Anda di halaman 1dari 42

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 LATAR BELAKANG
Selama dekade terakhir ini insiden Penyakit Menular Seksual (PMS) cukup
cepat meningkat di berbagai negeri di dunia. Secara kesuluruhan dapat dilihat bahwa
banyak faktor dapat mempengaruhi meningkatnya insiden PMS, yang paling berperan
adalah perubahan demografik yang luar biasa akibat pergerakan masyarakat yang
bertambah dan kemajuan sosial; perubahan sikap-dan tindakan akibat perubahan
demografik tersebut.
Penyakit kelamin adalah penyakit yang penularannya terutama melalui
hubungan seksual. Cara hubungan kelamin tidak hanya terbatas secara genitor-genital
saja, tetapi dapat juga secara oro-genital, atau ano-genital, sehingga kelainan yang
timbul tidak hanya terbatas daerah genital saja, tetapi dapat juga pada daerah-daerah
ekstra genital. Salah satu di antara PMS ini adalah penyakit gonore yang disebabkan
oleh bakteri yang menginfeksi selaput lendir saluran kencing, leher rahim, dubur dan
tenggorokan atau selaput lendir yang dikenal dengan nama awam kencing nanah.
Untuk lebih jelasnya dalam makalah ini kami akan memaparkan tentang alat-alat
genitalia pria dan penyakit menular seksual yang dapat terjadi pada alat genitalia pria.

Page | 1

BAB II
PEMBAHASAN
2.1 SKENARIO
LBM II
Nyeri berkemih dan keluar nanah
Seorang laki-laki 35 tahun bekerja sebagai supir truk datang ke Rs FK dengan
keluhan nyeri saat buang air kecil. Keluhan ini dirasakan sejak tiga hari yang lalu. Keluhan
nyeri ketika berkemih disertai dengan peningkatan frekuensi berkemih, perasaan panas saat
berkemih, nyeri pada daerah perut bagian bawah. Pasien mengaku keluar nanah dari lubang
penis terutama pagi hari. Pasien juga mengeluhkan demam dan napsu makan pasien
menurun. Keluhan lain seperti pusing, batuk pilek, sesak, nafas tidak dirasakan, BAB
dalam batas normal. Dalam pemeriksaan fisik didapatkan suhu subfebris dan nyeri tekan
supra simpisis.
Diskusikan kemungkinan apa yang terjadi pada pasien ?

2.2 TERMINOLOGI
a

Suhu Subfebris : Suhu tubuh seseorang antara 37,5 C - 38 C dikatakan mengalami


kenaikan suhu tubuh subfebril. Dapat disebabkan oleh proses-proses metabolisme
sebagai kerja otot.

2.3 PERMASALAHAN
1. Anatomi fisiologi organ genetalia masculina ?
2. Penyebab nyeri ketika berkemih ?
3. Interpretasi keluhan pada skenario dan Mekanismenya ?
4. Cara mendiagnosis pasien dengan keluhan seperti di skenario ?
5. Diagnosis Banding dari skenario ?
6. Diagnosis pasti dalam skenario ?
Page | 2

2.4 PEMBAHASAN
1) Anatomi, Fisiologi, dan Histologi Genitalia Masculina

Gambar 1.1 Peta Konsep Anatomi Genitalia Masculina

Gambar 1.2 Anatomi Genitalia Masculina


Page | 3

A.

Genitalia Eksternal Pria


1. Penis
Secara anatomi organ penis terdiri atas dua bagian, yaitu: pars occulta dan pars libera.

Pars occulta disebut juga radiks penis atau pars fiksa, yang terdiri atas dua krura penis dan
satu bulbus penis. Sementara itu, pars libera terdiri atas korpus penis dan glans penis.

Gambar 1.3 Struktur Penis

a.

Pars occulta
Pars occulta yang disebut juga radiks penis atau pars fiksa adalah bagian penis yang tidak

begerak, terletak dalam spatium perinei superfisialis. Pars occulta merupakan jaringan erektil.
Pars occulta terdiri atas dua krurapenis dan satu bulbus penis. Krura penis melekat pada
bagian kaudal sebelah dalam dari ramus inferior ossis ischii ventral dari tuber iskiadikum.
Masing-masing krus penis ini tertutup oleh muskulus ischiokavernosus dan selanjutnya
kaudal dari simfisis pubis, kedua krura tersebut bergabung dan disebut sebagai corpora
kavernosa penis dan ikut membentuk korpus penis. Sementara itu, bulbus penis terletak
antara kedua krura penis dalam spatium perinei superfisialis. Fascies superiornya melekat
pada fasia diafragma urogenital inferior, sedangkan fascies lateralis dan inferiornya tertutup
Page | 4

oleh muskulus bulbokavernosus. Ke arah kaudal berubah jadi korpus spongiosum penis yang
juga ikut membentuk korpus penis.
b.

Pars libera
Pars libera terdiri atas korpus penis dan glans penis. Korpus penis terdiri atas dua

corpora kavernosa penis dan suatu korpus spongiosa penis. Korpus spongiosa penis adalah
lanjutan dari bulbus penis yang kearah distal menjadi glans penis. Jaringan subkutisnya
dinamakan fasia penis superfisialis yang terdiri atas jaringan ikat kendur dan diantaranya
terdapat jaringan otot polos, sama sekali tidak ada jaringan lemak. Fasia ini adalah lanjutan
dari tunika Dortos dari skrotum dan fasia perinel superfisialis. Glans penis merupakan bagian
yang dipisahkan dari korpus oleh suatu penyempitan yang dinamakan kollum, sedangkan
peninggian dibagian distal yang membatasinya dinamakan korona glandis. Lubang yang
terletak pada ujung glan penis disebut orifisium uretrae eksternum. Preputium penis adalah
lipatan kulit yang menutupi glans penis mulai dari kollum glandis sampai orifisium uretrae
eksternum. Frenulum proaeptii di bagian median, kaudal (ventral) dari glans penis,
menghubungkan praeputium dengan glans penis. Praeputium penis terdiri atas dua lapis kulit
(luar dan dalam). Lapisan dalam tidak ada rambur sama sekali, hanya mengndung kelenjarkelenjar lemak yang dinamakan glandula praeputialis dari Tyson, yang menghasilkan
smegma praeputii. Preputium penis merupakan bagian yang dipotong saat sirkumsisi atau
sunat.

2. Skrotum
Secara anatomi, skrotum merupakan suatu kantong yang terdiri atas jaringan kutis dan
subkutis yang terletak dorsal dari penis dan kaudal dari simfisis pubis. Selain itu, skrotum
juga terbagi atas dua bagian dari luar oleh raphe scroti, dan dari dalam oleh septum skrotum
scroti. Masing-masing kantong skrotum ruangan berisi testis, epididimis dan sebagai
funikulus spermatikus.

Page | 5

Bentuk dari skrotum tergantung dari kontraksi dan relaksasi tunika Dartos. Lapisan
otot tunika Dartos akan berkontrksi dengan lingkungan dingin. Ketika berolahraga atau ada
rangsangan seksual, maka kulit skrotum akan mengerut dan skrotum mengecil. Sebaliknya,
lapisan tunika Dartos akan relaksasi saat cuaca panas, maka kulit skrotum lebih halus atau
rata sehingga skrotum akan memanjang atau mengendor.
Skrotum sinistra lebih rendah daripada dekstra. Lapisan skrotum terdiri atas lapisan
kutis dan subkutis.

Gambar 1.4 Gambaran Buah Zakar (Skrotum)

a.

Lapisan kurtis
Lapisan kurtis merupakan lapisan kulit yang sangat tipis mengandung pigmen lebih

banyak daripada kulit sekitarnya sehingga lebih gelap warnanya. Terdapat sedikit rambut,
tetapi memiliki kelenjar sebasea dan kelenjar keringat lebih banyak.

Page | 6

b.

Lapisan subkutis
Lapisan subkutis disebut juga tunika Dartos. Lapisan subkutis terdiri atas serabut

serabut otot polos dan tidak didapatkan jaringan lemak. Lapisan subkutis melekat erat pada
jaringan kutis suprafisialnya dan merupakan lanjutan dari fasia superfisialis dan penis
superfisialis.

B.

Genitalia Internal Pria

Gambar 1.5 Genitalia Interna Pria

1.

Testis
Secara anatomis, testis merupakan organ bentuk ovoid dengan jumlah dua buah,

biasanya testis sebelah kiri lebih berat dan lebih besar daripada yang kanan. Berat testis 10-14
g, panjangnya 4 cm, diameter antero-posteriornya kurang lebih 3 cm, dan memiliki ketebalan
(dari medial ke lateral) kurang lebih 2,5 cm. Testis merupakan kelenjar eksokrin (sitogenik)
dan endokrin, disebut kelenjar eksokrin karena pada pria dewasa menghasilkan spermatozoa

Page | 7

dan disebut kelenjar endokrin karena menghasilkan hormon untuk pertumbuhan genitalia
eksterna.
Testis terbungkus oleh tunika albuginea yang terdiri atas jaringan ikat padat, letaknya
profundus dari tunika vaginalis (epiorchium). Pada permukaan dalam tunika albuginea
membentuk septula testis yang arahnya kovergen ke epididimis sehingga testis terbagi
menjadi lobulus-lobulus (kurang lebih 200-400). Basis dari lobulus ini mengarah ke perifer,
sedangkan apeksnya menuju ke fascies posterior dimana septula testis bertemu dan
membentuk jaringan yang dinamakan mediastinum testis. Pada bagian dalam lobulus-lobulus
tersebut terletak jaringan parenkim yang membentuk tubuli seminiferi kontorti (saluran yang
berkelok-kelok). Pada waktu mencapai mediastinum testis, tubulus-tubulus ini berubah
menjadi tubuli seminiferi recti (lurus), jalannya kurang lebih 20-30 tubulus dimana mereka
membentuk anyaman sehingga disebut sebagai ree testis (halleri). Dari rete ini keluar kurang
lebih 15-20 duktuli efferentes yang masuk ke dalam kaput epididimis. Spermatozoa
dihasilkan oleh tubuli seminiferi kontorti, sedangkan sel interstitial yang terletak antara
septula dan tubuli-tubuli tersebut membentuk hormon androgen (testosteron).
Organ testis dikontrol oleh dua hormon gonadotropik, yaitu Luteinizing Hormone
(LH) dan Follicle Stimulating Hormone (FSH) disekresikan oleh hipofisis anterior. Hormon
LH dan FSH bekerja pada komponen-komponen testis yang berbeda. Hormon LH bekerja
pada sel Leydig untuk mengatur sekresi testosteron, sedangkan hormon FSH bekerja pada
tubulus seminiferosa, terutama pada sel sertoli untuk meningkatkan spermatogenesis.

