Anda di halaman 1dari 8

Glandula saliva atau kelenjar saliva merupakan organ yang terbentuk dari sel-sel

khusus yang mensekresi saliva.


Saliva adalah cairan oral yang kompleks dan tidak berwarna yang terdiri dari
campuran sekresi dari kelenjar besar dan kelenjar kecil (mayor dan minor) yang ada
pada mukosa oral.
Saliva adalah cairan yang terdapat dalam rongga mulut yang mengandung bakteri
mulut, sisa makanan dan sel-sel epitel yang terdeskuamasi. Saliva disekresi dari
glandula saliva mayor dan minor bersama sama dengan ginggival crevicular
fluid(GCF), merupakan cairan oral atau keseluruhan saliva yang menyediakan
lingkungan kimiawi dari gigi dan jaringan lunak rongga mulut. 1 Komponen saliva
terdiri dari beberapa macam elektrolit seperti kalsium, bikarbonat, fosfat dan
magnesium. Selain itu saliva mengandung komponen protein atau organik seperti
immunoglobulin, enzim, musin, serta produk yang mengandung nitrogen seperti
ammonia dan urea
Viskositas adalahukuran kekentalan suatu fluida yang menunjukkan besar kecilnya
gesekan internal fluida. Viskositas fluida berhubungan dengan gaya gesek
antarlapisan fluida ketika satu lapisan bergerak melewati lapisan yang lain.
Fungsi saliva itu sendiri adalah:
Melicinkan dan membasahi rongga mulut sehingga membantu proses mengunyah
dan menelan makanan
Membasahi dan melembutkan makanan menjadi bahan setengah cair ataupun cair
sehingga mudah ditelan dan dirasakan
Membersihkan rongga mulut dari sisa-sisa makanan dan kuman
Mempunyai aktivitas antibacterial dan sistem buffer
Membantu proses pencernaan makanan melalui aktivitas enzim ptyalin (amilase
ludah) dan lipase ludah
Berpartisipasi dalam proses pembekuan dan penyembuhan luka karena terdapat
faktor pembekuan darah dan epidermal growth factor pada saliva
Jumlah sekresi air ludah dapat dipakai sebagai ukuran tentang keseimbangan air
dalam tubuh.
Membantu dalam berbicara (pelumasan pada pipi dan lidah)
3.1 Macam-macam secret saliva
Karakteristik Mucus dan Serous
3.2 Fungsi Saliva
Saliva memiliki fungsi yang sangat penting dalam menjaga efisiensi kerja tubuh dan
menjaga kesehatan secara umum. Fungsi saliva biasanya baru dapat dirasakan jika
produksinya telah berkurang. Beberapa fungsi saliva dapat dijelaskan sebagai
berikut:
1) Fungsi Saliva pada Proses Pencernaan dan Pengunyahan
Enzim amilase yang terdapat pada saliva mampu menguraikan sebagian makanan
yang mengandung tepung kanji dan glikogen. Saliva juga dapat membantu proses

pengunyahan, sebab jika produksi saliva berkurang, makanan yang membutuhkan


pengunyahan optimal akan sukar dilakukan dan dapat menimbulkan eksaserbasi
pada mukosa mulut.
2) Fungsi Saliva dalam Proses Pengecapan Rasa
Saliva berperan dalam melarutkan bahan-bahan makanan yang memiliki rasa
tertentu sehingga dapat diterima stimulusnya oleh reseptor-reseptor pengecap.
Penurunan jumlah saliva dapat mengganggu proses pengecapan, sukar mengunyah
dan menelan, apalagi jika makanan tersebut kering atau kental.
3) Fungsi Saliva sebagai Bufer
Sistem buffer asam karbonat-bikarbonat, serta kandungan ammonia dan urea
dalam saliva dapat menyangga dan menurunkan pH yang terjadi saat bakteri plak
sedang memetabolisme gula. Kapasitas buffer dan pH saliva erat hubungannya
dengan kecepatan sekresinya. Peningkatan kecepatan sekresi saliva mengakibatkan
naiknya kadar natrium dan bikarbonat saliva, sehingga kapasitas bufer saliva pun
meningkat. Peningkatan kapasitas buffer dapat melindungi mukosa rongga mulut
dari asam yang terdapat pada makanan saat muntah. Selain itu, penurunan pH plak
sebagai akibat ulah organism akan dihambat. Sistem bufer saliva membantu
mempertahankan pH rongga mulut sekitar 7,0.
4) Fungsi Saliva dalam Proses Anti Bakteri
Saliva mengandung beberapa faktor yang dapat menghancurkan bakteri. Salah
satunya adalah ion tiosianat dan beberapa enzim proteolitik seperti lisozim, yang
dapat menyerang bakteri, membantu ion tiosianat memasuki bakteri yang kemudian
menjadi bakterisidal, dan dapat pula mencerna partikel makanan sehingga dapat
menghilangkan pendukun metabolism bakteri.
5) Fungsi Saliva dalam Mencegah Karies
Difusi komponen saliva seperti kalsium, fosfat, ion OH dan Fe ke dalam plak
dapat menurunkan kelarutan email dan meningkatkan remineralisasi karies dini.
Beberapa komponen saliva yang termasuk dalam komponen non imunologi seperti
lisozim, laktoperoksidase, dan laktoferin mempunyai daya anti bakteri yang
langsung terhadap mikroflora tersebut, sehingga derajatasi dogeniknya berkurang.
6) Fungsi Lubrikasi
Saliva dapat membentuk lapisan mucus pelindung pada membrane mukosa yang
akan bertindak sebagai pelindung terhadap iritan dan akan mencegah kekeringan
dalam rongga mulut. Jika mukosa mulut tidak dilindungi oleh saliva, maka mukosa
mulut akan mudah luka dan terkena infeksi. Peradangan mukosa ditandai oleh rasa
nyeri atau seperti terbakar dan akan mengalami eksaserbasi oleh makanan pedas,
buah-buahan, minuman panas, dan tembakau.
7) Fungsi Saliva dalam Menjaga Higiene Rongga Mulut
Aliran saliva dapat menurunkan akumulasi plak pada permukaan gigi dan juga
meningkatkan pembersihan karbohidrat dari rongga mulut. Jika jumlah saliva di
dalam mulut menurun, akumulasi plak akan meningkat dan terjadi modifikasi flora
plak sehingga jumlah Candida, Laktobasilusdan Streptococcus mutan smakin
banyak. Oleh karena itu, pada pasien yang menderita mulut kering akan sering
terjadi infeksikan di gingivitis.

