Anda di halaman 1dari 38

LAPORAN PRAKTIKUM

TEKNOLOGI PENGOLAHAN PANGAN


TEKNOLOGI PENGOLAHAN SEREALIA, KACANGKACANGAN, DAN HASIL PERKEBUNAN
ROTI TAWAR DAN ROTI MANIS
(Triticum aestivum)
Oleh
Nama
NRP
No. Meja
Kelompok
Tanggal Praktikum
Asisten

: Cinthya Marbella
: 123020221
: 4 (empat)
:H
: 31 Maret 2015
: Ratu Julia Harni

LABORATORIUM TEKNOLOGI PENGOLAHAN PANGAN


PROGRAM STUDI TEKNOLOGI PANGAN
FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS PASUNDAN
BANDUNG
2015

I PENDAHULUAN
Bab ini akan menguraikan mengenai : (1) Latar Belakang Percobaan, (2)
Tujuan Percobaan, dan (3) Prinsip Percobaan.
1.1. Latar Belakang
Serealia dan umbi-umbian banyak tumbuh di Indonesia. Produksi serealia
terutama beras sebagai bahan pangan pokok dan umbi-umbian cukup tinggi.
Begitu pula dengan bertambahnya penduduk, kebutuhan akan serealia dan umbiumbian sebagai sumber energi pun terus meningkat. Tanaman dengan kadar
karbohidrat tinggi seperti halnya serealia dan umbi-umbian pada umumnya tahan
terhadap suhu tinggi.
Serealia dan umbi-umbian sering dihidangkan dalam bentuk segar, rebusan
atau kukusan, hal ini tergantung dari selera. Usaha penganekaragaman pangan
sangat penting artinya sebagai usaha untuk mengatasi masalah ketergantungan
pada satu bahan pangan pokok saja. Misalnya dengan mengolah serealia dan
umbi-umbian menjadi berbagai bentuk awetan yang mempunyai rasa khas dan
tahan lama disimpan. Bentuk olahan tersebut berupa tepung, gaplek, tapai, keripik
dan lainya. Hal ini sesuai dengan program pemerintah khususnya dalam mengatasi
masalah kebutuhan bahan pangan, terutama non-beras.
Salah satu bahan baku roti yang paling penting dalam proses pembuatan
soft bread adalah ragi atau yeast. Ragi adalah mikroorganisme hidup yang
berkembang biak dengan cara memakan gula. Fungsi utama ragi adalah
mengembangkan adonan. Pengembangan adonan terjadi karena ragi menghasilkan

gas karbondioksida (CO2) selama fermentasi. Gas ini kemudian terperangkap


dalam jaringan gluten yang menyebabkan roti bisa mengembang. Komponen lain
yang terbentuk selama proses fermentasi adalah asam dan alkohol yang
berkontribusi terhadap rasa dan aroma roti, namun alkohol akan menguap dalam
proses pemanggangan roti.
Proses pengembangan adonan merupakan suatu proses yang terjadi secara
sinkron antara peningkatan volume sebagai akibat bertambahnya gas-gas yang
terbentuk sebagai hasil fermentasi dan protein larut, lemak dan karbohidrat yang
juga mengembang dan membentuk film tipis. Dalam proses ini terlihat dua
kelompok daya yaitu daya poduksi gas dan daya penahan gas. Beberapa faktor
yang dapat mempengaruhi daya produksi gas adalah konsentasi ragi roti, gula,
malt, makanan ragi dan susu selama berlangsungnya fermentasi.
1.2.Tujuan Percobaan
Untuk menambah nilai ekonomis, mengetahui pembuatan roti, serta
diversifikasi produk olahan serelia.
1.3.

Prinsip Percobaan
Berdasarkan terbentuknya gluten dari gliadin dan glutenin, serta

penambahan air dan ragi sehingga terjadi proses fermentasi dimana CO2
terperangkap didalam gluten yang menyebabkan adonan mengembang.

II BAHAN, ALAT DAN METODE PERCOBAAN


Bab ini akan menguraikan mengenai : (1) Bahan Percobaan yang
Digunakan, (2) Alat Percobaan yang Digunakan, dan (3) Metode Percobaan.
2.1. Bahan-bahan yang Digunakan
Bahan-bahan yang digunakan dalam percobaan pembuatan roti antara lain
tepung cakra kembar, tepung segitiga biru, susu cair full cream, susu bubuk full
cream, mentega, ragi, telur, air dingin, bread improver, garam, gula, margarin,
sosis, abon cabe, keju, coklat, dan corned beef.
2.2. Alat-alat yang Digunakan
Alat-alat yang digunakan dalam percobaan ini adalah talenan, pisau,
baskom,
timbangan, mixer,
blender,

oven,

dan

2.3

mangkuk sample.v
Metode Percobaan

Bahan bahan
Pencampuran III

Fermentasi II
Fermentasi I

Pencampuran I

Pembentukan &

Pencampuran II

Pengempisan

Gambar
1. Proses
Pembuatan Roti
Manis
Pengisian
adonan
adonan

Bahan bahan
Pencampuran III

Fermentasi II
Fermentasi I

Pencampuran I

Pencampuran II

Pembentukan

Pengempisan

Adonan

Gambar 2. Proses

Pembuatan Roti Tawar

Terigu
Ragi, gula, susu bread
improver

adonan

Pencampuran I

Telur, air dingin

Pencampuran II

Margarin, garam

Pencampuran III
Fermentasi I (T: 40oC,
t: 1 jam, RH: 80-85%)
Pengempisan

Bahan isian

CO2

Pembentukan dan
pengisian adonan
Fermentasi II (T: 40oC,
t: 1 jam, RH: 80-85%)
Baking T : 180200oC
t : 25-30menit

Uap air

Roti Manis

Gambar 3. Diagram Alir Pembuatan Roti Manis

Terigu
Ragi, gula, bread
improver

Pencampuran I

Telur, susu
Mentega, garam

Pencampuran II
Pencampuran III
Fermentasi I (T: 40oC,
t: 1 jam, RH: 80-85%)
Pengempisan

CO2

Pembentukan
Fermentasi II (T: 40oC,
t: 1 jam, RH: 80-85%)
Baking T : 180200oC
t : 25-30menit

Uap air

Roti Tawar

Gambar 4. Diagram Alir Pembuatan Roti Tawar

III HASIL PERCOBAAN DAN PEMBAHASAN

Bab ini akan membahas mengenai : (1) Hasil Percobaan Pembuatan Roti
manis dan Roti tawar, (2) Pembahasan
3.1. Hasil Percobaan
Berdasarkan pengamatan pada pembuatan roti manis dan roti tawar yang
telah dilakukan maka diperoleh hasil pengamatan yang dapat dilihat pada tabel
berikut :
Tabel 1. Hasil Pengamatan Pembuatan Roti Manis
N
o
1.
2.
3.

