Anda di halaman 1dari 6

Sintesis Alkohol dengan Reagen Grignard

Nicodemus Dwiputra
10513016; Kelas 02; Kelompok 2

nicodemusdwiputra@gmail.com

Abstrak
Senyawa alkohol dapat disintesis dengan menggunakan reagen Grignard (senyawa organologam)
yang direaksikan dengan aldehid atau keton. Percobaan ini bertujuan untuk mensintesis
trifenilmetanol melalui reaksi Grignard. Reagen Grignard dapat disiapkan dengan sonikasi
magnesium dan bromobenzena dalam dietil eter. Reaksi fenilmagnesium bromida dengan benzofenon
dingin dan penambahan HCl membentuk dua fasa dalam campuran. Dari pencucian dan penguapan
pelarut pada fasa organik diperoleh kristal putih trifenilmetanol. Setelah proses rekristalisasi diperoleh
sebanyak 0.235 gram kristal putih trifenilmetanol (% rendemen sebesar 21,94 %) dengan titik leleh
48-50oC . Dari hasil kromatografi lapis tipis menggunakan eluen etil asetat : n-heksana = 3 : 7
diperoleh nilai Rf produk sebesar 0,6 dan 0,88.
Kata kunci: reagen Grignard, trifenilmetanol, benzofenon, bromobenzena

Abstract
Alcohol compounds can be synthesized using Grignard reagent (organometallic compounds) through
reaction with aldehyde or ketone compounds. The aim of this experiment is to synthesize
triphenylmethanol through Grignard reaction. An ultrasonic bath is used to initiate the formation of
Grignard reagent from magnesium and bromobenzene in diethyl ether. Reaction between
phenylmagnesium bromide and benzophenone proceeded with addition of HCl divided the mixture
into two phases. After washing and solvent vaporization of the organic phase, white crystal of
triphenylmethanol is collected.
0.235 gram of product obtained after re-crystallization (percent
yield = 21.94 %) with melting point 48-50 oC. Thin layer chromatography test of the product (using
ethyl acetate : n-hexane = 3 : 7 as eluent) gives Rf of 0.6 and 0.88 .
Keywords: Grinard reagent, triphenylmethanol, benzophenone, bromobenzene

1. PENDAHULUAN
Senyawa alkohol dapat disintesis melalui
banyak cara, salah satunya adalah dengan
menggunakan reagen Grignard. Reagen Grignard
adalah suatu senyawa organomagnesium halide yang
banyak digunakan dalam sintesis organik. Reagen
Grignard pertaman kali ditemukan oleh Victor
Grignard, seorang kimiawan Perancis, pada tahun
1900. Untuk menghargai jasanya, senyawa
organomagnesium halida diberi nama reagen
Grignard [1].
Reagen Grinard (RMgX atau ArMgX) dapat
dibuat dengan reaksi dari senyawa oganik halida
dengan logam magnesium dalam pelarut eter anhidrat.
Pada reagen Grignard terdapat pemisahan muatan
yang jelas dimana atom C memiliki sifat
elektronegatif. Struktur sebenarnya dari reagen
Grignard lebih kompleks dari rumus umum RMgX.
Dari hasil experiment, reagen Grignard diketahui
berada
dalam
kesetimbangan
dengan
dialkilmagnesium. Mekanisme reaksi pembentukan
reagen Grignard melibatkan reaksi radikal.
Reagne Grignard dapat disiapkan melalui
peralatan sonikasi pada laboratorium reguler[2].

Reagen Grignard akan bereaksi dengan senyawa


aldehid atau keton menghasilkan senyawa

Gambar 1. Pembentukkan reagen Grignard


alkohol. Jika reagen Grignard bereaksi dengan suatu
aldehid maka hasilnya adalah suatu alkohol sekunder.
Jika reagen Grignard bereaksi dengan suatu keton
maka hasilnya adalah suatu alkohol tersier. Reagen
Grignard akan melakukan adisi pada karbonil
menghasilkan suatu alkoksida. Penambahan asam
akan memprotonasi alkoksida menjadi alkohol.
Pada percobaan ini alkohol akan disintesis
menggunakan reagen Grignard fenilmagnesium
bromida yang direaksikan dengan suatu keton,
benzofenon. Senyawa produk yang dihasilkan adalah
suatu alkohol tersier, trifenilmetanol.

