Anda di halaman 1dari 27

ANALISIS RIIL

BARISAN BILANGAN REAL

DISUSUN OLEH :
TRI DECCY
LEO NARDO SIHOMBING
HARNY GRISHELDIS SITINJAK
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS KRISTEN INDONESIA
JAKARTA 2015

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Dalam mata kuliah analisis riil I, mata kuliah yang mempelajari dan mengasah
intelektual mahasiswa matematika, terdapat sub bab yang bertemakan Barisan
Bilangan Real, Teori limit, Barisan monoton, Sub Barisan dan teorema Bolzano
Weierstrass. Apa itu Barisan bilangan real, apa yang menjadi bagian dalam teori
limit, apa itu Barisan monoton dan Sub Barisan, apa yang menjadi teorema Bolzano
Weierstrass, kriteria Cauchy, dan sifat barisan divergen dan apa saja yang dipelajari
dalam bab ini, akan menjadi topik pembahasan yang akan kita angkat.
1.2 Pembatasan Masalah
Dari sekian permasalahan yang ada tidak mungkin penulis dapat membahasnya
secara keseluruhan, karena mengingat kemampuan yang ada baik intelektual, biaya
dan waktu yang dimiliki penulis sangat terbatas. Maka penulis perlu memberikan
batasan-batasan masalah. Pembatasan masalah diperlukan untuk memperjelas
permasalahan yang ingin dipecahkan.
Oleh karena itu, penulis memberikan batasan sebagai berikut :
1. Apa pengertian barisan bilangan real
2. Apa sifat sifat barisan bilangan real
3. Apa pengertian barisan Monoton ?
4. Apa pengertian Sub Barisan?
5. Bagaimana teorema Bolzano Weierstrass ?
6. Bagaimana kriteria Cauchy?
7. Bagaimana sifat barisan divergen ?
1.3 PERUMUSAN MASALAH
Perumusan masalah yang akan dijabarkan adalah sebagai berikut :
1. Barisan bilangan real
2. Sifat sifat barisan bilangan real
3. Barisan Monoton (definisi dan contoh soal)
4. Sub Barisan (definisi dan contoh soal)
5. teorema Bolzano Weierstrass
6. Kriteria Cauchy
7. Sifat barisan Divergen
1.4 TUJUAN PENULISAN
1. Penulisan bertujuan untuk lebih mengerti barisan bilangan real, sifat barisan
bilangan real, sub bab tentang barisan monoton dan sub barisan, kriteria
cauchy, dan sifat barisan divergen.

2. Dan tujuan lainnya adalah agar mahasiswa lainnya yang membutuhkan data
tentang materi ini dapat terbantu.
1.5 MANFAAT PENULISAN
Semoga penulisan makalah yang bertemakan barisan bilangan real, barisan
monoton ini dapat membantu dan bermanfaat bagi teman-teman mahasiswa, dan
yang lainnya.

BAB II
PEMBAHASAN
2.1.

Definisi Barisan Bilangan Real


Definisi 2.1. Barisan bilangan real adalah fungsi X : N N .
Jika X : N N adalah barisan bilangan real maka nilai fungsi X di n N
dinotasikan sebagai xn . Nilai xn ini disebut suku ke- n dari barisan bilangan real
X . Barisan bilangan real X dapat pula dituliskan sebagai x n : n N . Dalam
literatur lain, barisan bilangan real X ini biasa dituliskan dalam notasi xn n 1 .

Barisan bilangan real dapat direpresentasikan dalam berbagai cara. Barisan


bilangan real X : 1,3,5,... dapat dinyatakan dengan X : x n : n N dengan
xn 2n 1 atau xn xn 1 2 dengan x1 1 . Hubungan xn xn 1 2 dengan x1 1
ini disebut sebagai hubungan rekursif.
Selanjutnya, perhatikan kembali barisan bilangan real X : x n 2n 1 : n N .
Jika n semakin besar maka xn semakin besar, tanpa batas. Tetapi, kalau kita
perhatikan barisan Y : y n 1 / n : n N , maka jika n semakin besar maka yn
semakin kecil, menuju angka nol. Barisan bilangan real Y ini dikatakan sebagai
barisan yang mempunyai limit atau barisan yang konvergen. Sedangkan barisan
bilangan real X dikatakan sebagai barisan yang tidak memiliki limit atau barisan
yang tidak konvergen atau divergen.
Definisi 2.2. Barisan bilangan real x n : n N dikatakan konvergen ke x R ,
limit dari dari x n : n N , jika untuk setiap 0 terdapat N 0 sedemikian
sehingga untuk setiap n N , xn x .
Misalkan barisan bilangan real

