Anda di halaman 1dari 33

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 LATAR BELAKANG
System urogenital terdiri dari system urologi dan system genitalia. System
urologi merupakan system perkemihan yang terdiri dari ginjal, ureter, vesika
urinaria, dan uretra. System genitalia terdiri dari genitalia eksterna dan interna.
Genitalia eksterna terdiri dari skrotum dan penis. Genitalia interna terdiri dari
testis, epididymis, vas deferens, prostat, kelenjar cowper. Fungsi reproduksi pada
pria dapat dibagi menjadi tiga subdivisi utama : (1) spermatogenesis, yang berarti
pembentukan sperma, (2) kinerja kegiatan seksual pria, dan (3) pengaturan fungsi
reproduksi pria dengan berbagai hormone. Fungsi reproduksi ini disertai oleh
pengaruh hormone kelamin pria terhadap organ kelamin tambahan pria,
metabolism sel, pertumbuhan, dan fungsi-fungsi tubuh yang lain.
Sistem perkemihan merupakan suatu sistem dimana terjadinya proses
penyaringan darah sehingga darah bebas dari zat-zat yang yang tidak
dipergunakan oleh tubuh dan menyerap zat-zat yang masih dipergunakan oleh
tubuh. Zat-zat yang tidak dipergunakan lagi oleh tubuh larut dalam air dan
dikeluarkan berupa urin (air kemih)
Susunan sistem perkemihan terdiri dari: a) dua ginjal (ren) yang menghasilkan
urin, b) dua ureter yang membawa urin dari ginjal ke vesika urinaria (kandung
kemih), c) satu vesika urinaria (VU), tempat urin dikumpulkan, dan d) satu
urethra, urin dikeluarkan dari vesika urinaria.
ginjal terletak pada dinding posterior abdomen di belakang peritoneum pada
kedua sisi vertebra thorakalis ke 12 sampai vertebra lumbalis ke-3. adanya lobus
hepatis dexter yang besar.

1.2 Rumsan masalah

Menjelaskan tentang trauma ada traktus urinarius


Mengetahui proses dan akibat dari trauma

BAB II
LANDASAN TEORI
2.1 Anatomi Fisiologi Traktus Urinarius
1. GINJAL
Ginjal merupakan organ yang berbentuk seperti kacang merah dengan
panjang sekitar 10-13 cm, lebarnya 6 cm, berwarna merah dan berat kedua ginjal
kurang dari 1% berat seluruh tubuh atau beratnya antara 120-150 gram dan setiap
sekitar 20-25% darah yang dipompa jantung mengalir menuju ginjal.

Ginjal terdapat sepasang (masing-masing satu di sebelah kanan dan kiri


vertebra) dan posisinya retroperitoneal, yang berarti terletak di belakang
peritoneum yang melapisi rongga abdomen. Gnjal kanan terletak sedikit lebih
rendah (kurang lebih 1cm) dibanding ginjal kiri, hal ini disebabkan adanya hati
yang mendesak ginjal sebelah kanan. Kutub atas ginjal kiri adalah tepi atas iga
11(vertebra T12) dan kutub bawahnya adalah processus transverses vertebra L2
(kira-kira 5cm dari krista iliaca) ,sedangkan kutub atas ginjal kanan adalah tepi
bawah iga 11 atau iga 12 dan kutub bawahnya adalah pertengahan vertebra L3.

Secara Umum, Ginjal Terdiri Dari Beberapa Bagian:


a. Korteks, yaitu bagian ginjal yang di dalamnya terdapat korpus renalis/Malpighi
(glomerulus dan kapsul Bowman), tubulus kontortus proksimal dan tubulus
kontortus dital.
b. Medulla, yang terdiri dari 9-14 pyramid. Di dalamnya terdiri dari tubulus rektus,
lengkung henle dan tubulus proksimal (ductus colligent).
c. Columna Renalis, yaitu bagia korteks diantara pyramid ginjal.
d. Prpcessus Renalis, yaitu bagian pyramid/madula yang menonjol kea rah
korteks.
e. Hilus Renalis, yaitu suatu bagian di mana pembuluh darah, serabut saraf atau
duktus memasuki/meninggalkan ginjal.
f. Papilla

Renalis,

yaitu

bagian

yang

menghubungkan

antara

duktus

pengumpul dan calyx minor.


g. Calyx Minor, yaitu percabangan dari calyx major. Calyx
Major, yaitu percabangan drari pelvis renalis.
h. Pelvis Renalis/piala ginjal, yaitu bagian yang menghubungkan antara calyx
major dan ureter.
i. Ureter, yaitu saluran yang membawa urin menju vesica urinaria.
Pada bagian korteks dan medulla mengandung sekitar 1 juta nefron. Nefron

adalah satuan structural dan fungsional terkecil pada ginjal.


Dapat dibedakan dua jenis nefron:
1. Nefron kortikalis yaitu nefron yang glomerulinya terletak pada bagian luar
dari korteks dengan lingkungan henle yang pendek dan tetap berada pada
korteks atau mengadakan penetrasi hanya sampai ke zona luar dari medula.
2. Nefron juxtamedullaris yaitu nefron yang glomerulinya terletak pada bagian
dalam dari korteks dekat dengan cortex-medulla dengan lengkung henle yang
panjang dan turun jauh ke dalam zona dalam dari medula, sebelum berbalik dan
kembali ke cortex.

Bagian-bagian Nefron:
Glomerulus. . Glomerulus merupakan suatu jaringan kapiler berbentuk
bola yang berasal dari arteriol afferent yang kemudian bersatu menuju arteriol
efferent, Berfungsi sebagai tempat filtrasi sebagian air dan zat yang terlarut dari
darah yang melewatinya.
Kapsul Bowman. Berbentuk seperti mangkuk. Lapisan parietalnya terdiri
dari epitel gepeng dengan nucleus-nukleus yang mencolok yang menonjol ke
dalam ruang kapiler. Epitel dalam atau epitel Visceral dibentuk oleh sel-sel
bercabang yang disebut podosit. Tiap sel terdiri dari sekumpulan bahan di pusat
yang mengandung sebuah nucleus dan beberapa tonjolan atau cabang-cabang yang
memancar, yang pada gilirannya menumbuhkan tonjolan- tonjolan lebih kecil
yang dilenal sebagai tonjolan-tonjolan kaki atau pedikel. Kapsul Bowman ini
melingkupi glomerolus untuk mengumpulkan cairan yang difiltrasi oleh kapiler
glomerolus.
Tubulus Proksimal. Terdiri dari suatu bagian yang terpilin dalam labirin
kortikal dan suatu anggota naik yang lurus dalam pancaran meduler dan piramida.
Tubulus proksimal ini tersusun dari suatu tubula dengan epitel torak rendah yang

mempunyai suatu batas sikat pada permukaan bebasnya dan alur-alur dasar dalam
posisi subnuklear.Suatu sifat mencolok dari sel-sel tubula proksimal adalah bagian
dasarnya terbagi dalam kompartemen - kompartemen oleh lipatan-lipatan yang
menonjol. Kompartemen - kompartemen ini