2. METODE PERCOBAAN
0.26 gram Magnesium turnings (dalam vial yang
sudah berisi parafin dan dibersihkan dengan tissue)
dimasukkan ke dalam tabung reaksi yang kering
(tabung A) dan segera ditutup menggunakan kertas
parafilm. Sebanyak 1 mL bromobenzena dimasukkan
ke dalam tabung reaksi lain (tabung B), kemudian 3,1
mL eter anhidrat ditambahkan engan menggunakan
syringe dan segera tutup dengan kertas parafilm.
Tabung B digoyang agar tercampur dengan baik,
ketinggian larutan di tabung B diukur dan diberi tanda
lalu tabung A diberi tanda juga pada ketinggian yang
sama seperti tabung B.
Bromobenzena dalam eter di tabung B diambil
secukupnya dengan menggunakan syringe dan
ditambahkan ke tabung A hingga menutupi sebagian
dari magnesium. Tabung A yang ditutup parafilm
disimpan dalam penangas air di alat sonikasi pada
lemari asam dengan tabung reaksi diarahkan ke
tempat kosong. Ketika cairan dalam tabung A
berubah warna menjadi kelabu atau putih, tabung
segera diangkat dari alat sonikasi. Eter akan
mendidih. Jika eter belum mendidih, tabung A
diletakkan kembali dalam alat sonikasi. Saat
campuran dalam tabung A sudah mendidih, tabung
diangkat dari alat sonikasi dan ditambahkan 0,5 mL
eter dengan syringe. Ketika campuran sudah tidak
mendidih lagi, bromobenzena ditambahkan kembali
dengan menggunakan syringe. Saat reaksi melambat,
0,5 mL eter ditambahkan untuk menggantikan eter
yang menguap. Tabung A diletakkan dalam penganas
es jika reaksi meletup-letup.
Saat semua bromobenzena sudah ditambahkan ke
tabung A, eter ditambahkan lagi untuk menjaga
ketinggian larutan sesuai tanda. Ketika reaksi
melambat dan magnesium sudah melarut, tabung A
kembali disonikasi selama 5 menit. Tabung lalu
diangkat dan didinginkan dalam penangas es. Sisa
magnesium dikeluarkan dengan spatula, dikeringkan
dan ditimbang. Tabung A ditutup kembali dengan
parafilm. 1,82 gram benzofenon ditimbang dan
dilarutkan dalam eter di tabung reaksi C. Tabung C
disimpan dalam penangas air yang sama seperti
tabung A. Lrutan benzofenon dingin ini ditambahkan
pelahan menggunakan syringe dalam ruang asam.
Setelah semua benzofenon ditambahkan, isi tabung
dipindahkan ke dalam erlenmeyer 50 mL, tabung
reaksi A dibilas dengan eter sesedikit mungkin.
Beberapa tetes HCl 0,1 M ditambahkan ke dalam
campuran dan diaduk dengan batang pengaduk.
Penambahan HCl terus dilakukan hingga terlihat jelas
pemisahan fasa air dan fasa organik.
Isi labu Erlenmeyer dipindahkan ke corong pisah
125 mL, lalu dikocok dan dibiarkan hingga terbentuk
dua fasa. Fasa air dikeluarkan dan ditampung. Fasa
organik dicuci dengan 4 mL NaCl dan dilakukan
kembali ekstraksi. Fasa air kembali dipisahkan.
Semua fasa organik ditampung dan ditambah dengan

CaCl2 anhidrat kemudian disaring. Filtratnya


ditampung dalam labu Erlenmeyer 50 mL. Wadah
penampung fasa organik dibilas, disaring dan
digabung dengan filtrat larutan eter. Pelarut diuapkan
dalam penangas air panas di atas pemanas listrik. Sisa
larutan didinginkan hingga terbentuk padatan.
Padatan yang terbentuk dicuci dengan 1 mL
petroleum eter sebanyak 3-4 kali hingga terbentuk
kristal putih. Cairan petroleum eter dibuang dengan
menggunakan pipet tetes yang ujungnya disumbat
kapas. Titik leleh produk yang didapat diukur.
Sedikit dari produk yang didapat dilarutkan
dalam kloroform dan ditotolkan pada pelat KLT.
Benzofenon dan bromobenzena juga ditotolkan
disebelahnya.
Pengelusian
dilakukan
dengan
menggunakan eluen etil asetat : n-heksana = 3: 7.
Produk lalu direkristalisasi ddengan menggunakan
etanol. Spektrum NMR dari produk ditentukan.

