Anda di halaman 1dari 26

Halaman Judul

MANAJEMEN PRODUKSI PT. SIDOMUNCUL


SEMARANG

LAPORAN KULIAH KERJA LAPANGAN


Disusun Sebagai Salah Satu Syarat Untuk Menempuh Ujian Skripsi
Pada Program Studi Manajemen Fakultas Ekonomi Dan Bisnis
Universitas Ialam Nahdlatul Ulama Jepara
Disusun oleh:
Nama : Akhmad Imron
NIM : 131110000906

PROGRAM STUDI MANAJEMEN


FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS
UNIVERSITAS ISLAM NAHDLATUL ULAMA
(UNISNU) JEPARA
2015
1

Halaman Pengesahan

MANAJEMEN PRODUKSI PT.SIDO MUNCUL


Perusahaan PT. SIDO MUNCUL
TAHUN 2015
Laporan Kuliah Kerja Lapangan Ini Telah Disetujui Oleh Pembimbing
Pada Hari .... Tanggal Bulan. Tahun 2015
Di Fakultas Ekonomi dan Bisnis UNISNU Jepara
Nama Mahasiswa

: Akhmad Imron

NIM

: 131110000906

Konsentrasi

: Manajemen Produksi

Program Studi

: Manajemen

Mengetahui,
Ka. Prodi Manajemen

Hadi Ismanto, SE., MM.


NIY. 1 801229 11 075

Dosen Pembimbing KKL

A. Khoirul Anam S.E., M.Si


NIY. 1 800421 06 041

KATA PENGANTAR
Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT, yang mana telah memberikan
Rahmat, Hidayah, Serta Ridho-Nya, sehingga laporan KKL (Kuliah Kerja Lapangan) di PT.
SIDO MUNCUL Semarang ini dapat penulis selesaikan dengan baik dan lancar.
Tidak lupa penulis mengucapkan terima kasih kepada pihak-pihak yang telah membantu
dalam menyelesaikan laporan KKL (Kuliah Kerja Lapangan), yang tidak mungkin saya tulis
satu-persatu dalam laporan KKL ini. Penulis mengucapkan terima kasih, diantaranya kepada:
1. Bapak Moch. Imron, S.E., M.M. selaku Dekan Kampus Fakultas Ekonomi dan Bisnis
2. Bapak Hadi Ismanto S.E., MM. selaku Prodi FEB Manajemen
3. Bapak A. Khoirul Anam, S.E., M.Si. selaku dosen pembimbing dalam Kuliah Kerja
Lapangan
4. Bapak dan Ibu dosen UNISNU Jepara, yang mana telah memberikan motivasi kepada
penulis
5. Untuk Kedua orang tua dan istri tercinta yang selalu mendoakan dan memberikan
semangat kepada penulis.
6. Teman-teman di UNISNU yang telah membantu dalam penulisan KKL ini.
Saya menyadari bahwa laporan KKL (Kuliah Kerja Lapangan) ini masih banyak
kekurangan dan masih jauh dari kata sempurna. Penulis berharap agar laporan ini dapat
memberikan manfaat serta menambah pengetahuan baik bagi penulis pada khususnya dan bagi
para pembaca pada umumnya.

Jepara, Februari 2015


Hormat Penulis

Akhmad Imron

DAFTAR ISI

Halaman Judul......................................................................................................................i
Halaman Pengesahan...........................................................................................................ii
KATA PENGANTAR.........................................................................................................iii
DAFTAR ISI.......................................................................................................................iv
DAFTAR GAMBAR..........................................................................................................vi
BAB I PENDAHULUAN...................................................................................................1
1.1. Latar Belakang..........................................................................................................1
1.2. Tujuan.......................................................................................................................2
1.3 Kegunaan Penyusunan KKL......................................................................................2
BAB II TINJAUAN PUSTAKA.........................................................................................3
2.1. Pengertian Produksi..................................................................................................3
2.2. Pengertian Sistem Produksi......................................................................................4
2.3. Faktor-Faktor Produksi.............................................................................................4
2.4. Pengertian Proses Produksi.......................................................................................6
2.5. Kegiatan Produksi.....................................................................................................7
BAB III HASIL DAN PEMBAHASAN...........................................................................10
3.1. Profil Perusahaan....................................................................................................10
3.1.1. Sejarah Perusahaan..........................................................................................10
3.1.2. Lokasi Perusahaan...........................................................................................11
3.1.3. Visi dan Misi Perusahaan.................................................................................11
3.2. Gudang Bahan Baku...............................................................................................12
3.3. Proses Produksi.......................................................................................................13
3.3.1. Gambar Proses Pembuatan Jamu.....................................................................13
3.3.2. Proses Pembuatan Jamu...................................................................................14
3.4. Proses Pengemasan Jamu.......................................................................................16
3.4.1. Bahan Pengemas..............................................................................................16
3.4.2. Cara Pengemasan Jamu...................................................................................16
3.5. Gudang Penyimpanan Barang Jadi.........................................................................17
BAB IV PENUTUP...........................................................................................................19
4

