Anda di halaman 1dari 18

BAB I

PENDAHULUAN
I. LATAR BELAKANG
Prolapsus uteri merupakan suatu keadaan dimana turunnya uterus melalui
hiatus genitalis yang disebabkan kelemahan ligamen-ligamen (penggantung),
fasia (sarung) dan otot dasar panggul yang menyokong uterus. Sehingga dinding
vagina depan jadi tipis dan disertai penonjolan kedalam lumen vagina. Sistokel
yang besar akan menarik utero vesical junction dan ujung ureter kebawah dan
keluar vagina, sehingga kadang-kadang dapat menyebabkan penyumbatan dan
kerusakan ureter. Normalnya uterus tertahan pada tempatnya oleh ikatan sendi
dan otot yang membentuk dasar panggul. Faktor penyebab lain yang sering
adalah melahirkan dan menopause, persalinan lama dan sulit, meneran sebelum
pembukaan lengkap, laserasi dinding vagina bawah pada kala II, penatalaksanaan
pengeluaran plasenta, reparasi otot-otot dasar panggul menjadi atrofi dan
melemah. Oleh karena itu prolapsus uteri tersebut akan terjadi bertingkat-tingkat
(Winkjosastro, 2010).
Menurut penelitian yang dilakukan WHO tentang pola formasi keluarga dan
kesehatan, ditemukan kejadian prolapsus uteri lebih tinggi pada wanita 2 yang
mempunyai anak lebih dari tujuh daripada wanita yang mempunyai satu atau dua
anak. Prolapsus uteri lebih berpengaruh pada perempuan di negaranegara
berkembang yang perkawinan dan kelahiran anaknya dimulai pada usia muda dan
saat fertilitasnya masih tinggi. Peneliti WHO menemukan bahwa laporan kasus
prolapsus uteri jumlahnya jauh lebih rendah daripada kasuskasus yang dapat
dideteksi dalam pemeriksaan medik (Koblinsky M, 2001).
Frekuensi prolapsus genitalia di beberapa negara berlainan, seperti
dilaporkan di klinik dGynecologie et Obstetrique Geneva insidensinya 5,7%,
dan pada periode yang sama di Hamburg 5,4%, Roma 6,7%. Dilaporkan di Mesir,
India, dan Jepang kejadiannya tinggi, sedangkan pada orang Negro Amerika dan
Indonesia kurang. Frekuensi prolapsus uteri di Indonesia hanya 1,5% dan lebih
sering dijumpai pada wanita yang telah melahirkan, wanita tua dan wanita
dengan pekerja berat. Dari 5.372 kasus ginekologik di Rumah Sakit Dr. Pirngadi
di Medan diperoleh 63 kasus prolapsus uteri terbanyak pada grande multipara
dalam masa menopause dan pada wanita petani, dari 63 kasus tersebut 69%

berumur diatas 40 tahun. Jarang sekali prolapsus uteri dapat ditemukan pada
seorang nullipara (Winkjosastro, 2010).
Berdasarkan latar belakang di atas maka penulis tertarik untuk
meneliti lebih lanjut mengenai Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Terjadinya
Prolapsus Uteri pada Ny.P usia 60 tahun P4A0 di Poli Kebidanan Kandungan
RSUD dr.Moewardi tahun 2014.

BAB II
TINJAUAN TEORI

I. TINJAUAN TEORI MEDIS PROLAPSUS UTERI


A.

PENGERTIAN
Prolapsus uteri adalah turunnya uterus dari tempat yang biasa oleh
karena

kelemahan

otot

atau

fascia

yang

dalam

keadaan

normal

menyokongnya. Atau turunnya uterus melalui dasar panggul atau hiatus


genitalis.
Prolapsus uteri adalah suatu hernia, dimana uterus turun melalui
hiatus genitalis karena kelemahan otot atau fascia yang menyokongnya.
Prolapsus uteri lebih sering ditemukan pada wanita yang telah melahirkan,
wanita tua, dan wanita yang bekerja berat. Pertolongan persalinan yang tidak
terampil seperti memimpin meneran pada saat pembukaan rahim belum
lengkap, perlukaan jalan lahir yang dapat menyebabkan lemahnya jaringan
ikat penyangga vagina, seorang ibu dengan multigravida sehingga jaringan
ikat di bawah panggul kendor, juga dapat memicu terjadinya prolaps uteri.
Prolaps uteri terjadi karena kelemahan ligamen endopelvik terutama
ligamentum tranversal dapat dilihat pada nullipara dimana terjadi
elangosiokoli disertai prolapsus uteri tanpa sistokel tetapi ada enterokel. Pada
keadaan ini fasia pelvis kurang baik pertumbuhannya dan kurang
keregangannya. (Wiknjosastro, 2010)
Sistokel adalah turunnya kandung kemih melalui fasia puboservikalis,
sehingga dinding vagina depan jadi tipis dan disertai penonjolan kedalam
lumen vagina. Pada sistokel yang besar akan menarik utero vesical junction
dan ujung ureter ke bawah dan keluar vagina, sehingga kadang-kadang dapat
menyebabkan penyumbatan dan kerusakan ureter bila tidak dikenal.
(Wiknjosastro, 2010)
B.

