Anda di halaman 1dari 22

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Air merupakan salah satu bahan pokok yang mutlak dibutuhkan
oleh manusia sepanjang masa, baik langsung maupun tidak langsung.
Apabila tidak diperhatikan maka air dari sumber, seperti air permukaan
dan air tanah ataupun air hujan mungkin dapat mengganggu kesehatan
manusia. Untuk mencegah timbulnya gangguan ataupun penyakit yang
disebabkan melalui air, maka air yang dipergunakan terutama untuk
diminum harus mengalami proses penjernihan air agar memenuhi syarat
kesehatan.
Kualitas air baku untuk air minum semakin memburuk dengan
masih kurangnya perhatian yang serius terhadap pengelolaan air limbah.
Air limbah dari rumah tangga dan industri, kawasan perdagangan, dan
sebagainya hampir semuanya dibuang langsung ke badan-badan air
tanpa pengolahan. Akibatnya, terjadi penurunan kualitas air permukaan
dan air tanah, yang pada akhirnya menurunkan kualitas air baku untuk
air minum.
Seperti yang telah kita lihat diatas, sumber air yang semakin lama
semakin memburuk dapat kita antisipasi dengan salah satu alternatif
mendapatkan air bersih adalah dari sumur atau sungai yang tidak
tercemar bahan kimia, yaitu dengan membuat penjernihan air secara
sederhana yang memanfaatkan sumberdaya di sekitar kita.
Sedimentasi merupakan salah satu contoh upaya penjernihan air
untuk meningkatkan kualitas dari sumber air tersebut. Sedimentasi ini
merupakan suatu proses pengendapan material yang ditransport oleh
mata air, angin, es atau gletser di suatu cekungan. Delta yang terdapat di

mulut-mulut sungai adalah hasil dan proses pengendapan material yang


diangkut oleh air sungai. Sedangkan bukit pasir (sand dunes) yang
terdapat di gurun atau di pantai adalah pengendapan dari material yang
di angkut oleh angin.

1.2 Batasan Masalah


Batasan masalah yang dibahas pada makalah ini yaitu pengertian
sedimentasi, manfaat sedimentasi, macam-macam cara sedimentasi dan
macam-macam bentuk alat sedimentasi.

1.3 Tujuan
Tujuan dibuatnya makalah ini yaitu sebagai berikut :

a. Mengetahui pengertian unit sedimentasi pada proses pengolahan air


b.
c.
d.
e.
f.

minum.
Mengetahui
Mengetahui
Mengetahui
Mengetahui
Mengetahui

tujuan dan fungsi unit sedimentasi.


macam-macam bentuk dan bagian dari bak sedimentasi.
macam-macam tipe sedimentasi.
apa saja parameter operasi pada unit sedimentasi.
bagaimana proses operasi unit sedimentasi.

1.4 Manfaat
Manfaat dibuatnya makalah ini yaitu :

1. Mahasiswa dapat mengetahui pengertian sedimentasi .


2. Mahasiswa dapat mengetahui fungsi sedimentasi.
3. Mahasiswa dapat mengetahui proses sedimentasi.
4. Mahasiswa dapat mengetahui macam macam sedimentasi.
5. Mahasiswa dapat mengetahui macam macam bak sedimentasi.

1.5 Metode Penulisan


Dalam

pembuatan

makalah

ini,

metode

penulisan

yang

digunakan adalah metode kepustakaan, yaitu dengan mengumpulkan datadata dari literatur-literatur dan jurnal penelitian yang bersangkutan dengan
proses sedimentasi. Selain itu pengumpulan data juga di dapat dari
pencarian informasi-informasi dari internet.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Pengolahan Air Bersih
Water