2.

Epididimis
Secara anatomi, epididimis merupakan organ yang berbentuk huruf C, terletak pada

fascies posterior testis dan sedikit menutupi fascies lateralis. Secara fisiologis, fungsi dari
epididimis adalah untuk menyimpan spermatozoa sampai penuh, kemudian dialirkan ke
dalam duktus epididimis.

Page | 8

a.

Kaput epididimis

Kaput epididimis merupakan bagian terbesar di bagian proksimal, terletak pada


bagian superior testis dan menggantung. Lobulus hanya terdapat di bagian kaput dan septaseptanya berasal dari tunika albuginea. Duktuli efferentes testis yang pada awalnya memiliki
jalan yang mulus setelah sampai pada kaput epididimis menjadi berbelok-belok. Pada bagian
dalam kaput ini terbentuk lobulus epididimis di mana apeksnya menuju ke arah testis. Tiap
duktuli tersebut bermuara ke dalam duktus apididimis yang panjangnya kurang lebih 6 meter
tetapi jalannya berkelok-kelok.

b.

Korpus epididimis

Korpus epididimis melekat pada fascies posterior testis, terpisah dari testis oleh suatu
rongga yang disebut sinus epididimis (bursa testikularis) celah ini dibatasi oleh epiorchium
(pars viseralis) dari tunika vaginalis.
c.

Kauda epididimis

Kauda epididimis merupakan bagian paling distal dan terkecil di mana duktus
epididimis mulai membesar dan berubah jadi duktus deferens. Di samping itu masih terdapat
struktur-struktur kecil (sisa) yang perlu diketahui karena bila membesar dapat membentuk
cysta, meskipun kadang-kadang tidak dijumpai.

3.

Duktus Deferens (Vas Deferens)


Duktus deferens merupakan lanjutan dari duktus epididimis. Secara fisiologis fungsi

duktus deferens adalah membawa spermatozoa dari epididimis ke duktus ejakulatorius.

Page | 9

4.

Vesikula Seminalis
Secara anatomi, vesikula seminalis adalah organ berbentuk kantong bergelembung-

gelembung yang menghasilkan cairan seminal. Jumlahnya ada dua, di kiri dan kanan, serta
posisinya tergantung isi vesika urinaria. Bila vesika urinaria penuh, maka posisi lebih
vertical, sedangkan bila kosong lebih horizontal.
Vesika seminalis terbungkus oleh jaringan ikat fibrosa dan muscular pada dinding
dorsal vesika urinaria. Bagian kranialnya tertutup oleh peritoneum, terpisah dari rectum oleh
ekskavatio rektrovesikalis. Vesika seminalis terdapat dari ureter dan ampula duktus deferens,
dan medial dari pleksus venosus vesikalis.

5.

Duktus Ejakulatorius
Secara anatomi, duktus ejakulatoris merupak gabungan dari duktus deferens dan

duktus ekskretorius vesikula seminalis, menuju basis prostat, yang akhirnya bermuara ke
dalam kollikus seminalis pada dinding posterior lumen uretra.

6.

Glandula prostata
Secara anatomis, bagian-bagian dari glandula prostate dapat dilihat dari sisi apeks,

basis, fascies infero lateral, fascies anterior dan fascies posterior. Apeks merupakan bagian
paling kaudal dari glandula prostate, letaknya kurang lebih 10 cm dorsal dari simfisis pubis.
Basis merupakan bagian proksimal dari glandula prostate, terletak setinggi pertengahan
simfisis pubis. Dari luar sulit dipisahkan dari vesika urinaria karena hanya terpisah oleh suatu
celah. Orifisium uretrae intestinum terdapat kurang lebih di tengah-tengahnya. Bagian fescies
infero lateral glandula prostate, terpisah dari fasia pelvis superior karena di antaranya terdapat
pleksus venosus. Bagian fascies anterior glandula prostate berhubungan dengan spatium
praevesicale Retzii, tempat perlekatan ligament puboprostatica medialis. Sementara itu

Page | 10

bagian fascies posterior glandula prostate berhadapan dengan vesikula seminalis dan ampulla
vas deferens.
Glandula prostate merupakan organ yang terdiri atas kelenjar-kelenjar tubuloalveolar.
Kelenjar ini letaknya di dalam kavum pelvis subperitonealis, dorsal dari simfisis pubis.
Kelenjar ini menghasilkan cairan seminal dan terbungkus oleh serabut-serabut otot polos dan
jaringan ikat fibrosa. Jaringan ototnya dinamakan muskulus prostatikus dan jaringan otot ini
akan berkontraksi untuk menyekresi cairan prostat.

7.

Glandula Bulbouretralis (Cowperi)


Secara anatomis, glandula bulbouretralis berbentuk bulat dan berjumlah dua buah.

Letak glandula bulbouretralis berada di dalam otot sfigter uretrae eksternum pada diafragma
urogenital, dorsal dari uretra pars membranasea. Duktus menembus fasia diafragma
urogenital inferior masuk ke dalam bulbus panis setelah berjalan 2-4 cm, ia berakhir pada
bagian ventral (kaudal) dari pars spongiosa uretra.

Histologi
Testis merupakan kelenjar tubuler kompleks yang mempunyai 2 fungsi yaitu hormonal
dan reproduksi. Testis dikelilingi oleh kapsul jaringan ikat yang disebut tunika albuginea.
Tunika ini mengalami penebalan pada bagian posterior testis yang disebut mediastinum testis.
Testis dibagi menjadi ruang-ruang piramidal sebanyak sekitar 250 ruang yang disebut lobulus
testis.

Page | 11

Gambar 1.6 Gambaran Testis

Diantara lobulus-lobulus terdapat septa (septa ini sering tidak sempurna). Tiap-tiap
lobulus terdapat 1- 4 tubulus seminiferus. Testis diselubungi oleh kantong serosa yang berasal
dari peritoneum yang dinamakan tunika vaginalis.

Gambar 1.7 Tampak sebagian dari dinding tubulus


seminiferous dan terlihat sebagian sel spermatogogenius

Page | 12

Tunika ini terdiri dari 2 lapisan yaitu lapisan viseral (bagian dalam) dan lapisan parietal.
Pada mulanya testis terdapat di dinding dorsal rongga peritoneum dan kemudian masuk ke
dalam kantung yang disebut skrotum.
1

Tubulus seminiferous
Spermatozoa dihasilkan di tubulus seminiferous setiap testis memiliki 250-1000 tubulus
seminiferous, setiap tubulus seminiferous dilapisi oleh epitel berlapis mejemuk, garis
tengahnya lebih kurang 150 250 dan panjangnya 30-70cm. di ujung setiap setiap
lobules, lumen menyempit dan berlanjut ke dalam ruas pendek yang dikenal sebagai
tubulus rectum atau tubulus lurus yang menghubungkan tubulus seminiferous dengan
labirin saluran berlapis epitel yang beranastomosis yaitu rete testis yang kira- kira 10
20 duktus eferentes menghubungkan retetestis yang menghubungkan dengan
epididymis
Epitel tubulus seminiferous terdiri atas dua jenis sel sertoli atau sel penyokong dan sel
sel yang membentuk garis keturunan spermatogenik sel ini mempunyai 4 sampai 8
lapisan, Sel sertoli merupakan sel-sel piramidal panjang yang saling bertautan dengan
sel-sel spermatogenik. Dasar sel sertoli melekat pada lamina basalis, sedang ujung
apikalnya menjorok ke dalam lumen tubulus seminiferus. Akibat adanya sel-sel
spermatogenik di sisi lateral dan di sisi basalnya, maka bentuk sel sertoli menjadi tidak
teratur.
Sel-sel sertoli mempunyai 3 fungsi utama ;
1

pelindung, penyokong dan pengatur nutrisi sel-sel spermatogenik yang sedang


berkembang,

fagositosis, yaitu dengan membuang kelebihan sitoplasma spermatid dalam


proses spermiogenesis (perubahan bentuk spermatid menjadi spermatozoa),

sekresi, yaitu sel-sel sertoli mensekresi sekret untuk transpor spermatozoa

Page | 13

Gambar 1.8 Tubulus seminiformis

Saluran reproduksi jantan dibagi dua yaitu saluran intratestis dan saluran ekstra testis.
Saluran intratestis meliputi tubulus rektus, rete testis, vas eferens dan epididimis. Saluran
ekstratestis meliputi vas deferens dan urethra.
Tubulus rektus merupakan bagian akhir dari tubulus seminiferus yang merupakan
saluran pendek yang lurus dengan lumen sempit. Saluran itu dilapisi oleh sel epitel kubus
dengan satu flagel. Tubulus rektus bermuara pada rete testis yang merupakan saluran-saluran
yang saling beranastomose. Rete testis terdapat pada bagian mediastinum testis. Rete testis
dilapisi oleh epitel kubus. Dari rete testis keluar 10-20 vas eferens. Vas eferens terletak
dalam jaringan ikat epididimis. Vas eferens dilapisi oleh epitel kubus dan berganti menjadi
epitel kolumnar bersilia setelah mendekati epididimis. Di bawah lapisan epitel terdapat
lamina propria dengan jaringan ikat padat dan otot polos (lamina proprianya tipis.).

