Anda di halaman 1dari 35

TUGAS MAKALAH FISIKA

VEKTOR

DISUSUN OLEH:
NAMA

REYNALDO NURTANIO

KELAS

XI ALPS

NO URUT

SMA ZION
MAKASSAR
2015

KATA PENGANTAR
Puji syukur penulis panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa, karena atas berkat dan
rahmat-Nya penulis mampu menyelesaikan makalah ini. Makalah yang penulis beri judul
Vektor dibuat dengan tujuan untuk memenuhi tugas mata pelajaran Fisika SMA Kelas XI
pada Sekolah SMA ZION Makassar yang diberikan oleh Guru Mata Pelajaran Fisika.
Dalam penulisannya, penulis mengalami beberapa kendala. Namun, makalah ini dapat
selesai berkat arahan dan bimbingan dari Guru Mata Pelajaran serta pihak yang membantu
kelancaran penulisan makalah ini. Oleh karena itu, penulis ucapkan terima kasih kepada
segenap pihak yang telah membantu penulis.
Penulis sadar bahwa makalah ini masih memiliki kelemahan dan kekurangan. Oleh
karena itu, penulis memohon maaf atas kekurangan tersebut. Penulis juga senantiasa
membuka tangan untuk menerima kritik dan saran yang membangun agar kelak penulis bisa
berkarya lebih baik lagi.
Harapan penulis, semoga karya kecil ini bisa bermanfaat bagi kita semua. Semoga
pula makalah ini dapat berfungsi sebagaimana mestinya.
Makassar,

Maret 2015

Penyusun

ARTI, LAMBANG, DAN SINGKATAN


1. Arti Vektor
Vektor adalah besaran dalam fisika yang memiliki nilai dan arah.
2. Lambang Vektor

Suatu vektor A dapat dilambangkan dengan


dan dinotasikan dalam bentuk
dimana a,b, dan c merupakan elemen-elemen dari vektor.
3. Singkatan

= Vektor dari A

AB
= Penjumlahan dari Vektor A dan Vektor B

AB
= Pengurangan dari Vektor A dan Vektor B

A .B
= Perkalian dari Vektor A dan Vektor B

= Panjang dari Vektor A

a

b
c

DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR......................................................................................................
i
ARTI, LAMBANG DAN SINGKATAN........................................................................ ii
DAFTAR ISI................................................................................................................... iii
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang............................................................................................... 1
1.2 Rumusan Masalah.......................................................................................... 1
1.3 Tujuan Penulisan Makalah............................................................................. 2
1.4 Manfaat........................................................................................................... 2
1.5 Sistematika Penulisan..................................................................................... 3
BAB II LANDASAN TEORI DAN TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Sejarah Vektor................................................................................................. 5
2.2 Pengertian Vektor dan Skalar.......................................................................... 11
2.3 Penulisan dan Notasi Vektor............................................................................
2.4 Kesamaan Vektor.............................................................................................
2.5 Penjumlahan dan Selisih Vektor......................................................................
2.6 Besar Suatu Vektor Hasil Penjumlahan dan Pengurangan..............................
2.7 Hukum yang berlaku pada Aljabar Vektor......................................................
2.8 Vektor Posisi....................................................................................................
2.9 Vektor Satuan..................................................................................................
2.10 Vektor Basis...................................................................................................

11
12
13
17
19
19
20
20

BAB III METODOLOGI PENELITIAN / PENULISAN


3.1 Waktu dan Tempat Penelitian.......................................................................... 21
3.2 Teknik Pengumpulan Data.............................................................................. 21
3.3 Analisis Data................................................................................................... 21
BAB IV PEMBAHASAN
4.1 Soal dan Pembahasan Vektor........................................................................... 22
BAB V

PENUTUP

5.1 Kesimpulan...................................................................................................... 26
5.2 Saran................................................................................................................ 26
DAFTAR GAMBAR......................................................................................................

DAFTAR PUSTAKA...................................................................................................... vi

DAFTAR GAMBAR

Gambar 1. William Rowan Hamilton.............................................................................

Gambar 2. August Ferdinand Mobius.............................................................................

Gambar 3. Herman Grassman.........................................................................................

Gambar 4. Benjamin Peirce............................................................................................

Gambar 5. Bentuk dan Notasi Vektor.............................................................................

11

Gambar 6. Penjumlahan Dua Vektor..............................................................................

14

Gambar 7. Penjumlahan Dua Vektor dengan aturan Jajaran Genjang............................

14

Gambar 8. Pengurangan Dua Vektor...............................................................................

16

Gambar 9. Pengurangan Dua Vektor dengan aturan Jajaran Genjang............................

17

Gambar 10. Besar Vektor Hasil Penjumlahan dan Pengurangan....................................

17

Gambar 11. Besar Resultan Dua Vektor.........................................................................

18

Gambar 12. Arah Vektor Hasil Penjumlahan dan Pengurangan.....................................

18

Gambar 13. Arah Vektor Posisi di R2..............................................................................

