Anda di halaman 1dari 38

ANALISA TINDAKAN

Nama Mahasiswa

: ST. MUSDALIFAH AHMAD

NIM

: C 121 10 103

Tindakan Keperawatan yang dilakukan: Memasukkan supositoria rektal (dulcolax)

Nama Klien
: Ny. Herawati
Diagnosa Medis
: Ca. Mammae metastase hepar dan pancreas (Post-Op)
Tanggal dilakukan : 22/04/2014

Diagnosa Keperawatan
1. Pemulihan pasca pembedahan b.d pengaruh anestesi terhadap organ tubuh lainnya
DS: - Klien mengatakan nyeri pada daerah operasi
DO: - Kesulitan untuk bergerak
2. Risiko Konstipasi b.d kelemahan otot abdomen akibat pengaruh anestesi pascapembedahan
DO: - Kesulitan untuk bergerak
- Nampak lemah
Tujuan dilakukan
1. Untuk memperoleh efek obat lokal maupun sistemik.
2. Untuk melunakkan feses sehingga mudah untuk dikeluarkan.
Prinsip dan rasional tindakan
Dalam pemberian supositoria rektal ada beberapa prinsip yang perlu diketahui yaitu:
1. Posisi klien saat pemberian yaitu miring (Sims) dengan kaki atas fleksi ke depan untuk
memanjakan anus dan membantu klien merefkleksikan sfingter anal eksternal.
2. Menggunakan sarung tangan bersih untuk menghindari kontaminasi yang berasal dari feses
klien dan dari tangan perawat.
3. Memberi pelumas pada jari telunjuk saat memasukkan supositoria agar mengurangi
terjadinya friksi saat supositoria dimasukkan ke rectum.
4. Minta klien untuk menarik napas perlahan melalui mulut dan untuk merilekskan sfingter anal
karena apabila mendorong supositoria masuk melalui sfingter yang konstriksi akan
menyebabkan nyeri.
5. Regangkan bokong pasien dengan tangan nondominan lalu perlahan masukkan supsitoria ke
dalam anus dengan menggunakan jari telunjuk, melalui sfingter anal internal dan mengenai
dinding rektal: masukkan seluruh jari pada orang dewasa, pada anak/bayi 5 cm. Hal ini
dilakukan agar supositoria dapat masuk mengenai mukosa rektal untuk absorbsi dan kerja
terapeutik.
6. Instruksikan pasien untuk tetap berbaring telentang atau miring selama 5 menit agar
supositoria tidak terdorong keluar.

Analisa Tindakan yang dilakukan


Pasien dengan Ca. Mammae yang telah menjalani operasi mendapatkan sejumlah obat
anastesi untuk menghilangkan nyeri saat dilakukan pembedahan. Setelah operasi organ vital
tubuh mengalami kelemahan dimana kerja dari otot-otot maupun sfingter kurang berfungsi
dengan baik, terkhusus pada abdomen dari segi BAK dan BAB karena anastesi untuk pasien
operasi akan menghambat signal persarafan organ tubuh pada Hipothalamus Pituitary Adrenal
(HPA). Pasien mungkin saja merasa ingin BAB tapi karena otot sfingter ani interna yang tidak
berfungsi maka feses akan tertahan di anus dan dapat mengeras karena tidak dikeluarkan terlebih
lagi absorbs air pada usus besar berkurang karena gerakan peristaltic usus menjadi inaktif.
Apabila defekasi tidak ditingkatkan akan menimbulkan kembung dan nyeri perut. Oleh karena
itu, perawat memberikan bantuan untuk meningkatkan defekasi dengan pemberian supositoria
(dulcolax).
Suppositoria ini mudah meleleh, melunak, atau melarut pada suhu tubuh. Umumnya
berbentuk menyerupai peluru atau torpedo dengan bobot sekitar 2 gram dan panjang sekitar 1-1,5
inci. Bentuk dan berat supositoria, yaitu:
a. Supositoria untuk rektum
Bentuknya seperti peluru, torpedo/jari- jari tergantung pada bobot jenis dan bahan
obat dan basis yang di gunakan.
b. Supositoria dari lemak coklat
Berat supositoria untuk dewasa kira-kira 2gr dan biasanya lonjong seperti torpedo,
sedangkan untuk anak-anak 1gr dan ukrannya lebih kecil
c. Supositoria uretal (BOUGI)
Bentuknya seperti pensil, dan meruncing pada salah satu ujungnya. Untuk laki-laki
beratnya 4gr dan wanita 2gr.
Keuntungan dan Kerugian
a.
Keuntungan
a)
Bisa mengobati secara bertahap
b) Apabila obat menimbulkan kejang, atau panas reaksinya lebih cepat, dapat
memberikan efek local dan sistemik.
c)
Contoh memberikan efek local dulcolax untuk meningkatkan defeksasi.
b.
Kerugian
a)
Sakit tidak nyaman daya fiksasi lebih lama dari pada IV.
b)
Kalau pemasangan obat tidak benar, obat akan keluar lagi.
c)
Tidak boleh diberikan pada pasien yang mengalami pembedahan rektal.
ANALISA TINDAKAN
Nama Mahasiswa

: ST. MUSDALIFAH AHMAD

NIM

: C 121 10 103

Tindakan Keperawatan yang dilakukan: Pemberian Enema

Nama Klien
: Ny. Rauna
Diagnosa Medis
: Tu. Paru + Konstipasi Kronik (tidak BAB selama 1 tahun)
Tanggal dilakukan : 23/04/2014

Diagnosa Keperawatan
1. Konstipasi b.d kekurangan cairan atau dehidrasi
DS: - Klien mengatakan malas makan dan minum
- Susah BAB dan nyeri saat defekasi
- Nyeri tekan pada perut bagian bawah
- Mual
DO: - Perubahan pada pola defekasi
- Distensi abdomen
- Bising usus hiperaktif
- Bunyi pekak pada perkusi abdomen
- Tidak mampu mengeluarkan feses
Tujuan dilakukan
1. Meningkatkan defekasi dengan merangsang peristaltic
2. Melunakkan feses yang telah menjadi impaks atau untuk mengosongkan rectum dan kolom
agar tidak terjadi distensi abdomen
Prinsip dan rasional tindakan
Dalam pemberian enema ada beberapa prinsip yang perlu diketahui yaitu:
1. Meminta pasien mengosongkan kandung kemih sebelum prosedur dilakukan agar
mengurangi ketidaknyamanan selama pemberian enema.
2. Pasien harus dalam posisi miring (Sims) dengan lutut kanan fleksi karena hal ini
memungkinkan larutan enema mengalir ke bawah dengan gravitasi sepanjang lengkung
natural kolon sigmoid dan rectum sehingga memperbaiki retensi larutan.
3. Memasukkan enema secara perlahan dengan meregangkan bokong dan tentukan lokasi anus
serta instruksikan pasien untuk rileks dengan melepaskan napas perlahan melalui mulut
karena hal ini dapat meningkatkan relaksasi otot sfingter anus eksternal.
4. Menggunakan larutan NaCl untuk enema karena larutan ini mudah diabsorsbi oleh dinding
rectum karena mengandung elektolit yang dapat menyerap air.
5. Menghubungkan larutan NaCl dengan selang kateter sambil memberi pelumas 7,5 sampai 10
cm pada ujung kateter agar memungkinkan insersi halus kateter tanpa risiko iritasi atau
trauma pada mukosa rektal.
6. Memasukkan cairan NaCl 500 ml ke dalam rectum untuk mencukupi kebutuhan rectum
dalam absorbs air dan meregangkan otot-otot sfingter anus untuk melakukan proses defekasi.

Analisa Tindakan yang dilakukan


Pasien dengan Tu. Paru dapat mengalami penurunan berat badan dikarenakan terjadi
penurunan nafsu makan dan minum akibat batuk dan lender yang menyumbat saluran pernapasan
sehingga menghambat rangsangan lapar dan haus pada hypothalamus Lb. 4 dan 5 ditambah lagi
pasien sesak napas yang tidak memungkinkan dapat makan dengan baik. Kurangnya asupan
makan dan minum menyebabkan kurangnya volume cairan tubuh pasien yang menimbulkan
dehidrasi dimana kita tahu bahwa tubuh dalam melakukan metabolism, absorbs makanan dan
nutrient membutuhkan penyerapan air/mineral dari tubuh apabila hal ini tidak terpenuhi maka
akan berdampak pada pola eliminasi khususnya pada proses defekasi. Pasien mengatakan bahwa
dirinya sulit BAB sejak 1 tahun hal ini membuktikan bahwa pola eliminasi terganggu
dikarenakan kurangnya asupan cairan tubuh, elektrolit dan nutrient. Defekasi dalam hal ini feses
dapat terbentuk oleh sisa makanan yang dapat masuk tetapi karena kurangnya cairan yang
terabsorbsi oleh rectum yang menyebabkan feses menjadi mengeras sehingga menutup saraf
yang terdapat pada sfingter ani interna untuk mendorong feses keluar ditambah karena
membrane sfingter mongering akibat kurangnya pelumas berupa cairan yang masuk ke dalam
anus sehingga terjadilah konstipasi. Oleh karena itu, untuk mengencerkan feses maka dilakukan
enema.

