Anda di halaman 1dari 48

ABSTRAK

Heat Exchanger adalah alat penukar kalor yang berfungsi untuk mengubah
temperatur dan fasa

suatu jenis fluida. Proses tersebut terjadi dengan

memanfaatkan proses perpindahan kalor dari fluida bersuhu tinggi menuju fluida
bersuhu rendah. Di dalam dunia industri peran dari heat

exchanger sangat

penting. Tujuan dari penulisan adalah mampu merancang shell and tube heat
exchanger single phase, mengetahui mekanisme kerja dan mampu menganalisa
performa heat exchanger dengan variabel laju alir fluida. Dalam suatu shell and
tube heat exchanger terdapat tiga tahap perpindahan panas, yaitu konveksi sisi
shell, konduksi pada dinding tube dan konveksi sisi tube.
Langkah langkah yang dilakukan dalam praktikum ini adalah Peralatan
dipersiapkan dan saklar instalasi dinyalakan. Lalu, Thermokontrol diset 60oC.
Kemudian, Atur debit awal fluida (dingin atau panas), Q 0= 400 L/jam. Tunggu
selama 10 menit kemudian Data siap diambil dengan menekan tombol pada
control panel thermokopel, yaitu tin cold tout cold, tin hot, dan tout hot. Naikan
debit sebesar 50 L/jam lalu ulangi langkah diatas hingga sampai batas debit
tertentu. Setelah selesai, thermokontrol, pompa fluida dingin dan panas, serta
saklar dimatikan. Katup K-1 dibuka.
Hasil yang didapat adalah semakin besar nilai Reynold number, maka akan
semakin besar juga nilai convection heat transfer coeffcientnya. Semakin besar
nilai Reynold number, maka semakin besar juga kalor aktual yang terjadi.
Semakin besar nilai Reynold number, maka semakin besar juga nilai perbedaan
tekanannya (pressure dropnya). Semakin besar nilai perbandingan antara Cmin
dan Cmax (Cr), maka semakin kecil efektifitas heat exchanger. Heat exchanger
dengan tipe aliran counter memiliki kalor aktual yang lebih besar dari pada heat
exchanger dengan aliran paralel.

BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Definisi paling sederhana dan umum dari perpindahan panas adalah
perpindahan energi sebagai akibat dari perbedaan temperatur. Proses perpindahan
panas ini terjadi dengan berbagai cara. Jika ada perbedaan temperatur di dalam
media diam (cair atau padat) digunakan istilah konduksi untuk menunjukkan
perpindahan panas yang terjadi melintasi media. Istilah konveksi untuk
menunjukkan perpindahan panas yang terjadi antara permukaan dan fluida yang
bergerak ketika berada pada perbedaan temperatur. Istilah radiasi untuk
menunjukkan perpindahan panas yang terjadi akibat suatu permukaan pada
temperatur tertentu yang memancarkan energi dalam bentuk gelombang
elektromagnetik. Oleh karena itu tanpa adanya media akan terjadi perpindahan
panas secara radiasi antara dua permukaan yang berada pada perbedaan
temperatur.
Alat penukar panas (Heat Exchanger) merupakan salah satu alat penunjang
produksi yang berfungsi untuk melaksanakan perpindahan energi panas dari suatu
aliran fluida ke aliran fluida yang lain. Jenis dan ukuran dari alat penukar panas
ini sangat banyak, tergantung dari kebutuhan yang ditentukan oleh pemakai. Salah
satu jenis peralatan ini adalah jenis cangkang dan tabung (shell and tube), dimana
aliran fluida mengalir di dalam tabung dan fluida lain dialirkan melalui
selongsong melintasi luar tabung. Hal ini akan menyebabkan terjadinya
perpindahan panas dari aliran fluida yang bertemperatur lebih tinggi menuju ke
fluida lain yang bertemperatur lebih rendah. Untuk mendapatkan perpindahan
panas yang lebih besar maka di dalam selongsong dipasang sekat-sekat (baffles).
Untuk mengetahui karakteristik sebenarnya suatu alat penukar panas, perlu
dilakukan suatu

uji coba peralatan dengan jalan memodelkan pada kondisi

operasional yang sebenarnya. Pada saat fluida mengalir di dalam tabung maka
akan terjadi penurunan tekanan akibat adanya kerugian gesek yang terjadi

sepanjang tabung yang mengakibatkan bertambahnya biaya pemompaan fluida,


demikian juga aliran fluida dalam selongsong.
1.2. Rumusan Masalah
Rumusan masalah dalam praktikum ini adalah:
1.

Apa saja fenomena fisik pada heat exchanger?

2.

Bagaimana karakteristik sesungguhnya alat penukar panas?

1.3. Tujuan Percobaan


Tujuan dari percobaan alat penukar panas ini adalah mengetahui
karakteristik suatu alat penukar panas pada kondisi sebenarnya. Dengan
mengetahui koefisien perpindahan panas keseluruhan, maka besarnya perpindahan
panas diantara dua jenis fluida berbeda temperatur dapat dicari. Tujuan di atas
dapat dirinci menjadi:
1.

Memahami fenomena fisik heat exchanger.

2.

Mengetahui karakteristik sesungguhnya alat penukar panas.

1.4. Batasan Masalah


Batasan masalah dalam praktikum ini adalah:
1.

Harga U konstan untuk seluruh panjang pipa. Hal ini dikarenakan nilai
diameter pipa tetap sehingga nilai A (luas) tetap dan material pipa uniform,
membuat nilai R tidak berubah. Sehingga, besar U tidak berubah.

2.

Pertukaran panas hanya terjadi antara 2 fluida saja, mengabaikan pemisah


fluida panas dan dingin karena dianggap tipis.

3.

Kondisi tunak, yaitu properties specimen di semua titik tidak berubah


terhadap waktu.

4.

Perbedaan energi potensial dan kinetik diabaikan. Hal ini dikarenakan


tidak ada perbedaan ketinggian antara inlet dan outlet dan karena besar
luas permukaan pipa (A) dan besar debit (Q) konstan, maka kecepatannya
juga konstan.

