Anda di halaman 1dari 26

MAKALAH

Pemeriksaan dan Oral Diagnosis Periodonsia


Sebagai pengganti Tutorial skenario I blok Oral Diagnosa dan
Rencana Perawatan Penyakit Dentomaksilofasial

Oleh :
Nama

: Cynthia Octavia Purnama Sari

NIM

: 131610101047
Kelompok Tutorial 4

FAKULTAS KEDOKTERAN GIGI


UNIVERSITAS JEMBER

2015KATA PENGANTAR

Segala puji dan syukur kami panjatkan kepada Allah


SWT, karena atas berkat dan limpahan rahmat-Nya lah penulis
dapat menyelesaikan makalah dengan judul Pemeriksaan dan
Oral Diagnosis Periodonsia ini sebagai tugas pengganti Tutorial
minggu pertama di hari kedua yang tidak bisa saya ikuti karena
sakit.
Pada kesempatan ini saya ucapkan terima kasih kepada
drg. Peni Pujiastuti, M. Kes selaku tutor pada Tutorial minggu
pertama ini yang telah banyak memberikan bimbingan dan
pengarahan, sehingga makalah ini dapat selesai tepat pada
waktunya.
Akhirnya penulis mohon kritik dan saran untuk lebih
sempurnanya makalah ini. Selanjutnya penulis berharap makalah
yang

sederhana

ini

bermanfaat,

terutama

bagi

yang

membutuhkannya.

Jember, Maret 2015


Penulis

BAB I
PENDAHULUAN

Untuk menegakkan suatu diagnosa, seorang dokter gigi


harus mengumpulkan semua keterangan baik dari pemeriksaan
subjektif dan pemeriksaan objektif. Semua keterangan yang ada
kemudian dipilih dan diasimilasikan menjadi rencana perawatan
yang komprehensif. Menurut Carranza (1990), diagnosis penyakit
periodontal terdiri dari analisis sejarah kasus dan evaluasi tanda
dan gejala klinis, sebagai hasil dari beberapa pemeriksaan
(misalnya, evaluasi dengan probe, pemeriksaan kegoyahan gigi,
radiografi, tes darah, biopsi) untuk mengidentifikasi masalah
pasien.
Diagnosis periodontal menentukan penyakit pada saat itu,
mengidentifikasi

jenis

penyakitnya,

dan

menyediakan

pemahaman proses dasar penyakit dan penyebabnya. Diagnosis


disusun dengan sistematik dan teratur untuk tujuan tertentu.
Suatu

diagnosis

tidaklah

cukup

dari

pengumpulan

fakta.

Kepingan-kepingan temuan harus disatukan sehingga menjadi


penjelasan

masalah

periodontal

pasien.

Pemeriksaan

gigi

menggunakan sistem komputer yang menggunakan resolusi


grafis

yang

dikembangkan

tinggi

dan

sehingga

teknologi

aktivasi

memudahkan

suara

penerimaan

telah
dan

perbandingan data (Carranza, 1990). Pada akhirnya, diagnosis


penyakit periodontal yang tepat dapat menentukan prognosis
dan rencana perawatan yang baik.
Secara

umum

penyakit

periodontium di bagi tiga yaitu:

yang

mengenai

jaringan

1. Penyakit gingivitis.
2. Penyakit periodontitis.
3.

Penyakit

periodontal

akibat

dari

manifestasi

penyakit

sistemik.
Diagnosis periodontal dapat ditentukan setelah dilakukan
analisis secara hati-hati terhadap riwayat suatu penyakit dan
juga dilakukan evaluasi klinis dari gejala dan penyebab penyakit
tersebut dan hasil dari berbagai tes ,contohnya kegoyangan gigi
dengan menggunakan probe, radiografik, tes darah, biopsi.
Diagnosis harus terdiri dari evaluasi secara umum pasien dan
juga bagaimana keadaaan rongga mulut pasien. Diagnosis yang
dilakukan harus secara sistematik dan juga terorganisir agar
mencapai tujuan yang spesifik atau yang diharapkan.

BAB II
ISI

Secara umum, prosedur diagnosa dapat dibagi menjadi


empat bagian, antara lain: (1) melakukan anamnesa dan
mencatat riwayat pasien, (2) melakukan pemeriksaan terhadap
pasien (pemeriksaan fisik dan laboratorium), (3) Evaluasi dari
hasil anamnesa dan hasil pemeriksaan fisik serta laboratorium
yang akan menuntun ke arah perumusan suatu diagnosa, (4)
Penilaian resiko medis untuk pasien-pasien gigi (Lynch dkk,
1992). Suatu diagnosis penyakit periodontal dapat ditegakkan
melalui diagnosis klinis, radiografi, dan teknik lanjutan.