3. HASIL DAN PEMBAHASAN


massa magnesium awal
massa magnesium akhir
massa produk setelah rekristalisasi
titik leleh produk
% yield

: 0,256 g
: 0,156 g
: 0,235 g
: 48-50oC
: 21,94%

Tabel 1. Nilai Rf hasil pemeriksaan KLT dengan


eluen etil asetat : n-heksana = 3: 7
No.
Senyawa
Rf
1

Produk

0,6 ; 0,88

Benzofenon

0,57

Reaksi Grignard merupakan salah satu cara untuk


mensintesis suatu alcohol. Reagen Grignard terlebih
dahulu disiapkan pada percobaan ini melalui sonikasi
logam magnesium dan bromobenzena di tabung
reaksi yang berbeda dalam ultrasonic bath.
Magnesium yang tersedia sudah berada dalam parafin
dan harus dikeringkan terlebih dahulu menggunakan
tissue, kemudian langsung dimasukan ke dalam
tabung reaksi dan ditutup dengan kertas parafilm.
Tujuannya adalah supaya tidak ada air yang masuk
dan ikut dalam reaksi. Begitu pula dengan
penambahan eter anhidrat ke dalam benzofenon yang
menggunakan alat suntik yaitu agar meminimalkan
jumlah air yang masuk. Proses pembuatan reagen
Grignard biasanya dilakukan di dalam pelarut eter
karena senyawa organologam merupakan nukleofil
yang baik sekaligus basa yang kuat, perlakuan harus
dilakukan dengan teliti untuk menghindari
kelembaban. Sifat basa dari reagen Grignard
menyebabkannya akan bereaksi dengan senyawasenyawa yang bersifat asam seperti asam karboksilat,
fenol, thiol, alcohol bahkan dengan air, (bereaksi
dengan senyawa-senyawa yang memiliki atom
hydrogen yang menempel pada atom yang

elektronegatif seperti oksigen, nitrogen atau sulfur)


oleh karena itu kondisi reaksi harus bebas dari asam
dan benar-benar bebas air. Reagen Grignard juga akan
bereaksi dengan oksigen di udara membentuk
hidroperoksida, oleh sebab itu sangat tidak stabil jika
terekspos ke udara dan tidak diisolasi dari larutan.
Dietil eter anhidrat dipilih sebagai pelarut dalam
reaksi Grignard atas dasar beberapa alasan. Uap dari
pelarut dietil eter anhidrat yang mudah sekali
menguap akan menghalangi oksigen dari udara untuk
mencapai campuran reaksi sehingga akan mengurangi
kemungkinan reaksi antara oksigen dengan reagen
Grignard yang akan menghasilkan produk samping
yang tidak diinginkan. Reagen Grignard juga akan
membentuk kompleks dengan pelarut eter-nya,
dimana pelarut eter tersebut menyediakan ligan yang
diperlukan
untuk
pembentukkan
kompleks.
Pembentukkan kompleks dengan molekul-molekul
eter ini merupakan factor yang penting pada
pembentukkan dan kestabilan dari reagen Grignard.
Proses penambahan dietil eter anhidrat ini dilakukan
di dalam lemari asam dan tidak boleh ada api
disekitarnya karena dietil eter merupakan zat yang
highly flammable (sangat mudah terbakar).
Pada saat bromobenzene dalam eter sudah
ditambahkan ke dalam tabung berisi magnesium di
ultrasonic bath, gelembung-gelembung akan mulai
muncul di permukaan logam magnesium. Timbulnya
gelembung-gelembung ini menandakan keberjalanan
reaksi. Mekanisme reaksi pembentukkan reagen
Grignard sebenarnya sangat rumit dan masih menjadi
perdebatan, namun sudah disepakati bahwa reaksi
pembentukkan reagen Grignard ini melibatkan
radikal. Mekanisme umum pembentukkan reagen
Grignard diberikan dalam gambar 2.

