Anda di halaman 1dari 10

LAPORAN PRAKTIKUM FITOKIMIA

Uji KLT Dengan Berbagai Eluen

Oleh Kelompok A2
Otniel Aji Yogatama
Fadhila Putri Imananta
Rizcha Anastasia W
Luh Anindya Savira L
Niela Rizki Amalia
Almas Mazaya Husna

135070500111015
135070507011116
135070500111008
135070500111026
135070507111002
135070507111011

PROGRAM STUDI FARMASI


FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS BRAWIJAYA
MALANG
2015
BAB I

PENDAHULUAN

1.1.

Tujuan Praktikum
Tujuan dilaksanakannya praktikum uji KLT dengan berbagai eluen yaitu agar mahasiswa
mampu menjelaskan tentang kaitan antara polaritas eluen dengan harga Rf.
1.2.

Tinjauan Pustaka
Kromatografi adalah metode pemisahan fisik, dimana komponen komponen yang
dipisahkan didistribusikan diantara dua fasa. Fasa pertama yaitu suatu lapisan stasioner (fasa
diam) dengan permukaan yang luas dan fasakeua sebagai fluida yang mengalir lembut
disepanjang landasan stasioner (fasa bergerak) Fase stasioner dapat berupa cairan atau padatan,
sedangkan fasa bergerak dapat berupa cairan maupun gas (Day and Underwood, 2002).
Kromatografi memisahkan campuran berdasarkan perbedaan afinitasnya (Sumawinata, 2011).
Kromatogafi Lapis Tipis (KLT) atau Thin Layer Chromatography (TLC) merupakan
kromatografi yang fase stasionernya berupa lapisan tipis atau suatu absorban misalnya silica gel,
dilapiskan pada pelat dan fase geraknya adalah suatu pelarut (eluen) campur. Sampel ditotolkan
pada plat, kemudian plat diberdirikan dengan ujug bawah pada pelarut campur. Ketika pelarut
naik akbiat aksi kapiler pada absorben, komponen sampel terbawa dengan kecepatan yang
berbeda dan dapat dilihat sebagai deretan titik-titik setelah pelat dikeringkan dan dilihat dibawah
sinar UV (Sumawinata, 2011).
Senyawa piperin(C17H19NO3) merupakan golongan senyawa alkaloid, senyawa ini termasuk
basa tidak optis aktif, terbentuk Kristal berwarna kuning, sedikit larut dalam air, larut dalam
alkohol, eter, dan benzene. Apabila piperin terhidrolisis akan menjadi piperidin dan asam piperat,
mempunyai berat molekul 285, 3377, titik lebur 128-132oC, titik didih 498, 524oC, kelarutan air
40mg/L(18oC). pelarut yang digunakan untuk piperin merupakan pelarut non polar. Dimana
pelarut non polar akan melarutkan zat yang non polar (Istiqomah, 2013).

Etil asetat atau asetic ester (C4H8O2) memiliki Kd 6,11 yang menunjukkan bahwa etil asetat
merupakan senyawa yang non polar. Senyawa ini dapat melarutkan senyawa yang non polar. Memiliki
berat molekul 88,1. Senyawa ini biasa digunakan sebagai pelarut atau sebagai flavoring agent (perasa),
memiliki titik didh 77C dengan massa jenis 0,0902 g/cm3 pada suhu 20C, titik beku -83,6C, memiliki
konstanta dielektrik 6,11.etil asetat larut dalam 10 bagian air pada suhu 25C, tetapi lebih larut pada
temperature yang rendah. Dapat dicampur dengan aseton, klorofrom, diklorometana, etanol (957), eter,
dan beberapa pelarut organik (Rowe, 2009).

Toluen atau C6H5CH3 memiliki Kd sebesar 2,379 sehingga merupakan senyawa yang non polar.
Senyawa ini dapat melarutkan senyawa yang non polar. Memiliki bobot 0,860 gram sampai 0,865
gram /ml3, mudah terbakar,kelarutannya praktis tidak larut dalam air, dapat bercampur dengan etanol
mutlak P. jarak didihnya tidak kurang dari 95% tersuling pada sushu antara 109C dan 111C (Depkes RI,
1979).

