Anda di halaman 1dari 24

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA
I.

Definisi Trauma
Trauma atau luka dari aspek medikolegal sering berbeda dengan pengertian medis.
Pengertian medis menyatakan trauma atau perlukaan adalah hilangnya diskontinuitas
dari jaringan. Dalam pengertian medikolegal trauma adalah pengetahuan tentang alat
atau benda yang dapat menimbulkan gangguan kesehatan seseorang. Trauma mekanik
terjadi karena alat atau senjata dalam berbagai bentuk, alami atau dibuat manusia, trauma
tumpul sendiri diakibatkan oleh benda yang memiliki permukaan tumpul.

II. Trauma Akselerasi dan Deselerasi


Mekanisme cedera memegang peranan yang sangat besar dalam menentukan berat
ringannya konsekuensi patofisiologi dari trauma kepala kepala. Pada trauma kepala
terjadi akselerasi (gerakan yang cepat dan mendadak yang terjadi jika benda yang sedang
bergerak membentur kepala yang diam) dan deselerasi (penghentian akselerasi secara
mendadak yaitu jika kepala membentur benda yang tidak bergerak). Pada waktu
akselerasi berlangsung, terjadi dua kejadian yaitu akselerasi tengkorak ke arah dampak
(kup) dan pergeseran otak ke arah yang berlawanan dengan arah dampak primer (kontra
kup). Apabila akselerasi disebabkan oleh pukulan pada oksiput, maka pada tempat di
bawah tampak terdapat tekanan positif akibat identasi ditambah tekanan positif yang
dihasilkan oleh akselerasi tengkorak ke arah dampak dan penggeseran otak ke arah yang
berlawanan. Di seberang tempat terdapat tekanan negatif akibat akselerasi kepala yang
ketika itu juga akan ditiadakan oleh tekanan yang positif yang diakibatkan oleh
pergeseran seluruh otak.
Maka pada trauma kepala dengan dampak pada oksiput, gaya kompresi di bawah
berdampak cukup besar untuk bisa menimbulkan lesi. Lesi tersebut bisa berupa
perdarahan pada permukaan otak yang berbentuk titik-titik besar dan kecil tanpa
kerusakan pada duramater (lesi kontusio). Jika lesi terjadi di bawah dampak disebut lesi
kontusio kup dan jika terjadi di seberang dampak disebut lesi kontusio kontra kup.
Sehingga dari sana bisa timbul gejala-gejala deficit neurologist berupa reflek babinski
yang positif dan kelumpuhan UMN. Setelah kesadaran pulih kembali, si penderita
biasanya menunjukkan gambaran organic brain syndrom dan berdampak juga pada
autoregulasi pembuluh darah serebral, sehingga terdapat vasoparalisis.

Akselerasi dan penggeseran otak yang terjadi bersifat linear dan bahkan akselerasi
yang sering kalidiakibatkan oleh trauma kepala disebut akselerasi rotarik. Pergeseran
otak pada akselerasi dan deselerasi linear dan rotarik bisa menarik dan memutuskan
vena-vena yang menjembatani selaput arakhnoida dan dura sehingga timbul perdarahan
subdural. Vena-vena tersebut Bridging Veins.

Gambar 1. Trauma Akselerasi dan Deselerasi

Gambar 2. Lesi Coup dan Contracoup


III. Luka Akibat Trauma Tumpul
Kekerasan oleh benda keras dan tumpul dapat mengakibatkan berbagai macam
jenis luka, antara lain :

a.

Memar (Kontusio)
Memar adalah suatu perdarahan dalam jaringan bawah kulit akibat pecahnya
kapiler dan vena. Merupakan salah satu bentuk luka yang ditandai oleh kerusakan
jaringan tanpa disertai discontinuitas permukaan kulit.
Pada saat timbul memar berwarna merah, kemudian berubah menjadi ungu atau
hitam setelah 4-5 hari akan berwarna hijau yang kemudian akan menjadi kuning
dalam 7-10 hari, dan akhirnya menghilang dalam 14-15 hari. Perubahan warna
tersebut berlangsung mulai dari tepi.
Pada orang yang menderita penyakit defisiensi atau menderita kelainan darah,
kerusakan yang terjadi akan lebih besar dibanding orang normal. Oleh sebab itu, besar
kecilnya memar tidak dapat dijadikan ukuran untuk menentukan besar kecilnya benda
penyebabnya atau keras tidaknya pukulan.
Dilihat sepintas luka memar terlihat seperti lebam mayat, tetapi jika diperiksa
dengan seksama akan dapat dilihat perbedaannya :
- Lokasi

Memar
- Bisa dimana saja

Lebam Mayat
- Pada bagian terendah

- Pembengkakan

- Positif

- Negatif

- Bila ditekan

- Warna tetap

- Memucat / hilang

- Mikroskopik

- Reaksi jaringan (+) - Reaksi jaringan (-)

Gambar 3. Memar

Gambar 4. Lebam mayat


b. Luka Lecet (Abrasi)
Luka lecet atau abrasi adalah luka yang disebabkan oleh rusaknya atau lepasnya
lapisan luar dari kulit, yang ciri-cirinya adalah :

Bentuk luka tidak teratur

Batas luka tidak teratur

Tepi luka tidak rata

Kadang-kadang ditemukan sedikit perdarahan

Permukaan tertutup oleh krusta

Warna coklat kemerahan

Pada pemeriksaan mikroskopis terlihat adanya beberapa bagian yang masih


tertutup epitel dan reaksi jaringan.

Gambar 5. Luka lecet


Luka lecet dapat terjadi superfisial jika hanya epidermis saja yang terkena, lebih
dalam ke lapisan bawah kulit (dermis) atau lebih dalam lagi sampai ke jaringan lunak
bawah kulit. Jika abrasi terjadi lebih dalam dari lapisan epidermis pembuluh darah

dapat terkena sehingga terjadi perdarahan. Arah dari pengelupasan dapat ditentukan
dengan pemeriksaan luka. Dua tanda yang dapat digunakan. Tanda yang pertama
adalah arah dimana epidermis bergulung, tanda yang kedua adalah hubungan
kedalaman pada luka yang menandakan ketidakteraturan benda yang mengenainya.
Perkiraan umur luka lecet:
Umur luka lecet secara makroskopis maupun mikroskopis dapat diperkirakan
sebagai berikut :

Hari ke 1 - 3 berwarna coklat kemerahan karena eksudasi darah dan cairan limfe.

