Anda di halaman 1dari 8

Tugas Individu

Teknologi Feedlot dan Penggemukan

BAKALAN

MUH.RAHMAT SAPUTRA
I 111 08 283

FAKULTAS PETERNAKAN
UNIVERSITAS HASANUDDIN
MAKASSAR
2014

PENDAHULUAN
1. Latar Belakang
Pangsa pasar daging sapi di Indonesia masih sangat terbuka luas bagi industri peternakan sapi
potong, dengan konsumsi protein hewani yang baru mencapai 4,7 gram/kapita/hari masih di bawah
standar norma gizi (menurut FAO 6 gram/kapita/hari). Untuk meningkatkan konsumsi protein hewani 1
gram/kapita/hari, maka dibutuhkan daging sekitar 1.265,8 ton/hari identik dengan 10.548 ekor sapi yang
harus dipotong per hari atau 3,85 juta ekor per tahun, sedangkan populasi sapi di Indonesia hanya sekitar
11,9 juta ekor. Jika saja kebutuhan tersebut hanya dipenuhi dari produksi domestik, maka dalam jangka
waktu beberapa tahun populasi ternak sapi di Indonesia akan punah. Bisnis Feedlot yang menggunakan
sapi bakalan impor memberikan benefit sebesar 35,8%. Nilai BCR ini sangat tinggi, mengingat lama
penggemukan rata-rata hanya 3 bulan, bahkan untuk sapi trading lebih singkat lagi yaitu sekitar 12 hari.
Dalam satu tahun besarnya manfaat dari impor sapi sekitar 107,4 % dari biaya yang dikeluarkan untuk
mengimpor sapi. Besarnya nilai tersebut lebih besar dari suku bunga bank komersial yang hanya sekitar
25 %.
Usaha penggemukan sapi potong di Indonesia sangat prospektif untuk dikembangkan. Dalam
rangka pengembangan agribisnis berbasis sapi potong di Indonesia harus berpedoman kepada, azas
kelestarian sumberdaya ternak nasional, azas keseimbangan suplai demand dan azas kemandirian menuju
kecukupan daging bagi masyarakat. Dalam menghadapi pasar global, perspektif bisnis feedlot harus pula
berasaskan perdagangan yang berkeadilan (fair trade) dan kesetaraan (equal treatment) antara peternak di
dalam negeri dan di negara lain. Perlunya kebijakan pemanfaatan teknologi dan sumberdaya manusia,
sehingga produksi domestik akan memiliki daya saing tinggi melalui upaya mengubah keunggulan
komparatif menjadi keunggulan kompetitif

2. Rumusan Masalah

Menurut Tjeppy D. Soedjana (2006), bahwa setiap tahun akan terjadi peningkatan
permintaan produksi yang belum mampudiimbangi oleh ketersediaannya di dalam negeri (Tabel
1. di bawah).
Tabel 1 : Prediksi Neraca Kebutuhan Daging sapi di Indonesia (2005-2010)

Sumber : Tjeppy D. Soedjana (2006)


Dari Tabel diatas tampak bahwa terjadi peningkatan kekurangan daging setiap tahun, untuk
tahun 2005 harus disuplai paling tidak setara sekitar 500 ribuan ekor sapi siap potong.
Seandainya jumlah tersebut tidak dapat dipenuhi oleh impor dalam bentuk sapi dan daging sapi,
maka dikhawatirkan akan terjadi pengurasan populasi sapi lokal, seperti yang telah terjadi
sekarang ini.

PEMBAHASAN
Bibit merupakan bagian awal dari usaha penggemukan , oleh karena itu penting untuk
diperhatikan pemilihan bibit. Beberapa hal penting yang harus diperhatikan dalam pemilihan sapi
bakalan atau bibit.:
a. Pilih sapi bakalan yang kurus tetapi sehat,dan tidak cacat.
b. Pemilihan bangsa sesuaikan dengan permintaan pasar. Pada saat menjelang hari Raya
Qurban , pilih sapi PO atau Peranakan Brahma atau sering disebut sapi putih. Sedang
untuk penggemukan di luar hari Raya Qurban bisa mmengunakan bangsa sapi
keturunan impor seperti sapi keturunan Simental ( metal ), Limousin ( merah ), sapi
perah jantan / FH ( putih hitam ).Sapi keturunan pertambahan bobot badan lebih
baik dibanding sapi PO.
c. Pilih sapi jantan, karena sapi jantan pertambahan bobot badan jauh lebih tinggi
dibanding sapi betina. Disamping itu pemoyongan sapi betina dilarang oleh UndangUndang Peternakan.
d. Bobot badan awal sapi bakalan untuk sapi putih sebessar 250 kg dan sapi keturunan
minimal 300 kg.
1. Pemilihan Sapi Bakalan
Ada beberapa jenis sapi potong yang biasa digemukan oleh peternak Indonesia diantaranya,
Sapi Bali, sapi Madura dan Sapi PO ( Peranakan Ongole )
a. Ciri-ciri Sapi bali : pada saat masih kecil jantan dan betina berwarna sawo matang tapi
pada saat dewasa sapi jantan berwarna kehitaman, tidak berpunuk.
b. Ciri sapi Madura : berwarna merah bata baik jantan maupun betina dan berpunuk
c. Ciri-ciri sapi PO : berwarna putih dan berpunuk, serta ada lipatan dibagian leher dan ada
lipatan dibagian leher dan perutnya.

