Anda di halaman 1dari 6

Pantangan / Tabu

Tabu adalah tindakan untuk menghindari apa yang diyakini berbahaya secara
supranatural, sedangkan tabu makanan adalah tindakan untuk menghindari makanan tertentu
berdasarkan penjelasan sebab akibat yang bersifat supranatural ( Sanjur, 1982).
Dapat dikatakan bahwa persoalan pantangan atau tabu dalam mengkonsumsi makanan
tertentu terdapat secara universal di seluruh dunia. Pantangan atau tabu adalah suatu larangan
untuk mengkonsumsi jenis makanan tertentu, karena terdapat ancaman bahaya terhadap
barang siapa yang melanggarnya (Sediaoetama, 1999). Dalam ancaman bahaya ini terdapat
kesan magis, yaitu adanya kekuatan superpower yang berbau mistik, yang akan menghukum
orang-orang yang melanggar pantangan atau tabu tersebut.
Garine (1970) yang dikutip oleh Fieldhouse (1995) menyatakan bahwa tabu adalah
kebijaksanaan pembatasan/ larangan untuk menghindari makanan tertentu. Beberapa alasan
tabu diantaranya adalah: Khawatir terjadi keracunan, tidak biasa, takut mandul, kebiasaan
yang bersifat pribadi, khawatir menimbulkan penykit, kebersihankesehatan, larangan agama,
pembatasan makanan hewani.
Garine membagi klasifikasi tabu menjadi: (1) Dipandang dari sudut waktu, tabu
sementara dan tabu permanen. (2) Menurut kelompok orang: tabu untuk masyarakat tertentu,
secara umum untuk seluruh masyarakat, orang lelaki atau perempuan, tingkat sosial tertentu.
Penghindaran sementara diantaranya pada wanita hamil, melahirkan, menyusui, sedang
menstruasi, pada bayi, anak selama penyapihan, anak-anak, remaja, dan saat sakit.
Pantangan atau tabu makanan harus dibedakan berdasarkan agama dan yang bukan
berdasarkan agama atau kepercayaan. Pantangan atau tabu yang berdasarkan larangan oleh
agama atau kepercayaan bersifat absolut, tidak dapat ditawar lagi bagi penganut agama atau
kepercayaan tersebut, sedang pantangan atau tabu lainnya masih dapat diubah atau bahkan
dihilangkan, jika diperlukan. Tidak semua tabu itu merugikan atau jelek bagi kondisi gizi dan
kesehatan. Pantangan atau tabu merupakan sesuatu yang diwariskan dari leluhur melalui
orang tua, terus ke generasi-generasi yang akan datang. Orang tidak lagi mengetahui kapan
suatu pantangan atau tabu makanan dimulai dan apa sebabnya. Orang yang menganut suatu
pantangan, biasanya percaya bahwa bila pantangan itu dilanggar akan memberikan akibat
kerugian yang dianggap sebagai suatu hukuman. Pada kenyataan hukuman ini tidak selalu
terjadi bahkan sering tidak terjadi sama sekali.
Tabu makanan sangat erat berhubungan dengan emosi, sehingga tidak mengherankan
bahwa pantangan pangan terutama dilakukan oleh wanita atau dikenakan kepada anak-anak
yang ada di bawah asuhan atau pengawasan para wanita tersebut. Tampaknya berbagai
pantangan atau tabu pada mulanya dimaksudkan untuk melindungi kesehatan anak-anak dan
ibunya, tetapi tujuan ini bahkan ada yang berakibat sebaliknya, yaitu merugikan kondisi gizi
dan kesehatan.
Dapat dikatakan bahwa persoalan pantangan atau tabu dalam mengkonsumsi makanan
tertentu terdapat secara universal di seluruh dunia. Pantangan atau tabu adalah suatu larangan
untuk mengkonsumsi jenis makanan tertentu, karena terdapat ancaman bahaya terhadap
barang siapa yang melanggarnya (Sediaoetama, 1999).
Garine (1970) yang dikutip oleh Fieldhouse (1995) menyatakan bahwa tabu adalah
kebijaksanaan pembatasan/ larangan untuk menghindari makanan tertentu. Beberapa alasan

