Anda di halaman 1dari 17

BAB I

PENDAHULUAN
1.1.

LatarBelakang
Peningkatan populasi penduduk dan pertumbuhan ekonomi, meningkatkan
kuantitas

sampah

kota,

banyak

orang

yang

tidakpedulidenganberserakannyasampahdimana-mana.Padahalsampah-sampah
yang seringkitalihatitumasihbisa di daurulangatau di manfaatkan.Sampahadalah
Material

ataubarang

yang

Sepertibungkusplastik,

tidakdiinginkansetelahberakhirnyasuatu

kertas,

gelasminuman,

sisamakanan,

proses.

kertasbarang-

barangdariplastik, kain-kainbekas, tisu, botol-botol, bahkanmungkinsampaimainanmainanatauperalatanrumahdankendaraan

yang

takterpakailagisertamasihbanyaklagi.
Jikakitasedangjalan-jalan,

cobalihattempatsampah

di

wilayahpertokoan.Tempatsampahdisanamungkinjadimenggunungdengankarduskardusbekas, kemasanstyrofoam, kantongplastik, sisa-sisamakanandarirestoran,


danmacamsampah yang lainnya. Timbunan sampah yang tidak terkendali terjadi
sebagai konsekuensi logis dari aktivitas manusia dan industrialisasi, yang
berdampak pada permasalahan lingkungan perkotaan seperti keindahan kota,
kesehatan masyarakat, dan terjadinya bencana (ledakan gas metan, tanah longsor,
pencemaran udara dan lain-lain). Kegiatan pengolahan sampah ini dapat
menimbulkan multiplier effect melalui pemanfaatan teknologi tepat guna.
Sampahtersebutseharusnyatidaklangsung

di

buang,

kitakelompokkanmasing-masingsampah

rumah

tanggatersebut.Lalukitamencobauntukmendaurulangsampahitu.Sepertisampahplasti
k, kitalihat di televisi, bungkusmakanandapatdijadianberbagaimacam souvenir
sepertitas, dompet, danpayingplastik. Kegiatan ini dapat dijadikan usaha alternatif
untuk

peningkatan

pendapatan

tidakbergunaitubisamenjadibarang
Pengolahan

Sampah

Bernilai

keluarga.
yang

Makapenulismerasasampah

yang

bernilaiekonomis.Penulismemilihjudul

Ekonomis

karenabanyak

orang

yang

beranggapansampahitutidakadagunanya.Denganmenulismakalahini, semua orang


bisamengolahsampahmenjadibarang yang bernilaiekonomis.

1.2.

RumusanMasalah
Berdasarkan latar belakang yang ada, maka rumusan masalah dalam makalah ini

yaitu:
1. Bagaimana pengelolaan sampah di indonesia ?
2. Bagaimana cara agar mengurangi penumpukan sampah yang ada di Indonesia?
3. Apa nilai ekonomis sampah ?
4. Apa usaha alternatif dalam pengelolaan sampah yang bernilai ekonomis ?

1.3. Tujuan
Berdasarkan rumusan masalah yang ada, maka tujuan dalam makalah iniyaitu:
1. Memahamipengertianpengelolaam sampah.
2. Mengetahuicara mengurangi penumpukan sampah yang ada di indonesia.
3. Mengetahuinilai ekonomis sampah.
4. Mengetahuiusaha alternatif dalam pengelolaan sampah yang bernilai ekonomis.

BAB II
PEMBAHASAN
2.1. Pengelolaan Sampah
Di Indonesia, timbunan sampah domestik ini didistribusikan ke TPA-TPA.
Dari jumlah total volume sampah ini mengandung arti bahwa hanya sekitar 41%
2

sampah yang terangkut dari total timbulan sampah yang terdapat di tempat-tempat
pembuangan sampah sementara. Diharapkan pada tahun-tahun mendatang jumlah
armada angkut sampah dapat bertambah sesuai dengan jumlah volume timbulan
sampah.Pada hakekatnya, terdapat banyak SDM yang membantu dalam hal
pengelolaan sampah yaitu pemulung. Hal yang menarik adalah dimana pada satu
sisi sektor informal, pemulung ini memiliki peranan penting dalam pengelolaan
sampah. Para pemulung mencari barang yang bernilai ekonomis dari tumpukan
sampah, TPS dan TPA maupun dari rumah ke rumah. Namun di lain pihak,
pengelola sampah dari lembaga pemerintah melihat pemulung sebagai penghambat
operasi sistem pengelolaan sampah padat modern yang efisien. Padahal pekerjaan
tersebut dapat menjadi sumber kehidupan bagi puluhan ribu orang miskin dan tak
berdaya yang tinggal di kota, serta juga dapat mengurangi jumlah sampah yang
harus dibuang atau dibakar.(Ferdinand Susilo, 2009)