ETIOLOGI
Partus yang berulang kali dan terjadi terlampau sering,partus dengan
penyulit merupakan penyebab prolapsus genitalis dan memperburuk porolaps
yang sudah ada. Faktor-faktor lain adalah tarikan janin pada pembukaan
belum lengkap, prasat Crede yang berlebihan untuk mengeluarkan plasenta
dsb. Jadi tidaklah mengherankan jika prolapsus genitalis terjadi segera setelah
partus atau dalam masa nifas. Asites dan tumor-tumor di daerah pelvis

mempermudah terjadinya prolapsus genetalis. Bila prolapsus uteri dijumpai


pada nullipara, factor penyebabnya adalah kelainan bawaan berupa
kelemahan jaringan penunjang uterus (Wiknjosastro, 2010).
Faktor penyebab lain yang sering adalah melahirkan dan menopause.
Persalinan yang lama dan sulit, meneran sebelum pembukaan lengkap,
laserasi dinding vagina bawah pada kala II, penataksanaan pengeluaran
plasenta, reparasi otot-otot dasar panggul yang tidak baik. Pada Menopause,
hormon esterogen telah berkurang sehingga otot-otot dasar panggul menjadi
atrofi dan melemah.
C.

PATOFISIOLOGI
Prolapsus uteri terdapat dalam beberapa tingkat, dari yang paling
ringan sampai prolapsus uteri totalis. Terutama akibat persalinan, khususnya
persalinan per vaginam yang susah, dan terdapatnya kelemahan-kelemahan
ligamen-ligamen yang tergolong dalam fasia endopelvik, dan otot-otot serta
fasia-fasia dasar panggul. Juga dalam keadaan tekanan intraabdominal yang
meningkat dan kronik akan memudahkan penurunan uterus, terutama apabila
tonus otot-otot mengurang seperti pada penderita dalam manopause.
Serviks uteri terletak diluar vagina, akan tergeser oleh pakaian wanita
tersebut, dan lambat laun menimbulkan ulkus, yang dinamakan ulkus
dekubitus. Jika fasia di bagian depan dinding vagina kendor biasanya trauma
obstetrik, ia akan terdorong oleh kandung kencing sehingga menyebabkan
penonjolan dinding depan vagina kebelakang yang dinamakan sistokel.
Sistokel yang pada mulanya hanya ringan saja, dapat menjadi besar karena
persalinan berikutnya, yang kurang lancar, atau yang diselesaikan dalam
penurunan dan menyebabkan urethrokel. Urethrokel harus dibedakan dari
divertikulum uretra. Pada divertikulum keadaan uretra dan kandung kencing
normal, hanya dibelakang uretra ada lubang, yang membuat kantong antara
uretra dan vagina.
Kekendoran fasia dibagian belakang dinding vagina oleh trauma
obstetrik atau sebab-sebab lain dapat menyebabkan turunnya rektum kedepan
dan menyebabkan dinding belakang vagina menonjol ke lumen vagina yang
dinamakan rektokel. Enterokel adalah hernia dari kavum dauglasi. Dinding
vagina atas bagian belakang turun dan menonjol kedepan. Kantong hernia ini
dapat berisi usus atau omentum.
(Wiknjosastro, 2010)

D.

TANDA DAN GEJALA

Gejala dan tanda-tanda sangat berbeda dan bersifat individual.


Kadangkala penderita yang satu dengan prolaps uteri yang cukup berat tidak
mempunyai keluhan apapun, sebaliknya penderita lain dengan prolaps ringan
mempunyai banyak keluhan.

