanya digunakan sebagai bahan bakar tambahan atau aditif untuk
meningkatkan energi pembakaran ke dalam ketel uap.
Penggunaan IDO menjadi perhatian karena biaya bahan bakar yang dikeluarkan
untuk IDO lebih besar daripada biaya bahan bakar ampas tebu yang pada
dasarnya merupakan limbah yang diperoleh secara cuma-cuma dari proses
produksi gula. Penggunaan IDO diharapkan dapat dilakukan dengan seoptimal
mungkin mengingat nilai ekonomisnya yang sangat tinggi dan bahkan semakin
tinggi, seiring dengan peningkatan harga bahan bakar minyak dan pencabutan
subsidi oleh pemerintah.

Penggunaan IDO sangat dipengaruhi oleh tinggi rendahnya kalori yang


terkandung dalam ampas tebu. Kandungan kalori dalam ampas tebu yang
digunakan sebagai bahan bakar utama ketel uap akan mempengaruhi kinerja
ketel uap. Apabila kandungan kalori ampas tebu rendah, maka kinerja ketel uap
dapat menurun. Hal tersebut dicegah dengan menambahkan IDO sebagai bahan
bakar ketel uap. Oleh karena itu, peluang untuk meningkatkan efisiensi
penggunaan IDO adalah dengan meningkatkan kalori yang terkandung pada
ampas. Menurut Hugot (1986), nilai kalori ampas dipengaruhi oleh dua faktor,
yaitu kadar air dan kandungan pol ampas. Peningkatan kalori ampas dilakukan
dengan optimalisasi nilai kedua faktor tersebut. Hal ini dapat dilakukan dengan
optimalisasi kinerja gilingan dan penambahan air imbisisi.
Penambahan air imbisisi diharapkan mampu meningkatkan jumlah gula yang
tersekstraksi dari tebu dan meminimalisasi gula yang terbuang melalui ampas.
Semakin rendah gula dalam ampas, maka semakin tinggi nilai kalori ampas.
Namun, penambahan air imbisisi juga berkaitan dengan kadar air ampas, yaitu
semakin besar penambahan air imbisisi maka kadar air ampas juga semakin
tinggi. Kondisi tersebut akan mengakibatkan turunnya nilai kalori ampas tebu.
Oleh karena itu penambahan air imbisisi harus diimbangi dengan optimalisasi
kerja gilingan.
Optimalisasi kinerja gilingan akan mengoptimalkan penggunaan ampas sebagai
bahan bakar. Hal ini dikarenakan ampas yang dihasilkan akan berkadar air lebih
rendah dan lebih mudah terbaka sehingga dapat mengurangi penggunaan bahan
bakar tambahan atau IDO. Selain itu, pol ampas dapat ditekan jumlahnya.
Optimalisasi kinerja gilingan dilakukan dengan mengatur setelan gilingan atau
bukaan, mengatur putaran dan tekanan gilingan, serta penggantian gilingan dari
conventional roll menjadi perforated roll. Pengaturan setelan gilingan dan
pemberian alur pada permukaan giligan akan meningkatkan kemampuan
perahan sehingga kadar air dan gula dalam ampas tebu untuk bahan bakar
diharapkan serendah mungkin.
Menurut Emmen (1926) dalam Moerdokusumo (1993), pengaturan setelah
gilingan dilakukan oleh masinis gilingan berdasarkan kondisi giling terdahulu,
sehingga dengan hadirnya masinis gilingan yang berpengalaman dan
dokumentasi kerja gilingan yang baik tentu akan sangat berpengaruh pada
peningkatan kinerja gilingan. Selain itu, pengawasan terpadu pada gilingan
harus dilakukan untuk mempertahankan kinerja gilingan yang optimal.
Efisiensi energi listrik
Penggunaan energi listrik memegang peranan yang penting dalam kelancaran
proses produksi. Beberapa pabrik gula seperti Pabrik Gula Jatitujuh memnuhi
kebutuhan energi listriknya secara mandiri dari dua turbin alternator pembangkit
listrik. Peningkatan efisiensi penggunaan energi listrik dapat dilakukan dengan
penghematan energi baik untuk mengaktifkan motor listrik atau alat yang ada.
Penghematan penggunaan energi listrik dapat dilakukan dengan cara
optimalisasi utilisasi alat. Optimalisasi alat dilaksanakan dengan cara
mengaktifkan alat pada beban kerja atau kapasitas optimalnya dan
menonaktifkan alat ketika alat tersebut tidak digunakan. Adanya alat yang tetap
bekerja ketika proses sedang dalam tahap menunggu atau bahkan berhenti
merupakan salah satu sebab terjadinya inefisiensi penggunaan energi listrik.

