Anda di halaman 1dari 19

ANALISIS DAMPAK TINGKAT PERTUMBUHAN

PENDUDUK TERHADAP LINGKUNGAN HIDUP


Makalah Ini Ditujukan sebagai Syarat untuk Memenuhi Tugas
Mata kuliah Geografi Regional Indonesia

Dra. Sulistinah, M.Pd.

DISUSUN OLEH:
DWI WULANDARI OKTOVIANIS
NIM.13040274079
2013 C

UNIVERSITAS NEGERI SURABAYA


FAKULTAS ILMU SOSIAL
PENDIDIKAN GEOGRAFI
2015
1

PENDAHULUAN
A. Latar belakang
Sejak zaman dahulu, kehidupan manusia tidak bisa dilepaskan dari alam. Manusia
selalu membutuhkan alam untuk memenuhi kebutuhan hidup. Manusia yang tinggal di suatu
daerah atau wilayah tentu mengalami perubahan. Perubahan yang terjadi merupakan
peningkatan penduduk dari tahun ke tahun atau disebut dengan pertumbuhan penduduk.
Jumlah penduduk senantiasa berubah dari waktu ke waktu menyebabkan terjadinya
kepadatan penduduk. Terdapat beragam faktor yang menyebabkan kepadatan penduduk.
Kepadatan penduduk akan meningkatjika angka kelahiran tinggi dan angka kematian rendah,
terlebih lagi bila diikuti tingkat imigrasi yang tinggi. Hal ini dapat menyebabkan ledakan
penduduk, yaitu keadaaan dimana pertumbuhan penduduk sangat melebihi daya dukung
alam.
Lonjakan penduduk yang sangat tinggi atau baby booming akan berdampak sangat
luas, termasuk juga dampak bagi ekologi atau lingkungan hidup. Hal ini dapat mengganggu
keseimbangan, bahkan merusak ekosistem yang ada, yang berarti mempengaruhi
kelangsungan hidup dan kesejahteraan manusia serta makhluk hidup lainnya.
Kepadatan penduduk juga dapat mempengauhi kualitas penduduknya. Pada daerah
yang kepadatan penduduknya tinggi, usaha peningkatan kualitas penduduk sangat sulit untuk
dilakukan. Hal ini menimbulkan permasalah sosial, ekonomi, keamanan, kesejahteraan,
ketersediaan lahan dan air bersih, kebutuhan pangan dan dapat berdampak pada kerusakan
lingkungan. Tumbuhnya kawasan industri dan semakin padatnya pemukiman penduduk
terutama di daerah perkotaan menyebabkan timbulnya berbagai permasalahan yang nyata.
B. Rumusan Masalah
1. Bagaimana tingkat pertumbuhan penduduk Indonesia dan faktor-faktor yang
mempengaruhinya?
2. Sejauh mana pengaruh tingkat pertumbuhan penduduk terhadap lingkungan hidup?
C. Tujuan pembuatan makalah
Untuk menganalisis lebih dalam tentang keterkaitan antara tingkat pertumbuhan
penduduk terhadap kondisi lingkungan hidup
KAJIAN PUSTAKA
1. Pengertian Lingkungan Hidup
2

Manusia hidup di bumi tidak sendirian, melainkan bersama makhluk lain, yaitu
tumbuhan, hewan dan jasad renik. Makhluk hidup yang lain itu bukanlah sekedar kawan
hidup yang hidup bersama secara netral atau pasif terhadap manusia, melainkan hidup
manusia itu terkait erat pada mereka. Tanpa mereka manusia tidaklah dapat hidup. Kenyataan
ini dapat kita lihat dengan mengandaikan di bumi ini tidak ada tumbuhan dan hewan.
Manusia bersama tumbuhan, hewan dan jasad renik menempati suatu ruang tertentu.
Kecuali makhluk hidup, dalam ruang itu terdapat juga benda tak hidup, seperti misalnya
udara yang terdiri atas bermacam gas, air dalam bentuk uap, cair dan padat, tanah dan batu.
Ruang yang ditempati suatu makhluk hidup bersama dengan benda hidup dan tak hidup di
dalamnya disebut lingkungan hidup makhluk tersebut.
Menurut Pasal 1 butir (1) Undang-undang No 32 Tahun 2009 tentang
Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup, lingkungan hidup adalah
kesatuan ruang dengan semua benda, daya, keadaan, dan makhluk hidup,
termasuk manusia dan perilakunya, yang mempengaruhialam itu sendiri,
kelangsungan perikehidupan, dan kesejahteraan manusia serta makhluk hidup
lain.Lingkungan hidup dan manusia
Hubungan manusia dengan lingkungan hidupnya adalah sirkuler. Kegiatannya,
apakah sekedar bernafas ataupun membendung sungai, sedikit atau banyak akan merubah
lingkungannya. Pengaruh terhadap suatu unsur akan merambat pada unsur lain, sehingga
pengaruhnya terhadap manusia sering tidak dapat dengan segera terlihat dan terasakan
lingkungan hidup tidak hanya berhubungan dengan gejala-gejala perubahan alam yang
sifatnya mengikuti perkembangan zaman, tetapi juga menyangkut pencemaran yang
ditimbulkan oleh limbah industri yang dihasilkan dari proses produksi barang dan jasa yang
langsung dibuang ke sungai tanpa proses pengelolaan terlebih dahulu sehingga berakibat
mencemari lingkungan.