Keluhan-keluhan yang hampir selalu dijumpai:


1. Perasaan adanya suatu benda yang mengganjal atau menonjol di genetalia
eksterna.
2. Rasa sakit di pinggul dan pinggang (Backache). Biasanya jika penderita
berbaring,keluhan menghilang atau menjadi kurang.
3. Sistokel dapat menyebabkan gejala-gejala:
a. Miksi sering dan sedikit-sedikit. Mula-mula pada siang hari,
kemudian lebih berat juga pada malam hari
b. Perasaan seperti kandung kencing tidak

dapat

dikosongkan

seluruhnya.
c. Stress incontinence yaitu tidak dapat menahan kencing jika
batuk,mengejan. Kadang-kadang dapat terjadi retensio urine pada
sistokel yang besar sekali.
4. Retokel dapat menjadi gangguan pada defekasi:
a. Obstipasi karena feces berkumpul dalam rongga retrokel.
b. Baru dapat defekasi setelah diadakan tekanan pada retrokel dan
vagina.
5. Prolapsus uteri dapat menyebabkan gejala sebagai berikut:
a. pengeluaran serviks uteri dari vulva menggangu penderita waktu
berjalan dan bekerja.Gesekan portio uteri oleh celana menimbulkan
lecet sampai luka dan dekubitus pada portio uteri.
b. Lekores karena kongesti pembuluh darah di daerah serviks dan karena
infeksi serta luka pada portio uteri.
6. Enterokel dapat menyebabkan perasaan berat di rongga panggul dan rasa
penuh di vagina.
(Wiknjosastro, 2010).

E.

KLASIFIKASI PROLAPSUS UTERI


Klasifikasi prolaps uteri menurut Friedman dan Little adalah sebagai berikut:
1. Prolapsus uteri tingkat I, dimana serviks uteri turun sampai introitus
vagina; Prolapsus uteri tingkat II, dimana serviks menonjol keluar dari
introitus vagina ; Prolapsus uteri tingkat III, seluruh uterus keluar dari
vagina; prolapsus ini juga disebut prosidensia uteri.
2. Prolapsus uteri tingkat I, serviks masih berada di dalam vagina; Prolapsus
uteri tingkat III, serviks keluar dari introitus, sedang pada prosidensia
uteri uterus seluruhnya keluar dari vagina.
3. Prolapsus uteri tingkat I, serviks mencapai introitus vagina ; Prolapsus
uteri tingkat II, uterus keluar dari introitus kurang dari setengah bagian ;
Prolapsus uteri tingkat III, uterus keluar dari introitus lebih besar dari
setengah bagian.
4. Prolapsus uteri tingkat I, serviks mendekati prosesus spinosus ; Prolapsus
uteri tingkat II, serviks terdapat antara prosesus spinosus dan introitus
vagina ; Prolapsus uteri tingkat III, serviks keluar dari introitus.
5. Klasifikasi ini sama dengan klasifikasi D, ditambah dengan prolapsus
uteri tingkat IV (prosidensia uteri).
Dianjurkan klasifikasi berikut:
Desesnsus uteri, uterus turun, tetapi serviks masih di dalam vagina. Prolapsus
uteri tingkat 1, uterus turun dengan serviks uteri turun paling rendah sampai
introitus vaginae; Prolapsus uteri tingkat II, uterus untuk sebagian keluar dari
vagina; Prolapsus uteri tingkat III, atau posidensia uteri, uterus keluar
seluruhnya dari vagina, disertai dengan inversio vagina. (Wiknjosastro, 2010)

F.

PEMERIKSAAN FISIK
Pemeriksaan fisik meliputi pemeriksaan pelvis lengkap, termasuk
pemeriksaan rektovaginal untuk menilai tonus sfingter. Alat yang digunakan
adalah spekulum Sims atau spekulum standar tanpa bilah anterior. Penemuan
fisik dapat lebih diperjelas dengan meminta pasien meneran atau berdiri dan
berjalan sebelum pemeriksaan. Hasil pemeriksaan fisik pada posisi pasien
berdiri dan kandung kemih kosong dibandingkan dengan posisi supinasi dan
kandung kemih penuh dapat berbeda 1-2 derajat prolaps. Prolaps uteri ringan
dapat dideteksi hanya jika pasien meneran pada pemeriksaan bimanual.
Evaluasi status estrogen semua pasien. Tanda-tanda menurunnya estrogen:
o

Berkurangnya rugae mukosa vagina

Sekresi berkurang

Kulit perineum tipis

Perineum mudah robek

Pemeriksaan fisik juga harus dapat menyingkirkan adanya kondisi serius


yang mungkin berhubungan dengan prolaps uteri, seperti infeksi, strangulasi
dengan iskemia uteri, obstruksi saluran kemih dengan gagal ginjal, dan
perdarahan. Jika terdapat obstruksi saluran kemih, terdapat nyeri suprapubik
atau kandung kemih timpani. Jika terdapat infeksi, dapat ditemukan
discharge serviks purulen.
G.