Cara lain yang dapat dgunakan untuk meningkatkan efisiensi penggunaan energi
listrik adalah dengan melakukan maintenance atau perawatan, modifikasi, dan
penggantian alat. Perawatan terhadap alat yang ada harus dilakukan secara
teratur agar kinerja dan tingkat efisiensi alat tetap terjaga. Namun, apabila
terjadi penurunan pada kinerja alat maka dapat dilakukan modifikasi untu
meningkatkan kembali kinerjanya, seperti penggulungan ulang kumparan pada
motor listrik atau dengan penggantian komponen tertentu pada peralatan
tersebut. Alternatif terakhir yaitu penggantian alat, sepertti penggantian motor
listrik dan peralatan yang sudah tua. Pergantian alat merupakan peluang
penghematan jangka panjang yang dilakukan apabila, dengan perawatan dan
modifikasi, kinerja atau tingkat efisiensi alat tersebut sudah tidak dapat
diperbaiki.
Efisiensi uap
Uap merupakan sumber utama pabrik gula. Kurang tersedianya uap dalam
jumlah yang cukup akibat rendahnya efisiensi penggunaan uap dapat
menimbulkan serangkaian reaksi yang akan mempengaruhi mutu serta jumlah
produk yang dihasilkan. Kehilangan energi uap pada proses produksi dapat
diatasi dengan pembenahan pada operasi ketel uap secara umum, pembenahan
pada sistem steam trapping, pembenahan pada turbin mekanis dan insulasi.

Pembenahan pada operasi ketel uap secara umum pada dasarnya dilakukan
dengan cara peningkatan pengawasan kinerja uap ketel. Pengawasa kinerja ketel
uap dilakukan secara langsung maupun tidak langsung. Pengawasan secara
langsung antara lain dilakukan dengan pembenahan atau penggantian saluran
yang bocor pada sistem uap, penggunaan alat kontrol otomatis untuk
memastikan uap hanya digunakan ketika dibutuhkan dan pemeriksaan
kebutuhan tekanan uap pada alat bertenaga uap untuk mengevaluasi
kemungkinan penurunan tekanan yang dapat diterapkan. Pengawasan secara
tidak langsung antara lain dilakukan dengan penyusunan suatu program
pengawasan sistem uap yang terpadu beserta dokumentasinya.
Pembenahan pada sistem steam trapping dilakukan dengan cara melakukan
pemeriksaan terhadap ukuran dari steam trap untuk memastikan kesesuainnya
dengan sistem drainase kondensat yang diinginkan. Selain itu, pemilihan jenis
trap yang tepat juga harus dilakukan agar dapat tercapai efisiensi setinggitingginya. Pembenahan pada turbin mekanis dilakukan dengan program
pengujian kinerja dan pembersihan turbin secara teratur untuk memaksimalkan
efisiensinya. Pemberian insulasi dilakukan untuk mengurangi kerugian panas
pada ketel. Kerugian panas disebabkan oleh kerugian cerobong, pembakaran
yang tidak sempurna, adanya jelaga dan pancaran panas dari ketel. Pancaran
panas dari ketel dapat dikurangi dengan memberi sabut dari lapisan penahan
panas pada bagian ketel yang suhunya tinggi.