Anda di halaman 1dari 41

RANGKUMAN MATA KULIAH ETIKA DAN

HUKUM
I. ETIKA DAN HUKUM
MATERI HUKUM KESEHATAN DAN KEPERAWATAN

Pengertian hukum dan ruang lingkup hukum kesehatan dan keperawatan

Prinsip hukum keperawatan

UU Nomor 36 tahun 2009

Hak dan kewajiban dalam tindakan medis


PEMBIDANGAN HUKUM

Hukum tertulis dan tidak tertulis

Hukum perdata dan hukum publik


PANDANGAN PAKAR TENTANG HUKUM
Keseluruhan aturan hukum yang berhubngan dengan bidang pemeliharaan
atau pelayanan kesehatan
Penerapan peraturan-peraturan pelayanan kesehatan di bidang hukum
perdata, hukum pidana, dan hkum administrasi
UU NO. 36/2009 TENTANG KESEHATAN TENAGA KESEHATAN/PERAWAT
Harus memiliki kualifikasi minimum
Harus memiliki kewenangan yang sesuai dengan keahlian, memiliki izin.
Harus memenuhi kode etik, standar profesi, hak pengguna yankes, standar
pelayanan, SOP
Pemerintah mengatur penempatan untuk pemerataan
Untuk kepentingan hukum: wajib periksa kesehatan dengan biaya di tanggung
negara
Dalam hal di duga kelalaian, selesaikan dengan mediasi terlebih dahulu
UU N0. 44/2009 TENTANG RUMAH SAKIT

PASAL 13
1) Tenaga medis yang melakukan praktik kedokteran di rumah sakit wajib
memiliki surat ijin praktik sesuai dengan ketentuan peraturan perundangundangan
2) Tenaga kesehatan tertentu yang bekerja di rumah sakit wajib memiliki
izin sesuai dengan ketentan peraturan perundang-undangan
3) Setiap tenaga kesehatan yang bekerja di rumah sakit harus bekerja
sesuai dengan standar profesi, standar pelayanan rumah sakit, standar
prosedur operasional yang berlaku, etika profesi, menghormati hak pasien
dan mengutamakan keselamatan paasien

4)

Ketentuan mengenai tenaga medis dan tenaga kesehatan sebagaimana


yang di maksud pada ayat (1) dan ayat (2) dilaksanakan sesuai dengan
ketentuan peraturan perundang-undangan

PERATURAN MENTERI KESEHATAN NOMOR HK.02.02/MENKES/148/2010


TENTANG IZIN DAN PENYELENGGARAKAN PRAKTIK KEPERAWATAN

Merupakan pelaksanaan dari pasal 23 (5) UU No. 36 tahun 2010

Perawat adalah seseorang yang telah lulus pendidikan perawat baik dalam
maupun lar negeri sesuai dengan peraturan perundang-undangan
KEWENANGAN
Kewenangan perawat: hak dan otonomi untuk melaksanakan asuhan
keperawatan berdasarkan kemampuan, tingkat pendidikan dan posisi di
sarana kesehatan
PENYELENGGARAAN PRAKTIK

Praktik keperawatan di laksanakan pada fasilitas pelayanan kesehatan


tingkat pertama, tingkat kedua, dan tingkat ketiga

Ditujukan kepada: individu, keluarga, kelompok dan masyarakat

Kegiatan:
Pelaksanaan asuhan keperawatan
Pelaksanaan upaya promotif, preventif, pemulihan, dan pemberdayaan
masyarakat
Pelaksanaan tindakan keperawatan komplemeter
PEMBERIAN OBAT-OBATAN

Pasal 8 (7)
Perawat dalam menjalankan asuhan keperawatan dapat memberikan obat
bebas dan obar bebas terbatas
TANGGUNG JAWAB
Tanggung jawab perawat: etik, disiplin, dan hukum
KODE ETIK

Norma-norma yang harus diindahkan oleh setiap profesi di dalam


melaksanakan tugas profesinya dan di dalam hidupnya di masyarakat

PRINSIP - PRINSIP ETIK


Prinsip otonomi setiap orang berhak untuk melakukan atau memtuskan apa
yang di kehendaki terhadap dirinya sendiri
Prinsip non maleficence berarti dalam setiap tindakan jangan sampai
merugikan orang lain
Prinsip benefience berisikan kewajiban berbuat baik
Prinsip keadilan menjelaskan bahwa dalam alokasi sumber daya sedapat
mungkin harus diusahakan agar sampai merata pembagiannya

HAK DAN KEWAJIBAN

HAK: kekuasaan / kewenangan yang di miliki seseorang untuk mendapatkan


atau memutuskan dalam berbuat sesesuatu

KEWAJIBAN: sesuatu yang hars di perbuat atau harus di lakukan oleh


seseorang

1.
2.
3.
4.
5.
6.

KEWAJIBAN PERAWAT
Menghormati hak pasien
Melakukan rujukan
Menyimpan rahasia sesuai ketentuan peraturan yang berlaku
Memberikan informasi
Meminta persetujuan tindakan yang akan dilakukan
Melakukan pencatatan keperawatan
Mematuhi standar
HAK PERAWAT
Perlindungan hukum
Memperoleh informasi yang lengkap dan jujur
Melaksanakan tugas sesuai kompetensi
Imbal jasa profesi
Kesempatan untuk mengembangkan diri
Memperoleh jaminan perlindungan terhadap resiko kerja yang berkaitan
dengan tugasnya

1.
2.
3.
4.

1.
2.
3.
4.

II. STANDAR PRAKTEK KEPERAWATAN


TUJUAN PEMBELAJARAN
Standar praktek keperawatan
Prinsip dokumentasi efektif
Peran perawat dalam dokumentasi
Implikasi hukum terhadap dokumentasi
PENDAHULUAN
Pada hakekatnya setiap anggota profesi akontabel terhadap kinerjanya harus dapat mempertanggung jawabkan
pelayanan yang di berikan.
Akontabilitas membutuhkan evaluasi terhadap efektifitas kinerja yang di tampilkan seseorang sesai tanggung
jawabnya
Untuk mempertahankan dan meningkatkan kualitas asuhan keperawatan, di perlukan alat ukur yaitu standar ashan
keperawatan
Dewan pimpinan psat persatuan perawat nasional indonesia telah menyusun standar profesi keperawatan
berdasarkan SK No: 03IDPD/SK/I/96, yang terdiri dari;
Standar pelayanan keperawatan
Standar praktek keperawatan
Standar pendidikan keperawatan
Standar pndidikan keperawatan berkelanjutan
8 STANDART PRAKTEK KEPERAWATAN
Standar I; pengumpulan data tentang status kesehatan klien / pasien
Standar 2; diagnosa keperawatan
Standar 3; rencana asuhan keperawatan
Standar 4; rencana ashan keperawatan prioritas ( menyelamatkan nyawa pasien)
Standar 5; tindakan keperawatan-> peningkatan, pemeliharaan, dan pemulihan kesehatan
Standar 6; tindakan keperawatan-> mengoptimalkan kemampuannya untuk hidup sehat
Standar 7; pencapaian tujuan
Standar 8; ada tidaknya kemajuan dalam pencapaian tujuan
DOKMENTASI KEPERAWATAN
Data yang lengkap, nyata dan tercatat yang bukan hanya tentang kesakitan pasien tapi jga jenis /tipe, kwalitas dan
kwantitas pelayanan kesehatan dalam memenuhi kebutuhan pasien (Fisbach, 1991)
Merupakan bukti pelayanan keperawatan yang merekam setiap aspek yang terlibat dalam pemberian pelayanan
keperawatan baik aspek klien, perawat, dan tim kesehatan lain

PRINSIP PRINSIP PENDOKUMENTASIAN EFEKTIF


Menggunakan kata-kata dasar, sederhana dan mudah di pahami
Pendokumentasian kesimplan diagnosa keperawatan harus akurat, didasarkan informasi yang terkumpul
Penggunaan waktu yang cukup untuk mengetahui apa yang terjadi kepada pasien dan apa yang dilakukan pasien
Perhatikan pasien dari berbagai perspektif, jangan mengandalkan satu alat supaya tepat
Pendokmentasian yang jelas dan obyektif
KOMPONEN MODEL DOKUMENTASI KEPERAWATAN

Keterampilan

Proses keperawatan

Standar dokumentasi
KRITERIA DOKUMENTASI PROSES KEPERAWATAN YANG EFEKTIF
Mengggunakan standar terminologi ( pengkajian, diagnosa, perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi)

Data yang bermanfaat dan relevan dikmpulkan di catat sesuai dengan prosedur dalam catatan yang permanen

Diagnosa disusun berdasarkan klasifikasi dan analisa yang akurat

Rencana keperawatan dituis dan di catat sebagai bagian dari catatan yang permanen
Observasi di catat secara akurat, lengkap, dan sesuai urtan waktu

Evaluasi di catat sesuai urutan waktu, termasuk respon klien terhadap tindakan intervensi keperawatan atau medis
juga perlu di tulis

Rencana tindakan keperawatan yang revisi, berdasarkan hasil yang di harapkan klien
ASUMSI-ASUMSI DASAR
1.
Kualitas dokumentasi di pengaruhi oleh pemahaman terhadap peran perawat dalam dokumentasi
2.
Pendidikan dan pengalaman perawat menentukan kualitas dan kelengkapan dokumentasi
3.
Tersedia waktu yang cukup untuk dokumentasi
4.
Sistem pendokumentasian harus sesuai dengan keinginan tuntut keperawatan dan harapan institusi
5.
Perlu adanya pedoman pendokmentasian untuk membantu staf menentukan apa, dimana, bagaimana dan kapan
pendokmentasian dilakukan
FORMAT PENDOKUMENTASIAN YANG BENAR ( MELIPUTI ELEMEN-ELEMEN)
1.
Elemen data dasar ( demografi, alasan masuk rumah sakit, riwayat penyakit, faktor resiko, informasi lain yang
terkait, hasil pemeriksaan diagnostik)
2.
Rencana ashan keperawatan ( diagnosa, tujuan, intervensi, hasil yang diharapkan, evaluasi)
3.
Grafik hasil observasi: suhu, nadi RR, dll
4.
Catatan perkembangan (SOAP)
5.
Flow sheet
6.
Catatan pemberian obat
PEDOMAN PENULISAN DOKUMENTASI
1.
Mengikuti tatabahasa yang baku
2.
Membuat kalimat atau frase secara lengkap ( subyek, predikat)
3.
Pilih istilah yang tepat
4.
Bila mungkin menggunakan kalimat aktif
5.
Konsisten dalam menggunakan kata / istilah
6.
Spesifik
IMPLIKASI HUKUM DOKUMENTASI

