Anda di halaman 1dari 20

PENDAHULUAN

Penyakit inflamasi orbital merupakan istilah umum yang mencakup semua


penyakit inflamasi yang mempengaruhi beberapa atau semua struktur yang terkandung
dalam orbital eksternal sampai ke dalam orbita. Dalam beberapa kasus, daerah yang
terlibat dengan proses inflamasi dapat melampaui orbit, seperti ke sinus kavernosus
melalui apeks orbital atau kelopak mata melalui septum orbital.1 Inflamasi orbital dapat
diklasifikasikan menjadi dua bagian besar yaitu inflamasi orbital akut dan inflamasi
orbital kronik. Selulitis orbita merupakan salah satu inflamasi orbital akut. 2
Selulitis orbita adalah infeksi aktif jaringan lunak orbita yang terletak posterior
dari septum orbita, termasuk lemak dan otot dalam tulang orbital dan lebih
mengenai anak anak.

3,4

sering

selulitis orbita biasanya berasal dari penyebaran infeksi

berdekatan yaitu sinus paranasal. Infeksi mata terjadi pada populasi pediatrik dengan
keluhan pembengkakan pada kelopak mata dan rasa sakit.4 Pasien biasanya datang
dengan kelopak mata bengkak unilateral yang disertai dengan mata merah atau tidak
merah.5 Diagnosis yang cepat dan tepat sangat penting karena ada potensi morbiditas dan
mortalitas yang signifikan.4
Infeksi selulitis orbita adalah suatu kegawat darurat dan membutuhkan
penanganan segera.6 penyakit ini dapat mengancam jiwa dan pasien harus dirujuk segera
tanpa penundaan, dapat menyerang pada semua umur terutama pada anak-anak.5 Oleh
karena itu pengobatan penyakit ini bersifat urgensi. Pengobatan dengan pemberian
antibiotik sistemik dapat mengatasi infeksi bakteri penyebab 2. Keterlambatan pengobatan
akan mengakibatkan progresifitas dari infeksi dan timbulnya sindroma apeks orbita atau
trombosis sinus kavernosus. Komplikasi yang terjadi antara lain kebutaan, kelumpuhan
saraf kranial, abses otak, dan bahkan dapat terjadi kematian. 7
DEFENISI
Selulitis orbita adalah infeksi akut jaringan lunak orbita yang terletak septum
posterior orbital.2 Selulitis orbita dapat mengenai semua kelompok umur tetapi lebih
sering terjadi pada populasi anak.2 Selulitis orbita adalah penyebab paling sering
exophthalmos pada anak-anak.7 selulitis orbita memberikan komplikasi yang berbahaya,
oleh karena itu diagnosis dan pengobatan cepat sangat penting.3

12

ANATOMI
Kavum Orbita
Orbita berhubungan dengan :8
Atas

Sinus frontalis

Bawah

Sinus maksilaris

Medial

Sinus ethmoidalis dan sphenoidalis

Gambar 1. Kavum orbita11


Dinding Orbita :11
Atap

facies orbitais ossis frontalis


Ala parva ossis sphenoidalis (bgn posterior) mengandung
kanalis optikus

Dasar

pars orbitais ossis maksilaris (bgn sentral yang luas)

pars frontalis ossis maksilaris (medial)

os zygomaticum (lateral)

13

processus orbitais ossis palatini (daerah segitiga kecil di posterior)

Lateral

anterior : facies orbitais ossis zygomatici (malar)

Medial

os ethmoidale

os lakrimale

korpus sphenoidale

crista lacrimalis anterior : dibentuk oleh processus frontalis ossis


maksilaris

crista lacrimalis posterior yg dibentuk oleh :


Atas : processus angularis ossis frontalis
Bawah

: os lacrimale

Diantara kedua crista lacrimalis terdapat sulkus lakrimalis dan berisi sakus
lakrimalis.
Anatomi Orbita
Mata merupakan organ penglihatan primer. Manusia memiliki dua buah bola
mata yang terletak di dalam rongga orbita yang dikelilingi tulang-tulang yang membentuk
rongga orbita. Selain itu juga terdapat jaringan adneksa mata yaitu : palpebra, sistem
lakrimalis, konjungtiva, otot-otot ekstraokular, fasia, lemak,orbita, pembuluh darah dan
sistem saraf.Mata memiliki berat 7.5 gram dan panjang 24 mm. Bola mata mendapatkan
perdarahan dari arteri oftalmika, yaitu cabang dari arteri karotis interna.

