Anda di halaman 1dari 26

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Menurut Downey & Erickson (1987) adalah semua kegiatan bisnis yang terlibat
pada aliran sistem komoditi dari masukan usaha tani, usaha tani, pemrosesan,
penyebaran, penyimpanan, pemasaran komoditi tersebut sampai pada konsumen akhir.
Agribisnis merupakan suatu sistem yang terdiri dari beberapa subsistem pengadaan dan
penyaluran sarana produksi (input), proses produksi primer (farm), pengolahan dan
pemasaran. Subsistem pengolahan disebut juga agroindustri yang terdiri dari agroindustri
hulu yaitu penghasil input pertanian dan agroindustri hilir yaitu industri pengolahan hasil
pertanian primer dan bahkan lebih luas lagi mencakup industri sekunder dan tersier yaitu
mengolah lebih lanjut dari produk olahan hasil pertanian primer. Salah satu contoh
agroindustri hilir adalah usaha pengolahan keripik tempe.
Tempe adalah makanan yang terbuat dari fermentasi biji kacang kedelai. Makanan
ini sering diklasifikasikan sebagai makanan kelas bawah. Walaupun begitu, kandungan
gizi yang ada dalam tempe sangat tinggi. Tempe kaya akan serat pangan, kalsium,
vitamin B, dan zat besi. Kandungan gizi yang ada dalam tempe memiliki kandungan nilai
obat yang baik. Misalnya sebagai antibiotik yang dapat menyembuhkan infeksi dan
antioksidan pencegah penyakit degeneratif.
Tempe merupakan salah satu makanan khas Indonesia. Masyarakat Indonesia sering
menjadikan tempe sebagai makanan pendamping nasi karena harganya yang relatif sangat
murah dan mudah didapatkan dimana saja. Seiring dengan perkembangan teknologi, saat
ini banyak bermunculan inovasi pengolahan tempe. Salah satunya adalah keripik tempe.
Prospek usaha kripik tempe ini cukup menjanjikan karena hanya membutuhkan modal
yang relatif sedikit namun keuntungannya relatif besar.
Salah satu sentra industri pembuatan kripik tempe yang terkenal adalah di kota
Malang, khususnya di jalan Sanan. Di daerah tersebut terdapat banyak sentra industri
rumahan keripik tempe. Dan salah satu usaha yang kami kunjungi adalah milik ibu
Nurdjanah. Ibu Nurdjanah mendirikan usaha pembuatan keripik tempe sejak tahun 1999.
Hal tersebut berawal dari menurunnya pendapatan beliau terhadap usaha penjualan
sembako. Selain itu karena melihat prospek usaha keripik tempe yang menjanjikan.

1.2 Tujuan Penulisan


a. Mengetahui ruang lingkup agribisnis.
b. Mengetahui organisasi dalam agribisnis.
c. Mengetahui manajemen SDM dalam agribisnis.
d. Mengetahui manajemen produksi dalam agribisnis.
e. Mengetahui manajemen pemasaran dalam agribisnis.
f. Mengetahui manajemen keuangan dalam agribisnis.
g. Mengetahui nilai tambah (added value) agroindustri olahan.
h. Mengetahui strategi pengembangan usaha agribisnis.
1.3

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Pengertian Agribisnis
Agribisnis pada hakikatnya semua mengnyangkut suatu aktivitas dalam bidang
pertanian. Agribisnis adalah suatu kegiatan usaha yang berkaitan dengan sektor agribisnis
mencakup perusahaan yang pemasok input agribisnis dan jasa pengangkutan, jasa
keuangan. Agribisnis adalah sifat dari usaha yang yang berkaitan dengan agro-based
industries yang berorientasi pada bisnis, yaitu yang bertujuan memperoleh keuntungan
(Ikhsan Semaoen, 1996).
Agribisnis secara umum mengandung pengertian sebagai keseluruhan operasi yang
terkait dengan usaha untuk menghasilkan uasaha tani, untuk pengolahan dan pemasaran.
Dari pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa agribisnis meliputi seluruh sektor bahan
masukan usaha tani yang terlibat dalam bidang produksi dan pada akhirnya menangani
proses penyebaran, penjualan baik secara borongan maupun penjualan eceran produk
kepada konsumen akhir (Subiakto Tjakrawerdaya, 1996).
2.2 Agribisnis sebagai Usaha dan Sistem
1) Agribisnis sebagai Usaha
Kegiatan bisnis sebagai aktivitas yang menyediakan barang dan jasa yang
diperlukan atau diinginkan oleh konsumen, dapat dilakukan oleh organisasi perusahaan
yang memiliki badan hukum, perusahaan yang memiliki badan usaha maupun
perorangan yang tidak memiliki badan hukum maupun badan usaha seperti pedagang
kaki lima serta usaha informal lainnya (Steinhoff, 1995).
Aktivitas bisnis melalui penyedian barang dan jasa bertujuan untuk menghasilakn
profit atau laba. Suatu perusahaan dikatakan menghasilkan laba apabila total penerimaan
pada suatu periode lebih besar dari total biaya pada periode yang sama. Agribisnis
sebagai bisnis berarti keseluruhan operasi yang mencakup pertanian, semuanya
mengarah pada usaha dan untuk mendapat profit melalui penyedian barang dan jasa
(Griffin dan Ebert, 1996).
2) Agribisnis sebagai Sistem
Agribisnis sebagai Sistem adalah merupakan seperangkat unsur yang secara teratur
saling berkaitan sehingga membentuk suatu totalitas.

