Anda di halaman 1dari 26

REFERAT

Invaginasi

DISUSUN OLEH :
Angeline Fanardy (406138119)

PEMBIMBING :
Dr. Johan Lucas,spB

Kepaniteraan Klinik Ilmu Bedah


Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara
Rumah Sakit Umum Daerah Ciawi
2 Februari 2015 11 April 2015

LEMBAR PENGESAHAN

Nama / NIM

Angeline / 406138119

Fakultas

Kedokteran Umum

Universitas

Tarumanagara

Tingkat

Studi Profesi Dokter

Bidang Pendidikan

Program Pendidikan Profesi Dokter

Periode Kepaniteraan Klinik :

2 Februari 2015 11 April 2015

Judul Referat

Invaginasi

Diajukan

Februari 2015

Pembimbing

dr. Johan Lucas,spB

Telah diperiksa dan disahkan tanggal :..................................

Mengetahui,

Ketua SMF Bedah dan Pembimbing

dr. Johan Lucas sp.B

KATA PENGANTAR
Puji syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas seluruh bimbingan dan kasih karunia-Nya,
sehingga penulis sanggup menulis referatnya dengan judul INVAGINASI, sehingga referat ini
dapat diselesaikan dengan baik dan tepat waktu.
Referat ini disusun dalam rangka memenuhi tugas akhir Kepaniteraan Ilmu Penyakit
Anak Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara di Rumah Sakit Umum Daerah Kota
Semarang periode 2 Februari 2015 11 April 2015. Selain itu, besar harapan dari penulis
bilamana referat ini dapat membantu proses pembelajaran dari pembaca sekalian.
Dalam penulisan referat ini, penulis telah mendapat bantuan, bimbingan, dan kerjasama
dari berbagai pihak,maka pada kesempatan ini penulis ingin menyampaikan terimakasih kepada :
1. dr. Johan Lucas sp.B, selaku ketua SMF Bedah dan pembimbing kepaniteraan klinik ilmu
Bedah di RSUD Ciawi.
2. dr. Relly sp.B
3. dr. Dhevariza PD sp.OT
4. dr. Tsani sp.OT
5. dr. Ooki Nico Junior sp.B(K)Onk
6. dr. Sony sp.U
7. dr. Husdal sp.BS
8. Rekan - Rekan diklat RSUD Ciawi, IGD RSU Ciawi, Bangsal Jasmine dan Bangsal
Anggrek yang telah banyak membantu dan membimbing penulis selama berada di RSUD
Ciawi.
9. Rekan-rekan Anggota Kepaniteraan Klinik di Bagian Bedah RSUD Ciawi periode 2
Februari 2015 11 April 2015
Penulis menyadari bahwa referat ini tidak luput dari kekurangan karena kemampuan dan
pengalaman penulis yang terbatas. Oleh karena itu, penulis mengharapkan kritik dan saran yang
bermanfaat untuk mencapai referat yang sempurna.
Akhir kata, semoga referat ini bermanfaat bagi para pembaca.
Bogor, 12 Februari 2015

Penyusun
Angeline Fanardy 406138119

DAFTAR ISI
HALAMAN PENGESAHAN

KATA PENGANTAR

DAFTAR ISI

BAB I PENDAHULUAN

BAB II ISI
A. Anatomi

B.
C.
D.
E.
F.
G.
H.
I.
J.
K.

11
11
12
13
14
15
18
23
24
24

Definisi
Etiologi
Patofisiologi
Klasifikasi
Manifestasi Klinis
Diagnosis
Penatalaksanaan
Diagnosa Banding
Komplikasi
Prognosis