Sumber : Data primer

Saat ini pengelolaan sampah di kota-kota di Indonesia biasanya bukanlah


merupakan prioritas penting dari sekian banyak permasalahan kota yang harus
ditangani. Tugas pengelola persampahan bukanlah menjadi ringan di masa datang.
Bila kemauan, kemampuan dan upaya yang ada tetap seperti saat ini, maka
persoalan persampahan akan selalu timbul. Keberhasilan pengelolaan sampah
terutama akan tergantung pada kemauan politis khususnya dari pengelola kota.
Kemauan ini dimulai dari pemahaman dan kesadaran akan pentingnya sektor ini
sebagai salah infrastruktur kota yang dapat menceminkan keberhasilan dalam
mengelola kota. (Ferdinand Susilo, 2009)
3

Hal mendasar berikutnya adalah perlunya sebuah kebijakan yang bersifat


menyeluruh dan konsisten dalam penanganan sampah, sehingga arah penanganan
sampah tidak bersifat temporer semata. Dalam kasus semacam ini, maka peran
swasta perlu diperhitungkan dalam penanganan sampah jangka panjang, termasuk
partisipasinya dalam upaya daur-ulang, pengolahan dan pemusnahan sampah.
(Prof. Dr. Enri Damanhuri, 2011)
Pengembangan teknologi yang sesuai dengan kondisi Indonesia perlu
digalakkan, khususnya yang mudah beradaptasi dengan kondisi sosio-ekonomi
masyarakat Indonesia. Teknologi yang berbasis pada peran serta masyarakat
tampaknya perlu mendapat prioritas, agar keterlibatan mereka menjadi lebih berarti
dan terarah dalam penanganana sampah. Namun pengenalan teknologi yang relatif
canggih, padat modal, dan dikenal sangat mampu memusnahkan sampah seperti
insinerator, sudah waktunya juga dikaji khusunya bagi kota-kota yang sudah
mampu.(Ferdinand Susilo, 2009)
Di Indonesia, studi yang cukup komprehensif dan sistematis tentang
aplikasi insinerator untuk kota Jakarta serta kemungkinan pemanfaatan enersinya
sebetulnya telah dilakukan pada awal tahun 1980-an oleh BPPT. Namun sayangnya
studi ini tidak ditindak lanjuti dalam skala yang memungkinkan, sehingga sampai
saat ini Indonesia belum mempunyai pengalaman yang dapat digunakan dalam
pemilihan teknologi ini. Sudah saatnya kajian aplikasi teknologi ini digalakkan
kembali, termasuk kajian penggunaan teknologi insinerator modular seperti yang
saat ini diterapkan di beberapa kota di Indoensia, seperti Jakarta, Bandung dan
Surabaya.(Prof. Dr. Enri Damanhuri, 2011)

2.2. Cara Mengurangi Penumpukan Sampah di Indonesia


1. Metode Penghindaran dan Pengurangan
Sebuah metode yang penting dari pengelolaan sampah adalah
pencegahan zat sampah terbentuk , atau dikenal juga dengan "pengurangan
sampah". Metode pencegahan termasuk penggunaan kembali barang bekas
pakai , memperbaiki barang yang rusak , mendesain produk supaya bisa diisi
4

ulang atau bisa digunakan kembali (seperti tas belanja katun menggantikan tas
plastik ), mengajak konsumen untuk menghindari penggunaan barang sekali
pakai (contohnya kertas tissue) ,dan mendesain produk yang menggunakan
bahan yang lebih sedikit untuk fungsi yang sama (contoh, pengurangan bobot
kaleng minuman). (Anita Tri Apriliyani, 2013)
2. Metode Pembuangan
Pembuangan sampah pada penimbunan darat termasuk menguburnya
untuk membuang sampah, metode ini adalah metode paling populer di dunia.
Penimbunan ini biasanya dilakukan di tanah yg tidak terpakai , lubang bekas
pertambangan , atau lubang lubang dalam. Sebuah lahan penimbunan darat yang
dirancang dan dikelola dengan baik akan menjadi tempat penimbunan sampah
yang hiegenis dan murah. Sedangkan penimbunan darat yg tidak dirancang dan
tidak dikelola dengan baik akan menyebabkan berbagai masalah lingkungan ,
diantaranya angin berbau sampah , menarik berkumpulnya Hama , dan adanya
genangan air sampah. Efek samping lain dari sampah adalah gas methan dan
karbon dioksida yang juga sangat berbahaya. (di Bandung kandungan gas
methan ini meledak dan melongsorkan gunung sampah). (Anita Tri Apriliyani,
2013)
3. Daur Ulang
Proses pengambilan barang yang masih memiliki nilai dari sampah
untuk digunakan kembali disebut sebagai daur ulang Contoh kegiatan daur
ulang adalah antara lain adalah :

