Anda di halaman 1dari 4

Metabolisme Sel Darah dan Sel Imun

A. Metabolisme Eritrosit
Proses pembentukan eritrosit yang disebut sebagai eritropoiesis
merupakan proses yang diregulasi ketat melalui kendali umpan balik.
Pembentukan eritrosit dihambat oleh kadar hemoglobin diatas normal dan
dirangsang oleh keadaan anemia dan hipoksia. Eritropoiesis pada masa awal
janin terjadi dalam yolk sac, pada bulan kedua kehamilan eritropoiesis
berpindah ke liver dan saat bayi lahir eritropoiesis di liver berhenti dan pusat
pembentukan eritrosit berpindah ke sumsum tulang (Williams, 2007). Pada
masa anak-anak dan remaja semua sumsum tulang terlibat dalam
hematopoiesis, namun pada usia dewasa hanya tulang-tulang tertentu seperti
tulang panggul, sternum, vertebra, costa, ujung proksimal femur dan beberapa
tulang lain yang terlibat eritropoiesis. Bahkan pada tulang-tulang seperti
disebut diatas beberapa bagiannya terdiri dari jaringan adiposit. Pada periode
stress hematopoietik tubuh dapat melakukan reaktivasi pada limpa, hepar dan
sumsum berisi lemak untuk memproduksi sel darah, keadaan ini disebut
sebagai hematopoiesis ekstramedular (Munker, 2006).
Proses eritropoiesis diatur oleh glikoprotein bernama eritropoietin
yang diproduksi ginjal (85%) dan hati (15%). Pada janin dan neonatus
pembentukan eritropoietin berpusat pada hati sebelum diambil alih oleh ginjal
(Ganong, 1999). Eritropoietin bersirkulasi di darah dan menunjukkan
peningkatan menetap pada penderita anemia, regulasi kadar eritropoietin ini
berhubungan eksklusif dengan keadaan hipoksia. Sistem regulasi ini berkaitan
erat dengan faktor transkripsi yang dinamai hypoxia induced factor-1 (HIF-1)
yang berkaitan dengan proses aktivasi transkripsi gen eritropoeitin. HIF-1
termasuk dalam sistem detektor kadar oksigen yang tersebar luas di tubuh
dengan efek relatif luas (cth: vasculogenesis, meningkatkan reuptake glukosa,
dll), namun perannya dalam regulasi eritropoiesis hanya ditemui pada ginjal
dan hati (Williams, 2007). Eritropoeitin ini dibentuk oleh sel-sel endotel

peritubulus di korteks ginjal, sedangkan pada hati hormon ini diproduksi sel
Kupffer dan hepatosit. Selain keadaan hipoksia beberapa zat yang dapat
merangsang eritropoiesis adalah garam-garam kobalt, androgen, adenosin dan
katekolamin melalui sistem -adrenergik. Namun perangsangannya relatif
singkat dan tidak signifikan dibandingkan keadaan hipoksia (Harper,2003).

B. Metabolisme Trombosit
Trombosit mempunyai daya kohesi satu dengan lainnya karena
pengaruh adanya ADP dan tromboksan A2. Daya kohesi ini disebut fungsi
agregasi trombosit. Adanya pelepasan ADP dan tromboksan A2 menyebabkan
trombosit yang ada beragregasi pada tempat luka pembuluh darah. ADP
menyebabkan trombosit membengkak dan mempermudah membran trombosit
yang berdekatan saling melekat satu sama lain. Setelah terjadi reaksi
pelepasan tambahan ADP dan tromboksan A2 akan menyebabkan terjadinya
agregasi trombosit sekunder. Proses ini berjalan terus mengakibatkan
pembentukan massa trombosit yang cukup besar untuk menyumbat daerah
luka endotel (Sotianingsih, 2001).
Agregasi trombosit adalah perlekatan antar sesama trombosit. Dalam
keadaan tidak aktif trombosit tidak mudah melekat karena glikoprotein pada
permukaan trombosit mengandung molekul asam sialat yang mengakibatkan
permukaan bermuatan negatif sehingga trombosit saling tolak menolak.
Agregasi trombosit dapat dirangsang oleh berbagai induktor antara lain adalah
ADP. (Sotianingsih, 2001).
Respons trombosit tergantung dari kekuatan induktor. Mula-mula
inductor berinteraksi dengan reseptor pada membran trombosit. Tiap reseptor
mengontrol sejumlah transmitter yang akan dilepaskan ke dalam sitoplasma.
Kemungkinan transmitter tersebut adalah ion Ca. Kadar transmitter yang
dikontrol oleh berbagai induktor berbeda tergantung kekuatan induktor.
Respons trombosit tergantung kadar transmitter yang dilepaskan ke dalam
sitoplasma. Jika diurutkan berdasarkan kadar transmitter dari yang rendah