BAB III PENUTUP


A. Kesimpulan

25

DAFTAR PUSTAKA

26

BAB I
PENDAHULUAN
Intususepsi dikenal juga dengan nama Invaginasi . Intususepsi merupakan penyebab
tersering dari obstruksi usus akut pada bayi, ketika satu bagian atas dari usus invaginasi ke
bagian bawah dari usus tersebut. Jika progress dari intususepsi ini tidak di tatalaksana segera,
dapat berakibat fatal. Kematian yang disebabkan oleh intususepsi jarang ditemukan di negara
maju, ini disebabkan waktu diagnosis yang cepat dan terapi operatif. Di negara berkembang,
pasien mungkin ditemukan telah dalam kondisi serius, dan angka kematian yang tinggi karena
terbatasnya akses kesehatan. 1 65% kasus intususepsi timbul pada bayi berusia kurang dari 1
tahun dengan insiden puncak antara bulan kelima dan kesembilan kehidupan. Walaupun keadaan
ini bisa timbul pasca bedah, yang hanya melibatkan usus halus dalam 86% demikian, atau bisa
timbul pada anak yang lebih besar dengan lesi seperti polip atau divertikulum meckel sebagai
titik pembawanya. Biasanya intususepsi yang terjadi pada bayi, tidak diketahui sebab pastinya.
Pada anak di bawah usia 4 tahun , 95% invaginasi dimulai pada atau dekat katup ileosekalis.
Ileo-colica yang paling banyak ditemukan (75%), ileoileocolica 15%, lain-lain 10%,
paling jarang tipe appendicalcolica1. Invaginasi sering dijumpai pada umur 3 bulan - 2 tahun,
paling banyak 5 - 9 bulan. Prevalensi penyakit diperkirakan 1 - 2 penderita di antara 1000
kelahiran hidup. Anak lelaki lebih banyak daripada perempuan, 3 : 1 2 . Pada umur 59 bulan
sebagian besar belum diketahui penyebabnya. Penderita biasanya bayi sehat, menyusui, gizi baik
dan dalam pertumbuhan optimal. Ada yang menghubungkan terjadinya invaginasi karena
gangguan peristaltik, 10% didahului oleh pemberian makanan padat dan diare3.
Diare dan invaginasi dihubungkan dengan infeksi virus, karena pada pemeriksaan tinja
dan kelenjar limfa mesenterium, terdapat adenovirus bersama-sama invaginasi. 4 Invaginasi pada
umur 2 tahun ke atas, biasanya bersama-sama divertikel Meckel, polip, hemangioma dan
limfosarkoma. Infeksi parasit sering juga menyertai invaginasi anak besar. 2.5

BAB II
ISI
A. Anatomi
I.
Usus Halus
Secara anatomi usus halus dibagi menjadi tiga bagian yaitu duodenum, jejunum, dan
ileum. Panjang duodenum kira-kira 20 cm, jejenum 100-110 cm, sedangkan ileum 150-160 cm.
Jejunoileum memanjang dari ligamentum Treitz ke katup ileosekal. Jejunum lebih besar dan
lebih tebal jika dibandingkan dengan ileum, dan hanya memiliki satu atau dua arcade valvular
dibandingkan empat sampai lima pada ileum.
Usus kecil digantung oleh mesenterium yang membawa pasokan vascular dan
limfatik.Mesenterium berjalan secara oblik dari kiri L2 ke kanan dari sendi S1 dan bersifat
sangat mobile.Pasokan darah ke jejunum dan ileum melalui arteri mesenterika superior, yang
juga melanjutkan pasokan sampai kolon transversal proksimal. Arcade vaskular dalam
mesenterium menyediakan pasokan kolateral. Drainase vena sejajar dengan pasokan arteri,
membawa ke vena mesenterika superior, bergabung dengan vena splenika di belakang pancreas
untuk membentuk vena porta.Drainase limfatik dari dinding usus melalui nodus mesenterikus ke
nodus mesenterikus superior ke dalam sisterna kili dan akhirnya ke duktus torasikus.Lipatan
mukosa membentuk plica plika sirkularis transversal sirkumferensial. Persarafannya adalah
parasimpatis dan mempengaruhi sekresi serta motilitas . Simpatik berasal dari nervus splanikus
melalui pleksus seliaka, mempengaruhi sekresi dan motalitas usus serta vascular dan membawa
aferen rasa nyeri.1

Gambar 1. Anatomi usus halus


Dinding usus halus di bagi dalam 4 lapisan :
1. Tunica Serosa.
Terdiri dari jaringan ikat longgar yang dilapisi oleh mesotel.
2. Tunica Muscularis.
Dua selubung otot polos tidak bergaris membentuk tunica muskularis usus halus.Lapisan
ini paling tebal di dalam duodenum dan berkurang dalamnya kearah distal.Lapisan
luarnya stratum longitudinale dan lapisan dalamnya stratum sirkulare.Plexus
myentericus (Auerbach) dan saluran limfe terletak di antara kedua lapisan otot ini.
3. Tunica Submukosa.
Tunica Submukosa terdiri dari jaringan ikat longgar yang terletak diantara tunika
muskularis dan lapisan tipis lamina muskularis mukosa, yang terletak dibawah
mukosa.Dalam ruang ini berjalan jalinan pembuluh darah halus dan pembuluh limfe.Juga
ditemukan neuroplexus Meissner.
4. Tunica Mukosa.
Tunica mukosa usus halus, kecuali pars superior duodenum tersusun dalam lipatan
sirkuler tumpang tindih yang berinterdigitasi secara transversa. Masing- masing lipatan
ini ditutup dengan tonjolan vili.

Lipatan dan vili lebih banyak di dalam jejunum dibandingkan di dalam ileum, sehingga
jejunum bertanggung jawab lebih besar dalam absorbsi.
Ada dua area dalam tingkatan submukosa dan bagian spesifik usus halus :
1. Plaque peyer
Plaque peyer terutama berada di dalam ileum dan lebih banyak ke distal.Ia terdiri dari
agregasi lymphaticus yang dikelilingi oleh plexus lymphaticus di atas permukaan
mesenterica usus.
2. Glandula Brunner
Glandula Brunner ada hampir seluruhnya di dalam duodenum, tetapi di dalam jejunum
proximal juga terdapat di proximal dan menurun dengan penuaan.

