Anda di halaman 1dari 17

POPULASI GENETIKA

(Makalah ini disusun guna memenuhi tugas Mata Kuliah Genetika)

Oleh:

Kelompok 3:
1.
2.
3.
4.

Sandri Yuli Anita


Khusnul Khotimah
Diana Widyaningtyas
Mellyatul Aini

(130210103015)
(130210103053)
(130210103067)
(130210103082)

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BIOLOGI


JURUSAN PENDIDIKAN MIPA
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS JEMBER
2014

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kita panjatkan kehadirat Allah SWT atas limpahan rahmat
dan karunia-Nya kepada kita dan tak lupa pula kita mengirim salam dan salawat
kepada baginda Nabi Besar Muhammad SAW yang telah membawakan kita suatu
ajaran yang benar yaitu agama Islam, sehingga kami dapat menyelesaikan
makalah yang berjudul Populasi Genetika ini dengan lancar.
Makalah ini ditulis dari hasil penyusunan data-data sekunder yang kami
peroleh dari berbagai sumber yang berkaitan dengan populasi genetika serta
infomasi dari media massa yang berhubungan dengan populasi genetika, tak lupa
kami ucapkan terima kasih kepada pengajar matakuliah Genetika atas bimbingan
dan arahan dalam penulisan makalah ini. Juga kepada rekan-rekan mahasiswa
yang telah mendukung sehingga kita dapat menyelesaikan makalah ini.
Kami harap dengan membaca makalah ini dapat memberi manfaat bagi kita
semua, dalam hal ini dapat menambah wawasan kita mengenai pendekatan
saintifik, khususnya bagi tim penyusun. Memang makalah ini masih jauh dari
sempurna, maka tim penyusun mengharapkan kritik dan saran dari pembaca demi
perbaikan menuju arah yang lebih baik.

Tim Penyusun

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL
KATA PENGANTAR .............................................................................................ii
DAFTAR ISI ..........................................................................................................iii
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang ......................................................................................1
1.2 Rumusan Masalah..................................................................................2
1.3 Tujuan....................................................................................................2
BAB II PEMBAHASAN
2.1
2.2
2.3
2.4
2.5

Pengertian populasi genetika, populasi mendelian dan gene pool..........3


Frekuensi alel untuk warisan antara........................................................5
Frekuensi alel jika ada dominansi...........................................................6
Frekuensi alel ganda...............................................................................8
Frekuensi alel terangkai kelamin............................................................9

BAB III PENUTUP


3.1 Kesimpulan ..........................................................................................10
3.2 Saran.....................................................................................................10
DAFTAR PUSTAKA...............................................................................................iv

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Populasi adalah suatu kelompok individu sejenis yang hidup pada
suatu daerah tertentu. Genetik populasi adalah cabang dari ilmu genetika
yang mempelajari gen-gen dalam populasi dan menguraikannya secara
matematik akibat dari keturunan pada tingkat populasi. Suatu populasi
dikatakan seimbang apabila frekuensi gen dan frekuensi genetik berada
dalam keadaan tetap dari setiap generasi (Suryo 1994: 344).
Pola pewarisan suatu sifat tidak selalu dapat dipelajari melalui
percobaan persilangan buatan. Pada tanaman keras atau hewan-hewan
dengan daur hidup panjang seperti gajah, misalnya, suatu persilangan baru
akan memberikan hasil yang dapat dianalisis setelah kurun waktu yang
sangat lama. Demikian pula, untuk mempelajari pola pewarisan sifat
tertentu pada manusia jelas tidak mungkin dilakukan percobaan
persilangan. Pola pewarisan sifat pada organisme-organisme semacam itu
harus dianalisis menggunakan data hasil pengamatan langsung pada
populasi yang ada. Seluk-beluk pewarisan sifat pada tingkat populasi
dipelajari pada cabang genetika yang disebut genetika populasi. Ruang
lingkup genetika populasi secara garis besar oleh beberapa penulis
dikatakan terdiri atas dua bagian, yaitu (1) deduksi prinsip-prinsip Mendel
pada tingkat populasi, dan (2) mekanisme pewarisan sifat kuantitatif.
Untuk mempelajari pola pewarisan sifat pada tingkat populasi terlebih
dahulu perlu difahami pengertian populasi dalam arti genetika atau lazim
disebut juga populasi Mendelian. Populasi mendelian ialah sekelompok
individu suatu spesies yang bereproduksi secara seksual, hidup di tempat
tertentu pada saat yang sama, dan di antara mereka terjadi perkawinan
(interbreeding) sehingga masing-masing akan memberikan kontribusi