LABORATORIUM
Pemeriksaan ditujukan untuk mengidentifikasi komplikasi yang serius
(infeksi, obstruksi saluran kemih, perdarahan, strangulasi), dan tidak
diperlukan untuk kasus tanpa komplikasi. Urinalisis dapat dilakukan untuk
mengetahui infeksi saluran kemih. Kultur getah serviks diindikasikan untuk
kasus yang disertai ulserasi atau discharge purulen. Pap smear atau biopsi
mungkin diperlukan bila diduga terdapat keganasan. Jika terdapat gejala atau
tanda obstruksi saluran kemih, pemeriksaan BUN dan kadar kreatinin serum
dilakukan untuk menilai fungsi ginjal.

H.

DIAGNOSIS
Keluhan-keluhan penderita dan pemeriksaan ginekologik umumnya
dengan mudah dapat menegakkan diagnosis prolapsus genitalis. Friedman
dan Little, menganjurkan cara pemeriksaan sebagai berikut :
Penderita dalam posisi jongkok disuruh mengejan, dan ditentukan
dengan pemeriksaan dengan jari, apakah porsio uteri pada posisi normal, atau
porsio sampai introitus vagina, atau apakah serviks uteri sudah keluar dari
vagina. Selanjutnya dengan penderita berbaring dengan posisi litotomi,
ditentukan pula panjangnya servik uteri. Serviks uteri yang lebih panjang
biasanya dinamakan elongsio kolli.
Pada sistokel dijumpai di dinding vagina depan benjolan kistik
lembek dan tidak nyeri tekan. Benjolan ini bertambah besar jika penderita
mengejan. Jika dimasukkan kedalam kandung kencing kateter logam, kateter
itu diarahkan kedalam sistokel, dapat diraba keteter tersebut dekat sekali pada
dinding vagina. Uretrokel letaknya lebih kebawah dari sistokel, dekat pada
orifisium urethrae eksternum.
Menegakkan diagnosis rektokel mudah, yaitu menonjolnya rectum ke
lumen vagina sepertiga bagian bawah. Penonjolan ini berbentuk lonjong,

memanjang dari proksimal ke distal, kistik dan tidak nyeri. Untuk


memastikan diagnosis, jari dimasukkan kedalam rectum, dan selanjutnya
dapat diraba dinding rektokel yang menonjol lumen vagina. Enterokel
menonjol ke lumen vagina lebih atas dari rektokel. Pada pemeriksaan rectal
dinding rectum lurus, ada benjolan ke vagina terdapat diatas rectum.
(Wiknjosastro, 2010)
I.

PENANGANAN
1. Pengobatan Medis
Pengobatan cara ini tidak seberapa memuaskan tetapi cukup membantu.
Cara ini dilakukan pada prolapsus uteri ringan tanpa keluhan, atau
penderita masih ingin mendapatkan anak lagi, ata penderita menolak untuk
dioperasi, atau kondisinya tidak mengizinkan untuk dioperasi.
a. Latihan-latihan otot dasar panggul
Latihan ini sangat berguna pada prolapsus uteri ringan, terutama yang
terjadi pada pasca persalinan yang belum lewat 6 bulan. Tujuannya
untuk menguatkan otot-otot dasar panggul dan otot-otot yang
mempengaruhi miksi. Latihan ini dilakukan selama beberapa bulan.
b. Stimulasi otot-otot dengan alat listrik
Kontraksi otot-otot dasar panggul dapat pula ditimbulkan dengan alat
listrik, elektrodenya dapat dipasang dalam pessarium yang dimasukkan
ke dalam vagina.
c. Pengobatan dengan pessarium
Pengobatan dengan pessarium sebenarnya hanya bersifat
paliatif, yakni menahan uterus ditempatnya selama dipakai. Oleh karena
itu jika pessarium diangkat, timbul prolapsus lagi. Prinsip pemakaian
pessarium ialah bahwa alat tersebut mengadakan tekanan pada dinding
vagina bagian atas, sehingga bagian dari vagina tersebut beserta uterus
tidak dapat turun dan melewati vagina bagian bawah. Pessarium yang
paling baik untuk prolapsus genitalia adalah pessarium cincin, terbuat
dari plastik. Jika dasar panggul terlalu lemah dapat digunkan pessarium
Napier. Pessarium ini terdiri atas suatu gagang (steam) dengan ujung
atas suatu mangkok (cup) dengan beberapa lubang, dan ujung bawah 4
tali.