Informasi yang di catat dalam dokumentasi harus menunjukan rekaman yang konsisten mengenai keadaan pasien
Pendokumentasian harus akurat sehingga dapat menunjukan penerapan standar keperawatan dalam askep.
KONDISI-KONDISI YANG BERKAITAN ERAT DENGAN MASALAH HKUM

Kematian yang tidak di inginkan

Kematian otak akibat tindakan

Kembali ke kamar operasi

Pasien pindah ke rumah sakit lain

Trauma di rumah sakit

Terjadinya lacerasi terus-menerus, perforasi atau rembers pda bekas tusukan suatu prosedur

Infeksi di dapat di rumah sakit


Pengangkatan organ yang tak sengaja
Kelainan neurologis yang terjadi di rumah sakit
Bunuh diri
Salah pasien dalam tindakan
Henti jantung di kamar operasi
Lika bakar di rumah sakit
KESALAHAN PERAWAT YANG TERKAIT HUKUM
Kesalahan dalam memberikan terapi/ prosedur
Tidak mengobservasi pasien secara adekuat
Tidak menngecek benda asing dalam tubuh pasien setelah operasi
Tidak memonitor perubahan pasien
Luka bakar akibat kompres
Tidak menggunakan teknik aseptik
Tidak memonitor penggunaan restrain
Melakukan tindakan yang tidak kompeten
Tidak mengikuti standart institusi
Terlambat melakukan resusitasi
Tidak mengkomunikasikan kepada dokter tentang perubahan pasien

III. HAK DAN KEWAJIBAN DALAM ETIKA PROFESI KEPERAWATAN


PERAN DAN ADVOKASI KEPERAWATAN
Memberi informasi dan memberi bantuan kepada pasien atas
keputsan apapun yang di buat pasien. Memberi informasi berarti
menyediakan penjelasan atau informasi sesuai yang di butuhkan
pasien. Memberi bantuan mengandng dua peran, yait peran aksi
dan non aksi

3.

UNDANG-UNDANG YANG ADA DI INDONESIA YANG BERKAITAN


DENGAN PRAKTIK KEPERAWATAN
1. UU No. 9 tahn 1960, tentang pokok-pokok kesehatan
2. UU No. 6 tahun 1963, tentang tenaga kesehatan
UU kesehatan No. Tahun 1964, tentang wajib kerja paramedis

FUNGSI HUKUM DAN PRAKTIK KEPERAWATAN


Memberikan kerangka untk menentukan tindakan keperawatan
mana yang sesuai dengan hukum
2. Membedakan tanggung jawab perawat dengan profesi lain
3. Membantu menentukan batas-batas kewenangan tindakan
keperawatan mandiri
4. Membantu mempertahankan standar praktik keperawatan dengan
meletakkan posisi perawat memiliki akuntabilitas di bawah hukum
1.

HAK DAN KEWAJIBAN


A. HAK PERAWAT

Dalam melaksanakan asuhan keperawatan yang merupakan


salah satu dari praktik keperawatan tentunya seorang perawat
memiliki hak dan kewajiban. Dua hal dasar yang harus di penuhi, di
mana ada keseimbangan antara tuntunan profesi dengan apa yang
semestinya di dapatkan dari pengembangan tugas secara maksimal.

HAK-HAK PERAWAT
Hak perlindungan wanita
Hak mengendalikan praktik keperawatan sesuai yang di atur oleh
hukum
Hak mendapat upah yang layak
Hak bekerja di lingkungan yang baik
Hak terhadap pengembangan profesional
Hak menyusun standar praktik dan pendidikan keperawatan
B. KEWAJIBAN PERAWAT
Dalam
melaksanakan
praktik
keperawatan
perawat
berkewajiaban untuk memberikan pelayanan keperawatan sesuai
dengan standar profesi, standar praktek keperawatan, kode etik,
dan SOP serta kebutuhan klien atau pasien di mana standar profesi,
standar praktek dan kode etik tersebut di tetapkan oleh organisasi
profesi dan merupakan pedoman yang harus diikuti oleh setiap
tenaga keperawatan.

KEWAJIBAN-KEWAJIBAN PERAWAT

Wajib memiliki: SIP, SIK, SIPP

Menghormati hak pasien

Merujuk kasus yang tidak dapat di tangani

Menyimpan rahasia pasien sesuai dengan peraturan perundangundangan

Wajib memberikan informasi kepada pasien sesuai dengan


kewenangan

Meminta persetujuan setiap tindakan yang akan di lakukan


perawat sesai dengan kondisi pasien baik secara tertulis maupun
lisan

Mencatat semua tindakan keperawatan secara akurat sesuai


peraturan dan SOP yang berlaku

Memakai standar profesi dan kode etik perawat indonesia dalam


melaksanakan praktik

Meningkatkan pengetahuan berdasarkan IPTEK

Melakukan pertolongan darurat yang mengancam jiwa sesuai


dengan kewenangan

Melaksanakan program pemerintah dalam meningkatkan derajad


kesehatan masyarakat

Menaati semua peraturan perundang-undangan


Menjaga hubungan kerja yang baik antara sesama perawat
maupun dengan anggota tim kesehatan lainnnya

Hak dan kewajiban klien


Hak asasi manusia
Hak orang yang akan meninggal
IV. KODE ETIK KEPERAWATAN

PENDAHULAN
Latar belakang
Pelayanan keperawatan yang dilaksanakan oleh tenaga kerja perawat profesional, dalam melaksanakan tugasnya dapat bekerja
secara mandiri dan dapat pula bekerja sama dengan profesi lain
Rumusan masalah
Bab 1. Tanggung jawab perawat kepada klien
Bab 2. Tanggung jawab perawat terhadap tugas
Bab 3. Tanggung jawab perawat terhadap teman sejawat
Bab 4. Tnggung jawab perawat terhadap profesi
Bab 5. Tanggung jawab perawat terhadap negara
Tujuan
Merupakan dasar dalam mengatur hubngan antar perawat, klien / pasien, teman sebaya, masyarakat, dan unsur profesi, baik
dalam profesi keperawatan sendiri maupun hubungannya dengan profesi lain di luar profesi keperawatan
Kode etik
Merupakan bagian dari etika kesehatan yang menerapkan nilai etika terhadap bidang pemeliharaan atau pelayanan
kesehatan masyarakat.

Bab 1: tanggung jawab terhadap klien


Dalam memberikan pelayanan kesehatan kepada individ, keluarga atau
komunitas, perawat sangat memerlukan etika keperawatan yang
merupakan filsafat yang mengarahkan tanggung jawab moral yang
mendasar terhadap pelaksanaan praktik keperawatan, dimana inti dari
falsafah tersebut adalah hak dan martabat manusia
Bab 2: tanggung jawab tugas
Perawat senantiasa memelihara mutu pelayanan keperawatan yang
tinggi di sertai kejujuran profesional dalam menerapkan pengetahuan
serta ketrampilan keperawatan sesuai dengan kebutuhan individ keluarga
dan masyarakat
Bab 3: tanggung jawab perawat terhadap sesama perawat dan
profesional kesehatan lain
Perawat senantiasa memelihara hubungan baik antara sesama perawat
dengan tenaga kesehatan lainnya baik dalam memelihara keserasian
suasana lingkungan kerja mapun dalam mencapai tujuan pelayanan
kesehatan secara keseluruhan
Bab 4: tanggung jawab perawat terhadap profesi keperawatan
Perawat selalu berusaha meningkatkan pengetahuan profesional secara
sendiri-sendiri dan atau bersama-sama dengan jalan menambah ilmu

pengetahuan, keterampilan dan pengalaman yang bermanfaat bagi


pengembangan perawatan
Bab 5: tanggung jawab perawat terhadap pemerintah, bangsa dan tanah
air
Perawat senantiasa melaksanakan ketentuan-ketentuan sebagai
kebijaksanaan yang di gariskan oleh perintahdalam bidang kesehatan
dan perawatan
Sanksi hukum membuka rahasia KUHP 322
Barang siapa dengan sengaja membuka suatu rahasia, yang
menurut jabatannnya atau pekerjaannya, baik yang sekarang maupun
yang dahulu, ia diwajibkan menyimpannya. Di hukum penjara selamalamanya sembilan bulan.
Perawat dan praktik
Perawat memelihara dan meningkatkan kompetensi di bidang
keperawatan melalui belajar terus-menerus. Perawat senantiasa
memelihara mutu pelayanan keperawatan yang tinggi serta kejujuran
profesional dalam menerapkan pengetahuan serta keterampilan
keperawatan sesuai dengan kebutuhan klien
Kode etik keperawatan menurut ICN
a) Tanggung jawab utama perawat
b) Perawat, individu, dan anggota kelompok masyarakat
c) Perawat dan pelaksanaan praktek keperawatan
d) Perawat dan lingkungan masyarakat
e) Perawat dan sejawat
f) Perawat dan profesi keperawatan
Kode etik keperawatan menurut ANA
a) Perawat memberikan pelayanan dengan penuh hormat bagi
martabat kemansiaan
b) Perawat melindungi hak klien akan privasi
c) Perawat melindngi klien dan publik bila kesehatan dan
keselamatannya terancam
d) Perawat memikul tanggung jawab atas pertimbangan dan
tindakan keperawatan
e) Perawat memelihara kompetensi keperawatan
f) Perawat melaksanakan pertimbangan yang beralasan an
menggunakan kompetensi dan kualifikasi individu
g) Perawat turut serta beraktivitas dalam membantu pengembangan
pengetahuan profesi
h) Perawat turut serta dalam upaya-upaya profesi untuk
melaksanakan dan meningkatkan standar profesi
i)
Perawat turut serta dalam upaya-upaya profesi untuk membentuk
dan membina kondisi kerja yang mendukung pelayanan
keperawatan yang berkais

j)

Perawat turut serta dalam upaya-upaya profesi untuk melindngi


publikterhadap informasi dan gambaran yang salah serta
mempertahankan integritas perawat
k) Perawat bekerjasama dengan anggota profesi kesehatan atau
warga masyarakat lainnya dalam meningkatkan upaya-upaya
masyarakat dan nasional untuk memenuhi kebutuhan kesehatan
publik

V. HUBUNGAN NILAI BUDAYA BANGSA DENGAN ETIKA PROFESI


KEPERAWATAN
PENEGERTIAN NILAI
Nilai adalah suatu yang beharga, keyakinan yang di pegang sedemikian rupa oleh seseorang
sesuai dengan tuntutan hati nuraninya (pengertian secara umum)
NILAI BUDAYA
Perawat memiliki nilai dan prilaku pribadi masing-masing. Kode etik profesi membawa
perubahan prilaku personal kepada prilaku profesional dan menjadi pedoman bagi tanggung
jawab perorangan sebagai anggota profesi dan tanggung jawab sebagai warga negara
TANGGUNG JAWAB YANG BERKAITAN DENGAN PELAKSANAAN ETIKA
Perawat melaksanakan pelayanan dengan menghargai derajad manusia, tidak membedakan
kebangsaan
Perawat melindungi hak klien, kerahasiaan pasien, melibatkan diri hanya terhadap hal yang
relevan dengan asuhan keperawatan
Perawat mempertahankan kompetensinya dalam praktik keperawatan, mengenal, dan
menerima tanggung jawab untuk kegiatan dan keputusan yang di ambiL
HUBUNGAN NILAI BUDAYA SOSIAL DENGAN ETIKA PROFESI
KEPERAWATAN
Perawat di harapkan harus ramah, baik, bertabiat halus / lembut, jujur dapat di percaya,
cerdas, cakep, terampil, dan mempunyai tanggung jawab moral yang baik
HUBUNGAN NILAI BUDAYA SOSIAL DENGAN ETIKA PROFESI
KEPERAWATAN
Kemampuan intelektual perawta sangat penting. Kemampuan ini di ukur dengan berbagai
cara memenuhi tanggung jawab keperawatan
1.
2.