ANALISA TINDAKAN
Nama Mahasiswa

: ST. MUSDALIFAH AHMAD

NIM

: C 121 10 103

Tindakan Keperawatan yang dilakukan: Pungsi Cairan Pleura Hemothorax dextra 800cc

Nama Klien
: Abd. Rasyid
Diagnosa Medis
: Tu. Paru
Tanggal dilakukan : 24/04/2014

Diagnosa Keperawatan
1. Ketidakefektifan pola napas b.d deformitas dinding dada
DS: - Klien mengatakan sesak saat berbaring (dispnea)
- Susah menelan
- Batuk sudah lama
DO: - Perubahan ekskursi dada (lapang dada melebar)
- Napas cuping hidung
- Penggunaan otot bantu asesorius untuk bernapas
- Takipnea
- Muntah
2. Ketidakefektifan perfusi jaringan kardiopulmonal b.d gangguan pertukaran gas akibat
kemungkinan terjadinya tension pneumothorax
DS: - Klien mengatakan nyeri dada
DO: - Terpasang O2
- Bengkak kedua tangan
- Retraksi dada
- Napas cuping hidung
3. Kelebihan volume cairan b.d penumpukan cairan dalam rongga (cavum) pleura yang
melebihi batas normal
DS: - Klien mengatakan sesak napas
DO: - Perubahan pola napas
- Bengkak pada kedua tangan
- Efusi pleura
Tujuan dilakukan
1. Membuktikan ada tidaknya cairan atau udara di rongga pleura
2. Mengambil bahan pemeriksaan mikroorganisme dan sitology
3. Mengeluarkan cairan/udara untuk mengatasi keluhan
Prinsip dan rasional tindakan
1. Sebelum memulai tindakan, seorang klinisi harus memberikan penjelasan kepada
pasiententang apa yang akan dilakukan, tujuan tindakan, serta risiko yang mungkin
terjadi.Selanjutnya adalah menentukan lokasi pungsi dengan cara pemeriksaan fisis dan foto
thoraks.Untuk membedakan efusi pleura dan pneumotoraks diperlukan pemeriksaan fisis
yangcermat, karena jenis kelainan akan menentukan lokasi pungsi. Pada efusi pleura,
pungsidilakukan ditempat yang paling pekak (redup). Pada pneumotoraks, pungsi dilakukan

ditempat tertinggi, dan dapat dilakukan di garis aksilaris anterior ataupun posterior.
Setelahpemeriksaan fisis dilakukan foto thoraks posteroanterior dengan posisi tegak dan
lateraldekubitus dengan sinar horizontal posteroanterior.Pungsi bisa dilakukan di garis
aksilaris anterior ataupun posterior. Tusukan di garisaksilaris anterior harus dilakukan diatas
tulang iga agar tidak mengenai pembuluh darah dansaraf interkostal. Bila tusukan dilakukan
di garis aksilaris posterior, maka pungsi dilakukan dibawah tulang iga. Dalam memilih sisi
untuk pungsi perlu dipertimbangkan bentuk ronggadada pasien. Perlu berhati-hati agar jarum
tidak mengenai pembuluh darah atau diafragma.
2. Pasien dipersiapkan dengan posisi duduk atau setengah duduk, sisi yang sakit menghadap
dokter yang akan melakukan punksi agar memudahkan untuk menentukan lokasi penusukan
jarum.
3. Beri tanda (dengan spidol atau pulpen) daerah yang akan di punksi pada linea aksilaris
anterior atau linea midaksilaris karena lokasi penusukan tidak boleh sampai menusuk paru
atau mengiritasi costa.
4. Desinfeksi atau pasang duk steril untuk menghilangkan mikroorganisme.
5. Anestesi lidokain 2% dimulai dari subkutis, lalu tegak lurus ke arah pleura (lakukan tepat di
daerah sela iga), keluarkan lidokain perlahan hingga terasa jarum menembus pleura.
Lidocaine dapat menghasilkan efek anastesi dengan menghambat konduksi impuls saraf
sehingga saat dilakukan pungsi pleura pasien tidak merasakan sakit/nyeri.
6. Pastikan tidak ada perdarahan karena apabila ada terjadi perdarahan maka prosedur harus
segera dihentikan karena diduga terjadi penusukan pada paru-paru.
7. Jika jarum telah menembus ke rongga pleura, kemudian dilakukan aspirasi beberapa cairan
pleura. Menjamin bahwa jarum telah masuk ke dalam rongga pleura maka dilakukan aspirasi.
8. Bila jumlah cairan yang dibutuhkan untuk diagnostik telah cukup, tarik jarum dengan cepat
dengan arah tegak lurus pada saat ekspirasi dan bekas luka tusukan segera ditutup dengan
kasa betadin, tetapi jika bertujuan terapeutik maka pada lokasi yang sama dapat segera
dilakukan pengeluaran cairan / udara dengan teknik aspirasi sebagai berikut:
a. Dengan menggunakan kateter vena No. 14
Tusukkan kateter vena No. 14 pada tempat yang telah disiapkan dan apabila telah
menembus pleura, piston jarum di tarik lalu disambung dengan bloodset. Dilakukan
sampai dengan jumlah cairan didapatkan 1000 cc, indikasi lain untuk penghentian
aspirasi adalah timbul batuk-batuk.
b. Dengan bantuan selang infus set dan konecta

Pasang jarum ukuran 18 pada sisi 1 dari stopkran, selang infus set pada sisi 2 (untuk
pembuangan) dan spuit 50 cc pada sisi 3 (untuk aspirasi). Teknik:
1.
Tusukkan jarum melalui ruang interkosta dengan posisi kran menghubungkan
rongga pleura dan spuit, sedangkan hubungan dengan selang pembuangan terputus.
Setelah jarum mencapai rongga pleura dilakukan aspirasi sampai spuit terisi penuh.
2.

Kemudian posisi kran diubah sehingga arah ke rongga pleura tertutup dan terjadi
hubungan antara spuit dengan selang pembuangan cairan pleura.

3.

Kran kembali diputar ke posisi (a), dilakukan aspirasi sampai spuit terisi penuh,
kran diputar ke posisi (b) dan cairan pleura dibuang. Prosedur ini dilakukan berulang
sampai aspirasi selesai dan selanjutnya jarum dapat dicabut.

Analisa Tindakan yang dilakukan


Pasien dengan hemothorax terjadi kumpulan darah di dalam
ruang antara dinding dada dan paru-paru (rongga pleura), hal
ini disebabkan karena penyakit tuberculosis yang diderita
pasien yang menyebabkan pecahnya membran serosa yang
melapisi atau menutupi thorax dan paru-paru. Pecahnya
membran ini memungkinkan masuknya darah ke dalam
rongga pleura yang menyebabkan peningkatan cairan di
pleura (efusi pleura) yang telah melewati sela iga ke-2
dihemithorax kanan sehingga menekan vena cava superior
dan biasanya ditangani dengan mengeluarkan cairan yang
berlebih di dalam rongga pleura, yaitu pungsi pleura. Jika jumlah cairannya sedikit, mungkin
hanya perlu diperlukan pengobatan terhadap penyebabnya, namun jika cairannya banyak
sehingga menyebabkan penekanan maupun sesak nafas maka perlu dilakukan tindakan drainase.
Pungsi cairan pleura adalah tindakan aspirasi cairan pleura dari rongga pleura dengan jarum
perkutan (toraksentesis) dan kontraindikasi pada pasien dalam keadaan sepsis. Lama tindakan
tergantung tujuan volume cairan, untuk diagnostic 5 menit dan untuk terapeutik 15-60 menit.
Cairan harus ditampung di dalam botol untuk mengukur jumlah cairan yang keluar dimana
cairan tidak boleh lebih dari 1000-1500 cc karena menunjukkan adanya komplikasi dari pleura.

ANALISA TINDAKAN
Nama Mahasiswa

: ST. MUSDALIFAH AHMAD

NIM

: C 12 10 103

Tindakan Keperawatan yang dilakukan: Nebulisasi NaCl 0,9%/12 jam

Nama Klien
: Ny. Rauna
Diagnosa Medis
: Tu. Paru + Susp TB Paru
Tanggal dilakukan : 25/04/2014

Diagnosa Keperawatan
1. Ketidakefektifan pola napas b.d deformitas dinding dada
DS: - Klien mengatakan sesak RR: 34x/mnt
- Batuk berlendir
- Nyeri dada
DO: - Perubahan ekskursi dada (lapang dada melebar)
- Penggunaan otot bantu pernapasan
- Takipnea
- Muntah
- Mual
- Auskultasi: murmur
Tujuan dilakukan
1. Mengeluarkan lender di paru-paru/dada
2. Mengencerkan dahak
3. Melancarkan saluran pernafasan
Prinsip dan rasional tindakan
Nebuliser merupakan tindakan keperawatan dengan prinsip bersih karena bukanlah
tidakan invasif. Prinsip-prinsip pelaksanaan nebulizer, yaitu:
1. Menyiapkan alat-alat dan bahan (mesin nebulizer dan masker, obat), masker yang digunakan
dapat berasal dari pasien yang sudah pernah menjalani nebulizer sebelumnya atau dari
persediaan rumah sakit dimana masker tidak boleh digunakan oleh pasien lain. Pasien juga
diminta untuk mempersiapkan pot lender karena biasanya setelah dilakukan nebulizer pasien
akan mengeluarkan dahak untuk prosedur pemeriksaan laboratorium.
2. Klien diposisikan fowler/duduk karena selain posisi ini baik untuk pernafasan juga
memudahkan lender atau secret keluar dari paru-paru.

