Anda di halaman 1dari 5

USULAN PROPOSAL MINI RISET METABOLISME II

PERBEDAAN KADAR TRIGLISERID ANTARA JAJANAN BAKSO BAKAR DENGAN BAKSO


KUAH MELALUI METABOLISME TRIGLISERID DI DALAM TUBUH DENGAN METODE
SPEKTROFOTOMETRI
Oleh :
Kirana Patrolina Sihombing/147008001 (BM)
A. Latar belakang
Perkembangan olahan makanan di zaman sekarang ini sudah sangat meningkat dan
bervariasi, seiring dengan ditemukannya berbagai macam teknologi baru yang memudahkan
para pangan local maupun industry untuk membuat aneka macam produk makanan, tentu saja
tujuannya agar penduduk dunia memiliki banyak alternatif makanan yang bisa dikonsumsi.
Bakso bakar dan merupakan varian dari bakso biasa yang biasa kita santap dengan
kuah dan mie kuning , namun dalam penyajiannya tidak menggunakan kuah melainkan dibakar
layaknya sate. Rasanya yang enak dan gurih karena mengandung daging sapi menjadikan
makanan ini sebagai hidangan ringan yang bisa kita santap kapan saja dan dimana saja .
Biasanya bakso bakar dijual di angkringan pinggir jalan ataupun kedai-kedai warung kecil baik
itu di area wisata kuliner ataupun pinggir jalan dekat dengan pasar . Penyajiannya yang unik
yakni dengan ditusuk lalu dibakar , menjadikan bakso bakar sebagai varian cara lezat
menyantap bakso masa kini.
Seiring dengan perkembangan zaman dan lingkungan maka orang sekarang mulai
berhati-hati dalam membeli sesuatu. Salah satu hal dimana orang sangat hati-hati dan teliti
sekali dalam memilih dan membeli adalah ketika membeli makanan. Zaman dulu orang
membeli makanan hanya berpedoman pada rasanya yang enak dan murah, ini terutama bagi
kalangan masyarakat menengah ke bawah. Dua hal inilah yang menjadi prioritas utama dalam
membeli makanan. Mereka tidak begitu memikirkan kandungan gizi dan nutrisi yang terkandung
didalam makanan yang mereka beli.
Akan tetapi akhir-akhir ini kecenderungan masyarakat kita dalam membeli makanan
adalah memperhatikan rasa, gizi yang terkandung dalam makanan tersebut, baru kemudian
memikirkan harga. Oleh karena itu, bakso banyak menjadi pilihan manusia untuk mengganti
makanan utama yaitu nasi, dimana dari segi rasa, bakso menawarkan rasa kenyal dan enak,

dari segi gizi juga memenuhi kebutuhan gizi manusia, dari segi harga, bakso cukup mudah
dijangkau semua kalangan masyarakat.
Hasil pengamatan di lapangan ternyata penggunaan bahan utama untuk bakso terdiri
dari daging segar, es batu, garam dapur (NaCl), tepung (tapioka atau aren), dengan perbedaan
konsentrasi yang mencolok yaitu kurang dari 10% sampai dengan 100%. Para pengolah bakso
menggunakan jasa agen penggilingan dengan cara masinal yaitu menggunakan mesin untuk
membuat adonan. Hasil analisis terhadap nilai gizi bakso sapi berdasarkan berat kering adalah
16,80%-49,53% protein, 4,18%-20,21% lemak, 35,52%-56,18% karbohidrat, 6,52%-11,05% abu
dan 5,14%-8,25% NaCl, dibandingkan bakso formula dengan kandungan 62,52% protein,
6,22% lemak, 21,30% karbohidrat, 9,97% abu dan 7,41 NaCl. Jadi terlalu banyak atau setiap
hari mengkonsumsi bakso juga tidak baik, dikarenakan bakso tinggi kolesterol, terlebih pada
penderita darah tinggi, dan tekanan jantung dilarang mengkonsumsi bakso terlalu sering.
Berdasarkan latar belakang diatas, peneliti tertarik ingin mengetahui kadar trigliserid jajanan
bakso bakar dan bakso kuah.
B. Hipotesis
Setelah mengkonsumsi masakan daging kambing, kadar trigliserida pada wanita lebih tinggi
dibandingkan kadar trigliserida pada pria.
C. Tujuan Praktikum :
1. Mengetahui efek mengkonsumsi jajanan bakso bakar terhadap kadar trigliserida dalam
darah.
2. Mengetahui perbedaan kadar triglserida setelah mengkonsumsi bakso bakar antara pria
dan wanita
D. Dasar Teori :
Makanan yang mengandung lemak akan meningkatkan kadar trigliserida dalam darah dan
cenderung meningkatkan kadar kolesterol. Trigliserida berasal dari dua sumber utama yaitu
makanan dan produksi dari dalam tubuh kita sendiri. Makan dalam jumlah besar menyebabkan
tubuh menyimpan kelebihan kalori yang masuk sebagai trigliserida.
Lipid adalah senyawa yang mengandung karbon dan hidrogen yang tidak larut dalam air
(hidrofobik) tetapi larut dalam pelarut organik. Komponen lipid utama yang dapat dijumpai
dalam plasma adalah trigliserida, kolesterol dan fosfolipid.
Trigliserida (triglycerides) merupakan salah satu jenis lemak yang diperiksa dalam uji profil lipid.
Adapun trigliserida ini merupakan bentuk cadangan makanan yang berperan sebagai sumber

