Anda di halaman 1dari 9

LAPORAN AKHIR PRAKTIKUM ANALISIS STRUKTUR MATERIAL

Percobaan Metalografi pada Material Baja Karbon, Aluminium, dan Tembaga

NURUL TRI ALONA SARI


1206217313
KELOMPOK 21

LABORATORIUM METALOGRAFI DAN HST


DEPARTEMEN TEKNIK METALURGI DAN MATERIAL
UNIVERSITAS INDONESIA
2015

ABSTRAK
Metalografi adalah disiplin ilmu yang mempelajari karakteristik mikrostruktur suatu logam dan paduannya
serta hubungannya dengan sifat-sifat logam dan paduannya tersebut. Dalam melakukan praktikum ini telah diteliti
mengenai preparasi sampel metalografi dan analisis mikrostruktur serta makrostruktur logam sampel sehingga mampu
memberikan informasi mengenai suatu material.
Baja merupakan material logam paduan yang terdiri dari besi, karbon, dan paduan lain yang akan menambah
nilai tambah dari sifat mekaniknya. Kadar karbon yang dimiliki baja kurang dari 2%. Jika kadar karbon lebih dari 2%
maka tidak disebut baja lagi melainkan sudah termasuk besi tuang. Klasifikasi baja yang ditentukan menurut kadar
karbonnya dibedakan menjadi tiga macam yaitu, baja karbon rendah dengan kandungan karbonnya kurang dari 0,25%,
baja karbon sedang dengan kandungan karbonnya antara 0,25-0,6 %, baja karbon tinggi dengan kandungan karbonnya
sekitar 0,6-17%.
Aluminium merupakan material logam yang memiliki kekerasan tinggi tetapi dengan massa yang ringan. Oleh
karena aluminium memiliki sifat tersebut maka paduan aluminium ini banyak digunakan dalam industri pesawat
terbang. Material ini juga memiliki daya hantar listrik dua kali lebih besar dari Cu. Selain itu, aluminum juga memiliki
ketahanan korosi yang baik pada kondisi lingkungan tertentu.
Tembaga merupakan material logam yang memiliki daya hantar listrik yang tinggi. Selain itu tembaga juga
memiliki daya hantar panas yang tinggi dan tahan karat. Logam paduan antara Cu dan Zn menambah sifat mekanik dari
material tersebut yaitu berupa kekuatan, keuletan, ketangguhan, dan yang lainnya, dipengaruhi oleh kadar dari masingmasing logam tersebut.
Percobaan metalografi dilakukan bertujuan untuk identifikasi bentuk dan struktur dari material untuk dapat
dipelajari sifat sebagai kontrol kualitas dari material tersebut. Dan dari hasil metalografi yang didapatkan, dapat dilihat
fasa-fasa yang terbentuk dari material tersebut lalu membandingkannya dengan atlas struktur mikro.
PENDAHULUAN
Metalografi adalah merupakan ilmu pengamatan

Dengan

mengetahui

struktur

mikro

yang

bentuk dan struktur dari material dengan tujuan untuk

terbentuk, dapat diperkirakan keadaan pendinginan dan

kontrol kualitas material, yang kemudian dilakukan

pemanasan dari material tersebut dengan mencocokkan

identifikasi fasa yang terdapat pada berbagai paduan

fasa yang didapat dengan fasa yang diketahui dari

dengan menggunakan standar atau membandingkan

diagram fasa.

nya dengan atlas struktur mikro lalu setelah itu


dihubungkan dengan sifat-sifat materialnya yaitu
berupa kekerasan, keuletan, dan sifat lain. Metalografi
merupakan

kegiatan

mengamati

struktur

mikro

menggunakan mikroskop optik dengan perbesaran


mencapai 1000X, Scanning Electron Microscope
(SEM) dengan perbesaran mencapai 50000X, dan
Transmission Electron Microscope (TEM) dengan
perbesaran sampai 500000X.

Contohnya pada material baja yang diberikan


treatment tertentu, yaitu dilakukannya pendinginan
cepat atau proses quenching dari suhu austenisasi,
maka akan didapatkan banyak struktur martensit dan
struktur ini dapat dilihat dengan metode metalografi.
Dengan

cara

inilah

dapat

diperkirakan

tingkat

kekerasan dan sifat-sifat dari material tersebut.