tabu diantaranya adalah: Khawatir terjadi keracunan, tidak biasa, takut mandul, kebiasaan
yang bersifat pribadi, khawatir menimbulkan penykit, kebersihankesehatan, larangan agama,
pembatasan makanan hewani.
Garine membagi klasifikasi tabu menjadi: (1) Dipandang dari sudut waktu, tabu
sementara dan tabu permanen. (2) Menurut kelompok orang: tabu untuk masyarakat tertentu,
secara umum untuk seluruh masyarakat, orang lelaki atau perempuan, tingkat sosial tertentu.
Penghindaran sementara diantaranya pada wanita hamil, melahirkan, menyusui, sedang
menstruasi, pada bayi, anak selama penyapihan, anak-anak, remaja, dan saat sakit.
Di dalam wilayah Indonesia ada keyakinan bahwa wanita yang masih hamil tidak
boleh makan lele, ikan sembilan, udang, telur, dan nanas. Sayuran tertentu tak boleh
dikonsumsi, seperti daun lembayung, pare, dan makanan yang digoreng dengan minyak.
Setelah melahirkan atau operasi hanya boleh makan tahu dan tempe tanpa garam/nganyep,
dilarang banyak makan dan minum, makanan harus disangan/dibakar, bahkan setelah
maghrib samasekali ibu tidak diperbolehkan makan (Dinkes Pemalang, 2000).
Clark yang dikutip oleh Bobak menulis bahwa wanita-wanita Meksiko-Amerika
dilarang makan makanan dingin seperti cabe, acar (makanan yang disajikan dengan cuka),
tomat, bayam, produk-produk dari daging babi dan sebagian besar buah-buahan.
Buah-buahan seperti pisang dan anggur serta buah-buahan yang asam lainnya harus
dihindari karena keasamannya dan karena buah-buahan tersebut dipercayai menyebabkan
pembuluh mekar pada ibu-ibu. Walaupun buah-buahan dan sayur-sayuran juga dilarang
dimakan oleh wanita-wanita Vietnam yang sedang hamil, kaki dan tulang kaki babi diijinkan
untuk dimakan karena kaki babi dipercaya dapat memperbaiki pengeluaran air susu (Bobak,
2002; Sanjur, 1982).
2.

Tahayul / Mistik
Takhayul Secara bahasa, berasal dari kata khayal yang berarti: apa yang tergambar
pada seseorang mengenai suatu hal baik dalam keadaan sadar atau sedang bermimpi. Dari
istilah takhayul tersebut ada dua hal yang termasuk dalam kategori talhayul, yaitu: 1.
Kekuatan ingatan yang yang terbentuk berdasarkan gambar indrawi dengan segala jenisnya,
(seperti: pandangan, pendengaran, pancaroba, penciuman) setelah hilangnya sesuatu yang
dapat diindera tersebut dari panca indra kita. 2. Kekuatan ingatan lainnya yang disandarkan
pada gambar idrawi, kemudian satu dari unsurnya menjadi sebuah gambar yang baru.
Gambar baru tersebut bisa jadi satu hal yang benar-benar terjadi, atau hal yang diluar
kebiasaan (kemustahilan). Seperti kisah seribu satu malam, Nyai Roro Kidul dan cerita-cerita
khurafat lainnya.
CONTOH TAHAYUL DI INDONESIA
A. Jika wanita hamil ngidam makanan tertentu tidak dipenuhi, kelak anak yang terlahir
akan suka ngences (banyak meneteskan ludah)
B. Wanita hamil tidak boleh melukai/menyakiti hewan, kelak anaknya bisa terlahir cacat
C. Saat hamil jangan pernah menghina orang cacat, nanti anak yang lahir mengalami
kelainan (cacat) tubuh

D. Bayi lahir bersama selaput ketuban (bayi bungkus) akan menjadi anak pintar serta
punya banyak kelebihan
E. Kuburlah ari-ari bayi di dekat rumah agar kelak anak itu selalu ingat dan setia pada
keluarga
F. Wanita hamil harus selalu membawa gunting, sebagai penolak bala
G. Seorang wanita tidak boleh mencabuti rambut alisnya karena itu akan menghilangkan
kepuasan seksual
H. Jangan berhubungan seks lagi sejak kehamilan memasuki bulan ketujuh, itu akan
menyebabkan si anak tidak hormat pada orang tua
I. Jangan memandang alat kelamin pasangan pada saat berhubungan intim, itu akan
menyebabkan kesialan selama seminggu.
J. Jangan pernah memberikan hadiah saputangan kepada tunangan karena ini akan
menyebabkan putusnya hubungan.
3.

