Anda di halaman 1dari 3

LAPORAN PRAKTIKUM BIOKIMIA KEPERAWATAN

PEMERIKSAAN KREATININ URIN


Salah satu efek kegagalan ginjal pada cairan tubuh adalah meningkatnya konsentrasi
nitrogen non-protein, terutama ureum, yang disebabkan oleh kegagalan

tubuh untuk

mengekskresikan produk akhir metabolisme dan tingginya produk retensi urin lainnya, termasuk
kreatinin, asam urat, fenol, basa guuanidin, sulfat, fosfat, dan kalium. Keadaan ini disebut uremia
karena tingginya konsentrasi produk ekskresi urin normal yang berkumpul di dalam cairan tubuh
[2].
Buruknya reabsorbsi produk-produk akhir metabolisme seperti ureum, kreatinin dan ion
urat. Kreatinin sama sekali tidak diabsorbsi di tubulus, malahan sejumlah kecil kreatinin benarbenar diekskresikan ke dalam tubulus oleh tubulus proksimal sehingga jumlah total kreatinin
meningkat sekitar 20 persen [2].
Kreatinin adalah bahan yang berasal dari pemecahan otot. Kreatinin di filtrasi oleh
glomerulus dan sedikit sekali yang diekskresikan kedalam tubulus ginjal, sehinggga klerens
kreatinin kira-kira sebanding dengan kecepatan filtrasi glomerulus. Karena produksi kreatinin
ada hubungannya dengan banyaknya jaringan otot, maka tidak heran apabila kadar kreatinin
serum anak normal yang sehat lebih rendah bila dibandingkan denagn kadar pada orang dewasa
[4].
Pada masa pubertas terdapat peningkatan yang cepat produksi kreatinin dan sebaliknya
pada keadaan sakit yang lama, dengan berkurangnya jaringan otot maka kadar kreatinin akan
menurun. Deviasi ini dapat terlihat dengan adanya penurunan kadar kreatinin dalam serum
meskipun kecepatan filtrasi glomerulus tidak berubah. Pada keadaan-keadaan tersebut akan lebih
baik bila dilakukan pemeriksaan klerens kreatinin [4].
Kreatinin merupakan hasil pemecahan keratin fosfat dalam otot, pada pemecahan ini akan
dihasilkan kreatinin dan energi fosfat (Pi). Jadi, keratin fosfat merupakan salah satu senyawa
karier energi. Karier energi yang lain 1,2 Bifosfogliserat, Fosfoenolpiruvat, dan Asetil KoA [2].
Kontraksi otot
Kreatin fosfat + ADP

Kreatinin + ATP

Kreatin tergolong nonprotein nitrogen yang secara kontinyu diekskresi ke urin. Jumlah
ekskresi per 24 jam dipengaruhi oleh massa otot dan kontraksinya. Pada keadaan normal tubuli

ginjal aktif mengekskresi kreatinin dan jumlahnya akan ditambah dengan kreatinin yang berasal
dari darah. Jadi, peranan diagnostik kreatinin darah berfungsi ganda, yakni terhadap faal ekskresi
ginjal dan kontraksi otot. Pada penelitian dengan menggunakan teknik radioisotop N 15, kreatinin
berasal dari asam amino arginin, glisin, dan metionin [2].
Teknik pemeriksaan kreatinin yang sering digunakan adalah metode Jaffe. Yaitu
pembentukan kreatinin pikrat yang berwarna merah jika kreatinin direaksikan dengan pikrat
alkalis. Warna yang terbentuk diukur dengan fotometer atau spektrofotometer pada 530 nm.
Kalkulasi dihitung dengan membandingkan absorbansi sampel dan standar yang telah diketahui
kadarnya [2].
Harga normal untuk metode ini adalah 0,6-1,1 mg / 100 ml serum dan 0,7-1,5 mg / 100
ml darah lengkap. Untuk pemeriksaan kreatinin harus dilakukan deproteinisasi yaitu
menggunakan Na-Tungstat dan H2SO4. Filtrat disebut dengan bebas protein (FBP) atau lebih
populer dengan filtrat Folin Wu. Filtrat juga bisa digunakan untuk pemeriksaan asam urat [2].

DAFTAR PUSTAKA
1. Linder Maria C. Biokimia nutrisi dan metabolisme dengan permakaian secara klinis. Jakarta:
UI, 1992.
2. Guyton A.C. Fisiologi kedokteran bagian I. Jakarta: EGC, 1997.
3. Anonymous. Modul praktikum biokimia keperawatan. Banjarbaru: Bagian Biokimia
Kedokteran FK Unlam, 2009.
4. Short J R, Gray, Dodge. Ikhtisar penyakit anak jilid 2. Jakarta: Binarupa aksara, 1994.
5. Sennang N, Sulina, adriani B, Hardjoeno. Laju filtrasi glomerulus pada orang dewasa
berdasarkan tes klirens kreatinin menggunakan persamaan cockroft gault dan modification of
diet in renal disease. J Med Nus; 2005; 24: 80-4.
6. Haase M, Anja H F, Sujiva R, Michael CR, Sean M B, Stanislao M. N-acetylcysteine does
not artifactually lower plasma creatinine concentration; 2008; 23: 1581-1587.
7. Newsome B B, David G W, William M M, Charles A H, Catarina I K, Paul W E, at el. Longterm risk of mortality and end-stage renal disease among theelderly small increases in serum
creatinine level during hospitalization for acute myocardial infarction. American Medical
Association. 2008; 609-616.