3. Suara nafas, denyut nadi, status respirasi, dan saturasi oksigen diukur sebelum dan sesudah
tindakan. Hal ini memungkinkan perawat untuk mengetahui kondisi pasien sebelum dan
setelah diberi tindakan nebulizer mengenai perubahan dari pola nafas pasien.
4. Ajarkan klien cara menghirup yang benar terutama pasien yang baru pertama kali menjalani
nebulizer dimana obat atau NaCl yang diberikan harus sedapat mungkin dihirup untuk
mempercepat pengenceran lender dan mencegah pasien sesak saat nebulizer dilakukan.
Pengisapan harus melibatkan pasien dalam keadaan rileks/tenang untuk mencegah pasien
tersedak atau batuk selama nebulizer dilakukan.
Analisa Tindakan yang dilakukan
Tujuan dilakukan nebulizer adalah mengencerkan secret, mengobati peradangan saluran
napas atas, melegakan saluran napas. Terapi nebulizer dapat diberikan langsung pada
tempat/sasaran aksinya (seperti paru) oleh karena itu dosis yang diberikan rendah, dosis yg
rendah dapat menurunkan absorpsi sistemik dan efek samping sistemik, pengiriman obat melalui
nebulizer ke paru sangat cepat, sehingga aksinya lebih cepat dari pada rute lainnya seperti
subkutan atau oral, udara yang dihirup melalui nebulizer telah lembab, yang dapat membantu
mengeluarkan sekresi bronchus. Perawat langsung menyiapkan alat-alat untuk nebuliser seperti
alat nebuliser, masker oksigen disambungkan dengan selang pada mesin nebuliser, obat yang
dimasukkan yaitu NaCl yang berfungsi mengencerkan lendir. Sakelar dalam mesin nebuliser
dihubungkan dengan sumber listrik. Pasien diposisikan fowler, combivent dan flixotid kemudian
dimasukkan dalam tabung di dalam nebuliser. Memasang masker oksigen pada klien, kemudian
menekan tombol on. Maka uap obat akan mengalir dari mesin nebuliser ke masker oksigen dan
akhirnya akan dihirup oleh klien. Perawat mengajarkan cara menghirup yang benar. Setelah obat
habis, nebulizer dimatikan dan klien kembali memakai kanul oksigen. Ketika hendak melakukan
nebuliser, perawat tidak cuci tangan terlebih dahulu, dan tidak menggunakan sarung tangan,
paling tidak sarung tangan bersih. Wadah nebulizer untuk cairan obat tidak dibersihkan. Wadah
dalam nebulizer sebaiknya dibersihkan setelah dipakai dan diberikan kepada pasien agar tidak
digunakan oleh pasien lain. Bahaya yang dapat terjadi dalam prosedur ini, yaitu:
1. Pengendapan aerosol di dalam saluran pernapasan
2. Mual
3. Muntah
4. Tremor
5. Bronkospasme
6. Takikardi
Hasil yang didapat dan maknanya
S: pasien mengatakan sudah lega, sesak napas berkurang, rasa ingin batuk berkurang.
O: irama napas teratur, frekuensi 20x/menit, suara nafas vesikuler tidak ada bunyi nafas
tambahan
A: masalah teratasi
P: anjurkan pasien untuk napas dalam, batuk efektif, minum air putih hangat
ANALISA TINDAKAN

Nama Mahasiswa

: ST. MUSDALIFAH AHMAD

NIM

: C 121 10 103

Tindakan Keperawatan yang dilakukan: Pemberian Cocktail (Adona AC, Transamin, vit. K)
+RL

Nama Klien
: Ny. Hadesia
Diagnosa Medis
: Ca. Serviks+anemia
Tanggal dilakukan : 26/04/204

Diagnosa Keperawatan
1. Ketidakefektifan jaringan (perifer) b.d penurunan konsentrasi Hb dalam darah, perdarahan
spontan
DS: - Klien mengatakan kelemahan
DO: - Anemia
- Nadi lemah (N: 15x/mnt)
- Hb = 6 mg/dl (telah melakukan transfuse darah)
- TD: 110/70 mmHg, P: 18x/mnt
- Ekstremitas dingin
Tujuan dilakukan
1. Untuk menghentikan perdarahan
2. Sebagai obat kemoterapi pada kanker
Prinsip dan rasional tindakan
1. Sebelum memberikan obat cocktail, pasien harus dilakukan pengukuran tekanan darah
dimana tekanan darah tidak boleh >120 mmHg karena akan menyebabkan kerusakan organ
jantung akibat efek dari obat itu sendiri.
2. Obat cocktail dicampur dengan larutan RL yang bertujuan agar efek samping dari obat yaitu
akan menimbulkan dehidrasi dapat diatasi dengan melarutkannya dengan cairan RL. Obat
cocktail ini akan menghentikan perdarahan beserta cairan intraseluler oleh karenanya RL
dapat mengisi kekurangan cairan yang terjadi saat pemberian obat.
Analisa Tindakan yang dilakukan
Pasien dengan Ca Serviks terutama yang sering mengalami perdarahan spontan akan
mengalami kondisi anemis, sehingga dibutuhkan obat intuk menghentikan perdarahannya, yaitu
dengan pemberian zat atau obat golongan koagulansia yang dapat diberikan secara oral maupun
parenteraI, berguna untuk menekan/menghentikan perdarahan. Obat anti perdarahan disebut juga
hemostatik. Hemostatis merupakan proses penghentian perdarahan pada pembuluh darah yang
cedera. Jadi, Obat haemostatik (Koagulansia) adalah obat yang digunakan untuk menghentikan
pendarahan. Obat haemostatik ini diperlukan untuk mengatasi perdarahan yang meliputi daerah

yang luas. Pemilihan obat hemostatik harus dilakukan secara tepat sesuai dengan patogenesis
perdarahan. Dalam proses hemostasis berperan faktor-faktor pembuluh darah (vasokonstriksi),
trombosit (agregasi), dan faktor pembekuan darah.
Perdarahan dapat disebabkan oleh defisiensi satu faktor pembekuan darah dan dapat pula
akibat defisiensi banyak faktor yang mungkin sulit untuk didiagnosis dan diobati. Defisiensi atau
factor pembekuan darah dapat diatasi dengan memberikan factor yang kurang yang berupa
konsentrat darah manusia. Perdarahan dapat pula dihentikan dengan memberikan obat yang
dapat meningkatkan factor-faktor pembentukan darah misalnya vitamin K atau yang
menghambat mekanisme fibrinolitik seperti asam aminokaprot.
Obat hemostatik sendiri terbagi dua yaitu :

1. Obat hemostatik lokal


2. Obat hemostatik sistemik.
Hemostatik Lokal
Yang termasuk dalam golongan ini dapat dibagi lagi menjadi beberapa kelompok
berdasarkan mekanisme hemostatiknya.

1. Hemostatik serap
Mekanisme kerja : Menghentikan perdarahan dengan pembentukan suatu bekuan buatan atau
memberikan jala serat-serat yang mempermudah bila diletakkan langsung pada permukaan
yang berdarah. Dengan kontak pada permukaan asing trombosit akan pecah dan
membebaskan factor yang memulai proses pembekuan darah.
Contoh obat : Spon gelatin, oksisel (selulosa oksida). Spon gelatin, dan oksisel dapat
digunakan sebagai penutup luka yang akhirnya akan diabsorpsi.
2. Astringen
Mekanisme kerja: Zat ini bekerja local dengan mengendapkan protein darah sehingga
perdarahan dapat dihentikan, sehubungan dengan cara penggunaannya zat ini dinamakan
juga stypic.
Contoh Obat: feri kloida, nitras argenti, asam tanat.
3. Koagulan
Mekanisme kerja: Obat kelompok ini pada penggunaan lokal menimbulkan hemostatis
dengan 2 cara yaitu dengan mempercepat perubahan protrombin menjadi thrombin dan
secara langsung menggumpalkan fibrinogen.
Contoh Obat : Russells viper venom yang sangat efektif sebagai hemostatik local dan dapat
digunakan umpamanya untuk alveolkus gigi yang berdarah pada pasien hemofilia.
4. Vasokonstriktor
Mekanisme Kerja : Epinefrin dan norepinefrin berefek vasokontriksi , dapat digunakan untuk
menghentikan perdarahan kapiler suatu permukaan.
Hemostatik Sistemik

Dengan memberikan transfuse darah, seringkali perdarahan dapat dihentikan


dengan segera. Hasil ini terjadi karena penderita mendapatkan semua faktor pembekuan darah
yang terdapat dalam darah transfusi. Keuntungan lain transfusi ialah perbaikan volume sirkulasi.
Perdarahan yang disebabkan defisiensi faktor pembekuan darah tertentu dapat diatasi dengan
mengganti/memberikan faktor pembekuan yang kurang.
1. Vitamin K
Mekanisme kerja: Pada orang normal vitamin K tidak mempunyai aktivitas farmakodinamik,
tetapi pada penderita defisiensi vitamin K, vitamin ini berguna untuk meningkatkan
biosintesis beberapa faktor pembekuan darah yang berlangsung di hati. Sebagai hemostatik,
vitamin K memerlukan waktu untuk dapat menimbulkan efek, sebab vitamin K harus
merangsang pembentukan faktor- faktor pembekuan darah lebih dahulu.
Indikasi: Digunakan untuk mencegah atau mengatasi perdarahan akibat defisiensi vit. K
Efek samping: Pemberian filokuinon secara intravena yang terlalu cepat dapt menyebabkan
kemerahan pada muka, berkeringat, bronkospasme, sianosis, sakit pada dada dan kadang
menyababkan kematian.
Perhatian: Defisiensi vit. K dapat terjadi akibat gangguan absorbsi vit.K, berkurangnya
bakteri yang mensintesis Vit. K pada usus dan pemakaian antikoagulan tertentu. Pada bayi
baru lahir hipoprotrombinemia dapat terjadi terutama karena belum adanya bakteri yang
mensintesis vit. K
2. Asam aminokaproat
Mekanisme kerja: Asam aminokaproat merupakan penghambat bersaing dari activator
plasminogen dan penghambat plasmin. Plasmin sendiri berperan menghancurkan fibrinogen/
fibrin dan faktor pembekuan darah lain. Oleh karena itu asam amikaproat dapat mengatasi
perdarahan berat akibat fibrinolisisyang berlebihan.
Indikasi :
Pemberian asam aminokaproat, karena dapat menyebabkan pembentukan thrombus yang
mungkin bersifat fatal hanya digunakan untuk mengatasi perdarahan fibrinolysis
berlebihan
Asam aminokaprot digunakan untuk mengatasi hematuria yang berasal dari kandung
kemih.
Asam aminokaproat dilaporkan bermanfaat untuk pasien homofilia sebelum dan sesudah
ekstraksi gigi dan perdarahan lain karena troma didalam mulut.
Asam aminokaproat juga dapat digunakan sebagai antidotum untuk melawan efek
trombolitik streptokinase dan urokinase yang merupakan activator plasminogen.
Cara pemakaian: Dapat diberikan secara peroral dan IV
Efek samping Asam aminokaproat dapat menyebabkan prutius,eriterna konjungtiva, dan
hidung tersumbat.
3. Asam traneksamat
Mekanisme Kerja:
Sebagai anti plasmin, bekerja menghambat aktivitas dari aktivator plasminogen dan
plasmin.

