Anda di halaman 1dari 12

MAKALAH

WRIST DROP

Disusun Oleh :
BINARTHA UTAMI
100100241

Pembimbing :
dr. Aida Fithrie, Sp.S

DEPARTEMEN NEUROLOGI
FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
RSUP H.ADAM MALIK
MEDAN
2014

KATA PENGANTAR

Segala puji penulis panjatkan kehadirat Allah SWT, atas segala rahmat dan
karunia-Nya yang telah memberikan kekuatan, kesehatan, dan kesempatan serta
memberikan rasa sabar sehingga penulis dapat menyelesaikan penulisan makalah
yang berjudul Wrist Drop. Makalah ini diajukan untuk melengkapi tugas pada
Kepaniteraan Klinik Departemen Neurologi, Fakultas Kedokteran, Universitas
Sumatera Utara.
Proses penulisan makalah ini tidak terlepas dari dukungan, bimbingan dan
bantuan dari beberapa pihak, dalam kesempatan ini izinkanlah penulis untuk
mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada yang terhormat dr. Aida
Fithrie, Sp.S selaku pembimbing yang telah memberikan bimbingan dan arahan
dalam proses penulisan makalah ini.
Namun

demikian,

karena

keterbatasan

pengalaman,

pengetahuan,

kepustakaan dan waktu, makalah ini masih jauh dari kesempurnaan. Untuk ini,
kritik dan saran dari berbagai pihak sangat diharapkan untuk menyempurnakan
makalah ini.

Medan, 13 Desember 2014

Penulis

DAFTAR ISI

Halaman
KATA PENGANTAR....................................................................................................
DAFTAR ISI................................................................................................................
BAB 1 PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang...........................................................................................
1.2. Tujuan.........................................................................................................
1.3. Manfaat......................................................................................................
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Anatomi Nervus Radialis...........................................................................
2.2. Definisi.......................................................................................................
2.3. Etiologi.......................................................................................................
2.4. Gambaran Klinis........................................................................................
2.5. Pemeriksaan Fisik......................................................................................
2.6. Diagnosa.....................................................................................................
2.7. Penatalaksanaan.........................................................................................
2.8. Penatalaksanaan Fisioterapi.......................................................................
BAB 3 KESIMPULAN
DAFTAR PUSTAKA

BAB 1
PENDAHULUAN

1.1.

Latar Belakang
Wrist drop atau drop hand yang juga dikenal sebagai paralisis nervus

radialis

atau

neuropati

radialis

yang

menyebabkan

kelemahan

untuk

mendorsofleksikan lengannya dan mengekstensikan jari-jari tangannya. Neuropati


radial dihasilkan dari cedera akibat luka tembus atau patah tulang lengan,
kompresi, atau iskemia. Gambaran klinis paling umum dari neuropati radial
adalah wrist drop. Pola keterlibatan klinis tergantung pada tingkat cedera
(Anderson, Wayne E., 2013).
1.2.

Tujuan
Tujuan dari pembuatan makalah ini adalah untuk memahami aspek teori

dari Wrist Drop. Penyusunan makalah ini sekaligus dilakukan untuk memenuhi
persyaratan kegiatan Program Pendidikan Profesi Dokter (P3D) di Departemen
Neurologi Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara.
1.3.

Manfaat
Makalah ini diharapkan dapat mengembangkan kemampuan penulis

maupun pembaca khususnya peserta P3D untuk lebih mengetahui tentang teoriteori

terkini

yang

membahas

mengaplikasikannya dilapangan.

mengenai

Wrist

Drop

sehingga

dapat

BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA

2.1.

Anatomi Nervus Radialis


Nervus radialis adalah cabang terbesar dari pleksus brakhialis.