Gambar 2. Mekanisme reaksi umum pembentukkan


reagen Grignard
Tahap pertama adalah pembentukkan organologam,
yaitu reaki kupling antara readikal Mg terhadap halide
X, menghasilkan suatu radikal alkil R. Kemudian
alkil radikal akan bergabung dengan Mg-X
membentuk suatu reagen Grignard. Reaksi
pembentukkan reagen Grignard ini bersifat sangat
eksoterm, sehingga setelah reaksi pembentukkan ini
dimulai, proses refluks akan terjadi tanpa penambahan
sumber panas dari luar. Reaksi dapat berlangsung
dengan cepat dan meletup-letup oleh karena itu

digunakan penangas es untuk meredakan reaksi yang


sangat eksoterm ini.
Setelah reagen Grignard terbentuk, ke
dalamnya ditambahkan suatu keton, benzofenon.
Karena reaksi yang akan terjadi adalah antara reagen
Grignard dengan benzofenon yang merupakan suatu
keton, maka produk yang diharapkan terbentuk adalah
suatu alcohol tersier, trifenilmetanol. Reaksi yang
dilakukan berada dalam penangas es dan masih tetap
ditutup dengan menggunakan kertas parafilm, karena
kertas parafilm merupakan kertas yang tahan air, dan
dapat digunakan untuk penyimpanan yang cukup
lama. Kontak antara reagen Grignard dengan air dan
udara sangat dihindari dalam percobaan ini karena
reagen Grignard dapat bereaksi dengan air dan gas O2
serta CO2 di udara menghasilkan produk lain yang
tidak diinginkan sehingga dapat mengurangi
rendemen percobaan. Reagen Grignard dapat bereaksi
dengan air menghasilkan suatu alkana dan Mg(OH)X,
reaksi dengan alcohol pun akan menghasilkan alkana.
R-MgX + H-O-H R-H + HO + Mg + X . Reaksi
yang terjadi ini adalah reaksi asam-basa, dimana
reaksi terjadi kearah pembentukkan asam konjugasi
yang lebih lemah dan basa konjugasi yang lebih
lemah. Reagen Grignard bertindak seakan-akan
mempunyai anion dari alkana, suatu karbanion.
Penambahan benzofenon ke dalam reagen
Grignard dilakukan menggunakan
syringe
dan
penambahannya dilakukan sedikit demi sedikit dan
dengan perlahan-lahan karena reaksi antara reagen
Grignard dengan benzofenon sangat eksoterm
sehingga harus dilakukan dalam penangas es untuk
berjaga-jaga jika terjadi letupan kuat, juga unutk
menghindari terbentuknya senyawa produk samping
yang dapat mengurangi rendemen produk utama yang
diinginkan. Reaksi sintetis yang paling penting dari
reagen Grignard adalah reaksi-reaksi dimana reagen
Grignard tersebut bertindak sebagai nukleofil dan
menyerang ikatan karbon tak jenuh, terutama atom
karbon pada gugus karbonil, dimana senyawa yang
memiliki gugus karbonil yang digunakan pada
percobaan ini adalah benzofenon. Senyawa-senyawa
karbonil merupakan senyawa yang rentan sekali
terhadap serangan nukleofilik, dimana atom karbon
pada gugus karbonilnya memiliki muatan parsial
postif akibat berikatan rangkap dengan atom yang
elektronegatif, atom O, sehingga kerapatan electron di
atom C rendah karena ditarik oleh atom O.
Mekanisme reaksi antara reagen Grignard dan
bromobenzena dapat dilihat pada gambar 3. Reaksi
yang terjadi masih dilakukan dalam dietil eter
anhidrat. Reagen Grignard yang merupakan nukleofil
kuat akan menggunakan pasangan elektronnya
diantara ikatan atom C dengan MgBr untuk
membentuk ikatan dengan atom C pada gugus
karbonil. Satu pasang electron pada gugus karbonil
berpindah ke atom oksigen. Reaksi yang terjadi ini
merupakan reaksi adisi nukleofilik pada gugus
karbonil yang pada akhirnya berujung pada
pembentukkan ion alkoksida yang berasosiasi dengan
_