xn : n N

konvergen. Diberikan 0 cukup

besar. Karena x adalah ujung dari barisan bilangan real x n : n N , tentunya

xn x yang cukup besar dapat dipenuhi oleh semua xn , n N dengan N yang


kecil. Sebaliknya, jika 0 cukup kecil maka xn x yang cukup kecil dapat
dipenuhi oleh setiap xn , n K dengan K yang besar. Penjelasan tersebut
mengandung arti bahwa semakin besar N maka semakin kecil atau xn
dengan n N akan semakin dekat ke limitnya, yaitu x . Pernyataan barisan
bilangan real X konvergen atau menuju ke x dapat dinyatakan sebagai
xn x atau xn x .
lim X x atau lim xn x atau lim
n
xn x jika dan
Berdasarkan Definisi 2.2, kita bisa mendapatkan fakta bahwa lim
n
hanya jika untuk setiap 0 , himpunan n N : x n x adalah himpunan yang
berhingga. Bukti fakta ini ditinggalkan sebagai latihan bagi para pembaca.
Contoh 2.3. Perhatikan lagi barisan bilangan real Y y n 1 / n : n N . Diberikan

0 . Selanjutnya, lihat bahwa 1/ n 0 1/ n 1/ n . Jika n N dengan


N 1/ maka n 1/ atau 1/ n . Akibatnya, 1/ n 0 untuk setiap
n N . Yang demikian berlaku untuk setiap 0 . Ini artinya bahwa barisan
bilangan real Y konvergen ke nol.
Sekarang, kita perhatikan lagi barisan bilangan real Y y n 1 / n : n N .
Kemudian pandang barisan bilangan real Y ' 1/ 2,1/ 4,1/ 6,... . Suku-suku pada
Y ' merupakan suku-suku yang menempati urutan genap pada Y . Barisan Y ' ini
disebut sebagai sub barisan dari Y . Berikut ini adalah definisi formal dari sub
barisan.
Definisi 2.4. Misalkan X : x n : n N adalah barisan bilangan real dan
n1 n2 ... nk ... dengan nk N untuk semua k N . Barisan bilangan real

X ': x nk : k N disebut sebagai sub barisan dari X : x n : n N .

Bagaimana dengan limit sub barisan dari suatu sub barisan ? Teorema berikut
menjelaskan hal ini.

Teorema 2.5. Jika X ': x nk : k N adalah sub barisan dari barisan

X : x n : n N yang konvergen ke x R maka sub barisan X ': x nk : k N juga

konvergen ke x R .
Bukti. Karena X : x n : n N adalah barisan yang konvergen ke x R , maka
jika diberikan 0 terdapat N 0 sedemikian sehingga untuk semua
n N berlaku xn x .
Selanjutnya, dengan menggunakan induksi matematika, akan ditunjukkan bahwa
nk k untuk setiap k N . Diketahui bahwa n1 n2 ... nk ... . Untuk k 1 jelas
bahwa n1 1 . Misalkan untuk k p berlaku n p p . Kita akan tunjukkan bahwa
untuk k p 1 berlaku n p 1 p 1 . Karena n p 1 n p maka n p 1 p atau dengan
kata lain n p 1 p 1 . Dengan demikian nk k untuk setiap k N .
Jika k N maka nk N . Untuk semua nk N berlaku xnk x .

Yang demikian berarti sub barisan X ': x nk : k N juga konvergen ke x R .


Apakah kebalikan dari Teorema 2.5 berlaku ? Untuk menjawabnya kita lihat
penjelasan berikut ini. Perhatikan bahwa barisan Z ' 1,1,1,...,1,... adalah sub

barisan dari barisan Z 1, 1,1, 1,..., 1

n 1

,... . Barisan Z ' adalah barisan yang

konvergen ke 1, tetapi barisan Z adalah barisan yang tidak konvergen. Tetapi


jika setiap sub barisan dari suatu barisan bilangan real X adalah barisan yang
konvergen maka X adalah barisan yang konvergen karena X sendiri adalah
sub barisan dari dirinya sendiri.
Bagaimana halnya dengan limit dari suatu barisan bilangan real yang konvergen,
apakah tunggal atau tidak ? Misalkan x dan y adalah limit dari barisan bilangan

real yang konvergen X : x n : n N . Jika diberikan 0 terdapat N x , N y 0


sehingga untuk setiap n N x dan n N y , berlaku, masing-masing secara
berurutan, xn x / 2 dan xn y / 2 . Misalkan N : maks N x , N y .
Selanjutnya, perhatikan bahwa, berdasarkan pertidaksamaan segitiga,
x y x xn xn y x xn xn y / 2 / 2
untuk semua n N . Karena 0 yang diberikan sembarang, maka x y 0
atau x y . Yang demikian berarti bahwa limit dari suatu barisan bilangan real
yang konvergen adalah tunggal.
Teorema 2.6. Limit dari satu barisan bilangan real yang konvergen adalah
2.2.