Mulai pada tepi bawah muskulus pektorialis minor sbg lanjutan dari trunkus
posterior pleksus brakllialis. Berasal dari radiks spinalis servikalis V sampai
thorakal I. Sesudah meninggalkan aksila, saraf ini melilit pada lekukan spiral
(musculospiral groove) pada humerus dan menempel erat pada tulang
bersama cabang profunda dari arteri brakhialis. Setelah mencapai septum
intermuskularis lateralis sedikit dibawah insersio muskulus deltoideus, pada
tempat ini dengan landasan tulang humerus, saraf ini dapat diraba. Pada fossa
antekubiti, pada bagian depan bawah lengan atas setinggi kondilus lateralis
humerus, saraf ini membagi diri dalam 2 cabang terminal yaitu:
a. cabang motoris profundus (nervus interosseus posterior)
b. cabang kutaneus superflsialis
Percabangan ini biasanya terletak pada bagian proksimal lengan bawah, tetapi
dapat bervariasi dalam jarak 4 sampai 4,5 cm dibawah epikondilus lateralis.
N. interosseus posterior menembus muskulus supinator untuk
mencapai sisi posterior lengan bawah dan memberi persarafan motorik
Cabang kutaneus mencapai superfisial kira-kira 10 cm diatas pergelangan
tangan. Turun sepanjang sisi lateral lengan bawah dan berakhir dengan
memberi persarafan sensorik kekulit dorsum tangan, ibu jari, telunjuk dan jari
tengah (Dyck 1975, Dejong 1979, Chusid 1988).
Nervus radialis pada lengan atas, memberi persarafan motorik
untuk:
a. M. Triseps dan M. Ankoneus; ekstensor lengan bawah
b. M. Brakhioradialis; fleksor lengan bawah pada posisi semipronasi
c. M. Ekstensor Karpi Radialis Longus dan Brevis; ekstensor radial tangan
Pada lengan bawah, melalui cabang motoris profunda memberi
persarafan motorik untuk:
a. M. Supinator; supinator lengan bawah

b. M. Ekstensor Digitorum; ekstensor ruas jari telunjuk, jari tengah, jari


manis dan kelingking
c. M. Ekstensor Digiti Minime; ekstensor ruas kelingking dan tangan
d. M. Ekstensor Karpi Ulnaris; ekstensor ulnar tangan
e. M. Abduktor Pollicis Longus; abduktor ibu jari dan ekstensor radial tangan
f. M. Ekstensor Pollicis Brevis dan Longus; ekstensor ibu jari dan ekstensor
radial tangan
g. M. Ekstensor Indicis; ekstensor telunjuk dan tangan
Fungsi utama dari nervus radialis ini adalah untuk ekstensi sendi
siku, pergelangan tangan dan jari (Dyck 1987, Chusid 1988). Cabang sensorik
nervus radialis biasanya mempersarafi sisi posterior lengan atas, lengan
bawah, tangan dan jari jari kecuali kelingking dan sisi ulnar jari manis, tetapi
karena ada anstomosis dan persarafan yang tumpang tindih, maka distribusi
sensoriknys ini sulit ditentukan. Jika ada terdapat maksimal pada daerah
dorsum ibu jari dan telunjuk (Dejong 1979, Gilroy 1992, Dyck 1987).

Gambar 2.1. Pleksus Brachialis

Gambar 2.2. Inervasi Nervus Radialis

Gambar 2.3. Jaras Nervus


2.2.
Definisi
Nervus radialis berasal dari

akar C5 hingga T1. Serabut-

serabut saraf ini berjalan di

sepanjang

bagian atas, tengah dan bawah


posterior cord dan berakhir

Radialis

batang

tubuh

dan berlanjut sebagai


sebagai

nervus

radialis.
Nervus radialis rentan terjepit di axilla (crutch palsy), lengan atas (spiral
groove), lengan bawah (nervus interosseous posterior), dan di pergelangan
tangan (cheiralgia parasthetica). Neuropati radialis dapat timbul akibat trauma