2+

--

ion Mg2+ dan ion halide Br-. Setelah reaksi antara


reagen Grignard dan benzofenon selesai, penambahan
asam, dimana pada percobaan ini digunakan asam
encer HCl 0,1 M, berfungsi untuk mengubah garam
dari lakohol (RMgOX) menjadi alkohol itu sendiri
memprotonasi dari ion alkoksida yang mana bertujuan
pada pembentukkan alcohol dan MgCl2. Jika alcohol
yang terbentuk adalah alcohol tersier, maka akan
menjadi rentan terhadap proses dehidrasi yang
dikatalisis oleh asam. Oleh karena itu digunakan asam
yang cukup encer sehingga cukup kuat untuk
mengubah garam dari alkoholnya menjadi alcohol
tanpa terjadinya reaksi yang dikatalisis asam dari
alcohol tersier yang dihasilkan. Setelah penambahan
asam yang cukup larutan akan terpisah menjadi dua
lapisan yang jelas, dimana terdapat fasa air dan fasa
organic. Di fasa organic-lah terdapat hasil reaksi yang
diinginkan. . Dalam fasa organic ditambahkan sedikit
NaOH yang bertujuan untuk menetralkan HCl yang
masih tersisa jika penambahan HCl berlebih. Jika HCl
masih terdapat dalam fasa organic maka akan ada
kemungkinan asam akan memprotonasi gugus OH
pada trifenilmetanol sehingga gugus terebut akan
berubah menjadi leaving group yang baik dan produk
trifenilmetanol yang diinginkan akan berkurang akibat
sebagiannya berubah menjadi senyawa alkana. Hasil
ekstraksi berupa fasa organic tersebut kemudian
ditambahkan CaCl2 anhidrat untuk menghilangkan
kemungkinan air yang masih tersisa dalam larutan.
Fasa
organic
kemudian
dipanaskan
untuk
menguapkan pelarut sehingga larutan menjadi jenuh
dan padatan produk dapat terbentuk. Pendinginan
larutan di dalam penangas es dilakukan untuk
menurunkan kelarutan padatan dalam pelarutnya
sehingga semakin mudah dan banyak padatan yang
terbentuk. Pencucian dilakukan dengan menggunakan

petroleum eter sebanyak 3-4 kali hingga padatan


terbentuk menjadi Kristal putih. Pencucian dengan
petroleum eter ini berfungsi menghilangkan senyawasenyawa pengotor ataupun dapat menghilangkan
senyawa produk samping yang mungkin terbentuk
yang dapat mempengaruhi hasil analisis untuk
identifikasi produk utama seperti uji kromatografi
lapis tipis.
Dari hasil percobaan sintesis trifenilmetanol
ini, diperoleh suatu kristal putih dengan massa kristal
seberat 0,255 gram dengan percent yield sebesar
21,94%. Pada awal pembentukkan reagen Grignard
digunakan 0,256 gram magnesium turnings yang
setelah bereaksi tersisa sebanyak 0,156 gram. Artinya
jumlah magnesium yang bereaksi adalah sebanyak 0,1
gram atau sebanyak 4.1135 mmol. Jumlah magnesium
turnings yang bereaksi ini akan menjadi pereaksi
pembatas dari reaksi pembentukkan trifenilmetanol
ini karena jumlah bromobenzena dan benzofenon
yang digunakan lebih banyak dari jumlah magnesium
yang bereaksi yaitu sebanyak 0,01 mol. Besar percent
yield yang diperoleh kurang maksimal dimana hal ini
dapat disebabkan oleh beberapa hal, diantaranya
adalah terbentuknya produk-produk samping yang
dapat mengurangi percent yield. Produk-produk
samping yang dapat terbentuk dalam reaksi selain
reagen Grignard yang dapat bereaksi dengan udara
(gas oksigen dan karbon dioksida) dan terbentuknya
senyawa alkana akibat reaksi dengan air adalah
terbentuknya senyawa bifenil akibat reaksi antara
fenilmagnesium bromide dengan bromobenzene.
Produk samping ini sangat mungkin terbentuk karena
jumlah bromobenzene yang ditambahkan lebih
banyak dari jumlah Magnesium-nya mengingat hanya
sedikit jumlah magnesium yang bereaksi. Senyawa
hasil reaksi samping ini dapat dihilangkan dengan

