Anda di halaman 1dari 35

UNIVERSITAS INDONESIA

MAKALAH PETROKIMIA
ETILENA

KELOMPOK 3

ALFI MAGFIRWAN RAMADHAN (1106015245)


ANDREAS KURNIAWAN (1106052940)
KRISTIAN ARI PRABOWO (1106016903)
RANTI FABRIANNE (110602522)
TULUS SETIAWAN (1106015945)

CHEMICAL ENGINEERING DEPARTMENT


ENGINEERING FACULTY
UNIVERSITAS INDONESIA
2014

MAKALAH PETROKIMIA : ETILEN-KELOMPOK 3

KATA PENGANTAR
Pertama tama kami mengucapkan puji syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa karena atas
kuasaNya kami bisa menyelesaikan makalah ini dengan baik dan tepat pada waktunya.
Makalah ini dibuat atas dasar tugas mata kuliah Petrokimia dalam tema Etilena.
Dalam penulisan makalah ilmiah ini, banyak halangan dan rintangan yang terjadi. Kami
juga berterima kasih kepada seluruh pihak yang terlibat baik secara langsung maupun tidak
langsung dalam penyelesaian makalah ilmiah ini, yaitu:
1. Dosen mata kuliah pilihan Petrokimia, Bapak Yuliusman yang telah membimbing kami
selama proses penulisan makalah ini.
2. Teman-teman kelompok 3
Tim penulis menyadari banyaknya kekurangan yang terdapat dalam makalah ilmiah ini.
Oleh karena itu, kami meminta maaf atas semua kesalahan yang terjadi pada makalah ini. Tim
penulis juga mengharapkan saran, masukan, dan umpan balik dari para pembaca untuk tulisan
ini. Akhir kata kami mengucapkan terima kasih atas bantuan dari berbagai pihak dan berharap
semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi para pembaca

Depok, 21 Maret 2014

Tim Penulis

UNIVERSITAS INDONESIA

MAKALAH PETROKIMIA : ETILEN-KELOMPOK 3

DAFTAR ISI

Kata Pengantar ....................................................................................................................

Daftar Isi ............................................................................................................................

Bab I Pendahuluan ............................................................................................................

1.1 Latar Belakang ..................................................................................................

1.2 Batasan Masalah................................................................................................

1.3 Identifikasi Masalah ..........................................................................................

1.4 Tujuan Makalah ................................................................................................

Bab II Manfaat dan Produksi Etilen ...................................................................................

2.1 Manfaat Etilen ...................................................................................................

2.2 Sifat-Sifat Etilen ................................................................................................

2.3 Produsen Etilen .................................................................................................

2.4 Bahan Baku Pembuatan Etilen ..........................................................................

11

2.5 Etilen Glikol ......................................................................................................

11

Bab III Proses Pembuatan Etilen ........................................................................................

13

3.1 Uraian Proses ....................................................................................................

13

3.2 Reaksi Kimia .....................................................................................................

14

Bab IV Pengolahan Limbah ................................................................................................

26

4.1 Unit Pengolahan Limbah Etilen ........................................................................

26

4.2 Limbah Etilen Glikol.........................................................................................

30

Bab V Kesimpulan ............................................................................................................

32

Daftar Pustaka .....................................................................................................................

33

UNIVERSITAS INDONESIA

MAKALAH PETROKIMIA : ETILEN-KELOMPOK 3


BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Memasuki era perdagangan bebas, Indonesia dituntut untuk mampu bersaing dengan
negara lain dalam bidang industri. Perkembangan industri di Indonesia sangat berpengaruh
terhadap ketahanan ekonomi Indonesia. Sektor industri kimia banyak memegang peranan
dalam memajukan perindustrian di Indonesia. Inovasi proses produksi maupun pembangunan
pabrik yang baru yang berorientasi pada pengurangan ketergantungan kita pada produk luar
negeri maupun untuk menambah devisa negara sangat diperlukan, salah satunya dengan
memproduksi ethylene.
Etena (ethylene) adalah senyawa kimia yang memiliki rumus C 2H4 yang memiliki sifatsifat : olefin paling ringan, tidak berwarna, tidak berbau, dan mudah terbakar.(Kirk Othmer)
Adapun penggunaan etena dalam dunia industri cukup luas antara lain: sebagai bahan baku industri
kimia ethylene oksida, poliethylene, ethylene benzene, vinilklorida, dan ethylene glikol.

Berdasarkan data Tabel 1 perkembangan produksi etilen di indonesia periode tahun


2005-2009 mengalami penurunan. Sebaliknya konsumsi dalam negeri semakin meningkat ratarata 7,8% tiap tahun sejak 2005 sampai tahun 2009 mencapai kapasitas 1.118.000 ton sehingga
diperlukan import sebanyak 660.000 ton di tahun 2009 agar dapat memenuhi kebutuhan etilen
terutama sebagai bahan baku untuk produksi senyawa turunan etilen lainnya seperti polietilen,
vinil acetat, etilen oksida, etil benzen, dan lain sebagainya. Dengan kondisi impor yang
meningkat untuk kebutuhan domestik, tidak dimungkinkan lagi untuk melakukan ekspor ke
luar negeri.
Tabel 1.1 Data Kapasitas Produksi, Konsumsi, Ekspor, Impor Etilen Periode Tahun 2005-2009

Data kapasitas

2005

2006

2007

2008

2009

Produksi

510

460

540

488

455

Konsumsi

847

754

801

931

1118

Ekspor

Impor

337

294

261

444

664

x 1000 ton

Sumber: Kementrian Perindustrian

Berdasarkan data tiap lima tahun sejak tahun 2005 sampai tahun 2009 dilakukan
prediksi kapasitas produksi dan konsumsi dalam negeri untuk periode tahun 2010-2015 dan
digambarkan dalam Grafik 1. Sedangkan untuk data impor dari tahun 2010 hingga tahun 2015
UNIVERSITAS INDONESIA

MAKALAH PETROKIMIA : ETILEN-KELOMPOK 3


adalah selisih dari kapasitas produksi dan konsumsi tiap tahun dari hasil prediksi. Dari hasil
perkiraan diperoleh data bahwa kebutuhan akan etilen akan terus meningkat hingga mencapai
kapasitas 1.990.000 ton sedangkan produksi yang ada di tahun tersebut hanya 405.000 ton
sehingga akan dibutuhkan impor dari luar sebesar 1.594.000 ton.
1200
1049
977

1000

918

Kapasitas x 1000 ton

813
800

706
642

600

576
490

738
648

643

530
470

440

847

461

437

435

400
252

269

435
378

568
495
420427 423
409
401

303

Produksi
Konsumsi
Impor

172

200
86

90

2005

2006

0
2007

2008

2009

2010

2011

2012

2013

2014

2015

Tahun

Grafik 1.1 Prediksi Kapasitas Produksi, Konsumsi, Impor Periode Tahun 2010 2015 (Sumber: Kementrian
Perindustrian)

Salah satu senyawa turunan etilena yang juga memegang peranan yang sangat penting
adalah etilen glikol. Etilen glikol adalah salah satu bahan kimia yang jumlahnya belum
mencukupi industri di Indonesia. Etilen glikol itu sendiri sebagian besar digunakan sebagai
bahan baku industri poliester. Poliester yang merupakan senyawa polimer jenis termoplastik
ini digunakan sebagai bahan baku industri tekstil dan plastik. Di samping dapat dibuat serat
yang kemudian dipintal menjadi benang, juga bisa dibuat langsung menjadi benang filament
untuk produk tekstil. Selain itu, poliester ini dapat juga dibentuk (dicetak) sebagai bahan
molding seperti pada pembuatan botol plastik. Kegunaan lain dari etilen glikol ini adalah
sebagai bahan baku tambahan pada pembuatan cat, cairan rem, solven, alkil resin, tinta cetak,
tinta bolpoin, foam stabilizer, kosmetik, dan bahan anti beku.
Etilen glikol dimanfaatkan untuk berbagai macam keperluan di berbagai bidang.
Sebagian besar penggunaan etilen glikol adalah sebagai non-volatile antifreeze pada cairan
UNIVERSITAS INDONESIA

MAKALAH PETROKIMIA : ETILEN-KELOMPOK 3


pendingin mesin kendaraan. Penggunaan terbesar kedua adalah untuk bahan pembuatan
polyester fiber. Dan sebagian kecil lainnya digunakan sebagai bahan tambahan pada cat, heattransfer fluid dalam pesawat terbang, dehydrating agent untuk gas alam, dan sebagai aditif
pada tinta dan pestisida. Untuk etilen glikol dengan kemurnian tinggi dapat digunakan sebagai
solven dan medium suspensi pada amonium perborat. Kebutuhan etilen glikol dalam
pembuatan produk-produk diatas dari tahun ke tahun terus meningkat dan sebagian besar
kebutuhan tersebut dipenuhi dari impor.