Sebelum dilakukan metode metalografi analisa yang
biasa dilakukan untuk mengetahui struktur dari

material yang mengalami pendinginan secara cepat

dari setiap pemprosesan baik pada prosedur maupun

yaitu menggunakan diagram CCT atau continous

bahan baku materialnya.

cooling transformation, dimana merupakan perkiraan


fasa yang dapat terjadi pada laju pendinginan tertentu.
Dalam

melakukan

pengamatan

metalografi,

Dengan dilakukannya evaluasi desain, maka


harapannya akan dihasilkan desain baru yang lebih
baik untuk menekan kemungkinan kegagalan pada

preparasi sampel merupakan hal yang terpenting.

suatu

Dalam pengamatan makrostruktur, preparasi sampel

meminimalisir dari segi ekonomi.

tidak

serumit

pada

pengamatan

mikro.

Pada

pengamatan makro, sampel dilakukan makroetching


untuk memperjelas alur butir atau indikasi perpatahan.
Selain untuk mengetahui hasil dari treatment
tertentu pada material, metode metalografi juga

Melihat

yang

dihadapi

diatas, sebagai material engineer kita berusaha untuk

peralatannya

serta

Pengamatan Makroskopi
Pengamatan dengan perbesaran 10X-100X.
Pengamatan Mikroskopi
Pengamatan dengan perbesaran lebih dari
100X.

Sementara itu untuk pengamatan mikro preparasi


sampel

masalah-masalah

atau

dibagi menjadi:

pada produk yang dihasilkan, atau terjadinya kegagalan


masalah yang sering dihadapi.

mesin

Dan pengamatan metalografi secara umum

diperlukan dalam dunia industri. Misalnya terjadi cacat


alat atau mesin ketika sedang digunakan, menjadi

produk,

dilakukan

dengan

melakukan

mounting,

pengamplasan, polishing, dan etching.


Mounting

dilakukan

untuk

mempermudah

mencari penyebab dan asal dari sebuah kegagalan atau

penanganan sampel. Mounting dapat dilakukan dengan

cacat pada material itu. Sehingga mampu memberikan

castable resin ditambahkan dengan hardener maupun

solusi terhadap permasalahan yang sedang dihadapi.

dengan menggunakan bakelit atau termosetting resin.

Salah

Cacat pada castable resin mounting adalah crack, soft

satu

caranya

yaitu

dengan

melakukan

pengamatan metalografi.
Pengamatan

mount, discoloration, tacky tops, dan bubbles.


penting

Pengamplasan dilakukan dengan menggosokkan

untuk

permukaan sampel ke piringan abrasif yang berputar.

mengetahui prosedur dalam memproduksi sesuatu

Sementara polishing dengan menggosokkan sampel ke

sudah benar atau belum maupun juga dengan

kain beludru yang berisi partikel halus (TiO2).

dilakukan

dalam

metalografi
dunia

industri

sangat
karena

spesifikasi material sudah sesuai atau belum. Hal ini


dilakukan karena pengamatan metalografi ini dapat
melihat ketidasesuaian mikrostruktur dan mengetahui
sifatnya sebagai akibat dari kesalahan prosedur atau
pemilihan material itu sendiri.
Dengan

dilakukannya

pengamatan

penyebab cacat produknya, atau asal dan sebab dari


mesin

produksi

fasa secara selektif dan terkendali. Secara umum, etsa


terbagi menjadi etsa kimiawi dan etsa elektrolitik. Etsa
kimiawi menggunakan larutan spesifik yang dapat
melarutkan fasa tertentu. Sementara itu etsa elektrolitik

metalografi, pihak industri dapat mengetahui asal dan


kegagalan

Etsa merupakan proses pengikisan batas butir atau

atau

alat-alat

yang

digunakan untuk menunjang proses produksi tersebut.


Dengan diketahuinya asal dan sebab dari
kegagalan tersebut, maka akan didapat evaluasi desain

menggunaakan energi listrik dan larutan elektrolit


untuk proses pelarutan selektif tersebut.
Mekanisme etsa kimiawi maupun elektrolitik
adalah suatu fasa atau batas butir menjadi anodik
sementara

lainnya

pengetsaan, atom

menjadi
pada

teradsorpsi di pemukaan.

katodik.

pemukaan

Pada

saat

anodik akan

M lattice M ad

3.

Mengamplas
permukaan

4.

n++n e
M ad M aq

yang

untuk
tergores

menghaluskan
karena

proses

pemotongan dengan kertas amplas berukuran 80,

Setelah teradsorpsi aton logam akan ditransfer ke


larutan melalui reaksi :

kasar

100, dan 120 grit.