DIAGNOSIS KLINIS
Kunjungan pertama
Pada saat kunjungan pertama ini, seorang dokter gigi perlu
menilai beberapa hal seperti:
1. Penilaian pasien secara keseluruhan
Seorang operator harus mencoba menilai pasien secara
keseluruhan. Hal-hal yang perlu dipertimbangkan adalah
status mental dan emosional pasien, tabiat, sikap, dan umur
fisiologi.
2. Riwayat sistemik
Suatu riwayat sistemik akan menolong operator dalam hal (1)
diagnosis

manifestasi

oral

dari

penyakit

sistemik,

(2)

penemuan kondisi sistemik yang dapat mempengaruhi respon


jaringan periodontal terhadap faktor lokal, (3) penemuan

kondisi

sistemik

pencegahan

dan

yang

membutuhkan

modifikasi

dalam

suatu

tindakan

perawatannya.

Suatu

riwayat sistemik harus mengacu pada hal-hal sebagai berikut:


a. Apakah pasien sedang dalam perawatan dokter; jika iya,
tanyakan asal, durasi penyakit serta terapinya. Penyidikan
dapat dilakukan berdasarkan dosis dan durasi terapi dengan
antikoagulan dan kortikosteroid.
b. Riwayat rheumatic fever, rheumatic atau penyakit jantung
kongenital,
infarction,

hipertensi,
nefritis,

angina

penyakit

pectoris,

ginjal,

diabetes,

myocardial
dan/atau

pingsan.
c. Kecendrungan perdarahan yang abnornal seperti hidung
yang berdarah, perdarahan yang lama pada luka kecil,
ecchymosis spontan, kecendrungan terhadap memar yang
berlebihan, dan perdarahan menstruasi yang berlebihan.
d. Penyakit infeksi, termasuk berkontak dengan penyakit
infeksi di rumah atau di kantor, atau baru saja mendapat
rontgen di bagian dada.
e. Kemungkinan memiliki penyakit akibat pekerjaannya.
f. Riwayat alegi, termasuk hay fever, asma, sensitif terhadap
makanan, atau sensitif terhadap obat misalnya aspirin,
codeine, barbiturat, sulfonamide, antibiotik, prokain, dan
laxatives atau terhadap bahan dental seperti eugenol atau
resin akrilik.
g. Informasi onset pubertas dan menopause dan mengenai
kelainan menstrual atau hysterectomy, kehamilan, atau
keguguran.
3. Riwayat kesehatan gigi
Pada saat mencari riwayat kesehatan gigi, praktisi mendapat
kesempatan untuk menulai perilaku pasien, membangun
hubungan, dan mempelajari penyakit gigi yang telah lalu serta
responya terhadap perawatan. Juga penting untuk mengetahui
cara pemeliharaan kebersihan mulut yang selama ini dilakukan

oleh pasien di rumah yang mencerminkan pengetahuan pasien


tentang kesehatan gigi. Pada saat pengumpulan riwayat
kesehatan gigi, harus ditanyakan pula keluhan utama pasien.
Gejala pasien dengan penyakit gingival dan periodontal
berhubungan dengan perdarahan pada gusi, spacing pada gigi
yang sebelumnya tidak ada, bau mulut, dan rasa gatal pada
gusi yang dapat berkurang melalui pencungkilan dengan tusuk
gigi. Selain itu juga terdapat rasa nyeri dengan variasi tipe dan
durasi, misalnya konstan, tumpul, gnawing pain, rasa nyeri
yang tumpul setelah makan, rasa nyeri yang dalam rahang,
rasa nyeri akut, sensitif ketika mengunyah, sensitif terhadap
panas dan dingin, sensasi terbakar pada gusi, dan sensitif
terhadap udara yang dihirup. Riwayat dental harus meliputi
acuan seperti:
a. Kunjungan ke dokter gigi meliputi frekuensi, tanggal terakhir
kunjungan,

dan

perawatannya.

Profilaksis

oral

atau

pembersihan oleh dokter gigi frekuensi dan tanggal


terakhir dibersihkan.
b. Menyikat gigi frekuensi, sebelum atau sesudah makan,
metode, tipe sikat gigi dan pasta, serta interval waktu
digantinya sikat gigi.
c. Perawatan ortodontik durasi dan perkiraan waktu selesai.
d. Rasa nyeri di gigi atau di gusi cara rasa nyeri terpancing,
asal dan durasinya, dan cara menghilangkan rasa nyeri
tersebut.
e. Gusi berdarah kapan pertama kali diketahui; terjadi
spontan atau tidak, terjadi saat sikat gigi atau saat makan,
terjadi pada malam hari atau pada periode yang teratur;
apakah

gusi

berdarah

berhubungan

dengan

periode

menstruasi atau faktor spesifik; durasi perdarahan dan cara


menghentikannya.
f. Bau mulut dan daerah impaksi makanan

g. Kegohayan gigi apakah terasa hilang atau tidak nyaman


pada

gigi?