Treatment

System

atau

proses

pengolahan

air

merupakan serangkaian proses untuk mengolah air yang tidak layak


pakai (air kotor) menjadi air bersih yang layak, higienis, dan terbebas dari
unsur unsur berlebih dari segi fisika maupun kimia.
Proses pengolahan air bersih ada berbagai macam cara yang bisa
dilakukan sesuai dengan kebutuhan, antara lain dengan proses :
a. Proses Fisika
Pada pengolahan secara fisika, biasanya dilakukan secara mekanis,
tanpa adanya penambahan bahan kimia. Contohnya antara lain adalah
proses sedimentasi, mixing, flokulasi, filtrasi, dan aerasi.
b. Proses Kimia
Pada pengolahan secara kimiawi, terdapat penambahan bahan kimia,
seperti

klor,

menyisihkan

tawas,

dan

logam-logam

lain-lain,
berat

biasanya

yang

digunakan

terkandung

untuk

dalam

air.

Contohnya antara lain adalah proses koagulasi, desinfeksi, presipitasi,


pertukaran ion, adsorbsi, dan oksidasi.
c. Proses Kimia & Fisika
Misalnya ozonisasi.
d. Proses Biologis

Pada

pengolahan

secara

biologis,

biasanya

memanfaatkan

mikroorganisme sebagai media pengolahnya.


Perlakuan cara proses proses pengolahan diatas dapat dilakukan
baik secara tunggal maupun secara kombinasi dari berbagai proses
tergantung dari karakteristik kualitas air baku yang digunakan dan
kondisi output yang diharapkan.

2.2 Tahapan Pengolahan Air Bersih


Proses pengolahan air menjadi air bersih harus melalui beberapa
tahapan-tahapan, yaitu :
1.

Screening
Screening berfungsi untuk memisahkan air dari sampah-sampah
dalam ukuran besar.

2.

Tangki sedimentasi
Tangki sedimentasi berfungsi untuk mengendapkan kotorankotoran berupa lumpur dan pasir. Pada tangki sedimentasi terdapat
waktu tinggal. Ke dalam tangki sedimentasi ini diinjeksikan klorin yang
berfungsi sebagai oksidator dan desinfektan. Sebagai oksidator, klorin
digunakan untuk menghilangkan bau dan rasa pada air.

3. Klarifier (clearator)
Klarifier berfungsi sebagai tempat pembentukan flok dengan
penambahan larutan Alum (Al2(SO4)3 sebagai bahan. Pada klarifier
terdapat

mesin

agitator

yang

berfungsi

sebagai

alat

untuk

mempercepat pembentukan flok. Pada klarifier terjadi pemisahan


antara air bersih dan air kotor. Air bersih ini kemudian disalurkan
dengan menggunakan pipa yang besar untuk kemudian dipompakan
ke filter. Klarifier terbuat dari beton yang berbentuk bulat yang
dilengkapi dengan penyaring dan sekat.

Dari inlet pipa klarifier, air masuk ke dalam primary reaction zone.
Di dalam primary reaction zone dan secondary reaction zone, air dan
bahan kimia (koagulan yaitu tawas) diaduk dengan alat agitator blade
agar tercampur homogen. Maka koloid akan membentuk butiranbutiran flokulasi.
Air yang telah bercampur dengan koagulan membentuk ikatan
flokulasi, masuk melalui return floc zone dialirkan ke clarification zone.
Sedimen yang mengendap dalam concentrator dibuang. Hal ini
berlangsung secara otomatis yang akan terbuka setiap satu jam sekali
dalam waktu 1 menit. Air yang masuk ke dalam clarification zone
sudah tidak dipengaruhi oleh gaya putaran oleh agitator, sehingga
lumpurnya mengendap. Air yang berada dalam clarification zone
adalah air yang sudah jernih.

4.

Sand Filter
Penyaring yang biasanya digunakan adalah rapid sand fliter (filter
saringan cepat). Sand filter jenis ini berupa bak yang berisi pasir
kwarsa yang berfungsi untuk menyaring flok halus dan kotoran lain
yang lolos dari klarifier (clearator). Air yang masuk ke filter ini telah
dicampur terlebih dahulu dengan klorin dan tawas.
Media penyaring biasanya lebih dari satu lapisan, yaitu pasir
kwarsa dan batu tertentu. Air mengalir ke bawah melalui media
tersebut. Zat-zat padat yang tidak larut akan melekat pada media,
sedangkan air yang jernih akan terkumpul di bagian dasar dan
mengalir keluar melalui suatu pipa menuju reservoir.