Kepercayaan / Agama
Margaret Mead yang dikutip oleh Soeharjo mengemukakan contoh pengaruh
kepercayaan dalam penggunaan sumber pangan, yang dikemukakan pula oleh Marvin Hariss
dkk bahwa masyarakat pedesaan India menganggap sapi merupakan binatang yang suci,
sehingga tidak diperkenankan dagingnya untuk dimakan. Di beberapa negara berkembang
umumnya ditemukan larangan, pantangan atau tabu tertentu bagi makanan ibu hamil.
Latar belakang pantangan atau tabu tersebut didasarkan pada kepercayaan agar
tidak mengalami kesulitan pada waktu melahirkan dan bayinya tidak terlalu besar. Ada pula
penduduk di negara negara Asia yang mempunyai kepercayaan bahwa makanan yang
mengandung protein hewani menyebabkan air susu ibu beracun bagi anak bayinya (Suhardjo,
2003).

4.

Adat Kebiasaan
Adat adalah gagasan kebudayaan yang terdiri dari nilai-nilai kebudayaan,
norma, kebiasaan, kelembagaan, dan hukum adat yang lazim dilakukan di suatu
daerah. Apabila adat ini tidak dilaksanakan akan terjadi kerancuan yang menimbulkan
sanksi tak tertulis oleh masyarakat setempat terhadap pelaku yang dianggap
menyimpang.

Tabu makanan dilihat dari segi gizi


Pantangan atau tabu yang tidak berdasarkan agama atau kepercayaan dapat kita
hadapi menurut katagori :
(1) Tabu yang jelas merugikan kondisi gizi dan kesehatan. Sebaiknya diusahakan
untuk mengurangi, bahkan kalau dapat menghapuskannya,
(2) Tabu yang memang menguntungkan keadaan gizi dan kesehatan, diusahakan
memperkuatnya dan melestarikannya,
(3) Tabu yang tidak jelas pengaruhnya bagi kondisi gizi dan kesehatan, dibiarkan,
sambil dipelajari terus pengaruhnya untuk jangka panjang (Sediaoetama, 1999). Harus diakui

bahwa tidak semua tabu itu berakibat negatif terhadap kodisi gizi dan kesehatan. Untuk
mengambil tindakan yang tepat terhadap suatu tabu, sebaiknya kita telusuri terjadinya tabu
tersebut, untuk dapat mengambil kesimpulan, apakah mudah ditanggulangi atau tidak.
Kecanggihan teknologi dan perilaku makan
Makanan yang dimakan tidak cukup hanya dengan mengenyangkan kita, tetapi juga
makanan tersebut harus sehat dan mengandung gizi yang diperlukan oleh tubuh. Selain itu,
makan tersebut harus memiliki unsur tambahan yang menggugah selera. Begitu juga dengan
minuman yang diminum, harus bersih, sehat, dan menyegarkan badan.
Banyak makanan dan minuman kemasan yang di produksi dengan hanya
memerhatikan aspek selera, tanpa memperhatian kandungan gizinya. Makanan seperti itu
tidak hanya disukai oleh orang tua, tetapi juga disukai anak muda. Makanan
junk food berwujud makanan ringan yang memang rasanya menggugah selera ternyata tidak
hanya disukai oleh anak balita, tetapi juga disukai orang tua. Begitu juga dengan minuman
soft drink yang rasanya menyengat disukai oleh anak-anak dan orang dewasa.
Kecanggihan teknologi pengolahan makanan, pengemasan, dan penyimpanan secara
tidak langsung sebagian memang menguntungkan konsumen. Kalau dulu kita sering jengkel
karena susu yang kita buat banyak gumpalannya, kini telah hadir susu instan yang dijamin
tidak akan menggumpal. Demikian pula kita bisa merasakan repotnya membuat mie goreng
atau mie rebus, tetapi saat ini dengan mudah orang bisa membeli mie instan yang dapat
disajikan dengan cepat dan rasanya tak kalah dengan mie tradisional Masih banyak contoh
makanan maupun minuman kemasan yang kini dapat dengan mudah dijumpai di berbagai
toko, warung, atau supermarket.
Timbulnya tabu makanan
Pantangan atau tabu makanan adalah suatu larangan untuk mengkonsumsi jenis
makanan tertentu karena terdapat ancama bahaya bagi yang melanggarnya.
Jika membicarakan tentang tabu makanan, tentu kita mencari apa sebenarnya yang
mendasari atau melatarbelakangi tabu makanan tersebut. Segala jenis tabu ada yang berdasar
pada dua hal , yakni agama dan kepercayaan.
Suatu tabu yang berdasarkan agama ( Islam) disebut haram hukumnya , dan individu
yang melanggar tabu disebut berdosa . Hal demikian karena makanan atau minuman tertentu
mengganggu kesehatan jasmani maupun rohani bagi pemakannya , sedangkan tabu yang
berdasarkan kepercayaan umumnya mengandung perlambang atau nasehat-nasehat yang baik
dan tidak baik , yang lambat laun menjadi kebiasaan(adata) terlebih dalam suatu masyakat
kalangan sederhana.
Suku Batak Toba terkenal dengan kemauan mereka terhadap semua jenis makanan .
adapun tabu yang dikenal hanya sebatas pada otak hewan yang disembelih , karena menurut
mereka , apabila dikonsumsi dapat menyebabkan rambutnya menjadi cepat beruban.
Food Taboo
Pengertian Food Taboo Tabu makanan adalah suatu larangan dalam mengkonsumsi
makanan tertentu karena ada beberapa ancaman atau hukuman bagi orang yang
mengkonsumsinya. Menurut Susanto (1977), dalam ancaman ini, terdapat kekuatan