19

Gambar 14. Arah Vektor Posisi di R3..............................................................................

19

Gambar 15. Uraian Gaya-Gaya pada Sumbu Koordinat................................................

25

BAB I
PENDAHULUAN

1.1

Latar Belakang
Vektor merupakan salah satu materi yang diajarkan pada siswa SMA, terutama bagi

siswa program IPA. Vektor disajikan dalam dua mata pelajaran yaitu Fisika dan
Matematika, dua mata pelajaran yang biasa dianggap sebagai mata pelajaran yang dianggap
sulit oleh siswa.
Bicara tentang fungsi vektor, ada baiknya jika kita tahu terlebih dahulu apa itu vektor.
Kita mengenal vektor sebagai sebuah besaran yang memiliki nilai dan arah. Sedangkan
dalam matematika, vektor adalah anggota dari ruang vektor. Secara geometris, vektor dapat
disajikan dengan ruas garis berarah. Panjang ruas garis menyatakan besar vektor dan anak
panah menyatakan arah vektor.
Pada dasarnya, setiap bagian dari matematika memiliki fungsi masing-masing. Baik
fungsi matematisnya, penerapannya dalam kehidupan maupun kaitannya dengan ilmu
agama. Tidak terkecuali dengan vektor. Secara matematis, kita kadang-kadang menyatakan
bahwa sebuah fungsi vektor A (x,y,z) mendefinisikan suatu medan vektor karena
mengaitkan suatu vektor dengan setiap titik di suatu daerah. Sementara dari aplikasi vector
banyak diterapkan dalam Fisika.
Dalam makalah ini akan dibahas lebih lanjut mengenai sejarah, pengertian, penulisan,
operasi, serta aplikasi yang berkaitan dengan kajian vektor.
1.2

Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah di atas, penulis dapat merumuskan beberapa

rumusan masalah sebagai berikut :


1. Bagaimanakah sejarah munculnya vektor?
2. Apakah pengertian dari besaran skalar dan besaran vektor dan bagaimana notasi
penulisannya?
7

3. Apakah yang disebut dengan kesamaan 2 vektor, vektor posisi, vektor satuan, dan
vektor basis?
4. Bagaimana mengoperasikan penjumlahan, pengurangan dan selisih dalam vektor?
5. Apa yang dimaksud dengan tiga titik segaris dan letak pembagiannya dalam
vektor?
6. Apa yang termasuk aplikasi vektor pada Fisika?

1.3

Tujuan Penulisan Makalah


Adapun tujuan penulisan dari makalah ini adalah untuk :
1. Mengetahui dan memahami bagaimana sejarah munculnya vektor.
2. Dapat memaparkan hubungan kesamaan 2 (dua) vektor, vektor posisi, vektor
satuan, dan vektor basis.
3. Dapat mengetahui dan memahami operasi penjumlahan, pengurangan dan selisih
dalam vektor.
4. Mengetahui pengertian dari besaran skalar dan vektor, serta notasi penulisan vektor.
5. Mengetahui dan memahami tiga titik segaris dan letak pembagiannya dalam vektor

1.4

serta mengetahui aplikasi vektor dalam kehidupan sehari-hari.


Manfaat
Adapun manfaat dari makalah ini :
a. Bagi Penulis, melalui penulisan makalah ini secara tidak langsung penulis mengerti
dan memahami pengertian dari besaran vektor, operasi vektor, kesamaan dua
vektor, vektor posisi, vektor satuan dan vektor basis, sejarah munculnya vektor,
serta aplikasinya dalam kehidupan sehari-hari.
b. Bagi Pendidikan, menambah pengetahuan dan memberikan informasi kepada para
pelajar tentang manfaat dari vektor dalam kehidupan sehari-hari.
c. Bagi Pembaca, menjadi sumber pengetahuan dan dapat mengkaji lebih baik untuk

1.5

pengembangan makalah ini selanjutnya.


Sistematika Penulisan
Sistematika penulisan makalah ini terdiri dari :
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
1.2 Rumusan Masalah
1.3 Tujuan Penulisan Makalah
1.4 Manfaat
1.5 Sistematika Penulisan
BAB II
LANDASAN TEORI DAN TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Sejarah Vektor
2.2 Pengertian Vektor dan Skalar
8

2.3 Penulisan dan Notasi Vektor


2.4 Kesamaan Vektor
2.5 Penjumlahan dan Selisih Vektor
2.6 Besar Suatu Vektor Hasil Penjumlahan dan Pengurangan
2.7 Hukum yang berlaku pada Aljabar Vektor
2.8 Vektor Posisi
2.9 Vektor Satuan
2.10 Vektor Basis
BAB III METODE PENELITIAN
3.1 Waktu dan Tempat Penelitian
3.2 Teknik Pengumpulan
3.3 Analisis Data
BAB IV PEMBAHASAN
4.1 Soal dan Pembahasan Vektor
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
5.1 Kesimpulan
5.2 Saran