5.

Radiasi diabaikan, yaitu perpindahan panas secara radiasi pada permukaan


specimen sangat kecil karena konstanta boltzmann bernilai 1,38.10
pangkat -23 J/K, sehingga dapat diabaikan dan besarnya q radiasi jika
dibandingkan dengan q konveksi antara dua fluida bernilai sangat kecil

6.

No fouling factor, yaitu keberadaan pengotor dalam sistem perpipaan


diabaikan karena dapat mempengaruhi nilai heat transfernya.

7.

Incompresible flow, yaitu fluida kerja memiliki mach number kurang dari
0.3 dan variasi densitas sangat kecil sehingga dapat diabaikan.

8.

Fully developed flow, yaitu profil kecepatan fluida tetap karena telah
bertemunya 2 boundary layer (boundary layer atas dan bawah).

1.5. Sistematika laporan


Sistematika laporan dari praktikum perpindaha panas konduksi ini dimulai
dari abstrak, bab I, bab II, dan bab III
Abstrak terdiri dari garis besar tujuan, langkah percobaan, dan hasil yang
diharapkan dari praktikum ini.
Bab I terdiri dari latar belakang, tujuan percobaan, rumusan masalah,
batasan masalah, dan sistematika laporan.
Bab II terdiri dari dasar teori yang mendukung dari materi praktikum ini,
diantaranyapersamaan-persamaan yang adapadapraktikum heat exchanger.
Bab III terdiri dari flowchart percobaan, peralatanpercobaan,instalasialat,
dan langkah-langkah pecobaan
Bab IV terdiri dari lembar data, flowchart perhitungan,contohperhitungan
dan pembahasanpraktikumheat exchangerini.
Bab V terdiri kesimpulan dan saran yang dapatdiambilsetelah praktikum
heat exchanger ini dilaksanakan

BAB II
DASAR TEORI
2.1. Tipe Alat Penukar Panas
Berdasarkan arah aliran relatif kedua fluida ada empat macam penukar
panas:
a.

Pada susunan aliran searah (paralel flow), fluida panas dan dingin
masuk pada ujung yang sama, mengalir dengan arah yang sama dan berakhir
pada ujung yang sama pula.

b.

Pada susunan aliran yang berlawanan (counter flow), fluida panas dan
dingin masuk pada ujung yang berlawanan, mengalir secara berlawanan arah
dan berakhir pada ujung yang berlawanan arah pula.

c.

Alternatif yang lain adalah aliran melintang atau tegak lurus (cross
flow) yang terbagi atas 2 kondisi, kedua fluida tak bercampur (unmixed) dan
salah satu dari fluida bercampur tapi yang lainnya tidak bercampur.

d.

Susunan dengan aliran gabungan dua atau tiga pola aliran di atas.
Berdasarkan tipe alat penukar panas ada beberapa macam antara lain

concentric tube heat exchanger, shell and tube heat exchanger.


2.2. Shell and tube heat exchanger
Pada peralatan ini proses perpindahan panas terjadi antara fluida yang
mengalir dalam tube(tabung) dengan fluida shell (selongsong) yang mengalir di
luar tabung. Aliran fluida shell yang berolak akan memberikan koefisien
perpindahan panas yang tinggi. Untuk memperoleh efek olakan pada aliran
fluida tersebut dipasang baffles (sekat-sekat). Di samping itu baffle juga
digunakan untuk mengarahkan aliran dalam fluida di shell dan mengikat /
mendukung tube bundle.
2.2.1. Kodifikasi Shell and Tube Heat Exchanger
Berdasarkan TEMA (Tubular Exchanger Manufacturing Association),
shell and tube heat exchanger dikodekan dengan 3 huruf dimana masing-masing

huruf menunjukkan tipe front end stationary head, bentuk dan laluan di shell,
dan tipe rear end head. (lihat lampiran).

Gambar 2.1 Bagian-bagian Shell and Tube Heat Exchanger tipe AES
a. Fixed Tube Sheet Heat Exchanger
Fixed Tubesheet Heat Exchanger tersusun atas shell dan tubesheet yang
menyatu (tidak dapat dipisah). Hal ini mencegah kebocoran fluida yang
mengalir di shell. Fluida yang mengalir di shell adalah fluida yang tidak
menyebabkan fouling karena jenis ini tidak didesain untuk dilakukan pembersihan
di sisi shell.

Gambar 2.2. Fixed tube sheet heat exchanger

b. U Tube Bundle Heat Exchanger


Jenis ini hanya mempunyai satu stationary tubesheet dan rear-nya
berbentuk U. Tube bundle dapat dikeluarkan dari shell sehingga dapat dilakukan
pembersihan secara mekanis. Jumlah laluan di sisi tube harus genap.

Gambar2.3. U tube bundle heat exchanger


c. Outside Packed Heat Exchanger
Terdapat packing untuk mencegah kebocoran fluida sisi shell. Ada
kalanya fluida mengalami kebocoran sehingga tipe ini tidak boleh digunakan
untuk fluida di sisi shell yang bertekanan tinggi, mudah terbakar, dan beracun.

Gambar 2.4. Outside packed heat exchanger


d. Internal Floating Heat Exchanger
Ciri-ciri dari tipe ini adalah adanyafloating tubesheet yaitu tubesheet yang
terpisah dari shell maupun channel. Konstruksi seperti ini dapat mengakomodasi
adanya axial expansion di tube bundle akibat perbedaan temperatur yang besar
antara kedua fluida. Memungkinkan tube bundle dapat dikeluarkan dari shell
untuk dilakukan pembersihan secara mechanical maupun chemical. Tube bundle
juga dapat diganti dengan yang baru apabila terjadi kebocoran.

Pull through floating head

Tube bundle dapat langsung dikeluarkan dari shell dengan mudah yaitu
dengan melepas baut di channel dan menariknya keluar.