Pemilihan eluen didasarkan pada polaritas senyawa, biasanya eluen yang digunakan
merupakan campuran dari beberapa cairan yang berbeda polaritas. Kepolaran eluen akan
mempengaruhi nilai Rf yaitu perbandingan antara jarak akhir komponen (dilihat di bawah sinar
UV) dan jarak tempuh eluen atau jarak media elusi. Sampel yang memiliki nilai Rf besar maka
memiliki kepolaran yang rendah. Hal tersebut karena senyawa yang lebih polar akan tertahan
kuat pada fasa diam (sampel tertahan pada fase diam yang bersifat polar) sehingga mehasilkan
nilai Rf yang rendah. Rf pada KLT yang baikyaitu sekitar 0,2-0,8 yang jika nilainya di bawa 0,2
maka dapat diatasi dengan mengurangi kepolaran dari eluennya dan apabila nilainya lebih dari
0,8 maka dapat diatasi dengan penambahan kepolaran pada eluen yang akan digunakan (Ewing
Galen Wood, 1985).
Kapasitas elusi (kekuatan solven) pelarut didefinisikan sebagai kemampuan untuk
memindahkan solut tertentu. Kekuatan elusi lebih tinggi jika pergerakan solut tinggi. Namun,
kekuatan elusi juga bergantung pada sorben dan karakter kimiawi solut. Solven yang disukai
dalam KLT adalah solven dengan titik didih rendah, viskositas rendah, dan toksisitas rendah.
Titik didih yang rendah membantu evaporasi fase gerak dari permukaan lapisan, sedangkan
pelarut yang viskos akan memperlambat waktu pengembangan dan bentuk spot yang lebih
terdifusi (Fried, 1996).
Konstanta dielektrik pelarut campur atau suatu eluen dapat ditentukan berdasarkan konstanta
dielektrik pelarut campur dengan rumus sbb (Tim Pengajar Farmasi Fisik, 2014) :
(V 1 xKd 1 )+ ( V 2 xKd 2 ) +.
Kd Pelarut Campur =
V 1+V 2. ...
Pada praktikum uji KLT dengan berbagai eluen ini digunakan 3macam perbandingan pelarut
campur yaitu antara Toluen dan Etil Asetat. Dari nilai Kd Toluen 2,379 dan Kd Etil Asetat 6,11
maka dapat dihitung Kd pelarut campur sebagai berikut:
Toluen : Etil Asetat = 70:3
Vol toluen = 9,59ml ; Vol Etil Asetat = 0,41ml
Kd=

( 9,59 x 2,379 )+(0,41 x 6,11)


=2,532
10

Toluen : Etil Asetat = 70:30


Vol toluen = 7ml ; Vol Etil Asetat = 3ml

Kd=

( 7 x 2,379 )+(3 x 6,11)


=3,4983
10

Toluen : Etil Asetat = 35:3


Vol toluen = 9,21ml ; Vol Etil Asetat = 0,79ml
Kd=

( 9,21 x 2,379 )+(0,79 x 6,11)


=2,674
10

BAB II
METODE

2.1. Alat dan Bahan


Alat yang digunakan pada praktikum uji KLT dengan berbagai eluen yaitu beaker glass, plat
KLT (silica gell), pipa kapiler, chamber, kaca penutup chamber, semprotan penampak noda atau
sinar UV, penggaris bening, pensil 2B, pinset, pemanas, dan kertas saring. Sedangkan bahan
yang digunakan pada uji KLT dengan berbagai eluen yaitu senyawa piperin, kloroform, toluene,
etil asetat, reagen vanillin asam sulfat.
2.2. Prosedur Kerja
Plat KLT (Silica gell)

