Anda di halaman 1dari 5

SIKLUS KARBON

Deasy Rosyida Rahmayunita


3513100016
Geofisika A

SIKLUS KARBON
Konsentrasi karbondioksida (CO2) di atmosfer cenderung meningkat dari tahun ke
tahun sejalan dengan meningkatnya budidaya pertanian dan industri global. Walaupun lautan
dan proses alam lainnya mampu mengurangi karbondioksida di atmosfer, aktifitas manusia
yang melepaskan karbondioksida ke udara jauh lebih cepat dari kemampuan alam untuk
menguranginya. Menurut JANZEN (2004) bahwa karbon dapat diambil dan dikembalikan ke
atmosfer melalui beberapa cara.

Pengikatan karbon dari atmosfer :


1. Ketika matahari bersinar, tumbuhan melakukan fotosintesis untuk mengubah
karbon dioksida menjadi karbohidrat dan melepaskan oksigen ke atmosfer. Proses
ini akan lebih banyak menyerap karbon pada hutan dengan tumbuhan yang baru
saja tumbuh atau hutan yang sedang mengalami pertumbuhan yang cepat.
2. Permukaan laut di daerah kutub memiliki temperatur yang lebih rendah yang
memungkinkan CO2 lebih mudah larut. Selanjutnya CO2 yang larut tersebut akan
terbawa oleh sirkulasi termohalin yang membawa massa air di permukaan yang
lebih berat ke lapisan air yang lebih dalam.
3. Di lapisan air dekat permukaan (uper ocean), pada daerah dengan produktivitas
yang tinggi, organisme membentuk jaringan yang mengandung karbon dan
beberapa organisme juga membentuk cangkang karbonat dan bagian-bagian
tubuh lainnya yang keras. Proses ini akan menyebabkan aliran karbon ke lapisan
air yang lebih dalam.
4. Pelapukan batuan silikat. Proses ini tidak memindahkan karbon ke dalam
reservoir yang siap untuk kembali ke atmosfer. Pelapukan batuan karbonat tidak
memiliki efek netto terhadap CO2 atmosferik karena ion bikarbonat yang
terbentuk terbawa ke laut dimana selanjutnya dipakai untuk membuat karbonat
laut dengan reaksi yang sebaliknya (reverse reaction).

Pengembalian karbon ke atmosfer:


1. Melalui pernafasan (respirasi) pada tumbuhan dan hewan. Hal ini merupakan
reaksi eksotermik dan termasuk juga di dalamnya penguraian glukosa (atau
molekul organik lainnya) menjadi karbon dioksida dan air.
2. Melalui pembusukan hewan dan tumbuhan. Fungi atau jamur dan bakteri
mengurai senyawa karbon pada hewan dan tumbuhan yang mati dan mengubah
karbon menjadi karbon dioksida jika tersedia oksigen, atau menjadi metana jika
tidak tersedia oksigen.
3. Melalui pembakaran material organik yang mengoksidasi karbon yang
terkandung menghasilkan karbon dioksida (juga yang lainnya seperti asap) hasil
pembakaran bahan bakar fosil seperti batu bara, produk dari industri perminyakan
(petroleum), dan gas alam.
4. Produksi semen. Salah satu komponennya, yaitu kapur atau gamping atau kalsium
oksida, dihasilkan dengan cara memanaskan batu kapur atau batu gamping yang
akan menghasilkan juga karbon dioksida dalam jumlah yang banyak.

5. Di permukaan laut yang lebih hangat, karbon dioksida terlarut dilepas kembali ke
atmosfer.
6. Erupsi vulkanik atau ledakan gunung berapi akan melepaskan gas ke atmosfer.
Gas-gas tersebut termasuk uap air, karbon dioksida, dan belerang. Jumlah karbon
dioksida yang dilepas ke atmosfer secara kasar hampir sama dengan jumlah
karbon dioksida yanghilang dari atmosfer akibat pelapukan silikat.
Siklus karbon sendiri dibagi menjadi dua macam, yaitu siklu karbon global dan siklus
karbon di samudera.
1. Siklus karbon global
Panah yang tebal menunjukkan fluks yang paling utama dari titik

keseimbangan CO2 di atmosfer yaitu produksi primer kotor dan respirasi oleh biosfer
daratan, dan pertukaran fisik antara atmosfer dan laut. Perubahan yang terus menerus
ini kira-kira seimbang setiap tahun, tetapi ketidakseimbangannya dapat
mempengaruhi konsentrasi CO2 atmosfer secara signifikan dari tahun ke tahun. Panah
yang tipis menandakan fluks alami tambahan (bentuk yang terlarut untuk fluks karbon
sebagai CaCO3) yang cukup penting pada skala waktu yang lebih panjang. Fluks 0,4
PgC/th dari CO2 atmosfer melalui tumbuh-tumbuhan ke karbon tanah kira-kira
seimbang pada skala waktu beberapa millenium oleh ekspor organik karbon terlarut
(DOC) di sungai.. Di samudera, DOC dari sungai berespirasi dan dilepaskan kembali
ke atmosfer, sedangkan produksi CaCO3 oleh organisme laut mengakibatkan separuh
DIC dari sungai kembali ke atmosfer dan setengahnya lagi mengendap dalam sedimen
dasar laut yang merupakan awal pembentukan batu karang karbonat. Gambar 1 juga
menunjukkan proses dengan skala waktu yang lebih panjang yaitu penguburan
material organik sebagai fosil karbon organik (termasuk bahan bakar fosil), dan luaran
gas CO2 sampai pada proses tektonis (vulcanism).
Pembakaran bahan bakar fosil dan perubahan penggunaan lahan menjadi
proses antropogenik utama yang melepaskan CO2 ke atmosfer. Hanya sebagian dari

