Anda di halaman 1dari 43

1

BAB I
PENDAHULUAN

A.

Latar Belakang
Di banyak negara yang sedang berkembang, penyakit tidak menular

(PTM) seperti penyakit jantung, kanker dan depresi akan segera menggantikan
penyakit menular dan malnutrisi sebagai penyebab kematian dan disabilitas.
Hasil Riset Kesehatan Dasar yang dilakukan di Indonesia menunjukkan bahwa
proporsi penyebab

kematian

tertinggi

adalah

PTM, yaitu

penyakit

kardiovaskuler 31,9% termasuk hipertensi 6,8% dan stroke 15,4%


(Riskesdas,2007)
Menurut WHO dan the International Society of Hypertension (ISH), saat
ini terdapat 600 juta penderita hipertensi di seluruh dunia, dan 3 juta di
antaranya meninggal setiap tahunnya. Tujuh dari setiap 10 penderita tersebut
tidak mendapatkan pengobatan secara adekuat. (Rahajeng,2009)
Berdasarkan hasil survei Dinkes Propinsi Jawa Timur pada tahun 2008
Hipertensi merupakan

penyakit terbanyak peringkat ke-3 di puskesmas

sentinel dengan angka 11,77 %, pada tahun 2009 naik ke peringkat 2 dengan
angka 17,39%, pada tahun 2010 turun lagi ke peringkat 3 dengan angka
12,41%. (Dinkes Jatim,2008)
Di posyandu lansia Dusun Buntut Desa Mojoruntut Kecamatan
Krembung Sidoarjo, sekitar 80% lansia yang berkunjung mengalami

hipertensi. Ditempat tersebut pernah diadakan program senam lansia tapi tidak
berjalan. (Sidoarjo,2013)
Hipertensi adalah apabila tekanan darah sistolik > 140 mmHg dan
atau tekanan darah diastolik > 90 mmHg. (Kuswardhani,2006)
Hipertensi dikelompokkan menjadi dua, yaitu Hipertensi esensial atau
idiopatik, dan hipertensi sekunder. Hipertensi essensial merupakan 95% dari
semua kasus hipertensi dan masih dicari etiologinya. Beberapa faktor
dikemukakan

relevan terhadap mekanisme penyebab hipertensi, yaitu

Genetik, Jenis kelamin, Usia, Natrium, Obesitas, Perokok, Aktivitas Fisik, dan
Stress. Hipertensi sekunder sekitar 5% telah diketahui penyebabnya dan dapat
dikelompokkan menjadi: penyakit parenkim ginjal 3%, penyakit renovaskuler
1%, Endokrin 1%. ( Gray,2005)
Olahraga yang teratur berkaitan dengan penurunan penyakit jantung
koroner sebesar 20-40%. (Gray,2005)

B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang tersebut maka rumusan masalah yang
dikemukakan adalah apakah ada hubungan aktivitas fisik dengan kejadian
hipertensi para lanjut usia di Dusun Buntut, Desa Mojoruntut Kecamatan
Krembung, Sidoarjo, bulan oktober tahun 2013 ?

C. Tujuan
1. Tujuan Umum
Menganalisis hubungan antara aktivitas fisik dengan kejadian hipertensi
para lanjut usia di Dusun Buntut, Desa Mojoruntut Kecamatan Krembung
Sidoarjo, bulan oktober tahun 2013.
2. Tujuan Khusus
1. Mengidentifikasi aktivitas fisik para lanjut usia di Desa Mojoruntut
Kecamatan Krembung Sidoarjo.
2. Mengidentifikasi kejadian hipertensi para lanjut usia di Desa
Mojoruntut Kecamatan Krembung Sidoarjo.
3. Menganalisis hubungan aktivitas fisik para lanjut usia dan kejadian
hipertensi para lanjut usia di Desa Mojoruntut Kecamatan Krembung
Sidoarjo.

D. Manfaat Penelitian
1. Bagi Masyarakat,
a. Masyarakat bisa mengerti tentang apa saja yang menjadi penyebab
hipertensi sehingga dapat mencegahnya.
b. Masyarakat bisa mengetahui hubungan kegiatan fisik dengan
angka kejadian hipertensi.
2. Bagi Puskesmas Kecamatan Krembung, sebagai masukan untuk
penyusunan kebijakan dan program pembangunan kesehatan atau
merumuskan program baru.

3. Bagi Institusi Fakultas Kedokteran Wijaya Kusuma Surabaya, sebagai


masukan untuk pengembangan ilmu pengetahuan khususnya Ilmu
Kedokteran Komunitas.
4. Bagi peneliti, untuk menambah ilmu pengetahuan dan pengalaman
lapangan, serta sebagai kewajiban dalam menyelesaikan tugas Ilmu
Kedokteran Komunitas.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Definisi Hipertensi
Hipertensi adalah tidak berubah

sesuai dengan umur. tekanan

darah

sistolik (TDS) > 140 mmHg dan/ atau tekanan darah diastolik (TDD) >
90 mmHg. The joint National Committee on Prevention, Detection,
Evaluation, and treatment of High Bloodpressure (JNC VI)

dan

WHO/lnternational Society of Hypertension guidelines subcommittees


setuju bahwa TDS & keduanya digunakan untuk klasifikasi hipertensi.
(Kuswardhani,2006)
Hipertensi dikelompokkan menjadi dua, yaitu Hipertensi esensial atau
idiopatik, dan hipertensi sekunder. Hipertensi essensial merupakan 95% dari
semua kasus hipertensi dan masih dicari etiologinya. Beberapa faktor
dikemukakan relevan terhadap mekanisme penyebab hipertensi, yaitu Genetik,
Jenis kelamin, Usia, Natrium, Obesitas, Perokok, Aktivitas Fisik, dan
Stress.Hipertensi sekunder sekitar 5% telah diketahui penyebabnya dan dapat
dikelompokkan menjadi: penyakit parenkim ginjal 3%, penyakit renovaskuler
1%, Endokrin 1%. (Gray,2005)
Hipertensi dengan peningkatan tekanan sistol tanpa disertai peningkatan
diastole lebih sering pada lansia, sedangkan hipertensi dengan peningkatan
diastole tanpa sistol sering terjadi pada dewasa muda (Tambayong,2000)