Pemanfaatan kembali kertas bekas yang dapat digunakan terutama


untuk keperluan eksternal

Plastik bekas diolah kembali untuk dijadikan sebagai bijih plastik


untuk dijadikan berbagai peralatan rumah tangga seperti ember dll

Peralatan elektronik bekas dipisahkan setiap komponen pembangunnya


(logam, plastik/kabel, baterai dll) dan dilakukan pemilahan untuk
setiap komponen yang dapat digunakan kembali

Gelas/botol kaca dipisahkan berdasarkan warna gelas (putih, hijau dan


gelap) dan dihancurkan.

4. Pengolahan biologis
Material sampah organik, seperti zat tanaman, sisa makanan atau kertas,
bisa diolah dengan menggunakan proses biologis untuk kompos, atau dikenal
dengan istilah pengkomposan.Hasilnya adalah kompos yang bisa digunakan
sebagi pupuk dan gas methana yang bisa digunakan untuk membangkitkan
listrik.(Anita Tri Apriliyani, 2013)
5. Pemulihan energi
Kandungan energi yang terkandung dalam sampah bisa diambil
langsung dengan cara menjadikannya bahan bakar, atau secara tidak langsung
dengan cara mengolahnya menajdi bahan bakar tipe lain. Daur-ulang melalui
cara "perlakuan panas" bervariasi mulai dari menggunakannya sebakai bahan
bakar memasak atau memanaskan sampai menggunakannya untuk memanaskan
boiler untuk menghasilkan uap dan listrik dari turbin-generator. Pirolisa dan
gasifikasi adalah dua bentuk perlakukan panas yang berhubungan, dimana
sampah dipanaskan pada suhu tinggi dengan keadaan miskin oksigen. Proses ini
biasanya dilakukan di wadah tertutup pada tekanan tinggi. Pirolisa dari sampah
padat mengubah sampah menjadi produk berzat padat, gas, dan cair. Produk cair
dan gas bisa dibakar untuk menghasilkan energi atau dimurnikan menjadi
produk lain. Padatan sisa selanjutnya bisa dimurnikan menjadi produk seperti
karbon aktif. Gasifikasi danGasifikasi busur plasma yang canggih digunakan
untuk mengkonversi material organik langsung menjadi Gas sintetis (campuran
antara karbon monoksida dan hidrogen). Gas ini kemudian dibakar untuk
menghasilkan listrik dan uap. (Umar, 2009)

6. Pemilahan Sampah
Yang dikumpulkan di TPA pada umumnya bercampur antara bahanbahan organik maupun non organik sehingga pemilahan perlu dilakukan secara
teliti untuk mendapatkan bahan organik yang dapat dikomposkan seperti dauandaunan, sisa makanan, sayuran dan buah-buahan. (Umar, 2009)
6

7. Tempat Pembuangan Akhir (TPA)


TPA tipe open dumping sudah tidak tepat untuk menuju Indonesia sehat.
Oleh sebab itu, secara bertahap semua Kota dan Kabupaten harus segera
mengubah TPA tipe open dumping menjadi sanitary landfill. Dianjurkan untuk
membuat TPA yang memenuhi kriteria minimum, seperti adanya zona, blok dan
sel, alat berat yang cukup, garasi alat berat, tempat pencucian alat berat,
penjaga, truk, pengolahan sampah, dan persyaratan lainnya. (Umar, 2009)
8. Peranan Masyarakat dan Swasta
Diperlukan upaya peningkatan kesadaran masyarakat yang tinggi dalam
pengelolaan sampah. Upaya yang dilakukan meliputi :

Masyarakat memiliki kesadaran untuk mengurangi jumlah sampah


dari sumbernya.

Masyarakat memiliki kesadaran (willingness to pay) yang tinggi


terhadap biaya pengelolaan sampah.

Masyarakat merasa bangga dapat menjaga lingkungan tetap bersih.