3.2.1 Fungsi Protein pada Saliva


a. Lisosim
Lisosim terdapat hampir pada semua cairan tubuh dan terdeteksi pada fetus
manusia umur 9-12 tahun. Sumber lisosim saliva berasal dari glandula salivarius
mayor dan minur, sel fagosit maupun cairan krevikular gingival. Fungsi lisosim
adalah sebagai berikut
Aktivitas muramidase, yaitu lisosim mampu menghidrolisa ikatan (1-4) antara
asam N-asetil muramik dan N-asetilglukosamin pada lapisan peptidoglikan dinding
sel bakteri. Hidrolisa lapisan peptidoglikan akan melisis bakteri.
Aktivitas bakterial autolysin tergantung pada kationik. Oleh karena lisosim
merupakan kationik. Lisosim dapat merusak membrane bakteri dan mengaktifkan
mekanisme bacterial autolysin karena aktivasi muramidase dan autolysin
Menyebabkan terjadinya agregasi bakteri
Mencegah perlekatan bakteri pada permukaan gigi
Mencegah penggunaan glukosa oleh bakteri
Memecah rantai streptokokus
b. Sistem Peroksidase Saliva
Sumber utama sistem peroksidase saliva (SPS) ialah glandula salivarius dan
sel lekosit. SPS yang berasal dari glandula salivarius disebut salivary peroksidase,
sedangkan SPS yang berasal dari lekosit disebut mieloperoksidase. Salivary
peroksidase manusia kadang-kadang disebut pula laktoperoksidase karena
kesamaannya dengan laktoperoksidase susu sapi.
Aktivitas antimicrobial
Melindungi sel dari efek toksik hydrogen peroksida
Melindungi bakteri dari efek bakteriosidadl hydrogen peroksida
Melindungi asam sialik dari dekarbosilase okksidatif oleh hydrogen peroksida
Inaktivasi komponen mutagenic dan karsinogenik
c. Laktoferin
Laktoferin (LF) adalah glikoprotein (berat molekul 76 kilodalton) yang
mengikat besi. Glikoprotein ini dikeluarkan oleh sel serosa dan glandula salivarius
minor. Dalam rongga mulut, sumber penting LF ialah cairan gingival. Fungsi utama
LF sangat ditentukan oleh tingginya afinitas LF untuk mengikat ion besi, sehingga
mLF mampu menurunkan level ion besi yang merupakan bahan esensial untuk
metabolism mikroorganisme patogen. Dengan kata lain, sifat bakteriostatik LF
karena ikatannya dengan ion besi. LF mampu pula bersifat bakteriosid terhadap S.
mutan secara invitro dengan suhu 370C.
d. Salivari Aglutinin
Saliva mengandung beberapa komponen yang mampu mengaglutinasi bakteri
mulut. Akibatnya interaksi komponen tersebut dengan bakteri menghasilkan
agregasi bakteri (membentuk endapan bakteri) yang mudah dibersihkan oleh saliva
dan kemudian tertelan. Komponen tersebut adalah:
Glikoprotein dengan berat molekul tinggi
Salivary IgA
Lisosim mikroglobulin (, m)
Fibronektin (FN)

e. Proline Rich protein (PRP)


PRP adalah protein kaya prolin yang merupakan sekelompok kompleks protein
yang mampu menghambat presipitasi spotan garam kalsium fosfat. Protein ini
dengan cepat akan teradsorbsi dari saliva ke permukaan hidroksi apatit.
Diperkirakan adsorbs ini menghambat pertumbuhan Kristal garam kalsium.
f. Protein antimicrobial anionic
Saliva mengandung 4 macam protenin anionic yang dapat menghambat
pertumbuhan S. mutans. Berat molekul protein ini adalah 14-17 kilodalton. Pada
orang yang bebas karies, protein ini dapat menghambat pertumbuhan bakteri.
3.2.2 Fungsi Lipid pada Saliva
Dalam saliva lipid merupakan perantara substansi lipofilik agar dapat
menembus mukosa mulut dan lipid mengganggu interaksi kalsium dengan protein
dan glikoprotein saliva. Beberapa lipid saliva seperti lisofosfatidilkolin dapat
mempengaruhi akktivitas enzim glukosiltransferase bakteri kariogenik, seperti S.
mutans. Lipid mampu menstabilkan ikatan hidrofobik antara bakteri dengan
jaringan mulut. Pelikel lipid memelihara kohesi plak bakteri, sehingga
mempercepat terbentuknya kalkulus. Tetapi lipid dalam pelikel mampu
menghambat proses terjadinya karies.
3.3 Mekanisme Sekresi Saliva
Sekresi saliva sebagian besar merupakan proses aktif yang menunjukan bahwa
proses tersebut memerlukan energi. Proses ini dibedakan menjadi dua fase:
1. Sintesis dan sekresi cairan asinar oleh sel sekretori.
Sifat rangsang yang menstimulasi kelenjar saliva dapat berupa rangsang adrenergic
maupun kolinergik, karena sel diinervasi baik simpatis maupun parasimpatis.
Rangsang adrenergic menghasilkan saliva yang pekat, kaya protein, kaya
kandungan musin dan berbuih.
Rangsang kolinergik, neurotransmitter asetilkolin menghasilkan sekresi cairan yang
kuat dengan kadar protein yang rendah.
Akibat rangsangan, melalui eksositosis sel menghasilkan cairan sekresinya kepada
lumen. Rangsang tersebut menyebabkan aliran darah ke asinus meningkat sehingga
mempermudah pembentukan cairan asinar. Cairan asinar ini disebut juga saliva
primer.
2. Perubahan yang terjadi pada duktus striata.
Saliva diangkutdari lumen melalui duktus yang melibatkan kontraksi sel
mioepitel. Selama pengangkutan ke rongga mulut, susunan saliva diubah dari cairan
isotonic dengan konsentrasi ion yang hamper sama dengan plasma menjadi
hipotonik dengan konsentrasi ion natrium dan klorida yang rendah.
Perubahan ini terjadi karena di dalam duktus, air dan elektrolit disekresi dan atau
diabsorbsi oleh sel epitel, terutama pada duktus striata.
Sifat rangsang menentukan kepekatan produk akhir yang bervariasi dari encer
sampai pekat.
Kepekatan saliva ditentukan oleh sekresi air dan sekresi musin yang diatur oleh
saraf kolinergik dan adrenergik.