Piperin
Diambil sedikit

Digunting dengan ukuran 2x10cm sebanyak 3 buah

Dilarutkan dengan kloroform

Diberi tanda batas bawah dan atas

Hasil

Hasil

Larutan piperin ditotolkan pada setiap KLT tepat pada batas bawah
Hasil
Chamber A
Ditambahkan toluen 9,59ml
Ditambahkan 0,41ml etil
asetal
Dimasukkan kertas saring
Ditutup dg kaca penutup,
ditunggu hingga jenuh yang
di tandai dg sdh terbasahinya
kertas saring scr keseluruhan
Kertas saring dikeluarkan
Hasil

1plat dimasukkan ke dalam


chamber menggunakan

Chamber B
Ditambahkan toluen 7ml
Ditambahkan etil asetal 3ml
Dimasukkan kertas saring
Ditutup dg kaca penutup,
ditunggu hingga jenuh yang
di tandai dg sdh terbasahinya
kertas saring scr keseluruhan
Kertas saring dikeluarkan
Hasil

1plat dimasukkan ke dalam


chamber menggunakan

Chamber C
Ditambahkan toluen 9,21ml
Ditambahkan etil asetal 0,79
Dimasukkan kertas saring
Ditutup dg kaca penutup,
ditunggu hingga jenuh yang di
tandai dg sdh terbasahinya
kertas saring scr keseluruhan
Kertas saring dikeluarkan
Hasil

1plat dimasukkan ke dalam


chamber menggunakan pinset,

pinset, ditutup, diamati


hingga terelusi hingga batas
atas pd plat
Plat dikeluarkan dr chamber
dan dibiarkan kering terlebih
dahulu
Disemprot dengan reagen
vanilin asam sulfat
Dipanaskan pd 100C slm
10menit
Dilihat di bawah sinar UV
254 nm dan 365nm
Di ukur jarak noda dari batas
bawah
Hasil

pinset, ditutup, diamati


hingga terelusi hingga batas
atas pd plat
Plat dikeluarkan dr
chamber dan dibiarkan
kering terlebih dahulu
Disemprot dengan reagen
vanilin asam sulfat
Dipanaskan pd 100C slm
10menit
Dilihat di bawah sinar UV
254 nm dan 365nm
Di ukur jarak noda dari
batas bawah
Hasil

ditutup, diamati hingga terelusi


hingga batas atas pd plat
Plat dikeluarkan dr chamber
dan dibiarkan kering terlebih
dahulu
Disemprot dengan reagen
vanilin asam sulfat
Dipanaskan pd 100C slm
10menit
Dilihat di bawah sinar UV 254
nm dan 365nm
Di ukur jarak noda dari batas
bawah
Hasil