Tabel 1.2. Data Impor Etilen Glikol pada tahun 2007-2010

Sumber: Badan Pusat Statistik, 2008

Grafik 1.2. Data Impor Etilen Glikol pada tahun 2007-2010

Dari tabel dan grafik diatas dapat diketahui bahwa impor etilen glikol di Indonesia dari
tahun 2001 sampai 2006 mengalami kenaikan rata-rata sebesar 3,5477%. Dengan kenaikan
rata-rata sebesar 3,5477%, maka kebutuhan impor etilen glikol di Indonesia pada tahun 2015
dapat diprediksikan sebesar 480.460 ton.
UNIVERSITAS INDONESIA

MAKALAH PETROKIMIA : ETILEN-KELOMPOK 3


Berdasarkan uraian diatas, dengan melihat besarnya kebutuhan akan senyawa etilen
maupun turunannya yaitu etilen glikol baik untuk dalam dan luar negeri, maka menjadi sangat
penting bagi kita yang merupakan mahasiswa teknik kimia untuk bisa mempelajari prosesproses kimia yang terkait dengan produksi kedua senyawa tersebut, dengan harapan untuk
kedepannya kami yang merupakan mahasiswa teknik kimia dapat mengurangi kebutuhan
impor dengan cara meningkatkan produksi dalam negeri.

1.2 Batasan Masalah


Agar pembahasan masalah tidak terlalu meluas, maka kelompok kami membatasi cakupan dari
isi makalah yang akan kami buat, diantaranya adalah:

Proses-proses kimia yang akan dibahas dalam makalah ini hanyalah proses kimia
pembuatan etilen dan salah satu turunannya yaitu etilen glikol

Unit atau Peralatan proses yang terkait dengan proses kimia yang akan dibahas dalam
makalah ini merupakan unit atau peralatan yang secara umum dipakai pada industri
produksi etilen dan etilen glikol di Indonesia

1.3 Identifikasi Masalah


Berikut ini adalah beberapa masalah terkait dengan produksi senyawa etilen dan etilenglikol
yang akan dibahas dalam makalah kelompok kami, diantaranya adalah:

Manfaat apa saja yang dimiliki oleh senyawa etilen dan etilen glikol

Industri apa saja (produsen) yang memproduksi senyawa etilen dan etilen glikol

Bahan baku apa yang dibutuhkan untuk mensintesis senyawa etilen dan etilen glikol

Skema, uraian proses dan reaksi kimia apa saja yang terjadi dalam pembuatan kedua
senyawa tersebut

Parameter proses apa yang menentukan keberhasilan pembuatan kedua senyawa


tersebut

Treatment atau teknik pengolohan limbah seperti apa yang dilakukan pada Industriindustri yang memproduksi kedua senyawa tersebut

1.4 Tujuan Makalah


Tujuan dalam pembuatan makalah ini diantaranya adalah:

Memahami pentingnya peranan senyawa etilen dan etilen glikol

UNIVERSITAS INDONESIA

MAKALAH PETROKIMIA : ETILEN-KELOMPOK 3

Memahami proses kimia dan reaksi kimia yang terjadi dalam pembuatan atau sintesis
senyawa etilen dan etilen glikol

Mengetahui dan memahami parameter-parameter proses yang mendukung keberhasilan


produksi senyawa etilen dan etilen glikol

Mengetahui teknik pengolahan limbah yang dilakukan pada Industri-industri yang


memproduksi senyawa etilen dan etilen glikol.

UNIVERSITAS INDONESIA

MAKALAH PETROKIMIA : ETILEN-KELOMPOK 3


BAB II
MANFAAT DAN PRODUKSI ETILEN

2.1 Manfaat Etilen


Kebutuhan etilen di Indonesia mengalami peningkatan disebabkan berkembangnya
industri-industri yang memanfaatkan etilen sebagai bahan baku, diantaranya sebagai berikut :
-

Industri pembuatan polietilena sebagai bahan baku pembuatan plastik.

Industri pembuatan etil alkohol (etanol).

Industri pembuatan etilena glikol sebagai bahan baku pembuatan serat buatan dan
sebagai bahan pendingin.

Industri pembuatan stirena, dimana stirena dapat dipolimerisasikan membentuk


polistirena.

Industri pembuatan kloroetana sebagai bahan baku pembuatan timbale tetraetil.


Etilen sering juga dimanfaatkan oleh para distributor dan importir buah. Buah dikemas

dalam bentuk belum masak saat diangkut pedagang buah. Setelah sampai untuk
diperdagangkan, buah tersebut diberikan etilen (diperam) sehingga cepat masak. Dalam
pematangan buah, etilen bekerja dengan cara memecahkan klorofil pada buah muda, sehingga
buah hanya memiliki xantofil dan karoten. Dengan demikian, warna buah menjadi jingga atau
merah. Fungsi lain etilen secara khusus adalah :

Mengakhiri masa dormansi.

Merangsang pertumbuhan akar dan batang.

Pembentukan akar adventif.

Merangsang absisi buah dan daun.

Merangsang induksi bunga Bromiliad.

Induksi sel kelamin betina pada bunga.

Merangsang pemekaran bunga.

Sebagai solven, surfaktan, coating, plasticiter, dan antifreeze.

Digunakan sebagai obat bius.

2.2 Sifat-sifat Etilen


Sifat Fisika
-

Berat molekul

UNIVERSITAS INDONESIA

: 28,05 g/mol

MAKALAH PETROKIMIA : ETILEN-KELOMPOK 3


-

Titik didih

: -103,7C

Titik lebur

: -169,2C

Densitas

: 0,568 gr/cm3

Kelarutan

: 3,5 mg/100 m

Sifat Kimia
-

Reaksi antara etena dan klorin menghasilkan 1,2 dikloroetana yang dapat digunakan
sebagai bahan baku plastik PVC.
2 4 + 2 2 2 (1)

Reaksi alkena dengan hidrogen halida (hidrohalogenasi).


2 4 + 2 5 (2)

Reaksi alkena dengan hidrogen (hidrogenasi).

Reaksi antara etena (etilen) dengan hidrogen menghasilkan etana.


2 4 + 2 2 6 (3)

Reaksi pembakaran sempurna antara etena dan oksigen menghasilkan gas


karbonmonoksida dan air.
2 4 + 22 22 + 22 (4)

2.3 Produsen Etilen


PT Chandra Asri Petrochemical (CAP) adalah perusahaan petrokimia terbesar dan
terintegrasi secara vertikal di Indonesia dengan fasilitas-fasilitasnya yang terletak di Ciwandan,
Cilegon dan Puloampel, Serang di Provinsi Banten. CAP merupakan pabrik petrokimia utama
yang memanfaatkan teknologi dan fasilitas pendukung canggih kelas dunia. Jantung operasi
CAP adalah Lummus Naphtha Cracker yang menghasilkan Ethylene, Propylene, Mixed C4,
dan Pyrolysis Gasoline (Py-Gas) berkualitas tinggi untuk Indonesia serta pasar ekspor regional.