YANG HARUS DI MILIKI OLEH CALON PERAWAT


Menjadi seorang perawat yang pertama harus mencintai pekerjaannya
Perawat harus mempunyai kepribadian yang baik

3.

Perawat sebisa mungkin menjalin komunikasi dengan pasien, sehingga bisa terjalin
hubungan yang akrab di antara keduanya
4. Perawat harus bisa membawa / menepatkan diri dimana ia berada

VI. HAK DAN KEWAJIBAN DALAM TINDAKAN MEDIS


REKAM MEDIS
Berkas yang berisikan catatan dan dokumen tentang identitas pasien pemeriksaan,
pengobatan, tindakan dan pelayanan lain yang telah di berikan kepada pasien
JENIS REKAM MEDIS
Rawat jalan
Rawat inap
Gawat darurat
Keadaan bencana
Pelayanan dalam amblance atau pengobatan massal
Dan lain-lain
1.
2.
3.
4.
5.
6.

Isi RM pasien rawat jalan


Isi RM pasien rawat inap
Isi RM pasien gawat darurat
Isi RM pasien keadaan bencana
Isi RM untuk pelayanan Dr/Drg Spesialis dapat di kembangkan sesuai kebutuhan
Isi RM dalam pelayanan ambulance, pengobatan massal di catat dalam RM
NILAI REKAM MEDIS
A- Administrasi
L-Legal
F-Finansial
R-Riset
E-Edukasi
D-Dokumen
MANFAAT REKAM MEDIS
Alat komunikasi
Sumber informasi medis pasien, dokter dan sarana pelayanan kesehatan
Dasar perencanaan pengobatan / perawatan pasien
Bukti tertulis atau segala tindakan pelayanan
Bahan analisa dan evaluasi pelayanan
Perlindungan hukum pasien, dokter dan rumah sakit
Data untuk penelitian

1.
2.
3.
4.
1.
2.
3.
4.

1.
2.
3.
4.
5.

Dasar penghitungan pembiayaan


Bahan pelaporan
Bukti pengadilan
MUTU REKAM MEDIS
Lengkap
Akurat
Tepat waktu
Persyaratan hukum
PERSYARATAN HUKUM REKAM MEDIS
Kelengkapan
Keakuratan
Ketepatan waktu
Diisi / di catat oleh dokter dan perawat, dan tanda tangan
Di simpan petugas RM dengan baik
Pengelolaan dan pimpinan sarana kesehatan
ASPEK HUKUM REKAM MEDIS
Tanggung jawab
Kepemilikan RM
Rahasia RM
Alat bukti dan PN
KERAHASIAAN RM DAPAT DI BUKA
Untuk kepentingan kesehatan pasien
Pemintaan penegak hukum
Pemintaan, persetujuan pasien
Pemintaan instansi / lembaga
Kepentingan penelitian, pendidikan, audit medis
PENYIMPANAN REKAM MEDIS
Rekam medis di simpan sekurang-krangnya dalam jangka waktu 5 tahun
Setelah 5 tahun rekam medis dapat di musnahkan.
Ringkasan pulang dan persetujuan tindakan medis harus di simpan selama 10 tahun
Penyimpanan rekam medis, ringkasan pulang, dan persetujuan tindakan medis di
laksanakan sarana pelayanan kesehatan
Penyimpanan rekam medis, untuk non rmah sakit wajib di simpan sekurang-kurangnya
untuk jangka waktu 2 tahun, setelah itu dapat di musnahkan

VII. KONSEP ETIKA PROFESI

PENGERTIAN ETIKA DAN ETIKA PROFESI


Etika berkaitan dengan konsep yang di miliki oleh individ
ataupun kelompok untuk menilai apakah tindakan yang telah
di kerjakan itu salah atau benar, buruk atau baik
ETIKA DAN ESTETIKA

Etika tidak mempersoalkan keadaan manusia, melainkan


mempersoalkan bagaimana manusia harus bertindak.

Norma hukum berasal dari hukum

Norma agama berasal dari agama

Norma sopan santun berasal dari kehidupan sehari-hari

Norma moral berasala dari etika


ETIKA ETIKET
Etiket menyangkut cara melakukan perbuatan manusia. Etika
menyangkut masalah apakah sebuah perbuatan boleh
dilakukan atau tidak boleh di lakukan.

Etika terhadap sesama

Etika terhadap keluarga

Etika terhadap profesi

Etika terhadap politik

Etika terhadap lingkungan hidup

Kritik ideologi
MORALITAS
Moralitas adalah sopan santn, segala sesuatu yang
berhubungan dengan etiket tau sopan santun.
PROFESI, KODE ETIK DAN PROFESIONALISME
Profesi merupakan kelompok lapangan kerja yang khusus
melaksanakan kegiatan yang memerlukan keterampilan dan
keahlian tinggi guna memenuhi kebutuhan yang rumit dari
manusia. Ciri utama profesi:
1.
Sebuah profesi mensyaratkan pelatihan ekstensif sebelum
memasuki sebuah profesi
2.
Pelatihan tersebut meliputi komponen intelektual, soft
skill, dan skill yang signifikan
3.
Tenaga yang terlatih mampu memberikan jasa yang
penting kepada masyarakat.
FUNGSI PROFESI, KODE ETIK DAN PROFESIONALISME
Memberikan pedoman bagi setiap anggota profesi tentang
prinsip profesionalisme yang di gariskan. Dan kode etik
profesi mencegah campur tangan pihak di luar organisasi
profesi tentang hubungan etika dalam keanggotaan profesi

KODE ETIK

Tujuan kode etik agar profesional memberikan jasa


sebaik-baiknya kepada pemakai atau nasabahnya

Siftdan orientasi kode etik hendaknya:


Singkat
Sederhana
Jelas dan konsisten
Masuk akal
Dapat di terima
Praktis dan dapat di laksanakan
Komprehensif dan lengkap
Positif dalam formulasinya

VIII. KONSEP DASAR ETIKA KEPERAWATAN


PENDAHULUAN
Etik adalah peraturan atau norma yang dapat di gunakan sebagai acuan bagi
perilaku seseorang yang berkaitan dengan tindakan yang baik dan yang buruk
yang merupakan suatu kewajiban dan tanggung jawab moral
TIPE-TIPE ETIK
a. Bioetik
b. Clinical etik
c. Nursing ethis
PRINSIP-PRINSIP MORAL DALAM PRAKTIK KEPERAWATAN
Mempunyai peran penting dalam menentukan perilaku etis dan dalam
pemecahan masalah etis.
a. Otonomi
Mengemukakan tentang hak seseorang untuk menentukan memilih sesuatu yang
terbaik bagi dirinya
b. Berbuat baik
Tidak menimbulkan bahaya bagi orang lain. Dan mengatasi kondisi yang
membahayakan bagi orang lain
c. Keadilan
Prinsip keadilan di butuhkan untuk terapi yang sama dan adil terhadap orang
lain yang menjunjung prinsip-prinsip moral, legal, dan kemanusiaan
d. Tidak merugikan
Prinsip ini berati tidak menimblkan bahaya baik fisik maupun emosional

e.

f.

g.

h.

Kejujuran
Nilai ini di perlukan oleh pemberi pelayanan kesehatan untuk menyampaikan
kebenaran pada setiap klien dan untuk menyakinkan bahwa klien sangat
mengerti
Fidelity
Memberi perhatian
Memberi pengharapan
Memberi kebebasan beribadah
Memberi klien sejahtera
Kerahasiaan
Aturan dalam prinsip kerahasiaan adalah informasi tentang klien harus di jaga
privasi klien. Segala sesuatu yang terdapat dalam dokumen catatan kesehatan
klien hanya boleh di baca dalam rangka pengobatan klien. Tidak ada seorang
pun dapat memperoleh informasi tersebutkecuali jika di ijinkan oleh kien
dengan bukti persetujuan
Akuntabilitas
Merpakan standar yang pasti bahwa tindakan seorang profesional dapat di nilai
dalam situasi yang tidak jelas atau tanpa terkecuali.

Pengertian Etika Moral


Etika adalah ilmu tentang kesusilaan yang mengatur bagaimana sepatutnya
manusia hidup di dalam masyarakat yang melibatkan aturan dan prinsip yang
menentukan tingkah laku yang benar, yaitu baik dan buruk atau kewajiban dan
tanggung jawab. Moral, istilah ini berasal dari bahasa latin yang berarti adapt
dan kebiasaan. Pengertian moral adalah perilaku yang diharapkan oleh
masyarakat yang merupakan standar perilaku dan nilai yang harus
diperhatikan bila seseorang menjadi anggota masyarakat tempat ia tinggal.

Etiket atau adat merupakan sesuatu yang dikenal, diketahui, diulang, serta
menjadi kebiasaan di dalam suatu masyarakat, baik merupakan kata-kata
maupun bentuk perbuatan yang nyata. Ketiga istilah di atas, etika, moral, dan

etiket sulit dibedakan, hanya dapat dilihat bahwa etika lebih dititikberatkan
pada aturan, prinsip yang melandasi perilaku yang mendasar dan mendekati
aturan, hukum, dan undang-undang yang membedakan benar atau salah secara
moralitas.

B. Metode Pendekatan Pembahasan Masalah Etika


Sebelum membahasa masalah etika, perawat penting memahami metode
pendekatan yang digunakan dalam diskusi masalah etika. Dari Ladd J, 1978,
dikutip oleh Frell (McCloskey, 1990), menyatakan ada empat metode utama,
yaitu otoritas, consenum hominum, pendekatan intuisi atau self-evidence, dan

metode argumentasi.
1.

Metode Otoritas
Metode ini menyatakan bahwa dasar setiap tindakan atau keputusan
adalah otoritas. Otoritas dapat berasal dari manusia atau kepercayaan
supernatural, kelompok manusia, atau suatu institusi, seperti majelis ulama,
dewan gereja, atau pemerintah. Penggunaan metode ini terbatas hanya pada
penganut yang percaya.

