Anda di halaman 1dari 15

BAB I

PENDAHULUAN

I.1. Latar Belakang


Generalisasi yang abstrak mengenai beberapa fenomena dalam kehidupan
masyarakat biasa disebut dengan teori. Dalam melakukan penyusunan generalisasi
tersebut, teori akan selalu menggunakan instrument berupa konsep-konsep. Konsep
itu lahir dari hasil pemikiran manusia dengan pijakan fakta-fakta yang ada, karena
terlahir dari pemikiran manusia, konsep tersebut abstrak sifatnya.1
Bila melihat kondisi kenegaraan, konsep tersebut tentunya akan terpengaruh oleh
konstitusi, demokrasi dan Negara. Konstitusi itu luas, jadi jika konstitusi itu
diartikan sebagai Undang-Undang Dasar, maka hal tersebut merupakan bagian kecil
dari konstitusi.2 Demokrasi pun turut andil dengan kedinamisannya, terlebih setelah
memasuki abad XX dan setelah perang dunia II. 3 Hadirnya sebuah lembaga yang
dinamakan Negara sudah barang tentu menghidupkan konstitusi yang berlandaskan
demokrasi. Trias Politica yang pertama kali dicetuskan oleh John Locke (16321704) dan Montesquieu (1689-1755)4 adalah salah satu buah dari sinergisitas
fenomena.
Trias Politica menghendaki bahwa 3 (tiga) kekuasaan besar (function) yaitu
eksekutif, legislatif dan yudikatif tidak berada pada satu tangan yang sama guna
menghindari penyalahgunaan kekuasaan.5 Pasca bergulirnya reformasi yang ditandai
dengan tumbangnya orde baru 10 tahun silam, disadari atau tidak, saat ini demokrasi
begitu diagung-agungkan di Indonesia, bahkan hampir semua Negara di dunia.
Sebuah konsep yang menyatakan bahwa kedaulatan ada di tangan rakyat dengan
mekanisme yang berbeda-beda di tiap Negara. Sebuah konsep yang menjanjikan
kebebasan, keadilan, kemerdekaan dan kebenaran yang terkandung dalam jiwa

1 Miriam Budiardjo, 2004, Dasar-Dasar Ilmu Politik, PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, hlm 30.
(cet.26).
2 Moh. Kusnardi, Harmaily Ibrahim, 1988, Pengantar Hukum Tata Negara Indonesia, Pusat Studi
HTN FH UI dan CV Sinar Bakti, Jakarta, hlm 65. (cet. 7).
3 Soehino, 1993, Hukum Tata Negara : Sistem Pemerintahan Negara, Liberty, Yogyakarta, hlm 52.
4 Miriam Budiardjo, op.cit. hlm 151.
5 Ibid.

demokrasi asalkan ditempatkan pada proporsi yang tepat. Sehingga ditafsirkan


bahwa demokrasi merupakan salah satu bagian dari hak asasi manusia.6
Para ahli kosmologi menyatakan bahwa realitas alam tegak diatas dualitas,
pluralitas, ketersusunan, dan elemen-elemen yang berbeda.7 Demikian pula tentang
kebangsaan manusia, terdapat pluralitas yang membuahkan perbedaan-perbedaan di
antara mereka.8 Dengan berbagai keanekaragaman tersebut, maka untuk menjamin
keteraturan diperlukanlah sebuah sistem yang rapi, menjanjikan ketertiban, serta
mengatur hak dan kewajiban manusia. Untuk tujuan itulah manusia secara bersama
-sama merencanakan dan melaksanakan fungsi penataan dan pemanfaatan alam bagi
kehidupan individu dan sosialnya dengan membangun sebuah institusi yang
kemudian disebut Negara.9
Negara merupakan integrasi dari kekuasaan politik, ia adalah organisasi
pokok dari kekuasaan politik. Negara adalah agency ( alat ) dari masyarakat yang
mempunyai kekuasaan untuk mengatur hubungan-hubungan manusia dalam
masyarakat