Sebagai hemostatik, bekerja mencegah degradasi fibrin, meningkatkan agregasi platelet


Memperbaiki kerapuhan vaskular dan meningkatkan aktivitas factor koagulasi.
Indikasi
4. Karbazokrom Na Sulfonat (ADONA)
Mekanisme Kerja :
Menghambat peningkatan permeabilizas kapiler
Meningkatkan resistensi kapiler
Indikasi:
Pendarahan disebabkan menurunnya resistensi kapiler dan meningkatnya permeabilizas
kapiler
Pendarahan abnormal selama/pasca operasi akibat penurunan resistensi kapiler
Pendarahan otak
Sediaan : Tablet 10 mg/ Forte 30 mg Injeksi 2 ml/10 mg dan 5 ml/25 mg

ANALISA TINDAKAN
Nama Mahasiswa

: ST. MUSDALIFAH AHMAD

NIM

: C 121 10 103

Tindakan Keperawatan yang dilakukan: Pemasangan NGT (Nasogastric Tube)

Nama Klien
: Ny. Mayani
Diagnosa Medis
: Tu. Gluteus at Femur
Tanggal dilakukan : 30/04/2014

Diagnosa Keperawatan
1. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b.d penurunan kesadaran, kesulitan
mengunyah dan menelan
2. Kekurangan volume cairan b.d kekurangan volume cairan aktif akibat dari penurunan
kesadaran
DS: Keluarga mengatakan pasien tidak pernah makan dan minum selama 2 hari semenjak
pasien tidak sadarkan diri karena keterbatasan dalam membuka mata dan mulut.
DO: - Turgor kulit jelek
- Membran mukosa kering
- Badan tampak lemas
- GCS (1 E, 1V, 2 M)
- Kesadaran: Semikoma
- Suhu tubuh meningkat (S= 38,8oC menjadi 39,1oC)
- Kelemahan
Tujuan dilakukan
1. Memberikan nutrisi pada pasien yang tidak sadar dan pasien yang mengalami kesulitan
menelan
2. Mencegah terjadinya atropi esophagus/lambung pada pasien tidak sadar
Prinsip dan rasional tindakan
1. Pada pasien yang tidak sadar, untuk melakukan pemasangan NGT perawat tetap melakukan
informconsent terlebih dahulu kepada pasien maupun keluarga untuk mendapatkan
persetujuan karena hal ini merupakan etika dalam prosedur perawatan pasien dimana
keluarga sudah diberitahukan indikasi dan efek dari pemasangan.
2. Bantu pasien untuk posisi semi fowler tinggi dengan bantal di belakang dan bahu untuk
meningkatkan kemampuan klien untuk menelan.
3. Siapkan tissue di samping pasien agar memudahkan perawat untuk membersihkan lendir
yang keluar dari mulut pasien karena jika tidak dibersihkan akan menyumbat jalannya nafas.
4. Tentukan panjang selang yang akan dimasukkan dan ditandai dengan plester atau spidol
dengan mengukur jarak dari ujung hidung ke daun telinga ke prosesus xifoideus sternum
dimana ujung selang harus mencapai lambung klien agar makanan dapat langsung masuk ke
dalam lambung.
5. Oleskan jelly pada selang NGT agar mudah dalam memasukkan ke dalam nasal sehingga
tidak menimbulkan insersi mukosa nasal dan pasien tidak merasa kesakitan.
6. Masukkan selang perlahan-lahan dan lihat respon pasien, apabila ada tahanan pada selang
maka hentikan dorongan lalu lepaskan selang kemudian ulangi sekali lagi atau mengganti ke

lubang hidung yang satu. Hal ini dapat mengurangi resiko cedera pada pasien dan
ketidaknyamanan.
7. Jika selang sudah dapat dimasukkan sampai pada tanda yang telah ditentukan, plester selang
pada hidung untuk menghindari pergerakan lalu aspirasi sejumlah udara pada spoit 10 cc
yang telah dihubungkan pada unjung selang ke dalam lambung kemudian dengarkan bunyi
udara dengan stetoskop yang telah menandakan bahwa selang sudah masuk ke dalam
lambung.
8. Klem selang agar tidak ada udara yang masuk dengan menggunakan spoit karena dapat
menyebabkan kembung dan perubahan keasaman lambung jika udara banyak yang
teraspirasi.
Analisa Tindakan yang dilakukan
Pasien ini awalnya hanya Tu. Gluteus tetapi setelah dilakukan operasi tumor kemudian
menjalar ke tulang belakang dimana awalnya pasien dalam kondisi sadar namun sejak 2 hari
yang lalu kondisi pasien semakin memburuk yang ditandai dengan suhu yang terus meningkat
dan hilangnya kesadaran. Semenjak itu, keluarganya mengatakan bahwa pasien sudah tidak bisa
makan dan minum karena jika dibangunkan tidak ada respon dari pasien. Hasil pemeriksaan
laboratorium menunjukkan bahwa hasil darah dan urinenya baik-baik saja, tetapi tanda-tanda
vitalnya terus menurun dimana hasil CT-Scan menunjukkan bahwa dicurigai ada tumor di
kepalanya. Hal inilah yang memungkinkan pasien jatuh tidak sadarkan diri dengan kondisi yang
memburuk. Oleh karena itu, pemasangan NGT dilakukan untuk memberikan nutrisi melalui
makanan dan cairan agar kondisi fisiknya menjadi stabil kembali disebabkan karena pasien
dengan riwayat tumor memerlukan banyak nutrisi dan cairan untuk meningkatkan imunisasi
tubuh dalam memperbaiki keseimbangan metabolic.
NGT adalah kependekan dari Nasogastric tube. alat ini adalah alat yang digunakan untuk
memasukkan nutsrisi cair dengan selang plasitic yang dipasang melalui hidung sampai lambung.
Ukuran NGT diantaranya di bagi menjadi 3 kategori yaitu:
1. Dewasa ukurannya 16-18 Fr
2. Anak-anak ukurannya 12-14 Fr
3. Bayi ukuran 6 Fr
Indikasi pemasangan NGT yaitu:
1. Pasien tidak sadar
2. pasien karena kesulitan menelan
3. pasien yang keracunan

4. pasien yang muntah darah


5. Pasien Pra atau Post operasi esophagus atau mulut
Kontraindikasi pemasangan NGT
1. Pada pasien yang memliki tumor di rongga hidung atau esophagus
2. Pasien yang mengalami cidera serebrospinal

ANALISA TINDAKAN
Nama Mahasiswa

: ST. MUSDALIFAH AHMAD

NIM

: C 121 10 103

Tindakan Keperawatan yang dilakukan: Pemasangan kateter wanita

Nama Klien
: Ny. Mayani
Diagnosa Medis
: Tu Gluteus at Femur
Tanggal dilakukan : 30/04/2014

Diagnosa Keperawatan
1. Kekurangan volume cairan b.d kekurangan volume cairan aktif akibat dari penurunan
kesadaran
DS: Keluarga mengatakan pasien tidak pernah makan dan minum selama 2 hari semenjak
pasien tidak sadarkan diri karena keterbatasan dalam membuka mata dan mulut.
DO: - Turgor kulit jelek
- Membran mukosa kering
- Badan tampak lemas
- GCS (1 E, 1V, 2 M)
- Kesadaran: Semikoma
- Suhu tubuh meningkat (S= 38,8oC menjadi 39,1oC)
- Kelemahan
2. Hambatan mobilitas fisik b.d penurunan kesadaran dan kemampuan untuk BAK secara
mandiri.
DS: Keluarga mengatakan saat ini pasien mengenakan popok dewasa karena terkadang
pasien BAK di tempat tidur
DO: - Kelemahan
- GCS (1 E, 1V, 2 M)
- Kesadaran: Semikoma
Tujuan dilakukan
1.
2.
3.
4.

Mengeluarkan urine dari system perkemihan


Mengatasi retensi perkemihan
Pengkajian residu urine
Mengatur keseimbangan cairan

Prinsip dan rasional tindakan


1. Pada pasien yang tidak sadar, untuk melakukan pemasangan kateter perawat tetap melakukan
informconsent terlebih dahulu kepada pasien maupun keluarga untuk mendapatkan
persetujuan karena hal ini merupakan etika dalam prosedur perawatan pasien dimana
keluarga sudah diberitahukan indikasi dan efek dari pemasangan.
2. Tindakan pemasangan kateter urin ini memperhatikan prinsip steril dengan tidak lupa
mengutamakan privasi dan kenyamanan klien
3. Bantu pasien telentang dengan lutut difleksikan sehingga memberikan jangkauan yang baik
pada struktur perineum.