mengandung

sejumlah

besar

mitokondrium yang memanjang dari poliribosom. Sel-sel tubula proksimal terikat


menjadi satu oleh kompleks sambungan. Tubulus proksimal ini berfungsi
mengadakan reabsorbsi bahan-bahan dari cairan tubuli dan mensekresikan bahanbahan ke dalam cairan tubuli.
Lengkung Henle. Lengkung Henle membentuk lengkungan tajam berbentuk
U. Terdiri dari pars descendens yaitu bagian yang menurun terbenam dari korteks ke
medula, dan pars ascendens yaitu bagian yang naik kembali ke korteks. Bagian
bawah dari lengkung henle mempunyai dinding yang sangat tipis sehingga
disebut segmen tipis, sedangkan bagian atas yang lebih tebal disebut segmen tebal.
Lengkung henle berfungsi reabsorbsi bahan-bahan dari cairan tubulus dan sekresi
bahan- bahan ke dalam cairan tubulus. Selain itu, berperan penting dalam
mekanisme konsentrasi dan dilusi urin.
Tubulus Distal.Tubula berpilin dengan permukaan bebas yang polos. Sel-sel
ini kurang eosinofil (atau lebih basofil) dari pada yang terdapat dalam tubula
proksimal. Pembuluh ini berperan dalam pengaturan konsentrasi ion K + dan NaCl
dari cairan tubuh dengan cara sejumlah ion K+ disekresi ke dalam filtrate dan
sejumlah NaCl direabsorbsi dari filtrat. Pembuluh distal juga berperan menjaga pH
cairan tubuh dengan cara mensekresikan H dan mereabsorbsi ion bikarbonat
(HCO3-).
Tubulus Pengumpul. Sel-sel tubula pengumpul mempunyai batas-batas
yang jelas, nucleus berbentuk bola kira-kira pada tingkat sama didalam sel, dan
sitoplasma yang relative granuler. Pembuluh ini bersifat permeable terhadap air

tetapi tidak untuk garam.

Gambar 1.1 anatomi ginjal

Vaskularisasi renal
Arteri renalis dicabangkan dari aorta abdominalis kira-kira setinggi vertebra
lumbalis II. Vena renalis menyalurkan darah kedalam vena kava inferior yang terletak
disebelah kanan garis tengah. Saat arteri renalis masuk kedalam hilus, arteri tersebut
bercabang

menjadi

arteri

interlobaris

yang

berjalan

diantara

piramid

selanjutnyamembentuk arteri arkuata kemudian membentuk arteriola interlobularis

yang tersusun paralel dalam korteks. Arteri interlobularis ini kemudian membentuk
arteriola aferen pada glomerulus.
Glomeruli bersatu membentuk arteriola aferen yang kemudian bercabang
membentuk sistem portal kapiler yang mengelilingi tubulus dan disebut kapiler
peritubular. Darah yang mengalir melalui sistem portal ini akan dialirkan kedalam
jalinan vena selanjutnya menuju vena interlobularis, vena arkuarta, vena interlobaris,
dan vena renalis untuk akhirnya mencapai vena cava inferior. Ginjal dilalui oleh
sekitar 1200 ml darah permenit suatu volume yang sama dengan 20-25% curah
jantung (5000 ml/menit) lebih dari 90% darah yang masuk keginjal berada pada
korteks sedangkan sisanya dialirkan ke medulla. Sifat khusus aliran darah ginjal
adalah otoregulasi aliran darah melalui ginjal arteiol afferen mempunyai kapasitas
intrinsik yang dapat merubah resistensinya sebagai respon terhadap perubahan
tekanan darah arteri dengan demikian mempertahankan aliran darah ginjal dan filtrasi
glomerulus tetap konstan.
Inervasi Ginjal
Inervasi ginjal berasal dari pleksus renalis yang merupakan sisitem saraf
autonom, berjalan melewati aorta tepat pada bagian kranial dari arteri renalis, berasal
dari

serabut-serabut preganglionik dari T 12 dan segmen lumbar bagian atas.

Serabut-serabut ini bersama-sama dengan arteri renalis masuk ginjal melalui hillum
dan melanjutkan diri mengikuti percabangan arteri. Sinaps terjadi dalam ganglion
renal. Inervasi parasimpatik berasal dari n. Vagus.
Aliran Limfe
Terdapat dua jalan utama aliran

limfatik ginjal, yang pertama terletak

sepanjang pembuluh darah utama dan yang kedua berasal dari subkapsuler, keduanya
kemudian bergabung ke hilum dan mengalir menuju kelenjar limfa

para aorta.

Terjadi juga hubungan dengan limfonodi yang terletak pada bagian inferior vena kava
dan kelenjar limfe dari daerah lumbar.

2.URETER
Ureter merupakan saluran sepanjang 25-30 cm yang membawa hasil
penyaringan ginjal (filtrasi, reabsorpsi, sekresi) dari pelvis renalis menuju vesica
urinaria. Terdapat sepasang ureter yang terletak retroperitoneal, masing-masing satu
untuk setiap ginjal.

Syntopi ureter
Anterior

Ureter kiri
Kolon sigmoid

Ureter kanan
Duodenum pars descendens

a/v. colica sinistra

Ileum terminal

a/v. testicularis/ovarica

a/v. colica dextra


a/v.ileocolica

Posterior

mesostenium
M.psoas major, percabangan a.iliaca communis
Laki-laki: melintas di bawah lig. umbilikal lateral dan ductus
deferens
Perempuan: melintas di sepanjang sisi cervix uteri dan bagian atas
vagina

Laki-laki: melintas di bawah lig. umbilikal lateral dan ductus deferens


Perempuan: melintas di sepanjang sisi cervix uteri dan bagian atas vagina
Ureter setelah keluar dari ginjal (melalui pelvis) akan turun di depan m.psoas major,
lalu menyilangi pintu atas panggul dengan a.iliaca communis. Ureter berjalan secara
postero-inferior di dinding lateral pelvis, lalu melengkung secara ventro-medial untuk

mencapai vesica urinaria. Adanya katup uretero-vesical mencegah aliran balik urine
setelah memasuki kandung kemih. Terdapat beberapa tempat di mana ureter
mengalami penyempitan yaitu peralihan pelvis renalis-ureter, fleksura marginalis
terbentuk batu/kalkulus.
Ureter diperdarahi oleh cabang dari a.renalis, aorta abdominalis, a.iliaca
communis, a.testicularis/ovarica serta a.vesicalis inferior. Sedangkan persarafan
ureter melalui segmen T10-L1 atau L2 melalui pleksus renalis, pleksus aorticus, serta
pleksus hipogastricus superior dan inferior.
3.VESIKA URINARIA ( KANDUNG KEMIH )
Vesika urinaria (bladder) disebut juga kandung kemih terdiri atas 2 bagian, yaitu
daerah fundus dan leher kandung kemih. Bagian leher kandung kemih disebut juga
uretra posterior karena berhubungan dengan uretra. Mukosa kandung kemih dilapisi
oleh epitel transisional yang

mengandung

ujung-ujung

saraf

sensoris.