langsung pada saraf, neuropati kompresif, neuritis, atau fraktur humerus


kompleks.
2.3.
Etiologi
Neuropati radialis dapat disebabkan oleh beberapa faktor. Faktor mana
mungkin terjadi sendiri-sendiri atau secara bersamaan (multiple factors).
Misalnya, suatu diabetes melitus yang pada mulanya subklinis akan menjadi
simptomatis sesudah adanya suatu trauma atau kompresi yang mengenai
saraf.
2.3.1. Trauma
Pada fraktur dan dislokasi, neuropati terjadi karena penekanan saraf
oleh fragmen tulang, hematom, kallus yang berbentuk sesudah fraktur, atau
karena peregangan saraf akibat suatu dislokasi. Neuropati radialis sering
terjadi pada fraktur kaput humerus. Paresis nervus radialis dapat terjadi akibat
tidur dengan menggantungkan lengan diatas sandaran kursi (Saturday night
palsy), atau tidur dengan kepala diatas lengan atas. Akibat penekanan pada
waktu saraf ini menembus septum intermuskularis lateralis. Pada tempat
dimana saraf ini terletak agak superfisial dan menempel pada tulang (Dyck
1987). Disamping itu trauma pada waktu olah raga, kerja, pemakain kruk,
atau posisi tangan pada waktu operasi dapat menyebabkan terjadinya parese
nervus ini.
2.3.2. Infeksi
Dapat terjadi karena: sifilis, herpes zoster, leprae dan TBC. Bisa
mengenai saraf atau banyak saraf.
2.3.3. Toksisitas
Lebih spesifik mengenai nervus radialis adalah pada lead intoxication.
2.3.4. Penyakit vaskuler

2.3.5.
2.4.

Neoplasma
Gambaran Klinis
Lesi neuropati radialis sewaktu melilit humerus atau sewaktu

berjalan seperfisial pada aspek lateral lengan atas, sering akibat kelamaan
menggantung lengan diatas sandaran kursi (Saturday nigth palsy), akibat
tertekannya lengan karena posisi yang tidak tepat selama anestesi atau tidur,

penggunaan tomiket yang tidak benar atau akibat iritasi dan kompresi oleh
kallus sesudah fraktur tulang.
Paralisis otot ekstensor sehingga tidak mampu mengekstensikan jarijari, pergelangan tangan dan siku, pronasi tangan dengan fleksi pergelangan
dan jari-jari dalam posisi wrist drop.
Gejalanya:
- tidak dapat ekstensi siku karena parese triseps
- tidak dapat fleksi siku pada posisi lengan bawah antara pronasi dan
supinasi karena parese m.brakhioradialis
- tidak dapat supinasi lengan bawah karena parese m.brakhioradialis
- tidak dapat supinasi lengan bawah karena parese m. supinator
- wrist drop dan finger drop karena parese ekstensor pergelangan tangan dan
jari
- gangguan abduksi ibu jari tangan
- refleks trispes negatif atau menurun
- gangguan sensorik berupa parestesi pada bagian dorsal distal lengan
bawah, sisi leteral dan dorsal tangan, ibu jari, telunjuk dan jari tengah.
2.5.

Pemeriksaan Fisik
Hasil pemeriksaan fisik bergantung pada lokasi cedera sesuai dengan

perjalanan anatomi saraf. Cedera di axilla akan menyebabkan kelemahan


pada ekstensi siku, ekstensi pergelangan tangan dan ekstensi jari. Biasanya
terdapat deviasi radial pergelangan tangan dengan ekstensi, karena fleksor
carpi radialis (yang dipersarafi oleh nervus medianus) tidak terpengaruh.
Seluruh distribusi sensorik dari nervus radialis akan terpengaruh. Apabila
cedera di dalam spinal groove, hasil pemeriksaan akan sama, kecuali fungsi
triceps yang tidak terganggu.
Neuropati radialis pada lengan bawah biasanya akan menyebabkan
berkurangnya fungsi sensorik. Jika saraf terjepit pada otot supinator, kekuatan
supinator seharusnya normal. Hal ini dikarenakan percabangan yang
menginervasi otot supinator keluar ke arah proksimal otot. Pasien akan
memiliki deviasi radialis dengan ekstensi pergelangan tangan dan kelemahan

dari ekstensor jari. Cedera sensori radial superficialis akan menghasilkan


parestesi atau disestesi sepanjang distribusi sensorik radial di tangan.