Nama Produk
Basis
Bahan Utama

4.

Bahan Tambahan

5.
6.
7.

8.

Analisa

Berat Produk
%Produk
Organoleptik
a. Warna
b. Rasa
c. Aroma
d. Kenampakan
e. Tekstur

Hasil Pengamatan
Roti Manis
200 gram
Tepung Cakra Kembar
39,85%
Tepung Terigu biru
15%
Air susu
17%
Ragi
1%
Telur
8%
Garam
0,05%
Bread Improver
0,1%
Sukrosa
9%
Margarin
10%
Isian
184 gram (tanpa isian)
92 %

Gambar
Produk

(Sumber: Kelompok H, Meja 4, 2015).

Kecokelatan
Khas roti agak manis
Khas roti
Mengkilap
Lembut

79,7 g
30 g
34 g
2g
16 g
0,1 g
0,2 g
18 g
20 g
25 g

Tabel 1. Hasil Pengamatan Roti Tawar


N
o
1.
2.
3.
4.

5.
6.
7.

8.

Analisa
Nama Produk
Basis
Bahan Utama
Bahan Tambahan

Berat Produk
%Produk
Organoleptik
a. Warna
b. Rasa
c. Aroma
d. Kenampakan
e. Tekstur

Hasil Pengamatan
Roti Tawar
200 gram
Tepung Cakra Kembar
53%
Ragi
1%
Susu Bubuk
5%
Garam
1%
Telur
8%
Air Dingin
19,9%
Sukrosa
8%
Butter
4%
Bread Improver
0,1%
185 gram
92,5 %

106 g
2g
10 g
2g
16 g
39,8 g
16 g
8g
0,2 g

Kecokelatan
Tawar
Khas Roti
Mengkilap
Lembut

Gambar
Produk

(Sumber: Kelompok H, Meja 4, 2015).


3.2. Pembahasan
Berdasarkan hasil pengamatan dapat disimpulkan bahwa roti manis
memiliki warna kuning kecoklatan, rasa khas roti sedikit manis, aroma khas roti,
tekstur lembut, kenampakan menarik dan memiliki berat produk 209gram serta
%produk 92%.

Sedangkan roti tawar memiliki warna kecoklatan, rasa

tawar, aroma khas roti, tekstur lembut, kenampakan mengkilap dan memiliki berat
produk 186gram serta %produk 92,5%.

Roti adalah produk pangan olahan yang merupakan hasil proses


pemanggangan adonan yang telah difermentasi. Bahan utama dalam pembuatan
roti terdiri dari tepung terigu, air, ragi, dan garam. Sedangkan bahan penambah
rasa dan pelembut gula, susu, lemak, dan telur. Untuk penguat gluten,
memperpanjang umur simpan dan penambah vitamin bagi ragi atau sering disebut
bahan peningkat adalah berupa bread improver (Fardiah, 2008).
Perbedaan dari roti manis dan roti kering sendiri adalah pada roti manis
bahan penunjang yang digunakan salah satunya adalah margarin dan pada saat
proses pengkalisan adonan roti manis tidak perlu terlalu kalis, sedangkan pada roti
tawar bahan penunjang yang digunakan salah satunya menggunakan butter dan
pada saat pengkalisan adonan benar benar kalis.
Ada beberapa metode sistem pembuatan roti, yaitu metode straigh dough,
metode sponge dough, sistem no time dough dan sistem dough break roll. Metode
straight dough atau adonan langsung adalah cara yang paling banyak digunakan
dalam industri rumah tangga di Indonesia, yang dimaksud dengan straight itu
sendiri adalah suatu proses pembuatan roti dengan satu kali pengadukan dimana
semua bahan diaduk menjadi satu. Pencampuran ini dilakukan hingga adonan
kelihatan lembut dan kalis. Temperatur adonan yang keluar dari mixer berkisar
antara 26-28oC, dan difermentasikan antara 1-3 jam.
Keuntungan dari sistem ini adalah mempunyai toleransi yang baik
terhadap waktu aduk, lebih sedikit karyawan yang dipekerjakan, lebih pendek
waktu produksi dibandingkan dengan sistem sponge and dough. Akan tetapi

sistem ini juga mempunyai kedap waktu fermentasi serta kesalahan tidak dapat
dikoreksi bila terjadi kesalahan pada saat pengadukan (Yogha, 2012).
Teknik pembuatan roti dengan sistem sponge and dough ini memiliki
beberapa keunggulan dibandingkan dengan sistem straight dough, antara lain
lebih sedikit penggunaan yeast (ragi) dalam adonan, roti yang dihasilkan memiliki
volume lebih besar dan remah serta tekstur yang lebih baik, serta memiliki tingkat
fleksibilitas yang tinggi. Teknik sponge and dough dalam pembuatan roti terdiri
dari dua langkah, yaitu:
Pertama, tahap pembuatan sponge (biang) di mana mencapurkan beberapa bahan
dari bahan total yang digunakan. Dalam tahap ini yang memegang peranan
penting adalah ragi (yeast).
Kedua, pembuatan adonan (dough), dimana biang yang telah tercampur dengan
sisa bahan dari total bahan dalam resep (Yogha, 2012).
Sistem No Time Dough adalah sistem adonan cepat dimana dalam waktu
3menit, roti dapat dibuat. Ciri-ciri dari sitem ini adalah pengadukan satu kali
fermentasi 0-45 menit, penambahan yeast dan bread improver untuk mempercepat
pengembangan dan volume tetap baik, dan daya tahan sekitar 3 hari. Keunggulan
dari sistem ini adalah hemat waktu pada proses fermentasi, tidak memerlukan alat
banyak, lebih sedikit tenaga yang digunakan, hasil roti lebih banyak, akan tetapi
roti yang dihasilkan tidak memiliki aroma yang baik serta daya tahan roti tidak
tahan lama (Yogha, 2012).
Langkah dari No Time Dough ini hampir sama dengan cara membuat roti
secara konvensional. Tidak seperti Straigh Dough dan Sponge Dough yang

umumnya mengandalkan proses fermentasi untuk menghasilkan volume roti.