Otto Soemarwoto, Ekologi, Lingkungan Hidup, Jakarta: Djembatan, 2001, hlm158-159

Muhamad Erwin, Hukum Lingkungan dalam Sistem Kebijaksanaan Pembangunan Lingkungan Hidup, Bandung: Refika Aditama, 2008, hlm, 4.33

2. Pertumbuhan penduduk
Pertumbuhan penduduk adalah merupakan keseimbangan yang dinamis antara
kekuatan-kekuatan yang menambah dan mengurangi jumlah penduduk. Pertumbuhan
penduduk diakibatkan oleh beberapa komponen yaitu: kelahiran (fertilitas), kematian
3

(mortalitas), migrasi masuk dan migrasi keluar. Selisih antara kelahiran dan kematian disebut
pertumbuhan alamiah (natural increase), sedangkan selisih antara migrasi masuk dan migrasi
keluar disebut migrasi netto.
3. Pertumbuhan penduduk dan sumber alam
Kebutuhan manusia tampak terus meningkat karena adanya pertumbuhan penduduk
yang pesat. Maka manusia mempergunakan sumber alam yang ada pada alam lingkungan
hidupnya untuk memenuhi kebutuhan tersebut.
Yang dimaksud dengan sumber alam ialah : semua kekayaan alam, baik yang berupa
makhluk hidup, maupun benda-benda mati yang dimiliki oleh suatu tempat yang dapat
dipergunakan untuk memenuhi kebutuhan hidup manusia.
4. Pertumbuhan penduduk dan terjadinya polusi
Polusi atau pencemaran adalah suatu keadaan di mana kondisi suatu habitat (tempat
dimana makhluk hidup itu berada) tidak murni lagi, karena pengaruh terhadap habitat itu.
Pencemaran lingkungan disebabkan oleh berbagai hal, terutama disebabkan laju
pertumbuhan penduduk yang sangat pesat. Makin cepat pertumbuhan penduduk, makin cepat
pula lingkungan hidup dikotori.
Pencemaran-pencemaran lingkungan itu sebagai berikut :
1) Pencemaran tanah
Pencemaran tanah disebabkan berbagai hal, seperti sampah-sampah plastik, kalengkaleng, rongsokan kendaraan yang sudah tua. Plastik tidak dapat hancur oleh proses
pelapukan dan besi-besi tua menimbulkan karat, sehingga tanah tidak bisa ditumbuhi
tumbuh-tumbuhan.
Pemakaian pupuk yang terlalu banyak, tidak menurut aturan yang telah ditentukan,
menyebabkan pula polusi tanah. Tanah pertanian menjadi kering dan keras, karena jumlah
garam yang sangat besar akan menyerap air tanah.
2) Pencemaran udara
Pencemaran udara disebabkan oleh asap yang keluar dari pabrik-pabrik dan
kendaraan bermotor. Makin besar jumlah penduduk, makin berkembanglah ilmu
pengetahuan, sehingga banyak didirikan pabrik-pabrik dan diproduksi mesin-mesin serta
kendaraan bermotor untuk mencukupi kebutuhan hidup penduduk. Polusi udara mengganggu
pernafasan dan dapat menimbulkanpenyakit pada alat-alat pernafasan, asma, bronchitis, dan
4

sebagainya. Hal itu disebabkan banyak gas-gas yang membahayakan kesehatan seperti gas
karbin monoksida dan partikel-partikel halus dan timah hitam. Polusi udara juga sangat
membahayakan lalu lintas baik di darat, laut maupun udara
3) Pencemaran air
Polusi air dapat terjadi karena penggunaan zat-zat kimia yang berlebih-lebihan,
seperti penggunaan DDT, endrin yang melebihi dosis yang telah ditentukan. Pencemaran air
dapat juga disebabkan oleh air yang mengandung sampai kimia dari pabrik-pabrik, sebagai
bahan pencuci yang dibuang ke sungai-sungai.
4) Pencemaran suara
Suara yang terlalu bising mengganggu ketenangan, dapat menimbulkan gangguan
jasmaniah dan rohaniah, misalnya gangguan jantung, kelenjar-kelenjar pernapasan, gangguan
syaraf, perasaan gelisah dan sebagainya.