2.3 Sistem Agribisnis


Secara konsepsional Sistem Agribisnis adalah semua aktivitas mulai dari pengadaan
dan penyaluran sarana produksi sampai kepada pemasaran produk-produk yang
dihasilakan oleh usaha tani dan agroindustriyang saling terkait satu sama lain.
Sistem agribisnis merupakan suatu konsep yang menempatkan kegiatan pertanian
sebagai suatu kegiatan yang utuh dan komprehensif sekaligus sebagai suatu konsep yang
dapat menelaah dan menjawab berbagai masalah dan tantangan.
Sistem Agribisnis merupakan suatu system yang terdiri dari beberapa susisten,
diantaranya:
a. Subsisten Hulu
Adalah industri yang menghasilkan barang-barang sebagai modal bagi kegiatan
pertanian.
Contoh:
Industri pembibitan tumbuhan dan hewan
Industri agrokimia (pupuk, pestisida, obat-obatan)
Industri agro otomotif (mesin dan peralatan pertanian) serta industri pendukungnya.
b. Subsisten Usahatani
Adalah kegiatan yang menggunakan barang-barang modal dan sumberdaya alam untuk
menghasilkan komoditas pertanian primer.
Contoh:
Usaha tanaman pangan dan holtikultura
Perkebunan
Tanaman Obat
Peternakan
Perikanan
Kehutanan
c. Subsistem Pengolahan
Adalah industri yang mengolah komoditas pertanian primer menjadi produk olahan
berupa produk antara dan produk akhir.
Contoh:
Produk makanan dan minuman
Industri serat alam
Industri biofarmaka
4

Industri agro-wisata dan estetika


d. Subsistem Pemasaran
Adalah kegiatan untuk memperlancar pemasaran komoditas pertanian baik segar
maupun olahan untuk nasional dan ekspor ke luar negeri.
Contoh:
Distribusi
Konsumsi
Promosi
Informasi pasar
e. Subsistem Jasa Pendukung
Adalah menyediakan jasa bagi subsistem agribisnis hulu, subsistem usaha tani, dan
subsistem agribisnis hilir.
Contoh:
Penelitian
Perkreditan
Transportasi
Penyuluhan
2.4 Lingkup Kegiatan Agribisnis
1) Pertanian
Pertanian dalam arti luas adalah proses menghasilkan bahan pangan, ternak, serta
produk-produk agroindustri dengan cara memanfaatkan sumber daya tumbuhan dan
hewan. Pemanfaatan sumber daya ini terutama berarti budi daya (cultivation, atau
untuk ternak: raising). Sedangkan pertanian dalam arti sempit adalah proses
menghasilkan bahan makanan.
Pertanian terbagi 2:

Pertanian Lahan Basah atau Sawah


Merupakan usaha tani yang dilaksanakan pada hamparan yang sangat
membutuhkan perairan. Perairan sawah biasanya dilakukan untuk komoditi padi,
jagung dan kacang-kacang.

Perairan Lahan Kering atau Ladang


5

Adalah pertanian yang tidak membutuhkan pengairan. Komoditas ladang biasanya


berupa palawija, umbi-umbian dan holtikultura.
2) Perkebunan
Merupakan usaha tani di lahan kering yang ditanami dengan tanaman industri yang
laku di pasar, seperti: karet, kelapa sawit, tebu, cengkeh, dan lain-lain.
3) Peternakan
Merupakan usaha tani yang dilakukan dengan membudidayakan ternak.
Usaha ternak dibedakan atas:

Peternakan unggas (ayam dan itik)


Peternakan kecil (kambing, domba, kelinci, babi, dan lain-lain)
Ternak besar (kerbau,sapi, dan kuda)

4) Perikanan
Perikanan adalah semua kegiatan yang terorganisir berhubungan dengan
pengelolaan dan pemanfaatan sumberdaya ikan dan lingkungannya mulai dari
praproduksi, produksi, pengolahan sampai dengan pemasaran, yang dilaksanakan
dalam suatu sistem bisnis perikanan.

Perikanan tangkap,dapat dibedakan menjadi perikanan perairan (sungai dan danau)

dan perikanan air laut.


Perikanan budidaya, dapat dibedakan dalam perikanan kolam, perikanan rawa,
perikanan empang dan perikanan tambak.

5) Kehutanan
Adalah kegiatan pertanian yang dilakukan untuk mempoduksi atau memamfaatkan
hasil hutan, baik yang timbuh atau hidup secara alami maupun yang telah
dibudidayakan.
2.5 Pengertian Manajemen Agribisnis
Agribisnis adalah semua aktivitas dalam bidang pertanian. Mulai dari industri hulu,
usaha tani, indutri hilir hingga distribusinya. Sedangkan, manajemen adalah suatu proses
untuk mencapai hasil-hasil yang diinginkan dengan menggunakan sumber daya yang
tersedia dengan menjalankan fungsi-fungsi manajemen yaitu fungsi perencanaan, fungsi
pengorganisasian, fungsi pengarahan dan pengimplementasian dan fungsi pengawasan dan
pengendalian. Dengan demikian Manajemen Agribisnis adalah suatu kegiatan dalam
bidang pertanian yang menerapkan manajemen dengan melaksanakan fungsi-fungsi
perencanaan, fungsi pengorganisasian, fungsi pengarahan dan pengendalian, dan fungsi

pengawasan dan pengendalian dengan menggunakan sumber daya yang tersedia untuk
menghasilkan produk pertanian dan keuntungan yang maksimal.

