Anda di halaman 1dari 88

KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat ALLAH SWT, atas berkat, rahmat dan karuniaNYA kami kelompok 1 dapat menyelesaikan laporan akhir praktikum Pertanian Berlanjut.
Praktikum dilakukan di Desa Tulungrejo, Kecamatan Ngantang dan kami menyusunnya
sebagai data hasil pengamatan untuk penyusunan laporan.
Dalam laporan akhir ini, kami juga berterimakasih kepada asisten praktikum Pertanian
Berlanjut dan teman-teman yang telah membantu penyelesaian laporan ini. Kami berharap
laporan ini dapat berguna atau bermanfaat untuk kedepan.
Laporan ini tentunya masih jauh dari kesempurnaan, maka dari itu kami menerima
kritik dan saran demi kesempurnaan penulisan laporan berikutnya.

Malang, 27 Desember 2013

Penyusun

DAFTAR ISI
Halaman Cover
Kata Pengantar.....................................................................................................................1
Daftar Isi...............................................................................................................................2
Bab 1. PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang...............................................................................................................3
1.2 Tujuan.............................................................................................................................3
1.3 Manfaat...........................................................................................................................4
Bab 2 METODOLOGI
2.1 Tempat dan waktu Pelaksanaan......................................................................................5
2.2 Metode Pelaksanaan.......................................................................................................5
2.2.1 Pemahaman karakteristik landskap.............................................................................5
2.2.2 Pengukuran Kualitas Air.............................................................................................5
2.2.3 Pengukuran Biodiversitas............................................................................................7
2.2.3.1 Aspek Agronomi.................................................................................................7
2.2.3.2 Aspek Hama Penyakit........................................................................................9
2.2.4 Pendugaan Cadangan Karbon.....................................................................................9
2.2.5 Identifikasi Keberlanjutan Lahan dari Aspek Sosial Ekonomi...................................9
Bab 3 HASIL DAN PEMBAHASAN
3.1 Hasil................................................................................................................................11
3.1.1 Kondisi Umum Wilayah..............................................................................................11
3.1.2 Indikator Pertanian Berlanjut dari Aspek Biofisik......................................................15
3.1.2.1 Kualitas air.........................................................................................................15
3.1.2.2 Biodiversitas Tanaman.......................................................................................21
3.1.2.3 Biodiversitas Hama Penyakit.............................................................................34
3.1.2.4 Cadangan Karbon...............................................................................................38
3.1.3 Indikator Pertanian Berlanjut dari Sosial Ekonomi
3.1.3.1 Economically viable (keberlangsungan secara ekonomi)..................................45
3.1.3.2 Ecologically sound (ramah lingkungan).............................................................59
3.1.3.3 Socially just (berkeadilan = menganut azas keadilan) .....................................62
3.1.3.4 Culturally acceptable (berakar pd budaya setempat) ........................................63
3.2 Pembahasan Umum
3.2.1 Keberlanjutan Sistem Pertanian di Lokasi Pengamatan........................................66
Bab IV. PENUTUP
4.1 Kesimpulan.....................................................................................................................70
4.2 Saran...............................................................................................................................70
DAFTAR PUSTAKA...........................................................................................................71
LAMPIRAN.........................................................................................................................73
- Sketsa Penggunaan Lahan........................................................................................73
- Sketsa Transek..........................................................................................................75
- Lampiran gambar pengamatan hama.......................................................................83

BAB I
PENDAHULUAN
1.1.

Latar Belakang
Pada dasarnya pertanian berkelanjutan merupakan upaya pemanfaatan sumber daya
yang dapat diperbaharui dan sumberdaya tidak dapat diperbaharui untuk proses produksi
pertanian dengan menekan dampak negatif terhadap lingkungan seminimal mungkin.
Keberlanjutan yang dimaksud meliputi : penggunaan sumberdaya, kualitas dan kuantitas
produksi, serta kualitas lingkungannya. Proses produksi pertanian yang berkelanjutan
akan lebih mengarah pada penggunaan produk hayati yang ramah terhadap lingkungan
sehingga dalam pelaksanaannya akan mengarah kepada upaya memperoleh hasil produksi
atau produktifitas yang optimal dan tetap memprioritaskan kelestarian lingkungan.
Jadi secara umum, sistem pertanian berlanjut merupakan sistem pertanian yang layak
secara ekonomi dan ramah lingkungan. Pada tingkat bentang lahan upaya pengelolaannya
diarahkan pada upaya menjaga kondisi biofisik yang bagus yaitu dengan pemanfaatan
biodiversitas tanaman pertanian untuk mempertahankan keberadaan pollinator, untuk
pengendalian gulma, pengendalian hama dan penyakit dan mengupayakan kondisi
hidrologi (kuantitas dan kualitas air) menjadi baik serta mengurangi emisi karbon. Banyak
macam penggunaan lahan yang tersebar di seluruh bentang lahan, yang mana komposisi
dan sebarannya beragam tergantung pada beberapa faktor antara lain iklim, topografi,
jenis tanah, vegetasi dan kebiasaan serta adat istiadat masyarakat yang ada
disekelilingnya.
Didalam ruang perkuliahan, mahasiswa mempelajari tentang beberapa indikator
kegagalan Pertanian berlanjut baik dari segi biofisik(ekologi), ekonomi dan sosial. Dalam
konteks tersebut perlu adanya pengenalan pengelolaan bentang lahan yang terpadu di
bentang lahan sangat perlu dilakukan. Hal ini bertujuan untuk meningkatkan pemahaman
mahasiswa terhadap konsep dasar Pertanian Berlanjut di daerah Tropis dan

pelaksanaannya di tingkat lanskap.


1.2.
Maksud dan Tujuan
Adapun maksud dan tujuan dari kegiatan fieldtrip ini yaitu :
a. Memperoleh segala informasi yang berkaitan dengan pertanian berlanjut dari aspek
ekologi, ekonomi, dan sosial.
b. Untuk memahami macam-macam tutupan lahan, sebaran tutupan lahan dan interaksi
antar tutupan lahan pertanian yang ada di suatu bentang lahan.
c. Untuk memahami pengaruh pengelolaan lanskap Pertanian terhadap kondisi hidrologi,
tingkat biodiversitas, dan serapan karbon.
d. Untuk memahami kondisi sosial ekonomi masyarakat di sekitar area tersebut.
e. Untuk memenuhi tugas praktikum Pertanian Berlanjut.
3

f. Untuk mengetahui apakah pertanian di wilayah praktikum dapat dikatakan berlanjut


atau tidak.
Manfaat
Manfaat yang didapat pada kegiatan fieldtri ini yaitu :
a. Dapat menentukan berlanjut atau tidaknya suatu sistem pertanian.
b. Mampu mengaplikasikan dasar teori yang diperoleh di perkuliahan ruang.
c. Mampu menyimpulkan bagaimana kondisi biodiversitas, kualitas air dan karbon di

1.3.

wilayah tersebut.
d. Mampu menyimpulkan tingkat keberlanjutan pertanian di wilayah tersebut berkenaan
dengan aspek ekologi, ekonomi dan sosial.

BAB II
METODOLOGI
2.1.

Tempat dan Waktu Pelaksanaan


Pelaksanaan fieldtrip mata kuliah Pertanian Berlanjut dilaksanakan di Desa
Tulungrejo, Kecamatan Ngantang, Batu. Waktu pelaksanaan fieldtrip mata kuliah
Pertanian berlanjut yaitu pada hari Sabtu, 30 November 2013.

2.2.
Metode Pelaksanaan
2.2.1. Pemahaman Karakteristik Lansekap

2.2.2 Pengukuran Kualitas Air


Pengambilan sampel untuk mengukur DO (dissolve oxygen) di laboratorium
dilakukan dalam beberapa langkah:

Pendugaan kualitas air secara fisik (kekeruhan) dilakukan dalam beberapa langkah :

Pendugaan kualitas air secara fisik (kekeruhan) dilakukan dalam beberapa langkah :

Pengamatan suhu air dilakukan dalam beberapa langkah:

Pengamatan pH air dilakukan dalam beberapa langkah:

2.2.2. Pengukuran Biodiversitas


2.2.2.1.
Aspek Agronomi
Indikator yang digunakan dalam mengukur biodiversitas dari aspek agronomi
adalah populasi dan jenis gulma pada lahan. Metode yang digunakan adalah:
Biodiversitas Tanaman

Bodiversitas Gulma

2.2.2.2.

Aspek Hama Penyakit

2.2.3. Pendugaan Cadangan Karbon


Peran lansekap dalam menyimpan karbon bergantung pada besarnya luasan
tutupan lahan hutan alami dan lahan pertanian berbasis pepohonan baik tipe campuran
atau monokultur. Besarnya karbon yang tersimpan di lahan bervariasi antar
penggunaan lahan tergantung pada jenis, kerapatan dan umur pohon. Oleh karena itu
ada tiga parameter yang diamati pada setiap penggunaan lahan yaitu jenis pohon,
umur pohon, dan biomassa yang diestimasi dengan mengukur diameter pohon.
2.2.4. Identifikasi keberlanjutan lahan dari Aspek Sosial Ekonomi
Dalam mengevaluasi keberlanjutan dari aspek sosial ekonomi menggunakan indikatorindikator sebagai berikut (dengan melakukan wawancara terhadap petani):

10

11

BAB 3 HASIL DAN PEMBAHASAN


3.1. Hasil
3.1.1. Kondisi Umum Wilayah
Dusun Sayang, Desa Tulungrejo, Ngantang
Stop 1 (Hutan)
Macam landskap

: Variegated

Kemiringan

: 30%, 170
Tingkat tutupan

N Penggunaan
o

Lahan

Hutan

Tutupan
lahan
Pinus

Manfaat

Posisi
Lereng

Kanopi

Jumla
h

Kerapat

C-

Seresah

spesie

-an

stock

Sedang

Tinggi

Sedang

Renda

Atas

Rendah

Tinggi

s
2

Atas

Rendah

Tinggi

10

Produksi

(kayu)

Hutan

G(getah)
B (biji)

Produksi
Hutan

Durian

B (buah)

Atas

Rendah

Tinggi

Rendah

h
Renda

Produksi
Hutan

Pisang

B (buah)

Atas

Sedang

Tinggi

Sedang

h
Renda

Kopi

Produksi
5

Hutan

Rumput

(daun)
D

Produksi

gajah

(daun)

Atas

Rendah

Tinggi

Banya

Tinggi

Renda
h

Stop 2 (Agroforestri)
Macam landskap

: Fragmanted

Kemiringan

: 24%, 140

Penggunaan

Tutupan

o
1

Lahan
Tanaman

lahan
Sengon

Tahunan
2

Tanaman

Manfaat

Posisi

C-stock

Lereng
Tengah

Tingkat tutupan Jumlah Kerapat


Kanopi Seresah
spesies
an
Sedang Rendah
2
Rendah

Tengah

Sedang

Rendah

19

Sedang

Rendah

Tinggi

(kayu)
Pisang

B (buah)

semusim

Tanaman

Kopi

(Daun)
B (buah)

Tengah

Sedang

Rendah

16

Sedang

Sedang

Tahunan
Tanaman

Talas

B (buah)

Tengah

Tinggi

Rendah

50

Tinggi

Rendah

12

Semusim

Tanaman

Jahe

(daun)
A (akar)

Tengah

Tinggi

Rendah

43

Tinggi

Rendah

Semusim
Tanaman

Lamtoro

Tengah

Rendah

Sedang

Sedang

Sedang

Tengah

Tinggi

Tinggi

Sedang

Tinggi

Posisi

Lereng
tengah

Tingkat tutupan Jumlah Kerapat


Kanopi Seresah spesies
an
Sedang Sedang
159
Tinggi

Tahunan

(kayu)
D

Tanaman

Bambu

Tahunan

(daun)
K
(kayu)

Stop 3 (Tanaman Semusim)


Macam landskap

: Relictual

Kemiringan

: 18%, 100

Penggunaan

Tutupan

o
1

Lahan
Tanaman

lahan
Kubis

Semusim
Tanaman

Rumput

(Daun)
D

tengah

Rendah

Banyak

227

Tinggi

Rendah

Semusim
Tanaman

Gajah
Kelapa

(Daun)
B (buah)

tengah

Sedang

Sedang

196

Rendah

Rendah

Semusim
Tanaman

Kacang

B (buah)

tengah

Rendah

Sedang

107

Sedang

Rendah

Semusim
Tanaman

panjang
Rumput

tengah

Rendah

Sedang

Banya

Tinggi

Rendah

Semusim
Tanaman

liar
Pisang

(daun)
B (buah)

tengah

Sedang

Sedang

k
3

Rendah

Rendah

Semusim

Manfaat

D
(daun)

13

C-stock
Rendah

Stop 4 (Tanaman Semusim + Permukiman)


Macam landskap

: Relictual

Kemiringan

N Penggunaan

Tutupan

Manfaat

Posisi

lahan
Pisang

Lereng
bawah

O
1

Lahan
Tanaman

Semusim
Tanaman

Sawi

(Buah)
D

Semusim
Tanaman

Cabai

Semusim
Tanaman
Semusim

Tingkat tutupan
Kanopi Seresah

Jumlah

Kerapat C-stock
an
Rendah

Rendah

Sedang

Sedang

spesies
18

bawah

Sedang

Rendah

150

Sedang

Rendah

(Daun)
B (buah)

Bawah

Rendah

Rendah

30

Rendah

Rendah

Rumput

Bawah

Sedang

Rendah

2000

Tinggi

Sedang

gajah

(daun)

Lokasi pengamatan berada di Dusun Sayang Desa Tulung rejo, Ngantang. Secara
geografis Desa Tulungrejo terletak pada posisi 721-731 Lintang Selatan dan 1101011140 Bujur Timur. Topografi ketinggian desa ini adalah berupa daratan sedang yaitu sekitar
156 m di atas permukaan air laut.Secara administratif, Desa Tulungrejo terletak di wilayah
Kecamatan Ngantang Kabupaten Malang dengan posisi dibatasi oleh wilayah desa-desa
tetangga. Di sebelah Utara berbatasan dengan Hutan Kecamatan Wonosalam Kabupaten
Jombang. Di sebelah Barat berbatasan dengan Desa Waturejo. Di sisi Selatan berbatasan
dengan Desa Sumberagung/Kaumrejo Kecamatan Ngantang, sedangkan di sisi Timur
berbatasan dengan Hutan Kecamatan Pujon.Wilayah Desa Tulungrejo secara umum
mempunyai ciri geologis berupa lahan tanah hitam yang sangat cocok sebagai lahan pertanian
dan perkebunan. Secara presentase kesuburan tanah Desa Tulungrejo terpetakan sebagai
berikut: sangat subur 10,600 Ha, subur 248,865 Ha, sedang 45,800 Ha, tidak subur/ kritis 0
Ha. Secara geologi di Daerah Ngantang termasuk vulkanik.
Daerah Ngantang terletak pada Daerah Aliran Sungai (DAS) Kali Konto yang
merupakan salah satu daerah hulu dari sungai Brantas. Lokasi pengamatan terletak pada subsub DAS Sayang. DAS Kali Konto dibagi menjadi dua bagian yaitu bagian hulu dan bagian
hilir, keduanya dipisahkan oleh Bendungan Selorejo. DAS KaliKonto Hulu luasnya sekitar
23.804 ha, termasuk dalam dua wilayah kecamatan, yaitu

Kecamatan Pujon dan Kecamatan

Ngantang (Kabupaten Malang), yang di dalamnya terdapat20desa. Daerah Ngantang terletak


pada bagian bawah DAS Kali Konto dengan ketinggian 600-1.400 m di atas permukaan laut.
Kawasan pertanian terbagi menjadi dua bagian, yaknidaerah yang memperoleh irigasi
untuk padi sawah dan daerah tadah hujan untuk kebun campuran berbasiskopi (agroforestri).
14

Jenis palawija cocok ditanam di daerah ini. Bentuk lahan (landform) yang terdapat di DAS
Kali Konto hulu meliputi perbukitan, pegunungan, dataran, dan

lembah

bentuk lahan (landform) yang ada di DAS Kali Konto hulu berpotensi

aluvial.Variasi

terhadap

perbedaan

penggunaan lahan yang ada, seperti landform lembah alluvial dan lahar, dan dataran yang
dominan untuk sawah dan kebun sayuran.

Sedangkan pada landform perbukitan banyak

digunakan untuk hutan produksi dan kebun campuran, serta kebun sayuran.
Penggunaan lahan pada daeah pengamatan antara lain hutan , agroforestri, tanaman
semusim dan tanaman semusim + pemukiman. Kawasan hutan dijumpai pada
yang terdapat beberapa tanaman yaitu pinus, pisang, kopi, durian dan

bagian atas

rumput gajah. Pada

lereng tengah terdapat agroforestri antara tanaman tahunan dan tanaman semusim. Tanaman
yang terdapat di stop 2 (agroforestri) antara lain sengon,

pisang, kopi, talas, jahe, lamtoro

dan bambu. Pada stop 3 (tanaman semusim) terdapat beberapa tanaman antara lain kubis,
rumput gajah , kelapa, kacang panjang, rumput liar dan pisang sedangkan pada stop 4
(tanaman semusim + pemukiman ) terdapat pisang, sawi, cabai, dan rumput gajah. Masingmasing stop memiliki kerapatan spesises yang berbeda-beda yaitu tinggi, sedang dan rendah.
Masyarakat sekitar memanfaatkan hasil masing-masing tanaman baik akar, daun, buah, biji
dan kayu.

Gambaran umum wilayah desa Tulungrejo, Ngantang

15

Gambaran umum wilayah desa Tulungrejo, Ngantang

Gambar Kondisi Wilayah Melalui Google Earth


3.1.2 Indikator Pertanian Berlanjut dari Aspek Biofisik
3.1.2.1 Kualitas Air
Plot 1
Indikator pertanian berlanjut dari aspek biofisik ditinjau dari kualitas air adalah
sesuatu hal yang tidak perlu lagi diragukan dalam menentukan kualitas lahan disekitar
berlanjut atau tidak. Berikut adalah tabel dan form isian pengukuran kualitas air sebagai
indikatir pertanian berlanjut (suhu air, DO, pH, kekeruhan):

16

Parameter
Kekeruhan
Suhu
pH

Satuan
Cm
Celcius
pH

Lokasi Pengamilan Sampel


Plot 1
UL 1
UL 2
UL 3
>30
>30
>30
21.5
21.5
22
6.54

Kelas (PP no. 82 tahun


2001)
Kelas

IV,

yaitu

diperuntukkan

sebagai

mengairi pertanaman dan


atau peruntukannya lain

DO

Mg/L

2.14

yang

mempersyaratkan

mutu

air

dengan

yang

sama

kegunaan

tersebut
Dari hasil pengamatan dilakukan analisis kualitas air, diketahui bahwa kondisi kualitas
air di kawasan sistem pertanaman agroforestri pinus dengan kopi dan pisang di lokasi
Ngantang pada musim hujan berkriteria tidak baik.

