Anda di halaman 1dari 8

Laporan Praktikum

Biokimia Klinis

Hari/Tanggal : Selasa, 3 Maret 2015


PJP
: Ukhradiya M Safira P. M.Si
Asisten
: Nur Hidayah HL
Galuh Anjar Sari
M Maftuchin Sholeh
Desi Amaliawati

KALSIUM DARAH
Kelompok 1
Aprilita Putri Defan Ritonga
Hafiz Nalfiando
Nahdah Solihah
Yunita Elva P

G84120025
G84120019
G84120031
G84120028

DEPARTEMEN BIOKIMIA
FAKULTAS MATEMATIKA DAN PENGETAHUAN ALAM
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
BOGOR
2015

PENDAHULUAN
Plasma adalah bagian dari darah mengandung fibrinogen, suatu larutan
yang mengandung banyak sekali ion, molekul anorganik dan molekul organik
yang sedang diangkut ke berbagai bagian tubuh atau membantu transport zatzat lain. Protein plasma terdiri dari 90% air dan 10% zat padat. Bahan padat ini
terdiri dari 7% protein yang meliputi antibodi, fosfolipida kolesterol, glukosa,
enzim sedangkan bahan anorganik bukan protein terdiri dari P, Na, Ca, K, Mg,
Fe, dan HCO3 (Ganong 2003). Serum adalah plasma darah dikurangi
fibrinogen dan faktor-faktor penggumpalan darah. Serum darah lebih mudah
digunakan dalam analisis kadar mineral atau zat-zat organik maupun anorganik
karena tidak memerlukan antikoagulan dalam melakukan presipitasi atau
pengendapan secara manual maupun sentrifugasi. Antikoagulan adalah zat
yang mencegah penggumpalan darah dengan cara mengikat kalsium atau
dengan menghambat pembentukan trombin yang diperlukan untuk
mengkonversi fibrinogen menjadi fibrin dalam proses pembekuan.
Kalsium adalah kation ekstrasel utama. Peran utama kalsium adalah
untuk kontraksi dan eksitasi otot jantung dan otot lainnya, transmisi sinap
sistem saraf, agregasi platelet, koagulasi, dan sekresi hormon dan regulator lain
yang memerlukan eksositosis. Fungsi utama kalsium intrasel adalah second
messenger intraselular untuk mengatur pembelahan sel, kontraktilitas otot,
pergerakan sel, dan sekresi (Marcus 2001; Soback 2001). Sembilan puluh
sembilan persen kalsium ekstrasel terdapat dalam tulang dalam bentuk
hidroksiapatit yang mencerminkan keseimbangan antara proses pembentukan
dan resorpsi tulang (Cheng 2005).
Kalsium merupakan salah satu nutrien esensial yang dibutuhkan untuk
berbagai fungsi tubuh (Gobinathan et al. 2009). Kadar kalsium darah dan cairan

sekitar sel (cairan ekstraseluler) harus dikontrol dalam batas kadar yang sempit
untuk mendapatkan fungsi fisiologisnya yang normal. Analisis kadar kalsium
darah untuk mengetahui penyakit atau kelainan metabolik yang dialami
seseorang. Fungsi fisiologi dari kalsium begitu penting dalam mempertahankan
hidup sehinga tubuh akan melakukan proses demineralisasi tulang untuk
memelihara kadar kalsium dalam darah, jika konsumsi kalsium tidak
mencukupi. Kadar kalsium dapat dihitung dengan menggunakan metode titrasi
Clark dan Collip. Metode ini adalah metode yang paling sederhana, paling
banyak dilakukan, dan paling mudah digunakan (Vasel et al 2013).
Tujan praktikum adalah mengetahui prinsip biokimia yang digunakan
pada analisis kalsium darah. Mahasiswa dapat melakukan analisis kalsium
darah menggunakan metode Clark dan Collip. Selain itu, agar mahasiswa
mengetahui manfaat analisis darah untuk mengetahui keadaan fungsi tubuh.

