Anda di halaman 1dari 9

I.

DASAR TEORI
A. Asam Mefenamat

5.

Rumus Molekul : C15H15NO2


Berat Molekul : 241.29
Pemerian : serbuk hablur putih atau hampir putih. Melebur
pada suhu lebih kurang 2300C disertai peruraian.
Kelarutan : larut dalam alkali hidroksida, agak sukar larut dalam klorofom,

6.

sukar larut dalam etanol dan methanol, praktis tidak larut dalam air.
Persyaratan Kadar : mengandung asam mefenamat tidak kurang dari 90.0%

1.
2.
3.
4.

dan tidak lebih dari 110% dari jumlah yang tertera pada etiket.

Asam mefenamat merupakan derivat asam antranilat dan termasuk


kedalam golongan obat Anti Inflamasi Nonsteroid (AINS). Dalam
pengobatan, asam mefenamat digunakan untuk meredakan nyeri dan
rematik. Obat ini cukup toksik terutama untuk anak-anak dan janin, karena
sifat toksiknya, Asam mefenamat tidak boleh dipakai selama lebih dari 1
minggu dan sebaiknya jangan digunakan untuk anak-anak yang usianya di
bawah 14 tahun.
Farmakologi Asam mefenamat mempunyai

khasiat sebagai

analgetik dan anti inflamasi. Asam mefenamat merupakan satu-satunya


fenamat yang menunjukkan kerja pusat dan juga kerja perifer. Mekanisme
kerja

asam

mefenamat

adalah

dengan

menghambat

kerja

enzim

sikloogsigenase.
Tablet asam mefenamat diberikan secara oral. Diberikan melalui
mulut dan diabsorbsi pertama kali dari lambung dan usus selanjutnya obat
akan melalui hati diserap darah dan dibawa oleh darah sampai ke tempat
kerjanya. konsentrasi puncak asam mefenamat dalam plasma tercapai dalam
2 sampai 4 jam. Pada manusia, sekitar 50% dosis asam mefenamat
diekskresikan dalam urin sebagai metabolit 3-hidroksimetil terkonjugasi.

dan 20% obat ini ditemukan dalam feses sebagai metabolit 3-karboksil yang
tidak terkonjugasi.
B. Spektrofotometri Ultraviolet dan Tampak (Visible)
Metode Spektrofotometri Ultra-violet dan Sinar Tampak berdasarkan pada
hukum Lambert-Beer. Hukum tersebut menyatakan bahwa jumlah radiasi cahaya
Tampak, Ultra-violet dan cahaya-cahaya lain yang diserap atau ditransmisikan oleh
suatu larutan merupakan suatu fungsi eksponen dari konsentrasi zat dan tebal larutan.

Pada kenyataannya, spektrum UV Vis yang merupakan korelasi


antara absorbansi (sebagai ordinat) dan panjang gelombang (sebagai absis)
bukan merupakan garis spektrum akan tetapi merupakan suatu pita spektrum.
Terbentuknya pita spektrum UV-Vis tersebut disebabkan oleh terjadinya
eksitasi elektronik lebih dari satu macam pada gugus molekul yang sangat
kompleks. Terjadinya dua atau lebih pita spektrum UV-Vis diberikan oleh
molekul dengan struktur yang lebih kompleks karena terjadi beberapa transisi
sehingga mempunyai lebih dari satu panjang gelombang maksimal.
Prinsip kerja spektrofotometri berdasarkan hukum Lambert Beer, bila
cahaya monokromatik melalui suatu media (larutan), maka sebagian cahaya
tersebut diserap, sebagian dipantulkan, dan sebagian lagi dipancarkan.
Menurut hukum Lambert, serapan (A) berbanding lurus dengan
ketebalan lapisan (b) yang disinari : A = k.b
Dengan bertambahnya ketebalan lapisan, serapan akan bertambah.
Menurut Hukum Beer, yang hanya berlaku untuk cahaya monokromatis dan
larutan yang sangat encer, serapan (A) dan konsentrasi (c) adalah : A = k.c
Jika konsentrasi bertambah, jumlah molekul yang dilalui berkas sinar
akan bertambah, sehingga serapan juga bertambah. Kedua persamaan ini
digabungkan dalam hukum Lambert-Beer, maka diperoleh bahwa serapan
berbanding lurus dengan konsentrasi dan ketebalan lapisan: A = k.c.b
Umumnya digunakan dua satuan c (konsentrasi zat yang menyerap)
yang berlainan, yaitu gram per liter atau mol per liter. Nilai tetapan (k) dalam
hukum Lambert-Beer tergantung pada sistem konsentrasi mana yang
digunakan. Bila c dalam gram perliter, tetapan disebut dengan absorptivitas (a)
dan bila dalam mol per liter tetapan tersebut adalah absortivitas molar (). Jadi
dalam sistem dikombinasikan, hukum Lambert-Beer dapat mempunyai dua
bentuk:
A = a.b.c g/liter atau A = . b. C mol/lite

II.

ALAT DAN BAHAN


Alat
a)
b)
c)
d)
e)
f)
g)

III.

Bahan

Tabung sentrifugasi
Gelas kimia
Gelas ukur
Tabung vial
Pipet tetes
Spektrofotometer
Botol semprot

a) Aquades
b) Etanol
c) Sampel (3D)

PROSEDUR
A. Isolasi
500 mg sampel,
dilarukan dalam
etanol
etanol & analit

residu
(matrik&analit)

etanol &
analit
identifikasi dengan FeCl3, isolasi
dilakukan hingga FeCl3 tidak
memberikan warna ungu pada filtrate

residu
(matriks&analit)
residu
(matriks&analit)

B. Analisis Spektrofotometer
1. Pembuatan larutan baku
a. membuat larutan baku asam mefenamat 500 ppm dalam 100 ml
etanol 95%.
b. kemudian diencerkan dengan konsentrasi 12 ppm, 11 ppm, 10 ppm, 9
ppm, dan 8 ppm.
c. setelah mendapat absorban dari larutan baku dengan rentang 0,3370,570 A, lakukan identifikasi sampel dengan spektrofotoeter Uv-Vis.
IV.