2 - 3 hari kemudian pelan-pelan bertambah suram dan lebih gelap.

Setelah 1 - 2 minggu mulai terjadi pembentukan epidermis baru.

Dalam beberapa minggu akan timbul penyembuhan lengkap.


Walaupun kerusakan yang ditimbulkan minimal sekali, luka lecet mempunyai arti

penting di dalam Ilmu Kedokteran Forensik, oleh karena dari luka tersebut dapat
memberikan banyak hal, misalnya:

Petunjuk kemungkinan adanya kerusakan yang hebat pada alat-alat dalam tubuh,
seperti hancurnya jaringan hati, ginjal, atau limpa, yang dari pemeriksaan luar
hanya tampak adanya luka lecet di daerah yang sesuai dengan alat-alat dalam
tersebut.

Petunjuk perihal jenis dan bentuk permukaan dari benda tumpul yang
menyebabkan luka, seperti :
i. Luka lecet tekan pada kasus penjeratan atau penggantungan, akan tampak
sebagai suatu luka lecet yang berwarna merah-coklat, perabaan seperti
perkamen, lebarnya dapat sesuai dengan alat penjerat dan memberikan
gambaran/cetakan yang sesuai dengan bentuk permukaan dari alat penjerat,
seperti jalianan tambang atau jalinan ikat pinggang. Luka lecet tekan dalam
kasus penjeratan sering juga dinamakan jejas jerat, khususnya bila alat
penjerat masih tetap berada pada leher korban.
ii. Di dalam kasus kecelakaan lalu lintas dimana tubuh korban terlindas oleh ban
kendaraan, maka luka lecet tekan yang terdapat pada tubuh korban seringkali
merupakan cetakan dari ban kendaraan tersebut, khususnya bila ban masih
dalam keadaan yang cukup baik, dimana kembang dari ban tersebut masih
tampak jelas, misalnya berbentuk zig-zag yang sejajar. Dengan demikian di

dalam kasus tabrak lari, informasi dari sifat-sifat luka yang terdapat pada
tubuh korban sangat bermanfaat di dalam penyidikan.
iii. Dalam kasus penembakan, yaitu bila moncong senjata menempel pada tubuh
korban, akan memberikan gambaran kelainan yang khas yaitu dengan adanya
jejas laras, yang tidak lain merupakan luka lecet tekan. Bentuk dari jejas
laras tersebut dapat memberikan informasi perkiraan dari bentuk moncong
senjata yang dipakai untuk menewaskan korban.
iv. Di dalam kasus penjeratan dengan tangan (manual strangulation), atau yang
lebih dikenal dengan istilah pencekikan, maka kuku jari pembunuh dapat
menimbulkan luka lecet yang berbentuk garis lengkung atau bulan sabit;
dimana dari arah serta lokasi luka tersebut dapat diperkirakan apakah
pencekikan tersebut dilakukan dengan tangan kanan, tangan kiri atau
keduanya. Di dalam penafsiran perlu hati-hati khususnya bila pada leher
korban selain didapatkan luka lecet seperti tadi dijumpai pula alat penjerat;
dalam kasus seperti ini pemeriksaan arah lengkungan serta ada tidaknya kukukuku yang panjang pada jari-jari korban dapat memberikan kejelasan apakah
kasus yang dihadapi itu merupakan kasus bunuh diri atau kasus pembunuhan,
setelah dicekik kemudian digantung.
v. Dalam kasus kecelakaan lalu-lintas dimana tubuh korban bersentuhan dengan
radiator, maka dapat ditemukan luka lecet tekan yang merupakan cetakan dari
bentuk radiator penabrak.

Petunjuk dari arah kekerasan, yang dapat diketahui dari tempat dimana kulit ari
yang terkelupas banyak terkumpul pada tepi luka; bila pengumpulan tersebut
terdapat di sebelah kanan maka arah kekerasan yang mengenai tubuh korban
adalah dari arah kiri ke kanan. Di dalam kasus-kasus pembunuhan dimana tubuh
korban diseret maka akan dijumpai pengumpulan kulit ari yang terlepas yang
mendekati ke arah tangan, bila tangan korban dipegang; dan akan mendekati ke
arah kaki bila kaki korban yang dipegang sewaktu korban diseret.

Sesuai dengan mekanisme terjadinya luka lecet dapat diklasifikasikan sebagai:


1.

Luka lecet gores


Diakibatkan oleh benda runcing, misal kuku jari, yang menggeser lapisan
permukaan kulit (epidermis) dan menyebabkan lapisan tersebut terangkat
sehingga dapat menunjukkan arah kekerasan yang terjadi.

2.

Luka lecet serut


Variasi dari luka lecet gores yang daerah persentuhannya dengan permukaan kulit
lebih lebar. Arah kekerasan ditentukan dengan melihat letak tumpukan epitel.

3.

Luka lecet tekan


Disebabkan oleh penjejakan benda tumpul terhadap kulit. Karena kulit adalah
jaringan yang lentur, maka bentuk luka belum tentu sama dengan permukaan
benda, tetapi masih mungkin untuk mengidentifikasi benda penyebab yang
mempunyai bentuk khas, misal kisi-kisi radiator mobil, jejas gigitan, dsb.
Gambaran yang ditemukan adalah daerah kulit yang kaku dengan warna lebih
gelap dari sekitarnya.

4.

Luka lecet geser


Disebabkan oleh tekanan linier kulit disertai gerakan bergeser, misalnya pada
kasus gantung atau jerat. Luka lecet geser yang terjadi semasa hidup sulit
dibedakan dari luka lecet geser yang terjadi segera pasca mati.

Perbedaan luka lecet ante mortem dan post mortem


1.