5.

Reservoir
Reservoir berfungsi sebagai tempat penampungan air bersih yang
telah disaring melalui filter. Air ini sudah menjadi air yang bersih yang

siap digunakan dan harus dimasak terlebih dahulu untuk kemudian


dapat dijadikan air minum (Hanum, 2002).

BAB III
PEMBAHASAN
3.1 Pengertian Sedimentasi
Sedimentasi adalah pemisahan solid dari liquid menggunakan
pengendapan secara gravitasi untuk menyisihkan suspended solid.
Sedangkan

unit

sedimentasi

merupakan

suatu

unit

operasi

yang

berfungsi untuk memisahkan solid dan liquid dari suspensi untuk


menghasilkan air yang lebih jernih dan konsentrasi lumpur yang lebih
kental melalui pengendapan secara gravitasi.

Gambar 1. Proses Sedimentasi

3.2 Tujuan

dan

Fungsi

Unit

Sedimentasi

pada

Proses Pengolahan Air Minum


Pada pengolahan air minum, terapan sedimentasi ditujukan untuk:
a. Pengendapan

air

permukaan

untuk

penyisihan

partikel

diskret

khususnya pada pengolahan dengan filter pasir cepat.


b. Pengendapan flok hasil koagulasi-flokulasi, khususnya sebelum disaring
dengan filter pasir cepat.
c. Pengendapan lumpur hasil pembubuhan soda-kapur pada proses
penurunan kesadahan.
d. Pengendapan lumpur pada penyisihan besi dan mangan dengan
oksidasi (Anonim, 2007).
Secara keseluruhan, fungsi unit sedimentasi dalam instalasi pengolahan
adalah:
a. Mengurangi beban kerja unit filtrasi dan memperpanjang umur
pemakaian unit penyaring selanjutnya.
b. Mengurangi biaya operasi instalasi pengolahan.

3.3 Bentuk dan Bagian Bak Sedimentasi


Bak sedimentasi umumnya dibangun dari bahan beton bertulang
dengan bentuk lingkaran, bujur sangkar, atau segi empat.
Bentuk bak sedimentasi:
1. Persegi Panjang (Rectangular)
Bentuk bak ini umumnya digunakan pada instalasi pengolahan air
dengan

kapasitas

besar.

Bak

berbentuk

segi

empat

umumnya

mempunyai lebar 1,5 hingga 6 meter, panjang bak sampai 76 meter,


dan kedalaman lebih dari 1,8 meter. Pada bak ini, air mengalir
horizontal dari inlet menuju outlet, sementara partikel mengendap ke
bawah (Anonim, 2007).
Bentuk kolam memanjang sesuai arah aliran, sehingga dapat
mencegah kemungkinan terjadinya aliran pendek (short-circuiting).
Bentuk ini secara hidraulika lebih baik karena tampang alirannya cukup

seragam sepanjang kolam pengendapan. Dengan demikian kecepatan


alirannya relatif konstan, sehingga tidak akan mengganggu proses
pengendapan partikel suspensi. Selain itu pengontrolan kecepatan
aliran juga lebih mudah dilaksanakan. Namun demikian, bentuk ini
mempunyai kelemahan kurangnya panjang peluapan terutama apabila
ukurannya kurang lebar, sehingga laju peluapan nyata menjadi terlalu
besar dan menyebabkan terjadinya gangguan pada bagian akhir kolam
pengendapan. Untuk mengatasi hal tersebut, maka ambang peluapan
harus diperpanjang, misalnya dengan menambahkan kisi-kisi saluran
peluapan di depan outlet.

Gambar 2. Bak sedimentasi bentuk segi empat.