Ahmad, Abu. 2002. Ilmu Sosial Dasar. Jakarta : Rineka Cipta

PEMBAHASAN
A. Pertumbuhan Penduduk

Penduduk

adalah mereka yang berada di dalam dan bertempat tinggal atau

berdomisili di dalam suatu wilayah negara (menetap) lahir secara turun-temurun dan
besar di negara tersebut.
Jumlah penduduk penduduk senantiasa berubah-ubah dari waktu ke waktu. Terdapat
beragam faktor yang menyebabkan perubahan jumlah penduduk. Fenomena bertambah atau
berkurangnya jumlah penduduk dari waktu ke waktu dalam suatu wilayah tertentu
dinamakan dinamika penduduk. Gejala dinamika penduduk dipengaruhi oleh tiga faktor
utama yaitu kelahiran (fertilitas atau natalitas), kematian (mortalitas), dan perpindahan
penduduk (migrasi)
Pertumbuhan penduduk dapat dibedakan menjadi dua, yaitu pertumbuhan penduduk
alami dan total. Pertumbuhan penduduk alami merupakan kenaikan atau penurunan jumlah
penduduk yang diakibatkan oleh selisih jumlah kelahiran dan kematian. Sedangkan
pertumbuhan penduduk total merupakan kenaikan atau penurunan jumlah penduduk yang
diakibatkan oleh selisish jumlah kelahiran, kematian dan migrasi (imigrasi dan emigrasi)

Berdasarkan Sensus Penduduk 2010, jumlah penduduk Indonesia sudah mencapai


237,6 juta jiwa. Artinya setiap tahun selama periode 1990-2000, jumlah penduduk
bertambah 32,5 juta jiwa. Jika dialokasikan ke setiap bulan maka setiap bulannya penduduk
Indonesia bertambah sebanyak 270.833 jiwa atau sebesar 0,27 juta jiwa. Berdasarkan jumlah
tersebut, maka setiap harinya penduduk Indonesia bertambah sebesar 9.027 jiwa. Dan setiap
jam terjadi pertambahan penduduk sebanyak 377 jiwa. Bahkan setiap detik jumlah penduduk
masih tergolong tinggi yaitu sebanyak 1,04 atau 1 sampai 2 jiwa. Pertambahan penduduk di
Indonesia terjadi kelahiran, sisanya berupa migrasi masuk. Dengan demikian, dapat
disimpulkan bahwa dalam setiap detik di Indonesia terjadi kelahiran bayi sebanyak 1-2 jiwa.
Jumlah penduduk Indonesia dari tahun ke tahun terus mengalami peningkatan dengan
laju pertumbuhan yang tinggi pula yakni sebesar 1,49 persen per tahun. Artinya antara tahun
1971-2010 jumlah penduduk Indonesia bertambah sebesar 1,49 persen. Sehingga jumlah
penduduk Indonesia tergolong terbesar ke empat setelah RRC, India dan Amerika Serikat.

Data mengenai jumlah penduduk serta laju pertumbuhan penduduk Indonesia berdasarkan
sensus penduduk tahun 1971-2010 disajikan dalam table berikut:
Penduduk Indonesia menurut Provinsi 1971, 1980, 1990, 1995, 2000 dan 2010
Provinsi