4.1. Kesimpulan.............................................................................................................19
4.2. Saran.......................................................................................................................19
DAFTAR PUSTAKA.........................................................................................................21

DAFTAR GAMBAR
Gambar 1 Proses Pembuatan Jamu....................................................................................13

BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Jamu merupakan warisan nenek moyang yang dipercaya dapat
mencegah dan menyembuhakan berbagai penyakit. Selain itu kelebihan dari
pengobatan menggunakan ramuan tumbuhan tradisional tersebut ialah tidak
ada efek samping yang ditimbulkan seperti yang sering terjadi pada
pengobatan kimiawi. Oleh karena itu pemanfaatan jamu harus tetap
dilestarikan. Akhir-akhir ini jamu semakin diminati oleh kalangan masyarakat
dimana masyarakat semakin sadar dalam memilih produk yang aman, murah
dan mudah didapatdan bersifat natural atau sedikit mengandung bahan-bahan
kimia sintetis. Selain itu masyarakat juga menginginkan pola konsumsi
makan, minum, dan pengobatan secara alami atau biasa disebut dengan back
to nature.
Dengan kemajuan teknologi dan ilmu pengetahuan, jamu telah
diproduksi dalam bentuk yang praktis misalnya pil, kapsul, parem dan dalam
bentuk cair. Berbeda dengan dulu dimana jamu hanya diproduksi dalam
bentuk rajangan atau serbuk saja. Bentuk-bentuk jamu sekarang ini dibuat
lebih

praktis,

hal

ini

bertujuan

agar

konsumen

lebih

mudah

mengkonsumsinya.
PT. Sido Muncul tampil sebagai pelopor perusahaan jamu yang
melakukan pendekatan klinis dan penelitian sehingga posisi jamu bisa sejajar
dengan obat keluaran pabrik farmasi. PT. Sido Muncul telah berhasil
mengubah paradigma masyarakat mengenai jamu dan obat tradisional.
Masyarakat indonesia kini dapat memperoleh khasiat jamu yang bisa
dipertanggungjawabkan secara ilmiah dan diproduksi secara baik dan benar.

1.2. Tujuan
Tujuan dari penyusunan laporan KKL (Kuliah Kerja Lapangan)
adalah untuk mengetahui bagaimana proses produksi jamu yang dilakukan
oleh PT. Sido Muncul Semarang
1.3 Kegunaan Penyusunan KKL
Setelah menyelesaikan penyusunan laporan KKL, diharapkan penulis
mampu melakukan hal-hal berikut, yaitu:
1) Mampu menyusun dan menulis suatu karya ilmiah
2) Mampu memaparkan secara spesifik proses kegiatan yang telah
dilakukan
3) Mampu mengaplikasikan ilmu yang telah dipelajari

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Pengertian Produksi
Setiap bidang kegiatan pasti memiliki suatu tujuan, begitupun dengan
kegiatan produksi juga tidak terlepas dari suatu tujuan. Kegiatan produksi
merupakan suatu bagian dari aktivitas suatu perusahaan dimana didalamnya
terdapat proses pengolahan yang dimulai dari bahan baku menjadi barang
atau jasayang mempunyai nilai ekonomis sehingga dapat mendatangkan
manfaat bagi penggunanya. Selain itu, hasil dari penjualan produk dari hasil
produksi bisa mendatangkan laba, dimana laba adalah salah satu hal yang
menjadi tujuan dari perusahaan itu sendiri.
Produksi adalah suatu kegiatan atau proses yang mengubah masukan
(input) menjadi keluaran (output). Proses produksi merupakan serangkaian
metode dan teknologi yang digunakan dalammemproduksi barang dan jasa.
Siklus produksi merupakan rangkaian aktivitas bisnis dan operasi pemrosesan
data terkait dengan pembuatan produk.
Sedangkan definisi lain mengungkapkan bahwa produksi adalah suatu
proses mengubah input menjadi output sehingga nilai barang tersebut
bertambah. Input dapat berupa barang atau jasa yang digunakan dalam proses
produksi, sedangkan output adalah barang atau jasa yang dihasilkan dari suatu
proses produksi (Adiningsih, 1999).
Aktivitas produksi akan lebih baik jika dilakukan setelah analisis
perilaku konsumen terhadap produk yang akan dihasilkan oleh suatu
perusahaan. Hal ini dapat menghasilkan produk yang sesuai keinginan dan
kebutuhan pasar. Dengan analisis tersebut diharapkan mampu menciptakan
produk yang tidak hanya memberikan manfaat bagi kebutuhan masyarakat
tetapi juga dapat mendatangkan kepuasan bagi konsumen dari produk yang
dihasilkan oleh perusahaan tersebut.