2.

Metode Consensum Hominum


Metode

ini

menggunakan

pendekatan

berdasarkan

persetujuan

masyarakat luas atau sekelompok manusia yang terlibat dalam pengkajian suatu
masalah. Segala sesuatu yang diyakini bijak dan secara etika dapat diterima,
dimasukkan dalam keyakinan.
3.

Metode Pendekatan Intuisi atau Self-Evidence


Metode ini dinyatakan oleh para ahli filsafat berdasarkan pada apa yang
mereka kenal sebagai konsep teknik intuisi. Metode ini terbatas hanya pada
orang-orang yang mempunyai intuisi tajam.

4.

Metode Argumentasi atau Metode Sokratik


Metode ini menggunakan pendekatan dengan mengajukan pertanyaan atau
mencari jawaban dengan alasan yang tepat. Metode ini digunakan untuk
memahami fenomena etika.

Lima masalah dasar etika keperawatan :


1.

Kuantitas versus kualitas hidup

2.

Kebebasan versus penanganan dan pencegahan bahaya

3.

Berkata secara jujur versus berkata bohong

4.

Keinginan terhadap pengetahuan yang bertentangan dengan falsafah, agama,


politik, ekonomi dan ideologi

5.

Terapi ilmiah konvensional versus terapi tidak ilmiah dan coba-coba.

C. Masalah Etika dalam Praktik Keperawatan


Berbagai masalah etis yang dihadapi perawat dalam praktik keperawatan
telah menimbulkan konflik antara kebutuhan klien dengan harapan perawat dan
falsafah keperawatan. Masalah etika keperawatan pada dasarnya merupakn
masalah etika kesehatan, dalam kaitan ini dikenal istilah etika biomedis atau
bioetis. Istilah bioetis mengandung arti ilmu yang mempelajari masalah yang
timbul akibat kemajuan ilmu pengetahuan, terutama dibidang biologi dan
kedokteran.
Untuk memecahkan berbagai masalah bioetis, telah dibentuk suatu
organisasi internasional. Para ahli telah mengidentifikasikan masalah bioetis
yang dihadapi oleh para tenaga kesehatan, termasuk juga perawat. Masalah
etis yang akan dibahas secara singkat di sini adalah berkata jujur, AIDS,
abortus

menghentikan

pengobatan,

cairan

dan

makanan

eutanasia,transplantasi organ, inseminasi artifisial, dan beberapa masalah etis


yang langsung berkaitan dengan praktik keperawatan.

D. Masalah Etika yang Berkaitan Langsung dengan Praktik Keperawatan


Pada bagian ini masalah etika keperawatan lebih khusus yang dapat
ditemui dalam praktik keperawatan, sesuai dengan yang diuraikan oleh Elis,
Hartley (1980), yang meliputi self-evaluation (evaluasi diri), evaluasi kelompok,
tanggung jawab terhadap peralatan dan barang, merekomendasikan klien pada
dokter, menghadapi asuhan keperawatan yang buruk, serta masalah peran
merawat dan mengobati (Sciortino, 1991).

E. Masalah Perawat dan Sejawat


Seorang perawat dalam menghadapi masalah dengan sejawatnya, mungkin
tahu atau mungkin tidak tahu tentang tindakan yang diambil.
Sebagai anggota profesi keperawatan, perawat harus dapat bekerja sama
dengan teman sesama perawat dalam rangka meningkatkan mutu pelayanan
keperawatan terhadap klien. Dalam menjalankan tugasnya, perawata harus
dapat membina hubungan baik dengan sesama perawat yang ada di lingkungan di
tempat kerjanya. Dalam membina hubungan tersebut, sesama perawat harus
mempunyai rasa saling menghargai serta tenggang rasa yang tinggi agar tidak
terjadi sikap saling curiga dan benci.

F. Kode Etik Keperawatan


Kode etik adalah salah satu ciri /persyaratan profesi, yang memberikan
arti penting dalam penentuan, mempertahankan dan meningkatkan standard
profesi. Kode etik menunjukkan bahwa tanggungjawab dan kepercayaan pada

masyarakat telah diterima oleh profesi(Kellv, 1987). Apabila soerang anggota


melanggar kode etik profesi, organisasi profesi dapat memberikan sanksi atau
mengeluarkan anggota tersebut. Adapun secara umum tujuan kode etik
keperawatan(Kozier, Erb, 1990) adalah:
1.

sebagai aturan dasar terhadap aturan terhadap hubungan antara perawat,


klien, tenaga kesehatan, masyarakat, dan profesi

2.

sebagai standard untuk mengeluarkan perawat yang tidak menaati peraturan


dab untuk melindungi perawat yang menjadi pihak tertuduh secara tidak adil.

3.

sebagai dasar pengembangan kurikulum pendidikan keperawatan dan untuk


mengorientasakan lulusan baru pendidikan perawat dalam memasuki jajaran
praktik keperawatan profesional.

4.

membantu masyarakat dalam memahami prilaku keperawatan profesional.

Konsep Dasar Etika Keperawatan.


Pengertian etika keperawatan.
Keperawatan merupakan salah satu profesi yang mempunyai bidang garap di
kesejahteraan manusia, yaitu dengan memberikan bantuan pada individu yang sehat maupun
sakit untuk dapat menjalankan fungsi hidup sehari-hari. Karena bidang garap keperawatan adalah
manusia, maka dibutuhkan suatu aturan guna menata hubungan antara perawat dengan pasien,
mulai dari tahap pengkajian sampai evaluasi.
Salah satu aturan yang mengatur hubungan antara perawat-pasien adalah etika. Istilah
etika dan moral sering digunakan secara bergantian. Secara falsafah etika dan moral ini tidak
memiliki perbedaan (Ladd, 1978, lih, pada megan 1989). Perbedaan antar etika dan moral hanya
terletak pada dasar linguistiknya saja. Etika berasal dari bahasa yunani yaitu ethikos-yang berarti
adat-istiadat atau kebiasaan-, sedangkan moralitas berasal dari dari bahasa latin yang juga berarti
adat-istiadat atau kebiasaan. Sumber lain menyatakan bahwa moral mempunyai arti tuntutan
prilaku dan keharusan masyarakat, sedangkan etika mempunyai arti prinsip-prinsip dibelakang
keharusantersebut. (Thompson dan Thompson, 1981; lih Doheny, Cook, Stoper, 1982).
Dalam oxford advance learners dictionary of current English, AS Hornby mengartikan etika
sebagai system dari prinsip-pronsip moral atau aturan-aturan prilaku. Sedanghkan moral berarti
prinsip-prinsip yang berkaitan dengan perbuatan baik dan buruk.
Definisi yang lebih jelas dikemukakan oleh Curtin, yaitu etika merupakansuatu disiplin
yang diawali dengan mengidentifikasi, mengorganisasi, menganalisis dan memutuskan prilaku

manusia dengan menerapkan prinsip-prinsip untuk mendeterminasi prilaku yang baik terahdap
terhadap situasi yang dihadapi (MacPahil, 1988).
Berkaitan dengan etika dan moral, terdapat pula istilah etiket yang merupakan cara atau aturan
yang sopan dalam hubungan social. Sedangkan etiket professional berarti prilaku yang
diharapkan bagi setiap anggota profesi untuk bertindak dengan kapasitas profesionalnya
(Tabbner 1981).
Etika dan moral merupakan sumber dalam merumuskan standar dan menjadi prinsipprinsip yang menjadi penuntun dalam berprilaku serta membuat keputusan untuk menlindungi
hak-hak manusia. Etika diperlukan oleh semuaprofeso-termasuk keperawatan-, yang mendasari
prinsip-prinsip suatuprofesi dan tercermin dalam standar praktik profesi (Doheny, Cook, Stoper,
1982).
Konsep Moral Dalam Praktik Keperwatan.
Praktik keperawatan, termasuk etika keperawatan, mempunyai beberapa dasar penting
seperti advokasi, akuntabilitan , loyalitas, kepedulian, rasa haru dan menghormati martabat
manusia. Diantara berbagai pernyataan ini yang lazim termaktub dalam standar praktik
keperawatan dan telah menjadi bahan kajian dalam waktu lama adalah advokasi, akuntabilitas
dan loyalitas (fry, 1991; lih. Creasia, 1991).
1. Advokasi.
Istilah advokasi sering digunakan dalam konteks hokum yang berkaitan dengan upaya
melindungi hak-hak manusia bagi mereka yang tidak mampu membela diri. Arti advokasi
menurut ikatan perawat amerika/ANA (1985) adalah melindungi klien atau masyarakat terhadap
pelayanan dan keselamatan praktik tidak sah yang tidak kompeten dan melanggar etika yang
dilakukan oleh siapa pun.
Fry (1987) mendefinisikan advokasi sebagai dukungan aktif terhadap setiaphal yang
memiliki penyebab/dampak penting. Definisi ini mirip dengan yang dinyatakan oleh Gadow
(1983; lih. Megan, 1989); bahwa advokasi merupakan dasar falsafah dan ideal keperawatan yang
melibatkan bantuan poerawat secara aktif kepada individu untuk secara bebas untuk menentukan
nasibnya sendiri.
Posisi perawat yang mempunyai jam kerja 8 sampai 10 atau 10 jam memungkinkanya
mempunyai banyak waktu untuk mengadakan hubungan baik dan mengetahui keunikan pasien
sebagai manusia holistic sehingga menempatkan perawat sebagai advokat pasien (curtin, 1986;
lih. Megan 1989).
Pada dasarnya peran perawat sebagai advokat pasien adalah member informasi dan
member bantuan kepada pasien atas keputusan apa pun yang dibuat pasien. Member informasi
berarti menyediakan penjelasan atau informasi sesuai dibutuhkan pasien. Memberi bantuan
mengandung dua peran, yaitu petan aksi dan petran nonaksi. Dalam menjalankan petan aksi,
perawat memberikan keyakinan kepada pasien bahwa merekan mampunyai hak dan
tanggungjawabdalam menentukan pilihan atau keputusan sendiri dan tidak tertekan dengan
pengaruh orang lain. Sedangkan peran nonaksi mengandung arti pihak advokat seharusnya
menahan diri untuk tidak mempengaruhi keputusan pasien (Kohnke, 1982; lih. Megan 1991).
Dalam menjalankanperan sebagai advokat, perawat harus menghargai pasien sebagai
individu yang memiliki berbagai karakteristik. Dalam hal ini perawat memberikan perlindungan
terhadap martabat dan nilai-nilai manusiawi pasien selama dalam keadaan sakit.
2. Akuntabilitas.

Akuntabilitas merupakan konsep yang sangat penting dalam praktik keperawatan.