2. 6 Manajer Agribisnis
Manajer adalah orang yang melakukan kegiatan manajemen. Manajer adalah
individu yang bertanggung jawab secara langsung untuk memastikan kegiatan dalam
sebuah organisasi dijalankan bersama peran anggota dari organisasi. Menejer Agribisnis
adalah seseorang yang bertanggung jawab dalam kegiatan sektor pertanian mulai dari
subsistem hulu, subsistem usaha tani, subsistem pengolahan, subsistem pemasaran dan
subsistem penyediaan jasa.
2.7 Kekhususan Manajemen Agribisnis
Adapun kekhususan manajemen agribisnis adalah:
1. Keanekaragaman jenis bisnis yang sangat besar pada sektor agribisnis yaitu dari para
produsen dasar sampai para pengirim, perantara, pedagang borongan, pemproses,
pengepak, pembuat barang, usaha pergudangan, pengangkutan, lembaga keuangan,
pengecer, kongsi bahan pangan, restoran sampai daftar ini tidak ada akhirnya.
2. Besarnya jumlah agribisnis, secara kasar berjuta-juta bisnis yang berbeda telah lazim
menangani rute dari produsen sampai ke pemasar encer.
3. Cara pembentukan agribisnis dasar di sekeliling pengusaha tani. Para pengusaha tani
ini menghasilkan beratus-ratus macam bahan pangan dan sandang (serat).
4. Keanekaragaman yang tidak menentu dalam hal ukuran agribisnis, dari perusahaan
raksasa sampai pada organisasi yang dikelola oleh satu orang.
5. Agribisnis yang berukuran kecil dan harus bersaing di pasar yang relatif bebas dengan
penjual yang berjumlah banyak dan pembeli yang lebih sedikit.
6. Falsafah hidup tradisional yang dianut oleh para pekerja agribisnis cendrung membuat
agribisnis lebih kolot dibanding bisnis lainnya.
7. Kenyataan badan usaha agribisnis cendrung berorientasi pada masyarakat.
7

8. Kenyataan bahwa agribisnis cendrung berorientasi pada masyarakat, banyak di


antaranya terdapat dikota kecil dan pedesaan, dimana hubungan antar perorangan
penting dan ikatan bersifat jangka panjang.
9. Kenyataan bahwa agribisnis bahwa yang sudah menjadi industri raksasa sekali pun
sangat bersifat musiman.
10. Agribisnis bertalian dengan gejala alam.
11. Dampak dari program dan kebijakan pemerintah mengena langsung pada agribisnis.
Misalnya harga gabah sangat dipengaruhi oleh peraturan pemerintah.

2.8 Peranan Agribisnis dalam Pembangunan


Agribisnis sangat mempunyai pengaruh yang sangat besar terhadap pembangunan.
Sebagaimana yang kita ketahui agribisnis bergerak pada sektor pertanian. Dalam
perekonomian Indonesia, agribisnis mempunyai peranan yang sangat penting sehingga
mempunyai nilai strategis. Hal ini disebabkan:
1. Karena mayoritas rumah tangga penduduk Indonesia yang mengusahakan agribisnis
dan mayoritas angkatan kerja bekerja di bidang agribisnis,
2. Agribisnis menyubang pendapatan nasional terbesar,
3. Kandungan impor dalam usaha agribisnis rendah,
4. Agribisnis sebagai salah satu sumber devisa, karena sebagian besar devisa dari non
migas berasal dari agribisnis,
5. Kegiatan agribisnis lebih bersifat ramah terhadap lingkungan,
6. Agribisnis off farm merupakan indunstri yang lebih mudah diakses oleh petani dalam
rangka trasformasi structural,
7. Agribisnis merupakan kegiatan usaha penghasil makanan pokok dan kebutuhan
lainnya.
8. Agribisnis bersifat labor intensive
9. Mempunyai efek multiplier yang tinggi. Disamping itu, agribisnis merupakan tumpuan
utama dalam pemulihan ekonomi dari krisis ekonomi.

BAB III
HASIL SURVEI PERUSAHAAN AGRIBISNIS
3.1 Profil dan Ruang Lingkup Perusahaan Agribisnis
3.1.1 Profil dan Ruang Lingkup
Nama Perusahaan : Kripik tempe Bu Nurdjanah
Nama pemlik

: Ibu Nurdjanah

Alamat

: Jalan Sanan 124 Malang

Telepon

: (0341) 412682

Tahun didirikan

: 1999

Bentuk usaha

: perseorangan

3.1.2 Sejarah Perusahan


Usaha Keripik Tempe didirikan oleh Ibu Nurdjanah sekitar tahun 1999 dan
termasuk jenis usaha mikro karena usaha produktifnya milik orang perorangan dan/atau
badan usaha perorangan. Sebelum membuka usaha pembuatan kripik tempe, beliau telah
membuka jasa penjualan sembako dikediamannya Jalan Sanan 124 Malang.
Awalnya beliau tidak bermaksud untuk membuka usaha pembuatan keripik tempe.
Namun akibat penurunan pendapatan ketika berjualan sembako, beliau mencoba beralih
usaha ke pembuatan keripik tempe. Karena beliau merasa usaha keripik tempe
mempunyai prospek usaha yang baik. Resep pembuatan keripik tempe beliau dapatkan
dari warga sekitar. namun sayangnya, beliau belum bisa menemukan resep dan rasa yang
khas. Akhirnya beliau mencoba mengembangkan resep-resep tersebut sendiri. Dalam
waktu kurang lebih 1 bulan, beliau berhasil menemukan rasa yang tepat dan khas.
Dengan modal awal kurang lebih Rp 300.000,00 beliau memulai usahanya. Modal
tersebut beliau dapatkan dari hasil penjualan sembakonya. Pada awalnya beliau masih
mengemas keripik tersebut dalam plastik. Namun kini kemasannya sudah ada berbagai
bentuk. Dari plastik kecil sampai kemasan dalam kardus ukuran besar. Ibu Nurdjanah
mengenalkan produknya dari mulut ke mulut, dan baru-baru ini sekitar tahun 2009 beliau
juga memasarkannya melalui media televisi. Permintaan produk keripik tempe buatan
beliau tidak hanya di daerah Malang, tetapi juga di luar daerah bahkan luar pulau. Biaya
pengiriman sepenuhnya ditanggung oleh konsumen.