Gambar 2.5. Pull through floating head

Floating head with backing device


Seperti pada gambar 3.1, floating head dijepit antara backing device dan

tubesheet cover. Disebut juga non-pull through floating head karena tube bundle
tidak dapat langsung dilepas dari shell. Untuk melepas tube bundle, shell cover
dan tubesheet cover harus dilepas terlebih dahulu.

Externally sealed floating tubesheet


Memiliki dua stuffing box yang berhadapan. Juga memiliki lantern ring di

antara packing untuk lubrikasi. Kelebihannya adalah murah dan dapat diproduksi
secara massal. Kekurangannya adalah kemungkinan terjadi kebocoran kedua
fluida ke atmosphere atau dari satu fluida ke fluida yang lain.

Gambar 2.6. Externally sealed floating head


2.2.2. Jenis-Jenis Baffles
a.

Segmental baffle
Segmental baffle dibentuk dengan cara memotong baffle dari bentuk

lingkaran, potongan baffle mempunyai ukuran antara 15% s/d 40% (biasanya
25%) dari ukuran lingkaran penuh. Baffle ini banyak digunakan dan dianggap

sebagai baffle standar karena mempunyai efisiensi perpindahan panas yang


tinggi.

Gambar 2.7. Segmental Bafle.


b.

Strip baffle
Bentuk ini juga dapat disebut double segmental, karena terdapat dua

potongan pada lingkaran penuh bafflebesar potongan antara 20%-30% untuk


satu sisi lingkaran.

Gambar 2.8. Strip Baffle.


c. Disc and Doughnut Baffle
Desain dari bentuk ini terdiri dari baffle berbentuk disc dan doughnut.
Diameter bentuk disc lebih besar dari diameter lubang doughnut, pada baffle jenis
ini dipakai tie rod untuk menyangga baffle. Tie rod ini sebagian terletak pada
susunan tabung sehingga mempengaruhi jumlah efektif tabung dalam berkas /
susunan tabung.

Gambar 2.9. Disc and Doughnut Baffle.


d.

Orifice Baffle
Baffle jenis ini terdiri dari disc dengan lubang-lubang yang mempunyai

ukuran lebih besar dari diameter tabung. Aliran fluida mengalir melalui annular
orifice dan menimbulkan pengaruh olakan pada fluida. Desain dari baffle ini
jarang dipakai karena efisiensi yang rendah.

Gambar 2.10. Orifice Baffle.


e.

Rod Baffle
Baffle jenis ini lebih berfungsi sebagai sirip daripada pengarah aliran. Rod

Baffle Heat Exchanger dikembangkan oleh Phillip. Heat Exchanger ini getarannya
lebih kecil.

Gambar 2.11 Rod Baffle Heat Exchanger and Support. (a) Schematic, (b)
Details, (c) Cage Assembly, (d) Tube and Support Rod Layout.

2.3. Analisa Penukar Panas


2.3.1. Metode Beda Temperatur Rata Rata Logaritmik ( LMTD ).
Metode yang sering digunakan untuk perancangan dan perhitungan
unjukkerja peralatan penukar panas
q = U.A.T LM
Harga T LM dapat ditentukan dengan mengetahui harga suhu masuk dan suhu
keluar kedua fluida, sehingga persamaan di atas menjadi:

q = U.A.

T 1 T 2
T 1
ln

T 2

dimana:
q = heat transfer (W) :
U = Overall heat transfer, coefisien (kJ/s.m 2 K)
A = luas bidang perpindahan panas (m 2)

Gambar 2.12 Distribusi Temperatur pada aliran penukar panas counter

Gambar 2.13 Distribusi temperatur pada penukar panas aliran parallel


Untuk mendapatkan harga T LM diperlukan asumsi:

Harga U konstan untuk seluruh panjang pipa

Konduksi hanya berlangsung satu dimensi ke arah radial pipa

Pertukaran panas hanya terjadi antara kedua fluida saja

Kondisi tunak

Perbedaan energi potensial dan kinetik diabaikan

Untukpenukar panas aliranparalelberlaku:


T1
T2

= Th,1- Tc1

= Th,i Tc,i

= Th,2- Tc2

= Th,o Tc,o

2.3.2. Metode Number of Transfer Unit ( NTU ).


Metode ini lebih efektif, jika dipakai untuk mengetahui unjuk kerja dari
penukar kalor yang sudah jadi. Untuk mendefinisikan unjuk kerja dari penukar
kalor terlebih duhulu harus diketahui laju perpindahan panas maksimum yang
dimungkinkan oleh penukar kalor tersebut (qmaks)
Jika C c < Ch, maka qmaks = Cc ( Th,i - Tc,i )
Jika C c> Ch maka qmaks = Ch ( Th,i - Tc,i )
Sedangkan effectiveness (e) adalah perbandingan antara laju perpindahan panas
heat exchanger dengan laju perpindahan maksimum yang dimungkinkan.
q
q maks

=
Effectiveness merupakan bilangan tanpa dimensi dan berada dalam batas 0 << 1.
Untuk semua heat exchanger effectiveness dapat dinyatakan

NTU,
= f

C min
C maks

Number of Transfer unit (NTU) juga merupakan bilangan tanpa dimensi dan
didefinisikan sebagai :

UA
C min
NTU =
dimana Cmin diperoleh untuk nilai yang terkecil dari:

m c . cp c
Cc =
atau

m h . cp h
Ch =
Selanjutnya harga NTU dari berbagai jenis heat exchanger dapat dicari dari
grafik/persamaan-persamaan yang tersedia dalam text books.
2.3.3. Penurunan Tekanan ( Pressure Drop ).
a.

Sisi Pipa / tube


Gesekan yang terjadi antara aliran fluida dan permukaan tabung akan

menimbulkan kerugian tekanan sepanjang aliran, besarnya kerugian tekanan pada


aliran fluida laminer adalah:
P

32.L.V .
D2

sedangkan besarnya major losses yang terjadi di dalam tabung pada aliran
laminer adalah:
2
64 LV

Re 2 D

h1
b.

