Anda di halaman 1dari 10

ISSN : 1410 - 9018

SINERGI
KA JIAN BISNIS DAN MANAJEMEN
Vol. 6 No. 2, 2004
Hal. 37 - 46

IMPLEMENTASI
CORPORATE SOCIAL RESPONSIBILITY
SEBAGAI KEUNGGULAN KOMPETITIF PERUSAHAAN
Arief Rahman
Fakultas Ekonomi Universitas Islam Indonesia

Abstract

This article presents the re-emergence of Corporate Social Responsibility (CSR)


concept which nowadays become a positive trend in business world to use it as a source of
sustainable competitive advantage. The concept has been re-emerging because of factors of
globalisation, technology and media revolution, and terrorist attacks. This article also pre-
sents some parties which have capability to endorse business to implement CSR, such as gov-
ernment, community as well as business organizations, corporation itself and society. And in
order to bring unimpair description, this article describes the implementation of CSR as cor-
porate strategic competitive advantage in Vodafone and Thiess.

Keywords: corporate social responsibility, triple bottom line, competitive advantage, sustainable
development, strategic management

PENDAHULUAN tingkat pemerintah, beberapa pemerintahan


Walaupun ide Corporate Social juga mengeluarkan dokumen mengenai
Responsibility (CSR) atau yang juga dikenal CSR, yaitu Commision of the European
sebagai triple bottom line bukan ide baru Communities pada bulan Juli 2002 untuk
dan telah ada sejak abad ke-19, namun CSR mendorong penerapan CSR oleh perusa-
menjadi tema yang kembali menghangat haan-perusahaan Eropa, Pemerintah Inggris
dewasa ini. CSR menjadi tema sentral orga- melalui Kementrian Perdagangan dan In-
nisasi-organisasi internasional. CSR, yang dustri (www.dti.gov.uk, 2002), Prancis yang
didefinisikan oleh EU sebagai konsep di- mewajibkan laporan CSR oleh perusahaan-
mana perusahaan mengintegrasikan perha- perusahaan Prancis (Cheney, 2004) dan juga
tian sosial dan lingkungan ke dalam operasi pemerintah Amerika Serikat (United States
bisnis dan dalam interaksi mereka dengan Sentencing Commission) pada tanggal 30
stakeholders dengan secara sukarela April 2004 telah mengamandemen peraturan
(http://europa.eu.int, 2001) menjadi perha- (Section 994(p) of title 28, USC) untuk lebih
tian penting World Business Council for mempertegas kriteria pelaporan oleh perusa-
Sustainable Development (WBCSD) haan (Verschoor, 2004 dan Davis & Humes,
(www.wbcsd.ch., 2000, 2002), World Eco- 2004). Kecenderungan di atas dengan jelas
nomic Forum (WEF) (www.weforum.org, memperlihatkan bahwa dewasa ini CSR
2003a dan 2003b), Insitute for Global Ethics kembali menjadi tema sentral dalam dunia
(www.globalethics.org, 2002) serta World bisnis.
Bank Institute (www.worldbank.org/wbi, Seperti diidentifikasi oleh Smith
2002) dan Global Reporting Initiative (GRI) (2003) dan juga Rayner (2003), CSR kem-
(www.globalreporting.org, 2002) yang bali menemukan urgensinya karena seti-
mengeluarkan acuan penerapan CSR. Di daknya ada 3 faktor. Faktor pertama adalah

SINERGI Vol. 6 No. 2, 2004 37


Arief Rahman

faktor globalisasi di mana pada era globa- Faktor kedua adalah karena terjadi-
lisasi ini, bisnis menjadi semakin kuat dan nya revolusi teknologi dan media. Perkem-
merambah ke segala bentuk aktivitas manu- bangan tersebut pada gilirannya memperce-
sia. Kekuatan bisnis ini menjadikan ekspek- pat penyebaran berita dan dunia bisnis
tasi masyarakat kepada dunia bisnis semakin merasa diawasi terus oleh media global.
besar. Berbagai masalah yang tadinya men- Begitu ada berita menarik (entah itu positif
jadi porsi pemerintah, dewasa ini meminta maupun negatif), maka akan segera cepat
kontribusi sektor swasta untuk ikut menye- menyebar dan menimbulkan opini dan
lesaikannya. reaksi masyarakat.

