Anda di halaman 1dari 23

TUGAS

CRUSHING DAN GRINDING


DISUSUN UNTUK MEMENUHI TUGAS MATAKULIAH PENGOLAHAN MINERAL
OLEH :

ARISKAL MUSZA PUTRA (1304108010011)

PROGRAM STUDI S-1 TEKNIK PERTAMBANGAN


FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS SYIAH KUALA

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Bahan galian menurut Peraturan Pemerintah Nomor 23 Tahun 2010
dikelompokkan menjadi 5 golongan yaitu, mineral radioaktif, mineral
logam,

mineral

bukan

logam,

batuan

dan

batubara.

Dalam

keterdapatannya di lapangan bahan galian mempunyai ukuran yang besar


dan massive sehingga dibutuhkan beberapa perlakuan agar didapati
ukuran yang sesuai dengan kebutuhan konsumen. Untuk menwujudkan
hal tersebut maka dilakukanlah tahapan kominusi (comminution) pada
bahan galian tersebut. Tahapan kominusi adalah tahapan pengecilan
ukuran untuk suatu bahan galian yang sekurang-kurangnya terdiri atas
tahap peremukan (crushing) dan tahap penggerusan (grinding) yang
semua tahapan tersebut menggunakan beberapa peralatan yang akan
dibahas lebih rinci dalam makalah ini.
1.2 Tujuan
Adapun tujuan pembuatan makalah ini adalah :
a. Supaya dapat mengetahui tahapan kominusi pada batuan secara
rinci dan jelas
b. Supaya dapat

mengetahui

perbedaan

tahapan

crushing

dan

grinding
c. Supaya dapat mengetahui peralatan yang digunakan pada tahap
crushing atau grinding
1.3
Rumusan Masalah
a. Apa perbedaan tahapan crushing dengan tahapan grinding ?
b. Peralatan apa saja yang digunakan pada tahap crushing ?
c. Peralatan apa saja yang digunakan pada tahap grinding ?

BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Tahapan Kominusi
Kominusi merupakan salah satu tahapan pada pengolahan bijih,
mineral atau bahan galian. Pada kominusi, bijih atau mineral dari tambang
yang berukuran besar lebih daripada 1 meter dapat dikecilkan menjadi
bijih berukuran kurang daripada 100 mikron. Pada umumnya bijih, mineral
atau bahan galian dari tambang masih berukuran cukup besar. Sehingga
sangat tidak mungkin dapat secara langsung digunakan atau diolah lebih
lanjut. Bijih atau mineral dalam ukuran besar biasanya berkadar sangat
rendah dan terikat dengan mineral pengotornya.

Liberasi mineral

berharga masih rendah pada ukuran bijih yang besar. Sehingga untuk
dapat diolah dan untuk dapat meningkatkan kadar mineral tertentu harus
melalui operasi pengecilan ukuran terlebih dahulu. Operasi pengecilan
ukuran bijih umumnya dibagi dalam dua tahapan yaitu: operasai
peremukan atau crushing dan operasi penggerusan atau grinding
Tujuan dari kominusi adalah :
1. Membebaskan ikatan mineral berharga dari gangue-nya.
2. Menyiapkan ukuran umpan sesuai dengan ukuran operasi
konsentrasi atau ukuran pemisahan.
3.

Mengekspos

permukaan

hyrometalurgi tidak

mineral

berharga,

Untuk

proses

perlu benar-benar bebas dari gangue.

4. Memenuhi keinginan konsumen atau tahapan berikutnya.

Tahap kominusi dapat dibagi menjadi lima bagian yaitu :


1. Peremukan tahap pertama, primary crushing adalah tahapan
pengecilan ukuran bijih sampai ukuran 20 cm.

2. Peremukan tahap kedua, secondary crushing adalah tahapan


pengecilan ukuran bijih dari sekitar 20 cm sampai 5 cm.
3. Peremukan tahap ketiga, tertiary crushing adalah tahapan
pengecilan ukuran bijih dari 5 cm menjadi 1 cm.
4. Penggerusan kasar, grinding adalah tahapan pengecilan ukuran
bijih mulai dari 1 cm menjadi sekitar 1 mm.
5. Penggerusan halus, fine grinding adalah tahapan pengecilan
ukuran bijih mulai dari 1 mm hingga halus (biasanya sampai 0,075
mm).