Penduduk
1971

1980

1990

1995

2000

2010

Aceh

2.008.595

2.611.271

3.416.156

3.847.583

3.930.905

4.494.410

Sumatera Utara

6.621.831

8.360.894

10.256.027

11.114.667

11.649.655

12.982.204

Sumatera Barat

2.793.196

3.406.816

4.000.207

4.323.170

4.248.931

4.846.909

Riau

1.641.545

2.168.535

3.303.976

3.900.534

4.957.627

5.538.367

Jambi

1.006.084

1.445.994

2.020.568

2.369.959

2.413.846

3.092.265

Sumatera Selatan

3.440.573

4.629.801

6.313.074

7.207.545

6.899.675

7.450.394

Bengkulu

519.316

768.064

1.179.122

1.409.117

1.567.432

1.715.518

Lampung

2.777.008

4.624.785

6.017.573

6.657.759

6.741.439

7.608.405

Kepulauan Bangka Belitung

900.197

1.223.296

Kepulauan Riau

1.679.163

DKI Jakarta

4.579.303

6.503.449

8.259.266

9.112.652

8.389.443

9.607.787

Jawa Barat

21.623.529

27.453.525

35.384.352

39.206.787

35.729.537

43.053.732

Jawa Tengah

21.877.136

25 372 889

28 520 643

29 653 266

31 228 940

32 382 657

DI Yogyakarta

2 489 360

2 750 813

2 913 054

2 916 779

3 122 268

3 457 491

Jawa Timur

25 516 999

29 188 852

32 503 991

33 844 002

34 783 640

37 476 757

Banten

8 098 780

10 632 166

Bali

2 120 322

2 469 930

2 777 811

2 895 649

3 151 162

3 890 757

Nusa Tenggara Barat

2 203 465

2 724 664

3 369 649

3 645 713

4 009 261

4 500 212

Nusa Tenggara Timur

2 295 287

2 737 166

3 268 644

3 577 472

3 952 279

4 683 827

Kalimantan Barat

2 019 936

2 486 068

3 229 153

3 635 730

4 034 198

4 395 983

Kalimantan Tengah

701 936

954 353

1 396 486

1 627 453

1 857 000

2 212 089

Kalimantan Selatan

1 699 105

2 064 649

2 597 572

2 893 477

2 985 240

3 626 616

Kalimantan Timur

733 797

1 218 016

1 876 663

2 314 183

2 455 120

3 553 143

Sulawesi Utara

1 718 543

2 115 384

2 478 119

2 649 093

2 012 098

2 270 596

Sulawesi Tengah

913 662

1 289 635

1 711 327

1 938 071

2 218 435

2 635 009

Sulawesi Selatan

5 180 576

6 062 212

6 981 646

7 558 368

8 059 627

8 034 776

Sulawesi Tenggara

714 120

942 302

1 349 619

1 586 917

1 821 284

2 232 586

Gorontalo

835 044

1 040 164

Sulawesi Barat

1 158 651

Maluku

1 089 565

1 411 006

1 857 790

2 086 516

1 205 539

1 533 506

Maluku Utara

785 059

1 038 087

Papua Barat

760 422

Papua

923 440

1 173 875

1 648 708

1 942 627

2 220 934

2 833 381

INDONESIA

119 208 229

147 490 298

179 378 946

194 754 808

206 264 595

237 641 326

Sumber : Sensus Penduduk 1971, 1980, 1990, 2000 dan Survei Penduduk Antar Sensus (SUPAS) 1995

Laju Pertumbuhan Penduduk menurut Provinsi


Provinsi

Laju Pertumbuhan Penduduk per Tahun


1971-1980

1980-1990

1990-2000

2000-2010

Aceh

2,93

2,72

1,46

2,36

Sumatera Utara

2,60

2,06

1,32

1,10

Sumatera Barat

2,21

1,62

0,63

1,34

Riau

3,11

4,30

4,35

3,58

Jambi

4,07

3,40

1,84

2,56

Sumatera Selatan

3,32

3,15

2,39

1,85

Bengkulu

4,39

4,38

2,97

1,67

Lampung

5,77

2,67

1,17

1,24

Kepulauan Bangka Belitung

0,97

3,14

Kepulauan Riau

4,95

DKI Jakarta

3,93

2,42

0,17

1,41

Jawa Barat

2,66

2,57

2,03

1,90

Jawa Tengah

1,64

1,18

0,94

0,37

DI Yogyakarta

1,10

0,57

0,72

1,04

Jawa Timur

1,49

1,08

0,70

0,76

Banten

3,21

2,78

Bali

1,69

1,18

1,31

2,15

Nusa Tenggara Barat

2,36

2,15

1,82

1,17

Nusa Tenggara Timur

1,95

1,79

1,64

2,07

Kalimantan Barat

2,31

2,65

2,29

0,91

Kalimantan Tengah

3,43

3,88

2,99

1,79

Kalimantan Selatan

2,16

2,32

1,45

1,99

Kalimantan Timur

5,73

4,42

2,81

3,81

Sulawesi Utara

2,31

1,60

1,33

1,28

Sulawesi Tengah

3,86

2,87

2,57

1,95

Sulawesi Selatan

1,74

1,42

1,49

1,17

Sulawesi Tenggara

3,09

3,66

3,15

2,08

Gorontalo

1,59

2,26

Sulawesi Barat

2,68

Maluku

2,88

2,79

0,08

2,80

Maluku Utara

0,48

2,47

Papua Barat

3,71

Papua

2,67

3,46

3,22

5,39

INDONESIA

2,31

1,98

1,49

1,49

Sumber : Sensus Penduduk 1971, 1980 , 1990 , 2000 , 2010 dan Sensus Penduduk Antar Sensus (SUPAS) 1995

B. Faktor yang mempengaruhi pertumbuhan penduduk di Indonesia


Pertumbuhan penduduk adalah perubahan jumlah penduduk baik pertambahan
maupun penurunannya. Faktor-faktor yang mempengaruhi pertumbuhan penduduk yaitu
kelahiran (natalitas), kematian (mortalitas) dan perpindahan penduduk (migrasi). Kelahiran
dan kematian dinamakan faktor alami sedangkan perpindahan penduduk dinamakan faktor
non alami.