Sisi Selongsong / shell


Akibat gesekan yang terjadi dalam selongsong akan menimbulkan

kerugian tekanan sepanjang aliran, besarnya kerugian tekanan pada aliran fliiida
turbulen adalah:

P
L e

Re, ,
2
D D
V

Sedangkan besarnya major losses yang terjadi di dalam selongsong pada aliran
turbulen adalah :

h1 f

LV 2
2D

dimana :
f

= koeftsien gesek yang didapatkan dari diagram Moody

= diameter efektif selongsong

= kecepatan fluida dalam selongsong

BAB III
METODOLOGI
3.1 PeralatanPercobaan
Dalam praktikum ini terdapat peralatan penunjang dan alat ukur
spesifikasi, peralatan tersebut diantaranya sebagai berikut :
1.

Pompa fluida dingin

Tipe

: Centrifugal Pump

Merek

: LOWARA

Buatan

: China

Debit

: 30 L/min pada head total 11 m

Daya

: 125 Watt: 220 V: 1 phase

2.

Pompa fluida panas

Tipe

: Gear Pump

Merek

: Charlie

Buatan

: USA

Debit

: 20 L/min, 220 oC

Input

: 1400 rpm ; 0.25 Hp

3.

Motor

Merek Motor

: Shark

Buatan

: China

Putaran Motor

: 1400 rpm

Daya

: 180 Watt; 220 V; 1 phase

4.

Sistem pemanas ( heating and termocontrol )


Sistem pemanas berfungsi untuk mengatur temperatur kerja terdiri dari
elemen

pemanas, themocontrol dan thermocouple.

a. Thermocontrol

Jenis
Merek

: PXR4TAY1
: Fuji

Buatan

: Japan

Preservation Temperature

: -20 to 60 oC

Time Akurasi

: 0.5%

Mounting Position

: Horizontal

Control Output

: AC 250 V: 3A: 1C
Power Voltage

: 100(-15%) to 240V

(+10%) 50/60 Hz, 24V(10%) AC/DC

Sensor input tipe

: K (CA) type, J (IC) type, PT 100

b. Thermocouple

Tipe

: K type

Merek

: Fluke

Buatan

: USA

Range

: 0 s/d 400 oC

Akurasi

: 2% of full scale

c. Heating Element

Daya

: 1000 Watt, 240 V AC, 1 Phase

Merek

: Lasco

Buatan

: USA

Mounting

: 4 x M10 (Plate Mounting)

5.

Alat ukur debit aliran fluida ( Flowmeter )


a.

Fluida panas

Merek

: Omega

Buatan

: USA

Flow Range

: 0.02 s/d 300 GPM

Fluida

: Incompressible / compressible

Operating Pressure

: - Alumunium and Brass ( up to


3500 PSI )
: - Stainless Steel (up to 6000

PSI)

Operating Temperatur

b.

Fluida dingin

6.

: 240 oF maksimum

Jenis

: PT 11

Merek

: Techfluid

Buatan

: Spain

Aplication Range

: 4 40 l/h water

Connector

: PVC

Operating Temperatur

: 60 oC maksimum

Alat ukur temperatur (termocouple and digital termometer)


Pengukuran temperatur pada masing-masing masukan dan keluaran
alat uji baik fluida dingin dan fluida panas menggunakan thermocouple
yang sama, thermocouple dihubungkan dcngan digital thermometer
sehingga pembacaan temperatur dapat dilihat secara langsung pada
display.
a.

Thermocouple

Tipe

: K type

Merek

: Fluke

Buatan

: USA

Range

: 0 s/d 400 oC

Akurasi

: 2% of full scale

b. Digital Termometer

Tipe

: K type

Merek

: Digital Termometer

Buatan

: Taiwan

Range

: 0/0.1

Akurasi

: 2 untuk -50 s/d 0


( 0.3 % s/d 1 ) untuk 0 s/d 1000

7.

Alat ukur tekanan


Alat ukur ini terdiri dari 2 jenis yaitu untuk mengetahui besarnya
penurunan tekanan pada fluida dingn atau fluida panas

a. Fluida Panas

Pressure Gauge In

Merek

: Atlantis

Buatan

: France

Item

: SGN 60A (SS316)

Range

: 0 -10 kg/cm 2

Connection

: 3/8 PT

Pressure Gauge Out

Merek

: Atlantis

Buatan

: France

Item

: SGN 60A (SS316)

Range

: 0 -1 kg/cm2

Connection

: 3/8 PT

b. Fluida Dingin

Pressure Gauge in

Merek

: Wika

Buatan

: Germany

Range

: 0 -0.6 kg/cm2

Connection

: 3/4 inch PVC

Pressure Gauge in

Merek

: Wika

Buatan

: Germany

Range

: 0 -1.0 kg/cm2

Connection

: 3/4 inch PVC

3.2 Instalasi Percobaan


Percobaan menggunakan instalasi Heat Exchanger yang ada di
Laboratorium Perpindahan Panas dan Massa Teknik Mesin ITS. Instalasi
tersebut menggunakan thermal oil sebagai fluida pemanas dan air sebagai fluida
pendingin; lebih jelasnya dapat dilihat pada skema sederhana instalasi sebagai
berikut:

Gambar 4.1 Skema Sederhana Instalasi Heat Exchanger


3.3 Langkah-langkahPercobaan
Untuk memudahkan penggunaan peralatan ini diperlukan prosedur
percobaan yang baku guna mendapatkan data pengamatan yang akurat. Adapun
tahapan tahapannya adalah :
1. Tahap set up peralatan.