ANTE MORTEM
Coklat kemerahan

2.

Terdapat

sisa

1.

sisa-sisa 2.

epitel

POST MORTEM
Kekuningan
Epidermis

terpisah

sempurna

dari

dermis

3.

Tanda intravital (+)

3.

Tanda intravital (-)

4.

Sembarang tempat

4.

Pada daerah yang ada penonjolan


tulang

c. Luka Robek (Lacerasi)


Luka robek (vulnus laceratum) / luka terbuka adalah luka yang disebabkan karena
persentuhan dengan benda tumpul dengan kekuatan yang mampu merobek seluruh
lapisan kulit dan jaringan di bawahnya, yang ciri cirinya sebagai berikut :

Bentuk garis batas luka tidak teratur dan tepi luka tak rata

Bila ditautkan tidak dapat rapat (karena sebagaian jaringan hancur)

Tebing luka tak rata serta terdapat jembatan jaringan

Di sekitar garis batas luka di temukan memar


Lokasi luka lebih mudah terjadi pada daerah yang dekat dengan tulang (misalnya

daerah kepala, muka atau ekstremitas). Karena terjadinya luka disebabkan oleh
robeknya jaringan maka bentuk dari luka tersebut tidak menggambarkan bentuk dari

benda penyebabnya. Jika benda tumpul yang mempunyai permukaan bulat atau
persegi dipukulkan pada kepala maka luka robek yang terjadi tidak berbentuk bulat
atau persegi.
Suatu pukulan yang mengenai bagian kecil area kulit dapat menyebabkan kontusio
dari jaringan subkutan, seperti pinggiran balok kayu, ujung dari pipa, permukaan
benda tersebut cukup lancip untuk menyebabkan sobekan pada kulit yang
menyebabkan laserasi. Laserasi disebabkan oleh benda yang permukaannya runcing
tetapi tidak begitu tajam sehingga merobek kulit dan jaringan bawah kulit dan
menyebabkan kerusakan jaringan kulit dan bawah kulit. Tepi dari laserasi ireguler dan
kasar, disekitarnya terdapat luka lecet yang diakibatkan oleh bagian yang lebih rata
dari benda tersebut yang mengalami indentasi.
Pada beberapa kasus, robeknya kulit atau membran mukosa dan jaringan
dibawahnya tidak sempurna dan terdapat jembatan jaringan. Jembatan jaringan, tepi
luka yang ireguler, kasar dan luka lecet membedakan laserasi dengan luka oleh benda
tajam seperti pisau. Tepi dari laserasi dapat menunjukkan arah terjadinya kekerasan.
Tepi yang paling rusak dan tepi laserasi yang landai menunjukkan arah awal
kekerasan. Sisi laserasi yang terdapat memar juga menunjukkan arah awal kekerasan.
Bentuk dari laserasi tidak dapat menggambarkan bahan dari benda penyebab
kekerasan tersebut. Karena daya kekenyalan jaringan regangan jaringan yang
berlebihan terjadi sebelum robeknya jaringan terjadi. Sehingga pukulan yang terjadi
karena palu tidak harus berbentuk permukaan palu atau laserasi yang berbentuk
semisirkuler. Sering terjadi sobekan dari ujung laserasi yang sudutnya berbeda dengan
laserasi itu sendiri yang disebut dengan swallow tails. Beberapa benda dapat
menghasilkan pola laserasi yang mirip.
Seiring waktu, terjadi perubahan terhadap gambaran laserasi tersebut, perubahan
tersebut tampak pada lecet dan memarnya. Perubahan awal yaitu pembekuan dari
darah, yang berada pada dasar laserasi dan penyebarannya ke sekitar kulit atau
membran mukosa. Bekuan darah yang bercampur dengan bekuan dari cairan jaringan
bergabung membentuk eskar atau krusta. Jaringan parut pertama kali tumbuh pada
dasar laserasi, yang secara bertahap mengisi saluran luka. Kemudian, epitel mulai
tumbuh ke bawah di atas jaringan skar dan penyembuhan selesai. Skar tersebut tidak
mengandung apendises meliputi kelenjar keringat, rambut dan struktur lain.
Perkiraan kejadian saat kejadian pada luka laserasi sulit ditentukan tidak seperti
luka atau memar. Pembagiannya adalah sangat segera segera, beberapa hari, dan lebih

dari beberapa hari. Laserasi yang terjadi setelah mati dapat dibedakan ddengan yang
terjadi saat korban hidup yaitu tidak adanya perdarahan.
Laserasi dapat menyebabkan perdarahan hebat. Sebuah laserasi kecil tanpa adanya
robekan arteri dapat menyebabkan akibat yang fatal bila perdarahan terjadi terus
menerus. Laserasi yang multipel yang mengenai jaringan kutis dan sub kutis dapat
menyebabkan perdarahan yang hebat sehingga menyebabkan sampai dengan
kematian. Adanya diskontinuitas kulit atau membran mukosa dapat menyebabkan
kuman yang berasal dari permukaan luka maupun dari sekitar kulit yang luka masuk
ke dalam jaringan. Port dentree tersebut tetap ada sampai dengan terjadinya
penyembuhan luka yang sempurna. Bila luka terjadi dekat persendian maka akan
terasa nyeri, khususnya pada saat sendi tersebut di gerakkan ke arah laserasi tersebut
sehingga dapat menyebabkan disfungsi dari sendi tersebut. Benturan yang terjadi pada
jaringan bawah kulit yang memiliki jaringan lemak dapat menyebabkan emboli lemak
pada paru atau sirkulasi sistemik. Laserasi juga dapat terjadi pada organ akibat dari
tekanan yang kuat dari suatu pukulan seperi pada organ jantung, aorta, hati dan limpa.
Hal yang harus diwaspadai dari laserasi organ yaitu robekan yang komplit yang
dapat terjadi dalam jangka waktu lama setelah trauma yang dapat menyebabkan
perdarahan hebat.

