Anda di halaman 1dari 4

KRIPTORKISMUS

Definisi
Undescendcus testis (UDT) atau kriptorkismus adalah gangguan
perkembangan yang ditandai dengan gagalnya penurunan salah satu atau kedua
testis secara komplit ke dalam skrotum.
Epidemiologi
Pada 97% bayi laki-laki baru lahir, testis terdapat di skrotum sebelum lahir.
Pada sebagian besar dari sisanya, penurunan tuntas dalam 3 bulan pertama
pascanatal. Namun, pada kurang dari 1% bayi, satu atau kedua testis gagal
turun. Testis yang tidak turun (undescendcus testis) tidak dapat menghasilkan
spermatozoa dan keadaan ini berkaitan dengan insidens anomaly ginjal sebesar
3-5%.
Kriptorkismus merupakan gambaran umum pada sejumlah sindrom
congenital, misalnya sindrom Prader-Willi. Namun, pada sebagian besar kasus,
penyebab kriptorkismus tidak diketahui.
Embriologi dan Penurunan Testis
Penurunan testis dimulai pada sekitar minggu ke-10. Para ahli sepakat
bahwa terdapat beberapa faktor yang berperan penting, yaitu faktor endokrin,
mekanik (anatomic), dan neural. Terjadi dalam 2 fase yang dimulai sekitar
minggu ke-10 kehamilan segera setelah terjadi diferensiasi seksual. Fase
transabdominal dan fase inguinoscrotal. Keduanya terjadi dibawah control
hormonal yang berbeda.
Fase transabdominal terjadi antara minggu ke-10 dan ke-15 kehamilan
dimana testis mengalami penurunan dari urogenital ridge ke regio inguinal. Hal
ini terjadi karena adanya regresi ligamentum suspensorium cranialis dibawah
pengaruh androgen (testosterone), disertai pemendekan gubernaculum dibawah
pengaruh MIF. Dengan perkembangan yang cepat dari region abdominopelvic,
maka testis akan terbawa turun ke daerah inguinal anterior. Pada bulan ke-3
kehamilan terbentuk processus vaginalis yang secara bertahap berkembang kea
rah scrotum. Selanjutnya fase ini akan menjadi tidak aktif sampai bulan ke-7
kehamilan.
Fase inguinoscrotal terjadi mulai bulan ke-7 atau minggu ke-28 sampai
dengan minggu ke-35 kehamilan. Testis mengalami penurunan dari regio
inguional ke dalam scrotum dibawah pengaruh hormone androgen. Androgen
akan merangsang nervus genitofemoral untuk menyebabkan terjadinya kontraksi
ritmis dari gubernaculums. Faktor mekanik yang turut berperan pada fase ini
adalah tekanan abdominal yang meningkat yang menyebabkan keluarnya testis
dari cavum abdomen, disamping itu tekanan abdomen akan menyebabkan
terbentuknya ujung dari processus vaginalis melalui canalis inguinalis menuju

scrotum. Proses penurunan testis ini masih bisa berlangsung sampai bayi usia 912 bulan.
Etiologi
Berbagai kemungkinan penyebab UDT :
a.) Defisiensi / blockade androgen
Defisiensi gonadotropin placental / hipofisis
Disgenesis gonad
Defek sintesis androgen
Defek reseptor androgen
b.)Anomali mekanis
Prune belly syndrome
Posterior utethral valves
Defek dinding abdomen
Sindrom malformasi / kromosomal
c.) Anomali neurologis
Myelomeningocele
CGRP anomalies
d.)Anomali didapat
Cerebral palsy (spastisitas kremaster)
Ascending / retractile testis
Diagnosis
Anamnesis

Prematuritas penderita.
Penggunaan obat-obatan saat Ibu sedang hamil (estrogen).
Riwayat operasi inguinal.
Pastikan apakah sebelumnya testis pernah teraba di scrotum saat lahir
atau tahun pertama kehidupan.
Riwayat perkembangan mental anak.
Riwayat keluarga tentang UDT, infertilitas, kelainan bawaan genitalia, dan
kematian neonatal.

Pemeriksaan Fisik
Pemeriksaan sebaiknya dilakukan di ruangan yang tenang dan hangat.
Pemeriksaan secara umum harus dilakukan dengan mencari adanya tanda-tanda
sindrom tertentu, dismorfik, hipospadia, atau genitalia ambigu.
Pemeriksaan testis sebaiknya dilakukan pada posisi telentang dengan frog
leg position dan jongkok. Dengan kedua tangan dimulai dari SIAS menyusuri
kanalis inguinalis kea rah medial dan scrotum. Bila teraba testis harus dicoba
untuk diarahkan ke scrotum, terkadang testis dapat didorong ke dalam
scrotum.Tentukan lokasi, ukuran, dan tekstur testis. Lokasi tersering pada kanalis
inguinalis (72%), lalu suprascrotal (20%), dan intraabdomen (8%).
Pemeriksaan Laboratorium

Pada anak dengan UDT unilateral tidak memerlukan pemeriksaan


laboratorium lebih lanjut. Sedangkan pada UDT bilateral tidak teraba testis
dengan disertai hipospadia dan virilisasi, diperlukan pemeriksaan analisis
kromosom dan hormonal untuk menyingkirkan kemungkinan intersex.
Pemeriksaan Penunjang
USG hanya dapat membantu menentukan lokasi testis terutama di daerah
inguinal, dimana hal ini akan mudah sekali dilakukan perabaan dengan tangan.
CT scan dan MRI mempunyai ketepatan yang lebih tinggi dibandingkan dengan
USG terutama diperuntukkan testis intraabdomen. MRI mempunyai sensitifitas
yang lebih baik untuk digunakan pada anak-anak yang lebih besar (belasan
tahun). MRI juga dapat mendeteksi kecurigaan keganasan testis.
Penatalaksanaan

Komplikasi
Komplikasi utama yang dapat terjadi pada UDT adalah keganasan testis
dan infertilitas akibat degenerasi testis, di samping itu terdapat juga torsio testis
dan hernia inguinalis. Risiko terjadinya keganasan testis yang tidak turun pada
anak dengan UDT dilaporkan berkisar 10-20 kali dibandingkan pada anak dengan
testis normal. Makin tinggi lokasi UDT, makin tinggi risiko keganasannya. Testis

abdominal mempunyai risiko menjadi ganas 4x lebih besar disbanding testis


inguinal. Orchiopexy tidak akan mengurangi risiko terjadinya keganasan, tetapi
akan lebih mudah melakukan deteksi dini keganasan pada penderita. Penderita
UDT bilateral mengalami penurunan fertilitas yang lebih berat dibandingkan
penderita UDT unilateral, dan apalagi dibandingkan dengan populasi normal.
Komplikasi infertilitasi ini berkaitan dengan terjadinya degenerasi pada UDT.
Penurunan testis lebih dini akan mencegah proses degenerasi lebih lanjut.

Anda mungkin juga menyukai