Anda di halaman 1dari 13

LAPORAN PRAKTIKUM ANALISA PANGAN

PRAKTIKUM 8

PENGUKURAN INDEKS BIAS DAN SALINITAS DENGAN


REFRAKTOMETER

Oleh :
KELOMPOK 2
INDAH FAUZIAH
SINGGIH PRABOWO
SUHENDRI
NURUL MUSLIHAH A.M

B.1110140
B1110203
B.1110006
B1110281

FAKULTAS ILMU PANGAN HALAL


TEKNOLOGI PANGAN DAN GIZI
UNIVERSITAS DJUANDA
BOGOR

Laporan Praktikum

Tanggal : Sabtu, 21 Desember 2013

PENGUKURAN INDEKS BIAS DAN SALINITAS DENGAN


REFRAKTOMETER
I.

Tujuan
1. Untuk mengetahui Indeks Bias suatu senyawa
2. Dapat menggunakan Refraktometer
3. Mengetahui kadar garam (salinitas) suatu produk

II.

Pendahuluan
Refraktometer ditemukan oleh Dr. Ernest Abbe seorang
ilmuan dari German pada permulaan abad 20. Refraktometer adalah
alat yang digunakan untuk mengetahui indeks refraksi (indeks bias), specific
grafity (rapatan jenis), dan konsentrasi dari suatu zat terlarut. Misalnya ialah
mengukur kadar gula, kadar garam, kadar urine dalam tubuh, maupun protein.
Pada saat pertama kali melakukan pembelian, dilakukan peneraan skala pada
refraktometer untuk menegetahui konsentrasi bahan secara pasti. Semakin kecil
sudut refraksi, maka semakin besar rapatan jenis dan semakin besar pula
konsentrasi suatu zat.
Prinsip kerja refraktometer ialah cahaya polikromatis dari sinar lampu
menyinari day light plate. Kemudian samle diteteskan 2-3 tetes yang diletakkan di
atas prisma. Sample terkena cahaya polikromatis yang diteruskan ke prisma.
Cahaya polikromatis diubah menjadi cahaya monokromatis. Terjadi pemfokusan
pada lensa, dan deiteruskan ke biomaterial skip, sehingga tertera skala. Skala
dibaca menggunaka mata dari eye pieces.
Refraktometer terdapat empat jenis yaitu refraktometer untuk kadar gula,
kadar protein, kadar urine, dan kadar garam (salinitas). Refraktometer salinity
(garam), pada pembacaan skala terdapat specific grafity (rapatan jenis) pada
bagia kiri dan konsentrasi pada bagian kanan. Sedangkan refractometer urine,
terdapat dua pembacaan yaitu indeks bias dibagian kiri, water (air) di bagian
tengah, dan specific grafity (rapatan jenis) di bagian kanan.
Indeks bias adalah perbandingan kecepatan cahaya dalam
udara dengan kecepatan cahaya dalam zat tersebut. Indeks bias
berfungsi untuk identifikasi zat kemurnian, suhu pengukuran

dilakukan pada suhu 20oC dan suhu tersebut harus benar-benar


diatur dan dipertahankan karena sangat mempengaruhi indeks
bias. Harga indeks bias dinyatakan dalam farmakope Indonesia
edisi empat dinyatakan garis (D) cahaya natrium pada panjang
gelombang 589,0 nm dan 589,6 nm. Umumnya alat dirancang
untuk digunakan dengan cahaya putih.
Salinitas adalah banyaknya zat yang terlarut. Zat yang terlarut ini meliputi
garam-garam anorganik, senyawa-senyawa organik yang berasal dari organisme
hidup dan gas-gas terlarut. Fraksi terbesar dari bahan terlarut terdiri dari garamgaram anorganik yang berbentuk ion-ion. Enam jenis anorganik membentuk
99,28% berat dari bahan anorganik padat. Ion-ion adalah klor, natrium, sulfat,
magnesium, kalsium dan kalium, sedangkan lima iom berikutnya yaitu bikarbonat,
bromida, asam borat dan stronsium menambah 0,71% berat, sehingga 11 ion ini
membentuk 99,99% berat zat terlarut (Nybakken, 1992).
Pada praktikum pengukuran indeks bias dan salinitas menggunakan sampelsampel minyak, yaitu minyak sawit, minyak jagung, minyak kelapa, dan minyk
jarak, sedangkan untuk salinitas/mengukur kadar garam menggunakan sampel dari
beberapa produk makanan ringan seperti produk kacang merk sukro dan keripik
singkong, termasuk sampel garam (NaCl).