Gambar Kondisi Aktual DAS di Ngantang Plot 1

Kondisi kualitas air di kawasan sistem pertanaman agroforestri pinus dengan kopi dan
pisang di Ngantang menunjukkan kondisi pH yangmendekati basa (7). Namun demikian pH
rata-rata masih berada pada selang nilai yang baik sesuai baku mutu. Parameter fisik
kekeruhan menunjukkan memang secara aktual waktu pengamatan pada jarak 30 cm masih
terlihat dalam pengukurannya, namun tingkat kekeruhan di lahan tersebut akan tetap
berpotensi semakin keruh akibat semakin bervariasinya penggunaan lahan (semakin ke arah
hilir DAS).
Berdasarkan uraian sebelumnya, mengingat pentingnya penutupan hutan dapat
disarankan di lokasi aktivitas pertanian serta kiri dan kanan sungai dalam rangka
mempertahankan dan meningkatkan kualitas air sungai di kawasan agroforestri pinus dan
sekitarnya. Brooks et al. (1997) dalam Hofer (2003) mengatakan bahwa hutan lindung dan
17

sistem agroforestry yang dikembangkan di sekitar badan air lebih lanjut dapat memperbaiki
kualitas air. Keberadaan sistem agroforestri di kanan-kiri sungai selain dapat menjaga
stabilitas tebing sungai, juga dapat menurunkan tingkat bahan kimia berbahaya ke dalam
badan air, memelihara suhu air agar tetap dingin seperti pada saat pengukuran secara aktual
yaitu kesaran 21.5-22oC, dan mempertahankan tingkat dissolvedoxygen (DO) sebesar 2.14
mg/L dari air. Jika diperlukan, pemerintah setempat mengupayakan pembangunan waduk atau
bendungan di beberapa tempat yang strategis. Keberadaan waduk selain sebagai pengendali
sedimen dan debit banjir juga dapat berperan sebagai pengendali kualitas air sungai. Hasil
penelitian Supangat dan Paimin (2007) terkait fungsi Waduk Saguling, Cirata dan Jatiluhur di
sepanjang aliran Sungai Citarum, menyimpulkan bahwa keberadaan waduk atau reservoir air
memiliki kemampuan untuk memulihkan atau purifikasi kondisi kualitas lingkungan air
(kualitas air) secara alami atau yang dikenal sebagai natural self-purification capacity.
Adapun kriteria pada PP No. 82 Tahun 2001 tentang Pengelolaan Kualitas Air dan
Pengendalian Pencemaran Air, maka air sungai di kawasan Ngantang pada plot 1 (di lokasi
praktikum) termasuk dalam mutu air kelas IV, yaitu air yang dapat diperuntukkan sebagai
mengairi pertanaman dan atau peruntukannya lain yang mempersyaratkan mutu air yang sama
dengan kegunaan tersebut

(a)

(b)

Gambar (a) Pengambilan Sampel Air untuk Pengamatan dan (b) Pengukuran Suhu di DAS Plot 1

Gambar Pengukuran Kualitas Air DAS di Ngantang Plot 1

Plot 2
Parameter

Lokasi pengambilan sampel air


18

Kekeruha
n
Suhu

UL 1
Awal : 36 cm
Akhir(pengamatan): >

UL 2
Awal : 36 cm
Akhir(pengamatan): >

UL 3
Awal : 36 cm
Akhir(pengamata

36 cm
t udara: 29 0 C
t di air
: 220 C

36 cm
t udara: 27 0 C
t di air
: 240 C
7,66
1,7mg/ L DO

n): > 36 cm
t udara: 26 0 C
t di air
: 240 C

Ph
DO

Tabel klasifikasi kualitas dan mutu air berdasarkan DO dan pH


paramete

Satuan

Kelas

1
2
3
4
r
DO
mg/L
6
4
3
1
pH
6-9
6-9
6-9
5-9
Suhu sampel air: 27,330C
Dilihat dari hasil pengujian laboraturium dan lapang yang dilakuakn pada
sampel air plot 2 diketahui bahwa tingkat kekeruhannya > 36cm. Sedangkan untuk
pengukuran suhu udara dalam 3 kali ulangan yang kami lakukan ialah berkisar antara
26 0 C - 29 0 C dan suhu air pada ulangan pertama 22 0 C, kedua 240 C dan ulangan
ketiga 240 C.
Menurut PP no 82 tahun 2001 pasal 8 yang mengklasifikasi kualitas dan mutu
air menjadi 4 kelas. Sedangkan untuk kualitas dan mutu air di lahan yang kami amati
termasuk dalam kelas ke-IV. Penetapan kelas tersebut ditentukan berdasarkan hasil
pengujian DO (disolve Oxygen) dan pH dari sampel air yang ada di lahan. Nilai DO
sampel air dari lahan yang kami amati ialah sebesar 1,7 mg/L dan berada dibawah 3
mg/L, sedangkan nilai pHnya ialah sebesar 7,66 sehingga dapat disimpulkan bahwa
kualitas dan mutu air di lahan yang kami amati termasuk pada kelas ke-IV.
Sehinnga, air yang ada di lahan yang kami amati bisa diperuntukan untuk
mengairi tanaman dan juga dapat digunakan untuk kepentingan lain yang memiliki
persyaratan kualitas dan mutu yang sama dengan kegunaan tersebut. Hal tersebut
berdasarkan diskripsi dari kelas kualitas dan mutu air ke-IV yang tercantum pada PP
no 82 tahun 2001 pasal 8.

19

gambar pengukuran suhu air plot 2

gambar gambar pengambilan sampel air

gambar pengukuran kekeruhan

Plot 3
Indikator pertanian berlanjut dari aspek biofisik ditinjau dari kualitas air adalah
sesuatu hal yang tidak perlu lagi diragukan dalam menentukan kualitas lahan disekitar
berlanjut atau tidak. Berikut adalah tabel dan form isian pengukuran kualitas air sebagai
indikator pertanian berlanjut (suhu air, DO, pH, kekeruhan):
Parameter

Lokasipengambilansampel air
UL 1
UL 2
UL 3
Kekeruhan
> 40
> 40
> 40
0
0
Suhu
t udara: 22 C
t udara: 25 C
t udara: 25 0 C
t di air
: 260 C
t di air
: 260 C t di air
: 260 C
pH
7,66
DO
1,78mg/ L DO
Dari hasil pengamatan dilakukan analisis kualitas air, diketahui bahwa kondisi kualitas
air di kawasan sistem pertanaman rumput gajah, tanaman semusim (kubis, kacang panjang),
pohon kelapa dan pohon pisang sebagai berikut :
Klasifikasi kualitas dan mutu air berdasarkan DO dan pH
paramete

Satuan

r
DO
mg/L
pH
Suhusampel air: 260C

Kelas
1

6
6-9

4
6-9

3
6-9

1
5-9

20

Kondisi kualitas air di kawasan sistem pertanaman rumput gajah, tanaman semusim
(kubis, kacang panjang), pohon kelapa dan pohon pisang di Ngantang menunjukkan kondisi
pH yang basa (7,66). Parameter fisik kekeruhan menunjukkan memang secara aktual waktu
pengamatan pada jarak lebih dari 40 cm masih terlihat dalam pengukurannya, namun tingkat
kekeruhan di lahan tersebut akan tetap berpotensi semakin keruh akibat semakin
bervariasinya penggunaan lahan
Menurut PP no 82 tahun 2001 pasal 8 yang mengklasifikasi kualitas dan mutu air
menjadi 4 kelas.Adapun kriteria pada PP No. 82 Tahun 2001 tentang Pengelolaan Kualitas Air
dan Pengendalian Pencemaran Air, maka air sungai di kawasan Ngantang pada plot 3 (di
lokasi praktikum) termasuk dalam mutu air kelas IV, yaitu air yang dapat diperuntukkan
sebagai mengairi pertanaman dan atau peruntukannya lain yang mempersyaratkan mutu air
yang sama dengan kegunaan tersebut
Sedangkan untuk kualitas dan mutu air di lahan yang kami amati termasuk dalam
kelas ke-IV. Penetapan kelas tersebut ditentukan berdasarkan hasil pengujian DO (disolve
Oxygen) dan pH dari sampel air yang ada di lahan. Nilai DO sampel air dari lahan yang kami
amati ialah sebesar 1,7 mg/L dan berada dibawah 3 mg/L, sedangkan nilai pHnya ialah
sebesar 7,66 sehingga dapat disimpulkan bahwa kualitas dan mutu air di lahan yang kami
amati termasuk pada kelas ke-IV.

Gambar (a) Pengukuran Kualitas Air DAS di Ngantang Plot 3 dan (b) Pengukuran Suhu di DAS Plot 3

Plot 4

Parameter
Kekeruhan
Suhu
Ph

Satuan
Cm
Celcius
pH

Lokasi Pengamilan Sampel


Plot 4
UL 1
UL 2
UL 3
>30
>30
>30
27.5
27.5
26
7.99
21

Kelas (PP no. 82 tahun


2001)
Kelas

IV,

yaitu

diperuntukkan sebagai

mengairi

pertanaman

dan atau peruntukannya


DO

Mg/L

lain

1.58

yang

mempersyaratkan mutu
air yang sama dengan

kegunaan tersebut
Kualitas air menurut Alaerts dan Santika (1987) sangat tergantung pada komponen
penyusunannya dan banyak dipengaruhi oleh masukan komponen yang berasal dari
pemukiman. Dari hasil pengamatan pada plot 4, didapat data bahwa suhu rata 27 0C
dengan nilai DO sebesar 1.58 Mg/L. Berdasarkan Peraturan Pemerintah no. 82 tahun
2001 pasal 1 bahwa kualitas air tersebut yang masuk dalam klasifikasi kelas IV yaitu
diperuntukan sebagai mengairi pertanaman dan atau peruntukan lainnya yang
mempersyaratkan mutu air yang sama dengan kegunaan tersebut. Hal ini dapat
dikarenakan dengan pengolahan lahan yang terlalu intensif dan tanaman yang
dibudidayakan kurang mendukung dalam menyerap air.
3.1.2.2. Biodiversitas Tanaman
Plot 1
Titik
pengambilan
sampel
tutupan lahan
Plot 1

Semusim/
Tahunan/

Informasi Tutupan Lahan & Tanaman dalam Lanskap


Luas

Jarak Tanam

Populasi

Sebaran

70x21
70x21
70x1

3,5 m
1,7 m
3m

420
7
20

Rapat
Renggang
Renggang

Campuran
Pinus
Kopi
Pisang

22

Pengamatan Biodiversitas Gulma


N

Nama

Nama

Lokasi

Jumla

Lokal

Ilmiah

Sampel

Rumpu

Cyperus

t Teki

kylinga

No

Plot 1

Rumpu

67

31

t gajah

Nama

Lokasi

Jumla

Sampel

Goletrak

Ilmiah
Rchardia

beuti

brasiliensi

Nama Lokal

Dokumentasi

s
Plot 1
5

Fungsi

35

23

Fungsi
-

Dokumentasi

Identifikasi dan analisis gulma


Tutupan lahan
atau titik
pengambilan

Kelebatan Gulma

Dokumentasi

Lebat

Agak Lebat

Jarang

(>50%)

(25%-50%)

(<25%)

sampel Plot 1

Agak Lebat

Keanekaragaman atau biodiversitas keberagaman dari makhluk hidup dapat terjadi


karena akibat adanya perbedaan warna, ukuran, bentuk, jumlah, tekstur, penampilan dan
sifat-sifat lainnya. Dalam fieldtrip Pertanian Berlanjut di Desa Tulungrejo Kecamatan
Ngantang dapat dilihat biodiversitas dimana yang diperhatikan tumbuh tumbuhan yaitu
terdapat tanaman pinus sebagai tanaman utama, pisang sebagai tanaman semusim dan
kopi sebagai tanaman pinggir.
Sistem pertanian berkelanjutan merupakan pendekatan sistem dan holistik/ terintegrasi
dimana sistem pertanian sebagai suatu sistem usahatani dan pendekatan sistem yang
berhubungandengan faktor biofisik, sosial, ekonomi dan budaya. Beberapa upaya yang
dilakukan dalam pertanian berkelanjutan diantaranya dengan meningkatkan kemandirian
petani terhadap sarana produksi pertanian (benih/bibit, pupuk, pestisida, dan hormon pengatur
tumbuh dll) termasuk mengurangi penggunaan bahan anorganik dan diganti dengan bahan
organik, meningkatkan biodiversitas tanaman pangan dan tanaman lainnya pada suatu lahan
pertanian, serta pengelolaan yang tepat pada gulma.
Dari hasil pengamatan di plot 1 didapat hasil tutupan lahan dan tanaman pada
lansekap terdapat tanaman pinus dengan tingkat kerapatan yang agak lebat dan tanaman
lainnya yaitu kopi dan pisang dalam sebaran yang renggang. Lahan tersebut menggunakan
sistem tanam agroforestry, dapat dilihat dari tanaman yang ada seperti pinus, kopi, dan pisang,
selain itu tanaman tersebut dipilih untuk kepentingan usahatani penduduk sekitar dusun
Ngantang. Hal ini didukung dengan pernyataan Hairiah, 2001 bahwa sistem agroforestry
memiliki keunggulan yaitu produksi yang dihasilkan dari tanaman seperti tanaman pinus dan
kopi memiliki nilai jual cukup menjanjikan.

24

Plot 2
Biodiversitas Lahan
Pada dasarnya sistem agroforestri yang ada di tempat praktikum mampu
mempertahanakan sifat-sfat fisik tanah melalui seresah yang ditunjukkan dengan keberadaan
jenis vegetasi yang ada di plot pengamatan. Hal tersebut disebabkan karena terdapat
penambahan organik tanah yang dihasilkan oleh seresah yang dihasilkan oleh jenis vegetasi
dan gulma tersebut. Berikut tabel pengamatan dari data yang sudah diperoleh saat praktikum:

Titik
pengambilan
sampel

Semusim/

Plot 2
Informasi Tutupan Lahan & Tanaman dalam

Tahunan/

Populasi
Sebaran
Tanam
Kopi
70x21
2.15x1.77
302
Rapat
Plot 2
Pisang
70x21
3.35x3.31
142
Rapat
Lamtoro
70x1
5.14x4.7
61
Rendah
Sistem agroforestri yang terdapat di plot 2 dengan pertanaman kopi, pisang dan
tutupan lahan

Campuran

Luas

Lanskap
Jarak

lamtoro dari hasil data diatas pada dasarnya kanopi dari vegetasi tersebut telah menutupi
sebagian atau seluruh permukaan tanah dan sebagian akan melapuk secara bertahap.
Adanya seresah yang menutupi permukaan tanah dan penutupan tajuk pepohonan
menyebabkan kondisi di permukaan tanah dan lapisan tanah lebih lembab, temperatur dan
intensitas cahaya lebih rendah. Kondisi iklim mikro yang sedemikian ini sangat sesuai untuk
perkembangbiakan dan kegiatan organisme. Kegiatan dan perkembangan organisme ini
semakin cepat karena tersedianya bahan organik sebagai sumber energi. Kegiatan organisme
makro dan mikro berpengaruh terhadap beberapa sifat fisik tanah seperti terbentuknya pori
makro (biopores) dan pemantapan agregat. Peningkatan jumlah pori makro dan kemantapan
agregat pada gilirannya akan meningkatkan kapasitas infiltrasi dan sifat aerasi tanah.
Biodiversitas Gulma pada Vegetasi Terbuka

25

No

Nama

Nama

Lokasi

Jumla

Lokal

Ilmiah

Sampel

Teki

Cyperus

Ladang

rotundus

Rumput

Cyperus

Teki

kylinga

Bandota

Ageratum

conyzoides

Rumput

Hedyotis

Mutiara

corumbosa

Keladi
tikus

Fungsi
Pengganggu

19

tanaman
Pengganggu

20

tanaman
Pengganggu

tanaman

Pengganggu

54

tanaman

Typhonium
flagelliform

Pengganggu

tanaman

Dokumentasi

Pengganggu

tanaman

Plot 2
7

Rumput

Pennisetum

gajah

purpureum

Pengganggu

48

tanaman

Biodiversitas Gulma pada Vegetasi Tertutup


No

Nama Lokal

Teki

Nama Ilmiah

Lokasi

Jumla

Sampel

Cyperus

60

kylinga

Fungsi
Pengganggu
tanaman
Pengganggu

2
3

Goletrak

Rchardia

beuti

brasiliensis

Daun

legetang

10

tanaman

13

Pengganggu
tanaman

26

Dokumentasi

Rumput

Paspalum

gegenjuran

commersonii

Rumput

Hedyotis

Mutiara

corumbosa

Kakatuncara
n

Pengganggu

16

tanaman

Pengganggu

tanaman

Pengganggu

tanaman

17

Bereria alata

67

Pengganggu
tanaman

Pengganggu
tanaman

Plot 2
9

Pengganggu

Chromolaen

tanaman

Identifikasi dan Analisis Gulma


Tutupan lahan
atau titik

Kelebatan Gulma
Lebat

Agak Lebat

Jarang

(>50%)

(25%-50%)

(<25%)

Renggang

Rapat

pengambilan
sampel Plot 2

27

Dokumentasi

Keberadaan gulma dari berbagai nama lokal yang ditemukan beserta kelebatan gulma
tersebut dapat mempertahankan kandungan bahan organik tanah di lapisan atas melalui
pelapukan seresah yang jatuh ke permukaan tanah sepanjang tahun. Adapun pemangkasan
gulma secara berkala yang ditambahkan ke permukaan tanah juga mempertahankan atau
menambah kandungan bahan organik. Kondisi demikian dapat memperbaiki struktur dan
porositas tanah serta lebih lanjut dapat meningkatkan laju infiltrasi dan kapasitas menahan
air.Sifat-sifat fisik tanah (lapisan atas) yang paling penting dan dibutuhkan untuk menunjang
pertumbuhan berbagai jenis tanaman dan pepohonan yang ada di plot 2 adalah struktur dan
porositas tanah, kemampuan menahan air dan laju infiltrasi. Lapisan atas tanah merupakan
tempat yang mewadahi berbagai proses makro dan mikro termasuk perakaran gulma, kopi,
pisang dan lamtoro dalam plot tersebut. Untuk menunjang berlangsungnya proses-proses
kimia, fisik dan biologi yang cepat diperlukan air dan udara yang tersedia pada saat yang tepat
dan dalam jumlah yang memadai. Oleh karena itu tanah harus memiliki sifat fisik yang
mendukung terjadinya keberlanjutan seperti sirkulasi udara dan air yang baik.
Dari hasil pengamatan di plot 2 yaitu dengan sistem agroforestri sudah tepat
dalammempertahankan sifat-sifat fisik lapisan atas yang diperlukan untuk menunjang
keberlanjutan pertumbuhan tanaman. Pada plot tersebut terdapat tanaman kopi dengan
sebaran sangat rapat dilengkapi dengan tanaman pisang juga dalam sebaran yang rapat dan
dikombinasikan tanaman lamtoro yang sebarannya rendah. Hal tersebut sejalan dengan
pernyataan Hairiah dkk, 2003 menyatakan bahwa adanya tajuk tanaman dan pepohonan yang
relatif rapat sepanjang tahun menyebabkan sebagian besar air hujan yang jatuh tidak langsung
ke permukaan tanah sehingga tanah terlindung dari pukulan air yang bisa memecahkan dan
menghancurkan agregat menjadi partikel-partikel yang mudah hanyut oleh aliran air. Dari
pernyataan tersebut aspek terpenting dalam komponen vegetasi adalah susunan tajuk dari
sistem agroforestri yang berlapis-lapis, dari jenis vegetasi yang ada seperti kopi, pisang,
lamtoro dan berbagai macam tanaman bawah seperti gulma. Komposisi vegetasi ini terkait
dengan peran dan fungsi terhadap evaporasi dan transpirasi, intersepsi hujan, dan iklim mikro.
Dalam hal ini beberapa sistem agroforestri memiliki kemiripan dengan hutan. Dapat
dikatakan sudah termasuk dalam kategori berlanjut.
Plot 3
Biodiversitas Gulma