2.2. Pengertian Sistem Produksi


Sistem produksi merupakan suatu sistem keterkaitan komponen satu
(input) dengan komponen lain (output) dan juga menyangkut prosesnya
terjadi interaksi antara satu dengan yang lainnyauntuk mencapai suatu tujuan.
Komponen sistem produksi adalah input, proses dan output. Sistem produksi
dapat didefinisikan yaitu suatu jadwal dapat berupa tabel ataupun persamaan
sistematis untuk menggambarkan jumlah output maksimum yang dapat
dihasilkan dari satu fatkor produksi tertentu, dan pada tingkat teknologi
tertentu pula. Singkatnya fungsi produksi adalah katalog dari kemungkinan
hasil produksi (Sudarman, 2004).
Setiap perusahaan mempunyai sistem produksi yang berbeda-beda.
Hal ini terjadi sesuai dengan kebutuhan perusahaan juga dan sumber daya
yang tersedia. Hal ini mendorong perbedaan komponen dari sistem produksi
antara perusahaan satu dengan perusahaan lainnya. Komponen input
diantaranya yaitu modal, tanah, tenaga kerja, manajemen, energi, informasi
dan sebagainya yang berperan menjadi komponen bahan baku dari suatu
produk. Sedangkan komponen proses dengan penerapan langkah-langkah
yang harus dilakukan untuk mentransformasikan nilai tambah dari input ke
output adalah meliputi pengendalian input. Komponen yang berkaitan output
adalah barang atau jasa yang dihasilkan oleh suatu perusahaan.
2.3. Faktor-Faktor Produksi
Kegiatan produksi memerlukan unsur-unsur yang dapat digunakan
dalam proses produksi yang disebut faktor produksi. Faktor produksi yang
bisa digunakan dalam proses produksi terdiri dari sumber daya alam, tenaga
kerja manusia, modal dan kewirausahaan.
A. Faktor Produksi Sumber Daya Alam
Yang merupakan faktor produksi sumber daya alam yaitu:
Tanah dan keadaan alam
Kekayaan hutan
Kekayaan yang terdapat dalam tanah (tambang)
Kekayaan air

B. Faktor Produksi Tenaga Kerja Manusia


Faktor produksi tenaga kerja manusia dibedakan menjadi 2 yaitu:
1) Tenaga kerja Rohani, yaitu kegiatan kerja yang lebih banyak
menggunakan kegiatan pikiran yang produktif dalam produksi.
Contoh: kerja para pemimpin
2) Tenaga kerja jasmani, yaitu segala kegiatan yang lebih banyak
menggunakan

kegiatan

pelaksanaan

yang

produktif

dalam

produksi. Faktor produksi ini dibagi menjadi tiga yaitu:


Skilled labour / tenaga kerja terdidik yaitu tenaga kerja
yang memerlukan pendidikan khusus.
Trained labour / tenaga kerja terlatih yaitu tenaga kerja
yang tidak memerlukan latihan dan pengalaman terlebih
dahulu.
Unskilled labour / tenaga kerja tidak terdidik yaitu tenaga
kerja yang tidak memerlukan pendidikan dan latihan
terlebih dahulu.
C. Faktor Produksi Modal
Faktor produksi modal meliputi:
1) Benda modal /capital goods, terdiri dari:
Modal tetap / fixed capital, yaitu setiap benda yang dapat
dipergunakan lebih dari satu kali dalam proses produksi. Misal :
mesin-mesin dan bangunan kantor.
Modal lancar / variabel capital , yaitu setiap benda yang hanya
dapat dipergunakan sekali dalam proses produksi.
Modal uang (capital of money)
2) Faktor skill, terdiri dari:
Managerial skill, yaitu keahlian dalam mengorganisasi faktorfaktor produksi dan kemampuan menggunakan teknik-teknik serta
metode-metode baru dalam proses produksi.
Technological skill, yaitu keahlian khusus dalam hal teknik
ekonomi yang diperguanakan dalam kegiatan ekonomi dan
produksi.
Organasation skill, yaitu keahlian mengatur berbagai usaha
perusahaan.

