Anda di halaman 1dari 16

Laporan Kasus

ULKUS TRAUMATIKUS

SURYANTO
041.212.158
Pembimbing: drg. Dewi Priandini, Sp.PM

Bagian Penyakit Mulut


Fakultas Kedokteran Gigi
Universitas Trisakti
Jakarta
2015

BAB I

PENDAHULUAN
Traumatic ulcer merupakan hal yang sering dikeluhkan oleh pasien.
Masyarakat biasa menyebutnya dengan sariawan. Penyebab traumatic ulcer yang
paling sering terjadi yaitu perlukaan mekanis (mechanical injuries), antara lain
adanya pergerakan konstan otot-otot pengunyahan yang pada bagian mukosa
rongga mulut terjadi gesekan dengan gigi dan objek yang keras yang melukai
mukosa, dapat juga terjadi karena mukosa yang tergigit, iritasi dari orthodontic
appliances, restorasi amalgam atau patahan protesa dan gigi. Penyebab lain dari
traumatic ulcer yaitu kebiasaan buruk mencungkil sisa makanan pada sela-sela
gigi dengan menggunakan ujung kuku, serta perlukaan karena thermal dan kimia
(thermal and chemical burns) (1, 4, 13).
Perlukaan pada mukosa yang diakibatkan oleh thermal yaitu makan
makanan atau minum minumam yang terlalu panas, sehingga menimbulkan rasa
terbakar pada rongga mulut (thermal burns). Chemical burns terjadi karena
aspirin yang seharusnya dikonsumsi (diminum) diletakkan pada vestibulum (4, 8).
Ulser dapat sembuh secara spontan dalam 10-14 hari. Jika ulser tidak
hilang lebih dari 2 minggu, biasanya dilakukan biopsi untuk melihat kemungkinan
terjadinya keganasan (13).
Pada laporan kasus ini akan dibahas mengenai traumatic ulcer pada
seorang pasien yang datang ke Bagian Ilmu Penyakit Mulut Rumah Sakit Gigi dan
Mulut Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Trisakti pada bulan September 2013.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. Definisi dan Etiologi


Ulser merupakan suatu defek dalam epitelium berupa lesi dangkal berbatas
tegas serta lapisan epidermis diatasnya menghilang

(6)

. Ulser atau ulkus adalah

suatu luka terbuka dari kulit atau jaringan mukosa yang memperlihatkan
diintegrasi dan nekrosis jaringan yang sedikit demi sedikit

(11)

. Ulser didefinisikan

sebagai putusnya kontinuitas suatu jaringan epitel (3). Traumatic ulcer adalah suatu
ulser yang disebabkan oleh trauma (10).
Ulser rongga mulut sebagian besar disebabkan oleh trauma. Penyebab
traumatic ulcer yang paling sering terjadi yaitu perlukaan mekanis (mechanical
injuries), antara lain adanya pergerakan konstan otot-otot pengunyahan yang pada
bagian mukosa rongga mulut terjadi gesekan dengan gigi dan objek yang keras
yang melukai mukosa, dapat juga terjadi karena mukosa yang tergigit, iritasi dari
orthodontic appliances, restorasi amalgam atau patahan protesa dan gigi.
Makanan keras dan tajam yang melukai mukosa juga dapat menyebabkan
traumatic ulcer. Tergigitnya mukosa oral secara tidak sengaja oleh gigi menjadi
penyebab yang sering terjadi. Ulser bertambah parah jika hal ini terjadi berulang
kali seperti pada saat mukosa teranestesi dan terasa kebas, sehingga tidak terasa
mukosa tergigit (4,8).
Penyebab lain dari traumatic ulcer yaitu kebiasaan buruk mencungkil sisa
makanan pada sela-sela gigi dengan menggunakan ujung kuku, serta perlukaan
karena thermal dan kimia (thermal and chemical burns). Perlukaan pada mukosa
yg diakibatkan oleh thermal yaitu makan makanan atau minum minumam yang
terlalu panas, sehingga menimbulkan rasa terbakar pada rongga mulut (thermal
burns), biasanya terjadi pada palatum keras atau bibir. Penyebab lain yang dapat
menyebabkan ulser adalah instrumen dental yang panas dan mengenai mukosa
oral. Chemical burns terjadi karena aspirin yang seharusnya dikonsumsi
(diminum) diletakkan pada vestibulum, dan berkumur dengan larutan yang
mengandung astringent (4,13).
B. Gambaran Klinis Traumatic Ulcer