supranatural dan mistik yang akan menghukum mereka yang melanggar aturan ini atau tabu
(Dadang Sukandar,2007). Dasar dari kebiasaan pangan dicirikan dalam suatu sistem nilai
seseorang dalam memilih makanan yang boleh dikonsumsi dan tidak boleh dikonsumsi.
Sistem nilai tersebut pada dasarnya berasal dari tiga sumber kebenaran yang dipercayai,
yaitu:
1. Agama dan kepercayaan kepada Tuhan
2. Adat yang berasal dari nenek moyang
3. Pengetahuan yang diperoleh dari proses pendidikan formal.
Selain itu, menurut Nikmawati (1999) sistem nilai tersebut disosialisasikan dalam
keluarga dan dalam pendidikan informal melalui media masa (Dadang
Sukandar,2007). Tabu makanan di Indonesia masih menjadi masalah karena masih
banyak makanan yang seharusnya dikonsumsi tapi masih ditabukan. Akibat tabu
makanan tersebut ibu hamil, ibu menyusui, bayi dan anak-anak tidak berani
mengkonsumsi makanan tertentu sehingga dapat mengurangi asupan makanan yang
pada akhirnya akan menurunkan status gizi mereka
Jenis Food Taboo :
1. Permanent food taboo, misalnya:
Babi dan darah tidak boleh dikonsumsi oleh muslim dan yahudi karena dianggap tidak
bersih
Sapi dilarang dikonsumsi oleh penganut hindu karena dianggap suci.
2. Temporary food taboo
Dilarang mengonsumsi makanan tertentu pada kondisi tertentu seperti hamil,
menyusui, anak-anak, dan selama sakit. Misalnya:
Anak-anak dilarang makan ikan (kecacingan)
Wanita hamil dilarang makan pisang dempet (bayi kembar dempet)
Balita dilarang makan telur karena bisa bodoh. Padahal telur merupakan salah satu
sumber protein yang penting bagi pertumbuhan dan mudah dijangkau
DAFTAR PUSTAKA
https://www.scribd.com/doc/242947665/Food-Taboo-docx

Dalam kaitannya dengan gizi masyarakat, perlu konsen terhadap temporary food taboo ini
karena seringkali larangan-larangan tersebut menyebabkan kurangnya asupan zat gizi penting
yang mestinya dapat dipenuhi dari jenis makanan yang dianggap tabu tersebut..
Menurut Jellife, praktek-praktek budaya terkait food taboo dapat diklasifikan sebagai berikut:

1. Praktek yang menguntungkan


Perlu didukung dan diadopsi untuk memberikan pendidikan kesehatan dan gizi masyarakat.
2. Praktek yang bersifat netral
Tidak memperlihatkan nilai ilmiah dan bisa ditinggalkan perlahan-lahan.
3. Praktek yang tidak dapat diklasifikasikan
Bisa ditinggalkan, tapi bisa juga dilakukan penelitian ilmiah lebih jauh.
4. Praktek yang merugikan
Perlu dihilangkan, namun dengan cara yang bisa diterima oleh budaya masyarakat tersebut.
Adanya food taboo di masyarakat kita bisa juga disebabkan karena rendahnya tingkat
pendidikan. Kurangnya pengetahuan tentang hal tersebut tentunya juga ikut andil. Sehingga
perlu adanya upaya untuk meningkatkan pengetahuan masyarakat supaya tidak lagi
melakukan praktek food taboo yang merugikan bagi kalangan tertentu (bumil, busui, balita.
dsb).

DAFTAR PUSTAKA
http://anisayunfikha.blogspot.com/2013/12/kebiasaan-makan.html

Anda mungkin juga menyukai