9. Peningkatan Kapasitas Peraturan


Peraturan yang dibuat oleh Pemerintah yang berkaitan dengan ketentuan
pengelolaan sampah harus realistis, sistematis dan menjadi acuan dalam
pelaksanaan penanganan sampah di lapangan baik oleh pihak pengelola maupun
masyarakat.Seperti Undang-Undang no 18 tahun 2008 tentang pengelolaan
persampahan secara resmi sudah diundangkan, tercatat sebagai Lembaran
Negara RI Tahun 2008, Nomor 69. (Umar, 2009)
Dengan begitu, undang-undang itu sudah efektif berlaku. Ada banyak
hal yang perlu difahami dari undang-undang dimaksud. Kali ini salah satu
subyek yang akan dikupas adalah asas nilai ekonomi sampah. (Umar, 2009)
2.3. Nilai Ekonomis Sampah
Sampah yang dibuang masyarakat tidak semuanya tidak bernilai. Ada
sebagian dari jenis-jenis sampah yang memiliki nilai jual (return value) dan
sebagian lagi dapat dimanfaatkan kembali. antara lain yaitu botol, kertas/karton,
7

plastik-plastik, kaleng, besi, dan aluminium. Selain itu sampah-sampah basah


seperti nasi busuk, sampah sisa memasak dapat di manfaatkan untuk makanan
ternak dan juga ditimbun sebagai kompos untuk tanaman perkarangan. (Ferdinand
Susilo, 2009)
Nilai ekonomi pengelolaan sampah pada umumnya berasal dari dua sektor,
yaitu:
1. Sektor formal, yaitu sektor nilai ekonomi yang dikelola oleh pemerintah.
Seiring peningkatan populasi penduduk dan pertumbuhan
ekonomi saat ini pengelolaan sampah sebagian besar kota masih
menimbulkan permasalahan yang sulit dikendalikan. Timbunan sampah
yang tidak terkendali terjadi sebagai konsekuensi logis dari aktivitas
manusi7a

dan

industrialisasi,

yang

kemudian

berdampak

pada

permasalahan lingkungan perkotaan seperti keindahan kota, kesehatan


masyarakat, dan lebih jauh lagi terjadinya bencana. (Sidik, Herumartono,
dan Sutanto, 1985)
Di sisi lain, pengelolaan sampah yang diselenggarakan oleh dinas
terkait hanya berfokus pada pengumpulan dan pengangkutan ke Tempat
Pemrosesan Akhir (TPA) tanpa melalui pengolahan tertentu. Kebanyakan
TPA bermasalah terhadap lingkungan hidup, misalnya TPA tidak dilapisi
oleh lapisan kedap air seperti geotextile, tidak ada pengolahan air lindi,
dan masih diizinkannya praktik open dumping dan open burning.
Sehingga menyebabkan banyak permasalahan seperti pencemaran air
lindi ke air tanah, bau busuk dan pencemaran udara.(Sidik, Herumartono,
dan Sutanto, 1985)
Namun demikian, sampah disamping dapat menjadikan masalah
di perkotaan, juga dapat bermanfaat dalam menguatkan kehidupan
ekonomi masyarakat. Berbagai jenis sampah yang dihasilkan oleh rumah
tangga dan industri apabila tidak dapat dikelola secara baik dan benar,
dapat berpotensi untuk melemahkan ekonomi masyarakat karena akan
menyerap dana yang cukup besar untuk penanganannya baik dari segi
kebersihan, kesehatan maupun lingkungan. Sampah yang tidak dikelola
dengan baik akan mencemari lingkungan dan sebagai sumber penyakit

yang pada gilirannya akan menghambat laju gerak ekonomi masyarakat.


(Sidik, Herumartono, dan Sutanto, 1985)
Di pihak lain, sampah dapat juga menjadi salah satu sumberdaya
penting dalam mengangkat perekonomian masyarakat. Kondisi ini akan
terjadi apabila sampah tersebut dapat dikelola secara professional.
Beberapa peluang yang diperoleh dari sampah, diantaranya adalah aspek
terbukanya lapangan kerja dari proses pemungutan sampah, aspek
pengelolaan dan pemanfaatan sampah serta aspek pemasaran hasil
olahan yang berbahan baku sampah. Dengan kata lain mata rantai bisnis
akan tercipta apabila sampah dikelola dengan pendekatan-pendekatan
ekonomi.(Sidik, Herumartono, dan Sutanto, 1985)
Kegiatan pengolahan sampah ini dapat menimbulkan multiplier
effect melalui pemanfaatan teknologi tepat guna. Masyarakat mulai
terangsang