tunggal.
Sifat Sifat Barisan Bilangan Real
Definisi 2.6. Barisan bilangan real X : x n : n N dikatakan terbatas jika
terdapat bilangan real M 0 sedemikan sehingga xn M untuk setiap n N .
Berkaitan dengan sifat keterbatasan barisan bilangan real tersebut kita memiliki
teorema berikut ini.
Teorema 2.7. Barisan bilangan real yang konvergen adalah terbatas.
Bukti. Misalkan barisan bilangan real X : x n : n N adalah barisan yang
konvergen ke x R . Itu berarti bahwa jika kita ambil 0 0 maka terdapat
bilangan real N 0 0 sehingga xn x 0 untuk semua n N 0 .
Selanjutnya, perhatikan bahwa, berdasarkan pertidaksamaan segitiga,
xn xn x x xn x x 0 x untuk semua n N 0 .

Berikutnya, pilih M : maks x1 , x2 , x3 ,..., xN 0 1 , x 0 . Jelas bahwa untuk


setiap n N berlaku xn M atau dengan kata lain barisan bilangan real X
adalah barisan yang terbatas.
Sekarang, Misalkan X : x n : n N dan Y : y n : n N adalah dua buah barisan
bilangan real yang konvergen. Apakah X Y : x n y n : n N , cX : cx n : n N

dengan c R , XY : x n y n : n N , dan X / Y : x n / y n : n N juga barisan yang


konvergen ? Teorema-teorema berikut ini menjelaskan hal tersebut.
Teorema 2.8. Jika X dan Y adalah barisan yang konvergen ke x dan y ,
secara berurutan, dan c R maka barisan X Y , cX , dan XY adalah juiga
barisan yang konvergen, masing-masing secara berurutan, ke x y , cx , dan xy .
Bukti. Misalkan X : x n : n N dan Y : y n : n N . Perhatikan bahwa,
bedasarkan pertidaksamaan segitiga,
xn yn x y xn x yn y xn x yn y .
X dan Y adalah barisan yang konvergen ke x dan y , maka jika diberikan 0
maka terdapat bilangan real N1 , N 2 0 sedemikian sehingga untuk setiap n N1
dan n N 2 , masing-masing secara berurutan, berlaku xn x / 2 dan
yn y / 2 . Misalkan N : maks N1 , N 2 . Jika n N maka

xn yn x y

xn x yn y / 2 / 2 .
Karena 0 yang diberikan sembarang, maka X Y konvergen ke x y .
Berikutnya, perhatikan bahwa
cxn cx c xn x .
Misalkan c 0 . Jika diberikan 0 maka dengan memilih berapa pun bilangan
real N 0 , selalu berlaku cxn cx c xn x 0 untuk setiap n N .
Sekarang misalkan c 0 . Karena X adalah barisan yang konvergen ke x maka
jika diberikan 0 maka terdapat bilangan real N 0 sedemikian sehingga
untuk setiap n N , berlaku xn x / c . Akibatnya, untuk setiap n N ,

cxn cx c xn x c / c .
Karena 0 yang diberikan sembarang, maka cX konvergen ke cx .
Selanjutnya, kita akan menunjukkan bahwa barisan XY konvergen ke xy .
Pertama, perhatikan bahwa
xn yn xy xn yn xn y xn y xy
xn yn xn y xn y xy
xn yn y xn x y
Menurut Teorema 2.7, X adalah barisan yang terbatas. Itu artinya terdapat
bilangan

real

L0

sehingga

xn L

untuk

setiap

nN.

Misalkan

M : maks L, y . Jika diberikan 0 maka terdapat bilangan real N1 , N 2 0


sedemikian sehingga untuk setiap n N1 dan n N 2 , masing-masing secara
berurutan,

berlaku

xn x / 2 M

dan

yn y / 2 M .

Misalkan

N : maks N1 , N 2 . Jika n N maka,

xn yn xy xn yn y xn x y M / 2M M / 2M .
Karena 0 yang diberikan sembarang, maka XY konvergen ke xy .
Pembahasan berikutnya kita akan menunjukkan bahwa X / Y akan konvergen ke
x / y jika y 0 . Tetapi sebelumnya, kita lihat terlebih dahulu teorema berikut iini.
Teorema 2.9. Jika Y : y n : n N adalah barisan tak nol ( yn 0 untuk setiap
n N ) yang konvergen ke y 0 maka barisan 1 / Y : 1 / y n : n N juga

konvergen ke 1/ y .Bukti. Jika y 0 kita peroleh bahwa y 0 . Karena Y adalah


barisan yang konvergen ke y , maka terdapat N1 0 sehingga untuk setiap
n N1 , berlaku yn y 1/ 2 y . Karena
yn y

yn y atau yn y yn y yn y
1
2

maka yn 1/ 2 y atau
untuk setiap n N1 .
yn
y
Selanjutnya, jika diberikan 0 maka terdapat N 2 0 sehingga untuk setiap
n N 2 , berlaku yn y 1/ 2 y . Kemudian, perhatikan bahwa, berdasarkan
2

pertidaksamaan segitiga,
y yn
1 1
1

yn y .
yn y
yn y
yn y
Jika N : maks N1 , N 2 maka untuk setiap n N , berlaku
1 1
1
2 1 2

yn y 2 y .
yn y
yn y
y 2
Karena 0 yang diberikan sembarang, maka 1/ Y konvergen ke 1/ y .