Gambar 6. Luka robek (vulnus laceratum)


d. Fraktur
Fraktur adalah suatu diskontinuitas tulang. Istilah fraktur pada bedah hanya
memiliki sedikit makna pada ilmu forensik. Pada bedah, fraktur dibagi menjadi
fraktur sederhana dan komplit atau terbuka.
Terjadinya fraktur selain disebabkan suatu trauma juga dipengaruhi beberapa faktor
seperti komposisi tulang tersebut. Anak-anak tulangnya masih lunak, sehingga apabila
terjadi trauma khususnya pada tulang tengkorak dapat menyebabkan kerusakan otak

yang hebat tanpa menyebabkan fraktur tulang tengkorak. Wanita usia tua sering kali
telah mengalami osteoporosis, dimana dapat terjadi fraktur pada trauma yang ringan.
Pada kasus dimana tidak terlihat adanya deformitas maka untuk mengetahui ada
tidaknya fraktur dapat dilakukan pemeriksaan menggunakan sinar X, mulai dari
fluoroskopi, foto polos. Xero radiografi merupakan teknik lain dalam mendiagnosa
adanya fraktur.
Fraktur mempunyai makna pada pemeriksaan forensik. Bentuk dari fraktur dapat
menggambarkan benda penyebabnya (khususnya fraktur tulang tengkorak), arah
kekerasan. Fraktur yang terjadi pada tulang yang sedang mengalami penyembuhan
berbeda dengan fraktur biasanya. Jangka waktu penyembuhan tulang berbeda-beda
setiap orang. Dari penampang makros dapat dibedakan menjadi fraktur yang baru,
sedang dalam penyembuhan, sebagian telah sembuh, dan telah sembuh sempurna.
Secara radiologis dapat dibedakan berdasarkan akumulasi kalsium pada kalus.
Mikroskopis dapat dibedakan daerah yang fraktur dan daerah penyembuhan.
Penggabungan dari metode diatas menjadikan akurasi yang cukup tinggi. Daerah
fraktur yang sudah sembuh tidaklah dapat menjadi seperti tulang aslinya.
Perdarahan merupakan salah satu komplikasi dari fraktur. Bila perdarahan sub
periosteum terjadi dapat menyebabkan nyeri yang hebat dan disfungsi organ tersebut.
Apabila terjadi robekan pembuluh darah kecil dapat menyebabkan darah terbendung
disekitar jaringan lunak yang menyebabkan pembengkakan dan aliran darah balik
dapat berkurang. Apabila terjadi robekan pada arteri yang besar terjadi kehilangan
darah yang banyak dan dapat menyebabkan pasien shok sampai meninggal. Syok
yang terjadi pada pasien fraktur tidaklah selalu sebanding dengan fraktur yang
dialaminya.
Selain itu juga dapat terjadi emboli lemak pada paru dan jaringan lain. Gejala pada
emboli lemak di sereberal dapat terjadi 2-4 hari setelah terjadinya fraktur dan dapat
menyebabkan kematian. Gejala pada emboli lemak di paru berupa distres pernafasan
dapat terjadi 14-16 jam setelah terjadinya fraktur yang juga dapat menyebabkan
kematian. Emboli sumsum tulang atau lemak merupakan tanda antemortem dari
sebuah fraktur.
Fraktur linier yang terjadi pada tulang tengkorak tanpa adanya fraktur depresi
tidaklah begitu berat kecuali terdapat robekan pembuluh darah yang dapat membuat
hematom ekstra dural, sehingga diperlukan depresi tulang secepatnya. Apabila ujung

tulang mengenai otak dapat merusak otak tersebut, sehingga dapat terjadi penurunan
kesadaran, kejang, koma hingga kematian.

Gambar 7. Fraktur tulang


e. Kompresi
Kompresi yang terjadi dalam jangka waktu lama dapat menyebabkan efek lokal
maupun sistemik yaitu asfiksia traumatik sehingga dapat terjadi kematiaan akibat
tidak terjadi pertukaran udara.

Gambar 8. Kompresi pada vertebra


f. Perdarahan
Perdarahan dapat muncul setelah terjadi kontusio, laserasi, fraktur, dan kompresi.
Kehilangan 1/10 volume darah tidak menyebabkan gangguan yang bermakna.
Kehilangan volume darah dapat menyebabkan pingsan meskipun dalam kondisi
berbaring. Kehilangan volume darah dan mendadak dapat menyebabkan syok yang
berakhir pada kematian. Kecepatan perdarahan yang terjadi tergantung pada ukuran
dari pembuluh darah yang terpotong dan jenis perlukaan yang mengakibatkan

terjadinya perdarahan. Pada arteri besar yang terpotong, akan terjadi perdarahan
banyak yang sulit dikontrol oleh tubuh sendiri. Apabila luka pada arteri besar berupa
sayatan, seperti luka yang disebabkan oleh pisau, perdarahan akan berlangsung lambat
dan mungkin intermiten. Luka pada arteri besar yang disebabkan oleh tembakan akan
mengakibatkan luka yang sulit untuk dihentikan oleh mekanisme penghentian darah
dari dinding pembuluh darah sendiri. Hal ini sesuai dengan prinsip yang telah
diketahui, yaitu perdarahan yang berasal dari arteri lebih berisiko dibandingkan
perdarahan yang berasal dari vena.
Hipertensi dapat menyebabkan perdarahan yang banyak dan cepat apabila terjadi
perlukaan pada arteri. Adanya gangguan pembekuan darah juga dapat menyebabkan
perdarahan yang lama. Kondisi ini terdapat pada orang-orang dengan penyakit
hemofili dan gangguan pembekuan darah, serta orang-orang yang mendapat terapi
antikoagulan. Pecandu alcohol biasanya tidak memiliki mekanisme pembekuan darah
yang normal, sehingga cenderung memiliki perdarahan yang berisiko. Investigasi
terhadap kematian yang diakibatkan oleh perdarahan memerlukan pemeriksaan
lengkap seluruh tubuh untuk mencari penyakit atau kondisi lain yang turut berperan
dalam menciptakan atau memperberat situasi perdarahan.