14

Gambar 2 . Mata tampak anterior 9


Struktur dasar mata dan jaringan penyokongnya 9
Mata terdiri dari 3 lapisan, 3 kompartemen yang mengandung 3 cairan.
a. 3 lapisan bola mata adalah sebagai berikut :
o Lapisan fibrous luar
- Kornea
- Sklera
- Lamina kribrosa
o Lapisan vaskular tengah (traktus uveal)
- Iris
- Corpus siliar (terdiri dari pars plikata dan pars plana)
o Lapisan saraf dalam
- Epitel pigmen retina
- Fotoreseptor
- Neuron
b. 3 kompartemen bola mata adalah :
o Bilik mata depan rongga antara kornea dan diafragma iris
o Bilik mata belakang rongga triangular antara iris anterior, lensa,
dan zonula posterior, dan korpus siliaris
o Corpus vitreus rongga antara lensa dan zonula
c. 3 cairan intraokular adalah :
o Humour aquous cairan air jernih dan elektrolit yang sama seperti
o

cairan di jaringan, hanya saja memiliki jumlah protein yang rendah


Humour vitreus gel transparan yang terdiri dari serabut kolagen 3
dimensi yang diisi oleh molekul asam hyaluronat dan air. Mengisi

rongga antara lensa, badan siliar, dan retina.


Darah selain sebagai fungsi nutrisi, darah juga berperan untuk
menjaga tekanan intraokular. Kebanyakan darah di mata ada dalam
koroid.
15

Gambar 3. Potongan bola mata.2


Fungsi utama mata adalah untuk membentuk gambaran lingkungan
sekitar kita yang jelas. Gambaran tersebut ditransmisikan ke otak melalui nervus
optikus dan jalur visual posterior. Oleh karena itu beberapa jaringan dalam mata
dan adneksanya didisain untuk memfasilitasi fungsi tersebut. 9
Kelopak Mata
Kelopak mata dibagi menjadi bagian anterior dan posterior oleh
mucocutaneous junction grey line. Bulu mata berasal dari folikel rambut pada
bagian anterior grey line, sementara duktus glandula meibom (modifikasi
glandula sebaseus) terbuka diantara grey line. 9

16

Gambar 4. Anatomi kelopak mata 7


Kelopak mata berfungsi sebagai : (1) pelindung mata terhadap trauma
mekanis, suhu tinggi dan cahaya yang sangat terang, dan (2) menjaga lapisan
normal air mata prekorneal, yang penting untuk menjaga penglihatan dan
kesehatan kornea.9
Kornea dan Sklera
Kornea dan sklera merupakan selubung dan kapsul bola mata yang
kenyal dan resisten. Kornea yang bening tertanam kedalam jaringan sklera di
zona transisi limbus.(5)
Fungsi utama kornea adalah refraksi. Untuk menjalankan tugas tersebut,
maka kornea harus : 9

Transparan
Permukaan licir dan regular
Kurvatur sferis dan kekuatan refraksi yang sesuai
Indeks refraksi yang baik