a) Menyalakan saklar instalasi sehingga panel utama menunjukkan


temperatur pada thermocontrol.
b) Mengatur katup saluran fluida dingin untuk memilih type paralel atau
counter flow.
Paralel flow
Membuka katup K-4 ; K-6, menutup katup K-3 ; K-5
Counter flow
Membuka katup K-3 ; K-5, menutup katup K-4 ; K-6,
Posisi katup dapat dilihat pada gambar instalasidi atas.
c) Mengecek kebocoran saluran fluida dingin dengan menghidupkan
pompanya dan memastikan katup K-2 dalam keadaan terbuka, mengatur
debit dengan mengatur katupnya sampai kondisi maksimum.
d) Mematikan pompa fluida dingin dan memperbaiki bila masih terjadi
kebocoran dan mengulangi prosedur.
e) Memastikan katup K-1 keadaanterbuka. Melakukan prosedur c dan d untuk
fluida panasnya dengan katup K-1 dan menjaga tekanan tangki 0.8 bar
dan tinggi level control 3/4 ( Lihat gambar instalasi dan tangki )
f) Bila kedua saluran tidak terjadi kebocoran, kedua pompa dinyalakan secara
simultan.
g) Set thermocontrol sesuai yang dikehendaki (60 C)
h) Pengambilan data siap dilakukan bila sudah stabil.
2. Tahap pengambilan data.
a) Debit fluida dingin diatur, untuk awal adalah 400 L/h dengan kenaikan 50
L/h.
Data siap diambil dengan time hold 10 menit setelah prosedur a.
Tombol controlpanel thermocouple
Tekan tombol sesuai dengan tulisan yang ada pada selector dimana ada Tin
Cold, Tout cold, Tin Hot, Tout Hot.

d) Bila diperlukan, perlakuan terhadap temperatur fluida panas dilakukan sesuai


prosedur tahap 2.
e) Bila telah selesai, matikan setting thermocontrol, pompa fluida dingin dan
panas, saklar utama, buka katup K-1.

3.4. Flowchart Percobaan


Flowchart percobaan untuk praktikum heat exchanger ini adalah:

Gambar 3.1. Flowchart percobaan


BAB IV
DATA DAN ANALISA PERCOBAAN

4.1. Lembar Data


(Terlampir)
4.2. Flowchart Perhitungan
4.2.1. Flowchart Paralel Flow

Gambar 4.1. Flowchart perhitungan paralel flow

4.2.2. Flowchart Counter Flow

Gambar 4.2. Flowchart perhitungan counter flow

4.3. Contoh Perhitungan


Data 1 Percobaan Counterflow
Qcold

= 400 L/H

Qhot

= 8 LPM

Pcold in

= 0,08 kg/cm2

Pcold out

= 0,01 kg/cm2

Phot in

= 0,7 kg/cm2

Phot out

= 0,19 kg/cm2

Tcold in

= 27,4 0C

Tcold out

= 29,7 0C

Thot in

= 47,1 0C

Thot out

= 36,5 0C

1. T mc=

Tc , i+Tc , o ( 27,4 +29,7 )


=
=28,55 =306,8 K
2
2

Dari tabel A-6 buku Fundamentals of Heat and Mass Heat Transfer, Incopera.
Dengan interpolasi didapat properties:
Cp

= 4,17869 kJ/kg K

= 0,0389711 bar

= 742,36 x 10-6 Ns/m2

= 622,88 x 10-3 W/mK

Pr

= 4,9912

T mh=

Th , i+Th , o ( 47,1+ 36,5 )


=
=41,8 =326,8 K
2
2

Dari tabel A-5 buku Fundamentals of Heat and Mass Heat Transfer, Incopera.
Dengan interpolasi didapat properties:
= 867, 72 kg/m3

Cp = 2,02156 kJ/kg K

= 10,1968 x 10-2 Ns/m2

= 141,64 x 10-3 W/m K

Pr

= 1448,2

T mf =

Tmc+Tmh ( 301,55+314,8 ) K
=
=316,8 K
2
2

Dari tabel A-1 buku Fundamentals of Heat and Mass Heat Transfer, Incopera.
Dengan interpolasi didapat properties:
k

= 401,32 W/m K

2.

m
c =Qcold x cold

Qcold =400

L 103 m3
1H
m3

=1,11 104
H
L
3600 s
s

3
c =1,11 104 m 1000 kg3 =0,11 kg
m
s
s
m

m
h=Qhot x hot
3

Qhot =8

L
10 m 1 min
m

=1,33 101
min
L
60 s
s

3
c =1,33 101 m 890 kg3 =0,04339 kg
m
s
s
m

3.

A c=
4

6,683 103 m2

4.

P= ( Dshellin ) +12 ( D tubeout )

( 0,1022 m ) +12 ( 0,0127 m )

0,7998 m

5.

D h=

3 2
4 Ac 4 ( 6,683 10 m )
=
=0,03342 m
P
0,7998 m

6. Perhitungan Re; jika :


Re > 2300 = aliran turbulent
Re < 2300 = aliran laminer

Recold

4m
c
Dh cold

4 0,11

kg
s

0,03342 ( 742,96 106 )

=5672,28033

5672,28033 > 2300 = Aliran Turbulent

Rehot

4m
h
Dh hot

4 0,04339

kg
s

0,03342 ( 10,1968 x 102 )

=4,79495

4,79495 > 2300 = Aliran Laminer


4

Nucold =0,026 5 Pr n
4

0,026 ( 5672,28033 ) 5 (8,87664)


44,05711

Nuhot =

Dshellin
0,1022 m
=
=0,89
Dshellout 0,1143 m

Dengan interpolaso, hal 520 buku Fundamentals of Heat and Mass


Transfer, Incopera diperolah:
Nu=4,7654

7. H cold=

Nu cold . K
Dh

44,05711 ( 622,88 x 103 )


=821,0731718
0,03342

Dtube
Nuhot . K
H hot =

8.

0,89 ( 141,64 x 103 )


=19,39656
0,00942

tube
D tubeout /D

ln
1
Rtotal=
12 H cold( D

tubeout

+
Lshell )

0,00942
0,0127/

ln
1

+
12 821,0731718 ( 0,0127 0,3 )

= 0,4962 k/w

9.