UNIVERSITAS INDONESIA

MAKALAH PETROKIMIA : ETILEN-KELOMPOK 3

Gambar 2.1. Lokasi PT. Chandra Asri Petrochemical Center, Tbk


(Sumber: www.scribd.com)

Selain pabrik Naphtha Cracker, CAP memiliki fasilitas produksi Polyethylene dan
Polypropylene yang terintegrasi yang menggabungkan dua teknologi kelas dunia. Empat
reaktor Unipol dengan lisensi dari Union Carbide, satu reaktor mampu menghasilkan resin
Linear Low dan High Density Polyethylene, tiga reaktor lainnya mampu menghasilkan
berbagai resin Polypropylene. Reaktor kelima menggunakan lisensi dari Showa Denko KK,
teknologi revolusioner Jepang yang dikenal dengan Bimodal High Density Polyethylene.
Kedua teknologi kelas dunia tersebut digabungkan untuk memproduksi berbagai grade resin
Polyethylene untuk memenuhi sebagian besar permintaan Polyethylene di Indonesia.
Guna memastikan produksi yang berkesinambungan, CAP memiliki pembangkit listrik
terpasang dengan kapasitas yang melebihi kebutuhan produksi normal. Selain itu, CAP
memiliki sambungan ke PLN sebagai sumber listrik cadangan. Pabrik pun memiliki instalasi
desalinasi dan pengolahan air yang menghasilkan air yang sangat murni untuk digunakan pada
sistem pendingin, tanki penyimpanan, dan jetty. PT. Chandra Asri Petrochemical memiliki 3
plant utama yaitu :
1. Ethylene Plant
Berfungsi untuk memproduksi ethylene yang sebagian digunakan kembali untuk
menghasilkan polyethylene pada HDPE Plant dan LLDPE Plant, dan sebagian lagi
langsung dijual. Bahan baku utama dari ethylene plant adalah naphta.
2. HDPE Plant

UNIVERSITAS INDONESIA

10

MAKALAH PETROKIMIA : ETILEN-KELOMPOK 3


Berfungsi untuk menghasilkan polyethylene yang mempunyai densitas yang tinggi.
Bahan baku dari HDPE Plant adalah ethylene yang disuplai langsung dari Ethylene
Plant.
3. LLDPE Plant
Berfungsi untuk menghasilkan polyethylene yang mempunyai densitas yang
rendah. Kualitas polyethylene HDPE Plant lebih bagus daripada polyethylene
LLDPE Plant. Bahan baku dari LLDPE Plant sama dengan bahan baku pada HDPE
Plant yaitu ethylene yang disuplai langsung dari Ethylene Plant.

2.4 Bahan Baku Pembuatan Etilen


Bahan baku pembuatan etilen adalah naphta. Naphta merupakan produk yang
dihasilkan dari proses pengilangan atau penyulingan minyak bumi dengan berat molekul
terkecil. Sifat dari naphta adalah berupa cairan aromatik tak berwarna coklat kemerahan yang
mudah menguap, sangat mirip dengan bensin, mendidih pada suhu diantara 30C dan 200C,
terdiri dari campuran kompleks molekul hidrokarbon yang memiliki antara 5 dan 12 atom
karbon, serta memiliki berat sekitar 15-30% dari minyak mentah.
Pemerintah semula berharap fasilitas refinery Chandra Asri dapat segera ditambah
untuk mengurangi ketergantungan impor ethylene yang setiap tahun menembus 996.000 ton.
(Inaplas: Asosiasi Industri Olefin, Aromatik dan Plastik Indonesia, 2009). Di PT. Chandra Asri
ethylene diproduksi dari bahan baku berupa nafta. Karena persaingan dengan sektor energi,
maka untuk mendapatkan bahan baku tersebut semakin lama semakin sulit sehingga harus
mengimpor dari luar negeri sehingga mulai dicari alternatif bahan baku lainnya. Salah satu
alternatif yang kini mulai dipertimbangkan adalah refinery gas. Refinery gas adalah gas sisa
proses dalam pabrik pencairan gas ataupun dari kilang minyak. Gas tersebut biasanya hanya
digunakan sebagai fuel gas untuk bahan bakar boiler maupun furnace. Seringkali jumlah gas
ini cukup besar sehingga hanya dibuang dengan dibakar di dalam flare. Bahan baku yang
digunakan dalam pembuatan ethylene adalah refinery gas yang diperoleh dari PT. Badak NGL
Bontang yang mencapai 5,4 juta ton/tahun.
2.5 Etilen Glikol
Etilen glikol atau yang disebut Monoetilen Glycol, dihasilkan dari reaksi etilen oksida
dengan air. Etilen glikol merupakan agent anti beku yang digunakan pada mesin-mesin,
digunakan sebagai bahan baku produksi polietilen terephthalate (PET), dan sebagai cairan
penukar panas. Etilen Glikol berupa cairan jenuh, tidak berwarna, tidak berbau, berasa
UNIVERSITAS INDONESIA

11

MAKALAH PETROKIMIA : ETILEN-KELOMPOK 3


manis, dan larut sempurna dalam air. Secara komersial, etilen glikol di Indonesia
digunakan sebagai bahan baku industri polyester (tekstil) sebesar 97,34 %. Etilen Glikol
(1,2-etandiol, HOCH2CH2OH) dengan Mr 62,07 merupakan senyawa diol yang simpel. Etilen
glikol berupa cairan tak berwarna, dengan aroma yang manis. Senyawa ini higroskopis dan
larut sempurna dalam berbagai pelarut polar, seperti air, alkohol, eter glikol, dan aseton. Sedikit
larut dalam pelarut non polar, seperti benzene, toluene, dikloroetan, dan klorofom. Etilen glikol
sulit dikristalkan ketika dingin karena berbentuk senyawa yang sangat kental (viscous).
Etilen glikol merupakan bahan baku industri poliester yang merupakan bahan baku
industri tekstil dan plastik, bahan baku tambahan pada pembuatan cat, cairan rem, solven, alkyl
resin, tinta cetak, dan lain-lain. Produksi etilen glikol biasanya dilakukan dengan hidrolisis
langsung etilen oksida, tetapi banyak kekurangan dalam proses ini salah satunya konversi etilen
glikol rendah. Oleh karena itu, untuk menghasilkan etilen glikol maksimal dilakukan produksi
etilen glikol dari etilen oksida dengan proses karbonasi. Proses produksi ini terdiri dari
beberapa tahap yaitu tahap awal, tahap karbonasi, dan tahap hidrolisis. Pra rancangan pabrik
etilen glikol ini direncanakan akan bereproduksi dengan kapasitas 70.000 ton/tahun dan
beroperasi selama 330 hari dalam setahun.
Konsumsi etilen glikol meningkat dari tahun ke tahun, rata-rata sebesar 12,98% per
tahun (CIC No. 325, September 2001). Pada tahun 2000, konsumsi nasional etilen glikol
sebesar 545526 ton, dimana kebutuhan tersebut sebagian dipenuhi oleh PT. Gajah Tunggal
Petrochemical dengan kapasitas produksi 220000 ton, sedangkan sisanya dipenuhi dengan
melakukan impor dari beberapa negara, yaitu Jepang, Arab Saudi, Kanada, Singapura, Amerika
Serikat, Hongkong, Korea, dan lain-lain.
Bahan baku merupakan faktor penting dalam kelangsungan produksi suatu pabrik.
Bahan baku yang digunakan untuk pembuatan etilen glikol adalah etilen,udara, dan air. Dengan
mengadakan kontrak kerjasama dengan PT. Chandra Asri Petrochemical Centre dengan
kapasitas produksi 625.000 ton/tahun , diharapkan kebutuhan etilen tersebut dapat
dipenuhi.

UNIVERSITAS INDONESIA

12

MAKALAH PETROKIMIA : ETILEN-KELOMPOK 3

BAB III
PROSES PEMBUATAN ETILEN

3.1 Uraian Proses


Sebelum membahas mengenai uraian proses, terlebih dahulu kita mengenal proses-proses
pembuatan etilen. Pada pembuatan etilen terdapat dua jenis proses yang dapat dilakukan, yaitu
thermal cracking dan dehidrasi etanol. Thermal cracking dilakukan dengan memecah etana
pada suhu tinggi, sedangkan dehidrasi etanol dilakukan dengan mereaksikan memanaskan
etanol bersama alumina dan silika pada suhu tinggi.
Thermal Cracking
Thermal cracking merupakan reaksi pemecahan rantai karbon pada suhu yang cukup tinggi.
Reaksi dilakukan dalam reaktor pipa atau langsung di dalam suatu furnace. Reaksi perengkahan
terjadi pada suhu di atas 637oC tanpa katalis dan tekanan atmosferis. Setelah keluar dari
reaktor, produk didinginkan secara mendadak dan kemudian dimurnikan untuk mendapatkan
produk dengan kemurnian yang diinginkan. Pada proses ini pengaturan kondisi operasi,
terutama pengaturan pemberian panas, sangat diperhatikan dimaksudkan agar pembentukan
produk uang diinginkan dapat maksimal. Suhu produk keluar sekitar 1800oF (850oC)
didinginkan mendadak pada alat penukar panas hingga suhu di bawah suhu 640oC. Untuk
proses pemurnian produk dilakukan pada suhu rendah. (Rase, HF., 1977). Bahan baku dalam
proses cracking ada yang berasal dari LPG dan naptha, selain itu ada juga yang berasal dari
etana dan atau propana namun proses ini tidak flesibel.
Reaksi :