Apakah

terdapat

kesulitan

pada

saat

mengunyah?
h. Riwayat masalah gusi sebelumnya
i. Kebiasaan grinding teeth atau clenching teeth pada malam
hari atau setiap waktu. Apakah otot gigi terasa sakit pada
pagi hari? Kebiasaan lainnya seperti merokok, menggigit
kuku, dan menggigit benda asing.
4. Survey radiografi intraoral
Survey radiografi minimum terdiri dari 14 film intraoral dan 4
bitewing

posterior.

Survey

lengkung

gigi

dan

struktur

sekitarnya dapat dilihat dengan mudah melalui radiograf


panoramik.

Radiograf

panoramik

menyediakan

gambar

radiografi keseluruhan yang informatif untuk melihat distribusi


dan keparahan kerusakan tulang pada penyakit periodontal,
namun film intraoral yang lengkap dibutuhkan untuk diagnosis
periodontal dan rencana perawatan.
5. Cetakan rahang
Cetakan rahang berguna sebagai bantuan visual dalam diskusi
dengan pasien dan berguna untuk perbandingan antara
sebelum dan sesudah perawatan maupun untuk acuan pada
kunjungan check-up.
6. Foto klinis
Foto tidaklah begitu penting, namun foto berguna untuk
merekam tampilan jaringan sebelum dan setelah perawatan.
7. Peninjauan kembali pemeriksaan awal

Kunjungan kedua
1. Pemeriksaan rongga mulut

Pemeriksaan rongga mulut meliputi oral hygiene, bau mulut,


pemeriksaan rongga mulut, dan pemeriksaan kelenjar getah
bening.
Oral hygiene
Oral hygiene atau kebersihan rongga mulut dinilai dari tingkat
akumulasi debris makanan, plak, material alba, dan stain
permukaan gigi. Pemeriksaan jumlah kualitatif plak dapat
membantu menegakkan diagnosis.
Bau Mulut
Halitosis atau fetor ex ore atau fetor oris, adalah bau atau
aroma menyengat yang berasal dari rongga mulut. Adanya
halitosis

dapat membantu dalam menegakkan diagnosa.

Halitosis berhubungan dengan penyakit-penyakit tertentu, dan


dapat berasal dari faktor lokal maupun ekstraoral. Sumber
lokal penyebab halitosis dapat berasal dari impaksi makanan
diantara gigi, coated tongue, acute necrotizing ulcerative
gingivitis (ANUG), dehidrasi, karies, gigi palsu, nafas perokok,
dan penyembuhan pasca operasi atau pencabutan gigi.
Karakteristik bau busuk dari ANUG sangat mudah diidentifikasi.
Ekstraoral atau sumber bau mulut yang jauh berasal dari
penyakit atau struktur yang berdekatan berhubungan dengan
rhinitis, sinusitis, atau tonsillitis; penyakit pada paru-paru dan
bronkus; dan bau yang dikeluarkan melalui paru-paru dari
substansi aromatik dalam aliran darah seperti metabolit dari
infus makanan atau produk eksretori dari metabolisme sel.
Pemeriksaan Rongga Mulut
Pemeriksaan rongga mulut meliputi bibir, dasar mulut, lidah,
palatum,
kuantitas

dan

daerah

saliva.

oropharyngeal,

Walaupun

hasil

serta

kualitas

pemeriksaan

dan
tidak

berhubungan dengan penyakit peridontal, seorang dokter gigi


harus mendeteksi perubahan patologis yang terjadi.
Pemeriksaan Kelenjar Getah Bening
Kelenjar getah bening dapat membesar dan/atau mengeras
sebagai respon episode infeksi, metastase malignant, atau
perubahan residual fibrotik. Kelenjar yang inflamasi menjadi
membesar, terpalpasi, empuk, dan tidak bergerak. Acute
herpetic gingivostomatitis, ANUG, dan abses periodontal akut
menghasilkan pembesaran kelenjar getah bening.
2. Pemeriksaan gigi
Aspek-aspek pada gigi yang diperiksa adalah kariesnya,
perkembangan

kecacatan,

anomali

bentuk

gigi,

wasting,

hipersensitifitas, dan hubungan kontak proksimal.