28

Titik
Pengambilan
sampel
1
2

Kelebatan Gulma
Lebat
(>50
%)

Agak
Lebat(25
%-50%)

Jarang(<2
5%)

Biodiversitas gulma lebat (>50%)


Nama

Nama

Lokasi

local

ilmiah

sampel

Bayam
duri

Jumlah

Gulma

Amaranth
us

Fungsi

Plot 3

tanaman
budidaya

spinosus

Gulma
Krokot

Portulaca
oleracea

Plot 3

tanaman
budidaya
Gulma

Rumput

Cyperus

teki

rotundus

Babandot
an

Plot 3

budidaya
Gulma

Ageratum
conyzoide

tanaman

Plot 3

Biodiversitas gulma Agak Lebat(25%-50%)

29

tanaman
budidaya

Gambar

Nama

Nama

Lokasi

local

ilmiah

sampel

Jumlah

Fungsi

Gmabar

Gulma
Bayam
duri

Amaranth
us
spinosus

Lokasi
1

tanama
9

n
budiday
a
Gulma

Krokot

Portulaca

Lokasi

oleracea

tanama
6

n
budiday
a
Gulma

Rumput

Cyperus

Lokasi

teki

rotundus

tanama
3

n
budiday
a
Gulma

Rumput

Eleusine

Lokasi

Jampang

indica

tanama
7

n
budiday
a
Gulma

Babandot
an

Ageratum
conyzoide
s

Lokasi
1

tanama
7

n
budiday
a

Berdasarkan pengamatan pada plot 3 biodiversitas gulma yang ada disana yaitu
pada lokasi 1 kelebatan gulmanya lebat (>50%) dan pada lokasi 2 gulma agak lebat (25%50%). Gulma gulma yang terdapat pada lokasi 1 (kelebatan gulmanya lebat >50%) adalah
bayam duri ( Amaranthus spinosus), krokot (Portulaca oleracea), rumput teki (Cyperus
rotundus), babandotan (Ageratum conyzoides). Gulma pada lokasi 2 (kelebatan gulmanya
Agak Lebat (25%-50%) ini antara lain yaitu bayam duri( Amaranthus spinosus), krokot
(Portulaca oleracea), rumput teki (Cyperus rotundus) ,rumput jampang (Eleusine indica),
dan babandotan (Ageratum conyzoides).
30

Dari hasil pengamatan di plot 3 dapat dilihat bahwa jumlah gulma yang
tumbuh dari setiap jenis kerapatan yang berbeda memiliki jumlah populasi dan
jumlah spesies gulma yang berbeda pula. Pada plot 3 memiliki tanaman utama yaitu
tanaman kubis yang dibudidayakan oleh petani. Pada plot tersebut juga diketahui
Jumlah spesies gulma yang tumbuh pada kerapatan yang lebat yaitu 4 spesies gulma
dengan jumlah populasi 18 tanaman. Sedangkan pada jenis kerpatan yang agak
rapat memiliki jumlah spesies gulma 5 dengan jumlah populasi 32 tanaman. Fakta
pengamatan

tersebut

dapat

membuktikan

bahwa

kerapatan

tajuk

dapat

mempengaruhi junlah gulma yang tumbuh. Hal tersebut dapat berkaitan dengan
jumlah unsur hara, ketersediaan air dan persaingan cahaya matahari. Hal tersebut
sesuai denga pernyataan Hairiah et al (2003) yang menyatakan bahwa adanya tajuk
tanaman dan pepohonan yang relatif rapat sepanjang tahun menyebabkan sebagian
besar air hujan yang jatuh tidak langsung ke permukaan tanah.
Dari data diatas dapat disimpulkan bahwa untuk

meminimalisir

pertumbuhan gulma dapat dilakukan dengan menambah kerapatan jarak tanam pada
tanaman yang kita budidayakan.
Plot 4
Biodiversitas Tanaman
Indikator pertanian berlanjut dari aspek biofisik ditinjau dari biodiversitas tanaman
adalah sesuatu hal yang tidak perlu lagi diragukan dalam menentukan kualitas lahan
disekitar berlanjut atau tidak. Berikut adalah tabel dan form pengamatan biodiversitas
tanaman pangan dan tahunan sebagai indikator pertanian berlanjut.
Titik
Pengama

Semusim/Tahunan/

Pisang

lanskap
Jarak Tanam Popualsi
3,8 meter
8 pohon

Sebaran
Tidak

Rumput Gajah

1,4 meter

250

rapat
Sangat

2 meter

rumpun
2 pohon

rapat
Tidak

5 meter

40

rapat
Rapat

Pepaya

rumpun
1 pohon

Tidak

Kopi

2 meter

2 pohon

rapat
Tidak

Campuran

-tan

Jati
Plot 4

Informasi tutupan Lahan & Tanaman dalam

Bambu

Luas

Luas :
199 meter
Panjang:
410 meter

rapat
31

Dari data yang kami dapat di Dusun Sayang, Desa Tulungrejo, Kecamatan Ngantang,
Kabupaten Malang, pada plot 4 dengan luasan lahan 410 m x 199 m, yakni tanaman
campuran, adanya tanaman Tahunan (Bambu, Kopi dan Jati) dan tanaman semusim (Pisang,
papaya dan rumput gajah). Untuk Biodiversitas tanaman yang paling tinggi adalah rumput
gajah yakni 250 rumpun dengan sebaran sangat rapat.
Rumput gajah dipilih sebagai pakan ternak karena memiliki produktifitas yang tinggi
dan memiliki sifat memperbaiki kondisi tanah (Handayani, 2002).
Biodiversitas Gulma
Kelebatan Gulma

Titik
Pengambil

Lebat

an sampel

(>50)

Agak
Lebat(25%-

Jarang(<25%)

50%)

2
3

Biodiversitas gulma lebat (>50%)


Jumlah
(Rumpu

Nama

Nama

Lokasi

local

ilmiah

sampel

Rumput

Cyperu

teki

tanaman

rotundu

budidaya

Plot 4

Fungsi

n)
4

Gulma

s
Baband

Ageratu

Plot 4

Gulma

otan

tanaman

conyzoi

budidaya

des
Rumput

Pennise

gajah

tum

Plot 4

Pakan
ternak

purpure
um

Biodiversitas gulma Jarang(<25%)


32

Gambar

Nama

Nama

Lokasi

local

ilmiah

sampel

Rumput

Cyperus

teki

rotundus

Plot 4

Jumlah
(Rumpun

Fungsi

Gambar

)
1

Gulma
tanaman
budidaya

Rumput

Plot 4

Gulma

Teki

tanaman
Cyperus

lading

budidaya

kylinga

Rumput

Pennisetum

Plot 4

Pakan

gajah

purpureum
ternak
Berdasarkan pengamatan pada plot 4 biodiversitas gulma yang ada disana
yaitu pada lokasi 1 dan 3 kelebatan gulmanya lebat (>50%), pada lokasi 2 gulma
Jarang(<25%) dan pada lokasi 1 dan lokasi 3 kelebatan gulmanya lebat (>50).
Gulma gulma yang terdapat pada lokasi 1 (kelebatan gulmanya lebat >50%)
adalah rumput teki (Cyperus rotundus), babandotan (Ageratum conyzoides) dan
rumput gajah (Pennisetum purpureum). Gulma pada lokasi 2 (kelebatan gulmanya
Agak gulma Jarang(<25%) ini antara lain yaitu Rumput teki (Cyperus rotundus),
Rumput

Teki

lading(Cyperus

kylinga)

dan

rumput

gajah

(Pennisetum

purpureum).Gulma adalah tanaman yang tidak dikehendaki oleh petani, Menurut


Soerjani (1988), yang dimaksud gulma ialah tumbuhan yang peranan, potensi, dan
hak kehadirannya belum sepenuhnya diketahui.
Gulma adalah tumbuhan yang tidak dikehendaki di suatu tempat dan
merupakan komponen integral dalam agroekosistem, membentuk komunitas
bersama tanaman budidaya.Tumbuhan Gulma memiliki sejumlah sifat fisiologis,
agronomis dan reproduktif yang khas, yang membuatnya lebih berhasil dibanding
tanaman budidaya (Cobb, 1992)Pada pertanian berkelanjutan gulma memiliki
peranan penting dalam agroekosistem yaitu sebagai pencegah erosi tanah, penyubur
tanah, dan inang pengganti (alternate host) predator atau parasitoid serangga hama.(
Sastroutomo, S.S., 1990)
3.1.2.3. Biodiversitas Hama Penyakit
Form Pengamatan Biodiversitas Serangga ( Plot 1, 2, 3, 4 )
1) PLOT 1 KOMODITAS RUMPUT GAJAH, PISANG, PINUS, SEMAK
33

Lokasi
Pengambila
n sampel

Nama

coklat
Laba- laba
Lalat
Nyamuk
Kupu-

Plot 1
Plot 1
Plot 1
Plot 1

Jumla

Fungsi

(H,MA,SA)

Valanga Nigricornis

13

Hama

Araneus diadematus
Musca domestica
Culex pipiens

12
2
9

Musuh Alami
Serangga Lain
Serngga Lain

Ornithoptera sp.

Serangga Lain

Serangga Lain

Hama

Musuh Alami

lokal
Belalang

Plot 1

Nama
ilmiah

kupu
Semut

Plot 1
Plot 1

Plot 1

Dolichoderus

Hitam
Ulat

thoracicus
Chrysodeixis

Jengkal
Kumbang

chalcites
Menocillus

kubah spot

sexmaculatus

2) PLOT 2 KOMODITAS PINUS, KOPI, PISANG


Lokasi
Pengambila

Nama Lokal

Nama Ilmiah

n Sampel
Plot 2

Semut merah

Plot 2
Plot 2
Plot 2
Plot 2
Plot 2

Nyamuk
Kupu-kupu putih
Laba-laba
Belalang kayu
Belalang hijau

Oecophylla
smaradigna
Culex pipiens
Ornithoptera sp.
Araneus diadematus
Valanga nigricornis
Oxya chinensis

Jumla
h
3
4
4
7
1
2

Fungsi
(H, MA, SA)
Serangga lain
(dekomposer)
Serangga lain
Polinator
Musuh Alami
Hama
Hama

3) PLOT 3 KOMODITAS KUBIS


Lokasi
pengambilan

Nama local

Nama Ilmiah

jumlah

Fungsi
(H, MA, SA)

sampel
Plot 3 (tanaman

Belalang hijau

Oxya chinensis

24

13

15

MA

MA

semusim)

Belalang coklat
Kepik
Jangkrik
Tawon

Valanga
nigricornis
Helopeltis spp.
Gryllus
assimilis
Apis indica
34

Plutella

Ulat daun

Lycosa sp.

MA

Leptosia nina

MA

SL

xylostella

Laba-laba
Kupu-kupu
psyche
Lalat rumah

Musca
domestica Linn.

4) PLOT 4 KOMODITAS RUMPUT GAJAH


Lokasi
Pengambila
n sampel
Plot 4
Plot 4
Plot 4
Plot 4
Plot 4
Plot 4

Fungsi

Nama lokal

Nama ilmiah

Jumlah

Belalang kayu
Lalat rumah
Belalang hijau
Belalang

Valanga nigricornis
Musca domestica
Oxya chinensis

6
9
2

Hama
Serangga lain
Hama

Stagmomantis Carolina

Musuh alami

Musuh alami

50

Musuh alami

sembah
Kumbang
kubah spot M
Semut rangrang

Menochilus
sexmaculatus
Oecophylla smaragdina

35

(H,MA,SA)

3.2 Form Tabulasi Data ( Plot 1, 2 , 3,4)


Lokasi
Pengambila
n Sampel
Plot 1
Plot 2
Plot 3
Plot 4

Hama
14
3
41
8

Jumlah Individu yang


Berfungsi Sebagai
MA
SL
Total
13
7
22
54

Segitiga Fiktorial ( Plot 1,2,3,4)


Plot 1

16
11
1
9

43
21
64
71

Persentase (%)
Hama

MA

SL

33
14
64,06
11,26

30
33
34,38
76,06

37
52
1,56
12,67

SL

30%

HAMA

MA

33%
Titik-titik koordinat berada di titik sudut serangga lain, Keadaan ini menunjukkan
banyaknya jumlah populasi serangga lain dan jika kondisi ini memungkinkan bagi musuh
alami untuk mengendalikan populasi hama. Jadi, ekosistem tersebut seimbang dan sehat.
Populasi serangga lain lebih banyak dibandingkan populasi hama dan musuh alami. Serangga
lain dapat berperan untuk membantu musuh alami dalam mengendalikan hama, sebagai
polinator. Namun, serangga lain juga dapat berpotensi sebagai hama. Jika populasi musuh
alami masih mampu untuk mengendalikan peledakan populasi hama, maka ekosistem dapat
dikatakan seimbang.

36

Plot 2
SL

33%

HAMAAA

MA

14%

37

Titik-titik koordinat berada di antara titik sudut musuh alami dan serangga lain, dekat
dengan sisi yang menghubungkan kedua titik sudut tersebut. Keadaan ini menunjukkan
sedikitnya populasi hama dan jika kondisi ini memungkinkan bagi musuh alami untuk
mengendalikan populasi hama. Jadi, ekosistem tersebut seimbang dan sehat. Populasi
serangga lain lebih banyak dibandingkan populasi hama dan musuh alami. Serangga lain
dapat berperan untuk membantu musuh alami dalam mengendalikan hama, sebagai polinator.
Namun, serangga lain juga dapat berpotensi sebagai hama. Jika populasi musuh alami masih
mampu untuk mengendalikan peledakan populasi hama, maka ekosistem dapat dikatakan
seimbang.
6,25%
SL

Plot 3

100
0

MA

87,5%

Titik-titik koordinat berada di antara titik sudut hama Keadaan ini menunjukkan
sedikitnya populasi musuh alami dan serangga lain. Kondisi ini tidak memungkinkan bagi
musuh alami untuk mengendalikan populasi hama. Jadi, ekosistem tersebut tidak seimbang
dan tidak sehat. Populasi hama lebih banyak dibandingkan populasi serangga lain dan musuh
alami. Serangga lain dapat berperan untuk membantu musuh alami dalam mengendalikan
hama, sebagai polinator. Namun, serangga lain juga dapat berpotensi sebagai hama. Jika
populasi hama lebih banyak dari populasi musuh alami dan serangga lain dapat terjadi
peledakan populasi hama, maka ekosistem dapat dikatakan tidak seimbang dan tidak sehat.

38

Plot 4
SL

76,06%

HAMA

MA

11,26%

Titik-titik koordinat berada diantara titik musuh alami dan serangga lain, dekat dengan
sisi yang menghubungkan kedua titik sudut tersebut. Keadaan ini menunjukkan kelangkaan
populasi hama. Populasi musuh alami persentasenya sangat banyak dibandingkan populasi
hama dan serangga lain. Jika ada peledakan populasi hama, maka peran musuh alami masih
mampu untuk mengendalikan peledakan hama tersebut. Jadi, ekosistem pada plot 4 dapat
dikatakan seimbang dan sehat.
Pembahasan dari Hasil Pengamatan Plot Sendiri (Plot 3)
Pengamatan plot 3 dilakukan pada komoditas kubis. Pada aspek HPT kelompok kita
mengamati dan menghitung jumlah populasi hama,musuh alami dan serangga lain.
Berdasarkan pengamatan ditemukan jumlah belalang hijau dengan jumlah 24 ekor, Belalang
coklat sebanyak 13 ekor, Kepik sebanyak 15, jangkrik sebanyak 2 ekor, Tawon sebanyak 1
ekor, Ulat daun sebanyak 2 ekor, Laba-laba sebanyak 3 ekor, Kupu-kupu psyche sebanyak 3
ekor dan Lalat rumah sebanyak 1 ekor. Serangga-serangga tersebut berfungsi sebagai hama,
musuh alami dan serangga lain pada komoditas kubis. Serangga yang berfungsi sebagai hama
adalah belalang hijau, belalang coklat, jangkrik, dan ulat daun. Serangga yang berfungsi
sebagai musuh alami adalah kepik, tawon, Laba-laba dan Kupu-kupu psyche. Sedangkan
serangga yang berfungsi sebagai serangga lain adalah lalat rumah.
Setelah mengetahui jumlah populasi dari hama, serangga lain dan musuh alami,
kemudian membuat segitiga faktorial. Berdasarkan gambar segitiga faktorial dapat dilihat
39

bahwa populasi hama lebih dominan daripada populasi musuh alami dan serangga lain.
Sehingga dapat disimpulkan bahwa pada komoditas kubis didominasi hama. Hal ini dapat
disebabkan karena lingkungan pada komoditas kubis mendukung untuk keberadaan hama.
Selain itu, jumlah populasi musuh alami tidak mampu mengendalikan populasi hama.
Hal ini sesuai dengan Hermanu, triwidodo. 2003 bahwa organisme dalam aktivitas
hidupnya selalu berinteraksi dengan organisme lainnya dalam suatu keterkaitan dan
ketergantungan yang kompleks. Interaksi antar organisme tersebut dapat bersifat antagonistik,
kompetitif atau simbiotik. Sifat antagonistik ini dapat dilihat pada musuh alami yang
merupakan agen hayati dalam pengendalian hama. Musuh alami memiliki peranan dalam
pengaturan dan pengendalian populasi hama, sebagai faktor yang bekerjanya tergantung
kepada kepadatan, dalam kisaran tertentu musuh alami dapat mempertahankan populasi hama
di sekitar aras keseimbangan umum. Penanaman dengan monokultur misalnya hanya
penanaman komoditas kubis saja juga akan mempengaruhi jumlah hama karena semakin
penanaman secara beragam (polikultur) akan memberikan keberagaman serangga yang ada.
Sehingga penanaman secara tumpangsari sangat dianjurkan untuk diterapkan.
Pembahasan untuk Membandingkan Hasil Pengamatan Sendiri dengan Seluruh Plot
( Plot 1,2,3,4)
Pada hasil pengamatan yang diperoleh dari beberapa plot menunjukkan perbedaan
yang cukup signifikan antara kondisi di ekosistem asli. Pada plot 1 data yang ditunjukan
antara prosentase hama, musuh alami dan serangga lain angkanya tidak begitu jauh hal ini
menunjukkan bahwa kondisi lingkungan seimbang sesuai komposisi yang seimbang. Plot 1
ini terletak pada pola penggunaan lahan hutan sehingga jumlah fauna yang ditemukan
mendekati kondisi asli walaupun ditemukan beberapa tanaman produksi yang dikelola oleh
masayarakat sekitar.
Untuk kondisi yang demikian menandakan bahwa tidak ada dominasi dari salah satu
populasi yang berarti rantai makanan bersifat tertutup dan lingkungan mirip dengan kondisi
aslinya. Apabila komposisi lingkungan sudah seimbang dan dapat memenuhi kebutuhannya
sendiri berarti tidak memerlukan output dari luar. Pada dasarnya setiap hama atau organisme
pengganggu tanaman memiliki musuh alami yang sudah ada pada kondisi alami sehingga
pengendalian dilakukan apabila benar-benar dibutuhkan.
Plot 2 memiliki karakteristik pola penggunaan lahan agroforestri yang terdiri dari
tanaman tahunan, tanaman semusim yang dibudidayakan dan tanaman-tanaman bawah yang
memiliki fungsi untuk keberagaman biodiversitasnya. Namun dengan hasil yang didapat ada
salah satu dominasi dari populasi serangga lain yang diikuti musuh alami dan hama paling
sedikit. Jumlah serangga lain yang banyak ini dapat diindikasikan karena lahan agroforestri
memiliki banyak jenis tanaman baik semusim, tahunan maupun rerumputan yang biasanya
kondisi sesuai untuk kondisi perkembangbiakan dari serangga ini. Serangga lain disini bukan
40