2.4. Pengertian Proses Produksi


Proses diartikan sebagai suatu cara, metode dan teknik bagaimana
sesungguhnya sumber-sumber (tenaga kerja, mesin, bahan dan dana) yang
ada diubah untuk memperoleh suatu hasil. Produksi adalah kegiatan untuk
menciptakan atau menambah kegunaan barang atau jasa (Assouri, 1995).
Proses juga diartikan sebagai cara, metode ataupun teknik bagaimana produk
itu dilaksanakan. Produksi adalah kegiatan untuk menciptakan dan menambah
kegunaan (utility) suatu barang dan jasa. Menurut (Ahyari, 2002) proses
produksi adalah suatu cara, metode ataupun teknik menambah kegunaan
suatu barang dan jasa dengan menggunakan faktor produksi yang
ada.Penentuan tipe produksi didasarkan pada faktor-faktor seperti:
a) Volume atau jumlah produk yang akan dihasilkan.
b) Kualitas produk yang diisyaratkan
c) Peralatan yang tersedia untuk melaksanakan proses
Berdasarkan pertimbangan cermat mengenai faktor-faktor tersebut
ditetapkan tipe proses produksi yang paling cocok untuk setiap situasi
produksi. Menurut (Yamit, 2002)macam-macam tipe proses produksi dari
berbagai industri dapat dibedakan sebagai berikut:
a) Proses produksi terus-menerus, yaitu proses produksi barang atas dasar
aliran

produk

dari

satu

operasike

operasi

berikutnya

tanpa

penumpukan disuatu titik dalam proses. Industri yang cocok dengan


tipe produksi ini yang memiliki karakteristik yaitu output direncanakan
dalam jumlah besar, variasi atau jenis produk yang dihasilkan rendah
produk bersifat standar.
b) Proses produksi terputus-putus, yaitu produk diproses dalam kumpulan
produk bukan atas dasar aliran terus-menerus dalam proses produk ini.
Perusahaan yang menggunakan tipe produksi ini biasanya terdapat
sekumpulan atau lebih komponen yang akan diproses atau menunggu
untuk diproses, sehingga lebih banyak memerlukan persediaan barang
dalam proses.

c) Proses produksi campuran, yaitu proses produksi yang merupakan


penggabungan dari proses produksi terus-menerus dengan proses
produksi terputus-putus. Penggabungan ini digunakan berdasarkan
kenyataan bahwa setiap perusahaan berusaha untuk memanfaatkan
kapasitas secara penuh.
2.5. Kegiatan Produksi
Kegiatan produksi adalah upaya mengubah bentuk suatu benda
kedalam bentuk yang lebih baik daripada bentuk semula. Sedangkan produksi
adalah usaha/kegiatan manusia untuk menambah, mempertinggi, menciptakan
nilai guna suatu barang/jasa sehingga dapat memenuhi kebutuhan hidup
manusia. Kegiatan produksi dibedakan menjadi sebagai berikut:
a) Perencaan produksi
Perencanaan produksi meliputi keputusan yang menyangkut
dan berkaitan dengan masalah-masalah pokok yang meliputi jenis dan
jumlah barang yang akan dibuat serta cara pembuatan (penggunaan
peralatan yang dipakai)
b) Organisasi produksi
Dalam perusahaan manufaktur, tanggung jawab untuk
memproduksi barang berada pada bagian produksi yang mana
didalamnya terdapat para ahli dalam perencanaan supervisi atau
pelaksanaan dalam proses produksi. Besarnya organisa produksi yang
diperlukan tergantung besarnya perusahaan dan kompleksnya proses
pengolahan yang diinginkan.
c) Pengendalian persediaan bahan baku
Perusahaan selalu menghendaki jumlah persediaan yang cukup
agar jalannya produksi tidak terganggu. Persediaan dalam jumlah
besar mengandung beberapa resiko seperti:
Resiko hilang dan rusak
Biaya pemeliharaan dan pengawasan
Resiko usang
Jumlah persediaan tepat dapat ditentukan dengan jalan
menghitung jumlah persediaan paling ekonomis. Sedangkan jumlah

ekonomis dipengaruhi oleh pemesanan. Jumlah pemesanan yang


ekonomis dipengaruhi oleh 4 faktor sebagai berikut:
Jumlah kebutuhan bahan baku per tahun
Biaya pemesanan
Biaya penyimpanan
Harga bahan baku
d) Pemeliharaan peralatan
Dibidang aktivitas produksi, fungsi

pemeliharaan

dari

perbaikan peralatan sangat memegang peralatan penting. Apabila hal


ini diabaikan, maka perusahaan akan kerugian yang tidak kecil. Untuk
mencegah kerugian tersebut terdapat dua sistem dalam mengorganisai
pemeliharaan yaitu:
Desentralisasi menurut biaya atau departemen, yaitu masingmasing bagian atau departemen memiliki seksi pemeliharaan
tersendiri.
Sentralisasi, yaitu dalam perusahaan hanya terdapat satu bagian
yang khusus menangani perbaikan dan pemeliharaan peralatan.
e) Pengawasan kualitas dan inspeksi
Pengawasan kualitas dan inspeksi tidak hanya menyangkut
tentang barangnya saja, tetapi menyangkut pula kebijakan kualitas
sesuai dengan tuntutan pasar, kebutuhan investasi, kemampuan
menghasilkan barang kembali, dan persaingan.