Neurotransmitter asetilkolin dan parasimpatetikomimetika merangsang sekresi air,


sedangkan obat seperti atropinesulfat menghambat sekresi air dan menyebabkan
keringnya mulut.
Mekanisme Sekresi Saliva Saat Istirahat
Mekanisme Sekresi Saliva Saat Makan
3.4 Pengendalian Sekresi Saliva
Refleks sekresi saliva dipengaruhi oleh adanya makanan di rongga mulut, juga
rangsangan serat-serat vagus eferen di ujung esofagus yang dekat dengan gaster.
Dan faktor psikogenik yang memicunya berupa melihat, mencium dan
mengkonsumsi makanan yang meningkatkan nafsu makan. Daerah nafsu makan
pada otak, terletak di daerah pusat parasimpatis hipotalamus anterior, dan berfungsi
sebagai respon terhadap sinyal dari daerah pengecapan dan penciuman dari korteks
serebral dan amigdala. Bahan kimia penyusun makanan yang larut dalam saliva akan
kontak dengan sel rasa melalui sel pengecap. Pengecapan adalah fungsi utama dari
taste bud, yang didalamnya terdapat TRCs (Taste Receptor Cells). Sel reseptor
dipersarafi oleh afferent nerve endings, yang menyalurkan informasi ke pusat rasa
dalam otak dan talamus. Sehingga terjadi peningkatan aktivitas sistem saraf
parasimpatik dan peningkatan triger dari saraf fasialis dan
glosofaringeal, mengakibatkan peningkatan sekresi saliva. Rasa mans dan pahit
diatur oleh fungsi TRCs yang melibatkan GPCRs (G-Protein Coupled Receptors),
aktivasinya menyebabkan terlepasnya transmiter pads saraf gustatori primer. Serabut
aferen berakhir di saraf gustatori di medula, mengatur aktivitas kelenjar ludah dan
perut. Kedua hipotalamus berperan dalam pusat kenyang dan lapar dan sistem
limbik membawa unsur afektif pengecapan. Ketiga adalah hubungan reseptor raba
lidah ke talamus dan korteks yang berkaitan dengan modalitas kecap membedakan
rasa.
Pusat pengaturan sekresi saliva
Pada
dasarnya
sekresi
saliva
berada
dibawah
kontrol
saraf.
Rangsangansarafbagisekresi saliva terbagimenjadidua, yang pertamaadalahinervasi
saraf parasimpatik. Inervasi saraf parasimpatik memegang peran utama dalam
modifikasi komposisi saliva. Sekresi liur cair dalam jumlah besar dengan kandungan
bahan organik yang rendah distimulasi oleh saraf parasimpatis dari nukleus
salivatorius superior. Sekresi ini disertai oleh vasodilatasi mencolok pada kelenjar,
yang disebabkan oleh pelepasan VIP (vasoactive intestine polipeptide). Inervasi
kedua adalah dari saraf simpatis yang memegang peran utama dalam memengaruhi
volume sekresinya. Saraf simpatis menyebabkan vasokonstriksi dan sekresi sedikit
saliva yang akan bahan organik dari kelenjar submandibulais. Pada kelenjar
sublingual dan kelenjar-kelenjar minor, lebih dipengaruhi oleh respon kolinergik,
sedangkan pada kelenjar lainnya cenderung ke inervasi adrenergic.
Sekresi saliva terbagi menjadi dua bagian yaitu biosintesis protein dan tanspor air
dan elektrolit dimana pengendalian sekresinya dipengaruhi oleh sistem saraf yang
berhubungan dengan rangsangan mekanik dan reseptor pengecapan. Sistem saraf
yang memengaruhi pengendaliannya meliputi rangsangan kolinergik, reseptor alpha