Gambar 9. Perdarahan
IV. Klasifikasi Trauma Tumpul Berdasarkan Jaringan atau Organ yang Terkena
a. Kulit

Luka Lecet

Luka Memar

Luka Robek

b. Kepala

Tengkorak

Jaringan Otak

c. Leher dan Tulang Belakang


d. Dada

Tulang

Organ dalam dada

e. Perut

Organ Parenchym

Organ berongga

f. Anggota Gerak
V. Akibat Kekerasan Benda Tumpul Pada Organ Yang Terkena
a.

Kepala

Cedera Kepala Pada Penutup Otak


Jaringan otak dilindungi oleh 3 lapisan jaringan. Lapisan paling luar disebut
duramater, atau sering dikenal sebagai dura. Lapisan ini tebal dan lebih dekat
berhubungan dengan tengkorak kepala dibandingakan otak. Antara tengkorak dan
dura terdapat ruang yang disebut ruang epidural atau ekstradural. Ruang ini
penting dalam bidang forensik.
Lapisan yang melekat langsung ke otak disebut piamater. Lapisan ini sangat
rapuh, melekat pada otak dan meluas masuk ke dalam sulkus-sulkus otak.
Lapisan ini tidak terlalu penting dalam bidang forensik.
Lapisan berikutnya yang terletak antara dura mater dan pia mater disebut
arakhnoid. Ruang yang dibentuk antara lapisan dura mater dan arakhnoid ini
disebut ruang subdural. Kedalaman ruang ini bervariasi di beberapa tempat. Perlu
diingat, cairan otak terdapat pada ruang subarakhnoid, bukan di ruang subdural.
Perdarahan kepala dapat terjadi pada ketiga ruang yaitu ruang epidural,
subdural atau ruang subarakhnoid, atau pada otak itu sendiri.

Gambar 10. Perdarahan intrakranial

Perdarahan Epidural (Hematoma)


Perdarahan jenis ini berhubungan erat dengan fraktur pada tulang tengkorak.
Apabila fraktur mengenai jalinan pembuluh darah kecil yang dekat dengan bagian
dalam tengkorak, umumnya arteri meningea media, dapat menyebabkan arteri
terkoyak dan terjadi perdarahan yang cepat. Kumpulan darah akhirnya
mendorong lapisan dura menjauh dari tengkorak dan ruang epidural menjadi lebih
luas. Akibat dari lapisan dura yang terdorong ke dalam, otak mendapatkan
kompresi atau tekanan yang akhirnya menimbulkan gejala-gejala seperti nyeri
kepala, penurunan kesadaran bertahap mulai dari letargi, stupor dan akhirnya
koma. Kematian akan terjadi bila tidak dilakukan terapi dekompresi segera.
Waktu antara timbulnya cedera kepala sampai munculnya gejala-gejala yang
diakibatkan perdarahan epidural disebut sebagai lucid interval

Perdarahan Subdural (Hematoma)


Perdarahan ini timbul apabila terjadi bridging vein yang pecah dan darah
berkumpul di ruang subdural. Perdarahan ini juga dapat menyebabkan kompresi
pada otak yang terletak di bawahnya. Karena perdarahan yang timbul
berlangsung perlahan, maka lucid interval juga lebih lama dibandingkan
perdarahan epidural, berkisar dari beberapa jam sampai beberapa hari. Jumlah
perdarahan pada ruang ini berkisar dibawah 120 cc, sehingga tidak menyebabkan
perdarahan subdural yang fatal.
Tidak semua perdarahan epidural atau subdural bersifat letal. Pada beberapa
kasus, perdarahan tidak berlanjut mencapai ukuran yang dapat menyebabkan
kompresi pada otak, sehingga hanya menimbulkan gejala-gejala yang ringan.

Pada beberapa kasus yang lain, memerlukan tindakan operatif segera untuk
dekompresi otak.
Penyembuhan

pada

perdarahan

subdural

dimulai

dengan

terjadinya

pembekuan pada perdarahan. Pembentukan skar dimulai dari sisi dura dan secara
bertahap meluas ke seluruh permukaan bekuan. Pada waktu yang bersamaan,
darah mengalami degradasi. Hasil akhir dari penyembuhan tersebut adalah
terbentuknya jaringan skar yang lunak dan tipis yang menempel pada dura. Sering
kali, pembuluh dara besar menetap pada skar, sehingga membuat skar tersebut
rentan terhadap perlukaan berikutnya yang dapat menimbulkan perdarahan
kembali. Waktu yang diperlukan untuk penyembuhan pada perdarahan subdural
ini bervariasi antar individu, tergantung pada kemampuan reparasi tubuh setiap
individu sendiri.
Hampir semua kasus perdarahan subdural berhubungan dengan trauma,
meskipun dapat tidak berhubungan dengan trauma. Perdarahan ini dapat terjadi
pada orang-orang dengan gangguan mekanisme pembekuan darah atau pada
pecandu alcohol kronik, meskipun tidak menyebabkan perdarahan yang besar dan
berbahaya. Pada kasus-kasus perdarahan subdural akibat trauma, dapat timbul
persarahan kecil yang tidak berisiko apabila terjadi pada orang normal. Akan
tetapi, pada orang-orang yang memiliki gangguan pada mekanisme pembekuan
darah, dapat bersifat fatal.
Ada kalanya juga perdarahan subdural terjadi akibat perluasan dari perdarahan
di tempat lain. Salah satu contohnya adalah perdarahan intraserebral yang keluar
dari substansi otak melewati pia mater, kemudian masuk dan menembus lapisan
arakhnoid dan mencapai ruang subdural.

Perdarahan Subarakhnoid
Penyebab perdarahan subarakhnoid yang tersering ada 5, dan terbagi menjadi
2 kelompok besar, yaitu yang disebabkan trauma dan yang tidak berhubungan
dengan trauma. Penyebabnya antara lain:
- Nontraumatik :
-

Ruptur aneurisma pada arteri yang memperdarahi otak

Perdarahan intraserebral akibat stroke yang memasuki subarakhnoid

- Traumatik :

Trauma langsung pada daerah fokal otak yang akhirnya menyebabkan


perdarahan subarakhnoid

Trauma pada wajah atau leher dengan fraktur pada tulang servikal yang
menyebabkan robeknya arteri vertebralis

Robeknya salah satu arteri berdinding tipis pada dasar otak yang
diakibatkan gerakan hiperekstensi yang tiba-tiba dari kepala.