BAB II
LANDASAN TEORI
2.1 Sejarah Vektor
Vektor mengalami perjalanan panjang sebelumnya akhirnya dikenal sebagai konsep
keilmuan. Konsep mengenai vektor sendiri sangat tertutup bahkan asal-usulnya pun tidak
banyak diketahui. Hal ini menjadi penyebab utama Isaac Newton menciptakan sebuah karya
yang berjudul Principia Mathematica. Dalam Principia, Newton mengemukakan vektor
secara luas dengan apa yang sekarang dianggap benar adanya (misalnya, kecepatan,
kekuatan), tetapi hal ini bukanlah konsep dari sebuah vektor.
Vektor lahir dalam dua dasawarsa pada abad ke-19 dengan gambaran geometris dari
bilangan kompleks. Caspar Wessel (1745-1818), Jean Robert Argand (1768-1822), Carl
Friedrich Gauss (1777-1855), dan setidaknya satu atau dua orang lainnya menyatakan bahwa
bilangan kompleks berfungsi sebagai titik dalam bidang dua dimensi yaitu sebagai vektor dua
dimensi. Matematikawan dan ilmuwan bekerja sama lalu menerapkan bilangan-bilangan baru
dalam berbagai cara. Misalnya, pada 1799 Carl Friedrich Gauss mengungkapkan pentingnya
dari bilangan kompleks untuk membuktikan teorema dasar aljabar.
Pada 1837, William Rowan Hamilton (1805-1865)
menunjukkan bahwa bilangan kompleks dapat dianggap abstrak
sebagai pasangan terurut (a,b) bilangan real. Ide ini merupakan
bagian dari langkah matematikawan, termasuk Hamilton sendiri.
Mereka mencari cara untuk memperluas "bilangan" dua dimensi
Gambar 1. William Rowan
Hamilton

atau tiga dimensi, tetapi dengan tetap mempertahankan sifat-

sifat aljabar dasar dan bilangan kompleks pada kenyataanya tidak ada yang mampu mencapai
hal ini.
10

Pada 1827, August Ferdinand Mbius menerbitkan sebuah


buku pendek dengan judul The Barycentric Calculus, dimana ia
memperkenalkan segmen garis yang diarahkan dan dilambangkan
dengan huruf abjad. Dalam studinya mengenai pusat gravitasi dan
geometri proyektif, Mbius mengembangkan aritmatika segmen garis i
ni dengan mengarahkan, menambahkan dan menunjukkan bagaimana
untuk melipatgandakan segmen garis aritmatika dengan bilangan
real.

Karena pada

kenyataannya

tidak

ada

orang

Gambar 2. August Ferdinand


Mbius

lain yang

peduli

untuk

memperhatikan betapa pentingnya perhitungan ini. Hingga akhirnya Hamilton menyerah


untuk mencari sistem "bilangan" tiga dimensi tersebut dan sebagai gantinya ia menciptakan
sebuah sistem empat dimensi yang ia sebut dengan quaternions.
Dalam quaternions Hamilton menulis, q = w + ix + jy +kz dimana w, x, y, dan
z adalah bilangan real. Hamilton menyadari bahwa quaternions miliknya terdiri dari dua
bagian yang berbeda. Istilah pertama, ia disebut skalar dan x, y, z untuk tiga komponen
persegi panjang, ia merasa dirinya telah terdorong untuk menyatakan lambang trinomial serta
baris yang mewakili sebuah vektor. Untuk mengembangkan quaternions miliknya Hamilton

menggunakan rumus dasarnya dimana:

mengetahui bahwa produk miliknya,

q1 q 2

i2

j2

q2q1

k2

= i j k = 1, ia pun

tidak komutatif.

Quaternions (1866), secara terperinci bukan hanya aljabar quaternions tetapi juga
bagaimana formula ini dapat digunakan dalam geometri. Pada suatu kesempatan, Hamilton
menulis, Saya harus menegaskan bahwa penemuan ini tampaknya menjadi sama pentingnya
pada pertengahan abad kesembilan belas serta sebagai penutupan pada abad ketujuh belas.
Ini juga merupakan penemuan yang akan mengalami perubahan secara terus menerus. Dia
11

juga memiliki seorang murid yang bernama Peter Guthrie Tait (1831-1901) yang pada tahun
1850-an mulai menerapkan quaternions untuk masalah listrik dan magnet dan masalah lain
dalam fisika. Sampai akhirnya pada pertengahan abad ke-19, quaternions mendapatkan reaksi
keras baik positif maupun negatif dari komunitas ilmiah lain.
Pada waktu yang bersamaan saat dimana Hamilton menemukan
Quaternions, Hermann Grassmann (1809-1877) juga telah menyusun
The Calculus of Extension (1844) yang sekarang dikenal dengan judul
Jermannya yakni Ausdehnungslehre. Pada 1832, Grassmann mulai
mengembangkan Kalkulus Geometris Baru" sebagai bagian dari studi
tentang teori pasang surut, dan ia kemudian menggunakan alat ini

Gambar 3. Hermann
Grassmann

untukmenyederhanakan bagian dari dua karya klasik yakni Mekanika Analitik dari Joseph
Louis Lagrange (1736-1813) dan Mekanika Celestial dari Pierre Simon Laplace (1749-1827).