genetik ke dalam lungkang gen (gene pool), yaitu sekumpulan informasi


genetik yang dibawa oleh semua individu di dalam populasi.
1.2 Rumusan masalah

Apakah yang di maksud dengan populasi genetika, populasi mendelian


dan gene pool?

Apakah fungsi mempelajari populasi genetika?

Apakah faktor yang dapat mempengaruhi frekuensi gen?

1.3 Tujuan

Mengetahui pengertian dari populasi genetika, populasi mendelian dan


gene pool.

Mengetahui fungsi mempelajari populasi genetika.

Mengetahui faktor yang dapat mempengaruhi frejuensi gen

BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Pengertian populasi genetika, populasi mendelian dan gene pool

Genetika adalah suatu ilmu pengetahuan cabang dari biologi yang


mempelajari tentang unsure hereditas dan variasi yang terjadi. Populasi
adalah suatu kelompok individu sejenis yang hidup pada suatu daerah
tertentu.
Genetika populasi adalah cabang dari genetika yang mempelajari gengen dalam populasi, yang menguraikan secara matematik akibat dari
keturunan pada tingkat populasi. Adapun populasi ialah suatu kelompok
dari satu macam organisme, dan dari situ dapat diambil cuplikan
(sample). Semua makhluk merupakan suatu masyarakat sebagai hasil
perkawinan antar spesies dan mempunyai lengkang gen yang sama. Dari
objek bahasannya, genetika populasi dapat dikelompokkan sebagai cabang
genetika yang berfokus pada pewarisan genetik (Suryo, 2012; 295).
Suatu populasi dikatakan seimbang apabila frekuensi gen dan
frekuensi genetic berada dalam keadaan tetap dari setiap generasi.
Genetika populasi berusaha menjelaskan implikasi yang terjadi terhadap
bahan genetic akibat saling kawin yang terjadi di dalam satu atau lebih
populasi.
Populasi mendelian adalah sekelompok individu suatu spesies yang
bereproduksi secara seksual, hidup di tempat tertentu pada saat yang sama,
dan di antara mereka terjadi perkawinan (interbreeding) sehingga masingmasing akan memberikan kontribusi genetik ke dalam lengkang gen (gene
pool). Gene pool adalah sekumpulan informasi genetik yang di bawa oleh
semua individu di dalam populasi. Lengkang gen (gene pool) adalah
jumlah dari semua alel yang berlainan atau keterangan genetik dalam
anggota dari suatu populasi yang membiak secara kawin. Gen-gen dalam
lengkang mempunyai hubungan dinamis dengan alel lainnya dan dengan
lingkungannya di mana makhluk-makhluk itu berada. Faktor-faktor
lingkungan, seperti seleksi, mempunyaii kecenderungan untuk merubah
frekuensi gen dan dengan demikian akan menyebabkan perubahan evolusi