dan

menertibkan

gejala-gejala

kekuasaan

dalam

masyarakat. 10

Pengendalian ini dilakukan berdasarkan sistem hukum dan dengan perantaraan


pemerintah beserta segala alat-alat perlengkapannya. 11 Sistem hukum adalah dasar
legal dari Negara, seluruh struktur dan fungsi Negara ditetapkan oleh hukum. 12
Hukum yang berlaku bagi suatu Negara mencerminkan perpaduan antara sikap, dan
pendapat pimpinan pemerintahan Negara dan keinginan masyarakat luas mengenai
hukum tersebut.13
Permasalahannya terletak pada bagaimana implementasi hukum di lapangan,
apakah sudah sesuai dengan tujuan hukum tersebut dibuat ?. Hal ini tentu saja sangat
menggelitik untuk diteliti, karena setiap aspek kehidupan kita tidak akan terlepas dari
yang namanya hukum. Kemudian dari segi eksternal, bisa jadi ada hal yang
6 Andi Samad Thahir, 2000, Otonomi Daerah, Pemilu dan Pembangunan Politik Bangsa, PUSKAP,
Jakarta, hlm 87.
7 Abu Ridha, Negara dan Cita Cita Politik, PT Syaamil Cipta Media, Bandung, 2004, hlm 1.
8 Ibid, hlm 4 5.
9 Ibid, hlm 6.
10 Miriam Budiardjo, op.cit, hlm 38.
11 Ibid, hlm 39.
12 Ibid, hlm 26.
13 Padmo Wahjono, 1986, Indonesia Negara Berdasarkan Atas Hukum, Ghalia Indonesia, Jakarta,
hlm 23.

menghambat penegakan hukum, misalnya intervensi politik. Politik di Indonesia


tampaknya masih menjadi barang yang paling diagungkan pasca dibukanya kran
partisipasi politik sejak reformasi. Hal ini, mungkin secara tidak langsung dapat
mengganggu proses dan aktivitas hukum yang sedang berjalan, terlebih mengenai
kasus-kasus hukum yang bernuansa politik. Pada dasarnya, kasus hukum tersebut
adalah kasus hukum yang biasa, tapi karena adanya muatan politik menjadikan kasus
tersebut tidak biasa alias politis.

I.2. Rumusan Masalah


Hal yang akan diteliti dan dibahas disini adalah tentang sejauh mana politik
mengintervensi hukum, yang dijabarkan dalam beberapa poin pertanyaan sebagai
berikut :
1. Hubungan seperti apa yang terbangun antara hukum dan politik dalam sistem

ketatanegaraan Indonesia ?.
2. Bagaimana memposisikan hukum dan politik dalam sistem ketatanegaraan
Indonesia ?.
3. Apa solusi konkret yang dapat diimplementasikan dalam rangka menjaga
independensi hukum dari intervensi politik ?.
Rumusan masalah ini akan memberikan pedoman dan arahan dalam mengambil
kesimpulan terhadap permasalahan yang diutarakan.

BAB II
PEMBAHASAN

II.1. Pengertian Hukum


Definisi tentang hukum, kata Prof. Van Apeldoorn, adalah sangat sulit untuk
dibuat, karena tidak mungkin untuk mengadakannya yang sesuai dengan kenyataan. 14
Pendapat tersebut ada benarnya, karena sistem hukum yang berjalan di tiap daerah
berbeda-beda tergantung adat istiadat dan keadaan daerah tersebut pada masa itu.
Perbedaan pengertian hukum dapat juga dilihat dari beberapa sarjana hukum
dibawah ini :15
Prof. Mr. E. M. Meyers dalam bukunya De Algemene begrippen van het
Burgerlijk Recht : Hukum ialah semua aturan yang mengandung pertimbangan
kesusilaan, ditujukan kepada tingkah laku manusia dalam masyarakat, dan yang
menjadi pedoman bagi penguasa-penguasa Negara dalam melakukan tugasnya.
Leon Duguit : Hukum ialah aturan tingkah laku para anggota masyarakat, aturan
yang daya penggunaannya pada saat tertentu diindahkan oleh masyarakat sebagai
jaminan dari kepentingan bersama dan yang jika dilanggar menimbulkan reaksi
bersama terhadap orang yang melakukan pelanggaran itu.
Immanuel Kant : Hukum ialah keseluruhan syarat-syarat yang dengan ini
kehendak bebas dari orang yang satu dapat menyesuaikan diri dengan kehendak
bebas dari orang yang lain, menuruti peraturan hukum tentang kemerdekaan.
Beberapa pendapat tersebut kiranya cukup mewakili bagaimana hukum begitu sulit
untuk didefinisikan, kesukaran tersebut berpengaruh juga kepada para sarjana hukum
Indonesia yang turut mencoba menguraikan definisi hukum antara lain :16
S.M. Amin, S.H. Dalam buku beliau yang berjudul Bertamasya ke Alam
Hukum, hukum dirumuskan sebagai berikut : Kumpulan-kumpulan peraturanaturan yang terdiri dari norma dan sanksi-sanksi itu disebut hukum dan tujuan
hukum itu adalah mengadakan ketatatertiban dalam pergaulan manusia, sehingga
keamanan dan ketertiban terpelihara.
J.C.T. Simorangkir, S.H. dan Woerjono Sastropranoto S.H. Dalam buku yang
disusun bersama berjudul Pelajaran Hukum Indonesia telah diberikan definisi
14 CST Kansil dan Christine ST Kansil, 2002, Pengantar Ilmu Hukum Jilid I, Balai Pustaka, Jakarta,
hlm 8.
15 Ibid, hlm 9.
16 Ibid, hlm 11-12.