untuk

menciptakan

berbagai

teknologi

pendukung

pengelolaan sampah, mulai dari teknologi tempat-tempat penampungan


sampah di rumah tangga untuk dijadikan pupuk kompos, teknologi
pemanfaatan sampah menjadi produk yang bernilai ekonomis dan
pemasaran hasil pengolahan sampah. Kesemua teknologi pendukung
yang dihasilkan tersebut sangat berpeluang untuk dilakukan di rumah
tangga sebagai peluang bisnis.(Sidik, Herumartono, dan Sutanto, 1985)
2. Sektor informal, yaitu sektor nilai ekonomi yang dikelola oleh pemulung
dan pengumpul sampah.
Pada hakekatnya, terdapat banyak Sumber Daya Manusia yang
membantu Dinas Kebersihan dalam hal pengelolaan sampah yaitu
pemulung. Hal yang menarik adalah dimana pada satu sisi sektor
informal, pemulung ini memiliki peranan penting dalam pengelolaan
sampah. Para pemulung mencari barang yang bernilai ekonomis dari
tumpukan sampah, TPS dan TPA maupun dari rumah ke rumah. Namun
di lain pihak, pengelola sampah dari lembaga pemerintah melihat
pemulung sebagai penghambat operasi sistem pengelolaan sampah padat
modern yang efisien. Padahal pekerjaan tersebut dapat menjadi sumber
kehidupan bagi puluhan ribu orang miskin dan tak berdaya yang tinggal
di kota, serta juga dapat mengurangi jumlah sampah yang harus dibuang
atau dibakar. (Neolaka, A. 2008)
9

Secara idealnya memang kedua sektor ini tentunya diharapkan


menjadi sumber pendanaan dalam pengelolaan sampah. Namun hingga
saat ini biaya yang dialokasikan oleh pemerintah dalam pengelolaan
sampah adalah berasal dari retribusi sampah yang dikenakan pada setiap
gedung dan rumah penduduk, yang pelaksanaannya diatur oleh Peraturan
Daerah.(Neolaka, A. 2008)
Dalam sistem jaringan daur ulang sampah, sampah daur ulang dikumpulkan
dari sumber seperti perumahan, kawasan komersial, Tempat Penampungan
Sementara (TPS) dan TPA. Kebanyakan sampah daur ulang dikumpulkan oleh
pemulung dan kemudian dijual (disalurkan) ke pelapak (pengepul). Pelapak
memilah dan mengklasifikasikannya ke beberapa item tergantung pada tipe dan
menjual atau menyalurkannya kepada pabrik daur ulang secara langsung atau
terlebih dahulu melalui agen. Sebagian sampah ini didaur ulang di pabrik-pabrik
dan sebagian dikirimkan ke kota lain ataupun diekspor ke luar negeri untuk
menghasilkan produk yang pada akhirnya sampai ke konsumen. Partisipasi
masyarakat dalam pengelolaan sampah merupakan aspek yang terpenting untuk
diperhatikan dalam sistem pengelolaan sampah secara terpadu dan terdapat faktorfaktor yang mendukung, antara lain: kebutuhan, harapan, motivasi, ganjaran,
kebutuhan sarana dan prasarana, dorongan moral, dan adanya kelembagaan baik
informal maupun formal.(Sidik, Herumartono, dan Sutanto, 1985)

2.4 Usaha Alternatif Pengelolaan Sampah Bernilai Ekonomis


A. Kompos
Kompos merupakan hasil fermentasi dari bahan-bahan organik
sehingga berubah bentuk, berwarna kehitam-hitaman dan tidak berbau.
Pengomposan merupakan proses penguraian bahan-bahan organik dalam suhu
10

yang tinggi sehingga mikroorganisme dapat aktif menguraikan bahan-bahan


organik sehingga dapat dihasilkan bahan yang dapat digunakan tanah tanpa
merugikan lingkungan. Dari hasil pengamatan dilapangan, pengomposan
merupakan salah satu usaha alternatif pengelolaan sampah yang memiliki
peluang bisnis cukup menjanjikan, disamping memiliki manfaat dalam
menjaga

kebersihan

dan

keindahan

kota

dan

mengurangi

jumlah

pengangguran. (Apriliyani Anita, 2013)