UA=

1
Rtotal
1

0,4962

k
w

=2,029

W
K

10.

C c =m
c Cp c =0,11

C h =m
h Cp h=0,04339

kg
kJ
( 4,17869 )=0,4615
s
KS

kg
kJ
( 2,02156 )=0,087707
s
KS

11. Co< Ch Cc = Cmin


Ch< Cc Ch = Cmin
Cmin = 0,087707 kJ/K S

12.

q act=C h ( T h , iT h ,o )
0,087707

kJ
kJ
( 335,8317,8 ) K=1,5787
KS
s

q max=C h ( T h , iT c, i )
0,087707

kJ
kJ
( 335,8306,5 ) K=2,5698
KS
s

W
UA
K
1 kJ
NTU =
=

=23,14188
C min
kJ 1000 J
0,87707
KS
2,029

13.

kJ
q
s
= act =
=0,614
14.
qmax
kJ
2,5698
s
1,5787

kJ
C
KS
Cr= min =
=0,19001
15.
C max
kJ
0,4615
KS
0,087707

16.

coldPcold out
Pc =P
0,02

kg
kg
kg
0,02 2 =0 2
2
cm
cm
cm

hotPhot out
Ph=P
1

kg
kg
kg
0,2 2 =0,8 2
2
cm
cm
cm

4.4. Pembahasan
4.4.1 Analisa aliran paralel flow
4.4.1.1 Analisa aliran Grafik h = f (Recold)

h cold=f(Re cold)
h cold=f(Re cold)
Linear (h cold=f(Re
cold))

Gambar 4.3. Grafik h = f (Recold) paralel


Pada grafik Qact = f(Re cold) di atas terlihat bahwa grafik memiliki nilai
Re maksimum 12934.19 dengan nilai hcold1470.37 dan nilai Re minimum 6745.3
dengan nilai hcold 880.37. Grafik juga memiliki trendline yang naik, dimana nilai
hc semakin besar seiring naiknya Reynold number.

Bila ditinjau dari perumusan, kita dapat mengunakan persamaanpersamaan berikut ini untuk menggambarkan grafik hc = f (Re cold) :
0.8

Nu=0.023 Pr
Nu=

h Dh
k f water

h=

0.3

.......(1)

Nu . k f water
........(2)
Dh

Dari persamaan (1) terlihat bahwa semakin tinggi Re maka semakin tinggi pula
nilai Nu. Kemudian dari persamaan (2), semakin tinggi nilai h maka semakin
tinggi pula nilai Nu. Jika digabungkan maka dapat disimpulkan bahwa semakin
tinggi nilai Re maka semakin tinggi nilai h. Grafik hasil percobaan telah sesuai
dengan teori yang ada, yaitu nilai h cold sebanding dengan nilai Re.

4.4.1.2 Analisa aliran Grafik qact = f (Recold)

q act=f(Re cold)
q act=f(Re cold)
Linear (q act=f(Re
cold))

Gambar 4.4. qact = f (Recold) paralel


Pada grafik Qact = f(Re cold) di atas memiliki nilai Re maksimum
12934.19 dengan nilai qact1.929 dan nilai Re minimum 6745.3 dengan nilai
qact1.414. Terlihat bahwa grafik memiliki trendline yang relatif naik, dimana nilai
Qact naik seiring naiknya Reynold number.

Bila ditinjau dari perumusan, kita dapat mengunakan persamaanpersamaan ini untuk menganalisa grafik Qact = f(Re cold) :
c C p t ....(1)
q=m
=

4 m c
Dh c ....(2)

Dari persamaan (1) terlihat bahwa semakin tinggi

maka semakin tinggi pula

maka semakin
nilai q. Kemudian dari persamaan (2), semakin tinggi nilai m

tinggi pula nilai Re. Jika digabungkan maka dapat disimpulkan bahwa semakin
tinggi nilai Re maka semakin tinggi nilai q.
Grafik di atas tidak menunjukkan hasil sesuai dengan teori yang ada.
Kesalahan pada grafik percobaan terlihat pada penurunan nilai q walaupun nilai
Re meningkat, dimana seharusnya nilai q tetap naik. Kesalahan ini terjadi
dikarenakan kurang ketelitian praktikan dalam membaca temperatur, kurang
ketelitian praktikan saat mengatur debit fluida dingin (air), kurang ketelitian alat,
alat yang sudah berumur, dan adanya kotoran pada alat dan fluida.
4.4.1.3 Analisa Grafik pcold = f (Recold)

P cold=f(Re cold)
P cold=f(Re cold)
Linear (P cold=f(Re
cold))

Gambar 4.5. Grafik pcold = f (Recold) paralel

Grafik pcold = f (Recold) diatas memiliki nilai Re maksimum 12934.19


dengan nilai pcold 0.105 dan nilai Re minimum 6745.3 dengan nilai pcold 0.004.
Terlihat bahwa grafik memiliki trendline yang naik, dimana nilai pcold semakin
besar seiring naiknya Reynold number.
Bila ditinjau dari perumusan, kita dapat mengunakan persamaanpersamaan ini untuk menggambarkaan grafik pcold = f (Recold) :
=

P +

vD

...........(1)

Vin2
Vout 2
+ gz=Pout +
+ gz+ Hl
2
2
p=

Vout 2Vin2
+ Hl
2

........(2)

..............(3)

Dari persamaan (1) terlihat bahwa semakin besar kecepatan (V) maka makin besar
pula Reynold number. Dari persamaan (2) yaitu persamaan Bernoulli bisa dilihat
bahwa besar

p berbanding lurus dengan besarnya V. Maka, dapat

disimpulkan bahwa semakin besar Re, semakin besar juga p.