Sistem ini mengandalkan pengembangnya dari bahan kimia selama proses
pengadukan. Pada prinsipnya sistem ini adalah penambahan bahan pengembang
yang akan menyebabkan adonan cepat mengembang tanpa proses yang tidak
terlalu lama (Yogha, 2012).
Sistem Dough Break Roll, Sistem ini adalah modifikasi dari No Time
Dough, yang banyak digunakan oleh industri atau pabrik-pabrik roti murah untuk
dikonsumsi oleh kalangan bawah dimana selera dan cita rasanya kurang
diperhatikan. Roti dapat dibuat dengan cepat, banyak dan hasil produknya
memiliki tekstur yang lebih halus. Ciri-ciri dari sistem ini adonan diaduk asal
campur lalu diroll dengan mesin berkali-kali hingga kalis dan sistem selanjutnya
sama dengan Straigh Dough. Dalam resep ini mengalami perubahan yaitu air
dikurangi 5-7% dan bread improver ditambah 1% dan biasanya tidak mengalami
proses fermentasi. Roti yang dihasilkan walaupun awet namun biasanya memiliki
kualitas yang kurang baik. Keuntungan dari sistem ini antara lain walaupun
produksinya lebih cepat, jumlah produk lebih banyak dan teksturnya paling halus.
Tetapi dengan tidak adanya proses fermentasi maka aroma roti yang dihasilkan
tidak keluar, dan kulit roti tampak agak pucat (Yogha, 2012).
Hasil roti akan maksimal jika mengikuti tahap pembuatan yang baik dan
benar sesuai petunjuk. Berikut tahap dasar pembuatan roti; Pada prinsipnya roti
dibuat dengan cara mencampurkan tepung dan bahan penyusun lainnya menjadi
adonan kemudian difermentasikan dan dipanggang. Pembuatan roti dapat dibagi
menjadi dua bagian utama yaitu proses pembuatan adonan dan proses

pembakaran. Kedua proses utama ini akan menentukan mutu hasil akhir.
(Anonim, 2014).
Proses pengadukan bahan resep merupakan tahap yang sangat penting di
dalam membuat roti. Proses pertama mencampur resep adonan menjadi satu (pick
up), adonan kemudian diaduk agar tidak menempel lagi di mixer dan mangkok
adonan, pengadukan diteruskan hingga permukaan resep adonan licin dan elastis,
teruskan mengaduk sebentar lagi hingga seluruh resep adonan licin kalis dan
permukaan terlihat kering (Anonim, 2014).
Proses pengadukan bahan baku roti erat kaitannya dengan pembentukan
zat gluten. Sehingga adonan siap menerima gas CO2 dari aktivitas fermentasi.
Prinsipnya proses pengadukan ini adalah pemukulan dan penarikan jaringan zat
gluten sehingga struktur spiralnya akan berubah menjadi sejajar satu dengan
lainnya. Jika struktur ini tercapai, maka permukaan adonan akan terlihat
mengkilap dan tidak lengket serta adonan akan mengembang pada titik optimum
dimana zat gluten dapat ditarik atau dikerutkan (Anonim, 2014).
Setelah tahap ini pengadukan sebaiknya dihentikan, jika tidak adonan akan
basah, lengket dan berair. Bila tahap ini terjadi maka akan overmix dan adonan
akan menghasilkan kue yang bantat, lembek dan pori-pori tidak bagus.
(Anonim, 2014).
Fungsi pengadukan

adalah

menciptakan

adonan yang

homogen,

membentuk dan melunakan gluten sehingga memungkinkan adonan menahan gas


ketika proses pengembangan atau fermentasi (Anonim, 2014).

Setelah seluruh resep adonan kalis, adonan kemudian dibulatkan dan


didiamkan untuk fermentasi atau pengembangan. suhu ideal untuk fermentasi roti
adalah kisaran 34 - 35 derajat Celcius. Suhu terlalu dingin akan menyebabkan
proses fermenasi berjalan lambat, sedangkan suhu terlalu panas akan
menyebabkan fermentasi berjalan terlalu cepat dan yang mengakibatkan tekstur
roti menjadi kasar (Anonim, 2014).
Waktu yang diperlukan untuk fermentasi adalah 30 menit, namun
fermentasi akan menjadi semakin lama jika suhu dingin. Dalam kondisi ini,
fermentasi bisa mencapai dalam 1 jam. Patokannya adalah, proses fermentasi
segera diberhentikan ketika resep adonan sudah mengembang dua kali lipat dari
besar resep adonan semula atau ketika adonan ditekan dengan jari, adonan
meninggalkan bekas permanen, tidak kembali ke bentuk semula (Anonim, 2014).
Pada saat fermentasi tempat untuk adonan ditutup dengan lap basah agar
terjaga kelembabannya dan agar adonan tidak kering dan keras. Fermentasi terlalu
lama akan menyebabkan adonan over prof, yaitu kondisi dimana adonan menjadi
lembek dan berair. Fermentasi terlalu singkat akan menyebabkan roti keras, poripori kasar dan roti tidak empuk (Anonim, 2014).
Mekanisme pembentukan Gluten dan peranannya dalam pembuatan roti
adalah gliadin dan glutenin jika ditambah air akan membentuk adonan (dough)
dan bila di remas remas (kneaded) akan membentuk substansi gluten yang
lengket dan elastis. Didalam pembuatan roti gluten ini membentuk jaringan dan
kerangka roti (struktur dasar remah roti) serta menahan gas yang dihasilkan dari
peragian. Elastisitas gluten akan berkembang pada proses pencampuran (mixing),