Olahraga atau senam hipertensi adalah bagian dari usaha untuk


mengurangi berat badan dan mengelola stress dua faktor yang mempertinggi
hipertensi. Pada tahun 1993. American Collage of Sport Medicine (ACSM)
menganjurkan latihan-latihan aerobic (olahraga ketahanan) yang teratur serta
cukup takarannya untuk mencegah risiko hipertensi. Dengan melakukan
gerakan yang tepat selama 30-40 menit atau lebih sebanyak 3-4 hari
perminggu, dapat menurunkan tekanan darah sebanyak 10 mmHg pada bacaan
sistolik dan diastolik. Menurut American Society of Hypertension (ASH),
pengertian

hipertensi

adalah

suatu

sindrom

atau

kumpulan

gejala

kardiovaskuler yang progresif, sebagai akibat dari kondisi lain yang kompleks
dan saling berhubungan. (Informasi Lengkap Untuk Penderita Dan Keluarga
Hipertensi,2008)
Olahraga yang teratur berkaitan dengan penurunan penyakit jantung
koroner sebesar 20-40%. (Gray,2005)
B. Epidemiologi
Walaupun peningkatan tekanan darah bukan merupakan bagian normal
dari ketuaan, insiden hipertensi pada lanjut usia adalah tinggi. Setelah umur
69 tahun, prevalensi hipertensi meningkat sampai 50%. Pada tahun 19881991 National Health

and Nutrition Examination Survey menemukan

prevalensi hipertensi pada kelompok umur 65-74 tahun sebagai berikut:


prevalensi keseluruhan 49,6% untuk hipertensi derajat 1 (140-159/90-99
mmHg), 18,2% untuk hipertensi derajat 2 (160-179/100-109 mmHg), dan
6.5% untuk hipertensi derajat 3 (>180/110 mmHg). Ditengarai bahwa

hipertensi sebagai faktor risiko pada lanjut usia. Pada studi individu dengan
usia a 50 tahun mempunyai tekanan darah sistolik terisolasi sangat rentan
terhadap kejadian penyakit kardiovaskuler. (Kuswardhani,2006)
Diperkirakan 50 juta orang dewasa amerika serikat menderita hipertensi.
Hipertensi merupakan factor resiko untuk arteri koroner, gagal jantung kongestif,
stroke dan gagal ginjal. Orang Amerika keturunan Afrika cenderung menderita
hipetensi lebih berat dan pada usia yang lebih dini, serta memiliki resiko stroke
dan infark miokard dua kali lebih besar disbanding dengan orang kulit putih.
(Brashers,2008)

C. Patofisiologi
Baik TDS maupun TDD meningkat sesuai dengan meningkatnya umur.

TDS meningkat secara progresif sampai umur 70-80 tahun, sedangkan TDD
meningkat samapi umur 50-60 tahun dan kemudian cenderung menetap
atau

sedikit menurun. Kombinasi

mencerminkan

adanya

perubahan ini

pengakuan pembuluh

sangat mungkin

darah`dan

penurunan

kelenturan arteri dan ini mengakibatkan peningkatan tekanan nadi sesuai


dengan umur. Scperti diketahui, takanan nadi merupakan predictok terbaik
dari adanya perubahan struktural di dalam arteri. Mekanisme pasti hipertensi
pada lanjut usia belum sepenuhnya jelas. Efek utama dari ketuaan
normal

terhadap

sistem kardiovaskuler meliputi perubahan aorta dan

pembuluh darah sistemik. Penebalan dinding aorta dan pembuluhn darah besar
meningkat dan elastisitas pembuluh darah menurun sesuai umur. Perubahan
ini menyebabkan penurunan kelenturan aorta dan pembuluh darah besar dan

mengakibatkan pcningkatan TDS. Penurunan elastisitas pembuluh darah


menyebabkan

peningkatan resistensi

vaskuler

perifer.

Sensitivitas

baroreseptor juga berubah dengan umur. (Kuswardhani,2006)


Perubahan
menerangkan
pemantauan

mekanisme
adanya

refleks

baroreseptor mungkin

variabilitas tekanan

terus menerus. Penurunan

darah yang

sensitivitas

dapat

terlihat

pada

baroreseptor

juga

menyebabkan kegagalan refleks postural, yang mengakibatkan hipertensi


pada

lanjut

usia

sering terjadi

keseimbangan antara

vasodilatasi

adrenergik alfa akan

menyebabkan

hipotensi

ortostatik.

adrenergik beta dan

Perubahan

vasokonstriksi

kecenderungan vasokontriksi

dan

selanjutnya mengakibatkan pcningkatan resistensi pembuluh darah perifer


dan tekanan darah. Resistensi Natrium akibat peningkatan asupan dan
penurunan sekresi juga berperan dalam terjadinya hipertensi. Walaupun
ditemukan penurunan renin plasma dan respons renin terhadap asupan garam,
sistem renin-angiotensin tidak mempunyai peranan utama pada hipertensi
pada lanjut usia Berbagai perubahan di atas bertanggung jawab terhadap
penurunan curah jantung (cardiac output), penurunan denyut jantung,
penurunan kontraktilitas miokard, hipertrofi ventrikcl kiri, dan disfungsi
diastolik. Ini menyebabkan penurunan fungsi ginjal dengan penurunan
perfusi ginjal dan laju filtrasi glomerulus. (Kuswardhani,2006)

D. Klasifikasi Hipertensi
Tabel 2.1. Definisi dan Klasifikasi Tingkat Tekanan Darah (mmHg).
Menurut WHO Tahun 1999
Sistolik

Diastolik

Kategori

(mmHg).

(mmHg).

Optimal

<120

<80

Normal

< 130

< 85

Normal-tinggi

130-139

85-89

Hipertensi derajat 1 (ringan)

140-159

90-99

Subkelompok : borderline

140 149

90 94

Hipertensi derajat 2 (sedang)

160-179

100-109

Hipertensi derajat 3 (berat)

180

110

Hipertensi sistolik terisolasi

140

< 90

Subkelompok : borderline

140 149

< 90

Sumber: (Dalimartha,dkk,2008)
Jika tekanan darah sistolik dan diastolik berbeda kategori, dipakai kategori
yang lebih tinggi.