Faktor penyebab utama ini adalah adanya kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi
terutama kemajuan di bidang kesehatan. Dengan kemajuan teknologi kesehatan kelahiran
dapat diatur dan kematian dapat dicegah. Ini semua mengakibatkan menurunnya angka
kematuan secara drastis atau mencolok. Sesuai denga tingkat kemajuan dibidang ilmu
pengetahuan dan teknologi maka tiap-tiap masyarakat atau negara, pertumbuhan
penduduknya mengalami 4 periode yaitu:
1. Periode I: Pada periode ini pertumbuhan penduduk berjalan dengan lambat yang
ditandai dengan adanya tingkat kelahiran dan kematian yang rendah sehingga disebut
periode statis.
2. Periode II: Periode kedua ini angka kematian mulai turun karena adanya perbaikan gizi
makanan dan kesehatan. Akibat dari itu semua pertumbuhan penduduk menjadi cepat
mengingat angka kelahiran yang masih tinggi.
3. Periode III: Periode ini ditandai dengan tingkat pertumbuhan penduduk mulai turun.
Tingkat kematian pada periode ini stabil sampai
kelahiran

pada tingkat rendah

dan angka

menurun,penyebabnya antara lain adanya pembatasan jumlah anggota

keluarga.
4. Periode IV: Pada masa ini tingkat kematian stabil, tetapi tingkat kelahiran menurun secara
perlahan sehingga pertumbuhan penduduk rendah. Periode ini disebut periode penduduk
stasioner.
Dari empat periode di atas, pertumbuhan penduduk Indonesia berada pada periode
kedua dan sekarang sedang menuju periode ketiga.
Faktor-faktor yang mempengaruhi pertumbuhan penduduk di Indonesia antara lain:
a. Kelahiran (natalitas)
Kelahiran bersifat menambah jumlah penduduk. Ada beberapa faktor yang
menghambat kelahiran (anti natalitas) dan mendukung kelahiran (pro natalitas). Faktorfaktor penunjang kelahiran (pro natalitas) antara lain:

Nikah muda,karena ada anggapan bila terlambat kawin keluarga akan malu.
Anak dianggap sebagai sumber tenaga keluarga untuk membantu orang tua.
Anggapan bahwa banyak anak, banyak rejeki.
Anak menjadi kebanggaan bagi orang tua.
6

Anggapan bahwa penerus keturunan adalah anak laki-laki, sehingga bila belum ada
anak laki-laki, orang akan ingin mempunyai anak lagi.

Faktor-faktor pengahambat kelahiran (anti natalitas), antara lain:

Adanya program keluarga berencana yang mengupayakan pembatasan jumlah anak.


Adanya ketentuan batas usia menikah, untuk wanita minimal 16 tahun dan bagi laki-

laki minimal 19 tahun.


Anggapan anak menjadi beban keluarga dalam memenuhi kebutuhan hidupnya.
Adanya pembatasan tunjangan anak untuk pegawai negeri yaitu tunjangan anak

diberikan hanya sampai anak ke-2.


Penundaan kawin sampai selesai pendidikan akan memperoleh pekerjaan.
b. Kematian (Mortalitas)
Kematian bersifat mengurangi jumlah penduduk. Ada beberapa faktor yang
menghambat kematian ( anti mortalitas) dan mendukung kematian (mortalitas). Faktor-faktor
penunjang kematian (pro mortalitas) adalah sebagai berikut:

Sarana kesehatan yang kurang memadai.


Rendahnya kesadaran masyarakat terhadap kesehatan
Terjadinya berbagai bencana alam
Terjadinya peperangan
Terjadinya kecelakaan lalu lintas dan industry
Tindakan bunuh diri dan pembunuhan

Selain faktor penunjang kematian, ada juga beberapa faktor yang dapat menghambat
kematian (anti mortalitas), yaitu:

Lingkungan hidup sehat


Fasilitas kesehatan tersedia lengkap
Adanya ajaran agama yang melarang tindakan bunuh diri dan membunuh orang lain
Tingkat kesehatan masyarakat tinggi
Semakin tinggi tingkat pendidikan penduduk.

C. Lingkungan Hidup di Indonesia


1. Definisi Lingkungan hidup

Lingkungan hidup adalah segala sesuatu yang ada di sekitar manusia dan
berhubungan timbale balik. Lawan dari lingkungan hidup adalah lingkungan buatan yang
mencakup wilayah dan komponen-komponennya yang banyak dipengaruhi oleh manusia.
Menurut UU No.23 Tahun 1997,lingkungan hidup adalah kesatuan ruang dengan
semua benda, daya, keadaan dan makhluk hidup, termasuk manusia dan perilakunya,
yang mempengaruhi kelangsungan perikehidupan dan kesejahteraan manusia serta
makhluk hidup lain. Sedangkan ruang lingkup lingkungan hidup Indonesia meliputi
ruang, tempat Negara Kesatuan Republik Indonesia yang berwawasan Nusantara dalam
melaksanakan kedaulatan, hak berdaulat dan yurisdiksinya.
Dalam lingkungan hidup terdapat ekosistem, yaitu tatanan unsure lingkungan
hidup yang merupakan

kesatuan utuh menyeluruh dan saling mempengaruhi dalam

membentuk keseimbangan, stabilitas, dan produktivitas lingkungan hidup.