2. Menentukan Umur Sapi Bakalan


Secara fisiologis sapi potong mengalami pertumbuhan dan perkembangan berdasarkan
tahapan tertentu yang berkait erat dengan umurnya,itulah sebabnya penentuan umur bakalan sapi
merupakan langkah penting dalam penggemukan sapi potong, sebaiknya umur bakalan sapi
dipilih yang berumur 1 2 tahun karena pada usia tersebut sapi mengalami periode emas dalam
pertumbuhan berat badan.
Penentuan yang paling pasti untuk mengetahui umur sapi adalah dengan cara melihat
catatan kelahiran terbut, namun di daerah hal ini tidak pernah dilakukan oleh peternak sehingga
penentuan umur bias dilihat dengan cara melihat pertumbuhan gigi sapi itu sendiri. Penentuan
umur dengan melihat gigi patokannya adalah sebagai berikut :
Gigi susu 4 pasang : 1 tahun
Gigi tetap 1 pasang : 1,5-2 tahun
Gigi tetap 2 pasang : 2-3 tahun
Gigi tetap 3 pasang : 3-3,5 tahun
Gigi tetap 4 pasang ; 4 tahun
3.

Menentukan Jenis Kelamin

Sebaiknya dipilih sapi bakalan yang berjenis kelamin jantan, karena sapi jantan akan
mengalami pertumbuhan yang relative cepat disbanding dengan sapi betina.
Ciri-ciri sapi Jantan : Terdapat dua testis yang terlihat jelas melalui celah antara dua paha
belakang.
Ciri-ciri sapi betina : tidak memiliki testis, namun menjelang dewasa kelamin terlihat adanya
perkembangan ambing

4. Melihat Penampilan Fisik


Penampilan fisik sapi bakalan mencerminkan kondisi tubuhnya secara keseluruhan,
untuk memilih sapi bakalan sebaiknya melihat hal-hal sebagai berikut :
1. Bulu licin dan mengkilap
2. Selaput lender dan gusi berwarna merah.
3. Kulit mudah dilipat dan akan kembali keposisi awal.
4. Hidung tidak kotor, basah dan tidak panas.
5. Suhu tubuhnya berkisar 39 40 C
6. Sapi tampak bergairah dan nafsu makan tinggi
7. Cepat bereaksi terhadap gangguan luar
8. Kotoran padat
5.

MENAKSIR BERAT BADAN SAPI


Cara akurat untuk menentukan berat badan sapi adalah dengan cara menimbangnya,

sayangnya cara ini kurang praktis karena jarang sekali ditemui timbangan di pasar hewan.
Cara yang biasa dilakukan adalah dengan menggunakan meteran untuk mengukur lingkar
dada ( LD ) yang kemudian dihitung dengan menggunakan rumus sebagai berikut :
Berat Badan ( kg ) = ( LD + 22 )2
100

KESIMPULAN

Dalam pemilihan bakalan sapi potong maka seharusnya sebelum memulainya tentu
dibutuhkan pengetahuan dan pengalaman untuk menentukan umur,bangsa,berat lahir dan berat
sapih pada calon bakalan yang akan digemukkan. Tentu bukan itu saja yang menjadi patokan
utama dalam pemilihan bakalan. Adapun diantaranya seperti kondisi tubuh dan genetik sangat
berpengaruh dalam pemilihan bakalan ini. Dan yang menjadi faktor utama dalam suksesnya
usaha feedlot atau penggemukan ialah ketersediaan bahan pakan atau hijauan yang menjadi
faktor penentu. Karena sebagaimana pun baiknya bakalan yang di pilih tanpa pakan yang
memadai tidak akan meningkatkan berat badan sapi tersebut.

DAFTAR PUSTAKA
Musthafa, N.A. 2011. Pengaruh bangsa sapi potong terhadap kinerja reproduksi induk di Kecamatan
Cibalong Kabupaten Tasik-malaya, Jawa Barat. Skripsi. Fakultas Peternakan, Universitas Gadjah Mada,
Yogyakarta.
Ngadiyono, N. 2007. Beternak Sapi. Citra Aji Pratama. Yogyakarta. Ontario Farm Animal Council
(OFAC). 2010.
Body conditioning score of beef cattle. Available at http://www.ofac.org/pdf/body%20condition
%20score.pdf. Accession date: 2nd March 2012.
Rianto, E. dan E. Purbowati. 2010.
Panduan Lengkap Sapi Potong. Penebar Swadaya, Anggota IKAPI. Jakarta. Santosa. 2001. Prospek
Agribisnis Penggemukan Pedet. Penebar Swadaya Jakarta.
Sumadi, T. Hartatik, N. Ngadiyono, I.G.S. Budisatria, H. Mulyadi, dan B. Aryadi. 2008. Sebaran populasi
sapi potong di Pulau Jawa dan Pulau Sumatera. Kerja Sama APFINDO dengan Fakultas Peternakan,
Universitas Gadjah Mada. Yogyakarta.
Thalib, C.H., T. Sugiarti and A. R. Siregar. 1999. Frisian Holstein and their adaptability to the tropical
environment in Indonesia. International Training on Strategies for Reducing Heat Stress in Dairy Cattle.
Taiwan Livestock Research Institut (Tlri-Coa) August 26 31, 2002, Tainan, Taiwan.