merupakan hama atau musuh alami namun lebih pada serangga yang hanya menggunakan
tanaman atau rerumputan sebagai rumah atau tempat bernaung sementara sehingga tidak
mengganggu tanaman pada lahan.
Plot 3 yang merupakan lahan tanaman semusim dengan komoditas kubis memiliki
prosentase hama paling banyak 50% lebih diikuti musuh alami dan serangga lain. Hal ini
menyebabkan kondisi tidak seimbang pada agroekosistem sekitar. Jumlah musuh alami tidak
dapat menanggulangi hama sehingga pengendalian tidak secara alami diterapkan pada lahan.
Terlebih lagi lahan tanaman kubis ini merupakan komoditas yang harus panen setiap musim
penanaman apabila pengendalian menggunakan musuh alami saja maka tidak akan dapat
mengendalikan sehingga memerlukan pengendalian lain.
Plot 4 yang penggunaan lahan tanaman semusim dan terletak di daearah sekitar
pemukiman warga menunjukkan prosentase populasi terbesar dimiliki oleh musuh alami dan
jumlah seimbang antara hama dan serangga lain. Kondisi ini juga tidak cukup untuk satu
agroekosistem karena harus ada jumlah seimbang dari ketiga populasi ini. Walaupun musuh
alami yang mendominasi apabila tidak ada hama sebagai pakannya maka dapat dipastikan
musuh alami punah atau berpotensi sebagai predator serangga lainnya.
Diantara keempat plot yang berbeda penggunaan lahannya menunjukkan bahwa
kondisi paling seimbang pada plot 1 karena diantara ketiga jumlah populasi jumlahnya
seimbang dan prosentase yang hampir sama. Kondisi hutan yang penggunaan lahannya alami
menyebabkan tidak ada dominasi salah satu populasi sehingga musuh alami dapat
mengendalikan hama yang ada pada lahan hutan. Komposisi yang sama antara ketiga sampel
ini dapat dijadikan sebagai indikator pertanian berlanjut yang dapat dijadikan sebagai ciri
agroekosistem yang sehat.
Adapun faktor yang mempengaruhi adanya kurang keberlanjutannya pada plot tiga
adalah dengan adanya pertanaman semusim yang tidak dikombinasikan dengan tanaman yang
lain. Hal ini diperjelas menurut Hermanu, 2008 menyatakan bahwa keberadaan dimana
biodiversitas tidak beragam dari lingkungan sekitar dapat mempengaruhi keberadaan populasi
baik serangga lain maupun musuh alami. Berikut adalah dokumentasi saat pengamatan di
lapang pada pos 3 :

41

(a)

(b)

Gambar (a) Lahan yang diamati dan (b) Pengambilan OPT dengan sweep net di Plot 3

3.1.2.4Cadangan Karbon
Plot 1 (Hutan)
Macam landskap
: Variegated
Kemiringan
: 30%, 170
Salah satu fungsi hutan yang penting adalah sebagai cadangan karbon di alamkarena
pentingnya keberadaan C dapat disimpan dalam bentuk biomasa vegetasinya. Alih-guna lahan
hutanmengakibatkan peningkatan emisi CO2 di atmosfer yang berasal dari hasilpembakaran
dan peningkatan mineralisasi bahan organik tanah selamapembukaan lahan serta
berkurangnya vegetasi sebagai lubuk C (C- sink). Berikut adalah data pengamatan yang
mampu menduga keberadaan cadangan C pada lahan hutan produksi adalah :

42

Tingkat
N

Penggunaan

Tutupan

Lahan

lahan

Hutan

Pinus

atas

Produksi
Hutan

K (kayu)
G(getah)

tutupan
Ka Sere
Nopi sah
Ren Ting

Kopi

B (biji)

atas

dah
Ren

Produksi
Hutan

Produksi
Hutan

Pisang

Produksi
Hutan

Rumput

Produksi

gajah

Durian

Manfaat

Posisi

Jumlah

Kerapa

spesies

tan

C-stock

Sedang

Tinggi

gi
Ting

10

Sedang

Rendah

atas

dah
Ren

gi
Ting

Rendah

Rendah

B (buah)

atas

dah
Seda

gi
Ting

Sedang

Rendah

D (daun)
D (daun)

atas

ng
Ren

gi
Ting

Banyak

Tinggi

Rendah

dah

gi

B (buah)

Lereng

Pada dasarnya dalam pengukuran cadangan karbon adalah penggunaan lahannya.


Adapun sektor penggunaan lahan yang diukur adalah dinamika cadangan karbon atau
emisi/sequestrasi disuatu bentang lahan. Emisi (pelepasan gas CO2) terjadi karena adanya alih
guna lahan seperti pembakaran dan pengolahan tanah. Indikasinya adalah apabila
berkurangnya cadangan karbon, maka kemampuan menyerap karbon menurun. Semakin suatu
bentang lahan tingkat pengolahan tanahnya tinggi maka kemampuan bentang lahan tersebut
dalam menyerap karbon di udara semakin menurun.
Adapun salah satu dalam menjaga atau mempertahankan cadangan karbon adalah
dengan sequestrasi (penyerapan/penambatan) karbon. Adapun cara yang dilakukan adalah
dengan menggunakan sistem pertanaman yang baik secara biofisik dan ekonomi saling
menguntungkan. Sistem pertanaman hutan produksi yang terdapat di plot 1 dengan
pertanaman pinus, kopi, durian pisang dan rumput gajah merupakan indikator dalam
mengetahui jumlah keberadaan cadangan karbon. Semakin rapat keberadaan vegetasi yang
ada, maka semakin meningkat juga jumlah karbon karena pertumbuhan tanaman.
Dari hasil data dilapangan menunjukkan bahwa pada sistem pertanaman hutan
produksi terdapat pertanaman pinus dengan kandungan c-stoktinggi sedangkan pada kopi,
durian, pisang dan rumput gajahkandungan c-stok rendah. Hal tersebut perlu adanya
peningkatan diversitas dan kerapatan pohon penaungan dari pertanaman yang ada dan perlu
dilakukan dalam rangka meningkatkan layanan lingkungan sistem hutan produksi tersebut
sebagai penyerap karbon. Hal tersebut didukung dengan pernyataan Hairiah, 2003 yang
menyatakan bahwa peningkatan cadangan karbon melalui perluasan lahan pertanian
monokultur (0.03 Mg ha-1 th-1) jauh lebih rendah dari pada jumlah karbon yang hilang akibat
43

alih guna hutan menjadi lahan pertanian. Oleh karena itu pada populasi dari pertanaman yang
ada perlu dioptimalkan lagi dalam meningkatkan secarapan CO2 di udara.

(a)
(b)
Gambar (a) Kerapatan pohon pinus dan (b) Penampang vegetasi secara keseluruhan di Plot 1
Plot 2 (Agroforestri)
Macam landskap
Kemiringan
No

Pengguna
an Lahan

1
2

: Fragmanted
: 24%, 140

Tutupan

Manfaat

Posisi

Tanaman

lahan
Sengon

K (kayu)

Lereng
Tengah

Tahunan
Tanaman

Pisang

B (buah)

Tingkat tutupan
Kanopi Seresah

Jumlah

Kerapat

C-stock

Sedang

Rendah

spesies
2

an
Rendah

Tinggi

Tengah

Sedang

Rendah

19

Sedang

Rendah

semusim

Tanaman

Kopi

(Daun)
B (buah)

Tengah

Sedang

Rendah

16

Sedang

Sedang

Tahunan
Tanaman

Talas

B (buah)

Tengah

Tinggi

Rendah

50

Tinggi

Rendah

Semusim
Tanaman

Jahe

D (daun)
A (akar)

Tengah

Tinggi

Rendah

43

Tinggi

Rendah

Semusim
Tanaman

Lamtoro

K (kayu)

Tengah

Rendah

Sedang

Sedang

Sedang

Tahunan
Tanaman

Bambu

D (daun)
K (kayu)

Tengah

Tinggi

Tinggi

Sedang

Tinggi

Tahunan
Pada dasarnya dalam pengukuran cadangan karbon adalah penggunaan lahannya.
Adapun sektor penggunaan lahan yang diukur adalah dinamika cadangan karbon atau
emisi/sequestrasi disuatu bentang lahan. Emisi (pelepasan gas CO2) terjadi karena adanya alih
guna lahan seperti pembakaran dan pengolahan tanah. Indikasinya adalah apabila
berkurangnya cadangan karbon, maka kemampuan menyerap karbon menurun. Semakin suatu
bentang lahan tingkat pengolahan tanahnya tinggi maka kemampuan bentang lahan tersebut
dalam menyerap karbon di udara semakin menurun.
Adapun salah satu dalam menjaga atau mempertahankan cadangan karbon
adalahdengan sequestrasi (penyerapan/penambatan) karbon. Adapun cara yang dilakukan
44

adalah dengan menggunakan sistem pertanaman yang baik secara biofisik dan ekonomi saling
menguntungkan. Sistem pertanaman agroforestri yang terdapat di plot 2 dengan pertanaman
sengon, kopi, pisang talas, jahe, lamtoro dan bambu merupakan indikator dalam mengetahui
jumlah keberadaan cadangan karbon. Semakin rapat keberadaan vegetasi yang ada, maka
semakin meningkat juga jumlah karbon karena pertumbuhan tanaman.
Dari hasil data dilapangan menunjukkan bahwa pada sistem pertanaman agroforestri
terdapat pertanaman sengon dan bambudengan kandungan c-stoktinggi sedangkan pada kopi,
pisang talas, jahe, lamtoro kandungan c-stok rendah. Hal tersebut perlu adanya peningkatan
diversitas dan kerapatan pohon penaungan lamtoro perlu dilakukan untuk meningkatkan
layanan lingkungan sistem agroforestri tersebut sebagai penyerap karbon. Hal tersebut
didukung dengan pernyataan Hairiah, 2003 yang menyatakan bahwa peningkatan cadangan
karbon melalui perluasan lahan pertanian monokultur (0.03 Mg ha -1 th-1) jauh lebih rendah
dari pada jumlah karbon yang hilang akibat alih guna hutan menjadi lahan pertanian. Oleh
karena itu pada populasi kopi dan pisang perlu dipertahanakan agar mampu menjaga dan
lebih mengoptimalkan lagi dalam meningkatkan secarapan CO2 di udara.
Namun pada plot 2 yang diamati sudah termasuk dalam kategori berlanjut. Adapun
keanekaragaman pohon pada sistem agroforestri menurut Hairiah 2003 manambahkan bahwa
sistem tersbut sangat membantu dalam mengurangi emisi karbon akibat konversi hutan
menjadi lahan tanaman semusim

Gambar Penampang vegetasi pada plot 2


Plot 3 (Tanaman Semusim)
Macam landskap
: Relictual
Kemiringan
: 18%, 100
No

Penggunaan

Tutupan

Manfaat

Posisi

Lahan
Tanaman

lahan
Kubis

Lereng
tengah

Semusim
Tanaman

Rumput

(Daun)
D

Semusim
Tanaman

Gajah
Kelapa

Semusim
Tanaman

Semusim
Tanaman

Tingkat tutupan
Kanopi Seresah

Jumlah

Kerapat

C-stock

an
Tinggi

Rendah

Sedang

Sedang

spesies
159

tengah

Rendah

Banyak

227

Tinggi

Rendah

(Daun)
B (buah)

tengah

Sedang

Sedang

196

Rendah

Rendah

Kacang

B (buah)

tengah

Rendah

Sedang

107

Sedang

Rendah

panjang
Rumput

D (daun)

tengah

Rendah

Sedang

Banyak

Tinggi

Rendah

45

Semusim
Tanaman

liar
Pisang

B (buah)

tengah

Sedang

Sedang

Rendah

Rendah

Semusim
D (daun)
Pada dasarnya dalam pengukuran cadangan karbon adalah penggunaan lahannya.
Adapun sektor penggunaan lahan yang diukur adalah dinamika cadangan karbon atau
emisi/sequestrasi disuatu bentang lahan. Emisi (pelepasan gas CO2) terjadi karena adanya alih
guna lahan seperti pembakaran dan pengolahan tanah. Indikasinya adalah apabila
berkurangnya cadangan karbon, maka kemampuan menyerap karbon menurun. Semakin suatu
bentang lahan tingkat pengolahan tanahnya tinggi maka kemampuan bentang lahan tersebut
dalam menyerap karbon di udara semakin menurun.
Adapun salah satu dalam menjaga atau mempertahankan cadangan karbon adalah
dengan sequestrasi (penyerapan/penambatan) karbon. Adapun cara yang dilakukan adalah
dengan menggunakan sistem pertanaman yang baik secara biofisik dan ekonomi saling
menguntungkan. Sistem pertanaman monokultur yang terdapat di plot 3 dengan pertanaman
utama yaitu kubis, sedangkan vegetasi yang ada disekitarnya seperti rumput gajah, kelapa,
kacang panjang, rumput liar, dan pisang merupakan indikator dalam mengetahui jumlah
keberadaan cadangan karbon. Semakin rapat keberadaan vegetasi yang ada, maka semakin
meningkat juga jumlah karbon karena pertumbuhan tanaman.
Dari hasil data dilapangan menunjukkan bahwa pada sistem pertanaman semusim
terdapat pertanaman yang mempunyai kandungan c-stok rendah yaitu diantaranya kubis,
rumput gajah, kelapa, kacang panjang, rumput liar, dan pisang. Hal tersebut perlu adanya
peningkatan diversitas dan kerapatan pohon penaungan perlu dilakukan untuk meningkatkan
layanan lingkungan sistem tanaman semusim tersebut sebagai penyerap karbon. Hal tersebut
didukung dengan pernyataan Hairiah, 2003 yang menyatakan bahwa peningkatan cadangan
karbon melalui perluasan lahan pertanian monokultur (0.03 Mg ha -1 th-1) jauh lebih rendah
dari pada jumlah karbon yang hilang akibat alih guna hutan menjadi lahan pertanian. Oleh
karena itu pada populasi kopi dan pisang perlu dipertahanakan agar mampu menjaga dan
lebih mengoptimalkan lagi dalam meningkatkan secarapan CO2 di udara.
Pada plot 3 yang diamati belum termasuk dalam kategori berlanjut. Adapun
keanekaragaman pohon pada sistem agroforestri menurut Hairiah 2003 manambahkan bahwa
sistem tersebut sangat tidak membantu dalam mengurangi emisi karbon.

46

Penampang vegetasi secara keseluruhan di Plot 3


Plot 4 (Tanaman Semusim + Permukiman)
Macam landskap
: Relictual
Kemiringan
: 0o
No

Penggunaan

Tutupan

Manfaat

Posisi

Lahan
Tanaman

lahan
Pisang

B (Buah)

Lereng
bawah

Semusim
Tanaman

Sawi

Semusim
Tanaman

Tingkat tutupan
Kanopi Seresah

Jumlah

Kerapat

C-stock

Sedang

Sedang

spesies
18

an
Rendah

Rendah

bawah

Sedang

Rendah

150

Sedang

Rendah

Cabai

(Daun)
B (buah)

bawah

Rendah

Rendah

30

Rendah

Rendah

Semusim
Tanaman

Rumput

D (daun)

bawah

Sedang

Rendah

2000

Tinggi

Sedang

Semusim

gajah

Pada

dasarnya

dalam

pengukuran

cadangan

karbon

adalah

penggunaan

lahannya.Adapun sektor penggunaan lahan yang diukur adalah dinamika cadangan karbon
atau emisi/sequestrasi disuatu bentang lahan. Emisi (pelepasan gas CO 2) terjadi karena adanya
alih guna lahan seperti pembakaran dan pengolahan tanah. Indikasinya adalah apabila
berkurangnya cadangan karbon, maka kemampuan menyerap karbon menurun. Semakin suatu
bentang lahan tingkat pengolahan tanahnya tinggi maka kemampuan bentang lahan tersebut
dalam menyerap karbon di udara semakin menurun.
Adapun salah satu dalam menjaga atau mempertahankan cadangan karbon
adalahdengan sewuestrasi (penyerapan/penambatan) karbon. Adapun cara yang dilakukan
adalah dengan menggunakan sistem pertanaman yang baik secara biofisik dan ekonomi saling
menguntungkan. Sistem pertanaman agroforestri yang terdapat di plot 4 dengan pertanaman
pisang, sawi, cabai dan rumput gajah merupakan indikator dalam mengetahui jumlah
keberadaan cadangan karbon. Semakin rapat keberadaan vegetasi yang ada, maka semakin
meningkat juga jumlah karbon karena pertumbuhan tanaman.
Dari hasil data dilapangan menunjukkan bahwa pada sistem pertanaman semusim
dekat dengan lokasi pemukiman mempunyai kandungan c-stok rendah. Hal tersebut perlu
adanya peningkatan diversitas dan kerapatan pohon penaungan perlu dilakukan untuk
meningkatkan layanan lingkungan sistem monokultur tersebut sebagai penyerap karbon. Hal
tersebut didukung dengan pernyataan Hairiah, 2003 yang menyatakan bahwa peningkatan
cadangan karbon melalui perluasan lahan pertanian monokultur (0.03 Mg ha -1 th-1) jauh lebih
rendah dari pada jumlah karbon yang hilang akibat alih guna hutan menjadi lahan pertanian.
Oleh karena itu penanaman seperti pohon besar sebagai rekomendasi untuk menambah atau
47

menyimpan c-stok yang ada misalnya kelapa dan tegakkan yang lain yang bisa berfungsi
ganda sebagai tanaman pemecah angin.