hukum seperti berikut : Hukum itu ialah peraturan-peraturan yang bersifat


memaksa, yang menentukan tingkah laku manusia dalam lingkungan masyarakat
yang dibuat oleh badan-badan resmi yang berwajib, pelanggaran mana terhadap
peraturan-peraturan tadi berakibatkan diambilnya tindakan, yaitu dengan
hukuman tertentu.
M.H. Tirtaamidjaja, S.H. Dalam buku beliau Pokok-pokok Hukum Perniagaan
ditegaskan, bahwa : Hukum ialah semua aturan (norma) yang harus diturut
dalam tingkah laku tindakan-tindakan dalam pergaulan hidup dengan ancaman
mesti mengganti kerugian jika melanggar aturan-aturan itu akan
membahayakan diri sendiri atau harta, umpamanya orang akan kehilangan
kemerdekaannya, didenda dan sebagainya.
Pada dasarnya para ahli hukum diatas cukup menyadari bahwa makna hadirnya
hukum adalah untuk menegakan keadilan, membatasi kebebasan manusia yang
bertentangan dengan hak asasi orang lain guna terciptanya ketertiban masyarakat.
Setidaknya dari beberapa pengertian tersebut dapat disimpulkan, sebenarnya apa
yang menjadi unsur-unsur hukum. Unsur-unsur tersebut adalah :17
1. Peraturan mengenai tingkah laku manusia dalam pergaulan masyarakat.
2. Peraturan itu diadakan oleh badan-badan resmi yang berwajib.
3. Peraturan itu bersifat memaksa.
4. Sanksi terhadap pelanggaran peraturan tersebut adalah tegas.

II.2. Pengertian Politik


Ahli politik kenamaan Prof. Miriam Budiardjo dalam bukunya Dasar-dasar Ilmu
Politik menyatakan bahwa jika dianggap bahwa ilmu politik mempelajari politik,
maka perlu kiranya dibahas dulu istilah politik itu. Dalam kepustakaan ilmu politik
ternyata ada bermacam-macam definisi mengenai politik. 18 Seperti halnya hukum,
politik pun memiliki kedinamisannya sendiri. Pada umumnya dapat dikatakan bahwa
politik (politics) adalah bermacam-macam kegiatan dalam suatu sistem politik (atau
Negara) yang menyangkut proses menentukan tujuan-tujuan dari sistem itu dan
melaksanakan tujuan-tujuan itu.19 Namun yang menjadi konsep pokok dalam politik
adalah sebagai berikut :20

17 Ibid.
18 Miriam Budiardjo, op.cit, hlm 8.
19 Ibid.
20 Ibid, hlm 9.
5

1. Negara (state), adalah suatu organisasi dalam suatu wilayah yang mempunyai
2.

3.

4.

5.

kekuasaan tertinggi yang sah dan yang ditaati rakyatnya.


Kekuasaan (power), adalah kekampuan seseorang atau suatu kelompok untuk
mempengaruhi tingkah laku orang atau kelompok lain sesuai keinginan dari
pelaku.21
Pengambilan keputusan (decision making), keputusan adalah membuat
pilihan dari beberapa alternatif, sedangkan istilah pengambilan keputusan
menunjuk pada proses yang terjadi sampai keputusan itu tercapai.22
Kebijaksanaan umum (public policy, beleid), adalah suatu kumpulan
keputusan yang diambil oleh seorang pelaku atau oleh kelompok politik
dalam usaha memilih tujuan-tujuan dan cara-cara untuk mencapai tujuantujuan itu.23
Pembagian (distribution), ialah pembagian dan penjatahan nilai-nilai dalam
masyarakat.24

Ilmu politik mempelajari atau mengkaji politik, dan seperti disebutkan diatas ini
politik itu menyangkut sistem politik (Negara), pengambilan keputusan (decision
making), kebijakan umum (public policy) atau kebijakan (policy), kekuasaan (power)
dan

kewenangan

(authority),

dan

(allocation).25Dari

unsur-unsur

pokok

pembagian
yang

(distribution)

dipaparkan

atau

diatas,

alokasi

setidaknya

memberikan gambaran bagaimana sebenarnya politik itu.