Septum orbital adalah membran tipis pada kelopak mata yang memisahkan
bagian anterior dan posterior

struktur orbital. Septum ini membentuk penghalang

potensial, mencegah infeksi kelopak mata dari penetrasi orbita lebih dalam. Infeksi pada
17

jaringan lunak septum anterior orbital disebut selulitis periorbital dan mempengaruhi
kelopak mata dan adneksa. Infeksi septum posterior disebut selulitis orbita,abses orbital,
dan abses subperiosteal.3
Karakteristik anatomi tertentu dari struktur orbital memungkinkan perluasan
infeksi ke struktur yang berdekatan. Pertama, septum orbital tipis mungkin tidak lengkap,
sehingga menyebabkan penyebaran infeksi periorbital struktur orbital yang lebih
kedalam. Kedua, infeksi dapat menyebar dari sinus paranasal (yang mengelilingi rongga
orbital pada empat dinding)melalui tulang ke orbita. Ketiga, valveless vena orbital dapat
memungkinkan infeksi secara hematogen baik antegrade dan retrograde.3

Gambar 4. anatomi mata, sinus paranasal, dan aliran vena.3


Vaskularisasi Orbita
Arteri utama : Arteri Oftalmika yang bercabang menjadi :
1.

Arteri retina sentralis memperdarahi nervus optikus

2.

Arteri lakrimalis memperdarahi glandula lakrimalis dan kelopak mata atas

3.

Cabang-cabang muskularis berbagai otot orbita

18

4.

Arteri siliaris posterior brevis memperdarahi koroid dan bagian-bagian


nervus optikus

5.

Arteri siliaris posterior longa memperdarahi korpus siliare

6.

Arteri siliaris anterior memperdarahi sklera, episklera,limbus, konjungtiva

7.

Arteri palpebralis media ke kedua kelopak mata

8.

Arteri supraorbitais

9.

Arteri supratrokhlearis
Arteri-arteri siliaris posterior longa saling beranastomosis satu dengan yang lain

serta dengan arteri siliaris anterior membentuk circulus arterialis mayor iris.
Vena utama : Vena Oftalmika superior dan inferior. Vena Oftalmika Superior
dibentuk dari :
Vena supraorbitais
Vena supratrokhlearis

mengalirkan darah dari kulit Satu

cabang vena angularis

di daerah periorbita

Vena ini membentuk hubungan langsung antara kulit wajah dengan sinus
kavernosus sehingga dapat menimbulkan trombosis sinus kavernosus yang potensial fatal
akibat infeksi superfisial di kulit periorbita.

19

Gambar 5. Vaskularisasi orbita8


EPIDEMIOLOGI
Infeksi bakteri orbital dapat terjadi pada semua usia tetapi lebih sering pada
populasi usia anak anak. Dalam analisis retrospektif dari infeksi orbital anak, usia ratarata pasien yang terkena adalah 6,8 tahun, mulai dari 1 minggu sampai 16 tahun.
Predileksi jenis kelamin lebih sering terjadi pada laki-laki dengan perbandingan, selulitis
orbita terjadi lebih sering pada musim dingin karena terkait erat dengan sinus paranasal
dan infeksi saluran pernapasan atas. sebagian besar kasus memberikan gambaran klinis
pada mata yang bersifat unilateral.4
pada studi lain menyatakan Sebagian besar kasus selulitis orbita terjadi pada
kelompok usia anak anak (0- 20 tahun) dengan presentase sebesar (44%), kemudian
dilanjutkan dengan usia pertengahan sebesar (40%), dan lanjut usia dengan presentase
sebesar (16%) dengan usia di atas 50 tahun.10
ETIOLOGI
Orbital dapat terinfeksi melalui beberapa jalur,sebagai berikut:2
1. Infeksi eksogen. Hal ini disebabkan oleh cedera penetrasi terutama bila dikaitkan
dengan retensi benda asing intraorbital, dan tindakan operasi seperti eviserasi,
enukleasi , dacryocystectomydan orbitotomy.

20

2. Perluasan atau penyebaran infeksi dari organ stuktur sekitar bola mata. Hal ini
disebabkan oleh infeksi sinusitis paranasal, gigi, wajah, kelopak mata, rongga
intrakranial dan struktur intraorbital. Ini adalah jalu yang paling sering penyebab
infe dari infeksi orbital.
3. Infeksi endogen. Mungkin jarang terjadi sebagai Infeksi metastasis dari abses
payudara, nifas sepsis, tromboflebitis kaki dan septikemia. Organisme penyebab
sering ditemukan adalah: Streptococcus pneumoniae, Staphylococcus aureus,
Streptococcus

pyogenes dan Haemophilusinfluenzae.