II.

Usus Besar

Usus besar terdiri dari sekum, kolon dan rectum, panjangnya sekitar 1,5 meter,
terbentang dari ileum terminalis sampai anus. Diameter terbesarnya pada saat kosong 6,5 cm
dalam sekum, dan berkurang menjadi 2,5 cm dalam sigmoid.Pada sekum terdapat katup
ileosekal dan apendiks yang melekat pada ujung sekum.Katup ileosekal mengendalikan aliran
kimus dari ileum ke dalam sekum dan mencegah terjadinya aliran balik bahan fekal dari usus
besar ke usus halus.
Kolon dibagi lagi menjadi kolon ascenden, tranversum, descenden dan sigmoid.Tempat
kolon membentuk kelokan tajam pada abdomen kanan disebutfleksura hepatica dan kiri disebut
fleksura lienalis.

Gambar 2. Anatomi usus besar

Dinding kolon terdiri dari 4 lapisan, yaitu:


1. Tunica Serosa
Membentuk apendises epiploica, yaitu kantong-kantong kecil yang berisi lemak dan
menonjol dari serosa, kecuali pada rectum.
2. Tunica Muscularis
Terdiri atas stratum longitudinal di sebelah luar dan stratum circular di sebelah dalam.
Stratum circular membentukm.Sphincter ani internus sedangkan stratum longitudinale
membentuk 3 pita yang disebut taenia coli, yang lebih pendek dari kolon itu sendiri
sehingga membentuk kolon berlipat-lipat seperti kantong (haustrae).
3. Tunica Submucosa
Dibentuk oleh jaringan penyambung longgar yang berisi pembuluh darah dan kelenjar
getah bening.
4. Tunica Mukosa
Licin karena tidak mempunyai vili, permukaan dalamnya mempunyai lipatan-lipatan
berbentuk bulan sabit karena tidak mencapai seluruh lingkaran lumen dan dinamakan
plicae semilunares.

Usus besar secara klinis dibagi menjadi belahan kiri dan kanan berdasarkan suplai darah
yang diterimanya.Arteri mesenterika superior memperdarahi belahan kanan yaitu sekum, kolon
ascenden dan 2/3 proximal kolon transversum.Sedang

arteri

mesenterika

inferior

memperdarahi 1/3 kolon transversum, kolon descenden, sigmoid dan bagian proximal rectum.
Arteri mesenterika superior akanbercabang ke a.ileokolika, a.kolika dextra, sedangkan arteri
mesenterika inferior akan bercabang ke a.kolika sinistra, a.sigmoid, a.hemoroidalis superior.
Aliran balik vena dari kolon berjalan parallel dengan arterinya. V.mesenterika superior
untuk kolon ascenden dan transversum.Sedang v.mesenterika inferior untuk kolon descenden,
sigmoid dan rectum.
Rektum disuplai oleh a.hemoroidalis superior (cabang dari a.mesenterika inferior) dan
a.hemoroidalis inferior (cabang dari a.pudenda interna).Sedang aliran venanya yaitu
v.hemoroidalis superior dan inferior.

Gambar 3. Perdarahan usus


Aliran limfe pada rectum yaitu, inguinal, kelenjar iliaka interna, kelenjar para
kolik, kelenjar di mesenterium, dan kel.para aorta.
Usus besar diperarafi oleh sistem otonom kecuali sfingter externa diatur secara
volunter.Kolon dipersarafi oleh system parasimpatis yang berasal dari n.splannikus dan pleksus
10

presakralis serta serabut yang berasal dari n.vagus.Sedangkan rectum dipersarafi oleh serabut
simpatis yang berasal dari plexus mesenterikus inferior dan dari system parasakral yang
terbentuk dari ganglion simpatis L 2-4 serta serabut simpatis yangberasal dari S 2-4.

B. DEFINISI
Invaginasi disebut juga intususepsi adalah suatu keadaan dimana segmen usus masuk ke
dalam segmen lainnya; yang bisa berakibat dengan obstruksi / strangulasi. Umumnya bagian
yang proksimal (intususeptum) masuk ke bagian distal (intususepien).