II.3. Korelasi Antara Hukum dan Politik


Politik dan hukum dapat diibaratkan sebagai dua sisi dari satu mata uang logam.
Pengibaratan itu memberi makna bahwa hubungan antara politik dan hukum
sangatlah erat.26 Politik akan berlangsung secara sewenang-wenang, tanpa arah dan
tujuan bila tidak dipasangi rel hukum, sementara hukum pun tidak akan terlahir
tanpa

adanya

proses

politik.

Bila

kita

membahas

atau

membicarakan

21 Ibid, hlm 10.


22 Ibid, hlm 11.
23 Ibid, hlm 12.
24 Ibid, hlm 13.
25 Bintan Regen Saragih, 2006, Politik Hukum, CV Utomo, Bandung, hlm 6.
26 Ibid.
6

penyelenggaraan Negara atau pemerintahan baik di tingkat pusat maupun daerah


maka politik dan hukum selalu mendapat tempat yang utama.27
Pengutamaan dua bidang tersebut merupakan bukti bahwa sistem ketatanegaran yang
dibangun dilandasi dengan hubungan yang sehat antara politik dan hukum. Bahkan
pada masa orde baru bidang hukum selalu disatukan dengan bidang politik atau
pembangunan hukum menjadi bagian dari pembangunan politik. 28 Bintan Regen
Saragih menyatakan hubungan hukum dan politik sebagai berikut :
Hal tersebut bukan berarti bidang politik dan hukum atau masing-masing bidang
tersebut tidak erat kaitannya dengan bidang-bidang lainnya seperti ekonomi,
sosial budaya, hankam, luar negeri dan sebagainya. Tetapi hubungan hukum dan
politik melebihi keeratan hubungan kedua bidang tersebut dengan bidang-bidang
lainnya itu. Hukum selalu menjadi sarana dari politik untuk mempengaruhi,
membangun dan mengembangkan bidang-bidang lainnya itu.29
Kemudian beliau menyatakan bahwa dalam hal inilah berlaku tesis hukum adalah
putusan politik (law is a political decision).30
Penempatan posisi antara dua bidang tersebut pun menjadi penting mengingat
keduanya bisa saling mempengaruhi satu sama lain. Tidak terkecuali dalam istilah
yang dibangun dari dua kata tersebut. Ada politik hukum, ada pula hukum dan
politik. Jika hukum dan politik itu mempelajari dan menganalisis bagaimana
intervensi politik mempengaruhi proses hukum ataupun sebaliknya, sementara
politik hukum secara garis besar bisa diartikan bagaimana ius constitutum menjadi
ius constituendum, bagaimana membangun hukum dengan instrumen-instrumen
yang ada.31 Dengan kata lain, politik hukum adalah rangkaian konsep dan asas yang
menjadi garis besar dan dasar rencana dalam pelaksanaan suatu pekerjaan,
kepemimpinan, dan cara bertindak dalam bidang hukum.32
Hal yang paling dasar dan fundamental dalam pembahasan ini adalah mengenai
hubungan dalam hal intervensi antara kedua bidang tersebut. Politik sewaktu-waktu
dapat saja mengintervensi hukum dengan maksud kepentingan para penguasa.
27 Ibid.
28 Ibid.
29 Ibid.
30 Ibid.
31 Pengertian secara garis besar ini didapatkan pada kuliah perdana mata kuliah konsentrasi Hukum
dan politik oleh Aminoto.
32 Imam Syaukani dan A.Ahsin Thohari, 2004, Dasar-dasar Politik Hukum, PT Rajagrafindo
Persada, Jakarta, hlm 22.