BAB III
HASIL DAN PEMBAHASAN
3.1. Profil Perusahaan
3.1.1. Sejarah Perusahaan
Memproduksi jamu ternyata bukanlah bisnis awal yang dirintis
oleh pasangan Bapak Siem Thian Hie (lahir 28-01-1897, wafat 12-041976) dan ibu Go Djing Nio (lahir 13-08-1897, wafat 14-02-1983).
Sebelumnya pasangan ini pernah membuka usaha Milkrey yaitu usaha
pemerahan susu yang besar di Ambarawa. Pada tahun 1928 terjadi
perang Malese yang melanda dunia. Akibat perang ini, usaha Melkrey
yang mereka rintis terpaksa gulung tikar dan mengharuskan mereka
pindah ke Solo pada tahun 1930. Tanpa menyerah, pasangan ini
kemudian memulai usaha toko roti dengan nama Roti Muncul. Lima
tahun kemudian, berbekal kemahiran Ibu Go Djing Nio dalam
mengolah jamu dan rempah-rempah, pasangan ini memutuskan untuk
membuka usaha jamu di Yogyakarta.
Pada tahun 1941, mereka memformulasikan Jamu Tolak Angin
dengan nama Jamu Tujuh Angin. Saat perang kolonial Belanda yang
kedua pada tahun 1949, mereka mengungsi ke Semarang dan
mendirikan usaha jamu dengan nama Sido Muncul, yang artinya impian
yang terwujud. Di Jalan Mlaten Trenggulun No. 104 itulah usaha jamu
rumahan dimulai.
Banyaknya permintaan terhadap kemasan jamu yang lebih
praktis, mendorong mereka untuk memproduksi Jamu Tolak Angin
dalam bentuk yang praktis (serbuk). Produk ini mendapat tempat di hati
masyarakat sekitar dan permintaannya pun semakain meningkat. Dalam
perkembangannya, pabrik tersebut ternyata tidak mampu lagi
memenuhi kapasitas produksi yang besar.

Karena permintaan pasar yang semakain tinggi, generasi kedua


Desy Sulistio, memutuskan untuk memindahkan pabrik ke Lingkungan
Industri Kecil di Jalan Kaligawe Semarang pada tahun 198. Kemudian
dimulai pembangunan pabrik yang dilengkapi dengan fasilitas modern,
hingga bisa berkembang pesat seperti saat ini, dan menjadi pelopor
perusahaan jamu dengan standar farmasi.
3.1.2. Lokasi Perusahaan
Lokasi PT. Sido Muncul terletak di Jalan Soekarno-Hatta KM. 28
kecamatan Bergas Klepu, Semarang 50552. PT. Sido Muncul
mempunyai luas tanah 29 Ha dengan luas bangunan kurang lebih 7 Ha.
Selain sebagai tempat pelaksanaan produksi, di lokasi pabrik Sido
Muncul juga terdapat Agrowisata seluas 4 Ha, yang ditanami berbagai
jenis tanaman obat, termasuk tanaman langka yang hampir punah.
Lokasi PT. Sido Muncul yang terletak di jalan Solo Semarang
yang merupakan pusat industri yang strategis maka memungkinkan
proses pemasaran yang lebih cepat. Selain itu juga mendatangkan
keuntungan lain bagi perusahaan yaitu perusahaan lebih mudah
mendapatkan sumber tenaga kerja.
3.1.3. Visi dan Misi Perusahaan
Visi:
Menjadi industri jamu yang dapat memberikan manfaat pada
masyarakat dan lingkungan.
Misi:
a) Mengembangkan produk-produk berbahan baku herbal yang
rasional, aman dan jujur berdasarkan penelitian.
b) Mengembangkan penelitian obat-obat herbal secara
berkesinambungan.