Grafik di atas tidak menunjukkan hasil sesuai dengan teori yang ada.
Kesalahan pada grafik percobaan terlihat pada penurunan nilai
nilai Re meningkat, dimana seharusnya nilai

p walaupun

p tetap naik. Kesalahan ini

terjadi dikarenakan kurang ketelitian praktikan dalam membaca temperatur,


kurang ketelitian praktikan saat mengatur debit fluida dingin(air), kurang
ketelitian alat, alat yang sudah berumur, dan adanya kotoran pada alat dan fluida.
4.4.1.4 Analisa Grafik = f(NTU, Cr)

Grafik = f (NTU, Cr) Paralel Flow


Cr=0.19063
Cr=0,16962
Cr=0,15252
Cr=0,13850
Cr=0,12697
Cr=0,11710
Cr=0,10869
Cr=0,10152

Gambar 4.6. Grafik = f(NTU, Cr) paralel


Grafik = f(NTU, Cr)diatas memiliki nilai NTU maksimum 23.32 dengan
nilai 0.840 dan nilai NTU minimum 23.09 dengan nilai 0.629. Terlihat bahwa
grafik memiliki trendline yang naik.
Bila ditinjau dari perumusan, kita dapat mengunakan persamaanpersamaan berikut ini untuk menggambarkan grafik = f(NTU, Cr):
NTU =

UA
C min ...(1)

Dari perhitungan, didapat Cmin=Chot, maka:


Cr=

C min C hot
=
C max C cold ...(2)

Maka, Cr berbanding lurus dengan Cmin, yaitu Chot.


NTU =

q
qmaks

UA
C hot ...(3)

Ccold (T c ,iT c , o) Ccold (T c ,i T c , o) 1(T c , iT c, o)


=
=
C min (T h ,iT c ,i ) Chot (T h ,i T c, i) Cr (T h , iT c, i) ...(4)

Dari persamaan (4) terlihat bahwa

berbanding terbalik dengan Cr, sehingga

untuk NTU yang konstan maka semakin besar Cr akan semakin kecil nilai
Pada grafik ini terjadi kesalahan yaitu grafik tidak menunjukkan hasil
sesuai dengan teori yang ada. Hal ini disebabkan antara lain kurang ketelitian
praktikan dalam membaca temperatur, kurang ketelitian praktikan saat mengatur
debit fluida dingin (air), kurang ketelitian alat, alat yang sudah berumur, dan
adanya kotoran pada alat dan fluida.
4.4.2 Analisa aliran counter flow
4.4.2.1 Analisa aliran Grafik h = f (Recold)

hcold=f(Re cold)
hcold=f(Re cold)
Linear (hcold=f(Re
cold))

Gambar 4.7. Grafik h = f (Recold) counter


Pada grafik Qact = f(Re cold) di atas terlihat bahwa grafik memiliki nilai
Re maksimum 12685.88 dengan nilai hcold 1457.67 dan nilai Re minimum 5672.28
dengan nilai hcold 821.07. Grafik juga memiliki trendline yang naik, dimana nilai
hc semakin besar seiring naiknya Reynold number.
Bila ditinjau dari perumusan, kita dapat mengunakan persamaanpersamaan berikut ini untuk menggambarkan grafik hc = f (Re cold) :

Nu=0.023 0.8 Pr 0.3 .......(1)


Nu=

h Dh
k f water

h=

Nu . k f water
........(2)
Dh

Dari persamaan (1) terlihat bahwa semakin tinggi Re maka semakin tinggi pula
nilai Nu. Kemudian dari persamaan (2), semakin tinggi nilai h maka semakin
tinggi pula nilai Nu. Jika digabungkan maka dapat disimpulkan bahwa semakin
tinggi nilai Re maka semakin tinggi nilai h. Grafik hasil percobaan telah sesuai
dengan teori yang ada, yaitu nilai h cold sebanding dengan nilai Re.

4.4.2.2 Analisa aliran Grafik qact = f (Recold)

q act=f(Re cold)
q act=f(Re cold)
Linear (q act=f(Re
cold))

Gambar 4.8. qact = f (Recold) counter


Pada grafik Qact = f(Re cold) di atas memiliki nilai Re maksimum
12685.88 dengan nilai qact 1.747 dan nilai Re minimum 5672.28 dengan nilai q act
1.579. Terlihat bahwa grafik memiliki trendline yang turun.
Bila ditinjau dari perumusan, kita dapat mengunakan persamaanpersamaan ini untuk menganalisa grafik Qact = f(Re cold) :
c C p t ....(1)
q=m

4 m c
Dh c ....(2)

Dari persamaan (1) terlihat bahwa semakin tinggi

maka semakin

maka
tinggi pula nilai q. Kemudian dari persamaan (2), semakin tinggi nilai m

semakin tinggi pula nilai Re. Jika digabungkan maka dapat disimpulkan bahwa
semakin tinggi nilai Re maka semakin tinggi nilai q.
Grafik di atas tidak menunjukkan hasil sesuai dengan teori yang ada.
Kesalahan pada grafik percobaan terlihat pada penurunan nilai q walaupun nilai
Re meningkat, dimana seharusnya nilai q tetap naik. Kesalahan ini terjadi
dikarenakan kurang ketelitian praktikan dalam membaca temperatur, kurang
ketelitian praktikan saat mengatur debit fluida dingin (air), kurang ketelitian alat,
alat yang sudah berumur, dan adanya kotoran pada alat dan fluida.
4.4.2.3 Analisa Grafik pcold = f (Recold)

P cold=f(Re cold)
P cold=f(Re cold)
Linear (P cold=f(Re
cold))

Gambar 4.9. Grafik pcold = f (Recold) counter


Grafik pcold = f (Recold) diatas memiliki nilai Re maksimum 12685.88
dengan nilai pcold 0.1 dan nilai Re minimum 5672.28 dengan nilai pcold 0.