Hukum dijadikan alat oleh penguasa untuk bertindak sewenang-wenang, dengan


adanya produk hukum yang dibuat, menjadikan suatu perbuatan penguasa
terlegitimasi. Hal inilah yang seharusnya menjadi perhatian. Hukum tidak boleh
menjadi produk politik yang berpotensi melanggar asas-asas Negara hukum, terlebih
lagi di Indonesia yang sedang bergeliat untuk menemukan format ideal Negara.
Hukum sebagai produk politik. Asumsi dasar yang dipergunakan adalah
hukum merupakan produk politik sehingga karakter setiap produk hukum akan
sangat ditentukan atau diwarnai oleh imbangan kekuatan atau konfigurasi politik
yang melahirkannya.33 Hukum belum menjadi panglima yang memberikan rel
kepada para politikus dalam mengejawantahkan kebijakan. Asumsi ini dipilih
berdasarkan kenyataan bahwa setiap produk hukum merupakan produk keputusan
politik sehingga hukum dapat dilihat sebagai kristalisasi dari pemikiran politik yang
saling berinteraksi di kalangan para politisi. 34 Moh Mahfud MD menyatakan asumsi
ini sebagai berikut : Meskipun dari sudut das sollen ada pandangan bahwa politik
harus tunduk pada ketentuan hukum, kajian ini lebih melihat sudut das sein atau
empiriknya bahwa hukumlah yang dalam kenyataannya ditentukan oleh konfigurasi
politik yang melatarbelakanginya.35
Otonomi hukum di Indonesia cenderung lemah terutama jika ia berhadapan dengan
subsistem politik. Tegasnya, konsentrasi energi hukum selalu kalah kuat dari
konsentrasi energi politik.36 Konstatasi ini dapat dilihat dari fakta bahwa sepanjang
sejarah Indonesia, pelaksanaan fungsi dan penegakan hukum tidaklah berjalan
seiring dengan perkembangan strukturnya.37 Penegasan hal ini dinyatakan oleh
Mulyana W. Kusumah sebagai berikut :38
Untuk kasus Indonesia terjadi juga fenomena menonjolnya fungsi instrumental
hukum sebagai sarana kekuasaan politik dominan yang lebih terasa bila
dibandingkan dengan fungsi-fungsi lainnya, bahkan dapat dilihat dari
pertumbuhan pranata hukum, nilai dan prosedur, perundang-undangan, dan
33 Moh. Mahfud MD, 1999, Pergulatan Politik dan Hukum di Indonesia, Gama Media, Yogyakarta,
hlm 4.
34 Ibid.
35 Ibid.
36 Satjipto Rahardjo, 1985, Beberapa Pemikiran Tentang Ancangan Antar Disiplin dalam
Pembinaan Hukum Nasional, Sinar Baru, Bandung, hlm 71, dalam Ibid.
37 Moh. Mahfud MD, ibid, hlm 2.
38 Mulyana W. Kusumah, 1986, Perspektif, Teori dan Kebijaksanaan Hukum, Rajawali, Jakarta, hlm
19-20, dalam ibid, hlm 4-5.

birokrasi penegak hukum yang bukan hanya mencerminkan hukum sebagai


kondisi dari proses pembangunan melainkan juga menjadi penopang tangguh
struktur politik, ekonomi dan sosial.
Akhirnya harus diinsyafi bahwa hukum masih tunduk terhadap politik. Hukum
belum menjadi panglima di negeri ini, walaupun secara norma umum, politiklah
yang harus mengikuti hukum. Bukan berarti harapan itu pudar, bahkan seiring
dengan bertambahnya kecerdasan masyarakat menyikapi politik dan hukum akan
ekuivalen dengan penegakan hukum. Karena hukum diperlukan di setiap masa, di
setiap zaman dan di setiap peradaban.
Permasalahan yang menjadi PR selanjutnya adalah, bagaimana posisi antara
hukum dan politik itu. Hubungan yang ideal antara kedua bidang itu harus diciptakan
dengan tegas. Tetap, hukum harus menjadi panglima diatas politik, karena Indonesia
merupakan Negara hukum. Artinya, segala sesuatu harus taat hukum dan sesuai tata
hukum, termasuk politik. Komitmen bangsa untuk menjadikan hukum sebagai
panglima adalah kuncinya, ditengah euphoria reformasi yang masih transisi ini.
Kemudian dilanjutkan dengan pranata hukum yang tertata rapi dengan sistem yang
dapat dipertanggungjawabkan. Pemerintah pun harus mulai tegas terhadap berbagai
pelanggaran hukum tanpa pandang bulu.