2.1.1 Operasi Peremukan ( Crushing)


Peremukan adalah proses reduksi ukuran dari bahan galian / bijih yang
langsung dari tambang (ROM = run of mine) dan berukuran besar-besar
(diameter sekitar 100 cm) menjadi ukuran 20-25 cm bahkan bisa sampai
ukuran 2,5 cm. Crushing merupakan proses yang bertujuan untuk
meliberasi mineral yang diinginkan dari mineral pengotornya.
Operasi crushing biasanya melibatkan beberapa tahapan yaitu primary
crushing, secondary crushing dan tertiary crushing.
1. Primary crushing
Primary crushing merupakan tahapan pengecilan ukuran bahan
galian hingga mencapai ukuran 20 cm. Dan merupakan tahap awal
pengecilan ukuran bijih. Bijih yang baru datang dari tambang dan
biasanya dilakukan secara terbuka. Untuk bijih yang keras dan kompak
digunakan jaw crusher dan gyratory crusher, sedangkan untuk bahan
galian yang lebih brittle dapat menggunakan hummer mill atau impactor
atau impact breaker.

Alat-alat yang digunakan dalam tahap primary

crushing adalah :
a. Jaw Crusher, Peremuk Rahang.

Bagian utama dari Jaw crusher adalah dua plat baja yang dapat
membuka dan menutup seperti rahang. Salah satu plat dari jaw ini tidak
begerak, atau selalu diam, dan disebut fix jaw. Sedangkan yang satunya
selalu bergerak maju mundur dan disebut sebagai moving jaw. Gerakan
mundur maju fix jaw ditimbulkan oleh mekanisme putaran sumbu
eksentrik atau eccentric rotation.
Jaw yang bergerak akan memberi gaya tekan, kompresi kepada bijih yang
masuk dalam rongga remuk, rongga di antara dua plat atau jaw. Bijih yang
masuk rongga remuk akan segera mendapat gaya tekan atau kompresi
dari yang bergerak. Bijih yang remuk akan turun hingga mendapat
tekanan baru. Bijih yang remuk secara leluasa akan bebas turun di antara
dua kompresi. Pada jaw crusher, peremukan bijih hanya terjadi oleh alat,
yaitu saat jaw bergerak memberi tekanan. Mekanisme peremukan ini
disebut arrested crushing.
Ukuran dan distribusi bijih hasil peremukan tergantung pada pengaturan
mulut pengeluaran atau setting, yaitu open side setting, bukaan
maksimum dari mulut. Bukaan diatur dengan merubah posisi toggle di
belakang alat. Pengaturan Bukaan maksimum atau open side setting dan
bukaan minimum atau close side setting akan menentukan ukuran
terbesar dan distribusi dari bijih yang keluar dari rongga jaw. Produk
peremukan biasanya akan berukuran 85 persen dari bukaan maksimum
atau open side setting. Sedangkan ukuran terbesar yang dapat masuk ke
dalam rongga jaw adalah 85 persen dari gape

Gambar Skematika Jaw Crusher

Ukuran Produk Hasil Jaw Crusher


Ukuran produk hasil peremukan yang menggunakan Jaw Crusher
dapat ditentukan dengan memakai lembar kerja yang disiapkan di bawah.
Masukkan data yang diperlukan, kemudian tekan update. Ukuran produk
dinyatakan

dengan P.80. Arti notasi P adalah untuk produk dan 80

menyatakan depalan puluh persen dari berat produk berukuran lebih kecil
dari ukuran P.80. Misal P.80 = 92.0 mm, artinya delapan puluh persen
berat dari produk jaw crusher berukuran kurang dari 92,0 mm.
Tipe Jaw Crusher
1. Blake Crusher: Single Toggle dan Double Toggle.
Tipe Blake Crusher memiliki titik engsel jaw atau pivot di bagian atas,
sedangkan bagian bawahnya yang bergerak maju mundur. Karena bagian
bawah yang bergerak, maka lebar bukaan atau celah untuk keluarnya
bijih menjadi variatif. Pada saat bergerak maju, maka lebar bukaan adalah
minimum disebut close side setting, dan ketika bergerak mundur, maka
lebar bukaan adalah maksimum, disebut open side setting. Kondisi ini
menyebabkan rentang ukuran bijih hasil peremukan menjadi lebar.
Dengan kata lain ukuran menjadi relative tidak homogen.
2. Dodge Crusher
Tipe Dodge Crusher memiliki titik engsel jaw atau pivot di bagian
bawah, sedangkan pada bagian atasnya bergerak maju mundur. Karena