10

Tabel 2.2 Klasifikasi Hipertensi menurut Joint National Committee 7th


Kategori
Normal

Sistol (mmHg)
<120

Dan/atau
Dan

Diastole (mmHg)
<80

Pre hipertensi

120-139

Atau

80-89

Hipertensi tahap 1

140-159

Atau

90-99

Hipertensi tahap 2

160

Atau

100

Sumber: (Chobanian,2003)
Tabel 2.3 Klasifikasi Hipertensi Hasil Konsensus Perhimpunan Hipertensi
Indonesia Tahun 2007
Kategori

Dan/atau

Normal

Sistol
(mmHg)
<120

Dan

Diastole
(mmHg)
<80

Pre hipertensi

120-139

Atau

80-89

Hipertensi tahap 1

140-159

Atau

90-99

Hipertensi tahap 2

160

Atau

100

Hipertensi sistol terisolasi

140

Dan

< 90

Sumber: (Jafar,2010)

E. FAKTOR RISIKO YANG MEMPENGARUHI HIPERTENSI

11

Fakktor risiko yang mempengaruhi hipertensi ada dua yaitu yang dapat
atau tidak dapat dikontrol:
1. Faktor Risiko Yang Tidak Dapat Dikontrol:
a. Jenis kelamin
Prevalensi hipertensi pada wanita (25%) lebih besar daripada pria (24%)
(Tesfaye et al,2007). Namun wanita terlindung dari penyakit kardiovaskuler
sebelum menopause. Wanita yang belum mengalami menopause dilindungi
oleh hormon estrogen yang berperan dalam meningkatkan kadar High Density
Lipoprotein (HDL). Kadar kolesterol HDL yang tinggi merupakan faktor
pelindung

dalam

mencegah

terjadinya

proses

aterosklerosis.

Efek

perlindungan estrogen dianggap sebagai penjelasan adanya imunitas wanita


pada usia premenopause. Pada premenopause wanita mulai kehilangan sedikit
demi sedikit hormon estrogen yang selama ini melindungi pembuluh darah
dari kerusakan Hormon estrogen ini kadarnya akan semakin menurun setelah
menopause. (Armilawati,2007).
b. Umur
Semakin meningkat umur responden semakin tinggi risiko hipertensi.
Tingginya hipertensi sejalan dengan bertambahnya umur, disebabkan oleh
perubahan struktur pada pembuluh darah besar, sehingga lumen menjadi lebih
sempit dan dinding pembuluh darah menjadi kaku, sebagai akibat adalah
meningkatnya tekanan darah sistolik.(Rahajeng,2009). Pada wanita, hipertensi

12

sering terjadi pada usia diatas 50 tahun. Hal ini disebabkan terjadinya
perubahan hormon sesudah menopause.
Kondisi yang berkaitan dengan usia ini adalah produk samping dari
keausan arteriosklerosis dari arteri-arteri utama, terutama aorta, dan akibat dari
berkurangnya kelenturan. Dengan mengerasnya banyak arteri ini dan menjadi
semakin kaku, arteri dan aorta itu kehilangan daya penyesuaian diri. (Hanns
Peter, 2009)
Pada umur 25-44 tahun prevalensi hipertensi sebesar 29%, pada umur 4564 tahun sebesar 51% dan pada umur >65 Tahun sebesar 65%. Penelitian
Hasurungan15 pada lansia menemukan bahwa dibanding umur 55-59 tahun,
pada umur 60-64 tahun terjadi peningkatan risiko hipertesi sebesar 2,18 kali,
umur 65-69 tahun 2,45 kali dan umur >70 tahun 2,97 kali.(Rahajeng,2009)
c. Keturunan (Genetik)
Adanya faktor genetik pada keluarga tertentu

akan menyebabkan

keluarga itu mempunyai risiko menderita hipertensi. Hal ini berhubungan


dengan peningkatan kadar sodium intraseluler dan rendahnya rasio antara
potasium terhadap sodium Individu dengan orang tua dengan hipertensi
mempunyai risiko dua kali lebih besar untuk menderita hipertensi dari pada
orang yang tidak mempunyai keluarga dengan riwayat hipertensi. Selain itu
didapatkan 70-80% kasus hipertensi esensial dengan riwayat hipertensi dalam
keluarga (Anggraini dkk,2009).

13

2. Faktor Resiko Yang Dapat Dikontrol:


a. Obesitas
Untuk

mengetahui

seseorang

mengalami

obesitas

atau

tidak,

dapatdilakukan dengan mengukur berat badan dengan tinggi badan, yang


kemudian disebut dengan Indeks Massa Tubuh (IMT). Rumus perhitungan
IMT adalah sebagai berikut:
Berat Badan (kg)
IMT =
Tinggi Badan (m) x Tinggi Badan (m)
Seseorang dikatakan kegemukan atau obesitas jika memiliki nilai
IMT25.0. Obestitas merupakan faktor risiko munculnya berbagai penyakit
degeneratif, seperti hipertensi, penyakit jantung koroner dan diabetes mellitus.
Data dari studi Farmingham (AS) yang diacu dalam Khomsan (2004)
menunjukkan bahwa kenaikan berat badan sebesar 10% pada pria akan
meningkatkan tekanan darah 6.6 mmHg, gula darah 2 mg/dl, dan kolesterol
darah 11 mg/dl. Prevalensi hipertensi pada seseorang yang memiliki IMT>30
pada lakilaki sebesar 38% dan wanita 32%, dibanding dengan 18% laki-laki
dan 17% perampuan yang memiliki IMT<25. (Krummel,2004)
b. Kurang Olahraga
Olahraga seperti bersepeda, jogging, dan aerobik yang teratur dapat
memperlancar peredaran darah sehingga menurunkan tekanan darah. Orang
yang kurang aktif berolah raga umumnya cenderung mengalami kegemukan.
Olahraga juga dapat mengurangi atau mencegah obesitas serta mengurangi

14

asupan garam kedalam tubuh. Garam akan keluar dari tubuh bersama keringat.
(Dalimartha,2008)
Melakukan aktivitas secara teratur (aktivitas fisik aerobic selama 30-45
menit/hari) diketahui sangat efektif dalam mengurangi risiko relatif hipertensi
hingga mencapai 19% hingga 30%. Begitu juga halnya dengan kebugaran
kardiorespirasi rendah pada usia paruh baya diduga meningkatkan risiko
hipertensi sebesar 50%. (Rahajeng,2009)
c. Kebiasaan Merokok
Hipertensi dirangsang oleh adanya nikotin dalam batang rokok yang
dihisap seseorang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nikotin dapat
meningkatkan penggumpalan darah dalam pembuluh darah. Selain itu, nikotin
juga dapat menyebabkan terjadinya pengapuran pada dinding pembuluh darah.
(Dalimartha,2008)
d. Mengkonsumsi makanan asin dan berpengawet
Makanan asin dan makanan yang diawetkan adalah makanan dengan
kadar natrium tinggi. Natrium adalah mineral yang sangat berpengaruh pada
mekanisme timbulnya hipertensi. Makanan asin dan awetan biasanya memiliki
rasa gurih (umami), sehingga dapat meningkatkan nafsu makan (Krisnatuti,
2005)