2. Lingkaran (circular)
Bentuk bak ini umumnya digunakan pada instalasi pengolahan air
dengan kapasitas yang lebih kecil. Bak berbentuk lingkaran umumnya
berdiameter 10,7 hingga 45,7 meter dan kedalaman 3 hingga 4,3
meter. Aliran air dapat secara horizontal ke arah radial dan umumnya
menuju ke tepi lingkaran atau dengan aliran arah vertikal.

Pada kapasitas yang sama, pada kolam pengendapan berbentuk


lingkaran ini kemungkinan terjadinya aliran pendek (short-circuiting)
lebih besar daripada kolam pengendapan berbentuk segi empat,
terutama apabila ambang peluapan tidak level sehingga aliran air
menuju ke satu sisi tertentu saja. Bentuk ini secara hidraulika kurang
baik karena tampang alirannya tidak seragam, sehingga kecepatan
alirannya

tidak

konstan.

Karena

itu

timbul

kesulitan

dalam

pengontrolan kecepatan aliran dan semakin besar dimensi bangunan


pengontrolan kecepatan menjadi lebih sulit lagi.
Pada kolam pengendapan berbentuk lingkaran

kelemahan

kurangnya panjang peluapan hampir tidak pernah dijumpai karena


ambang peluapan dibangun sepanjang keliling lingkaran. Namun
demikian sering dijumpai panjang peluapan agak berlebihan, sehingga
aliran melewati ambang peluapan berupa aliran yang sangat tipis.
Untuk

mengatasi

diperpendek

hal

dengan

tersebut
cara

maka

ambang

peluapan

harus

memasang

ambang

peluapan

yang

berbentuk seperti huruf V (V-notch) atau seperti huruf U (U-notch).


Keuntungan lain dari kolam pengendapan berbentuk lingkaran adalah
mekanisme pengumpulan lumpur lebih sederhana dengan memasang
scrapper yang bergerak memutar dan pemeliharaan lebih mudah.

Gambar 3. Bak sedimentasi bentuk lingkaran aliran horizontal.

Gambar 4. Bak sedimentasi bentuk lingkaran aliran vertikal.


Bagian-bagian dari bak sedimentasi

Gambar 5. Bagian-bagian bak sedimentasi

a. Zona Inlet atau struktur influen (tempat air masuk ke dalam bak).
Zona inlet mendistribusikan aliran air secara merata pada bak
sedimentasi dan menyebarkan kecepatan aliran yang baru masuk. Jika
dua fungsi ini dicapai, karakteristik aliran hidrolik dari bak akan lebih
mendekati kondisi bak ideal dan menghasilkan efisiensi yang lebih
baik. Zona influen didesain secara berbeda untuk kolam rectangular
dan

circular.

Khusus

dalam

pengolahan

air,

bak

sedimentasi

rectangular dibangun menjadi satu dengan bak flokulasi. Sebuah baffle


atau dinding memisahkan dua kolam dan sekaligus sebagai inlet bak
sedimentasi.

Desain

dinding

pemisah

sangat

penting,

karena

kemampuan bak sedimentasi tergantung pada kualitas flok.

Gambar 6. Contoh-contoh konstruksi inlet kolam pengendapan


b. Zona

pengendapan

(tempat

flok/partikel

mengalami

proses

pengendapan).
Dalam zona ini, air mengalir pelan secara horizontal ke arah
outlet, dalam zona ini terjadi proses pengendapan. Lintasan partikel
tergantung pada besarnya kecepatan pengendapan.

c. Zona lumpur (tempat lumpur mengumpul sebelum diambil ke luar


bak).
Dalam zona ini, lumpur terakumulasi. Sekali lumpur masuk area
ini,

ia

akan

tetap

disana.