Dalam Ausdehnungslehre, pertama, Grassmann memperluas dari konsep vektor yang


telah dikenal yaitu dua atau tiga dimensi, n-dimensi, ini sangat memperluas ruang daya pikir.
Kedua bahkan lebih umum, Grassmann mengembangkan banyak matriks modern, linear
aljabar, vektor dan analisis tensor. Sayangnya, Ausdehnungslehre memiliki dua kelemahan
akan hal itu. Pertama, teorinya sangat abstrak, kurang jelas dalam contoh dan ditulis dalam
gaya notasi yang terlalu rumit. Bahkan setelah ia memberikan studi yang serius, Mbius tidak
dapat memahami sepenuhnya. Kedua, Grassmann adalah seorang guru sekolah menengah
tanpa reputasi ilmiah besar (dibandingkan dengan Hamilton). Meskipun karyanya diabaikan,
Grassmann mempromosikan karyanya pada 1840-an dan 1850-an dengan aplikasi untuk
elektrodinamika dan geometri kurva dan permukaan, tetapi tanpa banyak mendapatkan
pengakuan dari publik. Pada tahun 1862, Grassmann menerbitkan edisi revisi kedua
dari Ausdehnungslehre, tapi itu terlalu samar-samar tertulis dan terlalu abstrak untuk
matematika pada waktu itu, hingga mengalami nasib yang serupa seperti edisi pertama.
12

Dalam tahun-tahun terakhir hidupnya, Grassmann berpaling dari matematika dan


meluncurkan karier penelitian kedua hingga meraih sukses dalam ilmu fonetik dan linguistik
komparatif. Akhirnya, pada akhir 1860-an dan 1870-an, Ausdehnungslehre perlahan mulai
dipahami dan dihargai, sehingga Grassmann mulai menerima beberapa pengakuan yang
menguntungkan untuk matematika visioner. Edisi ketiga dari Ausdehnungslehre diterbitkan
pada tahun 1878, setahun setelah itu Grassmann pun meninggal dunia.
Selama pertengahan abad kesembilan belas, Benjamin
Peirce

(1809-1880), seorang

matematikawan

yang

paling

menonjol di Amerika Serikat, bahkan ia disebut sebagai titisan


Hamilton. Peirce adalah seorang guru besar matematika dan
astronomi di Harvard pada 1833-1880, dan ia menulis sebuah
sistem besar Mekanika Analitik pada 1855 hingga edisi kedua
ditulis pada 1872, secara mengejutkan temuannya ini tidak

Gambar 4. Benjamin
Peirce

termasuk dalam quaternions. Sebaliknya, Peirce memperluas pada apa yang ia sebut
"Keindahan Ruang Aljabar" dalam menyusun Linear Associative Algebra (1870), karya
aljabarnya benar-benar abstrak. Padahal kabarnya, quaternions telah menjadi subjek favorit
Peirce
. James Clerk Maxwell (1831-1879) adalah pendukung cerdas dan kritis pada
quaternions. Maxwell dan Peter Guthri Taits adalah warga Negara Skotlandia dan pernah
belajar bersama di Edinburgh dan di Cambridge University, mereka berbagi pengetahuan
dalam fisika matematika. Dalam apa yang disebut "klasifikasi matematika dari kuantitas
fisik", Maxwell membagi variabel fisika ke dalam dua kategori, skalar dan vektor. Kemudian,
dalam hal stratifikasi ini, ia menunjukkan bahwa menggunakan quaternions dibuat transparan
analogi matematika dalam fisika yang telah ditemukan oleh Lord Kelvin (William
ThomsonSir,

1824-1907)

antara

aliran
13

panas

dan

distribusi

gaya

elektrostatik. Namun dalam catatan-catatannya dan terutama dalam Treatise on Electricity


and Magnetism (1873) Maxwell menekankan pentingnya apa yang ia sebut sebagai Ide
quaternions atau doktrin vektor sebagai metode matematika sebuah metode berpikir. Pada
saat yang sama, dia menunjukkan sifat homogen dari produk quaternions, dan ia
mengingatkan para ilmuwan dari menggunakan "metode quaternions" dengan rincian yang
melibatkan tiga komponen vektor. Pada dasarnya, Maxwell menunjukkan analisis murni
vektor.
William Kingdon Clifford (1845-1879) menyatakan kekaguman yang mendalam pada
Ausdehnungslehre