Gambar 3. Intususepien dan Intususeptum

C. ETIOLOGI
Terbagi dua :
1. Idiophatic
2. Kausal
I. Idiophatic
Menurut kepustakaan 90 95 % invaginasi pada anak dibawah umur satu tahun tidak
dijumpai penyebab yang spesifik sehingga digolongkan sebagai infatile idiphatic
intussusceptions. Pada waktu operasi hanya ditemukan penebalan dari dinding ileum
terminal berupa hyperplasia jaringan follikel submukosa yang diduga sebagai akibat infeksi
virus. Penebalan ini merupakan titik awal (lead point) terjadinya invaginasi.
II. Kausal
11

Sebagian besar invaginasi belum diketahui penyebabnya, namun berdasarkan fakta-fakta


yang dikumpulkan diperkirakan penyebab invaginasi adalah:
A. Adanya penebalan Plaque Peyer akibat suatu proses dari infeksi virus pada usus.
Adenovirus ditemukan dari limfonodi mesenterika pada pembedahan dan juga dari
biakan permukaan dengan presentase yang lebih tinggi pada anak dengan invaginasi
daripada control. Invaginasi pada anak biasanya disebut idiopatik, dimana disebabkan
oleh penebalan plaque Peyeri yaitu suatu jaringan limfoid di dinding ileum bagian distal,
yang dapat merangsang peristaltic usus sebagai upaya untuk mengeluarkan massa
tersebut sehingga menyebabkan invaginasi.
B. Adanya perubahan flora usus sehingga timbul peristaltic yang meniggi.
Perubahan flora biasa terjadi pada usia 6-9 bulan sehubungan dengan perubahan pola
makan pada bayi. Pada saat ini peristaltic anak akan meningkat dan dapat menyebabkan
terjadinya invaginasi.
C. Gerakan peristaltic yang berlebihan seperti pada polip usus, divertikel Meckel, limfoma,
hemangioma, leiomioma, leiosarkoma, dan mesenteric hematom merupakan pencetus
pada anak di atas usia 2 tahun atau orang dewasa.
Sekali usus bagian proximal masuk ke bagian usus distal, oleh adanya peristaltic, maka
bagian usus proximal ini akan tetap ada dan bahkan lebih jauh masuk dalam usus bagian distal.

D. PATOFISIOLOGI
Terdapat berbagai variasi etiologi yang mengakibatkan terjadinya invaginasi pada orang
dewasa yang pada intinya adalah gangguan motilitas usus yang terdiri dari dua komponen yaitu
satu bagian usus yang bergerak bebas dan satu bagian usus lainya yang terfiksir atau kurang
bebas dibandingkan bagian lainnya.Karena peristaltik bergerak dari oral ke anal, sehingga
bagian yang masuk kelumen usus adalah yang arah oral atau proksimal. Namun, pada keadaan
khusus seperti pada pasien pasca gastrojejunostomi dapat terjadi sebaliknya atau yang disebut
retrograd intususepsi. Keadaan lain yang sering menyebabkan invaginasi adalah karena suatu
disritmik peristaltik usus. Akibat adanya segmen usus yang masuk kesegmen usus lainnya
dinding ususakanterjepit sehingga aliran darah menurun dan keadaan akhir adalah akan
menyebabkan nekrosis dinding usus.
12

Perubahan patologik yang diakibatkan intususepsi terutama mengenai intususeptum.


Perubahan pada intususeptum ditimbulkan oleh penekanan bagian ini oleh karena kontraksi dari
intususepien, dan juga karena terganggunya aliran darah sebagai akibat penekanan dan tertariknya
mesenterium. Edema dan pembengkakan dapat terjadi sedemikian besarnya sehingga
menghambat reduksi. Adanya bendungan menimbulkan perembesan lendir dan darah ke dalam
lumen yang biasa disebut red currant jelly, selain itu dapat juga terjadi ulserasi pada dinding
usus. Sebagai akibat strangulasi tidak jarang terjadi gangren yang dapat berakibat lepasnya bagian
yang mengalami prolaps.Pembengkakan dari intisuseptum umumnya menutup lumen usus.Akan
tetapi tidak jarang pula lumen tetap patent, sehingga obstruksi komplit kadang-kadang tidak
terjadi pada intususepsi.Proses strangulasi tersirat oleh adanya rasa sakit & perdarahan per rectal.
Serangan sakit mula-mula hilang timbul namun kemudian menetap, gelisah sewaktu serangan
dan sering disertai rangsangan muntah.
Puncak invaginasi dapat berjalan sampai ke kolon tranversum, desenden, sigmoid,
bahkan sampai melewati anus.Tanda ini harus dibedakan dari prolaps rectum. Proses obstruksi
usus sebenarnya sudah dimulai sejak invaginasi terjadi, tetapi penampilan klinik obstruksi
memerlukan waktu. Umumnya setelah 10-12 jam sampai menjelang 24 jam gejala.
E. KLASIFIKASI
Lokasi pada saluran cerna yang sering terjadi invaginasi merupakan lokasi segmen yang
bebas bergerak dalan retroperitoneal atau segemen yang mengalami adhesive. Invaginasi
diklasifikasikan menjadi 4 kategori berdasarkan lokasi terjadinya:
1. Entero-enterika : usus halus masuk ke dalam usus halus
2. Colo-kolika: kolon masuk ke dalam kolon
3. Ileo-colica: ileum terminal yang masuk ke dalam kolon asendens
4. Ileosekal: ileum terminal masuk ke dalam sekum di mana lokus minorisnya adalah katup
ileosekal.
Invaginasi umumnya berupa intususepsi ileosekal yang masuk naik ke kolon asendens
dan mungkin terus sampai keluar dari rektum.
F. MANIFESTASI KLINIS
Gejala yang timbul cenderung bersifat tiba-tiba, karena anak biasanya dalam keadaan gizi
yang baik, lalu secara tiba-tiba menangis kesakitan sehingga bayi akan cenderung menarik lutut
13