Ulser traumatikus merupakan ulserasi dengan penyebab yang jelas. Gejala


ditandai dengan ketidaknyamanan yang muncul 24 atau 48 jam setelah trauma
pada jaringan lunak dalam rongga mulut. Ulserasi yang timbul tergantung dari
agen penyebab trauma dan lokasi tergantung dari daerah yang terkena trauma.
Gambaran klinis dari ulser traumatikus adalah ovoid, berwarna putih kekuningan
dan dikelilingi daerah eritema yang iregular. Ulser biasanya sembuh tanpa
berbekas dalam 10-14 hari, secara spontan atau setelah menghilangkan penyebab.
Apabila ulser terjadi karena panas atau agen thermal, ulser yang terbentuk
biasanya lebih kecil dan terjadi pada palatum durum dan bibir, biasa terjadi pada
remaja dan orang tua. Area ulserasi akan terlihat eritema dan terasa empuk
kemudian akan terbentuk ulserasi beberapa jam setelah trauma, dibutuhkan waktu
beberapa hari agar ulserasi tersebut sembuh tergantung dari keluasan ulser (6,13).

Traumatic Ulcer (8)


C. Diagnosis
Diagnosa ditegakkan dengan anamnesa mengenai gejala penyebab lesi dan
tanda klinis yang muncul. Apabila pasien dapat menyebutkan penyebab dari
ulserasi yang timbul dan ulserasi sembuh tanpa meninggalkan bekas setelah 1-2
minggu, maka tidak ada yang perlu dilakukan terhadap lesi. Namun apabila
setelah 2 minggu lesi tidak juga sembuh atau terbentuk supurasi karena infeksi
sekunder, maka perlu dilakukan biopsi untuk mengetahui adanya kemungkinan
keganasan pada lesi atau terjadi infeksi jamur pada pasien immunocompromised
(6,9)

D. Diagnosis Banding (Reccurent Aphtous Stomatitis)


Reccurent Apthous Stomatitis (RAS) merupakan suatu keadaan yang
ditandai oleh ulkus rekuren pada mukosa oral dan orofaring. Penyebab RAS
sering dikaitkan dengan trauma, stress, faktor mikroba, bakteri, beberapa jenis
makanan, drug reaction, defek imun, ketidakseimbangan hormon, kebiasaan
merokok, defisiensi vitamin B, kelainan gastrointestinal, dan inflammatory bowel
disease (IBD) (12). RAS diklasifikasikan berdasarkan karakteristik klinisnya, yaitu:
1. Recurrent Apthous Stomatitis minor
RAS minor cenderung terjadi pada mukosa bergerak, yaitu pada mukosa
bibir dan pipi, dan jarang terjadi pada mukosa berkeratin seperti palatum
durum dan gusi cekat. RAS minor tampak sebagai ulkus oval, dangkal,
berwarna kuning keabuan dengan diameter 3-5 mm, tidak ada bentuk
vesikel yang terlihat, tepi eritematous yang mencolok mengelilingi
pseudomembran fibrinosa. Keluhan awal timbulnya ulkus ini yaitu rasa
terbakar, diikuti rasa sakit hebat selama beberapa hari. Rekurensi dan pola
terjadinya bervariasi. Ulkus bisa tunggal maupun multiple, dan sembuh
spontan tanpa pembentukan jaringan parut dalam waktu 14 hari. Kebanyakan
penderita mengalami ulser multiple pada 1 periode dalam waktu 1 bulan (8).

RAS Minor (8)


2. Recurrent Apthous Stomatitis mayor
RAS mayor merupakan bentuk yang lebih besar dari apthous minor,
dengan ukuran diameter lebih dari 1 cm, ulser lebih dalam, dan lebih sering
timbul kembali. Bentuk multiple, meliputi palatum lunak, fausea tonsil,
mukosa bibir, pipi, dan lidah, kadang-kadang meluas sampai ke gusi cekat.