Gambar 1. Hasil Survei 1000 CEO di AS

38 SINERGI Vol. 6 No. 2, 2004


Implementasi Corporate Social Responsibility sebagai Keunggulan Kompetitif Perusahaan

Faktor ketiga adalah adanya sera- untuk mendorong dan mewajibkan perusa-
ngan teroris sejak 11 September 2001 atas haan untuk menerapkan CSR. Pemerintah
menara kembar WTC. Survei yang dilaku- dapat menetapkan insentif terhadap perusa-
kan oleh Jericho Communications atas 1000 haan yang menerapkan CSR dalam bentuk
CEO pada tahun 2002 juga menunjukkan hal insentif pajak ataupun bentuk-bentuk insen-
itu (www.jerichopr.com, 2002). Tigapuluh tif lainnya dan sebaliknya memberi sanksi
enam persen responden menyatakan bahwa pada perusahaan yang mengabaikannya.
perusahaan mereka memberi perhatian lebih Dewasa ini, banyak sekali or-
terhadap isu CSR sejak kejadian 9/11, dan ganisasi yang concern terhadap implemen-
52% menyatakan bahwa perusahaan sudah tasi CSR, baik itu organisasi bisnis seperti
seharusnya melakukan tindakan yang ber- WBCSD, BSR (Business for Social Respon-
tanggungjawab terhadap masyarakat dalam sibility), BITC (Business In The Community)
rangka untuk melawan terorisme. Terhadap dan IBLF (International Business Leader
isu pemanasan global, 72% responden me- Forum), organisasi swadaya masyarakat
ngatakan bahwa bisnis mempunyai pengaruh (NGO) seperti organisasi lingkungan hidup,
(major impact maupun minor impact) terha- organisasi kemanusiaan dan organisasi
dap pemanasan global. Namun sayangnya sosial, maupun organisasi multinasional
dari survei yang sama, hanya 12% dari res- seperti EU (European Union) dan World-
ponden yang menyatakan akan mengaloka- bank. Bentuk perhatian organisasi-organisasi
sikan sumberdayanya untuk isu-isu CSR dan tersebut mulai dari mendorong implementasi
hanya 9% yang akan membelanjakan CSR, melakukan pendidikan kepada
uangnya untuk CSR (Gambar 1 menunjuk- masyarakat dan perusahaan, sampai dengan
kan sebagian hasil survei oleh Jericho menerbitkan pedoman implementasi CSR.
Communication tersebut). Oleh karena itu Bahkan banyak di antara organisasi tersebut
survei tersebut menunjukkan adanya kon- yang melakukan pendampingan untuk
tradiksi antara kesadaran peran penting masyarakat, terutama masyarakat marjinal,
dunia bisnis dalam ikut memerangi teroris- dan mewakili mereka dalam melakukan ne-
me dengan kemauan untuk mengalokasikan gosiasi dan tuntutan-tuntutan kepada peru-
sumber dananya. Berangkat dari hal terse- sahaan.
but, maka sangat menarik untuk mencermati Masyarakat juga dapat memberi te-
pihak-pihak yang berpotensi memberi te- kanan langsung kepada perusahaan dan juga
kanan pada perusahaan agar memberi per- lewat pemerintah, agar perusahaan menerap-
hatian lebih pada implementasi CSR. kan CSR. Sebagai konsumen, masyarakat
jelas mempunyai kekuatan mutlak untuk
TEKANAN UNTUK MEMBERI PER- menentukan produk yang akan digunakan.
HATIAN LEBIH PADA CSR Masyarakat yang memiliki kesadaran tinggi
Pada dasarnya tekanan pada peru- bahwa perusahaan juga harus memberikan
sahaan untuk mengimplementasikan CSR kontribusinya dalam pemeliharaan lingku-
dapat berasal dari pihak eksternal, yaitu pe- ngan hidup, peningkatan taraf ekonomi
merintah, organisasi yang concern terhadap sosial masyarakat dan penyelesaian masalah
CSR dan masyarakat, dan juga dari pihak sosial akan memasukkan pertimbangan im-
internal, yaitu dari struktur perusahaan plementasi CSR ketika memilih produk atau
sendiri (WBI, 2002) (lihat Gambar 2). jasa. Artinya, konsumen akan lebih memilih
Seperti yang dilakukan oleh be- produk atau jasa dari perusahaan yang
berapa pemerintah negara maju, pemerintah memiliki kepedulian sosial dibanding de-
mempunyai kuasa untuk membuat peraturan ngan yang tidak. Kasus yang menimpa peru-