Di

bawahnya terdapat lapisan sub mukosa yang sebagian besar tersusun dari
jaringan ikat dan jaringan elastin . Otot polos kandung kemih adalah otot detrusor
yang terdiri dari lapisan otot longitudinal pada lapisan luar dan dalam sedangkan otot
sirkuler pada bagian tengahnya otot detrusor melanjutkan perjalanannya ke arah
uretra membentuk suatu "pipa" yang disebut bladder neck. Kandung kemih berbentuk
oblik untuk menghindari urin kembali keatas.

Gambar 1.3 vesika urinaria


Dalam keadaan kosong vesica urinaria berbentuk tetrahedral yang terdiri atas
tiga bagian yaitu apex, fundus/basis dan collum. Serta mempunyai tiga permukaan
(superior dan inferolateral dextra dan sinistra) serta empat tepi (anterior, posterior,
dan lateral dextra dan sinistra). Dinding vesica urinaria terdiri dari otot m.detrusor
(otot spiral, longitudinal, sirkular). Terdapat trigonum vesicae pada bagian
posteroinferior dan collum vesicae. Trigonum vesicae merupakan suatu bagian
berbentuk mirip-segitiga yang terdiri dari orifisium kedua ureter dan collum vesicae,
bagian ini berwarna lebih pucat dan tidak memiliki rugae walaupun dalam keadaan
kosong.
Vesicae urinaria diperdarahi oleh a.vesicalis superior dan inferior. Namun
pada perempuan, a.vesicalis inferior digantikan oleh a.vaginalis. Sedangkan
persarafan pada vesica urinaria terdiri atas persarafan simpatis dan parasimpatis.
Persarafan simpatis melalui n.splanchnicus minor, n.splanchnicus imus, dan
n.splanchnicus

lumbalis

L1-L2.

Adapun

persarafan

parasimpatis

melalui

n.splanchnicus pelvicus S2-S4, yang berperan sebagai sensorik dan motorik.


Kandung kemih dapat mengembang dan mengempis seperti balon karet, terletak
di belakang simfisis pubis di dalam ronga panggul. Bentuk kandung kemih seperti
kerucut yang dikelilingi oleh otot yang kuat, berhubungan ligamentum vesika
umbikalis medius. Bagian vesika urinaria terdiri dari :

Fundus, yaitu bagian yang mengahadap kearah belakang dan bawah, bagian
ini terpisah dari rektum oleh spatium rectosivikale yang terisi oleh jaringan

ikat duktus deferent, vesika seminalis dan prostate.


Korpus, yaitu bagian antara verteks dan fundus.
Verteks, bagian yang maju kearah muka dan berhubungan dengan
ligamentum vesika umbilikalis.

Dinding kandung kemih terdiri dari beberapa lapisan yaitu, peritonium (lapisan
sebelah luar), tunika muskularis, tunika submukosa, dan lapisan mukosa (lapisan
bagian dalam).
4.URETRA
Uretra merupakan saluran yang membawa urine keluar dari vesica urinaria
menuju lingkungan luar. Terdapat beberapa perbedaan uretra pada pria dan wanita.
Uretra pada pria memiliki panjang sekitar 20 cm dan berhubungan dengan kelenjar
prostat, sedangkan uretra pada wanita panjangnya sekitar 3.5 cm. selain itu, Pria
memiliki dua otot sphincter yaitu m.sphincter interna (otot polos terusan dari
m.detrusor dan bersifat involunter) dan m.sphincter externa (di uretra pars
membranosa, bersifat volunter), sedangkan pada wanita hanya memiliki m.sphincter
externa (distal inferior dari kandung kemih dan bersifat volunter). Pada pria, uretra
dapat dibagi atas pars pre-prostatika, pars prostatika, pars membranosa dan pars
spongiosa.

1.4 gambar saluran kemih

1. Pars pre-prostatika (1-1.5 cm), merupakan bagian dari collum vesicae dan
aspek superior kelenjar prostat. Pars pre-prostatika dikelilingi otot m.
sphincter urethrae internal yang berlanjut dengan kapsul kelenjar prostat.
Bagian ini disuplai oleh persarafan simpatis.
2. Pars prostatika (3-4 cm), merupakan bagian yang melewati/menembus
kelenjar prostat. Bagian ini dapat lebih dapat berdilatasi/melebar dibanding
bagian lainnya.
3. Pars membranosa (12-19 mm), merupakan bagian yang terpendek dan
tersempit. Bagian ini menghubungkan dari prostat menuju bulbus penis
melintasi diafragma urogenital. Diliputi otot polos dan di luarnya oleh
m.sphincter urethrae eksternal yang berada di bawah kendali volunter
(somatis).
4. Pars spongiosa (15 cm), merupakan bagian uretra paling panjang,
membentang dari pars membranosa sampai orifisium di ujung kelenjar penis.
Bagian ini dilapisi oleh korpus spongiosum di bagian luarnya.
5. Panjang uretra pada wanita sekitar 2,5- 3,5 cm sedangkan pada pria 17-22,5
cm
Lapisan dinding ureter terdiri dari :
a. Dinding luar jaringan ikat (jaringan fibrosa)
b. Lapisan tengah otot polos
c. Lapisan sebelah dalam lapisan mukosa
Lapisan dinding ureter menimbulkan gerakan gerakan peristaltik tiap 5
menit sekali yang akan mendorong air kemih masuk ke dalam kandung kemih
(vesika urinaria). Gerakan peristaltik mendorong urin melalui ureter yang
dieskresikan oleh ginjal dan disemprotkan dalam bentuk pancaran, melalui
osteum uretralis masuk ke dalam kandung kemih. Ureter berjalan hampir vertikal

ke bawah sepanjang fasia muskulus psoas dan dilapisi oleh pedtodinium.


Penyempitan ureter terjadi pada tempat ureter terjadi pada tempat ureter
meninggalkan pelvis renalis, pembuluh darah, saraf dan pembuluh sekitarnya
mempunyai saraf sensorik.

Fisiologi Miksi
Miksi atau urinisasi merupakan proses pengosongan kandung
kemih. Setelah dibentuk oleh ginjal, urin disalurkan melalui ureter ke
kandung kemih. Aliran ini dipengaruhi oleh gaya tarik bumi, selain itu
juga kontraksi peristaltik otot polos dalam dinding ureter. Karena urin
secara terus menerus dibentuk oleh ginjal, kandung kemih harus memiliki
kapasitas penyimpanan yang cukup.
Mekanisme miksi bergantung pada inervasi parasimpatis dan
simpatis juga impuls saraf volunter. Pada pengeluaran urin dibutuhkan
kontraksi aktif otot detrusor, maka:

Bagian otot trigonum yang mengelilingi jalan keluar uretra berfungsi


sebagai sfingter uretra internal yang diinervasi oleh neuron parasimpatis.

Sfingter uretra eksternal terbentuk dari serabut otot rangka dari otot
perineal transversadibawah

kendali

volunter. Selain

itu

bagian

pubokoksigeus pada otot elevator juga berkontriksi dalam pembentukan


sfingter .
Rata-rata pengeluaran urin adalah 1,5 l per hari, walaupun bisa
berkurang hingga kurang dari 1 l per harinya dan meningkat hingga
mendekati 20 l per hari.
Refleks berkemih dicetuskan apabila reseptor-reseptor regang di
dalam dinding kandung kemih terangsang. Kandung kemih orang dewasa
dapat menampung sampai 250 atau 450 ml urin sebelum tegangan di dinding
kandung kemih untuk mengaktifkan reseptor regang. Makin besar

peregangan melebihi ambang ini, makin besar tingkat pengaktifan reseptor.