Gambar
2.4.
Wrist
Drop
2.6.

Diagnosa
Diagnosa suatu neuropati radialis ditegakkan dengan pemeriksaan

Elektromiografi.

2.7.

Penatalaksanaan

1. Pasen neuropati radialis akibat fraktur atau dislokasi, dapat mengalami


perbaikan spontan. Pasen dengan Saturday nigth palsy biasanya membaik
dalam 6-8 minggu bahkan kadang-kadang lebih lama (Dyck 1987)

2. Fisioterapi
3. Operasi pada

keadaan terdorongnya nervus radialis oleh tulang atau

jaringan lunak, juga adanya jebakan pada muskulus supinator. Dapat


membaik dalam beberapa minggu atau bulan.

2.8.

Penatalaksanaan Fisioterapi
Untuk tahap ini, fisioterapi direncakan beberapa program terapi yang

akan diberikan pada pasien antara lain: terapis memberikan beberapa terapi
fisik pada daerah yang mengalami gangguan gerak fungsional akibat lesi
saraf perifer nervus radialis. Dalam hal ini yang mengalami gangguan adalah

kelompok otot ekstensor. Terapi fisik yang diberikan merupakan modalitas


manual terapi dan electrical therapy.

BAB 3
KESIMPULAN
Wrist drop atau drop hand yang juga dikenal sebagai paralisis nervus
radialis atau neuropati radialis yang menyebabkan kelemahan untuk
mendorsofleksikan lengannya dan mengekstensikan jari-jari tangannya. Neuropati
radial dihasilkan dari cedera akibat luka tembus atau patah tulang lengan,
kompresi, atau iskemia. Pola keterlibatan klinis tergantung pada lokasi dan tingkat
cedera.
Untuk mendiagnosa adanya neuropati radialis dapat dilakukan dengan
pemeriksaan fisik dan penunjang yaitu dengan elektromiografi (EMG).
Tatalaksana untuk paralisis nervus radialis ini dapat dilakukan dengan fisioterapi
dan operasi.

DAFTAR PUSTAKA
Adam RD ;Victor M. Principles of neurology. 4th ed. New York: McGraw Hill,
1989
Anderson,

Wayne

E.

Medscape:

Medscape

Access

[Internet].

Emedicine.medscape.com. 2014 [14 Desember 2014].Available from:


http://emedicine.medscape.com/article/1141674-overview.
Chusid JG and deGroot J. Correlative neuroanatomy. 20th ed. A Lange Medical
Book, 1988:p.92-96
DeJOng. The Neurological examination.4t ed. 1979:p.576-588
Dyck Pl, Low PA. Disease of peripheral nerves, in Clinical neurology, Baker (ed).
Philadelphia: Harper & Row, 1987
Gilroy, J. Basic neurology. New York: Pergamon, 1992:p. 363-364
Goldstein NP. Metal neuropathy, in Peripheral neuropathy. Dyck PJ (ed.).
Philadelphia: WB Sounders, 1975:p. 1240-1248
Patten J. Neurological differential diagnosis, London: Harold Starke, 1977: p.194202
Thomas PK. Symptomatoly and differential diagnosis of peripheral neuropathy, in
peripheral neuropathy. Dyck P. (ed.). philadelphia; WB Saunders, 1975
Walton IN. Brain's diseases of the nervus system. 8th ed. New York: Oxford
University, 1977: 779-781 dan 949-952
WHO. Peripheral neuropathies, Report of WHO Study Group, Jeneva, 1980