Epididymis
Page | 14

Epididimis

merupakan satu saluran panjang yang sangat berkelok-kelok,

dengan panjang sekitar 4-6 m.


membentuk

Saluran yang panjang ini dengan jaringan ikat

korpus dan ekor epididimis.

Kaput epididimis berisi vas eferens.

Epididimis dilapisi oleh epitel berlapis semu kolumnar dengan sel-sel kolumnar yang
sangat panjang dengan stereosilia yang panjang dan sel basal yang kecil. Lamina
proprianya tipis dengan jaringan ikat dan otot polos. Segerombol spermatozoa dapat
terlihat dalam lumen epididimis.

Gambar 1.9 Gambaran Epididymis

Vas deferen
Vas deferens merupakan saluran lurus yang keluar dari ekor epididimis. Saluran ini
berdinding tebal terdiri dari lapisan mukosa yang tipis dan lapisan muskularis yang
tebal dan dikelilingi oleh lapisan adventisia. Lapisan epitelnya merupakan epitel
berlapis semu kolumnar dengan stereosilia.. Sel kolumnarnya lebih pendek
dibandingkan sel kolumnar epididimis. Lapisan ototnya terdiri dari lapisan otot

Page | 15

polos yang tipis dengan susunan longitudinal di bagian dalam dan luar dan
tengahnya merupakan lapisan otot yang tebal dengan susunan sirkuler. Lapisan
mukosanya pada vas deferens awal membentuk vili-vili sederhana, tetapi pada
bagian ampula, vas deferens melebar, dan terdapat vili-vili yang membentuk
kripta-kripta yang bercabang-cabang sehingga lumennya semakin besar. Bagian
yang membentuk kripta-kripta itu merupakan kelenjar yang menghasilkan sekret
yang penting untuk kehidupan spermatozoa. Pada bagian akhir ampulla, saluran itu
bersatu dengan kelenjar vesikula seminalis dan selanjutnya salurannya mengecil
dan masuk ke dalam prostat dan bermuara pada urethra. Bagian yang masuk prostat
dinamakan duktus ejakulatorius, dengan lapisan mukosa sama dengan pada ampula
tetapi tanpa lapisan otot.

2) Penyebab nyeri pada skenario


Mukosa kandung kemih dilapisi oleh glukoprotein mucin layer, yang berfungsi sebagai
anti bakteri. Robeknya lapisan ini dapat menyebab kan bakteri dapat melekat,
membentuk koloni pada lapisan mukosa, masuk menembus epitel dan selanjutnya
terjadi peradangan. Bakteri dapat naik melalui ureter dan sampai ke ginjal melalui
lapisan tipis cairan.
Bila buli buli terinfeksi, dapat mengakibatkan iritasi otot polos vesika urinaria
akibatnya rasa ingin miksi terus menerus dan berulang kali, dan juga mengalami nyeri
saat berkemih.
Penyebabnya adalah : infeksi virus atau jamur
E. coli adalah penyebab dari 8085% infeksi, dan Staphylococcus saprophyticus
menjadi penyebab pada 510%.
Bakteri : Klebsiella, Proteus, Pseudomonas, Enterococcus dan Enterobacter. Hal ini
tidak umum ditemukan dan biasanya berkaitan dengan abnormalitas saluran kemih
atau pemasangan kateter urine.

3) Interpretasi keluhan di skenario :


1

Nyeri saat buang air kecil


Page | 16

Nyeri ketika BAK menandakan adanya gangguan pada saluran kemih. Dimana
pada kasus ini, terjadi inflamasi pada Uretra yang disebabkan oleh proses infeksi.
Karena proses inflamasi tersebut, akan timbul gejala seperti nyeri ketika BAK.
Iritasi kandung kemih juga bisa menyebabkan disuria (nyeri ketika berkemih)
dan urgensi (desakan untuk berkemih), yang bisa dirasakan sebagai tenesmus (nyeri
ketika mengedan yang hampir dirasakan terus menerus). Jumlah air kemih biasanya
sedikit.

Peningkatan frekuensi berkemih, Perasaan panas saat berkemih, nyeri pada


daerah perut bagian bawah
Gejala ini muncul sebagai akibat dari terjadinya peradangan pada vesika

urinaria yang di sebabkan oleh infeksi bakteri. Infeksi ditunjukan oleh adanya gejala
perasaan panas ketika berkemih. Vesika urinaria tidak dapat menampung urin sampai
penuh karena jaringan mukosa pada vesika urinaria mengalami peradangan.
Iritasi kandung kemih juga bisa menyebabkan disuria (nyeri ketika berkemih)
dan urgensi (desakan untuk berkemih), yang bisa dirasakan sebagai tenesmus (nyeri
ketika mengedan yang hampir dirasakan terus menerus). Jumlah air kemih biasanya
sedikit, tetapi jika penderita tidak segera berkemih, air kemih bisa keluar dengan
sendirinya.
Jika tidak ditangani, bakteri yang ada didalam vesika urinaria akan berkoloni
dan menyerang daerah-daerah disekitarnya sehingga peradangan semakin meluas.
Keadaan ini akan menimbulkan gejala seperti nyeri pada perut bagian bawah.

Keluar nanah dari lubang penis terutama dipagi hari


Keluar nanah menunjukan adanya suatu reaksi antigen dan antibodi. Bakteri

yang berhasil menembus masuk sel mukosa pada saluran cerna, akan melakukan
replikasi dan akan menimbulkan destruksi pada sel dan akan menimbulkan nanah
akibat dari adanya interaksi antara netrofil atau makrofag dengan bakteri penyebab
penyakit.

Demam dan nafsu makan pasien menurun

Page | 17

Akibat adanya suatu respon inflamsi atau

infeksi, akan merangsang

pengeluaran mediator inflamsi seperti sitokin atau pirogen yang nantinya akan di
respon atau dihantarkan ke Hypotalamus. Oleh hypotalamus akan dikeluarkan
Prostaglandin untuk merubah termostat suhu, sehingga suhu akan meningkat dan
terjadinya demam.
Sedangakan nafsu makan menurun akibat adanya inflamasi yang merangsang
pengeluaran sitokin yang akan di hantarkan ke hypotalamus nanti akan direspon oleh
pusat nafsu makan disana dan terjadi nafsu makan menurun.
4) Cara mendiagnosis pasien pasien di skenario
dilakukan pemeriksaan penunjang
1

Pewarnaan gram
Diagnosis cepat infeksi gonokokel melalui pewarnaan gram dari eksudat uretra
telah diterima secara luas. Dikatakan positif bila ditemukan adannya diplokokus
gram negative dengan morfologi tipikal yang ditemukan berhubungan dengan

neutrofil
Kultur
Pengambilan kultur dengan cara swab Dacron atau rayon kemudian sampel
diinokulsi ke plate modikfikai tyayer martein. Kultur darah sering positif pada

awal 24-48jam
Serologi
Serum dan cairan genital yang mengandung antibody IgG dan IgA bekerja
melawan pili gonococci, membrane protein paling luar dan LPS. Beberapa IgM
dari serum manusia bersifat bakterisidal terhadap gonococci pada percobaan in
vitro.

5) DIAGNOSIS BANDING
Page | 18

Untuk diagnosis bandingnya nya terdiri dari sistitis, prostatitis dan epidimitis,
uretritis, serta sindrom uretra. Presentasi klinis ISKB tergantung dari gender. Pada
perempuan biasanya berupa sistitis dan sindrom uretra akut, sedangkan pada laki-laki
berupa sistitis, prostatitis, epidimitis, dan uretritis.
Sistitis terbagi menjadi sistitis akut dan sistitis kronik. Sistitis akut adalah radang
selaput mukosa kandung kemih (vesika urinaria) yang timbulnya mendadak, biasanya
ringan dan sembuh spontan (self-limited disease) atau berat disertai penyulit ISKA
(pielonefritis akut). Sistitis akut termasuk ISK tipe sederhana (uncomplicated type).
Sebaliknya sistitis akut yang sering kambuh (recurrent urinary tract infection)
termasuk ISK tipe berkomplikasi (complicated type), ISK jenis ini perlu perhatian
khusus dalam pengelolaannya.
Sistitis kronik adalah radang kandung kemih yang menyerang berulang-ulang
(recurrent attact of cystitis) dan dapat menyebabkan kelainan-kelainan atau penyulit
dari saluran kemih bagian atas dan ginjal. Sistitis kronik merupakan ISKB tipe
berkomplikas, dan memerlukan pemeriksaan lanjutan untuk mencari faktor
predisposisi.
Sindrom uretra akut (SUA) adalah presentasi klinis sistitis tanpa ditemukan
mikroorganisme (steril), sering dinamakan sistitis abakterialis karena tidak dapat
diisolasi mikroorganisme penyebabnya. Penelitian terkini menunjukkan bahwa SUA
disebabkan oleh MO anaerobik

1. Sistitis akut
Sistitis merupakan penyakit radang kandung kemih atau saluran kencing,
mungkin kita lebih mengenalnya sebagai anyang-anyangan. Sistitis lebih banyak
dialami oleh wanita daripada pria. Ini disebabkan oleh adanya perbedaan pada bentuk
kelamin

antara

wanita

dan

pria.