Akuntabilitas mengandung arti dapat mempertanggungjawabkan suatu tindakan yang dilakukan
dan dapat menerima konsekuensi dari tindakan tersebut (Kozier, erb 1991).
Fry (1990) menyatakan bahwa akuntabilitas mengandung dua komponenutama, yakni
tanggung jawab dan tanggung gugat. Ini berarti bahwa tindakan yang dilakukan dilihat dari
praktik keperawatan, kode etik dan undang-undang dapat dibenarkan atau abash.
Akuntabilitas adapat dipandang dalam suatu kerangkaistem hierarki, dimulai dari tingkat
individu, tingkat intuisi/professional dan tingkat social (Sullivian, Decker, 1988; lih. Kozier Erb,
1991). Pada tingkat individu atautingkat pasien, akuntabilitas direfleksikan dalam proses
pembuatan keputusan tigkat perawat, kompetensi, komitmen dan integritas. Pada tingkat intuisi,
akuntabilitas direfleksikan dalam pernyataan falsafah dan tujuan bidang keperawatanatau audit
keperawatan. Pada tingkat professional, akuntabilitas direfleksikan dalam standar praktik
keperawatan. Sedangkan pada tingkat soisal, direfleksikan dalam undang-undang yng mengatur
praktik keperawatan.
3.
Loyalitas.
Loyalitas merupakan suatu konsep yang pelbagai segi, meliputi simpati, pedulu dan
hubungan timbal balik terhadap pihak yang secara profesional berhubungan dengan perawat.ini
berarti ada pertimbangan tentang nilai dan tujuan orang lain sebagai nilai dan tujuan
sendiri.hubungan profesional dipertahnkan dengan cara menyasun tujuan bersama, menepati
janji, menentukan masalah dan prioritas serta mengupayakan pencapaian kepuasan bersama
(Jameton, 1984; Fry, 1991; lih. Creasia, 1991).
Loyalitas merupakan elemen pembentuk kombinasi manusia yang memoertahankan dan
memperkuat anggota masyarakat keperawatan dalam mencapai tujuan. Dalam mempertahankan
loyalitas, tidak berarti tidak terjadi konflik. Loyalitas dapat mengancam asuhan keperawatan, bila
terhadap anggota profesi atau teman sejawat, loyalitas lebih penting dari asuhan keperawatan.
Untuk mencapai kualitas asuhan keperawatan yang tinggi dan hubungan dengan berbagai pihak
yang harmonis, maka aspek loyalitas harus dipertahankan oleh setiap perawat, baik loyalitas
terhadap pasien, teman sejawat, rumah sakit maupun profesi. Untuk mewujudkan ini, AR.
Tabbner (1981; lih. Creasia, 1991) mengajukan berbagai argumentasi.
a. Masalah pasien lain tidak boleh didiskusikan dengan pasien lain dan perawata harus
bijaksana bila informasi dari pasien harus didiskusikan secara profesional.
b. Perawat harus menghindari pembicaraan yang tidak bermanfaat dan berbagai persoalan,
yang berkaitan dengan pasien, rumah sakit atau pekerja rumah sakit, harus didiskusikan
dengan umum (terbuka dengan masyarakat).
c. Perawat hatus menghargai dan memberi bantuan kepada teman sejawat. Kegagalan dalam
melakukan hal ini dapat menurunkan penghargaan dan kepercayaan masyarakat terhadap
tenaga kesehatan.
d. Pandangan masyarakat terhadap profesi keperawatan ditentukan oleh kelakuan anggota
profesi (perawat). Perawat harus menunjukan loyalitas terhadap profesi dengan
berprilaku secara tepat pada saat bertugas.

ETIK KEPERAWATAN
Pengertian Etika dan Etiket

Etik atau ethics berasal dari kata yunani, yaitu etos yang artinya adat, kebiasaaan, perilaku, atau
karakter. Sedangkan menurut kamus webster, etik adalah suatu ilmu yang mempelajari tentang
apa yang baik dan buruk secara moral. Dari pengertian di atas, etika adalah ilmu tentang
kesusilaan yang menentukan bagaimana sepatutnya manusia hidup di dalam masyarakat yang
menyangkut aturan-aturan atau prinsip-prinsip yang menentukan tingkah laku yang benar, yaitu :
1. Baik dan buruk
2. Kewajiban dan tanggung jawab (Ismani,2001).

Etik mempunyai arti dalam penggunaan umum. Pertama, etik mengacu pada metode
penyelidikan yang membantu orang memahami moralitas perilaku manuia; yaitu, etik adalah
studi moralitas. Ketika digunakan dalam acara ini, etik adalah suatu aktifitas; etik adalah cara
memandang atau menyelidiki isu tertentu mengenai perilaku manusia. Kedua, etik mengacu pada
praktek, keyakinan, dan standar perilaku kelompok tertentu (misalnya : etik dokter, etik
perawat).
Etika berbagai profesi digariskan dalam kode etik yang bersumber dari martabat dan hak
manusia (yang memiliki sikap menerima) dan kepercayaan dari profesi.
Moral, istilah ini berasal dari bahasa latin yang berarti adat dan kebiasaan. Pengertian moral
adalah perilaku yang diharapkan oleh masyarakat yang merupakan standar perilaku dan nilainilai yang harus diperhatikan bila seseorang menjadi anggota masyarakat di mana ia tinggal.
Etiket atau adat merupakan sesuatu yang dikenal, diketahui, diulang, serta menjadi suatu
kebiasaan didalam masyarakat, baik berupa kata-kata atau suatu bentuk perbuatan yang nyata.

Kode Etik Keperawatan

Kode etik adalah suatu pernyataan formal mengenai suatu standar kesempurnaan dan nilai
kelompok. Kode etik adalah prinsip etik yang digunakan oleh semua anggota kelompok,
mencerminkan penilaian moral mereka sepanjang waktu, dan berfungsi sebagai standar untuk
tindakan profesional mereka.
Kode etik disusun dan disahkan oleh organisasi atau wadah yang membina profesi tertentu baik
secara nasional maupun internasional. Kode etik keperawatan di Indonesia telah disusun oleh
Dewan Pimpinan Pusat Persatuan Perawat Nasional Indonesia melalui Musyawarah Nasional
PPNI di jakarta pada tanggal 29 November 1989.
Kode etik keperawatan Indonesia tersebut terdiri dari 4 bab dan 16 pasal.
1. Bab 1, terdiri dari empat pasal, menjelaskan tentang tanggung jawab
perawat terhadap individu, keluarga, dan masyarakat.
2. Bab 2, terdiri dari lima pasal menjelaskan tentang tanggung jawab perawat
terhadap tugasnya.
3. Bab 3, terdiri dari dua pasal, menjelaskan tanggung jawab perawat terhadap
sesama perawat dan profesi kesehatan lain.
4. Bab 4, terdiri dari empat pasal, menjelaskan tentang tanggung jawab
perawat terhadap profesi keperawatan.
5. Bab 5, terdiri dari dua pasal, menjelaskan tentang tanggung jawab perawat
terhadap pemerintah, bangsa, dan tanah air.

Dengan penjabarannya sebagai berikut :


Tanggung jawab Perawat terhadap klein

Untuk memelihara dan meningkatkan kepercayaan masyarakat, diperlukan peraturan tentang


hubungan antara perawat dengan masyarakat, yaitu sebagai berikut :
1. Perawat, dalam melaksanakan pengabdiannya, senantiasa berpedoman pada
tanggung jawab yang bersumber pada adanya kebutuhan terhadap
keperawatan individu, keluarga, dan masyarakat.
2. Perawat, dalam melaksanakan pengabdian dibidang keperawatan,
memelihara suasana lingkungan yang menghormati nilai-nilai budaya, adat
istiadat dan kelangsungan hidup beragama dari individu, keluarga dan
masyarakat.
3. Perawat, dalam melaksanakan kewajibannya terhadap individu, keluarga, dan
masyarakat, senantiasa dilandasi rasa tulus ikhlas sesuai dengan martabat
dan tradisi luhur keperawatan.

4. Perawat, menjalin hubungan kerjasama dengan individu, keluarga dan


masyarakat, khususnya dalam mengambil prakarsa dan mengadakan upaya
kesehatan, serta upaya kesejahteraan pada umumnya sebagai bagian dari
tugas dan kewajiban bagi kepentingan masyarakat.
Tanggung jawab Perawat terhadap tugas
1. Perawat, memelihara mutu pelayanan keperawatan yang tinggi disertai
kejujuran profesional dalam menerapkan pengetahuan serta keterampilan
keperawatan sesuai dengan kebutuhan individu, keluarga, dan masyarakat.
2. Perawat, wajib merahasiakan segala sesuatu yang diketahuinya sehubungan
dengan tugas yang dipercayakan kepadanya, kecuali diperlukan oleh pihak
yang berwenang sesuai dengan ketentuan yang berlaku.
3. Perawat, tidak akan menggunakan pengetahuan dan keterampilan
keperawatan yang dimilikinya dengan tujuan yang bertentangan dengan
norma-norma kemanusiaan.
4. Perawat, dalam menunaikan tugas dan kewajibannya, senantiasa berusaha
dengan penuh kesadaran agar tidak terpengaruh oleh pertimbangan
kebangsaan, kesukuan, warna kulit, umur, jenis kelamin, aliran politik, agama
yang dianut, dan kedudukan sosial.
5. Perawat, mengutamakan perlindungan dan keselamatan pasien/klien dalam
melaksanakan tugas keperawatannya, serta matang dalam
mempertimbangkan kemampuan jika menerima atau mengalih-tugaskan
tanggung jawab yang ada hubungannya dengan keperawatan.
Tanggung jawab Perawat terhadap Sejawat

Tanggung jawab perawat terhadap sesama perawat dan profesi kesehatan lain sebagai berikut :
1. Perawat, memelihara hubungan baik antara sesama perawat dan tenaga
kesehatan lainnya, baik dalam memelihara keserasiaan suasana lingkungan
kerja maupun dalam mencapai tujuan pelayanan kesehatan secara
menyeluru.
2. Perawat, menyebarluaskan pengetahuan, keterampilan, dan pengalamannya
kepada sesama perawat, serta menerima pengetahuan dan pengalaman dari
profesi dalam rangka meningkatkan kemampuan dalam bidang keperawatan.
Tanggung jawab Perawat terhadap Profesi
1. Perawat, berupaya meningkatkan kemampuan profesionalnya secara sendirisendiri dan atau bersama-sama dengan jalan menambah ilmu pengetahuan,
keterampilan dan pengalaman yang bermanfaat bagi perkembangan
keperawatan.