(5)
Dehidrasi Etanol
Proses ini telah ditemukan pada abad XVII ketika pertama kali diketahui bahwa etilen bisa
dibuat dari etanol yang dipanaskan bersama alumina dan silika. Pada saat sekarang katalis
alumina dan asam phospat adalah yang paling sesuai untuk digunakan dalam industri. Produk
dari dehidrasi etanol adalah etilen sebagai produk utama dan eter sebagai hasil reaksi lebih
lanjut.
UNIVERSITAS INDONESIA

13

MAKALAH PETROKIMIA : ETILEN-KELOMPOK 3


Reaksi :

(6)
Eter terbentuk pada suhu sekitar 230oC sementara pada suhu 300-400oC yield etena mencapai
94-99%. Reaktor bekerja secara isotermal dalam pipa-pipa yang dipanaskan. Pemurnian lebih
lanjut diperlukan untuk menghilangkan senyawa aldehid, asam-asam, CO2, dan air. (Ludwig,
Kniel, 1980)
Proses pembuatan etilen dari thermal cracking maupun dehidrasi etanol memiliki kelebihan
dan kekurangan masing-masing sebagaimana dijelaskan pada tabel 1 berikut. Ini dapat
dijadikan pertimbangan dalam pemilihan proses.
Tabel 3.1. Kelebihan dan Kekurangan Proses Pembuatan Etilen

Proses

Kondisi
Operasi

Kelebihan

Kekurangan

Thermal Cracking

1 atm

Harga bahan baku


murah karena
merupakan limbah.

Operasi berlangsung
pada suhu tinggi.

- Bahan baku dapat


diperbaharui.

Harga bahan baku


lebih mahal daripada
harga produk.

100 K
Dehidrasi Etanol

300-400 oC

- Suhu operasi relatif


lebih rendah.

Dari kedua proses pembuatan etilen di atas, maka dipilih proses pembuatan etilen dari etana
dengan cara thermal cracking. Pertimbangan pemilihan proses ini adalah :
1. Harga bahan baku yang murah, karena bahan baku merupakan limbah
2. Bahan baku mudah diperoleh
Pada pembahasan kali ini, bahan baku dari proses thermal cracking yaitu petrolium yang
berasal dari LPG dan Napthalena. Proses pemecahan hidrokarbon melalui pemanasan atau
UNIVERSITAS INDONESIA

14

MAKALAH PETROKIMIA : ETILEN-KELOMPOK 3


lebih dikenal dengan cracking via steam of hidrokarbon merupakan pemecahan senyawasenyawa hidrokarbon dari rantai panjang menjadi rantai yang lebih pendek pada suhu tinggi
(700-800oC) dan tekanan tinggi (35atm) tanpa memerlukan gas O2 untuk pembakaran.
3.2 Reaksi Kimia
Reaksi kimia yang terjadi yaitu :

Reaksi utama :

800 C
Cx H 2 x 2 H 2O O2 700

C2 H 4 (4 5 % ) C2 H 6 C2 H 2 (17 13%)
0

H 2 (25 30 %) CO CO2 CH 4 C3 H 6 C3 H 8
C4 H10 C4 H 8 C4 H 6 C C6 H 6

(7)

Heavy oil fraction

Reaksi pada Acetylene converter :

C2 H 2 H 2 C2 H 4 (8)

Reaksi di washer :

H 2 CO3 NaOH Na2CO 3 H 2O (9)

Reaksi pembakaran :

CH 4 CO 2CO 2 2H 2O (10)
Pada furnace terjadi reaksi antara H2O dan O2, dimana digunakan Naphta sebagai bahan
baku dan Fuel Gas sebagai bahan bakar pada proses ini. Produk yang dihasilkan pada unit
furnace yaitu berupa C1-C4, CO, CO2, H2 dan beberapa minyak yang masih termasuk di dalam
produk yang dihasilkan. Lalu panas hasil pembakaran pada furnace diubah pada unit boiler,
dimana boiler digunakan agar air yang dihasilkan dapat diubah menjadi uap superheated.
Proses selanjutnya pembersihan produk dengan dilakukan penambahan minyak (oil)
pada unit scrubber. Pada scrubber terjadi proses pembersihan produk dari sisa-sisa kotoran
yang masih terikut dalam produk dengan dilakukan penambahan minyak. Sehingga pada
scrubber didapatkan buangan berupa minyak, lalu produk penyulingan gas yang berupa C1-C4,
CO, CO2 dan H2 serta beberapa komponen padatan yang masih terikut di dalam produk akan
di kompresi dengan menggunakan tekanan 35 atm.

UNIVERSITAS INDONESIA

15

MAKALAH PETROKIMIA : ETILEN-KELOMPOK 3


Pada separator, proses dilanjutkan dengan melakukan pemisahan antara gas dan
padatan. Gas seperti C1-C3 akan dihasilkan pada top produk dari separator sedangkan yang
berupa padatan seperti C3-C4 akan dihasilkan pada bottom produk dari separator. Sehingga
produk yang dihasilkan pada top produk separator seperti CO2, CO, H2, C1-C3. Lalu produk
akan dicuci dengan soda kaustik (NaOH) untuk memisahkan CO2, sehingga produk yang
dihasilkan dari unit washer hanya mengandung C1-C3, CO, dan H2. Lalu produk yang berupa
gas di keringkan pada unit gas driyer. Sehingga dihasilkan hanya C 1-C3. Pada washer terjadi
reaksi yaitu
H2CO3 + NaOH Na2CO3 (11)
Selanjutnya dilakukan proses destilasi antara senyawa metana, CO dan H2 yang masih
terkandung didalam produk. Pada unit dementanizer, produk dipisahkan dimana berupa
metana, CO, dan H2 akan menguap dan sebagian dihasilkan yang berupa C2-C3 pada bottom
produk dementhanizer, dan sebagian dari C2-C3 akan dikembalikan ke dementanizer untuk di
destilasi kembali. Lalu hasil pemisahan pada dementhanizer yang berupa C2-C3 akan
dipisahkan secara destilasi pada unit deethanizer berdasarkan fraksi-fraksinya. Dimana
deethanizer berfungsi untuk memisahkan antar fraksi C2 dan C3. Hasil pada top produk
deethanizer berupa C2 dan pada bottom produk akan dihasilkan berupa C3.
Senyawa C2 yang dihasilkan dari top produk deethanizer akan dipisahkan pada unit
splitter untuk memisahkan etana dan gas asetilen. Dimana etana dan asetilen dalam fase gas
akan akan dihasilkan dari splitter bersama dengan absorben (N,N dimetilformida). Sebagian
asetilen akan masuk kedalam konverter dengan dilakukan penambahan H2, dengan tujuan
untuk memperoleh etilen yang lebih banyak.
Pada Acetylene konverter terjadi reaksi C2H2 + H2 C2H4. Keluaran dari dalam
acetylen konverter berupa C2H4 akan dipisahkan secara destilasi di etilen topping still, dimana
bottomtopping still akan dilewatkan pada heater dan kembali kedalam etilen tailing still untuk
memperoleh etilen yang lebih murni. Keluaran dari bottom-tailing still berupa C2H6 akan
direcycle kembali kedalam splitter. Sebagian hasil keluaran dari splitter dialirkan ke dalam unit
acetylene bersama dengan absorber (N,N dimetilformida) yang akan dipisahkan dari senyawasenyawa yang masih terikut di dalam acetylene seperti absorben (N,N dimetilformida) pada
unit stripper dimana asetilen sebagai produk akan dihasilkan. Absorben (N,N dimetilformida)