ke arah perut yang berlangsung beberapa menit. Serangan nyeri tersebut kemudian berulang
dengan jarak 10 - 20 menit. Serangan juga diikuti dengan muntah, lalu diluar serangan penderita
akan terlihat lemas dan tertidur, namun terbangun kembali saat serangan datang.
Pada awalnya saat belum terjadi gangguan pasase usus secara total feses yang terlihat
masih dalam batas normal, namunsaat terjadi gangguan total feses mulai bercampur darah segar
dan lendir, yang lama kelamaan tinggal darah segar dan lendir.
Pada pemeriksaan abdomen yang biasa ditemukan adalah adanya suatu massa berbentuk
seperti sosis yang membentang dari daerah hipokondrium kanan dan membentang sepanjang
colon transversum yang dapat teraba saat pasien dalam keadaan tenang. Pada kuadran kanan
bawah biasanya terdapat daerah yang kosong dan cekung yang biasa disebut dances sign, dan
jika invaginasi terus berjalan sampai melewati colon desendens dan sigmoid dapat teraba massa
yang prolaps pada daerah anus.
Pembuluh darah mesenterium yang terjepit mengakibatkan gangguan vonous return dan
mengakibatkan terjadinya kongesti. Akibat dari kongesti vena yang dapat terlihat jelas adalah
adanya peradarahan rektum.Jika cedera pada pembuluh darah sudah besar perdarahan biasanya
berwarna merah kehitaman dan disertai dengan lendir yang biasa disebut sebagai red currant
jelly. Perdarahan yang masih relatif sedikit biasanya dapat ditemukan pada saat melakukan
rectal touche.
Setelah terjadi sumbatan total terdapat tanda-tanda obstruksi seperti perut kembung
dengan gambaran peristaltik yang jelas, serta muntah yang berwarna kehijauan.Dari pemeriksaan
rectal touche didapatkan tonus sphincter yang melemah, dan saat jari ditarik keluar terdapat
darah yang bercampur dengan lendir.4

G. DIAGNOSIS
Diagnosis invaginasi ditegakkan berdasarkan anamnesa, pemeriksaan fisik, serta
pemeriksaan penunjang.
Terdapat gejala khas yang biasa disebut sebagai trias gejala, yaitu:5
1.

Nyeri perut tiba-tiba, yang hilang timbul dengan periode serangan setiap 10 sampai 20
menit.
14

2.

Teraba masa tumor di daerah hipokondrium kanan dan membentang sepanjang colon
transversum yang dapat teraba saat pasien dalam keadaan tenang.

3.

Buang air besar bercampur darah dan lendir.


Namun ada pula yang mengganti terabanya massa dengan muntah yang berwarna

kehijauan, karena sulitnya meraba massa tumor saat penderita terlambat memeriksakan diri.
Kriteria mayor pada invaginasi yakni:
1. Bukti adanya obstruksi saluran cerna
a. Riwayat muntah kehijauan
b. Distensi abdomen dan tidak adanya bising usus atau bising usus abnormal
c. Foto polos abdomen menunjukkan adanya level cairan dan dilatasi usus halus
2. Inspeksi
a. Massa di abdomen
b. Massa di rectal
c. Prolapsus intestinal
d. Foto polos abdomen, USG, CT menunjukkan invaginasi atau massa dari jaringan
lunak
3. Gangguan vaskuler intestinal dan kongesti vena
a. Keluarnya darah per rectal
b. Keluarnya feses yang berwarna red currant jelly
c. Adanya darah ketika pemeriksaan rectum
Adapun kriteria minor untuk invaginasi adalah: usia< 1 tahun, laki-laki, nyeri perut,
muntah, letargi, hangat, syok hipovolemik, foto polos abdomen menunjukkan pola gas usus yang
abnormal.
Berikut ini adalah pengelompokkan berdasarkan tingkat pembuktian, yaitu:
1. Level 1 definite (1 kriteria di bawah ini)
i.

Kriteria pembedahan Invaginasi usus yang ditemukan saaat pembedahan

ii.