adrenergik, dan reseptor beta adrenergik. Proses sekresi saliva ada dua bagian utama
yaitu biosintesis protein dalam sel asini serta transport protein menembus membran
sel asini menuju lumen kelenjar, transport air dan
elektrolit menembus epitel lapisan kelenjar menuju lumen kelenjar
3.5 Faktor faktor yang mempengaruhi sekresi saliva
Faktor yang mempengaruhisekresi saliva antaralain :
1. Faktor Variasi Diurnal. Variasi di urnal merupakan proses yang kerja di dalam
tubuh manusia, antara lain terjadinya peningkatan Natrium dan Kloride pada pagi
hari, sedangkan Kalium akan meningkat pada siang hari.
2. Faktor Durasi Stimulus. Lamanya stimulus yang mengenai kelenjar saliva dapat
menyebabkan perubahan pada komponen saliva.
3. Faktor Tipe kelenjar.Setiap kelenjar memiliki tingkat penerimaan dan kepekaan
yang berbeda-beda, sehingga aliran dari jumlah salivanya pun berbeda-beda.
4. Faktor Diet. Diet berpengaruh terhadap perbedaan aliran saliva. Aktifitas
fungsional kelenjar saliva dipengaruhi oleh factor mekanis dan pengecapan
5. Faktor Konsentrasi plasma. Konsentrasi plasma berhubungan dengan konsentrasi
asam amino, kalsium, glukosa, kalium, urea, dan asam uric dalam saliva
6. Faktor hormone. Dapat berasal dari aldeosteron, hormone bradikinin, testosterone
dan tiroksin
7. Disfungsi kelenjar ludah. Dapat disebabkan oleh penyumbatan saluran, penyakit
iritasi kelenjar ludah, dan terapi radiasi.
8. Faktor umum. Faktor umum terbagi menjadi reflex tidak bersyarat dan reflex
bersyarat
a. Reflek tidak bersyarat menyangkut :
1) Rasa:pengaruh rasa yang ditimbulkan dari rangsangan sangat beragam,
sehingga memberikan efek stimulasinya terhadap aliran ludah pun berbedabeda.
2) Bau-Bau yang ditangkap oleh indra penciuman juga berpengaruh terhadap
sekresi saliva meskipun efeknya tidak terlalu besar.
3) Stimulasi mekanis terhadap mucosa mulut, dimana ketika kita mengunyah
makanan yang halus akan meningkatkan sekresi saliva jika dibandingkan
dengan makanan yang kasar yang dapat menyebabkan penurunan sekresi
saliva bahkan menyebabkan terhambatnya aliran saliva.
4) Iritasi mekanis terhadap gingiva seperti scaling gigi dan prosedur polishing
dapat mempengaruhi sekresi saliva.
5) Mastikasi makanan, pengunyahan makanan dapat meningkatkan impuls
sensorik, seperti dari stimulasi mekanis dari mukosa mulut, tekanan pada gigi
yang melibatkan reseptor periodontal, dan impuls dari sendi temporo
mandibular (TMJ) dan otot pengunyah.
6) Iritasi kimia terhadap mukosa mulut. Asam, terutama asam sitrat, sangat
menstimulasi aliran ludah, sehingga salivasinya pun meningkat, berikutnya
garam halus, dan rasa yang pahit.
7) Distensi atau iritasi esophagus, seperti benda asing.
8) Iritasi kronis terhadap esophagus seperti carcinoma esophagus.
9) Iritasi bahan kimia terhadap dinding perut yang mengakibatkan rasa mual.

10) Kehamilan, biasanya diikuti oleh meningkatnya aliranludah.


11) Obat (terutama dengan aktivitas anti cholinergic), contohnya atropine.
12) Gangguan endokrin, seperti diabetes mellitus, penyakit cushing, dan penyakit
Addison. Dimana orang yang menderita penyakit diabetes mellitus memiliki
saliva yang lebih kental jika dibandingkan dengan individu normal.
3.6 Kelainan Sekresi Saliva
Kelainan Sekresi Saliva adalah suatu keadaan abnormal dalam kelenjar saliva
yang dapat merujuk pada kondisi yang menyebabkan pembengkakan atau nyeri.
Terdapat beberapa kelainan pada kelenjar saliva antara lain:
1. Mucocele
Mucocele adalah Lesi pada mukosa (jaringan lunak) mulut yang
diakibatkan oleh pecahnya saluran kelenjar saliva dan keluarnya mucin ke
jaringan lunak di sekitarnya. Mucocele dapat terjadi pada bagian mukosa bukal,
anterior lidah, dan dasar mulut.
Etiologi
Umumnya disebabkan trauma, mis: bibir yang sering tergigit atau pukulan di
wajah.
Karena penyumbatan duktus (saluran) kelenjar liur minor.
Obat-obatan yang mempunyai efek mengentalkan ludah.
Gambaran Klinis
Batas tegas
konsistensi lunak
Ukuran biasanya kecil
Tidak ada keluhan sakit
Kadang-kadang pecah, hilang tapi tidak lama kemudian akan timbul lagi
Diagnosis
Melakukan anamnesa lengkap dan cermat secara visual
Bimanual palpasi intra & extraoral
Aspirasi
Melakukan pemeriksaan laboratories
Pemeriksaan radiologis dengan kontras media
Pemeriksaan mikroskopis, pemeriksaan biopsy
2. Ranula
Etiologi
Ranula terbentuk sebagai akibat normal melalui duktus ekskretorius major yang
membesar atau terputus.
Gambaran klinis
Bentuk dan rupa kista ini seperti perut kodok yang menggelembung keluar
Dinding sangat tipis dan mengkilap
Warna translucent
Kebiru-biruan
Palpasi ada fluktuasi
Tumbuh lambat dan expansif
3. Sialadenitis