Selain refleks ini dimulai, refleks ini bersifat regenerasi sendiri.
Refleks berkemih terjadi dengan cara:

Impuls pada medulla spinalis dikirim ke otak dan menghasilkan impuls


parasimpatis yang menjalankan melalui saraf splanknik pelvis ke kandung
kemih.

Refleks perkemihan menyebabkan otot detrusor kontraksi dan relaksasi


sfingter internal dan eksternal.
Pada anak-anak, miksi merupakan sebuah refleks lokal spinal dimana

pengosongan kandung kemih dengan pencapaian tekanan kritis. Sedangkan pada


dewasa, refleks ini dibawah kontrol volunter sehingga dapat diinhibisi oleh otak
Selama miksi, proses yang terjadi berupa:

Refleks detrusor meregang, mencetuskan refleks kontraksi dari otot-otot


tersebut sehingga timbul keinginan untuk miksi.

Relaksasi otot puborectalis sehingga kandung kemih akan turun sedikit


sehingga penghambatan uvula menurun dan segmen bagian pertama uretra
melebar.

Relaksasi otot sfingter uretra eksterna memungkinkan kandung kemih


untuk mengosongkan isinya dan dapat dibantu dengan tindakan valsava.

Pada akhir proses miksi, kontraksi kuat dari otot sfingter uretra eksterna
dan dasar panggul akan mengeluarkan sisa urin dalam uretra, setelah itu otot
detrusor relaksasi kembali untuk pengisian urin .
Gangguan pada sistem saraf pusat atau komponen saluran kemih bagian

bawah dapat menyebabkan tidak sempurnanya pengeluaran dan retensi urin atau
tidak dapat menahan miksi, atau gejala-gejala kompleks kandung kemih
yang berlebihan dengan karakteristik berupa sesak dan miksi berulang-ulang
dengan atau tanpa inkontinensia urin.
Pengisian dan pengeluaran urin pada kandung kemih dikontrol oleh

sirkuit saraf di otak, medula spinalis, dan ganglia. Sirkuit ini mengkoordinasikan
aktifitas otot polos di detrusor dan uretra. Suprapontin mempengaruhi keadaan
on-off switch pada saluran kemih bagian bawah dengan dua cara operasi yaitu
penyimpanan dan pengeluaran.
Berkemih dapat dicegah dengan kontraksi sfingter uretra eksterna yang
disadari. Namun, jika kandung kemih terus menerus diisi dan teregang, maka
kontrol sudah tidak mampu lagi mengendalikan.
Berkemih

juga dapat

secara sengaja dimulai walaupun kandung

kemih belum tergang oleh relaksasi volunter sfingter uretra eksterna dan
diafragma pelvis. Penurunan lantai panggul juga memungkinkan kandung kemih
turun, yang secara simultan membuka sfingter uretra eksterna dan meregangkan
kandung kemih. Pengaktifan reseptor-reseptor regang menyebabkan kandung
kemih berkontraksi melalui refleks miksi. Pengosongan kandung kemih secara
volunter dapat dibantu oleh kontruksi dinding abdomen dan diafragma
pernafasan yang
meningkatkan tekanan intraabdominal sehingga memeras kandung kemih
untuk mengosongkan isinya.

BAB III
PEMBAHASAN
3.1. Skenario
Memar di Selangkangan
Seorang laki-laki 24 tahun datang ke Unit Gawat Darurat dengan keluhan tidak
bisa buang air kecil. Pasien menceritakan kebiasaan buang air kecil sebelumnya
mengalami perubahan setelah mengalami kecelakaan motor dua bulan yang lalu

dalam posisi jatuh terduduk, dimana pada saat itu dari ujung kemaluan tampak
adanya darah, disertai memar di daerah sekitar selangkangan. Setelah itu setiap pasien
buang air kecil pancaran urin mengecil dan harus disertai mengejan. Dokter mencoba
memasang kateter urin per uretra, tetapi tidak berhasil dan pasien menolak untuk
dilakukan tindakan pemasangan kateter suprapubik. Pasien menjadi takut dan
memilih untuk pulang paksa.
Setelah beberapa hari di rumah, kondisi pasien bertambah berat, lemas dan
muntah-muntah. Karenanya ia dibawa kembali oleh keluarga pasien ke UGD. Setelah
dilakukan pemeriksaan fisik dan pemeriksaan radiologi uretrografi antregrade. Dokter
menyarankan untuk menjalani operasi, tetapi sebelumnya harus cuci darah dulu.
Keluarga khawatir pasien akan mengalami kecanduan cuci darah seperti
tetangganya karena infeksi ginjal bertahun-tahun yang harus menjalani cuci darah
rutin 2 kali sebulan karena pertimbangan CCT kurang dari 10 cc/menit. Namun
dokter yang merawat menjelaskan kondisi pasien berbeda. Menurut dokter, jika
dilakukan operasi dan cuci darah kemungkinan fungsi ginjal akan mengalami
perbaikan.

3.2 Terminologi
1. uretrografi antregrade
2. CCT
3.3. Permasalahan Dan Jawaban
3.4 Deferensiasi Diagnosis
1. Trauma Ginjal

a. Pengertian
Trauma ginjal merupakan trauma pada sistem urologi yang paling sering
terjadi. Kejadian penyakit ini sekitar 8-10% dengan trauma tumpul atau trauma
abdominal. Pada banyak kasus, trauma ginjal selalu dibarengi dengan trauma organ
penting lainnya. Pada trauma ginjal akan menimbulkan ruptur berupa perubahan
organik pada jaringannya. Sekitar 85-90% trauma ginjal terjadi akibat trauma tumpul
yang biasanya diakibatkan oleh kecelakaan lalulintas.
Trauma ginjal biasanya terjadi akibat kecelakaan lalulintas atau jatuh. Trauma
ini biasanya juga disertai dengan fraktur pada vertebra thorakal 11-12. Jika terdapat
hematuria kausa trauma harus dapat diketahui. Laserasi ginjal dapat menyebabkan
perdarahan dalam rongga peritoneum.
Tujuan dari penanganan trauma ginjal adalah untuk resusitasi pasien,
mendiagnosis trauma dan memutuskan penanganan terapi secepat mungkin.
Penanganan yang efisien dengan tehnik resusitasi dan pemeriksaan radiologi yang
akurat dibutuhkan untuk menjelaskan manajemen klinik yang tepat. Para radiologis
memainkan peranan yang sangat penting dalam mencapai hal tersebut, memainkan
bagian yang besar dalam diagnosis dan stadium trauma. Lebih jauh, campur tangan
dari radiologis menolong penanganan trauma arterial dengan menggunakan
angiografi dengan transkateter embolisasi. Sebagai bagian yang penting dar trauma,
radiologi harus menyediakan konsultasi emergensi, keterampilan para ahli dalam
penggunaan alat-alat radiologis digunakan dalam evaluasi trauma, dan biasanya
disertai trauma tumpul pada daerah abdominal.
b. Etiologi
Sebagian besar trauma (ruptur) ginjal terjadi akibat trauma tumpul. Secara
umum, trauma ginjal dibagi dalam tiga kelas : laserasi ginjal, kostusio ginjal, dan
trauma pembuluh darah ginjal. Semua kelas tersebut memerlukan indeks pengetahuan
klinik yang tinggi dan evaluasi serta penanganan yang cepat.