Trauma mungkin merupakan penyebab masuknya bahan

tercemar kedalam

orbita melalui kulit atau sinus-sinus paranasal. Di zaman praantibiotik, selulittis orbita
sering menyebabkan kebutaan dan kematian akibat trombosis sinus kavernosus septik. 8
Orbita dikelilingi oleh sinus sinus paranasal dan sebagian drainasi dari vena sinus
sinus tersebut berjalan melalui orbita. Sebagian besar kasus selulitis orbita timbul kibat
perluasan sinusistis melalui tulang tulang ethmoid yang tipis. Organisme yang biasa
menjadi penyebab aalah organisme yang sering itemukan di dalam sinus: Haemophilus
influenzae, streptococcus pneumoniae, streptokokus lainnya dan stafilokokus8,11
inflamasi Akut

septum orbital posterior biasanya peradangan berasal dari

jaringan sekitarnya. Lebih dari 60% dari semua kasus (setinggi 84% pada anak-anak)
dapat diklasifikasikan sebagai berasal di sinus, terutama sel-sel sinus etmoidalis dan sinus
frontal. Pada bayi, radang kuman gigi mungkin menjadi penyebabnya. Jarang disebabkan
oleh furunkel wajah, erisipelas, hordeolum, panophthalmitis, cedera orbital, dan sepsis.7
Penyakit ini disebabkan oleh bakteri infeksi,.bakteri yang paling umum adalah
staphylococci, streptokokus, dan Spesies Haemophilus.11,12
PATOFISIOLOGI
Rinosinusitis, terutama ethmoiditis, adalah yang paling sering sebagai Faktor
predisposisi umum untuk selulitis orbital anak. Namun selulitis orbital bisa juga
disebabkan dari perluasan infeksi mata eksternal seperti sebuah hordeolum

atau

dakriosistitis / Dakrioadenitis (infeksi pada sistem lakrimal); infeksi saluran pernapasan


atas,abses gigi, luka superfisial pada kulit, gigitan serangga, impetigo, jerawat, eksim,
operasi periokular, atau penetrasi langsung pada trauma orbita; dan infeksi secara
hematogen.4

21

secara umum

gambaran

patologis selulitis orbital mirip dengan inflamasi

supuratif tubuh, kecuali bahwa: 4

karena tidak adanya sistem limfatik sebagi sebuah sistem agen pertahanan lokal

fagositosis disediakan oleh reticular orbital jaringan;


karena kompartemen keras, peningkatan tekanan yang disebabkan perluasan

penyebaran virulensi Infeksi penyebab awal dan nekrotik luas dari jaringan
dalam kebanyakan kasus penyebaran infeksi sebagai tromboflebitis dari
struktur sekitarnya, dapat menyebar secara cepat dengan nekrosis yang luas .

GEJALA KLINIS
Gejala utama yang didapatkan pada selulitis orbita berupa pembengkakan pada
mata yang biasa bersifat unilateral dan nyeri hebat yang meningkat dengan pergerakan
bola mata atau adanya tekanan. Gejala yang lain yang bisa didapat antara lain demam,
mual, muntah, dan kadang-kadang kehilangan penglihatan.1,7,13,14 kadang pasien mengeluh
tidak bisa membuka mata untuk melihat gerakan mata yang terbatas.14 Biasanya ada
riwayat sinusitis akut atau infeksi saluran pernapasan atas pada hari-hari sebelum terjadi
edema kelopak mata. Gejala dapat berkembang dengan cepat, dan dengan demikian,
diagnosis dan pengobatan cepat adalah hal yang terpenting.3
Tanda-tanda selulitis orbita yang didapat kan pada pemeriksaan fisis dan
oftalmologi adalah:1,2,8,13

ditandai dengan adanya

karakteristik kekerasan seperti papan dan kemerahan


ditemukan adanya chemosis konjungtiva, yang menonjol dan menjadi kering

atau nekrotik.
Bola mata proptosis.
gerakan bola mata terbatas
Pemeriksaan fundus dapat menunjukkan adanya kongesti vena retina dan tanda-

tanda papillitis atau edema papil.


