Anda di halaman 1dari 7

Respon Tubuh Terhadap Agen Menular

Infeksi merupakan bagian dari kehidupan yang universal. Tumbuhan dan


hewan dari segala ukuran dan bentuk pernah diduduki oleh berbagai ikroba hidup,
tidak terkecuali manusia.
Faktor Hospes Pada infeksi
Syarat timbulnya infeksi adalah bahwa organisme yang menular harus mampu
melekat, menduduki, atau memasuki hospes dan berkembang biak paling tidak
sampat taraf tertentu. Karena itu tidaklah mengherankan, bila dalam perjalanan
evolusi, spesies hewan termasuk manusia, sudah mengembangkan mekanisme
pertahanan tertentu pada berbagai tempat yang berhubungan dengan lingkungan.
Kulit Dan Mukosa Orofaring

Batas utama antara lingkungan dan tubuh manusia adalah kulit. Kulit yang
utuh memiliki lapisan kertain atau lapisan tanduk pada permukaan luar, dan epitetel
terlapis gepeng sebagai barier mekanis yang baik sekali terhadap infeksi. Biasanya
sulit sekali bagi jasad renik untuk menembus barier mekanis ini. Namun jika terjadi
luka iris, abrasi atau maserasi (seperti pada lipatan tubuh yang selalu basah) dapat
memungkinkan agen menular masuk. Selain sebagai barier sederhana, kulit juga
mempunyai kemampuan tertentu untuk melakukan ekontaminasi terhadap dirina
sendiri. Jadi organism yang melekat pada lapisan luar kulit (dengan anggapan bahwa
organisme tidak mudah mati bila menjadi kering) akan dilepaskan pada waktu lapisan
kulit mengelupas. Selain dekontaminasi fisik, juga terdapat dekontaminasi kimiawi
yang terjadi dengan cara berkeringat dan sekresi kelenjar sebsea yang membersihkan
permukaan kulit. Akhirnya, kulit juga memiliki flora normal yang dapat berpengaruh
terhadap dekontaminasi biologis.dengan menghalangi pembiakan organismorganisme lain yang melekat pada kulit.
Lapisan mulut dan sebagian besar faring serupa dengan kulit karena terdiri dari epitel
berlapis yang erupakan bagian barier mekanis untuk mencegah invasi mikroba.
Namun, barier mekanis ini memiliki kelemahan disepanjang gusi dan didaerah tomsil.
Mukosa orofaring juga didekontaminasi oleh aliran saliva yang dengan mudah
menghanyutkan partikel-partikel yang ada. Selain itu, terdapat zat-zat dalam saliva
yang menghambat mikroorganisme tertentu. Akhirnya, mulut dan faring juga
memiliki flora normal yang dapat bekerja untuk menghalangi pertumbuhan kuman
yang potensial.

Saluran Pencernaan
Mukosa lambung adalah tipe kelenjar dan bukan merupakan barier
mekanisme yang baik. Sering terjadi luka-luka kecil atau erosi pada lapisan lambung,
tetapi tidak mempunyai pada proses infeksi, sebab suasana lambung sendiri sangat
tidak sesuai untuk banyak mikroorganisme. Hal ini sebagian besar disebabkan oleh
keasaman lambung. Selain itu, lambung cenderung memindahkan isinya ke usus
halus dengan proses yang relative cepat. Gerakan peristaltik untuk mendorong isi
usus berlangsung cepat sekali, sehingga populasi bakteri dalam luman dipertahankan
tetap sedikit. Bila mutilitas usus terganggu, maka jumlah jasad renik dalam usus halus
akan meningkat dengan tajam, dan kemudian dapat menginvasi mukosa. Ada
beberapa hal lain yang membantu proses pendorongan jasad renik secara cepat m
elewati usus halus. Sel-sel lapisan usus halus secara terus menerus mensekresi mucus
yang banyak sekali, sehingga membentuk selimut yang kental pada permukaan usus,
menangkap bakteri dan mendorongnya ke distal oleh gerakan peristaltic. Selain itu
adanya antibody didalam secret usus halus akan menghambat perlekatan bakteri pada
permukaan mukosa.
Saluran Pernafasan
Trakea merupakan gambar mikroskopik permukaan mukosa yang khas untuk
bagian saluran-saluran permukaan pernapasanlapisan hidung, lapisan esofaring,
trakea, dan bronkus. Epitel terdiri dari sel-sel tinggi, beberapa diantaranya
mengeluarkan mucus, tetapi sebagian besar dilengkapi dengan silia pada permukaan
lumennya. Silia-silia ini bergetar seperti cambuk dengan gerakan yang mengarah kea
rah luar tubuh. Sel-sel yang mengeluarkan mucus tersebut menghasilkan selimut
lengket yang bergerak di atas silia dan meluncur secara kontinu keatas. Jika terhirup,
mikroba cenderung akan mengenai selimut mukosa tersebut, dan kemudian
digerakkan keluar dengan cara dibatukkan atau ditelan. Antibody yang terdapat di
sekresi akan meningkatkan kerja perlindungan ini. Jika beberapa agen terhindar dari
pertahanan ini dan mencapai ruang-ruang udara dalam paru, maka akan selalu
terdapat makrofag yang merupkan barisan pertahanan lain.
Sawar Pertahanan Lain
Perumukaan lain dala tubuh dilengkapi dengan mekanisme-mekanisme
pertahanan yang serupa. Dalam saluran kemih, lapisan epitelnya adalah epitel
berlapis banyak yang memiliki barier mekanis, tetapi salah satu pertahanan utama
saluran kemih adalah kerja aliran kemih dalam menghalau mikroba keluar. Semua hal