Hasil pengamatan dan Perhitungan Kadar


1. Larutan baku standar asam mefenamat 500 ppm dalam 100 ml

dibuat skala konsentrasi untuk absorban 0,337-0,570 A


3

V1 . N1 = V2 . N1

Sampel yang didapat 10 ml, diencerkan 1 ml dalam 10 ml, diencerkan 1 ml


dalam 10 ml, dan diencerkan kembali 2 ml dalam 10 ml
jadi faktor pengeceran

jadi factor pengenceran 10 10 5 = 500 kali pengenceran

panjang gelombang larutan standar asam mefenamat dalam etanol 281,0 nm

2. Perhitunngan Kadar
absorban yang didapat 0,341A

y = a x+ b
y = 0.0588 x - 0,1512
0,341 = 0.0588 x - 0,1512
0,341+0,1512 = 0,0588 x
0,4922 = 0,0588 x
x=
=8,3707 x 500 faktor pengenceran= 4185,3741 ppm
bobot asam mefenamat =
= 41,8537mg
% kadar asam mefenamat =
=8,37 %b/b
V.

Pembahasan
Praktikum ini kita melakukan analisis kuantitatif pada asam

mefenamat,

proses

analisis

kuantitatif

ini

kita

menggunakan

metode

spektrofotometri. Pertama-tama sampel asam mefenamat yang kita dapat


dilarutkan terlebih dahulu dalam etanol, penambahan etanol dilakukan untuk
menarik asam mefenamat dari matriks yang ada karena asam mefenamat larut
dalam etanol, sangat mudah larut dalam alkali hidroksida dan sangat sukar larut
dalam air atau aquades. Kelarutan asam mefenamat dalam etanol yaitu 1:80
pemilihan pelarut dengan etanol karena apabila menggunakan naoh maka tidak
akan stabil. Setelah dilakukan pelarutan dengan etanol kemudian dilakukan proses
portek dengan agitator selama beberapa menit proses portek ini dilakukan untuk
membuat analit yang akan diambil larut dalam pelarutnya dengan proses gesekan
partikel analit dengan pelarutnya. Setelah itu dilakukan sentrifuge untuk
memisahkan larutan dengan residu, proses ini dilakukan sampai semua analit
tertarik oleh pelarutnya dengan cara melakukannya beberapa kali. Untuk
memastikan sampel sudah tertarik oleh pelarutnya dilakukan uji kualitatif yaitu
dengan menambahkan beberapa tetes larutan yang telah disentrifuge dengan FeCl 3
apabila terbentuk warna ungu proses sentifuge dilakukan kembali tetapi apabila
tidak terbentuk warna ungu proses sentrifuge selesai. Dan volume sampel yang
didapat yaitu 10 ml dari penimbangan sampel 500mg dalam etanol.
setelah itu dilakukan proses standarisasi asam mefenamat hal ini dilakukan
untuk mengetahui panjang gelombang dari asam mefenamat dan skala absorban
asam mefenamat dan didapati panjang gelombang 281,0nm dan skala absorban
yang didapat dari larutan baku standar rentang dari 0,337-0,570 A. setelah itu kita
mencari absorban dari sampel yang kita dapat, smpel yang didapat 10 ml,
kemudian dilakukan pengencerkan dengan mengambil sampel 1 ml dengan 9 ml
etanol 95%. proses pengenceran pada sampel ini dilakukan sebanyak 500 kali
pengenceran dan didapatkan nilai absorba sampel yaitu 0,341 A. Hal ini sesuai
denga literatur yang menyebutkan bahwa absorban yang terbaca pada
spektrofotometer harus kisaran antara 0,2 sampai 0,8 atau 15% sampai 70% jika
dibaca sebagai transmitans. Dan didapatkan bobot asam mefenamat 41,8537 mg
dan % kadar sampel yang didapat yaitu 8,37%.

VI.

Kesimpulan

Dari hasil pengamatan yang telah dilakukan pada sampel 3D, kadar asam

mefenamat yang didapat yaitu


sebesar

, didapat kadar Na Salisilat

b/b.

DAFTAR PUSTAKA
Auterhoff, Harry dan Karl- Artur Kovar.1987. Identifikasi Obat, Terbitan Kelima.
Bandung: ITB.
Departemen Kesehatan Republik Indonesia. 1995. Farmakope Indonesia edisi IV.
Jakarta: Depdiknas.
Fessenden, Ralph J, dan Fessenden, Joan S. 1997. Dasar-dasatr Kimia Organik. Bina
Aksara: Jakarta.
Gandjar, Ibnu Gholib dan Abdul Rohman. 2012. Kimia Faarmasi Analisis. Yogyakarta:
Pustaka Pelajar

LAPORAN PRAKTIKUM
KIMIA FARMASI ANALITIK 2
ANALISIS KUANTITATIF Na SALISILAT DENGAN METODE
SPEKTROFOTOMETRI UV-VIS

Disusun Oleh:
Kelompok 9
Desi Astriani

(31112011)

Dewi Nuraini

(31112173)

Muhamad Hikmattulloh

(31112030)

PROGRAM STUDI S-1 FARMASI


SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN BAKTI TUNAS
HUSADA TASIKMALAYA
2015