Berdasarkan Teorema 2.8 dan Teorema 2.9, jika X adalah barisan bilangan real
yang konvergen ke x dan Y adalah barisan bilangan real tak nol yang
konvergen ke y 0 maka barisan bilangan real X / Y juga konvergen ke x / y .
Teorema 2.10 (Teorema Apit). Misalkan X : x n : n N , Y : y n : n N , dan
Z : z n : n N adalah barisan-barisan bilangan real yang memenuhi xn yn zn

xn lim zn L maka lim yn L .


untuk setiap n N . Jika lim
n
n
n
Bukti. Jika diberikan 0 maka terdapat bilangan real N1 , N 2 0 sedemikian
sehingga untuk setiap n N1 dan n N 2 , masing-masing secara berurutan,
berlaku L xn dan zn L (mengapa demikian ?). N : maks N1 , N 2 .
Akibatnya, jika n N maka,
L xn yn zn L .
Kita peroleh bahwa L yn L atau yn L untuk setiap n N . Karena
yn L .
0 yang diberikan sembarang, maka lim
n
Contoh berikut ini memperlihatkan bagaimana Teorema Apit diaplikasikan untuk
menghitung limit suatu barisan.
cos n

: n N . Secara
2
n

Contoh 2.11. Kita akan menghitung limit dari barisan

langsung, mungkin kita agak susah untuk menentukan limitnya. Perhatikan


bahwa 1 cos n 1 untuk setiap n N . Karenanya, kita bisa memperoleh
1 cos n 1
2 2 untuk setiap n N .
n2
n
n
1
cos n
1
lim 2 lim 2 .
Akibatnya, lim
2
n n
n n
n n
cos n
cos n
0 lim 2 0 atau lim 2 0 .
n n
n n
Barisan bilangan real yang terbatas belum tentu konvergen. Sebagai contoh,
barisan bilangan real

: n N adalah barisan yang terbatas tetapi tidak

konvergen. Syarat cukup lain apa yang diperlukan sehingga barisan yang
terbatas merupakan barisan yang konvergen ? Pembahasan berikut akan
menjelaskannya.

Definisi 2.12. Misalkan X : x n : n N adalah barisan bilangan real. Barisan X


dikatakan

naik

jika

x1 x2 ... xn xn 1 ...

dan

dikatakan

turun

jika

x1 x2 ... xn xn 1 ... . Barisan bilangan real yang naik atau turun disebut
sebagai barisan yang monoton.
2.3.

Barisan Monoton
Berikut ini diberikan pengertian mengenai barisan naik dan turun monoton.
Definisi 2.3.1. Diberikan barisan bilangan real X = (xn)

(i)

Barisan X dikatakan naik (increasing) jika xn

xn+1, untuk semua n

(ii)

Barisan X dikatakan naik tegas (strictly increasing) jika xn

xn+1 , untuk

semua n
(iii)

Barisan X dikatakan turun (decreasing) jika xn

xn+1 , untuk semua n

(iv)

Barisan X dikatakan turun tegas (strictly decreasing) jika xn

xn+1 , untuk

semua n
Definisi 2.3.2. Barisan dikatakan monoton jika berlaku salah satu X naik atau X
turun.
Contoh 2.3.2.
a. Barisan berikut ini naik (monoton).

b. Barisan berikut ini turun (monoton).

c. Barisan berikut ini tidak monoton.

Definisi 2.3.3. Teorema Konvergensi Monoton


a. Jika X = (xn) naik (monoton) dan terbatas ke atas, maka X =(xn) konvergen
dengan
b. Jika X = (

) Turun (monoton) dan terbatas ke bawah, maka X =(xn) konvergen

dengan
Bukti.
a) Karena X = (

) terbatas ke atas, maka terdapat

untuk semua

. Namakan A =

atas dan tidak kosong. Menurut Sifat Lengkap


namakan x = sup A. Diambil

sedemikian hingga
, maka

maka supremum A ada,

, maka terdapat

sedemikian hingga .

Karena X naik monoton, maka untuk


atau
Jadi, terbukti bahwa X = (

) konvergen ke x = lim(

)=

b) Gunakan cara yang hampir sama dengan pembuktian (a).