Wasting disease of the teeth
Wasting diartikan sebagai pengurangan substansi gigi secara
berangsur-angsur yang terkarakteristik oleh pembentukan
permukaan yang halus, dan mengkilat. Bentuk dari wasting
adalah erosi, abrasi, dan atrisi. Erosi adalah depresi berbentuk
baji pada daerah servik permukaan fasial gigi. Abrasi adalah
hilangnya substansi gigi yang disebabkan oleh penggunaan
mekanis mastikasi. Atrisi adalah terkikisnya permukaan oklusal
akibat kontak fungsional dengan gigi antagonis.
Dental Stains
Dental stains adalah deposit yang terpigmentasi pada gigi.
Dental stain harus diperiksa dengan teliti untuk menentukan
penyebabnya.
Hipersensitifitas
Akar gigi yang terbuka akibat resesi gingiva menjadi sensitif
terhadap perubahan suhu atau stimulasi taktil. Pasien sering

menunjuk langsung lokasi yang sensitif. Hipersensitifitas dapat


diketahui melalui eksplorasi dengan probe atau udara dingin.
Hubungan kontak proksimal
Terbukanya kontak yang tipis menyebabkan impaksi makanan.
Hal ini dapat dicek melalui obeservasi klinis dan dengan dental
floss.
Kegoyahan gigi
Kegoyahan gigi terjadi dalam dua tahapan:
Inisial atau tahap intrasoket, yakni pergerakan gigi yang
masih dalam batas ligamen periodontal. Hal ini berbungan
dengan distorsi viskoelastisitas ligamen periodontal dan
redistribusi cairan peridontal, isi interbundle, dan fiber.
Pergerakan inisial ini terjadi dengan tekanan sekitar 100
pon dan pergerakan yang terjadi sebesar 0.05 sampai 0.1
mm (50 hingga 100 mikro)
Tahapan kedua, terjadi secara bertahap dan memerlukan
deformasi elastik tulang alveolar sebagai respon terhadap
meningkatnya tekanan horizontal. Ketika mahkota diberi
tekanan sebesar 500 pon maka pemindahan yang terjadi
sebesar 100-200 mikro untuk incisivus, 50-90 mikro untuk
caninus, 8-10 mikro untuk premolar dan 40-80 mikro untuk
molar.

Gambar 1.

Pemeriksaan

Kegoyangan Gigi
(Rateitschak dkk,

1985)

Kegoyahan gigi dapat diperiksa secara klinis dengan cara: gigi


dipegang dengan kuat diantara dua instrumen atau dengan
satu instrumen dan satu jari, dan diberikan sebuah usaha

untuk

menggerakkannya

ke

segala

arah.

Pada

gambar

dibawah ini, peningkatan kegoyangan gigi ditentukan dengan


memberikan gaya 500 g pada permukaan labiolingual dengan
menggunakan

dua

instrumen

dental.

Kegoyahan

gigi

dibedakan menjadi :
Derajat 1 kegoyangan gigi yang sedikit lebih besar dari
normal
Derajat 2 kegoyangan gigi sekitar 1 mm
Derajat 3 kegoyangan gigi lebih dari 1 mm pada segala
arah atau gigi dapat ditekan ke arah apikal.
Kegoyangan gigi yang patologis terutama disebabkan oleh (1)
infamasi gingiva dan jaringan periodontal, (2) kebiasaan
parafungsi oklusal, (3) oklusi prematur, (4) kehilangan tulang
pendukung, (5) gaya torsi yang menyebabkan trauma pada
gigi yang dijadikan pegangan cengkraman gigi, (6) terapi
periodontal,

terapi

endodontik,

dan

trauma

dapat

menyebabkan kegoyahan gigi sementara.


Trauma dari oklusi
Trauma dari oklusi

mengacu

pada

luka

jaringan

yang

diakibatkan tekanan oklusal. Tanda pada jaringan periodontal


yang dicurigai sebagai akibat adanya trauma dari oklusi antara
lain: kegoyangan gigi yang berlebihan; pada gambar radiografi
terlihat jarak periodontal yang melebar; kerusakan tulang
vertikal atau angular; poket infraboni; dan migrasi patologis,
terutama pada gigi anterior. Tanda lainnya yang dicurigai
adanya hubungan oklusal yang abnormal adalah migrasi gigi
anterior yang patologis
Migrasi gigi yang patologis
Kontak prematur pada gigi posterior yang membelokkan
mandibula ke arah anterior ikut berperan serta terhadap
rusaknya periodonsium gigi maksila bagian anterior dan
terhadap migrasi patologis. Migrasi patologis gigi anterior pada

orang muda mungkin sebagai tanda adanya localized juvenile


periodontits.
Sensitifitas terhadap perkusi
Sensitifitas terhadap perkusi merupakan ciri adanya inflamasi
akut pada ligamen periodontal. Perkusi yang keras pada gigi
dengan sudut yang berbeda terhadap aksis gigi membantu
menentukan lokasi yang terlibat inflamasi.
Kedaan gigi pada saat rahang tertutup
Pemeriksaan keadaan gigi pada saat rahang tertutup tidak
memberikan informansi seperti saat pemeriksaan rahang
ketika berfungsi, namun pemeriksaan ini dapat menunjukkan
kondisi peridontal. Gigi yang tersusun secara ireguler, gigi
yang ekstrusi, kontak proksimal yang tidak tepat, dan daerah
impaksi

makanan

merupakan

faktor

yang

mendukung

akumulasi bakteri plak. Misalnya pada kasus hubungan open


bite, dimana terdapat celah yang abnormal antara maksila dan
mandibula. Kurangnya pembersihan mekanis oleh jalan lintas
makanan,

dapat

menyebabkan

akumulasi

debris,

pembentukan kalkulus, dan ekstrusi gigi.