III.

Tinjauan Pustaka
Refraktometer (ditemukan oleh Dr. Ernest Abbe seorang
ilmuan dari German pada permulaan abad 20) adalah alat ukur
untuk menentukan indeks bias cairan atau padat, bahan
transparan dan refractometry. Misalnya gula, garam, protein,
dsb. Indeks bias sendiri adalah perbandingan kecepatan cahaya
dalam udara dengan kecepatan cahaya dalam zat tersebut.
Indeks bias berfungsi untuk identifikasi zat kemurnian, suhu
pengukuran dilakukan pada suhu 20oC dan suhu tersebut harus
benar-benar
mempengaruhi

diatur

dan

indeks

dipertahankan

bias.

Prinsip

Kerja

karena

sangat

Refraktometer

memanfaatkan refraksi cahaya. Pengukurannya didasarkan atas


prinsip bahwa cahaya yang masuk melalui prisma-cahaya hanya
bisa melewati bidang batas antara cairan dan prisma kerja

dengan suatu sudut yang terletak dalam batas-batas tertentu


yang ditentukan oleh sudut batas antara cairan dan alas.

Gambar 1. Refraktometer
Pembiasan Cahaya
Pembiasan cahaya adalah peristiwa penyimpangan atau
pembelokan cahaya karena melalui dua medium yang berbeda
kerapatan optiknya. Arah pembiasan cahaya dibedakan menjadi
dua macam yaitu:
1. Mendekati Garis Normal
Cahaya dibiakan mendekati garis normal jika cahaya
merambat dari medium optic kurang rapat kemedium optic
lebih rapat, contohnya cahaya merambat dari .udara
kedalam air.
2. Menjauhi Garis Normal
Cahaya dibiaskan mendekati garis normal jika cahaya
merambat dari medium optic lebih rapat kedalam optic
kurang rapat, contoh cahaya merambat dari dalam air ke
udara.

Gambar 2. Pembiasan Cahaya


Ada empat jenis refraktometer utama:
1. Refraktometer

genggam tradisional (traditional handheld

refractometers)
2. Refraktometer

genggam

digital (digital

handheld

refractometers)
3. Laboratorium ataurefraktometer Abbe( Abbe refractometers),
dan
4. Proses refraktometer inline(inline process refractometers).
Bagian-bagian Refraktometer

Gambar 3. Bagian-Bagian Refraktometer


a. Day Light Plate
Day light plate terbuat dari bahan kaca. Fungsi komponen
tersebut ialah mencegah prisma tergores oleh debu atau
benda asing, dan agar sample yang diteteskan pada prisma
tidak jatuh atau tumpah.
b. Prisma

Prisma

merupakan

komponen

yang

sensitive

terhadap

goresan. Prisma berfungsi untuk membaca skala atau indeks


bias dari zat terlarut dan mengubah cahaya polikromatis
menjadi monokromatis.
c. Knop Pengatur Skala
Knop pengatur skala berfungsi untuk mengkalibrasi alat
dengan menggunakan aquades. Cara kalibrasi yaitu obeng
minus diletakkan pada knop pengatur skala, lalu diputar-putar
hingga specific grafity (rapatan jenis) menunjukkan hasil
1.000.
d. Lensa
Lensa pada refraktometer berfungsi untuk memfokuskan
cahaya dan berada dalam bagian handle.
e. Handle (pegangan)
Handle

yaitu

area

genggaman

pada

saat

memegang

refractometer yang dilengkapi dengan grip (permukaan kasar)


agar

tidak

licin

saat

memegang

alat

tersebut.

Handle

berfungsi untuk area memegang refraktometer dan menjaga


suhu tetap stabil. Handle terbuat dari bahan karet karena
karet merupakan bahan isolator yang tahan terhadap panas
dan bahan karet dapat menjaga kestabilan suhu.
f. Biomaterial Skip
Komponen tersebut berfungsi untuk menstabilkan suhu (20 0C)
dengan range suhu 150C 280C dan berada di bagian dalam
handle.
g. Skala
Skala berfungsi sebagai pembacaan specific grafity atau
rapatan jenis(Sp G), indeks refraksi atau indeks bias (N D), dan
konsentrasi suatu zat yang dianalisis. Skala berada di bagian
dalam handle.
h. Lensa Pembesar
Lensa pembesar berfungsi untuk melihat atau mempermudah
ketajaman skala, serta berada di bagian dalam handle.
i. Eye Pieces