yang melibatkan sulfhidril (-SH) yang mengalami oksidasi membentuk ikatan


disulfida (-S-S-) atau membentuk ikatan baru (Sutisna, 2013).
Mekanisme fermentasi pada pembuatan roti yaitu glukosa dan fruktosa
diubah menjadi alkohol dan CO2 oleh kumpulan enzim (Zymase), melalui jalur
EMP. Produksi gas dan retensi gas pada waktu fermenatsi gas harus cukup
diproduksi untuk pengembangan. Produksi gas tergantung pada jumlah gula dan
aktifitas enzim. Jika gas yang terbentuk sedikit, dapat diatasi dengan penambahan
sumber pati ( Malt ). Gluten harus dapat memanjang (extensible) untuk
memungkinkan roti mengembang, dan juga kuat untuk mencegah cepatnya gas
melepas (escape). Karena hilangnya CO2 akan menyebabkan roti kempis (collaps)
kembali (Sutisna, 2013).
Perubahan fisik yang terjadi pada proses pembuatan roti yaitu berubahnya
sifat fisik adonan. Bahan-bahan yang berbeda-beda jenis dan bentuknya
dicampurkan menjadi satu menjadi adonan yang kalis dengan sifat fisik yang
tidak lengket, padat, dan elastis, padahal sifat asli masing-masing bahan tidak
kompak, ada yang cair dan ada yang padat, dan sebagainya. Selain itu perubahan
fisik berikunya terjadi pada proses pemanggangan, yaitu adonan yang tadi
dipanggang menjadi roti dengan sifat fisik yang mengalami perubahan dari mulai
warna sampai tektur. Warna adonan yang kompak berwarna kuning, setelah
dipanggang menjadi warna kuning pada bagian bawah, dan coklat atau kuning
kecoklatan pada bagian atasnya. Kenampakan adonan awalnya adalah cerah saja,
ketika menjadi roti menjadi cerah dan mengkilap akibat diolesi kuning telur.
Tekstur adonan awalnya adalah elastis, setelah menjadi adonan menjadi berongga.

Perubahan kimia yang terjadi pada proses pembuatan roti yaitu dimana fermentasi
dilakukan menyebabkan ragi bekerja menguraikan karbohidrat menjadi C2H5OH
dan CO2, yang kemudian gas CO2 menyebabkan adonan menjadi mengembang
karena CO2 yang dihasilkan terperangkap di dalam adonan, dan alkohol yang
terbentuk akan menguap saat dilakukan proses pemanggangan. Perubahan
biologis yang terjadi pada pembuatan roti yaitu dimana terjadinya kerja ragi pada
proses fermentasi dan pada proses pemanggangan ragi roti mati akibat panas, dan
menyebabkan kerjanya berhenti sampai disitu saja. Setelah adonan terjadi proses
fermentasi, resep adonan kemudian dikempeskan dengan cara meninjunya dengan
tangan atau digiling dengan gilingan hingga gas terbuang semua. Tujuan dari
pengempesan ini adalah menghentikan sementara proses fermentasi karena
adonan akan dipotong dan ditimbang. jangan menguleni adonan yang sudah
difermentaikan karena pori-pori yang sudah terbentuk akan menjadi rusak dan
serat yang terbentuk menjadi hilang. Cukup dikempeskan saja (Anonim, 2014).
Adonan yang sudah dikempeskan kemudian dibulatkan kembali dengan
tangan. Tujuannya adalah membentuk lapisan film untuk menahan gas selama
proses fermentasi dua. Manfaatnya adonan lebih mudah dibentuk dan lebih elastis
(Anonim, 2014).
Setelah difermentasi-2, resep adonan kemudian digiling agar gas keluar
dan dibentuk sesuai kebutuhan resep (Anonim, 2014).
Tahap ini sering disebut dengan perletakan adonan di dalam cetakan atau
panning. setelah adonan diletakkan di dalam loyang atau cetakan beroles
margarin. Fermentasikan adonan atau diamkan resep adonan selama 15 menit atau

hingga adonan mengembang maksimal. Adakalanya setelah resep adonan


mengembang maksimal, permukaan diolesi dengan kuning telur atau susu tawar
dan larutan gula pasir agar warna kulit lebih mengkilat dan bagus (Anonim,
2014).
Pengovenan resep adonan roti memerlukan temperatur yang berbeda pada
masing-masing jenisnya. untuk roti ukuran kecil diperlukan suhu sekitar 180C
selama 12-15 menit. Untuk ukuran lebih besar seperti roti tawar diperlukan suhu
220C selama 20-25 menit (Anonim, 2014). Pemanggangan dilakukan hingga
roti matang dan kulit berwarna kuning kecokelatan. Roti yang menggunakan gula
banyak seperti roti manis memerlukan waktu pemanggangan lebih singkat karena
gula yang tinggi mengakibatkan adonan lebih cepat berwarna kecokelatan. Selalu
memanaskan oven selama 5-10 menit terlebih dahulu sebelum adonan roti dioven
hingga tercapai suhu yang diinginkan (Anonim, 2014).
Melalui proses pemanggangan, adonan roti diubah menjadi produk yang
ringan dan berongga, mudah dicerna dan aroma yang sangat merangsang.
Aktivitas biologis yang terjadi dalam adonan dihentikan oleh pemanggangan
disertai dengan hancurnya mikroorganisme dan enzim yang ada. Pada saat yang
sama substansi terbentuk, meliputi karamelisasi gula sehingga menghasilkan
produk dengan sifat organoleptik yang dikehendaki (Anonim, 2014).
Jika suhu oven kurang tinggi, maka pengembangan adonan akan
berlangsung cepat dan volume menjadi lebih besar sekali sehingga sebagian
adonan akan keluar dari cetakan. Hal ini mengakibatkan struktur sel roti kasar dan
tekstur keras, kulit tebal, warna pucat, yang menurunkan mutu roti. Sedangkan,

apabila temperatur oven terlalu tinggi maka volume adonan akan turun, warna
kulit roti hitam karena proses karamelisasi cepat berlangsung pada permukaan dan
jika roti diiris akan menghasilkan butir remah yang tidak seragam (Anonim,
2014).
Bahan baku yang digunakan dalam pembuatan roti tawar ini adalah tepung
terigu cakra kembar. Tepung cakra ini berasal dari hasil penggilingan gandum
keras, tekstur yang keras dan mudah digiling sehingga jika diolah akan
menghasilkan adonan yang kuat elastis, dan mempunyai daya pengembang yang
baik. Sifat tersebut sangat cocok untuk pembuatan roti halus, mie, dan kue-kue
manis. Selain itu, terigu jenis ini dapat menyesuaikan diri dengan suhu yang
diperlukan, mempunyai kemampuan menahan gas yang baik sehingga roti akan
mengembang dan daya serap terhadap air relatif tinggi. Syarat tepung terigu yang
baik digunakan untuk pembuatan roti adalah sebagai berikut: tepung terigu berasal
dari gandum keras, cukup banyak mengandung protein, warna tepung bersih dan
baik, kandungan air tidak lebih dari 14% dan sifat elastisitas baik. Bahan
tambahan yang digunakan adalah:
1. Margarine
Margarine adalah produk berbentuk padat lunak yang dibuat dari lemak
atau minyak, dengan atau tanpa penambahan garam atau tambahan makanan
lainnya. Dalam pembuatan roti, mentega berfungsi sebagai bahan pengempuk dan
membantu mengembangkan susunan physic makanan yang dibakar. Dalam
produksi roti, lemak tersebut berfungsi sebagai pembangkit rasa, membantu