15

e. Minum alkohol
Minum alcohol dapat memicu terjadinya hipertensi karena adanya
peningkatan sintetis katekolamin yang dalam jumlah besar dapat memicu
kenaikan tekanan darah. (Dalimartha,2008)
f. Minum kopi
Dari hasil penelitian di Journal of Nutrition Collage dikatakan bahwa
mengkonsumsi kopi 1-2 cangkir perhari meningkatkan risiko hipertensi 4,11
kali lebih tinggi dibanding tidak meminum kopi. (Martiani,2012)
g. Stres
Pengaruh stres juga masih kontroversi, pengaruhnya diduga melalui
aktivitas saraf

simpatis yang dapat meningkatkan tekanan darah sebagai

reaksi fisik bila sesorang mengalami ancaman (fight or flight response).


(Rahajeng,2009)
F.

Diagnosis Hipertensi
Pada

semua

umur,

diagnosis

hipertensi

memerlukan pengukuran

berulang dalam keadaan istirahat, tanpa ansietas, kopi, alkohol, atau


merokok. Namun demikian, salah diagnosis lebih sering terjadi pada lanjut
usia, terutama perempuan, akibat beberapa faktor seperti berikut. Panjang
cuff mungkin tidak cukup untuk orang gemuk atau berlebihan atau orang
terlalu

kurus.

Penurunan

sensitivitas

refleks baroreseptor

sering

menyebabkan fluktuasi tekanan darah dan hipotensi postural. Fluktuasi


akibat ketegangan (hipertensi jas putih = white coat hypertension) &

16

latihan fisik juga lebih sering pada lanjut usia. Arteri yang kaku akibat
arterosklerosis menyebabkan tekanan darah terukur lebih tinggi. Kesulitan
pengukuran

tekanan

darah

dapat

diatasi dengan

cara

pengukuran

ambulatory.

Bulpitt et al. menganjurkan bahwa sebelum menegakkan

diagnosis hipertensi pada lanjut usia, hendaknya paling sedikit dilakukan


pemeriksaan di klinik sebanyak tiga kali dalam waktu yang berbeda dalam
beberapa minggu. (Kuswardhani,2006)
Gejala HTS yang sering ditemukan pada lanjut seperti ditemukan pada
the SYST-EUR trial adalah: 25% dari 437 perempuan dan 21% dari 204
laki-laki menunjukkan keluhan. Gejala yang menonjol yang ditemukan pada
penderita perempuan dibandingkan penderita laki-laki adalah; nyeri sendi
tangan (35% pada perempuan vs. 22% pada laki-laki), berdebar (33% vs.
17%), mata kering (16% vs. 6%), penglihatan kabur (35% vs. 23%), kramp pada
tungkai (43% vs. 31 %), nyeri tenggorok (15% vs. 7%), Nokturia merupakan
gejala tersering pada kedua jenis kelamin, 68%.(Kuswardhani,2006)
G. Penatalaksanaan Hipertensi Pada Penderita Lanjut Usia
Joint National Committee VII merekomendasikan konsep terapi yang
terbaru yaitu :
1. Pasien dengan tekanan darah sistolik 120-139 mmHg dan tekanan
darah diastolik 80-89 mmHg hanya memerlukan penatalaksanaan
nonfarmakologis dengan cara modifikasi gaya hidup.

17

2. Pasien yang tidak memiliki komplikasi hipertensi, diperlukan


penatalaksanaan secara farmakologis dengan diberikan obat golongan
diuretik atau bisa juga diberikan obat dari golongan lain.
3. Lebih memperhatikan tekanan darah sistolik dan penanganannya harus
dimulai jika tekanan darah sistolik meningkat walaupun tekanan darah
diastoliknya tidak.
4. Sebagian besar pasien hipertensi memerlukan obat kombinasi
antihipertensi, salah satunya adalah obat dari golongan diuretik tiazid.
5. Kebanyakan pasien hipertensi memerlukan 2 atau lebih pengobatan
untuk mencapai tekanan darah 20/10 mmHg di atas tekanan darah
yang diinginkan.
6. Golongan ACE Inhibitor sendiri atau kombinasi dengan golongan
diuretic masih merupakan terapi pilihan yang terbaik untuk pasien
dengan hipertensi yang sudah mengalami komplikasi penyakit jantung.
Selain itu, juga diperlukan modifikasi pola hidup bisa dilakukan dengan
cara memperbaiki beberapa pola hidup, seperti menurunkan berat badan jika
ada kegemukan, mengurangi minum alkohol, meningkatkan aktivitas fisik
aerobik, mengurangi asupan garam, mempertahankan asupan kalium yang
adekuat, mempertahankan asupan kalsium dan magnesium yang adekuat,
menghentikan merokok, mengurangi asupan lemak jenuh dan kolesterol.
Seperti halnya pada orang yang lebih muda, intervensi nonfarmakologis ini
harus dimulai sebelum menggunakan obat-obatan (Kuswardhani,2006).

BAB III

18

KERANGKA KONSEP DAN HIPOTESIS PENELITIAN


A. Kerangka Konsep

Genetik:
* Riwayat keluarga
dengan Hipertensi
Sosial:

* Obesitas

* Stress

* Keluarga
Yankes:

* Masyarakat

HIPERT
ENSI

Lingkungan Fisik
* Rumah

LANSI
A

* Tempat Kerja

Perila
ku
Karakteris
tik
Umur

Aktivitas
Fisik
Merokok

Jenis
Kelamin

Pengetahu
an

Ketersediaan
tempat posyandu
lansia
Penerimaan
program
posyandu lansia
Akses ke lokasi

Keterangan:
------

tidak diteliti

____

diteliti

Bagan 1. Kerangka Konsep Hipertensi Lansia (Teori H.L. Blums)

Berdasarkan teori H.L Blum, dilihat dari faktor genetk seperti: riwayat
18 terjadinya hipertensi dalam keluarga.
keluarga hipertensi merupakan faktor resiko