2. Perawat, menjungjung tinggi nama baik profesi keperawatan dengan


menunjukkan perilaku dan sifat-sifat pribadi yang luhur.
3. Perawat, berperan dalammenentukan pembakuan pendidikan dan pelayanan
keperawatan, serta menerapkannya dalam kagiatan pelayanan dan
pendidikan keperawatan.
4. Perawat, secara bersama-sama membina dan memelihara mutu organisasi
profesi keperawatan sebagai sarana pengabdiannya.
Tanggung jawab Perawat terhadap Negara
1. Perawat, melaksanakan ketentuan-ketentuan sebagai kebijsanaan yang telah
digariskan oleh pemerintah dalam bidang kesehatan dan keperawatan.
2. Perawat, berperan secara aktif dalam menyumbangkan pikiran kepada
pemerintah dalam meningkatkan pelayanan kesehatan dan keperawatan
kepada masyarakat.
Kode Etik Keperawatan Menurut ICN (International Council 0f Nurses Code for
Nurses)

ICN adalah suatu federasi perhimpunan perawat nasional diseluruh dunia yang didirikan pada
tanggal 1 juli 1899 oleh Mrs. Bedford Fenwich di Hanover Squar, London dan direvisi pada
tahun 1973. Uraian Kode Etik ini diuraikan sebagai berikut :
1. Tanggung Jawab Utama Perawat
Tanggung jawab utama perawat adalah meningkatnya kesehatan, mencegah
timbulnya penyakit, memelihara kesehatan, dan mengurangi penderitaan.
Untuk melaksanakan tanggung jawab tersebut, perawat harus meyakini
bahwa :
1. Kebutuhan terhadap pelayanan keperawatan di berbagai tempat
adalah sama.
2. Pelaksanaan praktek keperawatan dititik beratkan terhadap kehidupan
yang bermartabat dan menjungjung tinggi hak asasi manusia.
3. Dalam melaksanakan pelayanan kesehatan dan atau keperawatan
kepada individu, keluarga, kelompok, dam masyarakat, perawat
mengikut sertakan kelompok dan institusi terkait.
2. Perawat, Individu, dan Anggota Kelompok Masyarakat
Tanggung jawab utama perawat adalah melaksanakan asuhan keperawatan
sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Oleh karena itu, dalam menjalankan
tugas, perawat perlu meningkatkan keadaan lingkungan kesehatan dengan
menghargai nilai-nilai yang ada di masyarakat, menghargai adat kebiasaan
serta kepercayaan inidividu, keluarga, kelompok, dan masyarakat yang
menjadi pasien atau klien. Perawat dapat memegang teguh rahasia pribadi

(privasi) dan hanya dapat memberikan keterangan bila diperlukan oleh pihak
yang berkepentingan atau pengadilan.
3. Perawat dan Pelaksanaan praktek keperawatan
Perawat memegang peranan penting dalam menentukan dan melaksanakan
standar praktik keperawatan untuk mencapai kemampuan yang sesuai
dengan standar pendidikan keperawatan. Perawat dapat mengembangkan
pengetahuan yang dimilikinya secara aktif untuk menopang perannya dalam
situasi tertentu. Perawat sebagai anggota profesi, setiap saat dapat
mempertahankan sikap sesuai dengan standar profesi keperawatan.
4. Perawat dan lingkungan Masyarakat
Perawat dapat memprakarsai pembaharuan, tanggap mempunyai inisiatif,
dan dapat berperan serta secara aktif dalam menemukan masalah kesehatan
dan masalah sosial yang terjadi di masyarakat.
5. Perawat dan Sejawat
Perawat dapat menopang hubungan kerja sama dengan teman sekerja, baik
tenaga keperawatan maupun tenaga profesi lain di luar keperawatan.
Perawat dapat melindungi dan menjamin seseorang, bila dalam masa
perawatannya merasa terancam.
6. Perawat dan Profesi Keperawatan
Perawat memainkan peran yang besar dalam menentukan pelaksanaan
standar praktek keperawatan dan pendidikan keperawatan. Perawat
diharapkan ikut aktif dalam mengembangkan pengetahuan dalam menopang
pelaksanaan perawatan secara profesional. Perawat, sebagai anggota
organisasi profesi, berpartisipasi dalam memelihara kestabilan sosial dan
ekonomi sesuai dengan kondisi pelaksanaan praktek keperawatan.
Tujuan Kode Etik Keperawatan

Pada dasarnya, tujuan kode etik keperawatan adalah upaya agar perawat, dalam menjalankan
setiap tugas dan fungsinya, dapat menghargai dan menghormati martabat manusia. Tujuan kode
etik keperawatan tersebut adalah sebagai berikut :
1. Merupakan dasar dalam mengatur hubungan antar perawat, klien atau
pasien, teman sebaya, masyarakat, dan unsur profesi, baik dalam profesi
keperawatan maupun dengan profesi lain di luar profesi keperawatan.
2. Merupakan standar untuk mengatasi masalah yang silakukan oleh praktisi
keperawatan yang tidak mengindahkan dedikasi moral dalam pelaksanaan
tugasnya.
3. Untuk mempertahankan bila praktisi yang dalam menjalankan tugasnya
diperlakukan secara tidak adil oleh institusi maupun masyarakat.

4. Merupakan dasar dalam menyusun kurikulum pendidikan kepoerawatan agar


dapat menghasilkan lulusan yang berorientasi pada sikap profesional
keperawatan.
5. Memberikan pemahaman kepada masyarakat pemakai / pengguna tenaga
keperawatan akan pentingnya sikap profesional dalam melaksanakan tugas
praktek keperawatan.
2. HUKUM KEPERAWATAN
Fungsi Hukum dalam Praktek Keperawatan

Hukum mempunyai beberapa fungsi bagi keperawatan :


1. Hukum memberikan kerangka untuk menentukan tindakan keperawatan
mana yang sesuai dengan hukum.
2. Membedakan tanggung jawab perawat dengan profesi yang lain.
3. Membantu menentukan batas-batas kewenangan tindakan keperawatan
mandiri.
4. Membantu dalam mempertahankan standar praktek keperawatan dengan
meletakkan posisi perawat memiliki akuntabilitas di bawah hukum (Kozier,
Erb, 1990)
Undang-Undang Praktek Keperawatan
1. Undang-Undang No. 23 tahun 1992 tentang kesehatan
1. BAB I ketentuan Umum, pasal 1 ayat 3
Tenaga kesehatan adalah setiap orang yang mengabdikan diri dalam
bidang kesehatan serta memiliki pengetahuan dan atau keterampilan
melalui pendidikan di bidang kesehatan yang untuk jenis tertentu
memerlukan kewenangan untuk melakukan upaya kesehatan.
2. Pasal 1 ayat 4
Sarana kesehatan adalah tempat yang dipergunakan untuk
menyelenggarakan upaya kesehatan.
2. Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor :
1239/MENKES/SK/XI/2001tentang Registrasi dan Praktek Perawat (sebagai
revisi dari SK No. 647/MENKES/SK/IV/2000)
1. BAB I Ketentuan Umum Pasal 1 :
Dalam ketentuan menteri ini yang dimaksud dengan :

1. Perawat adalah orang yang telah lulus pendidikan perawat baik


di dalam maupun di luar negeri sesuai dengan ketentuan
peraturan perundang-undangan yang berlaku.
2. Surat ijin perawat selanjutnya disebut SIP adalah bukti tertulis
pemberian kewenangan untuk menjalankan pekerjaan
keperawatan diseluruh Indonesia.
3. Surat ijin kerja selanjutnya disebut SIK adalah bukti tertulis
untuk menjalankan pekerjaan keperawatan di seluruh wilayah
Indonesia.
3. BAB III perizinan,
Pasal 8, ayat 1, 2, dan 3 :
1. Perawat dapat melaksanakan praktek keperawatan pada sarana
pelayanan kesehatan, praktek perorangan atau kelompok.
2. perawat yang melaksanakan praktek keperawatan pada sarana
pelayanan kesehatan harus memiliki SIK
3. Perawat yang melakukan praktek perorangan/berkelompok harus
memiliki SIPP
Pasal 9, ayat 1
4. SIK sebagaimana dimaksud dalam pasal 8 ayat 2 diperoleh dengan
mengajukan permohonan kepada Kepala Dinas Kesehatan
Kabupaten/Kota setempat.
Pasal 10
5. SIK hanya berlaku pada 1 (satu) sarana pelayanan kesehatan.
Pasal 12
6. SIPP sebagaimana dimaksud dalam pasal 8 ayat 3 diperoleh dengan
mengajukan permohonan kepada Kepala Dinas Kesehatan
Kabupaten/Kota setempat.
7. SIPP hanya diberikan kepada perawat yang memiliki pendidikan ahli
madya keperawatan atau memiliki pendidikan keperawatan dengaan
kompetensi yang lebih tinggi.
8. Surat ijin praktek Perawat selanjutnya disebut SIPP adalah bukti tertulis
yang diberikan perawat untuk menjalankan praktek perawat.
Pasal 13

9. Rekomendasi untuk mendapatkan SIK dan atau SIPP dilakukan melalui


penilaian kemampuan keilmuan dan keterampilan bidang
keperawatan, kepatuhan terhadap kode etik profesi serta kesanggupan
melakukan praktek keperawatan.
Pasal 15
10.Perawat dalam melaksanakan praktek keperawatan berwenang untuk :
1. Melaksanakan asuhan keperawatan meliputi pengkajian,
penetapan diagnosa keperawatan, perencanaan, melaksanakan
tindakan keperawatan dan evaluasi keperawatan.
2. Tindakan keperawatan sebagaimana dimaksud pada butir (i)
meliputi: intervensi keperawatan, observasi keperawatan,
pendidikan dan konseling kesehatan.
3. Dalam melaksanakan asuhan keperawatan sebagaimana
dimaksudhuruf (i) dan (ii) harus sesuai dengan standar asuhan
keperawatan yang ditetapkan organisasi profesi.
4. Pelayanan tindakan medik hanya dapat dilakuakn berdasarkan
permintan tertulis dari dokter.
Pengecualian pasal 15 adalah pasal 20 :
11.Dalam keadaan darurat yang mengancam jiwa pasien/perorangan,
perawat berwenang untuk melakukan pelayanan kesehatan diluar
kewenangan sebagaimana dimaksud dalam pasal 15.
12.Pelayanan dalam keadaan darurat sebagaimana dimaksud dalam ayat
1 ditujukan untuk penyelamatan jiwa.
Pasal 21
13.Perawat yang menjalankan praktek perorangan harus mencantum SIPP
di ruang prakteknya.
14.Perawat yang menjalankan praktek perorangan tidak diperbolehkan
memasang papan praktek.
Pasal 31
15.Perawat yang telah mendapatkan SIK atau SIPP dilarang :
1. Menjalankan praktek selain ketentuan yang tercantum dalam
izin tersebut.

2. Melakukan perbuatan bertentangan dengan standar profesi.


16.Bagi perawat yang memberikan pertolongan dalam keadaan darurat
atau menjalankan tugas di daerah terpencil yang tidak ada tenaga
kesehatan lain, dikecualikan dari larangan sebagaimana dimaksud
pada ayat 1 butir a.