3.1.3 Visi Perusahaan


Menjadi perusahaan keripik tempe yang tangguh dan mampu bersaing, baik di tingkat
Regional maupun Nasional.
3.1.4 Misi Perusahaan
1. Menjalankan usaha keripik tempe serta menghasilkan produk yang berkualitas dan
halal.
2. Meningkatkan daya saing produk secara berkesinambungan melalui sistem, cara dan
lingkungan kerja yang mendorong munculnya kreativitas dan inovasi untuk
peningkatan produktivitas.
3. Meningkatkan laba secara berkesinambungan untuk menjamin pertumbuhan,
perkembangan dan kesehatan perusahaan serta memberi manfaat optimal bagi pemilik
dan karyawannya.
4. Memberikan perhatian dan peran nyata dalam membangun kemitraan
5. Mengembangkan/memberdayakan masyarakat dan kelestarian lingkungan hidup.
3.1.5 Foto Kegiatan Survei dan Gambar Perusahaan
Perusahaan & Pemilik Usaha Ibu Nurdjanah

Proses Produksi

pengirisan tempe

penggorengan

10

pengemasan

kemasan dalam kardus

3.2 Organisasi Perusahaan Agribisnis


3.2.1 Bentuk Organisasi Agribisnis
Dilihat dari bentuk organisasinya, usaha yang digeluti Ibu Nurdjanah tergolong
dalam Perseorangan karena memiliki ciri-ciri skala usaha kecil, yang mengendalikan
usahanya hanya seorang, pemilik memegang kendali penuh, hak dan kewajiban menjadi
beban pemilik, dan menggunakan modal pribadi.
3.2.2 Gambar Struktur Organisasi dan Hubungan Antar Bagian

k
p
a
e
rm
y
i
a
l
w
i
a
k
n

3.2.3 Job Description pada Struktur Organisasi


Sebagai pemilik, beliau memegang kendali penuh terhadap jalannya usaha tersebut.
Beliau menanggung sepenuhnya hak dan kewajiban perusahaan, serta karyawannya. Dalam
menjalankan usaha keripik tempe, beliau membagi tugas kepada masing-masing
karyawannya. Dari keempat karyawannya, beliau memberikan job description yang
berbeda-beda diantaranya ada yang bekerja sebagai pemotong atau pengiris tempe,
pembuat adonan, penggorengan, dan pengemasan. Karyawan pertama bertugas dan
bertanggung jawab untuk mengiris tempe dan memilih tempe dengan kualitas yang baik.
Sementara itu karyawan kedua bertugas dan bertanggung jawab dalam melakukan proses
penggorengan serta menentukan tingkat kematangan produk. Karyawan ketiga bertugas
dan bertanggung jawab dalam proses pengemasan dan pemasangan label produk kripik
tempe. Sedangkan karyawan keempat bertugas sebagai penjaga toko dan melakukan
11

penjualan produk. Karyawan tersebut betanggung jawab untuk membujuk pembeli agar
tertarik untuk membeli produk tersebut.
3.3 Manajemen Sumber Daya Manusia Dalam Perusahaan Agribisnis
Sumber daya manusia merupakan hal yang terpenting bagi perusahaan agribisnis,
sehingga harus diperhatikan agar tujuan organisasi berjalan sesuai tujuan yang diharapkan.
Apabila pemimpin perusahaan mempunyai komitmen terhadap fungsi manajemen sumber
daya manusia, maka akan maju perusahaan tersebut.
3.3.1 Fungsi Manajemen Sumber Daya Manusia
a. Menentukan kebutuhan personel perusahaan
b. Mencari dan merekrut tenaga kerja
Beliau tidak melakukan sistem perekrutan khusus dalam mencari tenaga kerja karena
karyawan berasal dari keluarga sendiri. Sistem perekrutan hanya berdasarkan pada
kejujuran tiap-tiap karyawan.
c. Melakukan seleksi tenaga kerja
Seleksi tenaga kerja dilakukan dengan cara memberikan pelatihan dan pendampingan.
d. Mengangkat dan memilih tenaga kerja
Beliau tidak melakukan sistem pengangkatan dan pemilihan khusus dalam mencari
tenaga kerja karena karyawan berasal dari keluarga sendiri. Sistem pemilihan tenaga
kerja hanya berdasarkan keterampilan di masing-masing bidang.
Mengorientasikan dan induksi terhadap tenaga kerja
Menetapkan persyaratan kompensasi dan tunjangan
Mengevaluasi prestasi kerja
Mengawasi pelatihan dan pengembangan tenaga kerja
Mengadakan promosi atau kenaikan jabatan
Menangani pemutusan hubungan kerja atau pemindahan

e.
f.
g.
h.
i.
j.