19

Pada usia lanjut asupan kalori sehingga mengimbangi penurunan kebutuhan


energi karena kurangnya aktivitas. Itu sebabnya berat badan meningkat. Obesitas
dapat memperburuk kondisi lansia karena dapat memicu timbulnya berbagai
penyakit seperti artritis, jantung dan pembuluh darah, hipertensi. Sedangkan,
hubungan antara stress dengan hipertensi diduga melalui aktivitas saraf simpatis
peningkatan saraf dapat menaikan tekanan darah secara intermiten (tidak
menentu). Stress yang berkepanjangan dapat mengakibatkan tekanan darah
menetap tinggi.
Dari faktor perilaku, seperti: merokok menyebabkan peninggian tekanan
darah. Perokok berat dapat dihubungkan dengan peningkatan insiden hipertensi.
Masyarakat yang mendukung dan memiliki wawasan yang luas dapat
menciptakan populasi masyarakat yang sehat juga. Kurangnya aktivitas fisik
menaikan risiko tekanan darah tinggi karena bertambahnya risiko untuk menjadi
gemuk. Orang-orang yang tidak aktif cenderung mempunyai detak jantung lebih
cepat dan otot jantung mereka harus bekerja lebih keras pada setiap kontraksi,
semakin keras dan sering jantung harus memompa semakin besar pula kekuatan
yang mendesak arteri. Latihan fisik berupa berjalan kaki selama 30-60 menit
setiap hari sangat bermanfaat untuk menjaga jantung dan peredaran darah.
Sedangkan bila dilihat dari karakteristiknyadengan bertambahnya umur elastisitas
pembuluh darah menurun sehingga dapat mengakibatkan terjadinya hipertensi.
Hipertensi lebih banyak terjadi pada pria bila terjadi pada umur dewasa muda.
Tetapi lebih banyak menyerang wanita setelah umur 55 tahun, sekitar 60%

20

penderita hipertensi adalah wanita. Hal ini sering dikaitkan dengan perubahan
hormon setelah menopause.
Dari faktor lingkungan ada dua, yaitu: lingkungan social dan lingkungan
fisik.Lingkungan social meliputi lingkungan keluarga dan lingkungan masyarakat
sekitar, sangat berperan penting dalam hal pengetahuan dan keprihatinan atas
hipertensi. Sehingga, dalam penangannya perlu diadakan kerjasama lintas
sektoral.Lingkungan fisik meliputi keadaan rumah dan tempat kerja. Keadaan
rumah dan tempat kerja yang baik, bisa menjadikan masyarakat terbiasa dengan
pola hidup bersih dan sehat.
Faktor pelayanan kesehatan dilihat dari: Ketersediaan tempat posyandu
lansi, yaitu Sarana dan prasarana yang mendukung bisa meningkatkan mutu
layanan sehingga bisa membuat pasien merasa nyaman. Selanjutnya penerimaan
program posyandu lansia, Bila program tidak diterima oleh masyarakat maka
pemantauan kesehatan terutama tekanan darah terhadap lansia di posyandu akan
sulit. Selain itu, Akses yang mudah ke lokasi merupakan salah satu faktor yang
menyebabkan pasien bisa berkunjung. Sehingga pemantauan kesehatan atau
hipertensi bisa berjalan dengan baik. Dan yang tidak kalah penting adalah biaya
yang terjangkau, pada pelayanan pasien pada posyandu lansia ini gratis tidak
dikenakan biaya sehingga diharapkan banyak pasien yang akan datang.

B. Hipotesis Penelitian

21

1. Ada pengaruh antara aktivitas fisik dengan kejadian hipertensi para lanjut
usia di Dusun Buntut, Desa Mojoruntut, Kecamatan Krembung,
Kabupaten Sidoarjo, bulan oktober tahun 2013.

BAB IV
METODE PENELITIAN
A. Metode Penelitian
Desain penelitian menggunakan pendekatan cross sectional dan jenis
penelitian adalah analitik observasional karena bertujuan menganalisis hubungan
dua variabel yang diteliti tanpa memberi perlakuan (eksperimen) pada sampel
(Sastroasmoro,2011).
B. Lokasi dan Waktu Penelitian
1. Lokasi

22

Penelitian dilakukan di Dusun Buntut Desa Mojoruntut Kecamatan


Krembung Sidoarjo.

2. Waktu Penelitian
22

Penelitian dilakukan dari tanggal 16 Oktober sampai tanggal 27


Oktober 2013.
Tabel 4.1 Lokasi dan waktu penelitian
Minggu
No.

Kegiatan

1.

Penngumpulan data puskesmas

Perumuskan masalah

Penyusunan proposal

Penyusunan kuesioner

Konsultasi

II

23

Pembagian kuesioner

Pengolahan data

Penarikan kesimpulan

C. Populasi dan Sample


1. Populasi
Populasi dalam penelitian ini adalah peserta posyandu lansia bulan
Oktober 2013 di Dusun Buntut Desa Mojoruntut Kecamatan Krembung
Sidoarjo sebanyak 51 Lansia.

2. Besar dan Cara Pengambilan Sampel


Sampel penelitian diambil secara Total Sampling dengan besar sampel 51
lansia yaitu seluruh lansia yang hadir pada posyandu lansia bulan Oktober
2013.
D. Variabel dan Definisi Operasional
Tabel 4.1Tabel Variabel dan Definisi Operasional

No.

Variabel

Definisi

Cara
Ukur

Alat
Ukur

Hasil
Ukur
Kategori

Skala

24

Aktifitas
fisik

Melakukan olah raga


ataupun aktivitas fisik lain

Olah raga:
- Frekuensi
- Lama

Wawa
ncara

kuisioner 1.olahraga Nom


inal
2.tidak
olahraga

Aktivitas
fisik lain:
-jalan-jalan
-bersepeda
-bertani, dan
lain-lain.

Hipertensi Bila dalam KMS tertulis


Studi Catatan 1.
TD 140/90 mmHg
dokum Lapangan Hipertensi
en
2.Tidak
Hipertensi

E. Jenis, Teknik dan Alat Pengumpulan Data


1. Data primer didapatkan dengan tehnik pengisian langsung oleh responden
pada alat pengumpul data berupa kuisioner yang diberikan.
2. Data sekunder diperoleh dengan tehnik studi dokumen berupa KMS/
laporan data Geografi dan Demografi Desa Mojoruntut Kecamatan
Krembung Sidoarjo. dengan alat pengumpul data berupa catatan lapangan.
F. Pengolahan Data

Nom
inal

25

Pengolahan data bertujuan mengubah data mentah dari hasil pengukuran


menjadi data yang lebih halus sehingga memberikan arah untuk pengkajian lebih
lanjut (Sudjana, 2001). kegiatan pengolahan data meliputi :
1. Editing Data
Editing data adalah (Arikunto, 2006) proses meneliti hasil survai
untuk meneliti apakah ada response yang tidak lengkap, tidak komplet atau
membingungkan; meneliti kembali data yang terkumpul dari penyebaran
kuesioner. Langkah tersebut dilakukan untuk mengetahui apakah data yang
terkumpul sudah cukup baik. Pemeriksaan data atau editing dilakukan
terhadap jawaban yang telah ada dalam kuesioner dengan memperhatikan halhal meliputi: kelengkapan pengisian jawaban, kejelasan tulisan, kejelasan
makna jawaban, serta kesesuaian antar jawaban.