3. Pemeriksaan periodonsium
Pemeriksaan periodonsium harus sistematik, dimulai dari regio
molar baik pada maksilla maupun mandibula kemudian
diteruskan

ke

seluruh

rahang.

Semua

temuan

pada

pemeriksaan periodonsium ini dicatat pada periodontal chart


sehingga berguna sebagai catatan kondisi pasien dan untuk
evaluasi respon pasien terhadap perawatan. Hal-hal yang perlu
dilakukan pada tahap ini adalah pemeriksaan plak dan
kalkulus,

gingiva, poket

periodontal,

penentuan

aktivitas

penyakit, jumlah gingiva cekat, alveolar bone loss, palpasi,


supurasi, dan abses peridontal.

Plak dan Kalkulus


Pemeriksaan jumlah plak dan kalkulus dapat dilakukan melalui
berbagai

macam

metode.

Pemeriksaan

plak

dapat

menggunakan plak indeks. Jaringan yang mengelilingi gigi


dibagi menjadi 4 bagian, yaitu papilla distofasial, margin fasial,
papilla mesiofasial, dan bagian lingual. Visualisasi plak dapat
dilakukan dengan mengeringkan gigi dengan udara. Plak
adalah bagian yang tidak memiliki stain.

Gambar 2. Pemeriksaan plak


(Rateitschak dkk, 1985)

Adanya kalkulus supragingiva dapat terlihat melalui observasi


langsung, dan jumlahnya dapat diukur dengan probe yang
terkalibrasi. Untuk mendeteksi kalkulus subgingiva, setiap
permukaan gigi diperiksa hingga batas perlekatan gingiva
dengan menggunakan eksplorer no.17 atau no.3A. Udara yang
hangat dapat digunakan untuk sedikit membuka gingiva
sehingga visualisasi terhadap kalkulus lebih jelas.

Gambar 3. Deteksi

kehalusan (atas kanan)

atau iregularitas
pada permukaan akar

dengan pergerakan

probe atau eksplorer


di luar. Kalkulus (atas tengah), karies (atas kiri), margin
restorasi yang irregular (bawah kanan dan kiri)
(Carranza, 1990)

Gingiva
Gingiva harus dikeringkan terlebih dahulu untuk mendapatkan
observasi yang akurat. Selain melalui pemeriksaan secara
visual

dan

eksplorasi

dengan

instrumen,

pemeriksaan

dilakukan dengan palpasi yang erat namun halus. Hal ini


dilakukan

untuk

mendeteksi

kelainan

patologis

pada

kelentingan normal dan mengetahui lokasi pembentukan pus.


Beberapa

hal

yang

perlu

dipertimbangkan

pada

saat

pemeriksaan gingiva antara lain: warna, ukuran, kontur,


konsistensi, tekstur permukaan, posisi, kemudahan untuk
berdarah, dan rasa nyeri.
Dari pemeriksaan klinis, inflamasi gingiva menghasilkan dua
respon dasar jaringan, yaitu edematous dan fibrotik. Respon
jaringan yang edematous memiliki karakteristik halus, glossy,
halus dan gingiva berwarna merah. Respon jaringan yang
fibrotik memiliki karakteristik seerti gingiva normal namun
lebih kuat, berstippling, dan opaque, walaupun terkadang lebih
tebal dan marginnya terlihat membulat.
Penggunaan Indeks Klinis

Dari semua indeks yang ada, Gingival Index dan Sulcus


Bleeding Index merupakan dua indeks yang paling berguna
dan mudah pada penggunaan di klinik.
1. Gingival index (Loe dan Silness)
Gingival index menyediakan penilaian status inflamasi
gingiva

yang

digunakan

dalam

praktek

untuk

membandingkan kesehatan gingiva sebelum dan setelah


terapi fase I atau sebelum dan setelah operasi; gingival
index juga untuk membandingkan status gingiva pada
kunjungan rutin.
2. Sulcus bleeding index (Muhlemann dan Son)
Indeks ini berguna untuk mendeteksi perubahan awal
inflamasi dan adanya lesi inflamasi pada dasar poket
peridontal, sebuah area yang tidak terjangkau dengan
pemeriksaan

visual.

Sulcus

bleeding

index

mempertimbangkan perdarahan dari sulkus setelah probing,


seperti

pada

erythema,

pembengkakan,

dan

edema.