4. Hubungkan kantong urine dan kateter agar pada saat pemasangan kateter ke dalam uretra
maka urine dapat langsung masuk ke dalam kantong.
5. Bersihkan perineum pasien dengan menggunakan larutan NaCl agar mencegah masuknya
mikroorganisme ke dalam uretra dan memudahkan perawat dalam memasukkan kateter ke
dalam uretra.
6. Perawat harus berhati-hati dalam memasukkan kateter pada wanita yang masih perawan,
karena jangan sampai salah memasukkan kateter ke dalam vagina pasien yang akan
menimbulkan rupture.
7. Berikan pencahayaan yang baik pada saat memasukkan selang kateter agar tidak salah
melihat lubang uretra.
8. Berikan jelly pada ujung kateter agar memudahkan saat dimasukkan ke dalam uretra dan
mencegah terjadinya insersi didaerah mukosa uretra.
9. Memasukkan kateter ke dalam perineum sambil tangan nondominan meregangkan perineum
untuk memudahkan perawat dalam memasukkan kateter.
10. Jika urine telah keluar ke dalam kantong maka kateter sudah masuk ke dalam kandung
kemih, lalu fiksasi kateter dengan menggunakan cairan spoit 10 cc untuk membentuk balon
agar kateter tidak teraspirasi keluar.
11. Plester kateter di bagian paha pasien untuk mencegah dari pergerakan karena jika kateter
bergerak dapat menyebabkan pasien kesakitan atau dapat menimbulkan insersi daerah uretra
dan kandung kemih.
12. Menghitung BJU (Berat Jenis Urine) untuk mengetahui tingkat kepekatan dan pengenceran
urine
BJU = BJ terbaca + (suhu kamar - suhu teraba) x 0,0013
BJU normal = 1,005 1,030
Suhu kamar = 27oC
Ket: Pemekatan = dehidrasi (kekurangan cairan)
Pengenceran = overdehidrasi (kelebihan cairan)
13. Menghitung/mengetahui intake dan output cairan tubuh
Intake harian normal = 2500 cc/hr
Output harian normal = 2300 cc, jumlah paling banyak keluar berasal dari ginja yaitu urine
yaitu 1500 cc/hr atau 1-2 cc/kgBB/jam

Analisa Tindakan yang dilakukan


Pasien dengan kondisi yang mengalami penurunan kesadaran dapat menyebabkan asupan
makanan dan cairan serta pergerakan mengalami penurunan maka dilakukan pemasangan kateter
untuk memantau cairan dengan menganalisis data pasien untuk keseimbangan cairan dan
elektrolitnya serta mengatasi retensi urine terutama pada pasien yang kesadarannya telah
menurun. Penurunan kesadaran adalah keadaan dimana penderita tidak sadar dalam arti tidak
terjaga/tidak terbangun secara utuh sehingga tidak mampu memberikan respons yang normal
terhadap stimulus. Hal ini bisa membuat klien inkontinensia urin atau sebaliknnya retensi urin.

Retensi urin merupakan ketidakmampuan untuk melakukan urinasi meskipun terdapat keinginan
atau dorongan terhadap hal tersebut sehingga kandung kemih teraba penuh dan terasa nyeri.

ANALISA TINDAKAN
Nama Mahasiswa

: ST. MUSDALIFAH AHMAD

NIM

: C 121 101 103

Tindakan Keperawatan yang dilakukan: Vulva Hygiene

Nama Klien
Diagnosa Medis

: Ny. Mayani
: Tu. Gluteus at Femur

Tanggal dilakukan : 30/04/2014

Diagnosa Keperawatan
1. Resiko infeksi b.d pemasangan kateter
DO: - Vulva terlihat banyak kotoran
- Kesadaran semikoma
- Pemasangan kateter
Tujuan dilakukan
1.
2.
3.
4.

Mencegah terjadinya infeksi pada tempat pemasangan kateter


Menjaga kebersihan vulva
Mencegah kerusakan kulit
Meningkatkan kenyamanan

Prinsip dan rasional tindakan


1. Menjaga privasi pasien saat melakukan perawatan vulva, bukan hanya untuk menghormati
privasi pasien tetapi juga untuk mencegah penularan penyakit dari lingkungan sekitar.
2. Bantu pasien mengambil posisi dorsal rekumben untuk memberi akses mudah pada genetalia
3. Turunkan pagar tempat tidur dan bantu klien merefleksikan lutut dan regangkan kaki.
Perhatikan pembatasan atau keterbatasan dalam pemberian posisi pasien dengan
meminimalkan derajat abduksi pada wanita bila posisi menyebabkan nyeri. Hal ini dilakukan
untuk memberikan pemajanan penuh terhadap genetalia wanita.
4. Cuci labia mayora dengan menggunakan tangan nondominan untuk meretraksi secara
perlahan labia dan tangan dominan mencuci dengan cermat lipatan kultnya. Usap dalam arah
dari perineum ke rectum (dari depan ke belakang) ulangi pada sisi berlawanan dengan
menggunakan sisi lain dari waslap setelah itu bilas dan keringkan area dengan seksama.
Lipatan kulit mengandung sekresi tubuh yang menampung mikroorganisme dimana dengan
pengusapan dari perineum ke rectum (depan ke belakang) mengurangi kesempatan penularan
organisme fekal ke meatus urinarius.
5. Regangkan labia dengan tangan nondominan untuk memanjakan meatus uretral dan orifisium
vagina dimana dengan tangan dominan cuci kea rah bawah dari area pubis ke anus dalam
sekali usapan dan bersihkan secara seksama sekitar labia minora, klitoris, dan orifisium
vagina terutama pada wanita yang hendak melakukan pemasangan kateter. Metode
pembersihan ini dapat mengurangi penularan mikroorganisme ke meatus urinarius.
Analisa Tindakan yang dilakukan
Pasien yang akan dipasangkan selang kateter, maka terlebih dahulu perawat mencuci atau
membersihkan bagian perineum dan vulva agar tidak terjadi infeksi yang diakibatkan oleh
masuknya mikroorganisme yang berasal dari lapisan kulit vulva. Pasien yang dalam kondisi tidak
sadar dengan pemasangan kateter perlu dilakukan perawatan vulva karena resiko terjadinya
infeksi sangat besar dan mencegah kerusakan kulit disekitar vulva. Memasukkan selang kateter

haruslah menggunakan teknik aseptic sehingga pencegahan dan kenyamanan dalam tindakan
vulva hygiene baik dilakukan.

ANALISA TINDAKAN
Nama Mahasiswa

: ST. MUSDALIFAH AHMAD

NIM

: C 121 10 103

Tindakan Keperawatan yang dilakukan: Bed Making

Nama Klien
: Ny. Reni
Diagnosa Medis
: Ca. Mammae
Tanggal dilakukan : 28/04/2014

Diagnosa Keperawatan

1. Meningkatkan kenyamanan b.d pemulihan fisik pasien setelah menjalani operasi


DS: - Pasien mengatakan nyeri bekas operasi sehingga sulit untuk melakukan pergerakan
- Seprei tidak pernah diganti selama beberapa hari
DO: - Ruangan pasien menjadi bau
- Terdapat sarung yang melapisi tempat tidur pasien karena cairan bekas operasi
merembes ke tempat tidur
Tujuan dilakukan
1. Untuk memberikan lingkungan yang bersih tenang dan nayaman.
2. Untuk mencegah/menghindari iritasi kulit dengan menciptakan alas tempat tidur dan selimut
yang bebas dari kotoran/lipatan
3. Untuk meningkatkan gambaran diri dan harga diri klien dengan menciptakan tempat tidur
yang bersih, rapi dan nyaman
4. Untuk mengontrol penyebaran mikroorganisme
Prinsip dan rasional tindakan
1. Ikuti prinsip asepsi dengan menjaga laken yang kotor jauh dari pakaian perawat agar perawat
tidak terkontaminasi dari cairan pasien atau mikroorganisme yang telah menempel pada
seprei.
2. Untuk menghindari penyebaran mikroorganisme, jangan pernah mendekatkan linen pada
kipas angina, hal ini akan membahayakan lingkungan pasien yang lain terutama pada pasien
yang ditempatkan di bangsal.
3. Jika linen bersih menyentuh lantai, segera ganti. Hal ini dilakukan untuk menghindari dari
resiko infeksi yang berasal dari mikroorganisme di lantai yang menepel di linen.
4. Gunakan bodi mekanik yang sesuai selama bed making, terutama jika pasiennya yang tidak
dapat bergerak atau berbaring di tempat tidur maka usahakan cara mengganti sepreinya
haruslah berhati-hati. Gunakan cara memiringkan pasien kanan dan kekiri selama mengganti
seprei.
5. Privasi, kenyamanan dan keamanan klien adalah penting saat bed making karena tujuan dari
dilakukannya bed making ialah memberikan kenyamanan pada klien.
Analisa Tindakan yang dilakukan
Pasien dengan kondisi berbaring di tempat tidur karena telah menjalani operasi
membutuhkan kenyamanan terutama dari segi tempat tidurnya untuk mengurangi resiko infeksi
oleh mikroorganisme. Membuat tempat tidur bersih dan nyaman adalah tanggung jawab perawat.
Hal ini memerlukan observasi yang sering untuk menjamin laken tetap bersih, kering dan bebas
kerutan. Perawat biasanya merapikan temapat tidur setelah klien mandi, sembari klien mandi
atau saat klien keluar untuk menjalanin pemeriksaan diagnostik, namun hal ini tidak mutlak
sesuai dengan situasi dan kondisi masing-masing klien dan kebijakan rumah sakit.