dalam populasi. Suatu populasi dikatakan seimbang apabila frekuensi gen


dan frekuensi genetik dalam keadaan tetap dari setiap generasi.
Deskripsi susunan genetik suatu populasi mendelian dapat diperoleh
apabila kita mengetahui macam genotipe yang ada dan juga banyaknya
masing-masing genotipe tersebut. Sebagai contoh, di dalam populasi
tertentu terdapat tiga macam genotipe, yaitu AA, Aa, dan aa. Maka,
proporsi atau persentase genotipe AA, Aa, dan aa akan menggambarkan
susunan genetik populasi tempat mereka berada. Adapun nilai proporsi
atau persentase genotipe tersebut dikenal dengan istilah frekuensi
genotipe. Jadi, frekuensi genotipe dapat dikatakan sebagai proporsi atau
persentase genotipe tertentu di dalam suatu populasi.
Frekuensi adalah perbandingan banyaknya individu dalam suatu kelas
terhadap jumlah seluruh individu. Frekuensi genotipe adalah proporsi atau
persentase genotipe tertentu di dalam suatu populasi atau dapat juga
dikatakan proporsi atau persentase individu di dalam suatu populasi yang
tergolong ke dalam genotype tertentu. Frekuensi gen atau alel adalah
perbandingann suatu alel setiap individu dalam suatu kelas terhadap
jumlah seluruh individu. Frekuensi alel sangat penting dalam genetika
populasi karena alel dapat mengakibatkan individu memiliki sifat yang
bervariasi.
Dalam tahun 1908 G.H Hardy (seorang ahli matematika bangsa
Inggris) dan W. Weinberg (seorang dokter bangsa Jerman) secara terpisah
menemukan dasar-dasar yang ada hubungannya dengan frekuensi gen di
dalam populasi. Prinsip yang berbentuk persyaratan teoretis itu dikenal
sebagai prinsip ekuilibrium Hardy-Weinberg. Pernyataan it menegaskan
bahwa di dalam populasi yang ekuilibrium (dalam keseimbangan), maka
baik frekuensi gen maupun frekuensi genotipe akan tetap dari satu generasi
ke generasi seterusnya. Ini dijumpai dalam populasi yang besar, dimana
perkawinan berlangsung secara acak (random) dan tidak ada pilihan atau

pengaturan atau faktor lain yang dapat merubah frekuensi gen (Suryo,
2012; 295).
Pemisahan menurut Mendel dapat dikemukakan secara matematis
dengan menggunakan rumus binomium (a + b ) n, di aman a adalah
kemungkinan bahwa suatu kejadian akan terjadi, sedang b yang mungkin
tidak akan terjadi. Perbandingan 1:2:1 yang memperlihatkan pemisahan
dari sepasang alel tunggal (Aa), pada perkawinan monohybrid dapat
digambarkan sebagai berikut :
(a + b)n = (A + a)2 = 1AA + 2Aa + 1aa
Untuk menunjukkan bahwa ini dapat diterapkan untuk setiap pasang
alel, maka symbol p dan q digunakan. Dalam keseimbangan, frekuensi
genotype menjadi p2(AA), 2pq(Aa) dan q2(aa).
Frekuensi adalah perbandingan antara banyaknya individu dalam
suatu kelas dengan jumlah seluruh individu.
Andaikan frekuensi alel A = p dan frekuensi alel a = q, maka
kemungkinan kombinasi dari spermatozoa dan sel telur pada perkawinan
individu heterozigotik Aa x Aa ialah sebagai berikut:

Ovum

Spermatozoa
A(p)

A(q)

A(p)

AA(p2)

Aa(pq)

a(q)

Aa(pq)

aa(q2)

Jumlah : p2(AA) + 2pq(Aa) + q2(aa)

Jika hanya dua alel yang mengambil peranan, maka p + q = 1. Karena


p + q = 1, p = 1 q.