c. Epidemiologi
Laju mortalitas dan morbiditas trauma (ruptur) ginjal bervariasi tergantung
dari beratnya trauma yang terjadi, derajat trauma yang mengenai organ lainnya dan
rencana pengobatan yang digunakan. Oleh karena itu, pilihan penanganan harus
mempertimbangkan angka mortalitas dan morbiditas. Secara keseluruhan, dengan
tekhnik penanganan modern, laju pemeliharaan ginjal mencapai 85-90%.
d.Insidensi
Frekuensi trauma ginjal agak tergantung pada jumlah populasi yang ada.
Jumlah trauma (ruptur) ginjal kira-kira 3% dari keseluruhan jenis trauma dan 10%
dari pasien tersebut masuk dalam trauma abdominal.
Trauma (ruptur) ginjal merupakan trauma urologi yang paling sering terjadi,
terjadi 8-10% dari pasien dengan disertai trauma pada abdomen. Dari penelitian
Baverstock (2001) dan Sagalowsky (1983) trauma tumpul merupakan penyebab
terbanyak dengan jumlah sebesar 80% dari trauma ginjal. Di antara pasien dengan
hematuria, tercatat trauma ginjal sebesar 25%; dimana kurang dari 1% pasien dengan
mikrohematuria yang memiliki trauma ginjal (Cass, 1986; Nicolaisen, 1985;
Herschorn, 1991; McAndrew, 1994).

e. Anatomi Ginjal
Normalnya sepasang ginjal terletak terbaring pada rongga peritoneal pada
daerah tengah menuju daerah posterior dinding abdomen. Secara umum, kedua ginjal
tersebut bertugas sebagai alat yang menyaring sampah-sampah dan mengeluarkan
bahan yang tidak digunakan dari darah menuju ke traktus urinarius bagian bawah.
Pada bagian belakang, kedua ginjal berbatasan dengan otot psoas dan otot lumborum;
pada bagian atas, ginjal berhubungan dengan diafragma dan kelanjar suprarenal.

Karena ginjal terletak kira-kira antara vertebra thorakal 12 dan vertebra lumbal
ketiga, kedua ginjal tersebut dilindungi oleh sebagian costa inferior.
f. Patofisiologi
Trauma (ruptur) ginjal dapat terjadi oleh karena beragam mekanisme. Di
Amerika Serikat, kecelakaan kendaraan bermotor merupakan penyebab terbanyak
dari trauma tumpul abdominal yang menyebabkan trauma ginjal. Selain itu, jatuh dari
ketinggian termasuk luka tembakan, merupakan penyebab selebihnya. Pada kasus
jarang, trauma ginjal terjadi oleh karena penyebab iatrogenic (contohnya
angiomyolipoma) yang dapat bermanifestasi dengan perdarahan setelah trauma
minor.
Sebagian besar trauma (ruptur) ginjal muncul dengan gejala hematuria (95%),
yang dapat menjadi besar pada beberapa trauma ginjal yang berat. Akan tetapi,
trauma vaskuler ureteropelvic (UPJ), hematuria kemungkinan tidak tampak. Oleh
karena, sebagian besar penanganan trauma, termasuk trauma ginjal, membutuhkan
sedikit prosedur invasif (Baverstock, 2001; Moudouni, 2001; Santucci, 2001), maka
pemeriksaan radiologi sangatlah penting. Dengan pemeriksaan yang akurat dari
radiologi pasien dapat ditangani dengan optimal secara konservatif dari penanganan
pembedahan.
Berdasarkan American Association for the surgery of Trauma (AAST), trauma
(ruptur) ginjal terbagi dalam beberapa derajat :
1. Grade I
- Hematuria dengan pemeriksaan radiologi yang normal
- Kontusio
- Hematoma subkapsular non-ekspanding
2. Grade 2

- Hematoma perinefrik non-ekspanding yang terbatas pada retroperitoneum.


- Laserasi kortikal superficial dengan kedalaman kurang dari 1 cm tanpa adanya
trauma pada sistem lain.
3. Grade 3
Laserasi ginjal yang kedalamannya lebih dari 1 cm tidak melibatkan sistem lainnya.
4. Grade 4
- Laserasi ginjal yang memanjang mencapai ginjal dan sistem lainnya.
- Trauma yang melibatkan arteri renalis utama atau vena dengan adanya hemoragik
- Infark segmental tanpa disertai laserasi
- Hematoma pada subkapsuler yang menekan ginjal
5. Grade 5
- Devaskularisasi ginjal
- Avulse ureteropelvis
- Laserasi lengkap atau thrombus pada arteri atau vena utama

g. Diagnostik
Untuk diagnostik pada penyakit ini didasarkan pada manifestasi klinis,
laboratorium, dan pemeriksaan radiologi.
h. Manifestasi Klinis
Tanda kardinal dari trauma (ruptur) ginjal adalah hematuria, yang dapat
bersifat massif atau sedikit, tetapi besarnya trauma tidak dapat diukur dengan volume

hematuria atau tanda-tanda luka. Tanda lainnya ialah adanya nyeri pada abdomen dan
lumbal, kadang-kadang dengan rigiditas pada dinding abdomen dan nyeri lokal. Jika
pasien datang dengan kontur pinggang yang kecil dan datar, kita dapat mensuspeknya
dengan hematoma perinefrik. Pada kasus perdarahan atau efusi retroperitoneal,
trauma ginjal kemungkinan dihubungkan dengan ileus paralitik, yang bisa
menimbulkan bahaya karena membingungkan untuk didiagnosis dengan trauma
intraperitoneal.
Dokter harus memperhatikan fraktur iga, fraktur pelvis atau trauma vertebra
yang dapat berkembang menjadi trauma ginjal. Nausea dan vomiting dapat juga
ditemukan. Kehilangan darah dan shock kemungkinan akan ditemukan pada
perdarahan retroperitoneal.
i. Laboratorium
Pemeriksaan yang dapat dilakukan adalah urinalisis. Pada pemeriksaan ini
diperhatikan kekeruhan, warna, pH urin, protein, glukosa dan sel-sel. Pemeriksaan ini
juga menyediakan secara langsung informasi mengenai pasien yang mengalami
laserasi, meskipun data yang didapatkan harus dipandang secara rasional. Jika
hematuria tidak ada, maka dapat disarankan pemeriksaan mikroskopik. Meskipun
secara umum terdapat derajat hematuria yang dihubungkan dengan trauma traktus
urinarius, tetapi telah dilaporkan juga kalau pada trauma (ruptur) ginjal dapat juga
tidak disertai hematuria. Akan tetapi harus diingat kalau kepercayaan dari
pemeriksaan urinalisis sebagai modalitas untuk mendiagnosis trauma ginjal masih
didapatkan kesulitan.
Pemeriksaan penunjang pencitraan :
1. Radiologi
Cara-cara pemeriksaan traktus urinarius dapat dilakukan dengan berbagai
cara, yaitu: foto polos abdomen, pielografi intravena, urografi retrograde, arteriografi
translumbal, angiografi renal, tomografi, sistografi, computed tomography (CT-Scan),
dan nuclear Magnetic resonance (NMR).