SINERGI Vol. 6 No. 2, 2004 39


Arief Rahman

sahaan sepatu Nike, yang menderita akibat telah diadakan survei terhadap 25.000 kon-
boikot konsumen di beberapa negara karena sumen di 23 negara. Hasilnya menunjukkan
adanya eksploitasi tenaga kerja di Indonesia bahwa 40% responden menyatakan akan
dan di beberapa negara Asia Tenggara lain- mempertimbangkan tindakan sanksi terha-
nya sehingga mengakibatkan Nike meng- dap perusahaan yang bertindak tidak bertang-
alami krisis reputasi. Pada tahun 1999 juga gung jawab (www.mori.com, 1999).

Gambar 2. CSR Diamond


CSR Diamond

Crises and Changes in in The Political


and Macroeconomic En virontment

Rule of Law

Regulation Corporate
Internal Governance
Competition and Social
Responsibility Structures and Policies
Standards

Complementary
Governance
Isntitutions

Source: Djordjila Petkoski, World Bank Institute

40 SINERGI Vol. 6 No. 2, 2004


Implementasi Corporate Social Responsibility sebagai Keunggulan Kompetitif Perusahaan

Schyndel (2004) juga mencatat untuk menjaga reputasi perusahaan, sehing-


adanya gerakan “socially responsible inves- ga pada gilirannya akan berdampak secara
tors” terutama di AS, yaitu masyarakat in- finansial. Namun Smith mengakui bahwa
vestor yang memasukkan faktor kepedulian pada kenyataannya kedua motif ini sulit
sosial dan kepedulian lingkungan perusa- dibedakan dan seringkali motif bisnis lebih
haan dalam pertimbangan ketika akan berin- menonjol daripada motif normatif.
vestasi. Di antara mereka ada yang fokus
pada pertimbangan lingkungan, sehingga MENJADIKAN CSR SEBAGAI KE-
mereka menolak berinvestasi pada perusa- UNGGULAN KOMPETITIF PERUSA-
haan-perusahaan yang mempunyai catatan HAAN
pengelolaan lingkungan yang buruk. Bahkan Menurut Grant (2002, hal. 227),
Pax World Growth Fund, sebuah perusahaan keunggulan kompetitif adalah kemampuan
investasi, mengevaluasi perusahaan-perusa- perusahaan untuk mengungguli kompeti-
haan tidak hanya berdasar pada kinerja fi- tornya pada tujuan kinerja perusahaan yang
nansial, namun juga catatan kontribusi sosial utama. Walaupun tujuan kinerja perusahaan
dan lingkungannya. Schyndel sendiri adalah pada umumnya adalah profitabilitas, namun
managing director dari sebuah perusahaan bukan berarti profitabilitas ini adalah
investasi yang juga mengklaim “socially segalanya. Artinya, sebuah perusahaan bisa
responsible”. Dan dari data-data yang disa- saja menjaga tingkat profitabilitas pada level
jikan, Schyndel sampai pada kesimpulan yang sekarang sudah dicapai (bukan level
bahwa “socially responsible investing is a maksimal), untuk kepentingan kepuasan
growth industry” (hal. 37). pelanggan, kesejahteraan pekerja, dan lain-
Terakhir, implementasi CSR juga lain.
bisa berangkat dari keinginan dari dalam Keunggulan kompetitif tidak hanya
perusahaan sendiri. Mengenai hal ini, Smith berasal dari lingkungan eksternal, seperti
(2003, hal. 57-8) mengklasifikasikan motif perubahan permintaan konsumen, perubahan
perusahaan untuk menerapkan CSR ini ke harga atau perubahan teknologi, namun juga
dalam 2 kategori, yaitu motif normatif bisa berasal dari struktur internal, yaitu de-
(normative case) dan motif bisnis (business ngan kreativitas dan inovasi. Lebih lanjut,
case). Motif normatif merujuk pada keyaki- Grant (hal. 247) menjelaskan bahwa keung-
nan perusahaan tersebut bahwa CSR adalah gulan kompetitif bisa bersumber dari keung-
memang suatu hal yang sudah seharusnya gulan biaya (cost advantage), yaitu menekan
dilakukan dan itu adalah tindakan yang biaya untuk mendapatkan harga lebih rendah
benar atau “it is the right thing to do”. Latar untuk produk yang sama, dan keunggulan
belakang motif ini adalah teori kontrak karena perbedaan (differentiation advan-
sosial, yaitu teori yang menyatakan bahwa tage) atau keunggulan karena keunikan pro-
perusahaan hanya akan tetap eksis karena duk. Dari kedua sumber keunggulan kom-
kerjasama dan komitmen masyarakat atau petitif tersebut, jelas yang terakhir akan le-
society. Dengan kata lain, terdapat hubungan bih sustainable dan salah satu sumber ke-
timbal balik antara perusahaan dan unikan adalah reputasi dan integritas produk
masyarakat, terutama masyarakat sekitarnya atau produsen.
(lebih jauh mengenai teori kontrak sosial, Membangun reputasi dan integritas
lihat misalnya Binmore, 2004)). Sedangkan tentu bukan pekerjaan yang mudah dan mu-
motif bisnis tidak jauh dari tujuan perusa- rah. Namun seperti disebutkan dalam Price-
haan yang klasik yaitu profit. Artinya, tinda- waterhouse Coopers’ white paper (Sonnen-
kan perusahaan menerapkan CSR adalah stein and Blaser, 2004 dan Perera, 2004)