UNIVERSITAS INDONESIA

16

MAKALAH PETROKIMIA : ETILEN-KELOMPOK 3


akan diekstraksi kembali ke dalam unit asetilen. Sehingga hasil keluaran yang diperoleh berupa
ekstrak yaitu acetylene. Dan solven akan di recycle kembali ke dalam unit acetylene.
Pada bottom produk dari unit separator berupa C3-C4 dan komponen gas lain akan
dicuci dengan soda kaustik (NaOH) di dalam washer untuk mengikat CO2 dan juga NaOH
bereaksi dengan CO2. Hasil keluaran dari washer seperti C3-C4 dan sedikit komponen C1-C3
akan difraksionasi untuk memisahkan antara fraksi C1-C3 dan C3-C4. Dimana akan didapatkan
fraksi C3-C4 pada bottom produk. Dan fraksi C1-C3 akan dihasilkan pada top produk. Fraksi
C1-C3 pada perfractionator akan direcycle kembali ke dalam washer. Dan hasil didapatkan pada
bottom produk pada perfractionator berupa C3-C4 akan dialirkan dengan senyawa C3 yang
didapatkan dari hasil pemisahan antara fraksi C2 dan C3 yang terjadi pada deethanizer,
kemudian fraksi C3-C4 dan fraksi C3 akan dipisahkan secara destilasi berdasarkan titik didih
pada unit debutanizer, dimana yang memiliki titik didih yang tinggi akan dihasilkan pada top
produk pada debutanizer yaitu senyawa C3-C4.
Produk C3-C4 yang dihasilkan pada top produk debutanizer akan pisahkan dengan cara
destilasi yang didasarkan titik didih. Dimana titik didih yang redah akan dihasilkan pada top
produk dan titik didih yang tinggi akan dihasilkan pada bottom produk. Pada top produk di
dapatkan fraksi C3 akan dikondenser dan dipisahkan dari beberapa senyawa fase gas C2 dan C4
yang terdapat pada senyawa C3 pada unit splitter. Sehingga didapatkan pada top produk splitter
yaitu propylene sebagai produk sampingnya, sedangkan pada bottom produk yang masih
mengandung senyawa aromatik akan dipisahkan secara destilasi berdasarkan fasenya pada unit
return tower, dimana pada return tower terjadi pemisahan antara senyawa aromatik dan fuel
gas (bahan bakar).
Selanjutnya pada bottom produk hasil pemisahan pada depropanizer diabsorbsi untuk
menyerap C4 sehingga didapatkan senyawa C4 pada top produk dari unit absrober dengan
menggunakan absorber berupa DMF, sedangkan pada senyawa C4 yang masih mengandung
produk berupa butadien akan dialirkan pada unit stripper dan dipisahkan pada unit stripper
secara destilasi berdasarkan titik didihnya. Dimana titik didih untuk senyawa butadiene yaitu 6,3C akan didapatkan pada top produk dari unit stripper sedangkan titik didih yang tinggi
untuk senyawa C4 yaitu sekitar -0,5C akan dihasilkan pada bottom produk. Dan pada bottom
produk yang berupa senyawa C4 akan diabsorbsi pada unit kembali pada unit absorber untuk
didapatkan produk samping yang berupa senyawa C4. Fraksi gas C2 dan C4 dan beberapa fraksi

UNIVERSITAS INDONESIA

17

MAKALAH PETROKIMIA : ETILEN-KELOMPOK 3


C3 yang masih terikut dalam pemisahan pada unit C3 splitter akan direcycle kembali kedalam
pirolisis furnace.
Pada pirolisis furnace terjadi reaksi antara H2O dan O2 sehingga menghasilkan excess
steam. Dimana senyawa C2, C3, dan C4 digunakan sebagai bahan baku dan fuel gas digunakan
sebagai bahan bakar. Lalu panas hasil pembakaran pada pirolisis furnace akan diubah pada unit
boiler sehingga menghasilkan steam pada top produk boiler dan produk yang dihasilkan pada
unit boiler yaitu C1-C4, CO, CO2 dan H2 serta beberapa padatan yang masih terikut akan dicuci
pada unit scrubber sehingga didapatkan buangan berupa minyak dan padatan, pencucian
dilakukan dengan penambahan oil. Lalu hasil pada top produk yang berupa C1-C4, CO, CO2
dan H2 pada scrubber direcycle kembali kedalam unit kompresor untuk dilakukan proses
selanjutnya. Proses ini dilakukan secara kontinyu.
3.2.1. Reaksi-reaksi yang Terjadi
Proses pembuatan etilen dari etana dengan thermal cracking berlangsung dengan
memutus ikatan C-H dalam etana hingga terbentuk Etilen dengan C ikatan rangkap. Reaksinya
adalah sebagai berikut :

(12)
Reaksi berlangsung fase gas dalam reaktor alir pipa. Reaksi berlangsung endotermis
sehingga perlu adanya suplai panas yang berasal dari flue gas hasil pembakaran fuel gas dalam
furnace. Reaksi dilakukan pada suhu 1300 K dan tekanan 1 atm tanpa bantuan katalis.
Reaksi pembentukan Etilen dari etana berlangsung dalam 3 tahapan yaitu :

1. Inisiasi : pembentukan intermediet aktif


(13)

2. Propagasi atau Chain TransferI : Interaksi antara intermediet aktif dengan


reaktan atau produk untuk menghasilkan intermediet aktif yang lain.

(14)
UNIVERSITAS INDONESIA

18

MAKALAH PETROKIMIA : ETILEN-KELOMPOK 3

3. Terminasi : deaktivasi dari intermediet aktif


(15)

3.2.2. Reaksi Polimerisasi Polietilen

Polimerisasi adalah penggabungan molekul-molekul pendek atau monomer menjadi


molekul yang sangat panjang. Berdasarkan peristiwa yang terjadi selama reaksi, maka
polimerisasi dibagi menjadi tiga jenis yaitu: polimerisasi adisi dan polimer kondensasi. Jenis
polimerisasi yang terjadi pada pembentukan polietilen adalah polimerisasi adisi.
Polimerisasi adisi terjadi pada monomer-monomer yang sejenis dan mempunyai ikatan tak
jenuh (rangkap). Proses polimerisasi diawali dengan pembukaan ikatan rangkap dari setiap
monomernya, dilanjutkan dengan penggabungan monomer-monomernya membentuk rantai
yang lebih panjang dengan ikatan tunggal.
Mekanisme polimerisasi adisi dari pembentukan polietilena terdiri dari tiga tahap: Inisiasi,
Propagasi, dan Terminasi.
a. Inisiasi.
Untuk tahap pertama ini dimulai dari penguraian inisiator dan adisi molekul
monomer pada salah satu radikal bebas yang terbentuk. Bila kita nyatakan radikal
bebas yang terbentuk dari inisiator sebagai R, dan molekul monomer dinyatakan
dengan CH2 = CH2, maka tahap inisiasi dapat digambarkan sebagai berikut:

Gambar3.1 Reaksi Inisisasi


b. Propagasi
Dalam tahap ini terjadi reaksi adisi molekul monomer pada radikal monomer yang
terbentuk dalam tahap inisiasi

UNIVERSITAS INDONESIA

19

MAKALAH PETROKIMIA : ETILEN-KELOMPOK 3

Gambar 3.2 Reaksi Propagasi


Bila proses dilanjutkan, akan terbentuk molekul polimer yang besar, dimana ikatan
rangkap C= C dalam monomer etilen akan berubah menjadi ikatan tunggal C C
pada polimer polietilen

Gambar 3.3 Reaksi Etilen menjadi Polietilen


c. Terminasi
Dapat terjadi melalui reaksi antara radikal polimer yang sedang tumbuh dengan
radikal mula-mula yang terbentuk dari inisiator atau antara radikal polimer yang
sedang tumbuh dengan radikal polimer lainnya, sehingga akan membentuk polimer
dengan berat molekul tinggi.