II.3. Pemilukada Malut Contoh Kasus Hukum Bernuansa Politis39


Keputusan Komisi Pemilihan Umum (KPU) dalam mengambil alih
pemilihan kepala daerah (pilkada) Maluku Utara (Malut) dinilai sebagian kalangan
hanya akan memicu konflik horizontal. Pengambilalihan dikerenakan KPU menilai
KPUD Provinsi Maluku Utara tidak bisa melaksanakan tugas-tugasnya karena
deadlock dan berlarut-larut, sehingga mengharuskan KPU mengambil alih tugas
KPUD Maluku Utara. KPU juga membatalkan putusan KPUD Maluku Utara dan
melakukan rekapitulasi ulang. Pasalnya, anggota KPU I Gusti Putu Artha
mengatakan bahwa alasan mengambil alih KPUD Provinsi Maluku Utara karena
KPU menilai KPUD tidak bisa menjalankan tugasnya sehingga dapat membuat
situasi Maluku Utara kian memanas. Maka, keputusan pengambilalihan itupun
dilakukan.
39 Untuk kasus ini, penulis pernah mengulasnya dalam tugas mata kuliah konsentrasi Hukum
Kelembagaan Negara.

Hal ini jelas menimbulkan pro kontra di kalangan politikus, khususnya


anggota DPR diantaranya Syarief Hasan dari Fraksi Partai Demokrat (FPD), Fraksi
Partai Keadilan Sejahtera (FPKS) Mustafa Kamal dan dari Direktur Lingkar Madani
Ray Rangkuti. Disisi lain, KPU menemukan bukti indikasi penggelembungan suara.
Bukti itu berupa dua sertifikat berita acara perolehan suara yang berbeda hasil
perolehan suaranya. Hal ini tentu dapat memperumit permasalahan Maluku Utara.40
Sebenarnya, bila dilihat secara objektif, KPUD Maluku Utara agak sedikit
bermasalah. Hal ini terbukti dengan adanya hal-hal yang tidak seharusnya dilakukan
oleh oknum yang berdiri dibalik lembaga yang mengusung demokrasi yaitu KPU.
Berdasarkan catatan kompas, KPUD Malut sejak awal menunjukan inkonsistensinya,
mulai dari pengubahan jadwal kampanye yang dilakukan seenaknya, membekukan
KPUD Halmahera Barat, hingga menetapkan pemenang pilkada melalui pleno
tertutup. Tindakan yang dilakukanpun tergolong ceroboh dan gegabah. Ketika
pencoblosan baru satu hari, KPUD menggelar penghitungan suara, padahal
perolehan suara masih bersifat sementara. Terjadilah saling salip angka antara
pasangan Thaib Armayn-Abdul Ghani Kasuba dan Abdul Gafur-Abdur Rahim
Fabanyo, yang diduga kuat hasil permainan koreksi perolehan suara di tiap kota /
kabupaten.
Peristiwa tersebut akhirnya berujung pada pencopotan dan penonaktifan
sementara dua anggota KPUD Malut oleh KPU Pusat. Dua orang tersebut adalah M.
Rahmi Husen dan Nurbaya Soleman. Kejadian pilkada Malut ini jauh berbeda bila
dibanding dengan pilkada Sulsel yang cenderung aman dan tertib. Hal itu karena
KPUD Sulsel komitmen terhadap peraturan dan menghargai proses demokrasi yang
berlangsung. Walaupun potensi konflik lebih besar daripada Malut dilihat dari lebih
banyaknya jumlah daerah yang ada di Sulsel, KPUD Sulsel tetap konsisten ditengah
maraknya quickcount.41
Sementara itu, pada tanggal 22 November 2007, KPU telah memutuskan
bahwa Gubernur Maluku Utara terpilih adalah pasangan Abdul Gafur dan Abdur
Rahim Fabanyo. Putusan ini berbeda dengan keputusan KPUD Maluku Utara yang
justru memenangkan pasangan Thaib Armayn dan Abdul Ghani Kasuba sebagai
40 Lebih jelas baca Seputar Indonesia, Rabu, 21 November 2007, hlm 12.
41 Lebih jelas baca Kompas, Jumat, 23 November 2007, hlm 25.
10