Sialadenitis adalah infeksi bakteri dari glandula salivatorius, biasanya


disebababkan oleh hyposecretion kelenjar. Proses ini dapat bersifat akut dan
dapat menyebabkan pembentukan abses terutama sebagai akibat infeksi bakteri.
Etiologi
Sialadenitis biasanya terjadi setelah obstruksi hyposecretion atau saluran.
Sialadenitis paling sering terjadi pada kelenjar parotis dan biasanya terjadi pada
pasien dengan umur 50-an sampai 60-an, khususnya pada pasien sakit kronis
dengan xerostomia,dan pasien dengan sindrom Sjgren, dan pada mereka yang
melakukan terapi radiasi pada rongga mulut.
Organisme yang merupakan penyebab paling umum pada penyakit ini
adalah Staphylococcus aureus organisme lain meliputi Streptococcus, koli, dan
berbagai bakteri anaerob.
Gambaran klinis
Meliputi gumpalan lembut yang nyeri di pipi atau di bawah dagu, dan dalam
kasus yang parah penderita , demam, dan menggigil
4. Sjorgen syndrome
Sjorgen syndrome merupakan suatu penyakit auto imun yang ditandai oleh
produksi abnormal dari extra antibodi dalam darah yang diarahkan terhadap
berbagai jaringan tubuh. Ini merupakan suatu penyakit autoimun peradangan pada
kelenjar saliva yang dapat menyebabkan mulut kering dan bibir kering.
Gejala
Mulut kering
Susah menelan
Kerusakan gigi
Penyakit gingiva
Mulut luka dan pembengkakan
Infeksi pada kelenjar parotis bagian dalam pipi.
Etiologi
Penyebab sjorgen syndrome tidak diketahui, namun ada dukungan ilmiah
yang menyatakan bahwa penyakit ini adalah penyakit turunan atau adanya faktor
genetik, penyakit ini kadang-kadang ditemukan pada anggota keluarga lainnya.
Hal ini juga ditemukan lebih umum pada orang yang memiliki penyakit autoimun
lainnya seperti lupus, autoimun penyakit tiroid, diabetes, dll.
Diagnosis
Sjorgen syndrome dapat didiagnosis dengan cara biopsi
5. Sialorrhea
Sialorrhea adalah suatu kondisi medis yang detandai dengan menetesnya
air liur atau sekresi saliva yang berlebihan.
Etiologi
Penyebab dari sialorrhea dapat bevariasi berupa gejala dan gangguan
neurologis, infeksi atau keracunan logam berat dan insektisida serta efek samping
dari obat-obatan tertentu
6. Sialosis
Sialosis didefinisikan sebagai pembengkakan non-inflamasi dan nonneoplastik
dari kelenjar saliva. Paling sering mengenai kelenjar parotis biasanya

bilateral, tapi kadang-kadang juga mengenai kelenjar submandibularis dan


sublingualis.
Etiologi
Penyebab sialosis sering dihubungkan dengan sejumlah penyakit sistemik,
terutama diabetes melitus, akromegali, alkoholisme, malnutrisi, bulimia nervosa
dan anoreksia nervosa. Juga akibat efek samping sejumlah obat-obatan.
7. Sialometaplasia necrotic
Lesi pada kelenjar saliva yang bersifat nonneoplastik, peradangan yang
dapat sembuh dengan sendirinya, terutama mengenai kelenjar saliva yang terdapat
pada palatum.
Gejala klinis
Muncul secara spontan
Terdapat lesi dan pembengkakan
Ukuran maksimal 1-2 cm
Lesi bilateral atau unilateral
Burning sensation (sensasi terbakar)
Etiologi
Penyebab sialosis sering dihubungkan dengan sejumlah penyakit sistemik,
terutama diabetes melitus, akromegali, alkoholisme, malnutrisi, bulimia nervosa
dan anoreksia nervosa. Juga akibat efek samping sejumlah obat-obatan.
8. Sialolitiasis
Sialolitiasis merupakan pembatuan yang terjadi akibat pengendapan dari
bahan-bahan organic dan anorganik antara lain deposisi garam-garam kalsium
disekitar nidus organik yang terdiri dari alterasi musin-musin saliva bersama
dengan adanya deskuamasi sel-sel epitel, dekomposisi protein yang dihasilkan
oleh aktivitas bakteri dan mikroorganisme (infeksi akut).
Etiologi
Reaksi pengobatan.
Peradangan
Kelainan Sistemik
Gejala klinis
Mulut kering
Wajah membengkak
Rasa Sakit/Nyeri pada mulut
Mulut kemerahan
Pembengkakan pada mulut dan sekitarnya
Kesulitan Menelan
Pembengkakan pada leher
Kesulitan Membuka Mulut
Rasa Sakit/Nyeri pada leher dan wajah
9. Xerostomia
Adalah kekeringan mulut yang terjadi karena adanya gangguan fungsi
kelenjar saliva yang disebabkan oleh :
Factor Psikis
- Reaksi emosiolnal, secara proses faal mengganggu aliran saliva

- Dehidrasi, karena kehilangan banyak cairan tubuh ( diare,muntah)


Anomali
- Aplasia kelenjar saliva (kelenjar saliva tidak terbentuk)
Proses menua, karena atropi jaringan sekretorik dan mempengaruhi kecepatan
aliran saliva
Radiasi daerah leher dan kepala
Mengakibatkan rusaknya struktur kelenjar saliva dengan derajat kerusakan yang
berbeda-beda tergantung dari dosis dan lamanya penyinaran
Berkurangnya saliva menyebabkan mengeringnya selaput lendir, mukosa
mulut menjadi kering, mudah mengalami iritasi dan infeksi. Keadaan ini
disebabkan oleh karena tidak adanya daya lubrikasi infeksi dan proteksi dari
saliva (Amerongan, 1991; Kidd dan Bechal, 1992). Proses pengunyahan dan
penelanan, apalagi makanan yang membutuhkan pengunyahan yang banyak dan
makanan kering dan kental akan sulit dilakukan. Rasa pengecapan dan proses
bicara juga akan terganggu (Kidd dan Bechal,1992; Amerongan,1991; Son is dkk,
1995).
Kekeringan pada mulut menyebabkan fungsi pembersih dari saliva
berkurang, sehingga terjadi radang yang kronis dari selaput lendir yang disertai
keluhan mulut terasa seperti terbakar (Wall, 1990).
Pada penderita yang memakai gigi palsu, akan timbul masalah dalam hal
toleransi terhadap gigi palsu. Mukosa yang kering menyebabkan pemakaian gigi
palsu tidak menyenangkan, karena gagal untuk membentuk selapis tipis mukus
untuk tempat gigi palsu melayang pada permukaannya (Haskell dan
Gayford,1990). Selain itu karena turunnya tegangan permukaan antara mukosa
yang kering dengan permukaan gigi palsu (Kidd den Bechal,1992).
Susunan mikroflora mulut mengalami perubahan, dimana mikro
organisme kariogenik seperti streptokokus mutans, laktobacillus den candida
meningkat. Selain. itu, fungsi bakteriostase dari saliva berkurang. Akibatnya
pasien yang menderita mulut kering akan mengalami peningkatan proses karies
gigi, infeksi candida dan gingivitis (Amerongan,1991; Kidd dan Bechai,1992;
Sonis dkk,1995).
10. Sialorrhea (hipersalivasi)
Adalah suatu keadaan terjadinya sekresi saliva yang berlebihan. Sialorrhea
bukanlah suatu penyakit, tetapi suatu symptom dari banyak kelainan yang
berhubungan dengan kelenjar-kelenjar saliva, baik dalam keadaan local maupun
sistemik.
11. Mumps
Mumps ( Gondongan) adalah suatu infeksi paramyxovirus menular yang
menyebabkan pembengkakan pada kelenjar parotos, submandibula dan kelenjar
saliva lainnya yang disertai nyeri
12. Sialadenitis supuratif akut
Penyakit ini pertama kali dilaporkan pada tahun 1828. Sebagian besar
penyakit ini melibatkan kelenjar parotis, dan terkadang juga melibatkan kelenjar
submandibula. Seringnya terjadi keterlibatan kelenjar parotis dibandingkan
dengan kelenjar saliva lainnya disebabkan karena aktivitas bakteriostatis pada