Systitis adalah inflamasi kandung kemih yang paling sering disebabkan oleh
infeksi asenden dari uretra. Penyebab lainnya mungkin aliran balik urine dari uretra
kedalam kandung kemih. Kontaminasi fekal atau penggunaan kateter atau sistoskop.
Pada wanita, uretra atau saluran kencing bagian bawah yang berfungsi untuk
menyalurkan air kencing, lebih pendek dibandingkan pada pria. Hal ini menyebabkan
Page | 19

kuman dan bakteri lebih mudah memasuki kandung kemih. Oleh karena itu, uretra
pada wanita biasanya mengandung kuman seperti E. Coli, streptokokus, stolilokokus,
atau basilus. Padahal seharusnya kandung kemih ini terbebas dari kuman.
Beberapa penyelidikan menunjukkan 20% dari wanita-wanita dewasa tanpa
mempedulikan umur setiap tahun mengalami disuria dan insidennya meningkat sesuai
pertumbuhan usia dan aktifitas seksual, meningkatnya frekwensi infeksi saluran
perkemihan pada wanita terutama yang gagal berkemih setelah melakukan hubungan
seksual dan diperkirakan pula karena uretra wanita lebih pendek dan tidak mempunyai
substansi anti mikroba seperti yang ditemukan pada cairan seminal. Infeksi ini
berkaitan juga dengan penggunaan kontrasepsi spermasida-diafragma karena
kontrsepsi ini dapat menyebabkan obstruksi uretra parsial dan mencegah pengosongan
sempurna kandung kemih. Cistitis pada pria merupakan kondisi sekunder akibat
bebarapa faktor misalnya prostat yang terinfeksi, epididimitis, atau batu pada kandung
kemih.
Cystitis dapat dibagi menjadi dua bagian yaitu;

Cystitis primer,merupakan radang yang mengenai kandung kemih radang ini dapat
terjadi karena penyakit lainseperti batu pada kandung kemih, divertikel, hipertropi
prostat dan striktura uretra.

Cystitis sekunder, merukan gejala yang timbul kemudian sebagai akibat dari penyakit
primer misalnya uretritis dan prostatitis.

Etiologi
Pada umumnya disebabkan oleh basil gram negatif Escheriachia Coli yang dapat
menyebabkan kira-kira 90% infeksi akut pada penderita tanpa kelainanurologis atau
kalkuli. Batang gram negatif lainnya termasuk proteus, klebsiella, enterobakter,
serratea, dan pseudomonas bertanggung jawab atas sebagian kecil infeksitanpa
komplikasi. Organisme-organisme ini dapat dapat menjadi bertambah penting pada
infeksi-infeksi rekuren dan infeksi-infeksi yang berhubungan langsung dengan
manipulsi

urologis,

kalkuli

atau

obstruksi.

Pada wanita biasanya karena bakteri-bakteri daerah vagina kearah uretra atau dari
meatus terus naik kekandumg kemih dan mungkin pula karena renal infeksi tetapi
yang tersering disebabkan karena infeksi E.coli.
Page | 20

Pada pria biasanya sebagai akibat dari infeksi diginjal, prostat, atau oleh
karena adanya urine sisa(misalnya karena hipertropi prostat, striktura uretra,
neurogenik bladder) atau karena infeksi dari usus.
Jalur infeksi
Tersering dari uretra, uretra wanita lebih pendek membuat penyalkit ini lebih sering
ditemukan pada wanita
Infeksi ginjalyan sering meradang, melalui urine dapat masuk kekandung
kemih.
Penyebaran infeksi secara lokal dari organ laindapat mengenai kandung kemih
misalnya appendiksitis
Pada laki-laki prostat merupakan sumber infeksi.

Faktor predisposisi
Benda asing yang menyebabkan iritasi, misalnya kalkulus tumor dan faeces dari
fistula usus
Instrumentasi saat operasi menyebabkan trauma dan menimbulakn infeksi
Retensi urine yang kronis memungkinkan berkembang biaknya bakteri
Hubungan seksual.

Tanda dan Gejala


Pada umumnya tanda dan gejala yang terjadi pada cystitis adalah ;
peningkatan frekwensi miksi baik diurnal maupun nocturnal
Rasa nyeri pada saluran kencing dan perut bagian bawah. Jika dibawa buang air
kecil terasa sakit dan nyeri.
Sering buang air kecil, tetapi air seni yang keluar hanya sedikit dan disertai rasa
nyeri.
Page | 21

Jika sistitis disebabkan oleh kanker kandung kemih, biasanya kencing disertai rasa
nyeri dan darah yang keluar bersama air seni.
disuria karena epitelium yang meradang tertekan
rasa nyeri pada daerah suprapubik atau perineal
rasa ingin buang air kecil
hematuria
demam yang disertai adanya darah dalam urine pada kasus yang parah

Patofisiologi
Systitis merupakan infeksi saluran kemih bagian bawah yang secara umum
disebabkan oleh bakteri gram negatif yaitu Escheriachia Coli peradangan timbul
dengan penjalaran secara hematogen ataupun akibat obstruksi saluran kemih bagian
bawah, baik akut maupun kronik dapat bilateral maupun unilateral.

Pendekatan Diagnostik
Pemeriksaan urine berwarna keruh, berbau, dan pada urinalisis terdapat piuria,
hematuria, dan bakteriuria. Pada pemeriksaan urine dari pasien wanita dengan sistitis
hanya ditemukan 102 sampai 104 bakteri/mL urine, keadaan ini tidak dapat terlihat
pada sediaan dengan pewarnaan Gram. Pada pemeriksaan fisik biasanya hanya
ditemukan nyeri tekan pada uretra atau area suprapubik. Apabila ditemukan adanya
lesi di genital dan duh tubuh vagina, terutama pada kasus dengan jumlah bakteri di
kultur urin < 105 bakteri/mL, maka patogen yang dapat difikirkan sebagai penyebab
yaitu C. trachomatis, N. gonorrhoeae, Trichomonas, Candida, dan virus herpes
simpleks. Bila ditemukan nyeri di CVA (costovertebral angle) dan manifestasi
sistemik yang menonjol, seperti suhu > 38,30C, mual dan muntah, biasanya
mengindikasikan adanya infeksi renal konkomitan. Tetapi apabila tanda-tanda tersebut
tidak ditemukan tidak menjamin bahwa infeksi hanya terbatas di buli-buli dan uretra.
2. Sifilis
Page | 22

Definisi
Sifilis adalah penyakit infeksi penyakit menular seksual yang disebabkan oleh
Treponema pallidum , yang merupakan penyakit kronis dan bersifat sistemik . selama
perjalanan penyalit ini dapat menyerang seluruh organ tubuh.

Etiologi
Penyebab sifilis adalah treponema pallidium, yang ditularkan ketika hubungan seksual
dengan cara kontak langsung dari luka yang mengandung treponema.
Treponema dapat melewati selaput lendir yang normal atau luka pada kulit. 10-90 hari
sesudah treponema memasuki tubuh, terjadilah luka pada kulitprimer (chancre atau
ulkus durum).

Pada tahun 1905 penyebab sifilis ditemukan oleh Schaudinn dan Hoffman ialah
Treponema pallidum, yang termasuk ordo Spirochaetales, familia Spirochaetaceae,
dan genus Treponema. Bentuknya sebagai spiral teratur, panjangnya antara 6-15 m,
lebar 0,15 m, terdiri atas delapan sampai dua puluh empat lekukan.Gerakannya
berupa rotasi sepanjang aksis dan maju seperti gerakan pembuka botol.Membiak
secara pembelahan melintang, pada stadium aktif terjadi setiap tiga puluh jam.
Klasifikasi sangat sulit dilakukan, karena spesies Treponema tidak dapat dibiakkan in
vitro. Sebagai dasar diferensiasi terdapat 4 spesies yaitu Treponema pallidum sub
species pallidum yang menyebabkan sifilis, Treponema pallidum sub species pertenue
yang menyebaban frambusia, Treponema pallidum sub speciesendemicum yang
menyebabkan bejel, Treponema carateum menyebabkan pinta. 3 Bakteri ini masuk
kedalam tubuh manusia melalui selaput lendir (misalnya di vagina atau mulut) atau
melalui kulit. Dalam beberapa jam, bakteri akan sampai kekelenjar getah bening
terdekat, kemudian menyebar ke seluruh tubuh melalui alirandarah. Sifilis juga bisa
menginfeksi janin selama dalam kandungan dan menyebabkan cacat bawaan. 4

Patofisiologi
Page | 23

A. Stadium dini
T. pallidum masuk ke dalam kulit melalui mikrolesi atau selaput lendir,
biasanya melalui sanggama. Kuman tersebut membiak, jaringan bereaksi dengan
membentuk infiltrat yang terdiri atas sel-sel limfosit dan sel- sel plasma, terutama di
perivaskular, pembuluh-pembuluh darah kecil berproliferasi di kelilingi oleh T.
Pallidum dan sel-sel radang. Treponema tersebut terletak di antara endotelium kapiler
dan

jaringan

perivaskular

di

sekitarnya.