Bahan baku pengomposan berupa sampah organik tersedia sangat
besar, baik berasal dari pasar maupun rumah tangga. Manfaat dari segi
ekonomi yaitu: dapat mengurangi jumlah sampah sehingga akan mengurangi
biaya operasional pemusnahan sampah; mengurangi investasi lahan TPA;
memiliki nilai kompetetif dan ekonomis yang dapat dijual. Selain dari tinjauan
ekonomi, dari segi ekologi, proses pembuatan kompos memberikan manfaat
bagi lingkungan, antara lain: Pengkomposan merupakan metode daur ulang
yang alamiah dan mengembalikan bahan organik ke dalam siklus biologis;
Mengurangi pencemaran lingkungan, karena sampah yang dibakar, yang
dibuang ke sungai ataupun yang dikumpulkan di TPA akan berkurang;
Pemakaian kompos pada lahan perkebunan atau pertanian akan meningkatkan
kemampuan lahan dalam menahan air sehingga terjadi koservasi air serta
memperbaiki dan meningkatkan kondisi kesuburan tanah (konservasi tanah).
(Apriliyani Anita, 2013)
Pada prinsipnya, pengomposan yang dilakukan sebagian masyarakat
terbagi atas 3, yaitu: Pengomposan dengan menggunakan bioaktivator EM-4,
Pengomposan skala rumah tangga, dan Pengomposan sederhana. Masyarakat
pada umumnya melakukan pengomposan untuk skala rumah tangga dan secara
sederhana.(Apriliyani Anita, 2013)
B. Mengepul Sampah Plastik
Setiap daerah hampir dipastikan selalu memiliki masalah yang sama
soal penanganan sampah yang dihasilkan oleh warganya. Sampah yang
menggunung tentu menimbulkan masalah kesehatan dan kenyamanan baik
dari bentuk fisik maupun bau yang ditimbulkan. (Umar, I. 2009)
11

Sampah plastik jelas identik dengan pemulung bukan pegawai negeri


Banyak orang menganggapgila orang yang menggeluti usaha sebagai pengepul
sampah, namun ada sebagian orang yang masih yakin bahwa bisnis
pengepulan sampah adalah bisnis penuh berkah bagi dirinya sendiri, misalnya
para pemulung. (Umar, I. 2009)

Sumber : Data primer

Dalam sistem jaringan daur ulang sampah, sampah daur ulang


dikumpulkan dari sumber seperti : perumahan, kawasan komersial, Tempat
Penampungan Sementara (TPS) dan TPA. Kebanyakan sampah daur ulang
dikumpulkan oleh pemulung dan kemudian dijual (disalurkan) ke pelapak
(pengepul). Pelapak memilah dan mengklasifikasikannya ke beberapa item
tergantung pada tipe dan menjual atau menyalurkannya kepada pabrik daur
ulang secara langsung atau terlebih dahulu melalui agen. Sebagian sampah ini
didaur ulang di pabrik-pabrik dan sebagian dikirimkan ke kota lain ataupun
diekspor ke luar negeri untuk menghasilkan produk yang pada akhirnya
sampai ke konsumen.(Umar, I. 2009)
Pemulung memilih sampah berdasarkan tingkat laku jualnya di lapak
para pengepul sebelum dibawa ke pabrik pengolahan untuk dijadikan barang
baru yang layak jual. Umumnya pemulung akan memisahkan sampah
anorganik seperti besi/logam, kertas, dan plastik.Sebenarnya, jika kita ingin
membahasakan, Sampah adalah tumpukan uang yang terbuang di setiap
daerah. Asalkan kita jeli maka banyak hasil yang bisa didapatkan dalam bisnis
tersebut.(Umar, I. 2009)

12

Secara teori ilmiah, jenis plastik dibedakan menjadi PETE/PET,


HDPE, PVC, LDPE, PP, PSdan campuran. Tapi kalau kita bicara dengan nama
ini akan menemukan banyak kendala di lapangan. Pemulung di tingkat bawah
(biasanya) adalah profesi yang banyak dikerjakan oleh komunitas dengan
tingkat pendidikan yang ala kadarnya dan minim. Mereka akan pusing jika
harus menghafalkan nama ilmiah plastik seperti itu. (FerdinandSusilo, 2009)
Masing-masing jenis plastik mempunyai harga berbeda di tingkat
pengepul dan pabrik. Harga plastik ini naik turun mengikuti kurs dollar dan
harga minyak dunia. Jadi sebetulnya perdagangan plastik bersifat global
karena Bos besar harus rajin mencari informasi dari pasar dunia atau dapat
juga dilakukan suatu pengumpulan. Misalnya kumpulkan semua jenis kantong
kresek, apapun warna dan ukurannya. Lalu pisahkan kantong kresek menurut
warnanya :Hitam, bening dan warna campuran.Karena ada beberapa pabrik
menerapkan harga penjualanyang berbeda jika ingin menambah keuntungan
dari kantong kresek. Harga termurah adalah warna hitam, dikuti warna
campuran dan harga termahal adalah warna bening.(Ferdinand Susilo, 2009)
Jadi, jika selama ini kita memandang sampah plastik sebagai sampah
yang harus cepat-cepat dibuang maka berubahlah menjadisampah plastik harus
cepat-cepat dikumpulkan karena itu adalah duit yang berceceran dan dibuang
di pinggir jalan.(Ferdinand Susilo, 2009)
C. Kertas Daur Ulang
Sampah itu sendiri dapat diartikan sebagai material sisa yang tidak
diinginkan setelah berakhirnya suatu proses. Selanjutya berdasarkan sifatnya
sampah juga dikategorikan menjadi dua yaitu sampah organik (degradable)
yaitu sampah yang mudah membusuk seperti sisa makanan, sayuran, daundaun dan sebagainya bahkan bisa diolah menjadi kompos. Jenis sampah yang
kedua yaitu sampah anorganik (undegradale) yaitu sampah yang tidak mudah
membusuk atau sangat sukar untuk diuraikan oleh mikroorgnasime seperti
sampah plastik, kaleng, kertas, botol dan sebagainya. Jenis sampah yang
pertama yaitu sampah organik tadi tidak memberikan dampak yang serius
terhadap manusia dan lingkungan karena hanya membutuhkan sedikit
pengelolaan saja akan tetapi jenis sampah yang kedua yaitu sampah anorganik
13