Add caption
DAFATAR ISI
HALAMAN JUDUL
KATA PENGANTAR ...................................................................................... i
DAFTAR ISI ...................................................................................................................... ii
BAB I PENDAHULUAN
BAB II PEMBAHASAN
A

Teori Etik dan Hukum Keperawatan....................................................................... 4

Istilah-Istilah Etik dan Hukum Keperawatan.......................................................... 4

Perbedaan Masing-Masing Istilah........................................................................... 5

Prinsip Etik Keperawatan........................................................................................ 6

Pengaruh Hukum Terhadap Perkembangan Profesi Keperawatan......................... 8

Sumber Utama Hukum di Keperawatan................................................................. 9

G Cara Mengatasi Dilemma dan Etis di Keperawatan............................................... 10


BAB III PENUTUP
Kesimpulan ...........................................................................................................12
DAFTAR PUSTAKA

Pendahuluan
Puji syukur ke hadirat Allah Subhanahu wataala, karena berkat rahmat-Nya kami bisa
menyelesaikan makalah tentang Filosofi, Falsafah dan Paradigma Keperawatan. Makalah ini
diajukan guna memenuhi tugas mata kuliah Ilmu Keperawatan Dasar Satu.
Kami mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu sehingga makalah
ini dapat diselesaikan tepat pada waktunya. Makalah ini masih jauh dari sempurna, oleh karena
itu, kritik dan saran yang bersifat membangun sangat kami harapkan demi sempurnanya makalah
ini.
Semoga makalah ini memberikan informasi bagi masyarakat dan bermanfaat untuk
pengembangan wawasan dan peningkatan ilmu pengetahuan bagi kita semua.
Bukittinggi, 26 September 2012

Penyusun

BAB II
ISI
A. TEORI ETIK DAN HUKUM KEPERAWATAN
Para ahli falsafah moral telah mengemukakan beberapa teori etik, yang secara garis besar dapat
diklasifikasikan menjadi teori teleologi dan deontologi.
1. Teleologi
Teleologi berasal dari bahasa Yunani telos yang berarti akhir. Pendekatan ini sering disebut
dengan ungkapan the end fustifies the means atau makna dari suatu tindakan ditentukan oleh
hasil akhir yang terjadi. Teori ini menekankan pada pencapaian hasil dengan kebaikan maksimal
dan ketidakbaikan sekecil mungkin bagi manusia.Contoh penerapan teori ini misalnya bayi-bayi
yang lahir cacat lebih baik diizinkan meninggal daripada nantinya menjadi beban di masyarakat.
2. Deontologi
Deontologi berasal dari bahasa Yunani deon yang berarti tugas. Teori ini berprinsip pada aksi
atau tindakan. Contoh penerapan deontologi adalah seorang perawat yang yakin bahwa pasien
harus diberitahu tentang apa yang sebenarnya terjadi, walaupun kenyataan tersebut sangat
menyakitkan. Contoh lain misalnya seorang perawat menolak membantu pelaksanaan abortus
karena keyakinan agamanya yang melarang tindakan membunuh. Penerapan teori ini perawat
tidak menggunakan pertimbangan, misalnya seperti tindakan abortus dilakukan untuk
menyelamatkan nyawa ibu, karena setiap tindakan yang mengakhiri hidup (dalam hal ini calon
bayi) merupakan tindakan yang secara moral buruk. Prinsip etika keperawatan meliputi
kemurahan hati (beneficence).Inti dari prinsip kemurahan hati adalah tanggung jawab untuk
melakukan kebaikan yang menguntungkan pasien dan menghindari perbuatan yang merugikan
atau membahayakan pasien. Prinsip ini seringkali sulit diterapkan dalam praktik keperawatan.
Berbagai tindakan yang dilakukan sering memberikan dampak yang merugikan pasien, serta
tidak ada kepastian yang jelas apakah perawat bertanggung jawab atas semua cara yang
menguntungkan pasien. Dalam hal ini yang perlu diperhatikan adalah adanya sumbangsih
perawat terhadap kesejahteraan kesehatan, keselamatan dan keamanan pasien.
B. ISTILAH-ISTILAH ETIK DAN HUKUM KEPERAWATAN

Ada beberapa istilah dalam etik dan hokum keperawatan yaitu ;


1. Etika.
2. Etik
3. Etiket
4. Kode etik
5. Moral
6. Profesional
7. Profesionalisme
8. Profesionalisasi
9. Hukum
C. PERBEDAAN MASING-MASING ISTILAH
1. Etika
peraturan/norma yang dapat digunakan sebagai acuan bagi prilaku seseorang yang berkaitan
dengan tindakan yang baik/buruk,merupakan suatu tanggung jawab moral.
2. Etik
suatu ilmu yang mempelajari tentang apa yang baik dan buruk secara moral atau ilmu kesusilan
yang menyangkut aturan /prinsip penentuan tingkah laku yang baik dan buruk,kewajiban dan
tanggung jawab.
3. Etiket
merupakan sesuatu yang telah dikenal,diketahui,diulangi serta menjadi suatu kebiasaan didalam
masyarakat,baik berupa kata-kata/suatu bentuk perbuatan yang nyata.
4. Moral
Perilaku yang diharapkan masyarakat atau merupakan standar prilaku/prilaku yang harus
diperhatikan seseorang menjadi anggota kelompok/masyarakat dimana ia berada.atau nilai yang
menjadi pegangan bagi seseorang suatu kelompok dalam mengatur tingkah lakunya.
5. Kode etik
Kaedah utama yang menjaga terjalinnya interaksi pemberi dan penerima jasa profesi yang
wajar,jujur,adil dan terhormat.
6. Profesional
Seseorang yang memiliki kompetensi dalam suatu pekerjaan tertentu.

7. Profesionalisme
karakter,spirit/metoda profesional,mencakup pendidikan dan kegiatan berbagai kelompok yang
anggotanya berkeinginan jd professional.
8. Profesionalisme
merupakan suatu proses yang dinamis untuk memenuhi/mengubah karakteristik kearah profesi.
9. Hukum
peraturan perundang-undangan yang di buat oleh suatu kekuasaan dalam mengatur pergaulan
hidup dalam masyarakat.
D. PRINSIP ETIK KEPERAWATAN
a. Otonomi (Autonomy)
Otonomi berasal dari bahasa latin, yaitu autos, yang berarti sendiri, dan nomos yang berarti
aturan. Prinsip otonomi didasarkan pada keyakinan bahwa individu mampu berpikir logis dan
mampu membuat keputusan sendiri. Orang dewasa dianggap kompeten dan memiliki kekuatan
membuat sendiri, memilih dan memiliki berbagai keputusan atau pilihan yang harus dihargai
oleh orang lain.
rinsip otonomi merupakan bentuk respek terhadap seseorang, atau dipandang sebagai persetujuan
tidak memaksa dan bertindak secara rasional. Otonomi merupakan hak kemandirian dan
kebebasan individu yang menuntut pembedaan diri. Praktek profesional merefleksikan otonomi
saat perawat menghargai hak-hak klien dalam membuat keputusan tentang perawatan dirinya.
Contoh tindakan yang tidak memperhatikan memperhatikan otonomi adalah:
a) Melakukan sesuatu bagi klien tanpa mereka doberi tahu sebelumnya
b) Melakukan sesuatu tanpa memberi informasi relevan yang penting diketahui klien dalam
membuat suatu pilihan.
c) Memberitahukan klien bahwa keadaanya baik, padahal terdapat gangguan atau penyimpangan.
d) Tidak memberikan informasi yang lengakap walaupun klien menghendaki informasi tersebut.
e) Memaksa klien memberi informasi tentang hal hal yang mereka sudah tidak bersedia
menjelaskannya.
b. Berbuat baik (Beneficience)
Beneficience berarti, hanya melakukan sesuatu yang baik. Kebaikan, memerlukan pencegahan
dari kesalahan atau kejahatan, penghapusan kesalahan atau kejahatan dan peningkatan kebaikan

oleh diri dan orang lain. Terkadang, dalam situasi pelayanan kesehatan, terjadi konflik antara
prinsip ini dengan otonomi. Contoh perawat menasehati klien tentang program latihan untuk
memperbaiki kesehatan secara umum, tetapi tidak seharusnya melakukannya apabila klien dalam
keadaan risiko serangan jantung.
c. Keadilan (Justice)
Prinsip keadilan dibutuhkan untuk terpai yang sama dan adil terhadap orang lain yang
menjunjung prinsip-prinsip moral, legal dan kemanusiaan. Nilai ini direfleksikan dalam prkatek
profesional ketika perawat bekerja untuk terapi yang benar sesuai hukum, standar praktek dan
keyakinan yang benar untuk memperoleh kualitas pelayanan kesehatan. Contoh: seorang perawat
sedang bertugas sendirian disuatu unit RS kemudian ada seorang klien yang baru masuk
bersamaan dengan klien yang memerlukan bantuan perawat tersebut. Agar perawat tidak
menghindar dari satu klien, kelian yang lainnya maka perawat seharusnya dapat
mempertimbangkan faktor - faktor dalam situasi tersebut, kemudian bertindak berdasarkan pada
prinsip keadilan.
d. Tidak merugikan (Nonmaleficience)
Prinsip ini berarti tidak menimbulkan bahaya/cedera fisik dan psikologis pada klien. Johnson
(1989) menyatakan bahwa prinsip untuk tidak melukai orang lain berbeda dan lebih keras
daripada prinsip untuk melakukan yang baik. Contoh : seorang klien yang mempunyai
kepercayaan bahwa pemberian transfusi darah bertentangan dengan keyakinannya, menaglami
perdarahan hebat akibat penyakit hati yang kronis. Sebelum kondisi klien bertambah berat, klien
sudah memberikan pernyataan tertulis kepada dokter bahwa ia tak mau dilakukan transfuse
darah. Pada suatu saat, ketika kondisi klien bertambah buruk dan terjadilah perdarahan hebat,
dokter seharusnya menginstruksikan untuk memberikan transfuse darah. Dalam hal ini, akhirnya
transfuse darah tidak diberikan karena prinsip beneficience walaupun sebenarnya pada saat
berasamaan terjadi penyalahgunaaan prinsip maleficience.
e. Kejujuran (Veracity)
Prinsip veracity berarti penuh dengan kebenaran. Nilai ini diperlukan oleh pemberi pelayanan
kesehatan untuk menyampaikan kebenaran pada setiap klien dan untuk meyakinkan bahwa klien
sangat mengerti. Prinsip veracity berhubungan dengan kemampuan seseorang untuk mengatakan
kebenaran. Informasi harus ada agar menjadi akurat, komprensensif, dan objektif untuk
memfasilitasi pemahaman dan penerimaan materi yang ada, dan mengatakan yang sebenarnya