Enarteritis

pembuluh

darah

kecilmenyebabkan perubahan hipertrofik endotelium yang menimbulkan obliterasi


lumen(enarteritis obliterans). Kehilangan pendarahan akan menyebabkan erosi, pada
pemeriksaan klinis tampak sebagai S I.
Sebelum S I terlihat, kuman telah mencapai kelenjar getah bening regional
secara limfogen dan membiak. Pada saat itu terjadi pula penjalaran hematogen
danmenyebar ke semua jaringan di badan, tetapi manifestasinya akan tampak
kemudian.Multiplikasi ini diikuti oleh reaksi jaringan sebagai S II, yang terjadi enam
sampaidelapan minggu sesudah S I. S I akan sembuh perlahan-lahan karena kuman di
tempattersebut jumlahnya berkurang, kemudian terbentuklah fibroblas-fibroblas
danakhirnya sembuh berupa sikatriks. SII jugs mengalami regresi perlahan-lahan dan
lalu menghilang.2
Tibalah stadium laten yang tidak disertai gejala, meskipun infeksi yang aktif
masih terdapat. Sebagai contoh pada stadium ini seorang ibu dapat melahirkan
bayidengan sifilis kongenital. 2
B. Stadium lanjut
Stadium laten dapat berlangsung bertahun-tahun, dimana treponema
didapatkan dalam keadaan dorman. Meskipun demikian antibodi tetap ada dalam
serum penderita.Keseimbangan antara treponema dan jaringan dapat sewaktu - waktu
berubah,sebabnya belum jelas, mungkin trauma merupakan salah satu faktor
predisposisi. Pada saat itu muncullah S III berbentuk guma. Meskipun pada guma
tersebut tidak dapat ditemukan T. pallidum, reaksinya hebat karena bersifat destruktif
dan berlangsung bertahun-tahun. Setelah mengalami masa laten yang bervariasi guma
tersebut timbul di tempat-tempat lain.

Page | 24

Manifestasi klinis
Sifilis Primer :

Papula kecil yang berubah menjadi ulkus tanpa-nyeri (syanker) dengan bagian tepi
yang berbatas jelas pada anus, jari-jari atau kelopak mata.

Limfadenopati regional.

Sifilis Sekunder :

Lesi mukokutaneus yang simetris

Limfadenopati umum

Ruam bisa berbentuk makula, papula, pustula atau nodul

sakit kepala

malaise

Anoreksia, penurunan berat badan, nausea dan vomitus

Nyeri tenggorok dan demam ringan

Alopesia

Sifilis Stadium Lanjut :

Benigna-lesi berbentuk guma, yang ditemukan pada tulang atau organ

Nyeri gastrik, nyeri tekan, dan pe,besaran limpa

Lesu yang mengenai saluran napas atas, perforasi septum nasi atau palatum, destruksi
tulan dan organ.

Fibrisis jaringan elastik aorta

Insufisiensi aorta

Aneurisma aorta

Meningitis

Paresis

Perubahan kepribadian

Kelemahan pada lengan dan tungkai


Page | 25

Diagnosis

Pemeriksaan lapang gelap pada lesi untuk mengidentifikasi keberadaan Treponema


pallidum

Tes fluoresen absorpsi antibodi treponema mengidentifikasi antigen T. pallidum dalam


jaringan cairan mata, cairan serebrospinal, sekret trakeobronkial dan eksudat dari lesi.

Tes slide dan Veneral Disease Research Laboratory dan tes reagin plasma cepat akan
mendeteksi antibodi nonspesifik

Penatalaksanaan

Penisilin G

Azitromisin

Seftriakson atau eritomisin

3. Uretritis
Uretritis sering disebut peradangan pada uretra (saluran tempat lewatnya air
seni dari kandung kemih ke luar tubuh) pada pria ditandai dengan keluarnya cairan
dan/ atau gejala seperti disuria uretra atau gatal pada bagian uretra, tapi dimungkinkan
juga tanpa memperlihatkan gejala. Uretritis biasanya disebabkan karena infeksi dan
juga dapat disebabkan oleh berbagai organisme, termasuk bakteri dan jamur. Uretritis
noninfeksi seringkali disebabkan dari hasil kateterisasi medis. Uretritis juga dapat
berkembang karena sensitivitas kimia yang menyebabkan iritasi, seperti dari
spermatosit di kondom, kontrasepsi jelly, krim, atau foam.

Etiologi
Faktor risiko terkena uretritis, meliputi
1

Praktek seksual tertentu dapat meningkatkan tertularnya uretritis sekunder untuk


PMS.

Page | 26

Penggunaan kontrasepsi seperti kondom dapat membantu untuk mengurangi


kemungkinan STD.

Penggunaa spermisida dapat menyebabkan uretritis kimia.

Usia yang lebih muda saat berhubungan seksual pertama berkorelasi dengan
peningkatan risiko tertular PMS (penyakit menular seksual).

Individu dengan banyak pasangan lebih mungkin terkena PMS.

Preferensi

seksual,

pria

homoseksual

memiliki

tingkat

PMS

tertinggi.

Uretritis juga dapat meningkatkan pelepasan virus dari HIV.

Patofisiologi
Uretritis adalah kondisi peradangan yang dapat menular atau pasca trauma di
alam. Penyebab infeksi uretritis biasanya ditularkan melalui hubungan seksual dan
digolongkan sebagai uretritis

gonokokal, dimana uretritis yang disebabkan oleh

bakteri Neisseria gonorrhoeae sedangkan Uretriris Non Gonokokal disebabkan oleh


bakteri Chlamydia trachomatis, Ureaplasma urealyticum, Mycoplasma hominis,
Mycoplasma genitalium, atau Trichomonas vaginalis.
Uretritis pasca trauma dapat terjadi pada 2% - 20% pasien yang sedang
mengalami kateterisasi intermiten dan setelah instrumentasi atau penyisipan benda
asing. Kasus uretritis dengan kateter lateks 10 kali lebih tinggi dibandingkan kateter
dengan silikon.
Uretritis disebabkan oleh hubungan dengan sindrom menular lainnya, seperti
epididimitis, orkitis, prostatitis, procititis, arthritis reaktif, iritis, pneumonia, otitis
media, dan infeksi saluran kemih.
Pada awal mulanya pasien mengeluh sensasi perih saat buang air kecil (disuria).
Sekitar 25% kasus uretritis tidak tampak gejalanya. Timbulnya gejala pada umumnya
mulai 4 hari sampai 2 minggu setelah kontak pasangan yang terinfeksi, atau pasien
yang mungkin tanpa gejala. Pada uretal discharge tampak cairan berwarna kuning,
hijau, coklat, atau warna merah darah dari produksi urinnya. Sebuah sensasi gatal atau
iritasi pada bagian uretra. Pada pria menunjukkan keluarnya darah di urin (hematuria).
Selain itu, uretritis juga bisa disebabkan oleh infeksi bakteri gonorrhoeae yang
penampakan fisiknya sering mengeluarkan nanah dari penisnya. Jika uretritis terjadi
Page | 27

pada pria, saat hubungan seksual dan ejakulasi terasa menyakitkan (orchalgia), dan
adanya noda darah pada air maninya. Pada wanita biasanya mengeluhkan gejala
memburuk selama menstruasi.
Patofisiologi pada Uretritis Gonoreal
Bakteri Neisseria gonorrhoeae akan mengalami kontak seksual di uretra, lalu
akan menginvasi dan menempel pada mukosa uretra. Di dalam mukosa uretra bakteri
akan berproliferasi untuk menghancurkan sel mukosa yang mengakibatkan inflamasi,
edema pada mukosa. Peradangan pada saluran uretra inilah yang menyebabkan
uretritis.
Patofisiologi pada Uretritis Non-Gonoreal
Bakteri Chlamydia trachomatis masuk melalui uretra. Lalu, bakteri akan
menginvasi dan menempel pada dinding mukosa uretra. Dalam mukosa mengalami
proliferasi bakteri, dimana akan mengakibatkan peradangan dan edema mukosa ureter
sehingga menyebabkan uretritis.

Klasifikasi
Uretritis biasanya dikategorikan

ke

dalam dua

bentuk,

yaitu

Uretritis

Gonokokal (GU) dan Uretritis Non Gonococcal (NGU).


Gonokokal Uretritis (80% kasus) disebabkan oleh bakteri Neisseria gonorrhoeae.
Gonorrhoeae, yang merupakan bakteri gram negatif. Pasien memiliki masa inkubasi
yang lebih pendek dibandingkan dengan Uretritis Non Gonokokal. Pada pria, infeksi
orifisium mental terjadi disertai rasa terbakar ketika urinasi. Rabas uretral purulen
muncul dalam 3 sampai 14 hari (atau lebih lama) setelah kontak seksual. Meskipun
demikian penyakit ini dapat bersifat asimtomatik. Pada pria, infeksi melibatkan
jaringan di sekitar uretra, menyebabkan periuretritis, prostatis, epididimitis, dan
striktir uretra. Sterilitas dapat terjadi akibat obstruksi vasoepididimal. Pada wanita
rabas uretral tidak selalu muncul dan penyakit juga asimtomatik. Oleh karena itu
gonorea pada wanita sering tidak didiagnosis dan dilaporkan.

Page | 28

Uretritis Non Gonokokal (50% kasus) disebabkan oleh Chlamydia trachomatis,


Ureaplasma urealyticum, Mycoplasma hominis, Mycoplasma genitalium dan T.
Vaginalis. Pasien memiliki inkubasi lebih lama dibandingkan dengan uretritis
gonokokal. Periode inkubasi untuk NGU adalah 1-5 minggu. Jika pada pria, akan
terjadi keluhan adanya disuria tingkat sedang atau parah dan rabas uretral dengan
jumlah sedikit sampai sedang. Uretritis kateterisasi terjadi pada 2-20% pasien yang
mengalami kateterisasi intermiten dan kateter lateks cenderung lebih mungkin
menimbulkan uretritis daripada kateter silikon.