(16)

Etilen Glikol
Proses pembuatan etilen glikol dilakuakn dengan mengubah etilen menjadi etilen oksida. Etilen
oksida merupakan zat kimia komoditas utama yang diproduksi di seluruh dunia. Etilen oksida
diproduksi dengan proses oksidasi katalitik etilen dengan katalis perak. Banyak metoda lain
yang telah diajukan untuk memproduksi etilen oksida namun tidak ada metoda lain yang
diterapkan dalam skala industri selain metoda ini (Emulsifiers, 2007). Reaksi samping

UNIVERSITAS INDONESIA

20

MAKALAH PETROKIMIA : ETILEN-KELOMPOK 3


mengoksidasi etilen dan etilen oksida menjadi karbon dioksida dan uap air. Reaksi yang
berlangsung yaitu:
C2H4 + O2 C2H4O (17)
C2H4 + 3 O2 2 CO2 + 2 H2O (18)

Proses Hidrolisis Etilen Oksida


1. Proses Katalitik
Merupakan proses pembuatan monoetilen glikol dengan mereaksikan air dan etilen oksida
dalam reaktor adiabatik katalitik. Etilen oksida murni atau campuran air dengan etilen oksida
(keduanya dalam fasa cair), digabungkan dengan air recycle dengan perbandingan mol air
dengan etilen oksida 5 : 1, dikondisikan hingga mencapai kondisi yang disyaratkan dalam
reaktor katalitik. Pada proses katalitik ini digunakan katalis untuk memperbesar selektivitas
terhadap monoetilen glikol sekaligus mengurangi jumlah ekses air yang ditambahkan sehingga
akan mengurangi kebutuhan energi dalam proses pemisahan antara monoetilen glikol dengan
air yang tidak bereaksi (Mc Ketta dan Cunningham,1984).
2. Proses non Katalitik
Merupakan proses hidrolisis etilen oksida dengan air yang akan membentuk glikol dengan hasil
samping berupa dietilen glikol dan trietilen glikol. Mula-mula etilen oksida murni atau
campuran air dengan etilen oksida digabungkan dengan air recycle dengan perbandingan mol
air dengan etilen oksida = 20 : 1 ( air dalam jumlah yang sangat berlebih digunakan untuk
mencapai selektivitas monoetilen glikol yang tinggi ), dipanaskan sampai kondisi reaksi pada
reaktor tubular untuk diubah menjadi monoetilen glikol dengan hasil samping berupa dietilen
glikol dan trietilen glikol (Mc Ketta dan Cunningham,1984). Air berlebih pada proses ini
dihilangkan dengan menggunakan evaporator dan etilen glikol dimurnikan dengan distilasi
vakum ( Kirk dan Othmer, 1990 ).

UNIVERSITAS INDONESIA

21

MAKALAH PETROKIMIA : ETILEN-KELOMPOK 3

Gambar 3.4 Proses sederhana pembuatan etilen glikol


( Kirk dan Othmer, 1990 )

3. Proses Karbonasi
Etilen glikol dapat diproduksi dengan mereaksikan etilen oksida dengan karbondioksida
membentuk etilen karbonat yang selanjutnya dihidrolisis menjadi etilen glikol. Unit oksidasi
etilen dengan proses langsung menghasilkan etilen oksida yang kemudian diabsorbsi oleh suatu
larutan absorben sebelum memasuki unit karbonasi. Keluaran dari menara absorbsi direaksikan
dengan karbondioksida kemudian dikonversi menjadi etilen karbonat yang kemudian masuk
ke unit hidrolisis untuk membentuk etilen glikol ( Kawabe dkk, 1998 ). Keuntungan yang
paling signifikan pada proses ini yaitu konversi etilen oksida menjadi etilen glikol yang hampir
sempurna dimana hanya sekitar 1% dihasilkan dietilen glikol dan senyawa glikol lain ( Kirk
dan Othmer, 1990 ).
Ada 3 reaksi utama dalam pembuatan etilen glikol dari etilen dengan proses karbonasi, yaitu (
Kirk dan Othmer, 1990 ):
C2H4 + O2 C2H4O (19)
C2H4O + CO2 C3H4O3 (20)
C3H4O3 + H2O CO2 + C2H6O (21)

UNIVERSITAS INDONESIA

22

MAKALAH PETROKIMIA : ETILEN-KELOMPOK 3

Gambar 3.5 flow diagram pembuatan etilen glikol dengan proses karbonasi
( Kawabe dkk, 1998 )

Deskripsi Proses
Proses produksi etilen glikol (C2H6O2) dapat dibagi menjadi empat tahapan proses yaitu
proses persiapan bahan baku, proses karbonasi, proses hidrolisis, dan proses pemurnian etilen
glikol.
Persiapan Bahan Baku
Bahan baku yang digunakan dalam proses produksi etilen glikol adalah gas etilen oksida dan
gas karbon dioksida. Etilen oksida (C2H4O) dari Tangki Etilen (TT-101) pada tekanan 1,01
bar dan temperatur 30 C di alirkan dengan blower JB- 101 ke Heater 1 (E-101) sebelum
tekanannya dinaikkan menjadi 14,5 bar dengan Kompresor 1 (JC-101). Gas karbondioksida
(CO2) dari Tangki karbondioksida (TT-102) pada tekanan 1,1 bar dan temperatur 30 C di
alirkan dengan blower JB-102 ke Kompresor 1 (JC-101) untuk menaikkan tekanannya menjadi
14,5 bar lalu dialirkan menuju Heater 2 (E-102) untuk menaikkan temperatur menjadi 100 C .
Kemudian gas etilen oksida akan dicampur dengan gas karbon dioksida di dengan
perbandingan laju alir mol etilen oksida per karbondioksida = 0,87 (Becker, 1983) sebagai
umpan di Reaktor Karbonasi (R-201).
Proses Karbonasi
Pembuatan etilen glikol dihasilkan melalui proses karbonasi etilen oksida dengan katalis
molybdenum dan dihasilkan senyawa intermediat yaitu etilen karbonat. Reaksi berlangsung
secara eksotermik sehingga untuk menyerap kelebihan panas reaksi digunakan Reaktor Fixed
Bed dengan Tube-In-Shell, di mana reaksi berlangsung di bagian tube dan air disirkulasi di
antara tube sebagai pembawa panas. Reaksi yang berlangsung adalah:
C2H4O + CO2 C3H4O3 (21)
Etilen oksida karbon dioksida etilen karbonat
UNIVERSITAS INDONESIA

23

MAKALAH PETROKIMIA : ETILEN-KELOMPOK 3


Wulan Pratiwi : Pembuatan Etilen Glikol Dari Etilen Oksida Dengan Proses Karbonasi Dengan
Kapasitas 80.000 Ton/Tahun, 2010. Proses karbonasi ini berlangsung pada tekanan 14,5 bar
dengan suhu operasi 80 - 150 C. Jika temperatur operasi terlalu rendah maka laju reaksi menjadi
rendah, reaksi akan berlangsung sangat lama, ukuran reaktor akan lebih besar sehingga tidak
ekonomis. Disisi lain, jika proses dioperasikan pada temperatur tinggi maka banyak panas yang
hilang dan memberikan efek buruk pada kualitas produk yang dihasilkan. Dari pertimbangan
diatas maka suhu operasi yang digunakan adalah 100 C. Konversi reaksi etilen oksida menjadi
etilen karbonat adalah 99% (Kawabe dkk, 1998). Produk dari reaktor karbonasi dialirkan
dengan pompa (P-102) ke separator tekanan rendah (FG-101) melalui penurunan tekanan pada
Ekspander 1 (JE-101) yaitu 2,5 bar. Produk atas yang keluar dari separator berupa karbon
dioksida berlebih yang kemudian ditampung di tangki penampungan gas buang sementara (TT103). Sedangkan pada produk bawah tekanannya dinaikkan menjadi 14,5 bar dengan
kompresor 4 (JC-301) dan dipanaskan hingga suhu 1500C dengan heater 4 (E-104) sebagai
umpan direaktor hidrolisis.
Proses Hidrolisis
Air masuk pada suhu 300C kemudian tekanan dinaikkan menjadi 14,5 bar dengan kompresor
3 (JC-103) dan dipanaskan sampai suhu 1500C menggunakan heater 3 (E-103) kemudian
dialirkan melalui pompa 1 (P-101) ke reaktor hidrolisis (R-102), bersamaan dengan produk
bawah separator 1 (FG-101) yang mengandung etilen karbonat. Sama seperti reaksi karbonasi,
reaksi hidrolisis berlangsung secara eksotermik sehingga diperlukan Reaktor Fixed Bed dengan
Tube-In-Shell, di mana reaksi berlangsung di bagian tube dan air disirkulasi di antara tube
sebagai pembawa panas. Reaksi yang berlangsung adalah:
C3H4O3 + H2O CO2 + C2H6O2 (22)
Etilen karbonat Air karbon dioksida Etilen gikol
2C3H4O3 + H2O 2 CO2 + C4H10O3 (23)
Etilen karbonat Air karbon dioksida dietilen gikol
Reaksi dalam reaktor hidrolisis berlangsung pada suhu 1500C dan tekanan 14,5 bar (Kawabe
dkk, 1998). Kondisi ini sesuai agar etilen glikol yang dihasilkan lebih banyak serta konversi
reaksi mencapai 99%.(Becker, 1983). Produk yang dihasilkan pada reaktor ini adalah etilen
glikol, dietilen glikol, dan sisa gas lain.
Pemurnian Produk
Produk yang dihasilkan dari reaktor hidrolisis dialirkan dengan pompa 4 (P-104) menuju
separator tekanan rendah II (FG-102) yang sebelumnya dilakukan
UNIVERSITAS INDONESIA