yang mengganggu kelancaran aliran emih yang normal, apakah itu penyumbatan
ureter atau hanya kebiasaan buruk menaapat mempermudah terjadinya infeksi. han
kencing d. konjumgtiva sebagian mata dilindungi secara mekanis dan yang lain oleh
air mata. Mukosa vagina merupakan epitel yang kuat, berlapis banyak,dan sifat
pertahanan mekanisnya diperkuat oleh adanya flora normal yang berjumlah banyak
dan sekresi mukus.
Radang Sebagai Pertahanan
Jika agen yang menular berhasil menembus salah satu barier tubuh dan
memasuki jaringan, maka barisan pertahanan berikutnya adalah reaksi peradangan
akut. Reaksi peradangan adalah suatu keadaan saat aspek humoral (antibodi) dan
aspek selular pertahanan tubuh bersatu. Efek opsonisasi antibody dan komponenkomponen komplemen misalnya, akan meningkatkan aktivitas fagosit antimikroba.
Contoh lain, mekanisme kekebalan selular dapat meningkatkan kerja pertahanan yang
dimiliki makrofag.
Jika reaksi peradangan akut tidak sanggup mengatasi kuman itu, infeksi
tersebut dapat menyebar lebih luas keseluruh tubuh. Biasanya penyebaran terjadi
secara pasif bila dipandang dari kerja mikroba, biasanya mikroorganisme tersebut
dibawa oleh cairan tubuh.
Pembuluh Limf Pada Infeksi
Aliran limf dipercepat pada keadaan radang akut. Sayangnya, hal ini berarti
bahwa agen-agen menular kadang-kadang juga ikut menyebar dengan cepat
sepanjang pembuluh limf bersamaan dengan aliran limf tersebut. Kadang-kadang
mengakibatkan terjadinya limfangitis, tetapi lebih sering agen-agen menular itu
langsung terbawa ke kelenjar limf, disini agen tersebut dengan cepat difagositosis
oleh makrofag. Pada keadaan ini, maka cairan limf yang mengalir tanpa melewati
kelenjar limf mungkin dapat terbebas dari agen-agen menular tersebut.
Pertahanan Terakhir
Jika penyebarannya agen menular tidak terhenti pada kelenjar limfe atau jika
agen tersebut langsung memasuki vena pada saat pertama kali, maka dapat terjadi
infeksi pada aliran darah. Ledakan bakteri dalam aliran darah dapat terjadi, dan
peristiwa yang dinamakan bakteremia ini biasanya ditangani secara cepat dan efektif
oleh makrofag dari system monosit makrofag. Namun jika organism yang masuk itu
berjumlah sangat besar dan jika organisme tersebut cukup resisten, maka system

makrofag dapat ditaklukkan. Hal ini mengakibatkan organism tersebut dapat menetap
dalam darah, dan menimbulkan gejala-gejala malese, kelemahan, dan tanda-tanda
demam, menggigil dan sebagainya. Keadaan ini dinamakan septicemia atau sepsis
atau sering juga disebut keracunan darah.
Faktor Mikroba Pada Infeksi
1. Daya transmisi
2. Daya invasi
3. Kemampuan untuk menimbulkan penyakit
GANGGUAN PERTUMBUHAN ,PROLIFERASI
Agenesis dan Aplasia
Fenomena ini disebut agenesis, dan akibatnya organ tertentu tidak terbentuk,
Dalam perjalanan perkembangan, organ embrional rudimenter dapat tidak terbantuk.
misalnya beberapa individu dapat dilahirkan hanya dengan satu ginjal. Suatu
keadaan lain yang berkaita dengan keadaan diatas adalah aplasia, yaitu gagal
berkembangnya organ rudiment embrional yang sudah terbentuk.
Hipoplasia
Kadang-kadang, rudimen embrional terbentuk tetapi tidak pernah mencapai
ukuran definitive atau ukuran dewasa, akibatnya organ tersebut menjadi kerdil.
Fenomena ini disebut hipoplasia. Seperti agenesis dan aplasia, hipoplasia dapat juga
mengenai semua bagian tubuh, dapat mengenai salah satu dari sepasang organ, atau
bahkan dapat mengenai kedua organ yang berpasangan.
Atrofi
Organ yang dalam perkembangannya mencapai ukuran definitive dan
kemudian secara sekunder menyusut disebut atrofi. Atrofi mempunyai banyak
penyebab, dalam beberapa keadaan atrofi sebetulnya normal atau fisiologis, misalnya
atrofi bagian tertentu dari embrio atau fetusselma perkembangannya. Beberapa
bentuk atrofi tidak dapat dielakkan pada usia lanjut, seperti atrofi endokrin yang
terjadi jika pengaruh hormonal terhadap jaringan seperti kelenjar mamae tehenti.
Penyebab atrofi yang sering dijumpai adalah iskemia kronik. Penyebab aatrofi lain
yang sering dijumpai terutama yang menyerang otot rangka adalah disuse atrofi.