10

c) Membantu dan mendorong pemerintah, institusi pendidikan,


dunia kedokteran agar lebih berperan dalam penelitian dan
pengembangan obat dan pengobatan herbal.
d) Meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya
membina kesehatan melalui pola hidup sehat, pemakaian
bahan-bahan alami, dan pengobatan secara naturopati.
e) Melakukan Corporate Social Responsibility (CSR) yang
intensif.
f) Mengelola perusahaan yang berorientasi ramah lingkungan.
g) Menjadi perusahaan obat herbal yang mendunia.
3.2. Gudang Bahan Baku
Gudang penyimpanan bahan baku di PT. Sido Muncul terdiri dari 2
bagian, yaitu gudang simplisia dan gudang non simplisia. Gudang simplisia
berfungsi sebagai tempat untuk menyimpan bahan baku yang akan diproses.
Sedangkan gudang non simplisia berfungsi sebagai tempat persediaan bahan
baku siap pakai untuk tambahan produk seperti gula, krimer, susu dll.
Didalam gudang simplisia terdapat sekitar 160 jenis bahan baku
yang digunakan oleh PT. Sido Muncul dalam proses produksinya. Bagian
bahan yang diambil meliputi akar, rimpang, daun, bunga, buah dan biji.
Kesemua bahan baku tersebut diperoleh dengan cara menenam dan
mengembangkan tanaman yang berkhasit sebagai bahan obat dengan
menanamnya sendiri diperkebunan dan kerjasama dengan para petani dalam
bentuk kemitraan. Selain itu PT. Sido Muncul memperoleh bahan baku
dengan cara mengimpor bahan jamu yang tidak diperoleh di Indonesia.
Disamping itu, sebagian bahan baku yang digunakan dalam pembuatan
jamu dipasok dari supplier yang berasal dari daerah Tawangmangu- Jawa
Tengah. Hal ini disebabkan karena kuantitas dan kualitas produk bahan baku
dari daerah tersebut sangat baik dan sesuai dengan standar kualitas mutu di
PT. Sido Muncul.

11

3.3. Proses Produksi


3.3.1. Gambar Proses Pembuatan Jamu
Bahan Baku Mentah

Disortasi

Pencucian

Pengovenan

Bahan Baku Matang

Disimpan di Gudang Bahan Baku

Penggilingan I

Diekstrak

Penggilan II

Pembuatan Jamu Berdasarkan Standar CPOB

Pengayakan

Ampas

Pembuatan Jamu Berdasarkan CPOB


Pengemasan

Pengemasan
Jamu Cair
Jamu Serbuk

Gambar 1 Proses Pembuatan Jamu

12

3.3.2. Proses Pembuatan Jamu


Secara Umum proses produksi yang dilakukan PT. Sido Muncul
melalui beberapa tahap yang mengikuti prinsip FIFO (First In First
Out). Setiap langkah produksi yang dilakukan oleh PT. Sido Muncul
mengikuti standar CPOB (Cara Pembuatan Obat yang Baik). Adapun
proses pembuatan jamu PT. Sido Muncul adalah sebagai beikut:
a) Tahap Persiapan Bahan Baku
Bahan baku yang diperoleh dari supplier disortir terlebih
dahulu untuk dipilah-pilah sesuai jenisnya, hal ini dikarenakan
bahan baku pembuatan jamu mayoritas bentuk dan warna kulitnya
hampir sama. Selain itu hal tersebut juga bertujuan untuk
memilah-milah bahan yang dipakai atau yang layak pakai.
b) Tahap Pencucian Bahan
Bahan baku yang sudah dipilah-pilah, selanjutnya akan
dicuci dengan bersih.
c) Tahap Pengovenan
Setelah bahan baku dicuci bersih, maka bahan baku
tersebut segera dioven untuk mengurangi kadar air yang
terkandung didalam bahan. Sehingga bahan tersebut mampu
mempunyai daya tahan yang panjang. Setelah proses pengovenen
selesai maka sebagian bahan baku yang dihasilkan dari proses
pengovenan akan disimpan dalam gudang bahan baku, sedangkan
sebagian lagi dapat segera diproses.
d) Tahap Penggilingan I
Setelah bahan baku dioven, maka bahan tersebut akan
menjadi kering sebab kandungan air yang terkandung didalam
bahan sudah berkurang sehingga sifat bahan menjadi kering dan
mudah untuk digiling.
e) Tahap Penggilingan II
Pada tahap penggilingan II ini, bahan yang digunakan
dalam pembuatan obat cair dan serbuk dibedakan. Untuk
memproduksi jamu serbuk, maka setelah bahan digiling pada