3.3.2 Kendala dalam MSDM dan Mnajemen Kendala


Kendala-kendala yang ditemui dalam mengorganisasikan sumberdaya manusia
yang ditemui oleh Ibu Nurdjanah adalah tingkat pendidikan dari karyawan yang cukup
rendah, rata-rata karyawan dari Ibu Nurdjanah hanya mengenyam pendidikan di bangku
SMP (Sekolah Menengah Pertama) saja. Sehingga apabila ada sebuah inovasi teknologi
seperti mesin-mesin sulit untuk diterapkan. Pembagian job desk yang berbeda membuat
para karyawan tidak sering mengalami konflik, hal ini dikarenakan dari karyawan
memiliki beban atau tanggungjawab

masing-masing. Hal yang dilakukan oleh Ibu

Nurdjanah dalam mengantisipasi kendala yang ditemui oleh karyawan adalah dengan cara
memberikan pelatihan yang mudah diterima.
3.4 Manajemen Produksi dalam Perusahaan Agribisnis
12

Produksi melibatkan perencanaan dan perancangan proses produksi. Input sebagai


faktor produksi menjadi hal yang penting yang harus dipikirkan, bahan baku utama harus
disediakan dengan baik karena sangat berpengaruh pada standarisasi baik secara kualitas
maupun kualitas. Perencanaan dan pelaksanaan harus dibuat seefektif mungkin.
3.4.1 Karakteristik Produk
a. Jenis produk
Jenis produk yang dijual oleh beliau adalah makanan ringan berupa keripik tempe
dengan bahan baku utama tempe.
b. Bahan baku utama dan bahan baku tambahan
Bahan baku utama yang digunakan adalah tempe. Selain tempe ada bahan
tambahan lain yang digunakan dalam pembuatan kripik tempe diantaranya tepung kanj,
tepung beras, bawang putih, kemiri, telur, garam dan daun jeruk.
c. Proses produksi
Dari bahan utama dan bahan tambahan tersebut kemudian diolah menjadi produk
jadi yaitu kripik tempe. Tahapan-tahapan dalam produksi kripik tempe diantaranya:

Tdd
eudtg
lkpoi
ark
d
dadn
tnlg

ii e
i ka r
os el
e nma
d ii
ia p

mk m e a mp
lk a a m
na d s j a o t
n
ib o r e i n s r
i
s
b
e
l

s
n

il r k
ai

d. Kapasitas produksi maksimal


Beliau memproduksi keripik tempe setiap hari selama enam hari, yakni dari hari
senin sampai sabtu. Dalam sekali produksi beliau mampu menghasilkan produk
sebanyak 900 produk dengan rincian 300 produk berukuran kecil, 600 produk
berukuran besar.
13

e. Jumlah produksi dalam beberapa periode


Sedangkan dalam beberapa periode, khususnya selama satu tahun beliau mampu
memproduksi sebanyak 93.600 unit berukuran kecil dan 187.200 berukuran besar.
f. Kualitas produk (keunggulan dan kelemahan produk)
Produk dari keripik tempe beliau memiliki beberapa keunggulan dan kelemahan.
Keunggulan dari keripik tempe beliau antara lain bahan baku utama selalu menggunakan
tempe yang baru dan berkualitas baik, keripik tempe buatan beliau tidak menggunakan
pengawet, tipis, gurih dan renyah, menggunakan minyak yang berkualitas, tersedia dalam
berbagai rasa dan ukuran yaitu 150 gram dan 200 gram. Kelemahan dari keripik tempe
beliau adalah kemasan yang digunakan beliau mayoritas menggunakan plastic sehingga
hanya mampu bertahan kurang lebih 3 bulan.
3.4.2 Fungsi-fungsi Manajemen Produksi
a. Untuk menyediakan dan merencanakan bahan baku, alat yang akan digunakan, serta
lokasi pasar/toko.
b. Untuk merencanakan penentuan kualitas dan kuantitas barang yang akan diproduksi.
c. Merancang sistem transformasi.
d. Menetapkan berbagai ukuran dan kriteria yang sangat diperlukan untuk kepentingan
produksi.
e. Mengontrol kegiatan korektif terhadap pelaksanaan kegiatan produksi.

Fungsi Personalia

Fungsi Keuangan

Penelitian

Penyimpanan
3.4.3 Kendala dan Manajemen Kendala

Memperoleh bahan baku


Terkadang bahan baku utama yang akan dibuat untuk keripik tempe mengalami
keterlambatan dalam pengiriman sehingga harus membeli bahan baku di tempat lain
(yang bukan langganan).
Manajemen kendala yang dilakukan adalah dengan menyetok bahan baku dan mencari

alternatif peyetok lain.


Adanya pesaing dari produk sejenis
Manajemen kendalanya yaitu dengan memberikan kualitas serta kemasan yang

menarik.
Sumber Daya Manusia yang masih belum profesional
Manajemen kendalanya adalah dengan memberikan pelatihan dan motivasi kerja.