24

MAKALAH PETROKIMIA : ETILEN-KELOMPOK 3


penurunan tekanan dengan Ekspander 2 (JE-102) dan penurunan suhu menjadi 1000C
menggunakan Cooler 1 (E-105). Produk atas separator mengeluarkan gas buang yang
kemudian ditampung di tangki penampungan gas sementara (TT-103) melalui blower 4(JB104). sedangkan produk bawah dilanjutkan ketahap evaporasi yang sebelumnya dilakukan
penurunan tekanan hingga 1 bar dengan Ekspander 2 (JE-102). Tahap selanjutnya yaitu
penghilangan air menggunakan Evaporator dengan suhu 1200C. Produk atas pada evaporator
akan mengeluarkan air, etilen oksida dan karbondioksida. Sedangkan produk bawah
mengeluarkan etilen glikol, dietilen glikol dan sisa etilen karbonat.

Hasil produk bawah evaporasi kemudian dialirkan dengan pompa 6 (P-106) menuju destilasi
tetapi harus ditingkatkan suhu umpan menjadi 1970C menggunakan heater 5 (E-106). Produk
atas (destilat) keluar dalam bentuk cair yaitu etilen glikol suhu 1000C dan akan didinginkan
dengan Cooler 2 (E-108) hingga suhu 300C yang kemudian dialirkan ke tangki produk (TT104) dengan tingkat kemurnian 99%. Sedangkan produk bawah berupa Dietilen glikol dan
Etilen karbonat keluar Reboiler (E-109) pada suhu 2500C dalam bentuk uap - cair kemudian
dialirkan ke Flash drum (V-101) untuk memisahkan etilen karbonat dengan dietilen glikol.
Produk atas Flash drum berupa dietilen glikol dan didinginkan dengan Condensor Subcooler
(E-110) menjadi suhu 300C dan dialirkan dalam tangki Dietilen glikol (TT-105). Sedangkan
produk bawah berupa etilen karbonat keluar pada suhu 2500C yang didinginkan dengan Cooler
3 (E-111) sampai suhu 1000C dan dilanjutkan dengan Cooler 4 (E-112) sehingga suhunya
menjadi 350C kemudian ditampung ditangki Etilen karbonat (TT-106).

UNIVERSITAS INDONESIA

25

MAKALAH PETROKIMIA : ETILEN-KELOMPOK 3


BAB IV
PENGOLAHAN LIMBAH

4.1 Unit Pengolahan Limbah Etilen


Limbah di pabrik etilen diklasifikasikan menjadi 3 macam, yaitu limbah padat, limbah cair,
limbah gas.
4.1.1 Limbah padat
Limbah padat berasal dari Logam-logam bekas perbaikan, sludge dari boiler, dan resin
dari unit water treatment yang telah rusak. Limbah logam hasil perbaikan akan dijual
kembali, sludge dari boiler yang sebagian besar terdiri dari garam-garam kalsium
ditimbun di dalam tanah, sedangkan sisa resin yang rusak dibakar dalam incenerator.
4.1.2 Limbah Cair
Limbah cair dalam pabrik etilen ini berasal dari oily water sisa air pendingin, limbah
rumah tangga, dan sisa lube oil. Sisa lube oil dibakar dalam incenerator sedangkan oily
water diolah terlebih dahulu sebelum dikembalikan ke laut.
Oily water yang berasal dari air pendingin dimasukkan dalam oil water separator.
Minyak akan overflow secara bertingkat sedangkan air ada di bagian tengah sedangkan
lumpur ada di bagian bawah. Minyak akan dialirkan dalam burn pit, Waste water yang
dipisahkan dari minyak pada oil separator diumpankan ke Equalization Basin dengan
laju konstan. Sebelum dikembalikan ke laut, air dialirkan melalui kanal untuk
menurunkan suhunya terlebih dahulu. Setelah diperoleh suhu yang sesuai dengan baku
mutu, barulah air tersebut akan dialirkan ke laut. Lumpur diambil secara berkala untuk
kemudian ditimbun dalam tanah.
Air limbah rumah tangga yang berasal dari perumahan pegawai banyak
mengandung berbagai senyawa baik organik maupun anorganik sehingga sebelum
dibuang harus diolah terlebih dahulu. Berikut adalah cara pengolahannya

UNIVERSITAS INDONESIA

26

MAKALAH PETROKIMIA : ETILEN-KELOMPOK 3

Gambar 4.1 Diagram pengolahan air limbah

1. Bak Penampung 1
Limbah cair dari berbagai sumber ditampung dari bak penampung 1.Fungsi unit ini
adalah penampung sementara limbah cair sebelum dialirkan ke tangki koagulasi.
2. Tangki Koagulasi
Pada bak koagulasi ini, terjadi proses koagulasi dengan penambahan
Alumunium sulfat. Alumunium sulfat akan mengikat partikel-partikel halus untuk
membentuk flok-flok yang mampu mengendap di bak pengendapan. Bak koagulasi
dilengkapi dengan pengaduk yang berputar cepat.
3. Tangki Flokulasi
Pada bak flokulasi ini, terjadi proses flokulasi dengan penambahan polielektrolit.
Polieletrolit akan menarik flok-flok menjadi agregat yang lebih besar, sehingga
lebih mudah untuk diendapkan. Bak flokulasi dilengkapi dengan pengaduk yang
berputar lambat.
4. Clarifier 1
UNIVERSITAS INDONESIA

27

MAKALAH PETROKIMIA : ETILEN-KELOMPOK 3

Air limbah yang mengandung partikel-partikel yang telah membentuk agregatagregat yang lebih besar dialirkan ke clarifier 1. Di clarifier 1, sebagian besar
pertikel akan mengendap sedangkan sisanya akan diuraikan oleh bakteri di bak
activated sludge. Endapan yang terbentuk dipompa menuju ke bak penampung 2
5. Bak Penampung 2
Bak penampung ini merupakan bak penampung endapan yang dipisahkan dari
limbah cair pada clarifier 1
6. Bak Activated Sludge
Di dalam bak activated sludge, partikel atau senyawa-senyawa organik diuraikan
oleh bakteri aerob dan disertai penambahan nutrient yaitu natrium phosphat
sebagai unsur pendukung kelangsungan hidup bakteri. Hasil penguraian dialirkan
menuju clarifier 2
7. Clarifier 2
Clarifier ini merupakan bak pengolahan terakhir sebelum air limbah. Lumpur aktif
yang terbentuk dialirkan ke bak penampung 3, sebagian besar dialirkan kembali ke
bak activated sludge, karena mengandung bakteri yang akan bekerja kembali
menguraikan senyawa organik. Sedangkan sisa lumpur aktifnya dibuang.
8. Bak Penampung 3
Bak penampung ini merupakan bak penampung lumpur aktif yang dipisahkan dari
air limbah dari clarifier 2, yang mana lumpur aktif sebagian akan dialirkan kembali
ke bak activated sludge, sebagian lagi akan dibuang.
9. Bak Penampung 4
Bak penampung ini merupakan bak penampung akhir air limbah sebelum dibuang
ke sungai. Pada bak ini akan dilakukan pengecekan kelayakan terhadap air limbah.
Pengecekan yang dilakukan antara lain pengecekan pH, BOD, dan COD air.
UNIVERSITAS INDONESIA

28

MAKALAH PETROKIMIA : ETILEN-KELOMPOK 3


4.1.3 Limbah gas
Limbah gas dari pabrik etilen berasal dari flue gas dari boiler, boil off gas pada
proses pengapalan, dan arus proses yang harus dibuang saat ada kerusakan alat.
Limbah flue gas dari boiler langsung dibuang ke atmosfer melalui sebuah stack.
Pada proses pengisian etilen dalam tangki kapal akan terjadi proses flashing,
gas hasil hasil flashing ini akan meningkatkan tekanan dalam tangki kapal, sehingga
jika terlalu banyak gas terbentuk maka tekanan akan semakin tinggi sehingga
berbahaya terhadap keselamatan sehingga gas dari hasil flashing ini langsung dibuang
ke marine flare sistem. Jika ada alat yang rusak maka alat tersebut tidak dapat
menerima arus proses secara optimal karena jika dipaksakan untuk menerima arus
dengan kapasitas yang maksimal,
maka akan berbahaya terhadap keselamatan proses dan kerja sehingga sebagian harus
dibuang ke dalam flare.