ANALISA TINDAKAN
Nama Mahasiswa

: ST. MUSDALIFAH AHMAD

NIM

: C 121 10 103

Tindakan Keperawatan yang dilakukan: Pemberian makanan cair melalui NGT (Sonde)

Nama Klien
: Ny. Mayani
Diagnosa Medis
: Tu Gluteus at Femur
Tanggal dilakukan : 30/04/2014

Diagnosa Keperawatan
1. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b.d penurunan kesadaran, kesulitan
mengunyah dan menelan

2. Kekurangan volume cairan b.d kekurangan volume cairan aktif akibat dari penurunan
kesadaran
DS: Keluarga mengatakan pasien tidak pernah makan dan minum selama 2 hari semenjak
pasien tidak sadarkan diri karena keterbatasan dalam membuka mata dan mulut.
DO: - Turgor kulit jelek
- Membran mukosa kering
- Badan tampak lemas
- GCS (1 E, 1V, 2 M)
- Kesadaran: Semikoma
- Suhu tubuh meningkat (S= 38,8oC menjadi 39,1oC)
- Kelemahan
Tujuan dilakukan
Untuk memperbaiki atau mempertahankan status nutrisi klien
Prinsip dan rasional tindakan
1. Makanan yang dapat diberikan adalah makanan cair, makanan yang diblender halus, dan
formula khusus makanan enteral karena pemasukan melalui selang sehingga untuk mencegah
tersumbatnya selang oleh makanan yang keras dapat menyebabkan terhambatnya makanan
masuk ke dalam lambung atau pasien mengaspirasi makanan.
2. Residu lambung harus dicek sebelum memberikan makanan. Residu > 50 cc, tunda
pemberian sampai 1 jam. Jika setelah 1 jam jumlah residu tetap, kolaborasi dengan dokter
untuk program selanjutnya. Volume residu menunjukkan apakah pengosongan lambung
lambat dimana pengembalian aspirat mencegah ketidakseimbangan cairan dan elekrolit.
3. Hindari mendorong makanan untuk mencegah iritasi lambung. Kecepatan yang
direkomendasikan adalah pemberian dengan ketinggian sekitar 45 cm dari abdomen.
Pengosongan bertahap selang malan dengan gravitasi dari spuit atau kantung makan
mengurangi risiko diare akibat pemberian makan selang bolus dimana ketinggian spoit
memungkinkan drainase formula yang aman dan kerja gravitasi lambat.
4. Berikan air melalui selang makan setelah atau diantara waktu makan dengan menggunakan
30 ml air. Memberikan pasien sumber air untuk membantu mempertahankan keseimbangan
cairan dan elektrolit.
5. Bilas kantong dan selang dengan air hangat setelah semua makanan diboluskan karena
pembilasan dengan air hangat dapat membersihkan selang makan dan mencegah
pertumbuhan bakteri.
Analisa Tindakan yang dilakukan
Pasien yang mengalami penurunan kesadaran memerlukan intake nutrisi dan cairan yang
tepat sehingga pemasangan NGT dilakukan dengan tujuan agar perawat dapat memberi makan
melalui selang untuk memperbaiki utilisasi nutrient pasien. Namun, pemberian makan melalui

NGT (sonde) butuh kewaspadaan perawat terutama dalam segi karakteristik makanan yang dapat
dimasukkan serta ketinggian selang dalam memasukkan makanan.
Nutrisi Enteral merupakan pemberian nutrient melalui saluran cerna dengan
menggunakan sonde (tube feeding). Nutrisi enteral direkomendasikan bagi pasien-pasien yang
tidak dapat memenuhi kebutuhan nutrisinya secara volunter melalui asupan oral. Pemberian
nutrisi enteral dini (yang dimulai dalam 12 jam sampai 48 jam setelah pasien masuk ke dalam
perawatan intensif (ICU) lebih baik dibandingkan pemberian nutrisi parenteral.
Manfaat dari pemberian nutrisi enteral antara lain:
1. Mempertahankan fungsi pertahanan dari usus
2. Mempertahankan integritas mukosa saluran cerna
3. Mempertahankan fungsi-fungsi imunologik mukosa saluran cerna
4. Mengurangi proses katabolic
5. Menurunkan resiko komplikasi infeksi secara bermakna.

ANALISA TINDAKAN
Nama Mahasiswa

: ST. MUSDALIFAH AHMAD

NIM

: C 121 10 103

Tindakan Keperawatan yang dilakukan: Pengambilan Darah Vena

Nama Klien
: Ny. Masyita
Diagnosa Medis
: Panuto Occipital
Tanggal dilakukan : 14/04/2014

Diagnosa Keperawatan
1. Meningkatkan kesiapan penatalaksanaan program terapeutik b.d pencapaian tujuan kesehatan
dan pemeriksaan diagnostic yang akan dilakukan
DS: - Klien mengatakan akan melakukan transfuse darah untuk pelaksanaan operasi besar

- Membutuhkan 5 bag darah A


DO: - Hb pasien 11,9
- Pelaksanaan operasi besar dibutuhkan transfuse darah
- Dibutuhkan nilai WBC dari pasien
Tujuan dilakukan
1. Untuk mendapatkan sampel darah vena yang baik dan memenuhi syarat untuk melakukan
pemeriksaan.
2. Untuk petunjuk bagi petugas yang melakukan pengambilan darah (phlebotomy)
3. Untuk menganalisa kandungan komponen darah, seperti sel darah merah, sel darah putih,
angka leukosit, dan angka trombosit.
Prinsip dan rasional tindakan
1. Lakukan penjelasan pada penderita (tentang apa yang dilakukan terhadap penderita,
kerjasama penderita, sensasi yang akan dirasakan penderita) agar penderita bias bertindak
kooperatif dengan petugas dan mengurangi kecemasan pada penderita.
2. Vena yang akan ditusuk superfisial, cukup besar, lurus, tidak ada peradangan dan tidak
diinfus. Memastikan tempat yang tepat untuk pengambilan darah dan memudahkan
mengambil sampel darah.
3. Disinfektan daerah yang akan ditusuk dengan kapas alcohol dan biarkan sampai kering untuk
mencegah infeksi.
4. Melakukan pembendungan pada daerah proximal kira0kira 4-5 jari dari tempat penusukan
agar vena tampak lebih jelas dan tidak boleh terlalu lama (maksimal 2 menit). Hal ini
dilakukan untuk memudahkan penusukan pada daerah vena karena vena tampak lebih jelas
dimana aliran arteri yang terhenti mencegah pengisian vena dan pembendungan yang terlalu
lama akan mengakibatkan perubahan komposisi plasma karena terjadi hemokonsentrasi.
5. Penusukan jarusm vena dilakukan dengan sudut 15-30 derajat lalu fiksasi untuk menghindari
pergeseran jarum sehingga jarum tidak menembus dinding posterior vena ketika ditusuk.
6. Setelah darah mengalir tourniquet dilepas agar ketika jarum diambil darah tidak mengalir
keluar dari daerah yang ditusuk.
7. Jarum bekas pakai dibuang ke dalam disposal container khusus untuk jarum untuk mencegah
penularan penyakit melalui jarum bekas.
8. Pada tabung vacutainer beri label identitas penderita dan tanggal dilakukan pengambilan
darah sehingga perawat dapat membedakan pasien yang satu dengan yang lain sehingga tidak
terjadi kesalahan identifikasi.
Analisa Tindakan yang dilakukan
Pasien akan menjalani operasi besar untuk pengangkatan panuto occipitalnya, dimana
pasien membutuhkan persiapan darah yang banyak. Pengambilan darah dilakukan pada pasien
untuk mengetahui nilai Hb, WBC, dan PRC dari pasien sehingga dapat diketahui berapa kantong
darah yang dibutuhkan pasien untuk transfuse. Sebelum melakukan operasi sebaiknya diketahui

hasil laboratorium pada pasien karena nilai komponen darah yang kurang atau kondisi fisik
pasien yang menurun tidak dapat dilakukan operasi karena akan membahayakan pasien.
Pengambilan darah atau flebotomi merupakan prosedur pengambilan sampel yang paling umum
di laboratorium dan saat setelah mengambil darah jangan lupa untuk menuliskan identitas pasien
untuk menghindari kesalahan dalam hasil diagnostic.

ANALISA TINDAKAN
Nama Mahasiswa

: ST. MUSDALIFAH AHMAD

NIM

: C 121 10 103

Tindakan Keperawatan yang dilakukan: Terapi Oksigen Kanul Nasal

Nama Klien
: Herawati
Diagnosa Medis
: Ca. Mammae metastase hepar dan pancreas (Post-Op)
Tanggal dilakukan : 22/04/2014

Diagnosa Keperawatan
1. Ketidakefektifan pola napas b.d penyakit dan nyeri pasca operasi
DS: - Pasien mengatakan sesak RR: 24x/mnt
- Merasa nyeri pada luka bekas operasi
DO: - Fase ekspirasi memanjang
- Menggunakan otot bantu pernapasan
- Perubahan ekskursi dada

Tujuan dilakukan
1. Memberikan oksigen dengan konsentrasi relatif rendah saat kebutuhan oksigen minimal.
2. Memberikan oksigen yang tidak terputus saat klien makan atau minum.
Prinsip dan rasional tindakan
1. Beberapa kondisi harus dipenuhi sebelum melakukan terapi oksigen yaitu diagnosis yang
tepat, pengobatan optimal dan indikasi, sehingga terapi oksigen akan dapat memperbaiki
keadaan hipoksemia dan perbaikan klinik. Kriteria pemberian terapi oksigen dapat dilakukan
sebagai berikut:
a. Pemberian terus menerus, dilakukan apabila hasil analisis gas darah saat istirahat
didapatkan nilai:
- PaO2 < 55 mmHg atau saturasi < 88%
- PaO2 antara 56-59 mmHg atau saturasi 89% disertai kor pulmonale atau polisitemia
(Ht > 56%)
b. Pemberian berselang, dilakukan apabila hasil analisis gas darah didapatkan nilai:
- Saat latihan PaO2 < 55 mmHg atau saturasi < 88%
- Saat tidur PaO2 < 55 mmHg atau saturasi < 88% disertai komplikasi seperti
hipertensi pulmoner, somnolen dan aritmia
2. Pasien dengan keadaan klinik tidak stabil yang mendapatkan terapi oksigen perlu dievaluasi
analisis gas darah setelah terapi untuk menentukan perlu tidaknya terapi oksigen jangka
panjang.
3. Nasal kanula untuk mengalirkan oksigen dengan aliran ringan atau rendah, biasanya
hanya 2-3 L/menit.
4. Membutuhkan pernapasan hidung karena jenis selang pada kanul nasal yaitu selang yang
terpasang di hidung. Panjang selang yang dimasukan ke dalam lubang dihidung hanya
berkisar 0,6-1,3 cm. Pemasangan nasal kanula merupakan cara yang paling mudah,
sederhana, murah, relatif nyaman, mudah digunakan cocok untuk segala umur, cocok
untuk pemasangan jangka pendek dan jangka panjang, dan efektif dalam mengirimkan
oksigen. Pemakaian nasal kanul juga tidak mengganggu klien untuk melakukan aktivitas,
seperti berbicara atau makan.
5. Tidak dapat mengalirkan oksigen dengan konsentrasi >40 % karena nasal kanul
merupakan sistem aliran rendah yang diberikan untuk menambah konsentrasi udara
ruangan, menghasilkan FiO2 yang bervariasi tergantung pada tipe pernafasan dengan
patokan volume tidal klien.
Analisa Tindakan yang dilakukan
Kanul nasal merupakan suatu alat sederhana yang dapat memberikan oksigen kontinyu dengan
aliran 1 6 liter/mnt dengan konsentrasi oksigen sama dengan kateter nasal.
Indikasi: Klien yang bernapas spontan tetapi membutuhkan alat bantu nasal kanula
untuk memenuhi kebutuhan oksigen (keadaan sesak atau tidak sesak) (Suparmi, 2008)