Ulkus ini memiliki karakteristik, crateriform, asimetris dan unilateral, pada


bagian tengah nekrotik dan cekung. Ulkus sembuh dalam beberapa minggu
atau bulan, dan meninggalkan jaringan parut.

RAS Mayor (14)


3. Recurrent Apthous Stomatitis herpetiform
RAS herpetiform secara klinis mirip ulkus-ulkus pada herpes primer.
Gambaran berupa erosi kelabu berjumlah banyak, bergabung dan batasnya
menjadi tidak jelas. Awalnya berdiameter 1-2 cm dan timbul berkelompok
10-100 buah. Ulkus dikelilingi daerah eritematosus dan mempunyai gejala
sakit. Biasanya terjadi hampir pada seluruh mukosa oral terutama pada ujung
anterior lidah, tepi-tepi lidah, dan mukosa labial. RAS herpetiform sembuh
dalam waktu 14 hari.

RAS Herpetiform (2)


E. Terapi Traumatic Ulcer
Penatalaksanaan traumatic ulcer dengan menghilangkan penyebab dan
menggunakan obat kumur antiseptik (contohnya klorheksidin 0,2 %) atau
covering agent seperti orabase selama fase penyembuhan. Semua ulser traumatik
harus ditinjau, jika lesi terus menetap lebih dari 10-14 hari setelah faktor

penyebab dihilangkan sebaiknya dilakukan biopsi untuk memastikan adanya


keganasan rongga mulut atau squamous cell carcinoma (5).
Menurut Houston(7), perawatan lesi ulserasi bermacam-macam tergantung
dari ukuran, durasi dan lokasi. Ulserasi akibat trauma mekanis atau termal dari
makanan

biasanya

sembuh

dalam

10-14

hari

dengan

menghilangkan

penyebabnya. Penatalaksanaan terbaik untuk ulserasi yang berhubungan dengan


trauma kimiawi yaitu dengan mencegah kontak dengan bahan kimia penyebabnya.
Trauma elektris pada mukosa oral biasanya dirawat pada bagian luka bakar dan
dipertimbangkan untuk pemberian vaksin jika perlu. Terapi antibiotik (biasanya
penisilin) diberikan untuk mencegah adanya infeksi sekunder jika lesi yang terjadi
parah dan dalam. Kebanyakan traumatic ulcer sembuh tanpa memerlukan terapi
antibiotik. Terapi yang biasa diberikan yaitu:

Menghilangkan iritan atau penyebab


Menggunakan obat kumur
Mengonsumsi makanan yang halus dan lunak
Aplikasi kortikosteroid topikal
Aplikasi anestesi topikal

BAB III
LAPORAN KASUS
Pada bab ini akan diuraikan laporan kasus mengenai pasien yang datang ke
RSGMP Universitas Trisakti pada tanggal 7 maret 2015 dengan diagnosis ulkus
traumatikus.
A. KELUHAN UTAMA
Pasien mengeluhkan kondisi pipi bagian dalam yang sakit perih akibat
tertusuk kawat.
B. ANAMNESIS
Pasien wanita berusia 13 tahun datang ke RSGM USAKTI dengan keluhan
kondisi pipi bagian dalam terasa sakit perih pada saat diam, makan dan bicara.
Pasien mengaku sakit perih tersebut sudah berlangsung selama 1 hari. Pasian
menyadari bahwa luka yang timbul disebabkan oleh komponen alat ortodontik
cekat. Pasien menerima perawatan ortodontik dengan komponen cekat sejak 5
bulang yang lalu. Pasien mengaku sering mengalami luka yang sama setiap
kontrol ortodontik ke dokternya. Pasien mengaku suka mengkomsumsi makanan
yang pedas dan pasien tidak mengkomsumsi rokok dan alkohol. Pasien memiliki
kebiasaan buruk tidur sebelah sisi yaitu miring ke sebelah kiri.
C. RIWAYAT PENYAKIT UMUM
Pasien tidak pernah dirawat di rumah sakit
Hipertensi