sampai tinggi maka urutan respons trombosit adalah perubahan bentuk,


agregasi trombosit, pelepasan asam arakhidonat, sekresi dari granule padat
dan sekresi dari granule lalu sekresi hydrolase asam. (Rahajuningsih, 1997).
C. Metabolisme Leukosit
Pembentukan sel darah putih dimulai dari diferensiasi dini dari sel
stem hemopoietik pluripoten menjadi berbagai tipe sel stem committed. Selain
sel-sel committed tersebut, untuk membentuk eritrosit dan membentuk
leukosit. Dalam pembentukan leukosit terdapat dua tipe yaitu mielositik dan
limfositik. Pembentukan leukosit tipe mielositik dimulai dengan sel muda
yang berupa mieloblas sedangkan pembentukan leukosit tipe limfositik
dimulai dengan sel muda yang berupa limfoblas.

Leukosit yang dibentuk di dalam sumsum tulang, terutama granulosit,


disimpan dalam sumsum sampai sel-sel tersebut diperlukan dalam sirkulasi.
Kemudian, bila kebutuhannya meningkat, beberapa faktor seperti sitokinsitokin akan dilepaskan. Dalam keadaan normal, granulosit yang bersirkulasi
dalam seluruh darah kira-kira tiga kali jumlah yang disimpan dalam sumsum.
Jumlah ini sesuai dengan persediaan granulosit selama enam hari. Sedangkan

limfosit sebagian besar akan disimpan dalam berbagai area limfoid kecuali
pada sedikit limfosit yang secara temporer diangkut dalam darah.
Masa hidup granulosit setelah dilepaskan dari sumsum tulang
normalnya 4-8 jam dalam sirkulasi darah, dan 4-5 jam berikutnya dalam
jaringan. Pada keadaan infeksi jaringan yang berat, masa hidup keseluruhan
sering kali berkurang. Hal ini dikarenakan granulosit dengan cepat menuju
jaringan yang terinfeksi, melakukan fungsinya, dan masuk dalam proses
dimana sel-sel itu sendiri harus dimusnahkan. Monosit memiliki masa edar
yang singkat, yaitu 10-20 jam, berada di dalam darah sebelum berada dalam
jaringan. Begitu masuk ke dalam jaringan, sel-sel ini membengkak sampai
ukurannya yang sangat besar untuk menjadi makrofag jaringan. Dalam bentuk
ini, sel-sel tersebut dapat hidup hingga berbulan-bulan atau bahkan bertahuntahun. Makrofag jaringan ini akan menjadi dasar bagi sistem makrofag
jaringan yang merupakan system pertahanan lanjutan dalam jaringan untuk
melawan infeksi.
Limfosit terus menerus memasuki sistem sirkulasi bersama dengan
pengaliran limfe dari nodus limfe dan jaringan limfe lain. Kemudian, setelah
beberapa jam, limfosit berjalan kembali ke jaringan dengan cara diapedesis
dan selanjutnya kembali memasuki limfe dan kembali ke jaringan limfoid atau
ke darah lagi demikian seterusnya. Limfosit memiliki masa hidup bermingguminggu, berbulan-bulan, atau bahkan bertahun-tahun, tetapi hal ini tergantung
pada kebutuhan tubuh akan sel-sel tersebut.

DAFTAR PUSTAKA
Sotianingsih, Uji Diagnostik Pemeriksaan Sediaan Apus Darah Tepi dalam Menilai
Fungsi Agregasi Trombosit. Semarang. 2001
Rahajuningsih DS. Agregasi Trombosit. Patologi Klinik FKUI. Jakarta 1997 : 1 11

Anda mungkin juga menyukai