menahan gas karena gluten lebih mengikat udara, dan membuat volume menjadi
lebih baik (Anonim 2014).
2. Susu
Susu dalam industri pembuatan roti dapat memperkaya kandungan gizi,
menimbulakn aroma dan juga dapat mempercepat kekenyalan dari adonan yang
telah difermentasikan.
3. Gula Pasir
Gula

digunakan

dalam

pembuatan

roti

sebagai

pemanis

untuk

meningkatkan citarasa roti, selain itu juga untuk memperbaiki flavour bahan
makanan dan minuman sehingga rasa manis yang timbul dapat meningkatkan
kelezatan. Fungsi gula pada pembuatan roti adalah sebagai berikut: sumber makan
untuk pertumbuahan khamir, sebagai pemanis dan memperbaiki aroma,
pembentuk warna kerak, pembentukan warna ini terjadi pada saat pembakaran,
reaksi yang terjadi adalah reaksi pencoklatan (browning) akibat dari karamelisasi
gula dan interaksi antara gula dan protein (Desrosier, 2008).
4. Telur
Penggunaan telur tidak seperti bahan yang lainnya, baik sebagai suatu
agensia pengeras atau pengempuk, dalam telur yang utuh terdapat kombinasi dari
keduanya. Kekerasan yang ditimbulkan oleh putih telur tidak seluruhnya, hanya
sebagian dapat diatasi oleh keempukan kuning telur; dan karenanya telur utuh
dapat dianggap sebagai suatu agensia pengeras. Komposisi telur utuh ialah kurang
lebih 64% putih telur (pengeras); 36% kuning telur (pengempuk). Dalam
menentukan bagian apa yang digunakan, pertimbangan pertama ialah produk yang

dikehendaki (Desrosier, 2008). Telur memberi rasa gurih dan menambah nilai gizi
dan pemakaian kuning telur yang berlebihan membuat roti menjadi tidak kekar
bentuknya. Gunakan telur yang segar sehingga tidak mengurangi kualitas roti.
(Desrosier, 2008).
5. Ragi
Ragi (yeast) yang digunakan yaitu jenis Sacharomyces cereviceae, adalah
salah satu jenis ragi yang dipakai dalam pembuatan makanan ataupun minuman.
Hal ini disebabkan karena ragi ini berfungsi sebagai mikroorganisme yang
mengubah gula menjadi alkohol dan gas CO2 (Brock, 1973).
Sacharomyces cereviceae senang hidup pada bahan makanan yang mengandung
gula, dan pH rendah, tumbuh-tumbuhan yang cukup mengandung gula,
merupakan media yang baik untuk pertumbuhan Sacharomyces cereviceae. Suhu
yang baik sekitar antara 25-30oC dengan batas terendah antara 911oC dan batas
tertinggi antara 35-37oC (Brock, 1973).
Fungsi

yeast

adalah

untuk

pengembangan

dari

adonan,

memudahkan

pembentukan gluten dan pemberi aroma pada roti. Ada tiga macam yeast yang
bisa dipakai untuk pembuatan roti :
a. Compressed yeast (ragi basah) :
Harus disimpan dilemari es. Cara pemakaian compressed yeast dapat
langsung dicampur dengan tepung
b. Coral yeast (ragi butiran) :
Cara pemakaiannya harus direndam dalam air hangat ( 40C). Cara
penyimpanan di tempat yang dingin dan kering.

c. Instant yeast (ragi dadak) :


Cara pemakaiannya dapat langsung dicampur dengan tepung. Disimpan di
tempat yang dingin dan kering.
6. Garam
Garam dapur (Natrium Klorida) dalam proses pembuatan roti mempunyai
peranan penting, karena garam dapat menimbulkan rasa gurih dan lezat pada
adonan,

memperbaiki

butiran

dan

susunan

roti,

menguatkan

adonan,

manghasilkan adonan yang kurang lengket, juga memperlambat jalannya


fermentasi sehingga baik digunakan untuk sistem fermentasi dengan waktu yang
lama. Jumlah garam yang digunakan kurang lebih 2-2,25% dari berat tepung.
Garam dapur yang dipergunakan dalam bakery harus memenuhi syarat-syarat
sebagai berikut.
a. Harus sepenuhnya larut dalam air
b. Larutannya harus jernih (bening)
c. Harus bebas dari gumpalan
d. Harus semurni mungkin
e. Harus bebas dari rasa pahit atau rasa yang tajam (Winarno, 1997).
Jenis-jenis tepung terigu :
- Terigu protein rendah
Tepung ini dibuat dari gandum lunak yang kandungan glutennya hanya 8%
9%. Tepung ini memiliki daya serap terhadap air yang rendah sehingga sulit
ketika diuleni, tidak elastis, lengket dan susah untuk mengembang. Tepung ini
cocok untuk kue kering, biskuit, pastel dan kue yang tidak perlu fermentasi. Merk

yang beredar dipasar adalah Kunci Biru dan Roda Biru. Terigu protein sedang
Tepung ini memiliki kandungan gluten 10% 11%. Tepung terigu ini terbuat dari
campuran terigu protein tinggi dan terigu protein rendah atau biasa disebut tepung
serba guna. Tepung ini cocok untuk membuat kue, bolu, kue kering dan gorengan.
Merk yang beredar dipasaran adalah Segitiga Biru dan Gunung Bromo
- Terigu protein tinggi
Tepung ini dibuat dari gandum keras dan memiliki kandungan protein 11%
13%. Tingginya kadar protein pada terigu ini membuatnya mudah dicampur,
difermentasi, memiliki daya serap terhadap air yang tinggi, elastis dan mudah
digiling. Tepung ini cocok untuk membuat mie, roti dan pasta. Merk yang beredar
dipasar untuk tepung jenis ini adalah Cakra Kembar atau Kereta Kencana.
- Whole meal flour
Tepung ini terbuat dari biji gandum utuh termasuk bungkus dan
lembaganya sehingga warnanya lebih gelap. Terigu ini mengandung serat dan
protein yang sangat tinggi sehingga cocok untuk makanan kesehatan dan diet.
- Tepung self raising
Tepung terigu ini telah dicampuri dengan baking powder dan baking soda
sehingga siap pakai. Penabahan bahan pengembang ini membuat terig lebih stabil
dan siap pakai. Tepung ini berisi campuran 125 gram terigu + 1 sdt baking powder
+ 1 sd teh baking soda. Tepung ini cocok untuk cake, muffin atau kue kering.