Kondisi aktual rumput gajah di pemukiman


3.1.3. Indikator Pertanian Berlanjut dari Sosial Ekonomi
3.1.3.1. Economically viable (keberlangsungan secara ekonomi)
No
1
2

Uraian
Sewalahan
Sewaalat
Penyusutanalat
-cangkul
- sprayer
- Alatbabat

Jumlah
(unit)
0.75 ha
-

Harga/ unit
(Rp)
Rp. 10.000.000
-

Rp.
50.000/th
Rp.
400.000/th
Rp.
250.000/th

1
1

Total BiayaTetap (Total Fixed Cost)

Biaya (Rp)

UmurEkonomis
(tahun)

Rp. 10.000.000
Rp.

24.000

Rp.

70.000

Rp.

42.000

Rp. 10.136.000

PLOT 1

penyusutan=

hargaawalharga akhir
jangkausia ekonomi s

Cangkul

Sprayer

Alat babat

50.00010.000
=8.000 x 3=24.000
5
400.00050.000
=70.000
5
250.00040.000
=42.000
5

Biaya tetap (fixed cost) yang dikeluarkan untuk budidaya tanaman kopi antara lain
biaya sewa lahan dan biaya penyusutan alat. Peralatan yang digunakan dalam pengolahan
lahan adalah kepemilikan sendiri atau tidak ada alat yang disewa, peralatan yang dimaksud
adalah 3 cangkul dengan harga per unit Rp. 50.000,00,
48

1 sprayer dengan harga Rp.

400.000,00 dan alat babat dengan harga RP. 250.000,00 peralatan tersebut termasuk kedalam
biaya tetap. Untuk biaya penyusutan masing-masing alat dimisalkan dijual dengan umur
ekonomis 5 tahun. Maka biaya penyusutan per alatnya adalah pada cangkul dengan harga
Rp.24.00,00 untuk 3 unit cangkul. Pada sprayer dengan perkiraan umur ekonomis 5 tahun
memiliki biaya penyusutan Rp.24.000,00 . Sedangkan pada alat babat dengan umur ekonomis
5 tahun memiliki biaya penyusutan sebesar Rp.42.000,00.

49

Biaya variable
No
1
2

3
4

Uraian
Benih/bibit
Pupuk

Jumlah (unit)
1000

Harga/unit (Rp)
Rp. 15.000

Biaya (Rp)
Rp. 15.000.000

ZA
TSP
Pupukkandang
Pestisida
Desis

5 karung
5 karung
250 karung

Rp.95.000
Rp. 95.000
Rp. 5.000

Rp. 475.000
Rp. 475.000
Rp. 1.250.000

3 botol

Rp. 250.000

Rp. 750.000

4 orang
2 orang

Rp 40.000x 14 hari
Rp 35.000 x 14 hari

Rp 2.240.000
Rp 980.000

Rp 6.500

Rp. 325.000
Rp. 21.495.000

Tenagakerja (panen)
Luarkeluarga
- Pria
- wanita

5
Bensin
50 liter
Total BiayaVariabel (Total Variabel Cost)

Pada lahan petani yang kami wawancarai di Plot 1 `memiliki luas lahan 0.75 Ha,
lahan tersebut dimanfaatkan untuk budidaya tanaman kopi. Biaya variable yang dikeluarkan
untuk mengolah lahan 0.75 Ha tersebut membutuhkan 1000 bibit dengan harga
Rp.15.000/unit maka total biaya yang dikeluarkan untuk memperoleh bibit adalah sebesar
Rp.15.000.000,00. Untuk penggunaan pupuk, Bapak Yusman menggunakan pupuk kimia dan
pupuk kandang, untuk pupuk kimia yang digunakan adalah ZA sebanyak 5 karung dengan
harga Rp. 95.000/karung maka total biaya untuk pembelian pupuk ZA adalah Rp.475.000,00.
Pupuk TSP yaitu sebanyak 5 karung dengan harga 95.000,00/karung maka biaya yang
dikeluarkan untuk membeli TSP 5 karung sebanyak Rp.475.000,00. Pestisida yang digunakan
sebanyak 3 botol dengan harga per botol Rp. 250.00,00 sehingga total harga pestisida
mencapai Rp.750.000,00 hal ini karena penggunaan pestisida berdasarkan kondisi hama yang
ada di lahan, apabila hama banyak menyerang dan mengganggu pertumbuhan kopi maka
Bapak Yusman akan mengambil tindakan untuk menyemprot dengan menggunakan pestisida.
Tenaga kerja yang membantu pengolahan lahan budidaya pak Yusman berasal dari tenaga
kerja dan luar keluarga.

Tenaga kerja luar keluarga laki-laki diberikan upah sebesar

Rp.40.000,00 yaitu sebanyak 4 Orang , maka biaya tenaga kerja laki-laki yang dibayarkan
sebesar Rp.160.000 per hari dan Rp 2.240.000 per musim panen sedangkan tenaga kerja
wanita sebanyak 2 orang dengan masing-masing upah yang diberikan sebesar Rp.35.000,00
per hari maka total biaya tenaga kerja wanita sebesar Rp. 70.000,00/hari dan Rp

980.000

per musim panen. Biaya lain-lain yang dikeluarkan adalah bensin yaitu sebanyak 50 liter
dengan harga Rp.6.500/liter maka total biaya dikeluarkan untuk membeli bensin per musim
tanam sebesar Rp. 325.000.
50

Total biaya (Total Cost (TC) = TFC + TVC)

No
Biaya
1
Total Biaya Tetap (Total Fixed Cost)
2
Total Biaya Variabel (Total Variabel Cost)
Total Biaya (Total Cost)

Total Biaya (Rp)


Rp 10.136.000,00
Rp 10.136.000,00
Rp 31.631.000,00

Penerimaan

Uraian
Nilai
Produksi (unit)
- Kopi
10 ton
PenerimaanUsahatani (Total Revenue)

Harga (per kg)(Rp)


20.000

Jumlah (Rp)
200.000.000,00
200.000.000,00

Keuntungan

Uraian
Total Biaya (Total Cost)
Penerimaan (Total Revenue)
Keuntungan

Jumlah (Rp)
31.631.000,00
200.000.000,00
168.369.000,00

b. Analisis Kelayakan Usathatani


B/C Ratio
B/C=TR-TC / ( TFC+TVC )
Keterangan:
TR
= Penerimaan
TC
= Total Biaya
TFC = BiayaTetap (fixed cost)
TVC = BiayaVariabel (variable cost )
B/C = / ( TFC+TVC )
B/C = Rp 168.369.000/ Rp 31.631.000
= 5.32
Jadi, usaha kelayakan petani yang dilakukan pak Yusman pada kebun apel layak dan
menguntungkan. Hal ini dikarenakan B/C rasio> 1, maka usaha kebun apel pak Yusman
tersebut efisien dan menguntungkan. Hal ini sesuai dengan (Soekartawi, 1994) yang
menjelaskan suatu usaha dianggap menguntungkan dan perlu dikembangkan apabila nilai B/C
ratio lebih dari satu. Suatu usaha hanya mampu menghasilkan penerimaan yang cukup untuk
menutup biaya dikeluarkan berada pada posisi tidak untung dan tidak rugi (break even point),
B/C ratio sama dengan satu. Suatu usaha dianggap tidak menguntungkan apabila nilai B/C
ratio kurang dari satu. Dari perhitungan yang telah dilakukan dapat diketahui usahatani kopi
yang telah dilakukan oleh Yusman menguntungkan karena nilai B/C ratio lebih dari 1.

51

Menghitung Break Event Point BEP


Besarnya nilai Break Event Point (BEP) dapat dihitung dengan menggunakan
formula sebagai berikut:
BEP (Break Event Point) Produksi
BEP Produksi(Unit)=

TFC
PTVC / Q

10.136.000
20.00021.495 .000/ 10.000

10.136 .000
20.0002.149 .500

10.136 .000
2.129 .500

4.75 kg
Dari hasil perhitungan BEP produksi menunjukan bahwa, gambaran produksi
minimal yang harus dihasilkan dalam usaha pertanian Bapak Yusman adalah
4.75 kg

agar tidak mengalami kerugian, Apabila nilai BEP produksi dibawah 4.74

kg maka usaha tani yang dilakukan akan mengalami kerugian.

BEP (Break Event Point) Penerimaan (Rupiah)


BEP Penerimaan( Rupiah)=

TFC
1TVC /TR

10.136 .000
10.10

10.136 .000
0.9

10.136 .000
121.495.000 /200.000 .000

Rp11.262,00

52

Pada perhitungan BEP penerimaan diperoleh hasil bahwa, total penerimaan


produk dengan kuantitas produk saat BEP usaha tani Bapak Yusman adalah sebesar
Rp11.262,00 .

BEP (Break Event Point) Harga


BEP Harga(Rp)=

TC
Q

31.631 .000,00
=Rp3.163,00
10.000

Untuk perhitungan BEP harga produk per satuan unit pada saat BEP atau biaya ratarata per satuan produk tanaman kopi milik Bapak Yusman adalah

Rp3.163,00 .

Berdasarkan perhitungan analisis biaya, penerimaan dan keuntungan (pendapatan)


usaha tani pada lahan Bapak Yusman diperoleh nilai B/C Ratio sebesar 5.32, maka usaha tani
tersebut layak dan dapat dilanjutkan untuk memenuhi kebutuhan keluarga Bapak Yusman.
Kebutuhan-kebutuhan yang dibutuhkan dalam pengelolaan lahan tersebut juga dapat
dioeroleh dengan mudah dan tenaga kerja yang dibutuhkan dapat dicari dilingkungan sekitar
masyarakat. Dari hasil tersebut dapat dikatakan bahwa usaha kopi

telah memperoleh

keuntungan dalam mengusahakan tanaman kopi, di mana semakin besar nilai B/C ratio maka
semakin besar pula keuntungan yang akan diperoleh. Tetapi hal ini tidak sesuai dengan
Mubyarto (1994), yang menyatakan bahwa efisiensi dapat dikatakan sebagai keadaan, yakni
manfaat yang sebesarbesarnya dapat dicapai dari suatu pengorbanan tertentu atau untuk
mencapai manfaat tertentu diperlukan pengorbanan yang sekeci-kecilnya.
PLOT 2
Penggunaan Input dan Biaya Usahatani Tanaman Kopi dan Langsep
Biaya Variabel
Jenis Input

Unit

Harga/Unit
53

Jumlah Biaya

Benih
Kopi
Langsep
Pupuk:
Pupuk Kandang
Urea
SP36
Phonska
Tenaga Kerja
Laki-laki
Perempuan
Biaya lain-lain:
Solar desel
Jumlah biaya

800 tanaman
15 tanaman

Rp. 5.000,Rp. 4.000,-

Rp. 4.000.000,Rp. 60.000,-

2.500 kg
50 kg
50 kg
50 kg

Rp 0,Rp 1.800,Rp. 2.100,Rp. 2.300,-

Rp 0,Rp 90.000,Rp. 105.000,Rp. 115.000,-

6 HOK
5 HOK

Rp 20.000,Rp 15.000,-

Rp 120.000,Rp 75.000,-

5L

Rp

Rp 275.000,Rp 4.840.000,-

54

5.500,-

Biaya Tetap
Jenis Input
Lahan

Unit
2.500 m2

Harga/Unit
Rp. 0,-

Jumlah Biaya
Rp. 0,-

Peralatan
Cangkul
Mesin Potong
Tandon
Diesel
Selang
Pipa

5 unit
1 unit
1 unit
1 unit
1 rol (50 m)
100 meter

Rp. 125.000,Rp. 1.500.000,Rp. 3.000.000,Rp. 1.500.000,Rp. 500.000,Rp. 25.000,-

Rp. 625.000,Rp. 1.500.000,Rp. 3.000.000,Rp. 1.500.000,Rp. 500.000,Rp. 2.500.000,-

Jumlah biaya

Rp 9.625.000,-

Total Biaya/ TC (Total Cost)


No Biaya
1
Total BiayaTetap (Total Fixed Cost)
2
Total BiayaVariabel (Total Variabel Cost)
Total Biaya (Total Cost)

Total Biaya (Rp)


Rp 4.840.000,Rp 9.625.000,Rp 14.465.000-

Penerimaan Usahatani
No
Uraian
1
Produksi Kopi
2
Langsep (1 pohon= Rp. 1.000.000)
Penerimaanusahatani (Total Revenue)

Nilai
1,5 ton
15 pohon

Jumlah (Rp)
Rp. 8.000.000
Rp. 15.000.000
Rp 23.000.000,-

Keuntungan Usahatani
No
Uraian
1
Penerimaanusahatani (Total Revenue)
2
Biaya (Total Cost)
Keuntungan

Nilai
-

B/C

= / ( TFC+TVC )

B/C

= Rp 8.535.000,-/Rp 14.465.000,= 0,59

Jumlah (Rp)
Rp. 23.000.000
Rp 14.465.000,Rp 8.535.000,-

Dari hasil analisis biaya yang diatas diketahui bahwa keuntungan dari usahatani yang
dilakukan oleh bapak Sumarno hanya untung sebesar Rp. 8.535.000,-/tahun. Setelah
dilakukan perhitungan kelayakan usahatani menggunakan B/C Ratio nilai yang diperoleh
adalah 0,59. Ini artinya usahatani yang dijalani pada Sumarno belum layak, nilai
BC<1.Menurut beliau hasil tersebut belum cukup untuk membiayai pendidikan anak
keduanya dan keperluan sehari-hari. Setiap bulan untuk mencukupi kebutuhan rumah tangga
beliau harus mengeluarkan uang sebesar Rp. 1.500.000,-. Untuk menutupi kekurangan itu,
beliau bekerja sebagai pengolah tanah sawah.Selain itu pak Sumarno juga mengelola tanah
55

sawah yang ditanami kubis dan padi.Hal tersebut dilakukan sebagai alternatif pendapatan
sebelum panen tanaman kopi dan langsep.
Usahatani yang dilakukan pak Sumarno belum dikatakan berlanjut secara
ekonomi.Salah satu indikator pertanian berlanjut yakni keberlanjuatan ekonomi dari petani
dimana dari hasil tanai yang ada dapat mencukupi kebutuhan rumah tangga.Selain itu
diperkuat oleh pernyataan pak Sumarno bahwa pendapatan yang dihasilkan dari ladang yang
di tanami kopi dan langsep belum cukup memenuhi kebutuhan. Menurut (Reintjess, 1992)
menjelaskan bahwa Pertanian berlanjut juga harus mampu berlanjut secara ekonomis, yang
berarti bahwa petani bisa cukup mampu menghasilkan untuk pemenuhan kebutuhan serta
memperoleh penghasilan yang mencukupi untuk mengembalikan tenaga kerja dan biaya
usahatani yang telah dikeluarkan.Maka dari itu, untuk keberlanjutan usahatani harus
diperbaiki sistem tanam, tanaman yang ditanam yang nilai ekonomisnya lebih tinggi dan
ditambah tanaman umurnya lebih pendek sebagai pendapatan alternatif sebelum tanaman
tahunan panen.

PLOT 3
Indikator pertanian berlanjut dari aspek ekonomi berarti keberhasilan pertanian
berlanjut secara ekonomis, yang berarti petani mendapat penghasilan yang cukup untuk
memenuhi kebutuhan, sesuai dengan tenaga dan biaya yang dikeluarkan, dan dapat
melestarikan sumberdaya alam dan meminimalisasikan risiko. Kemampuan

masyarakat

menghasilkan untuk pemenuhan kebutuhan sehari-hari dari bidang pertanian (perhitungan


pendapatan usahatani). Artinya usahatani yang dijalankan oleh petani layak untuk dilanjutkan
oleh petani guna memperoleh keuntungan yang sustainable untuk kebutuhan rumah tangga
petani.
Berdasarkan wawancara yang kami lakukan pada tanggal 30 November 2013 dengan salah
satu petani di Desa Kekep Kota Batu diperoleh data sebagai berikut:
Nama Petani

: Pak Suin

Umur

: 53 tahun

Alamat

: Desa Tulungrejo, Kec. Ngantang

Pekerjaan
Kepemilikaqn Lahan

: Petani
: 5000 m2 yang digunakan untuk budidaya sayuran yaitu
kubis

Penggunaan Input dan Biaya Usahatani Tanaman :

56

Biaya Tetap
No

Jumlah
(unit)

Uraian

Harga/ unit
(Rp)

Biaya (Rp)

Umur
Ekonomis
(tahun)

Sewa lahan

0,5 ha

Rp 2.000.000

Rp. 2.000.000

Sewa alat

-cangkul

Rp.

50.000/th

Rp.

30.000

- sprayer

Rp. 400.000/th

Rp.

100.000

- Sabit

Rp. 40.000/th

Rp.

10.000

-Traktor

Rp. 1.000.000

Penyusutan alat

Total Biaya Tetap (Total Fixed Cost)


Cangkul

Rp. 3.140.000

50.00020.000
=10.000 x 3=30.000
3

Sprayer

Sabit

penyusutan=

a. Biaya variable
N
Uraian
o
1

Benih/bibit

Pupuk

400.000100.000
=100.000
3
40.00010.000
=10.000
3

hargaawalharga akhir
jangkausia ekonomis

Jumlah (unit)

Harga/unit (Rp)

Biaya (Rp)

20.000 biji

Rp. 70/biji

Rp. 1.400.000

ZA

2 kw

Rp. 210.000/kw

Rp. 420.000

TSP

2 kw

Rp. 210.000/kw

Rp. 420.000

KCl

2 kw

Rp. 210.000/kw

Rp. 420.000

Urea

6 kw

Rp. 180.000/kw

Rp. 1.080.000

57

Pestisida
Desis

3 botol

Rp. 250.000

Rp. 750.000

Tenaga Kerja

3 org untuk 3 hari

Rp 40.000 x 3

Rp 120.000

Total Biaya Variabel (Total Variabel Cost)

Rp. 4.610.000

b. Total biaya (Total Cost (TC) = TFC + TVC)


No
Biaya
1
Total Biaya Tetap (Total Fixed Cost)
2
Total Biaya Variabel (Total Variabel Cost)
Total Biaya (Total Cost)
c. Penerimaan
Uraian

Nilai

Total Biaya (Rp)


Rp 3.140.000,00
Rp 4.610.000,00
Rp 7.750.000,00

Harga (per kg)(Rp)

Jumlah (Rp)

Produksi (unit)
- Kubis

20 ton

1.000/kg

Penerimaan Usahatani (Total Revenue)

Rp. 20.000.000,00
Rp. 20.000.000,00

d. Keuntungan
Uraian

Jumlah (Rp)

Total Biaya (Total Cost)

Rp 7.750.000,00

Penerimaan (Total Revenue)

Rp 20.000.000,00

Keuntungan

Rp 12.250.000,00

e. Analisis Kelayakan Usaha tani


R/C ratio
R/C ratio sayuran wortel

= TR/TC

= 20.000.000 7.750.000

= 2,5
Dari hasil perhitungan R/C ratio sayuran kubis sebesar 2,5. Hal ini
menunjukkan bahwa usahatani yang dilakukan oleh bapak Suin tergolong layak untuk
dikembangkan.
f. Menghitung Break Event Point BEP
Besarnya nilai Break Event Point (BEP) dapat dihitung dengan menggunakan formula
sebagai berikut:
BEP (Break Event Point) Produksi
58

BEP Produksi(Unit)=

3.140 .000
1.0004.610 .000/20000

TFC
PTVC / Q

3.140 .000
1000230,5

3.140 .000
769,5

4080 kg
Dari hasil perhitungan BEP produksi menunjukan bahwa, gambaran produksi minimal
yang harus dihasilkan dalam usaha pertanian Bapak Suin adalah

4080 kg

agar tidak

mengalami kerugian atau dapat dikatakan balik modal. Jika hasil produksi dibawah nilai ini
maka usahatani yang dilakukan Pak Suin dikatakan merugi.
BEP (Break Event Point) Penerimaan (Rupiah)
BEP Penerimaan( Rupiah)=

TFC
1TVC /TR

3.140 .000
10.23

3.140 .000
0.77

3.140.000
14.610 .000/20.000 .000

Rp 4.077,00
Pada perhitungan BEP penerimaan diperoleh hasil bahwa, total penerimaan produk
dengan kuantitas produk saat BEP usaha tani Bapak Suin adalah sebesar

BEP (Break Event Point) Harga


BEP Harga(Rp)=

TC
Q

59

Rp 4.077,00 .