2. Scoring Data
Scoring adalah memberikan penilaian terhadap item pertanyaan pada
kuesioner yang diberikan kepada responden.
Aktivitas Fisik terdiri dari 6 item Pertanyaan:
1. Apakah menurut anda olahraga itu penting?
Jawab: a.Ya

b.Tidak

26

Untuk jawaban Ya diberi skor 1, dan jawaban Tidak diberi skor 0


2.Apakah anda berolahraga?
Jawab: a.Ya

b.Tidak

Untuk jawaban Ya diberi skor 1, dan jawaban Tidak diberi skor 0


3. Jika ya, berapa kali anda berolahraga dalam seminggu?
Jawab:
a. Setiap hari diberi skor 2
b. lebih dari 2x seminggu diberi skor 1
c. kurang dari 2x seminggu dibei skor 0

4. Jika ya, berapa lama lama anda berolahraga?


a. > 30 menit diberi skor 1
b. < 30 menit diberi skor 0
5. Apakah anda sering melakukan aktivitas fisik lain di usia anda saat
ini?
Jawab: a.Ya

b.Tidak

Untuk jawaban Ya diberi skor 1, dan jawaban Tidak diberi skor 0

27

6. Aktivitas fisik apa yang sering anda lakukan?


Jawab: (pertanyaan terbuka), berdasarkan hasil kuisioner jawaban
terbanyak adalah:
Bersepeda diberi skor 1
Bertani diberi skor 1
Jalan-jalan diberi skor 1
Lain-lain skor 0
Dari 6 item didapat Skor total 0 s/d 7
Kesimpulan:
Bila skor total = 3 dikategorika sebagai TIDAK, dan
= > 3 dikategorikan sebagai ADA
Untuk mengetahui lansia yang mengalami hipertensi atau tidak data diambil
melalui pengukuran tekanan darah secara langsung saat kegiatan posyandu lansia
dan ditulis kedalam catatan lapangan.
3. Tabulasi Data
Tabulasi merupakan pengorganisasian data sedemikian rupa agar
dengan mudah dijumlah, disusun, dan ditata untuk disajikan dan dianalisis.
Penelitian ini menggunalan tabulasi data metode Tally. Langkah-langkahnya
adalah sebagai berikut:

28

1. Membuat tabel yang memuat variabel dan ruang untuk membuat coretan
dan jumlah.
2. variabel yang diinginkan.
3. coretan sesuai dengan variabel tersebut.
4. semua coretan sesuai dengan variabelnya dijumlah.
G. Analisis Data
Analisis data dilakukan dengan perhitungan manual menggunakan rumus
rasio prevalensi :
RP

a/(a+b)

Keterangan :
Jika Rasio Prevalensi (RP ) = 1, maka faktor risiko tidak berpengaruh atas
timbulnya efek atau dikatakan bersifat netral.
Jika Rasio Prevalensi (RP ) > 1, maka faktor resiko merupakan penyebab
timbulnya penyakit.
Jika Rasio Prevalensi (RP) < 1, maka faktor resiko bukan menjadi penyebab
toimbulnya penyakit bahkan merupakan faktor protektif.

29

BAB V
HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Gambaran Umum Desa Mojoruntut


Desa Mojoruntut merupakan dataran rendah yang sebagian besar jalannya
sudah beraspal. Suhu berkisar 23-30. Akses ke pelayanan kesehatan mudah.
Terdapat pelayanan kesehatan berupa puskesmas Krembung dan praktek bidan.
Wilayah kerja puskesmas Krembung mencakup 19 desa, yaitu desa Mojoruntut,
desa Krembung, desa Tambakrejo, desa Kaper, desa Kedungsumur, desa

30

Kedungrawam, desa Tanjegwagir, desa Gading, desa Wangkal, desa Jenggot, desa
Waung, desa Ploso, desa Rajeni, desa Kandangan, desa Krembung, desa Lemujut,
dasa Cangkring, desa Karet, desa Wonomisti, desa Balonggarut.
Desa Mojoruntut sendiri terdiri dari 5 dusun, yakni:
1. Data Desa
a. Desa/ Kelurahan : Mojoruntut
b. Luas desa
:246,07 Ha
c. Kecamatan
: Krian
d. Kabupaten
: Sidoarjo
e. Propinsi
: Dati I Jawa Timur
2. Data Khusus
a. Data Geografi
Tanah
:
1. Tanah kas desa
: 45 buah
2. Tanah desa lain
:
Peruntukan
:
1. Jalan
:
30
2. Sawah dan Ladang :
3. Pemukiman/ perumahan:
4. Pekuburan
:
b. Data Demografi
Jumlah penduduk Desa Mojoruntut:
a) Jumlah Penduduk laki-laki :
b) Jumlah penduduk perempuan:
c) Jumlah Total
:

16,7
10,4

Ha
Ha

7,5
153,3
63,09
2

Ha
Ha
Ha
Ha

3.209 orang
3.226 orang
6.435 orang

31

B. HASIL PENELITIAN:
Tabel 5.1
Tabel Distribusi Frekuensi Jenis Kelamin
Jenis Kelamin

Jumlah

Laki-Laki

13 orang

25,49

Perempuan

38 orang

74,51

Jumlah

51 orang

100%

Sumber: Hasil Survey 2013


Tabel 5.2
Tabel Distribusi Frekuensi Umur
Jenis Kelamin

Jumlah

45 th 59 th

30 orang

58,82

60 th - 74 th

15 orang

29,41

75 th 90 th

6 orang

11,77

> 90 th

0 orang

51 orang

100%

Jumlah
Sumber: Hasil Survey 2013

Tabel 5.3
Tabel Silang antara Karakteristik dan Status Hipertensi

32

No.