SINERGI Vol. 6 No. 2, 2004 41


Arief Rahman

yang merupakan laporan riset, di mana menjadikan CSR ini sebagai strategi mem-
hasilnya menunjukkan bahwa tata kelola peroleh keunggulan kompetitif. Salah satu
(governance) yang baik, yang merujuk pada perusahaan yang telah mengimplementasi-
komitmen pada lingkungan bisnis yang etis, kannya, Starbucks, juga mengakui bahwa
akan membawa perusahaan menuju kinerja mereka melakukannya “to distinguish a
yang baik. Lebih jauh, dokumen tersebut company from its industry peers”
menekankan pentingnya perusahaan untuk (www.starbucks.com, 2003). Walaupun pada
memperhatikan integritas bisnis, nilai-nilai awalnya CSR adalah sebagai niche, namun
(values) dan etika serta mengintegrasi- dalam perjalanannya akan sangat terkait
kannya ke seluruh sendi perusahaan. dengan strategi perusahaan (Cheney, 2004).
Sebuah studi yang hasilnya dikutip Untuk mengintegrasikan CSR ke dalam
oleh Raiborn et.al. (2003) juga menunjukkan strategi perusahaan, menurut World Bank
bahwa 4 dari 5 orang Amerika Serikat Institute, tidak hanya diperlukan ikhtiar in-
mempertimbangkan faktor reputasi ketika ternal, yaitu mulai dari pembentukan ko-
membeli suatu produk. Studi yang sama mitmen sampai dengan penerapan dan
menyatakan bahwa 70% investor memper- membuat laporan CSR, namun juga me-
timbangkan faktor reputasi juga ketika me- merlukan konsultasi dan dialog dengan para
lakukan investasi, bahkan walaupun itu ber- stakeholders termasuk pemerintah dan
arti mengakibatkan berkurangnya financial masyarakat (www.worldbank.org/wbi, 2002).
return. Perusahaan-perusahaan multina- Sebagai strategi untuk memperoleh
sional terkenal seperti IBM, FedEx, General keunggulan kompetitif, harus digarisbawahi
Electric dan Microsoft adalah perusahaan- bahwa implementasi CSR bukanlah sekedar
perusahaan yang menjadi target kelompok sebuah “checkbook philantrophy”. Istilah
investor yang peduli sosial (socially respon- “checkbook philantrophy” seperti yang
sible investors group) untuk mengimpleme- dikemukakan oleh Raiborn et.al. (2003) me-
tasikan CSR dan juga mempublikasikan rujuk pada kegiatan atau tindakan menyum-
laporan CSR setiap tahunnya bersama de- bang dana secara spontan, reaktif dan tidak
ngan laporan keuangan (Davis & Humes, terencana (hal. 47-8). Lebih daripada itu,
2004). implementasi CSR harus masuk ke dalam
Survei yang juga dilakukan PwC strategi perusahaan dan bersifat berkelanju-
pada tahun 2003 dengan melibatkan 1000 tan karena adanya komitmen perusahaan.
CEO di 20 negara untuk diranking perusa-
haan dan CEO paling dihormati menunjuk- PERUSAHAAN-PERUSAHAAN YANG
kan indikasi yang sama (McGeer, 2004). MENJADIKAN CSR SEBAGAI KE-
Perusahaan-perusahaan dan CEO yang ter- UNGGULAN KOMPETITIF
hormat adalah mereka yang mengedepankan Walaupun ada banyak perusahaan
integritas dan memperhatikan reputasi. Se- yang telah menerapkan CSR dan meng-
lanjutnya, para CEO juga meyakini bahwa gunakannya sebagai keunggulan kompetitif,
CSR adalah cara untuk mengelola resiko namun dalam artikel ini hanya akan dibahas
reputasi (reputation risk). dua perusahaan, yaitu Thiess dan Vodafone.
Dengan demikian maka jelas
bahwa implementasi CSR dewasa ini tidak Thiess (Thiess, 2003)
hanya semakin diperhatikan oleh perusa- Thiess adalah sebuah grup perusa-
haan. Lebih jauh, bahkan banyak perusahaan haan multinational yang bergerak dalam
yang menjadikannya sebagai pembeda de- bidang teknik (bangunan, sipil, pertamba-
ngan kompetitornya atau dengan kata lain ngan dan process engineering, termasuk gas