Mangkok

ditempatkan

dibawah

serviks

dengan

tali-tali

dihubungkan dengan sabuk pinggang untuk memberi sokongan kepada


pessarium.
Pessarium dapat dipakai selama beberapa tahun, asal saja
penderita diawasi secara teratur. Periksa ulang sebaiknya dilakukan 2-3
bulan sekali. Vagina diperiksa dengan inspekulo untuk menentukan ada

tidaknya perlukaan, pessarium dibersihkan dan disucihamakan, dan


kemudian dipasang kembali. Kontraindikasi terhadap pemasangan
pessarium adalah adanya radang pelvis akut atau sub akut, dan
karsinoma.
Indikasi penggunaan pessarium adalah :
1) Kehamilan
2) Bila penderita belum siap untuk dilakukan operasi
3) Sebagai terapi tes, menyatakan bahwa operasi harus dilakukan
4) Penderita menolak untuk dioperasi, lebih suka terapi konservatif
5) Untuk menghilangkan simpton yang ada, sambil menunggu waktu
operasi dapat dilakukan.
Jenis-jenis Pessarium:
1. Pessarium Cincin
2. Pessarium Karet
3. Pessarium Napier
Cara pemasangan pessarium
Pessarium diberi zat pelican dan dimasukkan miring sedikit ke dalam
vagina. Setelah bagian atas masuk ke dalam vagina, bagian tersubut
ditempatkan ked lam forniks vaginae posterior. Prinsip pemakaian
pessarium adalah bahwa alat tersebut mengadakan tekanan pada
dinding vagina bagian atas, sehingga bagain dari vagina tersebut beserta
2.

uterus tidak dapat turun dan melewati vagina bagian bawah.


Pengobatan Operatif
Prolapsus uteri biasanya disertai prolapsus vagina. Maka, jika
dilakukan pembedahan untuk prolapsus uteri, prolapsus vagina perlu
ditangani pula. Ada kemungkinan terdapat prolapsus vagina yang
membutuhkan pembedahan, padahal tidak ada prolapsus uteri, atau
prolapsus uteri yang ada belum perlu dioperasi. Indikasi untuk
melakukan operasi pada prolapsus vagina ialah adanya keluhan.
Dibawah ini dibicarakan terapi pembedahan pada jenis-jenis
prolapsus vagina :
Sistokel
Operasi yang lazim dilakukan adalah kolporafia anterior. Setelah
diadakan sayatan dan dinding vagina depan dilepaskan dari kandung
kencing dan uretra, kandung kencing didorong keatas, dan fasia
puboservikalis sebelah kiri dan sebelah kanan dijahit di garis tengah.
Sesudah dinding vagina berlebihan dibuang, dinding vagina yang
terbuka ditutup kembali kembali. Kolporafia anterior dilakukan pula
pada urethrokel. Kadang-kadang operasi ini tidak mencukupi pada
sistokel dengan stress incontinence yang berat, dalam hal ini perlu
dilakukan tindakan-tindakan khusus.

Prolapsus Uteri
Seperti telah diterangkan, indikasi untuk melakukan operasi pada
prolapsus uteri tergasntung pada beberapa factor, seperti umur
penderita, keinginannya untuk masih mendapat anak atau untuk

J.

mempertahankan uterus, tingkat prolapsus dan adanya keluhan.


(Winkjosastro, 2010)
KOMPLIKASI
Menurut Wiknjosastro (2010), komplikasi yang dapat menyertai prolapsus
uteri ialah:
1. Keratinisasi mukosa vagina dan porsio uteri
Prosidensia uteri disertai degan keluarnya dinding vagina (inversio);
karena itu mukosa vagina dan serivks uteri menjadi tebal serta brkerut,
dan berwarna keputih-putihan.
2. Dekubitus
Jika serviks uteri terus keluar dari vagina, ujungnya bergeser dengan paha
dan pakaian dalam, hal itu dapat menyebabkan luka dan radang, dan
lambat laun timbul ulkus dekubitus. Dalam keadaan demikian, perlu
dipikirkan kemungkinan karsinoma, lebih-lebih pada penderita berusia
lanjut. Pemeriksaan sitologi/biopsi perlu dilakukan untuk mendapat
kepastian akan adanya karsinoma.
3. Hipertrofi serviks dan elangasio kolli
Jika serviks uteri turun dalam vagina sedangkan jaringan penahan dan
penyokong uterus masih kuat, maka karena tarikan ke bawah di bagian
uterus yang turun serta pembendungan pembuluh darah serviks uteri
mengalami hipertrofi dan menjadi panjang dengan periksa lihat dan
periksa raba. Pada elangasio kolli serviks uteri pada periksa raba lebih
panjang dari biasa.
4. Gangguan miksi dan stress incontinence
Pada sistokel berat- miksi kadang-kadang terhalang, sehingga kandung
kencing tidak dapat dikosongkan sepenuhnya. Turunnya uterus bisa juga
menyempitkan ureter, sehingga bisa menyebabkan hidroureter dan
hidronefrosis. Adanya sistokel dapat pula mengubah bentuk sudut antara
kandung kencing dan uretra yang dapat menimbulkan stress incontinence.
5. Infeksi jalan kencing
Adanya retensi air kencing mudah menimbulkan infeksi. Sistitis yang
terjadi dapat meluas ke atas dan dapat menyebabkan pielitis dan
pielonefritis. Akhirnya, hal itu dapat menyebabkan gagal ginjal.
6. Kemandulan
Karena serviks uteri turun sampai dekat pada introitus vaginae atau sama
sekali keluar dari vagina, tidak mudah terjadi kehamilan.
7. Kesulitan pada waktu partus

