Anda di halaman 1dari 31

RANCANGAN

SISTEM PENYALIRAN TAMBANG


Sasaran penyaliran adalah membuat lokasi
kerja di areal penambangan selalu kering
karena bila tidak terkontrol akan menimbulkan
masalah, antara lain :
1. lokasi kerja
2. jalan tambang becek dan licin,
3. stabilitas lereng tambang rawan longsor
4. peralatan tambang cepat rusak
5. kesulitan mengambil contoh (sampling)
6. efisiensi kerja menurun dan
7. mengancam keselamatan dan
kesehatan kerja.

Sistem penyaliran dapat berupa:


Penanganan air yang masuk ke
tambang (Konvensional)
Pencegahan air masuk ke lokasi
tambang (Inkonvensional).

KOMPONEN AIR YANG MASUK KE


LOKASI TAMBANG:
1. AIR HUJAN
2. AIR REMBESAN

KOMPONEN YANG
BERPENGARUH
a.
b.
c.
d.
e.

INTENSITAS CURAH HUJAN


LUAS AREA
KAPASITAS INFILTRASI
PENGUAPAN (EVAPORASI)
REMBESAN AIRTANAH

RUMUS RATIONAL
Q =ciA
Dimana :
C = Konstanta (dgn memperhitungkan
komponen c, d dan e)
I = Intensitas Curah Hujan
(komponen a)
A = Luas Area (komponen b)

ESTIMASI DEBIT
REMBESAN
Faktor utama adalah permeabilitas batuannya
Perhitungan debit air tanah yaitu dengan :
PersamaanThiem
K 2 m (S1- S2 )
Q=
C log 10 (R/r)

Dimana :
Variable

Keterangan

MEINZER

DARCY

Laju aliran

gallon/menit

ml/det

Permeabilitas

Meinzer

Darcy

Ketebalan penjenuhan rata-rata dari akuifer

feet

cm

yang diukur melalui 2 titik pengamatan


R

Jari-jari titik pengamatan


yang jauh dari sumur

Dapat diukur dengan satuan


sejenis karena hasilnya hanya
merupakan perbandingan

Jari-jari sumur atau titik pengamatan terdekat

Konstanta

528

2,3

Viskositas

centipoise

centipoise

S1

Penurunan air tanah pada titik terdekat sumur

feet

Atm

feet

Atm

pengamatan
S2

Penurunan air tanah pada titik terjauh sumur


pengamatan

ANALISA CURAH HUJAN


RENCANA

Tentukan rata-rata curah hujan (X) maximum dengan rumus :


X = CH/ n
Tentukan standar deviasi dengan rumus :
S = (Xi X)2
(n 1)
Tentukan koreksi variansi, dengan rumus :
Yt = -ln[-ln[ T-1 ] ]
T
Tentukan koreksi rata-rata dengan rumus :
Yn = -ln[-ln[n + 1 - m ] ]
n+1
Rata-rata Yn, YN = Yn
N
Tentukan koreksi simpangan dengan rumus :
Sn = (Yn-YN)
( n-1 )
Tentukan curah hujan rencana dengan rumus :
CHR = X + S (Yt YN)
Sn

RESIKO HIDROLOGI

PR = 1- ( 1 1 )TL
TR
Dimana :
PR = Resiko hidrologi
TR = Periode ulang
TL = Umur bangunan

PERENCANAAN SALURAN TERBUKA

Pada perencanaan saluran terbuka


ada beberapa faktor lapangan yang
perlu diperhatikan yaitu :

Catchment area/water divide


Waktu konsentrasi
Intensitas curah hujan
Jenis material
Rencana kemajuan tambang

Catchment area/water devide


Dalam memperhitungkan water devide di

ukur pada peta rencana tambang yang


telah di buat dengan menggunakan
planimeter atau dengan aplikasi surfer.

Waktu konsentrasi
Rumus dari Kirpich

L
tc = 60x 0.871x
H

0.385

menit

Keterangan :

tc=
waktu terkumpulnya air (menit)

L=
Jarak terjauh sampai titik
pengaliran (meter)

H=
Beda ketinggian dari titik terjauh
sampai ke tempat berkumpulnya air
(meter)

Intensitas curah hujan


Rumus Mononobe :
R 24
I=
.(24/t) 2/3
24
Keterangan :
R24
=
Curah hujan rencana per
hari (24 jam)
t
=
Waktu konsentrasi, jam
I
=
Intensitas curah hujan
(mm/jam)

Jenis material
Table Beberapa harga koefisien limpasan

Kemiringan

Tutupan/jenis Lahan

< 3%

sawah, rawa

0,2

(datar)

Hutan, perkebunan

0,3

Perumahan

0,4

Hutan, perkebunan

0,4

3% - 15%

Perumahan

0,5

(sedang)

Semak-semak agak jarang

0,6

Lahan terbuka

0,7

Hutan

0,6

> 15%

Perumahan

0,7

(curam)

Semak-semak agak jarang

0,8

Lahan Terbuka daerah tambang

0,9

(Rudy Sayoga, 1993)

Koefisien Material dan Kecepatan Izin


Aliran
No.