kepada klien tentang segala sesuatu yang berhubungan dengan keadaan dirinya selama menjalani
perawatan. Walaupun demikian, terdapat beberapa argument mengatakan adanya batasan untuk
kejujuran seperti jika kebenaran akan kesalahan prognosis klien untuk pemulihan atau adanya
hubungan paternalistik bahwa doctors knows best sebab individu memiliki otonomi, mereka
memiliki hak untuk mendapatkan informasi penuh tentang kondisinya. Kebenaran merupakan
dasar dalam membangun hubungan saling percaya.
Contoh : Ny. M seorang wanita lansia dengan usia 68 tahun, dirawat di RS dengan berbagai
macam fraktur karena kecelakan mobil. Suaminya yang juga ada dalam kecelakaan tersebut
masuk kerumah sakit yang sama dan meninggal. Ny. M bertanya berkali kali kepada perawat
tentang keadaan suaminya. Dokter ahli bedah berpesan kepada perawatnya untuk tidak
mengatakan kematian suami NY. M kepada Ny. M. Perawat tidak di beri alasan apapun untuk
petunjuk tersebut dan mengatakan keprihatinannya kepada perawat kepala ruanga, yang
mengatakan bahwa instruksi dokter harus diikuti. Perawat dalam hal ini dihadapka oleh konflik
kejujuran.
f. Menepati janji (Fidelity)
Prinsip fidelity dibutuhkan individu untuk menghargai janji dan komitmennya terhadap orang
lain. Perawat setia pada komitmennya dan menepati janji serta menyimpan rahasia klien.
Ketaatan, kesetiaan, adalah kewajiban seseorang untuk mempertahankan komitmen yang
dibuatnya. Kesetiaan, menggambarkan kepatuhan perawat terhadap kode etik yang menyatakan
bahwa tanggung jawab dasar dari perawat adalah untuk meningkatkan kesehatan, mencegah
penyakit, memulihkan kesehatan dan meminimalkan penderitaan.
g. Karahasiaan (Confidentiality)
Aturan dalam prinsip kerahasiaan adalah informasi tentang klien harus dijaga privasi klien.
Segala sesuatu yang terdapat dalam dokumen catatan kesehatan klien hanya boleh dibaca dalam
rangka pengobatan klien. Tidak ada seorangpun dapat memperoleh informasi tersebut kecuali
jika diijinkan oleh klien dengan bukti persetujuan. Diskusi tentang klien diluar area pelayanan,
menyampaikan pada teman atau keluarga tentang klien dengan tenaga kesehatan lain harus
dihindari.

h. Akuntabilitas (Accountability)
Akuntabilitas merupakan standar yang pasti bahwa tindakan seorang profesional dapat dinilai
dalam situasi yang tidak jelas atau tanpa terkecuali.
Contoh: perawat bertanggung jawab terhadap diri sendiri, profesi, klien, sesame karyawan dan
masyarakat. Jika salah member dosis obat kepada klien perawat tersebut dapat digugat oleh klien
yang menerima obat, oleh dokter yang memberi tugas delegatif, dan masyarakat yang menuntut
kemampuan professional.
E. PENGARUH HUKUM TERHADAP PERKEMBANGAN PROFESI KEPERAWATAN
Hukum dapat menjalankan fungsi advokasi dengan membela dan melindungi perawat dari
kemungkinan tindakan yang merugikannya.
HUBUNGAN HUKUM DENGAN PROFESI PERAWAT
Manusia sebagai makhluk sosial yang selalu senantiasa berhubungan dengan manusia lain dalam
masyarakat, senantiasa diatur diantaranya :
Norma agama
Norma etik
Norma hokum
Ketiga norma tersebut khususnya norma hukum dibutuhkan untuk menciptakan ketertipan,
ketentraman, dan pada akhirnya perdamaian dalam kehidupan, diharapkan kepentingan manusia
dapat terpenuhi.
Perlu Dibuat Payung Hukum Bagi Profesi Perawat
Kesehatan sebagai salah satu kebutuhan pokok manusia selain sandang, pangan, papan, dan
pendidikan, perlu diatur dengan berbagai piranti hukum sebab pengembangan di bidang
kesehatan diperlukan tiga faktor:
1. Perlunya perawatan kesehatan diatur dengan langkah-langkah tindakan kongkrit dari
pemerintah.
2. Perlunya pengaturan hukum dilingkungan sistem perawatan kesehatan.
3. Perlunya kejelasan yang membatasi antara perawatan kesehatan dengan tindakan tertentu.

Ketiga faktor tersebut memerlukan piranti hukum untuk melindungi pemberi dan penerima jasa
kesehatan agar ada kepastian hukum dalam melaksanakan tugas profesinya. Dalam pelayanan
kesehatan (yan-kes). Pada dasarnya merupakan hubungan unik karena hubungan tersebut
bersifat interpersonal, oleh karena itu tidak saja diatur oleh hukum tetapi juga oleh etika dan
moral.
F. SUMBER UTAMA HUKUM DI KEPERAWATAN
Sumber utama hukum keperawatan adalah undang-undang . yang tercantum dalam pasal-pasal
sebagai berikut:
UU RI No. 23/TH 1992
Tentang Kesehatan
Pasal 32, ayat 2,3,4 dan 5
2 : Penyembuhan penyakit & pemulihan Kes dilakukan dgn pengobatan atau prwtn.
3 : Pengobatan atau prwtn dpt dilakukan berdsrkan ilmu kedokteran & ilmu keperawatan atau
cara lain yg dpt dipertg jawabkan.
4 : Pelaksanaan pengobatan atau prwtn berdsrkan ilmu kedokteran atau ilmu kep hanya dpt
dilakukan oleh tenaga kes yg mempunyai keahlian & kewenangan di bidang itu
5 : Pemerintah melkukn pembinaan & pengawasan thdp pelaksanaan pengobatan atau prwtn.
Pasal 50
1 : Tenaga kes bertugas menyelenggarakan & melkkn keg kes sesuai dgn bidang keahlian atau
kewenangan tenaga kes yg bersangkutan.
Pasal 53
1 : Tenaga kes berhak memperoleh perlindungan hukum dlm melaksanakan tugas sesuai dgn
profesinya.
2 : Tenaga Kes dlm melaksanakan tugasnya berkewajiban utk mematuhi standar profesi &
menghormati hak-hak pasien
4 : Ketentuan mengenai standar profesi & hak-hak pasien sebagaimana dimaksud dlm ayat 2
ditetapkan dgn peraturan pemerintah.
Pasal 54
1 : Thdp tenaga kes yg mlkkn kesalahan atau kelalaian dlm melaksanakan profesinya dpt
dikenakan tindakan disiplin.

2 : Penentuan ada tdknya kesalahan atau kelalaian sebagaimana dimaksud pd ayat 1 ditentukan
oleh Majlis disiplin tenaga kesehatan
Pasal 55
1 : Setiap orang berhak atas ganti rugi akibat kesalahan atau kelalaian yg dilakukan oleh tenaga
kesehatan
2 : Ganti rugi sebagaimana dimaksud dlm ayat 1 dilaksanakan sesuai dgn peraturan perundangundangan yg berlaku.
Pasal 73
Pemerintah melakukan pembinaan terhadap semua kegiatan yg berkaitan dgn penyelenggaraan
upaya kesehatan.
Pasal 77
Pemerintah berwenang mengambil tindakan administratif terhadap tenaga kesehatan &/ atau
sarana kesehatan yg melakukan pelanggaran thdp ketentuan undang-undang ini.
Implikasi UU RI No. 23/TH 1992
Tentang Kesehatan
Kep dpt menyembuhkan penyakit & memulihkan kesehatan
Kep diakui sebagai ilmu pengetahuan
Perlu aplikasi standar profesi bagi perawat
Perlu aplikasi ada pengaturan tentang kewenangan perawat
Hak-hak klien hrs dihormati & selalu menjadi fokus perhatian setiap perawat.
G. CARA MENGATASI DILEMA HUKUM DAN ETIS DI KEPERAWATAN
1. Model Pemecahan masalah ( Megan, 1989 )
Ada lima langkah-langkah dalam pemecahan masalah dalam dilema etik.
a.

Mengkaji situasi

b.

Mendiagnosa masalah etik moral

c.

Membuat tujuan dan rencana pemecahan

d.

Melaksanakan rencana

e.

Mengevaluasi hasil

2. Kerangka pemecahan dilema etik (kozier & erb, 2004 )


a.

Mengembangkan data dasar.

Untuk melakukan ini perawat memerukan pengumpulan informasi sebanyak mungkin meliputi :

1) Siapa yang terlibat dalam situasi tersebut dan bagaimana keterlibatannya


2) Apa tindakan yang diusulkan
3) Apa maksud dari tindakan yang diusulkan
4) Apa konsekuensi-konsekuensi yang mungkin timbul dari tindakan yang diusulkan.
b.

Mengidentifikasi konflik yang terjadi berdasarkan situasi tersebut

c. Membuat tindakan alternatif tentang rangkaian tindakan yang direncanakan dan


mempertimbangkan hasil akhir atau konsekuensi tindakan tersebut
d.

Menentukan siapa yang terlibat dalam masalah tersebut dan siapa pengambil keputusan yang

tepat

3.

e.

Mengidentifikasi kewajiban perawat

f.

Membuat keputusan

Murphy dan Murphy

d.

a.

Mengidentifikasi masalah kesehatan

b.

Mengidentifikasi masalah etik

c.

Siapa yang terlibat dalam pengambilan keputusan


Mengidentifikasi peran perawat

e.

Mempertimbangkan berbagai alternatif-alternatif yang mungkin dilaksanakan

f.

Mempertimbangkan besar kecilnya konsekuensi untuk setiap alternatif keputusan


g.

h.

Memberi keputusan
Mempertimbangkan bagaimanan keputusan tersebut hingga sesuai dengan falsafah umum

untuk perawatan klien


i.

Analisa situasi hingga hasil aktual dari keputusan telah tampak dan menggunakan informasi

tersebut untuk membantu membuat keputusan berikutnya.


contoh:banyak perawat merasatidak mampu ketika menghadapi dilema etik terkait asuhan
pasien. Perasaan ini dapat terjadi akibat perawat tidak terbiasa dengan tekhnik penyelesaian
masalah yang sistematik untuk dilema etik. Perawat dapat mengembangkan keterampilan
penyelesaian masalah yang perlu untuk mengambil keputusan etik ketika mereka belajar dan
berlatih dan menggunakan proses penyelesaian etik. Penyelesaian tersebut dapat bagi perawat
untuk menjawab pertanyaan penting tentang dilema dan untuk mengarahkan pikiran mereka
untuk berpikir lebih logis dan bersikap benar berdasarkan proses keperawatan.