2.2 Frekuensi Alel Untuk Warisan Antara


Contoh permasalahan untuk mencari frekuensi alel untuk warisan
antara, yaitu :
1. Dari 1000 orang penduduk asli Timor Timur yang diperiksa golongan
darahnya MN didapatkan misalkan 640 orang golongan M, 320 orang
MN, dan 40 orang N. Berapakah frekuensi alel L M dan LN masingmasing dalam populasi itu?
Jawabannya :
Menurut hukum ekuilibrium Hardy-Weinberg:
p2LMLM + 2pqLMLN + q2LNLN

q2 =

40
1000

q=

0,04 = 0,2

= 0,04

p + q = 1. P = 1 0,2 = 0,8
Jadi : frekuensi alel LM = p = 0,8
Frekuensi alel LN = q = 0,2

2. Misalkan frekuensi alel LM pada penduduk WNA keturunan Cina di


Kotamadya Yogyakarta telah diketahui, yaitu 0,3. Jika saudara
mengumpulakan 500 orang tersebut di atas, berapakah di antara mereka
diharapkan bergolongan darah MN, berapa M dan berapa N?
Jawabannya :
Menurut hukum ekuilibrium Hardy-Weinberg :
p2LMLM + 2pqLMLN + q2LNLN
Diketahui :
p = LM = 0,3
Berarti :

q = 1 p = 0,7
2pq = 2(0,3)(0,7) = 0,42

Jadi di antara 500 orang WNA keturunan Cina itu :

Yang bergolongan darah MN = 0,42 x 500 = 210 orang

Yang bergolongan darah M = (0,3)2 x 500 = 45 orang

Yang bergolongan darah N = (0,7)2 x 500 = 245 orang

2.3 Frekuensi Alel Jika Ada Dominansi


Untuk menentukan frekuensi alel jika ada dominansi, dapat di lihat
dari contoh berikut ini :

1. Pemerintah Indonesia mendatangkan 1296 ekor domba dari Australia


yang diturunkan dari kapal di pelabuhan Cilacap. Setelah dihitung,
ternyata 1215 ekor berwarna putih, sedangkan sisanya hitam. Apabila
warna putih pada domba itu ditentukan oleh gen dominan W, sedang
alelnya resesif w bila dalam keadaan homozigot menyebabkan domba
berwarna hitam :
a. Berapakah frekuensi alel W dan w masing-masing dalam populasi
domba dari Australia itu?
b. Berapa ekorkah di antara domba-domba putih itu yang diperkirakan
homozigotik dan berapakah yang heterozigotik?
Jawabannya :
a. Menurut hukum ekuilibrium Hardy-Weinberg :
p2WW + 2pqWw + q2ww
Jumlah domba yang hitam = 1296 1215 = 81 ekor.

q =

q=

81
1296

= 0,0625

0,0625 = 0,25

p+q=1
p = 1 0,25 = 0,75
Jadi : frekuensi alel W = p = 0,75
frekuensi alel w = q = 0,25

b. Banyaknya domba yang putih homozigotik = (0.75)2 x 1296 ekor =


729 ekor.
Banyaknya domba yang putih heterozigotik = 2(0,75)(0,25) x 1296
ekor = 486 ekor.
2. Dari 2500 mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara
pada waktu dilakukan test PTC (phenyl thiocarbamida) didapatkan
misalnya 2139 orang pengecap (taster).
a. Berapakah frekuensi alel T dan t masing-masing pada populasi
mahasiswa itu?
b. Berapakah

di

antara

mahasiswa

pengecap

itu

diharapkan

homozigotik?
Jawabannya :
Dari 2500 orang mahasiswa yang diteliti ternyata terdapat 2139 orang
pengecap PTC (jadi dapat merasakan rasa pahit). Sisanya, yaitu 361
orang adalah buta-kecap (non-taster), berarti mereka merasakan
larutan PTC seperti air tawar saja.
a. Menurut hukum ekuilibrium Hardy-Weinberg :
p2TT + 2pqTt + q2tt

q2 =

q=

361
2500

= 0,1444

0,1444 = 0,38

p = 1 q = 1 0,38 = 0,62

Jadi :