Jika wanita dengan prolapsus uteri hamil, maka pada waktu persalinan
dapat timbul kesulitan di kala pembukaan, sehingga kemajuan persalinan
terhalang.
8. Hemoroid
Feses yang terkumpul dalam rektokel memudahkan adanya obstipasi dan
timbul hemoroid.
9. Inkarserasi usus halus
Usus halus yang masuk ke dalam enterokel dapat terjepit dengan
kemungkinan tidak dapat direposisi lagi. Dalam hal ini perlu dilakukan
laparotomi untuk membebaskan usus yang terjepit itu.
K.

PENCEGAHAN
Pemendekan waktu persalinan, terutama kala pengeluaran dan kalau
perlu dilakukan elektif (umpama ekstraksi forceps dengan kepala sudah
didasar panggul), membuat episiotomy, memperbaiki dan mereparasi luka
atau kerusakan jalan lahir dengan baik, memimpin persalinan dengan baik
agar dihindarkan penderita meneran sebelum pembukaan lengkap betul,
menghindari paksaan dalam pengeluaran plasenta (perasat Crade), mengawasi
involusi uterus pasca persalinan tetap baik dan cepat, serta mencegah atau
mengobati hal-hal yang dapat meningkatkan tekanan intraabdominal seperti
batuk-batuk ysng kronik. Menghidari benda-benda yang berat. Dan juga
menganjurkan agar penderita jangan terlalu banyak punya anak atau sering
melahirkan.
(Wiknjosastro, 2010)

II. KONSEP MANAJEMEN ASUHAN KEBIDANAN PADA PROLAPSUS


UTERI
I. PENGKAJIAN DATA
a. Data Subyektif
1. Biodata
Nama

: Nama klien dan suami ditanyakan untuk mengenal dan


memanggil penderita dan agar tidak keliru dengan
penderita lain (Bobak, 2005)

Umur

: tonus otot-otot mengurang seperti pada penderita dalam


manopause (Winkjosastro, 2010)

Agama

: Ditanyakan untuk mengetahui kemungkinan pengaruh


terhadap kebiasaan kesehatan klien. Dengan mengetahui
kebiasaan

klien,

maka

akan

memudahkan

bidan

melakukan pendekatan didalam melaksanakan asuhan


kebidanan. Agama ini ditanyakn berhubungan dengan
perawatan penderita. (Bobak, 2005)
Pendidikan :

Dikaji

untuk

menyesuaikan

dalam

memberi

pengetahuan sesuai dengan tingkat pendidikannya.


Tingkat pendidikan mempengaruhi sikap dan perilaku
kesehatan seseorang. (Bobak, 2005)
Pekerjaan

: Dikaji untuk mengetahui bagaimana taraf hidup dan


social ekonomi penderita agar nasehat yang diberikan
sesuai. (Bobak, 2005)

Alamat

: Dikaji untuk maksud mempermudah hubungan bila


dalam keadaan mendesak. Dengan diketahui alamat
tersebut, bidan mengetahui tempat tinggal pasien dan
linkungannya. (Bobak, 2005)

2. Keluhan Utama
Keluhan-keluhan yang hampir selalu dijumpai:
Perasaan adanya suatu benda yang mengganjal atau menonjol di
genetalia eksterna, rasa sakit di pinggul dan pinggang (Backache).
Biasanya jika penderita berbaring,keluhan menghilang atau menjadi
kurang. (Winjosastro, 2010)
3. Riwayat Kesehatan Sekarang
Ditanyakan untuk mengetahui apakah ibu menderita penyakit kencing
manis (gejala: sering minum, sering makan, sering kencing), tekanan
darah tinggi, menular seksual seperti HIV-AIDS (BB turun drastis,