3.5 Manajemen Pemasaran dalam Perusahaan Agribisnis


14

3.5.1 Kegiatan Pemasaran


Distribusi dan transportasi
Distribusi dilakukan 80% di kota malang dan 20% luar kota malang. Perusahaan ini
hanya melakukan pemasaran di tempat tokonya, dan apabila ada pesanan dari luar Jawa
beliau mengirimnya dengan biaya pengiriman ditanggung oleh pemesan produk.
Pengemasan
Kemasan kripik tempe yang beliau gunakan adalah dalam bentuk plastik dan kardus
dalam ukuran besar.
Pemberian Label
Beliau memberi label semenarik mungkin. Label diberikan sesuai rasa dari keripik
tempe.
Standarisasi
Grading
3.5.2 Strategi Pemasaran Produk (4P)
Product (produk)
Produk yang beliau tawarkan adalah kripik tempe. Saat ini tempe yang kita kenal
kebanyakan tidak diberikan perlakuan khusus pada produknya. Hal ini mungkin terjadi
karena tempe tersebut hanya dijadikan sebagai lauk pauk saja. Dari kenyataan tersebut,
beliau mencoba melakukan inovasi produk terhadap tempe agar dapat diterima oleh
konsumen.
Dalam mengembangkan strategi produk, beliau berupaya agar konsumen mampu
mengidentifikasi produk yang beliau pasarkan, dengan melakukan:
a) Branding (mengelola merek)
Merek produk beliau bernama Kripik Tempe bu Nurdjanah. Beliau berharap dari
merek yang beliau ciptakan dapat membuat konsumen puas.
b) Packaging (kemasan)
Produk beliau kemas dengan mengunakan plastik dan kardus dengan tujuan agar produk
terlihat menarik dan bersih sehingga dapat mempengaruhi konsumen untuk membeli
produk kami. Produk kripik tempe dikemas per bungkus dengan harga yang bervariasi
diantaranya yang berukuran kecil seberat 150 gram seharga Rp 3.500,00, ukuran besar
seberat 200 gram rasa original dan aneka rasa seharga Rp 5.000,00, dan Rp 6000,00.
c) Labelling (memberikan label)
Setelah kripik tempe dibungkus dengan plastik wrapping, kami memberikan label
dikemasan produk kami. Hal ini bertujuan untuk memudahkan konsumen untuk
mengingat produk kami.
Price (Harga)
15

Harga

merupakan

satu-satunya

elemen

dalam

bauran

pemasaran

yang

menghasilkan pendapatan (revenue). Harga juga merupakan elemen bauran pemasaran


yang paling mudah disesuaikan. Selain itu, harga turut mengkomunikasikan nilai produk
perusahaan terhadap pasar.
Pada dasarnya ketika menetapkan harga, perusahaan harus mempertimbangkan
beberapa hal seperti penetapan harga untuk mewujudkan keuntungan perusahaan, volume
penjualan (permintaan atas berbagai produk berbeda sifatnya), persaingan dari perusahaan
lain, pandangan masyarakat terhadap suatu produk, serta kedudukan perusahaan dalam
pasar.
Terdapat beberapa metode penetapan harga antara lain melalui pendekatan biaya
(break even analysis dan mark up pricing), penetapan harga yang kompetitif, menentukan
harga terobosan (penetrating pricing), menetapkan harga berdasarkan permintaan/ demand,
kepemimpinan harga (price leadership), menjual produk berkualitas dengan harga rendah,
serta kebijakan harga tinggi jangka pendek (price skimming).
Metode penetapan harga yang beliau terapkan adalah menjual produk berkualitas
dengan harga rendah. Pertimbangan beliau adalah terlebih dahulu ingin menarik konsumen
dengan harga yang rendah atau sama dengan produk yang lain, setelah beliau mendapatkan
konsumen yang cukup banyak, beliau perlahan-lahan akan melakukan penaikan harga.
Place (Tempat)
Salah satu fungsi penting dari pemasaran adalah menyalurkan produk dari lokasi
produksi ke berbagai lokasi di mana konsumen berada. Isu pendistribusian produk perlu
dibedakan pada 2 aspek, yaitu menentukan institusi yang akan melakukan kegiatan
mendistribusikan produk, menentukan cara penyimpanan (penggudangan) dan alat-alat
pengangkutan yang akan mendistribusikan produk (barang) dari pabrik perusahaan ke
institusi-institusi yang membantu memasarkan barang pada konsumen.
Perusahaan beliau mendistribusikan produknya sendiri karena pasar kripik tempe
yang beliau produksi bersifat lokal, meliputi daerah di sekitar tempat memproduksi.
Terdapat beberapa alternatif saluran distribusi, yaitu:
a) Saluran distribusi langsung produsen ke konsumen
b) Produsen-pengecer-konsumen
c) Produsen-pedagang besar-pengecer-konsumen
d) Produsen-agen penjualan-konsumen
e) Produsen-agen penjualan-pengecer-konsumen.
Dari alternatif saluran distribusi diatas, beliau hanya memakai saluran distribusi
langsung produsen ke konsumen karena keripik tempe merupakan produk pertanian yang
bersifat mudah rusak/pecah sehingga beliau hanya menggunakan saluran distribusi yang
pendek agar produk tersebut tidak hancur ketika proses pendistribusian.
Promosition (Promosi)
Strategi promosi yang beliau gunakan adalah dari mulut ke mulut dan saat ini mulai
merambah ke media televisi. Menurut beliau media televisi mampu menyampaikan pesan
16

yang efektif berupa gambar. Dengan pemberian gambar yang menarik pada media televisi
akan mampu membuat konsumen tertarik untuk melihat dan membaca. Setelah konsumen
melihat dan membaca melalui media tersebut yang dilengkapi dengan informasi tentang
kandungan gizi, manfaat, serta pengolahan, diharapkan pengetahuan konsumen akan
bertambah tentang tempe. Apabila konsumen merasa tempe sangat bermanfaat baginya
maka konsumen akan melakukan pembelian terhadap produk tersebut.
3.5.3 Kendala Manajemen Pemasaran dan Manajemen Kendala
Kendala perusahaan ini dalam manajemen pemasaran yaitu apabila pemasaran
dilakukan di luar kota Malang. Penjualan produk keripik tempe akan sulit terkontrol
apabila dilakukan di luar kota Malang karena keterbatasan biaya transportasi untuk
mengontrol keadaan dan stok barang disetiap minggunya. Selain itu terkadang produk
keripik tempe yang dihasilkan setiap harinya tidak mampu untuk memenuhi permintaan
konsumen, karena permintaan konsumen melebihi produktifitas kripik tempe tiap harinya,
sehingga mengurangi kepuasan konsumen.
3.6 Manajemen Keuangan dalam Perusahaan Agribisnis
Tabel 1. Biaya Nilai Produksi dan Pendapatan Usaha Selama 1 Tahun Terakhir

17

18

18

3.7 Analisis Nilai Tambah Agroindustri Olahan


Tabel 2. Analisis Nilai Tambah Pada Produk (Olahan) Agribisnis

3.8 Strategi Pengembangan dengan Analisis SWOT Perusahaan Agribisnis


3.8.1 Faktor-Faktor Internal (S-W)
Kekuatan: keripik tempe Bu Nurdjanah memiliki cita rasa yang khas serta harganya
terjangkau.
Kelemahan: kegiatan promosi yang kurang sehingga produknya kurang terkenal dan besar.

3.8.2 Faktor-Faktor Eksternal (O-T)


Peluang: dengan cita rasa khas yang dimiliki keripik tempe bu nurjanah yang gurih,
renyah, enak dan beraneka macam rasa dapat menarik pelanggan lebih banyak lagi
Ancaman: banyak perusahaan keripik tempe yang meniru produk bu nurjanah sehingga
produknya tersaingi.

19

3.8.3 Strategi Perusahaan Agribisnis dengan Menggunakan Matriks SWOT


Jika dikombinasikan dengan kesesuaian volume dan kualitas produk, maka daya
saing komoditas pertanian primer atau produk agribisnis Indonesia dapat ditingkatkan
sehingga kemempuan untuk menembus pasar ekspor atau membendung arus impor makin
tinggi. Oleh karena itu, teknologi di masing-masing simpul agribisnis, mulai dari bidang
produksi sampai dengan pemasaran hasil harus terus berkembang.
a.

Teknologi untuk Meningkatkan Kapasitas Produksi.


Teknologi untuk meningkatkan kapasitas produksi ialah yang meningk
atkan
perolehan volume produksi dari satu unit faktor produksi yang menjadi
pembatas
(the limiting factor of production). Kalau yang menjadi faktor pembatas i
alah lahan Maka teknologi tergolong kategori ini meliputi yang mampu
meningkatkan
produktivitas lahan per satuan luas per satuan waktu (land augmenting tec
hnology).
Termasuk dalam hal ini ialah teknologi yang meningkatkan produktivi
tas lahan
per
panen dan frekuensi panen per tahun (intensitas pertanaman). Contoh
teknologi
semacam ini ialah benih unggul hasil (high yield) dan benih unggul umur
genjah
(short maturity) atau kombinasi keduanya.Jika usahatani didominasi oleh us
aha
keluarga, seperti yang berlaku diIndonesia, seringkali yang menjadi fakto
r pembatas
ialah ketersediaan tenaga kerjakeluarga atau tenaga pengelola usahatani.
Dalam
kondisi demikian, kapasitasproduksi dapat ditingkatkan dengan mengadopsi te
knologi yang mampu mengurangikebutuhan tenaga kerja keluarga untuk man
ajemen seperti mekanisasi pertanian.Dengan mekanisasi pertanian maka skal
a usahatani yang dapat dikelola
keluarga dapat ditingkatkan.
20

Peningkatan

kapasitas

produksi

pada

dasarnya

berfungsi

untuk
meningkatkan efisiensi teknis faktor produksi maupun efisiensi skala usaha . Efis
iensi
teknis dan skala usaha merupakan elemen penentu utama efisiensi ekonomi
yang
menjadi penentu daya saing harga jual produk agribisnis. Oleh karena itu,
teknologi
yang mampu meningkatkan kapasitas produksi agribisnis sangatlah penting
untuk
meningkatkan pendapatan pelaku agribisnis maupun untuk peningkatan daya
saing
agribisnis domestik.
Dalam

konteks

nasional

(agregat),peningkatan

kapasitas

produksi

merupakan salah satu sumber pertumbuhan produksi. Volume produksi


agregat
yang cukup besar merupakan faktor kunci bagi tumbuh kembangnya
komponen
usaha agribisnis terkait. Agroindustri, misalnya hanya dapat berkembang jik
a skala
produksi usahatani
primer cukup besar dan kontinu menurut waktu. Volume
produksi agregat juga bermanfaat untuk meningkatkan efisiensi pemasaran melal
ui "
pecuniary economies ". Semakin besar volume pasar (thick market) semaki
n murah
ongkos transaksi pasar.
b.

Teknologi untuk Menurunkan Biaya Pokok Produksi.


Ada dua kelompok teknologi yang dapat digunakan untuk menurunk
an biaya
pokok produksi, yaitu : (a) teknologi yang dapat meningkatkan kapasitas p
roduksi
21

(capacity development), dan (b) teknologi yang dapat menurunkan jumlah biaya
(cost
reduction). Prinsip jenis teknologi pertama adalah menggunakan jumlah inp
ut (atau
jumlah biaya) yang relatif sama untuk menghasilkan jumlah output jauh lebih be
sar.
c.

Teknologi untuk Meningkatkan/Memelihara Kualitas Produk.


Kualitas produk dapat diperbaiki atau dipertahankan dengan menggu
nakan
teknologi tertentu. Kualitas produk sangat penting diilihat dari segi pemenuhan s
elera
konsumen akhir. Di bidang produksi pertanian primer, varietas sangat mene
ntukan
kualitas hasil. Di bidang pengolahan hasil, kualitas produk dapat diting
katkan dengan
menggunakan teknologi pengawetan, penambahan bahan baru, dan pengema
san.
Beberapa contoh teknologi pengawetan adalah pengeringan dan pengale
ngan.
Penambahan bahan baru dapat memperkaya kandungan kalori, mineral,
vitamin,
protein dan rasa, atau mengurangi kandungan unsur-unsur merugikan
seperti
lemak, kolesterol, asam urat, residu pestisida, dan lain-lain. Produk-produk
dengan karakteristik demikian akan lebih disukai konsumen. Bentuk kemasa
n yang
memudahkan dalam penggunaannya (usage ease) akan meningkatkan utilitas
produk dan akan makin menari bagi konsumen.
Kualitas produk dapat dipertahankan dengan

menggunakan

teknologi
pengawetan sebagaimana telah disebutkan di atas, ditambah dengan te
knologi pengangkutan dan penyimpanan.
4.

Teknologi untuk Pengembangan Produk.


22

Selera konsumen terus berubah karena membaiknya tingkat pendidik


an dan
makin cangggihnya teknologi informasi.

Perubahan

selera tersebut

menuntut
disediakannya produk-produk baru yang lebih menarik bagi mereka. Produk
-produk
lama akan ditinggalkan konsumen dan akan mengalami kenejuhan pasar.
Oleh karena itu, diperlukan pengembangan produk-produk baru agribisnis
(product development) yang mempunyai kapasitas produksi
lebih besar atau kualitas hasil lebih baik.
5.

Manajemen Usaha untuk Meningkatkan Efisiensi


Dengan menggunakan teknologi yang ada, efisiensi

produksi dapat

ditingkatkan melalui
lima cara, yaitu :
a. pengalokasian input secara optimalberdasarkan harga input dan output;
b. pengkombinasian input berdasarkan harga
masingmasing input dan harga output untuk jenis komoditas yang sama,
c. pengkombinasian output berdasarkan harga masing-masing output untuk jenis
komoditas berbeda;
d. penggunaan ukuran usaha paling efisien; dan
e. penggunaan lingkup usaha paling efisien.
Cara pertama dikenal dengan strategi efisiensi alokatif pada hubung
an input-output (input-output relation) dengan tujuan untuk memperoleh biaya p
roduksi paling
rendah

atau

keuntungan maksimal sepanjang fungsi produksi atau teknologi yang


ada. Makin tinggi rasio harga input terhadap harga output, maka pengguna
an input
akan makin kecil, produksi akan turun dan laba maksimum akan berkurang
, ceteris
paribus. Sebaliknya, makin rendah rasio harga tersebut, maka penggunaan
input
akan makin banyak (tetapi ada batas maksimumnya), produksi akan menin
gkat dan
23

laba maksimum akan makin besar.


Cara kedua dikenal sebagai strategi kombinasi input (input-input
combination), yaitu kombinasi jenis input tergantung

pada

tingkat

substitusi
(substitutability) antar input variabel. Tingkat penggunaan input dipenga
ruhi oleh
rasio antar harga input yang bersangkutan dan terhadap harga output.
Cara ketiga dikenal sebagai strategi kombinasi output

(output-

output
combination) sepanjang kurve kemungkinan produksi (production possibility
curve)
pada masing-masing komoditi untuk menentukan commodity basket yan
g dapat
memaksimumkan jumlah penerimaan total berdasarkan harga output masingmasing
komoditi.
Cara keempat, yaitu penggunaan ukuran usaha paling efisien, di
dasarkan
atas total biaya per unit output paling rendah. Dalam hal ini, biaya terdiri
dari dua
komponen uatam, yaitu biaya variabel (variable cost) dan biaya tetap (fixe
d cost).
Skala usaha dapat terus ditingkatkan selama total biaya rata-rata (average total c
ost)
masih terus menurun hingga mencapai total biaya rata-rata mencapai tit
ik paling
rendah (masih terjadi economies of size). Jika rata-rata total biaya sudah
mencapai
titik paling rendah, maka peningkatan skala usaha akan meningkatkan ratarata total
biaya (terjadi diseconomies of size).
Cara kelima, yaitu penggunaan lingkup usaha paling efisien, didasar
kan atas
penggabungan berbagai jenis komoditi atau usaha ke dalam satu man
ajemen
24

(economies of scope). Hal ini dapat terjadi melalui integrasi vertikal atau i
ntegrasi
horisontal. Dengan cara ini,

struktur

organisasi bisa menjadi lebih

sederhana
sehingga jumlah biaya-tetap (fixed cost), utamanya gaji direksi, bangunan (
kantor,
perumahan), peralatan (mesin pabrik dan kendaraan) dan perlengkapan dlai
nnya
apat ditekan.

25

DAFTAR PUSTAKA
Mosher, A.T. 1966.Getting Agriculture Moving. Frederick

A.

Praeger,

Inc.,

Publishers, New York.

26

Anda mungkin juga menyukai