Arteri yang lemah dan membengkak seperti pada aneurisma, sangat rapuh
dindingnya dibandingkan arteri yang normal. Akibatnya, trauma yang ringan pun
dapat menyebabkan ruptur pada aneurisma yang mengakibatkan banjirnya ruang
subarakhnoid dengan darah dan akhirnya menimbulkan disfungsi yang serius atau
bahkan kematian.
Yang menjadi teka-teki pada bagian forensik adalah, apakah trauma yang
menyebabkan ruptur pada aneurisma yang sudah ada, atau seseorang mengalami
nyeri kepala lebih dahulu akibat mulai pecahnya aneurisma yang menyebabkan
gangguan tingkah laku berupa perilaku mudah berkelahi yang berujung pada
trauma. Contoh yang lain, apakah seseorang yang jatuh dari ketinggian tertentu
menyebabkan ruptur aneurisma, atau seseorang tersebut mengalami ruptur
aneurisma terlebih dahulu yang menyebabkan perdarahan subarakhnoid dan
akhirnya kehilangan kesadaran dan terjatuh. Pada beberapa kasus, investigasi
yang teliti disertai dengan otopsi yang cermat dapat memecahkan teka-teki
tersebut.
Perdarahan subarakhnoid ringan yang terlokalisir dihasilkan dari tekanan
terhadap kepala yang disertai goncangan pada otak dan penutupnya yang ada di
dalam tengkorak. Tekanan dan goncangan ini menyebabkan robeknya pembuluhpembuluh darah kecil pada lapisan subarakhnoid, dan umumnya bukan
merupakan perdarahan yang berat. Apabila tidak ditemukan faktor pemberat lain
seperti kemampuan pembekuan darah yang buruk, perdarahan ini dapat
menceritakan atau mengungkapkan tekanan trauma yang terjadi pada kepala.
Jarang sekali, tamparan pada pada sisi samping kepala dan leher dapat
mengakibatkan fraktur pada prosesus lateralis salah satu tulang cervical superior.
Karena arteri vertebralis melewati bagian atas prosesus lateralis dari vertebra di
daerah leher, maka fraktur pada daerah tersebut dapat menyebabkan robeknya
arteri yang menimbulkan perdarahan masif yang biasanya menembus sampai
lapisan subarakhnoid pada bagian atas tulang belakang dan akhirnya terjadi

penggenangan pada ruang subarakhnoid oleh darah. Aliran darah ke atas


meningkat dan perdarahan meluas sampai ke dasar otak dan sisi lateral hemisfer
serebri. Pada beberapa kasus, kondisi ini sulit dibedakan dengan perdarahan
nontraumatikyang mungkin disebabkan oleh ruptur aneurisma.
Tipe perdarahan subarakhnoid traumatik yang akan dibicarakan kali ini
merupakan tipe perdarahan yang massif. Perdarahan ini melibatkan dasar otak
dan meluas hingga ke sisi lateral otak sehingga serupa dengan perdarahan yang
berhubungan dengan aneurisma pada arteri besar yang terdapat di dasar
otak.Akan tetapi, pada pemeriksaan yang cermat dan teliti, tidak ditemukan
adanya aneurisma, sedangkan arteri vertebralis tetap intak. Penyebab terjadinya
perdarahan diduga akibat pecahnya pembuluh darah berdinding tipis pada bagian
bawah otak, serta tidak terdapat aneurisma. Terdapat 2 bukti, meskipun tidak
selalu ada, yang bisa mendukung dugaan apakah kejadian ini murni dimulai oleh
trauma terlebih dahulu. Bukti pertama yaitu adanya riwayat gerakan hiperekstensi
tiba-tiba pada daerah kepala dan leher, yang nantinya dapat menyebabkan kolaps
dan bahkan kematian.

Kontusio otak
Hampir seluruh kontusio otak superfisial, hanya mengenai daerah abu-abu.
Beberapa dapat lebih dalam, mengenai daerah putih otak. Kontusio pada bagian
superfisial atau daerah abu-abu sangat penting dalam ilmu forensik. Rupturnya
pembuluh darah dengan terhambatnya aliran darah menuju otak menyebabkan
adanya pembengkakan dan seperti yang telah disebutkan sebelumnya, lingkaran
kekerasan dapat terbentuk apabila kontusio yang terbentuk cukup besar, edema
otak dapat menghambat sirkulasi darah yang menyebabkan kematian otak, koma,
dan kematian total. Poin kedua terpenting dalam hal medikolegal adalah
penyembuhan kontusio tersebut yang dapat menyebabkan jaringan parut yang
akan menyebabkan adanya fokus epilepsi.
Yang harus dipertimbangan adalah lokasi kontusio tipe superfisial yang
berhubungan dengan arah kekerasan yang terjadi. Hal ini bermakna jika pola luka
ditemukan dalam pemeriksaan kepala dan komponen yang terkena pada trauma
sepeti pada kulit kepala, kranium, dan otak.
Ketika bagian kepala terkena benda yang keras dan berat seperti palu atau
botol bir, hasilnya dapat berupa, kurang lebihnya, yaitu abrasi, kontusio, dan

laserasi dari kulit kepala. Kranium dapat patah atau tidak. Jika jaringan
dibawahnya terkena, hal ini disebut coup. Hal ini terjadi saat kepala relatif tidak
bergerak.
Kita juga harus mempertimbangkan situasi lainnya dimana kepala yang
bergerak mengenai benda yang padat dan diam. Pada keadaan ini kerusakan pada
kulit kepala dan pada kranium dapat serupa dengan apa yang ditemukan pada
benda yang bergerak-kepala yang diam. Namun, kontusio yang terjadi, bukan
pada tempat trauma melainkan pada sisi yang berlawanan. Hal ini disebut
kontusio contra-coup.
Pemeriksaan kepala penting untuk mengetahui pola trauma. Karena foto dari
semua komponen trauma kepala dari berbagai tipe kadang tidak tepat sesuai
dengan demontrasi yang ada., diagram dapat menjelaskan hubungan trauma yang
terjadi. Kadang dapat terjadi hal yang membingungkan, dapat saja kepala yang
diam dan terkena benda yang bergerak pada akhirnya akan jatuh atau mengenai
benda

keras

lainnya,

sehingga

gambaran

yang

ada

akan

tercampur,

membingungkan, yang tidak memerlukan penjelasan mendetail.