:-

DM

:-

Jantung

:-

Hipertensi

:-

Anemia

:-

Alergi

:-

Maag

:-

D. PEMERIKSAAN UMUM
Sklera

: putih

Konjungtiva

: merah muda

Cara berjalan

: normal

Warna kulit

: sawo matang

Kondisi fisik

: sehat

Berat badan

: 40 kg

Tinggi badan

: 135 cm

E. PEMERIKSAAN SEKITAR MULUT (EKSTRA ORAL)


1

Bentuk muka

: oval

Pembengkakan

: Tidak ada kelainan

Kelenjar

: Tidak ada kelainan

Bibir

: Tidak ada kelainan

Kulit sekitar mulut

: Tidak ada kelainan

Lain-lain

: Tidak ada kelainan

F. PEMERIKSAAN RONGGA MULUT


1. Oral hygiene

: Sedang

Karang gigi

: Tidak ada

Oral debris

: Regio 3

Stain

: Tidak ada

2. Mukosa :

Labial

: Tidak ada kelainan

Bukal

: Pada mukosa bukal kanan terdapat lesi cekung

berwarna putih dikelilingi daerah kemerahan dengan ukuran 1x1mm dan


3x0,5mm, berbentuk oval. Pada mukosa bukal kiri terdapat lesi cekung
berwarna putih dikelilingi daerah kemerahan dengan ukuran 2,5x2mm dan

2x1mm
Dasar Mulut

: tidak ada kelainan

3. Gusi :
Tepi bebas Gusi

: tidak ada kelainan

Attached gingival : tidak ada kelainan


4. Lidah :

Dorsal
Ventral
Lateral

: Tidak ada kelainan


: Tidak ada kelainan
: Tidak ada kelainan

5. Palatum :

Palatum molle

: Tidak ada kelainan

Palatum durum

: Tidak ada kelainan

6. Lain-lain

: Tidak ada kelainan

7. Gigi geligi :
G. PEMERIKSAAN GIGI-GELIGI

8 7 6 5 4 3 2 1
8 7 6 5 4 3 2 1

1 2 3 4 5 6 7 8
1 2 3 4 5 6 7 8

H. PEMERIKSAAN RONTGEN
Tidak dilakukan pemeriksaan rontgen
I. PEMERIKSAAN LABORATORIUM
Tidak dilakukan pemeriksaan laboratorium

J. ANALISIS KASUS

Pasien wanita berusia 13 tahun datang ke RSGM USAKTI dengan keluhan


luka di pipi sakit perih sejak 1 hari yang lalu. Luka tersebut disebabkan oleh
komponen alat ortodontik. Sakit perih tersebut dirasakan saat diam, makan dan
bicara. Pada pemeriksaan intra oral diketahui bahwa mukosa bukal kanan terdapat
lesi cekung berwarna putih dikelilingi daerah kemerahan dengan ukuran 1x1mm dan
3x0,5mm, berbentuk oval. Pada mukosa bukal kiri terdapat lesi cekung berwarna putih
dikelilingi daerah kemerahan dengan ukuran 2,5x2mm dan 2x1mm

K. DIAGNOSIS KERJA
-Ulkus traumatikus
-Stomatitis Aphtousa Recurrent
L. DIAGNOSIS TETAP
Ulkus traumatikus

M. RENCANA PERAWATAN

10

1. Identifikasi factor etiologi dan factor resiko : ulkus


traumatikus dengan etiologi trauma akibat komponen alat
ortodontik cekat. Factor resiko terhadap keluhan pasien
adalah pasien suka mengkomsumsi makanan pedas.
2. Pemberian obat : solcoseryl
3. Motivasi : memotivasi untuk banyak mengkomsumsi
makanan bergizi dan istirahat yang cukup.
4. Instruksi : menginstruksikan pasien cara menjaga kebersihan
mulut.
5. Edukasi : mengedukasikan kepada pasien bahwa luka
tersebut diakibatkan oleh komponen alat ortodontik.
N. PERAWATAN
Tindakan yang dilakukan