kelenjar parotis lebih rendah dibandingkan pada kelenjar saliva lainnya.


Organisme penyebab infeksi dapat berupa Staphylococcus aureus,
Streptococcus pneumonia, Eschericia coli, serta Haemophylus influenzae. Bakteri
anaerob penyebab yang paling sering adalah Bacteroides melaninogenicus dan
Streptocccus micros
Sekresi Saliva
Mekanik
Sekresi kelenjar ludah, menurut Amerongen (1991), dapat dirangsang dengan caracara mekanis. Contohnya adalah dengan mengunyah. Sekresi saliva tanpa disertai
rangsang mengunyah adalah 0,03-0,05 ml/menit/glandula, sedangkan sekresi saliva
yang disertai dengan rangsang mengunyah dapat bervariasi atau lebih banyak. Pada
sebuah jurnal penelitian di sebutkan mengenai aliran saliva yang dirangsang dengan,
stimulasi mekanik dari bahan makanan buatan (chewing inert materials), atau
mengunyah makanan alami (natural foods), ditemukan bahwa konsistensi dan
volume makanan juga berpengaruh terhadap aliran saliva. Makanan yang
membutuhkan daya kunyah besar atau makanan yang rasanya cukup mencolok dapat
meningkatkan aliran saliva dan juga mengubah komposisinya.
Rangsangan mekanik seperti mengunyah dapat menimbulkan refleks saliva
sederhana (tidak terkondisi). Reflex saliva sederhana (tidak terkondisi) terjadi
sewaktu kemoreseptor atau reseptor tekanan di dalam rongga mulut berespons
terhadap adanya makanan. Sewaktu diaktifkan, reseptor-reseptor tersebut memulai
impuls di serat saraf aferen yang membawa informasi ke pusat saliva di medula
batang otak. Pusat saliva kemudian mengirim impuls melalui saraf otonom
ekstrinsik ke kelenjar saliva untuk meningkatkan sekresi saliva. Tindakan-tindakan
gigi mendorong sekresi saliva walaupun tidak terdapat makanan karena adanya
manipulasi terhadap reseptor tekanan yang terdapat di mulut.
Rangsang mekanik pada sekresi saliva juga berhubungan dengan fungsi saliva yaitu,
membantu proses pencernaan makanan. Pada saat mengunyah sekresi saliva lebih
banyak karena saliva mengandung enzim ptyalin (amilase ludah) dan lipase ludah
yang dikeluarkan untuk mengubah tepung dan glikogen menjadi kesatuan
karbohidrat yang lebih kecil. Selain itu juga berhubungan dengan fungsi saliva
sebagai self-cleansing. Pada orang yang memiliki kebiasaan mengunyah pada satu
sisi, sisi yang tidak digunakan cenderung akan lebih kotor daripada sisi yang
digunakan untuk mengunyah, ditandai dengan banyaknya akumulasi plak dan
biasanya banyak terbentuk karang gigi. Kondisi ini disebabkan karena gerakan
pengunyahan dan keberadaan makanan akan menstimulasi kelenjar saliva. Hal ini
juga menjelaskan mengapa pada saat orang sedang berpuasa mulut terasa kering,
karena hampir sama sekali tidak ada gerakan mengunyah dan tidak adanya makanan
yang merangsang keluarnya saliva.
Kimiawi
Selain mekanik, sekresi saliva juga dipengaruhi oleh factor kimiawi, seperti
rangsangan asam, manis, pedas atau pahit. Yang sering meningkatkan sekresi saliva