penurunan visus

pembengkakan yang menutup bola mata dengan

22

Gambar 6. selulitis orbita mata kiri.2


DIFERENSIAL DIAGNOSIS
Pada anak anak, beberapa penyakit orbita berkembang secepat orbita.
Rhabdomiosarkoma, pseudotumor, dan oftalmopati graves dapat menyerupai selulitis
obita.11 Selulitis preseptal, yang lebih sering ditemui, harus disingkirkan. Peradangan
pada selulitis preseptal adalah ke septum anterior orbital; chemosis dan motilitas terbatas
tidak hadir. Klinis sindrom yang juga harus dipertimbangkan dalam diagnosis diferensial
meliputi sebuah pseudotumor orbital, periostitis orbital yang dapat disertai dengan abses
subperiosteal, dan abses orbital. Karakteristik utama yang penting dari selulitis orbital
untuk diagnosis diferensial adalah motilitas okular signifikan terbatas (disemua arah).
rhabdomyosarcoma juga harus dipertimbangkan pada anak-anak.7

Sesulitis Preseptal
selulitis preseptal adalah infeksi jaringan subkutan dari anteriorseptum orbital .
Sebenarnya itu bukan penyakit orbital tetapi dimasukkan di sini di bawah karena
pembuluh darah vena wajah adalah valveless dan selulitis preseptal bisa menyebar
posterior untuk menghasilkan selulitis orbital.2
Pada anak-anak, yang paling umum penyebab selulitis preseptal yang
mendasarinya adalah sinusitis. Selulitis preseptal pada anak di bawah usia 5 itu sering
dikaitkan dengan bakteremia, septikemia, dan meningitis yang disebabkan oleh
Haemophilus influenzae, bagaimanapun, penyebab ini preseptal dan orbital selulitis telah
hampir dieliminasidengan pengenalan vaksin HIB. Saat ini, sebagian besar kasus
preseptal

pada anak-anak adalah karena gram-positif cocci. Pada remaja dan orang
23

dewasa preseptal selulitisbiasanya timbul dari sumber infeksi supersfisial seperti


inokulasi traumatis, atau Chalazion .titik fokus yang terinfeksi seringkali sulit untuk
menemukan karena jaringan kelopak mata menjadi bengkak.2
Selulitis preseptal memberikan gejala edema pada kelopak mata dan kulit
periorbital tanpa keterlibatan dari orbit. Gambaran klinis penyakit akut berupa yang
periorbital bengkak, eritema dan hiperemi dari kelopak. Demam mungkin berhubungan
dengan leukositosis.9; Reaksi pupil, ketajaman visual,dan motilitas okular tidak
terganggu; nyeri pada gerakan mata dan chemosis tidak ada tidak ada proptosis, gerakan
mata normal, konjungtiva normal, fungsi saraf optik normal.13

Tabel 2. Perbedaan gejala klinis celulitis preseptal dan celulitis orbita. 2

Gambar 9. Selulitis preseptal 2


Rhabdomiosarkoma
Rhabdomiosarkoma adalah tumor yang sangat ganas orbita yang berasal dari
otot-otot ekstraokular. Rhabdomiosarkoma adalah tumor orbital primer yang paling

24

umum di antara anak-anak, biasanya terjadi di bawah usia 15 tahun.2 tumor dapat
menghancurkan tulng orbital di dekatnya dan dapat menyebar ke otak. 8
Gejala klinis berupa adanya

proptosis yang berkembang secara cepat dan

progresif dengan onset mendadak pada anak 7-8 tahun. Proptosis besar karena
rhabdomyosarcoma terletak di kuadran superonasal.2 Presentasi klinis mirip suatu proses
inflamasi. Tumor biasanya melibatkan kuadran superionasal; namun dapat menyerang
setiap bagian dari orbit.2