sangat membutuhkan penanganan yang serius karena jika dibiarkan tertumpuk


begitu saja maka tidak dapat dibayangkan dampaknya terhadap manusia dan
lingkungan. Misalkan saja sampah plastik karena berbahan polimer maka
dibutuhkan waktu sampai dengan 500 tahun untuk dapat terurai, apa jadinya
dengan bumi kita ini jika sampah plastik ini terus tertumpuk dan dibiarkan
begitu saja.(Wikipedia, 2012).
Untuk

menanggulangi

masalah

sampah

anorganik

ini

selain

menggunakan sistem daur ulang ada sistem lain yang dapat digunakan yaitu
dengan mengolah kembali sampah-sampah tersebut menjadi barang lain yang
memiliki nilai ekonomis. Ada dua hal yang didapat dari proses tersebut yaitu
adanya usaha dalam mengurangi jumlah sampah anorganik dan yang kedua
bisa membuka lapangan kerja melalui tangan-tangan kreatif sehingga
menghasilkan karya-karya bernilai ekonomi. (Sampurno, 2013)
Salah satu contoh usaha pengolahan kembali sampah anorganik ini
adalah pengolahan kertas bekas sebagai kerajinan rumah tangga atau menjadi
perabotan rumah yang sangat indah. Kegiatan pengolahan ini dapat
dilakukandengan adanya bekal bakat, ide kreatif, daya imajinasi serta rasa
kepedulian terhadap lingkungan ia mampu mengolah sampah-sampah kertas
seperti bungkus-bungkus rokok, kotak bekas, kertas cover buku dan lain
sebagainya menjadi produk yang benilai ekonomis.(Sampurno, 2013)
Oleh karena selama ini para pengepul kertas bekas hanya mengambil
atau mendaur ulang sampah-sampah kertas berukuran besar saja seperti kardus
atau kotak besar lainnya sedangkan sisanya sampah kertas berukuran kecil
pada akhirnya akan berujung pada proses pembakaran yang juga memberikan
dampak terhadap polusi udara. (Sampurno, 2013)
Proses pengolahan sampah-sampah kertas ini dapat dimulai dengan
mengumpulkan sampah-sampah dari lingkungan sekitar tempat tinggalnya.
Selain itu ia juga mengajak kepada pemilik toko yang ada dilingkungan yang
ada agar ikut membantu mengumpulkan sampah kertas sisa aktifitas
dagangnya. Tidak lupa pula disampaikan dan disosialisasikan bahwa sampahsampah tersebut akan digunakan lagi menjadi bahan-bahan kerajinan rumah
tangga. Alhasil tidak sedikit dari warga sekitar yang ikut belajar tentang
bagaimana proses pengolahan sampah tadi menjadi barang bernilai ekonomis.
(Anonim, 2012)
14

Usaha ini sangat menarik karena dapat menciptakan sesuatu benda


baru yang bermanfaat tentunya dengan modal yang tidak terlalu besar karena
bahan baku utamanya adalah sampah kertas. Selain itu, dengan usaha ini
berarti kita telah membantu pemerintah untuk mengurangi volume sampah
yang ada. Bahkan dengan pengolahan yang sederhana dan dikombinasikan
dengan sampah alami dilingkungan sekitar kita maka aneka benda baru dapat
bermanfaat dengan penampilan baru yang kaya akan nuansa alami. Atas ide
tersebut, penulis berusaha membuat suatu bentuk baru diantaranya jam dari
bahan daur ulang dengan pertimbangan souvenir seperti tempat foto dan
tempat pinsil telah banyak dijumpai sehingga dengan souvenir jam dari bahan
kertas daur ulang ini diharapkan dapat menjadi souvenir dari bahan kertas daur
ulang yang sedikit berbeda dari biasanya.(Anonim, 2012)