- Tepung enriched

Tepung terigu ini sudah ditambahi dengan beragam vitamin atau mineral
tertentu dengan tujuan untuk memerbaiki nilai gizinya. Hal ini membuat harganya
lebih mahal dibanding terigu jenis lain. Cocok untuk bolu dan kue kering. Produk
hasil percobaan jika dibandingkan dengan SNI dapat dikatakan memenuhi syarat
mutu SNI, jika dilihat dari kenampakan, bau dan rasa. Roti hasil percobaan juga
tidak menggunakan pewarna dan pemanis buatan.Dari hasil SNI dapat diketahui
bahwa roti harus memiliki kenampakan normal, bau khas roti (normal), serta rasa
normal (Annonim, 2013).
Critical Control Point pada proses pembuatan roti ini yaitu pada
fermentasi, dimana proses fermentasi harus dilakukan pada waktu yang cukup,
artinya tidak boleh terlalu lama atau terlalu sebentar karena dapat menyebabkan
kegagalan dalam pembuatan roti diantaranya adalah roti menjadi tidak
mengembang. Selain itu pada proses pembentukan tepung yang digunakan tidak
boleh terlalu banyak sebab dapat menyebabkan roti yang dihasilkan menjadi
keras. Adapula pada proses pemanggangan, suhu, letak roti pada loyang, dan
waktu pemanggangan harus benar-benar di atur karena jika salah mengaturnya
maka dapat menyebabkan roti gosong dan tidak memiliki ruang untuk
mengembang.

IV KESIMPULAN DAN SARAN

Bab ini akan membahas mengenai : (1) Kesimpulan dan (2) Saran.
4.1. Kesimpulan
Berdasarkan hasil pengamatan dapat disimpulkan bahwa roti manis
memiliki warna kuning kecoklatan, rasa khas roti sedikit manis, aroma khas roti,
tekstur lembut, kenampakan menarik dan memiliki berat produk 209gram serta
%produk 92%.

Sedangkan roti tawar memiliki warna kecoklatan, rasa

tawar, aroma khas roti, tekstur lembut, kenampakan mengkilap dan memiliki berat
produk 186gram serta %produk 92,5%.
4.2. Saran
Praktikan lebih teliti dalam menimbang bahan. Praktikan harus benarbenar bersih dalam melakukan setiap percobaan agar kehigienisan produk tetap
terjaga. Praktikan lebih tertib di dalam laboratorium.

DAFTAR PUSTAKA
Anonim,

(2014).

Metode

Pembuatan

Adonan

Roti.

http://theasianculinaryencyclopedic.blogspot.com/2008/11/tipsmengolahda
nmemodifikasiadonan.html, Akses : 04 April 2015
Anonim,

(2014),

Roti

Manis,

www.warintek.ristek.go.id / pangan_kesehatan / . . ./ Roti%20manis.pdf,


Akses : 04 April 2015
Anonim, (2014), Roti adalah Makanan Sehari-hari yang Telah Mendunia,
http://indofreeads.com/iklan/roti-adalah-makanan-sehari-hari-dan-sudahmendunia.html Akses: Akses : 04 April 2015
Annonim,

(2013),

Jenis

jenis

Tepung,

http://www.suriansyah.com/2013/11/macam-macam-tepung-terigu

dan.

html . Akses : 04 April 2015


Astawan, (2012), Jangan Takut Mengonsumsi Mentega dan

Margarin,

www.kompas.co.id, Akses: 04 April 2015.


Brock, Thomas D. (1973). Basic Microbiology Application. Practice Hill
Inc, Englewood. Desrosier, Norman W.(2008), Teknlogi Pengawetan
Pangan, Penerbit Universitas Indonesia, (UI-Press) : Jakarta.
Muchtadi. Tien dan Sugiyono, (1992),Ilmu Pengetahuan Bahan Pangan, Institut
Pertanian Bogor, Bogor.
Sutisna (2013), Teknologi Pengolahan Roti, Fakultas Teknik Jurusan
Teknologi Pangan : Universitas Pasundan.
SNI, (1995), Roti, Departemen Perindustrian RI.
Wiyono,

(1980).

Struktur

Anatomi

Gandum.

Fakultas

Pertanian

Universtas Brawijaya, Malang.


Winarno, F. G. 1997. Kimia Pangan dan Gizi. Penerbit Gramedia Pustaka Utama,
Jakarta.
Yogha,

Sudewi

(2012),

Sistem

file.upi.edu/ Direktori/FPTK/JUR._PEND.../
Akses : 04 April 2015
LAMPIRAN
1. Roti Manis