Kadang

dilengkapi

dengan

sludge

collector/scapper.
d. Zona

Outlet

atau

struktur

efluen

(tempat

dimana

air

akan

meninggalkan bak).
Seperti zona inlet, zona outlet atau struktur efluen mempunyai
pengaruh besar dalam mempengaruhi pola aliran dan karakteristik
pengendapan flok pada bak sedimentasi. Biasanya weir/pelimpah dan
bak penampung limpahan digunakan untuk mengontrol outlet pada
bak sedimentasi. Selain itu, pelimpah tipe V-notch atau orifice
terendam biasanya juga dipakai. Diantara keduanya, orifice terendam
yang lebih baik karena memiliki kecenderungan pecahnya sisa flok
lebih kecil selama pengaliran dari bak sedimentasi menuju filtrasi.

Gambar 7. Contoh-contoh konstruksi outlet kolam pengendapan.


Selain

bagian-bagian

utama

di

atas,

sering

bak

sedimentasi

dilengkapi dengan settler. Settler dipasang pada zona pengendapan


(gambar 8) dengan tujuan untuk meningkatkan efisiensi pengendapan.

3.4 Tipe Sedimentasi


Berdasarkan pada jenis partikel dan kemampuan partikel untuk
berinteraksi, sedimentasi dapat diklasifikasikan ke dalam empat tipe,
yaitu:
1.

Sedimentasi tipe I/ Plain Settling/Discrete particle


Sedimentasi tipe I merupakan pengendapan partikel diskret, yaitu
partikel yang dapat mengendap bebas secara individual tanpa
membutuhkan

adanya

interaksi

antar

partikel.

Sebagai

contoh

sedimentasi tipe I adalah pengendapan lumpur kasar pada bak


prasedimentasi untuk pengolahan air permukaan dan pengendapan
pasir pada grit chamber.

2.

Sedimentasi tipe II (Flocculant Settling)


Sedimentasi tipe II adalah pengendapan partikel flokulen dalam
suspensi, di mana selama pengendapan terjadi saling interaksi antar
partikel.

Selama

operasi

pengendapan,

ukuran

partikel

flokulen

bertambah besar, sehingga kecepatannya juga meningkat. Sebagai


contoh sedimentasi tipe II adalah pengendapan partikel hasil proses
koagulasi-flokulasi pada pengolahan air minum maupun air limbah.
3.

Sedimentasi

tipe

III

dan

IV/Hindered

Settling

(Zone

pengendapan

partikel

dengan

Settling)
Sedimentasi

tipe

III

adalah

konsentrasi yang lebih pekat, di mana antar partikel secara bersamasama saling menahan pengendapan partikel lain disekitarnya. Karena
itu pengendapan terjadi secara bersama-sama sebagai sebuah zona
dengan kecepatan yang konstan. Pada bagian atas zona terdapat
interface yang memisahkan antara massa partikel yang mengendap
dengan air jernih. Sedimentasi tipe IV merupakan kelanjutan dari
sedimentasi tipe III, dimana terjadi pemampatan (kompresi) massa
partikel hingga diperoleh konsentrasi lumpur yang tinggi. Sebagai
contoh sedimentasi tipe III dan IV ini adalah pengendapan lumpur
biomassa pada final clarifier setelah proses lumpur aktif. Tujuan
pemampatan

pada

final

clarifier

adalah

untuk

mendapatkan

konsentrasi lumpur biomassa yang tinggi untuk keperluan resirkulasi


lumpur ke dalam reactor lumpur aktif.

Gambar 9. Pengendapan pada final clarifier untuk proses lumpur aktif

Gambar 10. 4 Tipe Sedimentasi


Sedimentasi pada Pengolahan Air Minum
Aplikasi teori sedimentasi pada pengolahan air minum adalah pada
perancangan bangunan prasedimentasi dan sedimentasi II.