Gubernur terpilih. Dua penghitungan suara dan dua keputusan yang berbeda ini
menimbulkan konflik berkepanjangan. Kubu Abdul Gafur-Fabanyo bersikukuh
bahwa merekalah yang menang karena KPU Pusat telah melakukan prosedur yang
berdasarkan UU dalam pengambilalihan pilkada Malut, sehingga hasilnyapun
bersifat definitif. Sementara kubu Thaib-Kasuba tetap pada pendiriannya bahwa
keputusan KPUD Malutlah yang sah, tidak ada kewenangan KPU untuk
membatalkan keputusan KPUD. Mendagri Mardiyanto pun angkat bicara, beliau
berpendapat untuk membiarkan KPU menjalankan tugasnya dan mengenai persoalan
pengambilalihan tugas akan diproses secara hukum.
Penonaktifan dua orang anggota KPUD Malut, yaitu M Rahmi Husen dan
Nurbaya Soleman berujung pada ancaman untuk menggugat KPU ke pengadilan.
Mereka bersikukuh bahwa penghentian sementara mereka tidak berdasar sama
sekali. Bahkan dinilai salah menggunakan UU. UU 22/2007 dianggap belum berlaku
sepenuhnya karena proses pilkada sudah berlangsung dan menggunakan UU
32/2004. Dengan demikian KPU Pusat tidak dapat mengambil alih. Mantan anggota
KPU Chusnul Mariyah pun mengatakan bahwa bila terjadi keraguan dalam
penghitungan suara, maka bisa dilihat dari hasil suara satu tingkat dibawahnya.42
Permasalahan pilkada Maluku Utara ini merupakan permasalahan dan ujian
yang pertama bagi KPU pasca dilantik Presiden tanggal 23 Oktober lalu. Pada hari
kamis 22 November 2007, KPU menggelar rapat pleno yang hasilnya memenangkan
pasangan Abdul Gafur-Fabanyo. Rapat pleno yang digelar itu tidak luput dari
perhatian publik yang ingin mengawal pilkada Malut. Tidak terkecuali pendukung
kedua calonpun ikut memanaskan situasi di sekitar kantor KPU yang bertempat di
Jalan Imam Bonjol, Jakarta Pusat.
Keributanpun sempat mewarnai proses rapat pleno. Bahkan keributan sempat
berlangsung dua kali. Yang pertama adalah saling dorong antara Panitia Pemilihan
Kecamatan (PPK) dengan aparat, saat anggota PPK memaksa masuk ke ruang ketua
KPU untuk mintga penjelasan mengenai pemeriksaan anggota PPk satu per satu.
Yang kedua adalah keributan karena bertemunya pendukung antara kedua kubu
pasangan yang saling beratraksi dan orasi. Sementara itu, ketua KPU Belitung

42 Lebih jelas baca Seputar Indonesia, Jumat, 23 November 2007, hlm 12.
11

Timur, Marwansyah sempat meyesalkan tindakan KPU pusat dalam mengambilalih


tugas KPUD, karena bisa jadi daerah lain diperlakukan sama.43
Akhirnya, penghitungan suara ulangpun dilakukan. Penghitungan suara ulang
itu dilakukan di Ternate, Rabu tanggal 20 Februari 2008. Hasilnya, Gafur-Fabanyo
ditetapkan sebagai pemenang. Menurut KPU Pusat, keputusan inilah yang sah.
Mengingat beberapa waktu yang lalu KPU Pusat telah mengumumkan pasangan
Ghafur-Fabanyo lah yang menjadi pemenang pilkada Malut. Sebelumnya, anggota
KPUD nonaktif Rahmi Husen cs melakukan penghitungan ulang dengan
kemenangan Thaib-Kasuba. Namun KPU Pusat berpendapat bahwa penghitungan
tersebut tidak sah karena dilakukan oleh anggota KPUD nonaktif. Berdasarkan
penghitungan suara ulang, Gafur-Fabanyo unggul dengan 181.889 suara, disusul
Armayn-Kasuba 179.020 suara, Anthony Charles Sunarjo-Amin Drakel 73.610 suara
dan terakhir pasangan Irvan Tombokan-Atin Achmad 45.983 suara.44
Dengan adanya hasil penghitungan suara ulang ini, otomatis terdapat dua
keputusan yang berbeda. Keputusan pertama adalah keputusan yang memenangkan
pasangan Thaib-Kasuba. Sedangkan keputusan yang kedua adalah keputusan yang
memenangkan pasangan Gafur-Fabanyo. Mendagri menolak fatwa Mahkamah
Agung sebagai rujukan utama penyelesaian kasus Malut ini. Dalam waktu dekat
menteri akan meminta DPRD menggelar sidang paripurna. Bahkan, kalau bisa
DPRD lah yang menentukan siapa pemenang dari kedua pasangan calon, dengan
alasan DPRD merupakan representasi dari rakyat Maluku Utara.45
Sebaliknya, dari pihak DPRD sendiri akan menemui Menteri Dalam Negeri
Mardiyanto. Sebanyak 20 orang anggota DPRD bermaksud untuk mengajukan hasil
rapat paripurna yang memenangkan pasangan Gafur-Fabanyo. Mereka meminta
kepastian hukum mengenai hal ini. Mereka juga sedikit menerangkan kronologis
rapat paripurna yang diwarnai berbagai unjuk rasa yang dilakukan oleh pendukung
kedua pasangan calon. Wakil Ketua DPR bahkan meminta Mardiyanto menjadi
Mediator bagi kedua kubu.46