Pembuatan

Roti

powerpoint_roti_2.pdf,

Basis = 200 gram


Cakrakembar 53%

Butter 4%

Telur 8%

Ragi 1%

Susu 5%

Garam 1%

53
x 200 gram=106 gram
100

4
x 200 gram=8 gram
100

Sukrosa 8%

8
x 200 gram=16 gram
100

8
x 200 gram=16 gram
100

1
x 200 gram=2 gram
100

5
x 200 gram=10 gram
100

1
x 200 gram=2 gram
100

Bread improver

Air dingin 19,9%

0,1
x 200 gram=0,2 gram
100

19,9
x 200 gram=39,8 gram
100

2. Roti Tawar
Basis = 200 gram
Cakra kembar 39,85%

Segitiga biru 15%

39,85
x 200 gram=79,7 gram
100

15
x 200 gram=30 gram
100

Sukrosa 9%

Telur 8%

Ragi 1%

Susu 17%

9
x 200 gram=18 gram
100

8
x 200 gram=16 gram
100

1
x 200 gram=2 gram
100

Garam0,05%

17
x 200 gram=34 gram
100

0,05
x 200 gram=0,1 gram
100

Bread improver 0,1%

Margarin10%

0,1
x 200 gram=0,2 gram
100

10
x 200 gram=20 gram
100

Roti manis
produk=

W produkW isi
100
W basis

produk=

209,5 gram25 gram


100
200 gram

produk=9 2

Roti Tawar
produk=

W produk
100
W basis

produk=

185 gram
100
200 gram

produk=92 , 5

LAMPIRAN DISKUSI
1. Uraikan pengertian dari dua sistem pembuatan roti, berikut ini :
a. Sponge Dough
b. Straight Dough
Jawab :
a. Sponge Dough, Metode adonan biang (sponge and dough method) adalah
metode pembuatan roti dengan dua kali pengadukan dan fermentasi. Ciriciri dari metode ini adalah pengadukan dua kali, yaitu pengadukan pertama
untuk biang atau sponge dan pengadukan kedua untuk bahan lain dan
sponge (pembuatan dough), fermentasi sekitar 3-6 jam, hasil cukup bagus
baik dari aroma serta serat yang lembut, dan daya tahan bisa sampai satu
minggu. Kelebihan metode ini adalah daya tahan roti lebih baik dari sistem
yang lain, aroma roti paling baik, dan memiliki toleransi yang baik terhadap
waktu fermentasi. Kekurangannya adalah sedikit toleransi terhadap waktu
aduk, lebih banyak peralatan serta karyawan yang dibutuhkan, penggunaan
waktu yang cukup panjang, dan lebih banyak kehilangan berat karena
fermentasi.
b. Straight Dough, Metode langsung (straight dough) adalah metode
pembuatan roti dimana seluruh bahan dicampur kemudian diaduk sampai

kalis. Pada metode ini fermentasi dilakukan satu kali. Adapun ciri-ciri dari
metode ini adalah pengadukan satu kali, peragian/fermentasi sekitar 1
sampai 3 jam, hasil cukup bagus, dan daya tahan roti sekitar 4-5 hari.
Keuntungan dari metode ini adalah mempunyai toleransi yang lebih baik
terhadap waktu, waktu produksi lebih pendek, lebih sedikit kehilangan berat
karena fermentasi serta baking, dan sedikit peralatan serta karyawan yang
diperlukan. Sedangkan kelemahannya adalah berkurang toleransi waktu
fermentasi dan kesalahan susah dikoreksi bila terjadi dalam proses
pengadukan.
2. Jelaskan fungsi bahan-bahan berikut dalam proses pembuatan roti :
a. Mentega/Margarin, hadirnya lemak di dalam resep pembuatan roti, hasilhasilnya akan lebih mudah untuk ditelan sewaktu dikuyah dan tidak terasa
seret. Hal ini disebabkan oleh sifat-sifat lemak yang sanggup untuk
memperpendek (to short) bentuk jaringan zat gluten tepung. Oleh
karenanya, sering lemak itu disebut juga shortening. Selain itu
penambahan lemak berupa margarin atau mentega dapat memperkuat
jaringan zat gluten tepung.
b. Air, dalam pembuatan roti berfungsi sebagai pelarut semua bahan menjadi
adonan yang kompak. Protein bereaksi dengan air membentuk gluten.
Karbohidrat tepung bereaksi dengan air dibantu oleh panas sekitar 64oC atau
lebih. Air berubah menjadi uap di dalam oven, menyebabkan pengembangan
roti menjadi pori-pori dari remah. Persyaratan air untuk roti adalah pH
netral, kandungan mineral normal (hardness 150-300 ppm) dan layak untuk
air minum.

c. Gula, dalam pembuatan roti berfungsi sebagai sumber energi bagi ragi.
Residu gula yang tidak habis dalam proses fermentasi akan memberikan
rasa manis dan warna kecoklatan (golden brown) pada roti. Jumlah gula
untuk fermentasi 2%. Gula juga berperan pada proses pewarnaan kulit
(karamelisasi gula) pada pembakaran di oven pada temperatur 150C. Gula
juga bersifat pengawet (preservative) atau meningkatkan daya simpan roti.
d. Telur, Fungsi telur pada proses pembuatan roti yaitu telur berfungsi di dalam
proses pembentukan krim, meningkatkan jumlah gas yang ditangkap oleh
gluten, memberikan warna serta flavor yang khas, menangkap air, sebagai
pelunak dan memberikan kontribusi terhadap nilai gizi. Sifat telur yang
unggul dalam hal ini tidak dapat diganti dengan bahan lain. Albumin pada
telur menyebabkan pengikatan air yang lebih baik pada crumb roti. Protein
putih telur mempunyai sifat yang mirip dengan gluten karena dapat
membentuk lapisan tipis yang cukup kuat untuk menahan gas yang
dihasilkan selama proses fermentasi
e. Ragi, fungsi utama ragi dalam

pembuatan

roti,

adalah

untuk

mengembangkan adonan, membangkitkan aroma dan rasa. Proses


fermentasi menghasilkan gas CO2, asam, dan alkohol. Asam berfungsi untuk
melunakkan adonan supaya mudah dibentuk setelah proses istirahat kedua.
Alkohol yang bersifat cair dan gas mudah menguap dan hilang pada proses
pembakaran roti karena panas.
3. Jelaskan mengenai Bread Improver !
Jawab :
Bread improver adalah bahan-bahan yang dapat membantu meningkatkan
kualitas roti dan ditambahkan kedalam adonan, substansi zat yang dapat
membantu proses pebuatan roti, dalam hal memproduksi dan menahan gas

(gas production & gas retention) dalam dough disebut dough conditioner,
gluten conditioner, gluten modifiyng agent, flour treatment agent.
Semua proses pembuatan roti mengalami modifikasi gluten untuk
memperbaiki elastisitas dan daya tahan adonan, perubahan ini terjadi secara
alami pada pematangan adonan selama proses fermentasi (bulk fermentation).
Gluten modifiyng agent (penguat dan pelunak gluten), dapat ditambahkan
untuk memperbaiki perubahan ini dan penguat gluten merupakan bahan
tambahan penting dalam proses adonan cepat.
Bread improver merupakan bahan tambahan yang dikembangkan untuk
mempercepat proses, dan mengurangi berbagai kendala dalam pembuatan roti.
Zaman dahulu proses pembuatan roti identik dengan proses fermentasi yang
panjang, kini

dengan adanya penambahan bread improver dalam adonan

memungkinkan para baker memproduksi roti dengan kualitas yang baik dalam
waktu yang singkat. bread improver mampu mengembangkan adonan dengan
cepat mengurangi waktu fermentasi yang lama, bahan ini akan menghasilkan
roti dengan kulit dan struktur crum (daging roti ) yang bagus, volume yang
bagus serta memperpanjang umur simpan (shelf life).
Fungsi bread improver :
- Produksi gas, dapat menjamin bahwa gas ( karbondioksida ) dalam jumlah
yang cukup akan terbentuk dengan laju maksimum sepanjang periode
-

fermentasi.
Penahan gas, dapat memodifikasi struktur gluten dalam adonan sehingga
sebagian besar dari gas yang dihasilkan ragi akan tertahan, maka
terbentuklah roti yang menarik.