Contoh 2.3.3 Diketahui barisan
Apakah
konvergen? Jika ya, tentukan lim

dengan

R, terbatas ke

dan

berlaku

Jawab. Akan ditunjukkan menggunakan induksi bahwa


n 1, diperoleh

naik monoton. Untuk

(benar). Misalkan benar untuk n k ,


, akan dibuktikan benar untuk n k 1, yaitu

yaitu

Berarti benar untuk n k 1. Jadi, menurut induksi


Selanjutnya, ditunjukkan bahwa
semua

naik monoton.

terbatas ke atas (oleh 3), yaitu

untuk

Untuk n 1 benar, sebab

3. Misalkan benar untuk n k , yaitu

Maka
yang berarti benar untuk n k 1. Jadi,
menurut induksi terbukti bahwa

, untuk semua

. Karena

naik

monoton dan terbatas ke atas, maka menurut Teorema 2.3.4 barisan


konvergen. Misalkan

, maka diperoleh

Diperoleh y 2 atau y 1. Untuk y 1 jelas tidak mungkin, sebab


untuk semua

. Jadi, terbukti bahwa

konvergen dan lim

2.4. Barisan Bagian


Pada bagian ini akan diberikan konsep barisan bagian (subsequences) dari suatu
barisan bilangan real.

Definisi 2.4.1. Diberikan barisan bilangan real X = (


n1< n2<.. nk<... Barisan X = (

) dan bilangan asli naik tegas

) dengan

disebut dengan barisan bagian atau sub barisan (subsequences) dari X.


Contoh 2.4.1 Diberikan X :=

Teorema 2.4.2 Jika X = (

) konvergen ke x, maka setiap barisan bagian X = (

dari X juga konvergen ke x.


Bukti. Diambil
untuk setiap n

. Karena

, maka terdapat K( )

K( ) berlaku

nk Maka untuk setiap

Terbukti bahwa X = (

sedemikian hingga

Karena untuk setiap n)


Sehingga

) Konvergen ke x

berlaku nk+1

Teorema 2.4.2 Diberikan barisan bilangan real X = (

), maka pernyataan berikut

ini ekuivalen.

Bukti
(i)

(ii) Jika

tidak konvergen ke , maka untuk suatu

ditemukan

sedemikian hingga untuk setiap

Akibatnya tidak benar bahwa untuk setiap


Dengan kata lain, untuk setiap

terdapat

tidak mungkin
berlaku

memenuhi
sedemikian hingga

dan
(ii)

(iii) Diberikan

hingga

dan

dan

bagian X = (

sehingga memenuhi (ii) dan diberikan


Selanjutnya, diberikan

sedemikian

sedemikian hingga

. Demikian seterusnya sehingga diperoleh suatu barisan

) sehingga berlaku

untuk semua

(iii)

(i) Misalkan X = (

) mempunyai barisan bagian X = (

) yang memenuhi

sifat (iii). Maka X tidak konvergen ke x, sebab jika konvergen ke x, maka X = (


juga konvergen ke x. Hal ini tidak mungkin, sebab X = (

) tidak berada dalam

persekitaran

Teorema 2.4.3 (Kriteria Divergensi) jika barisan bilangan real X =

) memenuhi

salah satu dari sifat berikut, maka barisan X divergen.


(i)

X mempunyai dua barisan bagian konvergen X = (

(ii)

dengan limit keduanya tidak sama.


X tidak terbatas.

Contoh 2.4.3. Tunjukkan bahwa barisan

Jawab. Namakan barisan di atas dengan

dan X = (

divergen.

, dengan

jika n genap, dan

jika n ganjil. Jelas bahwa Y tidak terbatas. Jadi, barisan

, divergen.

Berikut ini diberikan sebuah teorema yang menyatakan bahwa barisan bilangan
real

X =

pasti mempunyai barisan bagian yang monoton. Untuk

membuktikan teorema ini, diberikan pengertian puncak (peak),


jika

untuk semua n sedemikian hingga

. Titik

disebut puncak
tidak pernah

didahului oleh sebarang elemen barisan setelahnya. Perhatikan bahwa pada barisan
yang menurun, setiap elemen adalah puncak, tetapi pada barisan yang naik, tidak
ada elemen yang menjadi puncak.

Teorema 2.4.4 Teorema Barisan Bagian Monoton Jika X =

) barisan bilangan

real, maka terdapat barisan bagian dari X yang monoton.


Bukti. Pembuktian dibagi menjadi dua kasus, yaitu X mempunyai tak hingga
banyak puncak, dan X mempunyai berhingga banyak puncak.
Kasus I: X mempunyai tak hingga banyak puncak. Tulis semua puncak berurutan
naik, yaitu
(

Maka

Oleh karena itu,

merupakan barisan bagian yang turun (monoton).

Kasus II: X mempunyai berhingga banyak puncak. Tulis semua puncak berurutan
naik, yaitu

. Misalkan

dari puncak yang terakhir. Karena


sedemikian hingga
sedemikian hingga

. Karena

adalah indeks pertama

bukan puncak, maka terdapat


bukan puncak, maka terdapat

.. Jika proses ini diteruskan, diperoleh barisan bagian

yang naik (monoton).