adalah rangsangan dalam bentuk asam. Makanan yang mengandung karbohidrat atau
asam yang sering dikonsumsi akan menyebabkan keasaman dalam mulut meningkat,
sedangkan jaringan gigi dapat larut dalam keadaan asam. Dalam hal ini saliva sangat
berperan dalam mengatur keasaman pH rongga mulut, di mana saliva bertindak
sebagai buffer.
Kapasitas buffer saliva merupakan faktor penting, yang memainkan peran dalam
pemeliharaan pH saliva, dan remineralisasi gigi. Kapasitas buffer saliva pada
dasarnya tergantung pada konsentrasi bikarbonat. Hal tersebut berkorelasi dengan
laju aliran saliva, pada saat laju aliran saliva menurun cenderung untuk menurunkan
kapasitas buffer dan meningkatkan resiko perkembangan karies.
Hasil percobaan pada suatu jurnal penelitian disebutkan bahwa rata-rata volume
saliva tertinggi di dapatkan setelah mendapat stimulasi dengan asam sitrun (1,4
ml/menit) sedangkan rata-rata volume saliva terendah terjadi pada saat tanpa
stimulasi/ kontrol (0,72 ml/menit) . Hasil yang di dapatkan pada percobaan ini
menguatkan teori bahwa stimuli asam dapat meningkatkan sekresi saliva secara
signifikan. Selain itu, komposisi dan jumlah saliva yang dihasilkan memang cukup
bergantung pada tipe dan intensitas stimulus, pada stimulus asam sitrun volume/
kapasitas sekresi saliva memiliki volume tertinggi dibandingkan yang lain. (tanpa
stimulasi: 0,4 ml/menit12; daya pengunyahan: 0,85 ml/menit7; asam sitrun: 1,7
ml/menit7,12).
Definisi
Saliva merupakan cairan yang disekreksikan ke dalam rongga mulut oleh tiga
pasang kelenjar liur mayor (parotis, submandibula, dan sublingual), kelenjar liur
minor, serta cairan dari sulkus gingiva. Saliva memiliki aksi proteksi terhadap karies
gigi dan karakteristik ini bergantung terutama pada aksi pembersihan mekanis dan
netralisasi asam plak melalui sistem dapar.
Kondisi saliva di dalam rongga mulut bisa berada dalam keadaan tidak terstimulasi
atau dalam keadaan terstimulasi. Saliva tidak terstimulasi adalah saliva yang
disekresikan ke dalam rongga mulut tanpa adanya rangsang dari luar seperti rasa
atau aktivitas mengunyah. Sedangkan saliva terstimulasi adalah saliva yang
disekresikan sebagai respon terhadap rangsang dari luar. Jumlah total saliva yang
disekskresikan mencapai 500-1200 ml/hari. Setengah dari jumlah tersebut
dihasilkan pada keadaan istirahat dan sisanya dihasilkan di bawah pengaruh
rangsang.
Komposisi
Kandungan air di dalam saliva mencapai 99%, sementara sisanya berupa komponen
yang tersusun atas bahan organik, bahan anorganik, dan molekulmolekul makro,
termasuk bahan-bahan antimikroba. Komponen-komponen tersebut berfungsi untuk
menjaga integritas jaringan di dalam rongga mulut. Komposisi dari masing-masing
komponen penyusun saliva berbeda-beda pada setiap individu, bergantung kepada
jenis kelenjar yang menghasilkannya; macam, lama, dan jenis rangsang; kecepatan
aliran saliva, makanan, ritme biologi, obatobatan, dan beberapa penyakit tertentu
yang dapat mempengaruhi saliva. Bahan organik yang menyusun saliva terdiri dari
urea, glukosa bebas,

asam amino bebas, asam lemak, dan laktat. Sementara itu bahan anorganik saliva
terdiri dari sejumlah besar kalsium (Ca2+), klorida (Cl-), bikarbonat (HCO3 -),
natrium (Na+), kalium (K+), amonium (NH4 +), dan asam fosfat (H2PO4 dan
HPO4 2-); serta sedikit magnesium (Mg2+), sulfat, iodida, dan fluoride (F-).
Sedangkan makromolekul penyusun saliva terdiri dari protein, gula glikoprotein,
lemak (kolesterol, trigliserida, lesitin, dan fosfolipid), amilase, lisozim, peroksidase,
dan imunoglobulin (IgA, IgG, dan IgM).
Fungsi
Saliva di dalam rongga mulut berfungsi tidak hanya membantu dalam pengunyahan,
tetapi juga memiliki aksi pelindung, yaitu menjaga kesehatan gigi dan mulut.8
Saliva melindungi jaringan di dalam rongga mulut melalui pembersihan mekanis,
melapisi setiap jaringan di dalam rongga mulut, pengaruh dapar, dan aktivitas
antibakteri
Viskositas Saliva
Viskositas saliva dipengaruhi oleh musin karena adanya glikoprotein bermolekul
tinggi di dalamnya. Musin ini berasal dari sel-sel asinar kelenjar saliva dan tidak
dijumpai di dalam sel-sel asinar serus dan sel-sel asinar duktus. Selain
mempengaruhi viskositas saliva, musin juga berfungsi dalam mempermudah
penelanan dan angkutan makanan, membasahi permukaan gigi dan mukosa sehingga
terhindar dari kekeringan, mempermudah artikulasi, serta melindungi mukosa
terhadap infeksi bakteri dengan pembentukan lapisan lendir yang sukar ditembus
dan dirusak oleh bakteri-bakteri.
Dalam keadaan istirahat, viskositas saliva sebaiknya dalam keadaan kental dan dapat
mengalir agar dapat bertahan cukup lama di dalam rongga mulut.
Sedangkan dalam keadaan berfungsi, viskositas saliva sebaiknya dalam keadaan
encer dan dapat mengalir agar dapat memberikan lubrikasi yang baik di dalam
rongga mulut.
Kecepatan Aliran Saliva
Kecepatan aliran saliva menunjukkan variasi diurnal dengan kecepatan tertinggi
terjadi pada saat siang hari dan kecepatan terendah pada saat tidur. Pada saat tidur,
kelenjar saliva mayor sebenarnya tidak mengeluarkan saliva. Untuk menjaga
lubrikasi mukosa di dalam rongga mulut pada malam hari, tubuh hanya
memanfaatkan saliva yang dikeluarkan oleh kelenjar saliva minor.
Dalam keadaan normal, kecepatan aliran saliva berada dalam rentang 0,3- 0,4
ml/menit ketika saliva tidak terstimulasi. Beberapa faktor yang berperan dalam
mempengaruhi kecepatan aliran saliva saat tidak terstimulasi adalah derajat hidrasi,
posisi tubuh, pemaparan terhadap cahaya, stimulasi sebelumnya, ritme biologis, dan
obat-obatan.
Sementara itu, kecepatan aliran saliva ketika terstimulasi akan meningkat, yaitu
berada dalam rentang 1,5-2 ml/menit. Faktor-faktor yang dapat mempengaruhi
kecepatan aliran saliva saat terstimulasi adalah asal stimulus, pengunyahan, muntah,
merokok, ukuran kelenjar saliva, indera penciuman dan pengecapan, asupan
makanan, faktor emosi-psikis, dan usia.
Kecepatan aliran saliva dapat mempengaruhi aksi proteksi saliva. Stimulasi kelenjar
saliva melalui pengunyahan dapat meningkatkan kecepatan aliran saliva sehingga