milik

Grassmann

yang

ia

sebut

sebagai

langkah

lebih dari quaternions. Dalam Elements of Dinamis (1878), Clifford membagi produk
dari dua quaternions menjadi dua produk vektor yang sangat berbeda, yang disebut produk
skalar (sekarang dikenal sebagai dot product) dan produk vektor (hari ini kita menyebutnya
cross product). Untuk analisis vektor, ia menegaskan "keyakinan prinsip-prinsip yang akan
memberikan pengaruh besar terhadap masa depan ilmu Matematika. Meskipun elemen
dinamis berada pada urutan pertama dari catatan-catatannya, Clifford tidak pernah memiliki
kesempatan untuk mengejar ide-ide ini karena ia meninggal pada usia muda.
Perkembangan

aljabar

vektor

dan

analisis

vektor

seperti

yang

kita

kenal sekarang ini pertama kali terungkap pada sebuah catatan luar biasa yang ditulis oleh J.
Willard Gibbs. Gibbs mendapatkan prestasi ilmiah utamanya berada dalam fisika, yaitu
termodinamika. Maxwell sangat mendukung pekerjaan Gibbs dalam termodinamika,
terutama presentasi geometris hasil Gibbs itu. Gibbs diperkenalkan ke quaternions ketika ia
membaca risalah Maxwell tentang Listrik dan Magnet, dan Gibbs juga belajar Grassmann
Ausdehnungslehre. Dia menyimpulkan bahwa vektor akan memberikan alat yang lebih
efisien untuk karyanya dalam fisika. Jadi, mulai tahun 1881, Gibbs mencetak catatan
pribadinya mengenai analisis vektor untuk murid-muridnya, yang didistribusikan secara luas
14

bagi para sarjana di Amerika Serikat, Inggris, dan Eropa. Buku pertama pada analisis vektor
modern di Inggris adalah Analisis Vektor (1901), catatan Gibbs disusun kembali oleh salah
satu mahasiswa pascasarjana terakhirnya, Edwin B.Wilson (1879-1964). Ironisnya, Wilson
menerima pendidikan sarjananya di Harvard tempat ia belajar tentang quaternions dari
dosennya, James Mills Peirce (1834-1906), salah satu putra dari Benjamin Peirce. Buku
Gibbs dan Wilson ini dicetak ulang dalam edisi singkat pada tahun 1960. Kontribusi lain
dengan pemahaman modern dan penggunaan vektor dibuat oleh Jean Frenet (1816-1990).
Pada 1890-an dan dekade pertama abad kedua puluh, Tait dan beberapa orang lainnya
mencemooh vektor dan membela quaternions sementara banyak ilmuwan lain dan
matematikawan merancang metode vektor mereka sendiri. Oliver Heaviside (1850-1925),
seorang ahli fisika otodidak yang sangat dipengaruhi oleh Maxwell. Dalam makalah dan teori
elektromagnetik

(tiga

jilid,

1893,

1899,

1912)

ia

menyerang

quaternions

dan

mengembangkan analisis vektor sendiri. Heaviside telah menerima salinan catatan Gibbs dan
ia

berbicara

sangat berlebihan dalam memperkenalkan teori Maxwell tentang listrik dan

magnet ke Jerman (1894), metode vektor dan beberapa buku tentang analisis vektor dalam
bahasa Jerman yang menganjurkan untuk diikuti. Hingga pada akhirnya metode vektor ini
mulai

disebarluaskan

pada beberapa

negara misalnya

1887, 1888, 1897, Rusia pada 1907, dan Belanda (1903).

2.2

Pengertian Vektor dan Skalar

15

diperkenalkan

ke Italia pada

Besaran skalar adalah besaran yang hanya memiliki besar (panjang atau nilai) saja atau
besaran yang tidak memiliki arah. Misalnya: waktu, suhu, panjang, luas, volum, massa, dan
sebagainya.
Besaran vektor adalah besaran yang memiliki besar (panjang atau nilai) juga memiliki
arah. Misalnya: kecepatan, percepatan, gaya, momentum, medan magnet, medan listrik, dan
sebagainya.
Pada besaran skalar berlaku operasi-operasi aljabar, tetapi pada besaran vektor, operasioperasi aljabar tidak berlaku.
2.3

Penulisan dan Notasi Vektor


Penulisan besaran vektor secara internasional disepakati dengan Vektor dinyatakan

dengan huruf latin, misalnya u, u, u (huruf yang ditebalkan) atau u (huruf yang dimiringkan).
Sedangkan untuk besaran skalar dicetak biasa.
Disamping hal ini, besaran vektor digambarkan dengan anak panah. Panjang anak
panah menyatakan nilai besar vektor, sedangkan arah mata panah menyatakan arah vektor.

Gambar 5. Bentuk dan Notasi Vektor


Ekor dari panah disebut titik pangkal vektor dan ujung panah disebut titik ujung vektor.
Jika v menyatakan ruas garis berarah dari A ke B, maka ditulis dengan lambang v = AB.

16

Dalam aplikasinya vektor selalu menempati ruang. Untuk menjelaskan fenomena


vektor di dalam ruang dapat digunakan bantuan sistem koordinat untuk menjelaskan besar
dan arah vektor.