Manifestasi Klinik
Tanda dan gejala Uretritis Gonococcal (UG) dan Uretritis Non Gonococcal
(UNG) pada dasarnya adalah sama, namun berbeda pada derajat keparahan gejala
yang timbul. Kedua uretritis baik gonoccoccal maupun UNG menyebabkan adanya
lendir, dysuria, dan gatal pada uretra. Lendir yang sangat banyak, dan purulen lebih
sering pada gonorrhea, sedangkan pada kondisi UNG, lendir yang dihasilkan lebih
sedikit dan mukoid. Pada UNG, lendir sering hanya muncul pada pagi hari, atau
hanya terlihat seperti krusta yang melekat di meatus atau terlihat seperti bercak pada
pakaian dalam. Frekuensi, hematuria, dan urgensi sering terjadi pada kedua jenis
infeksi. Masa inkubasi jauh lebih pendek pada infeksi gonorrhea, yaitu dalam 2-6 hari,
sedangkan pada UNG, gejala muncul dalam 1-5 minggu setelah infeksi, dengan masa
inkubasi rata-rata 2-3 minggu.

Pendekatan Diagnostik
Sekitar 30 % dari wanita dengan disuria akut, gejala frekuensi, dan pyuria, memiliki
hasil kultur dari urin arus tengah (midstream) yang tidak menunjukkan adanya
pertumbuhan bakteri atau pertumbuhan yang sedikit sekali. Secara klinis, wanita
dengan keluhan tersebut tidak dapat dibedakan dengan mereka yang menderita sistitis.
Pada kondisi ini, yang harus dibedakan yaitu antara wanita yang terinfeksi kuman
patogen yang ditularkan melalui hubungan seksual, seperti C. trachomatis, N.
gonorrhoeae, atau virus herpes simpleks, dengan mereka yang terinfeksi E.coli dalam
jumlah sedikit atau infeksi stafilokokus pada uretra dan buli-buli. Infeksi klamidia
Page | 29

atau gonokokus dapat dicurigai pada wanita dengan awitan penyakit yang bertahap,
tidak ada hematuria, tidak ada nyeri suprapubik, dan gejala sudah berlangsung selama
> 7 hari. Informasi tambahan berupa riwayat berganti-ganti pasangan, terutama jika
pasangan tersebut memiliki riwayat uretritis klamidia atau gonococal dan ditemukan
servisitis mukopurulen, maka kecurigaan terhadap infeksi menular seksual makin
besar. Gross hematuria, nyeri suprapubik, dan awitan panyakit yang tiba-tiba atau
cepat, lama penyakit < 3 hari, dan adanya riwayat ISK sebelumnya mengarah kepada
diagnosa ISK E. coli.

4. Prostatitis
Bakterial prostatitis merupakan peradangan yang terjadi pada kelenjar prostat
dan jaringan sekitarnya. Bacterial prostatitis terbagi menjadi prostatitis akut dan
kronik. Dari definisinya, bakteri patogen dan inflamasi akan muncul pada ekskresi
prostat dan urin yang menjadi tanda untuk diagnosis bakterial prostatitis. Prostatitis
jarang terjadi pada laki-laki muda, tetapi infeksi berulang akan muncul pada pria yang
berumur di atas 30 tahun. Akut prostatitis dikarakterisasi dengan adanya batuk yang
muncul tiba-tiba, dan gejala urin dan konstitutional. Prostatitis kronis menimbulkan
gejala susah buang air kecil, sakit punggung belakang, dan tekanan perineal. Penyakit
ini merupakan infeksi berulang oleh organisme yang sama akibat pengobatan yang
tidak sempurna bakteri dari kelenjar prostat.

Etiologi
Akut bakterial prostatitis dapat disebabkan infeksi melalui uretra, refluks urin
ke dalam saluran prostat, atau penyebaran langsung dari dubur. 80% patogen adalah
organisme gram negatif seperti Eschericia coli, Enterobacter, Serratia, Pseudomonas,
Enterococcus, dan spesies prosteus. Merawat pasien di rumah dengan penggunaan
kateter yang tidak baik dapat menyebabkan resiko munculnya penyakit akut bakterial
prostatitis.
Kronis bakterial prostatitis dapat disebabkan oleh hal berikut :

Masalah utama disfungsi berkemih, baik struktural dan fungsional.


Page | 30

75-80% E coli menyebabkan kronik bakterial prostatitis.

C trachomatis, spesies Ureaplasma, Trichomonas vaginalis.


Organisme yang tidak umum, seperti M tuberculosis dan Coccidioides, Histoplasma,
dan spesies candida. Tuberkulosis prostatitis dapat ditemukan pada renal tuberkulosis.

HIV

Cytomegalovirus

Kondisi inflamasi
Penyebab kronis prostatitis dan kronis pelvis pain adalah :
Patologi fungsional dan struktural kandung kemih seperti obstruksi leher vesikal dan
pseudodyssynergia

Obstruksi saluran kemih

Peningkatan tekanan pelvis

Inflamasi nonspesifik prostatic.

Patofisiologi
Di bakterial prostatitis, penularan bakteri umum terjadi, tapi hematogenus,
limfatik, dan penyebaran infeksi dari organ sekitarnya perlu diperhitungkan.
Kehadiran sel akut inflamasi pada kelenjar epitelium dan lumen prostat, dan kronik
inflamasi sel di jaringan perigandular mengkarakterisasi prostatitis. Meskipun
kehadiran dan kuantitas sel inflamatori di urin dan sekresi prostat tidak berkaitan
dengan berbagai macam gejala klinik. Sindrom kronis sakit pada panggul didiagnosis
melalui kultur urin dan sekresi prostat. Disfungsi neuromuscular atau masuknya urin
pada saluran ejakulator dan saluran prostat dapat menjadi faktor pengendapan. Virus
dan granulomatosa prostitis dapat dihubungkan dengan infeksi HIV dan penyebab
lainnya penyakit kultur negatif. Virus patogen yang umum pada prostatitis bagi pasien
yang terinfeksi HIV adalah cytomegalovirus. Mycobacteria seperti mycobacterium
tuberkulosis dan jamur seperti Candida albicans.

Klasifikasi
Page | 31

National Institutes of Health (NIH) mengklasifikasikan dan mendefinisikan


kategori prostatitis yaitu :
Kategori 1 : Akut bakterial prostatitis yaitu infeksi akut pada prostat
Kategori 2 : Kronis bakterial prostatitis, infeksi saluran kencing yang berulang dan
atau infeksi kronis pada prostat
Kategori 3 : kronis abakterial prostatitis atau sindrom kronis nyeri panggul,
ketidaknyamanan atau sakit pada bagian panggul selama 3 bulan dengan gejala yang
bervariasi
Kategori 3a : sindrom inflamasi kronis nyeri pada panggul, sel darah putih di semen
dan atau muncul pada sekresi prostat dan atau spesimen kandung kemih
Kategori 3b : sindrom noninflamasi kronis nyeri pada panggul, tidak ada sel darah
putih di semen atau sekresi prostat
Kategori 4 : inflamasi prostatitis asimptomatik : berdasarkan sampel biopsi, semen,
dan atau sekresi prostatik, tanpa gejala.

Manifestasi klinik
Demam, meriang, rasa tidak enak, mialgia, sakit pada perineal, disuria,
gangguan saluran kencing, sakit pada punggung belakang, sakit pada abdominal.
Tanda

dan gejala : Akut bakterial prostatitis : demam tinggi, menggigil,

malaise, mialgia, nyeri lokal pada perineum, rektum, dan sacrococcygeal, dan disuria.
Kronis bakterial prostatitis : disuria, sakit pada punggung dan ketidaknyamanan pada
suprapubic dan perineal.
6) Diagnosis pasti dari skenario
A Definisi
Gonore adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh Neisseria gonorrehoeae (N.
gonnorhoeae). (kapita Selekta Kedokteran jilid 2, 2000); Gonore adalah infeksi

Page | 32

menular seksual di saluran genitourinaria bawah yang disebabkan oleh Neisseria


gonnorrhoae.(buku ajar patologi edisi 7, 2007).
Gonore dalam arti luas mencakup semua penyakit yang disebabkan oleh Neisseria
gonorrhoeae.
Pada umumnya penularannya melalui hubungan kelamin yaitu secara genitorgenital, orogenital dan ano-genital. Tetapi, di samping itu dapat juga terjadi secara
manual melalui alat-alat, pakaian, handuk, thermometer, dan sebagainya. Oleh
karena itu secara garis besar dikenal gonore genital dan gonore ekstra genital.
B Epidemiologi
Gonore telah menyebar ke seluruh dunia. Laporan WHO pada tahun 1999 secara
global terdapat 62 juta kasus baru gonorrhea, 27,2 juta diantaranya terjadi di Asia
Selatan dan Asia Tenggara,Di Amerika Serikat, Di Jepang terdapat peningkatan
kasus infeksi oleh bakteri Neisseria gonorrhoeae yang sudah resisten terhadap
Ciprofloxacin,dan di Indonesia, data dari Departemen Kesehatan RI pada tahun
1988, angka insidensi gonorrhea adalah 316 kasus per 100.000 penduduk.
Beberapa penelitian di Surabaya, Jakarta, dan Bandung terhadap PSK wanita
menunjukkan bahwa prevalensi gonorrhea berkisar antara 7,4 50%.
Tahun 1980 an sampai pada tahun 2005 di laporkan terjadi 339.593 kasus,di
mana angka ini menunjukan peningkatan, terutama pada Negara berkembang
( termaksuk Amerika Serikat).
C Etiologi
Penyebab gonore adalah gonokok yang ditemukan oleh Albert Neisser pada tahun
1879 dan baru diumumkan pada tahun 1882. Kuman tersebut masuk dalam grup
Neisseria sebagai Neisseria gonorrhoeae yang bersifat komensal.
Morfologi
Neisseria gonorrhoeae merupakan kuman kokus gram negative, berukuran
0,8 dan panjang 1,6, bersifat tahan asam, gram negatif, terlihat di dalam dan di
luar leukosit, tidak tahan lama di udara bebas, cepat mati dalam keadaan kering,
tidak tahan suhu di atas 39C, dan tidak tahan zat desinfektan. Secara morfologik
terdiri dari 4 c tipe, yaitu tipe 1 dan 2 yang mempunyai pili yang sangat virulen,
serta tipe 3 dan 4 yang tidak mempunyai pili dan nonvirulen. Gonococci biasanya
menghasilkan koloni yang lebih kecil dibandingkan Neisseeria lainnya. Koloni
yang pekat berhubungan dengan keberadaan protein yang berada di permuakaan,
yang disebut opa. Makin kecil N. gonorrheae makin tinggi virulensinya, karena sel

Page | 33

bakteri ini memiliki ili yang memudahkan perlekatan dengan dinding sel selaput
lendir.
Mikrobiologi
Dengan mikroskop electron, dinding N. gonorrheae terlihat mempunyai
komponen-komponen permukaan yang diduga berperan pada pathogenesis
virulensinya. Komponen permukaan tersebut mulai dari lapisan dalam ke luar
1

dengan susunan sebagai berikut.