diare lebih dari 1 bulan, nafsu makan berkurang, tidak enak badan ),
GO (pengeluaran cairan dari alat kelamin berwarna hijau, berbau),
syifilis (ada borok sebesar uang logam jika ditekan mengeluarkan
cairan), sering berganti-ganti pasangan, endometritis (keluar cairan
dari alat kelamin berwarna kuning kehijauan). (Sudibyo, 2008:90)
4. Riwayat Kesehatan yang lalu
Ditanyakan untuk mengetahui apakah ibu menderita penyakit kencing
manis (gejala: sering minum, sering makan, sering kencing), tekanan
darah tinggi ( menular seksual seperti HIV-AIDS (BB turun drastis,
diare lebih dari 1 bulan, nafsu makan berkurang, tidak enak badan ),
GO (pengeluaran cairan dari alat kelamin berwarna hijau, berbau),
syifilis (ada borok sebesar uang logam jika ditekan mengeluarkan
cairan), sering berganti-ganti pasangan, endometritis (keluar cairan
dari alat kelamin berwarna kuning kehijauan). (Andrijono, 2007:139)
5. Riwayat kebidanan
1) Haid
Awal menstruasi (menarche) pada usia 11 tahun atau lebih muda.
Siklus haid tidak teratur, nyeri haid luar biasa, nyeri panggul
setelah haid atau senggama (Wiknjosastro, 2010).
2) Riwayat kehamilan
Faktor resiko yang menyebabkan prolaps uteri jumlah kelahiran
spontan yang banyak, berat badan berlebih, riwayat operasi pada
area tersebut, batuk dalam jangka waktu lama saat hamil.
3) Riwayat persalinan
Partus yang berulang kali dan terjadi terlampau sering, partus
dengan penyulit merupakan penyebab prolapsus genitalis dan
memperburuk prolaps yang sudah ada. Faktor-faktor lain adalah
tarikan janin pada pembukaan belum lengkap. Bila prolapsus uteri
dijumpai pada nulipara, faktor penyebabnya adalah kelainan
bawaan

berupa

kelemahan

jaringan

penunjang

uterus

(Wiknjosastro, 2007). Pada menopouse, hormon estrogen telah


berkurang sehingga otot-otot dasar panggul menjadi atrofi dan
melemah (Wiknjosastro, 2010).
6.

Pola kebiasaan sehari-hari


1) Eliminasi
Sistokel dapat menyebabkan gejala-gejala:

a) Miksi sering dan sedikit-sedikit. Mula-mula pada siang hari,


kemudian lebih berat pada malam hari
b) Perasaan seperti kandung kencing tidak dapat dikosongkan
seluruhnya
c) Stress incontinence yaitu tidak dapat menahan kencing jika
batuk dan mengejan. Kadang-kadang dapat terjadi retensio
urine pada sistokel yang besar sekali
Rektokel dapat menjadi gangguan pada defekasi
a) Obstipasi karena feses berkumpul dalam rongga rektokel
b) Baru dapat defekasi setelah diadakan tekanan pada rektokel
vagina
2) Aktivitas dan istirahat
Pengeluaran serviks uteri dari vulva mengganggu penderita saat
berjalan dan beraktivitas. Gesekan portio uteri oleh celana dapat
menimbulkan lecet hingga dekubitus pada porsio.
3) Pola Nutrisi
Kekenduran atau kelemahan otot ini juga dapat dipengaruhi oleh
pola makan dan kesehatan yang agak rendah dibandingkan dengan
mereka yang sehat dan makanannya seimbang dan tercukupi dari
segi semua zat seperti protein dan vitamin. (Hanifa, 2010)
b. Data Obyektif
1. Pemeriksaan Umum
Keadaan Umum : Baik, sedang, lemah
Kesadaran
: Composmentis, Apatis, Samnolen
Tekanan Darah : > 130/90 mmHg
2. Pemeriksaan Fisik
a. Muka
Tampak pucat pertanda adanya anemia, keluar keringat dingin bila
terjadi syok. Bila perdarahan konjungtiva tampak anemis. Pada
klien yang disertai rasa nyeri klien tampak meringis. (Manuaba,
1998 : 410).
b. Mulut
Mukosa bibir dan mulut tampak pucat, bau kelon pada mulut jika
terjadi shock hipovolemik hebat.
c. Dada dan payudara
Gerakan nafas cepat karena adanya usaha untuk memenuhi
kebutuhan O2 akibat kadar O2 dalam darah yang tinggi, keadaan
jantung tidak abnormal.
d. Abdomen
Adanya benjolan pada perut bagian bawah (Sastrawinata, 1981 :
158).