7.750 .000
=Rp 387,5,00
20.000

Untuk perhitungan BEP harga produk per satuan unit pada saat BEP atau biaya rata-rata
per satuan produk tanaman kopi milik Bapak Suin adalah

Rp387,5.

PLOT 4
Pertanian berkelanjutan (sustainable agriculture) merupakan pemanfaatan sumber daya
yang dapat diperbaharui (renewable resources) dan sumberdaya tidak dapat diperbaharui
(unrenewable resources) untuk proses produksi pertanian dengan menekan dampak negatif
terhadap lingkungan seminimal mungkin.
Untuk mewujudkan suatu pertanian yang berkelanjutan bukan hanya mengenai kelayakan
daya dukung lingkungan pertanian akan tetapi indikator secara ekonomi juga perlu
diperhatikan. Kami melakukan observasi lapang pertanian berlanjut di daerah Ngantang
dengan salah satu narasumber yaitu Bapak Tani Wibowo. Bapak Tani ini memiliki tanah milik
sendiri untuk ditanami kopi, sengon, dan pisang serta tanah sewa untuk ditanami tanaman
musiman yaitu kubis ataupun tomat. Pada lahan yang kami lakukan observasi merupakan
lahan perhutani yang sebagian besar wilayahnya di budidayakan pinus dan kopi. Selain
kegiatan bercocok tanam Bapak Tani juga memiliki usaha sampingan sebagai buruh tani dan
memiliki ternak seperti sapi dan ayam.
Salah satu indikator pertanian berlanjut secara ekonomi (economically viable) yang kami
analisis di daerah Ngantang antara lain :
a) Menguntungkan dan dapat dipertanggung jawabkan (economically viable). Dari hasil
wawancara dan pengamatan di lapang, Bapak Tani mampu menghasilkan keuntungan dalam
tingkat produksi yang cukup dan stabil, pada tingkat resiko yang bisa ditolerir atau diterima.
Seringkali memang terdapat gangguan serangan hama dan penyakit di lahan semusim pak
Tani untuk menekan resiko kegagalan panen adalah dengan menggunakan pestisida
anorganik. Sedangkan untuk lahan tegalan Pak Tani lebih fokus untuk penyediaan unsur hara
bagi tanaman dengan pengendalian secara mekanis. Pada lahan pertanian semusim dan
tegalan yang dimiliki oleh Pak Tani masih tetap menggunakan pupuk organik dan pupuk
anorganik untuk menjaga kestabilan lahan tersebut. Pak Tani mendapatkan pupuk organik dari
hasil kotoran ternaknya sendiri sedangkan untuk bahan an-organik sebagian besar didapatkan
dengan cara membeli ke toko pertanian. Meskipun sebagian besar biaya di tanggung sendiri
60

oleh Pak Tani, akan tetapi secara keseluruhan keuntungan yang di dapatkan cukup untuk
digunakan dalam meneruskan kegiatan budidaya.
b) Sistem pertanian harus secara rasional mampu menjamin kehidupan ekonomi yang lebih baik
bagi petani dan keluarganya; paling tidak usaha pertanian harus mampu menyediakan bahan
pangan dan kebutuhan dasar lainnya. Hasil wawancara dengan Bapak Tani, beliau memiliki
lahan tegalan dan lahan semusim yang masih dapat menghasilkan untuk menjamin kehidupan
Bapak Tani dan keluarga. Bapak Tani dalam melakukan kegiatan usahataninya lebih sering
bertanam tanaman semusim dibandingkan tanaman pangan, akan tetapi sesekali juga
dilakukan rotasi tanaman dengan padi. Pada waktu pengamatan lapang, kami mendapatkan
data lahan pertanian digunakan untuk tanaman semusim yaitu kubis. Beliau menjabarkan jika
hasil panen secara keseluruhan dijual atau dipasarkan untuk mendapatkan keuntungan. Hanya
beberap saja yang beliau konsumsi dengan keluarga. Begitu pun dengan tanaman tegalan yang
di dominasi oleh tanaman tahunan yaitu pinus dan kopi serta pisang sebagai naungan. Ada
kalanya ketika lahan semusim belum menghasilkan Bapak Tani masih dapat menjual buah
pisang dan memanen kopi secara berkala. Untuk tanaman pinus akan panen kurang lebih 5
tahun sekali, dari hasil wawancara kami mengetahui jika Bapak Tani telah panen pinus
sebanyak 2 kali. Hasil panen dari lahan tegalan mendukung untuk penyediaan secara ekonomi
keluarga maupun keberlangsungan kegiatan budidaya tanaman.
c) Kelayakan secara ekonomi juga berarti aktivitas pertanian harus mampu menekan biaya
eksternalitas sehingga tidak merugikan masyarakat dan lingkungan. Eksternalitas yang
dimaksud adalah efek samping yang dihasilkan oleh satu pihak baik dalam aktivitas produksi
maupun konsumsi yang mengenai pihak lain, namun efek samping tersebut tidak
diperhitungkan dalam mekanisme pasar.
Berdasarkan hasil wawancara dengan Bapak Tani Wibowo, kami dapat menganalisis jika
kegiatan bercocok tanam Pak Tani ini mempunyai efek eksternalitas positif. Hal tersebut
terlihat dari lahan tegalan yang ditanami oleh pinus, kopi dan pisang. Lahan tegalan tersebut
merupakan suatu lahan agroforestry yang ditanam pada lahan miring di daerah perbukitan
rawan terjadi erosi. Jadi selain dimanfaatkan sebagai lahan budidaya juga termasuk salah satu
pencegahan erosi dan ruang hijau. Selain itu pada lahan semusim biasanya seresah hasil
panen dimanfaatkan untuk pakan ternak dan kompos.
JenisTanaman

LuasTanaman
(ha)

JumlahProduksi
(kg)

Harga / unit

NilaiProduksi
(Rp)

Kubis
Kopi
Pisang

400 m2
500 m2
500 m2

2000 kg
1500 kg
50 sisir

Rp. 700/kg
Rp. 4000/kg
Rp. 2500/sisir

Rp 1.400.000
Rp. 6.000.000
Rp. 125.000

61

Komoditas utama dari bapak Tani Wibowo adalah kopi dan pisang yang ditanam pada lahan
milik sendiri sedangkan komoditas kubis ditanam sebagai komoditas tambahan

62

1. Komoditas kubis
a. Biaya Variabel
Jenis Input
Benih
Kubis
Pupuk:
P. Kandang
ZA
SP36
KCl
TenagaKerja
Dalamkeluarga
Pestisida
Jumlahbiaya

Unit

Harga/Unit

JumlahBiaya

1 bungkus (3000 biji)

Rp. 50.000/bungkus

Rp. 50.000

1,5 kuintal
1 kuintal
1 kuintal

Rp. 0
Rp. 60.000
Rp. 150.000
Rp. 150.000

Rp 0
Rp 90.000
Rp. 150.000
Rp. 150.000

3 anggota
120 cc (1 botol)

Rp. 0
Rp 125.000/botol

Rp. 0
Rp. 125.000
Rp. 665.000

b. Biaya Tetap
Jenis Input
Lahansewa
Peralatan
Cangkul
Selang
Pipa

Unit
400 m2

Harga/Unit
Rp. 1.000.000

JumlahBiaya
Rp. 1.000.000

2 unit
1 rol (50 m)
40 meter
Umur E 5 tahun

Rp. 200.000
Rp. 500.000
Rp. 200.000

Rp.
Rp.
Rp.

Jumlahbiaya

16.000
70.000
30.000

Rp. 1.116.000 : 3
= Rp. 372.000

c. Total Biaya/ TC (Total Cost)


No Biaya
1
Total BiayaTetap (Total Fixed Cost)
2
Total BiayaVariabel (Total Variabel Cost)
Total Biaya (Total Cost)

Total Biaya (Rp)


Rp. 372.000
Rp. 665.000
Rp. 1.037.000

d. Penerimaan Usahatani
No Uraian
1
ProduksiKubis
Penerimaanusahatani (Total Revenue)

Nilai
2.000 kg x Rp. 700

Jumlah (Rp)
Rp. 1.400.000
Rp 1.400.000

e. Keuntungan Usahatani
No Uraian
1
Penerimaanusahatani (Total Revenue)
2
Biaya (Total Cost)
Keuntungan

Nilai
-

R/C=PQ x Q / ( TFC+TVS )
= 700 x 2000 / (665.000 + 372.000)
= 1.400.000 / 1.037.000
= 1,35
63

Jumlah (Rp)
Rp. 1.400.000
Rp 1.037.000
Rp 8.535.000

Jadi, usaha kelayakan petani yang dilakukan pak Tani Wibowo layak dan
menguntungkan. Hal ini karena R/C rasio > 1, maka usaha tersebut efisien dan
menguntungkan
2. Komoditas kopi dan pisang
a. Biaya Variabel
Jenis Input
Pupuk:
P. Kandang
TenagaKerja
Dalamkeluarga
Jumlahbiaya

Unit

Harga/Unit

JumlahBiaya

250 kg

Rp. 0

Rp. 0

3 anggota

Rp. 0

Rp. 0
Rp. 0

b. Biaya Tetap
Jenis Input
Lahanmiliksendiri
Peralatan
Cangkul
Selang
Pipa

Unit
500 m2

Harga/Unit
Rp. 0

JumlahBiaya
Rp. 0

2 unit
1 rol (50 m)
40 meter
Umur E 5 tahun

Rp. 200.000
Rp. 500.000
Rp. 200.000

Rp.
Rp.
Rp.

Jumlahbiaya

16.000
70.000
30.000

Rp. 116.000

Total Biaya/ TC (Total Cost)


No Biaya
1
Total BiayaTetap (Total Fixed Cost)
2
Total BiayaVariabel (Total Variabel Cost)
Total Biaya (Total Cost)

Total Biaya (Rp)


Rp.
0
Rp. 116.000
Rp. 116.000

3. Penerimaan Usahatani
No Uraian
1
Produksi kopi
2
Produksipisang
Penerimaanusahatani (Total Revenue)

Nilai
1.500 kg x Rp. 4.000
50 sisir

Jumlah (Rp)
Rp. 6.000.000
Rp. 125.000
Rp 6.125.000

4. Keuntungan Usahatani
No Uraian
1
Penerimaanusahatani (Total Revenue)
2
Biaya (Total Cost)
Keuntungan

Nilai
-

B/C

= / ( TFC+TVC )

B/C

= keuntungan (TFC+TVC)
= Rp 6.009.000/ Rp 116.000
= 51,8

64

Jumlah (Rp)
Rp. 6.125.000
Rp 116.000
Rp 6.009.000

Dari hasil analisis biaya yang diatas diketahui bahwa keuntungan dari usahatani yang
dilakukan oleh bapak Sumarno hanya untung sebesar Rp. Rp 6.009.000. Setelah dilakukan
perhitungan kelayakan usahatani menggunakan B/C Ratio nilai yang diperoleh adalah 51,8
hal ini menunjukkan bahwa usaha Bapak Tani Wibowo sangat layak karena B/C rasio>1
bahkan nilainya jauh lebih besar. Selain itu usaha dari beliau memenuhi keberlanjutan
pertanian dari segi ekonominya.
Berdasarkan wawancara dan observasi lapang serta peninjauan hasil pengamatan, kami
dapat menyimpulkan jika usahatani yang dilakukan oleh Bapak Tani Wibowo telah layak
secara keberlangsungan ekonomi.
Hasil perbandingan literatur menyatakan jika suatu sistem pertanian yang layak secara
ekonomi mempunyai pengembalian yang layak dalam investasi tenaga kerja dan biaya yang
terkait dan menjamin penghidupan yang layak bagi keluarga petani. Sistem ini minimal dapat
menyediakan makanan dan kebutuhan dasar yang lain bagi petani. Economically viable juga
berarti minimisasi biaya eksternalitas dari kegiatan usahatani. (Searca, 1995)
3.1.3.2. Ecologically sound (ramah lingkungan)
Dalam pertanian berlanjut terdapat indikator yang harus dipahami oleh semua
kalangan. Pertanian berlanjut merupakan pengelolaan dan konservasi sumber daya alam yang
menjamin pemenuhan kebutuhan manusia secara berkelanjutan. Pada sektor pertanian pada
khususnya harus mampu mengkonservasi tanah, air dan tanaman tanpa merusak lingkungan
sekitar sehingga lingkungan tetap terjaga.
Salah satu kriteria atau indikator pertanian berlanjut adalah dari segi ekologis /
lingkungan. Dalam sistem pertanian berlanjut hendaknya lebih mengutamakan keberlanjutan
lingkungannya atau ramah lingkungan. Sistem pertanian yang ramah lingkungan
diintegrasikan sedemikian rupa dalam sistem ekologi yang lebih luas dan fokus pada upaya
pelestarian dan peningkatan basis sumberdaya alamnya. Dengan demikian sistem pertanian
ramah lingkungan juga berorientasi pada keragaman hayati atau biodiversitas.
Hal ini juga dijelaskan oleh Reintjes dkk (1992) mengenai konsep pertanian berlanjut,
yang mencakup kriteria pertanian berlanjut secara ekologis yang berarti kualitas sumberdaya
alam dipertahankan dan kemampuan agroekosistem secara keseluruhan (manusia, tanaman,
hewan dan organisme tanah) ditingkatkan. Kedua hal ini akan terpenuhi jika tanah dikelola
dan kesehatan tanaman, hewan serta masyarakat dipertahankan melalui proses biologis
(selfregulating). Sumberdaya lokal dipergunakan sedemikian rupa sehingga kehilangan unsur
hara, biomassa dan energi bisa ditekan serendah mungkin serta mampu mencegah
pencemaran. Tekanannya adalah pada penggunaan sumberdaya yang bisa diperbarui.
65

Berdasarkan hasil wawancara di plot 4 yang telah kelompok kami lakukan pada salah
seorang petani setempat yaitu bapak Tani Wibowo memiliki lahan sewa yang ditanami
tanaman kubis seluas 400 m2 dengan tanaman sela yaitu tanaman tomat, dan lahan tegalan
milik sendiri seluas 500 m2 yang terdapat tanaman kopi, sengon, pisang dan kakao. Untuk
pengadaan bibit tanaman kubis dan tanaman tomat 100% beli dan untuk pupuk kandang
diperoleh dari hasil kotoran ternak yang dimiliki pak Tani Wibowo berupa sapi dan ayam.
Berdasarkan hasil wawancara dapat diketahui bahwa petani setempat masih
bergantung pada penggunaan input secara berlebihan pada lahan budidayanya di lahan sawah
namun pada lahan tegal milik pak Tani Wibowo tidak diberikan pupuk maupun pestisda.
Kualitas dan kemampuan agroekosistem yang terjadi di lingkungan landscape pada lahan pak
Tani Wibowo perlu ditingkatkan. Hal ini dikarenakan penyemprotan pestisida pada tanaman
kubis yang diusahakan pak Tani Wibowo meskipun tidak adanya hama yang menyerang pada
tanaman kubis. Dalam 1 bulan pak Tani Wibowo dapat melakukan penyemprotan sebanyak 4
kali. Selain pestisida pada budidaya yang Bapak Tani Wibowo jalankan juga terjadi
penambahan pupuk kimia yaitu urea atau ZA. Penggunaan pestisida dan pupuk buatan yang
semakin meningkat akan menyebabkan munculnya masalah-masalah lingkungan.
Pencemaran lingkungan terutama lingkungan pertanian disebabkan oleh penggunaan
bahan-bahan kimia pertanian. Telah dapat dibuktikan secara nyata bahwa bahan-bahan kimia
pertanian dalam hal ini pestisida, meningkatkan produksi pertanian dan membuat pertanian
lebih efisien dan ekonomi. Pencemaran oleh pestisida tidak saja pada lingkungan pertanian
tapi juga dapat membahayakan kehidupan manusia dan hewan dimana residu pestisida
terakumulasi pada produk-produk pertanian dan pada perairan. Pestisida yang paling banyak
menyebabkan kerusakan lingkungan dan mengancam kesehatan manusia adalah pestisida
sintetik (Said, 1994).
Pada awal musim tanam Bapak Tani Wibowo menambahkan pupuk kandang pada
lahan budidayanya. Pak Tani Wibowo memiliki ternak sapi 2 ekor dan ayam 12 ekor. Kotoran
ternak yang dimiliki pak Tani Wibowo digunakan untuk pupuk kandang. Pengelolaannya
dilakukan secara sederhana, yaitu kotoran ternak disisihkan kemudian dibiarkan selama 3
bulan kemudian kalau sudah halus atau lembut dapat diaplikasikan ke lahan. Pupuk kandang
yang diberikan pada tanah dapat menambah bahan organik bagi tanah sehingga mampu
memperbaiki sifat fisik, kimia dan biologi tanah.
Budidaya yang telah Bapak Tani Wibowo lakukan di lahan sawah dengan menanam
kubis dan ditanam tanaman tomat sebagai tanaman pinggir dan lahan tegal ditanami dengan
tanaman kopi, sengon, pisang, dan kakao. Tanaman yang ditanam bapak Tani Wibowo sudah
cukup beragam yaitu sudah ditanam lebih dari satu tanaman sehingga dapat disimpulkan
66

bahwa sistem pertanian lahan sawah yang diterapkan oleh Bapak Tani Wibowo belum
berlanjut. Hal ini dikarenakan, meskipun tanaman yang ditanam beragam, namun penggunaan
pupuk kimia dan pestisida yang diaplikasikan masih tinggi sehingga tidak ramah lingkungan.
Sedangkan dalam sistem pertanian yang berlanjut baik tanaman, pepohonan, tumbuhan perdu
lain dan hewan tidak hanya memiliki fungsi produktif tetapi juga memiliki fungsi ekologis,
seperti menghasilkan bahan organik, memompa unsur hara, membuat cadangan unsur hara
dalam tanah, melindungi tanaman secara alami dan mengendalikan erosi. Fungsi-fungsi ini
menunjang keberlangsungan dan stabilitas usahatani. Sehingga dapat disimpulkan bahwa
sistem pertanian yang diterapkan tidak berlanjut dari aspek ekologis/lingkungannya.
Pada plot 1, sistem pertanian yang dimiliki Bapak Prayat dari segi ekologi dapat
dikatakan sebagai sistem pertanian berkelanjutan di mana dalam prakteknya ramah
lingkungan dan agroekosistemnya termasuk dalam indikator pertanian berlanjut. Hal ini
dikarenakan dalam sistem pertanian pada desa tersebut, intesifikasi banyak menggunakan
bahan-bahan organik menggunakan pupuk kandang yang berasal dari kotoran binatang seperti
kambing dan sapi, serta pola tanam yang digunakan adalah pola tanam polikultur sehingga
terdapat keragaman hayati pada lahan pertanian. Akan tetapi petani pada desa tersebut masih
menggunakan pestisida dalam pengendalian hama da penyakit.
Pada plot 2, sistem pertanian yang dimiliki Bapak Sumarno dari segi ekologi dapat
dikatakan sebagai sistem pertanian berkelanjutan di mana dalam prakteknya ramah
lingkungan, tidak menimbulkan kerusakan dan mampu menciptakan agroekologi yang sehat.
Hal ini dikarenakan, Lahan perkebunan Bapak Sumarno memiliki keanekaragaman yang
tinggi, sehingga tingkat biodiversitasnya juga tinggi. Sedangkan lahan sawah yang dimiliki
beliau meskipun menggunakan sistem tanam monokultur tapi beliau sudah menerapkan
sistem rotasi tanaman yang mampu memutus siklus hidup hama dan beliau menggunakan
pestisida kimia hanya pada saat OPT diatas ambang ekonomi, serta beliau memanfaatkan
pupuk kandang dan mengurangi penggunaan pupuk anorganik.
Pada plot 3, sistem pertanian pada pos 3 ini dari segi ekologi dapat dikatakan sebaai
sistem pertanian yang tidak ramah lingkungan. Hal ini disebabkan penggunaan pestisida
untuk membasmi hama yang ada dilahan kubis. Petani juga menggunakan pupuk anorganik
untuk menunjang hasil produktivitasnya seperti pupuk urea,Za, sp36,kcl. Selain menggunakan
bahan kimia petani juga menggunakan bahan alami yaitu pupuk kandang.
Menurut, Salikin (2003), Aktivitaspertanian yang banyakmenggunakanbahankimia,
terbuktitelahmenimbulkanpencemaran,merusakekosistem,
dansangatmenganggukesehatanmanusia, sehinggaharusdigantidenganaktivitaspertanian yang
sedikitmungkinmenggunakanbahankimia.