energi endogen terpenting. Istilah medis untuk tingginya trigliserida dalam darah adalah
hipertrigliseridemia.
Trigliserida yang tinggi dapat disebabkan oleh diet yang tidak seimbang ataupun akibat kondisi
tubuh tertentu. Makanan yang tinggi karbohidrat dan rendah protein, terutama apabila
jumlahnya berlebihan, akan meningkatkan lipogenesis (proses pembentukan timbunan lemak
dalam tubuh) sehingga trigliserida akan meningkat. Demikian juga pada penyakit diabetes.
Individu yang berusia lanjut, wanita, dan ibu hamil cenderung memiliki kadar trigliserida lebih
tinggi.
Menurut beberapa literatur kandungan lemak pada wanita cenderung lebih tinggi dari pada pria,
maka untuk membuktikannya kebenarannya perlu dilakukan penelitian. Selama penelitian ini
yang telah dilakukan adalah dengan memberikan masakan daging kambing. Penelitian yang
akan dilakukan bertujuan untuk mengetahui apakah daging kambing berpengaruh dalam
meningkatkan kadar trigliserida serta melihat perbedaan trigliserida pada serum darah antara
pria dan wanita.
E. Langkah Kerja

Alat dan bahan yang digunakan :

1. Kit pemeriksaan Trigliserida


2. Pipet Mohr: (1ml & 5ml)
3. Tabung eppendorf 1,5 ml
4. Pipet otomatik 10l - 100l
5. Waterbath 37C
6. Tabung reaksi dan rak
7. Kuning telur rebus : 16 butir (320 gram)
8. Sampel darah praktikan ( 2 pria, 2 wanita)
9. Reagensia trigliserida R2
10. EDTA

Cara Kerja :

Pemeriksaan ini akan menggunakan Kit DisSys untuk pemeriksaan trigliserida.


Prosedur kerja sebagai berikut :
1. Subjek dalam pemeriksaan pada praktikum ini terdiri atas 2 orang pria dan 2 orang wanita.

2. Seluruh subjek dalam pemeriksaan ini diharuskan berpuasa selama 8 jam, tidak makan dan
minum kecuali meminum air putih.
3. Pengambilan darah I : Setelah subjek berpuasa 8 jam.
Darah diambil sebanyak 1 ml melalui vena pada ekstremitas superior kemudian dimasukkan
ke dalam tabung eppendorf 1,5 ml yang berisi EDTA.
4. Tabung eppendorf yang berisi darah disentrifugasi untuk memisahkan plasma dengan selsel darah. Dibutuhkan 10l plasma untuk pemeriksaan trigliserida.
5. Lakukan pemeriksaan trigliserida plasma dengan kit yang tersedia.
Prosedur sebagai berikut :

Sediakan 1 tabung reaksi untuk masing-masing sampel plasma dari subjek ditambah
2 tabung reaksi yang masing-masing berisi standar kit dan blanko (total 6 tabung
reaksi)

1000 l reagensia R2 + 10l plasma dari masing-masing subjek

1000 l reagensia R2 + 10l standard kit

1000 l reagensia R2 + 10l aquades

Inkubasi selama 5 menit pada suhu 370C

Pindahkan sampel, standar dan blanko ke dalam cuvet, lalu periksa dengan alat
spektrofotometri pada = 530 nm

Catat nilai absorbansi masing-masing sampel lalu hitung kadar trigliserida masingmasing sampel (Konsentrasi standard kit : 200 mg/dl)

6. Kemudian masing-masing subjek diberikan masakan gulai daging kambing.


7. Setelah 2 jam dilakukan pengambilan darah II pada seluruh subjek, dan dilakukan langkahlangkah pemeriksaan trigliserida yang sama seperti prosedur pemeriksaan pertama.
8. Catat hasil absorbansi yang didapat dan hitung kembali kadar trigliserida masing-masing
sampel.
Hasil Pemeriksaan
No

Subjek

Puasa
A

Kadar
(mg/dL)

2
3

2 jam PP
Kadar
(mg/dL)

4
5
Pustaka
Lehninger, Dasar-Dasar Biokimia, Jilid 1, Penerbit Erlangga, Jakarta; 1982
Murray, Robert K, et all, Biokimia Harper, Edisi 25, Penerbit EGC, Jakarta; 2003

Anda mungkin juga menyukai