ORGAN DAN JARINGAN YANG LEBIH BESAR DARI NORMAL


Hipertrofi
Hipertrofi didefinisikan sebagai pembesaran jaringan atau organ karena
pembesaran setia sel. Hiperterofi dapat terlihat pada berbagai jaringan, tapi
khususnya terlihat mencolok pada berbagai jenis otot peningkatan beban pekerjaan
pada otot merupakan rangsang yang sangat kuat bagi otot untuk mengalami hipertrofi
penonjolan otot pada atlet angkat besi merupakan contoh hipertrofi otot yang nyata
hal yang sama terjadi akibat respons adaptasi yang penting pada miokardium jika
seseorang mempunyai katub jantung abnormal yang menyebabkan beban mekanik
pada vetrikel kiri , atau jika ventrikel memompa dan melawan tekanan darah sintemik
yang meninggi akibat hipertrofi miokardium di sertai penebalan dinding ventrikal.
Fenomena yang serupa dapat terjadi pada otot polos yang di paksa bekerja melawan
beban yang meningkat. Dengan demikian, dinding kandung kemih dapat menjadi
hipertrofi jika terjadi obstruksi pada aliran keluar urine. Pada masing-masing keadaan
ini, pembesaran sel yang hipertrofi sebenarnya di sertai penambahan unsure kontraktil
jaringan, sehingga merupakan respon sifat adaptasi. Hipertrofi terjadi akibat
rangsangan, sehingga cenderung mengalami regresi paling sedikit sampai taraf
tertentu, hingga beban kerja yang abnormal hilang.
Hyperplasia
Hiperplasia adalah kenaikan jumlah sel yang nyata dalam jaringan yang
mengakibatkan pembesaran jaringan yang mengakibatkan pembesaran jaringan atau
organ tersebut. Hyperplasia hanya dapat terjadi pada jaringan yang mampu
melakukan pembelahan sel. Dalam jaringan semacam ini hyperplasia dapat juga di
sertai oleh hipertrofi sel. Hiper plasia terjadi pada berbagai jaringan dalam berbagai
keadaan, beberapa di antaranya bersifat benar-benar fisiologis, misalnya, rangsangan
hormon pada kehamilan dan laktasi menimbulkan proliferasi yang luas pada unsurunsur epitel kelenjer mamae disertai pembesaran jaringan kelenjer mamae yanga di
sebabkan oleh hiperplasi. Contoh hyperplasia nonfisiologis lainnya adalah kalus,
yang merupakan penebalan kulit akibat rangsangan mekanik. Pemeriksaan
mikroskopik pada kalus menunjukan kenaikan nyata jumlah sel epidermis dan
jumlah lapisan sel di dalam epidermis dan jelas merupakan respons adaptasi .
Banyak contoh hyperplasia menggambarkan respon yang rasional dari tubuh
tehadap beberapa permintaan yang ditanggungnya. Seperti pada hypertrofi, jika
keadaan yang abnormal hilang maka sinyal agar sel berploferasi akan berhenti, dan