Pertanianramahlingkungan
67

yang

biasajugadisebutpertanian

organic

merupakan

system

pertanian

yang

meminimalkanpenggunaanpupukanorganik.
3.1.3.3. Socially just (berkeadilan = menganut azas keadilan)
Dari hasil wawancara petani pada plot 1 petani di Desa Tulungrejo Ngantang
melakukannya secara bergotongroyong. Dari awal mengolah tanah, bibit, pupuk, mereka
melakukannya dengan kerjasama atau gotongroyong. Selain itu, masyarakat di desa ini
menciptakan suasana kekeluargaan dengan bergotong royong untuk membangun rumah ,dll.
Petani di Desa Tulungrejo Ngantang pada plot ke 1 terdapat kelompok tani, namun petani
yang kami wawancarai yaitu pak Yusman tidak mengikuti kelompok tani tersebut. Disana
juga terdapat koperasi desa, namun Pak Yusman tidak tergabung dalam koperasi tersebut
karena modal usahatani yang digunakan oleh pak Yusman merupakan modal sendiri.

Di

desa Tulungrejo terdapat tokoh masyarakat atau panutan dalam pengelolaan usahatani. Tokoh
panutan yang ada disana bernaman bapak Prayit dan Pak Talib. Panutan tersebut membantu
petani di desa tersebut dalam mengarahkan budidaya tanaman.
Wawancara pada plot 2 menghasilkan bahwa sosial masyarakat di Desa Tulungrejo
terwujud dalam Gotong royong untuk membersihkan desa yang sering dilakukan masyarakat
di sini. Setiap minggu para petani dan masyarakat sekitar bersama-sama untuk membersihkan
desanya. Hal ini dilakukan untuk menjaga lingkungan agar tetap bersih dan menjaga
kesehatan lingkungan. Selain itu para petani juga melakukan pertukaran info tentang harga
komoditas pertanian yang mereka tanam dengan sesama petani disana.
Pada plot 3 hasil wawancara yang dilakukan oleh petani disana yakni
Kebutuhandasarsebagaipengelolapertanian.
Kondisipenggunaanfungsilahandisanasesuaikarena

para

petanimenanamtanamansemusimdengankondisididaerahtersebutmemilikikelerengan

yang

landai

(tidakcuram)

sehinggacocokditanamitanamansemusim.Keanekaragamanhayatikurangbaikkarenadalamsatul
ahanterdapatsatumacamtanamanyaitukubissehinggakemungkinanterseranghamadan penyakit.
Tidakterjadinyapenjualanatautukarbenihkesesamamasyarakatpetanikarenapetanilangsungmenj
ualhasilproduksinyaketengkulak.Memilikikarakter
artinyasemuabentukkehidupanbaiktanaman,
Mereka

yang

humanistik

(manusiawi),

hewandanmanusiadihargaisecaraproporsional.

(masyarakatpetani)tidakhanyamemperhatikan

system

pertanian

berbasispadakeuntunganekonomitetapijugamemperhatikantentangkesehatanlingkungan.

68

yang

Pada plot 4 yang kami amati di desa Tulungrejo dapat diketahui bahwa lahan milik
Bapak Tani Wibowo dengan

luas lahan sawah 400m 2 ditanami tanaman kubis dengan

tanaman sela yaitu tomat. Selain memiliki lahan sawah, petani tersebut juga memiliki lahan
tegal seluas 500m2 dengan ditanami kopi. Lahan tegal seluas 500m2 tersebut statusnya milik
sendiri. dan lahan sawah dengan luasan 400m2 tersebut merupakan lahan sewa. Sedangkan
untuk kebutuhan bibit untuk lahan sawah dan lahan tegal didapat dari toko atau semua bibit
yang digunakan berasal dari toko. Sedangkan untuk modal petani tersebut berasal dari modal
sendiri.Di desa Tulungrejo tersebut terdapat kelembagaan yang mewadahi masyarakat di desa
tersebut dalam segi berusahatani. Kelembagaan yang terdapat di desa tersebut yaitu gapoktan
atau gabungan kelompok tani. Nama gapoktan tersebut adalah Rukun Makmur. Menurut
Bapak Tani Wibowo, dengan adanya kelembagaan di desa tersebut dapat berdampak positif
dalam usahatani yang dijalankan. Dampak positifnya yaitu sangat membantu dalam
berusahatani padi. Namun masyarakat di daerah tersebut tidak ada kegiatan-kegiatan
pertanian yang menciptakan keguyuban, kebersamaan, dan kerjasama.
Dari semua data wawancara yang didapat dari petani di setiap plot kehidupan sosial di
Desa Tulungrejo memiliki hubungan yang sangat erat dimana terdapat banyak kegiatan yang
dapat memper erat hubungan sosial antar anggota masyarakat yakni gotong royong dalam
membersihkan desa, menjaga lingkungan sekitar agar tetap bersih dan sehat. Selain itu
terdapat kelembagaan yang dapat menampung segala aspirasi dan kebutuhan para petani
seperti Gapoktan dan Koperasi desa sehingga informasi tentang harga pasar komoditas
pertanian didapatkan oleh petani dengn mudah. Dengan informasi tersebut petani dapat
memilih komoditas yang akan ditanam pada musim musim berikutnya.
3.1.3.4. Culturally acceptable (berakar pd budaya setempat)
Pada hasil wawancara dengan petani pada plot 1 yang di amati, petani yang berada
disana masih mempercayai adat istiadat yang ditinggalkan oleh nenek moyang mereka yaitu
dengan mengadakan acara selametan pada saat panen kopi akan tiba. Upacara selametan ini
biasanya dilakukan pada bulan ke 7 atau bulan ke 8 dikarenakan pada bulan tersebut adalah
menjelang waktu panen. Menurut kepercayaan masyarakat setempat selametan yang
dilakukan sebagai bentuk rasa syukur akan hasil panen yang melimpah . Pranoto mongso
(menggunakan tanda-tanda alam untuk melakukan aktivitas pertanian), berdasarkan petani
diplot 1 pranoto mongso yang terjadi didesa tulung rejo adalah pada bulan 4 dan 5 terjadi
serangan penyakit Bonupas pada tanaman sayur, pada bulan 3 dan 4 terjadi serangan penyakit
kresek pada tanaman padi ini disebabkan karena pada musim tersebut terjadi musim yang
tidak menentu yaitu musim hujan yang terus menerus. Ketika terjadi pranoto mongso petani
69

didesa Tulungrejo. Jika serangan OPT sudah melebihi batas petani menggunakan pestisida
kimia untuk mengatasi penyakit yang menyerang contohnya Antracol. Petani disana
menggunakan bahan-bahan alami untuk menanggulangi terjadinya hama dan penyakit pada
tanaman kopi. Bahan bahan alami yang digunakan untuk menanggulangi hama penyakit
tanaman kopi yaitu berasal menggunakan bahan-bahan alami yang diracik sendiri yaitu
mengunakan ubi Gadung yang diparut diambil sarinya dicampur dengan rebusan air Bambu
apus dan dicampur dengan daun Mindi biasanya digunakan sebagai insektisida nabati (alami).
Selain itu juga digunakan pupuk alami yang berasal dari kotoran hewan (pupuk kandang).
Pemberian pupuk kandang ini sekitar 50%,dan sebagian menggunakan pupuk kimia
( Urea,ZA,TSP).
Hasil wawancara plot 2 Tradisi yang dilakukan sekitar pertanian di Desa Tulungrejo
yang mengusung tradisi yang turun menurun yaitu adanya syukuran, bersih desa, berdoa atau
meminta permintaan ke sebuah pure, dan membersihkan pure tersebut. Syukuran yang
dilakukan pertanian pada saat panen. Jika ada panen besar-besaran maka para petani
dikumpulkan menjadi satu untuk melakukan syukuran. Syukuran yang dilakukan biasanya
dengan cara makan-makan bersama masyarakat. Bersih desa yang dilakukan setiap 1 syawal.
Jadi, para petani sudah terjadwal untuk bersih-bersih desa dengan cara gotong royong agar
desa terlihat bersih dan lingkungannya juga tercipta asri dan lestari. Berdoa atau meminta
permintaan ke punden merupakan perlakuan petani yang dianggap orang-orang yang
mempercayai punden. Punden tersebut sudah ada ketika nenek moyangnya ada di dunia. Akan
tetapi, seperti biasa punden dikatakan tempat yang mistik. Nenek moyang pernah mengatakan
segala permintaan kita jika berdoa di pure maka akan terkabul. Dalam posisi zaman yang
sudah modern kebanyakan petani sudah berfikir lebih maju maka hanya sebagian yang
mendatangi pure tersebut. Biasanya petani yang datang kesana agar tanaman yang petani
budidayakan dapat meningkat baik dalam produksi dan pemasarnnya. Selain berdoa dan
meminta permohonan di pure ini, masyarakat yang mempercayai akan pure juga sering
membersih-bersih pure dan sekitarnya. Dari zaman nenek moyang hal ini sering dilakukan
agar menghormati dan menjaga kenyamanan pure tersebut.
Wawancara yang dilakukan pada plot 3 menghasilkan data bahwa Selaras atau sesuai
dengan sistem budaya yang berlakuKarena masyarakat memiliki sifat kebersamaan,
keguyuban, dan kerja sama yang tinggi mereka menganut pada sistem budaya yang ada
seperti kegiatan sedekah bumi yang dilakukan setahun sekali, pranoto mongso, dan lain
sebagainya sehingga mereka tidak menetapkan sendiri peraturan-peraturan untuk mereka, hal
ini diperkuat dengan adanya sosialisasi dari pemerintah setempat. Hubungan serta institusi
70

yang ada mampu menggabungkan nilai-nilai dasar kemanusiaan seperti kepercayaan,


kejujuran, harga diri, kerjasama dan rasa kasih sayang. Adanya hubungan serta institusi yang
ada yaitu sebuah kelompok taniGAPOKTAN dengan nama Rukun Makmur. Tujuan dilakukan
kegiatan tersebut yaitu sebagai sumber pendanaan simpan pinjam seperti koperasi, sebagai
ruang berkomunikasi, berinteraksi, dan tempat penyuluhan untuk berdiskusi antar masyarakat
petani. Kegiatan ini berjalan cukup lancar karena masyarakat petani disana ikut serta aktif
dalam kegiatan GAPOKTAN Rukun Makmur. Fleksibel atau luwes, yang berarti bahwa
masyarakat pedesaan mampu menyesuaikan diri dengan perubahan kondisi usahatani yang
berlangsung terus. Masyarakat setempat memang mampu menyesuaikan diri dengan kondisi
usahatani yang terus berlangsung, dapat dilihat dari cara pola tanam mereka dalam merotasi
komoditas di lahan pertanian mereka pada waktu tertentu, sehingga mampu mencegah
degradasi pada lahan pertanian dan dapat mencegah menurunnya produktivitas yang
dihasilkan. Dapat dilihat juga dari banyaknya petani yang memiliki ternak sebagai pekerjaan
sambilan untuk mengantisipasi kondisi usahatani yang tidak menentu.
Hasil wawancara plot 4 Masyarakat di desa Tulungrejo masih mempercayai kearifan
lokal. Seperti pada saat wiwit tandur atau mulai tanam padi, masyarakat memberikan sesajen.
Selain itu masyarakat juga masih menggunakan pranoto mongso. Pada saat rumput alangalang bunganya mekar menandakan bahwa akan datangnya musim kemarau. Sedangkan pada
saat rumput alang-alang sedang bersemi menandakan musim hujan. Hal tersebut sangat
berdampak dalam menentukan tanaman yang akan dibudidayakan dalam usahatani
masyarakat di desa tersebut.Untuk pemanfaatan bahan alami sebagai pupuk, masyarakat
memanfaatkan pupuk yang berasal dari kotoran hewan. Pupuk ini secara ekonomi dan
lingkungan sangat menguntungkan. Dilihat dari aspek ekonomi masyarakat tidak terbebani
oleh harga pupuk. Karena lebih murah daripada pupuk kimia. Untuk mengendalikan hama
maupun penyakit petani terkadang memanfaatkan bahan alami yang berasal dari daun
tanaman sekitar seperti daun pandan dan sereh.Di Desa Tulungrejo juga memiliki tempat
tertentu yang secara adat atau kesepakatan masyarakat dilindungi yakni Punden yang
merupakan makam orang yang pertama kali membangun desa setempat, biasanya setiap satu
tahun sekali dilakukan pembersihan di punden dan diberi sesajen atau selamatan desa, pohon
yang ada di punden tersebut dilarang untuk ditebang
Dari beberapa hasil wawancara yang dilakukan pada semua plot dapat diketahui
bahwa kepercayaan masyarakat Desa Tulungrejo mempengaruhi sistem tanam petani disana
sesuai dengan musim berikutnya, selain itu terdapat tempat yang dari dulu sampai sekarang
tidak boleh ditebang tanamannya yakni punden yang menjadi tempat yang keramat makam
71

dari pendiri desa sekitar sehingga tempat tersebut dapat menjadi sumber biodiversitas yang
tinggi dan masih alami di Desa Tulungrejo. Oleh karena itu tempat tersebut dapat mambantu
ekosistem bagi pertanian masyarakat Desa Tulungrejo
3.2. Pembahasan Umum
3.2.1. Keberlanjutan Sistem Pertanian di Lokasi Pengamatan
Indikator

Plot 1

Plot2

Plot 3

Plot 4

Keberhasilan
Produksi
vvvv
vvv
vvv
vv
Air
v
v
v
v
Karbon
vvvv
vvv
v
v
Hama
vv
vvvv
v
vvv
Gulma
vv
vvv
v
vv
Note : v= kurang, vv= sedang, vvv= baik, vvvv= sangat baik
Plot 1= Perkebunan Pinus, Plot 2= Agroforestry, Plot 3 = tanaman
semusim, Plot 4= Permukiman
a. Indikator produksi
Dari indikator produksi nilai yang didapat dari plot 1 sampai dengan plot 4 dengan
perbedaan penggunaan lahannya hutan pinus, agroforestri tanaman semusim dan pemukiman
warga menghasilkan data yang berbeda-beda. Produksi sangat baik berada pada plot 1 dengan
penggunaan lahan hutan hal ini dikarenakan ekosistem di hutan pinus masih cenderung alami
dengan cara pengambilan produksi dalam bentuk getah pinus masih melalui cara sederhana.
Selanjutnya produksi pada penggunaan lahan agroforestri dan tanaman semusim masuk dalam
kategori baik hal ini dikarenakan kedua penggunaan lahan ini memang untuk produksi
berbagai bahan dari tanaman tahunan (contoh kopi) dan musiman (kubis). Dan yang
mendapatkan hasil produksi terendah berada pada plot 4 yang terletak di pemukiman warga
hal ini diindikasikan karena lahan berada di dekat aktivitas manusia yang menyebabkan
terjadi penurunan kualitas lahan.
Pengaruh kuantitas produksi lahan ini selain dipengaruhi kondisi penggunaan lahan
juga keberadaan interaksi ekosistem yang berinteraksi di dalamnya. Menurut produksi pada
lahan harus seimbang dengan konsumsi pada suatu tingkat berkelanjutan baik dari segi
produksi atau ekologinya. (Reijntjes. 1999)
b. Indikator Air
Hasil data dari pengamatan kualitas air meliputi suhu, pH dan oksigen terlarut dalam air,
suhu yang diukur dari plot 1 sampai plot 4 dengan hasil pengukuran suhu paling rendah
72