titik engsel ada pada bagian atas, maka lebar bukaan atau celah untuk
keluarnya bijih hasil peremukan menjadi tetap. Kondisi ini menghasilkan
ukuran bijih menjadi relative homogen. Namun karena jaw bagian atas
bergerak, maka gape, atau mulut jaw menjadi variatif. Saat bergerak
maju, maka gape menjadi minimum. Sebaliknya ketika jaw bergerak
mundur, gape menjadi maksimum. Kondisi ini mensyaratkan bahwa
ukuran bijih yang masuk sebagai umpan harus benar-benar lebih kecil dari
gape saat posisi minimum. Ukuran bijih yang mendekati ukuran gape
maksimum akan menyebabkan jaw macet tidak dapat bergerak.

Gambar Skematika Blake Dan Dodge Crusher

b. Gyratory Crusher.
Gyratory crusher digunakan bila diperlukan alat yang mampu
menghasilkan produk berkapasitas besar. Operasi atau mekanisme
peremukan oleh Gyratory crusher adalah full time crushing. Artinya alat
ini meremuk bijih selama siklus putarannya. Jadi alat ini jauh lebih efisien
dibanding dengan jaw crusher. Namun demikian, gyratory crusher
memerlukan biaya modal dan biaya pemeliharaan yang besar.
Gyratory crusher memiliki sumbu tegak, main shaft, tempat terpasangnya
peremuk yang disebut mantle atau head, digantung pada spider. Sumbu

tegak diputar secara eccentric dari bagian bawah, eccentric sleeve,


mengakibatkan suatu gerakan berputar mantle selalu mendekat ke arah
shell. Mantle berada dalam shell yang berbentuk kerucut membesar ke
atas, sehingga membentuk rongga remuk, crushing chamber antara
concave atau shell dengan mantle.

Gambar . Gyratory Crusher


Mantle bersama sumbu tegak bergerak secara gyratory dan memberi
gaya kompresi ke arah shell. Gaya kompresi ini akan meremuk bijih
dalam rongga remuk. Peremukan bijih hanya terjadi ketika bijih dikenai
gaya kompresi. Oleh karena itu peremukan ini disebut arrested crushing.
Setelah remuk bijih turun secara gravity. Gyratory crusher melakukan
peremukan selama ciklus putarannya. Jadi setiap saat, mantle begerak ke
arah shell, setiap saat mantle memberikan gaya kompresi terhadap bijih
yang berada dalam rongga remuk. Mekanisme peremukan ini disebut
sebagai full time crushing.

Gambar Skematika Gyratory Crusher


Gyratory crusher tidak memerlukan feeder sebagai pengumpan bijih
yang akan masuk. Bijih dapat ditaruh dengan cara ditumpuk di atasnya.
Hal ini berbeda dengan jaw crusher yang sangat tergantung pada feeder
untuk pengatur laju bijih yang akan masuk ke dalam crusher.
c. Impact Crusher
Bisa digunakan material dengan panjang 500mm, tidak lebih dari
350Mpa anti-tekanan kekuatan. Impact crusher dapat digunakan dalam
penghancuran pertama dan kedua. Selama proses pengoperasian, Rotor
berkecepatan tinggi akan terbawa melalui motor listrik. Material akan
ditimpa oleh Flat Hammer Monitor untuk dihancurkan, dan kemudian akan
disalurkan untuk penghancuran kedua, kemudian akan dibuang melalui
lubang pembuangan.