Vektor u dapat dinyatakan sebagai pasangan bilangan, misalnya u =

(ab)

, atau u =

(a,b) dengan a = komponen mendatar dan b = komponen vertikal.


Panjang Vektor
Vektor di R2

Misalkan u =

(ab)

, maka panjang (besar, nilai) vektor u ditentukan dengan rumus:

a
b
C

, maka panjang (besar, nilai) vektor u ditentukan dengan rumus:

|u|=

Vektor di R3

Misalkan u =

()

|u|=
2.4

a2 +b2 +c 2

Kesamaan Vektor
Vektor di R2
Dua buah vektor dikatakan sama, bila besar dan arahnya sama.

Misalkan u =

(ab)

dan v =

(dc )

Jika u = v, maka | u | = | v | dan arah u = arah v, sehingga a = c dan b =


d.

17

Vektor di R3
Dua buah vektor dikatakan sama, bila besar dan arahnya sama.

Misalkan u =

a
b
c

()

dan v =

c
d
e

()

Jika u = v, maka | u | = | v | dan arah u = arah v, sehingga a = c, b = d,


dan c = e

2.5

Penjumlahan dan Selisih Vektor


Vektor Di R2
1. Penjumlahan Vektor
a. Penjumlahan Vektor secara Geometri

Jika dua vektor a dan b dijumlahkan hasilnya vektor


= c . Vektor

ditulis

a + b

sebagai vektor resultan dari vektor a dan b .

Secara geometris , penjumlahan dua vektor dapat dilakukan dengan menggunakan


aturan segitiga atau dengan aturan jajaran genjang.
1.

Menentukan Jumlah Dua Vektor Dengan Aturan Segitiga


Jika diketahui dua buah vektor , misalnya vektor u dan vektor

v , maka akan

didapatkan penjumlahan dari kedua vektor tersebut.


Jumlah dua vektor u dan v atau u + v = w dapat ditentukan dengan
memindahkan vektor (tanpa mengubah besar dan arah) sehingga pangkal vektor v
berimpit dengan ujung vektor

u . Vektor w = u + v diperoleh dengan

18

menghubungkan titik pangkal vektor u dengan ujung vektor v yang telah dipindahkan
tadi. Perhatikan visualisasi berikut ini!

Gambar 6. Penjumlahan Dua Vektor

2.

Menentukan Jumlah Dua Vektor Dengan Aturan Jajaran Genjang


Pada aturan jajargenjang, Jumlah dua vektor

u dan

atau u + v = w dapat

ditentukan dengan memindahkan vektor (tanpa mengubah besar dan arah) sehingga
pangkal vektor v berimpit dengan ujung vektor

yang kedua sisi berimpit dengan kedua vektor u

u . Kemudian dibuat jajargenjang

dan v. Vektor w = u + v adalah

vektor yang berhimpit dengan diagonal jajargenjang yang terbentuk dengan pangkal
berhimpit dengan pangkal kedua vektor terakhir, sedang ujungnya terletak pada titik
pojok yang berhadapan dengan titik pangkal. Perhatikan visualisai berikut ini!

Gambar 7. Penjumlahan dua vektor dengan aturan Jajaran Genjang


b. Penjumlahan Vektor secara Aljabar

Secara analitik (aljabar), penjumlahan dua vektor u =

xa
ya

( )

dan v =

xb
yb

( )

dapat dilakukan dengan menjumlahkan komponen- komponen vektor yang seletak.

19

Jika vektor w merupakan jumlah dua vektor u dan v atau w = u + v, maka vektor
w

ditentukan dengan:

( )( ) (

xa
x
x + x b
+ b= a
ya
yb
y a + y b

w=u+v=

Contoh :
Tentukan hasil penjumlahan dua vektor berikut :

p =

(53)

( 49)

dan q =

Jawab :

(53)

dan q =

p+ q=

(53)

( 49)

( 49)
=

(5+3+ 49)

(129 )

c. Sifat-Sifat Penjumlahan Vektor


Misalkan u, v, dan w adalah vektor-vektor sembarang, pada operasi
penjumlahan vektor berlaku sifat-sifat :
1. Sifat komutatif : u + v = v + u
2. Sifat asosiatif : u + ( v + w ) = ( u + v ) + w
3. Terdapat unsur identitas , yaitu vektor 0 sehingga u + 0 = 0 + u = u
4. Setiap vektor mempunyai invers jumlah. invers jumlah vektor

u ini adalah

lawan dari u , yakni u , sehingga berlaku u + (-u) = (-u) + u = 0

2. Pengurangan Vektor
a. Pengurangan Vektor secara Geometri
1. Menentukan Hasil Pengurangan Vektor Dengan Aturan Segitiga
20

Sebelumnya, telah dibahas mengenai dua vektor yang berlawanan yaitu dua
vektor yang mempunyai besar sama, tetapi arahnya berlawanan. Sebagai contoh,
vektor u merupakan lawan dari vektor u dan vektor v merupakan lawan vektor v.
Sementara itu, pada bilangan real berlaku hubungan u v = u + (-v), dengan v
merupakan invers tambah dari v.
Berdasarkan pengertian diatas, jika diketahui dua buah vektor , misalnya vektor u

dan vektor

v , maka u v artinya sama dengan

u+(v) . Pengurangan vektor

v , atau u v dapat ditentukan dengan cara :


a. Tentukan lawan vektor v yaitu v

u dan vektor

b. Pindahkan vektor
vektor v

(tanpa mengubah besar dan arah) sehingga pangkal

berhimpit dengan ujung vektor u.