mendukung pembersihan makanan dari mulut. Semakin cepat aliran saliva, semakin
cepat karbohidrat dapat dibersihkan dari dalam rongga mulut serta semakin efektif
saliva dalam mengurangi demineralisasi dan meningkatkan remineralisasi gigi.
Selain itu, konsentrasi berbagai komponen dalam saliva juga dapat dipengaruhi oleh
kecepatan aliran saliva. Konsentrasi amilase, natrium, klorida, dan bikarbonat
berbanding lurus dengan kecepatan aliran saliva, sedangkan konsentrasi kalium,
fosfor, dan sekret IgA berbanding terbalik dengan kecepatan aliran saliva.
Dengan demikian, jika kecepatan aliran saliva rendah, kemampuan saliva dalam
membersihkan rongga mulut terhadap susbtrat makanan kariogenik akan menurun.
Selain itu, jumlah dapar di dalam saliva juga akan menurun sehingga kemampuan
saliva dalam menetralisasi asam organik yang terbentuk dari fermentasi gula juga
akan berkurang.
Kapasitas Dapar dan pH Saliva
Kapasitas dapar dan pH saliva dapat dipengaruhi oleh susunan kuantitatif dan
kualitatif elektrolit dalam saliva itu sendiri. Perbandingan antara asam dan konjugasi
basanya, terutama konsentrasi bikarbonat saliva, akan menentukan nilai pH dan
kapasitas dapar saliva.22
Dalam kondisi normal, pH saliva tidak terstimulasi memiliki nilai rata-rata 6,7
dalam rentang berada di antara 6,4 sampai dengan 6,9. Konsentrasi bikarbonat pada
saliva yang tidak terstimulasi tidak begitu besar, paling tinggi hanya mencapai 50%
dari kapasitas dapar total; sedangkan konsentrasi bikarbonat pada saliva terstimulasi
cukup besar, mencapai 85% dari keseluruhan kapasitas dapar saliva.
Beberapa faktor yang dapat mempengaruhi nilai pH saliva antara lain:
a. Diet (makanan)
Adanya material eksogen berupa karbohidrat yang dapat difermentasi dengan cepat
seperti gula dapat menurunkan kapasitas dapar saliva sehingga metabolisme bakteri
dalam menghasilkan asam akan meningkat. Sedangkan makanan yang kaya akan
protein memiliki efek yang dapat meningkatkan kapasitas dapar saliva melalui
pengeluaran zat-zat basa seperti amonia.
b. Penurunan kapasitas dapar saliva
Penurunan kapasitas dapar dapat terjadi pada orang tua, penderita penyakit sistemik,
dan pengguna obat-obatan tertentu. Selain itu, kapasitas dapar dan sekresi saliva
pada wanita biasanya lebih rendah dibandingkan pada pria.
c. Ritme biologis (irama siang-malam)
Kapasitas dapar dan pH saliva yang tidak terstimulasi memiliki nilai terendah pada
saat tidur dan nilai tertinggi saat segera setelah bangun, kemudian nilai ini bervariasi
setelahnya. Sedangkan pada kapasitas dapar dan pH saliva yang terstimulasi, jam
setelah stimulasi keduanya memiliki nilai paling tinggi, dan dalam kurun waktu 3060 menit kemudian akan kembali turun. Kapasitas dapar saliva berperan dalam
menetralisasi asam plak. Besarnya kapasitas dapar dalam saliva tergantung oleh
beberapa faktor, yaitu:
1. Bikarbonat
Bikarbonat merupakan ion dapar terpenting di dalam saliva dan ion ini akan
menentukan sebagian besar kapasitas dapar dan derajat asam saliva. Pada saliva
terstimulasi, ion ini menghasilkan 85% dari keseluruhan kapasitas dapar saliva.

2. Kalsium dan fosfat


Ion kalsium dan fosfat menjaga saturasi saliva terhadap mineral gigi. Oleh karena
itu, ion-ion ini penting dalam melindungi gigi terhadap perkembangan karies. Sistem
fosfat menghasilkan 15% dari keseluruhan kapasitas dapar saliva. Namun sistem
fosfat ini tidak berperan besar terhadap kapasitas dapar pada keadaan saliva
terstimulasi karena konsentrasi fosfat menurun pada kecepatan aliran saliva yang
tinggi. Sistem fosfat memberikan kapasitas dapar paling signifikan pada saat saliva
tidak terstimulasi dan di awal pemaparan asam.
3. Protein

Konsentrasi protein di dalam saliva hanya 1/30 dari plasma sehingga terlalu sedikit
asam amino yang dapat memberi efek dapar yang signifikan pada pH normal di
rongga mulut. Kandungan protein di dalam saliva hanya merupakan tambahan
sekunder pada kapasitas dapar saliva melalui efek alkali dan penghancuran
enzimatik terhadap bakteri di dalam rongga mulut.
4. Urea
Kandungan urea di dalam saliva dapat digunakan oleh mikroorganisme di dalam
rongga mulut untuk menghasilkan amonia. Produksi amonia ini dapat menetralkan
hasil akhir metabolisme bakteri sehingga pH dapat meningkat.