13

tahap pertama kemudian


kedua.
f) Tahap Pengayakan
Proses pengayakan

akan diperhalus lagi melalui tahap

ini

hanya

digunakan

untuk

memproduksi jamu serbuk saja. Setelah bahan digiling, maka


bahan akan diayak dengan ayakan yang berukuran 30 mesh.
g) Tahap Pembuatan Jamu
Ada beberapa cara pembuatan jamu di PT. Sido Muncul,
tergantung dari jenis bahan baku yang digunakan dan jenis fisik
jamu yang akan dibuat. Proses pembuatan jamu antara lain
sebagai berikut:
Proses pembuatan jamu serbuk
Proses pembuatan jamu cair
Proses pembuatan jamu dari daun dan akar-akaran
Proses pembuatan jamu instan dari empon-empon
Proses pembuatan jamu pil
Proses pembuatan jamu kapsul
Proses pembuatan jamu tablet
Proses pembuatan jamu di PT. Sido Muncul terkenal
dengan sebutan CPOB (Cara Pembuatan Jamu yang Baik).
h) Tahap Pengemasan
Jamu yang sudah dibuat kemudian dikemas ke dalam
pengemas yang sudah tersedia. Biasanya pengemasan jamu ini
memiliki ruang tersendiri, sebab jamu merupakan produk yang
rentan terhadap kontaminasi.
i) Tahap Pengepakan
Setelah produk jamu dikemas, kemudian produk jamu
dimasukkan ke dalam kardus yang disesuaikan dengan jenis
produk jamunya. Kemudian kardus ditutup rapat dan diberi kode
dan dicantumkan kode kadaluwarsa. Untuk selanjutnya produk
jamu tersebut disimpan di dalam gudang penyimpanan produk.

14

3.4. Proses Pengemasan Jamu


3.4.1. Bahan Pengemas
Produk jamu yang diproduksi PT. Sido Muncul pada
umumnya dikemas dengan menggunakan plastik Metalize (plastik
tipis yang berlapis laminates dengan logam atau alumunium).
Sehingga pengemas bagian dalam terlihat lebih mengkilap. Plastik
Metalize ini lebih sulit menyerap air, minyak dan udara bila
dibandingkan dengan menggunakan kertas ersat (perkamen)
sehingga

dapat

meningkatkan

mutu

produk,

memperbaiki

penampilan dan menarik minat konsumen tanpa meningkatkan harga


jual karena biaya produksinya dibuat tetap. Keuntungan lain dari
penggunaan kertas plastik Metalize antara lain kertas plastik tersebut
dapat langsung diberi label, sehingga tidak memerlukan kemasan
luar. Hal tersebut sesuai dengan tujuan pengemasan sendiri sebagai
media iklan dimana kemasan yang menarik mendorong konsumen
agar menkonsumsi produk tersebut. Disamping itu kemasan tersebut
didesian dengan warna dan gambar meriah sehingga gambar dan
warna

tersebut

mencerminkan

keberadaan

perusahaan

yang

memproduksinya. Kemasan juga memberikan sejumlah informasi


pada konsumen mengenai bahan baku, tanggal kadaluarsa, status
halal atau ada tidaknya yang disesuaikan dengan syarat Depkes RI.
Keterangan tersebut harus dibuat sesuai dengan keadaan yang
sebenar-benarnya dengan menjamin konsumen akan mutu dari
produk yang dihasilkan.
3.4.2. Cara Pengemasan Jamu
Proses pengemasan jamu di PT. Sido Muncul biasanya
berdekatan dengan ruang pengemasan. Kedua proses ini biasanya
berada pada ruangan tertutup dan ruangan ini bersuhu 26 oC atau
mendekati suhu kamar dimana kondisinya sesuai untuk proses
tersebut. Kelembaban ruangan 78%. Hal ini dikarenakan agar

15

mikroba yang terdapat pada ruangan tersebut dapat dinonaktifkan,


sehingga produk tidak akan mudah terkontaminasi. Produk jamu
yang sudah jadi dan hendak dikemas, biasanya dimasukkan terlebih
dahulu ke mesin pengisi serbuk yang mempunyai kapasitas kurang
lebih 4 kg. Begitu pula dengan kemasannya yaitu kertas plastik
metalize juga dimasukkan ke dalam mesin pengisi serbuk. Setelah
itu mesin akan bergerak secara otomatis dan produk yang keluar
dari mesin per kantong atau per kemasan sudah mempunyai berat
yang sama.
Penutupan kertas plastik metalize menggunakan mesin
pengelas. Temperatur yang digunakan untuk menutup plastik ini
berkisar antara 90oC 100oC, karena jika lempeng besi terlalu
panas maka plastik tersebut dapat meleleh dengan sendirinya .
Sebaliknya jika suhu kurang panas, plastik tidak bisa menutup atau
menempel secara sempurna. Sehingga untuk mengatasi hal
tersebut, apabila lempeng besi sudah terlalu panas maka lempeng
besi akan disikat dengan air. Untuk itu pada mesin pengelas harus
diatur agar proses penutupan yang berdasarkan daya leleh plastik
dapat maksimal. Disamping itu, perekatan dengan waktu yang lebih
lama dari prosedur membuat kemasan hancur dan menghilangkan
fungsi dari kemasan tersebut. Setelah proses pengemasan selesai,
biasanya para karyawan menyimpan produk jamu-jamu tersebut ke
dalam kardus dan siap untuk disimpan di dalam gudang. Pada
proses pengepakan ini dilakukan secara manual oleh para pekerja.
3.5. Gudang Penyimpanan Barang Jadi
Produk jamu yaang sudah dikemas dalam kardus disimpan dalam
gudang penyimpanan barang jadi. Penyimpanan/penggudangan dilakukan
diruangan tertutup dengan pencahayaan yang cukup dan dengan suhu yang
sesuai dengan suhu kamar. Gudang penyimpanan barang jadi ini dibuat
berpetak-petak dimana setiap petaknya diberi alas kayu. Hal ini bertujuan