terjadi regresi sehingga kembali ke kondisi yang lebih normal. Pada contoh diatas,
kelenjar mamae yang membesar akan menyusut ke ukuran yang normal setelah
berhenti menyusui, dan kalus sedikit demisedikit akan menghilang jika tidak ada lagi
rangsang mekanis pada kulit tersebut. Sayangnya, rangsang yang menyebabkan
hyperplasia prostat tidak diketahui dan jaringan yang berlebihan tersebut seringkal
harus di operasi.
Metaplasia
Sifat diferensiasi sel pada jaringan tertentu dapat juga berubah pada keadaan
abnormal. Diferensiasiadalah mengkhususkan keturunan sel-sel induk yang sedang
membelah untuk melakukan tugas tertentu. Misalnya, sel-sel yang membelah yang
terdapat pada lapisan terdalam epidermis sedikit demisedikit bermigrasi keatas.
Sewaktu melakukan ini, se l memperoleh sifat protektif khusus dari sel-sel epidermis
bagian luar dan menghasilkan zat protein yang dikenal sebagai kertin. Dengan cara
yang serupa, dalam lapisan system pernapasan, sebagian sel epithelium yang
membelah berkembang menjadi sel kolumnar tinggi dengan silia pada permukaan sel
yang menghadap permukaan lumen.
Displasia
Dysplasia adalah kelainan diferensiasi sel-sel yang sedang berproliferasi
sehingga ukuran, bentuk dan penampilan sel menjadi abnormal disertai gangguan
pengaturan dalam sel. Pada dysplasia terdapat kehilangan pengawasan pada populasi
sel yang terserang. Dysplasia ringan kemungkinan besar reversible jika rangsang
iritasi dapat dihilangkan. Namun pada beberapa keadaan, rangsang yang
mengakibatkan dysplasia itu tidak dapat ditemukan, dan perubahan menjadi lebih
parahsecara progresif, yang akhirnya berkembang menjadi penyakit ganas. Pada
serviks uteri , dysplasia sering terjadi dan perjalanan alamiah telah dipelajari dengan
seksama. Dysplasia pada serviks uteri disebut neoplasia intraevitel serviks (CIN )
dysplasia dapat berjalan dari ringan ke sedang sampai derajat berat (CIN I ke CIN II
atau CIN III ), dysplasia yang berat menyerupai kanker prainvasif. Penghancuran dari
pusat dysplasia serviks dapat mencegah perkembangan kanker invasive.
Neoplasia
Neoplasma secara harfiah berarti pertumbuhan baru, adalah masa abnormal
dari sel-sel yang mengalami proliferasi. Sel-sel neoplasma bersal dari sel-sel yang
sebelumnya adalah sel-sel normal, namun selama mengalami perubahan neoplastik

mereka memperoleh derajat otonomi tertentu yaitu sel neoplastik tumbuh dengan
kecepatan yang tidak terkoordinasi dengan kebutuhan hospes dan fungs yang sangat
tidak bergantung pada pengawasan homeostatis sebagian besar sel tubuh lainnya.
pertumbuhan sel neoplastik biasanya progresif, yaitu tidak mencapai keseimbangan,
tetapi lebih banyak mengakibatkan penambahan massa sel yang mempunyai sifatsifat yang sama. Neoplasma tidak melakukan tujuan yang bersifat adaptasiyang
menguntungkan hospes, tetapi lebih sering membahayakan. Akhirnya, oleh karena
sifat otonom sel neoplastik, walaupun rangsangan yang menyebabkan neoplasma
telah dihilangkan neoplasma terus tumbuh dengan progresif. Istilah tumor kurang
lebih merupakan sinonim dari istilah neoplasma . semula istilah tumor diartikan
secara sederhana sebagai pembengkakan atau gumpalan, dan kadang-kadang istilah
tumor sejati dipakai untuk membedakan neoplasma dengan gumpalan lainnya.
Neoplasma dapat dibedakan berdasarkan sifat-sifatnya, ada yang jinak, dan adapula
yang ganas. Kanker adalah istilah umum yang dipakai untuk menunjukkan neoplasma
ganas, dan ada ak banyak tumor atau neoplasma lain yang tidak bersifat kanker.
Sifat-sifat Neoplasma
1. Neoplasma jinak
Neoplasma jinak (yang bukan kanker ) adalah peristiwa lokal semata. Sel-sel
yang berproliferasi yang merupakan neoplasma cenderung sangat kohesif,
sehingga waktu massa sel neoplastik itu tumbuh, terjadi perluasan massa
secara sentrifugal dengan batas yang sangat nyata. Karena sel-sel yang saling
berproliferasi tidak saling meninggalkan, tetapi neoplasma cenderung
bergerak keluar dengan bebas sambil mendesak jaringan yang berdekatan.
2. Neoplasma ganas
Banyak sifat neoplasma ganas yang sangat berlawanan dengan sifat-sifat
neoplasma jinak. Neoplasma ganas umumnya tumbuh lebih cepat dan hamper
selalu tumbuh secara progresif, jika tidak dibuang. Sel neoplasma ganas tidak
memiliki sifat kohesif, akibatnya pola penyebaran neoplasma ganas seringkali
sangat tidak teratur. Sel-sel neoplasma ganas yang berproliferasi mampu
melepaskan diri dari tumor induk (tumor primer) dan memasuki sirkulasi
suntuk menyebar ketempat lain.

Anda mungkin juga menyukai