Prinsip Kerja mesin Impact Crusher


Impact crusher bekerja

menghancurkan material dengan kekuatan

tabrakan. Ketika material memasuki area blow bar, material dihancurkan


dengan kekuatan dan kecepatan tinggi blow bar dan dilempar ke impact
plates dalam rotor untuk penghancuran kedua. Kemudian material akan
terlempar kembali kedalam blow bar untuk penghancuran ketiga. Proses
ini berlangsung terus menerus sampai material hancur sesuai dengan
ukuran yang diinginkan dan keluar dari bagian paling bawah mesin.
Ukuran dan bentuk dari bubuk akhir dapat diubah dengan mengatur jarak
antara impact rack dan rotor support. Mesin dilengkapi pengaman selfweigh device yang terletak diframe belakang mesin. Ketika barang lain
masuk dalam lubang impact, barang tersebut akan terlempar keluar dari
mesin melalui impact rack yang terletak dibagian depan dan belakang
mesin.

2. Secondary crushing
Secondary crushing adalah tahapan pengecilan ukuran bahan galian
dari 20 cm menjadi 5 cm. Peralatan yang digunakan pada secondary
crusher diantaranya adalah :
a. Cone Crusher
Cone crusher merupakan alat peremuk yang biasa digunakan untuk
tahap secondary crushing. Alat ini merupakan modifikasi dari gyratory
crusher. Sumbu tegak ditunjang di bawah kepala remuk atau mantle atau
cone. Alat ini mempunyai kelebihan, yaitu ketika bijih atau umpan yang
masuk terlalu keras, maka bowl secara otomatis akan bergerak ke arah
luar.

Gambar 5. Cone Crusher

Gambar 6. Skematika Cone Crusher

Tipe Cone crusher


1. Standard Cone crusher
Standard Cone crusher memiliki rongga remuk bertangga dan membesar
ke arah umpan masuk. Hal ini memungkinkan umpan yang dapat diremuk
menjadi relative besar.
2. Short Head Crusher
Short Head Crusher mempunyai rongga remuk lebih sempit dan mulut
tempat umpan masuk yang relative lebih sempit juga.

Gambar 7. Skematika Standard Dan Short Head Crusher


Ukuran produk hasil peremukan dengan menggunakan cone crusher akan
ditentukam oleh besar nilai open side setting yang dipakai. Setting pada
cone crusher diatur dengan menurun naikkan bowl, sedangkan pada
gyratory crusher dengan menurun naikkan sumbu tegak.
b. Roller Crusher
Prinsip dan Mekanisme Kerja Roller Crusher
Roll Crusher adalah mesin pereduksi ukuran yang menggunting dan
menekan material antara dua permukaan yang keras. Permukan yang
digunakan biasanya berbentuk roll yang berputar dan besi landasan yang
diam, atau dua roll dengan diameter sama yang berputar pada kecepatan
sama dan arahnya berlawanan. Permukaan roll bisa rata, berkerut atau
bergigi. Untuk batubara dimana diperlukan rasio pereduksiannya tinggi
dan hasil yang bagus, beberapa bentuk permukaan biasanya dipilih
sekaligus.
Roll crusher biasanya digunakan untuk mereduksi material yang keras.
Karakteristik mesin peremuk tipe ini adalah termasuk berkecepatan
rendah dan relati memiliki rasio reduksi yang rendah, berkisar 3 : 1
sampai

8 : 1. karena memiliki kecepatan rendah, maka laju keausan

alat ini relatif rendah. Produk dari crusher tipe ini biasanya berbentuk

butiran (gravel) dan sedikit yang berbentuk halus. Kandungan air yang
pada material yang melebihi 5% akan menyulitkan operasi crusher,
karena akan menyebabkan terjadinya penyumbatan penyumbatan,
terkecuali untuk roller crusher, karena itulah maka roller crusher lebih
cocok untuk material yang bersifat plastis seperti tanah liat atau batu
silica yang lembab. Menurut operasinya roller crusher dan gyratory
crusher termasuk klasifikasi kontinyu sedangkan jaw crusher termasuk
intermittent.

Roll crusher terdiri dari dua macam yaitu single roll-crusher dan double
roll-crusher.
1. Single roll-crusher
Single roll-crusher biasanya digunakan untuk penghancuran primer.
Mesin ini terdiri dari satu roll penghancur dan besi landasan yang
melengkung. Besi landasan biasanya berada pada bagian atas untuk
melewatkan

material

yang

terperangkap

tanpa

merusak

mesin.