42 SINERGI Vol. 6 No. 2, 2004


Implementasi Corporate Social Responsibility sebagai Keunggulan Kompetitif Perusahaan

dan minyak) dan jasa (mulai dari jasa peng- dan interaksi dengan masyarakat lokal. Di
olahan limbah sampai dengan jasa keuan- samping melakukan kerjasama dengan or-
gan) yang berbasis di Australia. Thiess ganisasi masyarakat dan pemerintah, Thiess
mengeluarkan laporan implementasi CSR juga mempunyai program kerjasama dengan
setiap tahunnya di samping laporan keua- universitas (misalnya program Strategic
ngan semenjak tahun fiskal 2002/2003. Na- Learning Partnership dengan The Univer-
mun pada tahun fiskal 2001/2002, Thiess sity of Queensland). Namun secara propor-
juga telah mengeluarkan Health, Safety, sional, jumlah yang dibelanjakan untuk pro-
Environment and Community Report. gram komunitas pada tahun fiskal
Perusahaan ini mengakui bahwa 2002/2003 ($200,000) masihlah jauh diban-
mereka mempunyai tanggung jawab yang dingkan dengan laba yang berhasil dikum-
luas, terutama kepada pegawai mereka, pulkan, yaitu senilai $103,217,000.
masyarakat lokal dan juga generasi men-
datang (hal.2). Laporan implementasi CSR Vodafone (Jayne, 2004)
ini menunjukkan bahwa mereka percaya Perusahaan komunikasi yang ber-
akan pentingnya implementasi CSR untuk basis di Inggris ini memiliki program World
perusahaan dalam jangka panjang. Secara of Difference (WoD) yang sudah memasuki
eksplisit laporan itu menyatakan bahwa tahun ketiga. Melalui program itu, Vodafone
proteksi terhadap lingkungan hidup bu- menjalin aliansi strategis dengan organisasi-
kanlah sebuah pilihan bagi manajemen dan organisasi nirlaba. Mereka menangani ber-
bisnis serta dukungan dan interaksi dengan bagai komunitas, mulai dari masyarakat desa
masyarakat adalah penting dalam operasi Bali, anak-anak Kiwi, para penderita mus-
bisnis (hal. 2). cular dystrophy sampai dengan penguin
Dalam menerapkan CSR, Thiess ti- mata kuning. Namun program ini tidak di-
dak hanya melakukan analisa kualitatif, na- laksanakan dalam bentuk pemberian bantuan
mun mereka juga mencoba mengkuantifikasi dana secara langsung atau “checkbook phi-
kinerja sosial mereka. Kinerja dalam bidang lantrophy”, melainkan dalam bentuk pembe-
kesehatan dan keselamatan kerja mereka rian dukungan kepada individu-individu
representasikan dalam sebuah formula untuk yang punya motivasi untuk mendonasikan
mengetahui RIFR (Recordable Injury Fre- ketrampilan dan kemampuan mereka untuk
quency Rate), LTIFR (Lost Time Injury Fre- masyarakat dalam bentuk yang mereka pilih.
quency Rate) dan LTISR (Lost Time Injury Prinsip program ini adalah “empowered
Severity Rate). Thiess juga secara berkala people to make a real difference”. Selain
melakukan audit lingkungan dan mengaju- melibatkan pihak ketiga, program ini juga
kan ISO 14001 untuk setiap daerah operasi memberi kesempatan kepada pegawai Voda-
(pada tahun 2003, operasi mereka di Indone- fone yang ingin memberi kontribusi kepada
sia mendapatkan ISO 14001). masyarakat di lingkungan di mana pegawai
Thiess pada tahun fiskal 2002/2003 tersebut tinggal.
telah membelanjakan lebih dari $200,000 Bagi Vodafone, implementasi CSR
untuk organisasi masyarakat di Australia semakin penting bagi perusahaan dan men-
dan Indonesia. Dicontohkan dalam laporan jadi leading strategy untuk mereka. Voda-
itu, Thiess melakukan konsultasi dengan fone percaya bahwa CSR tidak boleh diim-
masyarakat lokal dalam pembangunan Ka- plementasikan dengan “bandaid approach”,
ruah Bypass di New South Wales, Australia yang bersifat jangka pendek dan reaktif.
dan mendengarkan keberatan-keberatan Lebih daripada itu, CSR harus diimplemen-
msyarakat lokal, sebagai bentuk komunikasi tasikan dengan dasar komitmen kuat yang