Merujuk pada definisi di atas, maka lingkungan hidup Indonesia tidak lain
merupakan wawasan nusantara yang menempati posisi silang antara dua benua dan dua
samudera dengan iklim tropis dan cuaca serta musim yang memberikan kondisi alamiah
dan kedudukan dengan peranan strategis yang tinggi nilainya, tempat bangsa Indonesia
menyelenggarakan kehidupan bernegara dalam segala aspeknya.
2. Kondisi Lingkungan hidup di Indonesia
Indonesia dengan beragam bentuk fisik (relief) dan penduduknya memiliki
beberapa permasalahn yang berhubungan dengan lingkungan hidup. Permasalaham
lingkunga hidup di Indonesia terjadi di berbagai sektor beserta segala kompleksitas,
penyebab dan akibat masing-masing.
D. Pertumbuhan penduduk dan lingkungan hidup
1. Hubungan antara pertumbuhan pendudukan dengan kerusakan lingkungan hidup
Masalah kependudukan dan kerusakan lingkungan hidup merupakan dua
permasalahan yang kini sedang di hadapi bangsa Indonesia. Brown (1992;265-280),
menyatakan bahwa masalah lingkungan hidup dan kependudukan yaitu masalah
pencemaran lingkungan fisik, desertifikasi, deforestasi, overs eksploitasi terhadap
sumber-sumber alam, serta berbagai fenomena degradasi ekologis semakin hari semakin
menunjukkan peningkatan yang signifikan.
8

Seperti yang kita ketahui bahwa manusia merupakan bagian integral dari
lingkungan hidupnya, ia tidak dapat dipisahkan dari padanya. Padatnya penduduk suatu
daerah akan menyebabkan ruang gerak suatu daerah semakin menyempit.
Pertambahan penduduk yang cepat makin lama makin meningkat

hingga

akhirnya memadati muka bumi. Hal ini membawa akibat serius terhadap rentetan
masalah besar yang membentur keseimbangan sumber daya alam. Karena bagaimanapun
juga setiap manusia tidak lepas dari bermacam-macam kebutuhan mulai dari kebutuhan
pokok hingga kebutuhan pelengkap. Sedangkan semua kebutuhan yang diperlukan oleh
manusia tersebut sangat banyak dan tidak terbatas, sementara itu kebutuhan yang
diperlukan baru akan terpenuhi manakala siklus cadangan sumber daya alam masih
mampu dan mencukupi. Tetapi akan lain jadinya jika angka pertumbuhan penduduk kin
melewati batas siklus ataupun jumlah cadangan sumber-sumber kebutuhan. Seandainya
kondisi ini tidak diupayakan penanganannya dengan serius maka suatu saat akan terjadi
suatu masa krisis yang sangat berat.
2. Dampak Pertumbuhan Penduduk terhadap kerusakan Lingkungan Hidup
Apabila dilihat dari perspektif ekologis bahwa pertumbuhan penduduk yang cepat
dapat berdampak pada meningkatnya kepadatan penduduk sehingga menyebabkan
ketidakseimbangan mutu lingkungan secara menyeluruh. Maka secara rinci dampak
kepadatan penduduk sebagai akibat laju pertumbuhan penduduk yang cepat terhadap
lingkungan hidup adalah sebagai berikut:
a. Lingkungan Hayati
Kepadatan penduduk mendorong peningkatan kebutuhan lahan, baik lahan untuk
tempat tinggal, sarana penunjang kehidupan, industri, tempat pertanian dan sebagainya.
Semakin banyak manusia yang menggunakan lahan untuk daerah pemukiman tanpa
memperhatikan dampaknya bagi lingkungannya maka semakin banyak masalah bencana
yang akan ditimbulkan. Selain itu maraknya pembukaan lahan hutan untuk membangun
industri, perkebunan, dan pertanian dapat menyebabkan terganggunya keseimbangan
lingkungan. Penebangan hutan secara besar-besaran tanpa adanya usaha penghijauan
dapat berakibat pada kerusakan habitat hewan, banjir, tanah longsor, dan adapat
9

melenyapkan keanekaragaman hayati di hutan. Jadi peluang kerusakan lingkungan akan


bertambah seiring dengan bertambahnya jumlah penduduk.