Kebanyakan single roll-crusher dipasang dengan pin penjepit atau bentuk


lainnya untuk melindungi system pengendali. Rasio pereduksian pada
crushing primer biasanya antara 4:1 dan 6:1. sedangakn untuk crushing
sekunder antara 200 mm dan 20 mm.
2. Double roll-crusher
Double atau tripel stage single roll merupakan pengembangan dari
ukuran pereduksian bentuk primer dan sekunder unit single. Double rollcrusher yang digunakan untuk crushing primer dapat mereduksi batubara
run of mine di atas 1 m3 menjadi berukuran sekitar 350-100 mm,
tergantung pada sifat batubara. Mesin ini dapat digunakan sebagai
secondary raw-coal crusher, middling crusher atau produk sizing crusher.
Secara luas digunakan untuk menghasilkan stok produk dimana kelebihan
serbuk halus harus dihindari. Dari umpan yang berukuran 350 mm,
Double roll-crusher dapat menghancurkan batubara yang berukuran 50
dan 20 mm. kapasitas semua double roll-crusher antara 10 2000 t/unit
dengan konsumsi tenaga 5 100 KW. double roll-crusher juga diproduksi
dalam 3 dan 4 roll, 2 tingkat konfigurasi. Tingkat paling atas menghasilkan
penghancuran kasar sedangkan tingkat bawah lebih halus pada unit triple
roll bagian yang paling atas terdirir dari single roll-crusher, bagian yang
lebih bawah terdiri dari double roll-unit. Pada four-roll unit, bagian atas
dan bawah terdiri dari double roll unit.

3. Tertiary Crusher
Tertiary crusher merupakan proses pengecilan lanjutan hingga ukuran
bahan galian menjadi kurang dari 1 cm. Peralatan yang digunakan pada
tahap tertiary crusher ini adalah :

a. Hammer mill.
Prinsip dan Mekanisme Kerja Hammer mill.
Hammer mill adalah mesin penggiling dengan sebuah rotor yang
berputar dengan kecepatan tinggi dalam sebuah casing berbentuk

silinder.Umpan
masuk
dari
bagian
puncak
casing
dan
dihancurkan,selanjutnya dikeluarkan melalui bukaan pada dasar
casing.Umpan dipecahkan oleh seperangkat palu ayun yang berada pada
piring rotor. Kemudian pecahan ini terlempar pada anvil plate di dalam
sebuah casing sehingga dipecahkan lagi menjadi bagian yang lebih
kecil.lalu digosok menjadi serbuk. Akhirnya didorong oleh palu ke luar
bukaan.

2.1.2 Penggerusan, Grinding


Operasi

penggerusan

merupakan

tahap

akhir

dari

operasi

pengecilan ukuran bijih, atau kominusi. Pada tahap ini bijih dikecilkan
ukurannya sampai pada ukuran pemisahan. Mekanisme pengecilannya
melibatkan gaya-gaya seperti impact, kompresi, attrition/abrasi dan shear.
Bijih mempunyai ukuran optimum yang ekonomis agar dapat dipisah
secara

mekanik

dengan

memanfaatkan

sifat-sifat

fisiknya.

Ukuran

optimumnya tergantung pada ukuran liberasi dari mineral berharga atau


gangue dan ukuran pemisahan yang diperlukan pada proses berikutnya.
Bijih yang kurang tergerus, akan menghasilkan bijih berukuran kasar dan
mineral berharga tidak terbebaskan dari ikatannya dengan gangue. Hasil
konsentrasi tidak optimum, yang direpresentasikan oleh recovery yang

rendah atau kadar yang rendah. Kurang tergerusnya bijih dapat dilihat
dari pemakaian energi yang rendah. Sebaliknya bila bijih tergerus
berlebihan, maka penggerusan

akan menghasilkan ukuran bijih yang

terlalu halus. Hal ini dapat menghasilkan bijih dengan liberasi yang tinggi.
Hasil pemisahan dapat meningkatkan kadar mineral berharga dalam
konsentrat, namun ukuran yang terlalu halus dapat menurunkan recovery.
Bijih yang tergerus berlebihan menyebabkan pemakaian energi yang
besar.
Operasi penggerusan, grinding dapat dilakukan secara kering atau basah.
Beberapa kriteria yang digunakan untuk penentuan grinding dilakukan
secara kering atau basah adalah:
1. Pengolahan

berikutnya

dilakukan

secara

basah

atau

kering.