Mengamplas halus menggunakan kertas amplas
SiC, dengan grit berukuran 240, 400, 600, 800,

5.

1000, dan 1200.


Melakukan poles

halus

dan

poles

kasar

menggunakan kain beludru dan cairan covak yaitu


Atom logam ini bersifat kation. Kemudian
molekul air akan terikat pada kation oleh gaya dipol.

6.

TiO2 yang dicampur dengan air.


Mengetsa dengan menggunakan cairan nital untuk
low carbon steel, HF untuk Al, dan Feric Chloride

Kation ini selanjutnya akan terhidrasi.


7.

(FeCl3) untuk Cu-S.


Melakukan pengamatan mikrostruktur dengan
Mikroskop Optik

DATA PERCOBAAN
1.

Sampel 1 (Baja Karbon)

Gbr Prinsip etsa elektrolitik. Fasa dengan


potensial yang lebih kecil akan terkikis.
Hal yang perlu diperhatikan selama proses
etsa

adalah

Pengetsaan
menyebabkan

lamanya
yang

waktu pengetsaan.

terlalu

cepat

dapat

warna

yang

timbul

pola

menjadi tidak tegas, sementara pengetsaan


yang telalu lama menyebabkan over etsa yang
ditandai dengan hangusnya permukaan logam.
Mikrostruktur logam yang over etsa menjadi
sulit

untuk

diamati

karena

fasa

yang

seharusnya tidak terkikis menjadi ikut terkikis

Gambar 1 Mikrostruktur Baja


Karbon

PROSEDUR

Di atas merupakan struktur baja karbon

Pengamatan metalografi terdiri atas beberapa prosedur,

rendah yang telah dietsa dengan Nital (asam

yaitu sebagai berikut.

nitrit + alkohol 95%) selama 10 detik.

1.

Mempersiapkan sampel berupa logam low carbon

2.

steel, Cu-S, dan Al-Mg.


Memounting dengan

resin

dan

menggunakan teknik castable mounting.

hardener

2.

Sampel 2 (Al-Mg)

a.

Cacat Mounting
Mounting merupakan salah satu cara
preparasi sampel untuk keperluan metalografi
jika sampel yang akan dilihat memiliki bentuk
yang tidak beraturan atau berukuran kecil
yaitu dengan menempatkan sampel pada suatu
media. Dilakukannya mounting pada sampel
menyebabkan

mudahnya

dilakukan

penanganan yaitu untuk preparasi sampel


berupa amplas, poles, maupun proses etsa itu
sendiri.
Saat melakukan mounting, terdapat
kemungkinan terjadinya cacat pada mounting.
Cacat mounting ini, terjadi akibat dari proses
yang tidak sesuai. Terdapat beberapa jenis
Gambar 2 Mikrostruktur Al-Mg
Diatas merupakan struktur Al-Mg yang telah
dietsa dengan Hydroflouric acid + air selama
5 detik.
3.

Sampel 3 (Cu-Zn)

Gambar 3 Mikrostruktur Cu-Zn

Diatas merupakan struktur Cu-Zn yang telah


dietsa dengan Ferric Chloride (FeCl3) selama
10 detik.
ANALISA

cacat

pada

mounting,

yaitu

bubbles,

discoloration, softmount, dan cracking. Tiap


jenis cacat tersebut dihasilkan dari berbagai
macam sebab yang berbeda-beda.

pada bagian-bagian tertentu dari sampel


sehingga membuat bidang terkikis sebagian
pada tempat yang menerima tekanan berlebih
oleh praktikan, hal ini terjadi pada bagian
pinggiran atau bagian ujung sampel.
Pada grit rendah biasanya memang
sangat mungkin terjadinya cacat bidang. Hal
ini dikarenakan pada grit yang rendah, partikel
SiC sangat kasar sehingga jika terjadi
kemiringan sedikit dalam memegang sampel
Di

sampel

kami

yang

sudah

yang

sedang

diamplas

maka

akan

Dan

untuk

dimounting sebelumnya terlihat ada satu jenis

menyebabkan

cacat mounting. Cacat yang terjadi yaitu

menghilangkan cacat bidang yang telah

berupa bubbles. Cacat bubbles terjadi akibat

terjadi, dapat dihilangkan dengan melakukan

pengadukan pada saat penyampuran resin dan

pengamplasan dengan grit yang lebih tinggi.

hardener telalu cepat sehingga mengakibatkan

Sehingga menyebabkan berkurangnya cacat

udara terperangkap sehingga menghasilkan

bidang pada sampel.

cacat

bidang.

gelembung yang cukup banyak pada mount


yang

dibuat.