Penilaian dilakukan terpisah pada bagian papilla dan margin


gingiva.
Poket Periodontal
Pemeriksaan poket periodontal harus mempertimbangkan:
keberadaan dan distribusi pada semua permukaan gigi,
kedalaman poket, batas perlekatan pada akar gigi, dan tipe
poket (supraboni atau infaboni; simple, compound atau
kompleks). Metode satu-satunya yang paling akurat untuk
mendeteksi poket peridontal adalah eksplorasi menggunakan
probe peridontal. Poket tidak terdeteksi oleh pemeriksaan
radiografi. Periodontal poket adalah perubahan jaringan lunak.
Radiografi menunjukkan area yang kehilangan tulang dimana
dicurigai

adanya

poket.

Radiografi

tidak

menunjukkan

kedalaman poket sehingga radiografi tidak menunjukkan


perbedaan antara sebelum dan sesudah penyisihan poket

kecuali kalau tulangnya sudah diperbaiki. Ujung gutta percha


atau ujung perak yang terkalibrasi dapat digunakan dengan
radiografi

untuk

menentukan

tingkat

perlekatan

poket

peridontal.
Kedalaman poket dibedakan menjadi dua jenis, antara lain:
1. Kedalaman biologis
Kedalaman biologis adalah jarak antara margin gingiva
dengan

dasar

poket

(ujung

koronal

dari

junctional

epithelium).
2. Kedalaman klinis atau kedalaman probing
Kedalaman klinis adalah jarak dimana sebuah instrumen ad
hoc (probe) masuk kedalam poket. Kedalaman penetrasi
probe tergantung pada ukurang probe, gaya yang diberikan,
arah

penetrasi,

resistansi

jaringan,

dan

kecembungan

mahkota. Kedalaman penetrasi probe dari apeks jaringan


ikat ke junctional epithelium adalah 0.3 mm. Gaya tekan
pada probe yang dapat ditoleransi dan akurat adalah 0.75 N.
Teknik probing yang benar adalah probe dimasukkan pararel
dengan

aksis

vertikal

gigi

dan

berjalan

secara

sirkumferensial mengelilingi permukaan setiap gigi untuk


mendeteksi daerah dengan penetrasi terdalam. Jika terdapat
banyak kalkulus, biasanya sulit untuk mengukur kedalaman
poket

karena

kalkulus

menghalangi

masuknya

probe.

Maka,dilakukan pembuangan kalkulus terlebih dahulu secara


kasar (gross scaling) sebelum dilakukan pengukuran poket,

Gambar 4. Probe berjalan untuk mengetahui poket dan


perluasannya
(Carranza, 1990)

Untuk mendeteksi adanya interdental craters, maka probe


diletakkan secara oblique baik dari permukaan fasial dan
lingual sehingga dapat mengekplorasi titik terdalam pada
poket yang terletak dibawah titik kontak.

Gambar 5. Insersi probe secara vertikal (kiri) tidak mendeteksi


interdental crater; probe dengan posisi oblique (kanan)
mencapai titik terdalam crater.
(Carranza, 1990)

Pada gigi berakar jamak harus diperiksa dengan teliti


adanya keterlibatan furkasi. Probe dengan desain khusus
(Nabers

probe)

memudahkan

dan

lebih

akurat

untuk

mengekplorasi komponen horizontal pada lesi furkasi.

Gambar 6. Eksplorasi dengan probe peridontal (kiri);


Nabers probe (kanan)
(Carranza, 1990)

Selain kedalaman poket, hal lain yang penting dalam


diagnostik adalah penentuan tingkat perlekatan (level of

attachment). Kedalaman poket adalah jarak antara dasar


poket dan margin gingiva. Kedalaman poket dapat berubah
dari waktu ke waktu walaupun pada kasus yang tidak
dirawat sehingga posisi margin gingiva pun berubah. Poket
yang dangkal pada 1/3 apikal akar memiliki kerusakan yang
lebih parah dibandingkan dengan poket dalam yang melekat
pada 1/3 koronal akar. Cara untuk menentukan tingkat
perlekatan adalah pada saat margin gingiva berada pada
mahkota anatomis, tingkat perlekatan ditentukan dengan
mengurangi kedalaman poket dengan jarak antara margin
gingiva hingga cemento-enamel junction. Insersi probe pada
dasar poket akan mengeluarkan darah apabila gingiva
mengalami inflamasi dan epithelium poket atrofi atau
terulserasi. Untuk mengecek perdarahan setelah probing,
probe perlahan-lahan dumasukkan ke dasar poket dan
dengan berpindah sepanjang dinding poket. Perdarahan
seringkali muncul segera setelah penarikan probe, namun
perdarahan juga sering tertunda hingga 30-60 detik setelah
probing.
Penentuan aktivitas penyakit
Penentuan kedalaman poket dan tingkat perlekatan tidak
memberikan informasi apakah lesi tersebut berada dalam
kondisi aktif atau inaktif. Suatu lesi inaktif menunjukkan
tidak sama sekali atau sedikit perdarahan pada probing dan
jumlah cairan gingiva yang minimal; flora bakteri didominasi
oleh bentuk sel coccoid. Lesi yang aktif berdarah lebih cepat
saat probing dan memiliki sejumlah cairan dan eksudat;
bakteri yang dominan adalah spirochetes dan motile. Pada
kasus localized juvenile periodontitis, baik progressing dan
nonprogressing, tidak memiliki perbedaan tempat saat