4.2 Limbah Etilen Glikol :


Sumber sumber limbah cair pabrik pembuatan Etilen glikol meliputi :
4.2.1. Limbah Proses
Berupa limbah padat seperti katalis bekas, limbah akibat zat zat yang terbuang, bocor,
atau tumpah. Khusus limbah dari katalis bekas, berdasarkan PP RI Nomor 18 Tahun 1999
Tentang Pengolahan Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun, termasuk kategoro Limbah B3
(Bahn Berbahaya dan Bracun) dari sumber yang spesifik sehingga dalam penangannannya
harus dikirim ke pengumpul limbah B3 sesuai dengan peraturan pemerintah Republik
Indonesia tersebut dan dalam pengelolaannya, limB3 dikirim ke PPl1 Cileungsi, Bogor,
Indonesia
4.2.2. Limbah Gas
Emisi gas yang dihasilkan oleh pabrik pembuatan etilen glikol antara lain gas CO2,
etilen oksida, etilen karbonat, dan uap air. Diketahui bahwa emisi maksimum gas etilen oksida
UNIVERSITAS INDONESIA

29

MAKALAH PETROKIMIA : ETILEN-KELOMPOK 3


dan etilen karbonat per ton produk proses yang menghasilkan emisi tersebut adalah 3 4 atau
0,03% - 0,04% (Nalco,1986), sedangkan emisi gas etilen oksida 0,0043% dan etilen karbonat
0,0003%. Emisi gas tersebut telah memenuhi standar Keputusan Menteri Negara Lingkungan
Hidup Nomor Kep. 13/Menlh/3/1995 Tentang Baku Mutu Emisi Sumber Tidak Bergerak
sehingga dapat langsung dilepaskan ke udara. Sedangkan gas karbon dioksida dan uap air dapat
langsung dibuang di udara karena merupakan emisi gas yang tidak berbahaya.
4.2.3. Limbah cair pencucian peralatan pabrik
Limbah ini diperkirakan mengandung kerak dan kotoran yang melekat pada peralatan
pabrik
4.2.4. Limbah Domestik
Limbah ini mengandung bahan organik sisa pencernaan yang berasal dari kamar mandi
lokasi pabrik, serta limbah dari kantin berupa limbah padat dan limbah cair. Limbah domestik
dari pabrik etilen glikol diolah pada septic tank yang tersedia di lingkungan pabrik sehingga
tidak membutuhkan pengolahan tambahan
4.2.5. Limbah Laboratorium
Limbah yang berasal dari laboratorium ini mengandung bahan bahan kimia yang digunakan
unuk menganalisa mutu bahan baku yang dipergunakan dan mutu produk yang dihasilkan, serta
yang dipergunakan untuk penelitian dan pengembangan proses
Pengolahan limbah cair pabrik ini dilakukan dengan menggunakan kolam stabilisasi. Alasan
pemilihan kolam stabilisasi yaitu adalah :
-

Lebih murah dan mudah dibandingkan pengolahan limbah yang lain

Lebih mudah penanganannya dibandingkann pengolahan limbah lainnya

Lahan yang digunakan tidak terlalu besar karena debit limbah sedikit

Pengolahan limbah dimulai dari kolam stabilisasi. Kolam stabilisasi tersebut terdiri dari :
a. Kolam Anaerob
memiliki kedalaman optimal 4 meter, efektif untuk beban BOD tinggi dan hasil proses oksidasi
menghasilkan gas seperti CH4, H2S, dll.

UNIVERSITAS INDONESIA

30

MAKALAH PETROKIMIA : ETILEN-KELOMPOK 3


b. Kolam Fakultatif
Dimana proses yang terjadi anaerob dan aerob, kedalaman lebih dari 0,3 meter
c. Kolam maturasi
Beroperasi secara aerobik, digunakan untuk menghilangkan bakteri faecal juga
berfungsi untuk penghilangan FC(Faecal Coliform) yaitu penghilangan suatu
organisme yang berfungsi sebagai indikatro adanya limbah patogen

UNIVERSITAS INDONESIA

31

MAKALAH PETROKIMIA : ETILEN-KELOMPOK 3


BAB V
KESIMPULAN

1. Etena (ethylene) adalah senyawa kimia yang memiliki rumus C2H4 yang memiliki sifat-sifat :
olefin paling ringan, tidak berwarna, tidak berbau, dan mudah terbakar.

2. Kebutuhan etilen di Indonesia mengalami peningkatan disebabkan berkembangnya industri-

industri yang memanfaatkan etilen sebagai bahan baku, diantaranya sebagai industri
pembuatan polietilena sebagai bahan baku pembuatan plastik, industri pembuatan etil alkohol
(etanol), industri pembuatan etilena glikol sebagai bahan baku pembuatan serat buatan dan
sebagai bahan pendingin, industri pembuatan stirena, dimana stirena dapat dipolimerisasikan
membentuk polistirena, dan industri pembuatan kloroetana sebagai bahan baku pembuatan
timbal tetraetil.

3. Pembuatan etilen terdapat dua jenis proses yang dapat dilakukan, yaitu thermal cracking dan
dehidrasi etanol. Thermal cracking dilakukan dengan memecah etana pada suhu tinggi,
sedangkan dehidrasi etanol dilakukan dengan mereaksikan memanaskan etanol bersama
alumina dan silika pada suhu tinggi.

4. Parameter operasi yang harus diperhatikan dalam pebuatan etilen adalh suhu operasi.

5. Limbah yang dihasilkan dalam industri etilen dan etilen glikol antara lain limbah padat, cair
dan gas dimana penanganan dari tiap-tiap limbah berbeda. Untuk limbah pada dapat dijual
kembali, limbah cair harus dibuat unit pengolahan limbah, dan limbah gas harus diolah terlebih
dahulu sebelum dilepaskan ke udara.

UNIVERSITAS INDONESIA

32

MAKALAH PETROKIMIA : ETILEN-KELOMPOK 3


DAFTAR PUSTAKA
Anonim. 2013. Ethylen http://repository.usu.ac.id /bitstream/ 123456789/31 682/5/ Chapter%
20I.pdf diakses 19 Maret 2014
Odien, D. 2014. PT Chandra Asri http://www.scribd.com/doc/50188693/PT-Chandra-Asri
diakses 19 Maret 2014
Priejanto H, dkk. 2014. Nafta atau Naphta http://www.scribd.com/doc/136254523/NaftaAtau-Naphtha diakses 19 Maret 2014
Kuncoro N, Nezha, N. 2010. Perancangan Pabrik Ethylene dari Refinery Gas Dengan Proses
Thermal Cracking http://eprints.uns.ac.id/3305/1/165560109201012201.pdf diakses 19
Maret 2014
Malik, A. 2012. Etilen Glikol http://adammalikphd. blogspot. com/ 2012 / 10 /vbehaviorurldefaul tvmlo.html diakses 19 Maret 2014
PRA RANCANGAN PABRIK PEMBUATAN ETILEN GLIKOL DARI ETILEN OKSIDA
DENGAN PROSES KARBONASI DENGAN KAPASITAS 80000 TON/TAHUN. TUGAS
AKHIR
OLEH
WULAN
PRATIWI
FT
USU
TAHUN
2009
http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/11733/1/10E00079.pdf/

TUGAS AKHIR PRARANCANGAN PABRIK ETHYLENE DARI REFINERY GAS


DENGAN PROSES THERMAL CRACKING KAPASITAS 400000 TON / TAHUN OLEH
NOVAN DWI KUNCORO DAN NICOLAUS NEZHA NUNEZ MAHASTI FT UNS 2010
http://eprints.uns.ac.id/3305/1/165560109201012201.pdf

UNIVERSITAS INDONESIA

33