LAMPIRAN KUIS
1. Jelaskan tujuan prinsip pembuatan tempe berikut dengan diagram alirnya!
2. Diketahui : Kacang tanah 250 gram (80.59%)
Gula 2.88 %
Minyak 10 %
Margarin : mentega (1 : 1.5) 6.53 %
Ditanyakan : hitung basis dan berapa yang ditimbang!
3. Jelaskan fungsi blanching dan sebutkan macam-macam blanching!
4. Diketahui : Basis 250 gram
Ragi 1 %
Sukrosa 5 %
Margarin : mentega 18.95 %
Tepung 386 gram
Garam 7.5 gram
Susu 117.3 gram
Bread improver 43.65 gram
Ditanyakan : hitung berat yang ditimbang dan % tepung, garam, air, susu, dan
bread improver!
5. Sebutkan fungsi dari:
a. Bread improver pada pembuatan roti
b. Soda kue pada pembuatan mie
c. Air panas pada pembuatan tahu
d. Asam asetat glasial pada pembuatan minyak
Jawaban
1. Tujuan dari percobaan pembuatan tempe adalah untuk diversifikasi produk
olahan kacang kedelai dan untuk mengetahui proses pembuatan tempe.

Prinsip dari percobaan tempe pembuatan tempe dalah berdasarkan fermentasi


kacang kedelai oleh Rhizopus oligosporus sehingga kacang kedelai akan
ditutupi oleh miselium dari kapang.

Kedelai
Air bersih
Air hangat :
Kedelai (1:3)

Pencucian I

Air kotor

Perendaman t = 24 jam
Pengupasan kulit ari

Air bersih

Pencucian II

Kulit ari
Air kotor

Penimbangan
Tapioka

Perebusan t = 30 menit

Penyangraian t = 10 detik

Penirisan
Pencampuran I

Ragi

Pencampuran II

Pengemasan
Penimbangan
Pemberian lubang kecil

Inkubasi T=32C, t=24 jam


Tempe

Air

2. Basis

250 g

80,59%
X

x 100%

X = 310,21 gram
Gula
2,88 =

Mentega : margarin
Xg

6.53 %
310.21

= 20.27 gram
1

x 20,27 gram
Mentega
2,5

Xg
310,21 x 100%

= 8,93 gram

x 100%

= 8.11 gram
1,5
x 20,27 gram
2,5

Margarin =

Minyak

=12,16 gram

Xg
10 =
310,21 x 100%

= 31.02 gram
3. Fungsi blanching adalah untuk mengnonaktifkan enzim dan mikroorganisme,
untuk melunakan jaringan, untuk memperbaiki warna dan tekstur, untuk
menghilangkan gas yang tertinggal pada buah atau sayuran, menghilangkan
kontaminan.
Macam-macam blanching :
Blanching dengan uap panas
Blanching dengan air panas
4. Ragi

Xg
750 g

1
x 142,13 gram
1%
2

Margarin =

x 100%

= 71,065 gram
386 g
750 g

X = 7,5 gram

Tepung =

Sukrosa

= 51,47%
7,5 g
Garam = 750 g x 100%

Xg

6%
750 g

x 100%

X = 45 gram
Mentega : Margarin

= 1%
Air susu =

117,3 g
750 g

x 100%

x 100%

18,95 =

Xg
750 g x 100%

= 15,64 %

= 142,13 gram

Bread improver =

43,65 g
750 g

100%
Mentega

1
x 142,13 gram
2

= 71, 065 gram

= 5,82%

5. Fungsi:
Bread improver : untuk bahan penghalus serat roti, pengembang roti
Soda kue : untuk memberikan kesan kering, garing, dan renyah, serta

membuat mie mengembang


Air panas : untuk mempercepat penggumpalan tahu dan protein

terdenaturasi
Asam asetat glacial : untuk mempercepat proses pemisahan protein
dan minyak dalam santan.

Lampiran Standar Mutu SNI untuk Roti


No
.
1.

2.
3.

4.
5.
6.
7.
8.
9.

10.

11.
12.

Kriteria
Keadaan :
1.1. Kenampakan
1.2. Bau
1.3. Rasa
Air
Abu (tidak termasuk garam)
dihitung atas dasar bahan
kering
Abu yang tidak larut dalam
asam
NaCl
Gula Jumlah
Lemak
Serangga/belatung
Bahan Tambahan :
1.1. Pengawet
1.2. Pewarna
1.3. Pemanis Buatan
1.4. Sakarin Siklamat
Cemaran Logam :
10.1. Raksa (Hg)
10.2. Timbal (Pb)
10.3. Tembaga (Cu)
10.4. Seng (Zn)
Cemaran Arsen (As)
Cemaran Mikroba :
12.1. Angka Lempeng Total

Satuan
-

Persyaratan
Roti Tawar
Roti Manis

%b/b
%b/b

normal tidak
berjamur
normal
normal
maks. 40
maks. 1

normal tidak
berjamur
normal
normal
maks. 40
maks. 3

%b/b

maks. 3,0

maks. 3,0

%b/b
%b/b
%b/b
-

maks. 2,5
tidak boleh
ada

maks. 2,5
maks. 8,0
maks. 3,0
tidak boleh
ada

sesuai dengan SNI 01-0222-1995

mg/kg
mg/kg
mg/kg
mg/kg
mg/kg

maks. 0,05
maks. 1,0
maks. 10,0
maks. 40,0
maks. 0,5

maks. 0,05
maks. 1,0
maks. 10,0
maks. 40,0
maks. 0,5

koloni/g

maks. 106

maks. 106

12.2. Escherichia coli


12.3. Kapang
(Sumber : SNI 01-3840-1995)

apm/gr
koloni/g

<3
maks. 104

<3
maks. 104