Teorema 2.4.4 Teorema Bolzano-Weiertrass Setiap barisan bilangan real yang


terbatas pasti memuat barisan bagian yang konvergen.

Bukti. Diberikan barisan bilangan real terbatas X =

) . Namakan

range barisan, maka S mungkin berhingga atau tak berhingga.


Kasus I: Diketahui S berhingga. Misalkan,
dengan

dan barisan

maka terdapat
dengan

sehingga

. Hal ini berarti terdapat barisan bagian

yang

konvergen ke
Kasus II: Karena S tak berhingga dan terbatas, maka S mempunyai titik cluster

atau titik limit, namakan x titik limit S. Misalkan

persekitaran titik

x.
Untuk k = 1, maka terdapat

sedemikian hingga

Untuk k = 2, maka terdapat

sedemikian hingga

Untuk k = 3, maka terdapat

sedemikian hingga

Demikian seterusnya, sehingga diperoleh:


Untuk k = n, maka terdapat
Ambil

sedemikian hingga

. Menurut Sifat Archimedes, maka terdapat

Maka untuk setiap

konvergen ke x dengan

berlaku

barisan bagian

sedemikian hingga

Terbukti bahwa

Teorema 2.4.5. Diberikan barisan bilangan real terbatas X =

) dan diberikan

yang mempunyai sifat bahwa setiap barisan bagian dari X konvergen ke x.


Maka barisan X konvergen ke x.
Bukti. Misalkan
semua

adalah batas dari barisan X sehingga

untuk

. Andaikan X tidak konvergen ke x, maka menggunakan Teorema

2.4.4 terdapat

dan barisan bagian X = (

untuk semua

sedemikian hingga

. Karena X barisan bagian dari X, maka M juga

batas dari X. MenggunakanTeorema Bolzano-Weierstrass berakibat bahwa


Xmemuat barisan bagian X. Karena X juga barisan bagian dari X, maka Xuga
konvergen ke x. Dengan demikian, akan selalu berada dalam persekitaran

Timbul kontradiksi, yang benar adalah X selalu konvergen ke x.


2.5.

Barisan Cauchy
Definisi 2.5.1 Teorema Kekonvergenan Monoton memberikan jaminan atau syarat
cukup barisan bilangan real yang monoton adalah barisan yang konvergen. Bagaimana
halnya dengan barisan yang tidak monoton ? Apakah masih memungkinkan menjadi
barisan yang konvergen ? Penjelasan yang akan hadir berikut ini memberikan syarta
perlu dan syarat cukup suatu barisan bilangan real yang tidak monoton adalah barisan
yang konvergen.

Definisi 2.5.2. Barisan bilangan real X : x n : n N dikatakan sebagai barisan Cauchy


jika untuk setiap 0 terdapat bilangan real N 0 sedemikian sehingga untuk
setiap n, m N berlaku xn xm .

Contoh 2.5.3. Kita akan menunjukkan bahwa barisan bilangan real 1 / n 2 : n N


adalah barisan Cauchy. Diberikan

n, m N maka n, m 2 /

0 . Pilih

N 2 / . Akibatnya, jika

atau 1/ n 2 ,1/ m 2 / 2 . Dengannya, kita dapatkan

untuk n, m N , berlaku

1
1
1
1
1
1
2 2 2 2 2 .
2
n m
n
m
n m
2 2

Karena 0 yang diberikan sembarang, maka barisan bilangan real 1 / n 2 : n N

adalah barisan Cauchy.

Contoh 2.5.4. Akan kita perlihatkan bahwa barisan bilangan real X 1 : n N


n

bukanlah barisan Cauchy. Negasi dari definisi barisan Cauchy adalah terdapat 0 0
sedemikian sehingga untuk setiap N 0 0 terdapat n, m N 0 yang memenuhi

xn xm 0 . Misalkan 0 1/ 2 . Perhatikan bahwa xn xn 1 2 1/ 2 . Jadi untuk


setiap N 0 0

kita selalu bisa mendapatkan n, m N 0

dengan m n 1

n
sehingga xn xn 1 1/ 2 . Jadi barisan X 1 : n N bukanlah barisan Cauchy.

Lema 2.5.5 Barisan bilangan real Cauchy adalah barisan yang terbatas.
Bukti. Misalkan X x n : n N adalah barisan Cauchy. Yang demikian berarti jika
diberikan 0 maka terdapat N 0 sedemikian sehingga untuk setiap n, m N
berlaku x n x m . Akibatnya, x n x N untuk setiap
memperoleh x n x N untuk setiap n N . Misalkan

n N . Darinya, kita

M : maks x1 , x 2 ,...., x N 1 , x N .