METODE
Waktu dan Tempat Penelitian
Praktikum Biokimia Klinis mengenai kalsium darah dilakukan pada hari
Selasa, 3 Maret 2015 pukul 08.0011.00 WIB di Laboratorium Pendidikan
Departemen Biokimia IPB.
Bahan dan Alat
Alat-alat yang digunakan pada praktikum ini adalah sentrifus, neraca
analitik, tabung reaksi, vortex, pipet Mohr, pipet tetes, buret, erlenmeyer, batak
pengaduk, bulp, stopwatch, dan penangas air. Bahan-bahan yang digunakan
adalah serum darah sapi, H2SO4 pekat, KMnO4, ammonia encer, ammonium
oksalat, kertas saring, dan aquades.
Prosedur Penelitian
Penentuan kalsium darah
Tabung sentrifus sebanyak 3 buah disiapkan dan masing-masing diisi
dengan: akuades 4 mL dan amonium oksalat 1 mL untuk tabung blanko; serum
2 mL, akuades 2 mL, dan amonium oksalat 1 mL untuk tabung sampel 1 dan
sampel 2. Biarkan selama 30 menit ketiga tabung tersebut agar terbentuk
endapan. Setelah itu, semua tabung disentrifus selama 5 menit dengan
kecepatan 1500 rpm. Supernatan pada tabung sampel 1 dan sampel 2 dibuang,
kemudian tabung tersebut diletakkan terbalik di atas kertas saring selama 10
menit. Sebanyak 3 mL amonia 2% ditambahkan kedua tabung sampel, diaduk
menggunakan vortex, dan disentrifus kembali pada waktu dan kecepatan yang
sama. Sebanyak 2 mL H2SO4 1 N ditambahkan pada ketiga tabung, diaduk, dan
dimasukkan ke dalam penangas air bersuhu 70oC. Ketiga larutan dipindahkan
ke dalam erlenmeyer untuk dititrasi dengan KMnO4 0.01 N sampai berwarna
merah muda. Jumlah KMnO4 terpakai diukur dan digunakan untuk mengetahui
kadar Ca pada sampel serum.
.

HASIL DAN PEMBAHASAN


Prinsip dari metode Clark dan Collip adalah kalsium diendapkan
menjadi kalsium oksalat. Penambahan asam akan menghasilkan ion oksalat
yang dititrasi menggunkan KMnO4 menghasilkan titik akhir titrasi bewarna
merah muda, Fungsi amonium oksalat yaitu untuk mengendapkan kalsium.
Sentrifus selama lima menit dengan kecepatan 1500 rpm bertujuan untuk
memisahkan serum dengan kalsium yang mengendap sehingga diperoleh
endapan murni kalsium. Penambahan asam yaitu ammonia 2% bertujuan untuk
memisahkan lebih banyak kalsium dari dalam plasma yang belum sempat
bereaksi dengan amonium oksalat. Asam sulfat ditambahkan pada endapan

untuk melarutkan kembali endapan kalsium oksalat yang terdapat di dalam


tabung sentrifus sehingga terbentuk asam oksalat kuantitatif (Harjadi 1986).
Kadar kalsium kemudian ditentukan melalui titrasi dengan kalium
permanganat. Kalium permanganat merupakan oksidator kuat dan reaksi titrasi
ini berjalan lambat pada suhu ruang sehingga perlu ada pemanasan terlebih
dulu. Clark dan Collip juga menjelaskan bahwa pada suhu 70C titrasi akan
menghasilkan hasil terbaik. Jumlah oksalat yang bereaksi dengan KMnO4
sebanding dengan jumlah kalsium oksalat yang diendapkan dari dalam serum
darah. Warna merah muda pada titik akhir akan lenyap kembali secara lambat
akibat reaksi antara kelebihan MnO4- dengan ion Mn2+ hasil titrasi (Harjadi
1986). Hasil reaksi yang didapatkan selain ion Mn2+, didapat pula hasil
samping yaitu karbon dioksida dan air. Hasil percobaan kadar kalsium
menggunakan metode Clark dan Collip disajikan pada Tabel 1.
Tabel 1 Konsentrasi kalsium darah
Tabung
Volume awal
Blanko
1.10
Sampel 1
0.00
Sampel 2
0.92
Contoh perhitungan:

Volume KMNO4
Volume akhir Volume Terpakai
1.22
0.12
0.60
0.60
1.22
0.16

[kalsium] mg/dL
0.0
4.8
0.4

[Ca] =
[Ca] =
[Ca] =
[Ca] =
[Ca] =
[Ca] =

= 4.8 mg/dL

Kadar kalsium pada sampel 1 dan sampel 2 sebesar 4.8 dan 0.4 mg/dL,
Kadar kalsium normal dalam plasma 8.5-10.4 mg/dL, 45 % terikat protein
plasma terutama albumin, 10 % terikat dengan dapar anion seperti sitrat dan
fosfat. Empat puluh lima persen sisanya ada dalam bentuk ion dan merupakan
bentuk aktif. Kadar kalsium dalam cairan ekstrasel 1 % dari keseluruhan total
kalsium tubuh sementara kadarnya dalam sel dijaga sekitar 1/10.000 dari kadar
ekstrasel. Kadar kalsium darah dalam serum keadaan normal berkisar 9-11 mg/dL.
Kalsium merupakan mineral yang harus dipenuhi kurang lebih 2 % dari berat
tubuh manusia dewasa (Winarno 2004). Berdasarkan literature yang ada, kadar
kalsium yang diperoleh kurang dari batas normal. Kekurangan kalsium dalam
darah dapat mngakibatkan suatu penyakit atau kelainan metabolik pada tubuh.
Metode yang paling sering digunakan untuk mengukur kadar kalsium
dalam darah di laboratorium dan yang paling sederhana adalah metode Clark
dan Collip. Kelemahan dari metode ini yaitu serum harus secepat mungkin
dipisahkan agar kemungkinan kalsium berdifusi tidak terjadi sehingga
konsentrasinya dalam serum tidak menurun, amonium oksalat yang digunakan

harus tidak mengandung endapan, suhu titrasi harus di atas 70 oC agar reaksi
dapat berlangsung, pH harus di antara 2.7-7.0 pada saat presipitasi agar
pengendapan Ca-oksalat sempurna (Suratun et al 2008). Untuk mengukur kadar
kalsium dalam serum selain dengan metode titrasi oleh Clark dan Collip dapat
digunakan metode ion selective electrodes (ISE) (Sava 205), metode o-cresolphtalein

complexon, metode arsenazo III, dan metode spektrometri absorpsi atom


(AAS).
Keseimbangan metabolisme kalsium diatur oleh tiga faktor, hormon
paratiroid, vitamin D, dan kalsitonin yang dihasilkan oleh kelenjar tiroid.
Membran sel kelenjar paratiroid mengandung sensor kalsium yang dapat
mendeteksi kadar kalsium darah.Aktivasi reseptor kalsium terjadi bila kadar
kalsium darah tinggi, menyebabkan pelepasan fosfolipase A2, asam arakidonat,
dan leukotrien. Leukotrien menginhibisi sekresi hormon paratiroid melalui
degradasi 90% granul sekretori yang mengandung bentuk preformed hormon
paratiroid. Aktivasi reseptor kalsium tidak akan terjadi bila kadar kalsium
darah rendah. Hormon paratiroid bekerja dengan berikatan dengan reseptor
membran sel organ target, yaitu reseptor hormon paratiroid 1 di ginjal dan
tulang. Hormon paratiroid meningkatkan reabsorbsi kalsium dengan
mempermudah pori kalsium di tubulus distal ginjal terbuka. Hormon paratiroid
meningkatkan degradasi tulang dengan bekerja pada osteoblast melalui
RANKL di tulang. Hormon paratiroid juga menstimulasi hidroksilasi 25-OHvitamin D3 menjadi bentuk aktifnya (kalsitriol). Efek kalsitonin terhadap
kalsium bertentangan dengan efek hormon paratiroid. Kalsitonin menginhibisi
aktivitas osteoklast, mengurangi resorpsi tulang, dan meningkatkan ekskresi
kalsium melalui ginjal, jadi fungsi kalsitonin menurunkan kadar kalsium darah
(Molina 2004).
Keseimbangan kadar kalsium dalam darah penting untuk diperhatikan
terkait fungsinya dalam metabolism tubuh dan menjaga homeostatsis di dalam
tubuh. Kelainan atau kondisi klinis yang diakibatkan oleh ketidakseimbangan
kadar kalsium di dalam darah diantaranya yaitu hipokalsemia dan
hiperkalsemia. Hipokalsemia merupakan keadaan klinik yang disebabkan kadar
kalsium darah yang lebih rendah dari 8.5 mg/dL. Hal ini disebabkan oleh
defisiensi masukan dan absorpsi kalsum, karena hipoparatiroidisme atau karena
kehilangan kalsium yang berlebihan melalui ginjal. Hipokalsemia juga dapat
menyebabkan berbagai gangguan emosi seperti mudah marah, emosi tidak
stabil, gangguan ingatan, dan mudah bingung. Serta dapat menyebabkan
perubahan pada kulit seperti kulit menjadi kasar, bersisik dan kering,
perubahan yang lain seperti perubahan pada kuku dan gigi. Penderita
hipokalsemia yang tidak dapat diobati dapat menimbulkan katarak (Sylvia dan
Loraine 2003). Hiperkalsemia dapat didefinisikan sebagai kadar kadar kalsium
dalam tubuh yang lebih dari 10.4 mg/dL. Banyak kondisi yang dapat
menyebabkan hiperkalsemia, diantaranya disebabkan oleh tulang baik
hiperparatiroisme maupun kelebihan hormon paratiroid, merupakan penyebab
paling utama. Hormon paratiroid ditekan oleh kadar kalsium yang tinggi, kadar
ini termasuk intoksinasi vitamin D, sarkoidosis, imobilisasi akut,
hipertiroidisme, multiple mieloma, dan keganasan metastatik yang menyerang
rangka (Sylvia dan Loraine 2003).