Kriteria radiologi air enema atau liquid contrast enema invaginasi


dengan manifestasi spesifik yang dapat dibuktikan dengan enema tersebut

iii.

Kriteria autopsi invaginasi dari usus


15

2. Level 2 Probable ( 1 kriteria di bawah ini)


i.

2 kriteria mayor

ii.

1 kriteria mayor + 3 kriteria minor

3. Level 3 Possible
i.

4/> kriteria minor

Pemeriksaan Laboratorium
Pada pemeriksaan darah rutin ditemukan peningkatan jumlah lekosit atau lekositosis>
10.000/mm3.
Pemeriksaan Radiologi
Ada beberapa pemeriksaan radiology yang dapat digunakan sebagai acuan diagnostik,
antara lain:
1.

Foto polos abdomen


Pada foto polos abdomen didapatkan distribusi udara di dalam usus yang tidak
merata, usus cenderung terdesak ke kiri atas, dan dalam keadaan lanjut terlihat gambaran
obstruksi ususpada posisi tegak dan lateral dekubitus berupa gambaran air fluid level,
serta dapat terlihat free air jika sudah terjadi perforasi.

16

Gambar 4.anak 3 tahun dengan intususepsi pada caecum (a)posisi supinasi


gambaran gas nonobstruktif. Colon acsendense dan caecum sulit diidentifikasi dengan
pasti. (b)posisi decubitus colon ascendens lebih jelas(tanda panah).

2.

Barium enema
Barium enema selain dapat berfungsi sebagai alat diagnostic juga dapat berfungsi
sebagai terapi.Sebagai alat diagnostic barium enema berfungsi jika gejala klinik yang
terlihat sedikit meragukan. Dengan kontras gambaran yang akan terlihat berupa
gambaran cuppingataucoiled spring appearance.

Gambar 5. Gambaran cupping dan coiled spring appearance


3.

Ultrasonografi (USG)

Tanda invaginasi yang dapat terlihat pada USG berupa target lesion atau bisa juga disebut
doughnut sign.

17

Gambar 6. Gambaran target lession atau doughnut sign

H. PENATALAKSANAAN
Tatalaksana invaginasi secara umum mencakup beberapa hal penting sebagai berikut:
1. Resusitasi cairan dan elektrolit
2. Dekompresi maksudnya menghilangkan peregangan usus dan muntah dengan
selang nasogastrik, pemberian antibiotik
3. Reposisi bisa dilakukan dengan konservatif / non operatif dan operatif.
Setelah keadaan umum baik dilakukan tindakan pembedahan, bila jelas telah tampak
tanda-tanda obstruksi usus.Atau dilakukan tindakan reposisi bila tidak terdapat
kontraindikasi.
Dasar pengobatan pada invaginasi ialah reposisi usus yang masuk ke lumen usus
lainnya.Reposisi dapat dicapai dengan barium enema, reposisi pneumostatik atau melalui
pembedahan.
Reduksi Hidrostatik
Metode ini dengan cara memasukkan barium melalui anus menggunakan kateter dengan
tekanan tertentu dengan diikuti oleh X-ray. Mula-mula tampak bayangan barium bergerak
berbentuk cupping pada tempat invaginasi, dengan tekanan hidrostatik sebesar sampai 1 meter
18

air, barium didorong ke arah proksimal. Tekanan hidrostatik tidak boleh melewati 1 meter air
agar tidak terjadi perforasi selain itu tidak boleh dilakukan penekanan manual di perut sewaktu
dilakukan reposisis hidrostatik.
Pengobatan dianggap berhasil bila barium sudah mencapai ileum terminalis, serta pada
saat itu, pasase usus kembali normal, norit yang diberikan akan keluar melalui dubur. Seiring
dengan pemeriksaan zat kontras kembali dapat terlihat coiled spring appearance. Gambaran
tersebut disebabkan oleh sisa-sisa barium pada haustra sepanjang bekas tempat invaginasi
Pada saat sekarang ini barium enema yang digunakan untuk prosedur diagnostic,
kurang lebih 75% berhasil mereduksi invaginasi.Pemberian sedikit sedative yang cukup
sebelum prosedur enema sangat banyak membantu berhasilnya reduksi hidrostatik ini.