Untuk setiap n N , kita memilki x n M . Jadi X x n : n N adalah barisan yang


terbatas.

Selanjutnya, kita akan melihat bahwa setiap barisan bilangan real Cauchyi adalah
barisan yang konvergen dan setiap barisan bilangan real yang konvergen adalah
barisan Cauchy.

Teorema 2.5.6. Suatu barisan bilangan real adalah konvergen jika dan hanya jika
barisan itu adalah barisan Cauchy.
Bukti. Kita akan buktikan syarat perlunya terlebih dahulu. Misalkan X x n : n N
adalah barisan yang konvergen. Karenanya, jika diberikan 0 maka terdapat
N 0

sedemikian

sehingga

untuk

setiap

n N

berlaku

xn x / 2 .

Berdasarkan pertidaksamaan segitiga, untuk setiap n, m N berlaku


xn xm xn x x xm xn x x xm / 2 / 2 .

Karena 0 yang diberikan sembarang, maka X x n : n N adalah barisan Cauchy.

Berikutnya, kita akan membuktikan syarat cukupnya. Misalkan X x n : n N adalah


barisan Cauchy. Itu berarti bahwa jika diberikan 0 maka terdapat N 0
sedemikian sehingga untuk setiap n, m N berlaku x n x m / 2 . Menurut Lema
2.20, X x n : n N adalah barisan yang terbatas, dan menurut Teorema Bolzano-

weierstrass, X x n : n N mempunyai sub barisan X ' x nk : k N yang konvergen


ke

x.

Yang demikian mengandung arti bahwa terdapat K 0 sedemikian sehingga

untuk setiap k K berlaku x n x / 2 . Misalkan H : maks N , K dan


k

H n1 , n2 ,... . Karenanya,

x H x / 2 . Untuk n H kita mempunyai

xn x xn x H x H x xn x H x H x / 2 / 2 .

Karena 0 yang diberikan sembarang, maka X x n : n N adalah barisan yang


konvergen ke

x.

2.6.
Barisan Divergen
Coba perhatikan kembali Definisi 2.17, definisi tentang barisan bilangan real Chauchy.
Definisi tersebut ekuivalen dengan pernyataan bahwa suatu barisan bilangan real
divergen jika dan hanya jika barisan tersebut bukanlah barisan Cauchy. Itu artinya untuk
suatu 0 0 tidak terdapat K 0 sedemikian sehingga untuk setiap n, m K berlaku

k N terdapat n, m k berlaku x n x m .
n 1
Perhatikan barisan bilangan real Z 1 : n N . Ambil 0 1 . Untuk n k dan
x n x m . Akibatnya, untuk setiap

m k 1 berlaku
x n x m x k x k 1 1

k 1

2 1.

Jadi untuk setiap k N terdapat n, m k sedemikian sehingga x n x m 1 . Dengan

kata lain, Z 1

n 1

: n N adalah barisan yang divergen.

Lihat kembali barisan X x n 2n 1 : n N yang merupakan barisan yang divergen.


Misalkan diberikan sembarang bilangan M 0 . Kita peroleh selalu ada n N
sehingga xn M , yakni untuk n M 1 / 2 . Barisan ini dikatakan divergen menuju
tak hingga positif ( ).

Bagaimana halnya dengan barisan S s n 2n 1 : n N . Barisan S juga adalah


barisan yang divergen, karena setiap kita mengambil M 0 selalu dapatkan n N

sehingga sn M , yakni untuk n M 1 / 2 . Barisan ini dikatakan divergen menuju


tak hingga negatif ( ).

Sekarang pehatikan barisan Z 1, 1,1, 1,..., 1

n 1

,... . Telah ditunjukkan bahwa

barisan ini juga merupakan barisan yang divergen. Suku-suku barisan ini nilainya
berosilasi atau berubah-ubah, secara berselang-seling dan terus-menerus tanpa henti,
antara 1 atau -1. Barisan ini divergen tetapi tidak menuju ke maupun .

Dari tiga contoh barisan divergen di atas, kita dapat membuat definisi formal barisan
yang divergen.

Definisi 2.6.1. Misalkan X x n : n N adalah barisan bilangan real. Barisan X


dikatakan divergen menuju ( ) jika untuk setiap M 0 terdapat N M 0
sehingga untuk setiap n N M berlaku xn M ( xn M ).

Definisi 2.6.2. Jika X x n : n N adalah barisan bilangan real yang divergen tetapi
tidak menuju ke maupun maka X x n : n N adalah barisan bilangan real
yang divergen secara berosilasi.

Berdasarkan Teorema 2.7 dan Teorema Kekonvergenan Monoton, barisan bilangan real
yang monoton adalah barisan yang konvergen jika dan hanya jika barisan tersebut
adalah barisan yang terbatas. Dengan kata lain, barisan bilangan real yang monoton
adalah barisan yang divergen jika dan hanya jika barisan itu adalah barisan yang tidak
terbatas. Dapat ditunjukkan jika suatu barisan adalah tak terbatas dan naik maka limit
barisan tersebut menuju positif tak hingga. Jika suatu barisan adalah tak terbatas dan
turun maka limit barisan itu menuju negatif tak hingga.