adalah plot 1 dan diikuti plot yang lain hal ini mempengaruhi jumlah tumbuhan dan organism
dalam air. Semakin panas suhu air maka jumlah organism yang dapat hidup semakin sedikit,
suhu pada plot satu dikarenakan didominasi tanaman tahunan dengan pengolahan yang tidak
intensif. Namun suhu tersebut juga belum dapat memenuhi syarat hidup untuk
mikroorganisme tanah karena masih cukup panas. Menurut Nybakken (1988) kaidah umum
menyebutkan bahwa reaksi kimia dan biologi air (proses fisiologis) akan meningkat 2 kali
lipat pada kenaikan temperatur 100 C, selain itu suhu juga berpengaruh terhadap penyebaran
dan komposisi organisme. Kisaran suhu yang baik bagi kehidupan organisme perairan adalah
antara 18-300C.
Untuk pH data yang netral adalah plot satu dengan penggunaan lahan hutan pinus dan
plot yang lain memiliki pH diatas 7 yang maish termasuk dalam pH optimum di dalam air.
Indikator pH ini menentukan keberadaan organisme di dalam air apabila pH terlalu masam
maka jumlah organisme akan semakin sedikit juga. Untu pHstandar yang dibutuhkan untuk
hidup adalah. Kisaran pH optimum di dalam air yang memiliki manfaat untuk tumbuhan dan
tanaman adalah 6,5-8,2.(Tim Penyusun, 2013)Kadar oksigen terlarut yang paling baik berada
pada pengukuran plot 1 di hutan dengan pengaruh ke kualitas airnya. Namun dalam
kenyataannya kondisi oksigen terlarut ini masih di bawah standar yang harus dimiliki.
Kisaran minimal oksigen terlarut dalam air adalah 3 mg/liter dibawah angka tersebut masuk
dalam kelas IV yang kurang memenuhi syarat oksigen terlarut.(Tim Penyusun, 2013)
c. Indikator Karbon
Dari pengamatan cadangan karbon yang paling banyak dan sangat baik terdapat pada plot
1 dengan penggunaan lahan hutan pinus. Hal ini dikarenakan jumlah tanaman pohon yang
lebih banyak dibandingkan plot lainnya. Kemampuan tanaman pohon untuk menyerap karbon
lebih besar dari pada tanaman bawah. Indicator baik berikutnya dipenuhi agroforestri
dikarenakan pada penggunaan lahan ini masih terdapat pohon tahunan yang dapat menyerap
karbon. Berbeda dengan tanaman semusim dan lahan yang letaknya di dekat pemukiman
sedkit sekali menyerap karbon dan bahkan menambah emisi karbon dari aktivitasnya.
Menurut Munasinghe (1993) cadangan karbon banyak terdapat pada tanaman berkayu karena
pada batang tanaman berkayu itulah cadangan karbon banyak disimpan. Jadi dari data plot 1
sampai 4 dapat disimpulkan bahwa dari indikator keberhasilan karbon pada plot 1 sangat baik,
plot 2 baik, plot 3 kurang baik, dan plot 4 kurang baik.
d. Indikator Hama
Dari hasil data yang diperoleh dan sudah dibahas sebelumnya, menunjukkan bahwa
skema yang paling berlanjut adalah skema agroforestri. Pertimbangan dalam skema
73

agroforestri adalah tidak hanya melihat dari segi lingkungannya saja, tetapi kebutuhan akan
masyarakat untuk mencukupi kebutuhan hidup menjadi faktor dalam penentuan kondisi
lingkungan tersebut berlanjut apa tidak. Adapun kondisi keberlanjutan di lahan agroforestri ini
disebabkan karena terdapat beranekaragam tanaman tahinan dan semusim yang ditanam
bersama sehingga mampu meningkatkan biodiversitas baik di dalam maupun diatas
permukaan tanah. Sehingga dapat dikatakan dari hasil data yang sudah ada di bahas jumlah
hama, musuh alami dan serangga lain seinmbang dalam satu agroekosistem dan tidak ada
adanya dominasi salah satu dari hama, musuh alami dan serangga lain yang ada di plot
tersebut. Adapun pernyataan yang mendukung adanya sistem agroforestri memang berlanjut
bahwa menurut Munasinghe (1993) banyak sedikitnya jumlah hama tergantung pada
keragaman biodiversitas tanaman. Dapat dikatan semakin beragam biodiversitas yang ada di
lahan agroforestri maka jumlah serangga yang hidup di lahan tersebut juga akan semakin
beragam sehingga kemungkinan terjadinya dominasi sangatlah rendah karena secara alami
hama akan ditekan oleh keberadaan musuh alami.
e. Indikator Gulma
Pengamatan terakhir adalah gulma yang mengindikasikan tingginya biodiversitas
diatas tanah, penggunaan lahan yang paling banyak jumlah gulmanya adalah pada plot 2
agroforestri. Lahan agroforestri keberadaan gulma tidak begitu mengganggu dikarenakan
tanaman dominan tanaman tahunan yang dikombinasikan dengan beberapa tanaman. Selain
itu pada lahan agroforestri semakin banyak jenis gulma dapat menambah tingkat biodiversitas
lahan apabila gulma dikelola dengan baik. Penyinaran matahari juga dapat masuk secara
sempurna dan menghasilkan unsure yang lebih banyak untuk tanaman. Maksud dikelola
dengan baik ini adalah gulma diolah sebagai pupuk kompos yang dapat dikembalikan ke
tanah, khususnya gulma yang dapat menambat unsur-unsur. Sistem pengelolaan budidaya
rumput intensif yang baru adalah dengan memberikan tempat bagi binatang ternak di luar
areal pertanian pokok yang ditanami rumput berkualitas tinggi, dan secara tidak langsung
dapat menurunkan biaya pemberian pakan. (Sudirja. 2009). Dari kelima indikator yang
terdapat pada tabel bahwa plot yang mendapatkan nilai baik untuk keberlanjutannya adalah
penggunaan lahan agroforestri dengan sistem penanaman beberapa tanaman campuran dengan
kombinasi penyinaran matahari lebih maksimal.

74

BAB IV.
PENUTUP
4.1 Kesimpulan
Pertanian berkelanjutan merupakan upaya pemanfaatan sumber daya yang
dapat diperbaharui dan sumberdaya tidak dapat diperbaharui untuk proses produksi
pertanian dengan menekan dampak negatif terhadap lingkungan seminimal mungkin.
Indikator keberlanjutan yang dimaksud dengan menggunakan beberapa metode antara
lain : Pemahaman Karakteristik Lansekap, Pengukuran kualitas air,

pengukuran

biodiversitas (aspek agronomi, aspek hama penyakit), pendugaan cadangan karbon,


serta identifikasi keberlanjutan lahan dari aspek sosial ekonomi.
Kelompok kami melakukan observasi lapang untuk menduga karakteristik
pertanian berlanjut yang dilaksanakan di Desa Tulungrejo, Kecamatan Ngantang,
Batu. Daerah Ngantang terletak pada Daerah Aliran Sungai (DAS) Kali Konto yang
merupakan salah satu daerah hulu dari sungai Brantas. Lokasi pengamatan terletak
pada sub-sub DAS Sayang. Dalam observasi lapang tersebut kami mengamati 4 stop
yaitu hutan, agroforestry, tanaman semusim dan tanaman semusim serta pemukiman.
Penggunaan lahan di Desa Tulungrejo yaitu hutan , agroforestri, tanaman
semusim dan tanaman semusim + pemukiman. Tanaman yang terdapat di stop 2
(agroforestri) antara lain sengon, pisang, kopi, talas, jahe, lamtoro dan bambu. Pada
stop 3 (tanaman semusim) terdapat

beberapa tanaman antara lain kubis, rumput

gajah , kelapa, kacang panjang, rumput liar dan pisang sedangkan pada stop 4
(tanaman semusim + pemukiman ) terdapat pisang, sawi, cabai, dan rumput gajah.
Masing-masing stop memiliki kerapatan spesises yang berbeda-beda yaitu tinggi,
sedang dan rendah.
Pengamatan indikator pertanian berlanjut dari aspek biofisik yaitu berdasarkan
kualitas air dari plot 1 sampai plot 4 termasuk dalam mutu air kelas IV, yaitu air yang
dapat diperuntukkanmengairi pertanaman dan atau peruntukan lainnya yang
mempersyaratkan mutu air yang sama dengan kegunaan tersebut. Hal ini dapat
dikarenakan dengan pengolahan lahan yang terlalu intensif dan tanaman yang
dibudidayakan kurang mendukung dalam menyerap air.
Indikator pertanian berlanjut lainnya dapat dilihat dari biodiversitas
tanaman pada plot 1 biodiversitas lahan hutan sedangkan pada plot 2 merupakan
lahan agroforestry. Sedangkan di plot 3 merupakan lahan semusim dengan
komoditas kubis dan pada plot 4 merupakan lahan semusim dekat dengan pemukiman.
Berdasarkan pengamatan biodiversitas gulma yang ada disana yaitu pada lokasi 1 dan
75

3 kelebatan gulmanya lebat (>50%), pada lokasi 2 gulma Jarang(<25%) dan pada
lokasi 1 dan lokasi 3 kelebatan gulmanya lebat (>50). Gulma gulma yang terdapat
pada lokasi 1 (kelebatan gulmanya lebat

>50%) adalah rumput teki (Cyperus

rotundus), babandotan (Ageratum conyzoides) dan rumput gajah (Pennisetum


purpureum). Gulma pada lokasi 2 (kelebatan gulmanya Agak gulma Jarang(<25%) ini
antara lain yaitu Rumput teki (Cyperus rotundus), Rumput Teki lading(Cyperus
kylinga) dan rumput gajah (Pennisetum purpureum).
Indikator keberlanjutan dapat juga diamati melalui biodiversitas hama
penyakit. Pada plot 1 di dapat data jika jumlah populasi serangga lain dan jika
kondisi ini memungkinkan bagi musuh alami untuk mengendalikan populasi hama.
Sedangkan pada plot 2 menunjukkan sedikitnya populasi hama dan jika kondisi ini
memungkinkan bagi musuh alami untuk mengendalikan populasi hama. Dari
pengamatan plot 3 menunjukkan sedikitnya populasi musuh alami dan serangga lain.
Dan pada plot 4 menunjukkan kelangkaan populasi hama populasi musuh alami
melimpah.
Berdasarkan data perhitungan cadangan karbon pada plot 1 menunjukkan
pada sistem pertanaman hutan produksi terdapat pertanaman pinus dengan kandungan
c-stoktinggi sedangkan pada plot 2 kopi, durian, pisang dan rumput gajahkandungan
c-stok rendah akan tetapi masih termasuk berkelanjutan. Sedangkan pada plot 3 dan
plot 4 yang diamati belum termasuk dalam kategori berlanjut karena pertanaman yang
mempunyai kandungan c-stok rendah. Perlu adanya peningkatan diversitas dan
kerapatan pohon penaungan sebagai penyerap karbon. Pengamatan cadangan karbon
yang paling banyak dan sangat baik terdapat pada plot 1 dengan penggunaan lahan
hutan pinus
Selain dari aspek kelayakan lingkungan, indikator pertanian berlanjut juga
dilihat dari aspek sosial dan ekonomi yaitu economically viable, ecologically
sound, dan socially just serta culturally acceptable. Nilai produksi yang didapat dari
plot 1 sampai dengan plot 4 dengan penggunaan lahannya hutan pinus, agroforestri
tanaman semusim dan pemukiman warga menghasilkan data yang berbeda-beda.
Produksi paling baik berada pada plot 1 dengan penggunaan lahan hutan hal ini
dikarenakan ekosistem di hutan pinus masih cenderung alami. Sedangkan produksi
pada penggunaan lahan agroforestri dan tanaman semusim masuk dalam kategori baik.
Kemudian hasil produksi terendah berada pada plot 4 yang terletak di pemukiman
warga hal ini diindikasikan karena lahan berada di dekat aktivitas manusia yang
menyebabkan terjadi penurunan kualitas lahan.
76

Jadi berdasarkan pengamatan dari keseluruhan plot maka kami mendapat


kesimpulan jika plot yang mendukung keberlanjutan secara aspek budidaya, hama
penyakit, tanah serta sosial ekonomi adalah plot 2 agroforestri. Sedangkan pada plot 1
yaitu hutan keberlanjutan hanya di dukung oleh aspek tanah. Kemudian pada plot 3
semusim dan plot 4 semusim dan pemukiman keberlanjutan pertanian hanya di
dukung oleh aspek sosial dan ekonomi saja, untuk ketiga aspek lainnya termasuk
dalam kategori rendah hingga sedang. Jadi, apabila mengoptimalkan kemampuan
suatu

plot

untuk

dijadikan

pertanian

berlanjut

maka

kelompok

kami

merekomendasikan untuk dilakukan sistem pertanaman seperti halnya dengan plot 2


yaitu agroforestry.
4.2 Saran
Untuk mewujudkan sistem pertanian berlanjut yang layak secara ekonomi dan
ramah lingkungan. Maka disusahakan upaya pengelolaannya diarahkan pada upaya
menjaga kondisi biofisik yang bagus yaitu dengan pemanfaatan biodiversitas tanaman
pertanian untuk mempertahankan keberadaan polinator dan musuh alami serta untuk
pengendalian gulma, pengendalian hama dan penyakit dan mengupayakan kondisi
hidrologi (kuantitas dan kualitas air) menjadi baik serta mengurangi emisi karbon.
Selain itu menciptakan komposisi yang sesuai dengan kondisi bentang alam dan
sebarannya yang beragam tergantung pada beberapa faktor antara lain iklim, topografi,
jenis tanah, vegetasi dan kebiasaan serta adat istiadat masyarakat yang ada
disekelilingnya.

77

DAFTAR PUSTAKA
Alaert, G. dan Santika, S.S. 1987.Metode Penelitian Air. Penerbit Usaha Nasional.
Surabaya
Cobb, A., 1992. Herbicides and Plant Physiology. London.: Chapman and Hall.
Hairiah, widianto, suprayogi dan Sardjono, 2003. Fungsi dan Peran Agroforestri (online)
http://worldagroforestry.org/sea/publications/Files/lecturenote/LN0003-04.PDF
Diakses pada tanggal 24 Desember 2013
Hermanu, triwidodo. 2003. Analisis Agroekosistem. Makalah pada Lokakarya Biodiversitas.
IPB Bogor
Hofer, T. 2003. Sustainable Use and Management of Freshwater Resources : The Role of
Forest. State of The Worlds Forest. Part II: Selected Current Issues in The Forest
Sector. FAO Forestry Department.
Munasinahe, M. 1993. Environmental Economics and Sustainable Development. Environment
Paper No.3. The World Bank, Washington, D.C.
Nybakken J.W. (1988) Biologi laut: Suatu pendekatan ekologis. Terj. dari Marine biology: An
ecological approach, oleh Eidman M., Koesoebiono, Bengen D.G., Hutomo M. &
SukardjoS., xv + 459 hlm. PT Gramedia, Jakarta.
Reijntjes, Coen; Haverkort, Bertus dan Waters-Bayer, Ann. 1999. Pertanian Masa Depan.
Kanisius. Edisi Indonesia
Reintjes, Coen, Bertus Haverkort dan Ann Waters-Bayer. 1992. Pertanian Masa Depan
Pengantar untuk Pertanian Berkelanjutan dengan Input Luar Rendah.
Said, E.G., 1994. Dampak Negatif Pestisida, Sebuah Catatan bagi Kita Semua. Agrotek, Vol.
2(1). IPB, Bogor, hal 71-72.
Sastroutomo, S.S., 1990. Ekologi Gulma. PT. Gramedia Pustaka Utama, Jakarta . 217 p
Soerjani, M. and P. Motooka, 1988. Integrated Approaches in Weed Control. Workshop on
Res. Meth. in Weed Science. Bandung.
Sudirja. Rija 2009. http://pustaka.unpad.ac.id/wp-content/uploads/2009/03/ pembangunan
_pertanian_berkelanjutan_berbasis_sistem_pertanian_organik.pdf
Supangat, A.B. dan Paimin. 2007. Kajian Peran Waduk Sebagai Pengendali Kualitas Air
Secara Alami. Jurnal Geografi Universitas Geografi Surakarta 21 (2) : 123-134.
Surakarta.
Suriawiria, Unus. 2003. Air dalam Kehidupan dan Lingkungan yang Sehat. PenerbitAlumni.
Bandung
78

Tafangenyasha, C. and T. Dzinomwa. 2005. Land-use Impacts on River Water Quality in


Lowveld Sand River Systems in South-East Zimbabwe. Land Use and Water
Resources Research 5 : 3.1-3.10.http://www.luwrr.com
Tim Penyusun. 2013. Panduan Fieldtrip Pertanian Berlanjut. Fakultas Pertanian Universitas
Brawijaya. Malang
Wiwoho, 2005, Model Identifikasi Daya Tampung Beban Cemaran Sungai Dengan QUAL2E.
Tesis. Universitas Diponegoro. Semarang
Y. Sukoco, SS, (terj.). Yogyakarta: Penerbit Kanisius.

79

LAMPIRAN
1. Sketsa Penggunaan Lahan di Lokasi Pengamatan
- Plot 1

80

Plot 2

Plot 3

Plot 4

81

2. Sketsa Transek
- Plot 1

Plot 2

82

Plot 3

Plot 4

83

84

3. Lampiran gambar pengamatan hama


PLOT 1 (HUTAN)
Lokasi
Pengambil
an sampel

Nama lokal

Nama
Ilmiah

Belalang
coklat

Gambar
Literatur

Jumla
h

Fungsi
(H,MA,SA)

Valanga Nigricornis

13

Hama

Laba- laba

Araneus diadematus

12

Musuh Alami

Lalat

Musca domestica

Serangga
Lain

Nyamuk

Culex pipiens

Serngga Lain

Kupu- kupu

Ornithoptera sp.

Serangga
Lain

Semut Hitam

Dolichoderus
thoracicus

Serangga
Lain

Ulat Jengkal

Chrysodeixis
chalcites

Hama

Kumbang
kubah spot M

Menocillus
sexmaculatus

Musuh Alami

Hutan
Alami

85

PLOT 2 (AGROFORESTRI)
Lokasi
Pengambilan Nama Lokal Nama Ilmiah
Sampel

Gambar
Literatur

Jumlah

Fungsi
(H, MA, SA)

Semut merah

Oecophylla
smaragdina

Serangga lain
(dekomposer)

Nyamuk

Culex pipiens

Serangga lain

Kupu-kupu
putih

Ornithoptera
sp.

Polinator

Laba-laba

Araneus
diadematus

Musuh Alami

Belalang
kayu

Valanga
nigricornis

Hama

Belalang
hijau

Oxya
chinensis

Hama

Agroforestri

PLOT 3 (TANAMAN SEMUSIM)


Lokasi
pengambilan
Nama lokal Nama Ilmiah
sampel
Tanaman
Semusim

Belalang
hijau

Oxya
chinensis

Belalang
coklat

Valanga
nigricornis

Gambar
Literatur

86

Jumlah

Fungsi
(H, MA, SA)

24

13

Kepik

Helopeltis
spp.

15

MA

Jangkrik

Gryllus
assimilis

Tawon

Apis indica

MA

Ulat daun

Plutella
xylostella

Laba-laba

Lycosa sp.

MA

Kupu-kupu
psyche

Leptosia nina

MA

Lalat rumah

Musca
domestica
Linn.

SL

Jumlah

Fungsi
(H,MA,SA)

PLOT 4 (TANAMAN SEMUSIM + PEMUKIMAN)


Lokasi
Gambar
Pengambilan Nama lokal Nama ilmiah
Literatur
sampel
Plot 4

Belalang
kayu

Valanga
nigricornis

Hama

Plot 4

Lalat rumah

Musca
domestica

Serangga lain

87

Plot 4

Belalang
hijau

Oxya chinensis

Hama

Plot 4

Belalang
sembah

Stagmomantis
carolina

Musuh alami

Plot 4

Kumbang
kubah spot
M

Menochilus
sexmaculatus

Musuh alami

Plot 4

Semut
rangrang

Oecophylla
smaragdina

50

Musuh alami

88