16

agar produk tidak bersentuhan langsung dengan lantai sehingga dapat


mengurangi kerusakan pada produk

yang diakibatkan oleh jamur atau

bakteri. Sebab suhu ruang didaerah tersebut

terhitung rendah bila

dibandingkan dengan daerah-daerah lainnya. Disamping itu hal tersebut juga


mempermudah pengambilan produk dengan menggunakan forklip. Produk
yang disimpan dalam gudang akan diberi penutup agar produk tidak rusak
apabila terjadi kebocoran pada ruang penyimpanan. Penutup ini biasanya
berupa terpal yang dibentangkan diatas tumpukan kardus-kardus.

17

BAB IV
PENUTUP
4.1. Kesimpulan
Dari penjelasan diatas dapat disimpulkan bahwa produk-produk jamu
yang dihasilkan oleh PT. Sido Muncul adalah produk yang aman bagi
konsumen karena telah dilakukan penelitian secara intensif. Penelitian yang
dilakukan meliputi proses produksi yang baik, standardisasi, keamanan dan
uji khasiat produk-produk Sido Muncul. Semua itu dilakukan untuk
mendapatkan kepastian tentang khasiat dan keamanan produk bagi konsumen.
Dengan penelitian yang intensif, PT. Sido Muncul dapat menghasilkan
produk-produk yang aman, baik dan dapat dipertanggungjawabkan.
PT. Sido Muncul telah mendapatkan dua sertifikat dari Departemen
Kesehatan yaitu Cara Pembuatan Obat Tradisional yang Baik (CPOTB) dan
Cara Pembuatan Obat yang Baik (CPOB) setara dengan farmasi. Sertifikat
inilah yang menjadikan PT. Sido Muncul sebagai satu-satunya pabrik jamu
berstandar farmasi. Ini berarti posisi jamu setara dengan obat yang terbukti
dapat diuji secara klinis keabsahan dan keilmihannya sebagai obat.
Laboratorium PT. Sido Muncul juga telah dilengkapi sertifikat ISO 17025 dan
secara rutin melakukan pembaharuan di hardware dan software-nya.
Beberapa laboratorium PT. Sido Muncul yaitu:

Laboratorium Formulasi
Laboratorium Mikrobiologi
Laboratorium Kimia
Laboratorium Instrumentasi
Laboratorium Uji Stabilitas

4.2. Saran
PT. Sido Muncul umtuk selalu melakukan penelitian tentang obat
tradisional dan jamu herbal karena penelitian itu tidak ada batasnya serta
selalu meningkatkan kreativitas SDM (Sumber Daya Manusia) karena
peralatan yang lengkap tidak akan menghasilakan apa-apa tanpa kreativitas

18

manusia saat menggunakannya: apa yang diteliti, bagaimana menelitinya,


bagaimana mengembangkannya dan sebagainya agar kepercayaan masyarakat
terhadap produk-produk Sido Muncul semakin meningkat.

19

DAFTAR PUSTAKA
Adiningsih, S. (1999). Ekonomi Mikro. Yogyakarta: BPFE.
Ahyari, A. (2002). Manajemen Produksi Perencanaan Sistem Produksi, Edisi
Empat. Yogyakarta: BPFE.
Assouri, S. (1995). Manajemen pemasaran, dasar, konsep dan strategi. Jakarta:
PT Raya Grafindo.
Sudarman, A. (2004). Teori Ekonomi Mikro Edisi 4. Yogyakarta: BPFE.
Yamit, Z. (2002). Manajemen Kualitas Produk dan Jasa, Edisi Pertama.
Yogyakarta: Ekonisia.

20