Ada cara lain untuk menunjukkan bahwa suatu barisan bilangan real adalah barisan
yang divergen. Teorema berikut, dinamakan Teorema Perbandingan, menjelaskan
kondisi yang membuat suatu barisan dikatakan sebagai barisan yang divergen.

Teorema 2.6.3. Jika

xn : n N

dan

yn : n N

adalah barisan bilangan real yang

memenuhi
x n y n untuk setiap n N

Maka

x n maka lim y n .
a. Jika lim
n
n
y n maka lim x n .
b. Jika lim
n
n
Bukti.

x n , maka terdapat N 0 sehingga untuk setiap


a. Misalkan M 0 . Karena lim
n
n N berlaku x n M . Karena x n y n untuk setiap n N , maka x n y n untuk setiap
n N . Akibatnya,

yn M

untuk setiap n N .. Karena M 0 yang diberikan

y n .
sembarang, maka lim
n
b.

y n , maka terdapat N 0 sehingga untuk setiap


Misalkan M 0 . Karena lim
n
n N berlaku y n M . Karena x n y n untuk setiap n N , maka x n y n untuk
setiap n N . Akibatnya, x n M untuk setiap n N . Karena M 0 yang diberikan

x n .
sembarang, maka lim
n

Namun demikian, tidaklah selalu kita bisa menjumpai kondisi dua barisan seperti yang ada
pada hipotesis Teorema 2.24, sehingga kita tidak dapat mengaplikasikan teorema tersebut
untuk menunjukkan suatu barisan bilangan real adalah barisan yang divergen. Teorema di
bawah ini, dinamakan sebagai Teorema Perbandingan Limit, menjelaskan kondisi (yang

lebih umum dibandingkan kondisi pada Teorema 2.24) yang menjadikan suatu barisan
bilangan real dikatakan sebagai barisan divergen.

Teorema 2.6.4. Jika x n : n N dan y n : n N adalah barisan bilangan real positif yang
memenuhi

lim

xn
L dengan L R dan L 0
yn

x n jika dan hanya jika lim y n .


maka diperoleh bahwa lim
n
n
xn
L , maka jika diberikan L / 2 terdapat N 0 sedemikian
yn
sehingga untuk setiap n N berlaku x n / y n L L / 2 atau L / 2 x n / y n 3L / 2 atau
L / 2 y n xn 3L / 2 y n . Akibatnya, kita mempunyai bahwa L / 2 y n xn dan
Bukti. Karena lim
n

2 / 3L x n

x n maka
y n untuk n N . Berdasarkan Teorema 2.24, jika lim
n

lim y n dengan menggunakan fakta 2 / 3L x n y n untuk n N . Dengan


n
y n maka lim x n dengan menggunakan fakta
Teorema yang sama, jika lim
n
n

L / 2 y n

x n jika dan hanya jika lim y n .


x n untuk n N . Jadi lim
n
n

BAB III
PENUTUP
3.1

KESIMPULAN
Definisi 3.1.1. Diberikan barisan bilangan real X = (xn)
(i)

Barisan X dikatakan naik (increasing) jika xn

xn+1, untuk semua n

(ii)

Barisan X dikatakan naik tegas (strictly increasing) jika xn

xn+1 , untuk

semua n
(iii)

Barisan X dikatakan turun (decreasing) jika xn

xn+1 , untuk semua n

(iv)

Barisan X dikatakan turun tegas (strictly decreasing) jika xn

xn+1 , untuk

semua n
Definisi 3.1.2. Barisan dikatakan monoton jika berlaku salah satu X naik atau X
turun.
Definisi 3.1.3. Teorema Konvergensi Monoton
A. Jika X = (xn) naik (monoton) dan terbatas ke atas, maka X =(xn) konvergen
dengan
B. Jika X = (

) Turun (monoton) dan terbatas ke bawah, maka X =(xn)

konvergen dengan
Definisi 3.2.1. Diberikan barisan bilangan real X = (
tegas n1< n2<.. nk<... Barisan X = (

) dan bilangan asli naik

) dengan

disebut dengan barisan bagian atau sub barisan (subsequences) dari X.


Teorema Bolzano-Weiertrass Setiap barisan bilangan real yang terbatas pasti
memuat barisan bagian yang konvergen.
3.3 SARAN
Setelah membahas materi mengenai barisan monoton sub barisan dan Teorema
Bolzano-Weiertrass penulis mengharapkan agar kedepan materi ini

dikembangkan lebih jauh terutama mempebanyak contoh soal. Selanjutnya


penulis juga sendiri mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun.