Anda di halaman 1dari 46

BAB I

PENDAHULUAN
1.1.

Latar Belakang
Sejak tahun 1993, WHO menyatakan bahwa Tuberkulosis (TB) merupakan

kedaruratan global bagi kemanusiaan. Walaupun strategi DOTS telah terbukti sangat
efektif untuk pengendalian TB, tetapi beban penyakit TB di masyarakat masih sangat
tinggi. Dengan berbagai kemajuan yang dicapai sejak tahun 2003, diperkirakan masih
terdapat sekitar 9,5 juta kasus baru TB, dan sekitar 0,5 juta orang meninggal akibat TB di
seluruh dunia (WHO, 2009). Selain itu, pengendalian TB mendapat tantangan baru
seperti ko-infeksi TB/HIV, TB yang resisten obat dan tantangan lainnya dengan tingkat
kompleksitas yang makin tinggi.
Besar dan luasnya permasalahan akibat TB mengharuskan kepada semua pihak
untuk dapat berkomitmen dan bekerjasama dalam melakukan penanggulangan TB.
Kerugian yang diakibatkannya sangat besar, bukan hanya dari aspek kesehatan semata
tetapi juga dari aspek sosial maupun ekonomi. Dengan demikian TB merupakan ancaman
terhadap cita-cita pembangunan meningkatkan kesejahteraan rakyat secara menyeluruh.
Karenanya

perang

terhadap

TB

berarti

pula

perang

terhadap

kemiskinan,

ketidakproduktifan, dan kelemahan akibat TB.


Target pada Pedoman Nasional Penanggulangan Tuberkulosis di Indonesia saat
ini adalah tercapainya penemuan pasien baru TB BTA positif paling sedikit 70% dari
perkiraan

dan

menyembuhkan

85%

dari

semua

pasien

tersebut

serta

mempertahankannya. Pada program Stop TB Partnership sebagai komitmen untuk


mencapai target dalam Tujuan Pembangunan Milenium, Kementerian Kesehatan.
Selama dekade terakhir, perkembangan program pengendalian TB semakin
melaju. Pada tahun 2009, angka penemuan kasus dan keberhasilan pengobatan telah
mencapai target global MDGs (yaitu 73% CDR dan 91% angka keberhasilan
pengobatan). Apabila sumber pembiayaan untuk pengendalian TB tetap terjaga
ketersediaannya serta program pengendalian TB dikelola dengan baik, maka secara
realistis diharapkan bahwa pada akhir tahun 2015 Indonesia akan mampu mencapai
target MDG untuk TB.
Fakta ini menegaskan bahwa strategi umum program pengendalian TB nasional
adalah meningkatkan ekspansi, untuk lebih lanjut mencegah terjadinya MDR dan
1

mengobati kasus MDR. Itu berarti bahwa setiap individu yang dicurigai menderita TB
atau menderita penyakit yang rentan untuk menderita TB atau yang berkontak secara
langsung dengan pasien TB positif harus dilakukan dilakukan penjaringan untuk
selanjutnya dilakukan penanganan yang selayaknya. Namun, angka penemuan kasus atau
penjaringan suspek TB yang telah berhasil secara nasional, tidak demikian untuk
beberapa daerah di Indonesia secara regional.
Menurut laporan tahun 2012 Puskesmas Dangung-Dangung Kecamatan Guguk
Kabupaten Lima Puluh Kota, cakupan penjaringan suspek TB selama tahun 2012 hanya
sebanyak 162 kasus, yang artinya hanya sebesar 40,5% dari target penjaringan suspek TB
yang dianggarkan Dinas Kesehatan Kabupaten Kota sebanyak 400 kasus pertahun. Masih
rendahnya angka cakupan penjaringan suspek TB ini berdampak dengan rendahnya
pencapaian Case Detection Rate (CDR) Puskesmas yang hanya sebesar 45 % , jauh
dibawah angka pencapaian nasional sebesar 73%.
Dalam rangka mendukung program

Kementerian Kesehatan dan menjamin

tercapainya cita-cita nasional sesuai taerget MDG untuk TB pada tahun 2015, Puskesmas
Dangung-Dangung sebagai salah satu tulang punggung layanan primer pengendalian TB
di kawasan Kabupaten Lima Puluh Kota perlu hendaknya melakukan pembenahan dalam
keberhasilan pencapaian target-target dalam program pengendalian TB. Salah satu
tindakan yang masuk dalam kategori prioritas adalah upaya peningkatan penjaringan
suspek TB di wilayah kerja Puskesmas Dangung-Dangung.
1.2.
Rumusan Masalah
1.2.1. Apa factor yang menyebabkan rendahnya angka cakupan penjaringan suspek TB
di wilayah kerja Puskesmas Dangung-dangung.
1.2.2. Bagaimana upaya meningkatkan cakupan penjaringan suspek TB di wilayah kerja
Puskesmas Dangung-dangung.
1.3.
Tujuan
1.1.1. Melakukan identifikasi masalah cakupan penjaringan suspek TB di wilayah kerja
Puskesmas Dangung-Dangung.\
1.1.2. Menemukan penyebab utama rendahnya cakupan penjaringan suspek TB di
wilayah kerja Puskesmas Dangung-Dangung.

1.1.3. Mencarikan upaya pemecahan masalah dan alternatif pemecahan masalah agar
cakupan penjaringan suspek TB di wilayah kerja Puskesmas Dangung-Dangung
dapat terlaksana dengan baik.
1.4.
Manfaat Penulisan
1.1.1. Teridentifikasinya masalah rendahnya cakupan penjaringan suspek TB di wilayah
kerja Puskesmas Dangung-Dangung
1.1.2. Ditemukannya penyebab utama rendahnya cakupan penjaringan suspek TB di
wilayah kerja Puskesmas Dangung-Dangung
1.1.3. Laporan ini diharapkan dapat berguna sebagai bahan pembelajaran dan memberi
masukan bagi pihak Puskesmas Dangung-Dangung.
1.5.

Metode Penulisan
Metode penulisan makalah ini berupa tinjauan pustaka yang merujuk pada

beberapa literature, Laporan Tahunan Puskesmas Dangung-dangung Tahun 2012,


Laporan Bulanan Puskesmas Dangung-dangung tahun 201, wawancara dan Kuesioner.

BAB II
ANALISIS SITUASI
2.1. Visi dan Misi Puskesmas
2.1.1. Visi Puskesmas Dangung-dangung
Visi Puskesmas Dangung-dangung adalah
Tercapainya Kecamatan Guguk Sehat, Mandiri dan Berkeadilan

Kecamatan Guguak Sehat 2015 merupakan gambaran masyarakat kecamatan masa


depan yang ingin dicapai melalui pembangunan kesehatan MDGs atau Millenium
Development Goals atau Tujuan Pembangunan Millenium adalah komitmen Global
untuk menangani isu perdamaian,keamanan,pembangunan hak asasi manusia dan
kebebasan dasar dalam satu paket kebijakan pembangunan guna mempercepat
pencapaian pembangunan manusia dan pemberantasan kemiskinan di seluruh dunia pada
tahun 2015. Komitmen ini dihasilkan dalam World Summit pada bulan September 2000
yang lebih dikenal dengan Millenium Declaration . ditandai penduduknya hidup dalam
lingkungan dan prilaku hidup bersih dan sehat,memiliki kemampuan untuk menjangkau
pelayanan kesehatan yang bermutu serta memiliki derajat kesehatan yang setingginya.
2.1.2. Misi Puskesmas Dangung-dangung
Misi Puskesmas Dangung-dangung adalah
1. Mengerakan pembanguan yang berwawasan kesehatan yang ditandai dengan
terciptanya lingkungan sehat dan prilaku sehat.
2. Mendorong kemandirian masyarakat dan keluarga untuk hidup sehat.
3. Memelihara dan meningkatkan pelayanan kesehatan.
4. Memelihara dan meningkatkan kesehatan individu,keluarga dan masyarakat beserta
lingkungan.
5. Terbentuknya posyandu mandiri disetiap jorong pada tahun 2012 dengan masingmasing posyandu memiliki kader.
6. Terselenggaranya posyandu Lansia
2.2.

Strategi Puskesmas
Untuk mencapai Visi dan Misi Puskesmas,digunakan strategi sebagai berikut :
1. Mengembankan dan menetapkan pendekatkan kewilayahan yang mantap
ditingkatkan kecamatan ,agar pembangunan berwawasan kesehatan selalu
diterapkan pada pembangunan disemua bidang.
2. Memngembangkan dan menerapkan azas kemitran serta pemberdayan
masyarakat

dan

keluarga

lain

melalui

Badan

Penyantun

Puskesmas

(BPP),lembaga swdaya masyarakat ( LSM ) dunia usaha dan institusi


masyarakat lainnya dalam mewujudkan pembangunan kesehatan.
3. Meningkatkan profesionalisme petugas agar dapat mewujudkanpelayanan yang
efektif dan efisien serta berkualitas melalui trasformasi ilmu berkala.
4. Mengembangkan kemandirian puskemas sesuai dengan kewenangan yang
diberikan oleh Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota dalam menjalankan dan

melaksanakan

pembangunan

kesehatan.Upaya

yang dikembangkan

dan

diselenggarakan harus dapat dipertanggung jawabkan.


5. Mengembang alihkan teknologi pada kader sehingga beberapa kegiatan dapat
dilaksanakan dilapangan oleh kader sendiri.
6. Mengembangkan kerjasama lintas program dan sektordengan instansi terkait.
2.3.

Kondisi Geografis
Wilayah kerja Puskesmas Dangung-dangung meliputi Wilayah Kecamatan Guguk

dengan luas daerah 8.670 km2 dengan batas-batas wilayah sebagai berikut:
1.1. Sebelah Utara berbatasan dengan Kecamatan Mungka
1.2. Sebelah Timur berbatasan dengan Kecamatan Payakumbuh
1.3. Sebelah Barat berbatas dengan Kecamatan Suliki
1.4. Sebelah Selatan berbatasan dengan Kecamatan Akabiluru
Wilayah kerja puskesmas Dangung-dangung terdiri dari empat kenagarian yaitu
Nagari Simpang Sugiran, Nagari Sungai Talang, Nagari Guguak VIII Koto dan Nagari
Kubang terdiri dari 24 jorong.

2.4.

Kondisi Demografi
Jumlah penduduk wilayah kerja Puskesmas Danguang-danguang berdasarkan data

statistik tahun 2012 adalah 24,514 jiwa dengan perincian sebagai berikut :
Jumlah KK
: 6396 KK
Jumlah Bumil
: 600 orang
Jumlah PUS
: 3778 orang
Jumlah WUS
: 4245 orang
Jumlah Bayi (Nakes )
: 535 orang
Jumlah Balita
: 2634 balita
Pekerjaan penduduk sebagaian besar adalah petani lebih kurang 70% ,PNS lebih
kurang 20%,lain-lain 10% penduduk pada umumnya suku minang dan beragama islam.

2.5.

Data Sarana Kesehatan

2.5.1. Sarana Gedung Puskesmas


Satu buah gedung puskesmas dengan fasilitas yang cukup memadai yaitu:

1 ruangan dokter/pimpinan
1 ruangan tata usaha
1 ruangan administrasi
1 ruangan rapat/ pertemuaan
1 ruangan gudang
1 ruangan operasi
1 ruang loket/ RM
1 ruangan KIA
1 ruangan KB
1 ruangan Gizi
1 ruang Apotik
1 ruang Imunisasi
1 ruang poli umum
1 ruang P3K
4 ruang Bangsal
6 ruang MCK
2 buah ruang umum
1 buah rumah dokter gigi
2 buah rumah Paramedis
8 buah Pustu

12 buah Polindes
2.5.2. Alat Transportasi
Alat Transportasi yang dimiliki Puskesmas Dangung-Dangung adalah:
2 buah mobil Puskel
8 kendaraan roda dua
2.5.3. Prasarana Kesehatan

2.6.

Puskesmas
Puskesmas pembantu
Poskesri
Posyandu
Puskel

: 1 buah
: 8 buah
: 12 buah
: 43 buah
: 2 buah

Ketenagaan
Jumlah personil/ tenaga kesehatan di Puskesmas Dangung Dangung sebanyak
48 orang dengan perician sebagai berikut :

Dokter PTT
Dokter Umum
Dokter Gigi
Sarjana Kesehatan Masarakat
Sarjana Keperawatan
Akademi Perawat
Akademi Gizi/.SP
Bidan PTT
Bidan
Sanitarian
Asiten Apoteker
Perawat Gigi
Perkarya Kesehatan
Sopir (THL)
Pegawai Rumah Tangga (THL)
Satpam (THL)
Tenaga Sukarela

2.7.

Struktur Organisasi (Terlampir)

2.8.

Tugas Pokok dan Fungsi

: 0 orang
: 2 orang
: 3 orang
: 1 orang
: 3 orang
: 5 orang
: 1 orang
: 7 orang
: 22 orang
: 1orang
: 2 orang
: 2 orang
: 1 orang
: 1 orang
: 1 orang
: 1 orang
: 13 orang

2.8.1. Kepala Puskesmas


1. Melaksanakan fungsi manajemen puskesmas

2. Sebagai dokter melakukan pemeriksaan dan pengobatan penderita serta


menerima rujukan atau konsultasi.
3. Mengkoordinir kegiatan puskesmas
4. Mengkooordinir pembinaan peranan serta masyarakat dan lintas sektoral.
2.8.2. Koordinator Administrasi dan Tim Kerja Administrasi
1. Koordinator Administrasi mengkoordinir administrasi kepegawaian dan juga
memimpin

perencanaan

Adm

puskemas

dan

mengavaluasi

kegiatan

keadministrasian bersama pimpinan.


2. Tim kerja Administrasi bertugas sebagai:
a. Pelaksana Administrasi Umum
1. Membuat surat keluar
2. Menerima surat masuk
3. Mengarsipkan surat
4. Mengantarkan laporan bulanan ke Dinkes
5. Menyiapkan blangko yang diperlukan untuk pelayanan
6. Membuat DUK pegawai
7. Membuat jadwal cuti pegawai
8. Menyiapkan DP3 pegawai
9. Membuat daftar inventaris barang medis dan non medis
10. Menyiapkan dan memantau pengunaan barang inventaris
11. Membuat usulan perbaikan dan penggantian barang yang rusak atau
tidak layak pakai.
b. Pelaksanaan Pengelola Ruang Data
1. Mengumpulkan semua jenis data dari semua data dari semua unit
pelayanan dan program
2. Mengelola data yang dikumpulkan dan menampilkannya didalam
ruangan data dalam bentuk grafik,tabel,atau diagram sehingga bisa
memberikan informasi bagi yang membutuhkan
3. Selalu siap menunjukan data kepada yang memerlukan
c. Bendahara
1.
Menerima uang masuk dari semua unit pelayanan
2.
Melakukan pembukuan
3.
Membuat catatan dan laporan keuangan
4.
Menyiapkan SPJ dan segala sesuatunya
5.
Bekerjasama dengan koordinator pelayanan dan tim kerja dalam
menyusun rencana anggaran satuan kerja.
2.8.3. Koordinator Pelayanan
1. Bertugas mengkoordinir semua kegiatan pelayanan baik promotif, preventif,
kuratatif,

dan

rehabilitatif.

Juga

mengkoordinir

perencanaan

kegiatan

,memfasilitasi pemecahan masalah yang muncul selama melaksanakan kegiatan


sehari-hari dan bersama pimpinan puskesmas mengevaluasi kegiatan.
2.8.3.1.
Tim Kerja Rawat Jalan
a. Medical Record ( Loket )
1. Menerima pasien yang mendaftar
2. Mengambil map famili folder dan status pasien
3. Menyiapkan kertas resep
4. Mencatat keregister harian
5. Menyusun status pasien ke rak
b. Poliklinik umum dan gigi :
1. Melakukan pemeriksaan dan pengobatan pasien rawat jalan
2. Melakukan menyuluhan individu
3. Penjaringan penyakit TBC
4. Memberikan pelayana rujukan
5. Melakukan pemeriksaan kesehatan haji
6. Menyeluarkan surat keterangan sehat, surat keterangan sakit,dan surat
keterangan tidak buta warna
7. Membuat pencatatan dan laporan
c. Laboraturium
1. Pemeriksaan sputum
2. Pemeriksaan Urine lengkap
3. Pemeriksaan tinja
4. Pemeriksaan slide malaria
5. Membuat pencatan dan pelaporan
d. Konsultasi Gizi
Melakukan konsultasi gizi untuk pasien-pasien yang memerlukan
pengaturan Diet khusus.
e. Konsultasi Kesling
Melakukan konsultasi Kesling terhadap pasien-pasien yang menderita
penyakit menular ,penyakit kulit,kurang gizi akibat kecacingan.
f. Apotik
1. Membaca resep dengan cermat
2. Mengambil obat sesuai resep
3. Meracik obat puyer
4. Mendistribusikan obat keberbagai unit pelayanan
5. Membuat LPLPO
2.8.3.2.
Tim Kerja Promotif dan Preventif
a. Unit kesehatan Ibu dan Anak /KB
1. Menyusun perencanaan, pembinaan, pemantauan, pengendalian dan
pengawasan serta evaluasi pelaksanaan kegiatan KIA/KB.

2. Menyelenggarakan

advokasi

dan

koordinasi

lintas

sektoral,serta

program,organisasi profesi dalam peningkatan kemandirian masyarakat.


3. Meningkatan dan menggerakan partisipasi masyarakat serta melaksanakan
pembinaan, pengawasan, pemantauan mengendalian dan evaluasi terhadap
kesehatan ibu dan anak.serta KB
b. Unit kesehatan pencegahan dan pemerantasan penyakit menular
1. Merencanakan pelaksanan program P2 Msesuai dengan ketentuan yang
ada
2. Merencanakan kebutuhan logistik yang diperlukan untuk pelaksanakan
program
3. Melaksanakan programP2M sesuai dengan juklak dan juknis program
yang ada.
4. Melakukan penaggulangan KLB penyakit menular bersama dengan
5.
6.
7.
8.

tingkat kabupaten
Melakukan pengamatan penyakit menular yang berpotensial wabah.
Melakukan pencatatan kegiatan P2M yang dilaksanakan.
Melkukan pelaporan kegiatan P2M yang dilaksanakan
Melakukan evaluasi program

c. Unit kesehatan Lingkungan


1. Melaksanakan pengawasan dan bimbingan terhadap :
Tempat-tempat umum ( TTU )
Tempat pengolahan dan penjualan makanan
Perumahan dan pemukiman
Sarana sanitasi dasar di masyarakat
Tempat penyimpanan dan penjualan pestisida
2. Pemeriksaan hygiene dan sanitasi tempat-tempat umum
3. Pemeriksaan kesehatan kerja
4. Pemantauan dan pemeriksaan kesehatan lingkungan rumah tangga
5. Membuat pencatatan dan laporan
d. Unit perbaikan Gizi
1. Melaksanakan pemberian kapsul vitamin A pada bayi dan balita
2. Melaksanakan pemberian tablet Fe pada bumil
3. Memberikan kapsul Iodium pada Bumil ,WUSdan Busui.
4. Memberikan penyuluhan gizi
5. Melaksanakan pemantauan hasil penimbangan
e. Unit Promosi Kesehatan
1. Melakukan kampanye Prilaku Hidup Bersih dan Sehat ( PHBS ) pada
sarana tanaman-tanaman.

10

2. Memberdayaan terbentuknya dan berperan tokoh masyarakat yang


berwawasan kesehatan.
3. Mendorong terbentuknya Upaya Kesehatan Bersumber Masyarakat
( UKBM )
4. Melakukan melakukan pembinaan kesehatan tradisional

2.8.3.3.
1.
2.
3.
4.
5.
6.

Tim Kerja Rawat Lanjutan dan Gawat Darurat


Penerimaan pasien baik dari poliklinik maupun pasien gawat darurat
Menolong pasien gawat darurat
Menyiapkan ruangan rawat secara layak
Memantau pemberian makanan pasien
Mengontrol pasien dan melakukan tindakan sesuai order dokter
Mensterikkan peralatan dan bahan untuk tindakan dan pemeliharan

peralatan medis dan non medis


7. Membuat laporan dan permintaan dan pemakaian obat dan peralatan yang
menunjang
8. Menjaga kebersihan ruangan
9. Melaksanakan pemeriksaan EKG
10. Menyelenggarakan kegiatan operasi katarak
11. Membuat pencatatan dan pelaporan bangsal
2.9. Program Kerja Program TB Puskesmas Dangung-Dangung
Puskesmas Dangung-Dangung memiliki sub unit yang khusus menangani penyakit
TB di wilayah kerja Puskesmas Dangung-Dangung. Sub unit ini memiliki program
sebagi berikut.
1) Penjaringan kasus TB di Masyarakat.
Keberhasilan program penjaringan kasus Tb di masyarakat di Puskesmas
Dangung-dangung selama tahun 2012 dapat dilihat pada angka cakupan suspek
yang diperiksa dan angka cakupan penemuan BTA (+) baru serta persentase
pencapaian Case Detection Rate (CDR). Upaya pengendalian penyakit TB dan
keberhasilan pengobatan yang telah dilakukan di Puskesmas Dangung-Dangung
selama tahun 2012 dapat dilihat dari angka kesembuhan dan angka keberhasilan
Pengobatan yang diilustrasikan dalam tabel dan grafik berikut.
Tabel. Penemuan Kasus TB Puskesmas Dangung Tahun 2012

11

Tabel. Hasil Pengobatan Penderita TB BTA (+) Tahun 2012

Tabel. Target Suspek dan Pencapaian Penemuan Kasus TB BTA (+) 2012

Grafik Proporsi Pasien Baru TB Paru BTA (+) di antara Suspek Tahun 2012

12

Grafik Proporsi Pasien baru TB Paru BTA Positif di antara Semua Pasien TB
Paru Tercatat / Diobati Puskesmas Dangung-Dangung Tahun 2012

Grafik Angka Konversi Puskesmas Dangung-Dangung Tahun 2012

Grafik Proporsi Pasien TB Anak di antara Seluruh Pasien TB Puskesmas


Dangung-Dangung Tahun 2012

13

Grafik Angka Kesembuhan Pengobatan Tahun 2012

Grafik Angka Keberhasilan Pengobatan Tahun 2012

2) Pemeriksaan kontak serumah.


3) Perkesmas untuk penderita TB.
4) Penyuluhan TB di posyandu lansia, posyandu balita ataupun di puskesmas oleh
petugas TB dan promkes.
14

5)
6)
7)
8)

Sosialisasi Jorong peduli TB dan pembinaan kader TB.


Pembentukan tim DOTS TB.
Pembinaan pasien mangkir/DO.
Pengisian kuesioner pada pasien yang berkunjung ke puskesmas tentang TB

untuk penjaringan kasus.


9) Konsultasi gizi pada pasien baru setelah 2 bulan pengobatan dan akhir
pengobatan.
10) Konsultasi kesling pada psien baru.
11) Memotivasi PMO agar lebih aktif mendampingi pasien yang makan obat.
12) Kerjasama dengan BPS dan dokter praktek swasta untuk penjaringan kasus.

BAB III
TINJAUAN PUSTAKA
3.1. Tuberkulosis
3.1.1.
Defenisi

15

Tuberkulosis adalah penyakit menular langsung yang disebabkan oleh kuman


TB (Mycobacterium tuberculosis). Sebagian besar kuman TB menyerang paru,
tetapi dapat juga mengenai organ tubuh lainnya.
3.1.2.

Cara Penularan dan Resiko Penularan

Pada waktu batuk atau bersin, pasien menyebarkan kuman ke udara dalam
bentuk percikan dahak (droplet nuclei). Sekali batuk dapat menghasilkan sekitar
3000 percikan dahak. Umumnya penularan terjadi dalam ruangan dimana percikan
dahak berada dalam waktu yang lama. Ventilasi dapat mengurangi jumlah percikan,
sementara sinar matahari langsung dapat membunuh kuman. Percikan dapat bertahan
selama beberapa jam dalam keadaan yang gelap dan lembab.
Daya penularan seorang pasien ditentukan oleh banyaknya kuman yang
dikeluarkan dari parunya. Makin tinggi derajat kepositifan hasil pemeriksaan dahak,
makin menular pasien tersebut. Faktor yang memungkinkan seseorang terpajan
kuman TB ditentukan oleh konsentrasi percikan dalam udara dan lamanya
menghirup udara tersebut.
Risiko tertular tergantung dari tingkat pajanan dengan percikan dahak. Pasien
TB paru dengan BTA positif memberikan kemungkinan risiko penularan lebih besar
dari pasien TB paru dengan BTA negatif.
Risiko penularan setiap tahunnya di tunjukkan dengan Annual Risk of
Tuberculosis Infection (ARTI) yaitu proporsi penduduk yang berisiko terinfeksi TB
selama satu tahun. ARTI sebesar 1%, berarti 10 (sepuluh) orang diantara 1000
penduduk terinfeksi setiap tahun. ARTI di Indonesia bervariasi antara 1-3%. Infeksi
TB dibuktikan dengan perubahan reaksi tuberkulin negatif menjadi positif.
Faktor yang mempengaruhi kemungkinan seseorang menjadi pasien TB adalah
daya tahan tubuh yang rendah, diantaranya infeksi HIV/AIDS dan malnutrisi (gizi
buruk). HIV merupakan faktor risiko yang paling kuat bagi yang terinfeksi TB
menjadi sakit TB. Infeksi HIV mengakibatkan kerusakan luas sistem daya tahan
tubuh seluler (Cellular immunity), sehingga jika terjadi infeksi oportunistik, seperti
tuberkulosis, maka yang bersangkutan akan menjadi sakit parah bahkan bisa
mengakibatkan kematian. Bila jumlah orang terinfeksi HIV meningkat, maka jumlah

16

pasien TB akan meningkat, dengan demikian penularan TB di masyarakat akan


meningkat pula.

Gambar. Faktor Resiko Kejadian TB

3.1.3.

Penemuan Pasien TB

Kegiatan penemuan pasien terdiri dari penjaringan suspek, diagnosis,


penentuan klasifikasi penyakit dan tipe pasien. Penemuan pasien merupakan langkah
pertama dalam kegiatan program penanggulangan TB. Penemuan dan penyembuhan
pasien TB menular, secara bermakna akan dapat menurunkan kesakitan dan
kematian akibat TB, penularan TB di masyarakat dan sekaligus merupakan kegiatan
pencegahan penularan TB yang paling efektif di masyarakat.
Strategi penemuan pasien TB dilakukan secara pasif dengan promosi aktif.
Penjaringan tersangka pasien dilakukan di unit pelayanan kesehatan; didukung
dengan penyuluhan secara aktif, baik oleh petugas kesehatan maupun masyarakat,
untuk meningkatkan cakupan penemuan tersangka pasien TB. Strategi penemuan
juga melalui pemeriksaan terhadap kontak pasien TB, terutama mereka yang BTA
positif, yang menunjukkan gejala sama, harus diperiksa dahaknya.

17

Gejala utama pasien TB paru adalah batuk berdahak selama 2-3 minggu atau
lebih. Batuk dapat diikuti dengan gejala tambahan yaitu dahak bercampur darah,
batuk darah, sesak nafas, badan lemas, nafsu makan menurun, berat badan menurun,
malaise, berkeringat malam hari tanpa kegiatan fisik, demam meriang lebih dari satu
bulan. Mengingat prevalensi TB di Indonesia saat ini masih tinggi, maka setiap
orang yang datang ke UPK dengan gejala tersebut diatas, dianggap sebagai seorang
tersangka (suspek) pasien TB, dan perlu dilakukan pemeriksaan dahak secara
mikroskopis langsung.
Pemeriksaan dahak berfungsi untuk menegakkan diagnosis, menilai
keberhasilan pengobatan dan menentukan potensi penularan. Pemeriksaan dahak
untuk penegakan diagnosis dilakukan dengan mengumpulkan 3 spesimen dahak
yang dikumpulkan dalam dua hari kunjungan yang berurutan berupa Sewaktu-PagiSewaktu (SPS)

S (sewaktu): dahak dikumpulkan pada saat suspek TB datang berkunjung


pertama kali. Pada saat pulang, suspek membawa sebuah pot dahak untuk

mengumpulkan dahak pagi pada hari kedua.


P (Pagi): dahak dikumpulkan di rumah pada pagi hari kedua, segera setelah

bangun tidur. Pot dibawa dan diserahkan sendiri kepada petugas di UPK.
S (sewaktu): dahak dikumpulkan di UPK pada hari kedua, saat menyerahkan
dahak pagi.

3.1.4. Diagnosis TB
3.1.4.1. Diagnosis TB Paru
Semua suspek TB diperiksa 3 spesimen dahak dalam waktu 2 hari, yaitu
sewaktu - pagi - sewaktu (SPS). Diagnosis TB Paru pada orang dewasa
ditegakkan dengan ditemukannya kuman TB (BTA). Pada program TB nasional,
penemuan BTA melalui pemeriksaan dahak mikroskopis merupakan diagnosis
utama. Pemeriksaan lain seperti foto toraks, biakan dan uji kepekaan dapat
digunakan sebagai penunjang diagnosis sepanjang sesuai dengan indikasinya.
Tidak dibenarkan mendiagnosis TB hanya berdasarkan pemeriksaan foto
toraks saja. Foto toraks tidak selalu memberikan gambaran yang khas pada TB
paru, sehingga sering terjadi overdiagnosis.

18

3.1.4.2. Diagnosis TB Ekstra Paru


Gejala dan keluhan tergantung organ yang terkena, misalnya kaku kuduk
pada Meningitis TB, nyeri dada pada TB pleura (Pleuritis), pembesaran kelenjar
limfe superfisialis pada limfadenitis TB dan deformitas tulang belakang (gibbus)
pada spondilitis TB dan lainlainnya.
Diagnosis pasti sering sulit ditegakkan sedangkan diagnosis kerja dapat
ditegakkan berdasarkan gejala klinis TB yang kuat (presumtif) dengan
menyingkirkan kemungkinan penyakit lain. Ketepatan diagnosis tergantung
pada metode pengambilan bahan pemeriksaan dan ketersediaan alat-alat
diagnostik, misalnya uji mikrobiologi, patologi anatomi, serologi, foto toraks
dan lain-lain.
Pada sebagian besar TB paru, diagnosis terutama ditegakkan dengan
pemeriksaan dahak secara mikroskopis dan tidak memerlukan foto toraks.
Namun pada kondisi tertentu pemeriksaan foto toraks perlu dilakukan sesuai
dengan indikasi sebagai berikut:
1. Hanya 1 dari 3 spesimen dahak SPS hasilnya BTA positif. Pada kasus ini
pemeriksaan foto toraks dada diperlukan untuk mendukung diagnosis TB
paru BTA positif.
2. Ketiga spesimen dahak hasilnya tetap negatif setelah 3 spesimen dahak
SPS pada pemeriksaan sebelumnya hasilnya BTA negatif dan tidak ada
perbaikan setelah pemberian antibiotika non OAT.
3. Pasien tersebut diduga mengalami komplikasi sesak nafas berat yang
memerlukan

penanganan khusus (seperti: pneumotorak, pleuritis

eksudativa, efusi perikarditis atau efusi pleural) dan pasien yang


mengalami hemoptisis berat (untuk menyingkirkan bronkiektasis atau
aspergiloma).

19

Gambar. Alur Diagnosis TB Paru


3.1.5.

Klasifikasi Penyakit dan Tipe Pasien


Klasifikasi Penyakit adalah sebagai berikut.
a. Klasifikasi berdasarkan Organ Tubuh yang Terkena
1. Tuberkulosis paru. Tuberkulosis paru adalah tuberkulosis yang
menyerang jaringan (parenkim) paru. tidak termasuk pleura (selaput
paru) dan kelenjar pada hilus.
2. Tuberkulosis ekstra paru. Tuberkulosis yang menyerang organ tubuh
lain selain paru, misalnya pleura, selaput otak, selaput jantung
(pericardium), kelenjar lymfe, tulang, persendian, kulit, usus, ginjal,
saluran kencing, alat kelamin, dan lain-lain.
b. Klasifikasi berdasarkan Hasil Pemeriksaan Dahak Mikroskopis
1. Tuberkulosis paru BTA positif.
20

Sekurang-kurangnya 2 dari 3 spesimen dahak SPS hasilnya BTA

positif.
1 spesimen dahak SPS hasilnya BTA positif dan foto toraks dada

menunjukkan gambaran tuberkulosis.


1 spesimen dahak SPS hasilnya BTA positif dan biakan kuman TB

positif.
1 atau lebih spesimen dahak hasilnya positif setelah 3 spesimen
dahak SPS pada pemeriksaan sebelumnya hasilnya BTA negatif

dan tidak ada perbaikan setelah pemberian antibiotika non OAT.


2. Tuberkulosis paru BTA negatif
Kasus yang tidak memenuhi definisi pada TB paru BTA positif. Kriteria
diagnostik TB paru BTA negatif harus meliputi:
Paling tidak 3 spesimen dahak SPS hasilnya BTA negatif
Foto toraks abnormal menunjukkan gambaran tuberkulosis.
Tidak ada perbaikan setelah pemberian antibiotika non OAT.
Ditentukan (dipertimbangkan) oleh dokter untuk diberi
pengobatan.
c. Klasifikasi berdasarkan Tingkat Keparahan Penyakit
1. TB paru BTA negatif foto toraks positif dibagi berdasarkan tingkat
keparahan penyakitnya, yaitu bentuk berat dan ringan. Bentuk berat
bila gambaran foto toraks memperlihatkan gambaran kerusakan paru
yang luas (misalnya proses far advanced), dan atau keadaan umum
pasien buruk.
2. TB ekstra-paru dibagi berdasarkan pada tingkat keparahan penyakitnya,
yaitu:
TB ekstra paru ringan, misalnya: TB kelenjar limfe, pleuritis
eksudativa unilateral, tulang (kecuali tulang belakang), sendi, dan
kelenjar adrenal.
3. TB ekstra-paru berat, misalnya: meningitis, milier, perikarditis,
peritonitis, pleuritis eksudativa bilateral, TB tulang belakang, TB usus,
TB saluran kemih dan alat kelamin.
Tipe pasien ditentukan berdasarkan riwayat pengobatan sebelumnya. Ada
beberapa tipe pasien yaitu:
1. Kasus baru
Adalah pasien yang belum pernah diobati dengan OAT atau sudah pernah
menelan OAT kurang dari satu bulan (4 minggu).
21

2. Kasus kambuh (Relaps)


Adalah pasien tuberkulosis

yang

sebelumnya

pernah

mendapat

pengobatan tuberculosis dan telah dinyatakan sembuh atau pengobatan


lengkap, didiagnosis kembali dengan BTA positif (apusan atau kultur).
3. Kasus setelah putus berobat (Default )
Adalah pasien yang telah berobat dan putus berobat 2 bulan atau lebih
dengan BTA positif.
4. Kasus setelah gagal (failure)
Adalah pasien yang hasil pemeriksaan dahaknya tetap positif atau kembali
menjadi positif pada bulan kelima atau lebih selama pengobatan.
5. Kasus Pindahan (Transfer In)
Adalah pasien yang dipindahkan dari UPK yang memiliki register TB lain
untuk melanjutkan pengobatannya.
6. Kasus lain :
Adalah semua kasus yang tidak memenuhi ketentuan diatas. Dalam
kelompok ini termasuk Kasus Kronik, yaitu pasien dengan hasil
pemeriksaan masih BTA positif setelah selesai pengobatan ulangan.
3.1.6.

Upaya Penanggulangan TB

Pada awal tahun 1990-an WHO dan IUATLD telah mengembangkan strategi
penanggulangan TB yang dikenal sebagai strategi DOTS (Directly observed
Treatment Short-course) dan telah terbukti sebagai strategi penanggulangan yang
secara ekonomis paling efektif (cost-efective).
Fokus utama DOTS adalah penemuan dan penyembuhan pasien, prioritas
diberikan kepada pasien TB tipe menular. Strategi ini akan memutuskan penularan
TB dan dengan demkian menurunkan insidens TB di masyarakat. Menemukan dan
menyembuhkan pasien merupakan cara terbaik dalam upaya pencegahan penularan
TB.
Strategi DOTS terdiri dari 5 komponen kunci, yaitu:
1. Komitmen politis
2. Pemeriksaan dahak mikroskopis yang terjamin mutunya.
3. Pengobatan jangka pendek yang standar bagi semua kasus TB dengan
tatalaksana kasus yang tepat, termasuk pengawasan langsung pengobatan.
4. Jaminan ketersediaan OAT yang bermutu.

22

5. Sistem pencatatan dan pelaporan yang mampu memberikan penilaian


terhadap hasil pengobatan pasien dan kinerja program secara keseluruhan.
Dalam perkembangannya dalam upaya ekspansi penanggulangan TB,
kemitraan global dalam penanggulangan TB (stop TB partnership) mengembangkan
strategi sebagai berikut :
1. Mencapai, mengoptimalkan dan mempertahankan mutu DOTS
2. Merespon masalah TB-HIV, MDR-TB dan tantangan lainnya
3. Berkontribusi dalam penguatan system kesehatan
4. Melibatkan semua pemberi pelayanan kesehatan baik pemerintah maupun
swasta.
5. Memberdayakan pasien dan masyarakat
6. Melaksanakan dan mengembangkan riset
.2. Situasi TB di Indonesia
Indonesia sekarang berada pada ranking kelima negara dengan beban TB
tertinggi di dunia. Estimasi prevalensi TB semua kasus adalah sebesar 660,000
(WHO, 2010) dan estimasi insidensi berjumlah 430,000 kasus baru per tahun.
Jumlah kematian akibat TB diperkirakan 61,000 kematian per tahunnya.
Angka MDR-TB diperkirakan sebesar 2% dari seluruh kasus TB baru (lebih
rendah dari estimasi di tingkat regional sebesar 4%) dan 20% dari kasus TB dengan
pengobatan ulang. Diperkirakan terdapat sekitar 6.300 kasus MDR TB setiap
tahunnya.
Meskipun memiliki beban penyakit TB yang tinggi, Indonesia merupakan
Negara pertama diantara High Burden Country (HBC) di wilayah WHO South-East
Asian yang mampu mencapai target global TB untuk deteksi kasus dan keberhasilan
pengobatan pada tahun 2006. Pada tahun 2009, tercatat sejumlah sejumlah 294.732
kasus TB telah ditemukan dan diobati (data awal Mei 2010) dan lebih dari 169.213
diantaranya terdeteksi BTA+. Dengan demikian, Case Notification Rate untuk TB
BTA+ adalah 73 per 100.000 (Case Detection Rate 73%). Rerata pencapaian angka
keberhasilan pengobatan selama 4 tahun terakhir adalah sekitar 90% dan pada kohort
tahun 2008 mencapai 91%. Pencapaian target global tersebut merupakan tonggak
pencapaian program pengendalian TB nasional yang utama.
23

Meskipun secara nasional menunjukkan perkembangan yang meningkat dalam


penemuan kasus dan tingkat kesembuhan, pencapaian di tingkat provinsi masih
menunjukkan disparitas antar wilayah.
Sebanyak 28 provinsi di Indonesia belum dapat mencapai angka penemuan
kasus (CDR) 70% dan hanya 5 provinsi menunjukkan pencapaian 70% CDR dan
85% kesembuhan.

Jumlah kasus TB anak pada tahun 2009 mencapai 30.806 termasuk 1,865
kasus BTA positif. Proposi kasus TB anak dari semua kasus TB mencapai 10.45%.
Angka-angka ini merupakan gambaran parsial dari keseluruhan kasus TB anak yang
sesungguhnya mengingat tingginya kasus overdiagnosis di fasilitas pelayanan

24

kesehatan yang diiringi dengan rendahnya pelaporan dari fasilitas pelayanan


kesehatan.
3.3.

Program Penanggulangan TB di Indonesia


Pelaksanaan upaya pengendalian TB di Indonesia secara administrative berada

di bawah dua Direktorat Jenderal Kementerian Kesehatan, yaitu Bina Upaya


Kesehatan, dan P2PL (Subdit Tuberkulosis yang bernaung di bawah Ditjen P2PL).
Pembinaan Puskesmas berada di bawah Ditjen Bina Upaya Kesehatan dan
merupakan tulang punggung layanan TB dengan arahan dari subdit Tuberkulosis,
sedangkan pembinaan rumah sakit berada di bawah Ditjen Bina Upaya Kesehatan.
Sasaran strategi nasional pengendalian TB mengacu pada rencana strategis
kementerian kesehatan dari 2010 sampai dengan tahun 2014 yaitu menurunkan
prevalensi TB dari 235 per 100.000 penduduk menjadi 224 per 100.000 penduduk.
Sasaran keluaran adalah: (1) meningkatkan persentase kasus baru TB paru (BTA
positif) yang ditemukan dari 73% menjadi 90%; (2) meningkatkan persentase
keberhasilan pengobatan kasus baru TB paru (BTA positif) mencapai 88%; (3)
meningkatkan persentase provinsi dengan CDR di atas 70% mencapai 50%; (4)
meningkatkan persentase provinsi dengan keberhasilan pengobatan di atas 85% dari
80% menjadi 88%.

Guna mencapai sasaran-sasaran di atas maka strategi-strategi yang akan


dilaksanakan adalah sebagai berikut:
1) Meningkatkan perluasan pelayanan DOTS yang bermutu

25

2) Menangani TB/HIV, MDR-TB, TB anak dan masyarakat miskin serta rentan


lainnya
3) Melibatkan seluruh penyedia pelayanan kesehatan milik pemerintah,
masyarakat dan swasta mengikuti International Standards of TB Care
4) Memberdayakan masyarakat dan pasien TB
5) Memperkuat sistem kesehatan, termasuk pengembangan SDM dan manajemen
program pengendalian TB
6) Meningkatkan komitmen pemerintah pusat dan daerah terhadap program TB
7) Meningkatkan penelitian, pengembangan dan pemanfaatan informasi stratejik

BAB IV
PEMBAHASAN
4.1. Identifikasi Masalah
Identifikasi masalah dilakukan melalui proses observasi wawancara dan
penyebaran kuesioner dengan petugas sub unit Pengendalian Penyakit TB dan bidanbidan desa, serta berdasarkan data sekunder dari buku laporan tahunan Puskesmas
Dangung-Dangung tahun 2012.
Kuesioner yang dibagikan kepada 12 responden yang terdiri dari seluruh bidan
desa di wilayah kerja Puskesmas Dangung-Dangung, kami menanyakan tentang
pengetahuan, sikap dan perilaku responden yang berhubungan dengan penjaringan
suspek TB di wilayah kerja mereka.
Berdasarkan jawaban yang diperoleh dari responden yang berstatus sebagai bidan
desa, didapatkan bahwa mayoritas responden tidak memperoleh pelatihan khusus
mengenai penyakit TB yaitu 7 orang ( 58%) dibandingkan dengan responden yang
pernah menperoleh pelatihan yaitu 5 orang ( 42%)

26

Keikutsertaan Bidan Desa pada Pelatihan Penyakit TB

Pernah; 42%
Tidak Pernah; 58%

Grafik. Keikutsertaan Bidan Desa pada Pelatihan Penyakit TB


Dari responden yang pernah mengikuti pelatihan, ditemukan bahwa masingmasing responden hanya pernah mengikuti pelatihan sebanyak satu kali.

Jumlah Pelatihan yang Diikuti Bidan Desa


Jumlah pelatihan yang pernah diikuti oleh Bidan Desa
5

1 kali

> 10kali

< 50kali

> 50kali

Grafik. Jumlah Pelatihan yang diikuti Bidan Desa


Dari pelatihan yang hanya diikuti sebanyak satu kali dari setiap responden yang
pernah mengikuti pelatihan, semua berpendapat bahwa pelatihan yang pernah diikuti
tersebut tidak cukup memadai untuk mendukung kinerja mereka sebagai bidan desa.

27

Tingkat Kepuasan terhadap Frekuensi Pelatihan


5

Memadai
0

Tidak Memadai

Sebanyak 11 orang ( 92% )dari total 12 orang responden yang berasal dari bidan
desa mengaku mengetahui program-program yang dicanangkan oleh subunit P2TB
Puskesmas Dangung-Dangung sedangkan sisanya sebanyak 1 orang (8%) mengaku tidak
mengetahui.

Distribusi Pengetahuan terhadap Program P2TB


Tidak; 8%

Ya; 92%

Grafik. Distribusi Pengetahuan terhadap program P2TB


Sebagian besar responden yaitu sebanyak 8 orang ( 67%) mengetahui jumlah
target pencapaian penemuan suspek TB per-triwulan dan per-tahunnya sesuai target yang
telah ditetapkan oleh subunit P2TB, sedangkan sebanyak 4 orang ( 33%) tidak
mengetahui.
28

Distribusi Pengetahuan mengenai Target Penemuan Suspek TB

Tidak; 33%

Ya; 67%

Grafik. Distribusi Pengetahuan mengenai Target Penemuan Suspek TB


Saat diajukan pertanyaan apakah responden mengetahui gejala klini dan gejala
patognomonis (gejala khas) pada pasien yang dicurigai menderita TB, semua responden
(100%) mengaku mengetahui.

Pengetahuan tentang Gejala Patognomonis TB

Ya; 100%

Grafik. Pengetahuan tentang Gejala Patognomonis TB


Namun saat ditanyakan tentang semua pilihan gejala klinis penyakit TB dan
responden diperbolehkan untuk menjawab lebih dari satu pilihan jawaban, tidak semua
responden memberikan jawaban secara merata.

29

Bagaimanakah gejala klinis pada pasien yang menderita TB?


Bagaimanakah gejala klinis pada pasien yang menderita TB?
Badan lemah,nafsu makan menurun,berat badan menurun,rasa kurang enak badan,berkeringat malam walaupun tanpa kegiatan,demam meriang lebih dari sebulan

12

Sesak nafas dan rasa nyeri dada


Batuk darah
Dahak bercampur darah
Batuk terus menerus dan berdahak selama 3 (tiga) minggu atau lebih

10
5
8
9

Grafik. Distribusi Gejala Klinis Penyakit TB menurut Responden


Saat responden diberikan pertanyaan tentang kriteria penegakan diagnosis
penyakit TB, tidak semua responden memberikan jawaban secara merata.

Kriteria Penegakan Diagnosis TB menurut Responden


Apabila tiga spesimen SPS BTA hasil positif
Apabila sedikitnya dua dari tiga spesimen SPS BTA hasil positif
Apabila sedikitnya satu dari tiga spesimen SPS BTA hasil positif
Apabila satu spesimen positif dan hasil rontgen mendukung TB paru
Apabila SPS BTA hasil negatif, namun hasil rontgen mendukung TB paru

16%

25%

25%
9%

25%

Grafik. Kriteria Penegakan Diagnosis TB menurut Responden


Berikut ditampilkan distribusi kegiatan-kegiatan program TB yang pernah
dilaksanakan oleh setiap responden di wilayah kerja masing-masing.

30

Distribusi Kegiatan Progam TB Responden


Lainnya
Pembinaan pasien mangkir/DO
Penyuluhan TB di Puskesmas Pembantu, Posyandu Lansia atau Posyandu Balita
Pemeriksaan kontak serumah
Penjaringan kasus TB di Masyarakat
0 2
4 6
8 10
12
Kegiatan apa saja yang pernah saudara lakukan dalam program TB?

Grafik. Distribusi Kegiatan Program TB Responden


Mayoritas responden yaitu sebanyak 11 orang ( 92%) mengganggap bahwa
supervise yang dijalankan oleh Kepala Puskesmas, Dokter dan Petugas P2TB sudah
memberikan petunjuk dan arahan yang memadai tentang tugas mereka dalam
menghadapi setiap pasien yang dicurigai menderita TB, sedangkan sisanya sebanyak 1
orang (8%) menjawab tidak.

Tingkat Kepuasan Responden terhadap Petunjuk Arahan Supervisi


Tidak; 8%

Ya; 92%

Grafik. Tingkat Kepuasan responden terhadap Petunujk Arahan Supervisi


Sebanyak 10 responden ( 83%) menganggap bahwa supervise yang dijalankan
oleh Kepala Puskesmas, Dokter, dan Petugas P2TB sudah dijalankan secara rutin dan
berkala terhadap penanganan pasien suspek TB, sedangkan sisanya yaitu 2 orang ( 17%)
menjawab tidak.
31

Regularitas Supervisi menurut Responden


Tidak; 17%

Ya; 83%

Grafik. Regularitas Supervisi menurut Responden


Saat diberikan pertanyaan kepada responden, apakah mereka puas dengan
pemecahan masalah yang diberikan oleh supervisor dalam melaksanakan tugas dalam
penanganan kasus TB sehari-hari, sebanyak 9 orang ( 75%) mengaku puas dan sisanya
yaitu 3 orang (%) mengaku tidak.

Tingkat Kepuasan Pemecahan Masalah dari Supervisor menurut Responden


Tidak; 25%

Ya; 75%

Grafik. Tingkat Kepuasan Pemecahan Masalah dari Supervisor menurut


Responden
Setiap berhasil menjaring pasien suspek TB, sebanyak 11 orang responden
(92%) memperoleh insentif, sedangkan sisanya yaitu sebanyak 1 orang ( 8%) tidak
memperoleh insentif.

32

Perolehan Insentif Penjaringan Suspek TB


Tidak; 8%

Ya; 92%

Grafik. Perolehan Insentif Penjaringan Suspek TB


Dari 11 orang responden yang memperoleh insentif setelah berhasil menjaring
suspek TB, sebanyak 75% menyatakan besaran insentif tidak cukup dan tidak layak,
sedangkan hanya sebesar 25% yang menyatakan cukup dan layak.

Tingkat Kepuasan Responden terhadap Insentif


Ya; 25%

Tidak; 75%

Grafik. Tingkat Kepuasan Responden terhadap Insentif

Responden juga diberikan pertanyaan terbuka seputar kendala yang dihadapi


dalam penjaringan suspek TB di wilayah kerjanya. Mayoritas responden memberikan
jawaban beragam tetapi memiliki tetapi inti yang sama yaitu

pasien tidak mau

memeriksa penyakit seperti batuk > 2 minggu, pasien tidak bias mengeluarkan dahak,
merahasiakan penyakitnya kepada petugas kesehatan, tidak paham dan menganggap

33

sepele dengan penyakit TB, jarah tempat tinggal pasien yang cukup jauh dengan
puskesmas sehingga menyulitkan pasien memeriksakan penyakitnya atau untuk
menjalani pemeriksaan sputum.
Menurut Responden, yang menjadi penyebab masalah di atas diantaranya adalah
keterbatasan biaya untuk berobat, kurang pengetahuan tentang penyakit TB, kesulitan
transportasi ke puskesmas, faktor ekonomi, berobat ke alternatif. Dan masih adanya
budaya di tengah-tengah masyarakat bahwa menderita penyakit TB itu merupakan suatu
aib, penyakit guna-guna atau penyakit akibat diracuni orang, dan penyakit keturunan.
Berdasarkan jawaban yang diperoleh dari responden yang berstatus sebagai
petugas pemegang program TB yang berjumlah satu orang, responden telah mengikuti
lebih dari lima kali pelatihan mengenai penegakan diagnosis dan alur penanganan
penderita TB, namun masih dirasa belum cukup memadai untuk medukung kinerja
sebagai pemegang program TB. Responden rutin melakukan pertemuan pembahasan
program TB dengan Bidan Desa dan kader TB dengan frekuensi pertemuan satu kali per
bulan. Penyuluhan TB rutin dilakukan di dalam dan di luar puskesmas setiap bulannya.
Responden rutin melakukan pemeriksaan kontak serumah setiap Bulannya. Penyebaran
media promosi dilakukan di Puskesmas, puskesmas pembantu dan posyandu.
Menurut responden yang berasal dari petugas pemegang program TB, kendala
penjaringan suspek TB adalah karena lokasi daerah tempat tinggal pasien yang jauh,
kurangnya kerjasama tim DOTS, kurangnya kesadaran petugas untuk melaksanakan
tugas lapangan dan adanya petugas yang memiliki tugas rangkap.

4.2. Analisis Masalah


Berdasarkan hasil proses observasi wawancara dan penyebaran kuesioner
dengan petugas sub unit Pengendalian Penyakit TB dan bidan-bidan desa, serta
berdasarkan data sekunder dari buku laporan tahunan Puskesmas Dangung-Dangung
tahun 2012, maka didapatkan beberapa penyebab masalah yang mendasari tidak
tercapainya target penjaringan suspek TB di wilayah kerja Puskesmas Dangung-Dangung
adalah sebagai berikut.
1. Manusia
a. Pasien

34

1) Rendahnya tingkat pengetahuan masyarakat tentang penyakit TB dan


bahayanya. Hal ini bisa dilihat dari masih banyaknya pasien yang tidak mau
memeriksakan penyakitnya ke pusat kesehatan walaupun telah menderita
keluhan khas penyakit TB, masih banyak pasien yang menganggap sepele
dengan TB, sehingga banyak yang lebih memilih untuk berobat alternative.
2) Berkembangnya mitos-mitos yang salah di tengah-tengah masyarakat,
seperti anggapan bahwa TB adalah penyakit guna-guna , penyakit
keturunan atau akibat penyakit akibat diracuni orang sehingga menderita
penyakit TB merupakan suatu aib.
b. Tenaga Kesehatan
1) Masih minimnya pengetahuan bidan desa sebagai petugas kesehatan primer
yang langsung berhadapan dengan masyarakat sehari-hari tentang penyakit
TB, diagnosis, bahaya dan penanganannya. Hal ini salah satu penyebabnya
karena masih minimnya keikutsertaan bidan desa pada pelatihan khusus TB.
Petugas P2TB telah mengikuti pelatihan lebih dari lima kali tetapi masih
dirasa belum cukup.
2) Supervisor (Kepala Puskesmas, dokter dan Petugas P2TB) dianggap masih
belum memberikan pemecahan masalah yang tepat bagi sebagian
permasalahn bidan desa di lapangan
3) Kurangnya kerjasama Tim DOTs
4) Masih rendahnya kesadaran petugas untuk melaksanakan tugas lapangan
5) Masih adanya petugas yang memiliki tugas rangkap
2. Metode
1) Masih minimnya penyuluhan TB yang efektif dan efisien yang dapat
meningkatkan pemahaman dan kesadaran masyarakat tentang penyakit TB dan
bahayanya
2) Masih minimnya pelatihan (seminar, workshop,dll) mengenai penagakan
diagnosis dan alur penjaringan dan penanganan penderita TB bagi tenaga
kesehatan layanan primer khususnya bidan desa. Dari kuesioner yang
dibagikan kepada responden yang terdiri dari bidan desa, mayoritas belum
pernah mengikuti pelatihan, bagi yang sudah pernah, hanya mengikuti
sebanyak satu kali dan dirasa belum cukup.
3) Masih minimnya program-program P2TB khususnya kegiatan penjaringan TB
yang dilaksanakan oleh Bidan desa di wilayah kerjanya.
4) Masih minimnya sosialisasi program-program P2TB puskesmas DangungDangung staf dan petugas puskesmas lainnya khususnya bidan desa, sehingga
35

berakibat tidak terealisasinya target-target pencapaian program dengan


maksimal.
3. Material
1) Asuransi kesehatan yang belum merata bagi seluruh masyarakat yang
membutuhkan, sehingga bagi masyarakat yang belum memiliki asuransi
kesehatan,

keterbatasan

biaya

menjadi

alasan

tidak

memeriksakan

kesehatannya ke pusat kesehatan.


2) Dana Insentif yang diperoleh oleh bidan desa setiap berhasil menjaring suspek
TB masih dianggap belum cukup dan layak sesuai beban kerja sehingga
diasumsikan akan mengurangi motivasi bidan desa dalam melakukan
penjaringan
3) Minimnya media promosi yang ada untuk mensosialisasikan program-program
TB ataupun untuk memberikan informasi penyakit TB dan bahayanya kepada
masyarakat
4. Lingkungan
1) Jarak tempuh yang cukup jauh antara puskesmas dengan tempat tinggal pasien,
sehingga menyulitkan pasien dating ke puskesmas.
2) Keterbatasan alat transportasi public sehingga menyulitkan pasien untuk dating
memeriksakan kesehatannya ke puskesmas

36

MANUSIA
Pasien
- Rendahnya tingkat pengetahuan masyarakat tentang
penyakit TB
-Berkembangnya mitos-mitos yang salah tentang penyakit Tb di
tengah-tengah masyarakat

Tenaga Kesehatan

LINGKUNGAN
-

Jarak tempuh yang cukup


jauh
antara
puskesmas
dengan
tempat
tinggal
pasien
-Keterbatasan alat transportasi
public

-Masih kurangnya pengetahuan bidan desa tentang penyakit TB,


penegakan diagnose dan penanganan
-Supervisor dianggap masih belum memberikan pemecahan
yang tepat pada sebagian kasus di lapangan
-Kurangnya kerjasama Tim DOTs
-Masih rendahnya kesadaran petugas untuk melaksanakan tugas
lapangan
-Masih adanya petugas yang memiliki tugas rangkap

Rendahnya cakupan
penjaringan suspek
TB di wilayah kerja
Puskesmas DangungDangung

MATERIAL
-

METODE

Asuransi kesehatan yang belum


merata bagi seluruh masyarakat
- Dana Insentif yang diperoleh oleh
bidan desa masih dianggap belum
cukup dan layak sesuai beban kerja
- Minimnya media promosi yang ada

Masih minimnya penyuluhan TB yang


efektif dan efisien bagi masyarakat
Masih minimnya pelatihan TB bagi bidan
desa.
Masih minimnya program-program P2TB
yang dilaksanakan Bidan Desa
Masih Minimnya sosialisasi Programprogram P2TB

Gambar 4.5. Diagram Ishikawa

37

BAB V
RENCANA PELAKSANAAN PROGRAM
5.1. Alternatif Penyelesaian Masalah
1. Manusia
a. Pasien
1) Rendahnya tingkat pengetahuan masyarakat tentang penyakit TB dan
bahayanya. Hal ini bisa dilihat dari masih banyaknya pasien yang tidak mau
memeriksakan penyakitnya ke pusat kesehatan walaupun telah menderita
keluhan khas penyakit TB, masih banyak pasien yang menganggap sepele
dengan TB, sehingga banyak yang lebih memilih untuk berobat alternative.
a) Rencana
b)
c)
d)
e)
f)

Pelaksana
Waktu
Tempat
Dana
Target

2) Berkembangnya mitos-mitos yang salah di tengah-tengah masyarakat,


seperti anggapan bahwa TB adalah penyakit guna-guna , penyakit
keturunan atau akibat penyakit akibat diracuni orang sehingga menderita
penyakit TB merupakan suatu aib.
a) Rencana
b) Pelaksana
c) Waktu
d) Tempat
e) Dana
f) Target
b. Tenaga Kesehatan
1) Masih minimnya pengetahuan bidan desa sebagai petugas kesehatan primer
yang langsung berhadapan dengan masyarakat sehari-hari tentang penyakit
TB, diagnosis, bahaya dan penanganannya. Hal ini salah satu penyebabnya
karena masih minimnya keikutsertaan bidan desa pada pelatihan khusus TB.
a) Rencana
Melakukan seminar dan pelatihan singkat mengenai alur penegakan
diagnosis serta penanganan pasien suspek TB dan penderita TB.
b) Pelaksana

38

Pada Kerjasama Lintas Program Kepala Puskesmas, dokter,


Petugas

P2TB

Puskesmas

Dangung-Dangung

atau

Dinas

Kesehatan Kabupaten Lima Puluh Kota


Pada kerjasama Lintas Program Sektor adalah dokter dari

Pehimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI)


c) Waktu
Kegiatan dilaksanakan 1 x setahun
d) Tempat
Kegiatan dilaksanakan di Ruang Pertemuan Puskesmas
e) Dana
Pendanaan berasal dari dana pemngembangan SDM Puskesmas atau
Dinas Kesehatan Kabupaten Lima Puluh Kota
f) Sasaran
Bidan Desa, Petugas P2TB, Kader TB, Staf tim DOTS
g) Target
Seminar dan pelatihan dilaksanakan minimal satu kali setahun dan

seminar penyegaran dengan frekuensi sesuai kebutuhan.


Peserta mengetahui dan memahami gejala klinis, alur penegakan
diagnosis dan bahaya penyakit TB

2) Supervisor (Kepala Puskesmas, dokter dan Petugas P2TB) dianggap masih


belum memberikan pemecahan masalah yang tepat bagi sebagian
permasalahan bidan desa di lapangan
a) Rencana
Mengagendakan pertemuan rutin bulanan Tim Pengendalian TB
(Supervisor, petugas P2TB, Bidan Desa, Tim DOTS, Kader TB)
Puskesmas Dangung-Dangung.
b) Pelaksana
c)
d)
e)
f)

Waktu
Tempat
Dana
Target

3) Kurangnya kerjasama Tim DOTs


a) Rencana
b) Pelaksana
c) Waktu
d) Tempat
e) Dana
f) Target
4) Masih rendahnya kesadaran petugas untuk melaksanakan tugas lapangan

39

a)
b)
c)
d)
e)
f)

Rencana
Pelaksana
Waktu
Tempat
Dana
Target

5) Masih adanya petugas yang memiliki tugas rangkap


a) Rencana
b) Pelaksana
c) Waktu
d) Tempat
e) Dana
f) Target
2. Metode
1) Masih minimnya penyuluhan TB yang efektif dan efisien yang dapat
meningkatkan pemahaman dan kesadaran masyarakat tentang penyakit TB dan
bahayanya
g) Rencana
h) Pelaksana
i) Waktu
j) Tempat
k) Dana
l) Target
2) Masih minimnya pelatihan (seminar, workshop,dll) mengenai penegakan
diagnosis dan alur penjaringan dan penanganan penderita TB bagi tenaga
kesehatan layanan primer khususnya bidan desa. Dari kuesioner yang
dibagikan kepada responden yang terdiri dari bidan desa, mayoritas belum
pernah mengikuti pelatihan, bagi yang sudah pernah, hanya mengikuti
sebanyak satu kali dan dirasa belum cukup.
a) Rencana
Melakukan seminar dan pelatihan singkat mengenai alur penegakan
diagnosis serta penanganan pasien suspek TB dan penderita TB.
b) Pelaksana
Pada Kerjasama Lintas Program Kepala Puskesmas, dokter,
Petugas

P2TB

Puskesmas

Dangung-Dangung

atau

Dinas

Kesehatan Kabupaten Lima Puluh Kota


Pada kerjasama Lintas Program Sektor adalah dokter dari

Pehimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI)


c) Waktu
Kegiatan dilaksanakan 1 x setahun
40

d) Tempat
Kegiatan dilaksanakan di Ruang Pertemuan Puskesmas
e) Dana
Pendanaan berasal dari dana pemngembangan SDM Puskesmas atau
Dinas Kesehatan Kabupaten Lima Puluh Kota
f) Sasaran
Bidan Desa, Petugas P2TB, Kader TB, Staf tim DOTS
g) Target
Seminar dan pelatihan dilaksanakan minimal satu kali setahun dan

seminar penyegaran dengan frekuensi sesuai kebutuhan.


Peserta mengetahui dan memahami gejala klinis, alur penegakan
diagnosis dan bahaya penyakit TB

3) Masih minimnya program-program P2TB khususnya kegiatan penjaringan TB


yang dilaksanakan oleh Bidan desa di wilayah kerjanya.
a) Rencana
b) Pelaksana
c) Waktu
d) Tempat
e) Dana
f) Target
4) Masih minimnya sosialisasi program-program P2TB puskesmas DangungDangung staf dan petugas puskesmas lainnya khususnya bidan desa, sehingga
berakibat tidak terealisasinya target-target pencapaian program dengan
maksimal.
a) Rencana
b) Pelaksana
c) Waktu
d) Tempat
e) Dana
f) Target
3. Material
1) Asuransi kesehatan yang belum merata bagi seluruh masyarakat yang
membutuhkan, sehingga bagi masyarakat yang belum memiliki asuransi
kesehatan,

keterbatasan

biaya

menjadi

alasan

tidak

memeriksakan

kesehatannya ke pusat kesehatan.


a) Rencana
b) Pelaksana
c) Waktu
d) Tempat
e) Dana
f) Target
41

2) Dana Insentif yang diperoleh oleh bidan desa setiap berhasil menjaring suspek
TB masih dianggap belum cukup dan layak sesuai beban kerja sehingga
diasumsikan akan mengurangi motivasi bidan desa dalam melakukan
penjaringan
a) Rencana
b) Pelaksana
c) Waktu
d) Tempat
e) Dana
f) Target
3) Minimnya media promosi yang ada untuk mensosialisasikan program-program
TB ataupun untuk memberikan informasi penyakit TB dan bahayanya kepada
masyarakat
a) Rencana
b) Pelaksana
c) Waktu
d) Tempat
e) Dana
f) Target
4. Lingkungan
1) Jarak tempuh yang cukup jauh antara puskesmas dengan tempat tinggal pasien,
sehingga menyulitkan pasien dating ke puskesmas.
a)
b)
c)
d)
e)
f)

Rencana
Pelaksana
Waktu
Tempat
Dana
Target

2) Keterbatasan alat transportasi public sehingga menyulitkan pasien untuk dating


memeriksakan kesehatannya ke puskesmas
a) Rencana
b) Pelaksana
c) Waktu
d) Tempat
e) Dana
f) Target
5.2. Tahap Persiapan

42

5.3. Tahap Pelaksanaan

5.4. Tahap Monitoring dan Evaluasi


Tahap ini bertujuan mengetahui kesuksesan jalannya pelaksanaan semua program.
Monitoring dilakukan rutin setiap bulan setelah pelaksanaan program. Selanjutnya
dilakukan evaluasi untuk mengidentifikasi kendala-kendala yang ditemukan dalam
pelaksanaan semua program dan mencari solusinya. Evaluasi dilakukan tiap 3 bulan pada
saat lokmin triwulan Puskesmas Dangung-Dangung untuk menilai peningkatan jumlah
pasien suspek TB yang berhasil dilakukan penjaringan.

43

BAB VI
KESIMPULAN DAN SARAN
6.1. Kesimpulan
6.2. Saran

44

BAB VII
PENUTUP

Melalui kegiatan Program Internship sebagai kelanjutan dari pendidikan Profesi


Kedokteran di Puskesmas Dangung-Dangung Kecamatan Guguk Kabupaten Lima Puluh
Kota, telah dilakukan identifikasi terhadap berbagai masalah yang ada di wilayah kerja
Puskesmas Dangung-Dangung. Dalam hal ini kegiatanlebih difokuskan pada optimalisasi
upaya penjaringan suspek TB di wilayah kerja Puskesmas Dangung-Dangung. Hasil
kegiatan ini agar dapat dimanfaatkan oleh pimpinan Puskesmas Dangung-Dangung, staf
pengelola program TB dan semua stakeholder terkait dalam hal meningkatkan cakupan
angka penjaringan suspek TB sehingga mencapai target yang telah ditetapkan. Di
samping itu hasil ini berupa masukan kepada semua pihak untuk dapat berpartisipasi
kedepan dalam upaya meningkatkan derajat kesehatan masyarakat.Kepada semua pihak
yang telah membantu sehingga laporan ini dapat tersusun, kami ucapkan terima kasih.

45

DAFTAR PUSTAKA

46