a. Prasedimentasi
Bak prasedimentasi merupakan bagian dari bangunan pengolahan
air minum yang berfungsi untuk mengendapkan partikel diskret yang
relatif mudah mengendap (diperkirakan dalam waktu 1 hingga 3 jam).
Teori

sedimentasi

yang dipergunakan

dalam

aplikasi

pada

bak

prasedimentasi adalah teori sedimentasi tipe I karena teori ini


mengemukakan bahwa pengendapan partikel berlangsung secara
individu (masing-masing partikel, diskret) dan tidak terjadi interaksi
antar partikel.
b. Sedimentasi II
Bak sedimentasi II merupakan bagian dari bangunan pengolahan
air minum yang berfungsi untuk mengendapkan partikel hasil proses
koagulasi-flokulasi yang relatif mudah mengendap (karena telah
menggabung menjadi partikel berukuran besar). Tetapi partikel ini
mudah pecah dan kembali menjadi partikel koloid. Teori sedimentasi
yang dipergunakan dalam aplikasi pada bak sedimentasi II adalah teori
sedimentasi

tipe

II

karena

teori

ini

mengemukakan

bahwa

pengendapan partikel berlangsung akibat adanya interaksi antar


partikel.

3.5 Parameter Operasi pada Unit Sedimentasi


a. Waktu tinggal (detention time)
Waktu tinggal adalah waktu yang diperlukan oleh suatu volume air
untuk tinggal di dalam kolam pengendapan selama air mengalir dari
inlet menuju ke outlet. Dalam perancangan kolam pengendapan yang
ideal, lama waktu tinggal nilainya ditetapkan sama dengan lama waktu
pengendapan partikel suspensi.
b. Laju luapan permukaan (overflow rate).
Laju luapan permukaan adalah besarnya luapan per satuan luas
permukaan kolam yang memungkinkan partikel suspensi dengan
kecepatan

pengendapan

yang

sesuai

sempurna di dalam kolam pengendapan.


c. Kecepatan aliran

akan

diendapkan

secara

Pengendapan partikel suspensi berlangsung dengan baik apabila


aliran air dalam keadaan tenang (aliran suspensi). Kecepatan aliran
harus diatur sedemikian rupa sehingga proses pengendapan dapat
berlangsung dengan baik, dan besarnya hendaknya tidak melebihi
kecepatan gerusan agar partikel yang telah mengendap tidak tergerus
dan melayang lagi serta terbawa keluar dari ruang pengendapan.
d. Laju luapan (weir overflow rate).
Pengaliran air dari ruang pengendapan menuju ke bagian outlet
dilakukan dengan menggunakan mekanisme peluapan dengan laju
luapan yang tertentu. Hal ini dimaksudkan agar dipeoleh air yang
relatif sudah terbebas dari partikel suspensi sesuai dengan yang
diharapkan. Laju luapan mengekspresikan volume air yang melewati
ambang outlet per satuan panjang per satuan waktu dan diperlukan
untuk menentukan secara tepat panjang ambang yang diperlukan
untuk melewatkan air menuju ke bagian outlet kolam pengendapan.
Ketentuan ini diperlukan mengingat dimensi ambang peluapan secara
tidak

langsung

akan

menentukan

efisiensi

dari

sebuah

kolam

pengendapan. Laju luapan yang terlalu besar akan menyebabkan


kecepatan aliran yang melewati ambang outlet akan terlalu besar dan
akan memberikan konsekuensi pada berubahnya pola aliran dan
meningkatnya

kecepatan

aliran

pada

bagian

akhir

kolam

pengendapan.

Kecepatan

aliran

yang

terlalu

besar

dapat

menyebabkan tergerusnya partikel suspensi yang telah mengendap


dan terbawa menuju ke outlet kolam pengendapan (Kamulyan, 1997).

3.6 Proses Operasi Unit Sedimentasi


Proses pengendapan partikel suspensi di dalam air dimulai dari
masuknya air ke kolam pengendapan melalui bagian inlet dan disebarkan
menuju ruang pengendapan. Penempatan baffle atau adukan di belakang
inlet diperlukan untuk meredam enerji aliran dan menyebarkan aliran
serta memperkecil ruang tak berguna dalam kolam.