Vektor w = u + v diperoleh dengan menghubungkan titik pangkal vektor u


dengan ujung vektor

yang telah dipindahkan tadi. Perhatikan visualisasi

berikut ini!

Gambar 8. Pengurangan dua vektor


2. Menentukan Pengurangan Vektor Dengan Aturan Jajargenjang
Pengurangan vektor u dan vektor v , atau u v dapat ditentukan dengan cara

memindahkan vektor

(tanpa mengubah besar dan arah) sehingga pangkal


21

vektor

berhimpit dengan ujung vektor u, kemudian dibuat jajargenjang yang

kedua sisi berhimpit dengan kedua vektor u dan vektor

v . Vektor w = u + v

adalah vektor yang berhimpit dengan diagonal jajargenjang yang terbentuk dengan
pangkal berhimpit dengan pangkal kedua vektor u dan vektor

v , sedang

ujungnya terletak pada titik pojok yang berhadapan dengan titik pangkal. Perhatikan
visualisasi berikut ini!

Gambar 9. Pengurangan dua vektor dengan aturan jajarangenjang.


b. Pengurangan Vektor secara Aljabar

Contoh : Tentukan hasil pengurangan vektor ( uv jika diketahui :

(53)

dan v

( 49)

Jawab :

2.6

- v

(53)

()

4
9

(54
39 )

(61 )

Besar suatu vektor Hasil Penjumlahan dan Pengurangan

22

Gambar 10. Besar vektor hasil Penjumlahan dan Pengurangan

Gambar 11. Besar resultan dua vektor

23

Gambar 12. Arah vektor hasil penjumlahan dan pengurangan

2.7

Hukum yang berlaku pada Aljabar Vektor


Jika A, B, C adalah vektor dan m, n adalah skalar maka:

a.
b.
c.
d.
e.

A+B=B+A
(komutatif terhadap penjumlahan)
A + (B + C) = (A + B) +C
(asosiatif terhadap penjumlahan)
mA=Am
(komutatif terhadap perkalian)
m(nA) = (mn)A
(asosiatif terhadap perkalian)
(m+n)A=(mA)+(nA)
(distributif terhadap perkalian)
24

2.8

Vektor Posisi

Vektor di R2
Vektor posisi dari suatu titik adalah vektor yang titik pangkalnya di titik O
(pangkal koordinat) dan titik ujungnya di titik yang bersangkutan. Perhatikan
gambar berikut :

Gambar 13. Arah Vektor Posisi di R2


Vektor di R3

Gambar 14. Arah Vektor Posisi di R3

2.9 Vektor Satuan


Vektor satuan adalah vektor yang besarnya satu satuan. Vektor satuan u yang searah
vektor a dinyatakan dengan:

2.10 Vektor Basis


u=
Vektor di R2
Vektor sebagai kombinasi vektor satuan. Vektor u dapat dibentuk menggunakan vektor
satuan i dan j, misalkan u = ai + bj
25

Vektor di R3
z

26

BAB III
METODOLOGI PENELITIAN / PENULISAN

3.1

Waktu dan Tempat Penelitian


Dalam menyusun makalah, penulis mengkaji penulisan makalah di SMA ZION

Makassar guna mengumpulkan data-data dan referensi tentang Vektor, sedangkan waktu yang
diberikan untuk menyelesaikan penyusunan makalah ini dari tanggal 12 Februari 2015 20
Maret 2015.
3.2

Teknik Pengumpulan Data


Adapun teknik pengumpulan data yang digunakan dalam menyusun makalah ini adalah

Studi Literatur, yaitu mengumpulkan literatur dan data yang berhubungan dengan masalah
yang dikaji terutama sumber-sumber yang berkaitan dengan materi pembahasan.

3.3

Analisis Data
Analisis data yang digunakaan dalam penyusunan makalah ini adalah Analisis data

Kuantitatif, yaitu mengolah hasil data-data yang diperoleh baik melalui wawancara langsung
kepada Guru Mata Pelajaran untuk diberikan arahan dan bimbingan dalam penyusunan
makalah ini maupun melakukan kegiatan mengkaji materi tentang Vektor. Data kuantitatif
yang digunakan antara lain seperti panjang vektor, sudut vektor ().