Kekurangan asupan kalsium dalam tubuh manusia menyebabkan


abnormalitas metabolisme terutama pada usia dini, gangguan pertumbuhan
seperti tulang kurang kuat, mudah bengkok, dan rapuh. Pada orang dewasa
dengan usia di atas 50 tahun, akan kehilangan kalsium dari tulangnya sehingga
menjadi rapuh dan mudah patah yang dikenal sebagai osteoporosis (Ensminger
et al. 1995). Namun, bila kelebihan kalsium juga dapat beresiko terhadap
tubuh seperti menyebabkan batu ginjal, kanker prostat, sulit buang air besar
(konstipasi) dan penumpukan kalsium di pembuluh darah (Winarno 2006).

SIMPULAN DAN SARAN


Simpulan
Serum darah mengandung cukuo banyak zat-zat organic maupun
anorganik seperti kalsium. Kalsium dalam serum darah dapat diambil dengan
sentrifugasi. Analisis kadar kalsium darah berhasil dilakukan dengan metode
Clark dan Collip. Analisis kadar kalsium pada serum darah menunjukkan
keadaan klinis hipokalsemia. Keadaan ini dapat disebabkan kurangnya asupan
mineral kalsium.
Saran
Praktikum kalsium darah menggunakan beberapa metode yang terbaru.
Analisis kalsium dalam darah juga menggunakan plasma darah agar terlihat
perbandingannya dengan yang menggunakan serum darah atau
membandingkan hasil dari metode satu dengan metode yang lain. Selain itu,
instrumentasi dalam praktikum ini sebaiknya lebih dimaksimalkan dari segi
jumlah agar mahasiswa dapat melakukan percobaan sendiri dan tidak
menunggu lama untuk melakukan pengamatan.

DAFTAR PUSTAKA
Almatsier S. 2006. Prinsip Dasar Ilmu Gizi Edisi ke-6. Jakarta (ID): Gramedia
Pustaka Utama.
Cheng S, Lyytikainen A, Kroger H, Lamberg-Allardt C. 2005. Effects of
calcium, dairy product, and vitamin D supplementation on bona mass
accrual and body composition in 10-12 years old girls: a 2 years
randomized trial. Am J Clin Nutr 82:1115-1126.
Ensminger AH, Ensminger ME, Konlande JE, & Robson RK. 1995. The
concise encyclopedia of foods and nutritions. Boca Raton: CRC Press
Limited.
Harjadi W. 1986. Ilmu Kimia Analitik Dasar. Jakarta (ID): Gramedia
Ganong WF. 2003. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran. Jakarta (ID) : EGC.

Gobinathan P, Murali PV, & Panneerselvam R. 2009. Interactive effects of


calcium metabolism in pennisetum typoidies. Advances in Biological
Research 3(5-6):168-173.
Molina PE. 2004. Parathyroid gland & Ca & PO regulation. New York (US):
Lange Medical Books/McGraw-Hill.
Sava L, Pillai S, More U, Sontakke A. 2005. Serum calcium measurement:
total versus free (ionized) calcium. Ind J Clin Biochem. 20:158-161.
Soback D, Marcus D, Bikle D. 2001. Metabolic Bone disease. New York (US):
Lange Medical Books/McGraw-Hill.
Suratun, Heryati, Manurung S, Raenah E. 2008. Klien Gangguan Sistem
Muskuloskeletal SAK. Jakarta (ID): EGC.
Sylvia AP, Lorraine MW. 2003. Patofisiologi Konsep Klinik Proses proses
Penyakit Edisi ke-6. Jakarta (ID): EGC.
Valsa J, Skandhan KP, Sahab KP, Sumangala B, Amith S. 2013. Estimation of
calcium and magnesium in seminal plasma: a comparative study of
colorimetry and atomic absorption spektrometri. IJABC 3(1): 23-26.
Winarno F.G. 2006. Kimia Pangan dan Gizi. Jakarta (ID): PT Gramedia
Pustaka Utama.
Winarno F.G. 2008. Kimia Pangan dan Gizi. Jakarta (ID): PT Gramedia
Pustaka Utama.