BAB III
HASIL

3.1. Pengamatan KLT dan Perhitungan Rf


Foto Plat KLT dengan sinar UV 366
Foto Plat KLT dengan sinar UV 254

A A
CC

BB

1. Plat pada Chamber A


254 jarak migrasi noda dari batas bawah 0,5cm

Rf =

0,5
=0,0625
8

366 jarak migrasi noda dari batas bawah 5,3cm

Rf =

5,3
=0,6625
8

2. Plat pada chamber B


254 jarak migrasi noda dari batas bawah 3,4cm

Rf =

3,4
=0,425
8

366 jarak migrasi noda dari batas bawah 7,4cm

Rf =

7,4
=0,925
8

3. Plat pada chamber C


254 jarak migrasi noda dari batas bawah 1,25cm

Rf =

1,25
=0,15625
8

366 jarak migrasi noda dari batas bawah 6,5cm

Rf =

3.2. Lempeng Plat KLT

6,5
=0,8125
8

BAB IV
PEMBAHASAN

Piperin merupakan senyawa non polar dimana senyawa non polar dapat larut pada pelarut non
polar, semi polar dan polar. Pada praktikum kali ini peperin digunakan sebagai sampel yang akan di uji
pada KLT. Sedangkan pelarut yang digunakan pada praktikum kali ini yaitu toluen dan etil asetat. Dimana
toluen memiliki nilai Kd 2,379 , nilai tersebut mengindikasikan bahwa toluen termasuk senyawa non
polar. Sedangkan pelarut yang kedua yaitu etil asetat memiliki Kd 6,11 yang mengindekasikan bahwa etil
asetat lebih polar dari pada toluen. Pada praktikum kali ini toluen dan etil asetat dikombinasikan untuk
mendapatkan Kd pelarut yang sesuai sehingga menghasilkan nilai Rf yang baik yaitu 0,2-0,8. Kombinasi
toluen dan etil asetat yang digunakan tigas jenis perbandingan yaitu 70:3 ; 70:30 ; dan 35:5. Dari ketiga
kombinasi tersebut dilakukan perhitungan nilai Kd, dengan nilai Kd perbandingan 70:3 didapatkan
sebesar 2,532, perbandingan 70:30 didapatkan sebesar 3,4983, perbandingan 35:5 didapatkan sebesar
2,674. Setelah dilakukan perhitungan nilai Kd, maka dapat disimpulkan bahwa dapat disimpulkan eluen
campuran antara toluen dengan etil asetat yang memiliki nilai kepolaran paling tinggi yaitu perbandingan
70:30. Sesuai dengan teori like desolve like, dimana kombinasi eluen toluen dan etil asetat melarutkan
piperin.
Dari tiga macam perbandingan kombinasi antara toluen dengan etil asetat menghasilkan nilai Rf
yang berbeda-beda setelah dilihat di bawah sinar UV dengan 366 dan 254. Pada perbandingan 70:3
dihasilkan nilai Rf 254 sebesar 0,0625 dan 366 sebesar 0,6625; pada perbandingan 70:30 dihasilkan
nilai Rf 254 sebesar 0,425 dan 366 sebesar 0,925; padaperbandingan 35:5 dihasilkan nilai Rf 254
sebesar 0,15625 dan 366 sebesar 0,8125. Dari nilai Rf yang didapatkan dapat disimpulkan bahwa
perbandingan 70:30 menghasilkan nilai Rf yang mendekati baik. Apabila nilai Rf terlalu rendah (<0,20)
maka dapat ditambahkan pelarut polar untuk menambah kepolaran dari pelarut tersebut.

BAB V
KESIMPULAN
Dari percobaan yang telah dilakukan untuk mengetahui pengaruh eluen pada uji KLT ini dapat
disimpulkan bahwa kombinasi pelarut campur antara toluen dan etil asetat yang menghasilkan nilai Rf
yang paling baik yaitu perbandingan 70:30 yang memiliki nilai kd pelarut campur yaitu 3,4983 dan
dengan perbandingan ini dihasilkan nilai Rf sebesar 254 sebesar 0,425 dan 366 sebesar 0,925.

DAFTAR PUSTAKA

Day, R.A Jr and Underwood. 2006. Analisis Kimia Kuantitatif Ed Keenam. Erlangga, Jakarta
Depkes, RI. 1979. Farmakope Indonesia III. Depkes RI, Jakarta
Edwin, Galen Wood. 1985. Instrumental of Chemical Analysis Fifth Ed. McGraw Hill, Singapore
Fried, B., Sherma, J. 1996. Instrumental of Chemical Analysis 5th Edition. McGraw-Hill, Singapore.
Istiqomah. 2013. Perbandingan Metode Ekstraksi Maserasi Dan Sokletasi Terhadap Kadar
Piperin Uah Cabe Jawa. UIN syarif Hidayatullah , Jakarta
Rowe, Raymond. 2009. Handbook of Pharmaceutical Excipients ed 6th. Pharmacetical Press, London
Sumawinata, nartan drg. 2011. Senarai Istilah Kedokteran Gigi. EGC, Jakarta
Tim Pengajar Farmasi Fisik. 2014. Petunjuk Praktikum Farmasi Fisik. PSF FK UB, Malang