BAB III
PENUTUP
3.1. Kesimpulan
Berdasarkan pembahasan yang ada, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa
pengelolaan sampah yang ada di Indonesia masih kurang baik.Hal ini dapat dilihat
dengan masih banyaknya sampah yang menumpuk di mana-mana.Cara mengurangi
penumpukan sampah yang ada di Indonesia yaitu dengan metode penghindaran dan
15

pengurangan, metode pembuangan, daur ulang, pengolahan biologis, pemulihan


energy,pemilihan sampah,Tempat Pembuangan Akhir (TPA), peranan masyarakaat
dan swasta,serta peningkatan kapasitas peraturan.Pada hakekatnya, terdapat banyak
SDM yang membantu dalam hal pengelolaan sampah yaitu pemulung.
Sampah yang dibuang masyarakaat tidak semuanya tidak bernilai.Ada
sebagian dari jenis-jenis sampah yang memiliki nilai jual (return value) dan sebagian
lagi dapat dimanfaatkan kembali.Partisipasi masyarakaat dalam pengelolaan sampah
merupakan aspek yang terpenting untuk diperhatikan dalam system pengelolan
sampah secara terpadu dan terdapat faktor-faktor yang mendukung,antara lain :
kebutuhan, harapan, motivasi, ganjaran, kebutuhan sarana dan prasarana, dorongan
moral, dan adanya kelembagaan baik informal maupun formal. Usaha alternatif
pengelolaan sampah bernilai ekonomis yang dapat dilakukan berupa pembuatan
kompos,mengepul sampah plastik,dan kertas daur ulang.
3.2 Saran
Setiap rumah tangga diupayakan melakukan pemilahan sampah bernilai ekonomis
sehingga dapat dimanfaatkan.
Pemerintah daerah memberikan fasilitas pengelolaan sampah melalui bantuan
penyediaan tong sampah terpilah di setiap kelurahan.
Pemerintah daerah membuat program pelatihan pengelolaan sampah organik dan
anorganik bernilai ekonomis (kompos, produk kerajinan tangan) untuk tingkat
rumah tangga dan kelurahan.
Penambahan pengetahuan tentang lingkungan hidup khususnya pengelolaan
sampah ke dalam kurikulum sekolah Taman Kanak-Kanak hingga Sekolah
Menengah Atas.
DAFTAR PUSTAKA

Neolaka, A. 2008. Kesadaran Lingkungan. Penerbit PT. Rinika Cipta. Jakarta.


Nisandi. 2007. Pengelolaan dan Pemanfaatan Sampah Organik Menjadi Briket Arang
dan Asap Cair. Seminar Nasional Teknologi 2007. Yogyakarta.

16

Pratama, Y danSoleh, A.Z. 2008. Kajian Hubungan Antara Timbulan Sampah


Domestik Dengan Faktor-faktor yang Mempengaruhinya. Prosiding Seminar
Nasional Sains dan Teknologi-II 2008.
Sidik, M.A., Herumartono, D., dan Sutanto, H.B. 1985. Teknologi Pemusnahan
Sampah dengan Incinerator dan Landfill. Direktorat Riset Operasi dan Managemen.
Umar, I. 2009. Pengelolaan Sampah Terpadu Di Wilayah Perkotaan. Http://
uwityangyoyo.wordpress.com.
Susilo Ferdinand. 2009. Pengelolaan Sampah Terpadu sebagai Peluang Bisnis Rumah
Tangga Di Kota Medan. http://id.scribd.com/doc/193196216/Sampah
Prof. Dr. Enri Damanhuri, 2011. Permasalahan dan Alternatif Teknologi Pengelolaan
Sampah Kota Di Indonesia. http://www.iptek.net.id/ind/?mnu=8&ch=jsti&id=122.
Anonim, 2012. Pemanfaatan Sampah Kertas Menjadi Kerajinan Bernilai Ekonomis.
http://serambibrangrea.blogspot.com/2012/12/
ApriliyaniAnita, 2013. Penanganan Sampah di Indonesia.
http://anitatritaa.blogspot.com/2013_12_01_archive.html

17