Tipe lain kontusio adalah penetrasi yang lebih dalam, biasanya mengenai
daerah putih atau abu-abu, diliputi oleh lapisan normal otak, dengan perdarahan
kecil atau besar. Perdarahan kecil dinamakan ball hemorrhages sesuai dengan
bentuknya yang bulat. Hal tersebut dapat serupa dengan perdarahan fokal yang
disebabkan hipertensi. Perdarahan yang lebih besar dan dalam biasanya berbentuk
ireguler dan hampir serupa dengan perdarahan apopletik atau stroke. Anamnesis
yang cukup mengenai keadaan saat kematian, ada atau tiadanya tanda trauma
kepala, serta adanya penyakit penyerta dapat membedakan trauma dengan kasus
lain yang menyebabkan perdarahan.
Perdarahan intraserebral tipe apopletik tidak berhubungan dengan trauma
biasanya

melibatkan

daerah

dengan

perdarahan

yang

dalam.

Tempat

predileksinya adalah ganglia basal, pons, dan serebelum. Perdahan tersebut


berhubungan dengan malformasi arteri vena. Biasanya mengenai orang yang
lebih muda dan tidak mempunyai riwayat hipertensi.
Edema paru tipe neurogenik biasanya menyertai trauma kepala. Manifestasi
eksternal yang dapat ditemui adalah foam cone busa berwarna putih atau merah
muda pada mulut dan hidung. Hal tersebut dapat ditemui pada kematian akibat

tenggelam, overdosis, penyakit jantung yang didahului dekompensasio kordis.


Keberadaan gelembung tidak membuktikan adanya trauma kepala.

Gambar 11. Kontusio cerebri


b.

Leher
Dapat berakibat :

Patah tulang leher

Robek pembuluh darah, otot, oesophagus, trachea/larynx

Kerusakan saraf

Gambar 12. Trauma pada leher


c.

Dada
Dapat berakibat :

Patah os costae, os. sternum, os. scapula, os. Clavicula

Robek organ jantung, paru, pericardium

d.

Perut
Dapat berakibat :

Patah os pubis, os sacrum, symphysiolysis, Luxatio sendi sacro iliaca

Robek organ hepar, lien, ginjal. Pankreas, adrenal, lambung, usus, kandung seni

Gambar 12. Trauma tumpul pada dada, perut, dan kandungan


e.

Tulang Belakang (Vertebra)


Dapat berakibat :

Fraktura, dislokasi os vertebrae

Dapat karena :

Trauma langsung

Tidak langsung karena tarikan / tekukan

f.

Anggota Gerak
Dapat berakibat :

Patah tulang, dislokasi sendi

Robek otot, pembuluh darah, kerusakan saraf

VI. Pola Trauma


Terdapat beberapa pola trauma akibat kekerasan tumpul yang dapat dikenali, yang
mengarah kepada kepentingan medikolegal. Contohnya :
Luka terbuka tepi tidak rata pada kulit akibat terkena kaca spion pada saat terjadi
kecelakaan. Ketika terjadi benturan, kaca spion tersebut akan menjadi fragmen-

fagmen kecil. Luka yang terjadi dapat berupa abrasi, kontusio, dan laserasi yang
berbentuk segiempat atau sudut.
Pejalan kaki yang ditabrak kendaraan bermotor biasanya mendapatkan fraktur tulang
panjang kaki. Hal ini disebut bumper fractures. Adanya fraktur tersebut yang disertai
luka lainnya pada tubuh yang ditemukan di pinggir jalan, memperlihatkan bahwa
korban adalah pejalan kaki yang ditabrak oleh kendaraan bermotor dan dapat
diketahui tinggi bempernya. Karena hampir seluruh kendaraan bermotor nose dive
ketika mengerem mendadak, pengukuran ketinggian bemper dan tinggi fraktur dari
telapak kaki, dapat mengindikasikan usaha pengendara kendaraan bermotor untuk
mengerem pada saat kecelakaan terjadi.
Penderita serangan jantung yang terjatuh dapat diketahui dengan adanya pola luka
pada dan di bawah area hat band dan biasanya terbatas pada satu sisi wajah. Dengan
adanya pola tersebut mengindikasikan jatuh sebagai penyebab, bukan karena dipukul.
Pukulan pada daerah mulut dapat lebih terlihat dari dalam. Pukulan yang kepalan
tangan, luka tumpul yang terjadi dapat tidak begitu terlihat dari luar, namun
menimbulkan edem jaringan pada bagian dalam, tepat di depan gigi geligi. Frenum
pada bibir atas kadang rusak, terutama bila korban adalah bayi yang sering mendapat
pukulan pada kepala
Pola trauma banyak macamnya dan dapat bercerita pada pemeriksa medikolegal.
Kadangkala sukar dikenali, bukan karena korban tidak diperiksa, namun karena
pemeriksa cenderung memeriksa area per area, dan gagal mengenali polanya. Foto
korban dari depan maupun belakang cukup berguna untuk menetukan pola trauma.
Persiapan diagram tubuh yang memperlihatkan grafik lokasi dan penyebab trauma adalah
latihan yang yang baik untuk mengungkapkan pola trauma.
VII.Akibat Trauma
a. Aspek medik
Konsekuensi dari luka yang di timbulkan oleh trauma dapat berupa :

Kelainan fisik / organic


Bentuk dari kelainan fisik atau organic ini dapat berupa hilangnya jaringan
atau bagian dari tubuh dan hilangnya sebagaian atau seluruh organ tertentu.