Material

Nilai

Kecepatan Aliran (m/det)

Air Jernih

Air Keruh

Pasir halus koloida

0.020

0.457

0.672

Lanau kepasiran non koloida

0.020

0.534

0.762

Lanau non koloida

0.020

0.610

0.914

Lanau alluvial non koloida

0.020

0.610

1.067

Lanau kaku

0.020

0.672

1.067

Debu vulkanis

0.020

0.672

1.067

Lempung kompak

0.025

1.143

1.524

Lanau alluvial, koloida

0.025

1.143

1.524

Kerikil halus

0.025

0.672

1.524

10

Pasir kasar non koloida

0.030

1.143

1.524

11

Pasir kasar koloida

0.025

1.129

1.829

12

Batuan D 20 mm

0.028

1.340

1.9

13

Batuan D 50 mm

0.028

1.980

2.4

14

Batuan D 100 mm

0.030

2.810

3.4

15

Batuan D 200 mm

0.030

3.960

4.5

16

Tanah berumput

0.030

17

Pasangan batu

0.017

18

Tembok diplester

0.010

Untuk perencanaan dimensi saluran terbuka bisa


dengan mengikuti tahapan berikut :

Tentukan pembagian water devide untuk setiap kemungkinan


pada kondisi areal penambangan yang ada, dari pembacaan
peta rencana. Dan untuk mengukur luasnya tersebut bisa
dengan menggunakan planimeter, dan harus diperhatikan
mengenai skalanya.
Buat jalur saluran dari masing-masing water devide.
Hitung waktu konsentrasi dengan menggunakan rumus
Kirpich
Hitung intensitas curah hujan rencana dengan menggunakan
metode Gumbel
Tentukan koefisien material yang sesuai dengan kondisi
dilapangan.
Hitung debit rencana dengan menggunakan rumus Rasional :

Rumus Rasional :
Q = 0,278 x C x I x A
Dimana :
Q = Debit rencana,(m3/det)
C = Koefisien material (Koeff
Limpasan)
I = Intensitas hujan rencana, mm/jam
A = Luas catchment area, ha

PERENCANAAN SUMP
Sump (Kolam Penampung) merupakan kolam
penampungan air yang dibuat untuk penampung air
limpasan, yang dibuat sementara sebelum air itu
dipompakan, serta dapat berfungsi sebagai
pengendap lumpur. Pengaliran air dari sump
dilakukan dengan cara pemompaan atau dialirkan
kembali melalui saluran pelimpah. Tata letak sump
akan dipengaruhi oleh sistem drainase tambang yang
disesuaikan dengan geografis daerah tambang dan
kestabilan lereng tambang.

Ada dua sistem penyaliran


tambang, yaitu :

Sistem Penyaliran Memusat


Pada sistem ini sump-sump akan ditempatkan di
setiap jenjang tambang (bench), dengan sistem
pengalirannya dari jenjang paling atas menuju
jenjang di bawahnya sehingga akhirnya air
dipusatkan di Main Sump (balong induk) untuk
kemudian dipompa keluar tambang.
Sistem Penyaliran Tidak Memusat
Sistem ini dapat dilakukan
bila ke dalaman
tambang relatif dangkal dengan keadaan geografis
daerah luar tambang memungkinkan untuk
mengalirkan air langsung dari sump keluar
tambang.

Jenis Sump dan Penempatannya


Berdasarkan penempatannya, sump dapat dibedakan menjadi beberapa
jenis, yaitu :
{
Travelling sump
Jangka waktu penggunaan sump ini relatif singkat dan selalu
ditempatkan
sesuai dengan kemajuan front tambang, sehingga
dalam pembuatannya
bersifat sementara.
{
Sump jenjang atau sump transit
Dibuat secara terencana dalam pemilihan lokasi maupun volumenya.
Penempatannya pada jenjang tambang dan biasanya di bagian lereng
tepi
tambang. Sump ini biasanya dibuat semi pemanen karena
dibuat untuk jangka waktu yang cukup lama.
{
Main Sump
Dibuat sebagai penampungan air terakhir
Dapat digunakan sebagai cadangan air untuk pengamanan kebakaran.
Dibuat pada elevasi terendah dalam tambang (dasar tambang).
Biasa di buat permanen karena digunakan dalam waktu yang lama.