27

BAB IV
PEMBAHASAN

4.1

Soal dan Pembahasan Vektor

1. Posisi suatu benda pada saat t = 0 dinyatakan dengan r0 = 2i3j+k. Dalam selang waktu
t = 3 s perpindahan yang dialami benda adalah

r = 3i + 4j + 2k, maka posisi

benda pada saat t = 3 s adalah....


Jawab:
r(t = 3) = r0 + r
= (2i 3j + k) + (3i + 4j + 2k)
= i + j + 3k

2. Sebuah gaya F = i + 3j bekerja pada benda sehingga benda bergerak lurus sejauh 2 m
sepanjang sumbu x. Besar usaha yang oleh gaya F terhadap benda adalah...
Jawab:
W=Fr
= (i + 3j) (2i)
= 2 joule
Sudut antara gaya F dengan arah perpindahan adalah
F.r
|F||r|

cos =

28

( 1 +32 )( 22 )
2

2
1
= 10
10
2 10

arccos

( 101 10)

3. Benda titik bermassa m = 2 kg bergerak sepanjang garis y = 2x + 3 dalam arah kuadran


satu pada bidang koordinat xy dengan laju v = 3 m/s. Arah gerak benda dapat dinyatakan
menggunakan gradien persamaan garis tersebut. Maka vektor satuan dalam arah garis
tersebut adalah:
v^ =

1+2 j
5

Vektor kecepatan benda tersebut adalah...


Jawab:

v =v v^ =

3
(i+ 2 j)
5

4. Momentum sudut terhadap suatu titik tertentu didefinisikan sebagai L = r p dengan p =


mv adalah momentum linier benda dan rnadalah vektor posisi benda dari titik acuan yang
dimaksud. Misalkan posisi awal benda adalah r0 = 3j, maka posisi benda tiap saat dapat
dinyatakan sebagai
r (t )=

3t
6t
i+
+3 j
5 5

Sehingga momentum sudut terhadap titik pusat koordinat O adalah


29

l=r x p

( ( ) ) (

( 185tm 185tm 9m5 ) k

3t
6t
3 (
i+
+3 j x m
i+2 j )
5
5
5

9m
k
5

( )

5. Sebuah benda bermassa m bergerak dengan kecepatan yang dinyatakan dengan v = v 0xi +
v0yj. Energy kinetik tersebut adalah....
Jawab:

1
T = m( v . v )
2

1
m( v 0 x i+ v oy j)
2
1
2
mv
2
6. Dalam persoalan kesetimbangan gaya seperti ditunjukkan dalam Gambar 1.15,
kesetimbangan terjadi jika jumlah total gaya (ingat bahwa gaya merupakan besaran
vektor) sama dengan nol. Artinya, bila gaya-gaya yang ada diuraikan pada sumbu-sumbu
koordinat (misalnya sumbu x dan sumbu y), maka resultan gaya pada arah sumbu x sama
dengan nol dan demikian juga halnya dengan resultan gaya pada arah sumbu y. Agar titik
O berada dalam keadaan setimbang, maka haruslah F1 +F2 + F3 = 0. Artinya jumlah gaya

30

dalam arah sumbu x harus sama dengan nol,

ini memberikan:

F x =F 1 cos F2 cos =0
Demikian halnya dengan jumlah gaya dalam arah sumbu y juga harus sama dengan 0 yang
berarti

F x=F 1 sin F 2 sin F 3=0

Gambar 15. Uraian Gaya-Gaya Pada Sumbu Koordinat

31

BAB V
PENUTUP

5.1 Kesimpulan
Vektor adalah besaran yang mempunyai nilai dan arah, sedangkan skalar adalah besaran
yang hanya mempunyai nilai saja. Penulisan vektor dapat dengan huruf kecil dan di garis
bawah, atau huruf kecil tebal, huruf kecil dengan tanda panah di atas dan juga huruf kapitak
dengan tanda panah diatasnya. Konsep kesamaan dua vektor adalah jika keduanya
mempunyai panjang dan arah yang sama. Penjumlahan atau pengurangan dua vektor dapat
dilakukan secara geometri dan juga analitik.
5.2 Saran
Adapun saran yang dapat penulis berikan adalah perlunya pengaplikasian dari
pengetahuan tentang vektor ini di masyarakat luas, untuk memudahkan pekerjaan masyarakat
pula tentunya, sehingga secara tidak langsung akan meningkatkan taraf hidup bangsa

32

DAFTAR PUSTAKA

Kariadinata, Rahayu. 2011. Pengantar Aljabar Linier. Bandung: CV. Intan Mandiri.
Wirodikromo, Sartono. 2007. Matematika SMA kelas XII. Jakarta: Erlangga.
http://klompokku.blogspot.com/2013/09/makalah.html
https://lovemathstory.wordpress.com/2012/03/03/analisis-vektor/
http://tomatalikuang.blogspot.com/2013/10/sejarah-vektor.html
https://www.scribd.com/doc/178697539/Makalah-Matematika-Vektor
http://alansileo.blogspot.com/2012/09/makalah-vektor.html