Tanggal
7- 3 - 2015

Indikasi + anamnesis + foto intra oral dan foto profil


R/ Solcoseryl dental adhesive paste no tube I
S. 3.d.d.1 oles mulut
-------------------------------------Edukasi, motivasi, instruksi

15 4 - 2015

Kontrol 1
- Terlihat lesi sudah menutup dengan sempurna
- Lesi tidak terasa sakit dan tidak terjadi perdarahan saat palpasi
- Tonjolan sudah tidak ada

11

BAB IV
PEMBAHASAN
Pada kunjungan pertama tanggal 7 maret 2015, Pasien datang dengan
keluhan kondisi pipi bagian dalam terasa sakit perih pada saat diam, makan dan
bicara. Pasien mengaku sakit perih tersebut sudah berlangsung selama 1 hari.
Pasian menyadari bahwa luka yang timbul disebabkan oleh komponen alat
ortodontik cekat. Pasien menerima perawatan ortodontik dengan komponen cekat
sejak 5 bulang yang lalu. Pasien mengaku sering mengalami luka yang sama
setiap kontrol ortodontik ke dokternya. Pasien mengaku suka mengkomsumsi
makanan yang pedas dan pasien tidak mengkomsumsi rokok dan alkohol. Pasien
memiliki kebiasaan buruk tidur sebelah sisi yaitu miring ke sebelah kiri.
Pada pemeriksaan ekstraoral tidak ditemukan adanya kelainan. Pada
pemeriksaan intra oral diketahui bahwa mukosa bukal kanan terdapat lesi cekung
berwarna putih dikelilingi daerah kemerahan dengan ukuran 1x1mm dan 3x0,5mm,
berbentuk oval. Pada mukosa bukal kiri terdapat lesi cekung berwarna putih dikelilingi
daerah kemerahan dengan ukuran 2,5x2mm dan 2x1mm.
Lesi cekung diduga merupakan suatu ulkus, yang mana ulkus adalah suatu
kondisi patologis hilangnya epitel. Ulkus merupakan suatu peradangan epitelium mukosa
yang merupakan suatu lesi yang dangkal dan berbatas tegas dimana lapisa epidermal di
atasnya hilang sehingga meninggalkan suatu permukaan cekung dan dibatasi daerah
eritema di sekelilingnya. Dengan penyebab yang paling umum terjadi adalah karena
trauma.
Berdasarkan anamnesis dan pemeriksaan intraoral, dapat ditegakkan diagnosis
pasien mengalami ulkus traumatikus disebabkan oleh iritasi akibat dari penggunaan alat
ortodontik.

Terapi yang diberikan pada pasien adalah aplikasi solcoseryl pada ulkus.
Obat salep solcoseryl digunakan pada kasus ini karena merupakan covering agent
dan mengandung ekstrak protein bebas hewani. Covering agent akan melindungi
mukosa dari infeksi sekunder dan iritasi mekanik sedangkan ekstrak protein bebas
dapat membantu proses metabolism jarirngan. Selain itu, pasien disarankan untuk
menjaga oral hygiene lebih baik sehingga ulkus tidak bertambah parah. Pasien

12

diberi resep solcoseryl untuk dioleskan pada area ulkus 3 kali sehari. Kemudian
pasien diinstruksikan datang kembali untuk kontrol 1 minggu setelah kunjungan
pertama.
Setelah 7 hari, tanggal 15 maret 2015, pasien datang kembali untuk
melakukan kontrol. Terlihat lesi sudah menutup dengan sempurna. Lesi tidak
terasa sakit dan tidak terjadi perdarahan saat palpasi. Tonjolan sudah tidak ada.