Membrane sitoplasma. Membran ini menghasilkan beberapa enzim seperti suksinat

dehidrogenase, laktat dehidrogenase, NADH dehidrogenase dan ATP ase.


Lapisan peptidoglikan. Lapisan ini mengandung beberapa jenis asam amino seperti
pada kuman gram negative lainnya. Lapisan ini mengandung penicillin binding
component yang merupakan sasaran antibiotic penisilin dalam proses kematian

kuman. Terjadi hambatan sintesis dinding sel, sehingga kuman akan mati.
Membrane luar (dinding sel). Membrane ini terdiri atas beberapa komponen yang

terpenting:
Lapisan polisakarida yang memegang peranan dalam virulensi dan pathogenesis

kuman N. gonorrheaea.
Pili merupakan bagian dinding sel gonokokus yang menyerupai rambut, berbentuk
batang dan terdiri dari sub unit protein sekitar 1800 dalton. Pili ini dihubungkan
dengan patogenesitas kuman yang sangat berperan dalam perlekatan pada sel

mukosa dan penyebaran kuman dalam inang.


Protein. (1) porin protein (por) berfungsi sebagai penghubung anion spesifik ke
dalam lapisan yang banyak mengandung lemak pada membrane luar; (2) opacity
protein (Opa) banyak ditemukan pada daerah perlekatan sel antar sel dalam koloni
atau sel dengan epitel yang mempunyai kemampuan menyesuaikan perubahan
panas sel; (3)Reduction Modifiable Protein (RMP) yang dapat memblokade
antibody yang ada dalam serum. Semua Neisseria pathogen mempunyai protein

RMP; H8 protein.
Lipo oligosakarida (LOS). Komponen ini berperan dalam menginvasi sel epitel

dengan cara memproduksi endotoksin yang menyebabkan kematian sel mukosa.


Ig A1 protease. Komponen ini berperan dalam inaktifasi pertahanan imun mukosa.
Hilangnya Ig A1 protease akan menyebabkan hilangnya kemampuan gonokokus
untuk tumbuh dalam sel epitel.

D Pathogenesis
Meskipun teah

banyak

peningkatan

dalam

pengetahuan

tentang

pathogenesis dari mikroorganisme, mekanisme molekular yang tepat tentang


Page | 34

invasi gonokokkus ke dalam sel host tetap belum diketahui. Ada beberapa faktor
virulen yang terlibat dalam mekanisme perlekatan, inflamasi dan invasi mukosa.
Pili memainkan peranan penting dalam pathogenesis gonorre.
Untuk dapat menular, harus terjadi kontak langsung mukosa ke mukosa. Tidak
semua orang yang terpajan gonore akan terjangkit, dan resiko penularan laki-laki
ke perempuan lebih besar terutama karena lebih luasnya selaput lendir yang
terpajan dan eksudat yang berdiam lama di vagina. Setelah infeksi oleh Neisseria
gonorrhoeae tidak timbul imunitas alami, sehingga infeksi dapat terjadi lebih dari
satu kali. Ada masa tenggang (masa inkubasi) selama 2-10 hari setelah kuman
masuk ke dalam tubuh melalui hubungan seks.
Pili meningkatkan adhesi ke sel host, hal ini merupakan alasan mengapa
gonokok yang tidak memiliki pili kurang mampu menginfeksi manusia.tetapi
dalam tubuh juga terdapat antibody antipili yang memblok epithelial dan
meningkatkan kemampuan dari sel fagosit. Daerah yang paling mudah terinfeksi
ialah daerah epitel kolumnar dari uretra dan endoserviks, kelenjar dan duktus
parauretra pada pria dan wanita, kelenjar bartolini, konjungtivita mata dan rectum.
E Manifestasi Klinis

Pada Laki-Laki
Sekali kontak dengan wanita yang terinfeksi, 25% akan terkena uretritis gonore
dan 5 % berupa uretritis yang akut. Setelah masa tunas yang berlangsung antara 210 hati, penderita mengeluh nyeri dan panas pada waktu kencing yang kemudian
diikuti keluarnya nanah kental berwarna kuning kehijauan.
Pada keadaan ini umumnya penderita tetap merasa sehat, hanya kadang-kadang
dapat diikuti gejala konstitusi ringan. Sebanyak 10% pada laki-laki dapat
memberikan gejala klinis sama sekali pada saat diagnosis, tetapi hal ini sebenarnya
merupakan stadium presimtomatik dari gonore. Oleh karena waktu inkubasi pada
laki-laki bisa lebih panjang (1-47 hari) dengan rata-rata 8 hari dari laporan
sebelumnya. Bila keadaan ini tidak segera diobat, maka dalam beberapa hari
sampai beberapa minggu maka sering menimbulkan komplikasi local berupa
epididimitis, seminal vesikulitis dan prostatitis, yang didahului oleh gejala klinis
yang lebih berat yaitu sakit waktu kencing, frekuensi kencing meningkat, dan
keluarnya tetes darah pada akhir kencing.
Pada wanita
Pada wanita gejala uretritis ringan atau bahkan tidak ada, karena uretra pada wanita
selain pendek, juga kontak pertama pada cervix sehingga gejala yang menonjol
Page | 35

berupa cervicitis dengan keluhan berupa keputihan. Karena gejala keputihan


biasanya ringan, seringkali disamarkan dengan penyebab keputihan fisiologis sain,
sehingga tidak merangsang penderita untuk berobat.
Dengan demikian wanita sering kali menjadi carier dan akan menjadi sumber
penularan yang tersembunyi. Pada kasus-kasus yang simptomatis dengan keluhan
keputihan harus dibedakan dengan penyebab keputihan yang lain seperti
trichomoniasis, vaginosis, candidiasis, maupun uretritis non gonore lainnya.
Pada wanita, infeksi primer terjadi di endoserviks dan menyebar ke arah uretra
dan vagina, meningkatkan sekresi cairan yang mukourulen. Ini dapat berkembang
ke tuba uretrine, menyebabkan salpingitis, fibrosis dan obliterasi tuba. Ketidak
suburban (infertilitas) terjadi pada 20% wanita dengan salpingitis karena
gonococci.

Pada bayi
Ophtalmia neonatum yang disebabkan oleh gonococci, yaitu suatu infeksi mata
pada bayi yang baru lahir yang didapat selama bayi berada dalam saluran lahir
yang terinfeksi. Conjungtivitis inisial dengan cepat dapat terjadi dan bila tidak
diobati dapat menimbulkan kebutaan. Untuk mencegah ophtalmia neonatorum ini,
pemberian tetracycline atau eritromycin ke dalam kantung conjungtiva dari bayi
yang baru lahir banyak dilakukan.
F Diagnosis
Diagnosis ditegakkan atas dasar anamnesis, pemeriksaan klinis, dan pemeriksaan
pembantu yang terdiri atas 5 tahapan.
A Sediaan Langsung
Pada sediaan langsung dengan pewarnaan Gram akan ditemukan gonokok
negative-gram, intraseluler dan ekstraseluler. Bahan duh tubuh pada pria
diambil dari daerah fosa navikularis, sedangkan pada wanita diambil dari
uretra, muara kelenjar bartholin, servix, dan rectum.
B Kultur
untuk identifikasi perlu diakukan pembiakan (kultur). Dua macam media yang
dapat digunakan:
1 Media transport
2 Media pertumbuhan
Contoh media transport:
- Media Stuart
Hanya untuk transport saja, sehingga perlu ditanam pada media
-

pertumbuhan.
Media Transgrow

Page | 36

Media ini selektif dan nutrisif untuk N. gonorrhoeae dan N. meningitides;


dalam perjalanan dapat bertahan hingga 96 jam dan merupakan gabungan
media transport dan media pertumbuhan , sehingga tidak perlu ditanam pada
media pertumbuhan. Media ini merupakan modifikasi media Thayer Martin

dengan menambahkan trimetoprim untuk mematikan Proteus spp.


Contoh media pertumbuhan:
Mc leods chocolate agar
Berisi agar coklat, agar serum, dan agar hidrokel. Selain kuman gonokok,
kuman-kuman lain juga dapat tumbuh.
Media Thayer Martin
Media ini selektif untuk mengisolasi gonokok. Mengandung vankomisin
untuk menekan pertumbuhan kuman gram-positif, kolestimetat untuk
menekan pertumbuhan bakteri negative-gram, dan nistatin untuk menekan

pertumbuhan jamur.
Modified Thayer Martin
Isinya ditambahkan dengan trimetoprim untuk mencegah pertumbuhan
kuman Proteus spp.