Gambar 10. Gambar rhabdomiosarkoma2


Pseudotumor
Penyebab pseudotumor orbital tidak diketahui. Salah satu penyebab proptosis
pada dewasa dan anak . istilah pseudotumor dibuat untuk menandakan suatu proses
nonneoplastik yang menimbulkan tanda neoplasma orbital yakni proptosis. Lokasi
peradangan biasanya difus atau setempat, secara khusus mengenai struktur bola mata.
Mungkin juga terdapat perluasan kedalam sinus kavernosus atau menings intrakranial.
Awitanya biasanya cepat dan sering disertai nyeri. Lokasinya biasanya unilateral, bila
mengenai kedua bola mata, kelainan ini sering disebut vaskulitis. 8
Gejala klinis berupa nyeri, reaksi inflamasi cukup parah dengan pembengkakan
kelopak mata, chemosis, dan exophthalmos unilateral atau bilateral.Keterlibatan otot
okular menghasilkan motilitas terbatas dengan diplopia.12 Pasien datang dengan onset
subakut nyeri dengan gerakan mata, diplopia, sakit kepala, dan tanda-tanda sistemik.
Pseudotumor bisa terjadi sepanjang lintasan dari kelenjar
lakrimal hingga ke apeks orbital dan dengan demikian menghasilkan
presentasi klinis yang bervariasi. Gejala yang paling sering didapat
yaitu:2

Bengkak pada kelopak mata, proptosis, nyeri orbital, gerakan

mata terbatas, diplopia, chemosis dan kemerahan.


Kebanyakan kasus bersifat unilateral, meskipun kedua bola
mata dapat terjadi.

25

Kondisi ini biasanya terjadi pada usia antara 40 dan 50 tahun.

Namundapat terjadi pada semua usia


Dapat Rekuren. Pada beberapa pasien inflamasi berkepanjangan
yang parah dapat menyebabkan fibrosis yang progresif dari
jaringan orbital

Gambar 11. Gambar Pseudotumor2


PEMERIKSAAN PENUNJANG
1. .kultur bakteri dapat diambil dari usapan hidung, usapan kunjungtiva dan sampel
darah
2. Pemeriksaan darah lengkap dapat mengungkapkan leukositosis.
3. X-ray sinus paranasa untukmengidentifikasisinusitisterkait.
4. USG Orbital untuk mendeteksi abses intra-orbital.
5. CT scan dan MRI berguna:
- dalam membedakan antara preseptal dan selulitis postseptal;
- dalam mendeteksi abses subperiosteal dan abses orbital.
- dalam mendeteksi ekstensi intrakranial;
- dalam memutuskan kapan dan dari mana untuk menguras sebuah abses orbital.
Radiograf imaging merupakan Sebuah elemen penting dalam evaluasi selulitis
orbital. Computed tomography (CT) scan memberikan gambaran pencitraan isi orbital
dan sinus paranasal, yang dapat mengkonfirmasi penyebaran infeksi eksternal ke dalam
orbit, Identifikasi penyakit sinus secara bersamaan, dan deteksi adanya abses orbital dan
subperiosteal. Sebaliknya CT scan kontras dapat berguna dalam membedakan antara
abses dan keterlibatan phlegmatous jaringan inflamasi

orbital. Lokasi umum untuk

pembentukan abses berdekatan dengan sinus paranasal. Secara khusus, lokasi sering
abses subperiosteal terdapat pada dinding orbital medial dan dasar orbital, mengingat