bleeding on probing. Penentuan aktivitas yang cermat akan


langsung mempengaruhi dignosis, prognosis, dan terapi.
Jumlah Gingiva Cekat
Lebar gingiva cekat adalah jarak antara mucogingival
junction dan proyeksi pada permukaan eksternal dari dasar
sulkus gingiva atau poket peridontal. Lebar gingiva cekat
ditentukan denganmengurangi kedalaman sulkus atau poket
dari kedalaman total gingiva (margin gingiva hingga garis
mucogingival).
Alveolar Bone Loss
Alveolar bone loss dievaluasi melalui pemeriksaan klinis dan
radiografi. Probing berguna untuk menentukan tinggi dan
kontur tulang bagian fasial dan lingual yang kabur pada
radiograf akibat kepadatan akar dan untuk menentukan
arsitektur tulang interdental. Pada daerah yang teranestesi,
informasi

arsitektur

tulang

dapat

diperoleh

dengan

melakukan transgingival probing.


Palpasi
Palpasi mukosa oral pada daerah lateral dan apikal gigi
dapat membantu untuk menunjuk tempat asal rasa nyeri
yang tidak dapat ditunjukkan oleh pasien. Palpasi juga dapat
mendeteksi infeksi jauh didalam jaringan peridontal dan
tahap awal abses peridontal.
Abses Periodontal
Abses peridontal adalah akumulasi pus yang terlokalisasi
dalam

dinding

gingiva

pada

poket

peridontal.

Abses

periodontal dapat akut dan kronis. Peridontal abses akut


terlihat sebagai peninggian ovoid pada gingiva sepanjang
aspek lateral akar. Gingiva terlihat edematous dan merah,
dengan permukaan yang halus dan mengkilat. Bentuk dan

konsistensi pada area yang meninggi bervariasi; bisa


berbentuk seperti kubah, agak keras, dan halus. Seringkali
pasien memiliki gejala peridontal abses akut tanpa tanda
klinis dan radiografi yang terlihat. Peridontal abses akut
memiliki

gejala

seperti

rasa

nyeri

berdenyut,

sensitif

terhadap palpasi gigi, kegoyangan gigi, lymphadenitis, dan


sedikit tanda sistematik seperti demam, leukositosis, dan
malaise. Abses peridontal kronis terlihat sebagai sinus yang
membuka ke arah mukosa gingiva sepanjang akar gigi.
Abses peridontal kronis biasanya asimptomatik. Pasien
seringkali mengeluhkan rasa nyeri yang tumpul, sedikit
peninggian pada gigi, dan keinginan untuk menggigit dan
menggesekkan gigi.
GAMBARAN RADIOGRAFI
Radiograf merupakan pemeriksaan penunjang yang sangat
penting dalam menegakkan diagnosa penyakit periodontal,
tetapi radiograf semata tidak dapat menentukan diagnosa.
Beberapa persyaratan umum dalam pemeriksaan radiografik
yang lengkap, yaitu:
1. Rangkaian film yang dibuat, meliputi:
a) Rangkaian foto rontgen periapikal seluruh gigi (full-mouth)
b) Empat foto rontgen sayap gigit periodontal
c) Foto panoramik sebagai tambahan
2. Kualitas foto rontgen yang baik, melipuit densitas, kontras dan
pengambilan sudut yang tepat, serta harus mencakup seluruh
detail anatomi daerah yang dimaksud.
Gambaran yang diperoleh dari foto rontgen, antara lain:

1. Morfologi dan panjang akar


2. Perbandingan mahkota : akar klinis
3. Perkiraan banyaknya kerusakan tulang
4. Hubungan antara sinus maksillaris dengan kelainan bentuk
jaringan periodontal
5. Resorpsi tulang horizontal dan vertikal pada puncak tulang
interproksimal. Harus diingat bahwa tinggi tulang interseptal
yang normal biasanya sejajar dan sekitar 1-2 mm lebih ke
apikal bila dibandingkan dengan garis khayal yang ditarik
melalui pertemuan sementoemail gigi-gigi.
6. Pelebaran ruang ligamen periodonsium di daerah mesial dan
distal akar.
7. Keterlibatan furkasi tingkat lanjut
8. Kelaianan periapeks
9. Kalkulus
10. Restorasi yang mengemper (overhang)
11. Fraktur akar
12. Karies
13. Resorpsi akar
Radiografi tidak dapat memperlihatkan aktivitas penyakit, tetapi
dapat menunjukkan efek penyakit. Hal-hal yang tidak dapat
ditunjukan rontgen adalah
1. Ada atau tidaknya poket
2. Morfologi kelainan bentuk tulang yang pasti, khususnya cacat
uang berliku-liku, dehisensi, dan fenestrasi
3. Kegoyangan gigi
4. Posisi dan kondisi prosesus alveolar di permukaan fasial dan
lingual
5. Keterlibatan furkasi tahap awal