Gambar 6. Therapi dengan menggunakan barium enema


Indikasi:
1. Tidak terdapat gejala & tanda rangsangan peritoneum
2. Tidak toksik juga tidak terdapat obstruksi tinggi
3. Tidak dehidrasi
4. Gejala invaginasi kurang dari 48 jam

19

Kontra indikasi:
1. Distensi abdomen yang berlebihan
2. Invaginasi rekuren
3. Gejala invaginasi lebih dari 48 jam
4. Peritonitis
5. Perforasi
Keuntungan reposisi hidrostatik
1. Kemungkinan terjadinya perforasi lebih sedikit
2. Lama perawatan lebih pendek, karena tidak bersifat traumatic
Kerugian reposisi hidrostatik itu sendiri adalah cukup banyaknya kasus invagianasi berulang,
karena tidak dilakukan reseksi.
Reduksi Manual dan Reseksi Usus
Indikasi reduksi manual adalah pada pasien dengan keadaan tidak stabil, didapatkan
peningkatan suhu serta angka lekosit, mengalami gejala berkepanjangan atau ditemukan
penyakit sudah lanjut yang ditandai dengan distensi abdomen, feses berdarah, gangguan sistem
usus yang berat sampai timbul shock atau peritonitis.
Pasien segera dipersiapkan untuk suatu operasi Laparotomi dengan incisi transversal
interspina Jika ditemukan kelainan telah mengalami nekrose, reduksi tidak perlu dikerjakan dan
reseksi segera dilakukan
Pelaksanaan operatif:
1. Pre-operatif
Penanganan intususepsi pada dewasa secara umum sama seperti penangan pada
kasus obstruksi usus lainnya yaitu perbaikan keadaan umum seperti rehidrasi dan
koreksi elektrolit bila sudah terjadi defisit elektrolit.
Pembedahan sudah dapat dilakukan kalau perfusi jaringan sudah cukup yang
dapat diukur secara klinis dari produksi urin, yaitu 0,5 - 1 ml/kgBB/jam melalui kateter.
Kriteria lainnya adalah suhu tubuh kurang dari 38C, nadi kurang dari 120 kali per menit,
20

pernapasan tidak lebih dari 40 kali/ menit, turgor kulit membaik, dan paling utama
kesadaran yang baik.Biasanya dengan pemberian cairan sejumlah 50% dari kebutuhan
(untuk koreksi & kebutuhan normal), perfusi jaringan sudah dapat dicapai.
Pembedahan dan anestesi yang dikerjakan pada waktu perfusi jaringan tidak
memadai akan menyebabkan tertimbunnya hasil-hasil metabolisme yang seharusnya
dikeluarkan dari tubuh, dan hal ini akan mengakibatkan oksigenasi jaringan yang buruk,
yang dapat berakibat kerusakan sel yang irreversible, dan bila menyangkut organ vital
akan menyebabkan kematian.
2. Operatif
Sewaktu operasi awalnya akan dicoba reposisi manual dengan mendorong
invaginatum dari anal kearah sudut ileo-sekal, dorongan dilakukan dengan hati- hati
tanpa tarikan dari bagian proximal.

Gambar 7. Therapi dengan Reseksi manual


Reposisi dengan pembedahan dicapai melalui laparatomi.Setelah dinding perut
dibuka, tindakan selanjutnya tergantung pada temuan yang ada. Reposisi dikerjakan
secara manual diperas seperti memeras susu sapi yang disebut milking, dikerjakan
secara halus dan perlahan dengan sabar, dan diselingi dengan istirahat beberapa waktu
untuk memberi kesempatan agar aliran darah balik yang mengurangi edema sehingga
mempermudah usaha milking selanjutnya. Jangan sekali-kali menarik bagian usus yang
masuk ke dalam usus lainnya, tetapi diperas dari pihak lainnya.
21

Jika terjadi kebocoran usus sebelum atau sesudah milking maka dilanjutkan
dengan reseksi usus.Batas reseksi pada umumnya adalah 10cm dari tepi - tepi segmen
usus yang terlibat, pendapat lainnya pada sisi proksimal minimum 30 cm dari lesi,
kemudian dilakukan anastosmose end to end atau side to side.

Gambar 8. Anastomose end to end


Apabila terdapat kerusakan usus yang cukup luas, danbanyak bagian dari usus itu
yang harus diangkat. Maka pada kasus ini tidak dapat dilakukan anastomosis end to
end, harus colostomy supaya proses digestive tetap berjalan. Jika ditemukan penyebab
yang menjadi factor pencetus seperti divertikulum atau duplikasi maka perlu dilakukan
reseksi.
3. Pasca Operasi