Pengolahan mineral/bijih pada umumnya dilakukan secara basah.


Pada

umumnya

operasi

konsentrasi

atau

pemisahan

mineral

dilakukan dengan cara basah. Namun penggerusan klingker untuk


menghasilkan semen selalu cara kering.
2. Penggerusan cara basah memerlukan energi lebih kecil dibanding
cara kering.
3. Klasifikasi/sizing lebih mudah dan memerlukan ruang yang lebih
kecil dibandingkan cara kering.
4. Lingkungan pada penggerusan cara basah relatife lebih bersih dan
tidak memerlukan peralatan untuk menangkap debu.
5. Penggerusan cara kering mensyaratkan bijih yang betul-betul
kering. Sehingga memerlukan operasi pengeringan terlebih dahulu.
6. Pada penggerusan cara basah, konsumsi media gerus dan bahan
pelapis relative lebih banyak, karena terjadi korosi.
Peralatan Gerus, Penggerus.

Penggerusan

dilakukan

dalam

alat

yang

disebut

penggerus

atau Tumbling Mill berbentuk tabung silinder yang berputar pada sumbu
harisontalnya.

Di

dalam

tabung

selinder

terdapat

media

gerus,

atau grinding media, bijih yang akan digerus dan air, untuk operasi cara
basah.

Gambar . Ball Mill


Penggerusan cara basah menggunakan air sebagai campuran bijih,
membentuk persen solid tertentu. Persen solid menyatakan perbandingan
dalam berat antara berat padatan, atau bijih terhadap berat pulp, atau
slurry, atau campuran padatan dan air.
Tipe Alat Penggerus
Berdasarkan pada media gerusnya, grinding media, alat penggerus dapat
dibedakan:
1. Ball Mill
menggunakan media gerus berbentuk bola yang terbuat dari baja.
Diameter media gerus bervariasi mulai dari 25 sampai 150 centimeter.
Panjang mill, L dan diameternya , D, relative sama, L = D. Berdasarkan
cara

pengeluaran

produknya,

atau discharge, ball

menjadi overflow mill dan grate discharge mill.

milldibedakan

Pada overflow mill,

produk

hasil

penggerusan

keluar

dengan

keluar

melalui

sendirinya pada ujung satunya, ujung pengeluaran.

Sedangkan

pada grate

discharge

mill,

produk

saringan yang dipasang pada ujung pengeluaran. Produk dapat


keluar dengan bebas, permukaan dalam mill rendah, lebih rendah
dari overflow. Hal ini dapat menghindari terjadinya overgrinding.

Gambar. Skematika Ball Mill


Air yang digunakan pada ball mill akan membentuk kekentalan tertentu,
sehingga pulp dapat melekat dan meyelimuti bola dan liner. Pulp harus
relative encer agar pulp dapat bergerak dengan leluasa di dalam mill. Ball
mill biasanya beroperasi dengan 70 80 persen solid, padatan.
2. Rod Mill,
menggunakan media gerus berbentuk batang selindern yang
panjangnya hampir sama dengan panjang mill. Media gerus biasanya
terbuat dari baja dan disusun sejajar dalam mill. Dimensi Panjang, L jauh
lebih besar daripada diameter, D, L > D, biasanya panjang mill 1,5 sampai
2,5 kali diameternya.
Rod mill diklasifikasikan berdasarkan cara mengeluarkan produknya.

Overflow mill, umpan masuk dari salah satu ujung mill, dan keluar
dari ujung lainnya secara overflow. Overflow mill paling banyak
digunakan pada penggerusan cara basah.

Gambar . Skematika Rod Mill, Overflow Mill

Centre peripheral discharge mill, umpan masuk pada kedua ujung


mill, dan produk keluar dari bagian tengan shell. Penggerusan dapat
dengan cara basah maupun cara kering. Mill ini menghasilkan
produk yang relative kasar.