frekuensi alel T = p = 0,62


Frekuensi alel t = q = 0,38

b. Mahasiswa yang pengecap homozigotik = (0,62)2 x 2500 = 961 orang


2.4 Frekuensi Alel Ganda
Persamaan p + q = 1 hanya berlaku apabila terdapat dua alel pada
suatu lokus tertentu pada autosom di dalam suatu populasi. Apabila lebih
banyak alel ikut mengambil peranan, maka dalam persamaan harus
ditambahkan lebih banyak symbol. Misalnya pada golongan darah sistem
ABO dikenal 3 alel, yaitu IA, IB dan i. Andaikan p menyatakan frekuensi
alel IA, q untuk frekuensi alel IB dan r untuk frekuensi alel I, maka
persamaannya menjadi p + q + r = 1. Alel ganda mengadakan ekuilibrium
dengan cara yang sama seperti yang berlaku untuk sepasang alel.
Berhubung dengan itu hukum ekuilibrium Hardy-Weinberg untuk
golongan darah sistem ABO berbentuk sebagai berikut :
p2IAIA + 2prIAi + q2IBIB + 2qrIBi + 2pqIAIB + r2ii

2.5 Frekuensi Alel Terangkai Kelamin


Alel-alel yang terdapat pada kromosom kelamin mempunyai frekuensi
yang berlainan jika dibandingkan dengan frekuensi alel-alel yang terdapat
pada autosom. Ini disebabkan karena adanya kromosom-kromosom
kelamin yang berlainan pada dua kelamin. Pada makhluk-makhluk seperti
lalat Drosophila dan manusia, yang mengenal satu kelamin heterogametic

(yaitu yang jantan / laki-laki = XY), maka ada 5 kemungkinan genotip,


yaitu AA, Aa, aa untuk yang betina / perempuan, dan A-, a- untuk yang
jantan / laki-laki. Oleh karena itu jumlah frekuensi elel dalam suatu
perkawinan tidaklah satu atau setengah seperti untuk alel-alel pada
autosom, melainkan satu, duapertiga, sepertiga atau tidak ada.

A=p=

1
3

(p

)+

2
3

(p + )

a=q=

1
3

(q

)+

2
3

(q + )

Nilai genotip ekuilibrium untuk gen-gen terangkai kelamin pada


individu-individu yang mempunyai penentuan jenis kelamin jantan / lakilaki heterogametic ialah sebagai berikut :
1. Untuk betina / perempuan

p2

+ 2pq + q2

AA
2. Untuk jantan / laki-laki

Aa

aa

p + q
A

Contohnya :
Misalnya suatu populasi hanya terdiri dari laki-laki butawarna yang
memiliki alel c (dalam kromosom-X, tidak dalam kromosom-Y) dan
perempuan normal yang homozigotik untuk C. frekuensi alel yang dapat

diharapkan dalam populasi keturunannya ialah

1
3

c dan

2
3

C.

Akan tetapi apabila perempuannya butawarna (cc) dan laki-lakinya

normal (C-1), maka frekuensinya menjadi

1
3

C dan

2
3

c.

BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
1. Genetika populasi adalah cabang dari genetika yang mempelajari gengen dalam populasi. Populasi mendelian adalah sekelompok individu
suatu spesies yang bereproduksi secara seksual, Gene pool adalah
sekumpulan informasi genetik yang di bawa oleh semua individu di
dalam populasi.
2. Populasi gen akan memberikan kontribusi genetik ke dalam lengkang
gen.
3. Faktor-faktor lingkungan, seperti seleksi, mempunyaii kecenderungan
untuk merubah frekuensi gen dan dengan demikian akan menyebabkan
perubahan evolusi dalam populasi.
3.2 Saran
Dalam mempelajari populasi gen ini harus benar-benar memahami
tentang perhitungan-perhitungan yang ada di dalamnya agar tidak terjadi
kesalahan.

DAFTAR PUSTAKA

Suryo.1998.Genetika.UGM Press: Yogyakarta