Hindari Dehidrasi

Pertahankan stabilitas elektrolit

Pengawasan akan inflamasi dan infeksi

Pemberian analgetika yang tidak menggangu motilitas usus

I. DIAGNOSA BANDING
Ada beberapa penyakit yang perlu dibedakan dengan invaginasi, antara lain:2
1. Gastroenteritis
22

Anak dengan gastroenteritis cenderung sulit dibedakan dengan innvaginasi. Perlu


diperhatikan perubahan pola penyakit, karakter rasa sakit, karakteristik muntah, dan jenis
perdarahan untuk membedakannya
2. Enterocolitis
Pada enterocolitis terdapat feses yang bercampur darah disertai kram abdomen, namun
hal ini dapat dibedakan dari invaginasi karena sakit cenderung lebih jarang, disertai diare,
dan tetap adanya rasa sakit diantara nyeri.
3. Diverticulum Meckel
Perbedaan invaginasi dan diverticulum Meckel terdapat pada rasa sakit yang biasanya
tidak dirasakan penderita diverticulum Meckel
4. Henoch-Schnlein purpura
Terkadang terdapat gejala perdarahan pada pasien Henoch-Schnlein purpura, namun
yang dapat membedakannya adalah ditemukannya purpura pada penderita HenochSchnlein purpura
5. Prolapsus Recti
Perbedaan prolapsus recti dan invaginasi dapat diketahui dengan melakukan colok dubur,
dimana pada prolapsus recti didapati adanya hubungan antara mukosa dan kulit perianal
sedangkan pada invaginasi didapati adanya celah.

J. KOMPLIKASI
Jika invaginasi terlambat atau tidak diterapi, bisa timbul beberapa komplikasi berat,
seperti kerusakan bahkan kematian jaringan usus, perforasi usus (usus pecah), infeksi, bahkan
kematian pada penderita
K. PROGNOSIS
Intususepsi pada bayi yang tidak ditangani akan selalu berakibat fatal. Angka rekurensi
pasca reduksi intususepsi dengan enema barium adalah sekitar 10% dan dengan reduksi bedah
sekitar 2-5%; tidak pernah terjadi setelah dilakukan reseksi bedah. Mortalitas sangat rendah jika

23

penanganan dilakukan dalam 24 jam pertama dan meningkat dengan cepat setelah waktu
tersebut, terutama setelah hari kedua

BAB III
KESIMPULAN
Invaginasi yang merupakan suatu kedaruratan medis biasa terjadi pada anak kecil berusia kurang
dari satu tahun, yang biasanya belum diketahui penyebabnya, namun pada orang dewasa biasanya
merupakan akibat dari suatu penyakit tertentu.
Diagnosa dapat ditegakkan dengan melihat dari anamnesa, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan
penunjang.Dari anamnesa dapat diketahui adanya riwayat nyeri abdomen yang hilang timbul dan
berulang setiap 10 sampai 20 menit. Dari pemeriksaan fisik dapat ditemukan adanya suatu massa pada
daerah hipogastrium kanan, yang berjalan sepanjang kolon transversum, selain itu dapat juga teraba
dances sign pada daerah invaginasi. Feses penderita cenderung bercampur dengan darah dan lendir
yang jika sudah terjadi obstruksi total akan kehilangan massa feses.
Dari foto polos abdomen dapat dilihat adanya air fluid level jika terjadi perforasi akibat
invaginasi, dari pemeriksaan barium enema dapat terlihat adanya cupping pada daerah invaginasi,
sedangkan pada pemeriksaan USG dapat dilihat adanya target sign.
Terapi dapat dilakukan dengan melakukan reduksi hidrostatik yag menggunakan tekanan
hidrostatik untuk melepaskan ikatan yang terbentuk, atau dengan reduksi secara manual yaitu dengan
operasi baik dengan reseksi ataupun tidak.

24

BAB IV
DAFTAR PUSTAKA
1. Dorlands Illustrated Medical Dictionary, 29th ed. Philadelphia, Pennsylvania: W.B.
Saunders Company, 2000.
2. George, Adam L,. Boise R Lawrence, And Hilder A. Peter. 1997. BoieseBuku Ajar
Penyakit THT. Alihbahasaoleh Caroline Wijaya, Jakarta : EGC.
3. Sabiston, David C. Textbook of Surgery. Elseveir. Philadelphia. 2012
4. Sjamsuhidajat. R, Wim De Jong. 2014. Buku Ajar IlmuBedah ed. 3. Penerbit buku
kedokteran EGC. Jakarta.
5. Schwartz. Principle of Surgery. 9ed. Mc-Graw Hill. US. 2010
6. Blanco FC, Chahine AA, et al. Intususseption; Updated: April 22, 2014;
http://emedicine.medscape.com/article/930708-overview, (Last seen: 28 Mei 2014
7. Ignacio RC, Fallat ME. Intussusception. In: Holcomb GW, Murphy JP, editors. Ashcrafts
pediatric surgery. 5th ed. Philadephia: Saunders Elsevier; 2010.

25

8. Ko SF, Lee TY, Ng SH, Wan YL, Chen MC, Tiao MM, et al. Small bowel
intussusceptions in symptomatic pediatric patients: experiences with 19 surgically proven
cases. World Journal of Surgery. 2002;26(4):438-43.
9. Mayo Clinic [homepage on the Internet]. Arizona: Intussusception; c1998-2011 [cited
2011 Apr 26]. Available from: http://www.mayoclinic.com/health/intussusception/
DS00798

26