2. Intravenous Pyelography (IVP)


Tujuan pemeriksaan IVP adalah (1) untuk mendapatkan perkiraan fungsional
dan anatomi kedua ginjal dan ureter, (2) menentukan ada tidaknya fungsi kedua
ginjal, dan (3) sangat dibutuhkan pada bagian emergensi atau ruangan operasi.(7)
Sedangkan kerugian dari pemeriksaan ini adalah (1) pemeriksaan ini memerlukan
gambar multiple untuk mendapatkan informasi maksimal, meskipun tekhnik satu kali
foto dapat digunakan; (2) dosis radiasi relative tinggi (0,007-0,0548 Gy).
3.

Computed Tomography (CT)


Computed Tomography (CT) merupakan salah satu jenis pemeriksaan yang

dapat digunakan untuk menilai traktus urinarius. Pemeriksaan ini dapat menampakan
keadaan anatomi traktus urinarius secara detail. Pemeriksaan ini menggunakan
scanning dinamik kontras.
Keuntungan dari pemeriksaan ini adalah
(1) Memeriksa keadaan anatomi dan fungsional ginjal dan traktus urinarius,
(2) Membantu menentukan ada atau tidaknya gangguan fungsi ginjal dan
(3) Membantu diagnosis trauma yang menyertai.
Kerugian dari pemeriksaan ini adalah :
(1) Pemeriksaan ini memerlukan kontas untuk mendapatkan informasi yang
maksimal mengenai fungsi, hematoma, dan perdarahan
(2) Pasien harus dalam keadaan stabil untuk melakukan pemeriksaan scanner; dan
(3) Memerlukan waktu yang tepat untuk melakukan scanning untuk melihat
bladder dan ureter.
4. Ultrasonografi (USG) Renal
Keuntungan pemeriksaan ini adalah (1) non-invasif, (2) dapat dilakukan
bersamaan dengan resusitasi, dan (3) dapat membantu mengetahui keadaan anatomi
setelahtrauma.
Kerugian dari pemeriksaan ini adalah (1) memerlukan pengalaman sonografer
yang terlatih, (2) pada pemeriksaan yang cepat sulit untuk melihat mendeskripsikan
anatomi ginjal, dimana kenyataannya yang terlihat hanyalah cairan bebas, (3) trauma
bladder kemungkinan akan tidak dapat digambarkan.

5. Angiography
Keuntungan pemeriksaan ini adalah (1) memiliki kapasitas untuk menolong
dalam diagnosis dan penanganan trauma ginjal, dan (2) lebih jauh dapat memberikan
gambaran trauma dengan abnormalitas IV atau dengan trauma vaskuler.(7)
Kerugian dari pemeriksaan ini adalah (1) pemeriksaan ini invasif, (2) pemeriksaan ini
memerlukan sumber-sumber mobilisasi untuk melakukan pemeriksaan, seperti waktu;
(4) pasien harus melakukan perjalanan menuju ke ruang pemeriksaan.
6. Magnetic Resonannce Imaging (MRI)
MRI digunakan untuk membantu penanganan trauma ginjal ketika terdapat
kontraindikasi untuk penggunaan kontras iodinated atau ketika pemeriksaan CT-Scan
tidak tersedia. Seperti pada pemeriksaan CT, MRI menggunakan kontas Gadolinium
intravena yang dapat membantu penanganan ekstravasasi sistem urinarius.
Pemeriksaan ini merupakan pemeriksan terbaik dengan sistem lapangan pandang
yang luas.

j. Penatalaksanaan
Tujuan dari penanganan penyakit ini adalah mencegah gejala-gejala darurat
dan penanganan komplikasi. Analgesik dibutuhkan untuk mengurangi rasa sakit.
Hospitalisasi dan observasi tertutup dibutuhkan karena resiko perdarahan tertutup dari
trauma ginjal. Perdarahan yang cukup berat membutuhkan pembedahan keseluruhan
ginjal (nefroktomi) untuk mengontrol perdarahan. Pembedahan dilakukan untuk
mengontrol perdarahan termasuk drainase pada ruang sekitar ginjal. Kadang-kadang
angio-embolisasi dapat menghentikan perdarahan. Pembedahan dilakukan untuk
memperbaiki keadaan parenkim ginjal dan vaskularisasinya. Dimana tekhnik yang
akan dilakukan tergantung pada lokasi terjadinya trauma. Pengobatan non-bedah

termasuk istirahat selama 1-2 minggu atau selama perdarahan berkurang, adanya
nyeri, dan observasi tertutup dan penanganan gejala-gejala dari gagal ginjal.
Pengobatan ini juga harus diimbangi dengan retriksi diet dan penanganan gagal
ginjal.
k. Prognosis
Hasil yang didapatkan dari pengobatan bervariasi tergantung pada penyebab
dan luasnya trauma (ruptur). Kerusakan kemungkinan ringan dan reversible,
kemungkinan membutuhkan penanganan yang sesegera mungkin dan munkin juga
menghasilkan komplikasi.
l. Komplikasi
Komplikasi tercepat terjadi dalam 4 minggu setelah trauma dan termasuk
ekstravasasi urin dan bentuk urinoma, yang disertai perdarahan, infeksi urinoma dan
abses perinefrik, sepsis, fistula arteriovenous, pseudoanerysma dan hipertensi.
Komplikasi yang lama termasuk hironefrosis, hipertensi, bentuk kalkulus, dan
pyelonefritis kronik. Pada sebuah penelitian yang dilakukan oleh Husman dan Moris
didapatkan bahwa komplikasi lebih banyak ditemukan pada pasien yang
devaskularisasi

dibandingkan

dengan

pasien

yang

vaskularisasi.

Komplikasi infeksi pada sistem urinari dan abses perinefrik umumnya didapatkan
pada pasien yang belum dilakukan pembedah
2. Trauma Ureter
a. Epidemiologi
Trauma ureter jarang terjadi, biasanya terjadi akibat tembakan atau
tusukan.
A. ETIOLOGI
Cedera ureter agak jarang ditemukan karena ureter merupakan struktur
fleksibel yang mudah bergerak di daerah retroperitoneal dengan ukuran

kecil serta terlindung dengan baik oleh tulang dan otot. Trauma ureter
biasanya disebabkan oleh trauma tajam atau tumpul dari luar maupun
iatrogenic. Untuk trauma tumpul pada ureter, walaupun frekuensinya
sangat kecil, namun hal tersebut dapat menyebabkan terputusnya ureter,
terikatnya ureter (akibat iatrogenic, seperti pada operasi pembedahan)
yang bila total dapat menyebabkan sumbatan, atau bocor yang bisa
menyebabkan urinoma atau fistula urine. Bila kebocoran terjadi
intraperitoneal, dapat menyebabkan tanda-tanda peritonitis.
B. GAMBARAN KLINIS
Umumnya tanda dan gejala klinis tidak spesifik.
Hematuria, yang menunjukkan cedera pada saluran kemih
Bila terjadi ekstravasasi urin, dapat terjadi urinoma.
Pada trauma tumpul gejalanya sering kurang jelas.
Pada cedera ureter bilateral ditemukan anuria.
Pada trauma yang disebabkan oleh akibat iatrogenic, seperti pada
pembedahan, bila terjadi ureter terikat total atau sebagian, maka pasca
bedah bisa ditenukan gejala-gajala febris, nyeri pinggang yang sering
bersama-sama gejala ileus paralitik seperti mual, muntah.
C. DIAGNOSIS
Pada cedera ureter akibat trauma tajam biasanya ditemukan hematuria

mikroskopik.
Pada cedera ureter bilateral terdapat peningkatan kadar ureum dan

kreatinin darah.
Lokasi cedera ureter dapat diketahui dari pemeriksaan pielografi
intravena.