Tahapan-tahapan Perencanaan
Sump

Membuat batasan water devide.


Membuat pola aliran saluran, pada masing-masing water devide.
Penempatan atau tata letak sumuran pada bench-bench tertentu
sesuai dengan pola penyaliran serta sistem pemompaannya yang
akan direncanakan.
Hitung curah hujan rencana dengan mengunakan metode
Gumbel.
Hitung debit rencana dengan rumus Rasional.
Hitung debit pemompaan
Dengan iterasi tentukan nilai selisih debit limpasan di kurangi
dengan debit pemompaannya.
Volume dari selisih tertinggi di atas merupakan proyeksi volume
sumuran yang harus dibuat namun harus dibuat juga volume
untuk jagaan bisa berapa persen dari volume awal.

PERENCANAAN SISTEM PEMOMPAAN


Dalam sistem pemompaan dikenal ada beberapa macam tipe
sambungan pemompaan yaitu :
{

Seri
Dua atau eberapa pompa dihubungkan secara seri maka
nilai head bertambah sebesar jumlah head masingmasing sedangkan debit pemompaan tetap.

Paralel
Kapasitas pemompaan ber tambah sesuai kemampuan
debit masing-masing
pompa namun head tetap.
Kemudian untuk menentukan kebutuhan pompa ada dua
hal yang perlu diperhatikan

Penentuan daya pompa


Dengan rumus :
P = SG . Ht . Q
102 . Ep
Dimana :
P
= Daya pompa, (kw)
Sg
= Specific gravity
Ht
= Head total sistem, (m),
Q
= Debit pemompaan,m3/s
Ep
= Efisiensi pompa

Perhitungan Head Total


Total kehilangan head (Ht) adalah ;

Ht = Hc + Hv + Hf + Hl

Static Head (Hc)


Static head adalah kehilangan energi
yang disebabkan oleh perbedaan tinggi
antara tempat penampungan dengan
tempat pembuangan.
Hc = h2 h1
Dimana :
h2 = Elevasi air keluar
h1 = Elevasi air masuk

Velocity Head (Hv)


Hv = v2 / 2g
Velocity Head adalah kehilangan yang
diakibatkan oleh kecepatan air yang melalui
pompa.
Dimana :
v = Kecepatan air yang melalui pompa (m/dt)
g = Gaya gravitasi bumi (m/dt)
Dimana v diperpoleh dari persamaan V =Q/A,
Q = debit kemampuan pompa dan A = r2

Friction head (Hf)


Friction Head adalah kehilangan akibat gesekan air
yang melalui pipa dengan dinding pipa, yang dihitung
berdasarkan persamaan Darcy-Weisbach.
Hf = (f x L x v2) / (D x 2 x g)
Dimana :
F = Faktor kekasaran pipa, menggunakan diagram
moody.
D = Diameter dalam pipa,m
V = Kecepatan rata-rata aliran dalam pipa, m/s
L = Panjang pipa, m
G = Percepatan gravitasi, m/s2

Shock loss Head (Hl)


Kehilangan ini pada jaringan pipa disebabkan oleh perubahanperubahan mendadak dari geometri pipa, belokan-belokan, katupkatup dan sambungan-sambungan.
Hl = (K x v2) / (2 x g)
atau,
Hl = n . f . V2 / 2g
Dimana :
K = Koefisien kekasaran pipa yang tergantung pada jari-jari
belokan, diameter pipa dan sudut yang dibentuk antara
pipa dan bidang datar.
n = Jumlah belokan
f = 0,964sin2/2 + 2,047 sin4 /2
= Besar sudut belokan, 0

menghitung debit air yang mampu


dikeluarkan oleh pompa
Q2 = Q1 H2
H1
Dimana :
Q1 = Debit pompa dari pabrik, m3/det
Q2 = Debit pompa setelah dikoreksi, m3/det
H1 = Head dr pabrik (blm dikoreksi), m
H2 = Head total perhitungan, m

PERENCANAAN KOLAM PENGENDAP


LUMPUR (SETTLING POND)
g D 2 (SG 1)
Vt =
18
Dimana :
Vt
: Kecepatan pengendapan
partikel,(m/dtk)
G
: Percepatan gravitasi, (m/dtk2)
SG
: Berat jenis partikel padatan
v
: Viskositas kinematika air (m2/dtk)
D
: Diameter partikel padatan (m)

Luas kolam pengendapan


Q
A=
Vt

m3 / dtk
m / dtk

Dimana :
A : Luas kolam pengendapan (m2)
Q : Volume air yang ditampung
(m3/dtk)
Vt : Kecepatan partikel tersuspensi
(m/dtk)