SINERGI Vol. 6 No. 2, 2004 43


Arief Rahman

bersifat jangka panjang. Oleh karena itu, Melihat berbagai kasus antara peru-
Vodafone merasa perlu untuk mengintegra- sahaan dan masyarakat yang muncul di In-
sikannya ke dalam budaya perusahaan. donesia, maka kecenderungan yang terjadi
di dunia bisnis internasional seharusnya juga
PENUTUP terjadi di dunia bisnis Indonesia, yaitu ke-
Dengan berbagai keterbatasan, pe- cenderungan untuk menjadikan implemen-
merintah tidak bisa dituntut untuk menyele- tasi CSR sebagai keunggulan kompetitif
saikan semua persoalan sosial, lingkungan perusahaan. Oleh karena itu, pemerintah,
dan ekonomi. Dengan potensi yang dimiliki berbagai organisasi, perusahaan sendiri dan
oleh dunia bisnis, wajar bila muncul dan juga terutama masyarakat harus bersinergi
semakin kuat tuntutan bagi perusahaan un- untuk mewujudkannya. Apalagi sebagai
tuk ikut andil dalam menyelesaikan persoa- muslim haruslah disadari bahwa Allah
lan umat dan lingkungan. Apalagi perusa- membenci orang yang membuat kerusakan
haan juga membutuhkan sumber daya yang di muka bumi dan merekalah justru orang-
disediakan oleh masyarakat dan lingkungan, orang yang rugi, seperti dalam QS Al
sehingga hubungan di antara keduanya ha- Baqarah: 27.
ruslah resiprokal.

REFERENSI
Binmore, Ken, (2004), “Reciprocity and the Social Contract”, Politics, Philosophy & Eco-
nomics, Feb 2004, Vol. 3 No. 1
Cheney, Glenn, (2004), “The Corporate Conscience and The Triple Bottom Line”, Account-
ing Today, Jul 12-25, 2004 Vol 18 Issue 12
Commission of The European Communities, (2001), Communication from the Commission
corcerning Corporate Social Responsibility: A Business Contribution to Sustainable
Development, [online, accessed on Sept. 9th, 2004] on http://europa.eu.int/eur-
lex/en/com/cnc/2002/com2002_0347en01.pdf
Davis, Andrew N. and Humes, Stephen J., (2004), “Environmental Disclosures After Sar-
banes Oxley”, Practical Lawyer, June 2004, Vol. 50 Issue 3.
Global Reporting Initiative, (2002), Sustainability Reporting Guidelines, [online, accessed on
Sept 17th, 2004] on www.globalreporting.org
Grant, Robert M., (2002), Contemporary Strategy Analysis; Concepts, Techniques, Applica-
tions 4th ed., Blackwell Publishing, Malden
Institute for Global Ethics, (2002), Europe Tackles Corporate Social Responsibility, [online,
accessed on Sept 11th, 2004] on www.globalethics.org/newsline
Jayne, Vicky (2004), “Social Responsibility; Corporate Philanthropy”, New Zealand Man-
agement, Sept, 2004
Jericho Communication, (2002), Survey Finds that Since 9/11 Fortune 1000 CEOs May Be
Thinking About CSR More But Are Reluctant To Open Their Wallets, [online, ac-
cessed on Sept 20th, 2004] on http://www.jerichopr.com/releases/jericho3.htm