Selanjutnya di ruang pengendapan terjadi pemisahan partikel


suspensi yang terdapat di dalam air. Partikel-partikel suspensi akan
mengendap dan terkumpul di daerah kantong lumpur, sedang airnya
mengalir menuju ke bagian outlet melalui suatu sistem peluapan,
sehingga hanya air lapis atas saja yang masuk ke dalam saluran outlet
untuk dibawa ke proses selanjutnya. Endapan/lumpur yang terkumpul di
dalam kantong lumpur ditarik menuju ke bagian pengeluaran lumpur
dengan

menggunakan

dikeluarkan

dengan

sebuah

pompa

scrapper/garuk

lumpur

dibawa

dan

menuju

selanjutnya
ke

tempat

pemrosesan lumpur. Scrapper digerakkan dengan sangat perlahan untuk


menjaga agar lumpur yang sudah mengendap tidak terusik dan
melayang lagi. Scrapper biasanya berupa sebuah plat atau rangka gerak
yang dilengkapi dengan sudu-sudu penggaruk dan digerakkan dengan
motor listrik atau dapat pula digerakkan secara manual dengan
menggunakan kayuh.

Secara ringkas proses unit sedimentasi yaitu :


Umumnya proses sedimentasi dilakukan secara gravitasi. Sehingga
nantinya flok-flok atau padatan kasar akan terendapkan. Namun,
padatan yang sangat kecil atau mikroflok yang nantinya bebas dari
proses sedimentasi akan di proses kembali di filtrasi. Ada pun arah
alirannya, yaitu :
Horizontal/ radial
Vertikal
Dengan kemiringan : plate settler
Waktu

pengendapan

tergantung

ukuran

mengendap umumnya berkisar antara 1-2 jam.

partikel.

Kecepatan

BAB IV
PENUTUP
A.

Kesimpulan
Setiap tetes air minum membutuhkan proses yang panjang dan

rumit untuk dapat dikonsumsi. Salah satu proses pengolahan air


minum adalah sedimentasi, sedimentasi merupakan tahap awal dalam
proses pengolahan air minum dari serangkaian prosesnya. Sedimentasi
sendiri pada prinsipnya memisahkan antara solid dan liquid yang
terdapat dalam air, dengan tujuan menyisihkan suspended solid.
Terdapat empat tipe sedimentasi yang berbeda pada penggunaan
koagulan sebagai pengendap suspended solid. Dengan adanya proses
sedimentasi ini sangat berguna dalam membunuh bakteri sekitar 50%
yang kita tahu bahwa adanya batasan jumlah bakteri dalam air yang
akan dikonsumsi. Tetapi dalam hal ini membutuhkan setidaknya lahan
yang cukup luas untuk melakukan proses sedimentasi air minum.

B.

Saran

Menghemat

pengunaan

air,

karena

kita

tahu

bahwa

untuk

menghasilkan satu tetes air minum membutuhkan proses pengolahan


panjang dan rumit. Karena dengan menghemat dan menggunakan
dengan sebaik-baiknya air, maka kita juga ikut merawat bumi kita
yang sudah terganggu keseimbangannya.

Daftar Pustaka
Anonim. 2007. Bab 5 Unit Sedimentasi. http://oc.its.ac.id/ambilfile.php?
idp=1406.
Hanum, Farida. 2002. Proses Pengolahan Air Sungai untuk Keperluan Air
Minum.

http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/1845/1/kimia-

farida.pdf.
Kamulyan, Budi. 1997. Teknik Penyehatan (Bagian A1:Teknik Pengolahan Air).
Yogyakarta: Universitas Gajah Mada.
Rahadi, Aprian Eka. 2010. Kualitas Air pada Proses Pengolahan Air Minum di
Instalasi Pengolahan Air Minum Lippo Cikarang.
http://www.ftsl.itb.ac.id/kk/rekayasa_air_dan_limbah_cair/wpcontent/uploads/2010/11/pi-w1-aprian-eka-rahadi-15305088.pdf.