26

medial berdindnding tipis berdekatan dengan sinus ethmoid dan daras orbital yang
terletak di atas sinus maksilaris.3
Ada beberapa kontroversi mengenai apakah semua pasien yang diduga selulitis
orbita memerlukan CT scan, terutama untuk pasien anak, di mana paparan radiasi
berpotensirisiko kanker. Banyak dokter percaya bahwa jika tanda-tanda klinis
menunjukkan keterlibatan orbital, segerapencitraan radiografi harus dilakukan untuk
mengkonfirmasi keterlibatan keterlibatan orbit, menilai keberadaan abses atau benda
asing, menentukan tingkat keterlibatan orbital, dan mengevaluasi potensi sumber infeksi.
Hal ini dibenarkan

terutama dalam kasus di mana pemeriksaan terbatas (anak-

anak,signifikan edema periorbital), ada kekhawatiran keterlibatan SSP, proptosis berat


dan optalmoplegia, ada tidaknya perbaikan atau respon terhadap kemajuan meskipun
sesuai pengobatan, dan intervensi bedah sedang dipertimbangkan.3
Magnetic resonance imaging (MRI) orbita adalah pilihan lain dengan paparan
radiasi yang minimal dan memberikan resolusi yang baik pada jaringan lunak orbital
dibandingkan dengan CT dan USG. MRI dapat memberikan keuntungan lebih lanjut
dalam evaluasi benda asing yang nonlogam dan diduga adanya keterlibatan intrakranial.
Adapun Kerugian utama dari MRI,adalah membutuhkan waktu yang lama untuk
scanning, memerlukan sedasi dan konsultasi anestesi pediatrik. Selain itu, Layanan MRI
mungkin tidak tersedia di semua rumah sakit.3
secara umum bahwa CT Scan atau MRI orbit berguna dalam menggambarkan
tingkat dan sifat kerusakan infeksi pada kasus-kasus yang rumit. Indikasi untuk CT scan
di selulitis orbital:13

Ketidakmampuan untuk secara akurat menilai visus


Proptosis berat, oftalmoplegia, edema bilateral, atau memburuknya ketajaman

visual
Tidak ada perubahan meskipun telah diberikan antibiotik IV dalam 24 jam
Tanda-tanda atau gejala keterlibatan sistem saraf pusat
Semua pasien yang diindikasikan drainase.

27

Gambar 7. CT Scan Kontras pada mata kiri potongan sagital. seorang pasien yang memiliki selulitis orbital.
Memebrikan gambaran proptosis kiri, udara bebas intraorbital (panah padat), Pembentukan phlegmon, dan
opacification sinus paranasal kiri. penimbunan lemak intraconal sepanjang lantai orbital (panah putus-putus).4

Pada CT scan, beberapa perubahan mungkin jelas dalam selulitis orbital,


termasuk infiltrasi lemak yang difuss, subperiosteal abses, dan abses orbital . Benda
asing mungkin dideteksi, tergantung pada karakteristikbenda asing.4

Gambar 8.

MRI menunjukkan selulitis orbita yang berat di sebelah kanan

yang berhubungan dengan

endophthalmitis dari luar. Perhatikan beberapa loculations dalam segmen posterior mata kanan.3

28

PENATALAKSANAAN
Selulitis orbita

berpotensi mengancam kehidupan dan menyebabkan kebutaan.

selulitis orbita biasanya berasal dari penyebaran infeksi berdekatan yaitu sinus paranasal.
Penanganan penyakit ini sangat penting pada anak-anak karena dapat terjadi kebutaan
dalam hitungan jam, karena orbital Dinding sangat tipis.5
Pengobatan hars dimulai dengan sebelum organisme peneybanya dididentifikasi.
Segera setelah didaatkan biakn hidung, konjungtiva dan darah, harus diberikn antibiotik
intravena. Terapi antibiotik awal harus mengatasi stafilokokus, H. influenza dan bakteri
bakteri anaerob. Selulitis pasca trauma terutama setelah gigitan hewan harus diberi
antibiotik untuk mengatasi basil garm positif dan gram negatif. Dekomgestan hidung dan
vasokonstriksi membantu drainae sinus paranasal. Konsulasi dengan spesialis THT sejak
dini memberikan manfaat.8
Selain itu, dalam rangka untuk menyediakan cakupan yang lebih luas gram negatif
dan organisme anaerob, sefotaksim dan metronidazole atau clindamycin biasanya
bersamaan diberikan. Pilihan antibiotik lain seperti piperacillin- Tazobactam, tikarsilinklavulanat, dan ceftriaxone. Untuk pasien alergi penisilin, vankomisin dalam kombinasi
dengan

fluorokuinolon

dapat

dipertimbangkan.