b. Ketersediaan air bersih


Air merupakan sumber kehidupan. Air merupakan salah saru sumber daya alam
yang sangat besar manfaatnya bagi manusia. Selain untuk minum, air juga diperlukan
untuk menjaga kebersihan pakaian, badan, dan lingkungan. Tumbuh-tumbuhan dan
hewan ternak juga memerlukan air, begitu pula pemrosesan barang-barang produksi
maupun industri. Meningkatnya jumlah penduduk menyebabkan peningkatan kebutuhan
air. Pada umumnya, kebutuhan air di perkotaan dipenuhi oleh PAM (Perusahaan Air
Minum) yang mengalirkan air sampai ke rumah-rumah penduduk. Akan tetapi, makin
padatnya penduduk menyebabkan daerah peresapan air hujan semakin berkurang.
Padahal kebutuhan air dari PAM banyak yang diambil dari air bawah tanah. Oleh karena
itu semakin padat jumlah penduduk menyebabkan menipisnya persediaan air bawah
tanah yang dapat diambil oleh PAM. Sementara itu masih banyak kegiatan industri yang
belum memiliki sistem pengolahan limbah yang baik sehingga air limbah turut
memperburuk kebersihan air di lingkungan. Pembangunan pemukiman masih banyak
yang belum mengacu pada konservasi alam. Sebagai contoh, pembuatan lantai semen,
betonisasi pada seluruh halaman, dan pengaspalan jalan raya maupun menutup seluruh
lapisan tanah menyebabkan tidak terjadi peresapan air. Akibatnya, air hujan terus
mengalir ke sungai dan kembali ke laut.
c. Ketersediaan Udara Bersih
Udara bersih merupakan kemmbutuhan bagi kelangsungan hidup manusia. Udara
bersih banyak mengandung oksigen. Semakin banyak jumlah penduduk berarti semakin
banyak oksigen yang diperlukan. Namun kebersihan udara tidak semata-mata ditentukan
oleh kadar oksigen saja, gas lain yang ada di udara seperti karbondioksida juga dapat
mempengaruhi kualitas udara. Apabila kandungan gas ini meningkat, maka dapat
10

dikatakan bahwa udara telah tercemar. Bertambahnya pemukiman, alat transportasi dan
kawasan industry yang menggunakan bahn bakar fosil (minyak bumi, bensin, solar, dan
batu bara) mengakibatkan kadar CO2 dan CO di udara semakin tinggi. Berbagai kegiatan
industri juga menghasilkan gas-gas pencemar di udara, yaitu zat-zat sisa itu dihasilkan
dari pembakaran yang tidak sempurna. Dengan semakin tingginya kadar cemar di udara,
maka kesehatan masyarakat juga akan terganggu atau menurun.

d. Limbah rumah tangga


Meningkatnya limbah rumah tangga sering disebut dengan limbah domestik.
Dengan naiknya kepadatan penduduk berarti jumlah orang persatuan luas bertambah.
Karena itu jumlah produksi limbah persatuan luas juga bertambah. Dapat juga dikatakan
di daerah dengan kepadatan penduduk yang tinggi, terjadi konsentrasi produksi limbah.
e. Pencemaran
Meningkatnya limbah rumah tangga sering disebut dengan limbah domestik.
Dengan naiknya kepadatan penduduk berarti jumlah orang persatuan luas bertambah.
Karena itu jumlah produksi limbah persatuan luas juga bertambah. Dapat juga dikatakan
di daerah dengan kepadatan penduduk yang tinggi, terjadi konsentrasi produksi limbah.
Karena terbatasnya tempat penampungan sampah, seringkali sampah dibuang di tempat
yang tidak semestinya, misalnya di sungai. Akibatnya timbul pencemaran air dan tanah.
Selain itu daerah yang padat kebutuhan transportrasinya juga bertambah sehingga jumlah
kendaraan bermotor meningkat. Hal ini akan menimbulkan pencemaran udara dan suara.
Jadi kepadatan penduduk yang tinggi dapat mengakibatkan timbulnya berbagai
pencemaran lingkungan dan kerusakan ekosistem.
Beberapa langkah telah dilakukan untuk mengatasi masalah kependudukan, diantaranya
program keluarga berencana dan pendidikan kependudukan. Diharapkan dengan adanya kedua
usaha tersebut laju pertumbuhan penduduk dapat diatasi.
E. Langkah untuk mengatasi atau meminimalisir dampak pertumbuhan penduduk terhadap
lingkungan hidup

11

Salah satu cara untuk mengatasi atau meminimalisir dampak pertumbuhan


penduduk terhadap lingkungan hidup adalah melalui kegiatan PKLH (Pendidikan
Kependudukan dan Lingkungan Hidup). Tujuan akhir dari PKLH adalah membentuk
warga negara yang berwawasan kependudukan dan lingkungan hidup, yaitu warga negara
yang dalam segala perilakunya berpandangan ke depan terhadap masalah kependudukan
dan lingkungan hidup, menuju masyarakat yang serasi dan seimbang dalam hubungannya
dengan lingkungan hidup.
Adapun objek PKLH yaitu :
1.
2.
3.
4.
5.