44 SINERGI Vol. 6 No. 2, 2004


Implementasi Corporate Social Responsibility sebagai Keunggulan Kompetitif Perusahaan

McGeer, Bonnie, (2004), What It Takes to Win Respect from World's CEOs”, American
Banker, Aug 17, 2004, Vol.169, Issue 158
Perera, Luis, (2004), The Fourth Financial Statement: A New Way of Measuring the Effec-
tiveness of Corporate Sustainability Programs [online, accessed on Spet 20, 2004] on
http://www.pwcglobal.com/extweb/newcolth.nsf/docid/10D34CA385D8D4268525
6EFA00628791
Raiborn, Cecily et.al., (2003), “Corporate Philantrophy: When Is Giving Effective?”, Wiley
Periodicals, Inc.
Rayner, J., (2003), “Managing Reputational Risk”, Wiley Periodicals, Inc.
Schyndel, Zoë van, (2004), “Greening the Money Machine”, Barron’s, July 26, 2004 Vol 84,
Issue 30
Smith, N. Craig, (2003), “Corporate Social Responsibility: Whether or How?”, California
Management Review, Summer, Vol 45 Issue 4
Sonnenstein, Sonny and Blaser, Lou (2004), Integrity Driven Perfomance; A New Strategy
for Success – Part #3, [online, accessed on Sept 20th, 2004] on
http://www.pwcglobal.com/extweb/newcolth.nsf/DocID/8143BF429195597585256
EF9006EBA8B
Starbucks, (2003), Living Our Values; Corporate Social Responsibility Fiscal 2003 Annual
Report, [online, accessed on Sept 20th, 2004] on
www.starbucks.com/aboutus/CSR_FY03_AR.pdf
Thiess, (2003), Working Towards Sustainability Everyday; Sustainability Report 2002/2003,
[online, accessed on June 4, 2004] on www.thiess.com.au
UK Government Department of Trade and Industry, (2002), Business and Society; Corporate
Social Responsibility Report 2002, [online, accessed on Sept 17th, 2004] on
www.dti.gov.uk
Verschoor, Curtis C., (2004), “Integrity is a Strategy for Performance”, Strategy Finance,
July 2004 Vol 86 Issue 1
World Bank Institute, (2002), Corporate Social Responsibility; Main Elements of CSR,
[online, accessed on Sept 17th , 2004] on
http://www.worldbank.org/wbi/corpgov/csr/pdf/csr_diamond.pdf
World Bank Institute, (2002), Integrating CSR into Corporate Strategy, [online, accessed on
Sept 17th, 2004] on http://www.worldbank.org/wbi/corpgov/csr/pdf/csr_integrating.pdf
World Business Council for Sustainable Development, (2000), Meeting Changing Expecta-
tions; Corporate Social Responsibility, [online, accessed on Sept 9th, 2004] on
www.wbcsd.ch.
World Business Council for Sustainable Development, (2002), Corporate Social Responsi-
bility; The WBCSD’s Journey, [online, accessed on Sept 9th, 2004] on
www.wbcsd.ch.

SINERGI Vol. 6 No. 2, 2004 45


Arief Rahman

World Economic Forum, (2003), Responding to the Challenge: Findings of a CEO Survey on
Global Corporate Citizenship, [online, accessed on Sept 11th, 2004] on
www.weforum.org/corporatecitizenship
World Economic Forum, (2003), Global Corporate Citizenship, The Leadership Challenge
for CEO and Boards, [online, accessed on Sept 11th, 2004] on
www.weforum.org/corporatecitizenship

46 SINERGI Vol. 6 No. 2, 2004