pencucian padatan produk menggunakan ligroin


(petroleum eter) karena bifenil jauh lebih larut dalam
petroleum eter dibandingkan dengan trifenilmetanol.
Salah satu cara penghilangan senyawa-senyawa
pengotor adalah dengan menggunakan proses
rekristalisasi dengan pelarut. Seringnya kontak
dengan udara diakibatkan kertas parafilm yang mudah
tersobek sehingga larutan terekspos dengan udara
dalam waktu yang lama, untuk meminimalisirnya
kertas parafilm dapat dilapis lagi dengan
menggunakan aluminum foil, selain itu peralatan gelas
yang akan digunakan pada percobaan juga sebaiknya
dibersihkan dikeringkan dalam oven pada 110 OC
selama minimal 30 menit. Ketidakmaksimalan
pembentukkan produk trifenilmetanol juga dapat
disebabkan oleh sedikitnya magnesium turnings yang
ikut bereaksi menghasilkan reagen Grignard.
Permukaan logam magnesium yang digunakan
sebenarnya dilapisis oleh suatu lapisan oksida yang
dapat melindungi magnesium untuk tidak bereaksi
dengan bromobenzena. Oleh karena itu sebelum
magnesium digunakan harus terlebih dahulu
dihilangkan lapisan oksidanya melalui beberapa
cara[3]. Penggoresan magnesium menggunakan
sandpaper atau kertas ampelas adalah salah satu
caranya. Sonikasi juga merupakan salah satu cara
untuk menghilangkan lapisan oksida dari magnesium,
penambahan kristal iodine pun dapat dilakukan.
Hasil analisis kromatografi lapis tipis dari
senyawa produk menggunakan eluen etil asetat : nheksana = 3 : 7 menghasilkan dua noda pada pelat

dengan nilai Rf noda pertama adalah 0,6 dan noda


kedua 0,88. Pengukuran titik leleh produk
menghasilkan nilai 48-50OC. Dilihat dari data KLT
produk dapat dilihat bahwa produk yang dihasilkan
belum murni dibuktikan dengan munculnya dua buah
noda. Noda pertama memiliki nilai Rf yang mirip
dengan nilai Rf reaktan benzofenon yaitu sekitar 0,57.
Nilai titik leleh produk yang didapat juga serupa
dengan nilai titik leleh benzofenon yaitu pada rentang
suhu 48-50OC dimana seharusnya trifenilmetanol
memiliki titik leleh 163 OC (literature). Dari data-data
tersebut dapat disimpulkan bahwa produk yang
dihasilkan sebagian besar masih merupakan
benzofenon yang tidak bereaksi dengan reagen
Grignard yang terbentuk akibat jumlah benzofenon
yang lebih berlebih.

4.

KESIMPULAN
massa kristal produk
% yield
Titik leleh produk
Rf produk

: 0,235 g
: 21,94 %
: 48-50OC
: 0,6 dan 0,88

UCAPAN TERIMAKASIH
Penulis mengucapkan rasa syukur dan terimakasih
kepada Tuhan Yang Maha Esa, kedua orang tua atas

segala dukungannya, pemimpin praktikum Ibu Alni


dan juga dosen mata kuliah kimia organik Dr. Deana
Wahyuningrum, asisten praktikum, teman-teman
kelompok praktikum, dan pihak-pihak lain yang ikut
membantu namun tidak bisa disebutkan satu per
satu oleh penulis, baik yang ikut terlibat secara
langsung maupun tidak langsung dalam penulisan
laporan ini.

DAFTAR PUSTAKA
[1]

[2]

[3]

Solomons, T. W. G.; Fryhle, C. B. Organic


Chemistry, 10th ed.; John Wiley & Sons, Inc.,:
Hoboken, NJ, 2011, 561-573.
David H. Smith. (1999) Grignard Reactions in
Wet Ether; J. Chem. Educ., 1999, 76 (10), p
1427.
Mayo, D.W., Pike, R.M., Forbes, D.C.,
Microscale
Organic
Laboratory:
with
Multisteps and Multiscale Synthesis, 5th edition,
John Wiley & Sons, New York, 2011, 275-281