Eye Pieces berfungsi untuk melihat pembacaan skala dengan


menggunakan detector mata.
Cara Pengoperasian dan Cara pemeliharaan
Cara Pengoperasian
1. Day light plate dibuka dengan menggunakan ibu jari.
2. Day light plate dan prisma dibersihkan dengan aquades.
3. Kemudian dilakukan penyekaan dilakukan secara satu arah
dan bebas.
4. Apabila refraktometer sudah lebih dari tiga bulan tidak
digunakan,

bleaching

(pemutih

10%)

digunakan

untuk

membersihkan plat-plat yang terbentuk.


5. Lalu kalibrasi dilakukan menggunakan aquades.
6. Aquades diteteskan pada prisma dan jangan sampai ada
gelembung.

Apabila

terdapat

gelembung,

maka

akan

mempengaruhi nilai ND sehingga pengukura tidak tepat.


7. Mata melihat hasil pengukuran dari eye piece hingga ada
garis perbatasan antara biru dan putih yang menunjukkan
hasil pengukuran.
8. Setelah digunakan, prisma dan day light plate dibersihkan
dengan aquades.
9. Kemudian diseka dengan satu arah.
10.
Refraktometer disimpan kembali di dalam box (wadah).

Cara Pemeliharaan
1. Sebelum dan setelah digunakan, prisma dan day light plate
selalu dibersihkan dengan aquades serta diseka dengan tisu.
2. Refraktometer diletakkan pada wadah khusus.
3. Apabila refraktometer tecelup dalam air, segera dikeringkan
dengan udara, lalu dipaparkan terhadap cahaya matahari
agar terhindar dari terbentuknya embun pada permukaan
lensa.
4. Jangan terkena cahaya matahari langsung.
5. Prisma dijaga agar tidak tergores.

Indeks Bias
Indeks bias merupakan salah satu dari beberapa sifat optis
yang penting dari medium. Indeks bias memiliki peran yang
cukup penting di dalam beberapa bidang kimia, pengukuran

terhadap indeks bias secara luas telah digunakan antara lain


untuk mengetahui konsentrasi larutan dan mengetahui komposisi
bahan-bahan penyusun larutan. Indeks bias juga dapat digunakan
untuk mengetahui kualitas suatu larutan.
Penelitian

menunjukkan

bahwa

indeks

bias

dapat

digunakan untuk menentukan kemurnian dari larutan. Dalam


bidang industri makanan dan minuman, indeks bias juga dapat
digunakan untuk mengetahui besarnya konsentrasi gula dalam
produk makanan dan minuman, seperti contoh untuk mengetahui
kandungan gula pasir dalam larutan gula pasir, kandungan gula
batu dalam larutan gula batu, kemurnian madu, kandungan
fruktosa dalam sirup paracetamol, dan garam beryodium.
Indeks

bias

suatu

larutan

dapat

diukur

dengan

menggunakan refraktometer. Metode ini merupkan metode yang


sederhana. Sampel yang digunakan juga relatif lebih sedikit
dibandingkan dengan metode-metode yang lainnya.
Indeks bias dapat dipandang sebagai suatu kemampuan
medium membiaskan (membelokan) arah rambat cahaya. Jika
cahaya bergerak dari vakum atau udara ke medium lainnya,
indeks biasnya disebut dengan indeks bias mutlak medium
tersebut. Pada eksperimen Snellius, nilai indeks bias yang didapat
(n = 1,5) merupakan nilai indeks bias mutlak kaca karena cahaya
bergerak dari vakum udara ke kaca. Secara matematis indeks
bias mutlak suatu benda dapat dirumuskan sebagai berikut.

Keterangan:
n = indeks bias mutlak
c = kecepatan cahaya di vakum/udara
v = kecepatan cahaya di suatu medium
Nilai indeks bias mutlak beberapa medium ditunjukan pada tabel
berikut ini.

Medium

n = c/v

Vakum

1,0000

Udara

1,0003

Air (20C)

1,33

Etil Alkohol

1,36

Kaca Kuarsa

1,46

Kerona

1,52

Flinta

1,58

Kaca Plexi

1,51

Intan

2,42

Salinitas
Salinitas dapat diukur dengan alat yang praktis yaitu
salinometer

atau

Hand

Refractometer.