Gambar . Skematika Rod Mill, Centre Peripheral Discharge Mill

End peripheral discharge mill, umpan masuk pada salah satu ujung
mill, dan produk keluar dari ujung yang lainnya melalui shell. Mill ini
biasanya digunakan untuk penggerusan cara kering.

Gambar . Skematika Rod Mill, End Peripheral Discharge Mill

Pada cara basah air berfungsi sebagai alat transportasi untuk membawa
bijih yang sudah berukuran halus ke tempat yang sesuai dengan
ukurannya.

Bijih

yang

sudah

halus

akan

terdorong

air

ke

arah

pengeluaran. Rod mill umumnya beroperasi dengan 30 35 persen solid,


padatan.
3. Pebble Mill,
media gerus menggunakan batuan yang sangat keras. Mill ini
memiliki Dimensi panjang mill, L relative sama dengan diameter mill, L =
D
4. Autogeneous Mill,
media gerus menggunakan bijih itu sendiri. Dimensi panjang mill, L
relative lebih kecil daripada diameter mill-nya, L < D. Pada mill ini bijih
akan menggerus bijih. Penggerusan dilakukan terhadap bijih yang datang
dari tambang atau bisa dari keluaran operasi peremukan tahap pertama.
Penggerusan dapat dengan cara basah atau kering, dan mekanisme
penggerusannya sama dengan ball mill.
Autogeneous Mill, dapat dilakukan dengan atau dalam ball mill, cascade
mill atau aerofall mill. Cascade mill berupa mill yang memiliki diameter 3
sampai empat kali panjang mill. Sedangkan aerofall seperti cascade,
namun pada liner dipasang sekat yang dapat membawa bijih ke tempat
yang lebih tinggi.

Autogeneous seluruhnya, bijih dari tambang dapat masuk langsung


ke dalam mill. Seluruh muatan mill adalah bijih dari tambang dan
saling gerus.

Autogeneous sebagian, muatan mill berupa bongkah-bongkah besar


bijih dicampur dengan bijih yang telah diremuk dengan alat lain.
Pada mill ini bongkah-bongkah besar bertindak sebagai media
gerus.

Semi Autogeneous, bijih dari tambang dicampur dengan media


gerus, bola baja pejal. Jadi isi mill adalah bijih dari tambang
langsung masuk mill dan tercampur dengan media gerus yang
sudah ada dalam mill.

5. Tube Mill,
media gerus menggunakan bola baja. Dimensi panjang mill, L
biasanya jauh lebih besar dari diameternya, L > D. Mill terbagi dalam
beberapa

kompartemen.

Bisa

dua, tiga

atau

bahkan bisa

empat

kompartemen.

BAB III
KESIMPULAN
3.1 Kesimpulan
a. Pada proses kominusi terdiri dari 2 (dua) tahapan yaitu tahapan
crushing
(peremukan) dan tahapan grinding (penggerusan)
b. Tahap kominusi terdiri atas primary crushing, secondary crushing,
tertiary
crushing, grinding dan fine grinding
c.

Pada tahap peremukan dilakukan pengecilan ukuran bahan galian


dari ukuran
yang besar menjadi 1 cm

d. Pada tahap peremukan digunakan beberapa peralatan seperti, jaw


crusher,

impact crusher, gyratory crusher, cone crusher, roll crusher dan


hammer mill
e. Pada tahap penggerusan dilakukan pengecilan ukuran bahan galian
dari ukuran
1 cm menjadi kurang dari 0,075 mm

DAFTAR PUSTAKA

http://ardra.biz (DI AKSES TANGGAL 21 APRIL 2015)


http://www.hengruimac.com (DI AKSES TANGGAL 21 APRIL 2015)
http://www.grinding-mill.com (DI AKSES TANGGAL 21 APRIL 2015)
https://tambangunhas.wordpress.com (DI AKSES TANGGAL 21 APRIL 2015)
http://arsipteknikpertambangan.blogspot.com (DI AKSES TANGGAL 21
APRIL 2015)

http://www.flsmidth.com (DI AKSES TANGGAL 21 APRIL 2015)