6. Tingkat perlekatan jaringan ikat dan epitel jungsional

ADVANCE TECHNIQUE
Advance technique diagnostik merupakan pengembangan teknik
atau teknik lanjutan yang digunakan untuk mendiagnosa suatu
penyakit, misalnya:
1. Pemeriksaan tingkat inflamasi gingiva.
Pada pemeriksaan klinis, tingkat inflamasi gingiva hanya
dilihat berdasarkan kondisi klinis melalui tanda kemerahan,
bengkak dan perdarahan. Namun saat ini tingkat inflamasi
gingiva dapat diketahui dengan pengukuran aliran cairan
crevicular gingiva. Cairan clevicular gingiva dikumpulkan
dengan microcapillary tubes dan dengan menempatkan filter
paper strips pada celah jalan masuk dan mengukur jumlah
cairan

yang

meresap

dalam

filter

paper.

Selajutnya

pengukuran dapat dilakukan dengan ninhydrin area methode


(NAM) atau dengan alat elektronik, Periotron 6000.
2. Pemeriksaan kedalaman poket dengan electronic periodontal
probe
Kelebihan

electronic

periodontal

probe

dibandingkan

periodontal probe klasik, antara lain:


a) Presisi hingga 0.1 mm
b) Jangkauan hingga 10 mm
c) Tekanan saat probing yang konstan
d) Non-invasif, ringan, dan nyaman digunakan
e) Dapat mengakses seluruh lokasi pada semua gigi
f) Sistem panduan untuk menjamin angulasi probe
g) Tidak terdapat bahaya material dan shok elektris

h) Output digital
3. Xeroradiography
Xeroradiography adalah sistem penggambaran menggunakan
proses duplikasi xerographic untuk merekam gambaran x-ray.
Jika

dibandingkan

dengan

radiografi

intraoral,

hasil

xeroradiography menunjukkan gambar yang lebih bagus,


terutama pada struktur yang tajam seperti trabekula dan
daerah dengan perbedaan kepadatan misalnya jaringan lunak.
Dengan hasil gambar yang lebih bagus, maka memudahkan
operator untuk menilai kerusakan tulang yang berhubungan
dengan periodontitis.
4. ELISA (Enzyme-linked immunosorbent assay)
ELISA digunakan untuk mendeteksi antigen atau antibodi.
ELISA terutama digunakan untuk menentukan serum antibodi
pada periodontophatogen.

KESIMPULAN

Diagnosis penyakit peridontal dapat ditegakkan setelah


melalui beberapa tahapan diagnostik, antara lain: diagnosis
klinis, gambaran radiograf, dan pemeriksaan penunjang lainnya.
Seorang praktisi yang cermat, akan menggabungkan data-data
yang diperolehnya saat pemeriksaan klinis dan pemeriksaan
radiografi untuk mendapatkan suatu diagnosis definitif. Jika
setelah pemeriksaan klinis dan radiografi dilakukan namun
belum mendapatkan diagnosis definitif, maka barulah dilakukan
permeriksaan penunjang lainnya.
Diagnosis periodontal dapat ditentukan setelah dilakukan
analisis secara hati-hati terhadap riwayat suatu penyakit dan
juga dilakukan evaluasi klinis dari gejala dan penyebab penyakit
tersebut dan hasil dari berbagai tes ,contohnya kegoyangan gigi
dengan menggunakan probe, radiografik, tes darah, biopsi.
Diagnosis harus terdiri dari evaluasi secara umum pasien dan
juga bagaimana keadaaan rongga mulut pasien. Diagnosis yang
dilakukan harus secara sistematik dan juga terorganisir agar
mencapai tujuan yang spesifik atau yang diharapkan.

DAFTAR PUSTAKA

Carranza, F.A., 1990, Glickman's clinical Periodontology, 7th Ed,


W.B Saunders Company, Philadelphia, h.476Fedi, F.J., Vernino, A.R., Gray, J.L., 2004, Silabus Periodonti, Edisi
4, EGC, Jakarta, h.46-61
Rateitschak, K.H, Rateitschak., E.M, Wolf, H.F., Hassell, T.M., 1985,
Color Atlas of Periodontology, Georg Thieme Verlag Sturrgart,
New York
Rose,

L.F.,

Mealy,

B.L.,

Genco,

R.J.,

Cohen.,

D.W.,

2004,

Periodontics: Medicine, Surgery, and Implants, Mobsy, St.Louis