Pengobatan

harus

dimodifikasi

berdasarkan hasil sensitivitas dan resistensi lokal dan konsultasi dengan layanan penyakit
menular mungkin berharga.3
Infeksi selulitis orbita adalah suatu kegawat darurat dan membutuhkan
penanganan segera antibiotik intravena; ini harus diberikan pada kecurigaan klinis tanpa
harus menunggu hasil pemeriksaan, sementara pemeriksaan penunjang seperti pencitraan
dapat dilakukan setelahnya.. Antibiotik yang tepat harus berada di dosis yang cocok dan
aktif terhadap Organisme dengan memberikan antibiotik spektrum luas: Cefuroxime 1
5g setiap 8 jam (yang anak menerima dosis dikurangi), bersama dengan Metronidazole
500mg setiap 8 jam pada pasien usia sekitar 15 tahun.6
Sebagian kasus berespon dengan cepat terhadap pemeberian antibiotik. Kasus yang
tidak berespon mungkin memerlukan drainase sinus paranasal melalui pembedahan.
MRI bermanfaat untuk memutuskan kapan dan dimana drainase abses orbita dilakukan. 2
1. Terapi antibiotik yang intensif untuk mengatasi infeksi. 2

29

Setelah mendapatkan kultur dari apusan hidung, konjungtiva dan sampel darah,
antibiotik intravena harus diberikan. untuk infeksi staphylococcal dapat diberikan
penisilinase (misalnya, oksasilin) dikombinasikan dengan ampisilin harus
diberikan. Untuk menangani

H. Influenzae terutama pada anak-anak,

kloramfenikol atau asam klavulanat juga harus ditambahkan. sefotaksim,


ciprofloxacin atau vankomisin dapat digunakan alternatif untuk menggantikan
kombinasi oksasilin dan penisilin.
2. Obat analgesik dan anti-inflamasi yang membantu dalam mengontrol rasa sakit
dan demam.
3. Intervensi bedah. Indikasi meliputi unresponsivenes terhadap antibiotik,
penurunan visus dan adanya abses orbital atau subperiosteal.

Tabel 1. Daftar obat obatan pada selulitis orbita. 2

KOMPLIKASI
Komplikasi selulitis orbita Ini adalah sangat sering jika tidak segera diobati:2
1. komplikasi pada okular biasanya buta dan termasuk keratopati, neuritis optik dan
oklusi arteri retina sentral.

30

2.

Komplikasi Orbital laninya berupa perkembangan selulitis orbital menjadi abses


subperiosteal dan / atau abses orbital
Abses subperiosteal adalah akumulasi cairan purulen antara dinding
tulang orbital dan periosteum, yang paling sering terletak di sepanjang
dinding orbital medial. Secara klinis, abses subperiosteal gambaran
klinis selulitis orbital terkait dengan eksentrik proptosis tetapi diagnosis

pasti dikonfirmasi oleh CT scan.


Abses Orbital adalah akumulasi cairan dalam jaringan lunak orbital.
Secara klinis ditandai dengan proptosis yang berat, ditandai chemosis,
ophthalmoplegia, dan bintik purulen di bawah konjungtiva, namun untuk

memastikanya harus dikonfirmasi oleh CT scan.


3. abses Temporal atau parotis dapat terjadi karena penyebaran infeksi di sekitar
orbit.
4. Komplikasi intrakranial seperti

trombosis sinus cavernosus, meningitis dan

abses otak.
5. Septicemia general atau pyaemia mungkin terjadi pada beberapa kasus.

31