Penentuan

salinitas

dilakukan dengan meneteskan tetes air contoh, pada bagian


prisma , kemudian nilai salinitas dibaca pada eyepiece. Batas
bagian terang dan gelap yang memotong skala menunjukkan
salinitas

air

contoh.

Menurut Kinne (1964) bahwa salinitas menentukan sifat struktural


dan fungsional organisme melalui perubahan dalam :
1.
2.
3.
4.

Konsentrasi osmose total


Perbandingan relatif yang terlarut
Koefesien absorbsi
Saturasi gas yang terlarut.
Salinitas suatu perairan dipengaruhi oleh adanya aliran air

laut , dan daratan, curah hujan, evaporasi dan pasang surut


(Anggoro, 1984). Salinitas adalah jumlah garam yang dinyatakan
dalam gram yang diperoleh dari beberapa kali penguapan, 1000
gram air sehingga diperoleh berat air yang konstan (Shuter,
1949). Pada

salinitas yang rendah laju metabolisme akan

menurun sehingga pada salinitas tertentu akan menyebabkan


metabolisme berhenti.
Menurut Raymont (1963) menyatakan tinggi rendahnya
salinitas akan mempengaruhi tekanan osmose dimana nantinya

akan mempengaruhi metabolisme sel. Besar kecilnya salinitas


yang terjadi sangat menetukan sifat organisme akuatik yang ada
terutama

plankton

yang

mempunyai

sifat

peka

terhadap

perubahan (Davis, 1955). Salinitas merupakan salah satu faktor


lingkungan yang sangat membatasi kehidupan organisme dan
dapat

mengontrol

pertumbuhan,

reproduksi,

dan

distribusi

organisme (Odum, 1971). Pasang surut sebagai salah satu


kekuatan angin dapat mempengaruhi salinitas, maka tempat yang
pasang surutnya besar pasang naik akan mendorong air laut lebih
dulu ke hulu estuarin sebagai akibatnya pada daerah yang
salinitasnya

berubah-ubah

sesuai

dengan

keadaan

pasang

surutnya (Nybaken, 1988).


IV.

Alat dan Bahan


Alat-alat yang digunakan:
1. Pipet
2. Refraktometer
3. Bekker glass
4. Timbangan
5. Batang pengaduk
6. Sendok tanduk
7. Labu ukur
8. Hotplate
Bahan-bahan yang digunakan:
1. Minyak Sawit Curah
2. Minyak Jagung
3. Minyak Kelapa
4. Minyak Jarak
5. Produk Kacang Merk Sukro
6. Produk Kerupuk Singkong
7. NaCl 1%
8. Aquadest

V.

Cara Kerja
1. Ditetesi refraktometer dengan aquadest
2. Dibersihkan dengan kertas tissue sisa aquadest yang tertinggal
3. Diteteskan sampel yang ingin diketahui salinitas atau indeks biasnya
4. Dilihat ditempat yang bercahaya dan dicatat hasilnya
5. Dibilas kaca prisma dengan aquadest, diusap dengan tissue dan disimpan
refraktometer di tempat kerja

VI.

Data Pengamatan

VII.

Pembahasan
Indeks bias adalah perbandingan kecepatan cahaya dalam udara dengan
kecepatan cahaya dalam zat tersebut. Indeks bias berfungsi untuk identifikasi zat
kemurnian, suhu pengukuran dilakukan pada suhu 20oC dan suhu tersebut harus
benar-benar diatur dan dipertahankan karena sangat mempengaruhi indeks bias.
Harga indeks bias dinyatakan dalam farmakope Indonesia edisi empat dinyatakan
garis (D) cahaya natrium pada panjang gelombang 589,0 nm dan 589,6 nm.
Umumnya alat dirancang untuk digunakan dengan cahaya putih.
Refraktometer adalah alat yang digunakan untuk mengukur kadar/
konsentrasi bahan terlarut. Misalnya gula, garam, protein, dan sebagainya. Prinsip
kerja dari refraktometer sesuai dengan namanya adalah memanfaatkan refraksi
cahaya. Refraktometer ditemukan oleh Dr. Ernst Abbe seorang ilmuwan dari
Jerman pada permulaan abad 20 (Kopkhar, 1990). Refraktometer Abbe merupakan
alat untuk determinasi secara cepat konsentrasi, kemurnian, kualitas- kualitas
dispersi dari sampel cair, padat dan plastik. Brix: 0-95%. Syaratnya, bahan yang
jernih, transparan dan Opaque dapat diukur pada sinar yang ditransmisikan dan
direfleksikan. Prinsip pengukuran dengan sinar yang ditransmisikan. Sinar kasa /
sumber sinar prisma sampel telescope.
Pada praktikum kali ini akan dilakukan penentuan indeks bias beberapa
sampel yaitu minyak sawi curah, minyak jagung, minyak kelapa, dan minyak
jarak. Pengujiian indeks bias ini dapat menentukan kemurnian serta kerusakan
terhadap suatu minyak pangan. Dari data pengamatan, didapatkan bahwa hasil
indeks bias minyak sawit adalah 1,464, dimana literaturnya 1,453-1,456, minyak
jagung 1,471 dimana literaturnya 1,474-1,475, minyak kelapa 1,463 sedangkan