Dan

dapat

disimpulkan

terjadinya pengadukan yang terlalu cepat yang

c.

Cacat Polishing
Setelah

menyebabkan adanya gelembung pada mount.

grinding,

sampel

maka

hal

melalui
yang

proses

dilakukan

selanjutnya adalah polishing. Polishing atau

b. Cacat Grinding
Setelah sampel dimounting, yang

pemolesan bertujuan untuk menghilangkan

grinding.

goresan dan

Grinding dilakukan dengan tujuan untuk

pengamplasan

menghilangkan goresan dan juga kotoran

menghasilkan permukaan yang licin, dan

sebelum

bersih seperti kaca.


Cacat yang terbentuk pada sampel

dilakukan

berikutnya

dilakukan

adalah

proses

selanjutnya.

Grinding ini juga biasa disebut dengan proses


pengamplasan.

Pengamplasan

kotoran dari sisa proses


sebelumnya

untuk

setelah proses pemolesan adalah cacat bidang.

dilakukan

Cacat bidang terbentuk akibat dari proses

menggunakan kertas amplas dengan partikel

sebelumnya, yaitu pengamplasan. Adanya

SiC. Dilakukan pengamplasan dimulai dengan

cacat

grit terendah (80) hingga grit tertinggi (1000).


Dalam proses pengamplasan, ketika

bidang

ini

memang

sulit

untuk

dihilangkan ketika sudah terjadi. Oleh sebab

akan berganti nomor kertas amplas, harus

itu, sebenarnya tidak terjadi cacat tambahan

diperhatikan bahwa harus selalu mengubah

pada proses pemolesan yang telah dilakukan,

arah pengamplasan ketika akan mengganti grit

melainkan masih adanya cacat bidang dari

amplas.

untuk

kesalahan pengamplasan yang telah dilakukan

tahap

sebelumnya pada grit kecil, yaitu

Hal

menghilangkan

ini

dilakukan

goresan

pada

ketidaksamaan tekanan yang diberikan pada

sebelumnya.
Pengamplasan yang dilakukan oleh
praktikan pada percobaan kemarin mengalami
cacat, yaitu cacat bidang. Cacat bidang ini
terjadi karena penekanan yang tidak merata

berupa

saat proses pengamplasan.


d.

Cacat Etsa
Setelah

sampel

melalui

proses

mounting, pengamplasan, dan pemolesan,

maka hal yang dilakukan selanjutnya sebelum


proses

pengamatan

mikrostruktur

adalah

pengetsaan. Pengetsaan bertujuan agar fasa


fasa

yang

diinginkan

dapat

terlihat

di

mikroskop.
Pengetsaan dilakukan dengan cara
mencelupkan salah satu sisi permukaan
sampel yang akan diamati mikrostrukturnya.
Pada logam baja karbon rendah, dilakukan
pengetsaan

dengan

menggunakan

Nital
Dapat dilihat dari hasil yang didapat

selama 10 detik. Sedangkan untuk Al-Mg

bahwa ferit lebih banyak daripada perlit.

menggunakan HF selama 5 detik dan Cu-Zn

Tidak ada fasa martensit karena terlalu rendah

menggunakan larutan FeCl3 selama 10 detik.


Cacat yang kemungkinan terjadi
adalah

pada

mikrostruktur

Cu-Zn

yaitu

kadar Karbon untuk membentuk fasa tersebut.


f.

Mikrostruktur 2 (Al-Mg)

dimana hasil dari mikrostrukturnya kurang


Larutan HF pada proses etsa logam

jelas dan buram. Menurut kami, hal ini terjadi

aluminium digunakan untuk memperlihatkan

karena pada proses pencelupan sampel terlalu

fasa dan batas butir yang terdapat pada sampel

lama sehingga menyebabkan sampel terkorosi

aluminium. Dan dari hasil yang didapatkan

akibat dari larutan FeCl3 yang korosif dan

tidak terlalu jelas (buram), hal ini dikarenakan

reaktif terhadap logam. Selain itu, proses etsa

memang susah untuk mencari fasa yang lebih

pada Al juga mengalami kesulitan, karena

jelas pada sampel aluminium ini. Hal ini

gambar hasil mikrostuktur dari Al kurang

dikarenakan karena sifatnya yang lunak.

menunjukkan batas butirnya.


e.