Status Karakteristik

Hipertensi

Non Hipertensi

jumlah

jumlah

Laki-laki

11orang

22

2 orang

3,9

Perempuan

23 orang

45

15 orang

29

45 th 59 th

18 orang

35

12 orang

23

60 th - 74 th

10 orang

19,6

5 orang

9,8

75 th 90 th

6 orang

11,7

0 orang

> 90 th

0 orang

0 orang

A. Jenis Kelamin

B. Umur

Sumber: Hasil Survey 2013

C. ANALISIS dan PEMBAHASAN


1.

Analisis aktifitas fisik yang dapat memicu terjadinya Hipertensi pada


penderita dan non penderita.
TABEL 5.4
Tabel Silang antara Aktivitas Fisik dan Hipertensi
Hipertensi

Aktivitas fisik
Ada
Tidak

Ya

Tidak

Jumlah

27
6

7
11

33
18

33

Jumlah
Sumber: Hasil Survey 2013

Rasio Prevalensi (RP) =

34

17

51

a/(a+b)
c/(c+d)

Rasio Prevalensi (RP ) = 27/(27+7) =


6/(6+11)

27/34
6/17

= 0,79

= 2,26

0,35

Intepretasi RP = Lansia yang tidak beraktifitas fisik memiliki resiko


Hipertensi 2,26 kali lebih tinggi dari pada lansia yang beraktivitas fisik.
Keterangan :
Jika Rasio Prevalensi (RP ) = 1, maka faktor risiko tidak berpengaruh atas
timbulnya efek atau dikatakan bersifat netral.
Jika Rasio Prevalensi (RP ) > 1, maka faktor resiko merupakan penyebab
timbulnya penyakit.
Jika Rasio Prevalensi (RP ) < 1, maka faktor resiko bukan menjadi penyebab
toimbulnya penyakit bahkan merupakan faktor protektif.

2.

Analisis karakteristik lansia dengan hipertensi maupun lansia non


hipertensi (Jenis kelamin, dan usia).
a. Jenis kelamin
Berdasarkan hasil kuisioner dari 51 responden didapatkan
jumlah responden laki-laki sebanyak 11 orang yang menderita

34

hipertensi dan 2 orang yang menderita non hipertensi. Responden


dengan jenis kelamin perempuan sebanyak 23 orang yang menderita
hipertensi dan 15 orang yang menderita non hipertensi.
b. Usia
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menggolongkan usia lanjut
menjadi 4 yaitu: Usia pertengahan (middle age) 45 -59 tahun, Lanjut
usia (elderly) 60 -74 tahun, lanjut usia tua (old) 75 90 tahun, usia
sangat tua (very old) diatas 90 tahun.

Aktivitas fisik bukan hanya dilihat dari faktor fisik saja


melainkan dari faktor psikis seperti rekreasi, silaturrohim, dan lainlain. Selain itu, hubungan aktivitas fisik lansia dengan hipertensi
berkaitan juga dengan pengetahuan atau wawasan tentang hubungan
kedua variabel tersebut. Akan tetapi, dalam kesempatan ini belum
dilakukan penelitian tentang hal-hal tersebut dikarenakan keterbatasan
waktu.
Dari

hasil

Musyawarah

Masyarakat

Desa

Mojoruntut,

Kecamatan Krembung, Kabupaten Sidoarjo bulan tanggal 25 Oktober


2013 tentang hipertensi bersama Dokter Muda IKKOM Kelompok D
FK-UWKS dihasilkan sebuah kesepakatan sebagai berikut:
1. Menggiatkan

kembali

kegiatan

senam

lansia

dengan

pelaksanaan sekali dalam seminggu di masing-masing dusun

35

2. DM IKKOM KELOMPOK D FK UWKS memfasilitasi contoh


CD (cassete disk) senam lansia untuk tiap dusun (5 dusun).
3. Dua hal penting yang harus diperhatikan:
a. Masyarakat disarankan rutin mengikuti posyandu lansia.
b. Masyarakat disarankan untuk menjaga pola hidup sehat.
Kegiatan ini merupakan salah satu cara untuk membiasakan
dan mengarahkan lansia untuk melakukan aktivitas fisik yang sesuai
demi kesehatan masing-masing lansia. Untuk itu, demi terlaksananya
kegiatan tersebut diatas maka perlu dilakukan pengawasan pelaksanaan
hasil musyawarah ini dari beberapa pihak terkait, dan kerjasama lintas
sektoral.
Menurut American Collage of Sport Medicine (ACSM)
aktifitas fisik seperti latihan aerobic (olahraga ketahanan) yang teratur
serta cukup takarannya bisa mencegah risiko hipertensi. Dengan
melakukan gerakan yang tepat selama 30-40 menit atau lebih sebanyak
3-4 hari perminggu, dapat menurunkan tekanan darah sebanyak 10
mmHg pada bacaan sistolik dan diastolik.

36

BAB VI
KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan
1.

Aktivitas Fisik
Berdasarkan hasil penelitian ini ditemukan bahwa aktivitas fisik
yang sering dilakukan

lansia bisa berupa olah raga, bertani,

bersepeda, jalan-jalan, dan lain-lain.


2.

Kejadian Hipertensi

37

Subjek penelitian berjumlah 51 responden yang terdiri dari 34


orang menderita hipertensi dan 14 orang tidak menderita
hipertensi. Kejadian hipertensi berdasar jenis kelamin lebih banyak
terjadi pada wanita sedangkan berdasarkan umur cenderung lebih
banyak pada usia 45-59 tahun.
3.

Hubungan Aktivitas Fisik dengan kejadian Hipertensi


Probabilitas Lansia yang tidak beraktifitas fisik memiliki resiko
hipertensi 2,26 kali lebih tinggi dari pada lansia yang beraktivitas
fisik. Sehingga dapat disimpulkan adan hubungan antara aktivitas
fisik dengan angka kejadian hipertensi para lansia di Dusun Buntut,
Desa Mojoruntut, Kecamatan Krembung, Kabupaten Sidoarjo.

B. Saran
1. Saran Untuk Puskesmas

38

Supaya hasil dari penelitian ini bisa dijadikan masukan bagi


Puskesmas Krembung dalam rangka menurunkan angaka kejadian hipertensi
pada lansia.
2. Saran Untuk Masyarakat
Untuk melaksanakan hasil MMD (Musyawarah Mufakat Desa)
berupa:
1. Menggiatkan

kembali

kegiatan

senam

lansia

dengan

pelaksanaan sekali dalam seminggu di masing-masing dusun


2. Dua hal penting yang perlu diperhatikan:
a. Masyarakat disarankan rutin mengikuti posyandu lansia.

38

b. Masyarakat disarankan untuk menjaga pola hidup sehat


sejak umur balita.
3. Saran Untuk Untuk Peneliti Selanjutnya
Diharapkan untuk meneliti tentang pengetahuan lansia antara
hubungan aktifitas fisik dengan hipertensi.