Keuntungan: Pemberian oksigen stabil dengan volume tidal dan laju pernafasan teratur,
pemasangannya mudah dibandingkan kateter nasal, klien bebas makan, bergerak, berbicara, lebih
mudah ditolerir klien dan terasa nyaman.
Kerugian: Tidak dapat memberikan konsentrasi oksigen lebih dari 44%, suplai oksigen
berkurang bila klien bernafas melalui mulut, mudah lepas karena kedalaman kanul hanya 1 cm,
dapat mengiritasi selaput lendir.
Hal hal yang harus diperhatikan dalam pemberian oksigen
1. Amati tanda-tanda vital sebelum, selama dan sesudah pemberian oksigen
2. Jauhkan hal-hal yang dapat membahayakan misalnya : api, yang dapat menimbulkan
kebakaran
3. Air pelembab harus diganti setiap 24 jam dan isi sesuai batas yang ada pada botol
4. Botol pelembab harus disimpan dalam keadaan bersih dan kering bila tidak dipakai
Oksigen diberikan dengan kanula nasal 2 l/mnt dapat meningkatkan fraksi oksigen
inspirasi (FiO2) dari 21 menjadi 27%. Metode ini kurang efisien karena hanya oksigen yang
mengalir pada awal inspirasi saja yang sampai di alveoli dan ikut proses pertukaran gas.
Penggunaan kateter transtrakeal merupakan salah satu cara untuk mengurangi volume ruang rugi
anatomik, sehingga oksigen yang diberikan bisa dosis kecil. Karena langsung melalui trakea
maka akan mengurangi iritasi nasal, telinga dan fasial serta mencegah bergesernya alat tersebut
saat tidur. Namun demikian perlu dipertimbangkan komplikasi yang mungkin terjadi yaitu
emfisema subkutis, bronkospasme, batuk paroksismal, dislokasi kateter, infeksi di lubang trakea
dan mucous ball yang bisa mengakibatkan keadaan menjadi fatal.
Kontraindikasi
Tidak ada konsentrasi pada pemberian terapi oksigen dengan syarat pemberian jenis dan jumlah
aliran yang tepat. Namun demikan, perhatikan pada khusus berikut ini
1.
Pada klien dengan PPOM (Penyakit Paru Obstruktif Menahun) yang mulai bernafas
spontan maka pemasangan masker partial rebreathing dan non rebreathing dapat
menimbulkan tanda dan gejala keracunan oksigen. Hal ini dikarenakan jenis masker
rebreathing dan non-rebreathing dapat mengalirkan oksigen dengan konsentrasi yang tinggi
yaitu sekitar 90-95%
2.

Face mask tidak dianjurkan pada klien yang mengalami muntah-muntah

3.

Jika klien terdapat obstruksi nasal maka hindari pemakaian nasal kanul.

ANALISA TINDAKAN
Nama Mahasiswa

: ST. MUSDALIFAH AHMAD

NIM

: C 121 10 103

Tindakan Keperawatan yang dilakukan: Terapi Oksigen Rebreathing Mask (RM)

Nama Klien
: Ny. Mayani
Diagnosa Medis
: Tu Gluteus at Femur
Tanggal dilakukan : 30/04/2014

Diagnosa Keperawatan
1. Gangguan Pertukaran Gas b.d ketidakseimbangan perfusi-ventilasi
DO: - Hipoksia
- Pucat
- GCS (1 E, 1V, 2 M)
- Kesadaran: Semikoma (supor)

RR: 12x/mnt, TD: 70/40 mmHg


Irma pernapasan lambat

Tujuan dilakukan
Memberikan tambahan oksigen dengan kadar sedang dengan konsentrasi dan kelembaban yang
lebih tinggi dibandingkan dengan kanul.
Prinsip dan rasional tindakan

1. Mengalirkan oksigen konsentrasi oksigen 60-80% dengan kecepatan aliran 8-12 liter/menit.

2.

Memiliki kantong yang terus mengembang baik, saat inspirasi maupun ekspirasi. Pada saat
inspirasi, oksigen masuk dari sungkup melalui lubang antara sungkup dan kantung reservoir,
ditambah oksigen dari kamar yang masuk dalam lubang ekspirasi pada kantong. Udara
inspirasi sebagian tercampur dengan udara ekspirasi sehingga konsentrasi CO2 lebih tinggi
daripada simple face mask.
Isi oksigen kedalam kantong dengan cara menutup lubang antara kantung dengan sungkup
agar udara oksigen dari luar dan kantung bias bercampur.

Analisa Tindakan yang dilakukan


Keuntungan
Konsentrasi oksigen yang diberikan lebih tinggi dari kateter atau kanula nasal, sistem
humidifikasi dapat ditingkatkan melalui pemilihan sungkup berlubang besar,dapat digunakan
dalam pemberian terapi aerosol.
Kerugian
Tidak dapat memberikan konsentrasi oksigen kurang dari 40%, dapat menyebabkan
penumpukan CO2 jika aliran rendah.Menyekap, tidak memungkinkan untuk makan dan
batuk.Bisa terjadi aspirasi bila pasien mntah. Perlu pengikat wajah, dan apabila terlalu ketat
menekan kulit dapat menyebabkan rasa pobia ruang tertutup, pita elastik yang dapat disesuaikan
tersedia untuk menjamin keamanan dan kenyamanan.
Indikasi terapi O2 pada klien
Sumbatan jalan nafas
Henti nafas
Henti jantung
Nyeri dada/angina pektoris
Trauma thorak
Tenggelam
Hipoventilasi (respirasi < 10 kali/menit)
Distress nafas
Hipertemia
Syok

Stroke (Cerebro Vasculer Attack)


Keracunan gas
Pasien tidak sadar

ANALISA TINDAKAN
Nama Mahasiswa

: ST. MUSDALIFAH AHMAD

NIM

: C 121 10 103

Tindakan Keperawatan yang dilakukan: Perawatan luka dengan terapi O2 hiperbarik (HBOT)
sederhana

Nama Klien
: Ny. Subaidah
Diagnosa Medis
: Ulcus coli posterior leher
Tanggal dilakukan : 14/04/2014

Diagnosa Keperawatan
1. Kerusakan integritas kulit b.d rusaknya integument akibat adanya pus pada luka
DO: - Luka berada pada stadium III (rusaknya lapisan dermis bagian bawah hingga lapisan
subkutan)
- Warna dasar luka: sebagian daerah luka sudah berwarna merah (jaringan granulasi)
sehingga luka mudah berdarah dan sebagian masih berwarna hitam (jaringan

nekrotik) yang harus dilakukan pemotongan jaringan agar tidak mengganggu jaringan
sehat yang lain.
- Lokasi luka berada disekitar posterior leher sehingga mengganggu dirkulasi darah ke
PD Vaskular
- Ukuran luka 10 cm yang mengecil menjadi 8 cm
- Kedalaman 1-2 cm
- Masih terdapat sedikit pus dan berbau
2. Resiko infeksi b.d terdapatnya luka diregio coli yang berwarna merah dan mengeluarkan
sedikit darah beserta pus
DS: Klien mengatakan masih batuk berlendir
DO: - Klien tampak batuk
- Terdapat luka diregio coli, pus (+)
- Masih ada pus dan berbau
- Beberapa daerah sekitar luka masih berdarah
- Hasil pemeriksaan laboratorium mikrobiologi menunjukkan bahwa terdapat bakteri
aerob pada luka dan pasien memiliki riwayat DM
3. Nyeri akut b.d adanya kerusakan jaringan yang actual pada leher dengan ulcus coli
DS: Klien mengatakan leher terasa nyeri saat menelan atau menggerakkan kepala
DO: Masih ada sedikit daerah yang mengeluarkan darah.
Tujuan dilakukan
1. Mempercepat pertumbuhan granulasi
2. Terapi O2 dapat mempercepat sirkulasi darah ke daerah luka dan mempercepat tumbuhnya
kulit serta jaringan baru disekitar luka
3. Membunuh bakteri anaerob luka dengan menambahkan metronidazole saat melakukan
pencucian
4. Membersihkan pus dan jaringan mati di daerah luka
Prinsip dan rasional tindakan
1. Membersihkan ataupun merawat luka sebaiknya menggunakan teknik aseptic untuk
menghilangkan mikroorganisme sehingga tidak terjadi infeksi nosocomial dengan luka dalam
kondisi steril yang akan mempercepat proses penyembuhan.
2. Mencuci luka terlebih dahulu menggunakan NaCl 0,9% untuk pembilasan pertama. NaCl
dapat melarutkan/melenturkan otot yang tegang, mengurangi rasa nyeri pada otot yang sakit,
menurunkan gejala inflamasi (peradangan), serta menyembuhkan infeksi.
3. Membilas luka dengan menggunakan cairan metronidazole tetapi sebelum dibilas dengan
larutan ini sebaiknya dilakukan kultur jarinngan untuk pemeriksaan laboratorium.
Metronidazole merupakan obat antibakteri dan antiprotozoal yang mempunyai aktivitas
membunuh bakteri anaerob luka.
4. Menutup luka dengan sufraktul yang merupakan obat untuk luka dengan kandungan yang
berfungsi untuk mempercepat tumbuhnya granulasi luka
5. Pemerian terapi O2 (oksigen) hiperbarik pada luka. Jaringan kulit (integument)
membutuhkan oksigen untuk bernapas dan proliferasi sel-selnya sehingga untuk menunjang