Teraba adanya massa pada perut bagian bawah konsisten


keras/kenyal, tidak teratur, gerakan, tidak sakit, tetapi kadangkadang ditemui nyeri (Sastrawinata, 1981 : 160).
Pada pemeriksaan bimanual akan teraba benjolan pada perut,
bagian bawah, terletak di garis tengah maupun agak kesamping
dan sering kali teraba benjolan-benjolan dan kadang-kadang terasa
sakit (Wiknjosastro, 2010 : 344).
Pada pemeriksaan Sondage didapatkan cavum uteri besar dan rata
(Sastrawinata, 1981 : 161).
e. Genetalia
Pada kasus ringan, bagian uterus turun ke puncak vagina dan pada
kasus yang sangat berat dapat terjadi protrusi melalui orifisium
vagina dan berada di luar vagina.
f. Anus
Akan timbul haemoroid, luka dan varices pecah karena keadaan
obstipasi akibat penekanan mioma pada rectum.
g. Ekstremitas
Oedem pada tungkai bawah oleh karena adanya tekanan pada vena
cava inferior (Sastrawinata, 1981 : 159).
II. ASSESMENT
Dx
: Ny...Umur...P..A..dengan .
Diagnosa Dan Masalah Potensial : Cemas, Nyeri perut akibat penurunan
uterus, Potensial ulkus dekubitus
Kebutuhan Segera : Kolaborasi dengan dokter Sp.OG
III. PELAKSANAAN
1.
Jelaskan hasil pemeriksaan pada ibu dan keluarga
2.
Jelaskan pada ibu jenis prolapsus uteri yang dialami ibu
3.
Jelaskan pada ibu beberapa tindakan yang mungkin akan dilakukan di
4.

Rumah Sakit
Jelaskan pada ibu bahwa dukungan keluarga sangat penting dalam

5.
6.

proses penyembuhan ibu


Kolaborasi dengan dokter dalam penanganan selanjutnya
Memberikan KIE tentang nutrisi dan personal hygiene

Mengetahui,

Dosen Pembimbing

Mahasiswa

Masini, S.Kp. Ns.

Rina Pratiwi

BAB V
PENUTUP
A. Kesimpulan
Berdasarkan Pengkajian pada kasus Ny.P umur 60 tahun, dengan prolapsus
uteri grade IV dan systokel dapat disimpulkan bahwa:
Semua pengkajian telah dilakukan sesuai dengan teori meskipun ada beberapa hal
yang kurang sesuai tetapi hal tersebut tidak menyebabkan dampak yang buruk
bagi pasien.
Diagnosa kebidanan telah dapat ditegakkan berdasarkan dari data subyektif
dan data obyektif yang didapatkan melalui pengkajian terhadap Ny.P. Diagnosa
potensial yang muncul pada kasus Ny.P ialah terjadinya keratinisasi mukosa
vagina dan porsio uteri, dekubitus, gangguan miksi dan stress incontinence dan
infeksi jalan kencing, oleh karena itu pada antisipasi tindakan segera, kolaborasi
dan konsultasi dipilih kolaborasi dengan dokter spesialis obstetri dan ginekologi
untuk penanganan selanjutnya..
Rencana tindakan telah disusun sesuai dengan kebutuhan pasien, kemudian
implementasi dilakukan sesuai dengan rencana tindakan yang telah disusun.
B. Saran
1. Sebagai institusisebaiknya menyediakan buku-buku yang lebih banyak
tentang prolapsus uteri.
2. Para mahasiswa hendaknya dapat menjalin hubungan dengan petugas
kesehatan, pasien sehingga terjalin kepercayaan dalam melakukan tindakan.
3. Sebagai pasien, hendaknya lebih terbuka lagi dalam memberikan informasi
dan mengungkapkan keluhan yang dirasakan.

DAFTAR PUSTAKA
Junizaf. Ed.2004. Buku Ajar Uroginekologi. Jakarta: Subbagian UroginekologiRekonstruksi Bagian Obstetri dan GinekologiFKUI/RSUPN-CM
Manuaba I.2004. Dasar-Dasar Teknik Operasi Ginekologi. Operasi Prolaps Uteri.
Jakarta: EGC.
Marmi. 2011. Asuhan Kebidanan Patologis. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
S, Saifuddin AB. Ed. 2007. Ilmu Kandungan. Jakarta: Yayasan Bina Pustaka
Sarwono Prawirohardjo
Wiknjosastro, Hanifa, dkk. 2010. Ilmu Kandungan. Jakarta: Yayasan Bina Pustaka
Sarwono Prawirohardjo
Mailhot T. Uterine prolapse (online) 24 Mei 2006 (Diunduh tanggal 9 November
2014). Tersedia di URL: http://www.emedicine.com
http://www.scribd.com/doc/29229881/Prolaps-Uteri (diunduh tanggal 9 November
2014 pukul 20.15 WIB)
http://www.scribd.com/doc/51522816/PROLAPS-UTERI
November 2014 pukul 20.45 WIB)

(diunduh

tanggal