Gangguan fungsi dari organ tubuh tertentu.

Bentuk dari gangguan fungsi tergantung dari organ atau bagaian tubuhyang
terkena trauma. Contoh dari gangguan fungsi antara lain lumpuh,buta, tuli atau
terganggunya fungsi organ- organ dalam.

Infeksi
Kulit atau membrane mukosa merupakan barier terhadap infeksi. Bila kulit
atau membrane tersebut rusak maka kuman akan masuk lewat pintu ini. Bahkan
kuman dapat masuk lewat daerah memar atau bahkan irritasi akibat benda yang
terkontaminasi oleh koman.

Jenis kuman dapat berupa streptococcus,

staphylococcus, echeria coli, proteus vulgaris, clostridium tetani serta kuman


yang menyebabkan gas gangren.

Penyakit
Trauma sering dianggap sebagai faktor resiko terjadinya penyakit jantung
walaupun hubungan kausalnya sulit diterangkan dan masih dalam kontroversi.

Kelainan psikis
Trauma, meskipun tidak menimbulkan kerusakan otak, kemungkinan dapat
menjadi faktor resiko bagi terjadinya kelainan mental yang spketrumnnya amat
luas; yaitu dapat berupa compensational neurosis, anxiety neurosis, dementia
praecox primer (schizophrenia), manic depressive atau psikosis. Kepribadian
serta potensi individu untuk terjadinya reaksi mental yang abnormal merupakan
factor utama timbulnya gangguan mental tersebut; meliputi jenis, derajat serta
lamanya gangguan. Oleh sebab itu pada setiap gangguan mental post-trauma
perlu dikaji elemen-elemen dasarnya yang terdiri atas latarbelakang mental dan
emosi serta nilai relative bagi yang bersangkutan atas jaringan atau organ yang
terkena trauma. Secara umum dapat diterima bahwa hubungan antara kerusakan
jaringan tubuh atau organ dengan psikosis post trauma di dasarkan atas :
-

Keadaan mental benar benar sehat sebelum trauma

Trauma telah merusak susunan syaraf pusat

Trauma, tanpa mempersoalkan lokasinya, mengancam kehidupan seseorang.

Trauma menimbulkan kerusakan pada bagian yang struktur dan fungsinya


dapat mempengaruhi emosi organ genital, payudara, mata,tangan atau wajah.

Korban cemas akan lamanya waktu penderitaan

Psikosis terjadi dalam tenggang waktu yang masuk akal

Korban dihantui oleh kejadian (kejahatan atau kecelkaan) yang menimpanya.

b. Aspek yuridis
Jika dari sudut medik, luka merupakan kerusakan jaringan (baik disertai atau tidak
disertai diskontuinitas permukaan kulit) akibat trauma maka dari sudut hukum, luka
merupakan kelainan yang dapat disebabkan oleh suatu tindak pidana, baik yang
bersifat intensional (sengaja), reckless (ceroboh) atau negligence (kurang hatihati).
Untuk menentukan berat-ringannya hukuman perlu ditentukan lebih dahulu berat
ringannya luka. Kebijakan hukum pidana didalam penentuan berat ringannya luka
tersebut didasarkan atas pengaruhnya terhadap :
-

Kesehatan jasmani

Kesehatan rohani

Kelangsungan hidup janin di dalam kandungan

Estetika jasmani

Pekerjaan jabatan atau pekerjaan mata pencarian

Fungsi alat indera

VIII. Derajat Luka


a.

Luka ringan adalah luka yang tidak menimbulkan penyakit atau


halangan dalam menjalankan pekerjaan jabatan atau pekerjaan mata pencahariannya.

b.

Luka sedang adalah luka yang dapat menimbulkan penyakit


atau halangan dalam menjalankan pekerjaan jabatan atau pekerjaan mata pencaharian
untuk sementara waktu.

c.

Luka berat adalah luka yang sebagaimana diuraikan di dalam


pasal 90 KUHP, yang terdiri atas :

Luka atau penyakit yang tidak dapat diharapkan akan sembuh dengan sempurna
lebih ditujukan pada fungsinya. Contohnya trauma pada satu mata yang
menyebabkan kornea robek. Sesudah di jahit sembuh, tetapi mata tersebut tidak
dapat melihat.

Luka yang dapat mendatangkan bahaya maut. Dapat mendatangkan bahaya maut
pengertiannya memiliki potensial untuk menimbulkan kematian, tetapi sesudah
diobati dapat sembuh.

Luka yang menimbulkan rintangan tetap dalam menjalankan pekerjaan jabatan


atau mata pencariaanya. Luka yang dari sudut medik tidak membahayakan jiwa,
dari sudut hukum dapat dikategorikan sebagai luka berat. Contonya trauma

pada tangan kiri pemain biola atau pada wajah seorang peragawati dapat
dikatagorikan luka berat jika akibatnya mereka tidak dapat lagi menjalankan
pekerjaanya tersebut selamanya.

Kehilangan salah satu dari panca indera.

Jika trauma menimbulkan kebutaan satu mata atau kehilngan pendengran satu
telinga, tidak dapat digolongkan kehilangan indera. Meskipun demikian tetap
digolongkan sebagai luka berat berdasarkan butir (1) di atas.

Cacat besar atau kudung.

Lumpuh.

Gangguan daya pikir lebih dari 4 minggu lamanya. Gangguan daya pikir tidak
harus berupa kehilangan kesadaran tetapi dapat juga berupa amnesia, disorientasi,
anxietas, depresi atau gangguan jiwa lainnya.

Keguguran atau kematian janin seorang perempuan. Keguguran ialah keluarnya


janin sebelum masa waktunya yaitu, tidak didahului oleh proses yang
sebagaimana umumnya terjadi seorang wanita ketika melahirkan. Sedang
kematian janin mengandung pengertian bahwa janin tidak lagi menunjukan
tanda tanda hidup. Tidak dipersoalkan bayi keluar atau tidak dari perut ibunya.