D. TERAPI
Pada setiap trauma tajam harus dilakukan tindakan eksplorasi untuk

menilai ada tidaknya cedara ureter serta cedera ikutan lain.


Yang terpenting adalah melakukan penyaliran urin yang ekstravasasi
dan menghilangkan obstruksi.

Rekonstruksi ureter tergantung jenis, bentuk, luas, dan letak cedera.


Untuk cedera ureter bagian atas, dilakukan uretero-ureterostomi,
nefrostomi, uretero-kutaneostomi, autotransplantasi, dan nefrektomi

bila rekonstruksi tidak memungkinkan.


Cedera ureter bagian tengah, dilakukan uretero-ureterostomi atau

transuretero-ureterostomi.
Alternative rekonstruksi ureter distal adalah uretero-ureterostomi,
uretero-neosistostomi, misalnya melalui tabung yang dibuat dari
dinding kandung kemih yang disebut nefrostomi.

TRAUMA VESIKA URINARIA


1. PENGERTIAN
Trauma buli-bulu atau trauma vesika urinaria merupakan keadaan darurat bedah yang
memerlukan penatalaksanaan segera, bila tidak ditanggulangi dengan segera dapat
menimbulkan komplikasi seperti perdarahan hebat, peritonitis dan sepsis. Secara
anatomic buli-buli terletak di dalam rongga pelvis terlindung oleh tulang pelvis
sehingga jarang mengalami cedera.
Rupture kandung kemih:
A. Ruptur intraperitoneal: peritoneum pariental, simfisis, promantorium, cedera
dinding perut yang mengakibatkan rupture intraperitoneal kandung kemih yang
penuh, tidak terdapat perdarahan retroperitoneal kandung kemih yang penuh, tidak
terdapat perdarahan retroperitoneal kecuali bila disebabkan patah tulang pinggul.

B. Ruptur retroperitoneal: peritoneum parietal, simfisis, promantorium, cedera


panggul yang menyebabkan patah tulang sehingga terjadi rupture buli-buli retro ataiu
intraperitoneal. Darah dan urin di jaringan lunak di luar rongga perut, perut terbebas
darah dan urin. (R. Sjamsuhidayat, 1998)
2. ETIOLOGI
Ruptur kandung kemih terutama terjadi sehingga akibat trauma tumpul pada panggul,
tetapi bisa juga karena trauma tembus seperti luka tembak dan luka tusuk oleh senjata
tajam, dan cedera dari luar, cedera iatrogenik dan patah tulang panggul. Pecahanpecahan tulang panggul yang berasal dari fraktur dapat menusuk kandung kemih
tetapi rupture kandung kemih yang khas ialah akibat trauma tumpul pada panggul
atas kandung terisi penuh. Tenaga mendadak atas massa urinaria yang terbendung di
dalam kandung kemih yang menyebabkan rupture. Perforasi iatrogen pada kandung
kemih terdapat pada reseksi transurethral sistoskopi atau manipulasi dengan peralatan
pada kandung kemih.
3. TANDA DAN GEJALA
a. Fraktur tulang pelvis disertai perdarahan hebat
b. Abdomen bagian tempat jejas/hemato
c. Tidak bisa buang air kecil kadang keluar darah dari uretra.
d. Nyeri suprapubik
e. Ketegangan otot dinding perut bawah
f. Ekstravasasi kontras pada sistogram
g. Trauma tulang panggul
4. PATOFISIOLOGI
Trauma vesikaurinaria terbanyak karena kecelakaan lalu lintas/kecelakaan kerja yang
menyebabkan fragmen patah tulang pelvis mencederai buli-buli. Trauma vesika
urinaria tumpul dapat menyebabkan rupture buli-buli terutama bila kandung kemih
penuh atau terdapat kelainan patelegik sepetrti tuberculosis, tumor atau obstruksi

sehingga menyebabkan rupture. Trauma vesikaurinaria tajam akibat luka trusuk atau
luka tembak lebih jarang ditemukan. Lua dapat melalui daerah suprapubik ataupun
transperineal dan penyebab lain adalah instrumentasi urologic.
Fraktur tulang panggul dapat menimbulkan kontusio atau rupture kandung kemih,
pada kontusio buli-buli hanya terjadi memar pada dinding buli-buli dengan hematuria
tanpa eksravasasi urin. Ruptur kandung kemih dapat bersifat intraperitoneal atau
ekstraperitoneal. Rupture kandung kemih ekstraperitoneal biasanya akibat tertusuk
fragmen fraktur tulang pelvis pada dinding depan kandung kemih yang penuh. Pada
kejadian ini terjadi ekstravasasi urin dari rongga perivesikal.

A. Definisi
Stricture urethra (striktur uretra) adalah penyempitan lumen uretra karena fibrosis
pada dindingnya akibat infeksi, trauma uretra atau kelainan kongenital.
B. Etiologi
Striktur Uretra dapat terjadi akrena :
1) Kongenital
Hal ini jarang terjadi. Misalnya:
a) Meatus kecil pada meatus ektopik pada pasien hipospodia.

b) Divertikula konaenital -> penyebab proses striktura uretra.