Mikrostruktur 1 (Baja Karbon Rendah)


Pada Baja Karbon Rendah, hasil etsa
yang diharapkan dengan menggunakan nital
adalah diperolehnya fasa ferit, perlit, dan
martensit.
Terdapat kelemahan pada Nital dalam
proses pengetsaan. Salah satu kelemahan yang
ada

pada

Nital

adalah

tidak

Hampir semua mikrostruktur Al terdiri dari

memiliki

kristal utama padatan Al dan biasanya

kemampuan untuk memunculkan batas butir.

berbentuk dendritik ditambah dengan produk

Akan tetapi batas butir pada mikrostruktur ini

hasil

cukup terlihat baik.

reaksi

dengan

paduan.

Pada

mikrostruktur tersebut, terlihat adanya titik


titik

hitam

dan

itu

diduga

merupakan

paduannya yaitu Mg.


g.

Mikrostruktur 3 (Cu-Zn)
Larutan

yang

digunakan

mengetsa sampel Cu-Zn adalah FeCl3.

untuk

Gambar diatas merupakan hasil yang


didapatkan. Mikrostruktur yang didapatkan
seperti yang terlihat pada gambar diatas. Tidak
terlalu jelas hanya ada beberapa titik titik
hitam kecil, hal ini karena proses pengetsaan
terlalu cepat. Mungkin titik hitam tersebut
adalah paduan dari Cu, yaitu Zn.
Gambar 2 Makrostruktur
perpatahan
(a) ulet (b) getas
Ciri-ciri perpatahan ulet

Dapat terlihat dengan jelas deformasi


plastis yang tejadi

Karakteristik berserabut (fibrous) dan


gelap (dull)

Ciri-ciri perpatahan getas


Dan dapat diketahui dari diagram
biner Cu-Zn, bahwa yang berwarna hitam
kecil merupakan solid solution dengan Zn =

plastis yang terjadi pada material

dihasilkan nanti.

Retak/perpatahan merambat sepanjang


bidang-bidang kristalin membelah atom-

36.8-56.5%. Dan kandungan dari Zn sangat


mempengaruhi sifat mekanik yang akan

Tidak ada atau sedikit sekali deformasi

atom material (transgranular)

Material

amorphous

(seperti

memiliki

permukaan

patahan

gelas)
yang

bercahaya dan mulus.


h. Makrostruktur
Baja Karbon

sifat

(coarse-grain) maka dapat dilihat pola-

dengan kekerasan yang

pola yang dinamakan chevrons or fan-like

rendah. Untuk paduan Al-Mg, sifat getas dan

pattern yang berkembang keluar dan

keras didapat

daerah awal kegagalan.

perpatahan ulet

Rendah

dari

memiliki

Pada material lunak dengan butir kasar

unsur paduan yaitu

magnesium, dan sifat ulet dan lunak didapat


dari alumunium. Paduan Cu-Zn memiliki sifat
perpatahan ulet dan lunak.

KESIMPULAN

Percobaan

metalografi

mengontrol

kualitas

menganalisis

fasa

yang

penting
material
akan

tidak jelas, hal ini dikarenakan pengetsaan

untuk

yang dilakukan terlalu cepat.

dengan
terbentuk

nantinya.
Preparasi sampel, seperti cutting, mounting,
grinding, polishing merupakan hal yang harus

diperhatikan dengan baik.


Proses pengetsaan yang terlalu lama akan

REFERENSI

menyebabkan material gosong dan tidak dapat

terlihat dengan baik.


Pengetsaan baja karbon rendah menggunakan

larutan

etsa

2%

nital

dengan

yang terbentuk adalah ferit dan perlit.


Pengetsaan paduan Al-Mg menggunakan
larutan etsa 5% HF dengan proses pengetsaan
selama 5 detik. Mikrostruktur yang terbentuk
adalah fasa Al dengan Mg sebagai paduan

berupa titik titik hitam.


Pengetsaan paduan Cu-Sn

menggunakan

larutan etsa FeCl3 dengan proses pengetsaan


selama 10 detik. Mikrostruktur yang terbentuk

HST 2015
Callister. William, Material Science and
Engineering Seventh Edition, John Wiley,

proses

pengetsaan selama 10 detik. Mikrostruktur

Modul praktikum analisa struktur material dan

New York
ASM International. 2004.Vol 9 Metallography
and Microstructures. pp 1842-1850