43 Lebih jelas baca Kompas, Selasa, 27 November 2007, hlm 5.


44 Lebih jelas baca Kompas, Kamis, 21 Februari 2008, hlm 15.
45 Lebih jelas baca Koran Tempo, Kamis, 3 April 2008, hlm A4.
46 Lebih jelas baca Koran Tempo, Jumat, 18 April 2008, hlm A7.
12

Perkembangan selanjutnya, oleh komisi II DPR bersama pemerintah


menyepakati bahwa sengketa pilkada Maluku Utara dialihkan penanganannya dari
Mahkamah Agung ke Mahkamah Konstitusi. Pengalihan penanganan ini bukan tanpa
alasan, kewenangan MK lah yang menjadikan penanganan ini dialihkan. Pasal 24C
Ayat (1) Undang Undang Dasar Negara Republik Indonesia tahun 1945
menyebutkan MK berwenang mengadili pada tingkat pertama dan terakhir yang
putusannya bersifat final untuk perselisihan tentang hasil pemilu. Dengan
kewenangan yang besar itu, diharapkan adanya putusan MK tentang sengketa ini
dapat menghentikan kerumitan yang ada. Dari pihak MK pun mengaku telah siap
dalam menanggulangi permasalahan ini. Pasalnya, Jimly Asshiddiqie, ketua MK
mengaku pemilu 2004 menjadi sebuah pengalaman yang berharga dalam
menghadapi sengketa pemilu. Namun ada hal yang patut diperhatikan dalam
sengketa ini menurut Bagir Manan, ketua MA, beliau menyatakan bahwa MK akan
kesulitan bila KPU menyatakan ada tindak pidana dalam sengketa ini.47

47 Lebih jelas baca Kompas, Rabu, 3 April 2008, hlm 5.


13

BAB III
KESIMPULAN

Secara garis besar, sangatlah tidak mungkin untuk memisahkan hukum


dengan politik. Terlebih bila keduanya dihadapkan pada kemutlakan dalam
pembangunan suatu Negara. Hukum diperlukan sebagai rel yang nyata bagi
kehidupan politik dan konstelasinya, sementara tanpa politik hukum hanya menjadi
sebuah utopia. Tentu pengertian politik disini adalah politik yang sehat berdasarkan
teori-teori yang ada.
Teori memang merupakan pijakan yang mapan dalam sebuah implementasi, terlebih
itu mengenai dinamisasi Negara. Namun, terkadang atau bahkan intensitasnya sudah
sering, teori, clash dengan realita. Tidak terkecuali permasalahan antara politik dan
hukum. Bukan sekali politik mengintervensi hukum. Hal ini dibuktikan dengan
berbagai produk-produk hukum yang dihasilkan oleh para politikus. Produk hukum
yang keluar selalu diwarnai oleh nuansa politis yang melatarbelakanginya.
Indonesia merupakan contoh nyata. Untuk kasus Indonesia terjadi juga
fenomena menonjolnya fungsi instrumental hukum sebagai sarana kekuasaan politik
dominan yang lebih terasa bila dibandingkan dengan fungsi-fungsi lainnya, bahkan
dapat dilihat dari pertumbuhan pranata hukum, nilai dan prosedur, perundangundangan, dan birokrasi penegak hukum yang bukan hanya mencerminkan hukum
sebagai kondisi dari proses pembangunan melainkan juga menjadi penopang tangguh
struktur politik, ekonomi dan sosial, kata Mulyana W. Kusumah. Melihat hal itu,
tentu harus dibenahi secepatnya agar kereta bisa berjalan di rel yang semestinya.
Akhirnya harus diinsyafi bahwa hukum masih tunduk terhadap politik.
Hukum belum menjadi panglima di negeri ini, walaupun secara norma umum,
politiklah yang harus mengikuti hukum. Bukan berarti harapan itu pudar, bahkan
seiring dengan bertambahnya kecerdasan masyarakat menyikapi politik dan hukum
akan ekuivalen dengan penegakan hukum. Karena hukum diperlukan di setiap masa,
di setiap zaman dan di setiap peradaban.

14

15