literaturnya 1,448-1,450, dan minyak jarak 1,465 dimana literaturnya 1,477-1,479.


Hasil yang diperoleh dari keempat sampel minyak tersebut tidak sesuai dengan
literatur yang didapat. Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor misalnya sampel
yang diuji memang sudah rusak, alat yang digunakan tidak terkalibrasi atau
standar literatur yang diperoleh sudah berubah.
Besarnya indeks bias suatu minyak dipengaruhi oleh berat molekul, suhu,
ketidakjenuhan serta panjang rantai karbon dari masing- masing minyak tersebut.
Semakin tinggi tingkat ketidak jenuhan suatu minyak maka akan semakin besar
pula nilai indeks bias suatu minyak. Minyak dengan ketidakjenuhan tinggi sangat
rentan terhadap kerusakan- kerusakan yang disebabkan oleh oksidasi otooksidasi
radikal asam lemak jenuh dalam minyak yang berdampak pada timbulnya bau
tengik maupun degradasi rasa dan aroma (Winarno, 1997). Kerusakan- kerusakan
tersebut dapat dipercepat oleh cahaya matahari, panas, peroksida lemak
(hidroperoksida) serta logam- logam berat seperti Cu, Fe, dan Co.
VIII. Kesimpulan
Dari praktikum yang telah dilaksanakan, didapatkan hasil yang tidak
sesuai dengan literatur. Keseluruhan sampel minyak tidak ada yang sesuai dengan
standar literaturnya, dengan hasil pengukuran ada yang melewati standar batas,
ada pula yang kurang dari standar.
Hasil yang didapatkan pada sampel minyak sawit curah yaitu 1,464
dengan literatur antara 1,453 sampai 1,456 sedangkan hasil yang didapatkan
melebihi standar. Untuk sampel minyak jagung didapatkan hasil 1,471 dengan
literatur antara 1,474 sampai 1,475 sedangkan hasil yang didapatkan kurang dari
standar. Untuk sampel minyak kelapa didapatkan 1,463 dengan literatur antara
1,448 sampai 1,450 sedangkan hasil yang didapatkan melebihi standar, dan pada
sampel minyak jarak didapatkan hasil pngukuran 1,465 dengan literatur antara
1,477 sampai 1,479 sedangkan hasil yang didapatkan kurang dari standar.
Hal ini kemungkinan dapat disebabkan oleh beberapa faktor diantaranya
yaitu sampel yang digunakan sudah tidak layak (rusak) atau standar literature yang
telah berubah, selain itu dapat disebabkan karena kesalahan alat yang tidak
terkalibrasi.
Untuk pengujian salinitas, atau kadar garamnya pada sampel kacang merk
sukro kadar garam didapatkan 1,2% dengan hasil pengukuran 1,008; untuk

kerupuk singkong didapatkan 1,003 dan untuk NACl 1% dengan hasil pengukuran
1,007
IX.

Daftar Pustaka
http://kimiatip.blogspot.com/2013/08/Mengukur-Indeks-Bias-Senyawa-DenganAlat-Refraktometer.html#.UrxSkfQW3l0
http://arfiyahtrimeirina.blogspot.com/2012/01/laporan-praktikum-pemeliharaandan_8148.html
http://dkpmm.blogspot.com/2011/04/alat-ukur-salinitas-antara-lain.html
http://mershaly.wordpress.com/2010/01/05/salinitas-perairan/
http://loophee.files.wordpress.com/2011/02/refraktometer9.pdf
http://sigfridgeofret.blogspot.com/2013/01/indeks-bias.html
http://murtyaprilia.blogspot.com/2012/10/refraktometer-dan-polarimeter.html