2) Trauma
Merupakan penyebab terbesar striktura (fraktur pelvis, trauma uretra anterior,
tindakan sistoskopi, prostatektomi, katerisasi).
a) Trauma uretra anterior, misalnya karena straddle injury. Pada straddle injury,
perineal terkena benda keras, misalnya plantangan sepeda, sehingga menimbulkan
trauma uretra pars bulbaris.
b) Fraktur/trauma pada pelvis dapat menyebabkan cedera pada uretra posterior. Jadi
seperti kita ketahui, antara prostat dan os pubis dihubungkan oleh lig.
puboprostaticum. Sehingga kalau ada trauma disini, ligamentum tertarik, uretra
posterior bisa sobek. Jadi memang sebagian besar striktura uretra terjadi dibagianbagian yang terfiksir seperti bulbus dan prostat. Di pars pendulan jarang terjadi
cedera karena sifatnya yang mobile.
c) Kateterisasi juga bisa menyebabkan striktura uretra bila diameter kateter dan
diameter lumen uretra tidak proporsional.
3) Infeksi, seperti uretritis, baik spesifik maupun non spesifik (GO, TBC).
Kalau kita menemukan pasien dengan urteritis akut, pasien harus diberi tahu bahwa
pengobatannya harus sempurna. Jadi obatnya harus dibeli semuanya, jangan hanya
setengah apalagi sepertiganya. Kalau pengobatannya tidak tuntas, uretritisnya bisa
menjadi kronik. Pada uretritis akut, setelah sembuh jaringan penggantinya sama
dengan iarinqan asal. Jadi kalau asalnya epitel squamous, jaringan penggantinya juga
epitel squamous. Kalau pada uretritis kronik, setelah penyembuhan, jaringan
penggantinya adalah jarinqan fibrous. Akibatnya lumen uretra menjadi sempit, dan
elastisitas ureter menghilang. Itulah sebabnya pasien harus benar-benar diberi tahu

agar menuntaskan pengobatan. Di dalam bedah urologi dikatakan bahwa sekali


striktur maka selamanya striktur.
4) Tumor
Tumor bisa menyebabkan striktura melalui dua cara, yaitu proses penyembuhan
tumor yang menyebabkan striktura uretra, ataupun tumornya itu sendiri yang
menaakibatkan sumbatan uretra.
C. Patofisiologi
Proses radang akibat trauma atau infeksi pada urethra akan menyebabkan
terbentuknya jaringan sikatriks pada urethra. Jaringan sikatriks pada lumen urethra
menimbulkan hambatan aliran urine hingga retensi urine. Aliran urine yang terhambat
akan mecari jalan keluar di tempat lain (di sebelah proksimal striktur) dan akhirnya
akan mengumpul di rongga periurethra. Jika terinfeksi menimbulkan abses
periurethra yang kemudian pecah membentuk fistula uretrokutan. Pada keadaan
tertentu dijumpai banyak sekali fistula sehingga disebut sebagai fistula seruling.
Struktur uretra terdiri dari lapisan mukosa dan lapisan submukosa. Lapisan mukosa
pada uretra merupakan lanjutan dari mukosa buli-buli, ureter dan ginjal. Mukosanya
terdiri dari epitel kolumnar, kecuali pada daerah dekat orifisium eksterna epitelnya
skuamosa dan berlapis. Submukosanya terdiri dari lapisan erektil vaskular.
Apabila terjadi perlukaan pada uretra, maka akan terjadi penyembuhan cara
epimorfosis, artinya jaringan yang rusak diganti oleh jaringan lain (jaringan ikat)
yang tidak sama dengan semula. Jaringan ikat ini menyebabkan hilangnya elastisitas
dan memperkecil lumen uretra, sehingga terjadi striktur uretra.
Sesuai dengan derajat penyempitan lumennya, striktur uretra dibagi menjadi tiga
tingkatan, yaitu derajat:

1. Ringan : jika oklusi yang terjadi kurang dari 1/3 diameter lumen uretra
2. Sedang: jika terdapat oklusi 1/3 sampai dengan diameter lumen uretra
3. Berat : jika terdapat oklusi lebih besar dari diameter lumen uretra
Pada penyempitan derajat berat kadang kala teraba jaringan keras di korpus
spongiosum yang dikenal dengan spongiofibrosis.
D. Manifestasi Klinis
1.Pancaran air kencing lemah
2. Pancaran air kencing bercabang
Pada pemeriksaan sangat penting untuk ditanyakan bagaimana pancaran urinnya.
Normalnya, pancaran urin jauh dan diameternya besar. Tapi kalau terjadi
penyempitan

karena

striktur,

maka

pancarannya

akan

jadi

turbulen.

3. Frekuensi
Disebut frekuensi apabila kencing lebih sering dari normal, yaitu lebih dari tujuh
kali. Apabila sering krencing di malam hari disebut nocturia. Dikatakan nocturia
apabila di malam hari, kencing lebih dari satu kali, dan keinginan kencingnya itu
sampai

membangunkannya

dari

tidur

sehingga

mengganggu

tidurnya.

4. Overflow incontinence (inkontinensia paradoxal)


Terjadi karena meningkatnya tekanan di vesica akibat penumpukan urin yang terus
menerus. Tekanan di vesica menjadi lebih tinggi daripada tekanan di uretra.
Akibatnya urin dapat keluar sendiri tanpa terkontrol. Jadi disini terlihat adanya
perbedaan antara overflow inkontinensia (inkontinesia paradoksal) dengan flow
incontinentia. Pada flow incontinenntia, misalnya akibat paralisis musculus spshincter

urtetra, urin keluar tanpa adanya keinginan untuk kencing. Kalau pada overflow
incontinence, pasien merasa ingin kencing (karena vesicanya penuh), namun urin
keluar tanpa bisa dikontrol. Itulah sebabnya disebut inkontinensia paradoxal.
5. Dysuria dan hematuria
6. Keadaan umum pasien baik
7. Buruk bila telah lama akibat adanya perubahan pada faal ginjal : infeksi >
striktur refluks > hidroureter > hidronefrosis > faal ginjal turun.
E. Diagnosis

Penegakan Diagnosis

1. Pemeriksaan Fisik
* Anamnesa:
Untuk mencari gejala dan tanda adanya striktur uretra dan juga mencari penyebab
striktur uretra.
* Pemeriksaan fisik dan lokal:
Untuk mengetahui keadaan penderita dan juga untuk meraba fibrosis di uretra,
infiltrat, abses atau fistula.
2. Pemeriksaan Penunjang
* Laboratorium
- Urin dan kultur urin untuk mengetahui adanya infeksi
- Ureum dan kreatinin untuk mengetahui faal ginjal

* Uroflowmetri
Uroflowmetri adalah pemeriksaan untuk menentukan kecepatan pancaran urin.
Volume urin yang dikeluarkan pada waktu miksi dibagi dengan lamanya proses
miksi. Kecepatan pancaran urin normal pada pria adalah 20 ml/detik dan pada wanita
25 ml/detik.Bila kecepatan pancaran kurang dari harga normal menandakan ada
obstruksi.
* Radiologi
Diagnosa pasti dibuat dengan uretrografi, untuk melihat letak penyempitan dan
besarnya penyempitan uretra. Untuk mengetahui lebih lengkap mengenai panjang
striktur adalah dengan membuat foto bipolar sistouretrografi dengan cara
memasukkan bahan kontras secara antegrad dari buli-buli dan secara retrograd dari
uretra. Dengan pemeriksaan ini panjang striktur dapat diketahui sehingga penting
untuk perencanaan terapi atau operasi.
* Instrumentasi
Pada pasien dengan striktur uretra dilakukan percobaan dengan memasukkan kateter
Foley ukuran 24 ch, apabila ada hambatan dicoba dengan kateter dengan ukuran yang
lebih kecil sampai dapat masuk ke buli-buli. Apabila dengan kateter ukuran kecil
dapat masuk menandakan adanya penyempitan lumen uretra.
* Uretroskopi
Untuk melihat secara langsung adanya striktur di uretra. Jika diketemukan adanya
striktur langsung diikuti dengan uretrotomi interna (sachse) yaitu memotong jaringan
fibrotik dengan memakai pisau sachse.