cepatnya jaringan baru tumbuh diperlukan oksigen tambahan selain oksigen indirect pada
tubuh.
6. Membalut luka granulasi untuk meningkatkan prosesnya, melindungi jaringan yang baru dan
menjaga kelembababn luka. Pada dasarnya prinsip membalut luka yaitu:
- Kapasitas balutan untuk dapat menyerap cairan yang dikeluarkan oleh luka (absorbing)
- Kemampuan balutan untuk mengangkat jaringan nekrotik dan mengurangi resiko
terjadinya kontaminasi mikroorganisme (non vable tissue removal)
- Meningkatkan kemampuan rehidrasi luka (wound rehydration)
- Kemampuan atau potensi sebagai sarana pengangkut atau pendistribusian antibiotic ke
seluruh bagian luka.
Analisa Tindakan yang dilakukan
1. Pencucian luka dengan NaCl 0,9%
Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan oleh Kristiyaningrun (2013) menyatakan bahwa
membersihkan luka dengan NaCl akan mengalami kesembuhan yang lebih cepat terutama
luka ulcus apabila dilakukan secara komprehensif dimana NaCl dapat menjaga luka agar
tetap lembab (moist), mengangani infeksi, debridemen, revaskularisasi, dan dapat
mengurangi nyeri serta meningkatkan sirkulasi. Cairan NaCl juga merupakan cairan
fisiologis yang efektif untuk perawatan luka karena sesuai dengan kandungan garam tubuh.
Penelitian ini menunjukkan bahwa cairan NaCl lebih efektif dalam menyembuhkan luka bila
dibandingkan dengan cairan glukosa.
2. Membilas luka dengan cairan Metronidazol
Penelitian yang dilakukan oleh Olson (2004) menjelaskan bahwa metronidazole bekerja
efektif baik loka lamupun sistemik. Metronidazole digunakan untuk mengobati infeksi
anaerob yang dapat membuat infeksi yang berbau busuk di dinding abses dengan jalan
menghambat sintesa asam nukleat. Metronidazole dapat mempercepat tumbuhnya granulasi
luka dengan mengatasi luka eksudat dan menumbuhkan jaringan baru sehingga luka dengan
nekrosis dapat diganti dengan epidermis kulit baru.
3. Terapi oksigen hipetbarik (HBOT) sederhana
Terapi ini mulai dikenal untuk menunjang penyembuhan luka dimana diketahui bahwa luka
dengan geanulasi ataupun nekrotik dapat menghambat aliran sirkulasi darah dan tempat
berkumpulnya bakteri anaerob. HBOT dapat memicu peningkatan fibroblast untuk sintesis
proteoglikan dan angiogenesis yang menyebabkan neovaskularisasi jaringan luka kemudian
akan terjadi peningkatan dan perbaikan aliran jaringan tubuh bahkan pada aliran darah yang
berkurang, melebarkan pori-pori kulit untuk bernapas sehingga fungsi fibroblast dapat
mempercepat penyembuhan luka dan mempercepat proses granulasi luka dikarenakan dapat
merangsang pertumbuhan pembuluh darah baru untuk meningkatkan aliran darah pada
sirkulasi yang berkurang.

ANALISA TINDAKAN
Nama Mahasiswa

: ST. MUSDALIFAH AHMAD

NIM

: C 121 10 103

Tindakan Keperawatan yang dilakukan: Penyadapan EKG

Nama Klien
: Abd. Gaffar
Diagnosa Medis
: Hemiparesa
Tanggal dilakukan : 14/04/2014

Diagnosa Keperawatan
1. Ketidakefektifan perfusi jaringan kardiopulmonal b.d perubahan perfusi jaringan serebral
DS: - Pasien mengatakan nyeri pada dada
- Pasien merasa pusing
DO: - Menggunakan otot bantu pernapasan
- Kelemahan ekstremitas
- TD: 140/90, N: 85x/mnt
Tujuan dilakukan

1. Membuat rekaman Aktifitas listrik Otot jantung secara berurutan dan benar

2.

Membuat elektrokardiogram dan keterangannya

Prinsip dan rasional tindakan

1. Prinsip utama pemasangan EKG adalah perawat harus mengetahui


anatomi fisiologi jantung, dan persyarafan jantung sehingga pada saat
belajar EKG sudah dapat membayangkan keadaan jantung.
2. Mengetahui gambar EKG normal agar dapat membedakan jenis EKG yang
mengalami masalah/gangguan.
3. Sandapan (lokasi penempatan) EKG dimana untuk memperoleh rekaman
EKG dipasang elektroda-elektroda di kulit pada tempat-tempat tertentu.
Lokasi penempatan elektroda sangat penting diperhatikan, karena
penempatan yang salah akan menghasilkan pencatatan yang berbeda.
4. Terdapat 3 jenis sandapan (lead) pada EKG, yaitu :
a. Sadapan Prekordial
Merupakan sadapan V1, V2, V3, V4, V5, dan V6 yang ditempatkan
secara langsung di dada.
- Sadapan V1 ditempatkan di ruang intercostal IV di kanan sternum.
- Sadapan V2 ditempatkan di ruang intercostal IV di kiri sternum.
- Sadapan V3 ditempatkan di antara sadapan V2 dan V4.
- Sadapan V4 ditempatkan di ruang intercostal V di linea (sekalipun
detak apeks berpindah).
- Sadapan V5 ditempatkan secara mendatar dengan V4 di linea
axillaris anterior.
- Sadapan V6 ditempatkan secara mendatar dengan V4 dan V5 di
linea midaxillaris.
b. Sandapan Bipolar
Merekam perbedaan potensial dari 2 elektroda, yang ditandai dengan
angka romawi I, II dan III
- Sandapan I: merekam beda potensial antara tangan kanan (RA)
yang bermuatan negatif (-) tangan kiri bermuatan positif (+).
- Sandapan II: merekam beda potensial antara tangan kanan (-)
dengan kaki kiri (LF) yang bermuatan (+)
- Sandapan III: merekam beda potensial antara tangan kiri (LA)
yang bermuatan (-) dan kaki kiri (+).
c. Sandapan Unipolar
Sandapan Unipolar Ekstremitas
aVR: merekam potensial listrik pada tangan kanan (RA) yang
bermuatan (+), dan elektroda (-) gabungan tangan kiri dan kaki
kiri membentuk elektroda indifiren.
aVL: merekam potensial listrik pada tangan kiri (LA) yang
bermuatan (+), dan muatan (-)gabungan tangan kanan dan kaki
kiri membentuk elektroda indifiren.

aVF: merekam potensial listrik pada kaki kiri (LF) yang


bermuatan(+) dan elektroda (-) dari gabungan tangan kanan dan
kaki kiri membentuk elektroda indifiren.
5.
Membuat rekaman EKG secara berurutan sesuai dengan pilihan Lead yang terdapat pada
mesin EKG
6.
Melakukan kalibrasi kembali setelah perekaman selesai untuk menilai dan mengoreksi
kembali hasil rekaman EKG sehingga tidak terjadi kesalahan dalam pembacaan EKG.
7.
Memberi identitas pasien hasil rekaman: nama, umur, tanggal dan jam rekaman serta
nomor Lead dan nama pembuat rekaman EKG.
-

Analisa Tindakan yang dilakukan


Pasien dengan Hemiparesa merupakan kondisi dimana memberikan gambaran bahwa
adanya kelainan atau lesi sepanjang traktus piramidalis. Lesi ini dapat disebabkan oleh
berkurangnya suplai darah, kerusakan jaringan oleh trauma atau infeksi, ataupun penekanan
langsung dan tidak langsung oleh massa hematoma, abses, dan tumor. Hal tersebut selanjutnya
akan mengakibatkan adanya gangguan pada tractus kortikospinalis yang bertanggung jawab pada
otot-otot anggota gerak atas dan bawah. Stroke digunakan untuk menamakan sindrom hemiparesis atau
hemiparalisis akibat lesi vaskular yang bisa bangkit dalam beberapa detik sampai hari, tergantung pada
jenis penyakit yang menjadi kausanya. Sehingga untuk mengetahui dampak dari timbulnya nyeri
pada dada pasien maka dibutuhkan penyadapan EKG untuk mengetahui komplikasi yang dapat
ditimbulkan oleh hemiparesa.

a. Irama Jantung: Reguler


b. Frekuensi jantung: 93,75x/mnt (normal)
c.

Aksis /
Lead
I

Normal

LAD

RAD

d.
e.
f.
g.
h.

aVF

+ (Hipertensi)

II

Gelombang P: 0,12 detik


PR Interval: 0,2 detik
Kompleks QRS: 0,16 detik (ventrikel hipertropi)
ST Segmen: berada digaris isoelektik (normal)
Gelombang T: Normal

Dapat disimpulkan bahwa dari hasil rekaman EKG menanandakan ada gangguan pada
ventrikel jantung pasien dimana sebelumnya nilai tekanan darah: 140/90 mmHg atau dengan kata
lain pasien memiliki riwayat hipertensi. Hal inilah yang membuat perasaan nyeri yang dirasakan
pasien dimana menurut penelitian yang dilakukan (Hanafi, 1999) menyatakan bahwa stroke
(hemiparesa) yang disebabkan oleh lase pada serebral dapat menyebabkan gangguan jantung
sehingga menyebabkan terjepitnya vaskularisasi darah dan oksigen yang akan kembali ke
jantung sehingga jantung berusaha memompa untuk memenuhi kebutuhan darah dan oksigen ke
perifer.Gangguan irama jantung tidak hanya terbatas pada iregularitas denyut jantung tapi juga
termasuk gangguan kecepatan denyut dan konduksinya.