C Tes definitif
1 Tes oksidasi
Reagen oksidasi yang mengandung larutan tetrametil-pfenilendiamin
hidroklorida 1% ditambahkan pada koloni gonokok tersangka. Semua
Neisseria member reaksi positif dengan perubahan warna koloni yang
2

semula bening berubah menjadi merah muda sampai merah lembayung.


Tes fermentasi
Tes oksidasi positif dilanjutkan dengan tes fermentasi memakai glukosa,
maltose, dan sukrosa. Kuman gonokok hanya meragikan glukosa.

D Tes beta-laktamase
Pemeriksaan beta-laktamase dengan menggunakan cefinase TM disc. BBL
961192 yang mengandung chromogenic cephalosporin, akan menyebabkan
perubahan warna dari kuning menjadi merah apabila kuman mengandung
enzim betalaktamase
E Tes Thomson
Tes Thomson iniberguna untuk mengetahui sampai mana infeksi sudah
berlangsung. Pada tes ini ada syarat yang perlu diperhatikan:
- Sebaiknya dilakukan setelah bangun pagi
- Urin dibagi dalam dua gelas
- Tidak boleh menahan kencing dari gelas 1 ke gelas 2.

Page | 37

Syarat mutlak ialah kandung kencing harus mengandung air seni paling
sedikit 80-100 ml, jika air seni kurang dari 80 ml, maka gelas 2 sukar
dinilai karena baru menguras uretea anterior.

G Pengobatan
Pengobatan yang perlu diperhatikan adalah efektifitas, harga dan sedikit mungkin
efek toksiknya. Pilihan utama ialah penisilin + probenesid, kecuali di daerah yang
tinggi insiden Neisseria gonorrhoeae Penghasil Penisilin. Secara epidemiologis
pengobatan yang dianjurkan adalah obat dengan dosis tunggal. Macam-macam
obat yang dapat dipakai antara lain:
1

Penisilin
Yang efektif ialah penisilin G prokain akua. Dosis 4, 8 juta unit + 1 gram
probenesid. Obat tersebut dapat menutupi gejala sifilis. Kontra indikasinya adalah
alergi penisilin.

Ampisilin dan amoxicillin


Ampisilin dosisnya ialah 3,5 gram + 1 gram probenesid, dan amoxicillin 3 gram +
1 gram probenesid. Kontra indikasinya ialah alergi penisilin. Untuk daerahdengan
Neisseria gonorrhoeae penghasil penisilinase yang tinggi, penisilin, ampisilin, dan

amoxicillin tidak dianjurkan.


Sefalosporin
Seftriakson (generasi ketiga) cukup efektif dengan dosis 250mg IM. Sefoperason
denga dosis 0,50-1,00 gram secara intramuscular.

Spektinomisin
Dosisnyaialah 2 gram intramuscular baik untuk penderita yang aergi penisilin,
yang mengalami kegagalan pengobatan dengan penisilin, dan terhadap penderita
yang juga tersangka menderita sifilis karena obat ini tidak menutupi gejala sifilis.

Kanamisin
Dosisnya 2gram i.m. Angka kesembuhan pada tahun 19585 ialah 85 %. Baik
untuk penderita yang alergi penisilin, gagal dengan pengobatan penisilin dan
terangka sifilis.

Tiamfenikol
Dosisnya 3,5 gram secara oral. Angka kesembuhan pada tahun 1988 ialah 97,7 %.
Tidak dianjurkan pemakaiannya pada kehamilan.

Page | 38

Kuinolon
Dari golongan kuinolon, obat yang menjadi piihan adalah ofloksasin 400 mg,
siprofloksasin 250-500mg, dan norfloksasin 800mg secara oral.
Obat dengan dosis tunggal yang tidak efektif lagi ialah tetrasiklin, streptomisin,
dan spiramisin.

H Pencegahan
Penjelasan pada pasien dengan baik dan benar sangat berpengaruh pada
keberhasilan pengobatan dan pencegahan karena gonore dapat menular kembali
dan dapat terjadi komplikasi apabila tidak diobati secara tuntas.
Tidak ada cara pencegahan terbaik kecuali menghindari kontak seksual dengan
pasangan yang beresiko. Penggunaan kondom masih dianggap yang terbaik. Serta
penanaman pendidikan moral, agama dan seks perlu diperhatikan.

Prognosis
Bila didiagnosis dini dan diobati secara tepat dan segera, gonore akan memberikan
prognosis yang baik. Tetapi bila terinfeksi sampai tahap lanjut atau terlambat
ditangani akan menunjukan prognosis yang buruk yaitu infertilitas.

j. Komplikasi
Komplikasi gonore sangata erat hubungannya dengan susunan anatomi dan faal
genitalia. Komplikasi lokal pada pria bisa berupa tisonitis (kelenjar tyson).
Parauretritis, litritis (radang kelenjar littre), dan cowperitis (radang kelenjar
cowper). Selain itu, infeksi dapat pula menjalar ke atas (ascendens) sehingga
terjadi prostatitits, vaskulitis, epididimis, yang dapat menimbulkan infertilitas.
Ibfeksi dari uretra pas posterior dapat mengenai trigonum kandung kemih yang
menimbulkan trigonum. Gejala trigonitis adalah poliura, disuria terminal, dan
hematuria.
Pada wanita inveksi pada serviks (servititis gonore) dapat menimbulkan
komplikasi salpingitis, ataupun penyakit radang panggul. Penyakit radang panggul
yang simptomatik ataupun asimptomatik dapat mengakibatkan jaringan parut pada
tuba sehingga menyebabkan infertilitas atau kehamilan ektopik. Bila infeksi
mengenai uretra dapat menjadi parauretritis, sedangkan pada kelenjar Bartholin
akan menyebabkan bartholinitis.
Komplikasi diseminata pada pria dan wanita dapat berupa artritis,
miokarditis, endokarditis, perikarditis, meningitidis, dan dermatitis. Kelainan yang
Page | 39

timbul akibat hubungan kelamin selain cara genito-genital. Pada pria dan wanita
dapat berupa infeksi non-genital, yaitu orofaringitis, proktitis, dan konjungtivitis.

BAB IV
PENUTUP
Kesimpulan
Jadi berdasarkan penjelasan diatas kami dapat menarik kesimpulan bahwa pasien di
skenario menderita penyakit menular seksual (PMS) yaitu penyakit Gonore. Gonore adalah
penyakit infeksi yang disebabkan oleh Neisseria gonorrehoeae (N. gonnorhoeae), yang
secara umum penularannya melalui hubungan kelamin yaitu secara genitor-genital, orogenital
dan ano-genital. Tetapi, di samping itu dapat juga terjadi secara manual melalui alat-alat,
pakaian, handuk, thermometer, dan sebagainya. Pencegahan yang dapat kita lakukan adalah
menghindari kontak seksual dengan pasangan yang beresiko. Penggunaan kondom, serta
penanaman pendidikan moral, agama dan seks. Penyakit gonore ini prognosisnya baik jika
cepat ditangani dan jika terlambat ditangani akan menyebabkan infertilitas.

Page | 40

DAFTAR PUSTAKA
1

Setiadi. 2007. Anatomi dan Fisilogi Manusia. Yogyakarta: Graha Ilmu

Guyton, Arthur C. 2007. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran. Jakarta: EGC

Sloane, Ethel. 2003. Anatomi dan fisiologi untuk pemula.Jakarta: EGC

4
5

Moore L Keith, Anne M. 2003. Anatomi klinis Dasar.Jakarta: Hipocrates


Setiati, Siti Dan Idrus Alwi. Dkk. 2014. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam Jilid
1, Jakarta : Interna Publishing

Suhendro, Nainggolan L, Chen K, Pohan HT. infeksi saluran kemih. editor sudoyo
AW, Setiyohadi B, Alwi I, Marcellus SK, Setiati S. Ilmu penyakit dalam Edisi V.
Jakarta: Interna publishing. 2009.

Naber KG, Bergman B, Bishop MC, Johansen TEB, Botto H. European


Association of urology : guidelines on urinary and Male genital Tract Infections.
2001

Infeksi

saluran

kemih,

http://emedicine.medscape.com/article/438091-

overview#showall, diakses tanggal 24 Maret 2015.


9

Brunner & Suddath.2002. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah. Jakarta : EGC

Page | 41

10 Tessy, Agus dkk. 2003. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. Jakarta : Balai Penerbit
FKUI
11 Sukandar, E. Infeksi Saluran Kemih. In Sudoyo A.W, et all.ed. Buku Ajar Ilmu
Penyakit Dalam Jilid II Edisi V. Jakarta: Internal Publishing. 2009:1008-1014.
12 Sukandar, E. Infeksi (non spesifik dan spesifik) Saluran Kemih dan Ginjal. In
Sukandar E. Nefrologi Klinik Edisi III. Bandung: Pusat Informasi Ilmiah (PII)
Bagian Ilmu Penyakit Dalam FK UNPAD. 2006: 29-72
13 Daili S. F. 2005. Gonore. Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin. Edisi ke-4. hal 367378. FKUI: Jakarta
14 Ernawati. Uretritis Gonore. FK UKSW: Surabaya. Diakses tanggal 10 Maret
2013. Tersedia dari http://www.fk.uksw.ac.id/
15 Geo F. Brooks, Janet S. Butel, dkk. 2005. Mikrobiologi Kedokteran. Buku 1.
Jakarta: Salemba Medika.

Page | 42