13

BAB V
KESIMPULAN
Ulkus adalah kondisi patologis dimana hilangnya jaringan epitel. Ulkus
merupakan suatu peradangan pada epitelium mukosa yang merupakan suatu lesi
yang dangkal dan berbatas tegas dimana lapisan epidermal diatasnya hilang
sehingga meninggalkan suatu permukaan cekung dan dibatasi oleh daerah eritem
Kontrol
1 jenis kelamin.
KunjunganUlkus
pertama
di sekelilingnya.
dapat terjadi pada semua usia dan
semua
Lokasi ulkus umumnya pada mukosa pipi, bibir, palatum, dan tepi perifer lidah.
Masyarakat biasa menyebutnya dengan sariawan.
Ulkus rongga mulut sebagian besar disebabkan oleh trauma. Penyebab
traumatic ulcer yang paling sering terjadi yaitu perlukaan mekanis (mechanical
injuries), antara lain adanya pergerakan konstan otot-otot pengunyahan yang pada
bagian mukosa rongga mulut terjadi gesekan dengan gigi dan objek yang keras
yang melukai mukosa, dapat juga terjadi karena mukosa yang tergigit, iritasi dari
orthodontic appliances, restorasi amalgam atau patahan protesa dan gigi.
Makanan keras dan tajam yang melukai mukosa juga dapat menyebabkan
traumatic ulcer. Tergigitnya mukosa oral secara tidak sengaja oleh gigi menjadi
penyebab yang sering terjadi. Ulser bertambah parah jika hal ini terjadi berulang
kali seperti pada saat mukosa teranestesi dan terasa kebas, sehingga tidak terasa
mukosa tergigit.
Gambaran klinis yang mirip dengan stomatitis aphtosa mengharuskan
dokter gigi lebih teliti dalam menganamnesis dan melihat gambaran klinis dari
lesi. Diagnosis dapat ditegakkan berdasarkan anmnesis dan pemeriksaan intraoral
berupa inspeksi dan palpasi.
Perawatan yang diberikan disesuaikan dengan kebutuhan pasien, sehingga
tepat sasaran dan tidak berlebihan dalam memberikan obat kepada pasien. Apabila
lebih dari 14 hari setelah faktor penyebab dihilangkan dan diberikan obat secara
teratur tidak juga mengalami penyembuhan, dapat dilakukan pemeriksaan
penunjang berupa biopsi untuk memastikan ada tidaknya keganasan.

14

DAFTAR PUSTAKA
1. Bricker, Langlais, and Miller. 1994. Oral Diagnosis, Oral Medicine, and
Treatment Planning 2nd ed. USA : Lea Febiger.
2. Cawson and Odell. 2002. Cawsons Essential of Oral Pathology and Oral
Medicine 7th ed. New York : Churchill Livingstone.
3. Chestnutt, G. Ivor; Gibson , John. Churchills Pocketbooks Clinical Dentistry
3th ed. London : Churchill Livingstone.
4. Coulthard, Paul, et al. 2003. Master Dentistry Vol.1. London : Churchill
Livingstone.
5. Field, A. dan Lesley Longman. 2003. Tyldesleys Oral Medicine 5th ed. Oxford
University Press.
6. Greenberg, M.S; M. Glick. 2003. Burkets Oral Medicine Diagnosis and
Treatment 10th ed. Hamilton. BC Decker Inc.
7.

Houston,

G.

2009.

Traumatic

Ulcers.

Available

online

at

http://emedicine.medscape.com/article/1079501-treatment#showall
(diakses tanggal 27 September 2013).
8. Langlais and Miller. 2000. Atlas Berwarna: Kelainan Rongga Mulut yang
Lazim. Jakarta: Hipokrates.
9. Laskaris, G.2006. Pocket Atlas of Oral Disease 2nd edition. Newyork : Thieme.
10. Mosby. 2008. Mosbys Dental Dictionary 2nd ed. Missouri : Elsevier.
11. Neville, B.W., et. al. 2003. Color Atlas of ClinicalOral Patology. 2nd ed.
London : BC Decker Inc.
12. Scully, Crispian. 2003. Prevention of Oral Disease 4 th ed. New York : Oxford
University Press.
13. Sonis, dkk. 1995. Principles and Practice of Oral Medicine. 2nd ed.
Pennsylvania : W.B. Saunders Company.
14.Http://en.wikipedia.org/wiki/Aphthous_ulcer#Major_ulcerations (diakses
tanggal 27 September 2013)

15