DAFTAR PUSTAKA
Arikunto S. (2003). Prosedur penelitian: suatu pendekatan. Edisi revisi. Jakarta:
PT. Rineka Cipta.
Armilawati,dkk. (2007). Hipertensi dan faktor risikonya dalam kajian
epidemiologi. Makassar: Bagian Epidemiologi FKM UNHAS.
Aisyiyah, Farida Nur. (2009). Faktor Risiko Hipertensi Pada Empat
Kabupaten/Kota Dengan Prevalensi Hipertensi Tertinggi Di Jawa Dan
Sumatera.(Online),(http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/1224,
diakses 15 november 2013)
Brashers, Valentina.L (2008). Aplikasi Klinis Patofisiologi Pemeriksaan dan
Managemen. Jakarta: EGC.
Chobanian A . (2003). JNC VII Report 18th Annual Scientific Meeting and
Exposotion of American Society of Hypertension. New York, USA.
Dalimartha,Setiawan,dkk. (2008). Care Your Self Hipertensi. Jakarta: Penebar
Plus.
Gray Huon .H,dkk. (2005). Lecture Notes Kardiologi ed.4. Surabaya: Erlangga
Medical Series

39

Jafar Nurhaedar. 2010. Hipertensi. Program Studi Ilmu Gizi Fakultas Kesehatan
Masyarakat Universitas Hasanuddin Makassar.
Kowalski, Robert E. (2010). Terapi Hipertensi. Bandung : Mizan Pustaka
Krisnatuti D, Yenrina R. (2005). Perencanaan Menu Bagi Penderita Jantung
Koroner. Jakarta: Trubus Agriwidya.
Krummel DA. (2004).Food, Nutrition and Diet Therapy. USA: Saunders
Corporation.
Kuswardhani RA Tuty, (2006). Penatalaksanaan Hipertensi Pada Lanjut Usia.
(Online), Jurnal Penyakit Dalam Vol.7 No.2 mei 2006. Denpasar: Divisi
Geriatri. Bagian Penyakit Dalam FK Unud, RSUP Sanglah.
(http://ojs.unud.ac.id/index.php/jim/article/download/3757/2755, diakses 15
November 2013)
Martiani ayu, Lelyana Rosa. (2012). Faktor Risiko Hipertensi Ditinjau Dari
Kebiasaan Minum Kopi (Studi Kasus Di Wilayah Kerja Puskesmas
Ungaran Pada Bulan Januari-Februari 2012). Journal of Nutrition Collage
vol.1
no.
1
Hal.
78-85
2012.
(http://lib.umpo.ac.id/gdl/files/disk1/5/jkptumpo-gdl-vendyikfha-233-1
abstrak-i.pdf, diakses 15 November 2013)
Rahajeng Ekowati, Sulistyowati Tuminah.
40 (2009). Prevalensi Hipertensi dan
Determinannya di Indonesia. Majalah kedokteran Indonesia, Vol. 59 No. 12
Ed. Desember 2009. Jakarta: Pusat Penelitian Biomedis dan Farmasi Badan
Penelitian Kesehatan Departemen Kesehatan Republik Indonesia.
Sastroasmoro S, Ismael S. (2011). Dasar-Dasar Metodologi Penelitian Klinis.
Edisi III. Jakarta: Sagung Seto.
Sudjana S. (2001). Metoda statistika. Bandung: Tarsito.
Sudarso (2007). Membuat Karya Tulis Ilmiah Bidang Kesehatan. Surabaya:
Duatujuh.
Tambayong Jan. (2000). Patofisiologi untuk Keperawatan .Jakarta: EGC.
Tesfaye F et al. (2007). Association between body mass index and blood pressure
across three population in Africa and Asia. Journal of Human Hypertension.

40

LAMPIRAN
Hubungan Aktivitas Fisik pada Lansia dengan Hipertensi di Dusun Buntut
Desa Mojoruntut Kecamatan Krembung Sidoarjo
KUESIONER PENELITIAN

I. Pengantar
Assalamualaikum Wr.Wb, Salam Sejahtera
Dengan hormat,
Kami dokter muda dari Fakultas Kedokteran Universitas Wijaya Kusuma
Surabaya akan meneliti di wilayah puskesmas Krembung, tentang Hubungan
Aktivitas Fisik pada Lansia dengan Hipertensi di Dusun Buntut Desa
Mojoruntut Kecamatan Krembung Sidoarjo. Besar harapan kami bapak/ibu
bersedia menjadi responden penelitian ini.

41

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan aktivitas fisik pada


usia lansia dengan angka kejadian hipertensi. Sebelumnya kami ucapkan terima
kasih kami atas partisipasi bapak/ibu. Semoga penelitian ini bermanfaat untuk kita
semua

23 Oktober 2013,
Peneliti

II. INFORMED CONSENT

42

Saya yang bertanda tangan di bawah ini:


Nama

Jenis kelamin : pria/ wanita


Umur

Alamat

tahun

Bersedia mengisi kuesioner untuk menunjang penelitian yang berjudul


Hubungan Aktivitas Fisik pada Lansia dengan Hipertensi di Desa
Mojoruntut yang diadakan dokter muda fakultas kedokteran universitas wijaya
kusuma Surabaya pada Oktober 2013 dengan sukarela, tanpa paksaan apapun.

23 Oktober 2013

42

III. PETUNJUK PENGISIAN


1. Silang jawaban yang sesuai dengan anda
2. Isi titik-titik yang tersedia jika ditanyakan
3. Perhatikan pertanyaan dengan seksama

IV. KUESIONER
Aktifitas Fisik:
Diisi oleh peneliti
1. Apakah menurut anda olah raga itu penting?
a. Ya
b. Tidak
2. Apakah anda berolah raga?

43

a. Ya
b. Tidak
3. Jika ya, berapakali seminggu anda berolah raga?
a. setiap hari
b. Lebih dari 2x dalam seminggu
c. Kurang dari 2x dalam seminggu
4. Jika ya, berapa lama anda berolah raga?
a. >30 menit
b. <30 menit
5. Apakah anda sering melakukan aktifitas fisik di usia anda saat ini?
a. Ya

b.Tidak

6. Aktifitas fisik apa yang sering anda lakukan?


Jawab .