CO2 ini yang tinggal di atmosfer, sisanya diserap oleh daratan (tanah dan tumbuhtumbuhan) atau oleh samudera. Penyerapan komponen ini menyebabkan ketidakseimbangan fluks dalam dua jalur alami yang besar yaitu antara samudera dan
atmosfer dan antara atmosfer dan daratan.
2. Siklus karbon di samudera

Samudera mempunyai peranan yang sangat penting dalam mengurangi


pemanasan global atau peningkatan konsentrasi CO-2 di atmosfer. Disolusi air laut
memberikan kesempatan yang besar untuk menenggelamkan CO2 antropogenik, hal
ini di sebabkan karena CO2 mempunyai daya larut yang tinggi, disamping itu CO2
juga memisahkan diri ke dalam ion-ion dan berinteraksi dengan unsur pokok air laut.
Proses timbal balik antara fotosintesis dan respirasi seluler bertanggung jawab
atas perubahan dan pergerakan utama karbon. Naik turunnya konsentrasi CO2 dan O2
atmosfer secara musiman disebabkan oleh penurunan aktivitas fotosintesis. Dalam
skala global kembalinya CO2 ke atmosfer melalui respirasi dapat diseimbangkan
dengan pelepasan O2 melalui fotosintesis. Akan tetapi, pembakaran kayu dan dan
bahan bakar fosil menambahkan lebih banyak lagi CO2 ke atmosfer, sebagai
akibatnya jumlah CO2 di atmosfer meningkat. CO2 dan O2 atmosfer juga berpindah
masuk ke dalam dan keluar sistem akuatik dimana CO2 dan O2 terlibat dalam suatu
keseimbangan dinamis dengan bentuk bahan anorganik lainnya.

Karbon dioksida yang terlarut di dalam air laut ditemukan dalam tiga bentuk
utama, yaitu CO2 terlarut (non ionik, 1% dari jumlah total), ion karbonat (CO32,
8%) dan bikarbonat (HCO3, 91%), penjumlahan dari ketiganya disebut sebagai
dissolved inorganic carbon/DIC (karbon anorganik terlarut) (IPCC, 2001). DIC di
dalam samudera diangkut oleh proses fisik dan biologi. Tenggelamnya DOC dan
partikel organik karbon (POC) dari proses biologi mengakibatkan aliran karbon
mengarah ke bawah yang dikenal sebagai produksi ekspor. Material organik ini
ditranspor dan direspirasi oleh organisme nonfotosintesis (respirasi heterotropik) dan
pada akhirnya terangkat dan kembali ke atmosfer. Hanya sebagian kecil yang
mengendap pada sedimen laut dalam.
Penyerapan C02 oleh samudera sangat tergantung pada tinggi rendahnya suhu,
sehingga transfer panas antara udara dan laut berpengaruh pada pola regional dan
musiman dari transfer CO2. Permukaan air yang dingin cenderung lebih mudah
menyerap CO2, sedangkan permukaan laut yang hangat menyebabkan hal yang
sebaliknya dimana permukaan laut akan lebih mudah melepaskan gas CO2 ke
atmosfer. Daerah hangat (perairan tropis) dan dingin (perairan kutub) ini dihubungkan
oleh sirkulasi atau aliran arus laut yang oleh para ilmuwan disebut sebagai Sabuk
Laut. Fungsi sabuk laut ini adalah mendorong air laut yang sudah dipanaskan oleh
matahari di wilayah tropik ke daerah yang lebih dingin di daerah kutub. Proses
sebaliknya juga terjadi, yaitu air dingin di Artik dan Antartika dibawa ke daerah tropik
untuk dipanaskan (NOAA, 2007).
Organisme laut seperti kerang juga membentuk cangkangnya dari kalsium
karbonat padat (CaCO3) yang tenggelam atau terakumulasi pada sedimen, terumbu
karang dan pasir. Proses penipisan CO32- permukaan ini mengurangi kadar alkalinitas
dan cenderung meningkatkan pCO2 (CO2 partial pressure) dan membawa lebih
banyak luaran gas CO2 (IPCC, 2001). Pengaruh dari formasi CaCO3 pada pCO2
permukaan dan fluks udara-laut kemudian terhitung untuk produksi organik karbon.
Untuk lapisan permukaan laut secara global, perbandingan antara ekspor organik
karbon dan ekspor kalsium karbonat ("rain ratio") adalah suatu faktor kritis yang
mengontrol keseluruhan efek aktivitas biologi pada pCO2 permukaan laut (IPCC,
2001).