masalah kependudukan dengan segala parameternya,


masalah pencemaran lingkungan,
masalah persepsi manusia terhadap kualitas lingkungannya
masalah implikasi sosial dalam kaitannya dengan pelestarian lingkungan hidup.
masalah etika lingkungan.
Adapun

tujuan

diadakannya

pendidikan

kependudukan

yaitu,

agar

masyarakat/anak didik dapat mengetahui faktor-faktor yang menyebabkan pertumbuhan


penduduk secara cepat serta segala akibatnya maupun dapat menghubungkan antara
pertumbuhan penduduk tersebut dengan program pembangunan yang dilaksanakan oleh
pemerintah dalam usaha mencapai kesejahteraan masyarakat. Sedangkan pendidikan
lingkungan hidup mempunyai tujuan utama pada upaya perubahan sikap serta perilaku
dalam mengelola sumber daya alam secara rasional dan bertanggung jawab.

12

PENUTUP
A. Simpulan
1. Jumlah penduduk penduduk senantiasa berubah-ubah dari waktu ke waktu. Hal ini
dipengaruhi oleh 3 faktor utama yaitu kelahiran (fertilitas), kematian (Mortalitas) dan
migrasi. Berdasarkan Sensus Penduduk 2010, jumlah penduduk Indonesia sudah
mencapai 237,6 juta jiwa. Jumlah penduduk Indonesia dari tahun ke tahun terus
mengalami peningkatan dengan laju pertumbuhan yang tinggi pula yakni sebesar 1,49
persen per tahun. Artinya antara tahun 1971-2010 jumlah penduduk Indonesia
bertambah sebesar 1,49 persen. Sehingga jumlah penduduk Indonesia tergolong
terbesar ke empat setelah RRC, India dan Amerika Serikat.
2. Apabila dilihat dari perspektif ekologis bahwa pertumbuhan penduduk yang cepat
dapat berdampak pada meningkatnya kepadatan penduduk sehingga menyebabkan
ketidakseimbangan mutu lingkungan secara menyeluruh, yaitu dari penggunaan
lahan, air, udara, limbah rumah tangga dan pencemaran. Salah satu langkah yang
dapat dilakukan untuk meminimalisir dan mengatasi masalah pertumbuhan penduduk
dan lingkungan hidup ini adalah melalui PKLH (Pendidikan Kependudukan dan
Lingkungan Hidup).
B. Saran
Masalah kependudukan adalah masalah yang serius yang kini sedang terjadi di
negara kita, apalagi di tambah dengan dampaknya yang dapat mengganggu
keseimbangan lingkungan hidup. Untuk itu, semua pihak baik pemerintah, masyarakat
dan khususnya kita sebagai generasi muda untuk terus mendukung upaya-upaya yang
bertujuan untuk mengendalikan pertumbuhan penduduk. Serta tidak lupa pula kita untuk
tetap menjaga kelestarian lingkungan hidup kita secara berkelanjutan.

13

DAFTAR PUSTAKA
Ahmad, Abu. 2002. Ilmu Sosial Dasar. Jakarta : Rineka Cipta
Erwin, Muhamad. 2008. Hukum Lingkungan dalam Sistem Kebijaksanaan Pembangunan
Lingkungan Hidup. Bandung: Refika Aditama
Prawiroatmodjo, Prof. Dr. Dendasurono. 1988. Ekonomi Kependudukan dan Lingkungan.Jakarta:
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
Soemarwoto, Otto. 2001. Ekologi, Lingkungan Hidup. Jakarta: Djembatan
Tjondronegoro, Sediono M.P.,dkk (Penyunting). 1985. Ilmu Kependudukan. Jakarta: Penerbit
Erlangga
http://agusmulyani.blogspot.in/2015/01/pengaruh-pertambahan-pendudukterhadap.html?m=1

https://arisudev.wordpress.com/2013/04/24/beberapa-permasalahan-lingkungan-hidup-diindonesia/
http://bps.go.id/linkTabelStatis/view/id/1267
http://bps.go.id/linkTabelStatis/view/id/1268
http://id.m.wikipedia.org/wiki/Lingkungan_hidup
http://mezzul10.blogspot.in/2013/10/makalah-pengaruh-pertumbuhan-penduduk.html?m=1
https://qadriqaa.wordpress.com/2014/06/12/pengaruh-pertumbuhan-penduduk-terhadapkeseimbangan-lingkungan-dank-kelestarian-alam/
kepofisika.blogspot.in/2014/09/makalah-dampak-pertumbuhan-penduduk.html?m=1
www.zakapedia.com/2013/03/dampak-kepadatan-penduduk.html?m=1

14

15