Terlihat bahwa grafik memiliki trendline yang naik, dimana nilai pcold semakin
besar seiring naiknya Reynold number.
Bila ditinjau dari perumusan, kita dapat mengunakan persamaanpersamaan ini untuk menggambarkaan grafik pcold = f (Recold) :
=

vD

...........(1)

P +

Vin
Vout
+ gz=Pout +
+ gz+ Hl
2
2
p=

Vout 2Vin2
+ Hl
2

........(2)

..............(3)

Dari persamaan (1) terlihat bahwa semakin besar kecepatan (V) maka
makin besar pula Reynold number. Dari persamaan (2) yaitu persamaan Bernoulli
bisa dilihat bahwa besar

p berbanding lurus dengan besarnya V. Maka, dapat

disimpulkan bahwa semakin besar Re, semakin besar juga p.


Grafik di atas tidak menunjukkan hasil sesuai dengan teori yang ada.
Kesalahan pada grafik percobaan terlihat pada penurunan nilai
nilai Re meningkat, dimana seharusnya nilai

p walaupun

p tetap naik. Kesalahan ini

terjadi dikarenakan kurang ketelitian praktikan dalam membaca temperatur,


kurang ketelitian praktikan saat mengatur debit fluida dingin(air), kurang
ketelitian alat, alat yang sudah berumur, dan adanya kotoran pada alat dan fluida.

4.4.2.4 Analisa Grafik = f(NTU, Cr)

Grafik = f (NTU, Cr) Counter

Cr=0,19001
Cr=0,16896
Cr=0,15206
Cr=0,13833
Cr=0,12738
Cr=0,11748
Cr=0,10894
Cr=0,10159

Gambar 4.10. Grafik = f(NTU, Cr) counter


Grafik = f(NTU, Cr)diatas memiliki nilai NTU maksimum 23.28 dengan
nilai 0.74 dan nilai NTU minimum 23.14 dengan nilai 0.61. Terlihat bahwa
grafik memiliki trendline yang naik.
Bila ditinjau dari perumusan, kita dapat mengunakan persamaanpersamaan berikut ini untuk menggambarkan grafik = f(NTU, Cr):
NTU =

UA
C min ...(1)

Dari perhitungan, didapat Cmin=Chot, maka:


Cr=

C min C hot
=
C max C cold ...(2)

Maka, Cr berbanding lurus dengan Cmin, yaitu Chot.


NTU =

UA
C hot ...(3)

q
qmaks

Ccold (T c ,iT c , o) Ccold (T c ,i T c , o) 1(T c , iT c, o)


=
=
C min (T h ,iT c ,i ) Chot (T h ,i T c, i) Cr (T h , iT c, i) ...(4)

Dari persamaan (4) terlihat bahwa

berbanding terbalik dengan Cr,

sehingga untuk NTU yang konstan maka semakin besar Cr akan semakin kecil
nilai
Pada grafik ini terjadi kesalahan yaitu grafik tidak menunjukkan hasil
sesuai dengan teori yang ada. Hal ini disebabkan antara lain kurang ketelitian
praktikan dalam membaca temperatur, kurang ketelitian praktikan saat mengatur
debit fluida dingin (air), kurang ketelitian alat, alat yang sudah berumur, dan
adanya kotoran pada alat dan fluida.

4.4.3. Perbandingan Grafik qact = f (Recold) Counter dan Paralel

q act paralel flow vs counter flow


Paralel flow
Linear (Paralel flow)
Counter flow
Linear (Counter flow)

Gambar 4.11 Grafik qact = f (Recold) Counter dan Paralel


Pada grafik Qact = f(Re cold) di atas,untuk yang paralel memiliki nilai Re
maksimum 12934.19 dengan nilai q act 1.929 dan nilai Re minimum 6745.3
dengan nilai q act 1.414, sementara untuk yang counter memiliki nilai Re

maksimum 12685.88 dengan nilai qact 1.747 dan nilai Re minimum 5672.28
dengan nilai qact 1.579. Trendline dari grafik untuk paralel flow adalah naik
sementara untuk counter flow turun.
Bila ditinjau dari perumusan, kita dapat mengunakan persamaanpersamaan ini untuk menganalisa grafik Qact = f(Re cold) :
c C p t ....(1)
q=m
=

4 m c
Dh c ....(2)

Dari persamaan (1) terlihat bahwa semakin tinggi

maka semakin tinggi pula

nilai q. Kemudian dari persamaan (2), semakin tinggi nilai m

maka semakin

tinggi pula nilai Re. Jika digabungkan maka dapat disimpulkan bahwa semakin
tinggi nilai Re maka semakin tinggi nilai q.
Grafik di atas tidak menunjukkan hasil sesuai dengan teori yang ada.
Kesalahan grafik yaitu trendline counter flow yang menurun dan posisi trendline
qact counter yang dibawah trendline qact paralel yang seharusnya posisi trendline qact
counter yang diatas qact paralel.Kesalahan ini disebabkan antara lain kurang
ketelitian praktikan dalam membaca temperatur, kurang ketelitian praktikan saat
mengatur debit fluida dingin (air), kurang ketelitian alat, alat yang sudah berumur,
dan adanya kotoran pada alat dan fluida.

BAB V
Kesimpulan dan Saran
5.1 Kesimpulan
Kesimpulan dari praktikum heat exchanger antara lain:
1. Semakin besar nilai Reynold number, maka akan semakin besar juga
nilai convection heat transfer coeficient nya
2. Semakin besar nilai Reynold number, maka semakin besar juga kalor
aktual yang terjadi
3. Semakin besar nilai Reynold number, maka semakin besar juga nilai
perbedaan tekanannya (pressure dropnya)
4. Semakin besar nilai perbandingan antara Cmin dan Cmax (Cr), maka
semakin kecil efektifitas heat exchanger
5. Heat exchanger dengan tipe aliran counter memiliki kalor aktual yang
lebih besar dari pada heat exchanger dengan tipe aliran paralel
5.2 Saran
Saran kami untuk praktikum selajutnya adalah:
1.

Sebaiknya asisten jaga memperhatikan praktikan saat pelaksaaan

2.

praktikum agar tidak terjadi kesalahan pada metode pengujian.


Sebaiknya alat praktikum yang sudah tua diperbarui agar mendapat
hasil yang maksimal.